Archive for the Relief Candi Category

Kisah Boddhisattva Sebagai Shakra: Biarlah Kehendak-Nya yang Terjadi

Posted in Relief Candi with tags , , on December 24, 2013 by triwidodo

Shakra 1 sang pemberani sumber www himalayanart org

Ilustrasi Shakra Sang Pemberani sumber www himalayanart org

Keyakinan dan Kehendak

Have faith, trust—yakinlah! Keraguan muncul dari pertimbangan, perhitungan, logika, dan pikiran. Sementara itu, keyakinan adalah urusan jiwa. Yakinlah bila kekuatan jiwa jauh melebihi kekuatan pikiran. Dan jangan lupa, energi yang Anda keluarkan untuk berkarya, untuk bekerja, justru memperkuat jiwa Anda, iman Anda, keyakinan Anda pada diri sendiri. Pertimbangan, penilaian, semuanya bisa salah. Akal bisa akal-akalan, bisa juga mengakali. Logika hanya menggunakan informasi yang sudah dimilikinya sebagai acuan. Keyakinan adalah dari jiwa. Dan dari keyakinan seperti itu lahir kehendak yang kuat. So, trust and will power, keyakinan dan kehendak yang kuat, dua-duanya adalah buah jiwa. Urusannya dengan akal budi di dalam diri Anda, bukan dengan akal atau akal sehat saja, yang adalah buah pikiran.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Shakra, Dewa Indra tidak mau kereta perangnya menabrak sarang burung elang, karena dia pun tidak mau dirinya ditabrak kereta yang dikendarai orang lain hingga mati. Lebih baik mati di medan pertempuran daripada melarikan diri dan membunuh nyawa anak-anak elang. Keretanya berputar kembali menuju medan pertempuran dan akhir pertempuran yang terjadi berbeda jauh dari logika para Dewa dan Asura.

 

Boddhisattva sebagai Shakra

“Dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semuanya frekuensi lebih tinggi disebut dewa. Dan masing-masing frekuensi ada namanya. Kadang kita menyebut sebagai makhluk surgawi, tetapi ini adalah nama-nama dari frekuensi yang lebih tinggi.” Cuplikan dan terjemahan bebas dari Diskusi Anand Krishna dengan Kali Ma di Spreaker

Kesadaran seseorang itu bisa sempit atau meluas, seperti sifat sempit dan meluasnya berbagai elemen alami. Tanah atau bumi itu padat, merupakan simbol kesadaran yang kaku, sempit. Kemudian kesadaran berikutnya meluas seperti air yang bisa meresap dan mengalir kemana-mana. Setelah itu kesadaran meningkat seperti api yang bukan hanya meluas tetapi juga naik ke atas dan dan bentuknya sudah tidak padat atau cair lagi. Selanjutnya seperti udara, kesadaran yang lebih cepat meluas dengan sangat cepat. Dan, akhirnya seperti ruang, sebuah kesadaran yang meliputi segala sesuatu. Bila ruang bisa ditengarai dengan bunyi,shabda; udara ditengarai dengan raba, touch, sparsha; api sudah mulai bisa kelihatan bentuknya, rupa; sedangkan air selain sudah mempunyai rupa sudah bisa di ‘rasa’ kan, tasted, dikecap: bumi sudah punya rupa, rasa dan bisa ditengarai dari bau, gandha.

Seseorang yang kesadarannya meluas, sesuai tingkat keluasan kesadarannya, maka dia sudah tidak membedakan gandha, rasa, rupa, ataupun sparsha-raba. Dia sudah tidak membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya, semua makhluk adalah percikan dari Gusti Pangeran. Kita perlu merenungkan, apabila kita masih membeda-bedakan kolom agama dalam ktp, apakah kesadaran kita sudah meluas atau masih begitu sempit dan kaku? Dalam kisah ini Boddhisattva sudah mencapai kesadaran Shakra atau Dewa Indra, rajanya para dewa.  Dalam berbagai kehidupan sebelumnya dia sudah melakukan tindakan mulia dan kesadarannya sudah meluas sehingga diangkat menjadi Shakra.

 

Bertempur dengan Para Asura

Para Asura merasa iri dan dengki dengan tingkat kesadaran Shakra, jika hal ini dibiarkan dunia akan dipengaruhi Shakra dan kejahatan dan kegelapan akan terlempar dari dunia. Para Asura menyatakan perang melawan Shakra. Mereka mengumpulkan ribuan prajurit dilengkapi dengan banyak gajah, kuda dan kereta perang. Shakra pun memimpin para dewa dan melengkapinya dengan ratusan gajah, kuda dan kereta perang. Shakra sendiri guna membangkitkan semangat anak buahnya naik kereta emas yang ditarik dengan seribu kuda dengan perlengkapan senjata yang indah menyilaukan kala diterpa sinar matahari.

Pertempuran besar meletus dengan teriakan penuh kemarahan para perajurit dan genderang perang pemberi semangat untuk mengalahkan musuh. Membaui anyir darah, gajah dan kuda mengamuk, panah-panah berseliweran. Akhirnya, kewalahan oleh senjata para Asura, perajurit Shakra melarikan diri.

Hanya Shakra, pemimpin para dewa yang tetap berada di medan pertempuran dengan sais Matali yang menjalankan kereta perangnya. Matali melihat gegap gempita para perajurit Asura yang sedang menang dan maju mengejar para dewa, memutar kereta dan akan mundur. Pada saat itu Shakra melihat kereta perangnya akan menabrak ranting pohon tempat sarang burung elang yang berisi anak-anak elang yang tidak berdaya.

Shakra segera berkata kepada Matali agar jangan menabrak sarang elang. Matali menjawab, bahwa dengan menghindari sarang tersebut, para Asura bisa menyusul kereta mereka. Matali sangat cemas, mengapa hanya demi sarang elang, Shakra justru membahayakan nyawanya sendiri. Padahal kematian Shakra sangat ditunggu-tunggu oleh para Asura dan bila mereka berhasil membunuh Shakra lengkaplah sudah kemenangan para Asura dalaam pertempuran kali ini.

 

Biarlah kehendakNya yang terjadi!

“Hendaknya kekuatan kehendak tidak diterjemahkan sebagai kekeraskepalaan. Tujuan Anda  berkehendak kuat bukanlah untuk memenuhi keinginan Anda dan melayani kemauan ego Anda. Tidak. Tujuan Anda berkehendak kuat adalah untuk meleburkannya dalam Kehendak Gusti Pangeran. Untuk memuliakanNya, untuk mengagungkanNya. Biarlah kehendakNya yang terjadi!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Shakra tetap meminta Matali membelokkan kereta menghindari sarang elang. Shakra trust, yakin terhadap Kebenaran Sejati dan tunduk terhadap Kehendak-Nya, bukan kehendak pribadinya. Dalam diri Shakra sudah terpatri keyakinan, lebih baik mati dalam pertempuran daripada melarikan diri dan membunuh nyawa anak-anak elang. Shakra tidak mau seperti orang awam yang menggampangkan perkara melenyapkan nyawa makhluk dan masih menepuk dada dan berkata lantang bahwa “dirinya mengasihi semua makhluk seperti dia mengasihi dirinya sendiri”.

“Kemanusiaan adalah kesadaran bahwa apa yang kau inginkan bagi dirimu juga diinginkan oleh orang lain bagi dirinya. Jika kau ingin bahagia, maka orang lain pun ingin bahagia. Jika kau ingin sehat, maka orang lain pun ingin sehat. Jika kau ingin aman, maka orang lain pun ingin aman. Jika kau tidak mau dilukai, maka orang lain pun demikian. Jika kau tidak mau ditipu, maka orang lain pun tidak mau ditipu. Langkah berikutnya adalah: Jika kau tidak mau disembelih, dimasak, dan disajikan di atas piring; jika kau tidak mau dagingmu dijual dengan harga kiloan; jika kau tidak mau jeroanmu dipanggang atau digoreng; maka janganlah engkau menyembelih sesama makhlukNya. Menyembelih sesama makhluk hidup bukanlah tindakan yang memuliakan. Bagaimana kau bisa mengagungkan Hyang Maha Agung dengan mengorbankan ciptaanNya?” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengan yakin, Shakra meminta Matali memutar kereta perangnya menghindari sarang elang. Shakra sudah melepaskan logika. Logika hanya menggunakan informasi yang sudah dimilikinya sebagai acuan. Shakra memakai keyakinan yang berasal dari jiwa. “Biarlah Kehendak-Nya yang terjadi!”

 

Membuat Porak Poranda Pasukan Asura

Kereta perang Shakra yang memutar kembali ke arah musuh membuat pasukan Asura kebingungan. Mereka ternganga dan cemas dengan keberanian Shakra. Mereka bertanya-tanya ada kekuatan besar apa yang membuat Shakra menyerang kembali. Para Asura cemas, jangan-jangan mereka dijebak pasukan para Dewa. Alih-alih menghalangi kereta Shakra dan menyerangnya, pasukan para Asura menyibak penuh ketakutan dan melarikan diri dari jalur kereta Shakra. Melihat barisan Asura yang menyibak dan rusak, para dewa muncul semangatnya kembali dan dengan genderang perang, pasukan gajah, kuda dan kereta mereka masuk kembali ke medan pertempuran. Hal ini tambah mengejutkan pasukan para Asura dan meruntuhkan nyali mereka. Para Asura serempak melarikan diri terbirit-birit dari serangan para Dewa. Para dewa bersorak gembira atas kemenangan pertempuran.

Dalam keadaan kritis, Shakra menyerahkan diri pada Kehendak-Nya, yang akan terjadi adalah Kehendak-nya bukan kehendak pribadinya.

 

Menyerahkan Diri pada Kehendak-Nya, Melampaui Maya

“Maya adalah ilusi yang menciptakan dualitas panas-dingin, siang-malam, laki-perempuan, suka-duka, dan lain sebagainya. Sebab itu maya juga merupakan dasar penciptaan. Tanpa ilusi dualitas, tak akan terjadi penciptaan. Maka, selama kita masih menjadi bagian dari ciptaan, pengaruh maya mustahil untuk dihindari. Maka, kita perlu menjaga kesadaran kita supaya kita terlalu terperangkap dalam permainan maya, permainan dualitas. Seorang Sadguru mengingatkan kita akan peran penting maya dalam mempertahankan ciptaan, sekaligus bahayanya, dan mengajarkan cara supaya kita tidak tenggelam dalam lautan maya, tapi bisa berenang dengan penuh kesadaran. Pada suatu hari Beliau bersabda : ‘Aku seorang fakir, tidak punya tanggungan maupun keterikatan. Aku tinggal di satu tempat, tidak kemana-mana. Ke-‘aku’an pun telah kunafikan, tetap saja maya masih menggoda-Ku. Para dewa, malaikat pun digoda maya, apalagi seorang fakir biasa seperti diri-Ku… Hanyalah mereka yang berserah diri kepada Tuhan dan memperoleh anugerah-Nya terbebaskan dari godaan maya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Kisah Boddhisattva: Pengaruh Buruk Para Drona terhadap Raja

Posted in Relief Candi with tags , , , on December 7, 2013 by triwidodo

sang bijak relief Boddhisattva di Borobudur sumber en wikipedia org

Ilustrasi Relief Boddhisattva di Borobudur sumber en wikipedia org

Pikiran Yang Selaras dengan Alam Semesta

“Bagaimana kita mengetahui bahwa apa yang saya pikirkan itu harmonis, selaras, dan serasi dengan semesta? Segala macam pikiran, ide, konsep, gagasan, imajinasi dan lain sebagainya yang bersifat luas dan membebaskan adalah pikiran yang selaras dengan semesta. Karena alam semesta Maha Luas dan Maha Bebas adanya. Ia tak terkurung, tak terbingkai dan tak terbatas. Sebaliknya, pikiran-pikiran yang kerdil, sempit, membatasi, dan memenjarakan seperti dogma-dogma dan doktrin-doktrin yang membuat kita berpikiran picik sudah jelas tidak harmonis, selaras dan serasi dengan semesta. Pikiran yang picik menimbulkan berbagai macam keadaan psikologis yang tidak menunjang peningkatan kesadaran. Keadaan psikologis yang dimaksud antara lain rasa takut, khawatir, kecewa, marah, iri, benci, dendam, sedih, dan depresi.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Adalah Boddhisattva lahir sebagai seorang pengembara yang dikenal dengan sebutan Mahabodhi, Sang Bijak. Setelah meninggalkan keduniawian, Sang Boddhisattva berfokus pada pelajaran dharma yang membawa manfaat bagi semua makhluk. Pekerjaannya adalah ‘vihar’, bepergian. Kemana pun ia pergi selalu dijamu dan dilayani oleh para brahmana dan para perumahtangga yang ingin mendengarkan nasehatnya tentang kehidupan. Akhirnya sampailah sang bijak kepada seorang raja yang kaya yang sangat menghormatinya. Sang raja membangun tempat khusus untuk Mahabodhi di taman yang indah. Sang raja dengan sukacita mendengarkan ajaran sang bijak dengan tekun dan sang bijak bahagia dengan kemajuan spiritual sang raja.

Beberapa Drona, Penasehat Sang Raja mulai iri dengan Mahabodhi. Mereka berkata, bahwa Sang Raja tidak perlu terfokus pada ajaran sang pengembara. Sang pengembara mungkin adalah mata-mata dari negara tetangga dan menggunakan ketertarikan Sang Raja pada dharma untuk menipunya. Pikiran cerdas dari sang pengembara dan dengan lidah yang piawai  akan membingungkan Sang Raja yang akan membawanya pada bencana. Mereka berupaya meyakinkan Sang Raja bahwa sang pengembara berpura-pura menjadi pemuja kebaikan, mendorong Sang Raja berlatih welas asih dan rendah hati. Dan setelah Sang Raja mengikuti sumpah maka dia akan merusak kebijakannya. Mereka minta agar Sang Raja memperhatikan berapa banyak sang pengembara berbicara pada orang-orang asing.

 

Bujukan Secara Repetitif Intensif oleh Para Drona

“Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Diulang-ulang secara repetitif intensif, Sang Raja mulai berubah. Ketidakpercayaan Sang Raja mulai tumbuh. Sang Bijak dapat merasakan dan merasa bahwa kedatangannya tidak lagi menyenangkan sang raja. Dia segera mengumpulkan barang-barang untuk mengembara dan siap berangkat dari istana. Sang Raja mencoba menahannya dan bertanya apakah Sang Bijak kurang berkenan. Sang Bijak tegas berkata dia pergi bukan karena tidak dihormati, akan tetapi karena kedatanggannya sudah tidak mempunyai manfaat. Jadi harus pergi. Anjing kesayangan Sang Raja juga menggonggong keras-keras kepadan Sang Bijak seperti pada seorang musuh. Sang Bijak berkata bahwa anjing ini belum lama berselang suka tinggal disisinya mengikuti teladan Sang Raja. Sekarang dia menggonggong dengan keras, tentunya sang anjing telah mendengar bahwa Sang Raja telah berbicara kasar tentang saya. Demikianlah perilaku pegawai yang makan roti tuannya. Sang Raja merasa malu akan ketajaman persepsi Sang Bijak. Sang Raja berkata bahwa beberapa orang memang berbicara kasar tentang Sang Bijak.

 

Mohon Dukungan Sang Bijak Bila Sang Raja Berada dalam Kebingungan

Raja berkata jika Sang Bijak bersikeras akan pergi, maka dia mohon agar beliau kembali bila Sang Raja berada dalam kebingungan ketika memutuskan masalah besar. Sang Bijak berkata, bahwa hidup di dunia terjadi banyak hambatan, kadang harus lewat jalan memutar dan kadang datang musuh yang tak terduga. Dia tidak bisa janji. Hanya mempunyai keinginan untuk bertemu sekali lagi bila ada alasan yang baik untuk kunjungan tersebut. Sang Bijak kemudian pergi ke hutan.

Setelah beberapa bulan, Sang Bijak melihat bahwa Sang Raja terjebak dalam intrik-intrik para penasehatnya yang mendesak Sang Raja untuk menerima doktrin mereka. Jika hal tersebut dibiarkan, maka bisa membahayakan seluruh rakyatnya.

Salah satu penasehat meyakinkan Sang Raja bahwa hukum sebab-akibat sulit diikuti. Coba dilihat warna, bentuk, kelembutan, tangkai, kelopak pada bunga teratai. Alam semesta ada tanpa alasan. Penasehat lain membujuk Sang Raja agar memelihara kesenangan sensual, karena bila kesenangan tersebut musnah maka dia sudah kehilangan kesempatan menikmatinya. Penasehat yang lainnya lagi, menyarankan bahwa selama berguna bagi Sang Raja, guna memperpanjang kemuliaannya, maka bertindak kejam bisa dilakukan.

Boddhisattva melihat gambaran ini dan kemudian menciptakan jubah dari kulit orang hutan. Dan, dengan berpakaian jubah kulit orang hutan Sang Bijak ke istana.

 

Menghadapi Para Drona, Penasehat yang Tidak Bijak

“Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja bertanya siapa yang memberikan jubah kulit orang hutan untuk Sang Bijak? Sang Bijak menjawab bahwa duduk dan tidur di tanah yang keras dengan sedikit alas jerami menyakitkan tubuh dan membuat sulit beribadah. Sang Bijak berkata bahwa dia membunuh orang hutan dan mengambil kulitnya.

Menteri negara dan para penasehat berkata dengan lantang kepada sang raja bahwa perilaku Sang Bijak hanyalah terfokus kesenangannya. Sang Bijak tidak konsekuen.

Sang Bijak bertanya mengapa mereka menyalahkan dia dengan keras? Bukankah harus bersikap adil terhadap pendapat orang lain? Kepada penasehat yang tidak percaya hukum sebab-akibat, Sang Bijak berkata, “Tuan percaya bahwa alam semesta ada karena alasan alam yang terkandung di dalamnya. Lalu mengapa Tuan harus menyalahkan tindakan saya? Tentunya jika orang hutan tersebut mati akibat dari sifat yang dimilikinya sendiri, maka saya tidak salah telah membunuhnya. Tapi Tuan mengatakan saya berbuat dosa. Kematiannya disebabkan oleh penyebab, dan penyebabnya dalah saya. Oleh karena itu Tuan harus meninggalkan doktrin non-kausalitas/tak ada hukum sebab-akibat yang Tuan ucapkan.”

 

Hukum Sebab-Akibat

“Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya ‘simptom’ mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kepada Penasehat lainnya, sang bijak berkata, “Tuan mengatakan bahwa warna bentuk dan sebagainya dari teratai bukanlah hasil dari penyebab. Akan tetapi teratai hanya diproduksi oleh biji teratai yang ada di dalam air? Karena kondisi itu muncul, teratai tumbuh. Bila tidak terkondisi maka teratai tidak muncul. Juga pertimbangkan ini: Mereka yang menolak adanya hukum kausalitas/hukum sebab-akibat, selalu berupaya menggunakan logika. Bukankah logika itu sendiri mengikuti hukum sebab-akibat? Mereka telah menentang keyakinan mereka sendiri! Dan lebih lanjut , mereka yang mengatakan hukum kausalitas tidak ada, karena mereka tidak dapat memahami penyebab dari beberapa peristiwa tertentu! Kembali ke urusan orang hutan. Jika Tuan bertahan dalam doktrin Tuan, bahwa tidak ada kausalitas, maka kematian orang hutan itu tidak ada penyebabnya. Lalu mengapa menyalahkan saya? Mengapa menyalahkan saya kejam sedangkan Tuan berpendapat bila untuk memperpanjang kemuliaan tindakan kejam boleh dilakukan?”

Sang Bijak akhirnya berkata, “Paduka hamba tidak pernah membunuh orang hutan. Saya tidak pernah membunuh makhluk. Kulit ini saya buat berasal dari monyet yang saya imaginasikan sendiri. Sekarang ilusi tentang kulit orang hutan tersebut sudah kami buang dan saya hanya memakai pakaian biasa.”

“Ketika Paduka bertindak sesuai dengan Dharma, Paduka dapat memimpin sebagian besar rakyat untuk berbuat saleh. Bila Paduka memaksakan diri untuk melindungi rakyat dengan mengandalkan Dharma, Paduka akan menemukan bahwa aturan dan disiplin membuat jalan terindah dari semua orang. Sucikan perilaku Paduka, belajar untuk merangkul amal, membuka hati untuk tamu seolah-olah mereka kerabat terdekat Paduka, dan memerintah negeri dengan kebajikan dan tanggung jawab . Semoga Paduka mengatur negeri Paduka dengan kebenaran , tidak pernah berhenti merayaan tugas Anda.”

 

Memilih Pergaulan yang Baik

“Kelilingi diri Paduka dengan menteri yang setia, cerdas dan bijaksana, serta dengan teman-teman yang jujur ​​dan amanah. Biarkan Dharma memandu tindakan Paduka.”

“Demikian pula penemuan para saintis, para ilmuwan segala jaman. Setiap elemen memiliki daya tarik untuk menarik elemen yang sama. Berarti penyakit akan menarik penyakit, kekacauan akan menarik kekacauan. Sebaliknya, ke-selarasan akan menarik keselarasan. Daya tarik dalam kehidupan kita sehari hari juga persis demikian apabila kita senang minum alkohol, pergaulan kita tak akan jauh dari orang orang yang senang minum alkohol. Apabila kita senang baca buku, teman teman akrab kita pasti juga para pembaca buku.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah. Berada dalam lingkup seorang guru spiritual disebut Satsang, pergaulan yang baik, tepat dan benar. Satsang juga berarti pergaulan dengan mereka yang menunjang peningkatan kesadaran. Sebaliknya, Kusang adalah pergaulang yang tidak baik, tidak tepat, tidak benar, dan tidak menunjang kesadaran manusia. Seorang panembah akan selalu menghindari Kusang, Ia akan selalu mencari Satsang.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Sang Raja sadar dan tidak beberapa lama kemudian dia mengganti para penasehatnya dengan orang-orang bijak.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Mengapa Harus Vegetarian? Kisah Agastya Sang Pertapa sebagai Boddhisattva

Posted in Relief Candi with tags , , on November 29, 2013 by triwidodo

 

Agastya relief kisah jataka candi borobudur sumber see about indonesia blogspot com

Ilustrasi Relief Kisah-Kisah Boddhisattva di Borobudur sumber: see about indonesia blogspot com

Kebahagiaan bersifat Rohani

“Uang, materi, dan pikiran menurut Buddha, yang terbangkitkan, adalah ‘benda’. Dan, seperti benda lainnya, memiliki awal dan akhir. Semua itu hanya temporer, sementara. Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kenikmatan pun tidaklah abadi. Lalu, kita pun kecewa. Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan indrawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stres dan depresi. Kita senantiasa mencari kebahagiaan, namun hanya segelintir yang menemukan kebahagiaan itu. Kenapa? karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam roh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar. Kebahagiaan bukanlah benda. Bukan pula materi. Kebahagiaan itu energi 100% dan 24 karat. Ups, tetapi energi dan materi itu relatif, keduanya dikaitkan oleh hukum relativitas yang diteorikan oleh Eistein.” (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Pada suatu ketika Boddhisattva lahir sebagai anak saleh yang bernama Agastya. Sejak kecil ia sudah mempelajari Veda. Setelah seseorang menjadi dewasa, dia harus menentukan pilihan, untuk menjadi Grahasthya, perumah tangga atau menjadi Sanyasi, yang terfokus pada Kesadaran Murni. Bagaimana pun setelah menjadi perumahtangga, akan tiba saatnya untuk melakukan Vanaprastha, meninggalkan keterikatan terhadap keluarga keterikatan terhadap duniawi lainnya dan akhirnya akan menempuh jalan Sanyasi seperti yang dijelaskan dengan kitab-kitab suci. Agastya paham bahwa berumah tangga mempunyai potensi halangan yang lebih besar daripada menjadi sanyasi. Keterikatan terhadap istri dan anak, kemudian mencari kesejahteraan keluarga, bisa melupakan diri dari tujuan utama hidup menuju Kesadaran Murni. Kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai dengan mencari keluarga, harta dan kekuasaan yang bersifat sementara. Agastya memilih menjadi Sanyasi, hidup terfokus pada Kesadaran Murni. Dan, sesuai dengan kondisi zaman itu maka dia melakukan tapa untuk mencapai tujuan hidupnya.

Bertapa dengan Mengkonsumsi Makanan dari Tumbuh-Tumbuhan

“Pedoman Pertama bagi pembangkitan energi di dalam diri bagi perwujudan Kundalini, adalah makanlah untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan saja. Sifat kehidupan yang memasuki tubuh anda lewat mulut, mempengaruhi sifat diri anda. Sesuai dengan istilah  yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki satu sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila-tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri  kita pun ikut bertumbuh.  Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri.” (Krishna, Anand. (2006). SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Agastya menyendiri bertapa di Pulau Kara di Laut Selatan. Pulau tersebut penuh dengan pohon buah-buahan dan terdapat sebuah danau dengan air yang jernih. Binatang liar dan burung-burung hutan mengenali Agastya sebagai seorang pertapa yang saleh. Meskipun tinggal sendirian akan tetapi Agastya menghormati setiap orang yang kebetulan datang ke tempatnya. Para tamu selalu dijamu dengan buah-buahan dan dia hanya makan dari sisa yang tidak dimakan tamunya. Agastya makan hanya untuk mempertahankan hidupnya.

Kemuliaan tapa Agastya menyebar ke mana-mana, bahkan mencapai telinga Shakra, pemimpin para dewa yang sangat berbahagia mendengar kesalehan Agastya. Shakra kemudian ingin menguji keteguhan Agastya. Shakra yang juga dikenal sebagai Dewa Indra bertugas mengurus bumi termasuk tubuh manusia. Shakra kemudian membuat sebagian besar umbi-umbian dan buah-buahan menghilang di hutan tersebut. Agastya, sang boddhisattva karena terserap ke dalam meditasi , maka dia tidak peka terhadap rasa lapar. Karena segala umbi dan buah-buahan menghilang, maka dia kemudian merebus beberapa lembar daun, dan kebutuhannya sudah memadai. Shakra kemudian merontokkan setiap daun dari semua pohon dan semak. Dan, Agastya hanya memilih daun yang jatuh di tanah  dan kemudian merebusnya sebagai makanannya. Dan sang boddhisattva tetap terserap ke dalam meditasi.

Melayani Tamu dengan Sepenuh Hati

“Pedoman Kedua pembangkitan energi Kundalini. Jangan lupa berdoa sebelum, sambil, dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, Doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. … Tidak cukup berdoa pada hari-hari tertentu, pada jam-jam tertentu. Seluruh hidupmu harus berubah menjadi sebuah Doa.”

“Pengendalian Diri – inilah Pedoman Ketiga. Rasa bahagia yang diperoleh dari penundaan ejakulasi dan orgasme, bisa bertahan hingga berhari-hari, kadang berbulan-bulan. … Karena kenikmatan yang Anda peroleh dari semua itu, tidak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang Anda peroleh dari pengendalian diri.”

“Keceriaanmu membebaskan dirimu dari belenggu-belenggu yang mengikat jiwamu. Jiwa ceria adalah jiwa bebas. … Kemurunganmu membebani jiwamu. Keceriaan meringankan jiwamu. Inilah Pedoman Keempat: Keceriaan, Rayakan Hidupmu! Berada pada lapisan ini, sesungguhnya kau sudah  memasuki wilayah ruh… wilayah kesadaran…” (Krishna, Anand. (2006). SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Agastya selalu berdoa sebelum makan, mensyukuri apa yang telah dikaruniakan, walaupun hanya beberapa daun rebus. Agastya juga selalu berlatih pengendalian diri, selalu mendahulukan tetamu daripada dirinya sendiri. Dan Agastya selalu ceria dalam kondisi apa pun juga.

Keteguhan Agastya menakjubkan Shakra. Dia mewujud sebagai brahmana yang kelaparan dan kehausan. Sang brahmana selalu muncul pada saat doa sebelum makan yang dilakukan oleh Agastya. Sang boddhisattva gembira menyambut tamunya dan dengan kata-kata lembut yang menenangkan pikiran. Dan kemudian menawarkan makanan kepada tamunya. Dia rela memberikan makanan yang diperolehnya dengan susah payah, dengan cara mengumpulkan daun-daun yang belum kering. Dan ia merasa bersukacita dapat menjamu tamunya. Kemudian dia masuk ke dalam pondok dan melanjutkan meditasinya.

Meditasi Dan Melakukan Japa Mantra

“Bahasa Sansekerta itu bukan bahasa lisan tetapi bahasa program. Bahasa yang dibuat untuk berhubungan dengan dewa. Dalam hal ini dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semuanya frekuensi lebih tinggi disebut dewa. Dan masing-masing frekuensi ada namanya. Kadang kita menyebutnya sebagai makhluk surgawi, tetapi ini adalah nama-nama dari frekuensi yang lebih tinggi. Ketika berbicara dengan bahasa Sansekerta, setiap huruf dalam bahasa Sansekerta terhubung dengan ke beberapa bagian dari otak kita. Setiap huruf tertentu merangsang bagian tertentu dari otak kita. Setiap kata yang diucapkan dalam mulut kita dengan totalitas, otak kita dirangsang dan saat otak dirangsang maka seluruh tubuh juga dirangsang. Untuk membaca mantra tidak perlu belajar Sansekerta, cukup membaca mantra dasar seperti Gayatri Mantra.” Sumber: terjemahan bebas dari conversation Anand Krishna and Kali Ma in meditation, Spreaker. Bapak Anand Krishna tidak memiliki kesempatan mendalami mantra dalam bahasa lain. Kembali semuanya terserah kita.

Sang brahmana melakukan hal yang sama dalam beberapa hari, dan Boddhisatva merasa bahagia dapat melayani tamu dan kemudian kembali terserap dalam meditasi. Shakra tahu dengan cara demikian frekuensi kesadaran Agastya bisa meningkat dengan cepat bahkan bisa mengalahkan para dewa, mereka yang memiliki frekuensi tinggi.

Shakra kemudian mewujud dalam bentuk makhluk surgawi  dan bertanya, “Apa yang Anda harapkan dengan melakukan hal ini! Mengapa meninggalkan kebahagiaan berumah tangga, menjauhkan diri dari harta dan keluarga?

Agastya menjawab, “Kelahiran yang berulang kali menyebabkan kesengsaraan yang berulang kali. Takut usia tua adalah wabah yang mengerikan bagi manusia. Kepastian kematian mencemaskan manusia. Saya melakukan hal ini agar pada suatu kali dapat menjadi tempat perlindungan bagi semua makhluk!”

Shakra berbahagia mendengar jawaban Agastya dan berkata, “Untuk pernyataan Anda saya akan memberikan anugrah apa pun yang anda minta!”

Boddhisattva berkata, “Saya betul-betul tidak meminta, karena meminta berarti tidak puas dengan keadaan yang ada. Akan tetapi jika Tuan ingin memberikan apa yang menyenangkan saya, maka saya minta agar api ketidakpuasan yang telah membakar seluruh orang di dunia, walaupun mereka telah memperoleh pasangan, anak-anak dan kekuasaan serta kekayaan, agar api ketidakpuasan tersebut tidak pernah masuk ke pada diri saya.”

Shakra kemudina mendesak Agastya untuk menerima anugrah berikutnya. Agastya berkata, “Semoga kebencian  yang seperti tentara menaklukkan musuh, menghancurkan kekayaan, kedudukan dan reputasi selalu jauh dari saya.”

Shakra semakin gembira dan mendesak Agastya menerima satu anugerah lagi darinya. Agastya berkata, “Semoga saya tidak pernah mendengar orang yang bodoh, melihat orang yang bodoh, berbicara dengan orang yang bodoh atau menanggung rasa sakit berada dalam teman-teman yang bodoh.”

Shakra bertanya, “Siapa pun yang berada dalam kesulita pasti layak memperoleh bantuan dari dia yang berbudi luhur. Kebodohan adalah akar segala penderitaan. Bagaimana Anda yang penuh kasih tidak suka melihat orang yang bodoh. Yang membutuhkan kasih sayang?” Agastya menjawab, “Karena tidak ada bantuan bagi orang yang bodoh. Jika orang bodoh bisa dibantu, apakah saya akan menahan sesuatu yang baik untuknya? Si bodoh tidak bisa  menerima keuntungan apa pun dari saya. Dia yang bodoh menyalakan api kesombongan. Berpikir bahwa dia bijaksana. Berperilaku seolah-olah dia itu benar. Dan mendesak orang lain untuk bertindak seperti dia. Dia yang bodoh tidak terbiasa berperilaku lurus, bermoral yang rendah. Ia bahkan marah saat diperingatkan untuk kepentingan dia sendiri. Aku berharap tidak pernah ketemu orang bodoh. Dia adalah obyek bantuan yang tidak layak bagi saya.”

Semakin banyak jawaban dari Agastya yang mencerahkan jiwa semakin pula Shakra menawarkan tambahan anugrah terhadapnya.

Akhirnya saaat Shakra menawarkan anugrah, Agastya minta agar Shakra tidak lagi mengunjungi dia dalam segala kemegahannya. Shakra bingung dan bertanya, setiap ritual, setiap tapa, setiap agnihotra, orang selalu mencari Shakra, mengapa Agastya menolaknya? Agastya menjawab, “Kedatangan Tuan dalam wujud makhluk surgawi dengan segala kecemerlangannya bisa membuat saya melupakantugas-tugas spiritual yang harus saya lakukan!”

Shakra membungkuk hormat kepada sang boddhisattva melakukan pradaksina, mengelilingi sang pertapa dan menghilang. Di saat fajar Agastya menerima jamuan makanan ilahi dari Shakra yang kemudian mengundang ratusan Pratyekabuddha dan ribuan Dewa pesta bersama.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Dia yang Membuat Semua Pria Tergila-gila, Sebuah Kisah Boddhisattva

Posted in Relief Candi with tags , , on November 20, 2013 by triwidodo

jelita 5 sumber nhstella blogspot com

Ilustrasi Lukisan Gadis India Jelita sumber: nhstella blogspot com

Daya Tarik Si Jelita

“Jangan lama-lama berpandangan dengan lawan jenis. Setiap orang memiliki daya magnet, ada yang kekuatannya melebihi kekuatan Anda, ada yang kurang. Tetapi, tanpa kecuali, setiap orang memilikinya. Selain itu ada juga ketertarikan alami antara lawan jenis. Dengan saling memandang untuk beberapa lama saja sudah terjadi interaksi energy, walau tidak sekata pun terucap. Sebab itu ada juga ashram yang mengharuskan setiap sanyasi untuk memandang ke bawah ketika berhadapan dengan lawan jenis, walau sama-sama sanyasi. Swami Kriyananda berkesimpulan bahwa cara ini tidak efektif. Saya setuju.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita telah membaca Kisah Raja Sibi yang menghibahkan kedua matanya, silakan baca  http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/28/kisah-bodhisattva-menghibahkan-kedua-mata-menjadi-buta-sampai-akhir-hayatnya-605422.html

Dan jauh sebelum peristiwa tersebut, semasa masih lajang, sang raja bertemu dengan wanita yang dikenal dengan sebutan “dia yang membuat semua pria tergila-gila”. Daya tariknya melebihi kemampuan bertahan setiap pria terhadap godaan dunia. Magnetnya begitu kuat dan pria yang memandangnya lupa status dirinya.

Tawaran untuk Meminang Si Jelita

“Janganlah menganggap remeh, Ketika Anda melihat sebuah gadget baru, kemudian timbul ketertarikan, padahal Anda tidak membutuhkannya. Ketertarikan seperti itu sering diremehkan, karena dianggap harmless, tidak menyusahkan atau menyakiti orang lain, ‘kan cuma gadget, bukan seks.’ Hari ini gadget, besok musik, lusa teater, kemudian seks lagi. Berhati-hatilah wahai Sadhu! ‘Internalize it!’ Ketika melihat sesuatu yang indah, seseorang yang tampan, cantik, atau apa saja yang menimbulkan ketertarikan, pindahkan fokus Anda dari luar ke dalam diri.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Salah seorang warga kota memiliki seorang putri dengan kecantikan yang luar biasa. Begitu kuat daya tariknya, sehingga setiap orang yang berpapasan selalu berpaling kepadanya. Tidak mungkin tidak. Masyarakat menjulukinya Unmadayanti yang bermakna ‘dia yang membuat semua pria tergila-gila’. Sang ayah kemudian menghadap sang raja dan bertanya apakah sang raja bersedia menerima putrinya sebagai istri raja?

Sang raja segera memerintahkan sekelompok brahmana untuk mengunjungi sang gadis dan melihat apakah sang gadis mempunyai tanda keberuntungan sehingga bisa dipilih sebagai istri sang raja. Ayah Unmadayanti kemudian mengajak para brahmana datang ke rumahnya. Para brahmana dijamu makanan oleh si jelita. Beberapa brahmana sudah terbiasa diundang ke rumah yang sangat indah, dan kadang melihat lukisan wanita yang sangat elok dan mereka tidak menyadari bahwa ketertarikan itu bersumber di dalam diri. Di dalam diri beberapa brahmana tersebut masih ada potensi ketertarikan terhadap keindahan di luar diri. Memperhatikan Unmadayanti, tak membutuhkan waktu lama, para brahmana kehilangan kontrol atas diri mereka, seluruh mata dan pikiran para brahmana terfokus pada diri si jelita.

Setelah selesai acara makan malam para brahmana berdiskusi bahwa pesona sang jelita seperti sihir yang sangat kuat. Sang raja sebaiknya tidak mengawininya, karena akan membuatnya tergila-gila dan lupa melakukan tugasnya sebagai seorang raja. Pada akhirnya nanti rakyatnya yang akan menderita. Para brahmana kemudian melapor kepada sang raja bahwa si jelita memang sangat cantik, akan tetapi tidak memiliki tanda keberuntungan. Sang raja tidak perlu melihat si jelita, apalagi mengawininya. Sang raja percaya pada para brahmana dan kehilangan selera untuk melihat Unmadayanti.

Sang Raja Bertemu Mata dengan Si Jelita

“Ketika berpapasan dengan lawan jenis di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, ‘Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!’ Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi. Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, Subhanallah! Maha Suci Allah.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Segera setelah itu ayah Unmadayanti menikahkan putrinya dengan Abhiparaga, seorang pejabat dari kantor pengadilan kerajaan. Beberapa waktu kemudian sang raja naik kereta sepulang menghadiri upacara keagamaan. Sewaktu mendekati rumah Abhiparaga, Unmadayanti yang ditolak oleh sang raja berdiri di atas atap rumah yang dikelilingi dengan pagar putih dan bertanya-tanya di dalam hati, apakah sang raja tetap berteguh hati kala melihat dirinya. Sang raja punya rasa malu untuk melihat wanita, apalagi bila dia istri dari orang lain. Sang raja biasa berlatih menundukkan panca indera. Akan tetapi sang raja akhirnya memperhatikan Unmadayanti. Memperhatikan sangat lama. Sang raja berpikir, apakah dia seorang bidadari? Sang raja kembali ke istana seperti linglung, keteguhan pikirannya mulai rusak. Setelah beberapa hari sang raja bertanya kepada kusir kereta, rumah siapakah yang dikelilingi oleh pagar putih? Dan siapakah wanita cantik yang tinggal di rumah tersebut? Sang kusir menjawab bahwa rumah itu adalah milik Abhiparaga dan wanita itu adalah istrinya yang disebut Unmadayanti, ‘dia yang membuat semua pria tergila-gila.

Sang raja nampak menghela napas setelah mendengar bahwa dia adalah istri orang lain. Sang raja berupaya menghilangkan si jelita dari pikirannya, akan tetapi nampaknya tidak bisa. Setiap saat yang terpikir hanyalah si jelita.

Tawaran Abhiparaga, Suami Unmadayanti

“Pikiran tentang seks bisa muncul kapan saja, di mana saja, setiap saat. Ada interaksi dengan lawan jenis atau tidak, tak jadi soal. Saat Anda sedang sendirian pun, tetap bisa terganggu oleh seks. Janganlah sekali-kali melayani pikiran seperti itu. Sekarang masih berupa pikiran, sesaat lagi berubah menjadi fantasi. Saat itu gangguan yang Anda hadapi jauh lebih berat lagi. Sebab itu, seperti yang selalu dikatakan oleh Paramhansa Yogananda, setiap kali Anda mendeteksi seks dalam pikiran Anda, cepat alihkan pikiran Anda pada sesuatu yang lain. Dalam hal ini eksperimen yang dilakukan oleh leluhur kita adalah sangat tepat. Yaitu dengan menciptakan candi-candi yang indah penuh dengan patung para dewa dan dewi yang tidak hanya cantik, tetapi juga mewakili nilai-nilai spiritual yang sangat tinggi. Misalnya, ketika kita melihat patung Dewi Sri yang cantik, kita juga terinspirasi oleh keberlimpahannya, dengan kesiap-sediaannya untuk berbagi. Lingga dan Yoni mewakili kebersamaan, kesetaraan, nilai kekuatan sekaligus kelembutan. Durga Mahishasumardini mengingatkan kita betapa pentingnya ketegasan ketika menghadapi ketidakadilan, kekejaman, dan kezaliman.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Abhiparaga segera melihat perubahan yang dialami sang raja dan akhirnya menemukan penyebabnya. Apabila sang raja tidak disembuhkan maka hal-hal buruk akan menimpa kerajaan. Karena mencintai sang raja, Abhiparaga memberanikan diri menghadap sang raja secara pribadi. Abhiparaga berkata, “Paduka apakah kami boleh membawa Unmadayanti kepada Paduka?”

Sang raja bingung karena malu berkata, “Tidak, itu tidak bisa! Pertama, kebaikan saya akan musnah. Kedua tindakan jahat saya akan diketahui semua orang. Ketiga, apakah kau tidak akan sedih dan menyesal seumur hidup?”

Abhiparaga meyakinkan sang raja, “Paduka jangan takut! Paduka tidak melanggar dharma. Bukankah dharma memperbolehkan kita untuk menerima pemberian? Dengan menolak pemberian hamba berarti paduka menghalangi kebaikan hati hamba. Hal ini tidak akan merusak reputasi paduka, ini murni pengaturan kita berdua. Tidak ada yang tahu kami membawa Unmadayanti kepada paduka. Kepuasan terbesar saya adalah melayani raja, kesedihan karena kehilangan istri masih kalah jauh dibanding kebahagiaan menyenangkan paduka.”

Sang raja berkata, “Stop Abhiparaga, itu penalaran yang jahat, yang membuat keterikatan saya pada hal yang tidak benar. Setiap hadiah tidak perlu diterima. Orang yang memberikan hal yang berharga kepada saya adalah sahabat sejati saya. Demikian pula istrinya. Saya harus menghormati istri sahabat saya. Jika Anda berupaya agar saya bercinta dengan istri Anda secara rahasia dan menganggap saya menemukan kebahagiaan, itu adalah seperti minum racun yang tidak terlihat tapi berharap hidup sehat. Siapa yang percaya bahwa Anda tidak mencintai istri Anda dan tidak putus asa setelah Anda memberikan tubuhnya kepada saya.”

Abhiparaga terus berupaya, “Paduka adalah Master hamba, bersama istri dan anak-anak, hamba adalah budak paduka. Sesama budak bisa saling berhubungan, akan tetapi hubungan utama adalah dengan majikan. Sebagai budak dia juga akan memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk diterima. Bila paduka tetap menolak, hamba akan minta istri saya untuk menjadi pelacur. Yang tersedia bagi siapa saja yang haus dan paduka bisa menikmatinya. Apa pun demi kebahagiaan paduka!”

Sang raja berkata, “Anda gila, meninggalkan istri adalah kesalahan dan akan memulai rantai kehidupan penuh duka bagi banyak orang. Adalah kasih sayang Anda untuk membahagiakan saya tanpa memperhatikan benar atau salah. Tapi cinta kasih mendorong saya untuk mencegah semua keinginan Anda. Saya bertanggung jawab atas tindakan saya sendiri. Saya berharap tidak menyusahkan orang lain. Wahai Abhiparaga saya sudah merenungkan bagaimana kecantikan istri Anda 60 tahun yang akan datang! Tujuan hidup itu apa? Kalau tujuan hidup itu adalah memperoleh kebahagiaan, mungkinkah memperoleh kebahagiaan abadi dari hal yang tidak abadi?”

Abhiparaga menangis dan bersujud di depan sang raja, “Semoga Bunda Alam Semesta selalu memberkati paduka.”

Mengatasi Ketertarikan terhadap Keindahan

Seks itu tampaknya menjanjikan, akan tetapi kita sudah melihat bukti nyata di semua media bahwa para pejabat yang mempunyai istri kedua karena ketertarikan seks banyak menimbulkan permasalahan. Hoki/keberuntungan seorang pria juga dipengaruhi oleh kombinasi keselarasan hoki/keberuntungan sang istri, intervensi dari orang ketiga akan mengacaukan hoki/keberuntungan yang sudah selaras. Kita bisa belajar dari hidup nyata apa yang terjadi di sekeliling kita. Bagaimana cara melampaui ketertarikan alami terhadap “si jelita”?

“Ketertarikan, rasa senang, bahagia, semuanya berasal dari dalam diri Anda sendiri. Sesuatu yang indah telah membuat Anda senang, baik. Sekarang persembahkanlah rasa senang itu kepada Tuhan. Dan energi Anda akan langsung mengalir ke atas. Bagaimana caranya? Bagaimana mempersembahkan rasa senang itu kepada Tuhan? Salah satu cara adalah dengan menyanyikan pujian, dari tradisi mana pun juga. Adalah sangat baik jika setiap ashram menjadwalkan setengah atau satu jam setiap hari untuk menyanyi bersama, menyanyikan lagu-lagu pujian yang biasa disebut bhajan atau kirtan. Dengan cara itu setiap penggiat ashram bisa menginternalisasikan pengalamannya.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Kisah Bodhisattva: Kekuatan Dahsyat Rasa Bersahabat

Posted in Relief Candi with tags , , on November 14, 2013 by triwidodo

borobudur maitribala jpg sumber www himalayanart org

Ilustrasi Raja Maitribala dan 5 Yaksha sumber www himalayanart org

Rasa Bersahabat

“Dalam bahasa Sanskerta, Maitri berarti ‘persahabatan’. Bahkan mungkin lebih dari sekadar persahabatan, tetapi sense of frienship. Dan bila ‘persahabatan’ menjadi sifat seseorang, orang itu disebut Maitreya. Seorang Bhakta adalah seorang Maitreya. Dia bersahabat dengan setiap orang dengan setiap makhluk. Dengan pepohonan dan bebatuan. Dengan sungai dan angin. Dengan  bumi dan langit. Dengan dunia dan akhirat. Itu sebabnya dia tidak pernah mencemari lingkungan, tidak akan merampas hak orang. Tidak percaya pada aksi teror, intimidasi, dan anarki. Seorang Maitreya siap berkorban demi keselamatan orang lain, karena baginya yang lain itu tidak ada. Dia melihat Tuhan di mana-mana.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan Bodhisattva lahir sebagai Maitribala, yang mempunyai kekuatan berdasar rasa persahabatan. Sang raja merasakan penderitaan semua rakyatnya dan memahami keinginan rakyatnya. Negara lain juga menghormatinya karena sang raja bersikap sebagai sahabat. Para pelaku kejahatan ditahan agar tidak mengganggu masyarakat dan dibina agar mempunyai karakter yang baik dan bisa kembali bermasyarakat.

Lima Yaksha Bertemu Penggembala

“Karma berarti ‘karya, tindakan’, dan setiap tindakan akan membawa hasil. Setiap aksi ada reaksinya. Itulah Hukum Karma. Hukum Karma ini yang menentukan pola hidup kita. Kita menanam biji buah asem, jangan harapkan pohon apel. Apa yang Anda tanam, itu pula yang Anda peroleh sebagai hasil akhirnya. Oleh karena itu, bertindaklah dengan bijak.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu ketika, lima yaksha jahat, makhluk yang suka mengganggu manusia, diusir oleh Dewa Kubera dan masuk ke kerajaan yang dipimpin oleh Raja Maitribala. Mereka bertekad mengganggu masyarakat, akan tetapi mereka heran karena kekuatan mereka pudar di negeri tersebut. Dengan menyamar sebagai brahmana, mereka menanyakan kepada seorang penggembala mengapa dia sendirian berani menggembala hewan. Apakah dia tidak takut terhadap raksasa dan yaksha yang suka makan daging manusia? Sang penggembala dengan bangga menyampaikan bahwa negeri tersebut dilindungi oleh kekuatan pelindung yang memancar dari raja yang saleh yang bersahabat dengan semua makhluk.

Sang penggembala berkata bahwa dia hanya mendengar kisah yaksha atau raksasa yang membunuh dan makan manusia, karena dia belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri. Sang pengembala balik bertanya kepada para brahmana, apakah para yaksha dan raksasa belum tahu hukum karma bahwa yang membunuh akan dibunuh? Sang penggembala berkata bahwa dia makan daging dalam kondisi tak ada pilihan makanan lainnya, karena apa yang dimakan akan menjadi tubuh, darah dan otak? Kalau hewan atau manusia yang dibunuh yaksha merasakan cemas sebelum mati dibunuh, maka kecemasan itu juga akan masuk ke dalam diri bersama daging yang dimakannya.

Penasaran dengan Pemahaman Sang Penggembala,

Para brahmana tersebut mendebat, bukankah banyak orang makan daging? Apakah orang tersebut akan dibunuh berkali-kali oleh hewan-hewan yang dimakannya? Kalau orang tersebut tidak dibunuh berkali-kali bukankah alam ini tidak adil? Sang penggembala menjawab, karena orang tersebut makan daging atau membunuh secara tidak langsung, maka orang itu pun akan dibunuh secara tidak langsung melalui penyakit.

“Sia-sialah harapanmu, bila kau mendambakan keadilan bagi setiap kasus dalam hidup. Kau harus melihat hidup secara utuh, sebagai satu kesatuan dan kalau begitu sungguh adil hidup ini. Karena kita telah membunuh 6000 ekor ayam semasa hidup kita, ditambah lagi dengan sekian kerbau, sapi, kambing, udang, kepiting, dan ikan, tidak berarti setiap hewan akan menyerang kita kembali, dan kita harus mati sekian kali. Tidak demikian. Yang menjadi persoalan adalah ‘pembunuhan’ itu sendiri. Hewan-hewan yang kita sembelih itu tak akan membunuh kita satu persatu. Mereka menyerang kita lewat sekian banyak virus, kuman yang kemudian menyebabkan kematian kita. Alam sungguh adil. Kita membunuh, kita terbunuh. Kematian yang kita anggap alami sesungguhnya tidak alami. Kita mendapatkan hukuman atas serangkaian pembunuhan yang kita lakukan semasa hidup. Ini baru ‘satu’ contoh. Masih banyak contoh-contoh lain.” (Krishna, Anand. (2003). Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)

Para brahmana bertanya apakah pengetahuan yang disampaikan sang penggembala tersebut juga berasal dari sang raja? Dan sang penggembala mengiyakan, sang penggembala mengatakan bahwa sang raja sering berbicara di depan umum dan dia ikut mendengarkan.

Lima Yaksha Menuju Istana Raja

“Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih ‘yang memuliakan’. Mereka yang tidak bijak memilih ‘yang menyenangkan’ karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kelima yaksha jahat tersebut semakin penasaran dan segera berangkat ke istana untuk membuat masalah. Mereka memilih membuat masalah demi kesenangan diri mereka sendiri, dan ingin menjatuhkan kewibawaan sang raja. Mereka semua menyamar sebagai brahmana lagi dan datang ke istana mendekati sang raja yang tengah menemui pemuka masyarakat. Mereka bilang pada sang raja bahwa mereka sangat lapar dan haus serta mohon disediakan makanan dan minuman. Sang raja segera menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi kelima brahmana tersebut.

Ketika hidangan telah disajikan, para yaksha tersebut berseru bahwa mereka tidak bisa makan hidangan yang disajikan. Ketika sang raja menanyakan hidangan apa yang mereka inginkan. Para yaksha tersebut segera mengubah kembali ke wujud aslinya dan berkata bahwa mereka perlu makan daging mentah manusia dan darah segar. Mereka berkata bahwa mereka telah memegang kata-kata sang raja yang akan melayani makanan dan minuman mereka.

Sang raja berpikir keras, dia mempunyai rasa bersahabat dengan semua makhluk. Dia tidak dapat menolak permintaan para tamu yang kelaparan, tidak elok menarik kata-kata yang telah diucapkan kepada para sahabat. Akan tetapi dia juga tidak dapat mengorbankan rakyatnya menjadi santapan para yaksha, dia tidak mungkin pula mengorbankan para sahabatnya sebagai makanan para yaksha.

Sang raja sampai pada kesimpulan untuk memberikan darah dan daging dari tubuhnya sediri. Para tabib dipanggil dan para tabib mohon kepada sang raja untuk tidak mengabulkan permohonan para yaksha karena akan membahayakan nyawa sang raja sendiri. Bumi mulai bergetar karena kesedihan menyaksikan raja yang rela mengorbankan dirinya.

Memberikan Darah dan Dagingnya Sendiri kepada Para Yaksha

“Dharma selalu mempersatukan. Sesuatu yang menjadi alasan bagi perpecahan, sesuatu yang memisahkan manusia dari sesama manusia – bukanlah Dharma. Dharma, sekali lagi, bukanlah sesuatu yang ‘baik’ dalam pengertian sederhana kita. Dharma tidak selalu ‘menyenangkan’ sebagaimana kita mengartikan kata ‘kesenangan’. Ia adalah ketepatan. Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, ‘Ada yang menyenangkan atau Preya, dan ada yang memuliakan atau ‘Shreya’. Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit – akhirnya manis. Dharma adalah sesuatu yang memuliakan.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Sang raja berkata kepada para tabibnya, “Mereka telah datang kepadaku dalam keadaan lapar dan haus, dan sebagai sahabat aku telah berjanji mempersiapkan makanan dan minuman bagi mereka. Ternyata mereka minta minum darah segar dan makanan daging segar manusia. Tidak mungkin aku mengorbankan warga masyarakat karena mereka semua adalah sahabatku juga. Darah dan daging pada tubuhku pun adalah sahabatku juga. Akan tetapi aku dapat mengambil sebagian daging dari pahaku yang cukup besar, demikian pula sebagian darahku akan kusajikan kepada mereka. Jika aku mengingkari janji karena cinta pada diriku sendiri, maka aku tidak akan punya kekuatan lagi untuk melindungi rakyatku. Aku tidak bisa membiarkan tamuku sebagai sahabatku meninggal karena kelaparan dan kehausan di rumahku. Pengemis dan orang yang memohon bantuan dapat ditemukan setiap hari, akan tetapi yang seperti mereka tidak dapat ditemukan setiap hari. Aku perintahkan untuk memotong beberapa urat darahku untuk disajikan sebagai minuman para tamuku!”

Para yaksha kaget mendengar titah sang raja kepada tabib istana. Tiba-tiba rasa haus dan lapar mereka lenyap. Nafsu makan daging dan minum darah manusia yang telah menjadi kebiasaan mereka, luntur. Rasa terdalam yang ada di dalam diri mereka muncul, rasa kemanusiaan dalam diri mereka berkembang begitu cepat mendengar titah sang raja.

Dan mereka berkata, “Sudah cukup raja, kami mohon maaf atas tingkah laku kami!”

Tabib istana telah memotong beberapa urat darah dan mulai mengerat paha sang raja. Dan para yaksha sudah tidak tahan lagi dan berkata, “Kami berlima sangat menyesal, mohon Paduka Raja berkenan menghentikan tindakan ini, kami semua berjanji untuk melaksanakan dharma dan tidak akan makan daging manusia lagi!”

Sakra, Sang penguasa dewa memperhatikan kesedihan bumi dan seluruh alam semesta yang menangis melihat luka sang raja. Sakra kemudian mengumpulkan rempah-rempah dari langit dan mengusapkannya pada luka sang raja. Dalam waktu singkat luka sang raja sembuh dan kembali sehat.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Kisah Boddhisattva, Lepaskan Otak Gunakan Hati, Berdermalah Tanpa Pamrih!

Posted in Relief Candi with tags , , on November 8, 2013 by triwidodo

borobudur kelinci sumber thedaoofdragonball com

Ilustrasi Kelinci meloncat ke dalam api sumber: thedaoofdragonball com

Melepaskan Otak Masuk ke Alam Rasa

“Demikian, wahai Sariputra, seorang Boddhisatva yang telah melampaui segala macam pengalaman dan tidak berkeinginan untuk mencapai sesuatu apa pun lagi, ‘hidup’ tanpa gangguan (yang disebabkan oleh pikiran). Dan karena ‘hidup’ tanpa gangguan, ia tidak akan pernah takut; ia telah melampaui segala macam pengalaman yang bisa menakutkan, sehingga akhirnya ia mencapai Nirvana, Kasunyatan Sejati. Dengan cara itulah, para Buddha dari tiga jaman telah mencapainya. Lewat ayat ini, Siddhartha Gautama memberikan ciri-ciri seorang Buddha. Ia harus memberikannya, sehingga anda tidak keliru mengenali seorang Buddha. Perlu diingat juga bahwa sutra ini diberikan kepada Sariputra. Buddha juga ingin menyampaikan kepada Sariputra, ‘Temanku, sahabatku, demikianlah ciri-ciri seorang Buddha. Lakukan introspeksi diri, apakah kamu telah mencapainya?’ Untuk bertemu dengan seorang Buddha, anda memang harus membayar mahal. Anda harus membayar dengan otak anda, dengan pikiran anda. Bersama sandal, bersama alas kaki, anda juga harus melepaskan otak, melepaskan mind, sebelum memasuki ruangannya.” (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Membaca kisah Boddhisattva, kita harus melepaskan otak dan mencoba menggunakan rasa. Bagi otak kita, kisah tersebut tidak masuk akal. Pikiran diibaratkan pikiran rumah yang mempunyai dinding-dinding pembatas, sedangkan alam rasa adalah halaman rumah. Halaman rumah adalah bagian dari alam bebas. Dalam buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan: “Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa. Dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Cinta adalah alam rasa. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih!”

 

Kisah Kelinci, Berang-Berang, Serigala dan Monyet

Dikisahkan Bodhisattva lahir sebagai kelinci. Dia memuaskan kebutuhan hidupnya dengan makan rumput, mengenakan bulu sendiri sebagai pakaiannya dan jauh dari perbuatan jahat. Ada 3 hewan yang menjadi murid sekaligus sahabatnya yaitu  berang-berang, serigala dan monyet. Mereka saling mengasihi dan hidup dalam sukacita. Keserakahan tidak lagi menggoda mereka, mereka hidup dalam dharma.

Pada suatu malam sebelum bulan purnama, Sang kelinci memberikan wacana bahwa besok malam adalah bulan purnama, mereka jangan hanya berpikir tentang kebutuhan pribadi. Apabila ada tamu, mereka perlu menghormati tamu dengan menyiapkan makanan yang baik. Mereka perlu melakukan good karma, tindakan bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri. Ketiga sahabat Kelinci mendengarkan dengan seksama, memberi hormat dan kemudian mohon ijin pulang ke kediamannya.

Sampai kini hari pada saat bulan purnama dianggap sebagai hari yang baik untuk melakukan kebaikan.

“Sesungguhnya, kita semua terhubung. Albert Eistein telah mengemukakan tentang adanya unified field of energy. Ada sebuah medan energi yang menyatukan kita semua. Kita semua satu. Hanya saja, kita perlu meningkatkan kesadaran untuk bisa mengakses energi yang lebih tinggi itu. Soalnya, adalah bagaimana cara mengaksesnya? Dalam banyak tradisi kuno, festival-festival keagamaan selalu dikaitkan dengan bulan purnama. Pada saat bulan purnama, bukan hanya air laut, tapi air di dalam tubuh kita akan mengalami pasang naik. Pada saat itu pula, energi kita akan ikut meningkat. Oleh sebab itu, mereka yang memahami mekanisme ini akan memanfaatkan momentum ini dengan mengajak umat beragama untuk melakukan zikir atau sembahyang. Dengan cara itu, kesadaran kita dapat ikut meningkat.” (Krishna, Anand dkk. (2006). Mengungkap Misteri Air. One Earth Media)

Pengetahuan tentang unsur alami air ini berkaitan erat dengan sifat alam. Pasang surut air laut dipengaruhi oleh tarikan bulan dan matahari, pada waktu air pasang, maka 70% air di tubuh manusia juga mengalami pasang. Pada waktu terjadi gerhana dimana matahari, bulan dan bumi pada pada posisi garis lurus, maka pasang terbesar akan terjadi. Tubuh kita akan merasakannya.

 

Tekad sang Kelinci

Matrudevo bhava, pitrudevo bhava, acharyadevo bhava, atithidevo bhava. Ibu adalah Tuhan, Ayah adalah Tuhan, Guru adalah Tuhan, Tamu adalah Tuhan – Taittiriya Upanishad.” Kita perlu menghormati ibu, ayah, guru, tamu sebagai Tuhan yang mewujud untuk menemui kita.

Setelah ketiga sahabatnya pulang, Kelinci merenung lama. Tiga sahabatnya mempunyai banyak cara untuk mempersiapkan makanan bagi tamu, akan tetapi dia hanya mempunyai sedikit rumput untuk mempertahankan kehidupannya dan tidak mungkin dia menawarkan rumput kepada seorang tamu. Apa gunanya hidup bila tidak bisa memberikan kepuasan pelayanan terhadap tamu? Kelinci merenung lagi, “Apakah tubuhku ini tidak berguna bagi siapa pun?” Tubuh seperti halnya pikiran juga perlu dilatih mempersembahkan diri kepada sesama. Kemudian datang tekad dalam dirinya, “Aku bisa menggunakan tubuhku untuk melayani orang lain. Ini tubuhku dan aku tidak merugikan tubuh orang lain.” Kelinci bersukacita  dan pemikiran luhur tersebut membuat bumi berguncang, samudera bergelombang karena sukacita. Bumi, samudera dan alam semesta telah lama mempersembahkan tubuhnya bagi kemanusiaan.

Melihat ini, Sakra, dewa penguasa ingin menguji kesalehan Kelinci dan para sahabatnya. Dia menyamar sebagai seorang pengembara yang lelah dan tersesat serta putus asa di sekitar tempat mereka.

 

Mengorbankan Nyawa

“Ia yang telah melihat ‘momok’ kematian, tidak akan takut menghadapi para maling biasa. Para prajurit yang pernah terlibat dalam perang nyata, tidak akan takut oleh lemparan batu dari anak-anak kecil. Kematian adalah ‘Maling Kelas Wahid’-The Thief! Tidak ada maling sehebat dia. Ia ‘mencuri’ nyawa anda – sesuatu yang tidak bisa dicuri oleh siapa pun juga, selain dia. Hanya seorang ‘pemberani’, seorang ‘pahlawan’ yang tidak takut menghadapi kematian. Banyak diantara kita hanya ‘mengaku’ tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi ‘rasa takut’ yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita – bahkan ‘kekitaan’ itu sendiri. Dan kalau Anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena ‘ego’. Seolah-olah kalau Anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa.” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang brahmana yang tersesat berkata, “Saya kehilangan teman, sendirian lapar, haus dan lelah.Siapa yang bisa membantu saya?”

Keempat binatang bersahabat segera menghampirinya. Berang-berang berkata, “Aku menemukan tujuh ekor ikan yang mungkin ditinggalkan oleh nelayan, silakan memanfaatkannya!” Serigala  berkata, “Aku menemukan kadal dan susu asam yang mungkin ditinggalkan orang tak dikenal, silakan menikmatinya!” Monyet datang dan berkata, “aku mempunyai mangga yang matang, silakan menikmatinya!” Kelinci mendekat dan berkata, “aku tidak punya kacang, atau butir nasi yang akan kutawarkan. Akan hanya punya tubuh dan aku serahkan kepada Tuan!”

Sang brahmana berkata, “Terima kasih teman-teman semua yang telah memberikan makanan kepadaku. Akan tetapi aku tidak bisa menerima kebaikan Kelinci. Bagaimana aku bisa membunuh makhluk hidup?” sambil berkata demikian sang brahmana mengumpulkan ranting-ranting dan mulai membuat api. Kelinci berkata, “Aku mempunyai tekad untuk memberi, dan Tuan adalah tamu yang layak. Kesempatan ini tidak mudah diperoleh. Ini adalah caraku menunjukkan niat baikku, silakan menikmati dagingku!” dan Kelinci melemparkan dirinya ke dalam api yang berkobar.

Sakra kembali pada wujudnya sendiri dan mengangkat Kelinci ke langit. “Para dewa, lihatlah dan bersukacitalah atas perbuatan heroik hewan ini. Tanpa ragu-ragu dia mempersembahkan tubuhnya kepada tamunya. Dalam tubuh hewaninya dia mempunyai kebesaran sejati yang patut diteladani manusia dan dewa!”

Kemudian Sakra menghiasi istananya dengan gambar Kelinci untuk memuliakan kejadian tersebut. Dan ia juga menghiasi bulan dengan gambar yang sama.

 

Mengapa Selalu Mengutip Pendapat Para Master dalam Menyampaikan Sebuah Kisah?

Kata-kata kita hanyalah kata-kata belaka. Kisah yang kita sampaikan hanyalah sekedar pengutipan belaka, karena kita hanya menyampaikan pengalaman orang lain. Seorang Master telah mengalami semuanya, sehingga pandangannya sangat berharga, karena apa yang Master ucapkan, Beliau telah mengalaminya.

“Kata-kata bukanlah ajaran. Untuk menjadi ajaran, kata-kata haruslah diterangi oleh pencerahan si penyampainya, Pencerahan seorang Master, seorang Mursyid bagaikan nyawa. Kata-kata plus nyawa sama dengan ajaran. Bila Anda berwawasan luas, tidak fanatik terhadap suatu ajaran, dan masih bisa berpikir dengan kepala dingin, anda akan melihat persamaan dalam setiap ajaran. Setiap Master, setiap Guru, setiap Murysid sedang menyampaikan hal yang sama. Cara penyampaian mereka bisa berbeda. Tekanan mereka pada hal-hal tertentu bisa berbeda. Tetapi inti ajaran mereka sama. Dan memang harus sama, karena berasal dari sumber yang sama. And yet, setiap kali, ada saja yang mengulanginya. Kenapa? Yang kita anggap pengulangan sesungguhnya adalah proses pemberian nyawa. Para Master, para Guru, para Mursyid memberi nyawa kepada ajaran-ajaran lama.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Kisah Boddhisatva: Menundukkan Dewa Indra, Penguasa Bumi

Posted in Relief Candi with tags , on November 2, 2013 by triwidodo

borobudur Bodhisattva memberikan wacana sumber ignca nic in

Ilustrasi Bodhisattva memberikan wacana, monyet dan gajah ikut mendengarkan sumber ignca nic in

Kebersamaan Melipatgandakan Energi

“Angsa Terbang dengan Formasi Huruf ‘V’. Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan ‘daya dukung’ bagi burung yang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi ‘V’, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian. Kalau seekor angsa terbang ke luar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya. Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan Bodhisattva lahir pada sebuah keluarga brahmana. Dia memiliki enam adik laki-laki dan satu adik perempuan. Sang Bodhisattva menguasai Veda dan Upaveda, menghormati kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia dan juga mengajarkannya kepada adik-adiknya. Saat kedua orang tuanya meninggal Sang Bodhisattva berkata akan menjalani sanyas, meninggalkan kehidupan duniawi. Seluruh adik-adiknya menyatakan bergabung dengannya, demikian pula pembantu setia mereka, seorang lelaki dan seorang perempuan. Mereka semua menyerahkan semua kepemilikan mereka dan pergi ke hutan. Mereka melilih tinggal di tepi sebuah danau besar yang indah. Mereka tinggal di sana membuat pondok-pondok masing-masing terpisah. Mereka larut dalam meditasi dan hanya bertemu lima hari sekali untuk mendengarkan wacana dari Sang Bodhisattva. Seorang Yaksha, seekor monyet dan seekor gajah di hutan tersebut juga bergabung menjadi pendengar wacana Sang Bodhisattva.

Bergerak ke arah Tujuan yang Sama

“Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling berbagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain……… Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada melakukannya bersama-sama……….. adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama, bergantian. Seperti halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta atau sumber daya lainnya…….. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama saling menguatkan) adalah kualitas suara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan……. Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama (atau bahkan lebih) seperti ketika segalanya baik!” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kedua pembantu mereka melayani mereka, dengan mengumpulkan tangkai teratai dan membaginya menjadi delapan bagian sama besar dan mempersiapkannya berjajar urut bagi Bodhisattva dan ketujuh adik-adiknya. Bila sudah siap mereka memukulkan kedua potong kayu dan dan pergi diam-diam. Bodhisattva mengambil bagiannya, kemudian balik ke pondoknya dan kemudian berturut-turut adik-adiknya mengambil makanan tersebut. Mereka tidak bertemu sehingga tidak bicara. Hanya pada hari kelima mereka bertemu mendengarkan wacana dari Bodhisattva. Demikian dilakukan mereka dan kesadaran mereka meningkat dengan tajam.

Sakra, Dewa Indra penguasa bumi mendengar reputasi Bodhisattva dan ketujuh adiknya dan mencoba keseriusan tapa mereka. Dia kemudian mengambil bagian makanan Sang Boddhisattva. Saat waktunya sang pembantu memukulkan kedua potong kayu, Boddhisattva datang akan mengambil jatahnya dan melihat jatahnya telah tidak ada dan kemudian dia kembali ke pondoknya. Adik-adiknya tidak tahu apa yang terjadi dan melakukan kegiatan rutin seperti biasa. Hal demikian berjalan lima hari dan Bodhisattva selalu melihat jatahnya sudah tidak ada dan kembali ke pondoknya.

Pengaruh Sang Boddisattva

“Manusia sadar bagaikan bibit yogurt. Satu sendok teh sudah cukup untuk membuat semangkuk yogurt. Satu orang sudah cukup untuk memancing kesadaran sekelompok manusia. Itu sebabnya setiap agama menganjurkan doa bersama. Itu sebabnya ada tempat-tempat ibadah. Satu orang sadar bisa membantu sekian banyak orang di sekitarnya, kendati orang sadar itu sendiri tidak akan menganggapnya ‘bantuan’. Dia tidak merasa membantu siapa-siapa. Dia hanya ‘hadir’, dan ‘kehadiran’-nya, ikut tersadarkan, ikut merasakan “KEHADIRAN” yang dirasakan oleh Sang sadar.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada hari kelima semua adik-adiknya, kedua pembantunya serta Yaksha, Monyet dan Gajah berkumpul ke tempat Boddhisattva untuk mendengarkan wacana. Mereka melihat Sang Bodhisattva sangat kurus dan lemah. Akhirnya semua tahu bahwa sudah lima hari Bodhisattva tidak makan karena jatahnya sudah tidak ada.

Adik pertama berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai memperoleh apa yang dinginkannya!”

Adik kedua berkata, “Semoga pengambil tangkai terarti menjadi bersih dari noda keterikatan duniawi!”

Adik ketiga berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai diberkati putra yang memperhatikan kehidupannya, sehingga bisa menjalankan kebaikan tanpa diributkan keperluan keluarga!”

Adik keempat berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi orang yang  dihormati semua manusia!”

Adik kelima berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi kepala rumah tangga yang bijak!”

Adik keenam berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi penyebar Veda yang berhasil emnjadikan para pendengarnya menjadi orang yang saleh!”

Adik ketujuh berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi saleh seperti Bodhisattva. Andaikata dia perempuan agar menjadi permaisuri raja yang saleh!”

Pelayan laki-laki berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi kepala desa yang saleh yang dihormati seluruh warganya!”

Pelayan perempuan berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai selalu dalam kebahagiaan terpenuhi segala kebutuhannya sehingga menjadi orang yang saleh!”

Yaksha berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai memperoleh berkah memperoleh biara besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitarnya!”

Monyet berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai memperoleh kemuliaan terpenuhi segala kebutuhannya sehingga dapat membantu orang-orang yang sedang kesusahan!”

Gajah Berkata, “Semoga pengambil tangkai teratai menjadi brahmana yang suci!”

Sang Bodhisattva berkata, “Semoga kita semua memperoleh berkah penerangan untuk dapat membedakan antara kenyamanan dan kebahagiaan. Yang bisa membahagiakan kita semua hanya satu yaitu kasih. Kasih tak terbatas  dan tak bersyarat yang menjadi berkah kita semua, adalah kasih yang menjadi penyebab dan juga akibat dari Kebahagiaan Abadi!”

Komunitas Sekitar Master

“Sekitar seorang master, seorang guru, biasanya tumbuh sebuah komunitas. Komunitas ini bukanlah sebuah lembaga, bukan organisasi, tetapi kelompok orang yang tengah ‘terbang bersama’. Persis seperti angsa-angsa tadi. Bila sebuah commune atau komunitas seperti itu berubah menjadi lembaga atau organisasi dengan peraturan-peraturan ketat, ia sudah tidak lagi disebut commune. Sebuah tempat bisa disebut commune, asal tempat itu digunakan untuk latihan terbang bersama, karena bila ingin terbang sendiri-sendiri kita tidak membutuhkan commune. And there is wrong with it. Bila kita yakin betul akan kemampuan diri dan berani terbang sendiri – no problem. Itu sebab, di dalam sebuah commune, kebersamaan, togetherness merupakan kata kunci. Badan kita boleh berada dalam suatu commune. Tanpa kebersamaan, jiwa kita akan tetap berada di luar commune. (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Doa-doa Bodhisattva dan komunitas sekitarnya membuat Sakra merasa bersalah. Sakra kemudian muncul di depan mereka, menghormat Bodhisattva, mengakui kesalahannya, mengembalikan tangkai lotus serta berterima kasih kepada Boddhisattva dan komunitasnya yang kesalehannya mempunyai pengaruhi besar terhadap bumi dan memberikan inspirasi kebaikan bagi semua makhluk.

Mengakhiri Konflik dalam Diri

“Ketika kita berhasil memilah antara yang langgeng abadi, dan yang tidak langgeng, tidak abadi, tercapailah ‘Dehasanyas’. Berarti kita sudah berhasil memahami sifat kebendaan yang senantiasa berubah, tidak permanen. Ketika kau berhasil menguasai kekacauan pikiran, indera, dan ucapanmu, tercapailah ‘Manosanyas’. Mengapa terjadi kekacauan, sala persepsi? Pertama, karena kita lebih senang mendengar suara kita sendiri, tidak suka mendengar suara orang lain. Kedua, kita menerjemahkan, menginterpretasikan ucapan orang lain sesuai dengan kemauan kita, kepentingan kita, bahkan sesuai dengan segala macam kecurigaan dan persepsi-persepsi salah yang ada di dalam otak kita. ‘Atmasanyas’ terjadi ketika pikiranmu, perasaanmu, tindakanmu, semuanya berlandaskan prinsip-prinsip Vedanta. Prinsip-prinsip Vedanta adalah prinsip Non-Duality atau Advaita, bahwa esensi dari segala sesuatu adalah satu dan sama. Tidak ada dua esensi. Tidak ada dua kebenaran. Tidak ada dua zat. Bahwa sesungguhnya, Atma, dan Paramatma, adalah satu dan sama.  Atma adalah ombak, dan Paramatma adalah laut. Ombak tidak pernah terpisahkan dari laut. Kesadaran inilah yang dapat mengakhiri segala macam ‘konflik di dalam diri mereka yang menyadarinya’. Ya, mengakhiri konflik di dalam diri mereka yang menyadarinya. Jika anda tidak menyadarinya, silakan berkonflik hingga akhir usia. Tidak ada yang dapat memaksa Anda untuk menyadari hal ini. Dalam hal ini kita juga mesti sadar bahwa berakhirnya konflik di dalam diri kita tidak menjamin berakhirnya konflik di luar diri. Tidak pula menjamin bahwa mereka yang suka berkonflik, mereka yang belum mencapai kesadaran Vedanta, advaita, nondual, atau apa pun sebutannya, tidak akan mencari gara-gara dan menyerang kita, bahkan membuat alasan untuk berkonflik dengan kita.” Sumber:  (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)