Masih adakah Rasa Ego dalam Setiap Tindakan Kita? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 8, 2018 by triwidodo

Dikisahkan dalam Bhagavatam Katha, seorang pemuda bernama Manu, bhakta Sri Krishna sedang berjalan menuju tempat suci Brindavan. Sampai di dekat pohon rindang di tepi jalan, dia mendengar beberapa orang cendikiawan berdebat tentang asal mula waktu menggunakan kutipan dari kitab-kitab suci. Tiba-tiba seekor burung gagak terbang dari salah satu pohon dan bersamaan dengan hal tersebut sebutir buah jatuh di tengah mereka yang sedang berdebat.

Seorang dari mereka berkomentar betapa kebetulan bisa terjadi, burung terbang dan buah jatuh, bagaimana hal yang acak pun bisa terjadi bersamaan.

Temannya mulai mendebat, semuanya hasil sebab-akibat, tidak ada yang kebetulan. Burung mencoba hinggap pada buah tersebut dan buah tersebut jatuh dan burung terbang.

Teman yang lain berdebat, bahwa itu murni pekerjaan gravitasi, buah jatuh dan burung terbang.

Manu mengambil buah yang jatuh membersihkan buah di sungai, berdoa: Om Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina, para cendikiawan mengikuti doa yang bisa diucapkan mereka sehari-hari. Mereka mempersembahkan buah tersebut kepada Gusti dan kemudian berbagi buah dengan semua yang hadir.

Makna dari doa tersebut,

 “Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 4:24

Ayat ini dibaca sebelum melakukan apa saja… Umumnya, sebelum makan. Tapi, sesungguhnya kita bisa, dan memang semestinya, kita mengucapkannya sebelum melakukan apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) ) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Semua cendikiawan biasa mengucapkan doa tersebut secara mekanis, tapi kali ini bersama Manu mereka melakukan dengan penuh penghayataan.

Manu menyampaikan bahwa Gusti menerima persembahan buah, air, bunga dan bahkan daun yang dipersembahkan dengan cinta dan pengabdian. Manu melanjutkan, bahwa tubuh kita semua digerakkan oleh otak, kalau otak rusak kita sulit mengatur gerakan. Otak sendiri digerakkan oleh mind. Mind yang memberi kesan “aku” pun hanyalah salah satu gelombang dalam lautan Aku Sejati, Sang Jiwa Agung. Dibelakang segalanya adalah Gusti Yang Maha Agung. Demikian pula burung terbang dan buah jatuh adalah kehendak Gusti juga.

Semua cedikiawan setuju tentang hal tersebut. Di belakang semua kejadian adalah Kehendak Gusti.

 

Tidak ada gunanya berdebat hal-hal yang sepele, yang masing-masing berpegang pada pendirian masing-masing. Tugas kita hanyalah melayani Gusti yang berada di mana-mana dengan cinta dan pengabdian.

Para cendikiawan sadar, pada saat berdebat atau melakukan apa saja, masih saja ada rasa ego pada diri mereka. Doa tadi mengingatkan mereka sebelum bertindak untuk mengingat bahwa di balik semuanya adalah tangan Gusti.

Sadarkah kita apa yang kita perbuat? Apakah ada rasa ego di dalamnya? Selama ada rasa ego maka kebahagiaan yang kita inginkan masih bersifat sementara. Berdebat, atau apa saja yang kita lakukan, kita perlu evaluasi dulu apakah masih ada rasa ego di dalamnya…….

Manu hanya fokus pada persembahan……

Setiap Saat Kesadaran Fokus pada Gusti, Guru Mengajari Mengikis Ego

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya.

Hal lain yang penting adalah…..

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) ) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Jangan Mengikuti Keinginan Ego

“Ia yang tidak menginginkan sesuatu, berhati suci tanpa kemunafikan; cerdas, cermat—penuh kebijaksanaan, bebas dari keberpihakan dan kegelisahan – seorang panembah yang berkarya tanpa ke- ‘aku’ an seperti itulah yang sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:16

Keinginan muncul dari pikiran yang serba terbatas. Keinginan adalah buah persepsi manusia berdasarkan keadaan sesaat. Dalam keadaan tertentu kita menginginkan sesuatu. Namun, tak lama kemudian keadaan berubah – dan kendati kita telah memiliki, telah memperoleh apa yang diinginkan, tetap saja kita tidak puas, tidak bahagia.

……………….

FAVORITISM KITA DITENTUKAN OLEH PUBLISITAS, oleh penilaian di luar, dan oleh persepsi kita terhadap apa yang disajikan itu. Kita tidak menggunakan fakultas kesadaran saat menentukan favorit dan tidak favorit, hanyalah pikiran kita yang berjalan. Kemudian, pikiran itu pula mengecewakan kita. Yang demikian itu bukanlah sifat seorang panembah.

Yang terakhir dalam ayat ini adalah tentang ke-“aku”-an terkait dengan doership — aku telah berbuat ini, aku telah berbuat itu. Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu.

Seorang panembah sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tak akan pernah bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu, ketika otak mengalami gangguan, apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. la digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

REAS0NING SEPERTI INI, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukannya purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada penyerahan diri di mana kita sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah segala-galanya. Dialah semua!

Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) ) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Yang Mengelus atau Mendorong Dirimu adalah Tangan Gusti Juga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on February 7, 2018 by triwidodo

Dalam Bhagavatam Katha dikisahkan tentang Orang Suci bernama Tukkaram. Tukkaram duduk di tepi sungai Gangga melakukan bhajan, menyanyikan lagu ilahi dengan sepenuh hati. Ada seorang yang iri padanya, meludahi mukanya dan mengajak berkelahi.

Tukkaram bangkit dari duduknya, menuju sungai membersihkan seluruh tubuhnya dan kembali melanjutkan bhajan.

Pria yang iri tersebut memancing kemarahan Tukkaram dengan meludahi mukanya lagi dan kembali Tukkaram membersihkan tubuhnya di sungai. Kejadian tersebut diulangi sampai 108 kali. Dan selalu saja Tukkaram pergi ke sungai mandi dan kembali duduk melanjutkan bhajan.

Pria tersebut akhirnya bertanya, “Kenapa kamu tidak marah?”

Tukkaram menjawab, “Mengapa saya harus marah. sesungguhnya saya harus berterima kasih karena dengan rahmatmu, saya mandi di Sungai Gangga sampai 108 kali!”

Ini adalah jawaban seorang bhakta. Seorang gyaani akan berpikir, “Dalam banyak kehidupan aku sering menghina orang dan kini datang hukum sebab-akibat untuk gantian dihina. Untung aku dapat menyelesaikan karma ini dalam keadaan melakukan kebaikan. Karena banyak orang mendapat pembalasan berupa penghinaan pada saat menyakiti hati orang lain.”

Swami Anand Krishna pernah bercerita tentang Meera Bhai yang selalu terpaut hatinya dengan Sri Krishna. Setiap orang yang menghina dan melecehkannya justru membuat dia semakin mencintai Krishna.

Tangan Gusti ada di mana-mana yang mengelusmu maupun yang mendorongmu adalah Dia! Jangan Mengeluh!

Pada suatu ketika Sathya Sai Baba sedang membahas soal cinta. Seorang bule yang duduk di atas kursi roda, mengajukan pertanyaan: “Tadi pagi, ketika antre di kantin, tiba-tiba ada yang mendorong saya dari belakang. Saya hampir terlempar jatuh. Baba, bagaimana saya mencintai orang seperti itu?”

Baba tersenyum, “Bagaimana kalau yang mendorongmu itu ‘aku’?”

Si Bule tidak bisa menjawab pertanyaannya.

Itulah salah satu cara untuk menafikan kesadaran ilusif. Berupayalah untuk melihat Tangan-Nya di mana-mana. Yang mengelusmu Dia, yang mendorongmu pun Dia. Lalu, apa yang harus kau keluhkan? Kepada siapa engkau harus mengeluh?

Bila sulit melihat Tangan Dia yang memang tak terlihat, jadikan gurumu sebagai katalisator. Lihatlah tangan gurumu di balik setiap peristiwa. Dan egomu, ke-“aku”-anmu akan terkikis habis.

Kita takut neraka. Kita pikir neraka dikuasai iblis, sedangkan surga dikuasai Allah. Lain cara berpikir kita, lain pula cara berpikir seorang Rumi. Bagi Rumi neraka adalah wujud cinta-kasih Allah.

Bagi Rumi, neraka ibarat hamam tempat pemandian. Di neraka itulah, manusia memperoleh kesempatan untuk membersihkan diri. Neraka bukanlah kutukan, terapi berkah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Gusti ada di mana-mana

“Bagi seorang bijak yang telah meraih Kesadaran Hakiki tentang dirinya, pengetahuan dari Veda, kitab-kitab suci, ibarat kolam di daerah banjir, di mana tiada kekurangan air.” Bhagavad Gita 2:46

Kṛṣṇa mengatakan bahwa kesadaran semacam itu dapat menjadi milik kita juga. Bukalah mata Anda. Lihatlah di mana-mana ada Gusti, ada Tuhan. Anda dapat melihat-Nya dalam bunga-bunga yang baru saja mekar. Anda akan melihat-Nya dalam bunga-bunga yang sedang layu. Anda dapat melihat-Nya dalam diri orang yang sedang minta-minta di jalanan. Anda juga akan melihat-Nya dalam diri para penguasa.

Anda akan merasakan kehadiran-Nya dalam diri Anda sendiri. Inilah Pandangan Sufi. Inilah Pandangan Zen. Inilah Pandangan Tao. Inilah Pandangan Vedānta, Intisari Veda. Ia yang melihat Kekuasaan Gusti di mana-mana, bahkan dalam dirinya sendiri, akan selalu percaya diri, percaya pada Hakikat-Diri sebagai Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) ) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Meremehkan Pengaruh Kitab Suci #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 6, 2018 by triwidodo

Dalam Bhagavatam Katha dikisahkan tentang seorang bijak yang melakukan vihar, jalan-jalan ke berbagai tempat untuk berbagi pengetahuan tentang Bhagavad Gita. Dia selalu bersama beberapa orang murid yang bergantian mendampinginya. Selama 1 minggu para murid membuka perpustakaan dengan menyediakan beberapa buku Bhagavad Gita untuk dibaca para penduduk. Sebelum pergi Orang Bijak tersebut akan menanyakan adakah hal yang kurang dipahami mereka dan akan terjadi Q & A, Question and Answer Sang Bijak dengan penduduk.

Di suatu desa, para murid yang bersamanya melaporkan bahwa tidak ada satu orang penduduk pun yang membaca pesan Bhagavad Gita. Dan, para murid mengeluh.

Para murid yang diajak kali ini memberi tahu Sang Bijak, bahwa mereka sengaja menyelipkan 1 lembar mata uang dengan nilai terbesar di antara lembaran buku-buku Bhagavad Gita. Hampir satu minggu berlalu belum ada satu pun yang mengambil selipan-selipan uang tersebut, dan mereka mengambil kesimpulan bahwa tidak ada seorang pun penduduk yang membaca buku Bhagavad Gita.

Sang Bijak menegor dengan keras, “Kalian tahu tidak, yang berhak membuat komposisi racikan itu adalah seorang ‘Chef’, Koki, Kepala Juru Masak dan seorang Juru Masak harus menurut apa instruksi ‘Chef’.  Kalian sebagai ‘JuruMasak’ sudah bertindak sebagai Chef, membuat racikan sendiri tanpa mengikuti instruksi Chef!”

Sang Bijak melanjutkan, “Dasar otak lumpur! Bhagavad Gita sangat mulia sehingga membersihkan hati orang yang melihat, menyentuh dan membacanya! Mereka yang menghormati dan kemudian membacanya tidak akan terpicu untuk mengambil uang di selipan kitab. Mereka akan menyadari hidup ini adalah sebuah pergelaran sinetron belaka, kalau mereka berbuat jahat, maka mereka akan menerima balasan dan itu akan memperpanjang siklus kelahiran dan kematian mereka!”

Sang Bijak mulai melunak lagi, “Justru kalian yang bertindak tidak smart, meragukan kesucian Bhagavad Gita dan kesucian penduduk desa. Mulai sekarang kalian harus membaca Bhagavad Gita setiap hari agar kalian dituntun oleh Keberadaan menuju jalan yang benar!”

Para murid mohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut.

Bhagavad Gita: Yoga Kuno yang dirahasiakan

“(Ajaran) Yoga kuno yang dirahasiakan ini pula yang telah Ku-sampaikan kepadamu saat ini, karena engkau adalah seorang sahabat berjiwa panembah.” Bhagavad Gita 4:3

“Sebagian orang menganggap ‘ajaran tua’ sebagai sesuatu yang mesti ditinggalkan, karena sudah usang, kadaluarsa. Ya, jika sekadar ajaran, maka bisa jadi demikian. Tetapi Yoga bukan ‘sekadar’ ajaran.

Yoga adalah laku kehidupan – Yoga adalah Manual Kehidupan. Yoga adalah seperangkat Hukum-hukum Alam yang jika dilakoni, menyelaraskan kita dengan semesta. Dan, bukan itu saja – Yoga juga dapat membantu kita melampaui segala peraturan dan hukum untuk meraih Kesadaran Murni.

Sebab itu, selama masih ada kehidupan; manual ini, ajaran ini, hukum yang dapat melampaui hukum ini, tidak akan pernah usang. Tidak pernah kadaluarsa.

Yoga bukan sekadar Puratana atau Kuno, tetapi juga Sanatana, abadi, langgeng. Dan, juga SANGAT DIRAHASIAKAN – Kenapa? Jika memang universal, kenapa mesti dirahasiakan? Kenapa pula Krsna mesti menyampaikan kepada Arjuna bahwa ajaran ini disampaikan karena Arjuna adalah sahabatnya dan seseorang yang berjiwa panembah?

Kenapa tidak kepada setiap orang? Jawabannya mudah. Saat ini, Anda, pembaca ulasan ini termasuk golongan mana? Termasuk golongan ‘semua’, atau golongan Arjuna?

Jika Anda termasuk golongan semua, maka hampir 6 miliar penduduk dunia semestinya membaca Bhagavad Gita, entah ulasan ini, atau ulasan lainnya. Kenyataannya tidak demikian.

BHAGAVAD GITA ADALAH PUSTAKA YANG PALING SERING DITAFSIRKAN – Karena, memang tidak ada larangan untuk melakukan hal itu. Anda boleh seorang ahli bahasa Sanskrit, atau mengulas Gita berdasarkan terjemahannya dalam bahasa Inggris atau bahasa lain. Tidak ada institusi yang berhak untuk mengeluarkan maklumat bahwa Anda salah.

Kenapa? Karena Gita bukan milik institusi kepercayaan mana pun. Gita adalah ‘buah’ peradaban manusia, peradaban Sindhu, Shin-tuh, Hindu, Hindia, Indies, Indo, yang bersifat universal. Di zaman internet ini, Gita bisa diakses on-line oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Kendati demikian, apakah setiap orang mengaksesnya? Tidak.

ANDA HANYA MEMBACA APA YANG MENARIK BAGI ANDA – Dan, karena ketertarikan Anda, maka Anda membeli buku ini. Walau harganya tidak murah, karena ukurannya cukup besar, tebal, jumlah halamannya banyak. Sementara, umumnya orang kita, orang Indonesia malas membaca buku-buku tebal seukuran ini.

Berarti, Anda tidak termasuk golongan ‘umum’. Anda tidak termasuk ‘semua’ ataupun ‘mayoritas’. Anda termasuk kelompok ‘khusus’ — kelompok Arjuna — yang tidak terpengaruh oleh kebiasaan umum, dan membeli buku ini.

Bahkan, Penerbit buku ini juga demikian. Mereka, setidaknya menaruh simpati terhadap isi buku ini, dan menerbitkannya. Walau, dari segi ekonomi, mungkin lebih menguntungkan bila mereka menginvestasikan jumlah uang yang sama untuk menerbitkan 4 – 5 karya fiksi!

Tidak semua penerbit akan menerbitkan buku ini, walau saya menawarkannya kepada mereka. Apalagi penerbit yang mengkhususkan dirinya untuk menerbitkan buku-buku dari kepercayaan tertentu. Berarti, penerbit karya ini pun termasuk golongan Arjuna.

APAKAH KRSNA PILIH KASIH? Tidak, Ia hanya menawarkan nasi kepada seorang bayi yang cukup berusia untuk mencernanya. Seorang bayi mesti rnakan bubur. Tidak bisa diberi nasi.

Ajaran ini dirahasiakan — implikasinya adalah sama seperti Peringatan Keamanan di atas Kantong Plastik – Amerika dan Eropa mengharuskan hal tersebut – supaya dibuang di tempatnya, dan tidak dijadikan mainan oleh anak-anak kecil, yang dapat membahayakan nyawa mereka.

Mau beli mainan, ada rekomendasi ‘Cocok untuk’ usia sekian-sekian. Dus obat ada peringatannya juga, ‘Simpanlah di tempat yang sejuk, jauhkan dari jangkauan anak-anak.’

KATA ‘RAHASIA’ DI SINI MESTI DIMAKNAI dalam konteks demikian. Se-universal apa pun Bhagavad Gita, tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang belum cukup berwawasan, yang masih berpandangan sempit.

Berbagai kepercayaan mengharuskan anak-anak kecil untuk menghafal kitab suci. Mengerti, tidak mengerti — asal hafal. Tidak demikian dengan Gita.

Menghafal Gita, menyanyikan dengan suara semerdu apa pun — semuanya tidak berguna, jika kita tidak menghayatinya. Dan, untuk itu — dibutuhkan tingkat kedewasaan tertentu. Bukan saja kedewasaan dalam arti usia, tapi dalam arti mental serta emosional, dan inteligensia.

Kadang seorang anak berusia 5-6 tahun sudah cukup dewasa — inteligensianya sudah cukup berkembang. Kadang, seorang tua berusia 50-60 tahun pun masih berpandangan sempit dan belum siap mempelajari pustaka universal seperti Gita.

’KEMATANGAN DIRI, KEDEWASAAN DIRI, Kesiapan Diri yang dibutuhkan untuk rnemahami Gita, Yoga, Ajaran Kuno nan Rahasia ini adalah:

1) Keterbukaan untuk menerima sesuatu yang ‘baru ‘ – baru bagi yang bersangkutan, walau sesungguhnya ajarannya bukanlah sesuatu yang baru.

Keterbukaan ini bisa diartikan sebagai Sifat Jiwa yang Bersahabat. Tidak mentah-mentah menolak, ‘Kami sudah punya kitab pegangan sendiri, sesuai dengan kepercayaan kami. Tidak perlu mempelajari kitab-kitab lain.

 

Penolakan seperti itu membuktikan bila Jiwa masih tertutup oleh kabut ilusif dualitas. Kita belum mau menuju Hyang Tunggal, kita baru memberi lip-service pada konsep Hyang Tunggal. Kita belum siap untuk manunggal.

2) Tidak mempelajari sesuatu dengan apriori, dengan semangat untuk mencari-cari kesalahan, untuk rnernbuktikan bahwa ‘hanyalah kitab kami yang mengandung kebenaran’. Kitab-kitab lain tidak mengandung kebenaran.

Sikap apriori seperti ini bertolak belakang dengan semangat manembah. Semangat manembah tidak berarti kita memuja Gita atau membeli poster lukisan Krsna dan Arjuna untuk menghiasi dinding di rumah. Jika kita tertarik untuk melakukan hal itu, silakan – siapa yang dapat melarang?

Tapi, hal itu tidak menjamin bila kita sudah bersemangatkan seorang panembah. Belum. Semangat manembah berarti kita melihat segala kebenaran berasal dari Hyang Maha Benar yang  Satu, Tunggal. Dan, mempelajari Gita dengan semangat itu, bukan untuk perbandingan dan mencari kesalahan.

Jika kedua kriteria ini terpenuhi, maka kita ‘menjadi’ seorang Arjuna; mitra, sahabat, dengan semangat manembah.

Kemitraan dan panembahan dalam ayat ini mengacu pada sifat-sifat generik. Berlaku bagi setiap orang yang hendak, sedang, dan akan mempelajari Gita. Semangat inilah yang telah mendorong saya untuk kesekian kalinya mengulas kembali ajaran Hyang Dirahasiakan ini. Semangat sama menggerakkan hati penerbit untuk menerbitkannya. Dan, semangat yang sama membuat Anda membeli buku ini, atau barangkali meminjamnya, untuk dibaca, diselami. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) ) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bhakti Jatayu di Ujung Kematian #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 5, 2018 by triwidodo

Dalam Bhagavatam Katha dikisahkan tentang Jatayu, burung pemakan bangkai yang sudah tua. Dia adalah raja burung tapi dengan ketuaannya kekuatan dia sudah melemah. Di angkasa dia mendengar teriakan Ibu Sita, isteri Sri Rama yang sedang dibawa terbang Ravana. Jatayu nekat memberhentikan Ravana dan terjadilah pertarungan dahsyat.

Tidak usah melakukan pertarungan pun dalam waktu tidak begitu lama Jatayu akan sakit-sakitan dan meninggal. Dalam pertarungan jelas Jatayu kalah dan terluka parah. Jatayu mendesah, “Jika tubuhku sudah tidak bisa melayani Sri Rama dengan menyelamatkan Ibu Sita, maka saya siap berhenti menggunakan tubuh ini!”

Di saat-saat terakhir, Sri Rama dan Lakshmana datang dan Jatayu memberi tahu Sri Rama kemana arah Ravana membawa Ibu Sita. Jatayu mohon maaf atas kegagalannya memberhentikan Ravana. Jatayu tetap memberi semangat pada Sri Rama, karena dia berada di ambang kematian, dia bisa mengetahui bahwa Sri Rama akan dapat menemukan Ibu Sita kembali nantinya.

Pada saat terakhir Jatayu masih bisa mohon mukjijzat dari Sri Rama untuk menyembuhkannya, tapi dia tidak melakukan hal demikian, kalau tubuhnya sudah tidak dapat digunakan untuk melayani Gusti lebih baik dia meninggalkan tubuh tersebut.

Sri Rama bersama Lakshmana mengkremasi tubuh Jatayu dan merasa sangat sedih. Kehilangan Jatayu terasa lebih sakit daripada kehilangan Sita.

Kita-kita yang sudah tua, apakah masih mohon mukjizat saat sakit parah dan tidak ada harapan lagi? Apa yang terpikirkan kita menjelang ajal menjemput? Ingat keluarga yang ditinggalkan? Usaha yang dirintis akan berjalan bagaimana? Apakah di usia uzur kita masih berkarya melayani Gusti?

Itulah yang dialami Jatayu. Pikiran menjelang ajal bukan tentang masalah duniawi, melainkan hanya terpusat pada Gusti, karena Gusti hadir secara pribadi menjelang kematiannya.

Dulu, sewaktu kita masih kecil, kita merasa kasihan, Jatayu mati sia-sia melawan Ravana. Sekarang setelah tua dan sadar bahwa maut bisa menjemput kapan saja, Jatayu adalah teladan mati yang baik. Bisakah kita meninggal dengan fokus pikiran pada Gusti? Dengan fokus pada Gusti maka peran di dunia selesai dan tidak akan lahir lagi. Akhir yang baik bagi Jatayu.

Kita menghormati seseorang yang mengatakan bahwa seseorang meninggal dalam keadaan baik, syukur bisa mengucap nama Gusti di akhir kehidupan. Dengan fokus pada Gusti dan tidak fokus pada dunia, peran di dunia telah terselesaikan dengan baik…… Bisakah kita mengalami hal yang demikian? Bukan hanya kata beberapa orang dan doa para takziah yang melawat kita? Tetapi benar-benar fokus pada Gusti saat ajal menjemput?

Saat ajal tiba adalah akhir satu episode kehidupan menurut  Bhagavad Gita

Saat ajal tiba – ini adalah closing scene atau adegan akhir dalam salah satu episode kehidupan kita. Tentunya, adegan akhir ini menjadi awal dari episode baru. Akhir adegan dalam episode ini, mengantar kita pada adegan pembukaan dalam episode berikutnya.

……………

Jika sepanjang hidup yang terpikir adalah dunia benda saja, maka saat ajal tiba, sesaat sebelumnya, kita tidak bisa, tidak mungkin, mengalihkan kesadaran pada-Nya. Saat itu yang terpikir adalah rumah, kerabat, keluarga; istana, yang telah kita bangun dan ‘belum cukup’ menikmatinya; perusahaan, yang kita tidak yakin akan dikelola dengan baik oleh ahli waris kita — dan sebagainya, dan seterusnya.

Pikiran terakhir, kesadaran terakhir saat mengembuskan napas terakhir — sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala ritus yang kita lakukan sepanjang hidup, segala amal-saleh atau dana-punia. Jika semuanya itu kita lakukan untuk pamer, dan bukan sebagai persembahan kepada-Nya_

Pemusatan kesadaran pada-Nya mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Apa yang terpikir saat ajal tiba menurut Bhagavad Gita

“Apa pun yang terpikirkan saat ajal tiba, saat seseorang meninggalkan badannya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), itu pula yang dicapainya setelah meninggalkan badan. Sebab, pikiran terakhir adalah sama seperti apa yang terpikir olehnya secara terus-menerus sepanjang hidup.” Bhagavad Gita 8:6

Ayat ini adalah penegasan atas apa yang telah kita bahas dalam ayat sebelumnya. Kita tidak bisa memikirkan kebendaan sepanjang hidup, kemudian sesaat sebelum ajal tiba, kita mengubah channel. Dalam konteks ini, boleh dibilang kita tidak memegang remote-control.

Saat itu, batere remote-control pun sudah aus, habis. Tidak bekerja lagi. Diri kita sangat lemah untuk bangun dan mengubah channel. Orang lain tidak bisa mengubah channel untuk kita, karena, sesungguhnya setiap orang memiliki pesawat televisi pribadi. Setiap orang hanya menonton program-program “buatannya” sendiri di channel pribadi dan pesawat pribadi!

Guruku selalu mengingatkan bahwa…..

DEWA MAUT IBARAT SEORANG FOTOGRAFER, “Jika mau fotomu bagus, maka tersenyumlah selalu, karena kau tidak tahu kapan Sang Fotografer akan mengambil fotomu. Bersiap-siaplah untuk difoto setiap saat.”

Alihkan kesadaranmu pada Sang Gusti Pangeran, walau kaki, tangan, badanrnu masih tetap bekerja di dunia ini. Biarlah indra melaksanakan tugas mereka masing-masing – namun kesadaranmu selalu terpusatkan pada-Nya! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Jalan Bhakti

Tidak ada jalan lain, kita harus belajar seperti Jatayu yang selalu ingat Gusti, sehingga saat ajal menjemput kita hanya  fokus pada Gusti.

Inilah jalan bhakti, seperti yang dilakoni para gopi di Brindavan, tetap bekerja menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sehari-hari tapi fikiran hanya terfokus pada Gusti (Krishna).

Seperti kehidupan Meera Bhai, setiap saat yang dipikirkan hanya Gusti (Krishna)………

Jejak Kaki Narada dan Bhakti Hanuman Kecil #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 5, 2018 by triwidodo

Dikisahkan dalam Bhagavatam Katha, Hanuman Kecil mendengar alunan musik Vina yang mengiringi nyanyian merdu mengagungkan Gusti Pemelihara Jagad Raya. Anjani, sang ibu berkata bahwa itu adalah suara Rishi Suci Narada bhakta Sri Vishnu.

Hanuman melompat menemui Narada dan mohon blessings. Ditanya Narda blessing apa yang diperlukan dan dijawab blessings apa saja. Narada berpikir bahwa Hanuman tidak punya bakat menyanyi, maka sang rishi membekati Hanuman untuk menguasai nyanyian ilahi. Selesai memberkati Hanuman, Narada akan pergi melanjutkan perjalanan tapi ditahan Hanuman. Hanuman berdalih, bagaimana dia tahu sudah bisa menyanyi ilahi. Harus dicobanya terlebih dahulu.

Narada meletakkan Vina di atas batu karang dan bersiap mendengarkan Hanuman menyanyi. Hanuman menyanyi lagu keilahian dan batu karang bisa mencair dan Vina mengambang di atas cairan batu. Sang rishi sangat menikmati nyanyian ilahi tersebut. Kemudian Hanuman mohon sang rishi membuka mata. Narada membuka mata dan akan mengambil Vina dan pergi melanjutkan perjalanan. Akan tetapi Vina tidak dapat diambil, terjepit cairan batu karang yang mengeras kembali setelah nyanyian berhenti.

Narada minta Hanuman menyanyi lagi agar batu karang mencair dan Narada bisa mengambil Vina-nya. Sang rishi tahu bahwa minggu lalu Hanuman membuat repot dunia karena dia menelan matahari sehingga dunia gelap gulita. Dan sewaktu akan dihukum Deva Vayu marah dan dunia kacau karena angin tidak mau bertiup. Akhirnya dicapai kesepakatan Hanuman tidak dihukum karena ketidakmengertiannya dan berjanji menjadi anak baik.

Hanuman malah berlari ke rumahnya, dan jadilah sang rishi mengejar. Dan kejar-kejaran terjadi di seluruh kamar dan halaman rumah. Anjani bertanya apa yang terjadi dan minta Hanuman tidak nakal lagi. Sang rishi berkata bahwa Hanuman mulai nakal lagi sehingga Vina-nya terjepit di batu karang dan Hanuman harus menyanyi lagi agar batu karang mencair dan sang rishi bisa mengambil Vina.

Hanuman langsung bersujud di kaki Narada, “ Wahai Rishi Suci, Bhakta Gusti Sang Pemelihara Jagad, kami hanya bermaksud kaki paduka menginjak seluruh rumah kami. Dan debu kaki paduka telah memberkati rumah ini dengan menginjak seluruh ruangan. Di manapun saya berada di rumah ini saya akan merasa terberkati.”

Hanuman segera menyanyi lagi, Vina diambil sang rishi dan berpesan, “Hanuman kau sudah diberkati, kau adalah bhakta abadi Sri Rama!” dan Narada melanjutkan perjalanannya.

Para sadguru sangat tulus, Rishi Narada mengajari Hanuman hal yang tidak diketahui sampai menjadi master. Ikuti sadguru ketika mengajak kita melakukan nada yoga, banyak hal yang berguna yang belum kita pahami. Penggal kepala ego diri dan serahkan pada sadguru, biarkan dia bekerja dan kita akan menjadi alat-Nya yang bermanfaat bagi diri kita sendiri.

Setiap kita ke ashram, atau ke tempat suci yang pernah dipijak seorang sadguru, selalu bersyukur seperti Hanuman yang berada di kamar mana pun semuanya sudah diberkati orang suci………

Dengan segenap kemampuannya, dengan sikap nakalnya yang tulus, sebenarnya Hanuman menempuh jalan bhakti. Hanuman adalah jalan bhakti itu sendiri, jalan yang menyelamatkan kita dalam perjalanan kehidupan kita………………..

Hanya melalui Jalan Bhakti kita memahami bahwa dunia ini adalah sinetron belaka

Kita hidup dalam Sinetron Jagad Raya. Adanya tiga sifat alam – Sattva yang menenangkan, Rajas yang penuh gairah, dan Tamas yang membuat malas dan membodohkan, membuat kita merasa benar-benar hidup nyata. Dan,  kita lupa bahwa kita ini sebenarnya sedang main di atas layar sinetron yang bersambung. Hanya melalui jalan bhakti kita bisa bisa memahami permainan sinetron yang terasa nyata dan selanjutnya kita dapat melepaskan diri dari permainan yang tak kunjung usai.

 

“Tirai Maya, hijab ilusif, yang terbuat dari tiga sifat alam – Sattva yang menenangkan, Rajas yang penuh gairah, dan Tamas yang membuat malas dan membodohkan – memang sungguh menakjubkan dan sulit dilampaui. Hanyalah mereka yang senantiasa berbakti pada-Ku, dan Jiwanya terpusatkan pada-Ku yang akan dapat melampauinya.” Bhagavad Gita 7:14

Maya – kekuatan ilusif ini adalah kekuatan-Nya, yang menimbulkan, memunculkan “kesan ciptaan”. Ya, “kesan ciptaan” – seperti kesan suka-duka, banjir-kering, panas-dingin, kelahiran-kematian, dan sebagainya yang kita peroleh saat menyaksikan sebuah pertunjukan. Semuanya sekadar kesan.

Kelahiran dan kematian; suka dan duka adalah tuntutan “peran” yang dimainkan oleh para pemain di atas panggung. Ketika “peran” itu berakhir, si pemain tidak ikut berakhir dengannya. Ia bisa muncul lagi dalam periode berikutnya, melanjutkan perannya. Atau, bahkan memainkan peran lain. Atau muncul dalam kisah lain.

Memang membingungkan – Kita selalu dibingungkan oleh kisah-kisah yang seolah tidak berkesinambungan, sebagaimana seseorang yang tiba-tiba menonton satu episode sinetron yang sudah berjalan lama. Ia tidak mengetahui kisah awalnya. Ia tidak tahu alur ceritanya seperti apa.

Mengetahui seluruh cerita, menyaksikan sinetron atau serial dari awal pun sesungguhnya hanyalah untuk menghibur diri. Janganlah percaya pada  peran yang dimainkan oleh setiap pemain. Itu bukan karakter mereka, bukan sifat mereka yang sesungguhnya.

Tertipu oleh peran – tertipu oleh karakter-karakter di atas panggung. Kita pun sedang menuju nasib yang sama. Mati secara alami dalam keadaan kecewa atau mati bunuh diri – sama saja. Unsur kekecewaan ada dalam keduanya.

Tapi apakah setiap orang mesti mengalami nasib yang sama? Tidak, Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bhakti Shabari Murid Wanita Rishi Matanga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 31, 2018 by triwidodo

Dikisahkan gadis muda bernama Shabari yang tidak begitu cantik, putra seorang pemburu akan dinikahkan oleh orangtuanya. Sang ayah sebagaimana kebiasaan pemburu waktu itu akan menyembelih 1.000 ekor kambing menjelang pernikahannya. Shabari tidak tahan melihat penyembelihan dan lari ke hutan.

Shabari mencari para brahmana untuk mengajarinya tentang ilmu kebijaksanaan sejati. Semua brahmana menolaknya, karena dia dari kasta rendah dan mempunyai warisan darah pemburu binatang dalam dirinya.

Hanyalah Rishi Matanga yang menerimanya, walau sang rishi dikutuk karena mengambil murid dari kasta rendah.

Shabari tinggal di Ashram Rishi Matanga melakukan tugas sehari-hari melayani kebutuhan sang rishi termasuk menggembala sapi-sapi di padang rumput.

Waktu berjalan dan sang rishi sudah menjadi tua, dan menjelang ajal kematiannya sang rishi bertanya, apa yang diinginkan Shabari? Shabari minta agar sang rishi mohon pada Gusti untuk mengajak dirinya meninggalkan dunia. Dirinya tidak dapat hidup tanpa sang rishi. Sang rishi berkata jangan mati dahulu, tunggu dulu sampai Shabari bertemu Sri Rama baru boleh pergi bersama dia.

Shabari tetap hidup sampai tua hanya untuk menunggu Sri Rama. Setiap hari dia pergi ke hutan mencari buah beri untuk melayani Sri Rama. Pada saat malam tiba dan Sri Rama belum muncul dia baru makan buah tersebut. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan cara itu. Pikirannya hanya ingin melayani Sri Rama.

Pada suatu hari Shabari mengambil air di danau tempat mata air sungai yang mengalir ke bawah. Seorang rishi tidak senang, ada seorang wanita kasta rendah yang akan mengotori air danau tersebut. Rishi tersebut melempar batu dan mengenai kakinya sehingga berdarah. Dalam beberapa saat tetesan darah Shabari mempengaruhi air danau berubah menjadi darah. Bahkan sungai yang mengalir di bawahnya juga mengalirkan air darah.

Shabari pulang ke Ashram dengan membawa air dan meringis karena kakinya sakit. Para rishi bingung, tidak ada air untuk diminum maupun untuk ritual. Mereka mulai menyanyikan mantra, melakukan yajna, bahkan ada yang membawa air Gangga untuk dituangkan ke danau. Akan tetapi tidak mengubah keadaan, semua air telah menjadi darah.

Seseorang berkata Sri Rama sedang berada dekat tempat tersebut, coba minta bantuan Sri Rama.

Sri Rama datang sambil tangan kirinya memegang dadanya yang nampak kesakitan dan kaki yang agak pincang jalannya. Sri Rama bertanya apa yang harus dilakukannya, mereka minat kaki Sri Rama dimasukkan danau, tetapi tetap tidak mengubah keadaan. Bahkan seseorang mohon bantuan Sri Rama minum air danau, keadaan tidak berubah juga. Sri Rama bertanya bagaimana awal mulanya sampai air danau dan sungai menjadi darah. Mereka menceritakan tentang Shabari yang dilempar kakinya dengan batu sampai berdarah.

Sri Rama tercekat mendengar nama Shabari. Sri Rama bahwa ini bukan  darah Shabari, tapi darah yang berasal dari hati Sri Rama, perihnya hati Shabari adalah perihnya hati Sri Rama, darah kaki Shabari adalah darah hati Sri Rama.

Sri Rama minta tolong salah seorang memanggil Shabari. Shabari datang sambil berlari lewat air di tepi danau, dan tiba-tiba air danau kembali menjadi air biasa. Sri Rama berkata kepada para rishi bahwa debu kaki Shabari mengembalikan kemurnian danau, bahkan sakit di dada dan kaki Sri Rama segera sembuh……

Shabari mengundang Sri Rama dan Lakshmana datang ke rumahnya dan menghidangkan buah beri yang setiap pagi dipetiknya di hutan. Lakshmana mengingatkanSri Rama bahwa semua buah beri tersebut sudah digigit lebih dahulu. Memang Shabari menggigit setiap buah beri yang terasa manis dimasukkan nampan dan yang masam dibuang. Sri Rama makan buah beri yang manis karena ssudah dipilihkan oleh Shabari.

Sri Rama bertanya apa yang diinginkan Shabari? Dan Shabari menjawab, bahwa dia ingin cahaya jiwanya bisa bersatu dengan cahaya jiwa Gurunya. Sri Rama memberkati, tubuh Shabari lenyap, jiwanya bergabung dengan Jiwa Sang Guru……….

Persembahan penuh kasih seorang Panembah

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

Ritus-ritus, tradisi-tradisi yang mengharuskan kita menghaturkan persembahan ini dan persembahan itu – adalah proyeksi dari pikiran yang kacau. Seolah Tuhan dapat dibeli dengan cara itu.

Di antara kita, ada pula yang berargumentasi bahwa,

“DALAM TRADISI KAMI, ADA TIGA MACAM PERSEMBAHAN, Utama bagi mereka yang mampu; Menengah bagi mereka yang kurang mampu; dan, Nista bagi mereka yang tidak mampu. Jadi tidak ada ada keharusan mesti Utama, sesuai dengan kemampuan masing-masing saja.”

Bertanyalah pada diri-sendiri, “Kata siapa?” bertanyalah, “Apakah kita percaya pada apa yang dikatakan oleh Krsna?” Jika jawaban kita “Tidak”, maka cukup sudah. tidak perlu berargumentasi dan memperpanjang perkara. Tapi, jika jawaban kita “ya”, maka baca ulang ayat ini.berusahalah untuk melihat kebenaran, supaya tidak tertipu oleh “kata si anu”, dari dulu sudah begitu”, atau kalimat-kalimat serupa.

Lewat ayat ini, Krsna menghapuskan tradisi perantara antara kita dan Sang Jiwa Agung, Parabrahman, Paramatma, Tuhan. Tidak ada calo. Hubungan kita langsung –direct. Berilah dia.

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung.

Jangan menyalahartikan ayat ini sebagaai anti ritus – Krsna bukan dan tidak pernah anti-ritus. Ia anti tradsi-tradisi ‘picisan’ yang memberatkan. Silakan mengikuti, memilih, bahkan menciptakan ritus sendiri, sesuai dengan kata hati. Bukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang.

Veda dan juga kitab-kitab suci lain, penuh pujiaan. Namun, jika kita mempelajari semuanya itu dengan hati terbuka, sesungguhnya pujian-pujian itu – yang sekarang dikaitkan dengan berbagai ritus – adalah berdiri sendiri.

Kita bisa menggunakan puji-pujian itu untuk mengiringai ritus-ritus yang sudah menjadi tradisi. Bisa juga menggunakannya untuk mengiringi ritus-ritus yang kita buat sendiri sesuai kata hati.

GUNAKAN AKAL SEHAT! Jika akal sehat mengatakan, “mesti mengikuti ritus sesuai dengan pakem” – maka ikutilah. Itulah kebenaran subyektif untuk diri sendiri kita. Barangkali jga uuntuk mayoritas orang. Namun, jika kita berjumpa dengan seorang Ramakrishna yang tidak mengikuti tradisi – maka hendaknya tidak menyalahkan dia. Itu adalah kebenaran dia.

Pemujaan adalah seuatu yang bersifat sangat pribadi. Dari rumah ke rumah – caranya, mantranya – semua bisa beda. Bahkan, dalam satu keluarga saja, ayah bisa memuja-Nya dalam wujud Ganesa; ibu sebagai Gauri, dan seorang anak sebaggai Sarasvati. Maka dengan sendirinya mantra-mantranya berubah total. Persembahannya pun beda. Bahkan cara bersujud, sikap tangan atau mudra – semuanya beda apalagi, jika di antara anggota keuarga, ada yang beda kepercayaan.

Salahkah mereka? Tidak. Sebaliknya, jika kita masih ingin tetap mengikuti satu cara yang sudah dibakukan oleh “entah siapa” – tapi akaal sehatt kita mengatakan bahwa kita masih harus, tetap mengikutinya – maka kita pun tidak salah.

Di balik semua itu, adalah…..

SEMANGAT PANEMBAHAN YANG PENTING. Adakah kasih yang mengiringi doa persembahan kita? Adakah cinta yang melubar saat kita memuji-Nya? Ini yang penting.

Jika kita melakukan suatu ritus sebagai kewajiban saja, ‘karena dari dulu, secara turun-temurun sudah seperti itu,’ atau ‘karena memang dari sononya sudah demikian,’ – maka, menurut saya, pandangan pribadi saya, saat itu, entah sesederhana atau semewah apa pun ritus yang kau lakukan – semangat panembahannya sudah tidak ada.

 “Ah tidak, saat saya mengikuti upacara, mendengar mantra-mantra yang dibacakan, dan ketika saya diperciki air suci – bulu roma saya berdiri, saya merinding. Ada semacam energi yang mengetarkan sekujur tubuh saya.”

PENGALAMAN-PENGALAMAN YANG DIANGGAP SENSASIONAL SEPERTI INI – memang sensasional – sebatas senses atau indra saja. Pengalaman badaniah. Getaran, melihat cahaya, mendengar suara, mencium sesuatu, merasakan sesuatu – semua sensasi ini adalah dari indra. Tidak membuktikan semangat panembahan. Tidak ada kaitannya dengan kasih, dengan cinta, dengan bhakti.

Seorang panembah larut dalam aksi panembahannya. Ia manunggal dengan yang disembah-Nya. Yang muncul adalah kesadaran akan kehadiran-Nya di mana-mana. Yang terlihat adalah wajah-Nya di mana-mana. Panembahan bukanlah sensasi indrawi. Panembahan adalah Ombak Dahsyat Cinta Sejati yang justru menghanyutkan ego, kesadaran jasmani dan indrawi. Kemudian, saat merinding pun, bukan sebatas bulu roma yang berdiri, tetapi Jiwa yang bangkit! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bhakti Rishi Vyaasa #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on January 30, 2018 by triwidodo

Dikisahkan bahwa Krishna kecil suka sekali makan ghee, dan para gopi biasa membawakannya untuk makan Krishna. Akan tetapi hari itu, Sungai Yamuna sedang meluap, sedangkan Krishna berada di seberang sungai.

Salah satu dari gopi ingat Rishi Bijak Vyaasa sedang berada di dekat mereka. Mereka mohon bantuan Rishi Vyaasa agar mereka bisa menyeberangi sungai untuk menghidangkan ghee kepada Krishna.

Rishi Vyaasa berkata pada diri sendiri, “Krishna, Krishna. Yang kualami hanyalah Krishna, bagaimana dengan aku?”

Para gopi merasa tidak enak, jadi mereka menawari Rishi Vyaasa ghee yang diperuntukkan bagi Krishna. Para gopi cemberut, karena sebagian besar ghee dihabiskan sang rishi dan tinggal tersisa sedikit bagi Krishna. Orang tua kok makan ghee banyak sekali, pikir para gopi jengkel. Rishi Vyaasa tampak menikmati ghee entah apa yang dirasakannya.

Vyaasa kemudian mengajak para gopi ke Sungai Yamuna dan berkata, “Wahai Yamuna, tolong kamu memisahkan diri agar para gopi bisa lewat!”

Sungai Yamuna membelah dan para gopi bisa menyeberang dan mendatangi Krishna. Para gopi menemukan Krishna sdang tidur nyenyak di gubuk. Krishna tidak menunggu para gopi menghidangkan ghee seperti kebiasaan setiap harinya.

Para gopi berkata, “Kami telah membawakan ghee terbaik, silakan makan!”

Krishna membuka matanya perlahan dan berkata, “Oh, terima kasih, tapi saya tidak lapar lagi. Rishi Vyaasa telah memberi makan saya ghee terlalu banyak!”

Para gopi bingung, “Tapi Krishna, beliau ada di sisi lain sungai dan makan sendiri di depan kami?”

Krishna menjawab, “Benar, tapi dia memikirkan saya terus-menerus sambil makan ghee. Dia terhubung dengan saya. Saya makan lewat dia!”

Rishi Vyaasa adalah pengumpul kitab Veda bagi kepentingan manusia. Beliau adalah penulis buku Mahabharata yang dimaksudkan untuk membimbing umat manusia. Karena beliau belum juga merasakan kebahagiaan, beliau mematuhi nasehat Rishi Narada untuk menulis Srimad Bhagavatam yang berkisah tentang Sri Krishna. Setiap saat beliau berpikir tentang Krishna……….

Perjalanan Spiritual dari aku menuju kita dan kemudian menuju Dia

Perjalanan spiritual, menurut Swami, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari “kita” menuju “Dia” Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati. Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas.

Asato – maa Sadgamaya, Tamaso – ma Jyotirgamaya, Mrityor – maa Amritamgamaya. Perjalanan ini adalah dari asat, ketidakbenaran, saya memilih untuk menafsirkannya sebagai “kebenaran rendah”, menuju Kebenaran Sejati, sat; dari tamas atau kegelapan menuju terang Jyoti. Dan dari kematian atau mrityu menuju kehidupan Abadi, Amrita.

Makna yang terkandung dalam doa yang sangat penting ini adalah: Ya Tuhan, bimbinglah kami dari kegelapan khayalan, kebencian, dan ketidaksadaran yang mengerikan ini menuju Kehidupan Abadi, Kebenaran, Kasih, dan Kebijaksanaan. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Perjalanan kesadaran: dari Bukan Badan ke Pengemudi pun Bukan, menuju Kebenaran Mutlak

Krsna mengingatkan kita semua lewat Arjuna bahwa Sang Jiwa Agung adalah….

SUMBER DAN SEBAB SEGALA-GALANYA – semuanya ada karena Dia. Ketika kita merasa sesuatu terjadi karena “diri” kita – maka saat itu adalah ego, gugusan pikiran dan perasaan yang bekerja. Kemudian, kita terlempar jauh dari Kesadaran Jiwa.

                Semuanya terjadi bukan karena aku, tetapi karena Jiwa. Berilah nama lain kepada Jiwa sehingga mudah memisahkannya dari aku-ego. Sebutlah Dia Tuhan – tidak salah. Karena, Jiwa yang bersemayam di dalam diri kita hanyalah percikan dari Sang Jiwa Agung. Katakan, semua itu terjadi karena Tuhan. Bukan karena Aku, bukan karena egoku, bukan karena pikiran atau perasaanku – tapi karena Dia. Dia, Dia, Dia, Tuhan, Sang Jiwa Agung! Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 15:12

 

BADAN ADALAH KENDARAAN – Dan, Jiwa adalah Sang Pengemudi. Memang, ketika kendaraan rusak, pengemudi tidak ikut rusak. Namun, rusaknya kendaraan tetap saja menghambat perjalanan pengemudi.

                Badan yang selama ini disebut sebagai “ciptaan” Prakrti atau Alam-Benda – sesungguhnya “diterangi” oleh Purusa juga. Purusa menerangi alam benda dan benda-benda yang termusnahkan. Purusa pula yang menerangi Jiwa-Individu yang tak-termusnahkan. Hubungan antara Jiwa Individu dan badan erat, setidaknya selama kita masih berbadan. Sehingga, adalah kewajiban kita untuk merawt dan memelihara Badan, yang juga diterangi oleh Purusa yang sama.

                Dualitas ini tidak dapat diingkari. Dualitas ini mesti dipahami dan diapresiasi. Namun, pada saat yang sama, kita juga mesti menyadari adanya Kebenaran Tunggal – Paramatma – Hyang Melampaui segala dualitas. Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 15:16

 

“Namun, Dwi-Fungsi Purusa tidaklah memengaruhi Paramatma atau Sang Jiwa Agung, Hyang meliputi tiga alam, menegakkan dan memelihara semesta dengan segala isinya; Hyang Maha Ada, Langgeng dan Abadi untuk selama-lamanya.” Bhagavad Gita 15:17

Baik kendaraan maupun pengemudi – baik Badan dan Alam Benda, maupun Jivatma atau Jiwa-Individu – ujung-ujungnya keberadaan semua adalah karena-Nya, karena Jiwa Agung. Kendati demikian, karena perbedaan fungsi, maka terciptalah ilusi-dualitas.

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada.

Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu.

KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAK – Jivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa.

LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung.

TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia