Kisah Pencuri Mangkuk Emas #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 1, 2017 by triwidodo

Apa yang diperoleh hari ini merupakan hasil apa yang diperbuat kemarin

Jernihkan pikiranmu, berpuaslah dengan apa saja yang kau peroleh sebagai hasil dari perbuatanmu. Apa yang kau peroleh hari ini merupakan hasil dari apa yang kau buat kemarin. Dan, apa yang akan kau peroleh besok adalah hasil dari apa yang kau buat hari ini. Oleh karena itu, “Berpuaslah dengan apa saja yang kau peroleh”. Karena apa yang kau peroleh hari ini hanyalah “akibat”; “sebab”-nya adalah perbuatanmu kemarin. Mau banting-tulang seperti apa pun juga, kau tidak dapat memperbaiki perolehanmu hari ini. Kejar-mengejar seperti apa pun, kau tidak dapat meningkatkan penghasilanmu hari ini. Terimalah akibat dari sebab yang sudah berlalu. Dan, bila besok kau menginginkan akaibat yang lebih baik, pastikan bahwa perbuatanmu hari ini “cukup baik”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hidup saat ini dipengaruhi tindakan di banyak episode kehidupan masa lalu

Hukum Sebab-Akibat dan Reinkarnasi menjelaskan: “Setiap orang yang menderita adalah karena ulahnya sendiri, karena perbuatannya sendiri. Jika tidak dalam hidup ini, seperti seorang bayi yang lahir cacat, maka dalam kehidupan sebelumnya. Jadi hidup ini, masa kehidupan yang sedang kita jalani saat ini, tidak berdiri sendiri. Masa hidup kini hanyalah salah satu episode dari serial panjang kehidupan. Jika kita melihat satu episode saja, maka tidak dapat memahami jalur ceritanya. Mesti melihat kehidupan secara utuh.” Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

 

Kisah Pencuri Mangkuk Emas

Seseorang yang iri atas keberhasilan orang lain, walau satu profesi dengan kemampuan setara adalah kurang tepat. Dia hanya melihat satu episode kehidupan saja. Bila ada seorang pencuri yang sadar dan kemudian hidup mulia, tidak bisa dilihat dari hanya satu episode kehidupan saat ini saja, karena kita tidak tahu kehidupan dia di episode sebelumnya.

Seorang guru bercerita tentang dua orang pencuri yang bersahabat. Sebagaimana terjadi dalam kehidupan, persahabatan dan kecemburuan (rasa iri) selalu berjalan bersama. Mereka selalu berlomba, membandingkan hasil perolehan mereka.

Pada suatu saat sehabis masing-masing melakukan pencurian, keduanya bertemu dan saling menunjukkan hasil curian. Pencuri pertama memperlihatkan gelang curiannya yang terbuat dari emas, sedangkan pencuri kedua menunjukkan mangkuk emas murni yang sangat mahal harganya.

Timbullah rasa iri pencuri pertama dan mulai menelisik di mana pencuri kedua memperoleh mangkuk emas tersebut. Pencuri pertama bertanya di mana temannya bisa memperoleh mangkuk emas tersebut, dan dijawab bahwa dia memperolehnya dari rumah seorang pertapa.

Pencuri pertama tidak percaya, bagaimana mungkin seorang pertapa memiliki mangkuk emas di rumahnya. Pencuri kedua menjawab, ada kemungkinan salah seorang pengembara belajar kepada sang pertapa dan kemudian memberikan hadiah mangkuk emas kepada sang pertapa dengan meletakkannya di dalam rumahnya. Mungkin si pengembara tersebut tahu bahwa sang pertapa tidak mau menerima hadiah mangkuk tersebut dari emas, sehingga dia meletakkan di dalam rumah sang pertapa, karena sudah berjanji dalam hati memberikan hadiah yang setimpal.

Pencuri pertama semakin iri atas keberuntungan temannya dan mulai menjalankan siasat, agar pencuri kedua tidak memiliki mangkuk emas tersebut. Pencuri pertama berkata bahwa dia telah insyaf, perbuatan mencuri itu tidak baik. Dan, dia akan mengembalikan semua hasil curiannya kepada para pemilik barang yang dicurinya, kecuali tentu saja barang curian yang telah dijual untuk hidup sehari-hari. Setelah itu dia akan mulai hidup baru dengan berbuat kebaikan dan tidak mencuri lagi. Dengan fasihnya pencuri pertama meyakinkan pencuri kedua dan memanas-manasi hatinya, bahwa kali ini pencuri kedua tidak akan dapat menandingi perbuatannya.

Sang pencuri kedua terjebak muslihat temannya dan bertanya, kapan sang pencuri pertama akan mengembalikan hasil curiannya, dan dijawab besok pagi. Sang pencuri kedua tidak mau kalah dan berkata bahwa dia akan mengambalikan hasil curiannya saat ini juga. Demikian sang pencuri pertama bergembira, jebakannya telah mengena.

Pencuri kedua segera mendatangi sang pertapa dan mengatakan bahwa temannya akan berhenti menjadi pencuri dan mengembalikan semua hasil curiannya. Sang pertapa mengatakan bahwa tindakan demikian itu hal bagus. Selanjutnya Pencuri Kedua menyerahkan mangkuk emas kepada sang pertapa dan mengaku bahwa itu diambil dari rumah sang pertapa. Sang pertapa tidak merasa memilikinya, karena baginya sama saja mangkuk emas atau tanah liat. Kemudian sang pertapa berkata, “Karena engkau membutuhkannya, maka ambillah dan saya akan meditasi dan berdoa untukmu agar engkau memperoleh berkah!”

Sang pencuri kedua kemudian menjual mangkuk emas tersebut dan digunakannya sebagai modal membuka warung. Keuntungannya digunakan untuk kegiatan sosial dan membantu masyarakat miskin agar tidak menjadi pencuri………

Hikmah kisah:

Jangan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Mungkin kemampuan kita setara, tetapi harus diingat bahwa kesetaraan itu terjadi pada satu episode kehidupan masa kini. Mengapa nasib orang berbeda? Karena masing-masing orang mempunyai perhitungan akumulasi debit-kredit perbuatan yang berbeda dalam banyak episode sebelumnya. Akumulasi karma baik tersebut membuat seseorang  bertemu dengan seorang pemandu yang akan mengubah kehidupannya. Lakukan karma baik mulai saat ini juga!

 

Keberuntungan bagi mereka yang lahir dengan sifat bawaan daivi

Mereka yang lahir dengan kecenderungan, karakter, atau sifat bawaan, sifat dasar Daivi atau Mulia adalah, yang telah menjalani masa kehidupan sebelumnya dalam Kesadaran Ilahi. Atau, setidaknya sudah berada dalam “proses” untuk mencapai Kesadaran Ilahi. Mungkin, saat itu mereka hampir mencapainya — sementara kendaraan badan sudah tidak menunjang perjalanan selanjutnya. Jiwa meninggalkan kendaraan tersebut dan menggunakan kendaraan badan yang baru.

Kelahiran demikian adalah sebuah “berkah”, dalam pengertian ada balance-carried forward berupa hikmah sebagai hasil pencapaian dari masa kehidupan sebelumnya — sekarang tinggal dilanjutkan. Penjelasan Bhagavad Gita 16:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Ada kalanya, seorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi pun “lupa” akan sifat bawaannya. Ini bisa disebabkan oleh pendidikan, pengaruh lingkungan, atau berbagai faktor lain. Termasuk, pengalaman-pengalaman dahsyat dalam kehidupan ini, yang membuatnya lupa-ingatan sementara. Arjuna adalah korban lupa ingatan atau amnesia sementara. Pengalaman tinggal dalam pengasingan selama belasan tahun dan saat ini menghadapi perang dahsyat — semuanya membingungkan Arjuna, sehingga ia lupa, lupa akan hakikat jati dirinya. Namun, amnesia macam ini tidak pemah bertahan lama.

Alam kebendaan tidak mampu memperbudak seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi. Seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi, tidak selamanya menderita amnesia, atau lupa-ingatan tentang hakikat dirinya.

Sebab itu, pertemuan dengan seorang Krsna, seorang Sadguru atau Pemandu Rohani, adalah berkah Ilahi. Hujan berkah ini turun bagi mereka semua yang siap untuk menerimanya. Dan Jiwa terguyur oleh siraman rohani yang dapat membantunya bangkit dari tidur panjang. Apa yang sebelumnya terlupakan, teringat kembali. Apa yang sebelumnya tertutup, terbuka kembali. Apa yang sebelumnya gelap, menjadi terang-benderang. Penjelasan Bhagavad Gita 16:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

3 Petunjuk tentang Membaca Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 29, 2017 by triwidodo

 

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda: “Wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), dengarkanlah sabda mulia ini sekali lagi, yang Ku-sampaikan karena kasih-Ku padamu, dan demi kebaikanmu sendiri.” Bhagavad Gita 10:1

Kesimpulan pertama yang muncul: “Kalau begitu Krsna pilih kasih, hanya sayang sama Arjuna, maka, ia menjelaskannya kepada Arjuna.”

Kita lupa bahwa kita semua yang sedang membaca tulisan ini adalah “Priyamanaya” – yang dikasihi-Nya. Setiap orang yang membaca Gita, entah terjemahan siapa pun, penjelasan siapa pun – adalah seseorang yang dikasihi-Nya. Seseorang yang layak untuk menerima bingkisan kasih-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Berikut 3 petunjuk tentang membaca Bhagavad Gita:

 

  1. Membaca dengan penuh keyakinan

“Barang siapa mendengarkan ajaran ini dengan penuh keyakinan dan tanpa celaan; niscaya meraih kebebasan mutlak dan kebahagiaan sejati yang diraih para bijak yang berbuat mulia.” Bhagavad Gita 18:71

Barangkali kita tidak menghayati ajaran ini, kita belum sepenuhnya memahami — tapi kita tetap mendengarkan dengan penuh perhatian dan keyakinan. “Aku belum paham, tapi aku tahu bila ajaran ini adalah baik untukku” – maka, dengan keyakinan seperti itu saja, kita sudah bisa terbebaskan dari kebodohan ilusif yang menyebabkan kesalahan, kekhilafan, dan sebagainya.

KITA AKAN DIPERTEMUKAN DENGAN MEREKA yang dapat membantu dalam hal penemuan jati diri. Bisa dalam kehidupan ini, bisa dalam kehidupan berikutnya — cepat atau lambat, tergantung pada daya-upaya kita, keseriusan kita, kesungguhan kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

 

  1. Mempelajari dan self study Bhagavad Gita sebagai persembahan

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku Iewat panembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) — demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70

Bagi Krsna, menghaturkan sesajen tidaklah mesti dalam bentuk bunga, air, dupa, dan sebagainya. Sembahyang tidak harus dalain bentuk ritus tertentu. Persembahan juga bisa dalam bentuk studi. Mempelajari sesuatu yang mernbantu Kesadaran Jiwa, adalah persembahan yang sudah pasti paling “digemari” oleh Jiwa.

Ritus-ritus lain tidak ditolak-Nya — inilah keunikan Krsna. Ia tidak menolak sesuatu – Ia memberi pilihan. Selanjutnya terserah kita.

JNANA YAJNA – Persembahan, Devosi, Panembahan dalam bentuk Berbagi Pengetahuan Sejati. Berbagi Pengetahuan tentang Hakikat-Diri.

Inilah “Bentuk” panembahan yang masih mesti dikembangkan di Indonesia. Di setiap wilayah Nusantara. Silakan melakoni ritus-ritus lain, memang penting bagi kita yang masih belum tenang pikirannya; kita yang emosinya masih bergejolak. Ritus-ritus penting untuk itu.

Tapi, jangan lupa kebutuhan inteligensia, buddhi. Jangan lupa pula kebutuhan Jiwa, Jivatma — yang senantiasa rnenginginkan kemanunggalan dengan Sumber-Nya, Sang Jiwa Agung, Paramatma. Untuk itu, Jnana Yajna adalah satu-satunya solusi.

JNANA YAJNA BERARTI, menjadi sadar dan berbagi kesadaran. Menjadi ceria karena peraihan pengetahuan sejati tentang hakikat diri dan berbagi keceriaan.

Caranya adalah dengan membentuk kelompok-kelompok studi. Jumlah peserta yang ideal adalah antara 7-9 hingga 21 orang. Janganlah menyakralkan angka. Kebetulan saja angka-angka itu signifikan bagi saya. Adalah “sekitar” jumlah itu yang saya maksudkan.

Kelompok-kelompok studi seperti itu bisa bertemu seminggu sekali, atau minimum 2 minggu sekali. Lebih jarang dari itu tidak akan membantu. Jarak yang terlampau jauh antar pertemuan tidak efektif.

Namun, sesuatu yang lebih penting lagi ialah: Self-Study — Swa Studi. Biasakan diri untuk membaca 1 ayat, 1 bab, atau seberapa saja — setiap hari. Ini akan memberi kita energi untuk berbagi. Tanpa adanya energi di dalam diri kita sendiri, apa yang akan kita bagikan?

Sisihkan waktu setiap hari, lebih baik setiap pagi — entah 5 menit atau 15 menit, tergantung pada alokasi waktu yang kita berikan bagi Self-Study. Lagi-lagi anjuran saya adalah, minimal 5 menit; tentu tidak ada maksimal.

Tapi, ya, ada saran untuk waktu yang ideal, yaitu di atas 20 menit, 2l menit pun boleh. Sebab, penelitian-penelitian di bidang neuroscience menunjukkan bahwa otak manusia baru me-register, merekam sesuatu secara permanen, setelah mendalaminya selama lebih dari 20 menit.

Jadilah Pelaku Jnana Yajna mulai saat ini juga dan raihlah Kasih-Nya. Kita semua bisa! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Melakoni dalam kehidupan sehari-hari

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), demikian telah Ku-sampaikan ajaran esoteris ini; dengan menghayatinya, seseorang menjadi bijak. Ia menyelesaikan tugas-kewajibannya dengan baik, dan meraih kesempurnaan-diri.” Bhagavad Gita 15:20

Pertama: Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh dari buku-buku – termasuk buku ini, ya, termasuk Bhagavad Glta, entah versi pemahaman kita saat ini, atau pemahaman siapa pun.

Ajaran yang disampaikan lewat Bhagavad Gita — lewat Madah Agung ini — hanyalah bermanfaat jika dihayati. Berarti, dijalani, dilakoni, dihidupi. Penghayatan itu, laku itu yang membuat kita menjadi bijak. Hanya membaca Bhagavad Gita, menghafalnya, atau hanya sekadar memahaminya saja tidak cukup. Ini jelas. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Guru Nanak Mengunjungi Desa Baik dan Desa Jahat #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 27, 2017 by triwidodo

Mereka yang Selaras dengan Hukum Alam  dan Mereka yang Merusak Alam

“Ketahuilah bahwa Karma (yang selaras dengan hukum-hukum alam) adalah sesuai dengan Kehendak Ilahi, Brahman yang Kekal Abadi. Maka sesungguhnya, Ia Hyang Meliputi segala-galanya ada juga dalam Yajna, Persembahan atau Karya tanpa Pamrih dengan semangat Manembah.” Bhagavad Gita 3:15

Tiada sesuatu di luar-Nya. Ia meliputi segala-galanya. Maka, persembahan yang kita lakukan dalam bentuk pelestarian alam dan sebagainya adalah bagian dari kehendak-Nya!

Demikian, berkarya sesuai dengan kehendak-nya – kita menyelaraskan diri dengan-Nya. Kita lebih maju menuju, mendekati istana-Nya. Kita makin dekat dengan takdir kita, yaitu menemukan kesejatian diri kita, kebenaran hakiki kita, sebagai percikan Ilahi.

Barangkali Anda bertanya, “Bagaimana dengan mereka yang merusak alam, tidak berkarya dengan hukum-hukum alam yang adalah selaras dengan kehendak-Nya? Apakah semua itu terjadi di luar-Nya? Apakah Ia tidak meliputinya? Kemudian siapakah yang meliputi mereka yang batil, jahat, merusak?”

Krsna sudah menjelaskan sebelumnya, mereka adalah pencuri – Mereka memilih untuk hidup di permukaan. Mereka pun diliputi-Nya. Mereka pun berada di dalam-Nya. Tapi, atas kemauan mereka sendiri, mereka tidak berada dekat pusat kesadaran. Mereka hidup di pinggiran. Mereka tidak merasakan kehadiran-Nya, karena ulah mereka sendiri.

Mereka menganggap hidup mereka pribadi adalah segala-galanya dan yang terpenting. Mereka hidup dalam anggapan bahwa diri mereka bisa eksis tanpa berkah-Nya. Mereka sepenuhnya dikendalikan oleh badan dan indra. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Guru Nanak dan 2 Muridnya Mengunjungi 2 Desa

Seorang Guru bercerita tentang Guru Nanak dan 2 orang muridnya yang sedang melakukan perjalanan. Mereka sampai kepada sebuah desa yang penduduknya saleh, sangat baik, ramah dan murah hati. Guru Nanak dan kedua muridnya berbahagia melihat keadaan desa tersebut. Guru Nanak berkata kepada muridnya, semoga desa tesebut musnah dan tidak ada lagi di permukaan bumi.

kedua murid bingung dan salah seorang murid bertanya kepada sang guru bukankah desa yang demikian sangat indah, mengapa sang guru tega mengatakan hal demikian? Guru Nanak tidak menjawab melainkan mengajak kedua muridnya untuk meneruskan perjalanan dulu.

Sampailah mereka ke desa lain yang penduduknya jahat, culas, nampak di mana-mana terjadi pertengkaran dan mereka yang bertengkar saling ngotot merasa paling benar. Guru Nanak berkata kepada kedua muridnya bahwa dia mengharapkan desa ini bisa menjadi makmur.

Kedua muridnya semakin bingung dan kembali salah seorang murid mempertanyakan mengapa desa dengan penduduk yang jahat yang sudah selayaknya dimusnahkan, tapi sang guru justru mengharapkan desa tersebut menjadi makmur?

Guru Nanak mengajak kedua muridnya beristirahat di bawah pohon dan menjelaskan dasar pandangan beliau.

“Renungkan! Desa pertama berisi penduduk yang saleh dan sangat baik. Apabila desa tersebut dimusnahkan, maka para penduduknya akan menyebar ke desa-desa lain di sekitarnya. Setiap penduduk dari desa yang baik tersebut akan menyebarkan virus kebaikan mereka ke desa-desa yang didatanginya. Sungguh sangat sayang bila “benih-benih yogurt” dari baskom yang baik itu tidak dimanfaatkan. Biarlah mereka pergi dan setiap tetes dari mereka akan mengubah susu biasa di baskom lain menjadi yogurt.”

“Di desa kedua, yang penduduknya jahat, bila desa tersebut makmur, maka seluruh penduduknya tidak akan pergi dari desa tersebut. Biarlah para penduduk yang jahat ‘dikarantina’ oleh kemakmuran mereka sehingga tidak berbagi kejahatan mereka ke desa lain.”

“Marilah kita mengkarantina kejahatan dan keculasan dalam diri kita dan berbagi kemuliaan dan kebaikan dari diri kita!”

 

Berbagi Kebaikan dan Menjadi Bagian dari Pesta Raya Kehidupan

“Demikian, roda kehidupan berputar terus, dengan makhluk-makhluk hidup saling menghidupi dan berbagi. Seseorang yang tidak melakukan hal itu Partha (Putra Prtha –sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) dan hidup untuk memenuhi nafsu-indranya saja, sesungguhnya hidup dalam kesia-siaan.” Bhagavad Gita 3:16

Berbagi berarti menjadi bagian dari Kehidupan Agung. Menjadi bagian dari Pesta Raya Kehidupan. Sungguh merugilah orang yang datang ke pesta, tapi duduk bengong di pojok.

Atau seperti seorang pedagang yang datang ke pasar untuk berbelanja, tapi tidak jadi. Ia malah menunggu di luar pasar sambil berulang-ulang menghitung uang di kantongnya dan berpikir terus, tidak bisa menentukan  mau beli apa untuk dijual kembali.

Jadilah bagian dari Pesta Raya Kehidupan, jadilah pedagang yang cerdas dan bijak. Berkaryalah dengan semangat manembah. Hidup dan saling menghidupi! Nikmatilahkeberadaan kita di dunia ini. Persinggahan  kita di sini hanyalah untuk sesaat saja, manfaatkan setiap saat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

5 Tahapan dari Karma Biasa menuju Karma Yoga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 26, 2017 by triwidodo

Setiap Perbuatan pasti memiliki Konsekuensi, kecuali berbuat dengan semangat manembah

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehingga, kita semua tidak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita rnasing-masing, kecuali….

Dan “kecuali” ini adalah “kecuali yang membebaskan kita dari segala konsekuensi”, yakni……… berbuat dengan semangat manembah – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Berikut 5 tahap perubahan dari karma biasa ke karma yoga, perbuatan tanpa konsekuensi:

  1. Setiap orang senantiasa terdorong untuk berbuat sesuatu

“Tak seorang pun bisa hidup tanpa berbuat sesuatu. Setiap orang senantiasa terdorong  untuk berbuat berdasarkan sifat dan kodrat alaminya.” Bhagavad Gita 3:5

Badan manusia adalah bagian dari alam semesta, terbuat dari elemen-elemen alami. Lewat badan kita dan badan makhluk-makhluk  lainnya, alam benda hendak mengungkapkan keberadaannya. Maka, tiada kemungkinan bahwa badan yang  terbuat dari materi kebendaan ini bisa duduk diam, tanpa berbuat sesuatu. Kita semua, seolah tidak berdaya untuk senantiasa bekerja, bertindak, berbuat. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Memahami Hakikat Karma dan Akarma, berbuat dan tidak berbuat

“Apa hakikat karma atau perbuatan, dan apa pula hakikat akarma atau tidak berbuat. Hal ini telah membingungkan banyak orang, sekalipun sudah berpengetahuan. Sebab itu, akan Ku-jelaskan padamu tentang hakikat karma. Pengetahuan hakiki ini dapat membebaskan dirimu dari segala akibat tidak baik, tidak mulia, dari perbuatanmu.” Bhagavad Gita 4:16

Bingungnya Arjuna karena banyak hal. Ada rasa takut ada kecemasan untuk menghadapi para kesatria “tua” — kakek Bhisma, dan Guru Drona yang mengajarkan senl perang kepadanya. Ada juga kebingungan yang ditampilkannya sebagai isu moral. Tepatkah ia membunuh seorang kakek, seorang guru?

KRSNA MENJAWAB ISU MORAL INI… Menghadapi para tua, apakah seorang pemuda mesti mengalah, tidak berbuat yang bisa disebut akarma? Atau bagaimana? Berbuat apa? Bertindak dengan cara apa? Ber-karma dengan cara apa?

 

“Hendaknya searang mengetahui kebenaran tentang karma, perbuatan; tentang akarma, tidak berbuat, dan, tentang vikarma, perbuatan jahat yang menyengsarakan, dan mesti dihindari. Memang sungguh sulit memahami kinerja karma, rahasia karma.” Bhagavad Gita 4:17

Sungguh sulit, tapi tidak mustahil. Rahasia, tapi masih bisa terungkap jika kita mau tahu tentangnya.

Kapan mesti berbuat – Kapan tidak berbuat, dan kapan menghindari perbuatan-perbuatan yang tercela dan hanya menyengsarakan. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Berbahagia karena diri-sendiri dan seluruh kesadaran terpusatkan pada diri-hakiki

“(Namun), seseorang yang bahagia karena “Diri”-nya; puas dengan “diri”-Nya sendiri; dan, seluruh kesadarannya terpusatkan pada Diri-Hakiki (yang adalah percikan Jiwa Agung), sesungguhnya tidak berkewajiban untuk berbuat apa pun.” Bhagavad Gita 3:17

“Diri” yang dimaksud adalah Diri-Sejati, Aku-Sejati, hakikat kita sebagai persikan Ilahi. Jika seseorang telah memahami, telah menyadari hal ini, maka tiada lagi tugas, kewajiban dan tanggung jawab baginya.

Karya dan Hukum Karya atau Karma berlaku bagi mereka, bagi kita yang masih belum bebas sepenuhnya dari identitas palsu jasmani. Kita masih menganggap diri kita  badan ini, gugusan pikiran dan perasaan ini. Maka, segala hubungan jasmani, segala tugas dan tanggung jawab jasmani masih berlaku. Kita mesti melakoninya dengan baik. tidak bisa menghindarinya.

 

  1. Berkarya tanpa keterikatan pada hasil

“Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa, kemanunggalan diri dengan semesta, wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan). Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.” Bhagavad Gita 2:48

Kṛṣṇa mengingatkan Arjuna akan sifatnya. Arjuna bukanlah seorang materialis. Sebab itu, ia mendapat julukan Dhananjaya, Penakluk Kebendaan, Penakluk Harta-Kekayaan, berarti ia telah melampaui benda dan kebendaan, dalam pengertian, ia dapat menikmati dunia-benda tanpa keterikatan, maupun ketergantungan.

 

  1. Rahasia berbuat tapi tidak berbuat

“Ia yang melihat akarma dalam karma, tidak berbuat saat berbuat; dan karma dalam akarma, berbuat saat tidak berbuat; adalah searang bijak, seorang Yogi, yang telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Ia telah ber-karma, berkarya secara sempurna.” Bhagavad Gita 4:18

Dalam tradisi Tua yang berkembang di Cina, konsep ini disebut Wu- Wei. Bekerja tapi tidak bekerja. Tidak bekerja tapi bekerja.

Semuanya kembali pada kesadaran kita. Jika kita berkarya tanpa keterikatan, tanpa mengharapkan imbalan — walau, imbalan sudah pasti ada, setiap sebab ada akibatnya — maka pikiran kita tenang, rileks. Saat itu, walau kita sedang berbuat, keadaan batin kita seolah tidak berbuat apa-apa.

Berkarya dengan semangat pelayanan, dan penuh kesadaran — itulah maksud Krsna.

……………..

Silakan menerapkan prinsip yang sama di kantor! Bekerja dengan penuh keceriaan — maka di kantor pun Anda akan tetap segar. Tidak capek. Tapi, jika bekerja sebagai kewajiban saja, dan sekadar untuk mencari nafkah — maka pekerjaan seringan apa pun akan terasa berat. Sebab itu, bos di kantor seolah tidak pernah capek. Ia bekerja dengan keadaan mental yang beda dari keadaan mental para karyawan.

Bagi seorang bos, pekerjaan itu adalah pekerjaan-“nya” dan menyenangkan, maka ia bekerja dengan sukarela. Seorang karyawan bekerja untuk mendapatkan gaji, maka ia mengeluh, “Banting tulang seberapa pun gajinya tetap sama, capek!”

Dalam keadaan duniawi saja, perbedaan dalam sikap mental seorang bos dan karyawan sudah berakibatkan beda. Apalagi jika kita memperhatikan keadaan berikut……..

Jika seorang bos pun bekerja bukan karena itu adalah pekerjaan-“nya”, tapi pekerjaan-“NYA”, maka hasilnya beda lagi. Seorang bos yang melakukan pekerj aan-“nya” pun masih bisa stres. Tetapi, begitu ia Inengubah sikap mentalnya — pekerjaan-“nya” menjadi pekerjaan-“NYA” maka akibatnya berubah total.

INILAH RAHASIA BERBUAT, TAPI TIDAK BERBUAT – Tidak ada rasa capek dan lelah. Tidak ada keluh-kesah. Tidak ada stres. Setiap pekerjaan menjadi nikmat. Semuanya enjoyable! Hidup menjadi perayaan, ringan, enak, nyaman. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

5 Tingkat Pemahaman Diri dalam Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 22, 2017 by triwidodo

5 Tingkat Pemahaman Diri: 1. Belum memahami Jiwa, 2. Hanya memikirkan objek-objek di luar, 3. Memuja Gusti, 4. Melakoni Pengetahuan Sejati, 5. Menjadi Bhakta, Panembah:

  1. Belum memahami Jiwa

“Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran. Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya.” Bhagavad Gita 2:29

Banyak yang hendak menjelaskan tentang roh. Banyak buku dapat diperoleh di pasar. Setiap penulis mengaku memiliki informasi yang paling lengkap dan otentik. Jarang sekali kita bertemu dengan seorang Kṛṣṇa yang berani mengakui bahwa Jiwa Tak-Terjelaskan.

Banyak pula yang Berupaya untuk Menjelaskan Tuhan atau Gusti Pangeran, Jiwa Agung. Sulit, hampir mustahil, atau boleh dikatakan – mustahil. Jiwa adalah percikan dari Jiwa Agung. Mungkinkah percikan menjelaskan sumbernya?

Jiwa ibarat sinar matahari; dan Jiwa Agung, Tuhan, adalah Matahari. Bagaimana sinar matahari menjelaskan matahari? Bisakah sinar matahari menjelaskan sumbernya? Keberadaannya, keberadaan sinar, keberadaan Jiwa adalah penjelasan tentang adanya matahari, adanya Jiwa Agung. Tiada penjelasan lain. Keberadaan Anda – sebagai Jiwa – adalah definisi, penjelasan, setidaknya bukti akan keberadaan Sang Jiwa Agung Hyang Maha Ada, Gusti Pangeran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Hanya memikirkan objek-objek di luar

“Dalam diri seorang yang senantiasa memikirkan objek-objek di luar yang memikat indra – timbullah ketertarikan, keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan, keterikatan timbul keinginan untuk memiliki objek-objek tersebut. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).” Bhagavad Gita 2:62

Keterlibatan Berlebihan menimbulkan Ketertarikan – Anda bertemu dengan seseorang setiap hari. Ada urusan, tidak ada urusan – tetap bertemu. Maka, kemungkinannya dua, Anda bertengkar, atau makin tertarik, makin ingin bertemu.

Dari ketertarikan itulah timbul keterikatan. Anda mulai merasakan dunia Anda hampa tanpa orang tersebut. Hidup terasa tidak berarti tanpa sesuatu yang telah merangsang Anda, mungkin kendaraan, mungkin rumah, mungkin gadget elektronik terbaru – apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Memuja Gusti

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) – seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.” Bhagavad Gita 7:16

Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi – kemudian menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh – mereka pun panembah yang sudah berbuat baik. mereka pun mulia adanya. Apa yang mereka lakukan adalah kemuliaan, perbuatan yang mulia.

Krsna memahami betul psikis manusia – Ia tidak menolaksebagian besar umat manusia, yang sering berdalih bahwa “mesti ada keseimbangan antara dunia dan akhirat”. Cara pandang yang tidak tepat. Namun setidaknya mereka telah berbuat baik. mereka sudah memiliki semangat untuk manembah. Mereka tidak memikirkan diri saja, walau sebatas beberapa persen dari penghasilan – mereka telah ikut memikirkan sesama manusia. Kelompok Pertama, ini juga rajin menyumbang untuk pembangunan tempat-tempat ibadah dan sebagainya.

Kelompok Kedua adalah mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Bagi Krsna, mereka pun telah berbuat mulia. Mereka pun panembah. Mereka tidak mengetuk pintu seseorang yang zalim atau bersekongkol dengan pihak yang berada dalam kubu adharma. Mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma untuk mengakhiri penderitaan.

Kelompok Ketiga adalah para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati. Termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini – kemungkinan besar – berada dalaam kelompok ketiga ini. Anda membeli buku ini dengan tujuan tersebut. Anda tidak membelinya untuk menjadi kaya-raya dalam sekejap. Anda tidak membelinya untuk mendapatkan voucher untuk masuk surga. Tidak. Anda membeli dan sedang membacanya untuk mengenal diri, untuk meraih pengetahuan sejati.

Namun, di atasnya adalah Kelompok Keempat, kelompok yang bijak.

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun sangat mengasihinya.”

Di atas segalanya adalah Kasih. Kata awal dan kata akhir adalah kasih. Seseorang boleh memiliki kesadaran tinggi – namun setinggi apa pun kesadarannya, tanpa kasih ia menjadi kering. Jiwanya tidak berlembab. Ia belum bisa disebut “bijak”.

Bagi Krishna seorang bijak bukan saja berpengetahuan dan berkesadaran hakiki, tetapi juga penuh kasih. Inilah Kelompok Panembah yang Keempat. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Melakoni Pengetahuan Sejati

“Kepadamu yang (ingin) bebas dari segala keraguan, sekarang Ku-jelaskan rahasia tentang Jnana atau Pengetahuan Sejati dan Vijnana atau Ilmu Kebendaan. Setelah mengetahui dan menghayatinya, niscayalaah kau terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian yang berulang-ulang.” Bhagavad Gita 9:1

Rahasia yang dimaksud Krsna adalah tentang Jnana dan Vijnana – Pengetahuan Sejati tentang Kebenaran Hakiki atau Jnana, dan dampak dari-Nya, yaitu “ilmu”, sains, atau Vijnanaa – yang menjelaskan bagaaimana Kebenaran terungkap dalam dan lewat kebendaan. Spiritualitas dan Sains – Inilah Jnana dan Vijnana.

……………

Gerakan lempengan-lempengan adalah fenomena alam – Tapi, tidak mesti terjadi gempa bumi, tidak mesti tsunami, tidak mesti menelan korban. Bencara alam terjadi bukan karena alam mengamuk tanpa dasar, tapi karena ada intervensi dari perbuatan, pikiran, dan perasan manusia sendiri. Mind over matter.

Krsna menjelaskan bila kita menyadari adanya hal ini – menginsafi adanya hubungan erat antara kejadian-kejadian di luar diri dengan di dalam diri – maka kita terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian. Kenapa bisa demikian?

Kelahiran dan kematian – dua-duanya adalah fenomena alami yang terjadi di alam benda. Persis seperti musim semi, gugur, angin sepoi-sepoi, angin ribut, puting-beliung, badai, topan, tsunami, dan sebagainya. Semuanya adalah fenomena-fenomena alam yang terjadi di alam benda.

 Jika saya, Anda, kita memahami bahwasanya semua kejadian itu erat hubungannya dengan diri kita, maka dengan mengatur diri, kita dapat ikut mengatur keadaan di luar diri. Dengan mendamaikan diri, kita dapat merasakan kedamaian di luar diri. Dengan membebaskan diri dari rasa takut, kita bisa mewarnai dunia luar dengan warna-warna yang lebih cerah.

Kelahiran dan kematian- kedua fenomena alam yang terjadi di dunia benda ini – adalah proyeksi dari gejolak pikiran dan perasan kita sendiri. Jika gugusan pikiran dan perasaan yang senantiasa bergejolak ini dapat dilampaui, maka kelahiran dan kematian pun dapat dilampaui! Lampauilah pikiran, perasaan sekarang dan saat ini juga. Pelampauan itu, kelak saat ajal tiba, akan memastikan bila tidak ada lagi benih yang tersisa, benih yang dapat menjadi penyebab kelahiran-ulang. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Menjadi Bhakta

“Pandava (Arjuna, Putra Pandu), ia yang melaksanakan tugasnya sebagai persembahan pada-Ku – demiAku; berlindung pada-Ku; berbhakti pada-Ku; tiada memiliki keterikatan; dan bebas dari permusuhan serta kebencian terhadap sesama makhluk, niscayalah mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 11:55

“Inilah definisi Bhakti. Seorang bhakta atau panembah berada di dunia, di tengah kebendaan. Pun, ia menggunakan, memanfaatkan kebendaan, tetapi ia tidak bersandar pada kebendaan – Ia tidak bertopang pada kebendaan.

 

“Mereka yang menerima kebijakan luhur yang telah Ku-sampaikan; teguh dalam devosinya pada-Ku; dan, menganggap diri-Ku sebagai Tujuan Tertinggi adalah panembah, yang sangat Kusayangi.” Bhagavad Gita 12:20

Segala sifat sebelumnya terkalahkan oleh penerimaan seorang panembah tanpa keraguan. Oleh kasih tanpa syarat dan tanpa kondisi.

Untuk berinteraksi dengan dunia luar – Silakan menggunakan pikiran, akal-budi, dan sebagainya. Namun, untuk mengakses diri sendiri, kita mesti drop semuanya dan mesti jalan ke dalam diri dengan bekal keyakinan penuh dan devosi tanpa syarat. Bekal lain tidak berguna. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Tanaman Manusia, Tanaman Tuhan dan Guru #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 21, 2017 by triwidodo

Berkah seorang Guru

Pertemuan dengan seorang Krsna, seorang Sadguru atau Pemandu Rohani, adalah berkah Ilahi. Hujan berkah ini turun bagi mereka semua yang siap untuk menerimanya. Dan Jiwa terguyur oleh siraman rohani yang dapat membantunya bangkit dari tidur panjang. Apa yang sebelumnya terlupakan, teringat kembali. Apa yang sebelumnya tertutup, terbuka kembali. Apa yang sebelumnya gelap, menjadi terang-benderang. Penjelasan Bhagavad Gita 16:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Kisah Seorang Pencari Kebenaran dan Seorang Master

Seorang Guru pernah berbagi kisah di dunia maya: Ada seorang pencari kebenaran yang selama beberapa tahun mencari seorang Master untuk menjadi gurunya dan dia tidak pernah menemukannya. Banyak Guru dijumpainya tapi tidak sesuai harapannya. Pada suatu hari dia melihat seorang Master sedang duduk di lapangan rumput dan beberapa muridnya sedang menyirami rumput.

Sang Pencari mendekati kepada Sang Master dan berkata bahwa semua murid-muridnya nampak mendengarkan apa pun yang diucapkan Sang Master. Mereka percaya penuh kepada Sang Master. Sang Pencari mengatakan bahwa seorang duniawi sulit menyadari Tuhan. Dia mengatakan bahkan mencari Master saja sulit, apalagi menyadari Tuhan. Dia bertanya apakah Sang Master menyetujui pendapatnya.

Sang Master tidak setuju, dan dia berkata tidak sulit menemukan Guru dan menyadari Tuhan. Sang Master minta sang Pencari melihat murid-muridnya yang sedang menyirami tanaman. Dia menujuk 2 tanaman kecil, kemudian dia mengambil alat untuk mengambil satu tanaman tersebut lengkap dengan akar beserta tanahnya menuju tempat tanaman kecil lainnya dan mengambil tanaman kecil satunya persis sama cara melakukan dengan yang sebelumnya. Sang Master menanam tanaman kecil pertama di tempat tanaman kedua, dan menanam tanaman kedua pada tempat tanaman pertama.

Sang Master berkata, bahwa tanaman pertama adalah manusia sedangkan tanaman kedua adalah Tuhan. Saya sebagai Master datang dan menyentuh tanaman pertama, dan tanaman pertama tersebut memnerikan respon keilahian, dan membawanya kepada tanaman kedua, tanaman Tuhan dan menanam di sana ditempat saya mengambil tanaman kedua. Selanjutnya saya membawa tanaman kedua, tanaman Tuhan yang penuh dengan Rasa Sayang, Kasih, Keceriaan dan Menyenangkan kepada tempat tanaman manusia. Hanya membutuhkan beberapa waktu membawa seseorang kepada Tuhan dan membawa Tuhan kepada orang tersebut.

Sang Pencari Kebenaran berkata bahwa dia ingin menjadi muridnya dan mohon diinisiasi.

Sang Master berkata akan menginisiasinya dan melanjutkan perkataannya bahwa apabila kamu merasa tidak mungkin menyadari Tuhan, maka pikiranmu tentang Tuhan salah dan spiritualmu salah, karena kemu terikat dengan dunia. Tapi apabila kamu mempunyai keterikatan yang sama terhadap Tuhan, kamu akan merasa mudah menyadarinya. Kemudian saya pergi ke Tuhan mengetuk pintunya dan langsung Dia membuka pintunya dan Dia berkata, silakan datang bersama-Ku. Dia datang dengan Kasih, Keceriaan, Berkah dan Rasa sayang.

Selanjutnya, saya datang dan mengetuk pintumu dan kamu tidak membukanya, kamu tetap membuat pintumu tertutup, terkunci, sehingga saya dan Tuhan pergi kembali. Ketika saya membawamu menghadap Tuhan di istana-Nya, Dia tidak akan membuka pintu istana-Nya, karena kamu tidak membukakan saat Dia bersamaku mengetuk pintumu.

Apabila kamu membuka pintu saat saya datang menemuimu, saya bersama Tuhan kamu persilakan masuk, Tuhan juga akan mengizinkan kamu datang ke istana-Nya. Apabila pintu hatimu terbuka, Tuhan mudah masuk ke dalam dirimu.

Tetapi, ketika saya mendatangimu, kamu langsung merasa terganggu, kamu takut, ragu, bermasalah dengan perasaanmu, punya rasa iri, kamu ingin menyembunyikan dan tidak membuka diri.

Tetapi, saat saya memindahkan tanaman manusia, dia tidak menunjukkan ketakutan, keraguan, tidak malu, tidak takut terhadap kebodohan diri. Ketika saya menyentuhmu, seorang Master memberkatimu atau bermeditasi untukmu, adalah waktunya kamu menyerahkan kebodohan dan ketidaksempurnaanmu bersama dengan devosimu, maka seorang Master gampang membawamu kepada Tuhan. Apabila tidak demikian, adalah tidak mungkin seorang Master mentransformasi kesadaran murid. Hanya memindahkan dua tanaman, itulah yang dikerjakan seorang Master ketika dia berurusan dengan murid. Satu tanaman adalah Tuhan dan tanaman lainnya adalah Tuhan.

Mendatangi seorang Guru

“Ketahuilah hal ini dengan mendatangi mereka yang mengetahui kebenaran; bertanyalah dengan penuh ketulusan hati; layani mereka dengan penuh keikhlasan; dan mereka akan mengajarkan, mengungkapkan kebenaran itu padamu.” Bhagavad Gita 4:34

Ayat penting bagi setiap “Calon” Siswa, calon murid. Ketika menghadapi seorang Pemandu Rohani, seorang Sadguru, maka sikap kita sangat menentukan bagi Sang Sadguru untuk menyampaikan kebenaran sesuai dengan kemampuan kita untuk menerimanya.

Ketika bertanya sesuatu… Kita mesti tulus. Bukan bertanya untuk “menguji” sang Pemandu Rohani. Banyak di antara kita yang melakukan hal itu, bertanya untuk “mencari tahu betapa pintarnya kau.”

Jika kita sudah bersikap seperti itu, maka seberapa pun hebatnya seorang pemandu, tidak akan bermanfaat bagi kita. Kita sudah menempatkan diri kita di atasnya; sementara itu, pengetahuan adalah seperti aliran sungai. Sifat alami air adalah mencari dataran rendah, mengalir ke bawah. Ia tidak pernah mengalir ke atas secara alami.

Seringkali kita berada sangat dekat dengan seorang Pernandu kelas prima. Tapi, karena sikap egois kita, tidak terjadi apa-apa. Aliran kebenaran yang keluar darinya, pengetahuan sejati yang mengalir darinya tidak membasahi kita. Lalu, jika kita mengeluh, “Aku bertemu, tapi tidak terjadi apa-apa,” maka yang mesti disalahkan adalah diri sendiri — ego kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

4 Checkpoints tentang Bhakta, Panembah dalam Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 19, 2017 by triwidodo

Menjadi Bhakta, Mengembangkan bhakti, Mengikuti Petunjuk Krishna, Melayani sesama

  1. Menjadi bhakta

“Pusatkanlah segenap pikiran dan perasaanmu pada-Ku; berbhaktilah pada-Ku; (tundukkan kepala ego) bersujudlah pada-Ku dengan semangat panembahan yang tulus; demikian, berlindung pada-Ku senantiasa, niscayalah kau meraih kemanunggalan dengan-Ku.” Bhagavad Gita 9:34

Segala sembah, sujud, dan sebagainya – bukanlah untuk membuat seseorang menjadi hamba Krsna. Bukan, itu bukanlah tujuan Krsna. Krsna bukanlah seorang guru picisan yang sedang mencari, dan merekrut murid. Ia tidak senang melihat kita membuntutinya seperti domba. Ia menginginkan kita – setiap orang di antara kita – untuk mengalami apa yang dialami-Nya. Yaitu, kemanunggalan ‘aku’ kecil, aku-ego, dengan Jiwa Agung. Pertemuan antara Jiwa-Individu dan Jiwa-Agung – Jivatma dan Paramatma.

……….

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaan pada-Ku; Berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalahengkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 18:65

“Aku, Aku, Aku,…..” Permainannya memang adalah antara aku-ego dan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.  Nasihat Krsna untuk berserah diri bukanlah berserah diri pada sosok Krsna—tetapi berserah diri pada Aku-Sejati yang kebetulan saat itu sedang mewujud sepenuhnya dalam diri Krsna.

……..

“Sebab itu, pusatkan segenap pikiran, perasaan, dan buddhi, inteligensiamu pada-Ku; demikian, niscayalah kau akan selalu bersama-Ku, tiada yang perlu kau ragukan dalam hal ini.” Bhagavad Gita 12:8

Bukan saja memusatkan segenap pikiran serta perasaan — tetapi juga segenap inteligensia. Berarti, memusatkan seluruh kesadaran pada-Nya.

“Jika kau tidak mampu memusatkan kesadaranmu pada-Ku; maka raihlah kemanunggalan dengan-Ku dengan melakoni Yoga; wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan).” Bhagavad Gita 12:9

Kata “melakoni” dalam ayat ini adalah terjemahan gagap dari kata abhyasa, sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, berarti praktek-praktek yang dilakukan secara terus-menerus. Praktek secara intensif dan repetitif, diulangi terus.

“Jika kau tidak melakoni Yoga, maka berkaryalah untuk-Ku; demikian dengan cara itu pun, kau dapat meraih kesempurnaan diri.” Bhagavad Gita 12:10

“Namun, jika itu pun tak mampu kau lakukan, maka dengan penuh devosi pada-Ku, kendalikanlah dirimu dan serahkan segala hasil perbuatanmu pada-Ku.” Bhagavad Gita 12:11

“Pengetahuan Sejati lebih mulia dari laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan, melepaskan diri dari keterikatan hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.” Bhagavad Gita 12:12

……………..

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

………..

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku Iewat panembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) — demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70

…………

“Seorang Yogi berkesadaran demikian – senantiasa bersatu dengan-Ku; memuji-Ku sebagai Jiwa Agung yang bersemayam dalam diri setiap makhluk, termasuk di dalam dirinya sendiri; dan melakukan semua kegiatan dengan kesadaran itu.” Bhagavad Gita 6:31

Berkegiatan  dengan menyadari kehadiran Sang Jiwa Agung dalam diri setiap makhluk berarti tidak menyakiti siapa pun. Namun, pada saat yang sama kesadaran tersebut juga membuatnya tidak ragu-ragu untuk melakukan bedah terhadap tumor yang bersarang di badannya atau badan siapa saja.

………………

“Sebaliknya, mereka yang senantiasa berkarya dengan semangat persembahan pada-Ku; memuja-Ku sebagai Hyang Maha Mewujud; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku tanpa terganggu oleh sesuatu; wahai Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, IbuArjuna), niscayalah Ku-bantu menyeberangi lautan samsara, kelahiran dan kematian yang berulang-ulang ini.” Bhagavad Gita 12:6-7

Memuja-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud berarti melayani setiap wujud, mencintai, menyayangi, mengasihi setiap wujud.

………..

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

……………

“Sebaliknya, ia yang berbagi ajaran ini dengan penuh kasih (dan sebagai ungkapan kasihnya pada-Ku), kepada para panembah yang memang sudah siap untuk menerimanya – niscayalah akan mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 18:68

Seseorang yang melakoni ajaran ini dan berbagi dengan penuh kasih—sebagai ungkapan kasihnya pada Hyang Tunggal – kepada para panembah yang penuh kasih juga…. Maka, hasilnya ialah Kesempumaan Diri. Hasilnya ialah menyatu dengan-Nya, dengan Sumber Kasih itu sendiri.

“Tiada seorang pun yang pelayanannya pada-Ku melebihi pelayanannnya (yang dimaksud ialah seorang yang berbagi ajaran mulia ini dengan penuh kasih kepada mereka yang memang siap untuk mendengarnya). Demikian pula, tiada seorang pun di seluruh dunia yang Ku-cintai lebih darinya.” Bhagavad Gita 18:69

Di sini Krsna menjelaskan rahasia orang yang paling dicintai-Nya — yaitu seperti yang telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya – orang yang berbagi ajaran yang mulia ini dengan pcnuh kasih, dengan semangat kasih, semangat manembah, semangat melayani, kepada mereka yang layak, yang siap untuk menerimanya.

Orang itu — menurut Krsna — adalah……. PANEMBAH SEJATI – Siapa saja bisa berbagi receh, nasi kotak, mie instan, pakaian, dan sebagainya. Beramal-saleh dengan cara itu adalah biasa. Berdana-punia dengan cara menyumbang untuk pembangunan ternpat-tempat ibadah pun biasa.

…………….

“Demikian, para resi berpandangan jernih, yang telah sirna segala keinginannya oleh Pengetahuan Sejati tentang hakikat diri; pun, dirinya telah terkendali — senantiasa bersuka-cita dalam perbuatan yang membahagiakan semua makhluk. Mereka telah mencapai Brahmanirvana — Keheningan Sejati, Kasunyatan Agung dalam Brahma (Hyang Maha Kreatif). Bhagavad Gita 5:25

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Mengembangkan bhakti

Enam cara mencapai kemanunggalan dengan semesta

“Bebas dari rasa benci terhadap sesama makhluk; bersahabat dengan semua, penuh welas asih; bebas dari ke-‘aku’-an dan rasa kepemilikan; sama dan seimbang dalam suka dan duka; penuh ketabahan, mudah memaafkan;” “Puas dengan apa yang diraihnya, dan terkendali dirinya, senantiasa mengenang-Ku, manunggal dengan-Ku; pikiran, perasaan, serta inteligensianya terpusatpada-Ku; seorang panembah yang teguh dalam keyakinannya seperti itu sungguh sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:13-14

…………..

“Tidak sombong, tidak munafik, tanpa kekerasan, kesabaran, kebajikan; pelayanan pada Guru; kemurnian atau kebersihan luar dan dalam diri; keteguhan hati dan pengendalian diri;”

“Tidak tergoda oleh pemicu-pemicu indra; tanpa ego, dan perenungan pada penderitaan kelahiran, kematian, masa tua dan penyakit;”

“Tanpa keterikatan dan tidak bergantung pada anak, pendamping, hunian dan lain sebagainya; keseimbangandiri dalam keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan;”

“Pengabdian pada-Ku tanpa keraguan, dan dalam kesadaran kemanunggalan Yoga; senang bepergian ke tempat-tempat yang tenang dan suci; tidak menikmati persahabatan dengan mereka yang bersifat duniawi;”

“Senantiasa berkesadaran Jiwa, dan menyadari Kebenaran Hakiki sebagai tujuan tunggal segala pengetahuan, semuanya ini disebut Pengetahuan Sejati, segala hal selain ini adalah kebodohan.” Bhagavad Gita 13:7-11

Setiap butir kebijaksanaan luhur di atas adalah dalam bentuk tindakan, bukan pengetahuan belaka. Sementara itu, kita menerjemahkan pengetahuan sebagai informasi yang diperoleh dari bacaan, studi atau paling banter dari pengalaman hidup, yang diperoleh secara acak dan kebetulan.

Bagi Krsna, semua itu belum ‘Pengetahuan’ – Bagi Krsna, kita tidak menjadi ‘berpengetahuan’ karena gelar yang kita peroleh, atau karena kita seorang kutu buku dan senang mengoleksi informasi. Bagi Krsna, pengetahuan sejati adalah tindakan, upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar tahu tentang ego, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Bukan sekadar tahu tentang indra, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Pun demikian dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lainnya.

Pengetahuan sejati bagi Krsna, adalah suatu keadaan di mana seorang yang berpengetahuan tidak terpicu, tidak tergoda oleh hal-hal luaran. Ia tidak tertipu oleh dualitas. Ia menyelami hidupnya dengan semangat ‘all is one’ – semua satu adanya. Ia tidak membedakan kepentingan diri dan keluarga dari kepentingan umum.

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Mengikuti petunjuk Krishna

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;” Bhagavad Gita 16:1

“Ahimsa atau tidak menyakiti lewat pikiran, pengucapan maupun perbuatan; kejujuran, bebas dari amarah, tanpa rasa kepemilikan atau keakuan, ketenangan pikiran, bebas dari gosip, welas asih terhadap semua makhluk; bebas dari keinginan dan keterikatan, lembut atau sopan, bersahaja, tidak terbawa oleh nafsu, dan teguh dalam pendirian serta pengendalian diri;” Bhagavad Gita 16:2

“Cekatan (penuh energi, penuh semangat), tabah dan pemaaf, teguh dalam keyakinannya, bersih badan dan pikiran; tidak bermusuhan dengan siapa pun juga; dan tanpa keangkuhan — demikian, semuanya ini adalah kecenderungan-kecenderungan lahiriah mereka, yang lahir dengan sifat bawaan atau karakter dasar Daivi, Ilahi, Mulia, Wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat).” Bhagavad Gita 16:3

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Melayani sesama

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

…………….

“Ia yang memandang semua sama, sebagaimana ia memandang dirinya; dan menganggap sama suka dan duka, adalah Yogi – Manusia Utama, ia melebihi apa dan siapapun juga!” Bhagavad Gita 6:32

………….

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia