Archive for the Uncategorized Category

Belajar Pada Pesuruh Ilahi atau Melayani Beliau dengan Sepenuh Hati?

Posted in Uncategorized on October 5, 2018 by triwidodo

Kisah Swami Vivekananda dengan Lelaki Tua

Seorang Master bercerita tentang Swami Vivekananda yang sedang berada di suatu kota memberikan Dharma Wacana, Ceramah Spiritual. Masyarakat mengenalinya sebagai seorang Master yang luar biasa. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian kepada Dharma Wacana yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut. Setiap hari, ketika ceramah berakhir, selalu saja beberapa orang mengerumuni Sang Master menanyakan perihal Sadhana (Laku Spiritual), Etika dan Sastra. Semua penggiat spiritual dan para panembah ingin mengetahui pandangan Sang Master tentang banyak masalah yang perlu penjelasan dari Beliau. Mumpung Sang Master hadir dan bersedia memberi tanggapan.

Adalah seorang lelaki tua yang duduk di sudut ruang pertemuan yang memperhatikan seluruh tanya-jawab Sang Master dengan para penggiat spiritual dan para panembah penuh khidmat. Dia menunggu selama 3 hari untuk memperoleh kesempatan mendekati Sang Master. Pada hari ketiga, lelaki tua itu mendekati Swami Vivekananda dan berkata, “ Swami! Apakah saya perlu membawakan makanan dan minuman untuk Swami? Saya lihat orang-orang tidak memberi kesempatan pada Swami untuk bersantai, makan dan minum sejenak. Saya akan berlari sebentar dan kembali kemari membawakan makanan dan minuman bagi Swami.”

Swami Vivekananda tersentuh oleh ungkapan penuh kasih dari lelaki tua tersebut dan dengan senyum berseri-seri menggandeng tangan lelaki tua itu dan berkata, “Ayo mari kita makan bersama di rumahmu.”

Para panembah dan penggiat spiritual hanya berpikir dan mencari solusi bagi diri mereka sendiri, tidak mempedulikan Swami Vivekananda yang sedang kehausan dan kelaparan. Sang lelaki tua peduli dengan Swami Vivekananda, dia ingin melayani Swami, tidak mempedulikan kepuasan diri sendiri…….

Dalam Bhagavad Gita, para panembah yang bertanya termasuk panembah ketiga, yang mencari pengetahuan sejati. Lelaki tua itu termasuk panembah yang bijak yang ingin melayani Sang Master, Melayani Pesuruh Tuhan. Mari merenung kita termasuk kategori yang mana?

4 Jenis Panembah

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) – seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.” Bhagavad Gita 7:16

Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi – kemudian menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh – mereka pun panembah yang sudah berbuat baik. mereka pun mulia adanya. Apa yang mereka lakukan adalah kemuliaan, perbuatan yang mulia.

Krsna memahami betul psikis manusia – Ia tidak menolak sebagian besar umat manusia, yang sering berdalih bahwa “mesti ada keseimbangan antara dunia dan akhirat”. Cara pandang yang tidak tepat. Namun setidaknya mereka telah berbuat baik. mereka sudah memiliki semangat untuk manembah. Mereka tidak memikirkan diri saja, walau sebatas beberapa persen dari penghasilan – mereka telah ikut memikirkan sesama manusia. Kelompok Pertama, ini juga rajin menyumbang untuk pembangunan tempat-tempat ibadah dan sebagainya.

Kelompok Kedua adalah mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Bagi Krsna, mereka pun telah berbuat mulia. Mereka pun panembah. Mereka tidak mengetuk pintu seseorang yang zalim atau bersekongkol dengan pihak yang berada dalam kubu adharma. Mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma untuk mengakhiri penderitaan.

Kelompok Ketiga adalah para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati. Termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini – kemungkinan besar – berada dalaam kelompok ketiga ini. Anda membeli buku ini dengan tujuan tersebut. Anda tidak membelinya untuk menjadi kaya-raya dalam sekejap. Anda tidak membelinya untuk mendapatkan voucher untuk masuk surga. Tidak. Anda membeli dan sedang membacanya untuk mengenal diri, untuk meraih pengetahuan sejati.

Namun, di atasnya adalah Kelompok Keempat, kelompok yang bijak.

 

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun sangat mengasihinya.” Bhagavad Gita 7:17

Di atas segalanya adalah Kasih. Kata awal dan kata akhir adalah kasih. Seseorang boleh memiliki kesadaran tinggi – namun setinggi apa pun kesadarannya, tanpa kasih ia menjadi kering. Jiwanya tidak berlembab. Ia belum bisa disebut “bijak”. Bagi Krishna seorang bijak bukan saja berpengetahuan dan berkesadaran hakiki, tetapi juga penuh kasih. Inilah Kelompok Panembah yang Keempat.

Sesungguhnya emosi yang umumnya disalahtafsirkan sebagai cinta kasih adalah Ketertarikan dan Keterikatan – Krsna tidak bicara tentang emosi-cinta seperti itu. Bukan, itu bukan cinta-sejati, belum kasih. Seorang bijak mengenal Cinta-Sejati, Kasih. Ia tidak terjebak dalam dan oleh emosi ketertarikan yang menyebabkan keterikatan, kekecewaan, dan sebagainya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Bhakti, Tidak Ingin Moksha selama Master ada di Hadapannya dan Dia Tertawa untuk Sang Master

Kisah Bapak Anand Krishna dalam video youtube:

Saya akan cerita tentang laki-laki sikh yang pergi ke ashram Osho, dan dia diberikan pekerjaan sebagai penjaga gerbang. Dengan turban sikh, dan jenggot, orang mau masuk gerbang agak takut sedikit padanya. Osho berkata kamu sebagai penjaga gerbang. Kalau kamu tidak senang pada seseorang tendang saja keluar. Tahun demi tahun berlalu dan dia tetap menjadi penjaga gerbang.

Kemudian Osho berkata pada waktu satsang, semua harus menghentikan pekerjaan dan menghadiri satsang. Osho sedang bercanda, dan tawa penjaga gerbang adalah tawa yang paling menular. Ketika dia tertawa setiap orang mulai ketawa. Bisa bayangkan 10.000 orang tertawa bareng.

Orang sikh ini tertawa yang sangat menular. Tapi setelah beberapa waktu, saat Osho datang dia mulai tertawa. Orang bertanya mengapa tertawa? Master datang, jawabnya. Apakah Master bercanda, kalaupun bercanda, tapi candaan itu belum disampaikan. Dan orang lapor pada Osho bahwa penjaga gerbang sudah tertawa sebelum Master menyampaikan canda.

Osho menjawab, mengapa kamu tanya saya? Tanyalah pada dia. Mengapa dia tertawa keras sebelum saya menyampaikan canda. Apakah dia ingin meditasi atau mengerjakan yang lain? Agar moksha? Orang-orang kemudian bertanya pada dia. Apakah kamu tidak ingin meditasi, latihan atau yang lain? Yoga, terapi, atau yang lain? Kamu hanya menjaga gerbang, Osho sudah datang dan kau sudah diberitahu, bahwa kau tidak harus di gerbang selamanya. Kau punya kesempatan ikut kursus-kursus karena kau telah menghabiskan waktu banyak tahun melayani gerbang, mengapa kau tidak melakukan meditasi.?

Dia menjawab, untuk apa? Kerja untuk moksha, untuk nirvana, itu dapat menunggu. Sekarang Master di sini biarlah saya ketawa untuk dia. Kalau dia tidak ada biarlah saya kerja untuk moksha untuk nirvana. Moksha dan nirvana dapat menunggu, saya dapat menundanya………. INILAH BHAKTI.

Sumber: A course in spirituality part 2 laughter yoga and ananda video Youtube by Anand Krishna

Bhakti Gopi Panembah Keempat dan Uddhava Gyaani Panembah Ketiga

A course in spirituality part 3 this is love video youtube by Anand Krishna

Gopi adalah orang yang sederhana. Mereka mendengarkan Uddhava. Dan kemudian menjawab, Udhava teman saya, cendikiawan, apa yang kau ketahui tentang bhakti? Apa yang kau ketahui tentang cinta? Ini bukan untuk kamu. Kamu tidak dapat membudakkan diri. Dan bhakti adalah membudakkan diri dengan sukarela. Dasanudas, saya adalah pelayan dari pelayan. Saya melayani pelayan Tuhan.

Bagaimana kau dapat melakoninya? Semakin cendekia kau, semakin kau meditasi dan yoga, berupaya berdiri dengan kepala di bawah. Kau merasa dapat mencapai moksha. Kau tidak mengerti bahasa ini. Bahasa ini bukan untukmu. Kamu tidak dapat memahami. Cinta adalah terlalu berharga, terlalu mahal.

Apabila kamu ingin belajar cinta. Apabila kamu ingin bisnis di sini. Kamu tidak dapat menggunakan euro, tidak dapat menggunakan dollars. Kamu tidak dapat menggunakan swiss frank. Mereka tidak dapat menggunakan british pounds. Mata uang yang diakui adalah kepalamu. Kamu harus memenggal kepalamu. Dan menyerahkannya kepada kekasihmu. Hanya dengan demikian kau dapat memperoleh cinta sebagai kembalian. Apa yang kau ketahui tentang cinta?………………… INI ADALAH BHAKTI.

Sumber: A course in spirituality part 3 this is love video youtube by Anand Krishna

Advertisements

Blog Baru: Gita Kehidupan Sepasang Pejalan

Posted in Uncategorized on September 18, 2014 by triwidodo

Ingin tahu Biografi Penulis

https://triwidodo.wordpress.com/

dan

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

diusianya yang menginjak 60 tahun mulai menulis otobiografi dan pengalaman-pengalaman kehidupan yang dijalaninya.

Silakan Baca:

http://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/

Terima kasih

Interfaith: A Live in experience!

Posted in Uncategorized with tags , , on April 7, 2014 by triwidodo

“Kita tidak bisa menerima ‘apa adanya’. Kita selalu membandingkan dengan ‘apa yang sudah ada’ dalam referensi kita. Kesalahpahaman, pertikaian dan perang antar agama semuanya terjadi karena itu. Yang memiliki referensi Yesus akan membandingkan kehidupan dan perilaku Muhammad dengan Yesus. Sudah jelas, tidak cocok. Muhammad adalah Muhammad, Yesus adalah Yesus. Begitu pula mereka yang memiliki referensi Veda, lalu membandingkannya dengan Dhammapada atau sebaliknya. Subconscious mind membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu sebagaimana adanya.” (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Toleransi beragama dan kesetaraan muncul dari sebuah “pemahaman jiwa” bahwa kita ini “pada dasarnya” satu. Tanpa adanya “pemahaman jiwa” ini, toleransi beragama dan persamaan hanya akan menjadi utopia, hanya gagasan belaka.

Cobalah “Interfaith, a Life in Experience” 16-18 Mei 2014 di One Earth Retret Ciawi.

 

Flyer-Blue-1