Pururava: Cinta Bidadari Urvashi dari Planet Berbeda #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 18, 2017 by triwidodo

Dulu, kita masih bisa memilih: mau berteman, bersahabat, bergaul dengan para dewa, para malaikat, manusia, atau pada raksasa, para danawa. Sekarang, hal itu sudah tidak mungkin lagi, karena ketiga sifat malaikat, manusia dan raksasa berada dalam porsi yang sama dalam setiap insan. Karena itu, hendaknya kita mengembangkan ketiga nilai luhur dam, datta, dan dayaa, pengendalian diri, membari atau berbagi, dan mengasihani.

………….

Suara pertama diterjemahkan para Dewa sebagai dam atau Pengendalian Diri. Dewa atau Malaikat tercipta dari Cahaya atau Nur. Mereka dalam pandangan manusia Hindia zaman dahulu, berasal dari siklus penciptaan sebelumnya. Sang Keberadaan mengangkat mereka untuk tugas-tugas tertentu. Mereka ibarat para menteri. Antara lain, mereka juga bertugas untuk menuntun dan mengarahkan para pejalan, para pencari. Sesungguhnya bagi setiap orang yang berkuasa dan sedang menikmati kekuasaan, kekayaan, kedudukan serta ketenarannya harus belajar mengendalikan diri.

Namun lain dewa, lain manusia. Ia menerjemahkan suara itu sebagai datta – memberi. Dengan cara memberi dan berbagi, manusia belajar untuk tidak menjadi egois, tidak hanya mementingkan diri.

Kesimpulan para raksasa atau danawa lain lagi: dayaa – kasihanilah, kasihilah. Tumbuh kembangkanlah nilai yang satu ini di dalam diri. Kalian memang kuat, penuh tenaga, namun janganlah menggunakan kekuatan dan tenaga itu untuk mencelakakan makhluk lain.

Bila bertemu dengan seseorang yang telah berhasil mengendalikan diri, mengendalikan nafsu-nafsu rendahan, senang memberi atau berbagi, dan mengasihi tanpa memandang bulu, ciumlah tangan dia. Bertekuk-lututlah kehadapannya. Ia adalah Insan Kaamil, Manusia Sempurna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pururava adalah putra Budha dari Dinasti Chandra dengan Putri Ila dari Dinasti Surya. Pururava terkenal mempunyai ketampanan seperti Soma, sang kakek namun mempunyai kebijaksanaan seperti Budha, sang ayah. Saat Putri Ila berubah menjadi Raja Sudyumna, Pururava menjadi putra mahkota penerus sang raja.

Dikisahkan Devarishi Narada sedang bercerita tentang kebaikan dan ketampanan Raja Pururava di istana para dewa, dan seorang bidadari cantik Urvasi menjadi jatuh cinta kepada sang raja.

Dalam Srimad Bhagavatam sering dikisahkan intervensi para dewa yang kawin dengan putri manusia, atau bidadari yang kawin dengan putra manusia. Ada kemungkinan bahwa hal tersebut juga untuk meningkatkan evolusi manusia ke arah kesempurnaan. Hal tersebut juga bisa menjadi jawaban, mengapa ada kelompok manusia yang sudah berperadaban sangat maju dan masih ada kelompok manusia yang seakan-akan masih mengalami peradaban manusia purba karena terisolasi. Karena bila hanya berdasar evolusi saja mestinya peradaban di seluruh dunia akan sama.

Dalam alam semesta ini ada ratusan miliar galaksi. Dan dalam satu galaksi ada ratusan milyar matahari. Dalam satu matahari ada beberapa planet. Mungkin sekali di alam semesta ada makhluk-makhluk yang sangat tinggi peradabannya dan datang ke bumi dengan pesawat yang lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Siapa tahu mereka mengintervensi kita, datang dengan vimana dan dibayangkan dalam tulisan lama dengan naik kereta yang ditarik kuda. Seperti tulisan lama yang menggambarkan Gatotkaca terbang pakai sayap yang digantung di kedua pundaknya, padahal kemungkinan besar Gatotkaca memakai jet tempur, karena perang Bharatayuda adalah perang nuklir. Hal tersebut terjadi karena pada saat tersebut sang penulis belum bisa membayangkan bepergian tanpa kereta atau terbang tanpa sayap.

 

Pada saat Pururava ketemu Urvasi mereka saling jatuh cinta. Akan tetapi, Urvasi mengajukan dua syarat kepada Pururava yang berniat mempersuntingnya. Pertama, Urvasi mempunyai kambing kesayangan yang harus dilindungi. Kedua, Urvasi tidak boleh melihat sang raja telanjang, kecuali saat mereka sedang bercinta saja. Mungkin maksud Urvasi agar tidak melihat Pururava berkasih mesra dengan wanita lain. Pururava menyanggupi dan jadilah mereka suami-istri yang setia dan bahagia.

Adalah Dewa Indra yang selalu mengganggu ketenangan hidup manusia. Dikisahkan bahwa setelah beberapa bulan, Indra merasa surga menjadi muram dengan hilangnya Urvasi dan Indra berusaha mengembalikan Urvasi ke istana para dewa.

Pada suatu ketika, sewaktu Pururava dan Urvasi tidur nyenyak, datang para gandharva utusan Indra untuk mengambil kambing Urvasi. Sang kambing mengembik karena ditarik dengan paksa. Urvasi berteriak bahwa ada pencuri yang mengambil kambing kesayangannya. Dalam keadaan buru-buru Pururava mengambil senjatanya dan meloncat keluar dalam keadaan telanjang. Kesempatan itu digunakan Indra untuk membuat kilat sehingga Pururava nampak sedang tidak berpakaian.

Urvasi melihat suaminya dalam keadaan telanjang dan sebagaimana janjinya dahulu, maka dia menghilang. Para gandharva segera melepaskan melepaskan sang kambing, tetapi Urvasi telah lenyap.

Pururava sangat berduka, akan tetapi hal itu sebagai pembangkit semangat untuk bertemu lagi dengan Urvasi. Dan kemudian Pururava bertapa dan mengembara mencari jejak berita Urvasi. Pada suatu ketika, sang raja bisa bertemu dengan para bidadari dan mendengar kabar bahwa pada akhir tahun Urvasi akan datang selama satu malam sambil menyerahkan putranya.

Akhirnya, Pururava dapat bertemu dengan Urvasi yang membawa putranya sebagai obat kerinduan dan juga penerus keturunannya. Tanpa keturunan dari Urvasi maka tidak akan ada Dinasti Bharata. Pururava sendiri dengan mantra gandharva bisa ikut Urvasi tinggal di Planet para dewa.

Rishi Shuka putra Bhagavan Vyaasa berkata kepada Parikhsit, bahwa Pururava adalah nenek moyang Parikhsit yang juga nenek moyang dirinya. Itulah sebabnya Bhagavan Vyaasa, ayahnya, tidak mau tergoda oleh bidadari, karena tidak mau mengalami kejadian seperti nenek moyangnya tersebut.

Putra Pururava adalah Ayu. Putra Ayu adalah Nahusha. Putra Nahusha adalah Yayati. Putra Yayati adalah Puru. Setelah 14 generasi lahirlah Dusyanta. Dusyanta mempunyai putra Bharata.

Putri Ila: Istri Budha yang Setiap Bulan Berganti Gender #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 18, 2017 by triwidodo

 

Dari sudut pandang spiritual “Perempuan dan Lelaki adalah sama”. Di sana pertanyaan emansipasi tak pernah muncul. Pada titik itu, masalah tolok ukur, status juga tak relevan. Dan tak berguna untuk dibahas.

Jiwa melampaui semua pembahasan dan penjelasan. Ini tak butuh persetujuan ataupun penyangkalan. Ini adalah ini. Dan Ini Utuh dalam Dirinya sendiri. Tak ada perdebatan di sana, tak ada apa-apa.

Di sini, kita perlu mendiskusikan sesuatu, tapi bukan yang tak ada apa-apa melainkan jiwa dalam bentuknya yang paling kasat. Ya…kekasatannya yang kita bisa diskusikan di sini. Dalam bentuknya yang halus, jiwa-jiwa mereka, lelaki dan perempuan tetaplah sama. Mereka tak beda. Tapi dalam bentuknya yang kasat, mereka sama sekali berbeda. Kekasatanlah yang membuat perbedaan. Dan, kita harus menatap tajam guna menembus kekasatan ini. Dikutip dari artikel Bapak Anand Krishna Emansipasi dan Kaum Perempuan 22 April 2009 di: http://www.aumkar.org/ind/

 

Sraddhadeva dari Dinasti Surya lama tidak mempunyai keturunan dan meminta Vasishtha, gurunya untuk melakukan upacara yajna memohon bantuan Mitra dan Varuna. Akan tetapi, istri Sraddhadeva menginginkan kelahiran seorang putri, sehingga ketika proses yajna sedang berlangsung dia meminta bantuan Hota agar anak yang lahir menjadi seorang putri. Dan lahirlah seorang putri yang dinamakan Ila.

Rishi Vasishtha menjelaskan kepada raja bahwa Hota telah mengubah mantra. Akan tetapi, Rishi Vasistha sanggup mengubah kelamin Ila menjadi laki-laki dengan kekuatan tapanya. Dan, kemudian Ila berubah menjadi pangeran bernama Sudyumna.

Di suatu lereng Meru, dikisahkan bahwa Mahadeva sedang bercengkerama dengan Parvati. Pada suatu ketika, para rishi yang ingin bertemu dengan Mahadeva masuk ke tempatnya tanpa memberitahu lebih dahulu. Pada waktu itu Parvati sedang duduk di pangkuan Mahadeva tanpa pakaian. Parvati sangat malu atas kejadian tersebut, dan Mahadeva kemudian berkata bahwa mereka yang masuk ke dalam hutan tersebut akan berubah menjadi wanita.

Para rishi berubah menjadi wanita dan Parvati menjadi lega. Dengan berjalannya waktu tak ada lelaki yang berani memasuki hutan tersebut. Pada suatu ketika Pangeran Sudyumna kebetulan masuk ke hutan tersebut, dan dia berubah menjadi wanita lagi atau menjadi Ila.

Sang raja meminta bantuan Rishi Vasishtha lagi. Dan, Rishi Vasishtha kemudian berdoa kepada Mahadeva agar Ila dapat berubah menjadi laki-laki lagi. Mahadeva mengatakan bahwa dalam satu bulan, putra Sraddhadeva akan menjadi putri Ila dan satu bulan berikutnya menjadi pangeran Sudyumna dan sewaktu menjadi laki-laki lupa pernah menjadi wanita. Demikian pula saat menjadi wanita dia lupa pernah menjadi pria.

Dikisahkan saat Putri Ila berwujud wanita, Pangeran Budha, putra Chandra atau Soma, jatuh hati kepadanya, sehingga akhirnya mereka menikah. Dikisahkan selama 1 bulan Ila menjadi istri Budha, dan 1 bulan berikutnya begitu bangun tidur dia menjadi Pangeran Sudyumna dan belajar bertapa dari Budha, temannya tersebut. Setelah satu tahun lahirlah putra dari Ila dan Budha. Setelah sang putra lahir, Budha mohon bantuan Mahadeva agar masalah istrinya diselesaikan. Mahadeva memberkati dan Putri Ila menjadi Pangeran Sudyumna selamanya.

Dari Budha dan Ila lahirlah Pururava, raja pertama dari Dinasti Chandra yang merupakan nenek moyang Pandawa dan Kaurawa.

Ingatlah selalu bahwa Tuhan adalah Imminent dan Transendent. Berarti Ia berada di dalam setiap gender, semua gender ada di dalam diriNya, semua berasal dariNya. Itu imminent. Namun, Ia pun melampaui segalanya, transcendent.

………….

Kebahagiaan abadi hanya dirasakan ketika unsur-unsur maskulin dan feminin di dalam diri Anda bertemu di dalam Tuhan. Itulah kesempurnaan diri. Itulah pencerahan.

Sementara itu, pertemuan antara pria dan wanita, umumnya hanyalah pertemuan antara dua ego. Dan pertemuan antara dua ego tidak pernah bertahan lama. Selalu terjadi tarik-menarik, masing-masing ingin menguasai yang lain. Dari hubungan seperti itulah lahir ego baru dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Namun jika terjadi pertemuan agung di dalam Tuhan, maka hasilnya adalah kreativitas yang tertinggi, kesempurnaan abadi, kebahagiaan sejati.

……………..

Ketika Kesadaran Manusia berada di Wilayah 3 Chakra Awal, khususnya sekitar Chakra Kedua, maka ia mengejar kenikmatan duniawi. Ia baru mengenal keterikatan dan ketertarikan. Cintanya masih bersifat birahi dan ditujukan terhadap seseorang atau beberapa orang.

Ketika berada sekitar Chakra Keenam, ia mengenal kasih sejati yang tak bersyarat dan tak terbatas. Ia mulai mencintai sesama manusia tanpa mengharapkan timbal-balik. Ia tinggal selangkah lagi merasakan keselarasan sampurna dengan semesta. Tinggal selangkah lagi untuk melihat wajah Allah di mana-mana. Interaksi antara gender bagi para sanyasi hanya bermanfaat ketika masing-masing sudah berada di wilayah chakra keenam tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan ikuti kisah Raja Pururava dalam kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya.

Soma: Melarikan Tara Istri Rishi Brhaspati #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 16, 2017 by triwidodo

Sri Ramakrishna Paramhansa selalu mengingatkan kita supaya berhati-hati dengan kamini dan kanchan. Ini adalah sebuah pepatah kuno. Kamini berarti “apa saja yang menggairahkan”, sekarang sering diterjemahkan sebagai wanita. Dan kanchan berarti “sesuatu yang menyilaukan”. Persis seperti kamini, kanchan pun sekarang sering disalahartikan sebagai “uang” dan “emas”. Padahal maksudnya bukan uang atau emas saja.

Sri Ramakrishna Paramhansa selalu mengingatkan kita supaya berhati-hati dengan kamini dan kanchan. Ini adalah sebuah pepatah kuno. Kamini berarti “apa saja yang menggairahkan”, sekarang sering diterjemahkan sebagai wanita. Dan kanchan berarti “sesuatu yang menyilaukan”. Persis seperti kamini, kanchan pun sekarang sering disalahartikan sebagai “uang” dan “emas”. Padahal maksudnya bukan uang atau emas saja.

Kamini dan Kanchan bukan sekadar “lawan jenis”. Makanan pun bisa “menggairahkan”, demikian pula bacaan, tontonan, pergaulan, dan sebagainya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Rishi Suka telah menceritakan Kisah-Kisah Ilahi tentang anak keturunan Dinasti Surya kepada Parikshit. Sri Rama adalah termasuk anak keturunan Dinasti Surya. Dan, kini mulai menceritakan tentang kisah-kisah dari Dinasti Chandra.

Soma atau Chandra adalah putra Rishi Atri dan merupakan cucu dari Brahma. Dia adalah penguasa osadhi, tanaman obat, dan bintang. Dia demikian tampan sehingga banyak wanita yang jatuh cinta kepadanya. Soma tertarik dengan Tara, istri Brhaspati yang masih muda dan mengajaknya melarikan diri dari rumahnya.

Pada zaman itu, wanita sangat dihormati. Seorang pria tidak bisa melakukan ritual tanpa istrinya. Tanpa istri Rishi Brhaspati akan kehilangan jabatannya sebagai guru para dewa.

Brhaspati minta agar Tara dikembalikan akan tetapi Soma tidak mau. Para asura di bawah didikan Guru Sukracharya tidak senang dengan Brhaspati putra Rishi Angira, yang merupakan guru para dewa, musuh mereka. Para asura mereka melindungi Soma. Dan, terjadilah peperangan antara para asura dengan para dewa.

Brahma turun tangan dan datang ke Soma, mengambil Tara dan mengembalikannya kepada Brhaspati. Brhaspati sangat mencintai Tara, sehingga menerima kondisi Tara yang sedang hamil.

Seorang putra yang sangat tampan dilahirkan dan Brhaspati sangat sayang kepada anak tersebut. Akan tetapi, Soma merasa bahwa putra tersebut adalah anaknya. Para rishi dan para dewa menanyakan kepada Tara siapa bapak dari anak tersebut, akan tetapi dia diam seribu bahasa.

Anak yang baru dilahirkan kemudian langsung berbicara, “Ibu, kenapa engkau diam? Engkau tidak setia terhadap suamimu dan keberatan menceritakan siapa ayahku? Aku ingin kebenaran dibuka, berbicaralah kepadaku!”

Tara akhirnya berbicara kepada sang anak. Brahma kemudian bertanya kepada sang anak siapakah bapaknya yang dijawab: Soma. Brahma kemudian mengambil sang anak dan diberikan kepada Soma. Brahma menyebut anak tersebut sebagai Budha, ia yang mengetahui kebenaran. Dan anak tersebut akhirnya menjadi remaja yang bijaksana yang menjadi cikal-bakal Dinasti Chandra.

Salah satu versi menyatakan bahwa Brhaspati menerima hukum sebab-akibat. Sewaktu masih muda Brhaspati tertarik pada Mamata, istri Uttathya, kakak Brhaspati yang sedang hamil. Dan Brhaspati melakukan hal yang sama.

Kisah-kisah Bhagavatam erat dengan kisah perbintangan/astronomi. Dan, para leluhur kita mempunyai keyakinan bahwa planet-planet ikut mempengaruhi suasana kehidupan. Chandra, atau Soma adalah penguasa Bulan, dan leluhur kita menamakan hari yang dipengaruhi bulan sebagai Soma, Senin dalam bahasa Jawa kuna, Monday, hari yang dipengaruhi “moon”, “manas”.

Selasa dipengaruhi oleh planet Mars, leluhur kita menyebut Anggara, di Indua Mangalavara.

Rabu dipengaruhi oleh planet Mercurius, yang dalam bahasa Jawa Kuna disebut Buda, putra Chandra.

Kamis dipengaruhi oleh planet Yupiter, penguasanya Brhaspati, guru para dewa, leluhur kita menyebutnya Respati.

Jumat dipengaruhi oleh planet Venus, penguasanya adalah Sukracharya, leluhur kita menyebut hari Jumat sebagai Sukra.

Saptu dipengaruhi oleh planet Saturnus, sehingga disebut Saturday, leluhur kita menyebutnya Tumpak atau Saniscara, penguasanya adalah Dewa Sani.

Sedangkan Minggu dipengaruhi oleh Matahari, Sun, Surya, Dewa Ra, sehingga harinya disebut Sunday, para leluhur kita menyebut Radite atau di India Aditya, matahari.

Tara sendiri berarti bintang.

Silakan baca tulisan di tahun 2013:

https://triwidodo.wordpress.com/2013/01/06/kalender-jawa-dan-pengaruh-rasi-perbintangan-terhadap-manusia/

 

Raja Saudasa: Leluhur Sri Rama #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 15, 2017 by triwidodo

Memahami Kisah-Kisah Srimad Bhagavatam di zaman yang berbeda

Dikatakan ada Zaman Emas, Perak, Tembaga, dan Besi. Orang-orang zaman dahulu mengaitkan emas dengan Kebenaran (Zaman Awal sebelum Sri Rama), perak dengan Kebajikan (Zaman Sri Rama), tembaga dengan penurunan kualitas (Zaman Sri Krishna), dan hitam dengan kejahatan merajalela (Zaman setelah Sri Krishna). Kisah Srimad Bhagavatam sebelum Sri Rama terjadi pada Zaman Emas. Berikut penjelasan zaman-zaman tersebut pada buku The Hanuman Factor:

Pada Zaman Emas (Satya Yuga), hidup adalah sederhana, begitu juga orang-orangnya. Kebenaran-lah yang mengatur sistem sosial. Kebenaran-lah yang menjadi hukum dan peraturan kehidupan. Orang-orang pada zaman itu sangat waspada terhadap pikiran-pikiran mereka, dan tidak akan mengijinkan benih-benih kebatilan tumbuh di dalam pikiran mereka. Kebenaran pun menjadi jalan menuju hidup yang terberkati.

                Hal yang demikian tidak terjadi pada Zaman Perak (Treta Yuga). Hidup menjadi lebih rumit, yang membuat orang semakin sulit dalam mengawasi pikiran mereka yang menghasilkan penyelewengan pada mind manusia. Sistem sosial tidak lagi diatur oleh kebenaran dan pikiran yang jernih, tetapi oleh seperangkat aturan buatan manusia. Orientasi manusia bergeser dari pikiran menjadi perkataan dan perbuatan.

                Berikutnya, pada Zaman Tembaga (Dvapara Yuga), bahkan kata-kata serta perbuatan yang tepat pun sering diabaikan. Orang-orang melakukan semua jenis kejahatan untuk memenuhi keinginan-keinginan duniawi mereka. Maka pada zaman inilah supremasi cinta diagungkan. Para bijak menyampaikan bahwa cinta adalah solusi bagi semua kejahatan. Sebuah golden rule mengatakan, “Lakukan pada orang lain, hal yang kau inginkan dari orang lain melakukannya kepadamu”.

                Yang terakhir adalah Zaman Besi (Kali Yuga)—zaman di mana kita hidup sekarang ini. Kita sudah berada di zaman ini sejak 5000 tahun terakhir. Berdasarkan pada beberapa perhitungan, kita sedang berada di akhir sebuah siklus. Kita akan segera memasuki sebuah siklus baru, permulaan Zaman Emas lagi. Zaman Besi ditandai dengan berkurangnya kedamaian. Jika tidak ada kedamaian di dalam rumah tangga, maka tidak ada kedamaian di dalam lingkungan kita, tidak ada kedamaian di desa kita, kota kita, dan tidak ada kedamaian di negeri kita dan tidak ada kedamaian di dunia kita. Konflik dan kekerasan, yang sering berujung pada perang, berkuasa penuh pada zaman ini. Kebenaran, Kebajikan dan Cinta, semuanya mengalami penurunan. Dikutip dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kutukan Istri Brahmana

Pada suatu ketika ada seorang brahmana bersama istrinya berkasih-mesra di hutan tersebut. Sebagaimana kebiasaan raksasa, maka sang raja yang menjadi raksasa berkeinginan untuk makan daging brahmana tersebut. Istri sang brahmana mengingatkan bahwa diri sejati sang raksasa adalah seorang raja manusia, agar dia bertindak sebagai seorang raja manusia dan tidak membunuh suaminya. Sang raja dalam kehidupannya sebagai raksasa dalam lingkungan hutan belantara tidak dapat mengendalikan sifat keraksasaannya, sehingga dia tetap membunuh dan makan daging sang brahmana……..

Istri sang brahmana kemudian membakar sisa tulang suaminya dan melompat ke dalam api pembakaran, mengikuti sang suami. Sang istri brahmana sempat mengutuk, karena sang raja membunuh brahmana dan menyebabkan istrinya mati, maka dia tidak akan bisa berhubungan suami-istri dengan sang permaisuri.

Setelah 12 tahun menjalani kehidupan sebagai seorang raksasa, sang raja kembali menjadi manusia dan memerintah kerajaannya lagi. Sang raja menceritakan pengalamannya kepada permaisuri bahwa dia telah membunuh suami-istri brahmana, dan mendapat kutukan dari istri brahmana tersebut yang menyebabkan dia tak bisa lagi berhubungan dengan istrinya.

Sepasang suami-istri tersebut menyadari bahwa tidak mudah membayar karma dalam satu kehidupan akibat kesalahan yang telah dibuatnya pada masa lalu. Selalu saja terjadi banyak kemungkinan seseorang akan membuat karma baru dalam kehidupan kini. Setiap orang perlu menjaga diri agar dapat hidup berkesadaran.

Mereka berdua kemudian menyerahkan diri mereka kepada Rishi Vasishtha, guru mereka, agar mereka dapat menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran. Rishi Vasishtha termasuk Sapta Rishi, 7 jenis genetika awal manusia. Pada kisah Srimad Bhagavatam semua manusia berasal dari 7 Maha Rishi tersebut.

Dengan bantuan Rishi Vasishtha akhirnya mereka mempunyai putra bernama Asmaka. Setelah kelahiran sang putra, Saudasa beserta istrinya meninggalkan istana dan dikisahkan mencapai kebebasan.

Dalam garis keturunan Asmaka, lahir raja bijak Khatvanga yang dapat mencapai Gusti Pangeran dalam waktu satu muhurta, 48 menit saja. Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/12/21/kemuliaan-kematian-maharaja-khatvanga-kisah-srimadbhagavatam/

Khatvanga mempunyai putra Dirghabahu. Dirghabahu mempunyai putra Raghu. Raghu mempunyai putra Aja. Aja mempunyai putra Dasaratha yang kemudian mempunyai putra Sri Rama, Lakshmana, Bharata, dan Satrughna.

Raja Saudasa: Membatalkan Kutukan Menerima Ketidakadilan #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 14, 2017 by triwidodo

 

Mereka adalah orang-orang yang sangat berpotensi dan sesungguhnya sudah mengalami evolusi spiritual. Dalam usia tertentu, mereka mengenal spiritualitas dan terdorong oleh batinnya sendiri untuk mendalaminya. Tidak ada paksaan dari siapa pun, termasuk dari orang tua dan keluarga. Ada kalanya keluarga mereka mendukung, ada kalanya tidak. Terbukti 18 kasus tidak cukup mendapat dukungan. Pada umumnya ada pengalaman tertentu dalam hidup mereka yang menjadi trigger atau pemicu sehingga mereka berpaling pada spiritualitas. Dan jalan spiritual yang mereka tempuh pun bervariasi. Selama beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, mereka menjalani hal-hal yang dianggap sudah menjadi takdir.

Kesalahan mereka, tanpa kecuali, mereka semua masih mempertahankan “pergaulan” mereka sebelumnya. Pergaulan inilah yang kemudian menjadi bumerang bagi mereka. Terjadilah tarik menarik antara pergaulan lama dan kesadaran baru. Dan dalam pertarungan itu, pergaulan lamalah yang keluar sebagai pemenang. Jelas demikian karena kesadaran baru tersebut “baru” berusia beberapa bulan atau beberapa tahun (paling baru kurang lebih 8 bulan dan paling lama 5 tahun). Sementara itu, pergaulan lama sudah berusia belasan bahkan puluhan tahun (bila kita mengambil “satu episode kehidupan” saja sebagai bidang studi. Bila memperhatikan episode-episode sebelumnya maka pergaulan dalam “episode yang berjalan” sesungguhnya mewakili belasan hingga ratusan episode sebelumnya dalam bentangan waktu 500 hingga 5000 tahun). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Saudasa salah satu anak-cucu keturunan Raja Bhagiratha adalah raja yang adil dan bijaksana. Pada suatu hari, dia pergi berburu di hutan, bertemu dengan seorang raksasa dan membunuhnya. Pada saat dia kembali ke istana dia tidak sadar bahwa ada saudara raksasa tersebut ingin membalas dendam kepadanya dan kemudian masuk ke istana menyamar sebagai seorang juru masak istana.

Pada suatu ketika Rishi Vasishtha, Guru Saudasa datang berkunjung atas undangan sang raja. Raja Saudasa menawari gurunya untuk makan bersama. Sang raksasa yang menjadi juru masak istana, memasak daging manusia untuk makanan yang disajikan kepada Rishi Vasishtha. Rishi Vasishtha mengerti bahwa dia disuguhi makanan dari daging manusia dan kemudian mengutuk sang raja bahwa tidak sepantasnya seorang raja menghidangkan daging manusia bagi gurunya. Hanya seorang raksasa yang berbuat demikian!

Rishi Vasishtha sadar bahwa sang raja tidak tahu bahwa yang dihidangkan adalah daging manusia, mungkin saja hal tersebut adalah kesalahan juru masaknya. Oleh karenanya, Rishi Vasistha mengatakan bahwa sang raja akan menjadi raksasa selama 12 tahun.

Raja Saudasa merasa tersinggung karena tidak merasa bersalah, dan mengambil air dan siap untuk ganti mengutuk Rsi Vasistha. Adalah permaisuri raja, Madayanti, yang mengingatkan bahwa tak baik mengutuk seorang guru. Guru adalah Gusti yang mewujud untuk memandu kita. Mungkin saja di kehidupan dahulu sang raja pernah berbuat salah sehingga dalam kehidupan ini harus menyelesaikan hutang karma. Dengan mengutuk maka sang raja akan membuat karma baru lagi sehingga hutang karmanya tak pernah terselesaikan. Sang raja sadar bahwa peringatan isrinya ada benarnya sehingga dia mengurungkan mengutuk gurunya dan airnya dijatuhkan ke kakinya. Kakinya menjadi hitam, gelap sehingga sang raja mendapat nama “Kalmasapada”, kaki malam, kaki yang hitam gelap.

Sang raja kemudian menjalani kutukan sebagai raksasa di hutan dengan berusaha hidup penuh kesadaran. Tidak mudah. Dengan menjadi raksasa, karakter bawaan raksasa akan mempengaruhi tindakannya. Lingkungan hutan akan mempengaruhinya. Kehidupan masa lalunya sebagai raksasa bisa terpicu kembali.

Hidup itu memang penuh resiko, perlu waspadaan setiap saat. Ibaratnya kita mengemudi mobil sudah mendekati tujuan, karena lalai bisa terjadi kecelakaan yang menghambat kita menuju tempat tujuan.

Pada suatu ketika ada seorang brahmana bersama istrinya berkasih-mesra hutan tersebut. Sebagaimana kebiasaan raksasa, maka sang raja berkeinginan untuk makan daging brahmana tersebut. Istri sang brahmana mengingatkan bahwa diri sejatinya adalah seorang raja manusia, agar dia bertindak sebagai seorang raja manusia dan tidak membunuh suaminya.

Sang raja dalam kehidupannya sebagai raksasa dalam lingkungan hutan belantara tidak dapat mengendalikan sifat keraksasaannya, sehingga dia nekat membunuh sang brahmana……….

Satu kesalahan dalam kehidupan bisa mengakibatkan banyak kesalahan yang semakin menyeretnya jatuh dari hidup berkesadaran…..

Apakah sang istri Brahmana akan mengutuk sang raja sehingga hidupnya makin sengsara?

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya……..

Salah satu syarat untuk meniti ke dalam diri adalah menerima ketidakadilan yang menimpa kita. Dalam kehidupan masa lalu, mungkin saja kita berbuat tidak adil sehingga kita menerima ketidakadilan masa kini. Bisa juga seseorang menerima ketidakadilan, karena Keberadaan ingin menunjukkan kepada orang banyak bagaimana seseorang dapat menghadapi ketidakadilan dengan bijaksana. Yang jelas kita tidak dapat membersihkan lantai dengan air yang kotor. Terima, hadapi, selesaikan tanpa kehilangan kesadaran……..

Ada pohon yang berbuah dalam sekian bulan, atau sekian tahun. Persis seperti itu pula dengan perbuatan-perbuatan kita. Ada kalanya kita tidak berbuat jahat, dan langsung dijatuhi hukuman. Pada saat itu seharusnya kita bersyukur, berterima kasih: “Ya Allah, sungguh beruntunglah diriku, tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan utang-piutang perbuatanku.” (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Hikayat Gangga 3: Keperkasaan Rambut Mahadeva #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 13, 2017 by triwidodo

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

Yoga, meditasi, laku spiritual bukan seperti itu – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bhagiratha melakukan sadhana untuk mencapai harapan para leluhurnya, menurunkan Gangga ke bumi untuk membasahi abu para leluhurnya yang sampai saat itu masih menderita di Patala karena keangkuhan mereka menyerang Rishi Kapila.

Bhagiratha adalah generasi ke 5 yang berupaya menurunkan Gangga mulai dari Sagara, Asamanja, Amsuman, Dilipa, Bhagiratha. Perjuangan lintas generasi yang tak kenal lelah.

Pada suatu ketika, Bhagiratha mendapat penglihatan tentang Dewi Gangga, “Dewi engkau lahir di kaki Narayana. Ketika Vamana menapakkan kaki tiga langkah sewaktu peristiwa dengan Raja Bali, kakinya dibersihkan tujuh Rishi dan  Brahma menggunakan dirimu. Berkahi kami dan rumah kami dengan dirimu.”

Kemudian Bhagiratha mendapat jawaban dari sang dewi, “Diriku menghormati upaya leluhurmu dalam beberapa generasi untuk membawaku ke bumi. Akan tetapi, kamu tidak mengetahui dampak yang terjadi kala diriku turun ke bumi. Siapa yang kuat menahan arusku? Kemudian, mengapa pula aku harus turun ke bumi? Orang yang berdosa kala mandi di airku akan bersih, dan dosa mereka tertinggal dalam diriku.  Bagaimana aku dibersihkan dari kotoran mereka?”

Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi, para rishi suci, para penglihat agung, mereka telah melampaui perbudakan karma. Mereka tidak punya pikiran selain Tuhan. Manakala mereka berendam di dalam airmu mereka akan membersihkanmu. Perihal kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadeva.”

Dewi Gangga jujur, karena air bersifat mensucikan, tetapi setelah banyak orang kotor yang mandi dia bingung bagaimana cara dia membersihkan dirinya. Dirinya hanya memberikan vibrasi sesuai apa yang ada dalam dirinya. Kesucian para suci itulah yang mengembalikan kesucian air. Oleh karena itu, manusia perlu waspada dalam melakukan ziarah atau tirtayatra. Banyak orang yang setelah ziarah di tempat tertentu malah menjadi pelit, penuh pertimbangan untung-rugi, karena aura materi meliputi tempat ziarah atau tirtayatra tersebut. Para sucilah yang memberikan vibrasi kesucian, berada dekat para suci meningkatkan kesucian diri.

Bhagiratha kemudian melakukan tapa untuk memperoleh bantuan Shiva, Sang Mahadewa. Dan setelah perjuangan berat, Mahadeva bersedia membantunya.

Dewi Gangga dengan sedikit kesombongan turun ke bumi dan airnya hilang ditahan rambut Sang Mahadeva. Gangga tidak bisa lepas dari rambut Sang Mahadeva. Bhagairatha mohon kepada Mahadeva agar berkenan menurunkan air Gangga ke bumi.

Setelah itu Gangga diturunkan Mahadeva dengan menetes agar tidak angkuh lagi. Gangga kemudian membagi dalam tujuh aliran, 3 ke barat, 3 ke timur, dan satu aliran mengikuti kereta Bhagiratha yang diarahkan menuju gua tempat para leluhurnya yang telah menjadi abu. Dan akhirnya, tumpukan abu leluhurnya tersebut termurnikan.

 

Sadhana bukanlah sekadar “laku” atau “praktik“ sebagaimana kata ini umum diterjemahkan. Sadhana juga bukan sekadar upaya yang sungguh-sungguh. Sadhana berarti Laku, Praktik atau Upaya penuh Devosi—Laku, Praktik, atau Upaya dengan semangat Pengabdian.

Pengabdian pada siapa? Pengabdian pada, devosi pada Tujuan Luhur upaya tersebut. Dan Tujuan Luhur itu adalah Samadhi—Keseimbangan Diri. Pencapaian Kesadaran Murni, Kemanunggalan Sempurna dengan Sang Jiwa Agung. Dalam satu kata, “Pencerahan”!

Manfaat utama dari Pencerahan adalah untuk Diri sendiri, untuk Diri yang Sejati, demi kemanunggalan dengan Sang Diri Agung. Hal ini mesti dipahami. Jadi, Disiplin atau Yoga—hidup berpedoman pada prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Patanjali ini—bukan untuk perkara Iain.

Perkara-perkara lain, seperti kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, ketenteraman hati, bahkan prajna atau pengetahuan sejati sekalipun cuma sekadar efek samping dari Yoga. Efek-efek samping yang menjadi berkah bagi diri kita sendiri sehingga kita dapat menggunakan badan, indra, bersama fakultas-fakultas lainnya—seperti mind atau gugusan pikiran dan perasaan, inteligensi, dan sebagainya—untuk mencapai tujuan akhir tersebut, yaitu Samadhi, Pencerahan! Pengantar sadhana Padah dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hikayat Gangga 2: Amsuman Putra Seorang Yogi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 12, 2017 by triwidodo

Sebagian (di antara mereka yang mengalami kelahiran ulang seperti itu) mencapai Samadhi, Keseimbangan Diri atau Pencerahan berkat prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah diraihnya pada masa lalu, dan (upaya sungguh-sungguh pada masa kini) dengan penuh sraddha atau keyakinan; virya atau keberanian dan kekuatan; dan smrti, ingatan atau perhatian (terhadap tujuan Jiwa, yaitu Manunggal dengan Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.20

Berarti, hanya prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah kita raih pada masa lalu pun tidak cukup. Belum cukup. Mesti dibarengi upaya lanjutan pada masa kini. Dan upaya pada masa kini pun bukanlah upaya sembarang. Mesti upaya sungguh-sungguh dengan segenap energi, dengan penuh keyakinan, dan penuh perhatian.

Sraddha adalah keyakinan yang tak tergoyahkan. Sraddha bukan sekadar kepercayaan yang bisa berubah-ubah……… Sraddha, keyakinan, atau trust—bukan belief, yang adalah kepercayaan—terkait dengan Jiwa. Sebab itu, ia tak tergoyahkan. Karena Jiwa yang di-“yakini”-nya adalah langgeng, abadi.

Kepercayaan bisa mengalami pasang surut selaras dengan sifat materi, sifat kebendaan yang berubah terus. Keyakinan atau Sraddha tidak mengalami pasang surut karena selaras dengan sifat hakiki Jiwa, yang adalah percikan Jiwa Agung.

Kemudian Virya atau keberanlan dan kesungguhan upaya dengan segenap kekuatan, segenap energi. Virya bukan sekadar energi……………

Virya bukanlah keberanian asal hantam. Virya adalah keberanian yang bertanggung jawab, inteligen. Keberanian untuk membela kebenaran, kebajikan, keadilan, dan untuk meraih kesadaran diri sejati.

Tidaklah gampang melepaskan kesadaran jasmani yang sudah melekat lama. Tidaklah mudah melepaskan kenyamanan tubuh. Bukan main godaan dari alam benda, dari pemicu-pemicu yang sangat menggiurkan bagi indra, gugusan pikiran serta perasaan, dan sebagainya.

Terakhir, Smrti, ingatan berkesadaran, penuh attentiveness atau penuh perhatian. Jadi dalam konteks ini, Smrti bukan sekadar ingatan atau memori. Namun, ingatan atau memori yang terkait dengan kesadaran, dengan attentiveness atau perhatian. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Asamanja, putra Raja Sagara yang tinggal di istana tingkah lakunya tidak seperti putra raja lainnya. Sebenarnya dalam kehidupan sebelumnya, Asamanja adalah seorang Yogi akan tetapi karena kesalahan tindakannya dia lahir sebagai putra mahkota. Asamanja ingat (Smirti) masa lalunya sebagai Yogi, mempunyai Sraddha, keyakinan, memiliki Virya, keberanian dalam menuju tujuan hidupnya.

Asamanja berupaya sekuat tenaga agar semua orang membencinya, sehingga dia  dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya. Asamanja sudah mempunyai putra bernama Amsuman, akan tetapi tingkah lakunya tidak dipahami masyarakat. Beberapa anak laki-laki ditenggelamkannya di Sungai Sarayu sambil tertawa-tawa. Akhirnya Raja Sagara tidak dapat menahan kesabaran, dan demi rakyatnya, Asamanja diusir dari istana.

Sebelum pergi dari istana Asamanja menghidupkan kembali beberapa anak laki-laki yang ditenggelamkannya. Selanjutnya Asamanja meneruskan perjalanan hidupnya sebagai seorang Yogi.

Putra Asamanjasa bernama Amsuman. Amsuman menjadi andalan kakeknya, Raja Sagara. Amsuman kemudian melacak jejak ke 60.000 pamannya. Akhirnya, Ansuman bertemu Rishi Kapila beserta kuda dan tumpukan debu yang menggunung di dekatnya. Ansuman merasakan kedamaian di depan sang rishi dan segala kekacauan pikirannya tiba-tiba lenyap.

Ansuman kemudian sadar bahwa rishi di depannya adalah Rishi Kapila yang sangat bijak yang telah terkenal di seluruh dunia. “Wahai rishi, kami hanya dapat melihat hal-hal yang bersifat duniawi, objek-objek indera. Bapa Rishi adalah Gusti yang mewujud untuk membimbing manusia. Tolonglah kami untuk menemukan paman-paman kami!” Amsuman menangis dan jatuh di kaki Rishi Kapila.

Rishi Kapila berkata pelan, “Wahai anak muda, ambillah kuda kakekmu. Indra telah meninggalkan kuda tersebut ketika aku larut dalam  meditasi yoganidra. Para pamanmu mati karena terbakar oleh keangkuhan. Satu-satunya sarana yang dapat mensucikan mereka kembali adalah air sungai Gangga.”

Kapila Vasudeva putra Kardama dan Devahuti adalah seorang rishi yang mengajarkan tentang ilmu samkhya.

Mendengar laporan Amsuman tentang ke 60.000 putranya, Raja Sagara merasa tak bahagia. Setelah menyelesaikan ritual Ashvamedha yang ke-100, Raja Sagara menobatkan Amsuman sebagai raja dan pergi bertapa. Raja Sagara tidak pernah mengira bahwa upacara Ashvamedha yang direncanakannya membuat ke-60.000 arwah putranya menderita.

Amsuman berusaha mendatangkan Dewi Gangga ke bumi demi keselamatan para pitri, leluhur, para pamannya. Akan tetapi sampai maut datang menjemput, keinginannya belum tercapai.

Dilipa, putra Amsuman, juga tidak berhasil membawa Dewi Gangga ke bumi sampai akhir hayatnya.

Bhagiratha, cucu Amsuman meninggalkan kerajaannya kepada para menterinya dan bertekad untuk membawa Dewi Gangga ke bumi untuk menyelamatkan para leluhurnya.