#Reinkarnasi Nara dan Narayana: Arjuna dan Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , , on October 3, 2017 by triwidodo

Manunggal dengan Gusti

Betul, bila Bapa jauh lebih agung, jauh lebih tinggi, jauh lebih sempurna daripada diri-Ku; Aku berasal dari-Nya, Aku datang dari Dia… Namun, ketika Aku menyatu dengan-Nya dalam roh, atau kesadaran kosmis; ketika Aku manunggal dengan-Nya maka Dia berada di dalam diri-Ku dan Aku berada di dalam diri-Nya. Saat itu, Aku dan Dia satu adanya.

“Mengenal” Allah Bapa berarti “sadar akan kemanunggalan diri dengan-Nya”, dengan Allah Bapa, Allah Roh Agung, Allah Roh Kudus, atau apa pun sebutannya. Tidak ada cara lain untuk memahami dan menjelaskan hal ini. Karena, hanyalah ketika “Aku” manunggal dengan “Allah”, dengan “Bapa”, atau “Roh” maka “Aku akan tahu” apa saja yang “diketahui Allah, Bapa, atau Roh”. Saat itu, apa yang diketahui-Nya, Ku-ketahui pula; apa yang dilihat-Nya, Ku-lihat pula; dan, apa yang dikerjakan-Nya, Ku-kerjakan pula!

Yesus menyatakan bila kesadaran kosmis adalah sumber segala kekuatan. Ia menunjukkan bila kesadaran kosmis adalah kesehatan yang sempurna bagi dirinya, maupun bagi orang lain yang disembuhkan oleh-Nya.

 

…………….

Ia mengatakan bahwa. Dia dan Tuhan satu adanya dan, bahwasanya kita pun sesungguhnya sama. Sekarang, bagaimana menyatukan kemauan dan keinginan kita dengan kehendak-Nya itu saja; bagaimana kita bisa menerima kehendak-Nya secara utuh itu saja.

Yesus berjanji, siapa saja yang berkehendak sesuai dengan kehendak Allah akan “mengetahui” maksud-Nya dan masuk ke dalam “Kerajaan Allah”. Ia melanjutkan : “…Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu… “ (Yohanes 14 : 12)

Catatan : Menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi, dan impian pribadi dengan kehendak Allah membuat kita sadar, membuat kita “tahu” jatidiri kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat A New Christ

Kisah ini menggambarkan bahwa Arjuna dan Krishna (Vishnu yang mewujud) bertemu Maha Vishnu dan mereka bisa mengetahui Kehendak Maha Vishnu dengan diberitahu tugas mereka berdua di dunia. Arjuna dan Krishna adalah inkarnasi Nara dan Narayana yang merupakan Amsa, percikan dari Maha Vishnu. Disebut Maha Vishnu atau Gusti atau apa saja, sebenarnya yang ada hanyalah Dia, tak ada Dia yang lain. Karena maya-Nya maka yang lain menjadi ada yang juga merupakan manifestasi Dia. Semua makhluk adalah manifestasi Dia.

 

Kita semua “terbuat” dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika “keluar” dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sebelumnya kita hanya membaca dua inkarnasi Vishnu yang bertemu seperti pertemuan antara Sri Rama dengan Parashurama. Kini kita membaca pertemuan antara Vishnu yang mewujud (Krishna) dengan Maha Vishnu. Sebuah penggambaran kisah yang apik bagaimana kita semua sesungguhnya satu dan sama.

 

Kisah Arjuna dan Krishna

Suatu ketika Arjuna pergi ke Dvaraka dan melihat seorang brahmana yang berduka karena 9 anaknya mati di saat kelahiran. Arjuna menawarkan diri untuk menjaga calon anaknya yang sebentar lagi akan lahir, agar tidak dibawa Dewa Yama, Dewa Kematian. Arjuna bilang bahwa busurnya sakti dan akan bisa melindungi anak yang akan lahir.

Sang brahmana mengatakan bahwa Sri Krishna dan para Dinasti Yadava yang sakti pun tidak bisa membantunya. Akan tetapi akhirnya sang brahmana percaya kepada Arjuna.

Arjuna melindungi saat putra sang brahmana akan dilahirkan. Akan tetapi yang terjadi lebih menyakitkan sang brahmana, sang bayi lahir akan tetapi malah melayang ke langit dan hilang. Arjuna menjadi bingung.

Sri Krishna datang naik kereta dan mengajak Arjuna naik dan mereka pergi ke langit. Sri Krishna mengatakan bahwa dia mengajak Arjuna menemui para putra brahmana yang mati di saat kelahiran. Arjuna baru paham bahwa Sri Krishna mengetahui di mana para bayi tersebut berada.

Mereka menyeberangi tujuh pulau dan tujuh laut dan kemudian melewati daerah kegelapan. Sri Krishna mengeluarkan chakra-nya untuk menerangi mereka. Mereka akhirnya sampai kota Mahakalapura, dan menghadap Maha Vishnu yang berlengan delapan yang dusuk di atas naga Sesha.

Maha Vishnu mengatakan bahwa dia lah yang mengambil para putra brahmana agar Arjuna dan Sri Krishna menemui-Nya. Maha Vishnu menjelaskan bahwa Arjuna dan Sri Krishna adalah inkarnasi dari Nara dan Narayana yang mempunyai tugas meringankan beban bumi yang sedang menderita karena keserakahan para raja adharma. Setelah itu ke 10 putra brahmana diminta agar dibawa kembali ke Dvaraka.

Arjuna baru sadar, bahwa dia dan Sri Krishna adalah percikan dari Maha Vishnu yang mempunyai tugas menegakkan dharma dan memusnahkan adharma. Sayangnya Arjuna lupa lagi saat dihadapkan dengan para guru dan kerabatnya yang berada di pihak Kaurava dalam perang Bharatayudha. Dan, Sri Krishna memberikan petunjuk Bhagavad Gita untuk membangkitkan semangat Arjuna.

Kita masing-masing hidup di dunia mempunyai tugas dan peran tertentu. Seorang sadguru seperti Sri Krishna bagi Arjuna menyampaikan siapa sejatinya diri kita dan apa tugas dan peran kita di dunia.

 

Sadguru adalah wujud kesadaran kita, karena kesadaran kita baru berupa benih

Perbincangan ini, dialog antara Krsna dan Arjuna ini, terjadi pada dua strata, dua level, dua alam. Di alam benda, Krsna adalah sais kereta perang dan Arjuna adalah seorang ksatria yang duduk di belakang sais.

Dalam alam batin, Krsna adalah kesadaran Arjuna sendiri yang sedang berdialog dengan pikirannya. Dialog ini merupakan dialog transformatif. Tidak ada yang kalah atau menang dalam dialog ini. Pikiran tidak terkalahkan oleh kesadaran. Pikiran, sepenuhnya berubah menjadi kesadaran.

Kesadaran bukanlah sesuatu di luar pikiran. Kesadaran adalah benih-benih yang belum bertunas.

Sementara itu, pikiran adalah alang-alang yang seolah mencegah penunasan benih-benih itu. Sulit memang menjalankan proses ini – bagaimana pikiran kemudian bertransformasi menjadi kesadaran. Namun, jika kita memperhatikan tanda-tanda-Nya, tanda-tanda kehadiran-Nya di alam sekitar kita, maka kita dapat memahami proses metamorfosa ini lewat pengalaman seekor kepompong yang menjijikkan, yang mengalami ‘transformasi total’, dan ‘menjadi’ kupu-kupu yang indah! Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kisah ini menggambarkan saat kita pergi kembali ke dalam diri, kemudian bertemu sadguru dan dibantu pergi semakin ke dalam diri sampai kita memahami peran kita di dunia. Dalam alam batin, sadguru adalah kesadaran kita, seperti halnya Krsna adalah kesadaran Arjuna. Bahkan Arjuna diajak Krishna ke dalam lagi sampai bertemu Maha Vishnu. Dalam alam batin semuanya adalah satu………..

Untuk mengetahui kisah Nara dan Narayana silakan baca ulang: Karna: Ksatria dalam Naungan Takdir Buruk, Pengaruh Kehidupan Masa Lalu?

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/09/24/karna-ksatria-dalam-naungan-takdir-buruk-karena-kehidupan-masa-lalu/

Advertisements

Kemewahan Bhakta Shiva dan Kemiskinan Bhakta Vishnu #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , , on October 1, 2017 by triwidodo

 

Kita melihat orang-orang memuja Gusti, caranya tidak banyak berbeda, tapi kita tidak bisa melihat apa yang ada dalam pikiran setiap orang. Ada orang yang memuja Gusti, Gusti Idola (Ishta Deva) dalam bayangannya akan memberikan kelimpahan materi. Dan ada pula orang yang memuja Gusti, Gusti Idola (Ishta Deva) dalam bayangannya penuh kedamaian dan kebahagiaan sejati. Hasil perolehannya di dunia akan berbeda.

 

Pertemuan Materi dan Jiwa

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam semesta.

TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang membuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Parikshit bertanya kepada Rishi Shuka, mengapa para pemuja Shiva, baik dari para asura, makhluk setengah dewa, dan manusia, mereka semuanya hidup berkelimpahan, walaupun Shiva sendiri hidup sangat sederhana, tanpa perhiasan yang mewah, tidak punya rumah dan tinggal di bawah pohon. Di sisi lain para pemuja Vishnu nampak miskin, walaupun Vishnu yang merupakan pasangan Lakshmi, dewi kemakmuran, tinggal di istana Vaikuntha dengan pakaian penuh perhiasan gemerlapan. Mengapa bisa demikian?

Rishi Shuka menjawab bahwa Shiva adalah penguasa energi materi. Durga, pasangan Shiva adalah energi materi. Energi materi ini diwujudkan dalam tiga guna, sattva, rajas dan tamas. Oleh karena itu para pemuja Shiva memperoleh banyak materi, seperti Raja Ravana dan Raja Banasura. Shiva sendiri tidak terpengaruh oleh ketiga guna tersebut.

Ibaratnya Vishnu adalah susu murni, sedangkan Shiva adalah susu ditambah sedikit asam yang menjadi yoghurt. Vishnu adalah Sang jiwa Agung, sedangkan Shiva adalah Sang Jiwa Agung ditambah maya menjadi energi materi. Shiva sendiri bebas dari keterikatan pada materi. Para para pemuja Shiva memperoleh banyak materi yang diproduksi oleh maya atau tiga guna, sattvik, rajas dan tamas. Apabila para pemuja Shiva bisa hidup tanpa keterikatan pada materi maka tidak ada masalah. Akan tetapi pengaruh materi itu sangat besar. Seperti penjelasan Bhagavad Gita 14:5 di bawah ini:

Bukan saja sifat Agresif (Rajas) dan Malas (Tamas), tetapi sifat Tenang (Sattva) pun mengikat Jiwa dengan badan. Berarti, seluruh sifat, segala sesuatu yang berasal dari alam kebendaan memiliki kemampuan untuk mengikat Jiwa.

Jiwa tidak pernah punah – ia kekal abadi adanya. Namun, karena keterikatannya dengan badan, indra, dan alam kebendaan, ia “merasakan” pengalaman kelahiran, kematian, dan perubahan-perubahan lainnya.

Alam benda tidak bisa mengikat Jiwa, kecuali ia “bersedia” untuk diikat. Berarti, keterikatan Jiwa dengan alam benda tidak bisa terjadi kecuali seizin Jiwa itu sendiri.

………………..

Ketiga sifat ini kita miliki – kita semua memilikinya. Adalah penting bahwa kita memahami ketiga-tiganya, dan memanfaatkannya dalam keseharian hidup kita. Namun tidak terikat dengan satu sifat di antaranya – dan senantiasa menyadari hakikat kita sebabagi Jiwa yang bebas, merdeka. Penjelasan Bhagavad Gita 14:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Berbeda dengan para pemuja Vishnu, sejak awal mereka sudah berperan sebagai “saksi” yang tidak terpengaruh materi duniawi.

Sifat utama Sang Jiwa Agung adalah sebagai Saksi, sebagai Hyang sedang menikmati pertunjukan dan tidak terpengaruh oleh adegan mana pun. Inilah potensi Jiwa-Individu, potensi diri kita semua, yang masih mesti dikembangkan, jika kita ingin menikmati pertunjukan dunia. Penjelasan Bhagavad Gita 14:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Rishi Shuka menyampaikan bahwa pertanyaan Parikshit tersebut juga pernah diajukan oleh Yudhistira kepada Sri Krishna.

Sri Krishna menjawab, “Jika aku sangat menyukai pemuja dan ingin merawat devosinya, hal pertama yang aku lakukan adalah mengambil kekayaannya. Ketika pemuja menjadi orang yang relatif miskin maka para kerabat dan anggota keluarganya tidak lagi memperhatikannya, dan dalam kebanyakan kasus mereka melepaskan hubungannya dengannya. Para pemuja-Ku kemudian menjadi tidak bahagia karena kekayaan telah diambil demikian pula kerabatnya meninggalkan dia. Sehingga para pemuj-Ku benar-benar tergantung kepada-Ku. Dia bisa fokus pada-Ku, melayani-Ku, dan melayani semua makhluk sebagai manifestasi-Ku.”

 

Dalam Penjelasan Bhagavad Gita 18:66 disampaikan:

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita. Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran! Penjelasan Bhagavad Gita 18:66 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Reinkarnasi 6 Saudara Kandung Krishna yang Dibunuh Kamsa #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , on September 28, 2017 by triwidodo

Tobat tidak sekadar menyesal

Tobat berasal dani suku kata taubah yang berarti “kembali”. Kembali pada diri sendiri, kembali meniti jalan ke dalam diri. Bertobat berarti “sadar kembali.” Dan, untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk sadar kembali, dibutuhkan energi yang luar biasa. Sementara ini, seluruh energi kita habis terserap oleh perjalanan di luar diri.

Rumi mengingatkan kita: Jangan pikir engkau bisa melakukan apa saja, kemudian bertobat dan selesai sudah perkaranya.

Kalaupun taubah diterjemahkan sebagai “penyesalan”; yang menyesal haruslah hati, jiwa. Bukan mulut. Di atas segalanya, “penyesalan” berarti “kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan ya Panca-Provokator-itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #MasnawiIndonesia

 

Keterikatan pada keluarga membuat kita lahir di keluarga itu-itu saja

Pada waktu itu secara klinis kita sudah dinyatakan mati. Secara fisik kita sudah mati. Pada waktu itu pemutaran kembali film berjalan. Dan pemutaran kembali tetap berjalan karena mesin tetap berjalan. Mesin tetap berjalan tetap ada sisa napas tertinggal. Seperti fan. Walau dimatikan tetap ada listrik yang mengalir, dan baling-baling fan tetap bergerak sampai waktunya berhenti. Sehingga walau otak kita sudah tidak berfungsi, tetap ada energi tertinggal. Dan menggunakan energi yang ada mind (bukan brain) memutar kehidupan selama hidup.

Bukan semua impresi tetapi impresi utama. Impresi utama, memori utama akan kembali.

Berdasarkan itu,  sebelum gelap total, Soul (jiwa) mempunyai program: Untuk kehidupan ke depan aku akan mencari orangtua semacam itu. Pada waktu itu dalam waktu 1 menit. Dalam detik-detik terakhir, tapi Anda bisa merasakan sangat lama. Anda seakan-akan hidup kembali selama kehidupmu.

Tapi sebetulnya sangat-sangat singkat waktunya. Dan ada kebingungan waktu. Oke dalam kehidupan ke depan aku akan hidup dalam semacam keluarga itu. Apabil soul tetap berupaya ke keluarga tersebut, dia akan segera lahir kembali di keluarga tersebut.

Sumber: Video Youtube: Reinkarnation a Secret Revealed by Swami Anand Krishna

Pada suatu hari Devaki memanggil Sri Krishna dan Balarama, kedua putranya. Devaki menyampaikan bahwa mereka berdua telah menemukan putra Guru Sandipani, gurukula mereka walau dia telah mati.

Devaki ingin mereka mencari keenam saudaranya yang dibunuh oleh Kamsa. Devaki ingin menemui mereka.

 

Kisah keenam putra Devaki yang dibunuh Kamsa

Ini adalah kisah 6 bersaudara yang berbuat sering salah dan minta maaf dan bertobat. Karena keterikatan dengan keluarga, mereka lahir-mati lahir-mati di keluarga itu-itu saja. Kesalahannya juga itu-itu saja sampai dia diselamatkan Sri Krishna…….

Adalah 6 putra Rishi Marici, seorang Prajapati putra Brahma yang ketawa-ketiwi saat melihat Brahma mencintai Sarasvati, yang merupakan ciptaan Brahma sendiri. Keenam cucu Brahma tersebut dikutuk kakeknya akan lahir lagi menjadi putra seorang asura.

Ke 6 anak tersebut lahir kembali sebagai Putra Asura Kalanemi yang merupakan putra Hiranyakshipu.

Sebagai cucu Hiranyakashipu ke 6 anak tersebut bertapa memuja dan menyembah Brahma, agar hidupnya memperoleh berkah. Mereka tidak sadar bahwa Brahma pernah menjadi kakeknya dikehidupan sebelumnya dan karena kesalahan mereka dikutuk lahir menjadi putra asura. Pemujaan Brahma tersebut tanpa sepengetahuan Hiranyakshipu. Brahma yang puas dengan tapa mereka memberikan mereka jaminan perlindungan dari kematian.

Hiranyakashipu setelah mengetahui keenam cucunya sebagai bhakta, devoti Brahma tanpa meminta izin darinya marah dan mengutuk mereka akan lahir kembali dan dibunuh oleh ayah mereka sendiri, Asura Kalanemi. Mereka mohon ampun kepada Hiranyakashipu, karena mereka juga melihat Hiranyakashipu memuja Brahma untuk memperoleh kesaktian. Hiranyakashipu mengatakan mereka mati dibunuh ayahnya, akan tetapi kemudian hidup kembali di Patala di daerah kekuasaan Raja Bali.

Keenam cucu Hiranyakashipu tersebut kemudian lahir sebagai putra Devaki dan Vasudeva yang dibunuh oleh Kamsa yang merupakan reinkarnasi dari Kalanemi, ayah mereka di kehidupan sebelumnya.

 

Diselamatkan Sri Krishna

Sri Krishna dan Balarama dengan kekuatan yoga-nya datang ke Patala bertemu Raja Bali dan minta keenam saudara mereka, Smara, Udgita, Parisvanga, Patanga, Kshudrabhrit dan Ghrni diserahkan kepada mereka untuk dibawa menemui Devaki, ibu mereka.

Raja Bali menyetujui dengan senang hati. Ditemui Sri Krishna adalah merupakan berkah bagi Raja Bali. Dulu dia juga memperoleh berkah dari Vamana Avatara yang juga merupakan Avatara Vishnu.

Devaki sangat bahagia bertemu dengan para putranya yang telah dibunuh Kamsa. Selanjutnya keenam putra yang telah bebas dari kutukan tersebut meninggalkan dunia pergi sebagai para makhluk setengah dewa……………..

Gerhana: Pertanda Sri Krishna Sebelum Perang Bharatayuda #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on September 26, 2017 by triwidodo

“Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), saat terjadi maha-pralaya atau kiamat besar pada akhir satu kalpa atau masa besar — semuanya melebur dan menyatu dengan Kesejatian-Ku, Prakrti-Ku — kemudian pada awal kalpa baru, muncul lagi mereka semua.” Bhagavad Gita 9:7

Krsna percaya pada filsafat daur-ulang. Kejadian, peleburan – semuanya adalah bagian dari siklus, roda Sang Kala. Semua berawal dari-Nya, dari Kebenaran Hyang Tunggal, ditopang oleh-Nya, dan melebur di dalam-Nya untuk muncul kembali.

 

“Dengan Kesejatian Diri-Ku sendiri; karena Prakrti, Sifat Alami-Ku sendiri — kerumunan makhluk muncul saat kalpa baru; mereka tidak muncul atas kehendak mereka.” Bhagavad Gita 9:8

Para filsuf masih berdebat tsntang adanya free will atau kehendak bebas. Krsna menjelaskannya dengan sebuah keniscayaan.

Kehendak, yang tampaknya bebas, sesungguhnya tidak bebas-bebas banget. Sebebas-bebasnya kehendak manusia, masih tetap terbatas.

BERKARYALAH SESUAI DENGAN kebebasan yang kita miliki. Tapi ingat, sebebas apa pun kehendak kita, tetaplah kita tidak bisa mengubah diri menjadi pesawat terbang atau menjadi Orang Utan kembali. Kita tidak bisa mengubah fisik kita melewati batas-batas tertentu.

Kita bisa mengubah jender, tapi tidak bisa menjadi sesuatu lain yang bukan manusia. Kemanusiaan adalah batas kehendak bebas. Kita bisa mengasah kemanusiaan diri atau membiarkannya merosot hingga tingkat terbawah. Tetapi, tetap dalam kerangka besar kemanusiaan. Mau “bersifat” binatang — monggo, kehendak bebas! Tapi, kita tidak bisa mengubah fisik msnjadi kucing atau anjing. Lucu saja, kita bisa bersifat seperti anjing atau kucing, tapi tidak bisa mengubah fisik kita sehingga menyerupai mereka.

 

DARI SUDUT PANDANG ILMIAH, apa yang dikatakan oleh Krsna amat sangat mendukung hasil penelitian-penelitian mutakhir. Saat awal mula kalpa, semua makhluk dalam wujud yang masih berupa organisms sederhana muncul bersama.

Berarti, organisme yang berpotensi untuk menjadi manusia, muncul bersarna organisme-organisme lain yang bsrpotensi untuk “tidak” menjadi manusia, tetapi menjadi domba misalnya.

Kemudian, setiap organisme berevolusi sesuai dengan “programming” kodratnya. Lalu, siapa yang menentukan programming awal itu? Konsekuensi dari perbuatan-perbuatan kita — hasil karma — dari kalpa yang lalu.

 

SUDAH DIBERI KESEMPATAN BERMILIAR-MILIAR TAHUN, si dinosaurus tidak juga berevolusi menjadi raksasa atau manusia. Kemudian terjadi kiamat bssar — peleburan massal — maka dalam kalpa berikutnya, ia mengalami kehidupan ulang sebagai organisme berpotensi cecak.

Kemudian cecak ini berevolusi lagi, menjadi predatornya — jenis hewan yang lebih unggul darinya. Maka, lambat laun ia pun bisa menaiki tangga evolusi terus hingga kodratnya berkembang—dari cecak ia menjadi manusia. Kemungkinan itu selalu ada!

Seluruh proses ini terjadi secara otomatis.

Komputer Keberadaan canggih dan tepat. Setidaknya demikian yang dapat kita rasakan. Krsna melihat apa yang ada di balik Maha-Komputer Super Canggih tsrssbut – yaitu Kehendak-“Nya”. Kehendak Sang Jiwa Agung yang kemudian menyebabkan percikan-percikan Jiwa-Individu untuk mengalami jenis-jenis kehidupan yang beragam, sesuai dengan “karma” setiap percikan.

Setiap percikan ibarat window baru tempat setiap “Jiwa-Individu” atau Jivatma mesti berkarya, hingga suatu ketika ia mencapai kesempurnaan. Ia kembali menyadari hakikatnya sebagai percikan yang tak-terpisahkan dari Jiwa Agung. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Sri Krishna datang ziarah ke Danau Samantapancaka di Kurukshetra dalam rangka gerhana matahari yang besar di mana gerhana semacam itu akan terjadi pada saat akhir kalpa, Hari Brahma berakhir. Para raja, ksatria, brahmana dan para keluarga mereka ikut ziarah, untuk darshan dengan Sri Krishna.

Pada saat itu Sri Krishna menyampaikan rasa terima kasih kepada para brahmana yang telah mengajari manusia umat manusia untuk meningkatkan kesadaran guna mencapai tujuan hidup mereka. Para brahmana paham bahwa sejatinya Sri Krishna-lah yang telah memandu mareka. Dan, adalah peran para brahmana untuk memandu umat manusia ke arah tujuan hidupnya. Dalam kisah selanjutnya nanti disampaikan bahwa memuja bhakta-Nya, devoti Sri Krishna,  termasuk para brahmana bhakta Sri Krishna mempermudah jalan menuju Dia.

Para brahmana telah membaca kitab-kitab suci tentang apa yang terjadi pada akhir kalpa. Pengetahuan tersebut perlu disampaikan kepada umat manusia agar mereka paham bahwa apa yang dilakukan mereka dalam banyak kehidupan dalam satu kalpa akan berpengaruh pada kehidupan di kalpa berikutnya. Umat manusia harus berupaya dengan sungguh-sungguh agar sudah keluar dari siklus kematian dan kehidupan, tidak menunggu kalpa berakhir.

Pertanda gerhana seperti ini akan merupakan bahan perhitungan para ahli astronomi kapan, di tahun berapa peristiwa tersebut terjadi. Peninggalan-peninggalan arkeologi bisa saja terkubur. Akan tetapi kejadian saat gerhana dapat ditelusur oleh ahli astronomi untuk mencari kapan kejadian tersebut terjadi, karena gerakan matahari dan bulan bisa dianalisa……………

Pada saat gerhana matahari itu para ksatria dan brahmana beserta keluarganya belum sadar bahwa tidak lama lagi akan ada perang besar Bharatayuda yang memusnahkan sebagian besar umat manusia. Dan setelah beberapa puluh tahun kemudian Sri Krishna pun meninggalkan dunia.

Gerhana di Kurukshtera: Cinta Abadi Para Gopi Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on September 24, 2017 by triwidodo

Cinta adalah sifat jiwa. Sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, Bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan waktu

Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena “setiap” Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama.

Dalam Alam Ego, kita beragam, berbeda – Walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda. Wajah Anda tidak sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara pikir kita beda. Perasaan kita beda!

Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: “Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…”

KONFLIK ADALAH HASIL DARI SALAH IDENTIFIKASI. Ketika kita memercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” tanpa memiliki atau menguasai sesuatu — maka, kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri — karena sesungguhnya Jiwa bebas adanya, ia tidak mau terikat — tapi ia terpengaruh oleh keinginan-keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan “tidak” terhadap kekuasaan ego.

Maka terjadilah kekecewaan — karena, bagaimanapun juga kita tak akan pernah bisa menguasai dunia-benda sepenuhnya. Penguasaan kita sudah pasti bersifat terbatas. Sementara itu, Jiwa adalah percikan Hyang Tak Terbatas.

Sebagai contoh: Cinta adalah sifat jiwa. Sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, Bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan waktu.

Kemudian, Cinta yang tak terbatas ini kita aplikasikan terhadap “se”-seorang “yang” kita cintai. Mencintai “se”-seorang ini sudah tidak sesuai, tidak selaras dengan sifat Cinta yang tak terbatas, sementara “se”-seorang adalah terbatas, sebatas “se”-seorang.

Selanjutnya, kita menikahi “orang” tersebut. Selama beberapa bulan atau beberapa tahun, masih oke. Namun, tidak untuk selamanya. Cinta yang Tak Terbatas itu ingin bebas dari penjara nafsu buatan ego. Saat itu, kita mesti berhati-hati…

Jika cinta berkuasa – dalam pengertian Jiwa berkuasa — maka kita menyadari kesalahan kita. Tidak perlu juga menceraikan pasangan kita. Tinggal membiarkan Cinta berekspansi untuk meliputi, merangkul semua termasuk pasangan kita pun ikut terangkul.

Ingat, ini bukan urusan nafsu birahi. Ini perkara Cinta. Nafsu birahi mengantar kita ke atas ranjang. Cinta melampaui ranjang nafsu, meninggalkannya, untuk merangkul semesta.

…………………..

Persoalan hidup hanyalah terselesaikan ketika kita keluar dari penjara ego, dan hidup bebas dalam kesadaran Jiwa. Penjelasan Bhagavad Gita 6:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Mendengar Sri Kṛishṇa akan hadir di Kurukṣhetra pada saat gerhana matahari, warga Brindavan dipimpin Nanda, memutuskan untuk pergi ke sana, karena semua anggota keluarga Dinasti Yadu pasti hadir. Nanda dan para gembala, memasukkan semua perlengkapan yang diperlukan mereka ke gerobak sapi, dan semua warga Brindavan datang ke Kurukṣhetra untuk menemui Sri Krishna dan Balarama.

Begitu Vasudeva melihat Nanda, dia berlari ke arahnya dan memeluknya dengan penuh kasih. Demikian pula, Sri Krishna dan Balarama mengusap kaki Ayah Nanda dan ibu Yashoda dan memeluk mereka. Devaki dan Rohini juga memeluk Yashoda.

Para warga Brindavan hanya berpikir tentang Sri Krishna. Mereka telah berpisah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Sri Krishna yang selalu mereka rindukan. Secara mental mereka kemudian memeluk Sri Krishna, dan Sri Krishna dapat merasakan dan membalas pelukan mereka. Bahkan Yogi yang besar pun belum dapat memeluk Sri Krishna secara mental. Para warga Brindavan memang luar biasa cintanya terhadap Sri Krishna.

Saat Ibu Yashoda berbicara dengan Ibu Devaki, Ibu Rohini dan ibu-ibu lainnya, Sri Krishna mengambil kesempatan untuk bertemu dengan para gopi.

Sri Krishna kemudian memeluk para gopi satu per satu. Sri Krishna berkata, bukan maksud dirinya untuk membohongi para gopi. Dia terperangkap pada peristiwa pertikaian dengan musuh-musuhnya dan dia harus menegakkan dharma. Sri Krishna menyampaikan kadang debu atau serpihan kapas bertemu karena ada angin. Akan tetapi setelah angin mereda, mereka terpisahkan lagi dan tersebar di berbagai tempat.

Benda-benda yang kita lihat adalah manifestasi dari dari Gusti, yang nampak berbeda. Dengan kemauan Gusti, kadang mereka bersatu dan kadang berpisah.

Sesungguhnya para gopi telah mengembangkan bhakti penuh kasih kepada Sri Krishna, dan Sri Krishna mencintai penuh kasih kepada mereka. Oleh sebab itu walau dari segi fisik berpisah, batin mereka tetap bersatu. Dan itu adalah pencapaian tertinggi.

Sri Krishna menyampaikan bahwa walau terbuat dari 5 elemen alami yang sama, akan tetapi badan, wajah, penampilan, cara berpikir dan rasa setiap orang berbeda. Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: “Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…” Konflik adalah hasil dari salah identifikasi. Kita mengidentifikasikan diri dengan materi.

Cinta adalah sifat jiwa. Sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, Bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan waktu.

Sri Krishna menyampaikan bahwa para gopi sudah mencapai kesadaran Jiwa, mereka hanya mencintai Sri Krishna, dan sejatinya semua wujud adalah manifestasi dari Sri Krishna. Apa pun yang ada di hadapan para gopi adalah Sri Krishna. Semua makhluk adalah manifestasi Sri Krishna. Patung, Kuil, Pohon, Lukisan adalah sekadar alat untuk mengingat Sri Krishna.

Oleh karena itu para gopi dapat menggunakan tubuhnya untuk melayani dan ber-bhakti terhadap Sri Krishna yang bermanifestasi dalam setiap makhluk.

Sri Krishna menyampaikan bahwa para gopi mencintai dirinya, dan dirinya mencintai mereka tanpa batas, tidak terkungkung dari keterbatasan ruang dan waktu.

Para gopi sangat berbahagia dengan penjelasan Sri Krishna. Para gopi sudah tidak peduli terhadap kematian ataupun akhir Hari Brahma, atau akhir Kalpa saat semua makhluk digulung alam semesta yang bisa datang kapan saja. Cinta para gopi dengan Sri Krishna tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, cinta yang abadi…………..

Bisakah Cinta kita terhadap Gusti Pangeran seperti cinta para gopi. Peristiwa apa pun yang terjadi selalu Cinta pada Gusti Pangeran. Melayani semua makhluk termasuk keluarga kita karena semuanya adalah manifestasi Gusti Pangeran? Saat ajal tiba, yang terpikir pun hanya Gusti Pangeran? Mind kita tidak lagi tertarik gravitasi gairah dan gebyar duniawi?

Karma Kunti dan Vasudeva, Perjuangan Melawan Adharma #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on September 21, 2017 by triwidodo

#Gerhana di Samantapancaka

Hukum Karma Hukum Penuh Harapan

Kelahiran seorang anak terjadi “saat” pengaruh konstelasi perbintangan selaras dengan hasil perbuatan (karma) anak itu di masa lalu. Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian.

Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu.

Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini.

Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat Spiritual Astrologi.

Dalam pertemuan di Kurukshetra pada saat gerhana matahari tersebut, adik-kakak Kunti dan Vasudeva bertemu setelah perpisahan yang sangat panjang. Sejak kecil Kunti dijadikan putri angkat Raja Kuntibhoja dan berpisah dengan Vasudeva.

Kunti menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh penderitaan, setelah Pandu Devanatha, suaminya meninggal dan Pandava, 5 putranya dijahati oleh para Kaurava. Putra-putranya mendapat beberapa kali percobaan pembunuhan dan setelah memperoleh Indraprashtha, bagian kecil wilayah dari Hastina dicurangi main dadu sehingga mereka diusir dari Hastina. Kini mereka sudah di Indraprashtha dan mulai dari nol sampai Yudisthira menjadi seorang maharaja setelah upacara Rajasuya.

Vasudeva mengungkapkan bahwa dia pun mengalami penderitaan yang berat, keenam putranya dibunuh Kamsa, dia dan istrinya dipenjara. Bagaimana perjuangannya menyelamatkan janin Balarama lewat pemindahan janin dan bagaimana membawa bayi Krishna ke Brindavan dan balik lagi sambil membawa putri Nanda dan Yashoda. Hanya dengan berkah Gusti Pangeran dia selamat dan Sri Krishna dan Balarama menjadi pemuda perkasa yang bijak.

Vasudeva mengingatkan Kunti, bahwa kelahiran mereka dipengaruh konstelasi perbintangan yang selaras dengan hasil perbuatan (karma) mereka di masa lalu. Namun, tidak berarti mereka tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Mereka mengalami banyak masalah adalah akibat tindakan mereka di masa lalu. Tetapi hidup mereka selanjutnya tergantung kemauan mereka sendiri. Dan kini mereka sudah mulai merasakan hasil tindakan baik mereka. Bersyukurlah mereka karena memperoleh panduan langsung dari Sri Krishna. Dengan panduan Sri Krishna, mereka tidak hanya memperoleh kebahagiaan duniawi akan tetapi kebahagiaan abadi.

 

Tidak semua Benih Karma langsung tumbuh, bertunas dan berbuah

Tidak semua benih yang ditanami langsung tumbuh, bertunas, dan berbuah. Ada yang membutuhkan waktu beberapa bulan. Ada yang berbuah setelah beberapa tahun. Persis seperti itu pula dengan tindakan kita, dengan ucapan dan pikiran kita. Tidak semuanya berbuah langsung.

Sanchita adalah karma-karma dari masa lalu; akumulasi dari masa lalu, yang saat ini baru berbuah. Buahnya disebut Praarabdha. Sesuatu yang sudah tak mungkin dielakkan. Kendati demikian, kita masih memiliki pilihan yaitu memetik panen dengan mengaduh-aduh atau dengan girang, dengan bersuka cita, dengan menyanyi dan menari. Taruhlah panennya tidak sesuai dengan harapan tak apa, it is not the end of the world. Saat itu kita masih belum mahir dalam seni cocok tanam. Sekarang, sudah mahir, maka tanaman kita dimasa depan pasti lebih baik. Kebaikan yang kita lakukan hari ini sudah pasti menghasilkan kebaikan pula.

Tetapi, jangan lupa masih ada Sanchita Karma, karma-karma terakumulasi dari masa lalu yang barangkali belum berbuah. Karma-karma tersebut adalah Agami Karma, karma yang akan datang. Kita tidak dapat mengubahnya, namun dengan memahami hal itu, kita menjadi tenang. Kita akan menghadapinya dengan tenang. Kita tak akan terbawa arus, tak akan hanyut dalam duka maupun suka yang berlebihan. Jangan hanya bersyukur saat mengalami suka, bersyukur pula saat mengalami duka. Tuhan tidak hanya dipuji saat kitaberada di atas, pujilah pula. Di saat kita berada di bawah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat Karya Shankara

 

Vasudeva mengingatkan Kunti, bahwa tindakan baik akan menghasilkan pada waktunya. Mungkin pada saat ini benih tersebut sudah menjadi pohon yang kuat tapi belum saatnya berbuah. Kita bahkan tidak perlu mengharapkan buah, semuanya dipersembahkan kepada Gusti Pangeran, karena sesuai hukum alam siapapun yang menanam akan menuai.

Vasudeva juga mengingatkan Kunti, bahwa kejahatan Kaurava akan memperoleh balaannya pada saatnya, seperti yang terjadi pada Kamsa, Jarasandha dan sekutunya.

 

Dhammapada 22:306 menjelaskan apa yang dapat mencelakakan diri, yaitu kebohongan. Mengingkari perbuatan keji, dan berbohong untuk menutupinya – inilah pertanda orang yang sedang mencelakakan dirinya.  Kita tidak dapat membohongi Keberadaan Yang Maha Mencatat setiap kegiatan. Perbuatan keji untuk mencelakakan orang lain adalah serangan terhadap Keberadaan. Dan, begitu kita menyerang Keberadaan yang adalah Kasunyatan Abadi, maka perbuatan keji dan kebohongan akan bergaung kembali. Tidak ada yang menghukum kita kecuali perbuatan kita sendiri.

Ada kalanya benih perbuatan keji itu belum tumbuh menjadi pohon, maka sepertinya lama sekali baru berbuah. Ada kalanya Keberadaan membiarkannya tumbuh malah diberi air hujan dan difasilitasi pertumbuhannya, supaya pada saatnya dapat ditebang karena ilalang memang tidak berguna dan malah mencelakakan pertumbuhan tanaman lainnya. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada yang terasa “klop” dengan kehidupan dunia.

 

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali, bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya.

Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada.

Kunti dapat merasakan kebenaran kata-kata Vasudeva, Kunti paham bahwa Vasudeva adalah ayah dari Sri Krishna, Gusti Pangeran yang mewujud. Mereka juga membicarakan perkawinan antara Arjuna putra Kunti dengan Subhadra putra Vasudeva. Mereka berharap anak keturunan mereka akan menjadi ksatria yang bijaksana.

Parikshit menangis haru atas kisah Rishi Shuka, Arjuna dan Subhadra adalah kakek dan nenek Parikshit.

Saat mendengar kisah dari Rishi Shuka, Parikshit hanya mendengarkan dalam hitungan menit. Akan tetapi Parikshit menyadari bahwa penderitaan Pandava selama diusir selama 12 tahun adalah waktu penderitaan yang sangat lama. Kematian Kamsa juga membutuhkan waktu yang sangat lama dari perkawinan Vasudeva dengan Devaki sampai Sri Krishna menjadi remaja. Sebagai warga Mathura itu adalah waktu yang sangat lama.

Persembahan Dinasti Yadu dan Warga Brindavan bagi Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , , on September 20, 2017 by triwidodo

#Gerhana di Samantapancaka

“Di antara beribu-ribu orang, belum tentu seorang pun berupaya untuk mencapai kesempurnaan diri. dan, di antara mereka yang sedang berupaya, belum tentu seorang yang memahami kebenaran-Ku.” Bhagavad Gita 7:3

Kesempurnaan diri adalah kesempurnaan dalan Jnana dan Vijnana. Banyak di antara kita yang sudah merasa puas dengan apa yang kita baca dalam kitab-kitab tebal, seperti yang ada di tangan kita saat ini. Hanyalah segelintir saja yang berupaya untuk memperoleh pengalaman pribadi.

Dan di antara segelintir yang sedang berusaha demikian pun, belum tentu satu orang yang mencapai kesempurnaan, dalam pengertian memahami kebenaran-Nya – Kebenaran Jiwa Agung.

Pengamatan Krsna merupakan tantangan bagi siapa saja – Tantangan bagi setiap orang yang menganggap dirinya berketuhanan, berkeyakinan, berkepercayaan, dan sebagainya. Adakah kita memuja-muja Tuhan, menyembah Tuhan untuk mendekatkan diri dengan-Nya, atau justru untuk menjauhkan diri dari-Nya?

Setiap doa untuk hal-hal bersifat duniawi – untuk mendapatkan rezeki, pekerjaan, jodoh, anak dan sebagainya – tidak mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Semua itu adalah urusan kendaran badan bersama indra, pikiran segala.

Semua urusan itu adalah urusan teknis, urusan bengkel. Kita tidak perlu mengenal pemilik bengkel, apalagi pemilik pabrik mobil untuk memperbaiki kendaraan yang rusak. Cukup berurusan dengan teknisi. Bahkan tidak perlu mengenalnya juga. Titipkan mobil di bengkel, daftarkan segala keluhan kita, dan datang kembali sorenya untuk mengambil mobil.

Banyak hal lain yang menjadi inti doa kita ibarat keinginan untuk menghias dan mempercantik kendaraan. Tidak perlu ke bengkel, untuk itu cukup ke toko yang menjual variasi mobil.

Selama ini, kepercayaan kita sesungguhnya bukanlah untuk mengenal Tuhan, tetapi sekedar rutinitas pemeriksaan kendaraan, supaya tetap “fit”.

Krsna menyatakan, dan Ia tidak salah, bahwa di antara beribu-ribu orang yang ingin serta berupaya untuk mengenal-Nya, belum tentu seorang pun mencapai tujuannya, dan mengenal-Nya.

Kenapa demikian? Apakah tidak setiap orang berupaya dengan kesungguhan yang sama? Ya, memang demikian adanya; tidak semua orang berupaya dengan kesungguhan yang sama. Selain itu, belum tentu upaya yang mereka lakukan itu betul. Banyak orang berupaya, namun dengan cara yang salah. Jadi, upayanya, metodenya mesti betul juga, bukan sekadar kesungguhan dan kerja keras. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Tanah, air, api, angin, eter (subtansi ruang), gugusan pikiran serta perasaan (manah atau mind), kemampuan untuk memilah (buddhi atau integensia), dan ego (ahamkara atau ke –aku-an) – kedelapan hal ini adalah prakrti atau sifat kebendaan-Ku, yang menyebabkan kesadaran rendah.” Bhagavad Gita 7:4

Segala upaya kita selama ini – dari yang bersangkutan dengan profesi dan keluarga, hingga bermasyarakat, politik, hubungan dengan sesama, kepercayaan, dan lain sebagainya – semuanya menyangkut kedelapan hal ini. Semuanya menyangkut alam benda, kebendaan, kesadaran rendah. Jadi , selama ini segala upaya kita sekadar untuk merawat kendaraan, mempercantiknya, menghiasnya, mengisi bahan bakar – dan, that’s that. Kendaraan itu tidak pernah dipakai untuk menuju tujuan – yaitu untuk menyadari hakikat diri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Pertemuan keluarga Dinasti Yadu dan warga Brindavan

Setelah tiba di Kurukṣhetra, para anggota Dinasti Yadu melakukan ritual mandi di danau Samantapancaka dan selanjutnya melakukan puasa selama gerhana berlangsung. Pada saat buka puasa mereka mempersembahkan makanan lezat kepada para brahmana.

Pada keesokan harinya mereka melakukan dana punya dengan memberikan banyak sapi kepada para brahmana. Semua sapi tersebut dilengkapi hiasan berwarna-warni, gelang kaki dari emas dan lonceng sapi dari emas di lehernya. Seluruh brahmana yang hadir bersyukur atas kemurahan hati Dinasti Yadu.

Orang awam melakukan mandi, puasa, berbagi makanan dan dana punya kepada para brahmana dengan harapan akan memperoleh imbalan dari Gusti Pangeran untuk memenuhi keinginannya. Kedudukan yang bagus, jodoh yang baik, keluarga bahagia, kekayaan yang melimpah dan anak keturunan yang sukses. Menurut Bhagavad Gita 7:3 itu semua adalah urusan kendaraan badan, bisa ke toko variasi mobil, belum perlu ke bengkel Ashram apalagi berurusan dengan Pemilik Bengkel Semesta. Menurut Bhagavad Gita 7:4. semuanya masih menyangkut alam benda

Akan tetapi bagi anggota Dinasti Yadu acara ritual dan dana punya tersebut hanya dipersembahkan kepada Sri Krishna. Mereka memperoleh berkah yang luar biasa dengan selalu berada dekat Sri Krishna. Ibarat murid yang telah ikut dalam kehidupan Guru, setiap saat selalu darshan dengan Sri Krishna. Itu adalah berkah yang luar biasa.

Acara makan bersama para anggota Dinasti Yadu hanya dilakukan setelah persembahan makanan kepada para brahmana selesai.

Tidak berapa lama datang para tamu, kerabat, sahabat, para raja dan prajurit mereka. Ada raja dari Matsya, Kusinara, Kosala, Vidharba, Kuru, Kamboja, Kekaya dan raja-raja lainnya.

Akan tetapi yang paling ditunggu oleh Balarama adalah warga Brindavan di bawah pimpinan Nanda. Peristiwa gerhana tersebut dimanfaatkan warga Brindavan untuk menemui Sri Krishna dan Balarama. Pertemuan antara warga Brindavan dan anggota keluarga Dinasti Yadu sangat mengharukan. Mereka saling memeluk dan melimpahkan kerinduan. Tidak banyak kata yang diungkapkan hanya mata mereka yang mengalirkan air mata keharuan.

Seperti halnya para anggota keluarga Dinasti Yadu, para warga Brindavan juga mempunyai pikiran yang terfokus kepada Sri Krishna. Mereka sudah lepas dari keterikatan dunia dan setiap tindakan mereka hanya merupakan persembahan kepada Sri Krishna.