Archive for anand krishna

Kepasrahan Raja Bali dan Berkah Narayana #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on May 22, 2017 by triwidodo

Tentang Avatara

Sebagaimana telah kita bahas dalam ayat sebelumnya, penjelmaan Jiwa Agung untuk menegakkan kembali dharma, kebajikan, keadilan – memang terjadi dari masa ke masa, dan bisa di mana saja. Walau, “kadar” penjelmaan bisa beda dari masa ke masa, dari tempat ke tempat – berdasarkan tuntutan masa dan kebutuhannya.

Dunia tidak selalu membutuhkan para Avatara atau Penjelmaan Purna seperti Krsna. Saat itu, peradaban manusia sedangmenghadapi perang nuklir. Maka dibutuhkan Penjelmaan Purna. Lebih sering, kita membutuhkan Amsa Avatara – Penjelmaan Bagian. Sebagian dari Kekuatan Agung pun sudah cukup untuk mengatasi rezim yang zalim dan menindas rakyatnya, apalagi jika terkait dengan satu negara saja, tidak melibatkan seluruh peradaban.

Maka, jumlah Amsa Avatara tak terhitung. Mereka ada di mana-mana. Bisa di mana-mana, tentunya, lagi-lagi sesuai kebutuhan. Bahkan, jika Anda seorang aktivis yang sedang berkarya untuk mengubah tatanan sosial yang sudah usang – maka ketahuilah bila Jiwa Agung, “sebagian” dari Kekuatan Jiwa Agung telah mewujud lewat diri Anda. Tentunya, jika Anda seorang Aktivis Pembawa Perubahan Sejati sekaliber Gandhi, Soekarno, Mandela, dan sebagainya. Anda bukan aktivis bayaran yang bekerja karena adanya funding dari pihak-pihak tertentu, dengan slogan  “Membela siapa yang Membayar.” Penjelasan Bhagavad Gita 4:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Dikisahkan, Raja Asura Bali sedang mengadakan upacara Asvamedha di bawah bimbingan Rishi Sukracharya, gurunya. Pada waktu upacara sedang berlangsung, seorang  brahmana kecil dengan sinar keemasan pada tubuhnya mendatangi upacara. Raja Bali yang selalu menghormati para brahmana langsung menyambutnya dengan penuh hormat dan memberikan tempat kehormatan kepadanya.

Bali berkata, “Aku tidak mengetahui siapa Engkau, tetapi aku tahu Engkau mempunyai keagungan seorang maharishi. Adalah merupakan suatu kehormatan bagiku Engkau memberkati aku dan seluruh anak keturunanku. Upacara Asvamedhaku akan menjadi sangat mulia. Adalah kemuliaan seorang brahmana memberikan berkah dan adalah kebaikan ksatria untuk mengabulkan permintaan seorang brahmana. Apa yang dapat kuberikan kepada-Mu, tanah, emas, istana, gajah atau kuda? Perintahkan kepadaku!”

Vamana menjawab, “Aku tahu kamu raja dengan penuh kerendahan hati, kebajikan, dan kemuliaan. Itu tidak mengejutkan diriku, Sukracharya putra Bhrigu adalah gurumu, kakekmu adalah Prahlada Yang  Agung, ayahmu adalah Virocana Sang Pemberi Agung. Aku tahu dalam keluargamu belum pernah ada kejadian menolak permintaan seseorang. Aku mengetahui kau akan mengabulkan permintaanku. Aku ingin mengambil tanah tiga langkah yang diukur oleh kakiku!”

Raja Bali terkejut dan berkata, “Tentu saja kau seorang anak dan permintaanmu adalah permintaan anak-anak, kamu tidak mengetahui bahwa aku adalah seorang raja besar dan sangat kaya. Daripada minta pulau yang ditutupi lempengan emas kau memilih tiga langkah kecilmu. Tinjaulah kembali permintaanmu dan mintalah yang lebih besar kepadaku!”

Vamana berkata, “Aku menghargai kedermawananmu. Wahai raja, seseorang yang belum menaklukkan keinginannya, semua hal di dunia tidak akan cukup baginya. Seorang manusia yang merasa senang dengan apa yang ia peroleh akan merasa bahagia. Adalah ketidakpuasan yang menjadi penyebab duka-cita manusia. Kamu adalah pemberi terbesar dan Aku minta tiga langkah kaki-Ku”.

Bali tertawa dan berkata, “Semoga demikian. Aku akan memberimu tiga langkah dengan kakimu!” Dan, Bali melihat kaki padma Vamana yang akan segera dicuci dengan air dari dalam mangkuk suci.

 

Apa yang dapat kepersembahkan kepada-Mu

Apa yang dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa yang kumiliki sehingga dapat kupersembahkan kepada-Mu? Apa pun yang ada di sekitarku, apa pun yang melekat pada diriku, termasuk  ragaku, pikiran serta perasaanku diriku ini sendiri – semuanya milik-Mu.

Badanku, pikiranku, harta kekayaanku – sesungguhnya semuanya milikMu. Ya Gusti, semuanya milik-Mu. Apa yang menjadi milik-Mu, kupersembahkan kembali kepadaMu ….. Ya Gusti, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang menjadi milikku. Dikutip dari buku (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

 

Sukracharya menghentikan tindakan Bali dan berkata, “Bali kau belum tahu siapa dia. Dia adalah wujud Narayana yang lahir dari ibu Aditi dan ayah Rishi Kasyapa. Dia akan membantu para dewa. Kamu telah bertindak gegabah dalam hal ini. Narayana akan merampas semua kekayaanmu. Apakah kamu tidak ketahui bahwa satu langkah Narayana akan meliputi bumi. Langkah kedua akan meliputi surga dan langkah ketiga akan mendorong kamu kedunia bawah? Aku tahu kamu berada dalam dilema, kamu terlanjur berjanji dan menarik janji adalah perbuatan adharma yang memalukan bagi seorang raja seperti kamu. Bagaimanapun ingkar janji diperbolehkan bila janji yang ditepati akan menghancurkan dirimu.”

Bali meyakinkan gurunya, “Ayahanda dan kakekku adalah seorang besar yang selalu menepati janji dan aku tidak mau memalukan keluarganya. Aku ingat Rishi Dadhici yang mengorbankan tubuhnya untuk dijadikan Vajra. Ini adalah kesempatan emas bagiku, belum pernah Narayana minta pada seseorang, kini dia minta padaku, biarlah aku mengabulkan-Nya dengan segala risikonya!”

Sukracharya tersinggung karena Bali menolak permintaannya, “Kamu berpikir bahwa kau lebih bijaksana daripada aku. Kamu akan segera menemukan dirimu tanpa kerajaan. Aku mengutuk kamu bahwa kemuliaanmu dan kekayaanmu akan segera meninggalkanmu!” Kutukan Sukra tidak memengaruhi Bali dan dia mengajak istrinya Vindhyavali mencuci kaki Vamana dan dan membasahi kepala mereka dengan air bekas cucian kaki tersebut.

 

Aku dan Milikku

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.” Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

                Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka.

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu apa pun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.

Aku adalah Jiwa, percikan Jiwa Agung. Alam benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. Semuanya milik Dia, Dia, Dia, dan hanya Dia. Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Saat Bali mengangkat wajahnya dia melihat wujud Vamana sebagai Visvarupa Narayana dengan besar yang tak terukur. Langkah pertama-Nya meliputi bumi, langkah kedua-Nya meliputi langit. Garuda kemudian mengikat Bali dengan tali Varuna.

Bali sadar dan terharu ternyata Narayana ingin dia bebas dari kedua kesalahan besar yaitu “Aku” dan “Milikku”. Dengan meminta hadiah Narayana telah mengambil semua “Milikku”, dan sekarang dengan mengikat dirinya, Narayana telah menghilangkan “Aku”. Narayana berkata, sekarang kau sudah kehilangan dua langkah dan Guru Sukra mengatakan bahwa kau akan didorong dengan langkah ketiga di dunia bawah karena kau tidak akan menepati janjimu.”

Bali berkata, “Tuhan, aku tidak bohong, letakkan langkah ketiga-Mu pada kepalaku.”

Prahlada, kakek Bali, datang dan langsung mencuci kaki Vamana. Brahma juga menghadap Narayana dan berkata, “Tuhan jangan menyusahkan Vindhyavali lagi. Bali sudah memberikan segalanya kepada-Mu. Ia telah pasrah kepada-Mu. Ia semestinya diberi karunia oleh-Mu sendiri.”

 

Narayana berkata, “Manakala Aku akan menghancurkan seseorang, Aku akan memberi dia semua kekayaan dan kekuasaan di dunia. Ia kemudian terlibat padanya dan lupa kondisi sejatinya.  Jika aku ingin menyelamatkan seseorang dari maya, Aku menyingkirkan kekayaannya, semuanya. Bebas dari semuanya ia akan menjadi Aku. Bali tidak berbelok dari jalan kebenaran, ia telah menaklukkan maya. Ia telah banyak menderita. Ia telah kehilangan kekayaan, kekuasaan sebagai raja manusia. Musuhnya menertawakan dia yang diikat dengan Varuna. Kerabatnya telah meninggalkan dirinya. Bali sekarang telah mencapai suatu keadaan  yang diinginkan oleh para dewa. Diberkati oleh-Ku dia menjadi Indra sepanjang manvatara bernama Savarni. Ia akan tinggal hingga waktu itu di dalam Sutala yang aku sayangi. Aku akan selalu menemanimu, Bali akan menjadi Indra Agung selama Savarni Manvantara.”

Pelajaran yang dapat dipetik adalah apabila Bali memilih bekerja semata-mata untuk dunia dan melupakan Dia Hyang Maha Menguasai Dunia, seperti nenek moyangnya yaitu Hiranyaksa dan Hiranyakashipu yang menguasai tiga dunia, maka dia akan mendapatkannya. Akan tetapi, dunia yang diperolehnya tersebut, bersifat sementara. Dan bila Bali bekerja semata-mata sebagai persembahan, yang seluruh hasilnya dipersembahkan kepada Hyang Maha Menguasai dunia, maka dia akan mendapat tempat di sisi-Nya (disayangi dan diberkati Narayana). Selain itu, dunia pun tetap diberikan kepadanya (diangkat sebagai Indra di Sutala).

Doa Nabi Sulaiman Kisah #Masnnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , on May 20, 2017 by triwidodo

Salju dan hujan es tidak membahayakan tanaman anggur yang siap panen, tetapi sangat membahayakan buah yang belum matang.

 

Banyak murid yang belum siap, belum matang, tetapi ingin cepat-cepat tampil sebagai murshid. Rumi memberi peringatan keras.

Dunia ini ibarat kolam yang kotor, penuh dengan lumpur. Para wali, para suci, para murshid bagaikan bunga teratai yang “hidup” di tengah lumpur, tetapi tidak tercemar olehnya.

Muhammad memiliki peran ganda, sebagai Pimpinan Umat dan Pimpinan Negara. Dan beliau bisa menjaga keseimbangan diri. Banyak orang yang ingin meniru Beliau, ingin memimpin umat, sekaligus memimpin negara. Mampukah mereka? Bagaimana dengan kesadaran mereka? Apakah mereka sesadar Nabi Muhammad? jika tidak, jangan berpura-para meniru Nabi!

Rumi memberikan contoh Nabi Sulaiman:

Sulaiman sering berdoa, ”Ya Allah, jangan sampai ada orang lain yang memiliki kekuasaan serta kerajaan seperti yang saya miliki.”

Sepertinya, Sulaiman sangat egois. Dia merasa iri, kalau ada yang menandingi clia. Sesungguhnya tidak demikian.

Sulaiman saclar bahwa tahta dan kuasa sangat berbahaya, bahwa rasa angkuh yang muncul oleh karenanya bisa mempengaruhi imannya, keagamaannya. Sekuat-kuatnya iman dan keagamaannya, kadang-kadang masih saja terhanyutkan dalam arus keduniawian. Setiap kali sadar kembali, dia merasa malu. Dia menyesali keterikatannya pada dunia.

Doa Sulaiman tidak muncul dari hati yang picik, yang penuh dengan rasa iri, tetapi dari jiwa yang besar, yang penuh dengan welas kasih. Permohonannya kepada Allah muncul dari kepeduliannya terhadap orang lain, “Jangan sampai ada yang merosot kesadarannya, iman serta keagamaannya, hanya karena tahta dan kuasa. Ya, Allah, janganlah memberikan kekuasaan serta kerajaan seperti ini kepada orang yang belum sadar. Setidaknya dia harus sesadar saya, sehingga kalaupun kesadarannya merosot, kalaupun  kakinya terpeleset karena keterikatan pada dunia ini, dia akan segera bangkit kembali. Sadar kembali dan merasa malu.” Demikian makna terselubung di balik doa Nabi Sulaiman.

Demikianlah orang yang sadar. Walaupun menjadi raja dan memperoleh kekuasaan, dia tetap sadar. Lain halnya dengan mereka yang tidak sadar. Kerajaan dan kekuasaan bisa membuat mereka sombong, angkuh, arogan.

Banyak orang sadar yang begitu naik tahta, begitu berkuasa, jadi hilang kesadarannya. Banyak murid unggulan yang terpeleset, jatuh dan tidak sadar akan kejatuhannya, hanya karena cepat-cepat ingin menjadi murshid. Anda tidak bisa “mengangkat” diri menjadi murshid. Tidak ada lembaga atau institusi yang bisa mengukuhkan ke-“murshid’-an anda. Yang mengangkat anda adalah Keberadaan. Dan Keberadaan pula yang akan mempertemukan para murid dengan anda. Sadarilah hal ini, dan anda tidak akan terpeleset. Anda tidak akan menjadi angkuh, arogan, sombong. Anda tahu persis bahwa peran yang sedang anda mainkan adalah pemberian Sang Sutradara. Dialah yang menentukan segala-galanya.

Panggung Sandiwara ini adalah milik Dia. Yang menulis cerita dan skenario adalah Dia. Yang memilih para pemain adalah Dia. Pertunjukan ini adalah pertunjukan Dia. Saya dan anda diberi kesempatan untuk tampil—bukan karena kita hebat. Banyak pemain lain yang lebih hebat, tetapi Dia memilih kita! Ucapkan Syukur Alhamdulillah, Puji Tuhan, Shukraan, Dhanyavaad—Halleluyah!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Vamana Avatara: Lahir dari Kegigihan Ibu dan Berkah Narayana #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 18, 2017 by triwidodo

Kemenangan kelompok dharma dan adharma silih berganti

Tiada sesuatu yang bertahan – segala sesuatu sedang berubah. terus. Tidak ada sesuatu yang permanen. Ini adalah salah satu aspek Kebenaran. Aspek Kebenaran dari sudut pandang materi atau kebendaan……

Namun, ada juga aspek lain dari Kebenaran Tunggal yang satu dan sama ada-Nya. Aspek ini tidak mudah dipahami, karena untuk memahaminya kita mesti menembus dimensi “nyata” dan memasuki dimensi “gaib” atau “tidak nyata”. Aspek ini adalah Keabadian Jiwa dan Relasi Jiwa dengan Jiwa Agung. Aspek ini tidak nyata, setidaknya belum terungkap sepenuhnya bagi kita yang masih hidup dalam keraguan. Aspek ini bersifat spiritual, rohani. Aspek ini mempertemukan materi dan Spirit atau Jiwa, di mana materi terlihat jelas tidak bisa berbuat apa-apa tanpa landasan Spirit, tanpa Jiwa.

Segala perubahan yang terjadi di alam benda ‘bisa terjadi’ karena adanya interaksi dengan Jiwa, dengan Spirit. Tanpa adanya interaksi dengan Spirit, tidak ada pemain sandiwara, tidak ada permainan. Tidak ada sandiwara. Jiwa atau Spirit bersifat kekal abadi. Sementara itu, alam benda berubah terus. Para pemain pun berganti peran terus. Setting sandiwara juga tidak statis, ada saja perubahan. Penjelasan Bhagavad Gita 11:2 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dikisahkan bahwa setelah para dewa memperoleh amrita, minuman keabadian, para asura kembali menyerang para dewa. Akan tetapi para asura mengalami kekalahan, Bali Raja asura pingsan dan sebagian besar asura mati dalam pertempuran. Rishi Narada datang dan menyarankan perang agar disudahi saja, tujuan para dewa untuk memperoleh amrita sudah tercapai. Indra dan para dewa setuju, mereka kembali menguasai kerajaan mereka dan para asura kembali ke tempat tingggal mereka.

Waktu berlalu, Rishi Sukracharya, guru para asura menyembuhkan Bali dan menghidupkan kembali para asura. Rishi Sukracharya mempunyai mantra sanjivani yang dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati, yang akan dikisahkan kemudian.

Bali putra Virocana, cucu Prahrada, adalah seorang pemimpin besar para asura. Bali menghadap guru para asura yaitu Sukracarya putra Bhrigu. Bhrigu adalah putra Brahma sedangkan ibu Sukracarya adalah Khyati, putri Kardama-Devahuti.

Sukracarya kemudian mengadakan upacara persembahan yang akan mengembalikan kekuatan dan keperkasaan Bali. Selesai upacara persembahan, nampak Bali menjadi lebih kuat dan lebih agung. Bali naik sebuah kereta perang kebesaran dan para asura menjadi pasukan tangguh yang menyebabkan nyali para dewa menjadi ciut. Bali dan pasukannya segera kembali menyerang istana para dewa dan menduduki kota Amaravati.

Indra yang kalah kemudian menghadap guru para dewa yaitu Bhrihaspati putra Angira. Angira adalah putra Brahma dan ibu dari Bhrihaspati adalah Shraddha, putri Kardama-Devahuti. Jadi baik Brihaspati, guru para dewa maupun Sukracharya, guru para asura semuanya adalah cucu Kardama-Devahuti.

Bhrihaspati menjelaskan bahwa Sukracarya berada di balik kepulihan kebesaran Bali dan sebaiknya Indra dan para dewa meninggalkan Amaravati dulu, menunggu waktu yang tepat. Akan ada waktunya Sukracarya tersinggung dengan tindakan Bali dan segala kebesaran Bali akan ditariknya kembali.

Bali kemudian menjadi raja dari tiga dunia dan menyelenggarakan upacara 100 Asvamedha dan kebesarannya menjadi terkenal di seluruh penjuru dunia.

 

Upaya gigih seorang ibu dan berkah Gusti melahirkan putra perkasa

Pernikahan antara dua anak manusia yang berada pada gelombang kesadaran yang sama dapat memperkuat “gelombang bersama” mereka. Dan, dengan kekuatan itu pula mereka dapat mengundang kekuatan-kekuatan alam yang kemungkinan tidak dapat diakses secara terpisah.

Banyak orang menjadi sukses setelah pernikahan. Kenapa? Karena alasan yang telah dijelaskan di atas. Kekuatan ganda suami istri mampu meningkatkan gelombang mereka bersama dan mereka bisa meraih keberhasilan yang tak terbayangkan sebelumnya.

………………

Para Yogi sangat menghormati kaum perempuan dan menghargai peran mereka sebagai penopang keluarga, masyarakat, dan bangsa. Mereka jauh lebih intuitif daripada kaum pria, lebih disiplin, lembut tapi tegas. Di wilayah peradaban Hindia, kaum perempuan tidak pernah dianggap sebagai warga masyakarat yang lemah dan oleh karenanya mesti selalu berada di bawah kaum pria. Bagi setiap pria yang ingin meraih keberhasilan: Hendaknya kau menghormati para wanita dalam hidupmu.

Seorang wanita adalah personifikasi Bunda Alam Semesta. la adalah wujud kasih dan kekuatan, kelembutan dan ketegasan. Janganlah menyalahtafsirkan kelembutannya sebagai kelemahan. Tiada seorang pun yang menjadi besar, tanpa peran wanita dalam hidupnya. Oleh karena itu berterimakasihlah kepada kaum perempuan, bersyukurlah kepada Keberadaan atas kehadiran mereka dalam hidupmu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Aditi adalah putri Daksa dan istri dari Rishi Kasyapa. Rishi Kasyapa adalah putra Rishi Marici-Kala dan cucu dari Kardama-Devahuti. Aditi dan Rishi Kasyapa adalah sepasang anak manusia yang setara, sama-sama menjadi bhakta Narayana, sehingga mereka dikaruniai putra-putra yang menjadi para dewa dan di antaranya adalah Indra, seorang raja dewa.

Pada waktu Rishi Kasyapa pulang setelah lama bertapa, dia melihat Aditi sedang berada dalam kesedihan yang nyata. Aditi menyampaikan bahwa dia sangat menderita karena Indra dan para dewa lainnya diusir pergi dari Amaravati oleh raja asura, Bali.

Aditi berkata, “Aku adalah seorang perempuan bodoh yang tidak tahu dengan cara apa Gusti Narayana harus dipuja. Tidak mungkin aku bertindak seperti kamu bertapa dengan keras. Tunjukkan  cara yang mudah bagi perempuan sepertiku agar doaku dikabulkan-Nya.”

Rishi Kasyapa berkata, “Aku diajari Brahma mengenai Payovrata, laku siang-malam memuja Narayana dimulai saat bulan terang pada bulan Phalguna (pertengahan Februari-pertengahan Maret) selama 12 hari dengan hanya minum susu sebagai makanan. Ucapkanlah mantra “Aum Namo Bhagavate Vasudevaya.” Jika kamu melakukan ini dengan penuh bhakti, maka Narayana akan mengabulkan keinginanmu.”

 

Doa Aditi

Setiap doa yang dipanjatkan dengan ketulusan hati dan kesungguhan jiwa pasti terkabulkan! Berdoalah, setiap kali kau menghadapi suatu keadaan di mana keseimbangan dirimu goyah. Berdoalah setiap kali kau merasa tidak berdaya dan lemah untuk menghadapi suatu tantangan yang berat. Berdoalah dengan cara menarik diri dari keramaian; membuka hati, pikiran, dan jiwamu kepada Gusti Allah. Berdoalah untuk memperoleh tuntunan-Nya, bimbingan-Nya. Dan, yakinilah bahwa la Maha Mendengar. Banyak cara yang ditempuh-Nya untuk menjawab doamu. Bukalah dirimu terhadap semua cara itu. Ada kalanya la mengutus para malaikat, para dewa, atau para roh suci untuk menolongmu, membimbingmu. Ketahuilah bila semuanya itu terjadi semata karena la menghendaki-Nya. Para Yogi selalu berdoa untuk Terang, untuk Tuntunan, untuk Kebijaksanaan, Kekuatan, dan Kasih. Doa mereka selalu terkabulkan. Belajarlah untuk berdoa seperti mereka. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.)

 

Aditi melakoni Payovrata dengan taat, dan pada hari keduabelas tapa bratanya, Narayana nampak di hadapan Aditi dan berkata, “Ibunda para dewa, kau tidak perlu menceritakan apa yang membuatmu menderita. Aku mengetahui bahwa para putramu ada dalam kekuasaan para asura. Kau ingin para putramu kembali berkuasa, akan tetapi kau harus sabar menunggu. Pada saat ini bintang Bali sedang bersinar karena kemuliaan Sukra.  Bagaimanapun aku senang dengan tapa bratamu, aku akan dilahirkan sebagai putramu. Jangan mengatakan kepada siapa pun karena kelahiranku adalah suatu devarahasya.” Dan, kemudian Narayana lenyap dari pandangan Aditi. Setelah tiba waktunya lahirlah Vamana yang tumbuh menjadi laki-laki kerdil.

Silakan ikuti kisah Vamana dalam Srimad Bhagavatam selanjutnya…..

Kisah Zayd dan Matahari Pencerahan #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 16, 2017 by triwidodo

“Bagaimana kabarmu pagi ini, Sahabatku?” tanya Nabi kepada Zayd.

“Pagi ini aku melayani Allah,” jawab Zayd.

“Berarti kamu telah mengunjungi ‘Taman Iman’. Adakah sesuatu yang ikut berbunga dalam dirimu?”

Zayd menjawab, “Sepanjang hari aku mengenangnya. Tiba malam, dan aku merana, merintih, mengingat Dia. Maka, aku melampaui dua-duanya. Ternyata, malam memang tidak berbeda dari pagi. Yang berjalan tidak berbeda dari yang duduk. Waktu ribuan tahun sama seperti satu jam.”

Nabi menanggapinya, ”Apakah kamu membawa ’Cinderamata Ketulusan Hati’ dari perjalananmu?”

Di sini kita membedakan hitam dari putih. Di sana, semuanya sama. Sebaliknya, apa yang terlihat sama di sini, di sana tampak berbeda. Terungkapkan sudah rahasia kiamat dan pembangkitan. Haruskah aku menjelaskan semuanya?” demikian kata Zayd.

Nabi Muhammad memberi isyarat dengan matanya, seolah-olah mengatakan, ”Cukup sudah.”

 

Zayd baru saja mengalamai sesuatu yang indah, tetapi sangat alami. Dia bingung, jika pengalaman itu begitu indah, alami dan mudah diperoleh, kenapa tidak semua orang mengalaminya…….

 

“Kenapa tidak semua orang melihat Matahari Kebenaran?” tanya Zayd.

“Karena mata mereka tertutup oleh jari mereka sendiri. Begitu melepaskan jari, Matahari yang terang benderang akan terlihat jelas,” jawab Nabi.

 

Tidak perlu sepuluh jari. Dua jari sudah cukup untuk menutup mata kita, untuk membuat kita tidak melihat Matahari Kebenaran.

Jari-jari tangan yang berjumlah sepuluh dan dapat membutakan kita itu digerakkan oleh naluri hewani, bekerjasama dengan panca indera.

Lima jari pertama adalah: hawa nafasu, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan. Lima jari kedua adalah: indera pendengaran, penglihatan, perabaan, penciuman dan pencecap. Jika kita kurang waspada, sudah pasti akan kecolongan. Kolusi antara mereka merosotkan kesadaran manusia.

Nabi Muhammad menjelaskan lebih lanjut, “Aku pun manusia biasa. Seperti kamu, aku pun pernah hidup dalam kegelapan. Lalu, terbitlah Matahari Pencerahan. Cahayaku ini berasal dari Matahari Pencerahan itu. Aku tidak secerah Matahari, sehingga tidak menyilaukan. Dan bisa ditatap oleh siapa saja.”

 

Para nabi, para avatar, para mesias dan para buddha sesungguhnya secerah “Matahari Tuhan”, Allah, Widhi, Tao—apa pun sebutan yang anda berikan kepada-Nya. Sengaja mereka “menurunkan” pencerahan mereka, agar tidak terlalu menyilaukan, sehingga kita dapat menatapi mereka.

Mereka adalah ayat-ayat Allah di atas muka bumi. Mereka adalah bukti nyata Kehadiran-Nya. Jika anda tidak bisa melihat-Nya, mata anda yang sakit. Mata anda berdebu. Atau mungkin anda belum membuka mata. Mata anda masih tertutup rapat.

Jika anda masih saja melihat perbedaan antara ajaran Muhammad, Isa, Buddha, Krishna dan Lao Tze, maka sesungguhnya perbedaan itu memang mereka “rekayasa” sendiri. Muhammad tahu persis, jika dia lebih ”silau”, orang-orang Arab pada jaman itu tidak akan bisa menatapi wajahnya. Muhammad harus turun sedikit, untuk bisa berdialog dengan mereka. Seperti seorang profesor doktor harus “menurunkan” bahasanya untuk bisa herdialog dengan cucunya sendiri yang masih duduk di bangku TK.

Demikian pula dengan Isa, Krishna dan ……. ..Mereka harus “turun”. Seberapa turunnya, tergantung pada pendengar mereka pada jaman itu.

Jangan membedakan Muhammad dari Buddha, Lao Tze dari Krishna, Isa dari Zarathustra. Pencerahan mereka sama. Jika bahasa mereka berbeda, hal itu lumrah. Jika penyampaian mereka berbeda, sangat masuk akal, karena pendengar mereka berbeda.

Lain dulu, lain sekarang. Sekarang anda dan saya, kita semua sudah berevolusi panjang. Sudah ribuan tahun berlalu. Ajaran mereka harus didefinisikan kembali. Harus ada penafsiran ulang. Jika anda tidak melakukannya, anak-cucu anda akan melakukannya. Dan mereka akan menertawakan kebodohan anda. Anda tidak bisa menunda lama upaya penafsiran ulang. Kemajuan di bidang Sains dan Teknologi, perkembangan jaman dan peningkatan kesadaran manusia menuutut pemahaman baru. Jika anda tidak memenuhi tuntutan mereka, orang lain akan memenuhinya. Mau apa—terserah anda!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Amrita: Keabadian demi Ego Asura atau Pelayanan Dharma Dewa? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 14, 2017 by triwidodo

Tidak ada Dia yang Lain Kecuali Dia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia. Dengan kesadaran tersebut, kita membaca bahwa sesungguhnya yang sedang bermain, yang sedang membuat kisah adalah Dia. Yang membaca kisah ini pun sesungguhnya adalah Dia yang bersemayam dalaam tubuh kita.

 

Keluarnya racun dari samudera

 

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya. Penjelasan Bhagavad Gita 18:66  dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Setelah beberapa lama, Vasuki terengah-engah dan dari mulutnya keluar asap, para Asura yang memegang kepala tidak kuat. Vishnu kemudian datang sebagai hujan dan angin sepoi-sepoi yang membawa asap dari mulut Vasuki.

Semua makhluk merasa ditolong Gusti. Memang demikian. Tetapi bukan berarti hanya mereka sendiri yang dicintai dan ditolong-Nya. Dia tidak membeda-bedakan. Semuanya sejatinya adalah Dia, hanya mind-lah yang membuat merasa terpisah.

Samudra diaduk terus dan seakan-akan nampak sebagai susu.  Selanjutnya muncul racun Kalakuta (Halahala dalam bahasa Sanskerta). Udara menjadi beracun dan semua asura berlarian, para dewa pun pada tidak kuat. Dan para dewa kemudian memohon pertolongan Shiva, Sang Mahadewa. Sang Mahadewa melindungi mereka yang memohon dengan keyakinan kepadanya, Mahadewa menelan racun masuk kerongkongan dan tetap di lehernya. Sebuah perbuatan yang penuh kasih. Setetes racun jatuh dan menjadi rebutan ular, kalajengking, lipan dan binatang merayap lainnya.

 

Semua diperoleh dengan kerja keras bukan instan

Tiada seorang pun yang dapat membantumu…….. Hanyalah engkau sendiri yang dapat membantu diri! Pencerahan pun adalah hasil upaya sendiri, yang kemudian mengundang berkah. Ya, peran anugerah, berkah, grace memang ada. Tidak bisa dinafikan. Tapi turunnya berkah karena upaya. Upaya adalah yang mengundang berkah.

Tidak ada penyelamat yang menyelamatkan diri kita. Seorang Sadguru atau Pemandu Rohani sejati pun tidak bisa melakukan perjalanan mewakili kita. Kita mesti berjalan sendiri. Krsna pun hanya menunjukkan jalan, menjelaskan tantangan dalam perjalanan. Tapi semua itu mesti kita hadapi sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 4:36 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Gusti Narayana memberi petunjuk, tetapi para dewa dan asura lah yang melakukannya. Upaya para dewa dan asura dilengkapi dengan berkah Gusti Narayana membuahkan hasil. Berupaya keras dan memperoleh berkah itulah kunci keberhasilan. Dalam berupaya dengan keras pun selalu ada side-product, efek samping, “racun” yang tidak berguna dan kadang membayakan. Efek samping tersebut harus ditangani dengan baik oleh ahlinya.

Setelah  para dewa dan para asura kembali berupaya mengaduk, dan kemudian keluar Kamadhenu, Sapi Suci. Para rishi yang melakukan upacara Yajna membawanya. Dari susu sapi diperoleh ghee untuk keperluan upacara Yajna.

Selanjutnya Ucchaisrava, Kuda Sakti yang diminta raja asura Bali. Kemudian Gajah Airavata untuk Indra, raja dewa. Permata Kaustubha dipakai Vishnu. Pohon Parijata dan para Apsara semua diambil Indra.

Setelah itu keluar Lakshmi dan semuanya menginginkannya. Akan tetapi sesuai etika Lakshmi sendirilah yang akan memilih siapa yang akan diikutinya. Laksmi melihat para Asura masih keras dan mau menang sendiri. Para rishi pun, nampak belum menaklukkan kemarahan dan masih sering mengutuk. Guru Sukra  pun bijak tetapi masih belum mengetahui tentang ketidakterikatan. Candra tampan, akan tetapi belum menaklukkan nafsu. Indra penguasa, tetapi belum mampu menaklukkan keinginan.  Hanya Vishnu yang tidak menginginkannya. Dia telah melampaui Triguna. Lakshmi menjatuhkan pilihan untuk mengikuti Vishnu.

Silakan baca ulang kisah:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/08/23/dewi-sri-kemuliaan-dan-kemakmuran-menghampiri-para-pekerja-keras/

Keluarnya Amrita dari samudra

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita berikan kepada “cara berpikir” seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

LALU, APAKAH AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh. Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Terakhir keluar Dhanvantari membawa mangkuk berisi amrita. Para asura dengan cepat melepaskan Vasuki, alat itu sudah selesai digunakan, mengapa harus repot? Vasuki dilemparkan dan mereka merenggut mangkuk berisi amrita. Tiba-tiba terjadilah perebutan di antara para asura, siapakah yang berhak mencicipi amrita lebih dahulu. Berlomba dengan teman sendiri, merasa paling unggul di antara sahabat adalah sifat asura. Asura dominan sifat rajas, agresif, serakah dan ambisius.

 

Munculnya Rohini sangat jelita dan mempesona

Di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, “Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!”

Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi.

Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, “Subhanallah! Maha Suci Allah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tiba-tiba suasana mendadak hening, dan dalam keheningan tersebut muncul seorang wanita yang amat sangat jelita.  Para asura dan para dewa duduk bersimpuh di hadapan wanita jelita tersebut. Para asura ternganga dan langsung menyerahkan mangkuk berisi amrita, “Wahai bidadari jelita, kami yakin dikau bertindak adil, ambillah dan bagikan kepada kami menurut pendapatmu.” Para asura dan para dewa membentuk 2 baris dan si jelita berjalan di tengahnya.

Para asura tetap ternganga dan terpesona, padahal sambil jalan berlenggok, Dia menyendok amrita untuk para dewa di sisi lainnya. Lupa diri membuat para asura lalai, alpa. Mereka berpikir, “Huh, para dewa memang tidak bisa menghargai kecantikan yang belum pernah ada sebelumnya di permukaan bumi ini.”

Hanya asura Rahu yang waspada, yang paham keadaan dan segera menyamar sebagai dewa dan duduk di antara Surya dan Candra.  Rahu telah mendapatkan amrita. Wanita itu tahu tapi membiarkan saja. Baru setelah Surya dan Candra memberi tanda, maka leher Rahu dipotong olehnya. Kepala Rahu tetap abadi tetapi dia tidak punya tubuh.

Kejadian tersebut menyadarkan para asura, dan Mohini, sang wanita jelita, kembali mewujud sebagai Vishnu dan menghilang. Tindakan Surya dan Candra tersebut membuat marah Rahu, maka pada waktu tertentu dia akan menelan Surya dan Chandra. Akan tetapi ,pemberitahuan kepada Mohini telah menyelamatkan mereka, karena begitu mereka ditelan Rahu setelah sampai di leher mereka keluar lagi. Konon, itulah legendanya peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan yang hanya memakan waktu sebentar saja.

 

Kita dapat menarik pelajaran dari penggalan kisah ini bahwa:

Pertama, para asura telah bekerja lebih keras, karena ambisi dari mind, ego, mereka ingin mendapatkan keabadian demi kenyamanan fisik , kenyamanan materi, dan itu selaras dengan sifat rajas-agresif dalam diri mereka. Sedangkan para dewa lebih menginginkan penyelesaian tugas yang diamanahkan kepada mereka dapat terselesaikan secara baik dan untuk itu mereka memerlukan keabadian. Hal demikian selaras dengan sifat satvik-tenang yang dimiliki para dewa.

Kedua, para dewa mendapatkan amrita, mendapatkan keabadian, mereka melampaui pikiran tentang mati, yang mati itu fisik. Jiwa tidak mati, abadi. Asura tidak paham hal tersebut karena terlalu mengikuti pikirannya yang terperangkap dalam maya, hijab dunia. Bagi kita yang hidup, amrita mungkin semacam kesadaran bahwa kita ini adalah Jiwa, dan Jiwa tidak bisa mati. Mereka yang tidak sadar berkeinginan agar fisik kita abadi, masih mempunyai sifat asura dalam diri mereka.

Kisah Iblis Memperbandingkan Diri #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 13, 2017 by triwidodo

MakhIuk pertama yang melakukan perbandingan adalah Iblis, “Aku diciptakan dari api. Sementara Adam diciptakan dari tanah. Sudah jelas, api Iebih unggul daripada tanah. Api mewakili Cahaya. Tanah mewakili Kegelapan. Dari sudut pandang mana pun, aku melebihi dia.”

 

Tuhan menanggapinya, “Tidak demikian. Keunggulan berasal dari Pengendalian Diri dan Kebajikan. Dan, Pengendalian Diri serta Kebajikan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun juga.”

 

Indah sekali!

Yang bisa dibandingkan adalah sesuatu yang bisa diukur, bisa ditimbang, bisa dinilai. Baik Api, maupun Tanah bisa diukur. Ada api besar, ada api kecil. Ada tanah banyak, ada tanah sedikit. Tetapi, Pengendalian Diri dan Kebajikan tidak bisa diukur.

Pernyataan seperti, “Pengendalian diri dia ‘kurang’” atau “Pengendalian diri saya ’lebih”’ bisa dianggap benar dari segi tata bahasa. Tetapi dari segi penerapannya dalam hidup tidak bisa dibenarkan. Karena, kekurangan se-“sedikit” apa pun bisa mencelakakan. Kurang sedikit atau kurang banyak, bahayanya sama. Setetes atau segelas air jeruk nipis merusak susu. Dan, kerusakannya sama.

Begitu pula dengan Kebajikan—tak dapat diukur. Kita tidak bisa berbaik hati “sedikit”. Meskipun berbaik hati terhadap kelompoknya,  jika seseorang mencelakakan kelompok-kelompok lain, dia belum “baik”.

Rumi sedang menegur kita:

(Pengendalian Diri dan Kebajikan) bukanlah warisan duniawi yang bisa dinilai, diukur dan dibandingkan. Warisan ini adalah warisan rohani — tak dapat dinilai, diukur dan dibandingkan.

 

Diciptakan dari Api atau dari Tanah, so what? Memang kenapa? Bukankah api dan tanah pun ciptaan Allah? Teguran Rumi semakin keras……..

 

Abu Jahl tidak beriman, tetapi putranya beriman. Nuh seorang Nabi, tetapi putranya tersesat. Adam diciptakan dari tanah, dan wajahnya bercahaya. Engkau diciptakan dari api, dan wajahmu hangus terbakar.” Demikian Allah bersabda.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kurma Avatara: Mendukung Perjuangan Gigih Memperoleh Amrita #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 10, 2017 by triwidodo

Membaca ulang kisah Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Perang dahsyat yang pernah terjadi di medan perang Kuruksetra masih berlanjut, masih terjadi, tidak pernah tidak, atau setidaknya belum berhenti.

Perang disebabkan oleh Keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Kita boleh saja bicara tentang kedamaian, kita boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan dan kebencian akan selalu ada. Selama itu pula, perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari.

………………

Skenario keserakahan inilah landasan kisah Mahabharata. Kendati, Mahabharata tidak berhenti pada landasan tersebut. Lewat Bhagavad Gita, Mahabharata juga menawarkan solusi untuk memerdekakan kita dari belenggu keserakahan, dan belenggu-belenggu lainnya. Kata Pengantar Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dunia tidak berubah bukan hanya sejak zaman Mahabharata, akan tetapi sezak zaman Satya Yuga, awal kehidupan manusia pun sudah demikian. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Itulah sebabnya kami menyisipkan mutiara-mutiara Bhagavad Gita yang sesuai dengan alur kisah Srimad Bhagavatam.

Bali adalah cucu Prahlada, sebagai raja para asura. Dalam diri Bali mengalir genetik bijak dari kakeknya, Prahlada. Akan tetapi kebijakan tersebut masih bercampur dengan keterikatan dengan kelompok yang dipimpinnya. Bali beserta para asura perang beberapa kali melawan Indra beserta para dewa.

Dalam beberapa peperangan terakhir para dewa mengalami kekalahan. Sehingga mereka menghadap  Brahma dan kemudian mohon pertolongan dari Vishnu. Kita tahu bahwa para asura bertindak untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, sedangkan para dewa berkarya demi kepentingan seluruh makhluk. Sudah sewajarnya para dewa perlu hidup abadi (dalam ukuran waktu manusia) layaknya Brahma, agar semua makhluk memperoleh berkah dan bantuan para dewa.

Vishnu memberi petunjuk agar para dewa mengadakan gencatan senjata dengan para asura. Mereka perlu bekerjasama mengaduk samudera, untuk memperoleh amrita minuman penyebab keabadian.

Gunung Mandaragiri agar dijadikan alat pengaduk dan ular raksasa Vasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para dewa dan para asura memegang tali bersama untuk mengaduk samudra. Para dewa harus bekerja sama dengan para asura, tidak dapat bekerja sendiri.

Kita dapat menarik pelajaran, bahwa untuk mencapai tujuan yang tidak dapat dikerjakan sendiri, kita harus bergotong-royong, bekerjasama. Kedua, Yang Maha Kuasa tidak memberikan buah yang sudah matang dan instan untuk dimakan. Diperlukan upaya mematangkan buah, diperlukan upaya memproses yang gigih agar hasil tercapai.

Para asura di bawah pimpinan Bali setuju untuk mengadakan gencatan senjata dan bekerja sama demi mendapatkan amrita. Hanya saja, para dewa ingin mendapatkan amrita bagi keabadian penegakan dharma, sedangkan para asura ingin mendapatkan keabadian agar memperoleh kenikmatan indrawi tanpa berhenti. Sebagaimana yang terjadi dalam persaingan antara dua kelompok yang bekerjasama, mereka telah menyiapkan alternative plan untuk merebut amrita dari tangan pesaing.

 

Gusti bermain game di atas layar dunia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara para putra Aditi, Akulah Visnu – Sang Pemelihara Agung; matahari dan seterusnya…. Bhagavad Gita 10:21

Di antara para Dewa, Akulah Indra, Sang Pengendali indra; dan seterusnya… Bhagavad Gita 10:22

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga……..

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa.

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton! Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku

Penjelasan Bhagavad Gita di atas akan membuat kita membaca kisah Srimad Bhagavatam dengan cara baca yang berbeda. Kita kemudian menyadari bahwa di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia.

Awalnya, para dewa memegang kepala Vasuki yang membelit gunung dan ekornya dipegang para Asura. Para Asura tersinggung , merasa martabatnya direndahkan maka mereka meminta untuk memegang kepala. Para dewa menuruti kemauan para Asura.

Kendati sudah dipegang oleh para dewa dan para asura yang kuat, gunung tersebut tenggelam di samudra. Sang Pemelihara Alam mewujud sebagai kura-kura raksasa, Kurma Avatara. Bertindak sebagai penyangga di bawah gunung. Banyak yang tidak tahu mengapa gunung tersebut tidak tenggelam lagi. Akibatnya luar biasa,  semuanya merasa bersemangat, bekerja sama, bergotong-royong. Sesungguhnya, Dia lah yang merasuk ke semua pelaku dan membuat semua pelaku merasa bersemangat.  Dia adalah gairah yang berada dalam hati Gunung Mandaragiri. Dia adalah ketidaktahuan, sifat tamasa Vasuki. Dia juga merupakan sifat alami agresif, rajasika para asura. Dia juga adalah sifat satvika dewa.

Silakan baca kisah lanjutannya dalam Srimad Bhagavatam berikutnya…..