Archive for the Ramayana Category

Renungan Diri: Sinta terpisah dari Rama terpikat Kijang Emas, kita jauh dari Tuhan sebab Keduniawian

Posted in Ramayana with tags , on May 9, 2015 by triwidodo

 

laxman-rekha-sita-aranya-kand

Ilustrasi Garis Laksmana sumber gambar Ritsin com

“Dalam kisah Ramayana kita membaca tentang pengalaman Dewi Sinta. Melihat seekor kijang yang berwarna emas, ia kehilangan kesadaran diri. Rama, sang suami mengatakan, ‘Itu bukan kijang, pasti siluman.’ Sinta malah berang, ‘Sudahlah, bila kau memang tidak ingin menangkapnya untukku, ya sudah.’

“Rama masih berusaha untuk menjelaskan, ‘Pernahkah kau mendengar tentang kijang berwarna emas? Itu bukan kijang, bukan kijang biasa.’

“Justru karena itu,” jawab Sinta, ‘karena memang bukan kijang biasa, aku menginginkannya. Tapi tak apa, bila kau tidak mau menangkapnya.’

“Merasa kejantanannya ditantang, Rama pergi untuk menangkap kijang siluman itu. Beberapa saat kemudian, ketika kijang itu rebah kena panah Rama, ia pun kembali pada wujud aslinya… wujud raksasa. Ia meniru suara Rama dan berteriak, ‘Sinta, Sinta…’

“Pikir Sinta, Rama yang berteriak. Barangkali terjadi sesuatu; maka ia minta supaya Laksmana, adik Rama, menyusul dan melihat apa yang terjadi.

“Laksmana berusaha untuk meyakinkan kakak iparnya, ‘Tidak terjadi sesuatu pada kakak. Itu pasti ulah kijang siluman. Ia meniru suara kakak.’

“Sinta berang, ia menuduh Laksmana tidak peduli terhadap kakaknya. Laksmana tidak tahan dengan tuduhan itu dan meninggalkanSinta lalu menyusul Rama. Tetapi sebelumnya ia berpesan, ‘Kakak, janganlah sekali-kali keluar dari gubuk ini.’ Dia sudah memiliki firasat yang kurang baik.

“Sinta tidak mengindahkan nasihat Laksmana, ia keluar dari gubuk, dan diculik oleh Rahwana.

Saat itu Rahwana menyamar sebagai seorang pendeta yang datang untuk minta sedekah. Di luar gubuk ada garisyang dibuat oleh Laksmana dengan ujung panahnya. Sinta tidak perlu keluar dari garis itu, tetapi karena tertipu oleh samara Rahwana, ia keluar juga dan terpisahkan dari Rama.

“Dalam tradisi India Kuno, kisah Ramayana ini selain merupakan bagian dari sejarah masa lalu juga mengandung makna filosofis. Rama ibarat Tuhan; Sinta adalah manusia yang terpisahkan dari-Nya, karena ketertarikannya pada kijang emas yang mewakili harta-benda, keduniawian. Laksmana adalah kesadaran dalam diri manusia. Bila kita tidak sadar, atau melakukan sesuatu secara tidak sadar, diculiklah kita oleh dunia.

“Garis kesadaran yang dibuat oleh Laksmana memang membatasi gerak-gerik kita, tetapi pembatasan itu demi kebaikan kita sendiri. Pembatasan itu pun karena ulah kita. Bila kita bisa hidup tanpa ketertarikan dan ketertarikan padaa dunia benda, pembatasan itu tidak dibutuhkan.”  (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Seorang guru membatasi gerak-gerik kita. Ia melarang kita untuk bergaul dengan orang-orang yang tidak menunjang kesadaran kita. Ia membuat garis pembatas, ‘Garis Laksmana’. Kita pikir ia membatasi kebebasan kita. Kita berontak, dan terseretlah kesadaran kita ke bawah.

Kita belum siap; belum cukup dewasa, tapi sudah mau bertamasya di kebun raya dunia seorang diri. Kita menolak uluran tangan seorang pemandu. Kita menyangsikan itikad baik Sang Pemandu, maka tersesatlah kita di tengah belukar dunia.

Ada kalanya kita menerima uluran tangan pemandu, tetapi tidak percaya dengan pengetahuannya. Penerimaan kita masih setengah-setengah. Hal itu pun tidak berguna. Lebih baik tidak menerima uluran tangannya.

Seorang Pemandu mengajak kita ke suatu tempat lewat jalan tikus; kita ragu, ‘Mau dibawa kemana kita?’ Jika memang sudah memutuskan untuk dipandu, percayailah pemandu.

Keraguan kita terlambat dan tidak pada tempatnya. Seharusnya kita berpikir secara matang sebelum menjatuhkan pilihan. Lebih-lebih lagi kita ingin dipandu tetapi menginginkan sang pemandu mengikuti perintah kita. Terdengar lucu bukan? Tetapi, itulah yang sering terjadi.

Kita tidak tahu jalan, dan tidak mau mengikuti petunjuk sang pemandu, padahal dia berada di samping kita. ‘Kau harus mengantarku ke tujuan dalam waktu sesingkat mungkin, tetapi haris lewat Jalan AX.’ Kita menentukan jalan dan tujuan, padahal tidak tahu jalan; dan baru membaca atau mendengar saja tentang tujuan. Sementara itu, sang pemandu sudah pernah sampai tujuan. Anehnya, kita lebih percaya pada ketidaktahuan kita daripada pengetahuan seorang pemandu.

Guru saya pernah mengatakan, ‘Untuk apa kau meditasi? Cintailah sesamamu, itulah meditasimu!;

Tentu saja hal it tidak berarti bahwa meditasi tidak efektif. Bagaimana kita mencintai tanpa meditasi, tanpa kesadaran.? Saya mengartikan kata-kata Sang Guru sebagai perintahnya untuk menjalankan meditasi dalam  keseharian hidup. Untuk melakoninya lewat cinta kasih.

Kita harus belajar untuk mempercayai orang yang telah kita pilih sendiri untuk menjadi pemandu. Kita boleh berhadapan dengan seorang pemandu sekaliber Yesus, tetapi bila tanpa iman tak akan terjadi apa-apa. Tanpa iman, manusia sekadar tulang-belulang, daging dan darah; dengan iman ia adalah jiwa agung yang tidak pernah mati. Tanpa iman, kita hanyalah badan yang ada untuk sesaat. Dengan iman, kita adalah jiwa yang ada untuk selamanya.”  (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seks? Mencintai Gusti Pangeran Melampaui Seks? Kisah Para Brahmachari dalam Ramayana

Posted in Ramayana with tags , , , on January 26, 2014 by triwidodo

hanuman lakshamana Rama Sita sumber devotionalimages blogspot com

Ilustrasi Hanuman dan Lakshmana bersama Rama dan Sita sumber: devotionalimages blogspot com

Brahmacharya atau Hidup dalam Kesadaran Tuhan

Brahmacharya biasanya diterjemahkan sebagai hidup selibat. Ada juga yang menterjemahkannya sebagai ‘tidak memanjakan indera-indera kenikmatan’.  Definisi ini mungkin lebih cocok untuk para pendeta dan pertapa peminta-minta. Namun Brahmacharya bukanlah hanya dimaksudkan untuk mereka saja. Siapapun bisa melakukannya. Seharusnya malah semua orang melakukannya. Brahma sering diterjemahkan sebagai Tuhan, walaupun sesungguhnya maksudnya adalah aham sejati, ‘diri’ sejati. Acharya adalah ‘orang yang melakukannya’, para praktisioner. Karenanya Brahmacharya mengacu pada penerapan ketuhanan dalam kehidupan. Brahmacarya berarti hidup dalam kesadaran Tuhan. Tidak masalah apakan anda sudah mengambil sumpah selibat atau tidak, satu yang sudah jelas. Anda tidak bisa lagi terlalu bermanja-manja dengan kenikmatan duniawi. Kenikmatan semacam itu jadi tidak berarti saat anda mencapai kenikmatan kesadaran tinggi yang lebih tinggi.” (Krishna, Anand. (2009). One Earth One Sky One Humankind, Celebration of Unity of Diversity. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan bahwa sebenarnya Sri Rama, Gusti yang mewujud di dunia bisa bersabda, “Rahwana kau mati, Sita kau kembali!” dan kisah Ramayana akan selesai begitu singkat. Para Guru Suci mengatakan bahwa Ramayana merupakan sebuah drama untuk menunjukkan kepada dunia adanya pengabdian Hanuman. Secara fisik dia berwujud kera, akan tetapi berkat pengabdian dan dedikasinya kepada Sri Rama dan misi Sri Rama maka ia diteladani sebagai bhakta tulen, seorang panembah sejati.

Sewaktu bertemu Rama, Sugriva menunjukkan beberapa perhiasan wanita yang dijatuhkan untuk memberi tanda ke arah mana dia dibawa terbang Rahwana. Rama melihat gelang, kalung dan anting-anting dan yakin bahwa itu adalah milik Sita. Lakshmana diminta Rama melihatnya dan Lakshmana hanya mengenali gelang kaki Sita. Ketika ditanya Rama, Lakshmana menjawab bahwa selama ini dia hanya melihat kaki Sita. Yang dipikirkan hanyalah Rama dan dia sangat menghormati Rama dan istrinya. Rama sangat berbahagia mendengar jawaban Lakshmana. Ekagrata, one-pointedness yang pantas diteladani manusia dari Lakshmana.

Hanuman, Bhakta Sri Rama

“Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Pada saat awal bertemu Sri Rama dan Lakshmana, Hanuman melihat aura yang terpancar dari mereka berdua yang membuatnya terpesona. Hanuman bertanya, “Apakah Paduka penyebab utama dari dunia ini yang mewujud sebagai manusia untuk menjembatani antara duniawi dan ilahi?” Rama dan Lakshmana kemudian membuka jatidiri mereka. Hanuman segera bersujud kepada Sri Rama dan berkata, “Paduka, meskipun hamba banyak kesalahan mohon pelayan ini tidak dibuang dan dilupakan oleh Paduka!” Setelah itu Hanuman hanya berfokus pada Sri Rama, yang dipikir Hanuman hanya Sri Rama dan tidak terlintas sedikitpun pikiran tentang seks.

Kalung Sita

Dalam buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan sebuah legenda tentang kepulangan Sri Rama dan Sita ke Ayodhya. Ibu Sita memberikan hadiah kalung permata kepada Hanuman. Hanuman langsung menggigit batu-batu permata tersebut. Lakshmana naik pitam dan bertanya mengapa Hanuman tidak menghargai hadiah dari Ibu Sita? Hanuman menjawab bahwa dia sedang mencoba membaui aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut. Sri Rama mendekat dan bertanya apakah Hanuman menemukan aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut? Hanuman mengatakan bahwa aroma Sri Rama tidak terdapat dalam batu-batu permata tersebut.

Lakshmana berang dan bertanya bahwa apakah Hanuman berpikir bahwa kalung pemberian Ibu Sita itu tidak ada harganya karena tidak ada aroma Sri Rama? Hanuman menjawab bahkan tubuhnya pun tidak berharga bila tidak memiliki aroma Sri Rama. Rama kemudian memberikan perintah agar Hanuman menunjukkan bahwa tubuhnya beraroma Sri Rama. Hanuman segera menyobek dadanya sendiri dan tepat di tengah-tengah dadanya terdapat gambar Sri Rama dan aroma kasturi kesukaan Sri Rama tersebar ke seluruh penjuru.

Lakshmana, Membhaktikan Hidupnya bagi Sri Rama

“Bagi seorang sanyasi, Brahmacharya adalah langkah awal. Tanpa pengendalian diri seorang sanyasi tidak mampu menjalankan perannya sebagai pengabdi, sebagai pelayan. Dan jika ia tidak mampu melayani tanpa pilih kasih, tidak mampu mengabdi tanpa pamrih, untuk apa menjadi sanyasi? Jika Anda ingin tetap menjalankan brahmacharya, sebaiknya menyisihkan setidaknya 2 x 45 menit setiap hari untuk latihan yoga asana  yang dapat membantu Anda mengendalikan keinginan seks. Selain itu pola makan pun mesti diperbaiki. Pure vegetarian diet, puasa sekali atau dua kali setiap minggu, dan menghindari karbohidrat yang berlebihan, semua itu akan membantu Anda. Bacaan Anda, tontonan Anda, semuanya mesti diatur kembali supaya menunjang kehidupan Anda sebagai brahmachari. Mereka yang tidak memperoleh pelajaran brahmacharya di usia dini memang harus bekerja lebih keras. Tapi Anda bisa. Anda pasti berhasil. Fokus!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Meskipun dikisahkan sebagai Grhastha, perumahtangga, Lakshmana adalah seorang Brahmachari ideal. Selama 14 tahun mendampingi Sri Rama, yang terpikirkan oleh Lakshmana hanyalah Sri Rama dan misi Sri Rama. Rama berkata bahwa Meghanada putra Rahwana adalah Komandan Raksasa yang tak terkalahkan di tiga dunia, bahkan Indra pun dikalahkan sehingga dia dikenal sebagai Indrajit. Hanya Lakshmana yang dapat mengalahkan Indrajit yang dapat menghilang dan mempunyai ilmu sihir. Dan kemenangan itu diperoleh karena kemurnian Lakshmana.

Diuji Sri Rama

“Walaupun tidak kawin, jika seseorang memikirkan seks melulu, maka energinya sudah pasti tersedot ke bawah. Sama saja. Jadi urusannya bukanlah kawin atau tidak kawin, urusannya adalah ‘seks secara berlebihan’, termasuk ‘memikirkan’ seks melulu. Mengapa saya mesti menjelaskan hal ini secara panjang lebar? Karena sebagai sanyasi Anda mesti memahami fenomena ini. Jangan sampai merasa sudah ‘beres’ hanya karena membujang. Paramhansa Yogananda mengingatkan bahwa sperma yang keluar dalam satu kali ejakulasi adalah sepadan dengan satu quart darah (kurang lebih 0.94 liter, hampir 1 liter). Lalu bagaimana jika tidak terjadi ejakulasi? Bagimana jika seorang hanya memikirkan seks saja? Energinya tetap tersedot ke bawah. Paramhansa Yogananda mewanti-wanti kaum pria. Karena alasan itu (berkurangnya darah setiap kali ejakulasi), dan keinginan seks seorang pria yang memang lebih kuat, maka perjalanan spiritual baginya tidak semudah bagi seorang perempuan.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ada suatu kisah yang disampaikan seorang Guru bahwa pada suatu hari Sri Rama menguji Lakshmana. Sita sedang tidur di pangkuan Sri Rama dan dia membisiki Lakshmana untuk menggantikannya karena dia mempunyai kepentingan mendesak dan tidak ingin membangunkan Sita. Lakshmana patuh dan membiarkan Sita tidur di pangkuannya. Setelah pergi Sri Rama segera datang kembali mewujud sebagai burung beo dan memperhatikan tingkah laku Lakshmana.

Lakshmana yang berdekatan dengan seorang wanita jelita tercantik di dunia ternyata menutup mata dan membaca japa, Sumitra… Sumitra… Sumitra. Rupanya Lakshmana membayangkan bahwa yang tidur di pangkuannya adalah Sumitra, ibunya.

Brahmacharya

Brahmachari berarti ia yang Berperilaku seperti Brahma atau Pencipta. Perhatikan ciptaannya, tidak ada sesuatu yang terulang. Dua helai daun dari satu pohon yang sama pun tidak persis sama. Penciptaan, pemeliharaan, Dan Pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendakNya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendakNya. Sebab itu remaja yang mengolah dirinya disebut Brahmachari berperilaku seperti Brahma atau sang pencipta. Kemudian gelar yang diperolehnya juga sudah tepat: Srajanahaar, sang pencipta—ia ibarat cahaya atau sinar matahari yang tengah berbagi kehidupan dengan sesama makhluk hidup.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Selama enam tahun pertama seorang anak belajar menggunakan fisiknya, inderanya, menggerakkan otot-ototnya, menyesuaikan setiap gerakan dengan keinginannya. Awalnya ia mesti diajari supaya tidak ngompol dan buang air di toilet, di tempat yang sudah tersedia untuk keperluan itu. Itulah pelajaran awal pengendalian diri. Pengendalian fisik, indra, dan gerakan otot adalah proses pembelajaran awal menuju brahmacharya. Jadi brahmacharya bukan sesuatu yang aneh, kuno, kolot, atau terkait dengan salau satu kepercayaan. Brahmacharya adalah bagian dari kehidupan manusia. Tanpa pengendalian diri, sulit membedakan manusia dari hewan. Selama enam tahun pertama ini, seorang anak belum bisa mengendalikan emosinya. Jika mau menangis, ia akan menangis. Ia tidak memperhatikan waktu dan tempat. Mau berteriak, berteriak saja. Mau tertawa, tertawa saja.

“Ia mulai belajar mengendalikan emosinya dalam masa enam tahun berikutnya. Masa inilah yang biasa disebut golden years, di mana lapisan-lapisan mental/emosionalnya mulai berkembang. Ia terinspirasi oleh cerita-cerita yang didengarnya, dibacanya; oleh acara-acara di televisi; oleh pelajaran di sekolah; oleh keadaan di rumah, di lingkungan sekitarnya; dan oleh pergaulannya. Demikianlah mulai terbentuk karakter seorang anak, berdasarkan faktor-faktor di atas, mana yang lebih dominan. Kekacauan yang terjadi saat ini, banyak pejabat tinggi yang semestinya melayani masyarakat malah menyusahkan masyarakat, para pengusaha nakal yang tidak peduli dengan keadaan bangsa dan Negara, para profesional yang lupa kode etik profesinya, semuanya disebabkan oleh pendidikan yang salah selama 12 tahun awal.

“Selanjutnya, padas usia 13 tahun ke atas ketika ia memasuki usia puber, ia mulai memberontak. Ia ingin mencoba segala hal yang baru. Ia ingin menguji kekuatan mental, emosional, dan kehendaknya. Jika dilarang melakukan sesuatu, ia malah tertantang untuk mencobanya. Banyak perokok berat mulai merokok pada usia ini. Demikian pula korban alcohol. Sebab itu, amat penting sebelum memasuki usia puber seorang anak belajar untuk mengendalikan emosi dan pikirannya. Jika hal itu tidak terjadi, usia puber hanyalah pertanda bencana.

“Kemudian, sekitar usia 19 tahun seorang remaja menentukan sendiri jalur hidupnya. Ia tidak mau diintervensi. Lagi-lagi, tanpa pengedalian diri, dan tanpa arahan yang tepat, seorang remaja tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak bertanggung jawab, dan hanya mementingkan diri.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Diilhami oleh Buku Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual.

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151382463028899&set=a.10150718394503899.454510.382009333898&type=1&theater

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Keyakinan dan Pengabdian Mengatasi Semua Hambatan: Kisah Hanuman Mencari Obat Lakshmana

Posted in Ramayana with tags , , on January 16, 2014 by triwidodo

 

Hanuman membawa bukit tanaman Sanjeevani sumber www indianetzone com

Ilustrasi Hanuman membawa bukit tempat tanaman Sanjivani sumber www indianetzone com

Bhakta Seorang Pejuang Tulen

“Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. Utishtha, Jaagratah …… Bangkitlah, Bangunlah…… Hadapilah segala macam rintangan dengan jiwa seorang Bhakta. Berjuanglah dengan semangat seorang Satria. Tanpa rasa bimbang, tanpa keraguan – seorang Bhakta mengabdikan jiwa dan raganya bagi nusa dan bangsa. la sadar sesadar-sadarnya akan tugas serta kewajibannya terhadap Tanah-Air, terhadap Ibu Pertiwi. Terhadap lingkungan, terhadap sesama manusia dan sesama makhluk hidup…… Terhadap dunia ini, terhadap alam semesta. la memahami perannya dalam hidup ini. Mau bertemu dengan seorang Bhakta? Carilah dia di tengah medan perang ‘Kurukshetra’. Kau tidak akan menemukannya di dalam kuil la berada di tengah keramaian pasar, di tengah kebisingan dan kegaduhan dunia.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Hanuman dan Lakshmana adalah bhakta Sri Rama, dan kedua-duanya telah melepaskan diri dari keterikatan pada dunia benda, harta kekayaan, istri, keluarga dan kerabat. Yang ada di pikiran mereka hanyalah Sri Rama, mereka telah melampaui ego dan seks. Tujuan mereka bukan untuk mengalami moksha, akan tetapi menjadi alat Sri Rama. Saat Lakshmana terluka mendekati kematian, Hanuman diminta Sri Rama mencari obat di Pegunungan Himalaya yang harus diperoleh sebelum matahari terbit. Hanuman patuh dan merasa mendapat peluang untuk melakukan persembahan sesuai kekuatan yang telah dianugerahkan kepadanya. Hanuman yakin Lakshmana dapat sembuh kembali. Walaupun hanya Sri Rama yang tahu bahwa Lakshmana dalam pertempuran berikutnya akan membunuh Indrajit.

Lakshmana Terluka oleh Indrajit

Pada hari pertama pertempuran pasukan wanara Sri Rama melawan raksasa Alengka perang berkecamuk sangat dahsyat. Indrajit putra Rahwana berupaya menghancurkan pasukan Sri Rama. Sebenarnya nama putra mahkota Rahwana adalah Meghanada akan tetapi karena pernah mengalahkan Dewa indra, maka dia dikenal sebagai Indrajit. Lakshmana segera menghadang Indrajit sehingga Sugriva komandan pasukan wanara bahkan mulai bisa mendesak pasukan Alengka. Matahari sudah bergerak menuju ke barat, kala Indrajit sadar bahwa dia tidak akan menang berperang-tanding melawan Lakshmana, maka ia mulai menggunakan kekuatan magis untuk melesat melintasi awan. Dari balik awan Indrajit menggunakan senjata shakti yang dipanahkan ke arah Lakshmana. Lakshmana terkena, tubuhnya memar dan luka di dalam serta jatuh pingsan. Indrajit kemudian berupaya mengangkat tubuh Lakshmana untuk dibawa ke kemah pasukan Alengka. Akan tetapi ternyata dia tidak kuat mengangkatnya. Beberapa komandan raksasa membantu mengangkatnya, akan tetapi tidak berhasil. Lakshmana adalah Naga Adisesha pendamping Sri Vishnu yang mewujud, hanya mereka yang memperoleh blessing Sri Rama yang mampu mengangkatnya. Beberapa saat kemudian datanglah Hanuman mengusir Indrajit dan para komandannya, dan Hanuman segera memanggul Lakshmana ke kemah Sri Rama. Tak lama kemudian kedua pasukan mundur karena hari telah mulai senja.

Kemudian berhembus kabar bahwa seseorang yang terkena senjata Indrajit akan mati sebelum matahari terbit keesokan harinya. Jambavan mengatakan ada tabib Alengka yang paham pengobatan luka dalam akibat senjata Indrajit. Sushena sang tabib adalah pemuja Sri Rama. Sri Rama segera minta Hanuman membawa tabib Sushena untuk memeriksa Lakshmana. Sushena mengatakan bahwa ada ramuan yang dibuat dari akar tanaman Sanjivani yang dapat menyembuhkan luka Lakshmana. Akan tetapi tanaman tersebut hanya bisa diperoleh di Gunung Dunagiri di wilayah pegunungan Himalaya. Inilah satu-satu harapan untuk menyelamatkan Laksmana. Sebuah peluang yang nampaknya sangat musykil dilaksanakan.

Hanuman Sang Pengabdi

“Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Rama segera mengutus Hanuman untuk mengambil daun Sanjivani tersebut. Bagi Hanuman, bhakta Sri Rama, tugas yang diberikan oleh Sri Rama akan dilaksanakan sebaik-baiknya. Hanuman yakin Sri Rama telah bertindak dengan pertimbangan matang untuk memintanya mengemban tugas tersebut. Hanuman mohon blessing Sri Rama dan segera berangkat.

Dari masukan telik sandi, Rahwana tahu bahwa Hanuman berupaya memperoleh tanaman obat di Himalaya. Rahwana segera mengutus Kalanemi, pamannya untuk menggunakan segala cara agar Hanuman tidak berhasil memperoleh tanaman tersebut. Kalanemi berkata bahwa sulit untuk menghadang Hanuman, makhluk perkasa yang sendirian saja bisa membakar kota Alengka. Kalanemi menyarankan Rahwana untuk berdamai dengan Sri Rama dengan cara memberikan obat pemunah racun bagi Lakshmana. Rahwana naik pitam yang membuat Kalanemi harus membuat pilihan segera. Kalanemi segera mohon diri untuk menghadang Hanuman. Bagi Kalanemi lebih baik mati terbunuh Hanuman Utusan Sri Rama daripada mati ditangan Rahwana.

Hambatan oleh Kalanemi

Kalanemi dengan kekuatan ilusinya segera mewujud sebagai seorang brahmana dan  membuat kuil yang indah dengan dilengkapi kolam yang jernih di Gandamadhana. Saat Hanuman menuju Himalaya dan melintasi tempat tersebut, Hanuman memutuskan untuk beristirahat sebentar. Sang Brahmana datang menawarkan air dan memuji Sri Rama sehingga Hanuman sangat senang. Setelah minum air Hanuman justru semakin merasa haus dan minta untuk minum air kolam. Saat Hanuman di tepi kolam dan mulai minum, seekor buaya menyergap kakinya dan menariknya ke dalam kolam. Akan tetapi dengan sebuah pukulan buaya tersebut mati. Sang Buaya yang mati segera menjilma sebagai Apsara. Apsara tersebut pernah berbuat kesalahan sehingga dikutuk Daksha menjadi buaya dan kutukan akan sirna kala dia dibunuh oleh Hanuman. Sang Apsara segera memberitahu jatidiri Sang Brahmana yang ternyata adalah Kalanemi. Kalanemi segera dibunuh oleh Hanuman.

Dalam kehidupan sebelumnya Kalanemi dengan naik singa pernah bertarung dengan Vishnu yang naik Garuda dan Kalanemi terbunuh. Pada kehidupan berikutnya, Kalanemi lahir sebagai putra Hiranyakasiphu. Kalanemi mempunyai enam putra yang menjadi devoti Brahma yang kemudian dikutuk Hiranya Kasiphu akan lahir lagi dan dibunuh oleh Kalanemi pada kelahiran di masa depan. Kalanemi kemudian lahir sebagai paman Rahwana. Kalanemi akhirnya akan lahir lagi sebagai Kamsa dan 6 putranya lahir lagi sebagai putra Devaki yang dibunuh oleh Kamsa.

Berbagai Hambatan Lainnya

Rahwana tahu bahwa Kalanemi telah mati dan segera memanggil Dewa Surya, Sang Matahari untuk terbit sebelum waktunya. Hanuman segera mengeluarkan kesaktiannya untuk menahan gerakan  matahari. Sesampainya di Dunagiri,Hanuman kesulitan memilih tanaman Sanjiwani dan segera mengangkat seluruh bukit untuk dibawa ke Alengka. Sampai di Nandigram sebuah panah mengenai kakinya dan Hanuman terjatuh beserta bukit yang dipanggulnya. Rupanya Bharata saudara Sri Rama mengira Hanuman seorang penjahat yang sedang membawa bukit. Hanuman segera menjelaskan bahwa ia membawa bukit untuk mengobati Lakshmana saudara Bharata. Bharata mohon maaf dan menawarkan Hanuman untuk menaiki anak panah yang dibidiknya menju Alengka agar cepat sampai. Hanuman menolaknya dan segera terbang lagi menuju Alengka.

Sushena segera mengambil beberapa akar tanaman Sanjivani dan dibuat ramuan untuk diminum Lakshmana. Lakshmana cepat mengalamikesembuhan dan Hanuman segera terbang menuju matahari, mohon maaf atas tindakannya kepada Dewa Surya. Dewa Surya, tersenyum dan berkata pelan, “Siapakah makhluk yang dapat menahan bhaktanya Sri Rama? Dengan blessing Sri Rama, seorang bhakta akan menyelesaikan tugas apa pun yang diembannya!”

Jadilah Orang Besar!

Hanuman adalah contoh Orang Besar. Hanuman siap menghadapi segala kemungkinan dengan penuh kesabaran. Hanuman tetap optimistis, berkarya penuh keyakinan, tidak khawatir, tidak bimbang, tidak berkecil hati dan pantang menyerah.

“Jadilah Orang ‘Besar’! Tetap tenang dalam keadaan suka maupun duka; tidak terbawa oleh nafsu rendahan; tidak terkendali oleh pancaindra; tidak tergoyahkan oleh tantangan-tantangan kehidupan; Tidak tergesa-gesa, dan siap menghadapi segala kemungkinan dengan penuh kesabaran, itulah sebagian ciri-ciri ‘orang besar’. Dalam keadaan apa pun mereka tetap optimistis, tetap berkarya dengan penuh keyakinan. Tidak khawatir, tidak bimbang, dan tidak berkecil hati. Pantang menyerah, demikianlah mereka. Jadilah orang ‘besar’. Karena, kau memang dilahirkan untuk menjadi ‘besar’. Bukanlah badanmu saja, tapi jiwamu mesti tumbuh menjadi besar. Pikiranmu, perasaanmu, semuanya mesti mengalami pertumbuhan. Kebesaranmu pastilah mengundang kebesaran. Kekuatanmu mengundang kekuatan. Keyakinanmu mengundang keyakinan. Alam semesta maha baik adanya. Jika kau berbuat baik, dan menjadi baik, kau akan mengundang lebih banyak kebaikan dari semesta. Kebaikanmu mengundang kasih, kepedulian, dan kedekatan sesama manusia. Kau menolong mereka dan mereka pun akan menolongmu. Demikian, dengan cara saling tolong-menolong, kau memperoleh kebahagiaan. Dan, mereka pun memperoleh kebahagiaan. Orang ‘besar’ selalu bahagia, ceria, dan bersuka-cita. Itulah rahasia kesehatan dan kesejahteraan mereka. Kebesaran Sejati adalah ketika kau dapat berbagi ‘kebesaran’ dengan siapa saja, tanpa pilih kasih. Kebesaran sejati adalah ketika kau dapat berbagi kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaanmu-keceriaan dan kesukacitaanmu!” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Antara Ego dan Jatidiri, Antara Penderitaan Dasaratha dan Kebahagiaan Sri Rama

Posted in Ramayana with tags , , on January 4, 2014 by triwidodo

dasharatha sumber www indianetzone com

Ilustrasi Raja Dasaratha memperhatikan Rama putra kesayangannya sumber: www indianetzone com

Salah Identitas Diri

“Manusia menderita karena menganggap dirinya hanyalah kelima indera, badan, pikiran, atau intelejensia. Kemudian, apa yang terjadi pada mereka, dianggapnya terjadi pula pada jatidirinya. Padahal tidak demikian. Sekali lagi, dia bukanlah kereta, bukan jalan raya yang ditempuh oleh kereta itu. Bukan tali pengendali, bukan sais, tetapi pemilik kereta. Itulah dia yang sebenarnya! Kesadaran itu seketika membebaskan manusia dari segala macam penderitaan, dan keterikatan yang disebabkan oleh salah identitas.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Dasaratha, ayah Sri Rama menganggap bahwa aku adalah badanku, kelima inderaku, pikiranku. Yang bekerja adalah aku. Dan akhirnya dia mengalami penderitaan yang luar biasa. Demi untuk memperoleh putra, dia sampai kawin 3 kali dan dengan istri ketiga dia menjanjikan putranya akan menjadi putra mahkota. Kemudian karena belum juga memperoleh putra, Dasaratha tetap merasakan duka sampai akhirnya melakukan ritual persembahan agnihotra sesuai saran para resi. Dan, Dasaratha memperoleh 4 putra yang membuat dia bersukacita. Selanjutnya, demi mematuhi janji terhadap istri ketiga, Kaikeyi maka Dasaratha mengangkat putra istri ketiganya, Bharata sebagai putra mahkota dan mengasingkan Sri Rama di hutan. Bagi Dasaratha, kepentingan negara dan masyarakat banyak untuk memperoleh pemimpin negara yang baik sebagai pengganti dia pun dikalahkan oleh keinginan istri ketiganya. Dalam kisah Ramayana kebetulan Bharata adalah orang yang baik dan tidak mau naik tahta yang seharusnya menjadi hak Sri Rama. Akhirnya Dasaratha merasa sangat berduka karena telah mengirimkan Sri Rama ke hutan pengasingan. Karena sedihnya Dasaratha sampai meninggal dalam keadaan merana dan putus asa.

Karena ketidaktahuan, terciptalah kesan yang salah bahwa ada ‘aku’ dan ‘milikku’. Dari kesan yang salah itu lahirlah perasaan suka dan senang, tersanjung dan terhina, pujian dan makian, dan sebagainya. Bila kita melihat dunia melewati jendela ego dan dualitas, kita akan merasa suka dan senang. Itulah yang dialami Dasaratha. Bagaimana dengan kita?

Selama kita melihat dunia melalui jendela ego, jendela dualitas maka gelombang otak kita akan mengalami naik-turun yang significant dan kehidupan kita akan melalui pasang surut suka duka yang besar sehingga membuat kita selalu gelisah. Latihan meditasi membuat kita lebih tenang, karena gelombang otak akan relatif lebih tenang dan gelombang pasang surut kehidupan tidak begitu menyengsarakan kita.

Beda Dasaratha dan Sri Rama

“Terdorong oleh sifat dasar alam itu sendiri, setiap orang terlibat dalam pekerjaan. Namun ia yang penglihatannya kabur karena awan keangkuhan, merasa bahwa yang bekerja adalah dia.” Bhagavad Gita 3:27 (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam Bhagavata Vahini disampaikan: “Perhatikan perbedaan antara Dasaratha, sang ayah dan Rama, sang putra. Mereka berbeda seperti bumi dan langit. Untuk menyenangkan istrinya, untuk membuatnya bahagia dan puas, sang ayah siap untuk menanggung penderitaan paling berat. Ia mengirim anak kesayangannya menjalani pengasingan ke hutan! Sebaliknya, sang putra bersama istrinya ke hutan pengasingan, untuk menghormati hukum di kerajaannya! Dua cara menghayati kehidupan secara berbeda. Dasaratha kewalahan oleh ilusi bahwa ia adalah tubuh fisik, sedangkan Rama sadar bahwa ia adalah Atma.”

Dasaratha merasa dirinya adalah pelaku dan akhirnya kebingungan sendiri dan meninggal dalam keadaan menderita. Bukankah kita seperti Dasaratha, kita selalu berpikir kita telah melakukan hal yang benar, kita sudah berupaya dengan sekuat tenaga untuk memperoleh apa yang kita inginkan, akan tetapi kita tetap saja dihadapkan lagi pada hal yang membuat kita menderita. Selama kita melihat dunia melalui jendela dualitas dan ego maka suka dan duka akan kita alami silih berganti.

Belajar dari Sri Rama

“Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, ‘Aku Sejati’, ‘Self’, ‘Atma’ adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini. Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka ‘aku’ atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya. Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan. Untuk itu, setiap orang mesti menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Ia tidak bisa melarikan diri dari kewajiban, dan mengharapkan agar pikirannya tenang. Pikiran yang tenang adalah pikiran yang suci. Dan, di atas lahan pikiran yang suci itulah tumbuh Viveka kemampuan untuk memilih mana yang tepat bagi kita, dan mana yang tidak tepat. Tumbuh pula Vairagya, ketakterikatan kepada dunia benda, karena sadar bila kebendaan itu tidak langgeng, dan berubah terus. Maka, dengan sendirinya manusia terbebaskan dari ego, ke-’aku’-an, atau identitas palsu. Ia tersadarkan bila dirinya bukanlah badan, apa lagi kelima indera yang merupakan bagian dari badan. Ia tercerahkan bila menyadari bahwa dirinya bukanlah pikiran, bukan intelejensia, tetapi pemilik kereta, Atma, Self, ‘Aku Sejati’. Ia memahami bahwa penderitaannya selama ini semata karena salah identitas.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Sri Rama tidak merasa sedih pergi bersama Sita dan Laskhmana ke hutan untuk menjalani pengasingan. Masalah yang dihadapinya adalah masalah utama dunia sejak zaman dahulu kala, yaitu “tadinya tidak ada kemudian nampak ada dan akhirnya akan tidak ada lagi. Mengapa harus bersedih?”

“Pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya bersedih hati?” Bhagavad Gita 2:28

Bapak Anand Krishna mengingatkan diri kita untuk mengendalikan pancaindera dengan pikiran. Kita perlu menaklukkan pikiran/emosi dengan intelejensia. Kita perlu berpikir jernih, “bahagiakah aku selama ini dituntun oleh pikiran/emosi? Mestikah aku  mengulangi pengalaman-pengalaman yang tidak membahagiakan itu? Tahap terakhir adalah menggunakan intelejensia untuk menemukan jatidiri. Siapakah aku? Sampai kita sadar sesadar-sadarnya bahwa aku bukan pikiran, bukan perasaan, bukan intelejensia, aku adalah wujud kebenaran sejati,  kesadaran murni, dan kebahagiaan abadi. Inilah Sat Chitta Ananda. Inilah meditasi, proses dan tujuannya. Menemukan kebahagiaan di dalam diri, sehingga tak akan mencarinya di luar diri.

Berserah Diri pada Tuhan

Maya adalah ilusi yang menciptakan dualitas panas-dingin, siang-malam, laki-perempuan, suka-duka, dan lain sebagainya. Sebab itu maya juga merupakan dasar penciptaan. Tanpa ilusi dualitas, tak akan terjadi penciptaan. Maka, selama kita masih menjadi bagian dari ciptaan, pengaruh maya mustahil untuk dihindari. Maka, kita perlu menjaga kesadaran kita supaya kita terlalu terperangkap dalam permainan maya, permainan dualitas. Seorang Sadguru mengingatkan kita akan peran penting maya dalam mempertahankan ciptaan, sekaligus bahayanya, dan mengajarkan cara supaya kita tidak tenggelam dalam lautan maya, tapi bisa berenang dengan penuh kesadaran. Pada suatu hari Beliau (Shirdi Baba) bersabda : “Aku seorang fakir, tidak punya tanggungan maupun keterikatan. Aku tinggal di satu tempat, tidak kemana-mana. Ke-‘aku’an pun telah kunafikan, tetap saja maya masih menggoda-Ku. Para dewa, malaikat pun digoda maya, apalagi seorang fakir biasa seperti diri-Ku… Hanyalah mereka yang berserah diri kepada Tuhan dan memperoleh anugerah-Nya terbebaskan dari godaan maya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Agar kita tidak mengalami kedukaan Dasaratha, kita perlu berserah diri kepada Tuhan. Bapak Anand Krishna memberi nasehat:” Hyang bekerja bukanlah kita. Kita hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Serahkan semuanya kepada Dia. Kita berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego.”

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Kecenderungan Manusia dan Hikmah Ramayana dalam Kehidupan Kita

Posted in Ramayana with tags , , , on December 19, 2013 by triwidodo

ramayana-Trail

Ilustrasi Ramayana sumber: www ramdas org

Sifat Tenang-Satvika, Rajas-Agresif, Tamas-Malas-malasan

“Alam ini memiliki tiga sifat utama: sifat tenang, sifat agresif, dan sifat malas-malasan. Ketiga sifat inilah yang mengikat manusia dengan badannya. Di antara ketiga sifat tersebut, sifat pertama membawakan ketenangan, namun tetap mengikat manusia dengan cara menimbulkan keinginan untuk memperoleh kebahagiaan dan pengetahuan. Sifat kedua menimbulkan nafsu dan mengikat manusia dengan menimbulkan keinginan untuk bekerja. Sifat ketiga terciptakan oleh kebodohan dan membelenggu diri manusia dengan cara menimbulkan keterikatan pada tidur berkelebihan, keangkuhan, dan lain sebagainya. Sifat pertama mengikat manusia dengan kebahagiaan; sifat kedua dengan pekerjaan; dan sifat ketiga dengan ketidakpedulian.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) BG 14: 5-9

 

Melampaui Tiga Guna

Apakah Sri Rama merasa sangat menderita dalam kisah Ramayana? Jelas tidak. Ini adalah permainan, Leela Sri Rama. Apa yang dapat membahagiakanNya? Apa yang dapat membuatNya menderita? Dengan kehendakNya Dia menciptakan segalanya. Sri Rama melakukan peran dalam panggung sandiwara duniawi Ramayana untuk menunjukkan “Guna”, sifat utama manusia dan bagaimana melampauinya.

“Sifat pertama melahirkan kebijakan; sifat kedua ketamakan; sifat ketiga kesesatan, ketidakpedulian, dan kebodohan. Mereka yang memiliki sifat pertama mengalami perkembangan. Mereka yang memiliki sifat kedua berada di tengah-tengah. Mereka yang memiliki sifat ketiga hanya mengalami kemerosotan. Ia yang melihat ketiga sifat tersebut berasal dari alam dan menyadari bahwa ‘sang Aku’ melampaui sifat-sifat tersebut, akan menyatu dengan ‘Aku’. Ia yang btelah melampaui sifat-sifat ini terbebaskan dari segala macam duka yang disebabkan oleh kelahiran, kematian, kemusnahan, dan mencapai kesadaran ‘SangAku’ yang langgeng, abadi. Arjuna bertanya: Bagaimana ciri-ciri seseorang yang telah melampaui ketiga sifat tersebut? Bagaimana perilakunya dan bagaimana ia dapat melampaui sifat-sifat tersebut? Mohon dijelaskan Krishna. Krishna menjawab: Ia yang tidak membenci sesuatu, dan tidak pula merindukan sesuatu. Ia yang tetap teguh dan tidak tergoyahkan oleh sifat-sifat alami. Ia yang menganggap sama suka dan duka, emas dan batu, dan lain sebagainya. Ia yang tidak terpengaruh oleh cacian dan pujian dan sama terhadap kawan dan lawan. Ialah yang telah melampauiketiga sifat alam itu. Ia yang menjadikan hidupnya sebagai pengabdian dalam kasih dan untuk kasih – Ialah yang telah melampaui ketiga sifat alam dan layak untuk menyatu dengan ‘Sang Aku’. Ketahuilah bahwa ‘Akulah Yang Teringgi, Yang Langgeng dan Abadi’ dan tidak dapat dijelaskan, namun menyebabkan Kebahagiaan Sejati yang tak terbandingkan.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) BG 14: 17-27

 

Hikmah Ramayana

Dalam Sandeha Nivarini Sai Baba menyampaikan bahwa kita lahir di “maya”, dibesarkan di “maya”, dan misi manusia adalah untuk melampaui “maya”. Sifat utama manusia atau Guna tidak dapat diekspresikan tanpa adanya indera, oleh karena itu kita lahir dengan indera, dibesarkan dalam  indera, kita harus menguasai indera.

Ibarat layar bioskop. Kita bisa melihat gambar-gambar yang silih berganti di layar, dan itulah “maya” kita hidup dalam berbagai gambar di layar. Bagaimana pun semua gambar yang membuat kita merasa susah dan senang hanya bersifat sementara. Sementara ini, kita belum melampaui gambar-gambar yang sementara di layar untuk melihat layar berbingkai yang permanen.

Sri Rama, lahir sebagai putra Dasharatha, sepuluh kereta yang merupakan kereta-kereta dari indera serta organ-organ indera. Dasharatha adalah lambang dari diri kita. Ibu kita, atau tiga permaisuri Dasharatha mewakili ketiga Guna, sifat utama manusia. Kausalya adalah sathvaguna, sifat tenang. Kaikeyi adalah rajoguna, sifat agresif. Sedangkan Sumitra adalah Tamoguna, sifat bermalas-malasan. Kaikeyi yang agresif mudah terhasut Manthara, pembantunya, sehingga menginginkan Bharata, putranya untuk menggantikan Dasharatha, sebagai raja Ayodhya. Ketika Bharata pergi, sang ibu membersihkan jalan bagi putranya menuju tahta dengan cara mengusir Rama, Sita istri Rama, dan Lakshmana ke hutan. Dasharatha walau dengan penuh kesedihan terpaksa mengikuti kecenderungan agresif dari Kaikeyi.

Dalam rimba kehidupan, Jiwa atau Sita terperangkap oleh Ego, Rahwana. Untuk memperoleh kembali jiwa yang terperangkap oleh ego, maka Sri Rama, dalam perjalanan kegelisahan bertemu dengan kera kembar perkasa, Subali yang melambangkan keputusasaan dan saudaranya Sugriva yang melambangkan viveka, kemampuan memilah, diskriminasi. Dengan bantuan Hanuman atau Keberanian Sri Rama memilih Sugriva melenyapkan keputusasaan. Berapa banyak manusia yang kala menghadapi permasalahan yang berat, jatuh dalam keputusasaan dan menyerah? Dengan bantuan Sugriva, viveka, diskriminasi dan pasukannya yang penuh semangat, kekuatan dan ketabahan yang diwakili oleh Jambavan, Anggada dan para wanara lainnya serta rasa bhakti Hanuman, Sri Rama membuat Setubandha, jembatan untuk menyeberangi samudera ilusi atau maya. Setelah dapat menyeberangi maya, maka Sri Rama mengalahkan sifat Tamas yang dilambangkan oleh Kumbhakarna dan kemudian sifat Rajas yang diwakili oleh Rahwana. Dan, setelah itu Sri Rama menobatkan sifat Satvika, Vibhisana sebagai raja. Persatuan antara Sita dan Rama adalah Ananda, kebahagiaan abadi.

Ramayana terjadi dalam setiap orang, apakah orang tersebut masih dalam tahap tergoda oleh kijang kencana dunia, ataukah dia sedang menghadapi keputusasaan, mungkin juga dia sudah menjadi bhakta, panembah sudah bertemu Hanuman, sehingga sudah siap untuk menyeberangi samudera ilusi untuk mengalahkan sifat agresif, bermalas-malas dan berteman dengan kecenderungan yang tenang, seimbang. Demikian piawainya Resi Walmiki menguasai ilmu duniawi dan spiritual, sehingga bisa menggambarkan karakter para pelaku dengan sifat utama yang sesuai dengannya.

 

Mempraktekkan Pemahaman dalam Kehidupan Sehari-hari  

“Pengetahuan sedikit, asal dipraktekkan, diterjemahkan dalam hidup sehari-hari lewat karya nyata jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan yang ‘nganggur’, yang tidak dipraktekkan, tidak diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Jangan “mengoleksi pengetahuan”. Anda boleh menimbun ratusan, bahkan ribuan ‘ton’ pengetahuan. Apa gunanya? ‘Sekilo’ yang digunakan jauh lebih bermakna … Kepalamu, otakmu jangan dijadikan perpustakaan. Pengetahuan hendaknya dipraktekkan, tidak hanya ditimbun terus. Anda hanya membebani otak anda.” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pemahaman kisah Ramayana perlu dipraktekkan dalam keseharian. Menurut Sai Baba dalam Sandeha Nivarini, kita memiliki Veda, Sastra, Purana dan Ithihasa. Kita diberi nasehat untuk mengambil hikmahnya, mematuhi jalan yang diajarkan, mengumpulkan pengalaman, memahami makna dan pesan para bijak, mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, menganggap Paramatma sebagai Guru dan melakukan Sadhana dengan cinta yang tak tergoyahkan. Dia akan muncul memberikan petunjuk. Dia mungkin juga memberkati sebagai akibat dari praktek Sadhana, sehingga kita bisa bertemu Sadguru.

“Shankara sangat berhati-hati dalam hal penggunaan kata. Yang disebut obat mujarab untuk membebaskan diri dari penyakit ketidaksadaran bukanlah ‘Kesadaran akan Sang Aku Sejati’, tetapi ‘senantiasa memelihara kesadaran akan Sang Aku Sejati’. Bahkan istilah Sanskerta yang digunakan adalah Nirantara Abhyastaa. Nirantara berarti senantiasa, setiap saat—continuously, without a break. Dan Abhyastaa bukan semata-mata ‘memelihara’, tetapi juga ‘melakoni’, mempraktekkan. ‘Kesadaran akan Sang Aku Sejati’ mudah diperoleh. Siapa saja bisa memperolehnya. Yang sulit adalah ‘pemeliharaan’ kesadaran itu. Lebih sulit lagi, ‘melakoninya’ di dalam hidup sehari-hari. But if you succed to do that, bila Anda berhasil memelihara dan melakoninya, maka: Terbebaskanlah dirimu dari ketidaksadaran, dari kegelisahan, dari kecemasan, dari kebingungan, kebimbangan dan keraguan yang disebabkan oleh ketidaksadaran.” (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Setubandha Jembatan Ke Negeri Alengka, Jalan Penghubung Penakluk Nafsu Angkara

Posted in Ramayana with tags , , on December 3, 2013 by triwidodo

 

Sethubandha bridge sumber hariharji blogspot com

Ilustrasi Pembangunan Jembatan Setubandha sumber hariharji blogspot com

Setubandha, Jembatan Dibangun Para Wanara yang Sudah Tidak Liar

“Wahai manusia, wahai pikiran, bernyanyilah! Jalani kehidupan dengan penuh lagu, penuh irama. Bernyanyilah sepanjang hidupmu! Cara Swami menjinakkan pikiran seperti monyet ini sangat musical. Bhajan, sebagaimana yang disarankan dan diajarkan oleh Swami bukanlah sekedar lagu pujian, namun adalah meditasi dalam musik. Adalah memasuki keadaan pikiran yang meditative melalui musik. Secara alamiah pikiran kita yang seperti monyet ini juga tertarik akan lagu, musik, dan tarian. Pada dasarnya jauh lebih mudah menjinakkan pikiran dengan musik daripada melalui visualisasi mental dan perenungan intelektual. Begitu pikiran yang seperti monyet ini terjinakkan, visualisasi mental dan perenungan intelektual menjadi mudah. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang bisa berpikir, berefleksi dan bisa membuat keputusan yang cerdas. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang mengalami transformasi total….. Letupan emosi tidak akan mengangkat hakikat kita yang terdalam; bahkan tidak akan bisa menyentuhnya. Letupan emosi hanya akan menjauhkan kita dari perasaan yang terdalam dari cinta. Letupan emosi tidaklah spiritual. Cinta dan devosi bukanlah emosi. Cinta adalah rasa terdalam, jauh lebih dalam dari emosi yang terdalam. Dan devosi, bhakti, adalah buah dari cinta yang sudah matang. Bhajan adalah jalan yang menghubungkan jiwa kita dengan Dia Hyang Mahatinggi. Pada ujung jalan satunya adalah sang jiwa, diujung lain adalah Dia Hyang Mahatinggi, Entah kita mau menapaki jalan tersebut atau tidak, tetap saja kita semua sama-sama terhubung. (Das,Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Rama adalah simbol dari Paramatman, Diri Hyang Agung sedangkan Sita adalah Jeevatman, Diri Individual  yang sudah terpisah dari Paramatman karena ulah Rahwana atau Ego. Untuk menghubungkan Jeevatman kepada Paramatman diperlukan Hanuman sebagai jembatan. Sampai sekarang orang memuja Hanuman dan mempergunakannya sebagai jembatan menuju Paramatman. Setubandha adalah jembatan yang dihasilkan para wanara untuk menyeberangi samudera. Wanara yang terkenal berpikiran liar dan suka meloncat-loncat ternyata bisa dijinakkan dengan kidung pujian. Mereka bergotong-royong membangun jembatan sebagai persembahan kepada Rama, Sang Paramatman. Keberhasilan membangun jembatan Setubandha membuat para wanara semakin percaya diri, mati pun mereka rela demi Sri Rama.

Mata-Mata Alengka yang Tertangkap Pasukan Sri Rama

“Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita warisi sejak lahir hanya dapat diubah dengan berkah ilahi, by the grace of God. Undanglah berkah ilahi dengan senantiasa memuji namaNya. Pujian yang dilakukan secara intensif dan repetitif, diulangi terus-menerus secara intens dapat mengubah kebiasaan Anda; dapat mengubah mulut yang jahat menjadi mulut yang penuh pujian.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang mata-mata dari Alengka yang dikirim oleh Rahwana terlihat oleh Vibhisana. Kemudian para wanara mengikatnya dibawa menghadap Panglima Perang Sugriva. Sugriva memerintahkan prajuritnya untuk memotong hidung dan telinganya. Sang mata-mata yang mengaku sebagai utusan Rahwana segera menangis dan mohon perlindungan Sri Rama, “Om Shri Rama”, saya berserah diri terhadap Rama. Ucapannya ternyata menyelamatkannya, hidung dan telinganya tidak jadi dipotong. Lakshmana segera datang dan kemudian menulis surat kepada Rahwana.

“Wahai Rahwana, pemusnah sendiri dari ras raksasa, segeralah mengubah pendapat Anda, tunduklah kepada Sri Rama dan ras raksasa akan diampuni olehnya. Kematian Anda sudah dekat.”

Suka, sang mata-mata menerima surat tersebut, mengucapkan Jaya Shri Rama dan segera balik ke Alengka.

Rahwana didepan persidangan mendengarkan penuturan Suka dan sangat marah dengan perbuatan Vibhisana yang telah diangkat sebagai raja Alengka masa depan. Menurutnya hanya tinggal beberapa hari lagi Vibhisana akan mati dalam peperangan. Rahwana juga bertanya apakah sang mata-mata tidak menyampaikan kekuatan pasukan Alengka yang bersikeras untuk tetap berperang? Rahwana juga bertanya bagaimana kekuatan pasukan Rama.

Suka menjawab, “Hamba tidak bisa menggambarkan kekuatan pasukan wanara. Ada banyak wanara dengan warna bulu yang berbeda-beda. Hamba mendengar jumlah mereka ada delapan belas Padma. Setiap Padma memiliki seorang jenderal yang berkekuatan puluhan gajah. Tidak ada seorang prajurit pun yang meragukan kemenangan mereka. Mereka hanya menunggu aba-aba dari Sri Rama.”

Suka dimarahi oleh Rahwana dan malam itu dia menyeberang samudera mencari perlindungan Sri Rama.

Rama Akan Mengeringkan Samudra

Rama memperhatikan samudera yang menghalangi perkemahannya dengan Alengka. Rama minta panah dan busur kepada Lakshmana. Rama mulai membidikkan panahnya untuk mengeringkan samudera.

Dewa Samudera dan para penghuni samudera mengalami ketakutan yang luar biasa. Mereka cemas dan segera membasahi kaki Sri Rama mohon ampun.

Dewa Samudera berkata pelan, “Dengan energi Paduka, saya akan mengering dan pasukan wanara bisa menyeberangi samudera, akan tetapi hal tersebut akan membuat hamba menderita. Hamba paham bahwa panah Paduka tidak bisa ditarik kembali, saya akan terpaksa menderita mengalami hal tersebut.”

Mendengar kata-kata sederhana dari samudera, Rama bertanya, apakah ada alternatif untuk menyeberangkan pasukan wanara?

Dewa Samudera mengatakan, bahwa Jenderal Nila dan Nala adalah keturunan Vishvakarma sang arsitek pembangun istana dewa. Mereka memperoleh anugrah dari para suci bahwa apa pun yang dipegang oleh mereka walaupun batu yang berat tidak akan tenggelam. Juga apabila setiap batu ditulis dengan nama Sri Rama, maka batu-batu tersebut juga akan terapung sesuai kehendak Sri Rama.

Sri Rama segera memanahkan panahnya ke daerah yang masyarakatnya banyak melakukan dosa dan daerah tersebut menjadi gurun pasir.

Seluruh Wanara, Segenap Batu Dan Bukit Melakukan Persembahan Kepada Rama

“Adalah perasaan kita yang memberi kesan kasar dan halus. Dan, perasaan kita tergantung pada kesadaran kita. Jika kesadaran kita terfokus pada dunia, getaran itu terasa kasar. Jika kesadaran kita terfokus pada Gusti Pangeran, getaran itu terasa halus. Kasar dan halus tidak bersifat absolut. Kasar bisa terasa halus, dan halus bisa terasa kasar. Dalam menjalani kepercayaan atau agama, jika seorang masih memikirkan pahala yang bersifat ‘materi’, kenyamanan dunia, atau kenikmatan surga maka sesungguhnya ia masih berada pada frekuensi rendah. Ia sedang bergetar dengan keras sekali. Sementara itu, seorang panembah yang berada di tengah keramaian dunia, jika kesadarannya terfokus pada Gusti Pangeran, ia akan berada pada frekuensi yang tinggi. Ia sedang bergetar halus. ‘Sekujur tubuhku bergetar dengan getaran ilahi, dan suaraku serak karena luapan kasih ketika menyanyikan keagungan-Mu.’ Dengan setiap napas yang kau tarik, ucapkan nama-Nya. Dan, dengan setiap napas yang kau embuskan, pujilah kebesaran dan kemuliaan-Nya. Seorang panembah mengubah irama napasnya menjadi irama ilahi. Seluruh hidupnya menjadi sebuah lagu indah yang menyanyikan keagungan-Nya. Bagi seorang panembah sejati tiada lagi perpisahan antara jam kerja, jam libur, jam keluarga, setiap menit, setiap detik adalah saat untuk menyembah. Seorang panembah mengubah seluruh hidupnya menjadi suatu persembahan. Ia melakukan segala sesuatu dengan semangat panembahan, persembahan. Ia menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Panembahan bukanlah pekerjaan mereka yang belum sadar. Mereka yang belum, atau tidak sadar, tidak dapat menjalani hidup seperti itu. Mereka masih menghitung untung-rugi, sementara seorang Panembah sudah tidak peduli akan hal itu. Para panembah bukan penyanyi profesional. Lagu dan nyanyian adalah ungkapan dari panembahan mereka, bukan profesi mereka. Chaitanya menyadari betul hal tersebut, maka ia ingin bebas dari segala macam syarat dan ketentuan. Ia ingin menyembah secara bebas, tanpa ketergantungan pada sesuatu di luar diri. Ia ingin menyembah dengan cara yang paling sederhana, “hanya dengan mengucapkan nama-Nya.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para wanara segera mencari batu, untuk diserahkan kepada Hanuman yang menuliskan Nama Rama pada batu-batu tersebut dan diserahkan kepada Nila dan Nala yang menatanya sebagai jembatan.  Para wanara bekerja keras sambil melakukan chanting Nama Rama. Seluruh pekerjaan dipersembahkan kepada Rama, kepada Gusti Pangeran. Dan, pekerjaan berjalan cepat sekali. Dalam lima hari jembatan selesai.

Satrawan Suci Tulsidas menulis bahwa siapa pun juga yang yakin dengan kisah ini akan lebih mudah menyeberangi samudera dunia fana ini. Nama Sri Rama adalah jembatan yang kuat untuk menyeberang samudera samsara.

Saat Sugriwa membawa batu terakhir jembatan, Hanuman mendengar keluh kesah Bukit Brindavan yang jauh dari tempat pembangunan jembatan yang menangis, karena belum berkesempatan membantu tugas Sri Rama. Hanuman melaporkan kepada Sri Rama dan oleh Sri Rama,  Hanuman diminta terbang ke Brindavan untuk menenangkan mereka bahwa pada Zaman Dwapara Yuga, Rama akan datang dan tinggal di bukit tersebut. Dan, Bukit Brindavan lega serta bersyukur.

Mendirikan Shivalingga pada Jembatan Setubandha

“Trinitas asli Bali dan dari kepulauan Indonesia disebut Trimurti – ‘Tiga Bentuk’. Ketiga bentuk tersebut bisa dijelaskan dengan menguraikan kepanjangan kata ‘God’; ‘G’ Generator, Pencipta, ‘O’ Operator, Pemelihara dan ‘D’ Destroyer, Pemusnah. Dalam bahasa kuno, ketiga fungsi tersebut dikenal sebagai Brahma, Visnu dan Shiva. Dalam Trinitas masyarakat Bali, fungsi Tuhan sebagai pemusnah dibutuhkan sebagai prasyarat regenerasi. Secara berkesinambungan mencari keseimbangan dan harmoni, ketiga fungsi yang tampaknya berbeda membentuk sebuah lingkaran. Shiva sering disimbolisasikan sebagai Lingga atau organ kelamin pria, dengan Yoni atau organ kelamin wanita di bawahnya. Ini adalah simbol yang lengkap; ia mewakili ke-3 fungsi Tuhan tersebut.” Dikutip dari Bapak Anand Krishna Dalam Radar Bali: Tri Hita Karana

Setelah jembatan selesai, Vibhisana berkata kepada Sri Rama, “Paduka, Rahwana adalah bhakta teguh dari Shiva. Kami yakin Rahwana akan menemui ajal di tangan Paduka. Untuk menghormati Shiva mohon Paduka mendirikan Shivalingga di jembatan ini. Sebagai peringatan agar setiap orang sadar tentang Kebenaran. Setiap orang atau pemerintahan walau bagaimana pun kuatnya akan didaur ulang oleh zaman. Lingga tersebut akan dikenal sebagai Rama Lingesvara.

Rama memenuhi permintaan Vibhisana sebagai penguasa Alengka masa depan. Rama kemudian melakukan acara ritual persembahan atas selesainya jembatan tersebut. Para wanara menyanyikan kidung dengan penuh kebahagiaan. Shiva berkenan pada Rama untuk menaklukkan Rahwana.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Mengorbanan Harta dan Jabatan demi Kebenaran, Kisah Vibhisana Menyeberang ke Pihak Rama

Posted in Ramayana with tags , on November 26, 2013 by triwidodo

Vibhisana menghadap Rama sumber oppanna com

Ilustrasi Vibhisana menghadap Sri Rama sumber oppanna com

“Seorang pedagang yang sedang berkunjung ke kota lain boleh menikmati segala kenyamanan dan kemewahan hotel dimana ia sedang bermalam. Tapi, dia selalu ingat tujuannya berada di kota asing itu. Ia tidak larut dalam kenyamanan dan kenikmatan itu. Pagi-pagi ia sudah bangun. Meninggalkan kamar hotel, dan pergi ke pasar untuk berdagang. Ia tidak memiliki keterikatan dengan hotel itu, dengan segala kenyamanan kamarnya. Itulah sebab ketika urusannya selesai ia pun langsung checkout, tidak menunggu diusir, dan pulang ke ‘negeri asalnya’. Kiranya inilah arti ayat 11 dalam surat al-Fath, ‘harta dan keluarga kami merintangi’. Qur’an Karim mengingatkan para mukmin untuk tidak terikat dengan kenyamanan dan kenikmatan duniawi, dan untuk senantiasa mengingat tujuan hidup. Yaitu ‘berjuang’ dalam, dan dengan kesadaran ilahi. Ayat ini adalah pelajaran bagi mukmin, bereka yang beriman. Ayat ini dimaksudkan bagi hamba Allah, dan bukan bagi budak dunia. Jika kita puas dengan perbudakan, maka itu adalah pilihan kita. Dan, konsekuensinya adalah resiko kita sendiri.” Kutipan dari Bapak Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Tindakan Vibhisana tidak masuk akal dalam dunia materi seperti yang kita lihat setiap hari di negeri kita saat ini. Vibhisana mempunyai harta berlimpah, mempunyai wewenang sangat besar sebagai adik seorang raja yang sangat berkuasa. Vibhisana mempunyai keluarga yang hidup sejahtera di negeri Alengka. Akan tetapi demi kebenaran dia rela menukar itu semua dengan menyeberang ke pihak Sri Rama yang kekuatannya belum diketahui apakah bisa mengalahkan pasukan Alengka. Sebuah pilihan yang penuh resiko terhadap diri dan keluarganya, terutama apabila pasukan Sri Rama kalah perang melawan pasukan Rahwana.

 

Genetik Keraksasaan dalam Diri

“Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orang tua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya. Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orangtua. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para raksasa Alengka sudah memperoleh warisan gen raksasa yang mau menang sendiri, tidak peduli bila tindakannya merugikan pihak lain, dan melakukan tindakan kekerasan terhadap orang yang tidak sama pandangan dengan mereka, asalkan mereka memperoleh imbalan yang besar. Hanya Vibhisana dan beberapa raksasa sepuh di Alengka yang mulai sadar dan mau memperbaiki karakter lama mereka. Hanuman sebagai Rama Duta yang membakar Alengka memicu mereka yang sadar agar memperbaiki kesalahan mereka, akan tetapi jumlah mereka kalah banyak dan menjadi tersisihkan di negeri Alengka.

Kesaktian Hanuman memberi pengaruh besar kepada para raksasa. Terbersit rasa keraguan di hati mereka apabila Rahwana tidak mengembalikan Sita, maka akan terjadi perang dengan pasukan Sri Rama. Apakah kesaktian para panglima Sri Rama seperti Hanuman? Sanggupkah para panglima Alengka bertempur melawan mereka. Rahwana segera mengumpulkan para panglima untuk membahas kemungkinan perang melawan pasukan Sri Rama yang akan menyerang Alengka.

Para panglima tidak ada yang berani bicara, dan Kumbakarna yang baru saja bangun tidur selama berbulan-bulan yang tidak menyaksikan Hanuman membakar Alengka berkata bahwa apabila menghadapi seekor wanara saja Alengka dibuat kacau-balau, sebaiknya tidak usah melakukan perang melawan Rama. Demi kesejahteraan rakyat Alengka sebaiknya dikembalikan saja Sita dan Alengka akan damai. Bagaimana pun para panglima raksasa mempunyai genetik mau menang sendiri. Jenderal Atikaya berkata bahwa dia  patuh terhadap perintah Rahwana dan bila harus terjadi perang dia bersama pasukannya siap menghancurkan pasukan wanara. Meganandha putra Rahwana yang juga dikenal sebagai Indrajit berkata bahwa Rahwana dapat menaklukkan para dewa, mengapa takut melawan pasukan Rama? Kumbha dan Nikumbha putra Kumbhakarna juga berpendapat seperti Megananda. Demikian pula para panglima yang lain.

 

Kebiasaan Buruk Merugikan Orang Lain

“Kebiasaan-kebiasaan buruk dalam diri kita bagaikan semak berduri. Sekali tertanam, akan tumbuh pesat. Satu kebiasaan akan mengundang kebiasaan lain. Sering kali, Si Penanam pun terluka oleh karenanya, tetapi dia tetap tidak sadar. Dia masih mempertahankan ‘semak berduri kebiasaan-kebiasaan buruk’ di dalam dirinya. Karena tidak sadar, kita juga tidak dapat merasakan penderitaan orang lain. Mungkin, tahu pun tidak kalau banyak orang ikut menderita karena kebiasaan-kebiasaan buruk kita. Misalnya: Kebiasaan merokok di tempat umum. Merusak toilet umum. Mencuri perlengkapan dari kendaraan umum. Menyalip orang seenaknya di jalan raya. Masih banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang bisa mencelakakan diri, sekaligus mencelakakan orang lain. Selagi masih bertenaga, masih muda, bebaskan dirimu dari kebiasaan-kebiasaan buruk. Semakin tua, semakin tidak bertenaga, semakin sulit membebaskan diri dari kebiasaan, karena untuk membebaskan diri dari satu kebiasaan dibutuhkan tenaga yang luar biasa. Dibutuhkan nyali yang terbuat dari baja pilihan. Dibutuhkan keberanian seribu ekor singa untuk membebaskan diri dari kebiasaan.” (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Adalah Vibhisana yang bukan hanya berpikiran tentang negeri Alengka tetapi berpikir tentang kebenaran, tentang dharma, tentang mengubah kebiasaan buruk para raksasa. Vibhisana yang baru saja masuk persidangan berkata bahwa hidup mereka hanya sementara, Rahwana harus berhenti mengagumi wanita yang menjadi milik orang lain. Nafsu keserakahan adalah gerbang kehancuran. Sebuah kesalahan akan dibersihkan dengan tobat dan tidak mengulangi kesalahan. Vibhisana meminta Rahwana mengembalikan Sita kepada Sri Rama. Malyavanta, seorang menteri sepuh yang dihormati para panglima menambahkan bahwa apa yang dikatakan Vibhisana adalah besar. Banyak sekali wanita cantik yang mau dijadikan istri sang raja, mengapa harus memilih istri orang lain?

Nuansa keangkuhan para raksasa memang satu frekuensi dengan Rahwana. Para raksasa tidak biasa menoleh ke dalam diri, mereka tidak seperti Vibhisana yang terbiasa meditasi. Mereka bertindak sesuai karakter bawaan mereka yang tidak mereka ubah.

Rahwana itu sangat marah atas saran yang diberikan oleh mereka berdua. Dia menegur mereka dengan keras. Rahwana berkata, “Kamu berdua bodoh! Apakah kalian tahu apa yang telah kalian lakukan? Kalian membenarkan musuhku. Kalian seharusnya tidak hadir di persidangan ini!”

Malyavanta turun dari kursinya dan bergegas pulang, Vibhishana segera membungkuk hormat kepada Rahwana yang sedang marah. Rahwana berkata bahwa Vibhisana makan dari pemberiannya, tinggal di daerahnya tetapi membenarkan sikap musuh. Rahwana berkata bahwa mereka masih hidup hanya karena karunia dia. Rahwana berkata demikian sambil menendang Vibhisana. Malam itu juga Vibhisana menyeberang lautan menuju perkemahan Rama.

 

Melepaskan Harta dan Kekuasaan demi Kebenaran, tapi diberi tugas Mengelola Kekuasaan?

“Arjuna: Bila Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri merupakan tujuan hidup, maka untuk apa melibatkan diri dengan dunia? Aku sungguh tambah bingung.”

“Krishna: Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri memang merupakan tujuan tertinggi. Namun, kau harus berkarya untuk mencapainya. Dan, berkarya sesuai dengan kodratmu. Bila kau seorang Pemikir, kau dapat menggapai Kesempurnaan Diri dengan cara mengasah kesadaranmu saja. Bila kau seorang Pekerja, kau harus menggapainya lewat Karya Nyata, dengan menunaikan kewajibanmu, serta melaksanakan tugasmu. Dan, kau seorang Pekerja, kau hanya dapat mencapai Kesempurnaan Hidup lewat Kerja Nyata. Itulah sifat-dasarmu, kodratmu. Sesungguhnya tak seorang pun dapat menghindari pekerjaan. Seorang Pemikir pun sesungguhnya bekerja. Pengendalian Pikiran – itulah pekerjaannya. Bila pikiran masih melayang ke segala arah, apa gunanya duduk diam dan menipu diri? Lebih baik berkarya dengan pikiran terkendali. Bekerjalah tanpa pamrih! Hukum Sebab Akibat menentukan hasil perbuatan setiap makhluk hidup. Tak seorang pun luput darinya, kecuali ia berkarya dengan semangat menyembah.” Dikutip dari Artikel Bapak  Anand Krishna di http://www.aumkar.org/ind/?p=19

Vibhisana disuruh menunggu oleh para pengawal Sri Rama dan Sugriwa lapor ke Sri Rama. Sugriwa mengatakan bahwa Vibhisana adik Rahwana ingin darshan, bertemu dengan Sri Rama. Sugriva meminta Sri Rama tidak percaya terhadap Vibhisana karena jangan-jangan dia adalah mata-mata Alengka. Akan tetapi Sri Rama berkenan menemui Vibhisana dan mendengarkan penuturannya.

Vibhisana berkata, “Hamba lahir sebagai ras raksasa atas dosa-dosa masa lalu akibat ketidakpedulian dan kebodohan dalam tindakan hamba. Sekarang hamba pasrah kepada Paduka.”

Sri Rama berkata, “Darshan yang kau temui telah menghapuskan keraksasaan dalam dirimu. Yang penting adalah memelihara apa yang sudah berubah pada dirimu! Kamu segera mandi air suci samudera dan kembali kemari!”

Rama kemudian mengutus Hanuman mengambil air suci. Dan ketika Vibhisana selesai mandi air samudera serta duduk kembali di perkemahan, Sri Rama memercikkan air suci dan berkata, “Dengan ritual ini kau diangkat sebagai penguasa Alengka!”

Vibhisana berkata, “Hamba tidak butuh kerajaan, hamba hanya ingin mengabdi kepada Paduka!

Sri Rama berkata, “Ingin mengabdi kepada-Ku? Kau harus berkarya sesuai kodratmu.  Ini adalah tugasmu. Jangan melarikan diri dari tugasmu!”

Vibhisana berkata, “Hamba mengikut perintah Paduka!”

Dan Hanuman beserta semua wanara merasakan nuansa kemuliaan memenuhi perkemahan tersebut.

Bagaimana cara pasukan Sri Rama menyeberangi samudera menuju Alengka? Silakan ikuti kisah selanjutnya.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013