Archive for the Uncategorized Category

Bagi Para Panembah Tuhan Sangat Dekat

Posted in Uncategorized on January 6, 2019 by triwidodo

Tuhan Berada Sedekat Teriakan Doa Bhakta-Nya

Seorang Master bercerita tentang cendikiawan yang berkisah tentang Gajendra Moksha kepada seorang Maharaja. Gajah Gajendra sedang beristirahat dengan kawan-kawannya setelah berjalan jauh dengan main air di tepi sebuah danau. Tiba-tiba seekor buaya besar menarik kakinya dengan sangat kuat. Kawan-kawannya berupaya membantu tetapi gigitan sang buaya sangat kuat. Akhirnya sang gajah bertarung seorang diri melawan buaya yang tidak mau melepaskan gigitan pada kakinya.

Pergumulan berlangsung sengit bahkan dikisahkan sampai beberapa tahun. Pelan-pelan tetapi pasti kekuatan gajah di air mulai surut. Sang gajah akhirnya menyadari bahwa pada suatu saat dia akan kalah dan hidupnya akan tamat, persoalannya hanya masalah waktu saja.

Sambil berjuang dengan gigih melawan gigitan sang buaya, dalam diri sang gajah timbul sebuah kesadaran, bahwa hidup dia di dunia hanya melakukan sebuah peran. Semua skenario adalah milik Gusti Pangeran. Tetap berjuang tetapi sadar untuk mengikuti kehendak-Nya. Selamat atau tidak dia pasrah kepada Gusti Pangeran, Sang Sutradara Dunia.

Sambil tetap berjuang keras mempertahankan hidupnya, sang gajah pasrah dan berdoa kepada Gusti Pangeran, dan akan menerima apa pun yang dikehendaki-Nya. Kalau memang dia harus mati, itupun tidak lepas dari pengawasan-Nya. Kalau dia akan selamat, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mencederainya. “Aku pasrah Gusti Narayana!”

Tiba-tiba datanglah Gusti Narayana naik Garuda dan masuk ke dalam danau membunuh buaya dengan senjata cakra serta menarik sang gajah keluar dari danau.

Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/06/gajendra-perjuangan-berat-melawan-buaya-menuju-moksa-srimadbhagavatam/

 

Sang Maharaja sangat tertarik kisah sang cendekiawan dan langsung memotong: “Katakan seberapa jauh Vaikuntha, tempat Tuhan bertahta?”

Sang Cendekiawan gelagapan, tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Akan tetapi seorang pembantu raja yang mengipasi sang raja menyeletuk, “Paduka, Istana Gusti itu sejauh teriakan doa Sang Gajah! Seketika Sang Gajah berdoa, Narayana langsung datang menolong bhakta-Nya.”

 

Narayana Yang Mewujud Sebagai Krishna Menolong Draupadi yang Berdoa kepada-Nya

Yudhistira yang gemar bermain dadu terpedaya oleh permainan Shakuni dan kalah bertaruh. Seluruh Pandawa telah dipertaruhkan dalam permainan dadu dan kalah sehingga mereka telah menjadi budak Korawa. Akhirnya Draupadi pun dijadikan taruhan dan kembali Yudhistira kembali kalah. Sebagai budak Korawa, Pandawa diminta melepaskan baju dan hanya memakai pakaian dalam, dan selanjutnya Dursasana juga berupaya menarik kain sari Draupadi.

Draupadi dengan lantang berkata, “Jika kalian menghormati ibu kalian, saudara-saudara perempuan kalian dan putri-putri kalian, maka jangan perlakukan aku seperti ini!” Tetapi para Korawa tidak mempedulikannya. Mereka mengatakan bahwa pakaian yang dikenakan Pandawa dan Draupadi pun sudah menjadi milik Korawa. Dursasana pun segera menarik kain sari Draupadi. Draupadi merasa sudah tak ada gunanya minta tolong kepada para suaminya yang telah menjadi budak. Dia minta tolong pada Resi Bhisma yang juga hanya diam seribu basa.

Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/08/26/draupadi-cantik-jelita-pemersatu-dan-pemantik-semangat-hidup-pandawa/

 

Akhirnya dia memohon pada Sri Krishna yang tidak hadir di pertemuan itu. Dan, keajaiban pun terjadi kain sari Draupadi yang ditarik oleh Dursasana selalu digantikan dengan yang baru sehingga Dursasana kewalahan. Tuhan yang Mewujud pun mendengar doa Bhakta-Nya dari Tempat Dia berada.

Kita mengatakan Guru Pemandu adalah Tuhan yang mewujud untuk memandu kita. Apakah keyakinan kita, trust kita seperti Gajah Gajendra atau Draupadi?

 

Tuhan Lebih Dekat Daripada Urat Leher Bhakta-Nya

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Menganggap Tuhan maha jauh berada di lapisan langit keberapa – itu  pengingkaran. Tidak percaya bila Allah lebih dekat dari urat leher – itu  pengingkaran. Tidak percaya bahwa seorang yang telah berserah diri pada-Nya tidak pernah terganggu oleh setan-setan pikiran dan perasaan – itu pengingkaran. Tidak menyadari bila setan tidak berada diluar tapi membisiki kita dari dalam diri kita sendiri – itulah pengingkaran. Tidak meyakini kebijakan-Nya dan tidak menerima keputusan-Nya, malah berkeluh kesah melulu – itulah  pengingkaran.

Yakinkah kita bahwa pertemuan itu bisa dan memang semestinya terjadi sekarang dan saat ini juga? Jika tidak terjadi sekarang, saat ini, dan di sini, maka kita belum cukup yakin pada-Nya. Kita belum yakin pada kemaha-hadiran-Nya. Jika pertemuan dengan Dia hanya terjadi di tempat-tempat tertentu, maka itu pun merupakan pengingkaran terhadap pertemuan dengan Tuhan. Kenapa mesti terjadi di sana saja, dan tidak disini?

Pertemuan dengan Allah terjadi ketika kita mengamalkan firman-Nya. Pertemuan terjadi ketika kita menghapus airmata mereka yang kurang beruntung. Pertemuan terjadi ketika kita melayani mereka yang dikucilkan. Pertemuan terjadi ketika kita berdiri bersama mereka yang dizalimi. Pertemuan terjadi ketika kita membela mereka yang ditindas. Adakah kita meyakini pertemuan seperti itu? Adakah kita meyakini pertemuan dengan Sang Khaliq lewat khalq, lewat keramaian penciptaan-Nya di sekitar kita?

Kitab Suci bukanlah kitab hukum untuk menghakimi, tapi seruan untuk menjadi sadar sehingga terbebaskan dari hukuman semesta yang lagi-lagi bukanlah karena kemauan Tuhan, tapi karena ulah kita sendiri.

Sumber: Kutipan Materi Interfaith Studies oleh Bapak Anand Krishna

Sebagai Jivatma Kita Tidak Terpisah dengan Paramatma, Tuhan

Guruji Anand Krishna menyampaikan dalam Bhagavad Gita, Penjelasan Bhagavad Gita 15:7:

Jivatma, ibarat “Sinar Matahari”, adalah bagian yang tak terpisahkan dari “Cahaya Matahari” Purusa atau Gugusan Jiwa; yang ada karena adanya “Matahari” Paramatma – Jiwa Agung. Hyang adalah Sumber segala-galanya.

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan bahwa kita telah lupa jati diri kita sebagai Sinar Matahari yang tidak terpisah dengan Matahari seperti Penjelasan Bhagavad Gita 8:14:

Saat ini, kesadaran kita masih agak pincang. Seolah percikan sinar matahari Ilahi terpisah dari matahari, sehingga mesti “berupaya” untuk menyatu kembali. Ini bukanlah kesadaran tertinggi, belum! Tapi, merupakan anak tangga atau sarana yang paling efektif. Ya, upaya atau kerja-keras adalah sarana, keharusan, untuk menyadarkan kembali Jiwa tentang hakikat-dirinya.

Jiwa yang sudah lama bercengkrama dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lain-lain — sudah telanjur mengidentifikasikan dirinya dengan semua itu. Identitas palsu ini seperti daki tebal yang melekat pada kulit Jiwa. Mesti dibersihkan secara perlahan-lahan. Jangan dipaksa, Kulit bisa lecet, memar, atau berdarah. Bermandilah di bawah pancuran Kesadaran Jiwa hakiki, daki tebal ini akan terkupas dengan sendirinya.

Inilah kerja-keras seorang Yogi, yang dimaksud — pekerjaan purna waktu. Ia tidak “melarikan” diri ke kamar mandi dan tinggal di kamar mandi “pertapaan” di tengah hutan untuk membersihkan dirinya. Ia berada di tengah keramaian dunia. Sambil rnenjalani hidup, ia sedang memandikan dirinya dengan siraman Kesadaran Jiwa.

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

#AnandKrishna #UbudAshram

Mencapai Kesadaran Jiwa

Gajah Gajendra dan Draupadi pada saat kritis telah mencapai Kesadaran Jiwa. Mereka selalu melakukan sadhana dan melayani alam semesta tanpa keterikatan, semuanya merupakan persembahan kepada Gusti Pangeran.

Mungkin sesekali kita kita mengalami Kesadaran Jiwa sesaat. Bagaimana mempertahankan Kesadaran Jiwa silakan lihat:

Video Youtube: Bhagavad Gita 03.31-35 Kerja Keras, Kerja Cerdas Sesuai Potensi Diri oleh Bapak Anand Krishna

Advertisements

Waspada, Persepsi Kita Bukan Realita

Posted in Uncategorized on December 18, 2018 by triwidodo

Kisah Perselisihan Akibat Perbedaan Persepsi

Seorang Master bercerita di sebuah desa terpencil akan diadakan acara pernikahan. Rombongan pengantin pria datang ke sebuah desa dan tinggal di sebuah rumah. Sementara, rombongan pengantin putri tinggal di rumah lain di desa yang sama.

Ada seseorang yang menghubungi kedua rombongan yang mengharapkan imbalan dari kedua belah pihak. Penghubung tersebut mendatangi rombongan pengantin pria dan berkata bahwa pihak pengantin putri sering terlambat dalam memparsiapkan acara sehingga sering terjadi masalah dengan para tamu yang diundangnya. Rombongan pengantin pria menghormati orang yang menghubungkan mereka dengan pihak rombongan putri, dan menganggap seorang tua yang wajib dihormati.

Sang penghubung ternyata juga pergi ke rumah rombongan pengantin putri, dan mengatakan bahwa rombongan pengantin pria suka terlambat datang dan kurang menghormati pengantin putri.

Demikianlah sang penghubung membuat akting yang merugikan kedua belah pihak.

Sebelum kejadian menjadi lebih parah, baik rombongan pengantin pria maupun rombongan pengantin pria ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ketika mereka sadar bahwa ada kesalahpahaman di antara mereka, sang penghubung atau “Si Persepsi” menghilang pelan-pelan.

Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, memilih tindakan yang tepat, responsif bukan reaktif ini adalah bagian dari Viveka.

Hampir semua yang berada dalam pikiran kita adalah persepsi, bukan realitas. Apa yang kita percayai dan bahkan kita yakini sebenarnya bukan realitas itu sendiri. Hanya merupakan sebuah peta dan  bukan kondisi realita di lapangan. Kita, sesungguhnya, bereaksi terhadap persepsi kita, bukan terhadap realitas sebenarnya. Kabar baiknya adalah bahwa kita dapat memperbaiki persepsi untuk meningkatkan kesadaran.

Kebanyakan kita berselisih karena perbedaan persepsi.

Semua Latihan Meditasi, Yoga, Seva, Study Group, Yoga Sadhana dan lain-lain di Anand Ashram adalah Latihan Memberdaya Diri untuk memperoleh pikiran yang jernih, sehingga kita dapat mengambil tindakan yang tepat.

Selama Melihat Dengan Persepsi Kita Masih Dipertimbangkan Sebagai Hewan?

Persepsi dalam bahasa Sanskrit adalah “pashyati”, akar katanya “pashu”, hewan.

Dalam Sanskrit segalanya mempunyai kata. Kata untuk animal, sapi, kucing, anjing, kuda, semuanya dipertimbangkan sebagai pashu. Dan pashu adalah akar kata dari pashyati, dalam bahasa Inggris, perception, persepsi. Jadi seorang yang percaya kepada persepsi, adalah pashu.

Saya melihat hal yang sama dan kalian melihat hal yang sama. Kalian melihat sebuah patung sebagai sapi, sedangkan saya mempersepsikan sebagai kendaraan Lord Shiva. Persepsi kalian adalah sapi, persepsi saya adalah Nandi.

Sehingga apabila kita percaya pada superficial things, apa yang dilihat oleh mata kita, apabila kita hanya percaya itu, maka kalian pashu, animal. Apabila kalian ingin menjadi human being, kalian harus penetrasi lebih dalam, apa itu. Kamu harus melihat inti dari segala sesuatu. Jangan percaya kepada sesuatu yang di luar. Yang di luar mungkin tampak jelek, bisa tampak sangat baik. Pergi ke dalam.

Gunakan viveka kalian, bukan mind lagi. Mind berdasar pada data  bank. Kalian mendapat data bank dari banyak inkarnasi, sehingga kalian menetapkan dari data bank untuk menentukan sesuatu itu apa. Tapi apabila kalian tidak menggunakan data bank, kalian tidak menggunakan mind. Kalian mengubah, transform, kepada buddhi. Dan kalian mulai menggunakan viveka, faculty of discretion.

Sumber: Video Youtube by Bapak Anand Krishna: God and Humanbeing Go Beyond Perception

Melihat Realita Sebenarnya Tanpa Pengaruh Persepsi Kita Sebelumnya

Berikut pandangan Guruji Anand Krishna dalam Yoga Sutra Patanjali III.37:

Pendengaran, penglihatan, perabaan, pencecapan, dan penciuman kita saat ini—indra-indra persepsi kita saat ini—masih tetap bekerja secara subjektif. Kesukaan dan ketaksukaan kita; ketertarikan dan ketidaktertarikan kita masih bersifat subjektif berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, berdasarkan memori sebelumnya.

SEORANG NON-YOGI TlDAK MAMPU MELIHAT SESUATU TANPA INTERVENSI PERSEPSI yang sudah terbentuk.

Seorang pemain film sebaik apa pun, jika persepsi kita tentang dia adalah “jelek”, maka kita hanya melihat kejelekannya. Sebaliknya, jika persepsi kita “baik”, maka seorang penari sejelek apa pun kila anggap baik.

Adalah seorang Yogi saja yang dapat melihat things as they are. Intuisi yang telah bekerja, tidak membuatnya memiliki indra keenam, ketujuh, atau keberapa—istilah-istilah seperti itu sungguh sangat tidak tepat, tiada satu pun yang memiliki indra keenam. Maket tubuh kita sudah ditentukan oleh keberadaan—pancaindra. Titik.

Intuisi membuat indra-indra persepsi, sebagaimana diuraikan dalam sutra ini, mulai berpersepsi secara jernih. Persepsi-jernih tanpa intervensi memori masa lalu dan sebagainya, membuat seorang Yogi bebas dari segala macam prejudice dan favoritisme. Tiada yang dibencinya, tiada pula yang membuatnya tertarik. Ia memahami sifat alam benda, dan memahami pula sifat badannya, sifat pancaindranya, yang sama-sama adalah bagian dari alam benda.

MELIHAT, MENDENGAR, DAN SEBAGAINYA “SECARA INTUITIF” berarti melihat apa yang ada di balik yang terlihat oleh mata, mendengar apa yang ada di balik yang terdengar oleh telinga, dan seterusnya.

Demikian, penglihatan, pendengaran, dan sebagainya dalam diri seorang Yogi menjadi semakin halus. Di balik apa yang terlihat, ternyata ada unsur-unsur kebendaan yang amat, sangat terbatas, dan sedang mengalami kepunahan. Berapa banyak elemen, kimia-kimia apa saja yang ada di dalam diri, dalam badan manusia, tetap dapat dihitung. Banyak sel, triliunan, namun masih terhitung juga. DNA kita semua temyata 99,99% mirip.

Lebih dalam lagi, ternyata di balik perbedaan yang tipis itu, di balik kebendaan yang tampak beda itu, sesungguhnya tiada perbedaan Jivatma atau Jiwa Individu yang menerangi tubuh saya, tubuh Anda, bahkan cacing-cacing di selokan—semua adalah sama-sama percikan, bagian dari Sang Purusa,

Gugusan Jiwa yang satu, sama, tunggal. Kemudian, Sang Purusa pun, adalah sekadar Cahaya Sang Jiwa Agung.

BERARTI, MELIHAT DAN SEBAGAINYA “SECARA INTUITIF” bukanlah menjadi peramal, “Aku bisa membaca pikiranmu.” Tidak, walau itu pun “bisa” terjadi. Tapi, bukan itu tujuan Patanjali memberikan rumusan-rumusan ini.

Menjadi intuitif berarti “melihat benda sebagai benda; Jiwa sebagai Jiwa.” Menjadi intuitif, berarti tidak terbingungkan oleh penglihatan, pendengaran, dan sebagainya; dan tidak bertindak dalam kebingungan.

Demikian maksud Patanjali.

Sutra ini adalah penegasan terhadap sutra Sebelumnya.

Sumber: buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Belajar Pada Pesuruh Ilahi atau Melayani Beliau dengan Sepenuh Hati?

Posted in Uncategorized on October 5, 2018 by triwidodo

Kisah Swami Vivekananda dengan Lelaki Tua

Seorang Master bercerita tentang Swami Vivekananda yang sedang berada di suatu kota memberikan Dharma Wacana, Ceramah Spiritual. Masyarakat mengenalinya sebagai seorang Master yang luar biasa. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian kepada Dharma Wacana yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut. Setiap hari, ketika ceramah berakhir, selalu saja beberapa orang mengerumuni Sang Master menanyakan perihal Sadhana (Laku Spiritual), Etika dan Sastra. Semua penggiat spiritual dan para panembah ingin mengetahui pandangan Sang Master tentang banyak masalah yang perlu penjelasan dari Beliau. Mumpung Sang Master hadir dan bersedia memberi tanggapan.

Adalah seorang lelaki tua yang duduk di sudut ruang pertemuan yang memperhatikan seluruh tanya-jawab Sang Master dengan para penggiat spiritual dan para panembah penuh khidmat. Dia menunggu selama 3 hari untuk memperoleh kesempatan mendekati Sang Master. Pada hari ketiga, lelaki tua itu mendekati Swami Vivekananda dan berkata, “ Swami! Apakah saya perlu membawakan makanan dan minuman untuk Swami? Saya lihat orang-orang tidak memberi kesempatan pada Swami untuk bersantai, makan dan minum sejenak. Saya akan berlari sebentar dan kembali kemari membawakan makanan dan minuman bagi Swami.”

Swami Vivekananda tersentuh oleh ungkapan penuh kasih dari lelaki tua tersebut dan dengan senyum berseri-seri menggandeng tangan lelaki tua itu dan berkata, “Ayo mari kita makan bersama di rumahmu.”

Para panembah dan penggiat spiritual hanya berpikir dan mencari solusi bagi diri mereka sendiri, tidak mempedulikan Swami Vivekananda yang sedang kehausan dan kelaparan. Sang lelaki tua peduli dengan Swami Vivekananda, dia ingin melayani Swami, tidak mempedulikan kepuasan diri sendiri…….

Dalam Bhagavad Gita, para panembah yang bertanya termasuk panembah ketiga, yang mencari pengetahuan sejati. Lelaki tua itu termasuk panembah yang bijak yang ingin melayani Sang Master, Melayani Pesuruh Tuhan. Mari merenung kita termasuk kategori yang mana?

4 Jenis Panembah

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) – seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.” Bhagavad Gita 7:16

Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi – kemudian menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh – mereka pun panembah yang sudah berbuat baik. mereka pun mulia adanya. Apa yang mereka lakukan adalah kemuliaan, perbuatan yang mulia.

Krsna memahami betul psikis manusia – Ia tidak menolak sebagian besar umat manusia, yang sering berdalih bahwa “mesti ada keseimbangan antara dunia dan akhirat”. Cara pandang yang tidak tepat. Namun setidaknya mereka telah berbuat baik. mereka sudah memiliki semangat untuk manembah. Mereka tidak memikirkan diri saja, walau sebatas beberapa persen dari penghasilan – mereka telah ikut memikirkan sesama manusia. Kelompok Pertama, ini juga rajin menyumbang untuk pembangunan tempat-tempat ibadah dan sebagainya.

Kelompok Kedua adalah mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Bagi Krsna, mereka pun telah berbuat mulia. Mereka pun panembah. Mereka tidak mengetuk pintu seseorang yang zalim atau bersekongkol dengan pihak yang berada dalam kubu adharma. Mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma untuk mengakhiri penderitaan.

Kelompok Ketiga adalah para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati. Termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini – kemungkinan besar – berada dalaam kelompok ketiga ini. Anda membeli buku ini dengan tujuan tersebut. Anda tidak membelinya untuk menjadi kaya-raya dalam sekejap. Anda tidak membelinya untuk mendapatkan voucher untuk masuk surga. Tidak. Anda membeli dan sedang membacanya untuk mengenal diri, untuk meraih pengetahuan sejati.

Namun, di atasnya adalah Kelompok Keempat, kelompok yang bijak.

 

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun sangat mengasihinya.” Bhagavad Gita 7:17

Di atas segalanya adalah Kasih. Kata awal dan kata akhir adalah kasih. Seseorang boleh memiliki kesadaran tinggi – namun setinggi apa pun kesadarannya, tanpa kasih ia menjadi kering. Jiwanya tidak berlembab. Ia belum bisa disebut “bijak”. Bagi Krishna seorang bijak bukan saja berpengetahuan dan berkesadaran hakiki, tetapi juga penuh kasih. Inilah Kelompok Panembah yang Keempat.

Sesungguhnya emosi yang umumnya disalahtafsirkan sebagai cinta kasih adalah Ketertarikan dan Keterikatan – Krsna tidak bicara tentang emosi-cinta seperti itu. Bukan, itu bukan cinta-sejati, belum kasih. Seorang bijak mengenal Cinta-Sejati, Kasih. Ia tidak terjebak dalam dan oleh emosi ketertarikan yang menyebabkan keterikatan, kekecewaan, dan sebagainya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Bhakti, Tidak Ingin Moksha selama Master ada di Hadapannya dan Dia Tertawa untuk Sang Master

Kisah Bapak Anand Krishna dalam video youtube:

Saya akan cerita tentang laki-laki sikh yang pergi ke ashram Osho, dan dia diberikan pekerjaan sebagai penjaga gerbang. Dengan turban sikh, dan jenggot, orang mau masuk gerbang agak takut sedikit padanya. Osho berkata kamu sebagai penjaga gerbang. Kalau kamu tidak senang pada seseorang tendang saja keluar. Tahun demi tahun berlalu dan dia tetap menjadi penjaga gerbang.

Kemudian Osho berkata pada waktu satsang, semua harus menghentikan pekerjaan dan menghadiri satsang. Osho sedang bercanda, dan tawa penjaga gerbang adalah tawa yang paling menular. Ketika dia tertawa setiap orang mulai ketawa. Bisa bayangkan 10.000 orang tertawa bareng.

Orang sikh ini tertawa yang sangat menular. Tapi setelah beberapa waktu, saat Osho datang dia mulai tertawa. Orang bertanya mengapa tertawa? Master datang, jawabnya. Apakah Master bercanda, kalaupun bercanda, tapi candaan itu belum disampaikan. Dan orang lapor pada Osho bahwa penjaga gerbang sudah tertawa sebelum Master menyampaikan canda.

Osho menjawab, mengapa kamu tanya saya? Tanyalah pada dia. Mengapa dia tertawa keras sebelum saya menyampaikan canda. Apakah dia ingin meditasi atau mengerjakan yang lain? Agar moksha? Orang-orang kemudian bertanya pada dia. Apakah kamu tidak ingin meditasi, latihan atau yang lain? Yoga, terapi, atau yang lain? Kamu hanya menjaga gerbang, Osho sudah datang dan kau sudah diberitahu, bahwa kau tidak harus di gerbang selamanya. Kau punya kesempatan ikut kursus-kursus karena kau telah menghabiskan waktu banyak tahun melayani gerbang, mengapa kau tidak melakukan meditasi.?

Dia menjawab, untuk apa? Kerja untuk moksha, untuk nirvana, itu dapat menunggu. Sekarang Master di sini biarlah saya ketawa untuk dia. Kalau dia tidak ada biarlah saya kerja untuk moksha untuk nirvana. Moksha dan nirvana dapat menunggu, saya dapat menundanya………. INILAH BHAKTI.

Sumber: A course in spirituality part 2 laughter yoga and ananda video Youtube by Anand Krishna

Bhakti Gopi Panembah Keempat dan Uddhava Gyaani Panembah Ketiga

A course in spirituality part 3 this is love video youtube by Anand Krishna

Gopi adalah orang yang sederhana. Mereka mendengarkan Uddhava. Dan kemudian menjawab, Udhava teman saya, cendikiawan, apa yang kau ketahui tentang bhakti? Apa yang kau ketahui tentang cinta? Ini bukan untuk kamu. Kamu tidak dapat membudakkan diri. Dan bhakti adalah membudakkan diri dengan sukarela. Dasanudas, saya adalah pelayan dari pelayan. Saya melayani pelayan Tuhan.

Bagaimana kau dapat melakoninya? Semakin cendekia kau, semakin kau meditasi dan yoga, berupaya berdiri dengan kepala di bawah. Kau merasa dapat mencapai moksha. Kau tidak mengerti bahasa ini. Bahasa ini bukan untukmu. Kamu tidak dapat memahami. Cinta adalah terlalu berharga, terlalu mahal.

Apabila kamu ingin belajar cinta. Apabila kamu ingin bisnis di sini. Kamu tidak dapat menggunakan euro, tidak dapat menggunakan dollars. Kamu tidak dapat menggunakan swiss frank. Mereka tidak dapat menggunakan british pounds. Mata uang yang diakui adalah kepalamu. Kamu harus memenggal kepalamu. Dan menyerahkannya kepada kekasihmu. Hanya dengan demikian kau dapat memperoleh cinta sebagai kembalian. Apa yang kau ketahui tentang cinta?………………… INI ADALAH BHAKTI.

Sumber: A course in spirituality part 3 this is love video youtube by Anand Krishna

Blog Baru: Gita Kehidupan Sepasang Pejalan

Posted in Uncategorized on September 18, 2014 by triwidodo

Ingin tahu Biografi Penulis

https://triwidodo.wordpress.com/

dan

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

diusianya yang menginjak 60 tahun mulai menulis otobiografi dan pengalaman-pengalaman kehidupan yang dijalaninya.

Silakan Baca:

http://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/

Terima kasih

Interfaith: A Live in experience!

Posted in Uncategorized with tags , , on April 7, 2014 by triwidodo

“Kita tidak bisa menerima ‘apa adanya’. Kita selalu membandingkan dengan ‘apa yang sudah ada’ dalam referensi kita. Kesalahpahaman, pertikaian dan perang antar agama semuanya terjadi karena itu. Yang memiliki referensi Yesus akan membandingkan kehidupan dan perilaku Muhammad dengan Yesus. Sudah jelas, tidak cocok. Muhammad adalah Muhammad, Yesus adalah Yesus. Begitu pula mereka yang memiliki referensi Veda, lalu membandingkannya dengan Dhammapada atau sebaliknya. Subconscious mind membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu sebagaimana adanya.” (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Toleransi beragama dan kesetaraan muncul dari sebuah “pemahaman jiwa” bahwa kita ini “pada dasarnya” satu. Tanpa adanya “pemahaman jiwa” ini, toleransi beragama dan persamaan hanya akan menjadi utopia, hanya gagasan belaka.

Cobalah “Interfaith, a Life in Experience” 16-18 Mei 2014 di One Earth Retret Ciawi.

 

Flyer-Blue-1