Kepolosan dalam Pemilihan Kaisar Pengganti #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 16, 2018 by triwidodo

Ada sebuah kisah di Timur Jauh, seorang kaisar bijak yang sudah tua memilih siapa yang akan menjadi penggantinya. Dia tidak memilih anak-anak atau salah satu menterinya, tapi memilih sendiri dari semua anak muda yang berada di kerajaannya.

Kaisar berkata, “Aku akan memberikan kalian masing-masing satu butir benih yang istimewa. Silakan kalian menanam, menyirami, dan kembali tepat satu tahun setelah hari ini dan saya akan memilih dan menilai tanaman, dan yang saya pilih akan menjadi kaisar pengganti saya.”

Seorang anak laki-laki bernama Ling, seperti yang lain menerima benih. Dia pulang dan berkata dengan penuh semangat kepada ibunya. Sang ibu membantu membawakan pot dan Ling menanam benih pada tanah subur yang diletakkan dalam pot. Setiap hari Ling menyirami dan melihat perkembangan dari biji yang ditanam.

Setelah 3 minggu, beberapa pemuda lainnya mulai berbicara dengan teman-teman lainnya mengenai benih mereka yang mulai tumbuh.

Ling terus mengamati benihnya, tetapi tidak ada yang tumbuh. Tiga minggu, empat minggu, lima minggu berlalu, masih tidak ada perkembangan apa-apa. Pada saat itu, yang lain sedang berbicara tentang tanaman mereka, tetapi Ling tidak memiliki tanaman dan dia merasa seperti gagal. Enam bulan berlalu – masih tidak ada tanaman pada pot Ling.

Ling baru tahu mungkin dia telah membunuh benihnya, karena semua orang memiliki pohon dan tanaman tinggi, sedangkan dia tidak memiliki apa-apa. Ling tidak mengatakan apa pun kepada teman-temannya. Dia terus menunggu benihnya tumbuh. Setahun akhirnya berlalu dan semua pemuda membawa tanaman mereka ke kaisar untuk dinilai. Ibunda Ling memintanya untuk jujur ​​tentang apa yang terjadi.

Ling merasa mual di perutnya, tetapi dia tahu ibunya benar. Dia mengambil pot kosongnya dan membawa ke istana. Ketika Ling tiba, dia kagum pada berbagai tanaman yang ditanam oleh para pemuda lainnya. Mereka cantik, subur – dalam segala bentuk dan ukuran. Ling meletakkan pot kosongnya di lantai dan banyak anak-anak lain menertawakannya. Beberapa merasa kasihan kepadanya.

Ketika kaisar tiba, dia mengamati ruangan dan menyambut para pemuda. Ling hanya berusaha menundukkan mukanya. Kaisar berkata, “Wah, tanaman yang subur, pohon, dan bunga apa yang telah Anda tanam. Hari ini salah satu dari kalian akan ditunjuk sebagai kaisar berikutnya!”

Tiba-tiba, kaisar melihat Ling dengan pot kosongnya. Dia memerintahkan pengawalnya untuk membawanya ke depan. Ling ketakutan. Dia berpikir, “Kaisar tahu saya gagal! Mungkin dia akan menghukum saya! ”

Ketika Ling sampai ke depan, Kaisar menanyakan namanya. “Paduka, nama saya Ling,” jawabnya. Semua anak-anak tertawa dan mengolok-oloknya. Kaisar meminta semua pemuda untuk tenang. Dia menatap Ling, dan kemudian mengumumkan kepada orang banyak, “Lihatlah kaisar baru Anda! Namanya Ling! ”

Ling tidak percaya. Ling bahkan tidak bisa menumbuhkan benihnya. Bagaimana dia bisa menjadi kaisar baru?

Kemudian kaisar berkata, “Satu tahun yang lalu, saya memberi semua orang di sini benih. Saya mengatakan kepada kalian untuk mengambil benih, menanam, menyiraminya, dan membawanya kembali kepada saya hari ini. Tapi saya memberi kalian semua biji rebus yang tidak akan tumbuh. Kalian semua, kecuali Ling, telah membawa kepadaku pohon, tanaman, dan bunga. Ketika kalian menemukan bahwa benih itu tidak akan tumbuh, kalian mengganti benih lain dengan benih yang saya berikan. Ling adalah satu-satunya yang memiliki keberanian dan kejujuran untuk membawa kepadaku sebuah pot dengan benihku di dalamnya. Karena itu, dia adalah orang yang akan menjadi kaisar baru! ”

Semua pemuda penuh ego, menutupi ketidakberhasilan mereka, sedangkan Ling jujur, polos, tulus.

Arjuna jujur mengenai kelemahannya kepada Sri Krishna

Arjuna beda. Ia tulus, jujur, “Tunjukkan jalan padaku, aku bingung. Aku sudah kehilangan arah. Jalan mana yang mesti kutempuh. Bimbinglah diriku.”

Kejujuran inilah yang membedakannya dari kita. Seringkali kita pun sangat dekat dengan Krsna. Tetapi, kita tidak memperoleh manfaat apa pun dari kedekatan kita. Kenapa? Karena kita menyumpal telinga kita dengan kapas ego. Kepala kita pun enggan menunduk sehingga tidak terjadi apa-apa dengan diri kita. Krsna melewati kita, diri kita tidak tersentuh oleh-Nya. Penjelasan Bhagavad Gita 2:7 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Yesus Menggunakan Perumpamaan Anak Kecil yang Polos dan Jujur

Yesus menggunakan keadaan generik untuk menjelaskan maksud-Nya, “Kembali menjadi seperti seorang anak kecil.” Seorang anak kecil tidak hanya ceria saja, ia juga lugu, polos, jujur, tidak berpura-pura, dan tampil apa adanya dalam segala kesahajaannya, sebagaimana adanya. Itu adalah keadaan awal kita, ketika pikiran belum cukup terbentuk dan emosi belum cukup berkembang. Keadaan itu bukan satuan pikiran atau thought; bukan gugusan pikiran, atau mind; bukan intelek, atau intellect; dan bukan pula emosi atau emotion.

Karena tidak ada kata untuk menjelaskan keadaan ini dalam bahasa Aramaik maka Yesus menjelaskannya dengan menggunakan analogi keadaan seorang anak kecil. Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “tatha”. “Tatha”, Berarti….“Thus”, atau “Such” – seperti itulah!. Ya, seperti itulah arti “Tatha” – “Seperti Itulah!” Singkatan dari “Yatha-Bhuta”, yang juga bisa diartikan “As It Is”, atau  sebagaimana adanya”. “Tatha” adalah keadaan awal setiap manusia.

Kemudian, apakah kita diharapkan menjadi “kekanak-kanakan”? Tidak. Yesus tidak mengatakan kita “menjadi anak kecil lagi”, tetapi “kembali seperti seorang anak kecil” – like a little child! “Kembali seperti seorang anak kecil”, berarti, “tetap dewasa, tapi dengan kepolosan, kesahajaan, dan terutama keceriaan seorang anak kecil.” Oleh sebab itu, seorang yang telah terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi disebut “Tathagata”-”ia yang telah mencapai keadaan itu”.

Menjadi “seperti seorang anak kecil” berarti menjadi seorang Tathagata. Polos, tapi tidak bodoh. Bersahaja, tapi tidak naif. Lembut, tapi tidak lemah. Sopan, tapi menjaga diri, “supaya tidak dimakan orang juga”.  Ketika Buddha ditanya seperti apakah ciri-ciri seorang Tathagata la menjelaskan: “Tak terjelaskan” (“Vajracchedika Prajnaparamita Sutra” atau “Diamond Sutra”). Namun, Buddha menjelaskan cara untuk mencapai keadaan itu, yakni dengan membebaskan diri dari keterikatan pada kebendaan yang senantiasa berubah terus. Dan, menyadari hal itu, menyadari bahwa “perubahan adalah sifar dasar benda”. Jika kita terikat dengan salah satu wujud, ketika wujud itu berubah menjadi sesuatu yang lain, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka.

Kendaraan baru kita ditabrak, berubah bentuk menjadi rongsokan, kita kecewa dan berduka. Rumah mewah kita terbakar, berubah bentuk menjadi abu dan puing-puing, kita kecewa dan berduka. Orang yang kita sayangi meninggal, badan berubah bentuk menjadi jasad, jasad menjadi abu, atau kembali ke tanah, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka.

Adakah Kemungkinan Kita Bisa Bebas dari Keterikatan? Ada. Jika kita bisa mengakses “keadaan awal seperti itu” – tatha. Ada kemungkinan, jika kita bisa berada dalam keadaan itu – tathagata. Ya, ada kemungkinan. Jika kita bisa menjadi “seperti seoarang anak kecil”. Analogi Yesus sungguh sangat indah, dan mudah untuk dipahami. Awam yang sedang mendengar wejangan-Nya tidak perlu memutar otak tujuh keliling untuk memahami maksud-Nya. Ketika seorang anak kecil kehilangan mainannya, apakah ia menangis hingga berhari-hari? Menangis sebentar, setelah itu ia “lupa”. Ya, sudah. Hilang, ya hilang. Tapi, apa yang terjadi ketika kita kehilangan sesuatu, ketika kita kehilangan seorang yang kita cintai?

“Ah, jangan membandingkan orang dengan mainan!” kata kawanku. Tidak, kawan. Tidak, sobat. Perbandingan itu sesungguhnya tidak penting, yang penting adalah “rasa kehilangan”. Seorang anak kecil “kehilangan” sesuatu, dan kita pun “kehilangan” sesuatu, bagai¬mana sikap dia dan bagaimana sikap kita? Seorang anak balita yang kehilangan ibunya juga tidak akan merasakan seperti apa yang kita rasakan jika kehilangan seorang yang kita cintai. Kehilangan tetaplah kehilangan.  Lalu, apa yang membedakan seorang anak kecil yang kehilangan dan kita yang kehilangan?

Adakah yang membedakan kita, yang sudah dewasa, dari anak kecil yang jelas masih kecil? Adalah “keterikatan” yang membedakan. Seorang anak kecil masih belum “terlalu” terikat. Orang dewasa, sudah “terlanjur” sangat terikat. Kemudian, apa yang terjadi jika seorang dewasa “kembali menjadi seperti seorang anak kecil”? Apakah ia menjadi seperti anak kecil “yang belum terlalu terikat itu”? Tidak, hidup ini tidak mengenal langkah balik. Tidak bisa regresi, itu akan menafikan hukum alam akan evolusi dan kemajuan. Hidup bersifat progresif. Seorang dewasa yang “kembali menjadi seperti seorang anak kecil” melampaui keterikatannya. la tidak melangkah balik, tapi melangkah maju.

Supaya kita ingat, Yesus hanya menggunakan “seperti seorang anak kecil” sebagai analogi, perumpamaan. Sebab itu, la menggunakan kata “seperti anak kecil” – childlike, bukan childish atau kekanak-kanakan. Adakah yang membedakan kedua keadaan itu? Adakah yang membedakan keadaan “seorang anak kecil yang masih belum terlalu terikat” dari keadaan “seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan, kembali menjadi seperti seorang anak kecil atau yang disebut Tathagata”? Jawabanya: ya, ada. Seorang anak kecil yang belum terikat bersikap cuek, indifferent. Sebaliknya, seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan tidak cuek. la tidak indifferent. la tidak meninggalkan masyarakat untuk menyepi di tengah hutan, dan menghabiskan sisa umurnya di sana. Justru sebaliknya, ia menjadi sangat peduli terhadap keadaan dunia. la melayani dunia dengan penuh semangat dan keceriaan, dan tanpa mementingkan keuntungan pribadi. la menjadi pelayan dunia yang sangat istimewa. la menjadi Mesias, ia menjadi Buddha! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Peta, Pemandu dan Kesiapan Diri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 15, 2018 by triwidodo

Anthony de Mello menceritakan tentang Penjelajah yang pulang ke kampung halamannya. Penduduk ingin tahu segala sesuatu tentang sungai Amazone. Tetapi bagaimana mungkin mengungkapkan dalam kata-kata perasaan yang memenuhi hatinya, ketika ia melihat bunga-bunga begitu indah memukau dan mendengar seribu satu suara penghuni rimba di waktu malam? Bagaimana menjelaskan perasaan hatinya, ketika menghadapi binatang buas atau ketika mendayung perahu kecilnya melewati arus sungai yang sangat berbahaya?

Ia berkata, “Pergi dan temukanlah sendiri! Tidak ada yang dapat menggantikan pertaruhan nyawa dan pengalaman pribadi.” Namun sebagai pedoman bagi mereka, ia menggambarkan peta sungai Amazone.

Mereka berpegang pada peta itu. Peta itu dibingkai dan diletakkan di kantor kotapraja. Mereka masing-masing menyalin peta itu. Dan setiap orang yang mempunyai peta, menganggap dirinya seorang ahli tentang sungai Amazone. Sebab, bukankah ia tahu setiap kelokan dan pusaran sungai, berapa lebar dan dalamnya, di mana air mengalir deras dan di mana terdapat air terjun?

Penjelajah itu selama hidupnya menyesalkan peta yang telah dibuatnya. Mungkin lebih baik jika dulu dia tidak menggambarkan apa-apa.

Katanya Buddha tidak pernah mau dipancing untuk berbicara tentang Tuhan. Rupanya ia menyadari bahaya-bahaya menggambar peta bagi para cendekiawan di masa mendatang………………… Dikutip dari buku (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Peta, Pemandu dan Kesiapan Diri dalam Bhagavad Gita

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), terbebaskan dari ketiga pintu neraka ini, seseorang yang berupaya untuk meraih keselamatan, niscaya meraihnya; bahkan mencapai Kesadaran Jiwa, yang adalah Keadaan Tertinggi atau Param Gati. ” Bhagavad Gita 16:22

Hindarilah terlebih dahulu, ketiga pintu neraka tersebut – setelah itu, keselamatan, kesadaran-diri, keadaan tertinggi, kebahagiaan sejati – semuanya menyusul dengan sendiri.

(Ketiga Pintu Neraka dalam Bhagavad Gita 16:21 adalah tritunggal keinginan, amarah dan keserakahan. Dari ketiganya ini rnuncullah sejumlah anak seperti; kebohongan, rasa iri, cemburu, cuek, benci, dan lainnya).

BANYAK PENCARI GAGAL dalam upaya mereka, karena mereka mencari, mengejar keselamatan sebelum melakukan pembenahan dan pembersihan diri.

Sebelum mengarungi lautan kehidupan, persiapkanlah diri kita. Pertama, kita mesti bisa berenang atau memiliki perahu, entah kita mendayungnya sendiri atau ikut seorang nakhoda menjadi penumpang kapal besar.

Kedua, kita pun mesti tahu tujuan kita apa, mau ke mana. Mengarungi samudra kehidupan untuk apa? Ketiga, apakah kita punya kompas? Tahu arah? Semuanya itu penting. Tanpa persiapan yang matang, kita tak akan berhasil mengarungi samudra kehidupan.

 

“Tidak mengindahkan pedoman-pedoman yang diberikan dalam susastra, seseorang yang bertindak atas kemauan nafsunya, tidak pernah mencapai kesempurnaan diri, tidakpernah mencapai tujuannya, dan tidak pernah meraih kebahagiaan sejati.” Bhagavad Gita 16:23

Mengikuti petunjuk susastra — kitab-kitab yang disucikan karena kesucian isinya – berarti, betul-betul mengindahkan apa yang dianjurkan dan melakoninya. Kemudian, barulah kitab-kitab tersebut dapat memandu kita mengarungi samudra kehidupan.

JADI, BUKAN ASAL MENGIKUTI KITAB APA SAJA, tetapi mengikuti kitab-kitab yang mengandung petuah-petuah suci; ajaran-ajaran mulia; anjuran-anjuran yang berguna.

Kita membutuhkan peta dalam perjalanan ini.

Kita juga butuh pemandu. Kitab suci adalah peta. Seorang Sadguru adalah pemandu. Namun, kita masih tetap mesti berjalan sendiri. Kita tidak akan pemah mencapai tujuan hidup jika hanya sibuk memuja kitab suci atau memuji Pemandu. Peta bukanlah untuk dipuja, tapi untuk dijadikan pedoman dalam perjalanan. Dan Pemandu untuk diikuti nasihatnya.

Kesempurnaan atau kesadaran diri, pencerahan, tujuan hidup, kebahagiaan sejati – semuanya adalah sifat-sifat ketuhanan, kemuliaan yang dapat diraih dengan cara meniti jalan ke dalam diri.

Perjalanan ini mesti dilakukan sendiri oleh setiap orang. Tidak bisa diwakilkan.

Peta bukanlah untuk diletakkan di atas altar dan diberi sesajen. Pemandu bukan untuk diagung-agungkan saja. Semua itu hanyalah sarana. Gunakan mereka sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup!

 

“Sebab itu, gunakan anjuran susastra sebagai pedoman bagi perbuatanmu; apa yang mesti kau lakukan, dan apa yang mesti kau hindari. Demikian, dengan panduan susastra, berkaryalah di dunia ini.” Bhagavad Gita 16:24

Bagi Krsna, kitab suci mesti berfungsi sebagai susastra. Kesucian suatu kitab tergantung pada apakah ia bisa menjadi “sastra” atau alat yang “su” – baik, tepat. Susastra atau Susastra, berarti, alat yang baik. Alat yang dapat digunakan untuk memfasilitasi hidup kita di dunia ini.

KESUCIAN KITAB dari sudut pandang Bhagavad Gita sepenuhnya tergantung pada isi kitab tersebut. Apakah masih relevan, masih dapat diaplikasikan — ini penting. Pengertian tentang kitab suci seperti ini mesti dihayati, supaya pesan Krsna menjadi jelas. Ia tidak menasihati kita untuk mengikuti segala sesuatu dengan menggunakan kaca mata kuda, atau secara membabi buta.

Tulisan-tulisan yang menebarkan kebencian, permusuhan; menciptakan ego kelompok dan eksklusivisme; membenarkan diskriminasi, dan sebagainya — hendaknya dipelajari sebagai sejarah dan dipetik hikmahnya. Tulisan-tulisan seperti itu tidak dapat dijadikan pedoman untuk setiap zaman. Manusia bukanlah lahir untuk membenci. Ia lahir untuk mencintai.

MENGIKUTI PETUNJUK SUSASTRA atau kitab suci, berarti, menerjermahkan kesucian dalam keseharian hidup. Mengikuti petunjuk susastra, berarti mengubah diri kita menjadi susastra – alat yang baik di tangan Tuhan.

Jadilah alat-Nya. Kenalilah sifat wahana badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan yang selama ini kita salah anggap sebagai diri kita.

Dengan menjadi alat-Nya, kita tersadarkan bila sesungguhnya yang bekerja adalah Jiwa.

Dan, adalah Jiwa Agung yang menghidupi Jiwa Individu. Keberadaan kita adalah semata karena Ia berkenan untuk menggunakan kita sebagai alat-Nya untuk bermain-main di alam raya ini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Membeli Benih bukan Memperoleh Sukses Instan #BhagavadGita Indonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 14, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang wanita yang pergi ke World Mart, dan dilayani oleh Tuhan yang mewujud sebagai Penjaga Counter. Selama ini wanita itu menginginkan kedamaian dunia dan kedamaian hati tetapi hanya memperoleh frustasi dari kesemrawutan dunia. Saat dia masuk ke dalam toko, dia melihat dapat melihat Tuhan yang mewujud sebagai Penjaga Counter.

Wanita itu berkata, “Apakah Anda seorang suci yang bisa dikatakan mewakili Tuhan? Apakah Anda juga bekerja di sini?”

Penjaga Counter itu menjawab, “Iya, aku pelayan Tuhan, akulah pemilik toko ini! Anda ingin membeli apa?”

Wanita itu menjawab masih bingung dan kemudian disarankan Sang Penjaga Counter untuk melihat model barang-barang yang dipajang di lorong dan juga daftar barang yang tersedia.”

Wanita itu melihat model-model barang di lorong sepanjang gang: ada model Kedamaian di Bumi; Tidak ada Perang lagi; Tidak ada Kelaparan atau Kemiskinan; Kedamaian dalam Keluarga, Tidak ada lagi obat-obatan; Harmoni; Udara Bersih, Penggunaan Sumber Daya secara hati-hati dan lain-lain.

Wanita itu menulis semua barang yang akan dibelinya. Pada saat dia kembali ke counter, dia memiliki daftar panjang. Sang Penjaga Counter mengambil daftar itu, membolak-baliknya, mendongak dan tersenyum, “Tidak masalah.” Kemudian dia membungkuk di belakang meja dan mengambil segala macam barang, dalam bentuk paket dan meletakkan paket-paket itu di atas counter.

Wanita itu bertanya, “Apa ini?”

Sang Penjaga Counter menjawab, “Paket benih. Ini adalah Toko Katalog.”

Wanita itu  berkata,” Maksud Anda saya tidak bisa mendapatkan produk jadi?”

“Tidak, ini adalah tempat impian. Anda datang dan melihat seperti apa bentuk keinginan Anda, dan saya memberi Anda benih. Anda sendiri yang menanam biji, merawat dan mengembangkannya?

Tuhan hanya memberikan benih, bukan produk sudah jadi……………

Dalam simbol Tantra ada bintang segi enam atau bintang Daud. Segitiga dengan puncak di atas merupakan simbol api yang selalu mengarah ke atas, simbol upaya kita untuk memperoleh hasil. Sedangkan segitiga dengan puncak di bawah merupakan simbol air, yang selalu mengarah ke bawah. Hanya dengan upaya yang keras, baru turun berkah dari atas ke bawah. Tanpa upaya tidak ada berkah yang diperoleh.

Tuhan tidak memberikan kesempurnaan secara instan, tetapi memberi benih yang harus kita rawat dan kembangkan. Mengharapkan kesempurnaan secara instan dari siapa pun atau apa pun tidak realistis. Kita adalah simfoni yang belum selesai, hidup dalam kisah alam semesta yang belum selesai dan tak pernah selesai. Yang bisa kita lakukan adalah setiap hari menggunakan cinta, perhatian, kebaikan, keramahan dan kesiapan untuk perubahan dan pertumbuhan yang konstan dan berkelanjutan.

Semua Mesti Kita Hadapi Sendiri

Tiada seorang pun yang dapat membantumu… Hanyalah engkau sendiri yang dapat membantu diri! Pencerahan pun adalah hasil upaya sendiri, yang kemudian mengundang berkah. Ya, peran anugerah, berkah, grace memang ada. Tidak bisa dinafikan. Tapi turunnya berkah karena upaya. Upaya adalah yang mengundang berkah.

Tidak ada penyelamat yang menyelamatkan diri kita. Seorang Sadguru atau Pemandu Rohani sejati pun tidak bisa melakukan perjalanan mewakili kita. Kita mesti berjalan sendiri.

Krsna pun hanya menunjukkan jalan, menjelaskan tantangan dalam perjalanan. Tapi semua itu mesti kita hadapi sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 4:36 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Sang Jiwa Agung Pemberi Benih

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti, dalam perwujudan setiap makhluk, jenis apa pun, alam benda atau Prakrti berperan sebagai Rahim Agung yang mengandung. Dan, Aku adalah Ayah yang memberikan benih.” Bhagavad Gita 14:4

……………

DEMIKIAN, SETIAP ANAK YANG LAHIR MEWARISI SIFAT, Informasi, dan Potensi yang terdapat dalam benih. Tidak pula berarti benih seorang pembunuh “sudah pasti” melahirkan seorang pembunuh. Tidak. Jangan lupa, anak yang lahir tidak hanya rnewarisi salah satu sifat dari benih ayahnya –misalnya, kecenderungan untuk membunuh. Ia juga mewarisi segala informasi yang lain. Ia pun mewarisi potensi-potensi yang tidak terbatas. Sebab itu pendidikan yang tepat dan baik dapat menggali dan memunculkan potensi terbaik.

Kembali pada Sang Jiwa Agung sebagai pemberi benih. Sifat utama Sang Jiwa Agung adalah sebagai Saksi, sebagai Hyang sedang menikmati pertunjukan dan tidak terpengaruh oleh adegan mana pun. Inilah potensi Jiwa-Individu, potensi diri kita semua, yang masih mesti dikembangkan, jika kita ingin menikmati pertunjukan dunia.

ADANYA PANDAVA DAN KAURAVA Dl ANTARA KITA – sebagaimana telah, dan masih akan dijelaskan secara panjang lebar, adalah karena ketertarikan indra kita dengan sifat-sifat kebendaan tertentu. Benih Jiwa Agung tidak dapat disalahkan untuk itu. Adalah ketertarikan indra dan keterikatannya yang mesti diurusi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Murshid Yakin Dengan Gen Dalam Diri Sang Murid

Seperti seorang anak nelayan yang baru pertama kali berenang di laut, kemahiran berenang sudah ada di dalam gen dia. Sang anak telah mewarisinya dari kedua orang tuanya, namun kemahiran itu masih berupa potensi yang terpendam; seperti benih yang masih berupa biji, belum ditanam. Ia masih harus menanamnya, dan menanamnya sendiri. Sang ayah bangga melihat anaknya terjun ke dalam laut tanpa bantuan. Ia meneriaki anaknya dari jauh saat menghadapi ombak besar… bagaimana ia harus merenggangkan otot-ototnya, and just let go! Ia tidak ikut terjun, karena ia yakin akan kemampuan anaknya. Anak itu adalah perluasan dari jiwanya; jiwa seorang nelayan. Ia membiarkan anaknya terombang-ambing, karena ia yakin bahwa anaknya tidak akan tenggelam. Ia juga mempercayai kemampuannya sendiri, dengan instingnya sebagai nelayan. Bila anak itu sudah mulai tenggelam dan tidak mampu membantu dirinya, sang ayah akan mengetahuinya dan akan langsung terjun ke laut untuk menyelamatkannya. Seperti sang nelayan itulah Sadguru, Guru Sejati, Master, Murshid! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para Mesias Menularkan Virus Kesadaran sebagai Benih dalam Jiwa Kita

Para avatar, para mesias, para buddha tidak “jatuh seperti Anda. Mereka “turun” dengan penuh kesadaran. Karena itu, wajah mereka berkilau cemerlang. Karena itu, berada dekat seorang avatar saja sudah cukup. Anda akan ketularan virus kesadaran. Virus kesadaran yang ditularkan oleh seorang avatar ibarat benih yang ia tanam dalam jiwa Anda. Anda masih harus menyiram dan memupukinya. Jika tidak, biji itu tidak akan tumbuh sehat. Anda harus mempersiapkan lahan diri, sehingga biji kesadaran bisa tumbuh subur. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengikuti Pikiran Kita atau Petunjuk-Nya? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 13, 2018 by triwidodo

Seorang pendaki gunung berencana tidur di puncak gunung. Malam sudah tiba saat dia hampir mencapai puncak. Tiba-tiba di tergelincir dan jatuh ke udara dengan kecepatan yang tinggi. Tidak ada yang dapat dilihatnya, semuanya gelap tapi dia tahu ada kemungkinan dia akan jatuh dan kemungkinan meninggal.

Pada saat kritis tersebut, dia ingat semua episode kehidupannya yang baik maupun buruk. Sampai tiba-tiba dia merasa tali yang diikat ke pinggangnya menariknya dengan sangat keras. Dia tahu sekarang dia dalam keadaan menggantung di udara.

Dia tidak dapat melihat apa-apa selain memperkirakan hanya tali yang menahannya. Dia berteriak, “Tuhan, tolong saya.”

Tiba-tiba dia mendengar suara yang datang dari langit, “Kau ingin bantuan apa?”

Pria tersebut menjawab, “Selamatkan saya ya Tuhan.”

Kemudian datang suara lagi, “Apakah kau benar-benar berpikir, Aku dapat menyelamatkan dirimu!”

Pria itu menjawab, “Tentu saja saya percaya Tuhan dapat menyelamatkan saya.”

Kemudian terdengar suara lagi, “Potong tali yang diikat ke pinggangmu!”

Suasana menjadi hening, terjadi pergolakan pikiran dalam diri pria itu. Dan pria itu memutuskan dia mengikuti pikirannya tidak memotong tali yang mengikat pinggangnya, dia bertahan menggantung. Dia tidak mau mengikuti petunjuk-Nya, meragukan-Nya, bagaimana saya bisa selamat dengan memotong tali yang diikat di ikat pinggang. Tidak masuk akal!

Keesokan harinya Tim Penyelamat melaporkan bahwa sang pendaki ditemukan tewas membeku, tubuhnya tergantung pada tali dan tangannya memegang tali dengan erat. Dia hanya berjarak satu meter dari tanah.

Demikian juga kita, berkali-kali dalam kehidupan kita kita mencari petunjuk kebenaran. Dan akhirnya dalam kehidupan ini, pada saat yang kritis, kita menemukan pemandu yang akan memberi petunjuk kita untuk menjalani Kebenaran. Akan tetapi mendengar apa yang diucapkannya, kita menjadi ragu dan kita memilih memakai pikiran kita sendiri. Padahal dalam beberapa kehidupan, menemukan Kebenaran dengan Pikiran kita sendiri tidak pernah berhasil dan kita mati dan lahir kembali berulang-ulang.

Belajar Otodidak atau lewat Petunjuk Pemandu

Dalam ilmu dunia mungkin kita bisa belajar secara otodidak, tetapi dalam spiritual, kebanyakan kita tidak tahu apa yang terjadi di sana. Hanya seorang pemandu yang telah ke sana yang bisa memandu kita……………

“Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu”.

“Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.”

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kebenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu. Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah. Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Bertemu dengan Murshid

Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan bahwa: “Jalan Spiritual, dan Penunjuk Jalan yang kita peroleh dalam hidup ini adalah “hasil” dari pencarian kita sendiri. Selama entah berapa abad, berapa lama, berapa masa kehidupan, jiwa mencari terus. Akhirnya ia memperoleh apa yang dicarinya. Dan, jiwa sadar sesadar-sadarnya bila apa yang diperolehnya itu adalah hasil pencariannya. Ketika kita berhadapan dengan seorang murshid kita tidak pernah ragu. Kita langsung ‘jatuh hati’.”

“Keraguan muncul ketika ia mulai memandu. Karena panduannya tidak sejalan dgn pola pikir kita yang lama. Inilah yg dimaksud dalam salah  satu ayat suci, “Setelah datang seorang pemberi peringatan, mereka (malah) lari (menjauhi).”

“Kesalahan seperti ini telah kita lakukan dari zaman ke zaman. Apakah kita tidak diberi tanda-tanda yang tegas tentang sang pemberi peringatan? Apakah kita tidak merasakan kehangatan persahabatan kita dengannya? Kita diberi tanda-tanda yang jelas, kita melihat, kita merasakan. Tapi, pikiran tidak menerima, ‘itu tanda-tanda yang salah, keliru. Itu bukanlah perasaanmu yang sebenarnya. Kejarlah perasaanmu yang sebenarnya.’ Pikiran justru menciptakan ‘rasa palsu’, emosi buatannya sendiri, untuk menjauhkan kita dari rasa segala rasa, sirr un sirr. Kita lupa akan rasa itu, bhavana itu, dan terbawa oleh napsu, emosi rendahan untuk kembali mengejar bayang-bayang.”

 

Kehadiran Seorang Pemandu dalam Bhagavad Gita

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu.

Selain itu, juga dibutuhkan suasana asram (ashram), padepokan tempat kita bisa berinteraksi dengan support group yang terdiri dari orang-orang sehati, para pencari kebenaran.

Ashram adalah transit point antara alam ini, dunia ini dan alam roh, spirit, dunia sana. Namun, ada dunia lain di luar ashram, yang sisa-sianya ada juga di ashram, sebagai residu; kotoran, debu dan pasir di bawah sandal kita sendiri yang terbawa ke ashram. Ego kita, kepicikan kita, iri hati dan kecemburuan kita, pun cinta monyet, ketertarikan semu, keterikatan, dan sebagainya – inilah debu dan kotoran yang dimaksud. Sebab itu, idealnya ketika memasuki ashram, kita melepaskan alas kaki ego, mind, dan meninggalkan sampah-sampah itu diluar. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Pikiran yang Menentukan mau ikut Kereta Murshid atau Menikmati Keindahan Peron Stasiun

Bapak Anand Krishna menyampaikan. Sedemikian kuatnya pikiran kita. Tidak mau disalahkan. Pikiran kita menciptakan ilusi, “ini ujian Tuhan, ini permainan Murshid”. Padahal turun dari kereta adalah  kemauan pikiran. Kemudian jalan-jalan di setasiun pun keinginan dia. Kenikmatan yang diperolehnya adalah perasaan buatannya juga yang masih memiliki sarang di otak kita. Petunjuk sudah jelas sekali bahwa Allah tidak bertanggungjawab atas seluruh kejadian itu. Kita sendiri yang bertanggungjawab. Betul, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang dalam pengertian duniawi. Bedanya hanya satu ada yang minum teh di dalam kereta dan sedang menuju tujuan. Ada yang minum teh di Peron Stasiun. Dua-duanya sedang menikmati teh. Bahkan yang ada di Peron malah tampak sangat aktif. Mundar-mandir, belanja, jalan-jalan. Yang berada di dalam kereta tampak tidak berbuat apa-apa, padahal ia sedang lari dengan kecepatan kereta. Ia telah berserah diri pada Sang Pengemudi kereta itu. Setiap detik dalam hidup mereka bersyukur, wahai Gurudev, Murshid, Beloved Krishna, saya mendapatkan tempat di dalam kereta-Mu. Doa mereka hanya satu, berilah kita kekuatan untuk tidak tergoda oleh tawaran-tawaran para pedagang di setiap setasiun. Mereka menghendaki aku turun untuk belanja. Mereka merayuku, “ah keretanya masih nunggu lama, turun dulu, makan dulu, nanti naik lagi…………”

Berpikir Jernih Sebelum Bertindak #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , , on April 12, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Socrates dari Yunani Kuno (469-399 SM) adalah seorang bijak. Pada suatu hari seorang kenalan menghampiri Sang Filsuf Agung tersebut dan berkata, “Socrates, apakah Anda tahu apa yang baru saja saya dengar tentang salah satu siswa Anda?”

“Tunggu sebentar,” jawab Socrates. “Sebelum Anda memberi tahu saya, saya ingin bertanya tentang 3 hal, anggaplah sebagai 3 buah test.”

Socrates melanjutkan. “Sebelum Anda berbicara dengan saya tentang siswa saya, luangkan waktu sejenak untuk menguji apa yang akan Anda katakan. Test pertama adalah Kebenaran. Sudahkah Anda benar-benar yakin bahwa apa yang akan Anda ceritakan kepada saya itu benar?”

Pria itu menjawab, “Tidak, sebenarnya saya baru saja mendengarnya.”

“Baiklah,” kata Socrates. “Jadi Anda tidak benar-benar tahu apakah itu benar atau tidak. Sekarang test kedua, ujian Kebaikan. Apa yang akan Anda ceritakan tentang murid saya sesuatu yang baik?”

Pria itu menjawab, “Tidak, sebaliknya…….. ”

“Jadi,” Socrates melanjutkan, “Anda ingin mengatakan sesuatu yang buruk tentang murid saya meskipun kamu tidak yakin itu benar?” Pria itu mengangkat bahu, sedikit malu.

Socrates melanjutkan, “Anda masih bisa lulus, karena ada test ketiga — filter kegunaan. Apakah yang ingin Anda katakan pada saya tentang murid saya akan berguna bagi saya?”

Pria itu menjawab, “Tidak, tidak juga……. ”

“Yah,” Socrates menyimpulkan, “Jika apa yang ingin Anda katakan pada saya itu belum tentu Benar atau belum tentu Baik dan bahkan Tidak Berguna, mengapa harus mengatakannya pada saya?”

Ini adalah 3 test bagi kita semua: Sudahkah kita berpikir jernih sebelum bertindak?

Test pertama adalah Kebenaran. Sudahkah Anda benar-benar yakin bahwa apa yang akan Anda ceritakan kepada seseorang itu benar?”

Test kedua, ujian Kebaikan. Apa yang akan Anda ceritakan kepada seseorang itu sesuatu yang baik?”

Test ketiga — filter kegunaan. Apakah yang ingin Anda katakan kepada seseorang akan berguna baginya?”

Kejernihan Pikiran

“Kejernihan Intelektual” bukan sekedar intelek. Seorang intelektual bisa menjadi penipu ulung. Banyak pula para pembunuh berdarah dingin bergelar yang tidak tersentuh hukum. Mereka pun kaum intelek.

Intelektual yang jernih adalah intelektual yang murni, yang tidak pernah bersiasat dan berkonspirasi untuk menjatuhkan orang lain. Kejernihan intelektual seperti itulah yang dimaksud oleh Swami Kriyananda.

Para resi selalu mengaitkan kejernihan intelektual dengan pengendalian emosi dan pikiran. Tanpa pengendalian emosi dan pikiran, kejernihan intelektual adalah mustahil. Mereka menerjemahkan kejernihan intelektual sebagai kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan tidak tepat; antara yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan; antara shreya yang membawa berkah dan preya yang hanya memuaskan indera. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sri Krishna batu timbangannya adalah nurani, perasaan terdalam, mana yang mulia mana yang tidak?

 

Memuliakan atau Menyenangkan Belaka?

Krsna menggunakan istilah Sreya, yang berarti “Lebih Mulia” – bukan lebih baik, atau di atas yang lain. Dengan menggunakan istilah sreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatandengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan sreya dan preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan, dalam konteks lebih baik dan kurang baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak.

Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, terlebih dahulu raihlah pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan dan mana yang tidak.

Berarti, jangan “asal berkarya” – jangan asal “berbuat”. Jangan asal “makan”. Jangan asal “hidup”. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh, bagi lingkungan, bagi masyarakat.

Di anak tangga berikutnya adalah Meditasi – Senantiasa menyadari kesadaraan Ilahi di dalam diri, inilah Meditasi. Pemusatan kesadaran pada Ilahi, itulah Meditasi. Meditasi, berarti hidup berkesadaran. Melakoni hidup secara meditatif.

Jadi, apa yang dijelaskan Krsna dalam ayat ini adalah langkah-langkah progresif. Setiap langkah mengantar kita pada langkah berikut yang lebih mulia dan memuliakan.

Pengetahuan sejati pun tidak berarti apa-apa jika tidak dihayati. Bukan sekadar “tahu”, tetapi menghayati pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa “dihidupi”, akan menjadi basi, tidak berguna.

“Hayat” dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti “hidup”. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah meditasi yang sebenarnya. Inilah meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… Dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada “laku” – ya, kembali pada laku. Tapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

“Laku” di anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakakan; laku yang meditatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan segala atribut tambahan tersebut, laku di anak tangga tersebut sudah bukan laku biasa.

Tidak seperti laku di anak tangga awal. Laku di anak tangga ini adalah laku seorang panembah, laku dengan semangat manembah. Dan, bukanlah sekedar itu, laku di anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna “renunciation” atau “tyaga”.

Berati, bukan sekadar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dimuliakan. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Pikiran dan Nurani yang Jernih diperoleh dalam  keadaan Relaksasi

DALAM KEADAAN RELAKS—dalam hal ini berkat Yoga-Asana—ketika fisik mengalami relaksasi, maka otak yang juga bagian dari fisik ikut mengalami relaksasi.

Bayangkan pelayan di rumah sedang relaks, tidur, sementara Anda—suami-istri—sedang berantem. Adakah pelayan terganggu oleh keributan yang terjadi? Tidak. Demikian, saat itu mind yang sedang bertengkar, tiba-tiba blank! Sebab, tanpa bantuan otak, ia tidak dapat berekspresi. Pertengkaran “terputus” secara abruptly, tiba-tiba. Inilah keadaan yang dimaksudkan oleh Patanjali untuk secara perlahan, tapi pasti, mengubah mind menjadi buddhi atau inteligensi.

Dualitas pikiran dan perasaan mind bisa diubah menjadi daya buddhi atau inteligensi untuk memilah antara sreya dan preya, sesuatu yang mulia dan menunjang agenda Jiwa dan sesuatu yang sekadar nikmat bagi indra. Proses ini terjadi secara alami ketika kita mengalami relaksasi “hasil” Yoga-Asana, dan setelah mengikuti tahapan-tahapan sesuai dengan petunjuk Patanjali. Penjelasan Patanjali II.48 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ego Membawa Turun ke Bumi #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 11, 2018 by triwidodo

Anthony de Mello bercerita tentang seorang wanita tua meninggal dan dibawa ke Tempat Penghakiman oleh para malaikat. Ketika diperiksa catatannya, Hakim tidak dapat menemukan satu tindakan amal kebaikan yang dilakukan olehnya kecuali untuk wortel yang pernah diberikan kepada pengemis yang kelaparan.

Namun demikian, kekuatan cinta dari pemberian wortel  itu membuat wanita itu diangkat ke surga dengan kekuatan wortel itu. Wortel tersebut diberikan pada wanita itu. Saat dia memegangnya, wortel itu mulai naik seolah ditarik oleh tali tak terlihat, mengangkatnya ke arah langit.

Seorang pengemis muncul. Dia mencengkeram ujung pakaian wanita itu dan diangkat bersamanya; orang ketiga menangkap kaki pengemis itu dan diangkat juga. Segera ada antrean panjang orang yang diangkat ke surga oleh wortel itu. Dan, anehnya, wanita itu tidak merasakan beban semua orang yang memegangnya; sebenarnya, karena dia melihat ke surga, dia tidak melihat mereka yang tergantung pada dirinya..

Mereka semua naik sangat tingggi sampai hampir mendekati gerbang surgawi. Saat itulah wanita itu menoleh ke belakang untuk terakhir melihat bumi secara sekilas. Dan dia melihat seluruh orang yang yang bergelantungan di belakangnya.

Wanita itu marah! Dia memberikan gelombang perasaan yang angkuh dan berteriak, “Matilah kalian semua! Wortel ini milikku!”

Gelombang perasaan angkuhnya, membuat dia terlepas pegangannya kepada wortel dan wanita itu jatuh semua dengan seluruh orang-orang yang bergelantungan kepadanya……….

Kasih berupaya menyelamatkan wanita itu, tetapi ego wanita itu membuat gravitasi bekerja kembali.

Kasih yang tulus terkait dengan Dharma, lepas dari keterikatan, tidak terpengaruh gravitasi. Akan tetapi semua yang berkaitan dengan ego terkait dengan keterikatan dengan gravitasi.

Kalachakra, ego, tergantung ruang dan waktu; Dharmachakra, melampaui ego, ruang dan waktu:

Para Bijak Meninggalkan Kalachakra Berputar dalam Dharmachakra

Umumnya, kita berputar bersama Kalachakra Roda Sang Kala, Waktu. Dialah pengendali hidup kita. Keberadaan kita tergantung padanya, pada waktu dan ruang. Para bijak, mereka yang sudah memperoleh pencerahan dan melampaui Kalachakra, berputar bersama Dharmachakra, Yang Melampaui Waktu, Wujud, Ruang, Pikiran, Perasaan dan segala bentuk kegiatan. Seperti apa putaran mereka tak dapat dijelaskan, karena penjelasan hanya dapat diberikan dalam konteks waktu dan ruang. Pun mereka bebas dari segala macam dosa, tak tercemarkan, karena sampah waktu (Kalachakra)tak dapat menyentuh mereka.

Berada dalam Kalachakra, setiap orang berputar demi dirinya. Hukum Karma, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi masih mengikat dirinya. Berada dalam Dharmachakra, manusia tidak lagi berputar demi dirinya. Hukum Karma sudah tidak mengikat dirinya. Ia berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri.

Bumi kita berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Untung, ia tidak berputar demi kita, demi manusia. Kita menganiayanya, kita melecehkannya, kita memperkosanya, tetapi ia tidak berhenti berputar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Ego membuat keterikatan; Jiwa tidak terikat:

Keterikatan atau Ketidakterikatan Tergantung Identifikasi Kita

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam semesta.

TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng. Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Ego membuat kita terkena pengaruh gravitasi dan lahir kembali; Melampaui ego lepas dari gravitasi:

Mind yang Banyak Keinginan Tetap Berada di Bumi

Saat kematian fisik, mind yang masih utuh karena banyak keinginan, memori dan sebagainya akan tetap berada dalam lingkup gravitasi bumi. Kemudian lahir kembali tanpa kesadaran. Bila keinginan dan memori mulai berkurang, mind yang telah musnah fisiknya itu “dapat” meninggalkan gravitasi bumi. Biasanya beristirahat sejenak di planet bulan, bulan kita, bulan yang anda lihat setiap malam. Kadang bisa juga di salah satu planet lain, tapi masih dalam galaksi kita. Mind penuh obsesi dan memori terbebani oleh obsesi dan memori itu sendiri dan tidak bisa bepergian jauh. Ia tidak cukup ringan untuk menembus galaksi Bima Sakti, apalagi menggapai Yang Tertinggi “Itu”.

Untuk bereinkarnasi di dunia ini, mind “turun” bersama air hujan, petir atau rembulan. Mereka yang mati secara alami dan harus mengalami jatuh-bangun berulang kali, biasanya jatuh bersarna air hujan. Inilah kelahiran yang paling sering, paling umum.

Mereka yang mati karena kecelakaan, dan perang, terbunuh, atau karena dihukum mati, turun bersama petir. Mereka tidak rela mati, karena itu ingin cepat-cepat turun. Dalam kehidupan berikutnya, mereka mcenjadi sangat restless. Ingin cepat-cepat jadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan, dan dapat menghalalkan segala cara untuk itu. Ada rasa takut dalam diri yang tidak mereka sadari: “Jangan-jangan tali hidupku terputus di tengah jalan lagi.” Mereka pun dibutuhkan dunia. Perkembangan teknologi dan kemajuan yang terjadi dalam lima puluh tahun terakhir disebabkan oleh sekian banyak manusia yang mati semasa Perang Dunia Pertama dan Kedua. Makin banyak orang terbunuh dalam perang, semakin berkembang teknologi kita, termasuk teknologi destruktif yang dapat menghancurkan dunia ini.

Perkernbangan dan kemajuan di segala bidang biasanya disebabkan oleh mereka yang mati tak ikhlas, kemudian lahir kembali. Mereka memiliki sense of urgency yang luar biasa, seolah sedang berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, menolak perang juga berarti menolak kemajuan teknologi liar seperti yang terjadi saat ini.

Tanpa dua kali perang dunia, hari ini kita sudah pasti belum memiliki peralatan perang yang super canggih. Pada saat yang sama, teknologi seluler untuk telepon genggam pun pasti belum ada. Kita baru akan mengenal teknologi secanggih itu sekitar akhir abad ini. Perkembangan di bidang sains, kemajuan teknologi dan sebagainya akan berjalan pelan, tapi dunia kita jauh lebih tenteram.

Kembali pada proses kelahiran dan kematian…..

Terakhir: Jiwa-jiwa yang turun bersama rembulan. Mereka datang untuk berbagi pengalaman, berbagi ketenteraman. Mereka sadar akan peran mereka. Itulah terakhir kalinya mereka turun untuk memberkati dunia kita. Setelah itu mereka tidak perlu turun lagi, kecuali atas kehendak mereka sendiri… lagi-lagi untuk tugas-tugas tertentu. Tugas yang sebenarnya bukan tugas. Mereka datang karena kasih mereka terhadap kita. Mereka datang untuk menyadarkan kita.

Lewat air hujan, petir, maupun rembulan —Jiwa-jiwa yang turun kemudian berinteraksi dengan elemen-elemen alami dan berevolusi cepat dari satu wujud ke wujud yang lain. Dari tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah dan buah-buahan hingga sperma dan ovum. Penemuan antara dua terakhir itu akhirnya menciptakan kehidupan baru.

Kehidupan ada di mana-mana, semua ini hidup. Bila anda kaitkan Kehidupan dengan Tuhan, Ia pun berada di mana-mana. Namun manusia selalu mengaitkan Tuhan dengan “atas” —“Yang Di Atas”, “Father in Heaven”…. Kenapa? Karena jiwa manusia memang “turun dari atas”. Turun dari atas untuk kembali naik ke atas… “Atas” itulah yang dianggap sebagai “asalnya”. Kemudian, asal-usul itu dikaitkannya dengan Tuhan.

 

Manusia naik-turun, lahir-mati sekian kali hingga pada suatu ketika tidak perlu naik-turun lagi, tidak perlu lahir dan mati lagi. Pada saat itu ia menyatu dengan semesta…. Atas-bawah, kanan-kiri, utara-selatan memiliki makna karena kaitannya dengan ruang dan waktu. Bila ruang dan waktu terlampaui sudah, arah dan jarak pun akan kehilangan makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sufi Shams Sahabat Rumi #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on April 10, 2018 by triwidodo

Sufi Shams dari Tabriz, “sahabat” Rumi menceritakan kisah tentang dirinya:

Saya telah dianggap tidak pantas sejak masa kecil saya. Sepertinya tidak ada yang mengerti saya. Ayah saya sendiri pernah berkata kepada saya, “Kau tidak cukup gila untuk ditempatkan di sebuah rumah sakit jiwa, dan tidak cukup tertarik untuk ditempatkan di sebuah biara. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan denganmu.”

Saya menjawab, “Telur bebek diletakkan di bawah induk ayam untuk dierami. Ketika telur bebek menetas anak itik berjalan sekitar induk ayam sampai mereka datang ke kolam. Anak itik langsung masuk ke air. Induk ayam terus ribut berkotek mencemaskan anak itik  dari darat. Sekarang, ayahanda tersayang, saya telah masuk ke samudra dan menemukan rumah saya di dalamnya. Ayahanda tidak dapat menyalahkan saya jika Ayahanda memilih untuk tetap berada di pantai.”

Dikisahkan oleh Anthony de Mello.

Apakah Anda hidup sesuai dengan panggilan Jiwa Anda, panggilan terdalam Anda?

Apakah Anda hidup sesuai dengan potensi Anda?

Atau memilih menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja?

 

Sufi Shams dari Tabriz diibaratkan seorang putra mahkota Kerajaan Ilahi yang dibesarkan oleh gerombolan perampok dunia. Kini dia telah sadar bahwa jatidiri dia adalah putra mahkota dari Kerajaan Ilahi.

Putra Mahkota Kerajaan Ilahi yang Dibesarkan Perampok Dunia

Seorang anak raja, putra mahkota hilang, diculik sewaktu kecil. Ia dibesarkan oleh gerombolan perampok. Ia seorang Pangeran, namun tidak mengetahui hal itu, tidak menyadari hal itu, karena terlalu lama berada di tengah-tengah para perampok. Ia lupa akan Kebenaran Dirinya. sekarang ia menjadi seorang maling, ia merampok kerajaannya sendiri, negaranya sendiri.

Jangan bicara soal moralitas, jangan bicara soal kejahatan dan kebajikan, jangan buang waktu. Buatlah dia sadar akan jati dirinya. Biarlah ia sadar bahwa ia putra mahkota, bahwasanya ia tidak perlu mencuri sesuatu.segala sesuatu memang milik dia. Dan dia pun langsung  berhenti mencuri. Ubah pandangan dia menghadapi kehidupan ini.

…………

Kesadaran Diri, bagi Kṛṣṇa, tidak kurang, tidak lebih adalah menyadari diri sebagai Jiwa Abadi. Inilah pencerahan. Seorang yang tercerahkan sadar bahwa “Diri”-nya hanyalah percikan dari Hyang Ilahi. Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Jiwa Agung. Hanya kesadaran seperti ini yang dapat membuat kita puas batin, seimbang, bahagia. Penjelasan Bhagavad Gita 2:59 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Sufi Shams telah menyadari keilahian dan kemuliaan dirinya:

Menyadari Keilahian dan Kemuliaan Manusia 

Ingat bahwa Keilahian, Kemuliaan adalah Kebenaran Sejati Manusia. Dan Keilahian ini tidak bisa diperjualbelikan; tidak bisa ditimbun sebagaimana mereka menimbun harta benda. Yang kaya telah melupakan Keilahian dirinya, Kemuliaan dirinya dan mengikat diri dengan kekayaannya. Begitu pula dengan yang muda. Ia melepaskannya demi kenikmatan dan kesenangan sesaat. Anda tidak bisa membeli “keilahian” ataupun “kemuliaan”. Bahkan anda tidak perlu membelinya, karena “keilahian” itulah kebenaran diri anda, karena “kemuliaan” itulah jatidiri anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Keilahian Sifat Dasar Allah yang Diberikan kepada kita

Sebagaimana kebinatangan adalah sifat dasar binatang dan kemanusiaan adalah sifat dasar manusia, begitu pula “Keilahian” adalah Sifat Dasar Allah. “Kemuliaan” adalah Sifat Dasar “Ia Yang Maha Mulia”. Dan itu pula yang Ia berikan kepada Anda. Sebelum orang tua memberikan nama dan menempelkan “cap agama”, Tuhan sudah membekali anda dengan “keilahian”, “kemuliaan”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Sufi Shams telah menyadari Kehadiran-Nya:

Lebih Gampang Menyembah daripada Bekerja Keras Kehadiran-Nya

Krsna melihat kita semua sebagai perwujudan Ilahi. Tiada sesuatu di luar keilahian. Kita memisahkan Gusti Pangeran dan keilahian diri dari hidup kita, “Gusti Pangeran jauh di atas sana, kita di bawah sini.”

 Pemahaman seperti ini muncul dari kengganan kita untuk bekerja keras untuk memanifestasikan keilahian dan kemuliaan-Nya lewat hidup kita masing-masing.

LEBIH GAMPANG MEMUJA, menyembah, dan bersujud pada Gusti Pangeran yang jauh ada-Nya, daripada bekerja keras untuk menyadari kehadiran-Nya di sekitar kita, di dalam diri kita, sekaligus meliputi seluruh jagad raya.

Makin “pinter”-nya kita, makin cerdik dan licik pula mind atau gugusan pikiran dan perasaan kita. Sesungguhnya apa yang kita sebut “kepintaran” tidak jarang adalah sinonim, kata lain bagi kelicikan dan kecerdikan.

Unsur malas di dalam diri kita mendorong kita untuk memercayai dan menerima apa saja yang gampang. Itulah sebabnya kita telah menjadi generasi instan. Makanan siap-saji menjadi penting di negara-negara yang lahannya tidak sesubur kita. Mereka mesti mengawetkan makanan. Pabrik-pabrik pengalengan cocok bagi mereka.

Kita tidak membutuhkan makanan yang sudah diawetkan. Tidak perlu makanan siap-saji. Tapi, tetap saja meniru mereka, karena sudah terlanjur malas. Teh hangat saja sudah siap-saji. Berupa teh celup. Daun teh yang dimasak bersam air sudah menjadi sesuatu yang kuno, buang waktu, tidak efisien.

DI TENGAH BUDAYA SEPERTI INI, di tengah tradisi siap-saji seperti ini — siapa yang mau bekerja keras untuk mengungkapkan nilai-nilai kemuliaan dan keilahian-Nya di dalam diri?

Lebih gampang pergi ke tempat ibadah, sembahyang sebentar, masukan uang ke dalam kotak dana, dan jalan-jalan ke mall. Bahkan, para penyaji Tuhan pun sudah mengetahui hal itu, dan untuk mempermudah pertemuan kita dengan Tuhan sekaligus agenda jalan-jalan kita, maka tempat ibadah pun dipindahkan ke mall.

Bagi Mall-Generation, generasi-mall, Tuhan siap-saji adalah mudah. Dogma dan doktrin, “Boleh ini, tidak boleh itu” menjadi sangat efisien. Mengenal diri dan menyadari hakikat diri sebagai percikan Jiwa Agung butuh kerja keras. Tapi, tanpa yang terakhir ini, tidak ada pula kebahagiaan sejati. Toko-toko Kepercayaan di mall hanya menciptakan dan menjual halusinasi, “kesan kenikmatan”, itu pun untuk sesaat saja. Penjelasan Bhagavad Gita 10:2 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia