Shukadeva: Beda Cinta Gopi dengan Cinta Sepasang Manusia #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on August 8, 2017 by triwidodo

Shukadeva dan Shuka Nadi bagi murid-muridnya

Soul atau Jiwa tidak memiliki gender. Apa gender angin dan air? Apa gender tanah dan api? Apa pula gender Tuhan? Apakah energi memiliki gender, kendati ada istilah positif dan negatif?

Gender adalah urusan badan, fisik, raga—dan badan tidak dapat bertahan selamanya. Adalah energi yang bertahan selamanya. Silakan menggunakan badan sesuai dengan perannya. Silakan menggunakan fisik sesuai dengan gendernya. Silakan menggunakan raga sesuai dengan apa yang selama ini Anda anggap sebagai “kodrat”-nya. Tetapi, sadarlah,bahwa Kodrat Hakiki Jiwa adalah genderless. Tanpa gender.

Soul Awareness Tidak Muncul sebelum kita melampaui identitas-identitas diri yang palsu, identitas-identitas yang terkait dengan badan, pikiran, emosi, intelektualisme, status sosial, latar belakang akademis, dan sebagainya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Ketika Kesadaran Manusia berada di Wilayah 3 Chakra Awal……… Khususnya sekitar Chakra Kedua, maka ia mengejar kenikmatan duniawi. Ia baru mengenal keterikatan dan ketertarikan. Cintanya masih bersifat birahi dan ditujukan terhadap seseorang atau beberapa orang.

Ketika berada sekitar Chakra Keenam, ia mengenal kasih sejati yang tak bersyarat dan tak terbatas. Ia mulai mencintai sesama manusia tanpa mengharapkan timbal-balik. Ia tinggal selangkah lagi merasakan keselarasan sampurna dengan semesta. Tinggal selangkah lagi untuk melihat wajah Allah di mana-mana.

Interaksi antara gender bagi para sanyasi hanya bermanfaat ketika masing-masing sudah berada di wilayah chakra keenam tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Latar Belakang Rishi Shuka sang Penyampai Kisah Srimad Bhagavatam kepada Parikshit

Rishi Shuka (Shukadeva) bahkan lebih sempurna dari Rishi Vyasa, ayahandanya, sang penulis Mahabharata, Srimad Bhagavatam, dan yang mengumpulkan Veda. Rishi Shuka adalah putra ideal dari pikiran Sang Bhagawan.  Pada suatu ketika Rishi Shuka yang tidak berpakaian melewati melewati beberapa gadis yang sedang mandi telanjang di sungai, dan para gadis tidak mempedulikan Rishi Shuka, sang perjaka tampan.

Akan tetapi ketika Rishi Vyasa menyusul Rishi Shuka di belakangnya, para gadis cepat-cepat menutupi diri mereka dengan pakaian, meskipun ia sudah tua.

Vyasa bertanya, mengapa mereka tidak mempedulikan Rishi Shuka yang muda tetapi malu dengan dia yang sudah tua, mereka menjelaskan bahwa Rishi Shuka adalah “Samadrik”, orang yang melihat tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, tetapi Vyasa belum mencapai tahap itu. Mereka dapat merasakannya.

Jelas sekali kala Rishi Shuka mengisahkan Srimad Bhagavatam kepada Parikshit, tidak ada sebersit pun pikiran “ngeres” seperti kita semua. Bagi Rishi Shuka kisah cinta para gopi dengan Krishna adalah kasih murni dalam kesadaran spiritual bukan kisah sensual.

 

Raja Janaka orangtua Sita, mertua Sri Rama pernah menguji Rishi Shuka dengan meletakkan segumpal gula di lidah Shuka dan diminta membiarkan hal tersebut. Pada umumnya, saat melihat gula lidah kita mulai berair. Akan tetapi dalam waktu lama gula di lidah Shuka tidak terganggu, bahkan Shuka tidak mengeluarkan air liur juga.

Selanjutnya Raja Janaka meminta Shuka membawa segelas susu yang terisi penuh dan berkeliling istana, sedangkan di seluruh penjuru istana para penari jelita menari dan menyanyi. Ternyata tidak setetespun susu yang tumpah. Pikiran Shuka terfokus pada Krishna, penyanyi dan penari tidak dapat mempengaruhinya. Kisah Raja Janaka dan Rishi Shuka ini tidak nyambung karena tidak sesuai waktu kelahiran mereka, akan tetapi kisah tersebut memang dari mulut ke mulut.

Intinya, Rishi Shuka yang berkisah tentang Srimad Bhagavatam sama sekali terlepas dari segala bentuk kenikmatan indra. Tidak mungkin dia berbicara dan mengagungkan kenikmatan sensual. Dengan memahami hal tersebut, kita bisa menikmati kasih para gopi dengan Krishna, adalah kasih spiritual bukan sensual.

Karena Rishi Shuka adalah orang suci, sebelum meninggalkan raga, beliau berjanji kepada semua muridnya bahwa beliau akan terus menerus menjaga kehidupan dan memandu mereka sampai lepas dari siklus kehidupan dan kematian. Beliau mulai mendikte “catatan” kepada seorang muridnya. Ada instruksi-instruksi yang diberikan kepada setiap murid, pada saat-saat kehidupan tertentu, ketika mereka benar-benar membutuhkannya. Koleksi beliau sangat besar, beliau telah memberikan catatan untuk 100.000 muridnya.

It is said that before leaving his mortal body, Shuka promised his disciples that he would continue to look after their well being and guide them until each of them transcended the cycle of birth and death. Then he began to dictate the Nadis to one of his disciples. They were instructions given to each of the disciples at a point their lives, rather lifetimes, when they really needed them.

          The collection of Shuka Nadi was therefore a huge one. The great Shuka had left instructions for over one hundred thousand disciples. Each Nadi was thereafter given a code number by the sage himself. And the science of decoding it was taught to the disciples entrusted with the first palm of leaf copies of the Gospel. So five thousand years back he became the first Shastri of Shuka nadi.

 

Krishna baru berusia 10 tahun

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa cinta kasih para gopi terhadap Krishna yang berusia 10 tahun disampaikan pada Canto ke-10 oleh Rishi Shuka. Mulai awal telah disampaikan bahwa para bhakta siap melepaskan segalanya demi Gusti yang mewujud sebagai Krishna Avatara.

Prahlada putra Hiranyakashipu siap meninggalkan kerajaannya demi Gusti yang mewujud sebagai Narasimha Avatara, manusia berkepala singa.

Selanjutnya, Raja Bali yang perkasa menyerahkan semua kekuasaan dan kekayaannya pada Gusti yang mewujud sebagai Vamana Avatara, brahmana kerdil.

Sehingga wajar saja para gopi menyerahkan segala-galanya kepada Gusti yang mewujud sebagai Krishna Avatara. Kita melihat hubungan Yasoda dengan Krishna, mempunyai hubungan yang kekal, karena kasih ibu dengan anaknya adalah kekal. Hubungan rasa antara Krishna dengan Sudama, dan teman-teman lainnya adalah hubungan antar teman, sebagai mitra.

Para gopi juga mencintai Krishna sejak lahir, mereka berusia beberapa tahun lebih tua. Bukan hubungan nafsu. Bahkan para gopi dalam kehidupan sebelumnya adalah para rishi bijak yang mencintai Sri Rama. Jadi dalam kehidupan sebelumnya mereka adalah para rishi yang sudah tua, hanya sekarang memperoleh berkah lahir lagi sebagai para gopi. Sehingga mereka sudah bijak sejak kehidupan sebelumnya. Cinta kasih mereka adalah cinta kasih spiritual belaka.

 

Dari berbagai sumber di dunia maya

Rasa Kridha: Tarian Krishna Para Gopi Larutkan Ketidakbahagiaan #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on August 7, 2017 by triwidodo

“Malam bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari jati-dirinya, adalah saat di mana para bijak yang sadar akan jati-dirinya berada dalam keadaan jaga. Dan, siang bagi makhluk-makhluk yang menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.” Bhagavad Gita 2:69

Di sini ada yang tersurat, ada juga yang tersirat. Memang, mereka yang sedang menempuh perjalanan menuju pencerahan, kesadaran, dan pengendalian diri akan lebih senang berada dalam keadaan jaga pada malam hari, sewaktu dunia luar sedang dalam keadaan tidur. Ia dapat mempraktekkan latihan-latihan meditasi dan laku spiritual tanpa diganggu.

TETAPI, SEBENARNYA ADA ARTI LAIN… Hal-hal yang bersifatkan duniawi dan sementara, yang membuat mata mereka yang belum sadar menjadi silau, tidak dapat mengganggu seseorang yang telah mencapai kesadaran. Ia menikmati semuanya, namun tidak terikat pada sesuatu apa pun. Tidak ada lagi yang dapat menggodanya. Ia bebas dari segala-galanya.

Seorang bijak terjaga terhadap segala sesuatu yang menunjang evolusi-diri. Sebaliknya, mereka yang tidak bijak tertidur lelap terhadapnya.

Bayangkan, di antara 200-an juta penduduk Indonesia, atau di antara 6 milyar lebih penduduk dunia, adakah 1 persen saja yang betul-betul menempuh perjalanan spiritual? Jangan menghitung jumlah “praktisi yoga” yang berlatih untuk kesehatan badan, kecantikan atau ketenangan semu yang bersifat sesaat saja.

PERHATIKAN JUML AH FOOD COURTS, Mall, dan tempat-tempat hiburan lainnya, yang kian bertambah, jauh melebihi proporsi pertumbuhan penduduk.

Kesadaran umum memang masih terjebak dan terperangkap di tengah benda-benda duniawi yang menyamankan bagi indra. Nikmat bagi badan.

Bicaralah tentang kesadaran diri dengan mereka. Dan, mereka akan menertawakan Anda. Bicaralah tentang restoran terbaru di ujung langit, dan mereka langsung memasang kuping – all ears – menjadi tertarik!

Inilah makna tersirat di balik malam bagi mereka yang tidak sadar, adalah siang bagi mereka yang sadar; dan siang bagi mereka yang tidak sadar, adalah malam bagi mereka yang sadar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Rasa adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki beberapa arti, termasuk: “rasa”, “juice“, “cairan tubuh”, “cairan yang mampu melarutkan logam (merkuri).” Rasa adalah jus termanis dari Prema, cinta murni.

Kreedha, Kridha adalah tindakan. Rasa Kridha berhubungan dengan tindakan penuh rasa yang melarutkan semua ketidakbahagiaan.

Lila mempunyai makna yang dekat dengan permainan, antara Gusti dengan bhakta-Nya.

Krishna berusia sepuluh tahun ketika ia melakukan Rasa Lila. Selama tarian, para gopi hanya melihat Krishna saja. Mereka lupa semua tentang keluarga mereka. Hati mereka larut dalam Krishna. Krishna melakukan Rasa Lila untuk menghancurkan kemelekatan pada tubuh melalui cinta murni atau Prema. Dia mengajarkan manusia melalui Rasa Lila bagaimana mentransformasi passion menjadi compassion, cinta murni, dan bagaimana untuk menyapih pikiran dari Vasanas, naluri seksual. Dia menunjukkan bahwa melalui Rasa Madhurya cinta antara seorang pencinta dengan yang dicintainya, maka seseorang dapat mengalami total penyerahan diri atau Atma-Nivedana, dan mencapai Sayujya atau penyerapan dalam Tuhan atau suami dari hati kita.

Dikisahkan pada zaman Treta Yuga, para rishi di Hutan Dandakaranya yang menjadi bhakta Sri Rama, ingin menjadi wanita untuk lebih dapat merasakan cinta Sri Rama. Dalam kelahiran berikutnya mereka lahir sebagai para gopi di Brindavan. Sebetulnya cinta Gusti bukan hanya kepada para wanita. Para sufi mengatakan bahwa mereka semua adalah wanita, yang menjadi satu-satunya pria adalah Dia, Gusti Pangeran.

Pada suatu malam, Krishna meniup seruling dengan suara yang begitu indah dan para gopi segera meninggalkan kegiatan mereka untuk pergi ke Hutan Brindavan tempat Krishna memainkan serulingnya. Pada awalnya, Krishna menggoda dengan mematahkan semangat para gopi dengan mempertanyakan mengapa mereka pergi ke hutan pada waktu malam hari. Apakah para gopi tidak takut dengan binatang yang berkeliaran di hutan tersebut. Krishna menyarankan para gopi pulang, seorang perempuan pada malam hari sebaiknya berada dekat dengan keluarganya.

Para gopi begitu sedih kala Krishna berkata demikian dan mengapa Krishna berbicara dengan kejam tanpa perasaan kepada mereka. Mereka datang ke tempat Krishna mengesampingkan semua hubungan duniawi untuk menyerahkan diri pada seorang kekasih.

Setelah mendengar kesungguhan cinta para gopi, Krishna mulai menyanyi dan menari dengan mereka sambil berjalan-jalan. Mereka mencapai tepi Sungai Yamuna yang berpasir. Mereka semua sangat berbahagia. Namun para gopi merasa bangga, mengingat diri mereka sebagai orang-orang yang sangat beruntung dari semua wanita di dunia karena dikasihi Krishna. Timbul rasa ego dalam diri para gopi. Dan Krishna tiba-tiba menghilang…

Ketika Krishna menghilang, para gopi mulai mencari di setiap tempat. Mereka bertanya kepada pohon-pohon, dan binatang di hutan apakah mereka melihat Krishna. Mereka juga saling bertanya kepada sesama gopi, Krishna berada di mana. Setelah mereka kelelahan, mereka melihat jejak sepasang manusia dan mereka mengikuti jejak-jejak tersebut. Mereka berkesimpulan bahwa ini adalah jejak kaki gopi Radha Rani dan Krishna. Selanjutnya mereka melihat hanya tinggal jejak kaki Krishna yang lebih dalam, berarti Radha Rani sedang dipanggul oleh Krishna sambil berjalan.

Radha Rani mencintai Krishna sangat dalam. Saat para gopi lainnya merasa sangat bangga bahwa mereka adalah wanita yang paling beruntung karena dicintai Krishna, Radha tenggelam dalam kontemplasi terhadap Krishna. Krishna menggandeng Radha yang tidak merasa paling dicintai oleh Krishna. Ketika mereka sampai jauh di tengah hutan, Radha mengatakan bahwa ia sangat lelah dan tidak kuat berjalan lagi. Krishna mengangkat Radha di pundaknya dan Radha  mulai diserang kebanggaan halus bahwa Krishna meninggalkan semua gopi untuk dirinya. Rasa ego mulai muncul…..

Radha sedang dinaikkan ke cabang pohon untuk kemudian naik ke pundak Krishna. Saat merasuk kebanggan halus bahwa dia lebih disayangi Krishna daripada para gopi lainnya, rasa ego muncul, dan Krishna pun kemudian menghilang.

Saat semua gopi datang mereka melihat Radha berada di atas cabang pohon. Radha kemudian menceritakan apa yang terjadi. Mereka sadar atas kesalahan mereka terhadap Krishna, mereka kemudian bersama-sama mencari Krishna. Ketika upaya mereka sia-sia, mereka duduk di tepi Sungai Yamuna dan mulai melantunkan lagu-lagu tentang kemuliaan Krishna. Mereka berulang kali meminta Krishna muncul lagi. Akhirnya, Krishna pun muncul……..

Rasa bahagia tak terkira dirasakan oleh para gopi. Kemudian Krishna memulai tarian rasa. Krishna menari di tengah-tengah para gopi dan Krishna kemudian memperbanyak diri-Nya dan setiap gopi merasa masing-masing sedang menari bersama Krishna. Merasa gerah mereka kemudian mandi di Sungai Yamuna. Mereka kemudian menari dan menyanyi semalaman. Menjelang fajar para gopi diminta kembali ke rumah mereka. Dengan rahmat Krishna, keluarga mereka di rumah tidak merasa bahwa para gopi telah bepergian semalaman.

 

Cinta gopi  kepada Krishna bukanlah gelora gairah fisik. Itu adalah cinta tertinggi. Bagi mereka, Krishna adalah Gusti yang hidup. Dia adalah Gusti yang mewujud. Ketika mereka memikirkan Gusti mereka lupa kegiatan duniawi mereka. Mereka bergabung dalam kasih Gusti. Krishna menarik hati mereka sejak masa kanak-kanak. Krishna adalah anak yang sangat menawan. Para gopi mulai mencintai Krishna sejak kelahiran-Nya. Para ibu membelai dan mencintai Krishna seakan-akan anak mereka sendiri. Gadis-gadis gopi mencintai Krishna sebagai saudara mereka sendiri. Begitulah hubungan antara para gopi dan Krishna. Mereka selalu mengingat Krishna sambil melakukan tugas mereka sehari-hari.

Mungkin saat para gopi bertambah usia mereka mendambakan cinta fisik juga, tetapi Krishna paham dan menghilangkan gairah fisik di dalam diri mereka. Krishna melakukan rasa lila dengan para gopi dengan memperbanyak dirinya. Ini membuat para gopi heran dan takjub. Mereka menikmati kebahagiaan samadhi atau penyatuan dengan Gusti.

Lagu dari para gopi dalam Bhagavata Purana memberikan banyak bukti bahwa mereka menganggap Krishna sebagai Gusti Yang Agung. Keajaiban Krishna sejak masa kecil-Nya membuat mereka percaya pada Kemahatahuan dan kemahakuasaan Krishna. Cinta kasih para gopi terhadap Krishna bersifat ilahi, jauh dari kenikmatan indrawi. Rasa Lila adalah krida ilahi dengan para bhakta untuk membawa penyatuan mereka melalui Prema atau cinta ilahi yang murni. Rasa adalah jus termanis dari Prema. Rasa Lila Krishna adalah misteri dari misteri. Ini adalah rahasia dari rahasia. Ini berisi Rasa Madhurya, kasih antara pencinta dan yang dicintai, kemuliaan Bhakti, yang mengarah ke penyerahan diri mutlak kepada Gusti.

Krishna Kecil: Rindu Wujud Krishna atau Rindu Parabrahman? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 6, 2017 by triwidodo

Intensitas perasaan dan ingatan terhadap Tuhan

“Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan.”

“Para Sufi dan mistik para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini.”

“Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini.”

“Intensitas, suatu hal mendasar yang hilang dalam kehidupan kita kini. Kita tidak menjalani kehidupan secara intens. Kita menjalaninya biasa-biasa saja. Karena itulah kita kurang bahagia. Intensitas dan kebahagiaan berjalan beriringan.”  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Pada saat bulan purnama, Krsna meniup serulingnya. Suara seruling dari tepi sungai Yamuna itu sampai ke Brindavan, menyentuh telingan para Gopi yang juga sedang teringat pada Krishna. Semua gopi meninggalkan pekerjaannya menuju asal suara seruling. Ada yang sedang memerah susu sapi dan periuk isi susunya ditinggalkan. Ada yang sedang mendidihkan susu, dan apinya diperbesar, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan untuk berlari menuju Sungai Yamuna. Ada gopi yang meninggalkan pekerjaan menanak nasi, tidak peduli apa yang akan terjadi, semua ditinggalkannya. Ada wanita yang sdang menyuapi anak, dan anak tersebut ditinggalkan begitu saja.

Suami, anak, pekerjaan semua ditinggalkan demi pertemuan dengan Krishna.

Kesalahan-kesalahan mereka dibakar oleh cinta mereka terhadap Krishna. Mereka mencapai moksha dalamm kehidupan ini.

Parikshit bingung dan bertanya kepada Rishi Shuka, “Guru, mereka mencintai Krishna, tapi tidak sebagai Parabrahman, bukan sebagai Dia Hyang Maha Agung, mereka mencintai Krishna sebagai seorang kekasih. Mengapa mereka mencapai moksha? Apakah cinta semacam itu disebut bhakti?”

Rishi Shuka berkata, “Tidakkah Raja mendengar, mereka yang minum nectar, walau tercampur racun, pengaruh racun akan hilang dan mereka teta menerima manfaat nectar? Setiap saat yang dipikir oleh para gopi adalah Krishna. Bagi Gusti yang penting adalah intensitas dan perasaan. Justru sifat kejantanan bisa menjauhkan kita dari Gusti……

Bisakah kita selalu mengingat Gusti Pangeran dan  rindu pada-Nya seperti rindunya para gopi atau para sufi? Mabok cinta pada Gusti.

 

Mereka yang menjadi Mempelai Gusti

Yang anda sebut “logis”, rasional”, dan “realistis” adalah produk-produk mind. Dan mind sendiri tidak pernah berada di satu tempat. Kadang ada, kadang tidak ada. Itu sebabnya anda selalu ragu-ragu. Undangan untuk memasuki “Balai Pertemuan” pun anda sia-siakan. Anda sakit. Kejantanan, kepriaan, kelelakian – itulah penyakit anda. Sadarilah penyakit diri. Obatilah penyakit anda. Jadilah “wanita”, karena yang bisa masuk ke dalam Balai Pertemuan hanyalah para “Pengantin Wanita”.

Perhatikan senyuman mesra pada wajah Krishna dan kedamaian abadi pada wajah Siddhartha. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan. Lihatlah cahaya kasih yang terpancarkan lewat wajah Yesus. Perhatikan kepolosan hati Muhammad. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

 

Badan pun rindu dengan Gusti

Sesungguhnya, para Gopi menyadari kemahaadaan-Krishna. But, what about the body? Bagaimana dengan badan ini? Kita masih berbadan. Anda dan saya masih berbadan. Sementara roh telah mengalami persatuan dan kesatuan rohani, bagaimana dengan badan?

Badan merasa iri. Dia pun ingin merasakan kesatuan dan persatuan semacam ini. Apalagi “setelah” terjadi pertemuan rohani!

Itu sebab para bhakta, para pencinta Allah merindukan Allah. Sadar akan kemahahadiran-Nya, sadar akan kemahaadaan-Nya, sadar Dia ada di mana-mana — di dalam dan di luar diri — tetapi tetap rindu.

Sebelum terjadi pertemuan rohani kerinduan semacam ini tidak ada. Yang ada hanyalah “kehausan intelek untuk memahaml-Nya. Paling banter, tuntutan rasa untuk merasakan-Nya.

Intelek boleh berkata Tuhan ada di mana-mana. Rasa boleh merasakan kehadiran-Nya. Badan tetap saja haus. Bagaimana bertemu dengan-Nya?

Di balik wujud putra Vasudeva, para Gopi melihat “apa” yang dilihat Maria Magdalena di balik putra Yosep.

Adanya patung para nabi dan santo-santa dalam agama Katolik, para buddha dan bodhisatva dalam agama Buddha atau para avatar dan deva dalam agama Hindu, dimaksudkan untuk menghibur “kesadaran” badaniah dalam diri manusia. Demikian pandangan saya. Sekali lagi, anda tidak perlu menerimanya.

Sekarang kesadaran badaniah kita hanya melirik para Madonna dan Michael Jackson. Ratusan ribu bahkan jutaan orang akan menghadiri acara “Jumpa Fans”. Mati terhimpit pun rela, asal bisa dekat dengan bintang idola.

………..

Melirik dan berkiblat pada Madonna sama saja. Kesadaran badaniah kita masih melirik pada “badan”. Entah itu badan Madonna, atau pemimpin partai dan kelompok itu sendiri.

Sebaliknya kesadaran badaniah seorang Bhakta, seorang pencinta Tuhan, melirik Tuhan. Apa lagi yang bisa dilirikinya? Maka setiap sifat ilahi, diwujudkannya dalam bentuk patung. Dalam bentuk tulisan indah. Dalam bentuk syair pujian. Salahkah mereka?

Mereka bukanlah penyembah patung. Penilaian kita selama ini sangat bias, keliru, tanpa pemahaman betul tentang apa yang mereka yakini.

Keyakinan mereka pun berlandaskan kasih, sama seperti keyakinan kita, keyakinan Anda dan saya — Kasih Sejati, Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas…….. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna Kecil: Menyelamatkan Nanda dari Varuna #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 4, 2017 by triwidodo

Chaitanya hendak mengajak kita untuk menuju rumah-Nya lewat jalan kasih. Banyak jalan untuk menuju rumah-Nya, dan kita dapat memilih jalan yang mana saja, seperti tertulis dalam Bhagavad Gita, “Jalan mana pun yang kau tempuh, kau akan bertemu dengan-Ku!”

Semua jalan benar adanya, sama-sama benar. Tidak ada satu pun jalan yang salah. Kesalahan adalah ketika kita bermalas-malasan dan tidak berjalan.

Bila Hyang Maha Menawan hendak dituju, maka jalan kasihlah yang mesti ditempuh. Ini adalah jalan lembut, jalan yang penuh rasa. Inilah Bhakti, pengabdian purna waktu yang sepenuh hati. Mencintai Gusti Pangeran sebagaimana Rabi’ah al Adawiyya mencintai Tuhan. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari, kala Nanda sedang menjalani puasa Ekadashi, dia mandi di Sungai Yamuna pada waktu yang terlalu dini. Seorang Pengawal Dewa Varuna menganggap tindakannya salah karena mandi terlalu dini dan membawa Nanda ke istana Varuna. Ketika berdiri di tepi Sungai Yamuna, teman-teman Nanda melihat Nanda tenggelam dan tidak muncul ke permukaan, mereka ribut dan ada yang mendatangi Krishna untuk meminta bantuan-Nya. Krishna berpikir bahwa ini adalah tindakan bodoh pengawal Varuna, lalu dia segera terjun ke Sungai Yamuna. Para gopi begitu sedih melihat Krishna terjun ke Sungai Yamuna dan lama tidak kembali. Mereka merasa depresi karena menganggap Krishna telah pergi ke dunia lain.

Krishna mendatangi istana Varuna dan Varuna menyambut Krishna dengan penuh penghormatan. Varuna berterima kasih karena semua penduduk istana telah dimurnikan dengan kedatangan Krishna. Kelahiran Varuna pun menjadi bermakna berkat kedatangan Krishna. Varuna bersujud di kaki Krishna dan memohon ampun atas kesalahan pengawalnya yang membawa Nanda ke istananya. Setelah memuji Krshna, Varuna membasuh kaki Krishna sambil berkata, “Wahai Krishna, segalanya di sini termasuk saya adalah milik-Mu!”

Krishna dengan penuh kasih berkata bahwa Dia menyenangi penghormatan dari seorang bhakta-Nya dan mengatakan bahwa di mana pun bhakta-Nya tinggal, maka di sana pula Dia berada. Kemudian Krishna bersama Nanda segera kembali muncul dari Sungai Yamuna. Para gopa dan para gopi merasakan kebahagiaan yang tak terkira.

Nanda merasa kebingungan melihat kemewahan istana Varuna dan bagaimana Varuna sangat menghormati Krishna. Dia menceritakan kisahnya kepada para gembala di Brindavan. Tanpa ragu, para gembala di Brindavan berpikir bahwa Krishna adalah Tuhan Alam Semesta seperti yang digambarkan dalam kitab-kitab suci. Mereka berpikir apakah Krishna akan berkenan menunjukkan diri-Nya kepada mereka sebagai Brahman yang tanpa batas.

Krishna mengetahui apa yang dipikirkan para gembala dan memutuskan untuk melimpahkan rahmat-Nya. Para gopala, para gembala adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, akan tetapi bhakti mereka terhadap Krishna sangat besar sehingga mereka mendapatkan anugerah yang tak pernah diperoleh oleh seorang yogi pun.

Pertama, mereka dapat merasakan keagungan Brahman, tetapi Krishna paham bahwa mereka tak bisa mengalaminya dalam waktu lama. Selanjutnya, Krishna menunjukkan kepada mereka istana Vaikuntha tempat tinggal Sri Vishnu. Para gopala dapat merasakan kebahagiaan tanpa ada kecemasan sedikit pun. Akan tetapi, beberapa saaat kemudian mereka merasa sedih karena mereka belum melihat Krishna, dan kemudian mereka melihat Narayana di Vaikuntha yang sama dengan Krishna yang dikenal mereka. Akhirnya, mereka menyadari bahwa kehidupan di Brindavan adalah kehidupan yang sangat membahagiakan karena dapat melihat dan berbicara langsung setiap hari dengan Krishna atau Narayana yang mewujud.

 

Kerinduan para gopi dan gopala

Pertemuan adalah perayaan. Namun, kerinduan adalah kekuatan untuk merayakan. Rasa rindu adalah pendorong jiwa dan penyemangat batin. Adakah kerinduan di dalam diri kita untuk bertemu dengan Gusti Pangeran? Apa dan siapa yang kita rindukan selama ini? Jika kita masih merindukan istana, dan bukan pemilik istana, maka kita tak akan pernah bertemu dengan Sang Pangeran, dengan Gusti. Berada di dalam istana-Nya tidak berarti sudah bertemu dengannya. Tanpa niat kuat untuk bertemu dengan-Nya, istana semesta ini bisa menjadi jebakan. Itulah yang telah terjadi selama ini. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Krishna mengajak para gopala di Brindavan menuju rumah-Nya lewat jalan kasih. Pertemuan para gopi dan gopala dengan Krishna membekas amat dalam dalam hati mereka. itulah sebabnya mereka selalu merasakan kerinduan yang dalam saat tidak bertemu dengan Krishna. Setiap saat mereka merasa rindu dan selalu ingin bertemu dengan Krishna.

Kerinduan ini tak bisa dirasakan oleh para cendekiawan.

Seorang cendekiawan biasanya lebih banyak menggunakan otak daripada hati. Ini sudah menjadi rahasia umum. Ketidakseimbangan inilah yang membuat mereka agak kaku. Lalu, apa bedanya dengan para panembah? Bukankah mereka lebih banyak menggunakan hati daripada otak, maka menjadi cengeng? Bukankah mereka pun tidak seimbang?

Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami dan menyadari bahwa para panembah tidak berseberangan dengan para cendekiawan. Para cendekiawan berseberangan dengan para seniman. Dua kelompok ini berbeda pada dua ekstrem. Yang satu kutub utara, dan yang lain kutub selatan. Mereka jarang bertemu.

Wilayah panembahan berada di atas otak dan di bawah hati. Berarti ia meliputi keduanya. Karena itu, jika dibutuhkan, seorang panembah bisa tampil seratus persen otak dan seratus persen hati pada saat yang sama. Sungguh sangat sulit menjelaskan rahasia wilayah ini. Hanya seorang panembah yang tahu, Kendati ia pun tetap gagap. Ia juga tidak mampu menjelaskannya.

Berada di tengah para panembah, para pencinta Pangeran, ia menjadi lembut, selembut panutannya Krishna yang baru berusia 8-9 tahun. Imut-imut, lucu, agak nakal, tetapi sangat menawan. Ia adalah Mana-Mohana, sang Penawan Jiwa.

Berada di tengah medan perang Kuruksetra, ia sangat tegas. Demi kebajikan, keadilan, kepentingan umum, negara, dan bangsa ia siap berkorban. Ia rela menjadi sais kereta Arjuna, seorang sepupu, sahabat, sekaligus dalang, sutradara agung penentu arah perang itu. Ia bisa berada di belakang dan di depan layar pada saat yang sama.

Sungguh luar biasa! Tak seorang pun dapat menandingi kemampuan dan kejelian seorang panembah. Bagi seorang panembah, alam semesta adalah wilayah panembahannya. Di mana saja, dan dalam keadaan apa saja ia tetap berkarya. Para cendekiawan dengan otak besar, dan para seniman dengan hati besar menjadi sangat kecil di depan seorang panembah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna Kecil: Mengangkat Bukit Govardhana #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 3, 2017 by triwidodo

“Seperti apa kepedulian kita terhadap bumi dan sumber alam yang masih tersisa? Kita hanya mengambil, mencuri, dan merampas tanpa memberi. Ya, itulah yang kita lakukan selama ini, mengambil, mencuri, dan merampas. Seperti inikah sifat manusia? Seperti inikah sifat kita semestinya?

Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban ki-Moon, mengingatkan kita bahwa Kita tidak memiliki bumi ini, kita meminjamnya dari anak-cucu kita.” Pernahkah terpikir bahwa pinjaman ini mesti dikembalikan dalam keadaan yang baik, utuh, dan tidak rusak? Adakah kita berhak merusak sesuatu yang bukan milik kita? Apa yang menjadi milik kita? Kita tidak membawa sesuatu “dari sana”, dan kita tidak akan membawa sesuatu “ke sana.

Hanya kesadaran akan Kasih-Mu yang tulus tanpa pamrih yang kuinginkan dalam setiap masa hidupku”, mengisi hidup dengan kesadaran, ketulusan, dan kasih tanpa pamrih inilah yang selama ini terlupakan oleh kita. Jadi, tidak heran jika hidup kita amburadul. Kita hidup tidak selaras dengan alam. Alam maha pengasih dan mengasihi, kita maha pencuri dan merampas. Alam maha pemberi, kita maha pengambil. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari, semua penduduk Brindavan sedang sibuk mempersiapkan sebuah acara besar, ketika Krishna bertanya kepada Nanda, “Ayah ceritakanlah acara apa yang sedang dipersiapkan oleh penduduk Brindavan, setiap tahun nampaknya acara seperti ini selalu diadakan!”

Nanda berkata, “Penduduk Brindavan sedang menyiapkan perayaan untuk berterima kasih kepada Dewa Indra. Tahun ini curah hujan lebih baik karena berkahnya.”

Krishna bertanya, “Ayah, bagaimana dengan pelayanan Bukit Govardhana kepada penduduk Brindavan? Walaupun banyak awan mengandung hujan, apabila tidak ada Bukit Govardhana, awan tersebut tidak menabrak bukit dan hujan tidak turun, atau turun di tempat lain. Air hujan yang turun disimpan oleh akar-akar pohon yang tumbuh di bukit, disimpan, dan dikeluarkan sedikit-demi sedikit, sehingga tanah selalu basah dan air keluar pelan-pelan di mata air menuju Sungai Yamuna. Bukit itulah yang menyimpan air untuk seluruh tanaman dan makhluk di Brindavan. Bukit itulah tempat merumput bagi sapi, dan sapi memberikan susu bagi penduduk. Tanaman tulasi dan tanaman obat lain juga tumbuh di Bukit Govardhana memperoleh air dari air tanah yang tersimpan di bukit dan berguna bagi penduduk Brindavan. Bukit itu juga yang menyediakan makanan pokok bagi kita semua. Mari kita persembahkan perayaan ini bagi Bukit Govardhana!”

Banyak Master yang memberikan makna kisah yang berbeda sesuai dengan kondisi para muridnya. Berikut kita pilih kisah dalam buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna tahu bahwa ada seorang pawang hujan yang dipercaya oleh penduduk setempat. Si pawang hujan ini memposisikan sebagai setengah dewa dan menyebut dirinya Devendra. Krishna mengingatkan kita agar kita menghormati lingkungan atau bumi kita.

Krishna juga tahu bahwa kepercayaan warga desa secara kolektif yang mendatangkan hujan. Krishna ingin membebaskan warga dari ketergantungan dan arogansi si pawang hujan. Ia juga ingin membuat si pawang hujan supaya tidak sombong.

Pada suatu hari, turunlah hujan lebat. Yamuna mulai meluap. Warga desa berkumpul di pekarangan rumah sang pawang hujan. Sementara itu, si pawang hujan berada di dalam, bingung. Pasalnya, ia sudah melakukan apa saja yang biasanya dilakukan, tetapi hujan tetap deras, malah lebih deras lagi, “Apa lagi, apa lagi yang harus kubuat?”

Tiba-tiba muncullah Krishna dengan badannya yang kering. Warga desa bingung, “Krishna, kamu tidak basah?”

“Tidak,” jawab Krishna tenang, “Lihat, di atas ada awan. Entah bagaimana, awan itu mengikuti saya terus!”

Warga desa melihat ke atas. Betul, awan gelap, bagaikan bukit. Salah seorang di antara mereka berteriak, “Bukan, bukan awan…. Aku melihat bukit Govardhana yang diangkat oleh Krishna…”

Krishna térsenyum, “Bukit apa? Awan itu!”

“Tidak, tidak, bukit, bukit, itu bukit Govardhana…. Kau mengangkatnya dengan kelingkingmu. Govardhana Giridhaari, engkau mengangkat Giri, Bukit Govardhana dengan satu jarimu!”

Si pawang hujan pun keiuar dari rumahnya dan melihat sendiri apa yang dilihat juga oleh warga desa lainnya. Mereka semua mengerumuni Krishna. Awan, bukit, atau apa pun yang ada di atas Krishna itu melebar, membesar, sehingga seluruh warga desa berada di bawahnya. Seolah berada di bawah payung besar.

Saat itu juga, terdengar suara geledek… Tetapi, ada juga yang mendengar: “Ini hanya untuk menunjukkan kepada kalian semua bahwa Krishna bukanlah manusia hiasa. Kedatangannya adalah untuk memulai zaman baru.

Berbahagialah kalian yang lahir sezaman dengannya!”

Krishna menasihati mereka, “seorang pawang hujan bukanlah dewa, setengah dewa, apalagi Tuhan. Mintalah kepada Dia Hyang Maha Tunggal, maka seluruh kebutuhanmu akan terpenuhi.”

Mereka mendengarkannya.

“Ya, kebutuhanmu…. bukan melulu kemauanmu, karena kemauanmu belum tentu dapat membahagiakan dirimu. Serahkan urusan kebutuhan kepada Hyang Maha Mengetahui. Biarlah Ia sendiri yang menentukan apa yang kalian perlukan, karena Dia adalah Hyang Maha Memahami, Maha Memberi. Serahkan segala urusanmu kepada-Nya dengan penuh rasa cinta. Jangan takut, Hyang Maha Mencintai tidak membutuhkan rasa takutmu. Ia tidak membutuhkan apa-apa. Dengan mencintai-Nya, kalian akan mengenal cinta, Dan, cinta itulah kehidupan!” dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tidak lama kemudian hujan angin mereda dan seluruh penduduk Brindavan bersukacita. Mereka merasa mendapat anugerah luar biasa bahwa Gusti telah mewujud sebagai Krishna putra Nanda. Seluruh penduduk Brindavan sekarang sadar bahwa Krishna pula yang telah membunuh Putana, Sakatasura, Trinavarta, Vatsasura, Bakasura, Aghasura dan mengalahkan Kaliya.

Nanda meminta perhatian para penduduk dan membuka rahasia yang telah disampaikan Muni Garga sewaktu Krishna masih kecil. Muni Garga pada waktu itu menyampaikan bahwa Krishna juga disebut Vasudeva karena memang sebenarnya adalah putra Vasudeva. Nanda juga menyampaikan bahwa Krishna adalah Narayana yang mewujud ke bumi dan dialah yang paling ditakuti oleh Raja Kamsa.

 

Mengenai Bencana akibat Pemanasan Global

Seluruh bencana alam ini bukanlah kehendak Tuhan. Bukan ini yang Tuhan kehendaki dari manusia. Tidak. Ini semua salah kita sendiri. Kita telah menyebabkan “pemanasan global”. Naiknya suhu lautan telah menyebabkan berbagai bencana di bumi ini, termasuk di negeri kita tercinta ini. Dan kitalah yang membuat suhu tersebut naik. Kita telah menyiksa Ibu Alam kita. Kita telah menghina lingkungan hidup dan merusak seluruh ekosistem. Kini hasilnya sangatlah jelas untuk kita lihat bersama.

Sekarang, hanya terjadi sekitar 0,5% – 1% kenaikan suhu permukaan laut, tetapi bencana yang telah terjadi sungguh dahsyat. Kita tidak berani membayangkan apa jadinya kalau suhunya naik lebih banyak lagi. Jika kita tidak melakukan apa pun, maka 2.000 pulau di kepulauan Nusantara kita tercinta ini akan tenggelam akibat pemanasan global, sebagaimana ditayangkan oleh Voice of America dan disiarkan kembali oleh Metro TV, pada tanggal 5 Februari 2007 yang lalu.

Alasan mereka sangat klise: hal itu akan menyebabkan gangguan dan pengangguran pada industri mereka. Maaf, tapi saya pikir alasan itu sangatlah tidak cerdas. Apa gunanya seluruh industri dan lapangan kerja itu jika kita kehilangan planet ini? Kita harus secara serius berpikir, berkontemplasi, dan menangani masalah ini dengan lebih bijaksana, dengan lebih cerdas. Baik negara maju maupun negara berkembang harus sadar bahwa apa yang mereka lakukan tidak hanya memengaruhi diri mereka sendiri; tindakan mereka itu juga mempengaruhi seluruh dunia. Demi yang namanya “pembangunan”, kita tidak bisa kehilangan planet ini. Kita tidak bisa menyebabkan punahnya begitu banyak populasi di dunia ini. Semua pembangunan material, kesuksesan, dan kemajuan yang kita miliki tidaklah ada artinya jika kita tidak punya lagi planet ini, rumah di mana kita tinggal. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Bali: Koperasi Global Anand Krishna)

Krishna Kecil: Para Istri yang Meninggalkan Segalanya demi Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on August 3, 2017 by triwidodo

Para Brahmana yang ketat ritual dan istri mereka yang penuh kasih

Kebenaran setiap ajaran, setiap kitab suci akan terungkapkan, bila seseorang sudah terbebaskan dari kesombongan intelektual dan melepaskan pendapat-pendapat kaku. Mau tak mau, saya harus memperhalus bahasa Tilopa. Kasihan, orang tua. Salah ngomong sedikit bisa kena cekal. Padahal, Tilopa benar. Yang tidak bisa menerima Siddhartha siapa? Yang ingin membunuh Muhammad siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Yang menghujat Krishna siapa? Tanpa kecuali, mereka semua adalah para ahli kitab. Para intelektual. Mereka-mereka yang sudah memiliki konsep. Mereka-mereka yang sudah kaku, keras, alot.

Lalu siapa pula yang bisa langsung menerima para Buddha, para nabi, para mesias, para avatar? Mereka-mereka yang polos, berhati tulus, tidak berkepentingan dengan konsep-konsep baku. Amrapali, Khadija, Maria Magdalena, Radha. Incidentally, mereka semua adalah wanita, tidak sombong, tidak memiliki ijazah dari universitas, bahkan tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak peduli. Mereka tidak takut mengungkapkan kebenaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu kali Krishna, Balarama dan teman-temannya menggembalakan sapi-sapinya sangat jauh. Dan, pada tengah hari mereka kecapekan dan kelaparan. Para gembala berkata, “Kami lapar, Krishna. Tolong beri kami makanan!” Krishna berkata, “Gusti Pangeran mengikuti langkah kita, mengapa kita harus khawatirkan hal ini? Di dekat sini ada beberapa Brahmana yang sedang melakukan upacara ritual persembahan dan tidak begitu jauh dari para Brahmana, istri-istri mereka sedang memasak makanan. Mintalah kepada mereka makanan, dan katakan saya yang meminta!”

Para gembala datang menghadap para Brahmana minta makanan. Dan, para brahmana berkata bahwa mereka harus menyelesaikan upacara terlebih dahulu dan kemudian membagi makanan kepada mereka yang membantu, dan baru sesudah itu memberikan sisanya kepada Krishna dan anak-anak gembala.

Demikianlah orang-orang yang telah terbelenggu oleh kebiasaan dan tidak bisa berpikir jernih, bahwa ada Krishna dan teman-temannya yang kelaparan. Para gembala dengan tubuh lelah dan kelaparan tidak sanggup menunggu selesainya acara ritual dan kembali kepada Krishna, “Krishna, kami telah mengatakan bahwa Krishna dan Balarama sedang kelaparan, akan tetapi para Brahmana mengabaikan kami!”

Krishna tertawa, “Kalian keliru meminta kepada para Brahmana yang sibuk melakukan ritual tanpa nuansa bhakti. Mereka hanya peduli tentang ritual, mantra, dan maknanya. Mereka mengabaikan Gusti yang merupakan perwujudan dari mantra. Pergilah ke para istri brahmana yang sedang memasak!”

Para gembala yang lapar dan kelelahan tetap patuh kepada perintah Krishna kembali ke tempat istri-istri para Brahmana. Karena penyerahan total para gembala terhadap Krishna itulah, maka mereka tidak pernah mengalami penderitaan batin dalam hidup mereka dan mereka memperoleh kebahagiaan.

Para gembala menemui para istri Brahmana dan berkata bahwa mereka disuruh Krishna dan Balarama meminta makanan karena sedang kelaparan. Para istri Brahmana telah mendengar kisah tentang Krishna dan Balarama, walaupun belum melihat wajah mereka. Para istri Brahmana segera mengisi panci-panci dengan makanan dan mengikuti para gembala menuju ke tempat Krishna dan Balarama. Mereka tidak memikirkan sesajen persembahan ataupun kemarahan para suami mereka. Akhirnya, para istri brahmana melihat Krishna sedang meniup seruling ditemani Balarama. Mereka larut dalam penampilan Krishna dan hati mereka dipenuhi dengan kebahagiaan. Semuanya kemudian makan bersama dengan penuh kebahagiaan ilahi.

Krishna mengatakan, “Aku tahu apa yang ada dalam dirimu. Dalam cinta kalian untukku, kalian meninggalkan dharma-dharma lain yang diharapkan dari kalian. Manakala, hal-hal dunia yang lain tidak ada artinya selain cinta kalian pada-Ku, kalian telah mencapai tingkat Brahmi. Wahai para ibu kembalilah ke tempat persembahan para suamimu.”

Para istri Brahmana menjawab, “Kami sudah datang kepada-Mu meninggalkan segalanya, jangan kejam mengusir kami, suami kami mungkin sudah tidak senang dengan kami. Kami semua ingin ikut dengan-Mu.”

Krishna menyampaikan bahwa suami mereka tidak akan marah dan akan menghormati mereka.

Saat para istri Brahmana kembali ke tempat persembahan, para Brahmana tertegun, rasa marah kepada istri mereka lenyap. Para Brahmana berkata, “Untuk anugerah kasih inilah kami mengadakan upacara. Bahwa Gusti di depan kami dalam wujud manusia kami tidak menyadarinya. Justru istri-istri kami yang telah menyadari kesalahan kami. Kami mengadakan upacara persembahan untuk Gusti, tetapi kami membiarkan Gusti lapar. Kami memohon maaf karena kami telah menuhankan ritual daripada Gusti sendiri. Kami bahkan makan terlebih dulu dan memberikan sisanya kepada Gusti. Justru istri-istri kami yang tidak tahu Veda, tidak tahu cara melakukan ritual, akan tetapi karena kasih-Nya kepada Gusti justru menjadi lebih dekat dari pada kami. Ampuni kami.”

Para Brahmana malu untuk menghadap Krishna dan Balarama dan lagi mereka masih takut pada Raja Kamsa, bila mereka ketahuan melayani Krishna.

 

Bhakti bukan hanya Ritual

Krsna memberi rumusan: “bhajanty ananya-manasa” – mereka, senantiasa, memuja-Ku, mengenang-Ku, menyadari kehadiran-Ku, menghayati hakikat-Ku – dengan pikiran yang tak bercabang, dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku.

Ini tidak sama dengan disiplin doa beberapa kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Yang dimaksud bukanlah memuja-Nya dengan ritual-ritual tertentu, gerak badan tertentu, sesajen tertentu, ataupun cara-cara, metode-metode tertentu. Bukan, bukan semua itu. Adalah pemujaan purnawaktu yang dibutuhkan. Hal ini, jelas tidak bisa dilakukan secara fisik. Fisik punya dharmanya sendiri, banyak hal yang mesti dilakukannya – dari gosok gigi hingga mencari rezeki. Fisik tidak bisa berdoa atau meditasi saja. Yang dimaksud adalah kesadaraan diri.

Bhajanty” bukan sekadar bhajan – Dalam pengertian memuji-Nya dengan bernyanyi, bertepuk tangan dengan diiringi musik. Inilah definisi bhajan yang kita temukan di internet. Bukan. Itu merupakan ekspresi bhajan yang paling mudah, paling populer dan paling umum. ‘Bhajanty’ adalah ‘senantiasa memuji-Nya, mengagungkan-Nya; senantiasa bersyukur atas segala berkah  dan anugerah-Nya; senantiasa menyadari kehadiran-Nya.’

Dan, “ananya manaso” berarti, ‘dengan pikiran yang tidak bercabang’. Nah, pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran. Pikiran kita saat ini bercabang. Dan selama berinteraksi dengan dunia, pikiran yang bercabang tetap dibutuhkan.

Bagaimana kita bisa memutuskan, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Sifat dualitas pikiran kita membantu. Ia memilah antara yang sekadar nikmat, menyenangkan – dari sesuatu yang mulia. Sifat dualitas dibutuhkan pula untuk merawat badan sehingga kita dapat memilih makanan yang bergizi baginya. Sifat dualitas pikiran manusia di balik segala macam konflik, sekaligus di balik segala macam kemajuan dan perkembangan, pertumbuhan. Sifat dualitas inilah yang membuat pikiran bercabang. Jadi, pikiran yang bercabang pun tetap dibutuhkan.

Sifat pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran yang dibutuhkan pada tingkat Jiwa. Nyamuk yang mengganggu, menyebarkan berbagai penyakit; pun demikian dengan kecoa dan serangga-serangga lain – bahkan virus yang menyerang tubuh kita – mesti dibasmi. Saat itu, pikiran yang bercabang berguna untuk menentukan sikap.

Namun, pada saat yang sama pikiran tidak bercabang atau kesadaran juga dibutuhkan untuk menyadari bila dalam Kesadaran Jiwa kita semua bersatu. Tidak perlu membenci nyamuk dan kecoa saat membasmi mereka. Ada juga orang yang bahagia betul setelah berhasil “membunuh” nyamuk dan kecoa. Tidak, tidak perlu bahagia, dan tidak perlu sedih. Pun tidak perlu bimbang, “saya kan spiritual, masak membunuh nyamuk?” Kebimbangan seperti itu muncul dari ego-spiritual, bukan dari Jiwa-spiritual.

Nyamuk-nyamuk yang mengganggu manusia serta kemanusiaan tidak melulu berwujud sebagai nyamuk. Bisa juga berwujud sebagai manusia, sebagai Kaurava, sebagai apa dan siapa saja. Mereka mesti dibasmi tanpa rasa benci. Sembari membasmi “nyamuk-nyamuk” itu, berdoalah dalam hati, semoga dalam perjalanan selanjutnya, kau mendapatkan tuntunan yang dibutuhkan demi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Kau tidak lagi mengganggu sesama makhluk. Penjelasan Bhagavad Gita 9:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Krishna Kecil: Makna Gopi Telanjang di Hadapan Krishna? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 1, 2017 by triwidodo

“Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kukehendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan Kasih-Mu yang tulus dan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam setiap masa kehidupanku.”

Seorang “murid”, dalam pemahaman bahasa Sindhi, bahasa ibuku, adalah seorang yang memiliki “murad” atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud.

Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal untuk memiliki kehadiran-Nya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadari-Nya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiran-Nya dengan keinginan-keinginan lain. Dan itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Adalah sebuah kebiasaan di zaman itu para gadis usia 10-14 tahun berdoa untuk mendapatkan jodohnya. Kita mestinya ingat bahwa dalam kisah perang Bharatayuda, Abhimanyu ayah Parikhsit meninggal dalam usia 16 tahun. Para gopi di Brindavan berdoa kepada Katyayani salah satu wujud Parvati, untuk mendapatkan suami yang baik. Hati para gopi telah tertaut dengan Krishna yang bahkan lebih muda dari pada mereka.

Pada hari itu setelah mengadakan melakukan puasa 1 bulan pada bulan Margashirsha, bulan ke 9 penanggalan India, para gopi melakukan persembahan kepada Dewi Katyayani dan kemudian mandi di Sungai Yamuna. Mereka tidak lagi memohon suami yang baik bagi mereka, akan tetapi mereka mohon agar Krishna menjadi suami mereka. Para Gopi meletakkan pakaian mereka di tepi sungai dan mereka berendam di tengah Sungai Yamuna. Krishna kemudian mengambil pakaian mereka dan memanjat pohon di dekatnya.

Pada saat para gopi bingung mencari pakaian mereka, Krishna berkata, “Duhai para gopi segeralah ke sini ambil pakaian kalian satu per satu, sudah lama kalian berendam, tidakkah kalian kedinginan?” Para gopi keluar dengan kedua tangan berupaya menutupi tubuh mereka.

Krishna melanjutkan, “Aku tahu apa yang ada dalam hatimu, hormatilah aku dengan cara menangkupkan kedua tangan di depan dada kepadaku. Tentu saja para gopi malu melakukannya, akan tetapi mereka jujur, bahwa mereka mencintai Krishna dan kini Krishna datang, dan mereka tahu bahwa Krishna berbicara dengan serius. Akhirnya para gopi dengan wajah merah karena malu, mendatangi Krishna dengan melakukan penghormatan dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada tanpa sehelai benang pun……..

Demikianlah tindakan para gopi yang mencintai Krishna. Mereka berpuasa 1 bulan mengendalikan diri dan kemudian melakukan persembahan dengan tujuan menjadi pasangan Krishna. Baju duniawi, bahkan rasa malu pun sudah ditinggalkan demi Gusti yang dipujanya. Tujuan hidup para Gopi adalah Gusti yang mewujud sebagai Krishna. Tak ada yang lain. Mereka segera menyelesaikan pekerjaan rumah tangga membantu orangtua mereka untuk segera bertemu Krishna saat mendengar suara seruling Krishna.

Bisakah kita menyelesaikan pekerjaan duniawi secepatnya dan ikut melantunkan bhajan, nyanyian persembahan, atau membuka buku yang merupakan surat cinta dari Gusti, atau membaca mantra, mengucapkan pujian ilahi? Bahkan dalam berkarya pun semua dipersembahkan kepada Gusti? Para gopi bisa melakukannya.

Menghadap Krishna dengan tanpa selembar benang bermakna para gopi telah pasrah terhadap Gusti dan tak ada sesuatu pun yang menutupinya, tak ada yang mengikat dirinya selain Gusti. Ini adalah tingkat tertinggi dari seorang bhakta, seorang murad, seorang yang hidupnya hanya berniat tunggal untuk menyatu dengan-Nya.

Kita masih ingat bahwa para gopi dalam kelahiran sebelumnya adalah para gyaani yang telah mendalami spiritualitas dan lahir sekali lagi hanya untuk mengalami “Cinta”.

Di Vrindavan itulah Krishna memulai “leela”-nya, permainannya! Para Gopi dan Gopala yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokul dan pindah bersama Nanda dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para rishi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta! Ya, mereka hanya lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembap, malah banyak di antara mereka yang “jatuh” karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guarding and guiding angels – akhirnya mereka sadar bahwa “Cinta” adalah Aksara Terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam sebuah wejangan, Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan tentang 3 “tipe” murid:

Tipe Pertama adalah Pashu Bhavana: Kesadaran masih seperti pashu, hewan jinak, kalau tidak diikat dia masih menuruti nafsunya. Orang tersebut masih memiliki sifat:

(1) contempt, nafsu rendah, kalau jalan seperti hewan menundukkan kepala sambil melihat bila ada makanan di depannya; apakah kita dalam menjalani kehidupan selalu melihat peluang “rejeki” yang bisa diambil?

(2) doubt, ragu, anjing akan  mencium makanan lebih dahulu sebelum memakannya, cium baju bekas pakai sebelum dipakai lagi, cium anggur sebelum minum; Ini pekerjaan tidak baik tapi nampaknya menguntungkan masih bisa dilakukan.

(3) fear, takut, takut ambil langkah, hewan takut kepada hal baru yang tidak biasa dilakukan; saya mengikuti jalan spiritual, apakah saya akan melarat dan sengsara?

(4) too much egoistic, terlalu egois, anjing tidak mau berbagi tulang dengan kawannya. Apakah kita demikian?

(5) disgust, menjijikkan, hewan tidak suka dimandikan, keterikatan terhadap bau badan. Bila manusia tidak sadar akan bau badannya, bagaimana dia bisa mencium pikiran, perasaan dan jiwanya? Apakah kita tidak membaui bau keserakahan kita atau nafsu kita terhadap lawan jenis?;

(6) family, memikirkan keluarga, bagi hewan keluarga sangat penting, bagi meditator apa yang ada dalam pikiran adalah famili yang sulit dilepaskan; hewan hanya ingin makanan untuk dia dan anak-anaknya, ayam lain yang ingin makan butir-butir jagung akan diusir, dilabrak induknya, apakah kita demikian?

(7) custom and tradition, kebiasaan dan tradisi, untuk melepaskan kebiasaan dan tradisi dibutuhkan keberanian; sudahkah kita melepaskan tradisi yang secara nalar sudah usang tapi masih dilaksanakan? Kita masih ingat dalam film MahaBharata Krishna menyampaikan bahwa tradisi awalnya seperti buah yang mentah, yang melakukan masih sedikit dan rasanya belum manis. Kemudian tradisi seperti buah yang masak dan semua orang senang melakukannya. Dan terakhir, tradisi seperti buah yang sudah busuk, sudah nggak enak dimakan tapi kita tak mau melepasnya karena masih dilakukan banyak orang?

(8). Cast, sejenis, hewan hanya menyukai mereka yang jenisnya sama. Apakah kita hanya menyukai kelompok kita? Dan salah atau tidak karena anggota kelompok kita dia perlu dimaafkan sedangkan orang lain walau baik, bukan kelompok kita dan jangan dipilih?

 

Tipe Kedua adalah Wira Bhavana: Berani, Sifat Manusia. Mempunyai niat untuk menghancurkan belenggu keterikatan. Kebanyakan murid merupakan tipe campuran antara tipe Pashu dan Tipe Wira Bhavana, gabungan manusia dan hewan yang jinak. Misalkan dari 8 sifat pashu, 6 sifat sudah terselesaikan.

Tipe Ketiga adalah Divya Bhawana: Sifat Ilahi. Berani ambil risiko. Bersiap diri dalam hal apa saja. Itulah yang sifat para gopi di Brindavan…..