Archive for the Lalitha Category

Sifat Feminin Energi Dalam Diri dan Festival Navaratri

Posted in Lalitha with tags , , on October 9, 2013 by triwidodo

Navratri Durga artikel 1 sumber dussehrawishes 2013

Ilustrasi Celebrate Navrati sumber Dussehrawishes in

Kali Maha Shakti

“Dewi Kali adalah personifikasi dari kekuasaan Ilahi yang menguasai Kala, Sang Waktu. Shiva atau Sang Kala, berada di bawah kakinya. Tidak hanya waktu, ia juga melampaui Ruang. Karena, Waktu dan Ruang tidak dapat dipisahkan. Sebab itu Kali adalah personifikasi Ilahi yang Tertinggi. Ia adalah Maha Shakti, The Supreme Energy. Tidak ada kekuatan yang lebih tinggi darinya. Ia memiliki banyak nama, banyak sebutan. Bahkan, sesungguhnya setiap nama dan setiap sebutan yang ada di jagat raya ini Menunjuk kepadanya.” (Krishna, Anand. (2006). Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)

 

Penghormatan terhadap Penguasa Alam Semesta sebagai Ibu

Bunda Alam Semesta, dalam lingkup yang lebih kecil Bunda Bumi atau Ibu Pertiwi adalah personifikasi alam dalam wujud seorang ibu. Bila sewaktu masih bayi, makan dan minum kita disediakan oleh ibu, maka sampai dewasa pun apa yang kita makan dan minum disediakan oleh Bunda Bumi. Rumah dan kendaraan yang kita gunakan sumbernya berasal dari Bunda Bumi. Bahkan mereka yang bepergian ke bulan membawa oksigen, air, makanan dan menggunakan pesawat luar angkasa yang semua bahannya berasal dari Bunda Bumi.

Pada zaman dahulu, leluhur kita menghormati Bunda Alam semesta yang dikaitkan dengan kesuburan tanah dan karunia pertanian. Pada Candi Jago di Jawa Timur ada arca Bhrkuti Tara. Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah ada arca Durga. Pada Candi Kalasan di Yogyakarta ada arca Tara. Sejak dulu masyarakat menghormati Dewi Sri. Masyarakat kita mengenal istilah Ibu Kota, Ibu Jari, Ibu Pertiwi, Sel Induk dan sebagainya. Setelah kejatuhan Majapahit, Dewi Durga yang dipuja Raja Erlangga mulai dijelek-jelekkan dengan kisah-kisah tambahan seperti Calon Arang  pemuja Bathari Durga yang jahat. Selanjutnya, Dewi Durga diungkapkan sebagai Bathari Durga yang jahat seperti dalam kisah Sudamala yang merupakan relief tambahan pada Candi Sukuh. Ratu Selatan pun dijelekkan namanya menjadi Siluman Ratu Kidul tempat orang mencari kekayaan dengan cara tidak halal. Adalah tidak mudah mengembalikan masyarakat untuk menghormati Ilahi dalam wujud feminin. Hanya mereka yang sadar, yang penuh kasih, yang tidak angkuh, yang tidak bias gender yang diberkati sifat feminin dalam diri.

 

Candi Bunda Ilahi

Istilah Candi dari Candika adalah nama Bunda Ilahi sebagaimana dimaksud dalam Kisah Dewi Mahatmyam. Silakan baca:

http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/04/perang-batin-tak-kunjung-usai-kisah-shumbha-nishumbha-dalam-devi-mahatmyam-598280.html

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/27/menaklukkan-rasa-angkuh-dalam-diri-kisah-chanda-munda-dalam-devi-mahatmyam-596249.html

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/21/menaklukkan-nafsu-agresif-dengan-seribu-wujud-kisah-mahishasura-pada-candi-prambanan–594528.html

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/16/menaklukkan-kejahatan-dalam-diri-kisah-madhu-dan-kaitabha-dalam-devi-mahatmyam-592958.html

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/10/pengantar-kisah-devi-mahatmyam-dalam-markandeya-purana-591239.html

Sejak zaman dahulu, masyarakat memuja Durga, Lakshmi dan Sarasvati sebagai wujud Bunda Ilahi yang mewakili tiga jenis potensi dalam diri manusia. Shakti adalah energi, bahkan ShIva tanpa I (energi) adalah Shava yang berarti jasad. Tanpa energi bahkan dewa pun tidak bisa bergerak.

“X adalah energi Feminin, yang menggerakkan kita. Seorang laki-laki tidak akan tercipta tanpa X, dia tidak bisa hidup hanya dengan kombinasi Y-Y. Sedangkan perempuan bisa hidup tanpa Y, dia bisa  hidup hanya dengan kombinasi X-X. Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan yang berperan. Dan pernyataan ini pun memang benar karena perempuan merupakan personifikasi dari Sumber Kekuatan. Dalam tradisi Veda, ini disebut Shakti. Dan, Shakti bermakna Energi, Sumber Kekuatan. (Krishna, Anand. (2009). The Gospel Of Obama. Koperasi Global Anand Krishna bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram)

 

Potensi Bunda Ilahi dalam Diri

Ada 3 potensi dalam diri manusia yang dilambangkan dengan 3 shakti. Energi feminin dalam diri dilambangkan dengan: Icchaashakti atau Lakshmi, Gyaanshakti atau Sarasvati dan Kriyashakti atau Durga.

Iccha Shakti atau The Power of Firm Will, Kekuatan Niat, Tekad yang Bulat. Gyaan Shakti atau The Power of Expansive Wisdom, Kekuatan Kebijaksanaan yang Meluas dan Meliputi Segalanya. Kebijaksaan yang memperluas wawasan kita. Sesuatu yang mempersempit wawasan bukanlah kebijaksanaan. Itu adalah pengetahuan belaka. Kriya Shakti atau The Power of Right and Effective Action, Kekuatan Tindakan yang Tepat dan Efektif, Berguna.” (Krishna, Anand. (2009). Total Success Meraih Keberhasilan Sejati. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ketika manusia melupakan Ilahi dan terobsesi untuk menikmati manfaat alam, ia menjadi seperti Rahvana yang membawa kehancuran bagi diri sendiri. Untuk selalu mengingat keilahian, seseorang perlu memiliki kemurnian hati, diwakili oleh jantung yang merupakan wujud kesejahteraan atau Lakshmi.  Dia juga perlu melengkapi diri dengan kemurnian dalam ucapan, yang merupakan wujud kebijaksanaan atau Sarasvati. Dia perlu menyempurnakan dengan kemurnian dalam tindakan yang diwakili oleh Parvati. Ketiga kemurnian ini dalam vedanta disebut sebagai Tripurasundari.

Sejak dahulu, manusia menggambarkan potensi halus dalam diri mereka dengan gambaran Lakshmi, Sarasvati dan Parvati. Hubungan antara materi dan yang lebih halus perlu dipahami. Obat bagi kehidupan manusia terkandung di dalam diri. Patut disayangkan bahwa manusia melupakan kekuatan dalam diri dan tertarik terhadap bentuk fisik yang berada di luar diri.

 

Kisah Devi Mahatmyam sebagai latar belakang Festival Navaratri

Ketiga aspek Dewi Durga dapat langsung dipetakan kepada tiga atribut makhluk hidup yaitu Satvik, Rajas dan Tamas. Ketiga sifat satvik, rajas dan tamas harus dikendalikan dan dilampaui.

Madhu-Kaitabha merupakan wujud kasar dari karakter rendah (asura) manusia, ego palsu yang membuat orang lupa akan jatidirinya. Mempercayai ego palsu termasuk kemalasan untuk berupaya menemukan jatidiri (Sifat Tamas). Madhu Kaithaba muncul kala Kesadaran Vishnu di dalam diri sedang tidur.

Mahishasura adalah simbol dari obsesi (kama, nafsu) asura dalam diri yang bertindak penuh kemarahan (krodha) bila obsesinya tidak tercapai. Apabila obsesi tersebut tercapai justru membuatnya menjadi semakin serakah (lobha). Mahishasura merupakan kejahatan yang bersifat dinamis (Sifat Rajas).

Shumbha dan Nishumbha adalah asura dengan jenis jauh lebih halus, dia adalah raja, sangat kaya, sangat berbudaya, tetapi sangat angkuh. Dia memiliki dominasi atas semua  kebaikan dan ia memiliki seluruh kekayaan dunia. Segala sesuatu yang diinginkan, semua yang terbaik dimiliki oleh dia yang tak terkalahkan dan dia memerintah sejumlah besar panglima. Salah satu panglimanya adalah kejahatan yang disebut Rakthabija yang disamakan dengan karakter jahat yang disebabkan genetik bawaan manusia. Setelah terjadi transformasi dengan mengubah karakter maka kehancuran terakhir dari Shumbha dan Nishumbha baru mungkin terlaksana. Ego yang halus adalah penghalang terakhir hubungan antara manusia dengan Tuhan. Selama masih ada ego masih terjadi dualitas dalam diri.

 

Navaratri

Arti harafiahnya adalah sembilan malam (prakteknya bisa lebih panjang, bisa lebih pendek). Dalam waktu tersebut manusia melakukan penghormatan terhadap Energi Feminin dalam Diri, yang dilambangkan dengan Durga, Laksmi dan Sarasvati. Sesuai dengan ilmu pengetahuan maka energi adalah kekal, tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, selalu eksis.

Seorang bayi menghormati ibunya yang baginya merupakan segala-galanya, demikian juga manusia menganggap Bunda Ilahi sebagai kekuatan Ilahi yang menghidupinya.

Manusia yakin bahwa kekuatan energi matahari menyebabkan beberapa perubahan pada alam. Awal Musim Semi dan Awal Musim Gugur adalah waktu penting terjadinya perubahan alam. Manusia perlu berterima kasih kepada Energi yang memelihara keseimbangan bumi. Karena perubahan alam, maka tubuh dan pikiran manusia juga mengalami perubahan. Manusia perlu menghormati perubahan alam ini untuk menjaga keseimbangan fisik dan mentalnya.

Puasa Navaratri dilakukan 7-9 hari sebagai penghormatan terhadap energi feminin dalam diri. Kecenderungan manusia adalah terjebak dalam pola tertentu. Pola makan tertentu sebenarnya adalah tanda disiplin dari diri, akan tetapi pola yang membelenggu juga merupakan kelemahan. Saat terlibat dalam makanan kita sering lupa bahwa seharusnya kita makan untuk hidup dan bukan sebaliknya. Tubuh mempunyai kapasitas tertentu, akan tetapi indra kita selalu craving, sangat butuh untuk dipenuhi. Puasa memberi kesempatan pada tubuh untuk keluar dari pola lama yang membelenggu dan memberi arah yang baru.

Menghormati Durga, energi feminin dalam diri dipercayai akan memberikan keberuntungan, kesejahteraan, pengetahuan dan kekuatan ampuh untuk menyeberangi samudera rintangan kehidupan.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Perang Batin Tak Kunjung Usai, Kisah Shumbha Nishumbha dalam Devi Mahatmyam

Posted in Lalitha with tags , on October 3, 2013 by triwidodo

shakti para dewa menyerang pasukan sumbha nishumbha sumber shaktisadhana 50megs com

Ilustrasi Shakti para dewa menyerang pasukan Shumba Nishumbha sumber shaktisahana 50megs com

Asura dan Dewa Dalam Diri Pribadi Manusia

Tidak ada hal baru di dunia ini, semuanya hampir merupakan pengulangan dengan setting panggung yang berbeda. Dari dahulu selalu terjadi peperangan antara dharma melawan adharma. Pada zaman Satya Yuga, para asura, para raksasa, para pelaku kejahatan berada dalam kelompok yang berbeda dengan kelompok para dewa, para pelaku kebajikan. Pada masa kini baik sifat asura yang melakukan adharma, maupun sifat dewa yang melakukan dharma berada dalam diri pribadi setiap manusia. Perang batin dalam diri manusia berjalan sangat seru dan saling bergantian pemenangnya. Bila seseorang sudah sadar, dia akan melihat bahwa kebaikan dalam diri perlu diperkuat, sedangkan kejahatan dalam diri perlu diperlemah dan ditaklukkan. Oleh karena itu, kisah-kisah pada zaman dahulu perlu dimaknai dengan setting panggung berbeda, panggung yang berada dalam diri pribadi kita.

 

Shumbha dan Nishumbha serta Panglima Rakthabija

Shumbha dan Nishumbha adalah Raja Kembar Asura putra Resi Kasyapa dan Dhanu. Mereka sangat kuat bertapa sehingga memperoleh anugerah dari Brahma. Mereka mohon agar tidak bisa dibunuh oleh pria atau hewan. Menurut pikiran mereka tidak mungkin ada wanita yang lebih sakti daripada pria. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Brahma. Sukses dengan perjuangan memperoleh kesaktian mereka mulai mengganggu para suci dan meminta mereka menyembah mereka dan bertindak lalim di tiga dunia.

Rakthabija adalah salah seorang panglima dari Raja Kembar Shumbha Nishumba yang berkat tapanya yang luar biasa mendapatkan anugerah kesaktian dari Brahma, sehingga setiap tetes darahnya yang jatuh di bumi akan menjadi kloning dari wujudnya. Semua makhluk takut kepadanya, karena setiap dia dilukai musuhnya, tetesan-tetesan darahnya akan menjadi wujud-wujud Rakthabija yang banyak, sehingga musuh-musuhnya dibuat kewalahahan dan takluk.

 

Melawan Panglima Rakthabija

Mendengar Chanda dan Munda dibunuh Sang Dewi, raja Shumba sangat murka dan mengajak seluruh pasukannya untuk melawan Sang Dewi. Sang Dewi bersiap-siap lengkap dengan seluruh shaktinya para dewa, Indriyani adalah shaktinya Indra, Vaishnavi adalah shaktinya Vishnu, Varahi adalah shaktinya Varaha. Mahesvari adalah saktinya Mahesvara, Kumari adalah shaktinya Kumara, Brahmani adalah shaktinya Brahma. Shakti para dewa datang bersama pasukan mereka bersiap-siap melawan pasukan Shumbha Nishumbha.

Panglima Rakthabija maju ke depan dan mengamuk menghancurkan pasukan para shakti. Beberapa kali Rakthabija terluka parah oleh serangan pimpinan para shakti. Akan tetapi, setiap tetes darah yang keluar dari tubuhnya begitu menyentuh bumi langsung berubah menjadi kloning Rakthabija dan menyerang lebih ganas. Indriyani memukulnya dengan vajra tetapi darah yang menetes berubah menjadi Rakthabija baru. Vaishnavi memotong tubuhnya dengan chakra, tetapi justru muncul ribuan Rakthabija dari darahnya. Kumari dengan tombaknya, Varahi dengan tombaknya dan Mahesvari dengan trisulanya membantu tetapi Rakthabija menjadi semakin banyak. Para asura yang jumlahnya ribuan mulai mengisi alam semesta dan para dewa sangat khawatir.

Dewi Chandika segera berkata kepada Kali, “Wahai Chamunda, buatlah mulut yang sangat luas!” Sang Dewi kemudian memukul Rakthabija dengan gada dan darah yang tetes ditelan oleh mulut Kali yang sangat luas. Kemudian bahkan seluruh kloning Rakthabija juga ditelan oleh Kali termasuk Rakthabija sendiri. Dan, tamatlah riwayat Rakthabija.

Seluruh dewa dan dewi kemudian berkata, “Wahai dewi yang bersemayam pada diri semua orang, sebagai intelegensia yang memberikan keselamatan dan kebahagiaan. Salam dari kami wahai Narayani (kekuatan bawaan di belakang para dewa, atau kekuatan dibalik Narayana).”

“Sarva mangala mangalye, Shive sarvartha sadhake, Saranye triambike Gauri, Narayani namosthuthe.” Oh Dewi yang memberi semua kebaikan, yang damai, yang memberi semua kekayaan, yang handal, yang memiliki tiga mata, dan yang berwarna keemasan, kami memberi hormat kepada Anda, Narayani!”

 

Melawan Shumbha dan Nishumbha

Shumbha dan Nishumbha sangat murka dan menyerang Sang Dewi dengan ribuan anak panah yang semuanya dijatuhkan Sang Dewi. Nishumbha kemudian memukul Singa Sang Dewi dengan perisainya. Sang Dewi kemudian memecahkan perisainya dan memukul Nishumbha dengan tombaknya. Melihat Nishumbha jatuh Shumbha sangat marah dan tangannya berubah menjadi delapan tangan raksasa yang semuanya memegang senjata mengurung Sang Dewi. Sang Dewi menggerakkan tubuhnya dan seluruh perhiasannya bersuara bergemuruh dan tertawa sangat mengerikan. Kemudian Shumbha dipukul dengan tombak sehingga jatuh. Saat Shumba jatuh, Nishumba siuman dan membuat dirinya mempunyai sepuluh ribu tangan yang semuanya memegang roda. Sang Dewi menghancurkan sepuluh ribu roda dan kemudian melemparkan tombaknya merobek dada Nishumbha. Saat jiwa Nishumbha berteriak minta berhenti Sang Dewi tertawa dan memenggal kepala Nishumbha dan Shumbha. Seluruh pasukan Shumbha dan Nishumbha dihancurkan oleh  shaktinya para dewa.

 

Makna Melawan Panglima Rakthabija

“Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya. Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orangtua. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam peperangan terakhir melawan kejahatan di dalam diri dengan berkumpulnya seluruh sifat-sifat jahat di dalam diri, kesadaran perlu mengumpulkan juga energi (shakti) dari semua sifat-sifat baik dalam diri.

Rakthabija berarti biji darah. Panglima Rakthabija sulit ditaklukkan karena dia tidak pernah mati. Kadang-kadang kita ingin melakukan kebaikan, akan tetapi selalu saja kalah dengan kejahatan di dalam diri. Sifat jahat yang merupakan genetik bawaan terbawa dalam aliran darah dan sulit dikalahkan. Bahkan sifat jahat tersebut bila tidak segera dimusnahkan akan kita wariskan kepada anak-cucu generasi penerus kita. Menghadapi hal demikian, kesadaran kita perlu memukul kejahatan tersebut dengan senjata pikiran yang jernih, yang diperoleh lewat sadhana seperti meditasi , pembacaan mantra dan lain-lainnya. Selanjutnya kita perlu mohon pertolongan Kali (waktu) untuk melahap semua kejahatan dalam diri. Genetik jahat harus ditaklukkan terus menerus, sehingga kita terbiasa menaklukkannya. Karena terbiasa akhirnya kita mempunyai karakter penakluk kejahatan dalam diri. Bila itu dilakukan terus menerus dan mohon bantuan Bunda Ilahi, maka genetik jahat dalam darah bisa dimusnahkan.

 

Makna Melawan Shumbha dan Nishumbha

Shambhu adalah istilah bagi orang yang mengungkapkan kebaikan. Shumbha berarti penyimpangan halus dari shambhu, penyimpangan halus dari ungkapan kebaikan. Shumbha juga berarti orang yang membuat diri sendiri bersinar atau mengagungkan diri sendiri. Nishumbha adalah orang yang melestarikan Shumbha. Shumba dan Nishumbha juga mewakili arogansi, termasuk keangkuhan gender, merasa bahwa pria tidak bisa dikalahkan oleh wanita. Shumbha dan Nishumba juga bermakna merasa diri paling benar yang menunjukkan adanya ego.

Dalam kisah Devi Mahatmyam, semua asura yang dikalahkan Sang Dewi adalah asura-asura perkasa yang mewakili sisi gelap dari diri kita.

“Jangan kira sekali terjinakkan hewan di dalam diri menjadi jinak untuk selamanya. Tidak demikian. Hewan-hewan buas nafsu, keserakahan, kebencian, kemunafikan, dan lain sebagainya—termasuk majikan mereka yaitu gugusan pikiran yang kita sebut mind—membutuhkan pengawasan ketat sepanjang hari, sepanjang malam… sepanjang tahun..sepanjang hidup…” (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Dari Madhu-Kaithaba, Mahishasura, sampai Shumbha-Nishumbha (termasuk Panglima Chanda Munda, Dhomralocana dan Rakthabija)

Penaklukan tiga aspek Madhu-Kaithaba, Mahishasura dan Shumbha-Nishumbha melambangkan tahapan dalam sadhana.

Madhu-Kaitabha merupakan wujud kasar dari karakter rendah (asura) manusia, ego palsu yang membuat orang lupa akan jatidirinya. Mempercayai ego palsu termasuk kemalasan untuk berupaya menemukan jatidiri (Sifat Tamas). Madhu Kaithaba muncul kala Kesadaran Vishnu di dalam diri sedang tidur.

Mahishasura adalah simbol dari obsesi (kama, nafsu) asura dalam diri yang bertindak penuh kemarahan (krodha) bila obsesinya tidak tercapai. Apabila obsesi tersebut tercapai justru membuatnya menjadi semakin serakah (lobha). Mahishasura merupakan kejahatan yang bersifat dinamis (Sifat Rajas).

Shumbha dan Nishumbha adalah asura dengan jenis jauh lebih halus, dia adalah raja, sangat kaya, sangat berbudaya, tetapi sangat angkuh. Dia memiliki dominasi atas semua  kebaikan dan ia memiliki seluruh kekayaan dunia. Segala sesuatu yang diinginkan, semua yang terbaik dimiliki oleh dia yang tak terkalahkan dan dia memerintah sejumlah besar panglima. Salah satu panglimanya adalah kejahatan yang disebut Rakthabija yang disamakan dengan karakter jahat yang disebabkan genetik bawaan manusia. Setelah terjadi transformasi dengan mengubah karakter maka kehancuran terakhir dari Shumbha dan Nishumbha baru mungkin terlaksana. Ego yang halus adalah penghalang terakhir hubungan antara manusia dengan Tuhan. Selama masih ada ego masih terjadi dualitas daalam diri.

“Bila sudah memasuki Alam Meditasi, kita akan berada di atas alam pikiran dan perasaan. Rasa jenuh atau rasa apa pun tidak akan muncul lagi, atau tidak terasakan lagi. Meditasi membebaskan diri kita dari dualitas, dari segala macam dualitas. Tidak ada lagi duka, namun suka pun tidak ada, karena keberadaan suka akan menghadirkan pula duka dalam hidup kita. Ada mawar, ada duri. Ada positif, ada negatif. Karena itu, saya selalu mengatakan “berpikir positif” bukanlah solusi, karena untuk “berpikir positif” pun kita harus terlebih dahulu mengenal “negatif”. Bagaimana bisa berpikir positif tanpa mengenal apa itu negatif?! Meditasi tidak sinonim dengan `positive thinking. Kesadaran tidak sama dengan “pikiran positif”. Kesadaran melampaui pikiran. Rasa jenuh muncul karena keberadaan kita antara dua kutub positif dan negatif, suka dan duka, panas dan dingin. Bagaimana melepaskan yang satu tanpa melepaskan yang lain inilah dilema kita selama ini. Kita harus belajar untuk “mengangkat” kesadaran kita dari alam dualitas. Ini pula yang dilakukan oleh para leluhur kita, sehingga terciptalah kedamaian sejati. Kedamaian yang tidak perlu dituangkan lewat sebuah Memorandum of Understanding, sebuah nota kesepahaman bersama, tetapi kedamaian sejati yang mewarnai pemahaman itu sendiri.” (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Menaklukkan Rasa Angkuh Dalam Diri, Kisah Chanda Munda dalam Devi Mahatmyam

Posted in Lalitha with tags on September 26, 2013 by triwidodo

mahatmyam chanda munda sumber www mantraonline com

Ilustrasi Devi Mahatmyam sumber: www mantraonline com

Kemerosotan Kesadaran Karena Rasa Angkuh

“Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke-‘aku’-an. Kesadaran dan ke-‘aku’-an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke-‘aku’-an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke-‘aku’-an, keangkuhan. (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

“Chanda” dan “Munda”. Chanda berarti kepala yang berlawanan. Chanda akan menentang apa pun yang orang katakan. Chanda adalah orang yang tidak setuju dengan pendapat pihak lain. “Munda” berarti tidak memiliki kepala sama sekali. Apa pun yang dikatakan pada Munda, itu semua akan dianggap angin lalu. Chanda dan Munda adalah 2 asura yang berpikir bahwa mereka berdua sempurna dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.  Mereka adalah orang-orang yang angkuh.

Sedangkan teman Chanda dan Munda adalah “Dhumralochana”, “Dhumra” berarti asap dan “lochana” berarti mata yang berasap. Pandangan mereka kabur.

Nafsu Hewani Dalam Diri

Cerita-cerita menarik dari Kisah Devi Mahatmyam sebenarnya menggambarkan nafsu hewani dalam diri manusia yang digambarkan sebagai para pemimpin asura sakti yang mengalahkan para dewa, elemen alami dalam diri manusia. Dan, asura sakti tersebut bisa menguasai tiga dunia, nafsu hewani tersebut dapat menguasai diri manusia pada masa kini, masa lalu dan masa yang akan datang. Akan tetapi kesadaran tidak pernah kalah, pada waktu sang manusia sadar bahwa ada kekuatan yang tak terbatas, dan manusia mohon pertolonganNya, maka Dia akan membantu manusia menaklukkan nafsu-nafsu hewani tersebut.

“Kembali pada insting dasar…. Institusinya ada di otak. Lembaga yang mengendalikannya adalah bagian otak yang disebut Lymbic. Bagian ini yang menciptakan gairah atau drive. Dorongan nafsu serta keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, insting-insting hewani kita, berasal dari Lymbic. Saat ini, hidup kita masih didominasi oleh insting-insting hewani. Seolah kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Berarti kita baru beda penampilan dari binatang. Insting kita masih sama. Mereka memiliki insting hewani dan berpenampilan seperti hewan. Kita memiliki insting hewani, tapi berpenampilan seperti manusia. Boleh dibilang kita adalah binatang, hewan berkedok manusia. Kita baru berpura-pura menjadi manusia. Sungguh munafik ya! (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Mohon Pertolongan Kepada Bunda Ilahi

Adalah Raja Asura Shumbha yang dengan saudara kembarnya Nishumbha yang sangat sakti. Dengan kesaktian Shumbha dan Nishumbha beserta para panglimanya, para asura dapat mengalahkan Indra, Surya, Chandra, Kubhera dan Yama. Mereka kemudian minta para resi untuk melakukan persembahan kepada mereka. Para dewa kemudian datang kepada Trimurti, Brahma, Vishnu dan Shiva melaporkan kekalahan mereka menghadapi Shumbha, Nishumbha dan anak-anak buahnya. Para dewa kemudian diminta menemui Parvati yang sedang bertapa di Pegunungan Himalaya.

Para dewa kemudian datang kepada Parvati sebagai salah satu wujud Bunda Ilahi. Parvati tengah melakukan tapa dan menghilangkan kulit tubuhnya yang hitam sehingga menjadi putih sehingga disebut Gauri. Karena Gauri keluar dari lapisan fisik Parvati maka juga sering disebut Koushiki (Kousha – lapisan/kulit). Para dewa menyampaikan bahwa mereka telah dikalahkan oleh Raja Asura Shumba dan Nishumba yang kini menguasai tiga dunia dengan sewenang-wenang. Sang Dewi menyanggupi untuk menaklukkan Shumba dan Nishumbha dan meminta para dewa sabar menunggu…….

Chanda dan Munda

Chanda dan Munda adalah bekas panglima Mahishasura yang kala Mahishasura ditaklukkan Durga, mereka melarikan diri dan mengabdi kepada Shumba dan Nishumbha. Pada suatu hari Chanda dan Munda bersantai dengan pergi berburu, karena tidak ada pihak yang berani mengganggu kekuasaan kerajaan para asura. Pada suatu ketika mereka mengintip para dewa sedang menghadap seorang wanita yang sangat cantik. Menurut Chanda dan Munda, wanita tersebut pantas sebagai permaisuri raja Shumbha. Mereka kemudian melapor kepada sang raja dan kemudian sang raja mengirim duta Asura Sugriva untuk melamar wanita tersebut.

Wanita tersebut berkata kepada Asura Sugriva bahwa dia telah bersumpah hanya pria yang bisa mengalahkannya dalam pertarungan yang akan dipilihnya sebagai suami. Apabila Raja Shumbha ingin menyuntingnya, silakan datang dan bertarung dengannya. Sugriva berkata bahwa semua dewa takluk kepada sang raja yang sekarang menjadi penguasa tiga dunia. Mengapa seorang wanita berani menantangnya bertarung? Wanita tersebut berkata bahwa demikianlah sumpahnya dan silakan Shumbha datang bertarung dengannya.

Dhumralochana

Tersinggung atas ucapan wanita tersebut, Sugriva melaporkan hal yang dialminya kepada sang raja. Raja Shumbha menjadi murka dan memerintahkan panglima Dhumralochana mmembawa 60.000 tentara asura untuk menangkap wanita tersebut dengan paksa. Bila ada dewa atau ksatria yang melindunginya agar dibunuh saja.

Dhumralochana menemui wanita tersebut dan memintanya menuruti perintahnya untuk ikut dengannya menghadap sang raja. Wanita tersebut tetap pada pendirianya  dan menolak perintah sang panglima. Sang Panglima berusahaa meringkus wanita tersebut, namun hanya dengan suara “hum” sang panglima sudah berubah menjadi abu. Pasukan sang panglima segera menyerang wanita tersebut, akan tetapi Singa kendaraan wanita tersebut menghadangnya dan hancurlah seluruh pasukan sang panglima.

Mendengar Panglima Dhumralochana beserta pasukannya dihancurkan sang dewi, maka sang raja memerintahkan  Chanda dan Munda untuk membawa pasukan yang jauh lebih besar untuk menangkap wanita tersebut dan membunuh singanya.

Chamunda

Wanita tersebut sangat marah mendengar kedatangan Chanda dan Munda dengan pasukan yang jauh lebih besar. Wajahnya yang cantik menjadi menghitam dan dari dahinya keluar Dewi Kali yang bersenjatakan pedang dan tali. Dewi Kali mengenakan kalung tengkorak manusia dan berbaju kulit harimau. Sang Kali kemudian menelan para gajah beserta pengendaranya. Selanjutnya kereta beserta kusirnya pun dilahapnya. Dan gegerlah seluruh pasukan Chanda dan Munda. Chanda maju menyerang dan Sang Kali mengeluarkan suara “ham” dan terpenggallah kepala Chanda. Munda yang membantu maju juga dengan gampang dibunuhnya. Seluruh pasukan asura menjadi kocar kacir dan melarikan diri. Kali kemudian membawa kepala Chanda dan Munda kehadapan Wanita yang juga sering disebut sebagai Chandika. Kali melambangkan Kala, waktu yang menelan siapa saja. Chandika berkata, “Wahai Kali karena kau telah membunuh Chanda dan Munda maka kau akan dikenal sebagai Chamunda.”

Sebelum Menguasai Sifat Hewani Dalam Diri, Kita Hanyalah Animal Plus

Menaklukkan Dhumralochana dan Chanda serta Munda, adalah simbol dari menaklukkan pandangan diri yang masih kabur, masih terpengaruh maya dan menaklukkan keangkuhan dalam diri. Pandangan yang masih kabur dan angkuh adalah bagian dari sifat hewani dalam diri.

“Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita. Manusia juga merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi ini dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu, sekarang pun sama. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus. Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya.” (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

Bagaimana cara menghadapi Panglima Rakthabeeja yang setiap tetes darah jatuh ke tanah menjadi kloning Rakthabeeja yang baru? Dan bagaimana kala menghadapi Raja Asura Shumbha dan saudara kembarnya Nishumbha? Apa maknanya? Silakan ikuti kisah selanjutnya.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Menaklukkan Nafsu Agresif dengan Seribu Wujud, Kisah Mahishasura dalam Devi Mahatmyam

Posted in Lalitha with tags , on September 20, 2013 by triwidodo

Durga Mahishasura mardini sumber wikipedia

Relief Durga Mahishasuramardini pada Candi Prambanan sumber Wikipedia

Ego Memiliki Seribu Wujud

“Api keinginan, api keterikatan, api keserakahan, api ketidaktahuan, api ketidaksadaran entah berapa ‘jenis’ api yang tersimpan di dalam diri manusia. Atau mungkin semuanya itu hanyalah ekspresi dari satu jenis api yaitu api ke-‘aku’-an. Ego manusia. Nabi Ibrahim membiarkan ke-‘aku’-annya terbakar habis oleh api itu sendiri. Dia berhasil menaklukkan egonya, sehingga atas perintah Allah dia bersedia mengorbankan anaknya. Dalam kisah ini, anak mewakili ‘keterikatan’. Dan ketika Ibrahim berhasil membebaskan diri dari keterikatan itu, dia menjadi manusia api. Siapa pun yang mendekatinya akan terbakar. Demikianlah para nabi, para wali, para pir, para mursyid, para avatar, para buddha, para mesias, para guru, para master. Bersahabatlah dengan mereka, sehingga anda pun terbebaskan dari keterikatan. (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mahishasura Yang Tak Terkalahkan oleh Manusia maupun Dewa

Mahishmati adalah istri Asura Vipra Chithi. Dia meneror Resi Sindhu Dipa dengan mengambil wujud seekor kerbau. Sang Resi mengutuk dia menjadi kerbau sungguhan. Melihat kesaktian Sang Resi, dia  minum bekas sperma Resi Sindhu Dipa yang tercecer dan melahirkan Mahishasura. Tempat Mahishasura memerintah di masa lalu disebut Mahishur sekarang disebut Kota Mysore yang berada di negara bagian Karnataka, India.

Asura Mahisha adalah seorang raja yang kuat dalam bertapa, dia memiliki power of the will (niat yang kuat), power of action (kerja keras), power of knowlege (ilmu yang dalam), tetapi tidak mempunyai power of wisdom, atau kesadaran). Karena tapanya yang kuat, Brahma menemuinya dan menanyakan apa keinginan sang asura. Mahishasura memohon Brahma agar dia dapat hidup abadi dan Brahma menyampaikan bahwa itu berada di luar kewenangannya. Kemudian Mahishasura meminta bahwa dia tidak bisa dikalahkan oleh seluruh manusia dan dewa, dan dia hanya dapat dikalahkan oleh seorang perempuan. Brahma mengabulkan permohonannya, dan Mahishasura bergembira karena Trimurti yaitu Brahma, Shiva dan Vishnu pun termasuk dewa sehingga Trimurti tidak dapat mengalahkannya. Kalau mereka saja tidak bisa mengalahkannya, apalagi makhluk ciptaan mereka yang berjenis perempuan, maka menurut pikirannya dia tidak akan dapat dikalahkan.

 

Bunda Ilahi Mewujud Sebagai Dewi Durga

Mahishasura kemudian dengan para panglima dan pasukannya mengalahkan para dewa dan menguasai tiga dunia. Di bawah penguasaan Mahishasura yang lalim kondisi masyarakat tiga dunia semakin menderita. Di kala Trimurti kewalahan menghadapi permasalahan, maka Bunda Alam Semesta akan datang membantu.

Mendengar laporan kezaliman Mahishasura dari para dewa, Trimurti murka. Mereka tahu bahwa mereka tidak dapat mengalahkan Mahishasura, akan tetapi Dharma harus tetap ditegakkan. Kemudian dari muka Vishnu, Shiva dan Brahma keluar bola api yang segera menyatu membentuk bola api yang besar. Dari muka para dewa juga muncul api yang memperbesar bola api. Bola api tersebut berubah menjadi gumpalan sinar yang sangat berkilau dan muncullah seorang dewi naik seekor singa dari gumpalan sinar tersebut disertai suara gemuruh. Bumi berguncang, gunung gemetar dan laut menggelegak.

Mahishasura dan para asura anak buahnya berlari menuju sumber suara. Melihat dewi bersinar naik seekor singa dikelilingi para dewa, Mahishasura dan pasukannya menyerang Sang Dewi.

Panglima Chiksura, Chamara dengan pasukan infanteri, kavaleri berkuda, kereta perang dan pasukan gajah menyerang sang dewi. Sang dewi menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskan nafas yang menjadi jutaan Chandika mengimbangi pasukan asura. Dengan cepat pasukan Sang Dewi mengalahkan pasukan para asura.

Akhirnya Sang Dewi berhadapan dengan Mahishasura. Dewi Durga melemparkan Tali “Pasa” yang menjerat Mahishasura yang mewujud sebagai kerbau. Mahishasura yang terdesak lalu mengubah wujud sebagai singa. Sang Dewi segera menebas kepala Mahishasura, yang segera mengubah wujud sebagai Asura berpedang. Sang Dewi segera memanah Asura tersebut, dan Mahishasura segera mengubah wujud sebagai gajah raksasa dan menyerang Singa yang ditunggangi Sang Dewi. Sang Dewi segera memotong belalai sang gajah.

Menurut Vishnu Purana, dalam pengadukan samudera susu, para daitya menolak Dewi Sura, atau anggur sehingga kemudian dikenal sebagai asura, sedangkan para dewa menerimanya dan kemudian dikenal sebagai sura. Wine, anggur adalah simbol dari kasih spiritual.

Mahishasura kemudian kembali mewujud sebagai kerbau. Sang Dewi sangat marah dan kemudian minum wine, anggur merah dan tertawa. Dan kemudian Sang Dewi menduduki kerbau dan menjerat lehernya serta memegang kakinya. Mahishasura berupaya bergerak tetapi tak bisa. Selanjutnya kepala Mahishasura dipukul dengan pedang dan matilah Mahishasura. Seluruh asura kemudian melarikan diri.

 

Doa Kepada Bunda Alam Semesta

Para dewa kemudian berdoa, “Bunda adalah penyebab dan akar segala sesuatu di dunia. Meskipun Bunda memiliki tiga sifat Sathva (tenang), Rajas (agresif) dan Thamas (lembam), Bunda tidak terpengaruh oleh tiga guna tersebut. Bunda adalah sosok yang bahkan tidak sepenuhnya diketahui oleh Vishnu, Brahma dan Shiva. Bunda adalah tempat semua makhluk bergantung. Seluruh dunia adalah bagian dari Bunda. Energi Bunda menghidupi para dewa.”

“Wahai Dewi, Bunda adalah ‘Svaha’ yang diucapkan yang dalam api pengorbanan. Bunda menerima persembahan, yang dimasukkan ke dalam api yajna dengan kata ‘Svaha’.

“Wahai Dewi, Bunda adalah pembawa pengetahuan yang merupakan penyebab keselamatan. Pengetahuan yang dibutuhkan seseorang yang sedang mencari kebenaran. Bunda dicari oleh orang-orang bijak yang telah melepaskan semua keinginan dan perilaku buruk. Bunda didambakan mereka yang berpikir bahwa mencari Tuhan adalah esensi dari kehidupan mereka.”

 

“Wahai Dewi, Bunda adalah kebijaksanaan yang membuat orang mampu mengetahui semua pengetahuan sejauh yang ingin diketahuinya, Bunda adalah Durga tidak tertandingi yang merupakan perahu yang membantu seseorang untuk menyeberangi lautan kehidupan. Bunda adalah Dewi Lakshmi yang tinggal di dada Vishnu dan Bunda adalah Dewi Gauri yang bersemayam di  Parameshwara yang memakai bulan sabit.”

 

Durga Mahishamardini di Candi Prambanan

Kita bisa melihat bahwa pada Candi Prambanan terdapat relief kisah mulia Ramayana dan di dunia ini hanya di Candi Prambananlah kisah Ramayana dipahat pada dinding candi sebagai relief. Kita perlu mengetahui bahwa Sri Rama yang sering disebut titisan Sri Vishnu pun pada saat perang melawan Rahwana berdoa kepada Bunda Alam Semesta yang berwujud sebagai Durga. Patung yang disebut Roro Jonggrang di Prambanan adalah patung Durga Mahishasuramardini, Durga yang mengalahkan asura Mahisha. Patung yang menggambarkan Dewi bertangan delapan dan menginjak kerbau, mahisha. Kata Prambanan sendiri berasal dari Param Brahman, Kebenaran Mutlak Tertinggi. Silakan baca http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/04/tanpa-seks-dunia-cepat-berakhir-kisah-kama-pralaya-dalam-lalitopakyana-589503.html

 

Kama Krodha dan Lobha

Mahishasura adalah simbol dari obsesi (kama, nafsu) dalam diri yang bertindak penuh kemarahan (krodha) bila obsesinya tidak tercapai. Apabila obsesi tersebut tercapai justru membuatnya menjadi semakin serakah (lobha). Ketiga sifat itu seharusnya dilepaskan karena ketiganya menutupi cermin kesadaran sehingga cerminnya tidak nampak lagi. Kama, krodha dan lobha lebih tangguh daripada musuh yang terlihat mata. Mahishasura selalu berubah wujud, seperti keinginan yang berubah wujud dan berkembang biak sangat cepat. Jika kita memukulnya sebagai kerbau dia akan mewujud sebagai gajah. Bila kita membunuh sebagai gajah dia akan mengambil bentuk yang lain, sehingga manusia sulit mengalahkannya. Energi kita akan habis untuk melawannya. Keinginan satu dipotong akan berubah wujud menjadi keinginan lainnya. Kecuali kita dapat memotong sampai ke akar-akarnya, ke sumbernya, atau menaklukkan esensinya. Dengan bantuan Bunda Alam semesta, keinginan dapat ditaklukkan.

“Bebaskan diri Anda dari perbudakan yang mengecoh ini. Pahamilah, perbudakan ini adalah kreasi Anda sendiri. Itu suatu ilusi, suatu imajinasi. Keterikatan Anda, obsesi Anda – semuanya ini telah menciptakan sangkar, tempat Anda tinggal. Bebaskan Anda dari keterikatan ini. Ini bukan cinta kasih. Lepaskan diri Anda. Selama Anda terikat, Anda terikat dalam sangkar, kebebasan hanya merupakan suatu impian. Jika Anda senang dengan situasi seperti ini, jangan mengeluh lagi. Jangan mengharapkan kebebasan. Lalu, nikmatilah keterikatan Anda. Lalu, jadikan sangkar Anda dunia Anda. Jangan mimpikan dunia luar. Lalu jangan berpikir tentang kebebasan. Lalu cintailah keterikatan. Tetapi ingat, ini bertentangan dengan keadaan alami Anda. Perbudakan tidak ada hubungannya dengan sifat sejati Anda. Setelah beberapa waktu Anda akan mulai mengadu lagi. Suatu hari nanti akan mulai bermimpi tentang kebebasan lagi. Lalu, mengapa menunda kebebasan Anda sendiri? Mengapa Anda tangguhkan? Mulailah perjalanan Anda menuju sesuatu yang baru yang belum Anda ketahui. Bebaskan diri Anda, karena hanya lewat kebebasan Anda dapat mengubah hidup Anda menjadi perayaan. Sekali lagi, saya ulangi, perbudakan, penjajahan hanya merupakan imajinasi Anda. Bebaskan diri Anda. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Tidak, jangan membiarkan kebebasan hanya menjadi sebagai suatu kemungkinan Nyatakan kebebasan Anda sekarang juga pada kesempatan ini.” (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Menaklukkan Kejahatan dalam Diri, Kisah Madhu dan Kaitabha dalam Kitab Devi Mahatmyam

Posted in Lalitha with tags , on September 15, 2013 by triwidodo

Mahatmyam membangkitkan Vishnu dari tidur sumber vimokhananda com

Ilustrasi Dewi Mahatmyam membangkitkan Vishnu dari tidurnya sumber vimokshananda com

Dorongan Kegelapan dalam Diri

“Arjuna bertanya kepada Sang Murshid, Krishna, ‘Kenapa aku masih saja berbuat yang tidak baik, tidak tepat? Seolah ada dorongan kuat untuk berbuat yang tidak baik, tidak tepat. Kenapa?’ Krishna menjawab, ‘Dorongan itu bukanlah karena Dewa Setan Mara, atau Iblis, atau Jin. Dorongan itu disebabkan oleh keinginanmu sendiri. Keinginan untuk apa? Untuk meraih keuntungan. Kemudian, kita menghalalkan segala  macam cara untuk meraihnya. Keinginan untuk menjadi kaya, untuk hidup mewah – dan, kita pun membenarkan segala macam usaha walau ilegal.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Madhu mempunyai makna ego palsu yang mempunyai sifat seperti manisnya madu dan membuat orang lupa diri siapa jatidiri sebenarnya. Kaitabha mempunyai makna menipu, Madhu dan Kaitabha adalah ego seseorang yang menipu manusia sehingga lupa jatidirinya.

 

Ego yang Menipu

Dikisahkan bahwa sebelum penciptaan, Vishnu sedang tidur. Tidurnya Vishnu, adalah tidur dengan tidak memperhatikan dunia. Brahma, Sang Pencipta lahir dengan melompat keluar dari pusar Vishnu. Kemudian, dari kotoran telinga Vishnu yang sedang tidur lahir Asura Madhu dan Kaitabha.

Madhu dan Kaitabha senang bermain air di samudera dan tiba-tiba ingin mengetahui siapakah sejatinya mereka dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa Adi Shakti, Energi Agung adalah sumber mereka. Mereka membaca mantra dengan penuh dedikasi dan akhirnya Bunda Ilahi, Sang Energi Agung memberi anugerah dengan memenuhi permintaan mereka bahwa mereka tidak bisa mati kecuali dengan keinginan mereka sendiri. Merasa punya power yang luar biasa Madhu dan Kaitabha memutuskan untuk menumpas Brahma, Sang Pencipta yang mewakili sifat kreatif di dunia. Seseorang disebut Brahmachari bila dia berperilaku seperti Brahma. Madhu dan Kaitabha, ego yang menipu yang selalu ingin menghancurkan para Brahmachari.

Brahmachari berarti ‘Ia yang Berperilaku seperti Brahma atau Pencipta’. Perhatikan ciptaannya, tidak ada sesuatu yang terulang. Dua helai daun dari satu pohon yang sama pun tidak persis sama. Penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendakNya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendakNya. Remaja yang mengolah dirinya disebut Brahmachari berperilaku seperti Brahma atau sang pencipta. Kemudian gelar yang diperolehnya juga sudah tepat: Srajanahaar, sang pencipta—ia ibarat cahaya atau sinar matahari yang tengah berbagi kehidupan dengan sesama makhluk hidup.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Madhu dan Kaitabha Mengganggu Brahma

Brahma yangselalu  berkarya mencipta, kemudian mulai diganggu oleh Madhu dan Kaitabha. Brahma berdoa kepada Dewi Mahatmyam dengan memuja sang dewi dan kemudian mohon pertolongan untuk membunuh Asura Madhu dan Kaitabha. Sang dewi kemudian membangunkan Vishnu yang sedang tertidur. Dan kemudian Vishnu berperang melawan Madhu dan Kaitabha. Mereka berkelahi selama 5.000 tahun dan tidak ada yang kalah.

Vishnu minta istirahat sebentar, karena dia belum pernah istirahat, sedangkan Madhu dan Kaitabha bisa beristirahat bergantian. Kedua asura mengijinkannya dengan angkuh karena mereka yakin tidak bisa dikalahkan kecuali dengan keinginan mereka sendiri. Vishnu berdoa kepada Dewi Mahatmyam yang kemudian muncul dengan segala keindahan yang mempesona kedua asura. Dalam keadaan kena pukau, Vishnu menawarkan anugerah apa yang diminta kepada dirinya. Dalam keadaan lengah, mereka menjawab dengan angkuh silakan Vishnu saja yang memohon anugerah kepada mereka dan mereka akan mengabulkannya.  Vishnu kemudian minta anugerah untuk dapat membunuh mereka berdua. Dengan pemahaman mereka bahwa air samudera pralaya memenuhi alam semesta, maka mereka bilang bahwa mereka bisa dibunuh bila mereka tidak bisa melihat samudera. Kemudian Vishnu membesarkan dirinya dan meletakkan mereka diatas kedua pahanya dan mereka tidak dapat melihat samudera. Selanjutnya kedua asura tersebut dibunuh dengan senjata chakra oleh Vishnu.

 

Belajar dari Kisah Madhu dan Kaitabha

Kisah ini adalah simbol konflik internal dalam diri. Kejahatan bersumber dari keinginan pikiran yang mengikuti ego palsu di dalam diri. Baik kekuatan kreatif Brahma di dalam diri maupun ego palsu, baik dan jahat, penciptaan dan kehancuran, berkarya tanpa pamrih dan memuaskan kenyamanan duniawi bersumber di dalam diri.

Kala seseorang lupa jatidirinya (tidurnya Vishnu), maka kegelapan dalam diri (ego palsu, Madhu Kaitabha) ingin menguasai diri dan menaklukkan sifat kreatif dalam diri (Brahma).  Kekuatan kreatif dalam diri mengikuti intuisi untuk berdoa kepada Bunda Ilahi, Energi Agung yang merupakan sumber dari semua makhluk.

Bunda Ilahi membangunkan kesadaran seseorang yang kemudian berperang melawan ego palsu di dalam diri. Perang selama 5.000 tahun antara Vishnu melawan Madhu Kaitabha adalah simbol dari perkelahian antara kesadaran melawan ego palsu di dalam diri yang selalu berkecamuk selama hayat masih di kandung badan. Kesadaran bisa menang setelah mohon berkah dan anugerah dari Bunda Ilahi yang selalu bersedia menolong mereka yang berperang melawan kejahatan dalam diri, apalagi bagi mereka yang mohon pertolongan kepada diri-Nya. Bila kita sering mendengar Krishna dipanggil dengan gelar Madhusudhana, baberapa pakar berpendapat Sri Krishna adalah Vishnu yang menumpas asura Madhu, gelar tersebut juga diberikan kepada seorang yang telah menundukkan ego palsunya dan mengenali jatidirinya.

 

Upaya Menaklukkan Ego Yang Palsu, Ego yang Berasal dari Pikiran yang Penuh Keinginan

Dalam diri seseorang ada Brahma yang kreatif mencipta dan ada Pikiran Penuh Keinginan yang menghasilkan Ego Palsu. Dengan menaklukkan Pikiran, seseorang bisa berkarya tanpa pamrih dan berkarya sesuai kehendak-Nya.

“Manusia berada antara hewan dan malaikat : Manusia adalah titik tengah. Manas + isha = manushya = manusia. Tambahkan manas atau mind, pikiran pada Isha atau keilahian, maka terjadilah manushya atau manusia. Manushya atau manusia dikurangi manas atau mind (pikiran) tinggal ishya, keilahian. Pikiran menjauhkan kita dari Allah. Pikiran itulah hijab, maya, ilusi yang sebenarnya juga merupakan ciptaan-Nya. la menciptakannya terlebih dahulu, supaya manusia tercipta. Peleburan pikiran mempertemukan diri kita dengan Sang Maha Cipta, bukan Pencipta, tetapi Cipta. Ia bukanlah ‘sosok’ pencipta. Ciptaan terjadi karena Keberadaan-Nya, Kehadiran-Nya. la tidak membutuhkan peralatan dan bantuan untuk menjadikan sesuatu. Kejadian terjadi atas Kehendak-Nya. Sang Maha Hendak, The Suprememost Will-itulah Dia. Kesadaran manusia harus meningkat, mengalami lompatan kuantum untuk menggapai Isha, Yang Esa. Itulah masa depannya destiny. Namun proses peningkatan kesadaran atas lompatan kuantum itu sendiri harus terjadi sekarang dan saat ini juga, here and now! (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Penjelasan Lambang Lingga Yoni di Candi Sukuh

“Manusia tidak dilahirkan sebagai makhluk yang paling sempurna. Ya, dia memiliki potensi untuk meraih kesempurnaan, untuk menjadi sempurna. Untuk itu, Ia harus bekerja keras. la harus membanting tulang. la harus berupaya.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Leluhur kita menggambarkan upaya manusia sebagai “lingga” yang mengarah ke atas, seperti sifat api yang mengarah ke atas melawan gravitasi dan ada juga yang menggambarkan sebagai segitiga yang mengarah ke atas. Setelah ada upaya maka akan datang anugerah yang digambarkan dengan “yoni” yang mengarah ke bawah, sifat air yang memberkati sesuai gravitasi dunia, dan ada juga yang menggambarkan sebagai segitiga dengan arah ke bawah. Gambaran Lingga Yoni, Bintang Segi Enam (dua segitiga yang mengarah ke atas dan ke bawah) yang sering disebut sebagai Bintang Daud adalah gambaran bahwa kita harus selalu berupaya dengan keras dan anugerah akan turun sebagai konsekuensinya.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Pengantar Kisah Devi Mahatmyam dalam Markandeya Purana

Posted in Lalitha with tags , on September 10, 2013 by triwidodo

mahatmyam 5694792226547752151_Org sumber www globalmarathi com

Ilustrasi Devi Mahatmyam sumber www globalmarathi com

Kesalahan Manusia yang Selalu Diulangi dan Diulangi Lagi

“Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan, ya Panca-Provokator-itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah.” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Devi Mahatmyam adalah kisah Bunda Ilahi yang mewujud sebagai Vishnu Maya menghancurkan Asura Madu dan Kaitabha, sebagai Durga menaklukkan Mahishasura dan dalam wujud Parvati membunuh Shumbha dan Nishumbha. Bunda Ilahi dikenal sebagai Devi Mahatmyam di India Selatan, Chandi di Bengal Barat dan Durga Sapthasathi di India Utara. Kisah ini merupakan bagian dari Markandeya Purana dan ditulis oleh Veda Vyasa.

 

Perjalanan Jiwa Mengatasi Berbagai Rintangan Saat Menuju Tujuan Kebebasan

Kisah Devi Mahatmyam menggambarkan perjalanan jiwa mengatasi berbagai rintangan menuju Kebebasan. Rintangan pertama adalah Ego Palsu yang menipu, sifat yang diwakili oleh Asura Madhu dan Kaitabha. Musuh Selanjutnya adalah Asura Rakthabija, Keinginan yang tak pernah habis dan selalu meningkat. Kemudian musuh tangguh berikutnya adalah Asura Mahishasura yang mewakili Keinginan dan Kemarahan yang berubah-ubah wujud sehingga sukar ditaklukkan. Musuh terakhir adalah Asura Shumbha dan Nishumbha yang mewakili Keserakahan, Keterikatan dan Arogansi.

Dalam kisah Devi Mahatmyam, semua asura yang dikalahkan Sang Dewi adalah asura-asura perkasa yang mewakili sisi gelap dari diri kita. Ego, keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan adalah sisi gelap kita. Gelap karena kesadaran telah tertutup oleh nafsu pancaindra dan pikiran kita.

 

Kisah Raja Suradha dan Pedagang Samadhi

Dikisahkan Raja Suradha yang hidup pada zaman pemerintahan Manu kedelapan, memperlakukan warga seperti putra-putranya sendiri. Kemudian pada suatu saaat, pasukannya dikalahkan oleh raja asing, sehingga dia hanya menjadi orang yang dituakan di kerajaannya. Kemudian seluruh harta bendanya diambil oleh para menterinya dan dia pergi ke hutan dengan rasa penuh penderitaan. Akhirnya dia sampai ke ashram Resi Sumedha. Sang raja tinggal beberapa lama di ashram sang resi dan bepergian ke beberapa daerah. Dalam perjalanan dia mulai merenung, “Bagaimana kerajaanku pada saat ini, dibawah pimpinan para menteri yang mempunyai karakter buruk dan bagaimana pula kabarnya pasukan gajahku yang perkasa dibawah penguasaan raja asing? Mereka semua mendapat penghidupan, kekayaan dan makanan dariku tetapi mereka mengabdi pada raja asing.”

 

Pada suatu hari sang raja bertemu dengan Samadhi, seorang pedagang yang hanya memikirkan uang belaka. Pada suatu ketika harta kekayaannya dirampok, dan karena sudah tidak berharta, kemudian dia diusir dari rumah oleh istri dan anak-anaknya sehingga dia pergi ke hutan meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Sang pedagang berkata kepada sang raja, “Saya  sedih tidak mengetahui kabar keluargaku dan tak mengetahui anak-anakku menjadi jahat atau tidak?”

Raja Suradha bertanya, “Kamu kehilangan keluarga karena obsesimu terhadap uang, mengapa kamu bersedih memikirkan mereka? Bukankah mereka yang mengusirmu?” Sang pedagang menjawab, “Saya tidak tahu mengapa, tetapi saya tetap mencintai mereka. Saya menderita tapi saya mencintai mereka.”

 

Berkarya dengan Keterikatan dan Berkarya Tanpa Pamrih

Mereka berdua kemudian pergi kepada Resi Sumedha dan sang raja bertanya, “Wahai resi yang suci, mengapa kami tak dapat mengendalikan pikiran dan merasa menderita? Kami kehilangan kerajaan tapi kami masih memikirkan kerajaan. Saudaraku diusir oleh keluarganya, tetapi tetap memikirkan mereka. Mengapa demikian resi?”

Sang resi berkata, “Semua hewan mempunyai pengetahuan tentang apa yang akan dihadapinya. Tetapi jiwa-jiwa besar mempunyai pengetahuannya yang berbeda. Ada hewan yang tak dapat melihat di waktu siang, ada yang tak dapat melihat di waktu malam dan ada yang dapat melihat keduanya. Manusia adalah bijak, tapi demikian pula sapi, burung dan hewan liar lainnya. Pengetahuan mereka untuk memperoleh makanan, minuman seks dan kenyamanan mirip. Wahai raja, singa di antara manusia, manusia menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak mereka dengan harapan bahwa mereka akan memberikan timbal balik terhadapnya. Tetapi apakah raja melihat burung-burung ini? Burung melakukan tindakan apa pun tanpa mengharapkan apa pun! Manusia jatuh kedalam kolam keterikatan yang amat mempesona. Sedangkan burung-burung melakukan tindakan tanpa pamrih.”

“Sebagian orang berpendapat bila berkarya tanpa pamrih pribadi adalah khayalan utopian, mimpi yang tidak pernah menjadi kenyataan. Sebagian lagi berpendapat bila jiwa kerelawanan, atau semangat “going the extra mile”-ala-Napoleon Hill sekedar teori yang enak untuk didengar dan dibahas, tapi tidak mungkin dilakoni. Anggapan-anggapan miring seperti itu muncul karena kesalahpahaman kita tentang peran kita di dunia ini. Kita tidak memiliki dunia ini. Dunia ini bukan milik kita. Kita datang ke dunia ini dengan tangan kosong, dan akan meninggalkannya dengan tangan kosong. Sebatang ranting kering pun tak terbawa. Itulah sebab para Sufi menasihati kita untuk menjadi wali yang bertanggungjawab. Peran wali inilah peran kita, bukan peran pemilik. Karena, Hyang Memiliki hanyalah Gusti Allah.’ (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kisah Devi Pemesona Agung

Resi Sumedha nelanjutkan, “Kekuatan mempesona adalah tidur yoganya Vishnu. Tidurnya Vishnu mempesona dunia sehingga kalian tidak sadar tentang apa yang kalian lakukan. Dewi yang terkenal sebagai Mahamaya (Yang Maha Mempesona) adalah personifikasi dari semua kepemilikan. Orang-orang ada yang menjadi terikat dengan kepemilikan dan ada yang memperoleh pengetahuan khusus sehingga dapat melepaskan diri dari kepemilikan. Sang Dewi menciptakan tiga dunia dengan segala sesuatu yang bergerak dan tidak bergerak. Dan, meskipun dia penyebab keterikatan, dia juga akan menganugerahkan kebebasan. Dia adalah penyebab knowingness, kesadaran, pengetahuan terbesar, yang merupakan penyebab keselamatan, namun dia juga adalah penyebab ignorance, ketidaktahuan yang menyebabkan keterikatan dengan dunia fana. Dia adalah juga ibu dari semua dewa.”

Sang raja bertanya, “Wahai resi yang saleh, siapakah dewi suci yang disebut sebagai Pemesona Agung? Dari mana yang dia lahir? Apa pula tugasnya? Ceritakanlah kepada kami!”

Sang resi berkata, “Dewi suci tersebut telah menciptakan alam semesta. Tapi dia mengambil wujud dalam beberapa kasus, setiap kali dia muncul di dunia untuk membantu dewa, ia dikatakan dilahirkan pada waktu itu juga!” Demikian pembukaan dalam kisah Devi Mahatmyam.

 

Menguasai Panca Provokator

“Yang kita sebut nabi, atau avatar, atau mesias, atau buddha telah menguasai kelima-limanya (keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan). Kita belum. Lalu, setelah menguasai kelima-limanya tidak berarti mereka tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan-setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer. Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena ‘tali persaudaraan’, karena ‘ikatan-persahabatan’ yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah ‘Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi’, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-‘Aku’-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna.” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Selanjutnya, silakan menikmati beberapa kisah Devi Mahatmyam.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013

Tanpa Seks Dunia Cepat Berakhir, Kisah Kama Pralaya dalam Lalitopakyana

Posted in Lalitha with tags , , on September 3, 2013 by triwidodo

lalitha menghidupkan para dewa sumber srilalithatripurasundari wordpress com

Ilustrasi Bunda Lalitha membangkitkan kembali para dewa sumber srilalithasundari wordpress com

Hubungan Seks bukan hanya Hubungan Biologis tetapi Melibatkan Mental-Emosional

“Hewan melakukan hubungan seks karena instink hewani mereka, karena dorongan fisik, karena kebutuhan biologis. Yang terjadi, sepenuhnya interaksi fisik. Lain dengan manusia. Serendah-rendahnya kesadaran manusia, keinginan dia untuk bersenggama tidak semata-mata karena kebutuhan biologis. Selain fisik, terjadi pula interaksi mental-emosional. Bila seseorang bisa melakukan hubungan seks tanpa keterlibatan mental-emosional, dia tidak lebih baik dari hewan. Dia masih bersifat hewani. Bahkan, kendati suka-sama-suka, senang-sama senang, bila sepasang anak manusia naik ranjang dan langsung melakukan hubungan seks. Mereka tidak lebih baik dari sepasang ayam atau sepasang anjing. Interaksi yang terjadi, hanyalah antara badan dan badan. Pertama-tama, kita harus memperbaiki kehidupan seks kita. Senggama antara suami-isteri, antara sepasang anak manusia, harus melibatkan seluruh kesadaran mereka. Interaksi fisik saja tidak cukup. Belum cukup. Harus terjadi interaksi mental-emosional. Harus ada cinta antara mereka. Harus ada rasa tanggung jawab. Tidak bisa berhubungan seks dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Terlepas dari hukum agama dan negara, seks semacam itu hanya membuktikan bahwa anda masih dikuasai oleh instink-instink hewani. Anda belum cukup manusiawi.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Bhandasura dan Pasukannya Mengeringkan Cairan Tubuh Manusia

Ketika kerajaan sudah mapan, Bhandasura mengadakan pertemuan dengan kedua saudara dan para menterinya. Bhandasura berkata: “Dewa adalah musuh kita, selama Kamadeva masih hidup, mereka meneruskan garis keturunan dengan baik. Mereka juga telah menikmati banyak kesenangan karena adanya kama (nafsu). Kini keberuntungan ada di pihak kita. Kita lahir dari abu Kamadeva. Para dewa kini tengah berupaya untuk melahirkan Kamadeva dan peristiwa itu jangan sampai terjadi. Mari kita membunuh para dewa. Akan tetapi jika kita masih dalam bentuk seperti ini, kita sulit untuk menang. Mari kita mewujud sebagai angin/udara dan memasuki tubuh mereka. Setelah masuk ke dalam tubuh mereka, kita keringkan cairan tubuh mereka terutama air maninya. Jika air mani tersebut mengering, maka mereka tidak bisa meneruskan  keturunan, mental-emosional mereka tidak berkembang, dan juga kekuatan mereka berkurang secara otomatis!” Seluruh komandan balatentara asura bersorak dengan penuh sukacita atas ajakan Bhandasura.

“Sperma dalam diri seorang pria dan sel telur dalam diri seorang wanita adalah liquid energy. Inilah energi yang paling murni dan paling dahsyat. Energi ini pula yang membuat manusia menjadi kreatif. Seni adalah ungkapannya yang paling sempurna.”  (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Semua Makhluk Kehilangan Gairah

Bhandasura dan pasukannya kemudian mulai memasuki kepala para dewa dan mengeringkan otak mereka. Mereka juga merasuk ke dalam wajah dan merampok kecantikan dan ketampanan para dewi dan dewa. Semua pria dan wanita di surga menjadi mandul dan menjemukan. Selain itu para dewa-dewi juga kehilangan rasa kasih sayang.  Bahkan tanaman dan hewan pun mulai mengalami nasib yang sama. Vishukra bersama rombongannya masuk bumi dan orang-orang di bumi berhenti tersenyum. Penduduk bumi kehilangan rasa kebahagiaan dan rasa hormat, menjadi seperti batu yang tidak memiliki kehidupan dan perasaan. Vishanga bersama rombongannya memasuki Rasaatala dan menciptakan keadaan serupa.

Dari 5 elemen alami, tanah adalah kombinasi dari semua elemen, sedangkan ruang adalah tempatnya kehidupan, sehingga elemen yang pengaruhnya sangat besar adalah air, api dan angin. Ketiga elemen tersebut membentuk “rasa”, cairan kehidupan. Rasa adalah awal keberadaan kehidupan. Rasa membentuk darah. Darah membentuk daging. Daging membentuk tulang. Tulang membentuk sumsum. Sumsum membentuk veerya (sperma/ovum). Dari veerya datang Kanti (cahaya), Utsaaha (antusiasme), Ullasa (kebahagiaan), Dharma (kebenaran), Daya (kasih-sayang), Preeti (cinta), Buddhi (kemapuan intelegensia), Vikasa (pembangun), Parakrama (keberanian), Shastra Vijnana (pengetahuan), Kala Asakti (seni), Soundarya Drishti (ketepatan kecantikan) dan lain-lain. Pada tumbuhan, rasa meningkatkan energi api yang berupa potensi di dalam tumbuhan. Energi api menghasilkan bunga dan buah-buahan. Karena berpotensi api, maka kayu kering akan cepat terbakar. Veda mengatakan bahwa makhluk mengalami kebahagiaan jika “rasa” hadir.

Bhandasura memahami hal ini. Para asura di bawah pimpinan Bhandasura masuk ke dalam semua makhluk dan mengeringkan “rasa”. Bahkan matahari, bulan dan bintang telah kehilangan kecemerlangannya. Demikian Vasanta menyampaikan penjelasan kepada Dewi Rati dan kemudian mengatakan bahwa sudah semakin dekat waktu Kamadeva hidup kembali.  Dewi Rati segera bertapa dengan tekun.

Yang Menghuni Penciptaan tetap Kena Pengaruh

Mengalami bencana tidak punya gairah diri, Brahma dan semua dewa menghadap Sri Vishnu. Kata Viṣhṇu berasal dari Bahasa Sanskerta, akar katanya vish, (yang berarti “menempati”, “memasuki”, juga berarti “mengisi”), dan mendapat akhiran nu. Kata Vishnu kira-kira diartikan: “Sesuatu yang menempati segalanya”. Adi Shankara dalam Vishnu Sahasranama, mengambil kesimpulan dari akar kata tersebut, dan mengartikannya sebagai “yang hadir dimana pun”. Mereka menemui Sri Vishnu yang berada dalam keadaan “sushupti”, “deep sleep”. Vishnu berkata kepada para dewa: “Ini semua adalah permainan jahat Bhandasura. Kita semua adalah “causal body”, dan walaupun Saya, Brahma dan Shiva mewujudkan penciptaan, kami  masih terpengaruh oleh Bhandasura, karena kami masih menghuni penciptaan. Akan tetapi ada yang berada di luar manifestasi penciptaan, dia disebut Maha Shambhu dimana Parashakti terus-menerus mendampinginya. Dia tanpa bentuk, tidak tergantung dan tidak berubah. Dia tidak akan dapat dipengaruhi oleh Bhandasura. Mari kita semua menghadapnya!”

Lalitha Parameshwari, Sang Bunda Ilahi

Para dewa memasuki Chinmaya Akasha yang bebas, murni dan bebas dari 5 elemen alami. Dan mereka melihat Maha Shambhu dan Parashakti.

Maha Shambhu atau dikenal sebagai Adi Shiva adalah perwujudan dari kesadaran tertinggi. Para dewa melihat wujudnya menyerupai Shiva, memiliki tiga mata, kapala (tengkorak) di satu tangan dan trisula di tangan yang lain. Mereka melihat Maha Shambhu tersenyum dan mengatakan, “Walaupun tak berwujud, aku sengaja mewujud menyerupai Shiva agar dikenali kalian semua.”

Maha Shambhu berkata, “Aku paham mengapa kalian ke sini. Ada 3 macam pralaya: Avaantara Pralaya, MahaPralaya dan Kama Pralaya. Aku bertanggung jawab menyelamatkan dunia dari Maha Pralaya. Vishnu bertanggungjawab menyelamatkan dari Aavantara Pralaya. Dan, Lalita Parameshvari yang akan menyelamatkan dunia dari Kama Pralaya. Ketiga macam Pralaya berlangsung dalam pola siklus dalam setiap Kalpa. Kama Pralaya atau Kaamika Pralaya telah terjadi karena matinya ‘Kama’ dan tindakan Bhandasura mengeringkan rasa. Hanya Lalitha Devi yang dapat menyelamatkan situasi saat ini. Oleh karena itu, berlindunglah dalam dirinya. Mohon Dia untuk membantu kalian!” Mendengar ini, para dewa tidak tahu harus berbuat apa dan mohon Maha Shambhu untuk mengajari mereka bagaimana meminta bantuan Parashakti. Maha Shambhu menjelaskan bahwa mereka harus mengadakan acara ritual Maha Yaga, sebuah ritual pengorbanan lewat api. Pada saat api tersebut menyala, mereka semua harus meloncat ke dalam api. Mereka harus memiliki pengabdian mutlak.

Para dewa, selanjutnya melakukan acara Maha Yaga, dan mereka semuanya meloncat ke dalam api persembahan. Selanjutnya Parashakti Lalita Parameshvari mencipta Parambrahma (Brahma Yang Besar) dengan nama Kameshvara. Lalita Parameshvari atau sering disebut sebagai Bunda Ilahi atau Bunda Tripurasundari adalah “aku”-nya Kameshvara yang adalah nama lain dari Paramashiva (Shiva Yang Besar). Bunda Ilahi menciptakan kembali seluruh alam semesta dan membuat Kamadeva hidup kembali. Lalitha Parameshvari memiliki 4 senjata yaitu Ikshu Dhanus, busur dari batang tebu; Pushpa Banas, anak panah dari 5 macam bunga; Paasha, tali pengikat kasih sayang; dan Ankusha, alat pengait gajah. Bila dewa lain hanya memberikan blessings dengan lambang satu telapak memberi anugerah, maka Bunda Lalitha langsung bertindak dengan senjata di semua tangan untuk membantu devotinya.

Bhandasura dan Pasukannya dikalahkan Bunda Lalitha Devi beserta Pasukannya

Demikianlah yang terjadi, Bunda Lalitha Devi (Dia yang bangkit dari api pengetahuan dan kebenaran sejati) mengalahkan “Bhandasura” (sifat “keterikatan” dalam diri). Balatentara Bunda Ilahi membunuh Vishanga, saudara Bhanda yang merupakan keinginan untuk hal-hal yang bersifat fisik. BalatentaraNya juga membunuh Vishuka, saudara Bhanda yang merupakan personifikasi dari “ignorance”, ketidaktahuan. Bunda Tripurasundari atau Parashakti adalah yang mencipta Ganesha, penghancur rintangan untuk memusnahkan hambatan “penundaan” yang dibuat oleh Vishuka.

Melakukan Segala Sesuatu Sebagai Persembahan

Bunda Ilahi akan menolong mereka yang berkarya tanpa pamrih, yang melakukan segala sesuatu sebagai persembahan. “Bukan aku, bukan aku!” Yang mempersembahkan, yang dipersembahi, dan persembahan itu sendiri adalah Dia.

“Dari pagi hingga malam, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, sejak membuka mata, hingga memejamnya, menyangkut hal-hal kecil dan sepele, hingga kegiatan-kegiatan besar dan penting, lakukan itu sebagai persembahan. Bukan saja makanan dan minuman, tetapi bacaan, pikiran, perasaan… persembahkan semuanya kepada Dia… namun, sebelumnya bertanyalah kepada diri sendiri, ‘Patutkah kupersembahkan semua itu kepada-Nya?’ Bila kita belum memiliki kasih, janganlah berpura-pura… Persembahkan apa yang Anda miliki, termasuk segala kebencian yang selama ini bersarang di dalam hati dan kalbu Anda, lalu dengan jujur berucap, ‘Ya Allah, hanyalah ini yang kumiliki. Tak ada sesuatu lain yang berharga.  Tak sesuatu apa pun lagi yang kumiliki berkenanlah untuk menerima apa yang kumiliki ini.’ Dan, Anda pun akan kaget sendiri bahwa dalam kejujuran itu kebencian Anda seketika berubah menjadi cinta.” (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013