Archive for anand krishna

Total Trust, Keimanan Untuk Menafikan Mind, Menerima Kebijakan-Nya

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 17, 2018 by triwidodo

 

Tidak Usah Mempedulikan Pikiran?

Seorang Master berkisah bahwa Sri Ramakrishna, Guru dari Swami Vivekananda berkata, Jika Anda ingin menghindari getah buah nangka lengket pada jari-jari Anda ketika mengupasnya, Anda harus melumasi jari-jari Anda dengan beberapa tetes minyak. Kemudian, Beliau melanjutkan jika Anda tidak ingin lengket dengan dunia, lumasi pikiran Anda dengan beberapa tetes ketidakpedulian, atau nggak usah mempedulikan pikiran.

Ketidakpedulian terhadap pikiran, “no-mind”, adalah anihilasi ego. Dikisahkan Sri Chaitanya pergi ke Vrindavan, dan bagi Beliau setiap partikel debu adalah suci, karena Sri Krishna telah menginjak tanah itu berabad-abad yang lalu. Beliau tidak melihat, mendengar, menyentuh atau mencium aroma sesuatu atau tidak merasakan apa pun kecuali fokus pada Sri Krishna.

Beliau tidak peduli  dengan dunia sekitar, mengabaikan tuntutan lapar, haus dan etika sosial. Dan, pada suatu malam, Sri Krishna muncul di hadapan Beliau.  Beliau akhirnya melepas semua kerinduan yang lain kecuali hanya rindu pada Sri Krishna yang mewujud di hadapan Beliau.

Kesadaran Chaitanya (Kesadaran Ilahi) telah menerangi Sri Chaitanya yang berwujud manusia. Krishna adalah Kesadaran Tertinggi dalam diri Sri Chaitanya.

Ego Sri Chaitanya telah luluh dan menerima segala “Kehendak-Krishna”?

Bisakah kita meluluhkan ego, melampaui mind seperti Sri Chaitanya?

Semua Latihan Meditasi, Yoga, Seva, Study Group, Yoga Sadhana dan lain-lain di Anand Ashram adalah Latihan Memberdaya Diri untuk Melampaui Kesadaran Mental/Emosional, Melampaui Mind, untuk menemukan kembali Diri Sejati. Silakan baca Penjelasan Bhagavad Gita 8:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bukan Aku Pasrahkan Egoku, Melainkan Mencapai Keadaan Saranagati, Keadaan Pasrah

Pada saat mengucapkan “aku pasrahkan egoku”, masih ada pernyataan “aku”, masih ada ego. Kalau seseorang sudah mencapai keadaan saranagati, keadaan pasrah, dia trust total.

Buddha menyampaikan 3 hal: Buddham Saranam Gatchami, Dharmam Saranam Gatchami, Sangam Saranam Gatchami.

Kalau kita ingin mengetahui diri kita maka kita membutuhkan cermin. Guru adalah cermin diri kita. Kita trust pada cermin, kita trust pada tukang cukur yang membawa pisau tajam. Kita tidak mempertanyakan, duduk diam, tutup mata dan tukang cukur dengan pisau tajam bekerja.

Berada di depan cermin, apa yang kita lihat adalah diri kita. Melihat Guru (Darshan), yang terlihat adalah diri kita, kita mempunyai potensi dalam diri seperti Guru. kita trust pada cermin, kita trust pada Guru.

Guruji Anand Krishna menyampaikan bila seorang Pangeran dapat menjadi Buddha, kalian pun juga bisa. Buddha adalah kesadaran yang sangat tinggi dalam diri kita. Buddha memberi istilah “ingat kembali” diri kita itu siapa.

……………

Istilah Buddha adalah Smrti, Ingatan Berkesadaran, Penuh Attentiveness atau penuh perhatian. Jadi dalam konteks ini, Smrti bukan sekadar ingatan atau memori. Namun, ingatan atau memori yang terkait dengan kesadaran, dengan attentiveness atau perhatian.

Untuk membedakan “smrti-ingatan” dari “smrti-ingatan penuh perhatian”, Buddha menambahkan kata sama sebelum smrti. Samasatti, dalam bahasa Pali yang digunakan oleh Buddha, berarti Ingatan penuh Perhatian yang Tepat, yang dapat mengantar kita pada Samadhi, pada Keseimbangan Sejati, pada Pencerahan.

Samasatti, Smrti inilah yang dapat membangkitkan kebuddhaan di dalam diri kita. Dikutip dari buku Yoga Sutra Patanjali

………..

Pada waktu kita masih kecil kita trust pada ibu. Jesus mengatakan pintu surga ada pada anak kecil, bukan sifat anak kecil, tapi keadaan anak kecil yang trust total.

Dharmam Saranam Gatchami: karena kita total trust pada Guru maka kita patuh semua nasihat Guru. Dan seterusnya……..

Sumber: Video Youtube Who Am I? Self Discavery and surrender of the Ego by Anand Krishna

 

Total Trust, Keimanan Untuk Menafikan Mind, Menerima Kebijakan Dia

Apakah seseorang yang merasa telah ber-“iman” betul-betul yakin tentang Kemahakuasaan Dia? Sehingga dia menerima segala “Kehendak-Nya” dan tidak menentang “Kehendak-Nya”? Seseorang yang bertindak demikian, berarti ego dirinya telah luluh dan menerima segala “Kehendak-Nya”? Apakah iman kita sudah demikian? Atau justru ego kita naik karena merasa beriman sehingga kitalah yang benar, yang lain salah?

Berikut Penjelasan Guruji Anand Krishna:

Salah satu cara untuk menegasikan atau menafikkan mind. Apa yang disebut “iman” dalam beberapa tradisi keagamaan sesungguhnya adalah juga “penafian” mind, kembali ke “khitah asal”. Kembali pada keluguan, kepolosan, dan ketulusan sorang anak kecil. Begitulah menurut tradisi Kristen.

Atau ketika seorang mukmin bersujud dalam setiap salat…. apa yang dia lakukan? Dengan menundukkan kepala, sesungguhnya ia sedang menundukkan egonya.

Dalam tradisi Hindu, mereka mengenal upacara Agnihotra yang biasa diterjemahkan sebagai “persembahan kepada Api”. Sesungguhnya, Agnihotra berarti “Persembahan lewat Api”. Lebih tepat lagi bila diterjemahkan sebagai “Pensucian lewat Api”. Setiap kali “mempersembahkan” sesajian berupa rempah-rempah dan biji-bijian kepada api, umat Hindu mengatakan, “Terimalah persembahanku ini, walau sesungguhnya bukan aku yang mempersembahkannya.”

(Ida na mama, bukan aku, tambahan pengkutip dari mantra agnihotra)

Rempah-rempah dan biji-bijian yang mereka persembahkan, mereka bakar, sesungguhnya sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebersihan lingkungan. Terlepas dari itu, ucapan mereka sungguh menarik: “Terimalah persembahanku ini, walau sesungguhnya bukan aku yang mempersembahkannya.”

Melihat seorang Hindu mengambil air Ganga dan mempersembahkannya kembali kepada sungai Ganga, ada yang mengkritik: “Lihat tuh, sungai itulah Tuhan mereka!”

Huahahahahaha……

Ampunilah mereka, Ya Allah, Ya Rabb…, karena mereka belum bisa melihat Wajah-Mu di mana-mana. Mereka hanya melihat aliran sungai. Mereka tidak melihat-Mu yang mengalirkan setiap sungai. Mereka melihat sumur dan mata air, mereka tidak melihat-Mu yang mengisi setiap sumur dan setiap mata air.

Saat mempersembahkan sesuatu “lewat” api atau mempersembahkan air kepada sungai, seorang Hindu tengah mengingatkan dirinya: “Sesungguhnya tak ada yang dapat ‘ku’-berikan kepada-Mu. Semua ini berasal dari-Mu. Dan, kepada-Mu pula kupersembahkan.”

Lebih-lebih lagi, “Apa kekuatanku, sehingga dapat mempersembahkan sesuatu kepada-Mu?’ ‘Kekuatan’ ini pun berasal dari-Mu……”

Berasal dari-Mu, kupersembahkan balik kepada-Mu……

Seorang pencinta Allah menafikan “ego”. Menafikan “mind”. Ini bukan “Aku”, itu pun bukan “Aku”.

“aku” bukan “Aku”.

“aku” hanyalah bayangan.

“aku” tak ada.

Yang Ada hanyalah “Aku”….

Sumber: (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Kisah Nyata Seorang Awam yang Meninggalkan Dunia dengan Senyuman

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 12, 2018 by triwidodo

Akhir Perjalanan Dalam Satu Episode Kehidupan

Guruji Anand Krishna menulis:

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang.

Sumber: (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Kita sering melihat film ataupun film seri di tivi berbayar. Hampir dalam semua film selalu dimulai dengan ketegangan-ketegangan dan pemeran utama mengalami babak-belur. Akan tetapi beberapa saat di akhir cerita sang pemeran utama mengalami kejayaan. Bagaimana pun para pemirsa film tahu bahwa pemeran utama memiliki potensi untuk mengalami kemenangan.

 

Saat Ajal Tiba Adalah Adegan Akhir Dalam Satu Episode Kehidupan Kita

Saat ajal tiba – ini adalah closing scene atau adegan akhir dalam salah satu episode kehidupan kita. Tentunya, adegan akhir ini menjadi awal dari episode baru. Akhir adegan dalam episode ini, mengantar kita pada adegan pembukaan dalam episode berikutnya.

Jika sepanjang hidup kita sudah melatih diri untuk senantiasa berada dalam kesadaraan Jiwa, maka dalam kehidupan berikutnya kita akan melanjutkan upaya itu. Namun, jika dalam kehidupan ini kita sudah mencapai kesempurnaan, dan saat ajal tiba kesadaran kita sepenuhnya terpusatkan pada Sang Gusti Pangeran, maka tiada lagi episode baru. Kita menyatu dengan Sang Saksi Agung, Sang Jiwa Agung, Krsna mengatakan hal ini sebagai suatu keniscayaan.

Ayat ini sering disalahtafsirkan, seolah sepanjang hidup, kita bisa memikirkan apa saja. Kemudian saat ajal tiba kita mengenang-Nya, dan bingo! Kita menyatu dengan-Nya.

Teorinya demikian, prakteknya beda. Jika sepanjang hidup yang terpikir adalah dunia benda saja, maka saat ajal tiba, sesaat sebelumnya, kita tidak bisa, tidak mungkin, mengalihkan kesadaran pada-Nya. Saat itu yang terpikir adalah rumah, kerabat, keluarga; istana, yang telah kita bangun dan ‘belum cukup’ menikmatinya; perusahaan, yang kita tidak yakin akan dikelola dengan baik oleh ahli waris kita — dan sebagainya, dan seterusnya.

Pikiran terakhir, kesadaran terakhir saat mengembuskan napas terakhir — sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala ritus yang kita lakukan sepanjang hidup, segala amal-saleh atau dana-punia. Jika semuanya itu kita lakukan untuk pamer, dan bukan sebagai persembahan kepada-Nya_

PEMUSATAN KESADARAN PADA-NYA mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya.

Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 8:5 oleh Guruji Anand Krishna dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Meninggalkan Dunia Dengan Seyuman di Bibir

Adalah kakak kandung saya yang sulit dipahami oleh dunia. Kakak kami lahir pada tanggal 21 Januari 1952 dan baru saja meninggal pada tanggal 10 Desember 2018 di usia hampir 66 tahun.

Foto kakak kami yang meninggalkan dunia dengan senyuman masih kami simpan di file. Hidupnya biasa, sederhana. Tidak mempunyai Guru Pemandu dan menjalankan ibadah dengan normal. Hanya beliau memang tidak pernah berbuat jahat, tidak pernah merepotkan orang, demikian sepengetahuan saya.

Yang mungkin tidak biasa dan sulit dicontoh adalah cara beliau melepaskan keterikatan pada dunia. Mungkin beliau dipandu Jiwanya, walau tetap sulit dimengerti oleh orang awam. Yang penting adalah sebuah kenyataan akhir bahwa beliau meninggalkan dunia dengan sebuah senyuman. Bisakah kita? Itu masih perlu dibuktikan dulu.

Begitu pensiun dari Kantor Dirjen Imigrasi, dia memutuskan hidup sendiri kost di Jogja. Untuk istri dan anak putri satu-satunya dia mempersiapkan rumah yang cukup besar di Solo. Istri dan anaknya hidup layak walau sederhana dengan deposito istri dan hasil kontrak rumahnya setiap tahun yang ada di Jakarta dan mungkin sebagian uang pensiun yang dikirimkan ke istrinya.

Beliau pilih hidup kost sebagaimana mahasiswa awam bukan di tempat elit. Beliau kemana-mana naik sepeda dan berjualan koran. Dua atau 3 bulan sekali pulang ke Solo. Dan kami selalu bertemu pada waktu lebaran. Hal itu telah dijalaninya selama 7 tahun.

Kami dan saudara-saudara beliau memahami bahwa itu adalah pilihan beliau dan beliau menjalani kehidupan dengan sederhana dan bahagia. Sepengetahuan kami beliau tidak punya WA dan grup WA.

Putra ibu kostnya menyampaikan kepada kami bahwa pada hari Senin 12 Desember pagi, beliau masih melaksanakan shalat subuh di Mushola dekat tempat kostnya. Pukul 9.00 pagi merasa agak pusing dan diantar teman kostnya ke Puskesmas. Pulang dari Puskesmas masih ditunggui teman-teman kost yang rata-rata masih muda. Tukang tambal ban di pinggir jalan yang istrinya jualan lotek menawari apakah beliau mau makan lotek kesukaannya? Dan dijawab beliau, terima kasih-terima kasih sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Pukul 13.00 beliau ceguken dan kemudian meninggalkan dunia dengan senyuman.

Istri dan anaknya langsung berangkat dari Solo ketika diberitahu bahwa suaminya sedang sakit. Dengan berbekal alamat kost mereka sampai juga di sana. Kami menyusul setelah dalam perjalanan anaknya telpon kami memberitahu bahwa ayahnya, kakak kami sudah meninggal. Kami dan istri segera berangkat dari Solo. Menyelesaikan surat-surat di Polsek bersama putri kakak. Dan kemudian kami mencari lewat telpon ambulans di PMI Jogja.

Istri kami bersama istri kakak dan putrinya menunggui jenazah bersama teman-teman dan tetangga almarhum di tempat kost.

Saat menunggu mobil ambulans di jalan itulah saya ngobrol dengan tukang tambal ban yang istrinya jualan lotek di sebelahnya. Istrinya sudah pulang dan dia juga siap-siap pulang karena hari mendung dan akan hujan. Tukang tambal ban yang sederhana itu bercerita tentang kakak saya yang sederhana dan dikenal baik oleh tetangga. Kesukaannya adalah makan lotek. Dan seminggu sebelum kejadian dia telah bicara dengan sang penjual lotek, istri tukang tambal ban, bahwa seminggu lagi dia akan pulang. Ke Solo? Tanya penjual lotek dan dijawab iya oleh almarhum. Mereka baru paham itu adalah pesan terakhir bahwa seminggu lagi dia akan meninggalkan dunia dan dimakamkan di Solo. Semua tetangganya menjadi saksi bahwa beliau meninggal dengan tersenyum

Adalah para tetangganya di Solo, Pak RW dan Pak RT yang mempersiapkan segalanya. Dari tenda, kursi, bunga, peti mati, mobil jenazah, sound system sampai ustadz pemimpin doa serta yang memandikan jenazah diurus oleh para tetangga. Roti dan minuman para takziah baik di rumah duka maupun di pemakanan telah disiapkan para tetangga dan keluarga hanya menyelesaikan pembayarannya setelah acara selesai. Luar biasa, begitulah kenyataan kehidupan masyarakat di Solo. Dan menurut pendapat kami itu tak lepas dari tindakan baik beliau selama di dunia.

Sebagai sambutan ucapan terima kasih dilakukan oleh sesepuh masyarakat Solo, Bapak Begoeg Purnomosidi yang masih merupakan kerabat. Sambutan oleh masyarakat dilakukan oleh Ibu Lurah sambil menyerahkan Surat Kematian yang sudah ditandatangani Kantor Catatan Sipil Kota Surakarta. Pemakaman di Astana Bibis Luhur juga berjalan lancar.

Adalah sebuah pelajaran bahwa hidup di dunia itu harus “ngakeh-akehi kabecikan”, memperbanyak kebaikan, memperbanyak good karma dan jangan melakukan keburukan. Tidak ada gunanya berbuat keburukan.

Kami ingat pesan Guruji Anand Krishna, Jangan melakukan segala sesuatu yang kita tidak ingin hal itu dilakukan terhadap kita. Itu adalah sebuah Golden Rule.

Adalah Jiwa kita yang akan memandu ke arah kebaikan. Apa pun tindakan kita di masa lalu mulai saat ini semuanya sudah harus selesai, enough. Mari memulai hidup dengan penuh kesadaran.

Selamat Jalan Mas Bambang Indarjanto, Sadgati, semoga memperoleh kesadaran yang lebih baik lagi di kehidupan selanjutnya.

Mengapa Sulit Sekali Menghilangkan Sifat Materialistis?

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 9, 2018 by triwidodo

Berikut pandangan Guruji Anand Krishna tentang pengaruh apa yang kita makan terhadap kesadaran diri kita.

 

Pikiran Seseorang Mempengaruhi Makanan yang Dia Masak

Seorang Master menyampaikan kisah yang perlu diperhatikan bagi para penggiat spiritual, mereka yang ingin memperoleh kebahagiaan sejati.

Di Malur, Mysore tinggal seorang brahmana dan istrinya yang saleh. Mereka berdua selalu melakukan sadhana untuk menjaga kesadaran mereka. Pada suatu hari seorang Sanyasi  bernama Nityananda bertemu dengan sang brahmana dan kemudian oleh sang brahmana diundang besok malamnya untuk makan malam di rumah sang brahmana.

Akan tetapi pada keesokan harinya istri sang brahmana medadak sakit, dan seorang tetangga menawarkan diri untuk memasakkan makanan untuk keperluan makan malam.

Acara makan malam berjalan lancar, hanya sang sanyasi mengalami peperangan batin. Pada saat makan timbul keinginan kuat sang sanyasi untuk mengambil cangkir perak yang berada di dekat piring makanan. Pada saat tuan rumah sedang lengah, dia menyembunyikan cangkir perak tersebut ke dalam jubah yang dipakainya.

Sang sanyasi, ternyata tidak bisa tidur semalaman. Hati nuraninya mengingatkan dia berulang kali. Mantra sadhana dan Guru Puja yang rutin dilakukannya membuatnya bersedih dan muncul rasa penyesalan yang sangat besar.

Esok paginya, sang sanyasi bergegas ke rumah sang brahmana dan bersujud di kaki sang brahmana. Dia mohon maaf dan mengembalikan cangkir perak yang diambilnya sambil menangis. Para murid brahmana bingung bagaimana mungkin seorang sanyasi berbuat hal yang memalukan. Seorang sahabat sang brahmana menanyakan siapa yang masak makan malam pada hari itu. Setelah ditelusuri ternyata tetangga yang membantu memasak adalah seorang pencuri. Kecenderungan mencuri mempengaruhi makanan yang disajikannya.

Itulah sebabnya para sadhaka, penggiat spiritual yang ingin melakukan perjalanan ke dalam diri hanya makan yang dimasak oleh para murid ashram.

Pandangan Guruji Anand Krishna dalam Salah Satu Video Beliau

Kita semua hidup dalam satu masa yang disebut kali Yuga. Kali yuga ini berarti segala sesuatu dalam masa ini, dikuasai oleh uang, oleh harta, oleh korporasi. Oleh pedagang, oleh pengusaha. Bagaimana membebaskan diri kita dari pengaruh yang negatif, karena kita semua butuh uang. Kita butuh uang, butuh hidup tapi bagaimana caranya agar tidak memikirkan uang melulu. Tidak selalu hanya memikirkan uang saja. Apakah mungkin atau tidak mungkin?

Lagu tadi mengatakan mungkin. Kita butuh materi tapi tidak menjadi materialis. Caranya kita selalu berfokus pada kemuliaan, ketuhanan, dalam diri. Kita bekerja selalu fokus kita pada kemuliaan dalam diri.

Makanan yang kita makan ini penting sekali. Pengaruh dari makanan itu penting sekali. Di Indonesia sampai dengan 50-60 tahun yang lalu, kebanyakan kita masih masak di rumah. Tidak makan di restoran melulu. Di Barat pun 70-80 tahun yang lalu, masih makan di rumah. Dulu kalau kita lagi travelling, kita lagi jalan ke mana atau di rumah tidak bisa masak karena suatu hal, baru kita ke restoran.

Kita maakan di rumah, sudah makan 1 piring nasi, yang memasak ibu, kita minta kepada ibu, ibu saya masih lapar, boleh minta lagi? Ibu dengan senang hati memberikan.

Kalau di restoran minta tambah bagaimana? Bayar dulu. Di luar kalau kita makan di restoran. Tujuan restoran apa? Tujuannya cari uang kan? Mereka tidak masak penuh cinta, tidak penuh kasih. Kalau di rumah ibu kita masak dengan penuh cinta penuh kasih. Di restoran tujuan mereka bukan penuh cinta, bukan penuh kasih.

Kalau kita makan, masakan yang dimasak dengan penuh cinta. Vibrasi cinta yang kita peroleh. Kita makan masakan yang hanya untuk mencari uang, vibrasi materialistik yang kita peroleh. Pilihan di tangan kita.

Mau bagaimana? Mendingan makan 2 kali saja. Pagi masih bisa masak, sore masih bisa masak, daripada makan 3 kali, dan makan masakan di restoran, yang hanya dimasak untuk mencari uang. Kalau kita ke ashram, di manapun ashram di India. Sambil memasak, para tukang masak menyanyikan bhajan. Sambil masak itu feelingnya adalah mempersembahkan, masakan ini kepada Hyang Widhi. Kepada Tuhan. Masakan itu menjadi sangat luar biasa. Menjadi prasadam, lungsuran. Jadi makan apa pun di ashram itu minum air pun itu adalah prasadam. Lungsuran yang sudah diberkati.

Itulah mengapa untuk menghilangkan, mengeliminasi, dengan cara itu kita bisa bebas dari pengaruh Kali Yuga. Makanan penting sekali. Jaga makanan,  jadi anak-anak di sini kalau sudah menjadi besar, ingat kalau mau anak-anak kalian mu tetap spiritual, tidak materialis, berikan makanan yang dimasak sendiri. Lebih bagus masak pagi satu kali masak 2 macam, 3 macam masakan dan dimakan sepanjang hari. Walau baiknya masak langsung dimakan, tapi kalau nggak punya waktu, lebih bagus begitu dari pada makan di luar.

Karena makanan ini pengaruhnya nggak bisa dihilangkan dengan cara lain. Kalau makanan sudah materialis, pengaruh luar juga materialis, bertambah vibrasi-vibrasi materialis. Jaga-jaga dengan makanan. Sambil masak ibu-ibu di rumah, bapak-bapak yang suka masak, jangan ngoceh, jangan menggerutu. Sambil masak itu kalau perlu pasang tape di sana. Sekarang mp3 kan murah. Seratus, seratus dua puluh lima ribu dapat. Pasang tape lagu-lagu bhajan, pujian kepada Tuhan. Ibu-ibu coba coba perhatikan kalau anaknya kurang rajin atau tertinggal pelajarannya, dengan cara itu dalam 2-3 bulan anak akan lebih rajin di sekolah. Impact dari pengaruh masakan pun dalam 2-3 bulan sudah langsung akan kelihatan.

Sumber: Video Youtube “Menetralisir Dampak Zaman Kali Yuga Melalui Makanan” by Anand Krishna

Mengikuti Hawa Nafsu Mengikat Kita pada Dunia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 6, 2018 by triwidodo

Terperangkap Hawa Nafsu

Seorang Master berkisah tentang monyet yang terperangkap oleh keinginannya sendiri untuk memperoleh makanan permen kesukaan yang menjadi obsesinya.

Adalah setumpuk permen kesukaan monyet diletakkan di dalam sebuah toples dengan mulut toples yang kecil, yang hanya tangan monyet yang dapat masuk ke dalam toples. Di dalam toples, tangan monyet merasa leluasa dan bisa memegang banyak permen yang disukainya untuk digenggam dan ditarik keluar toples. Sang monyet terperangkap tidak bisa mengeluarkan tangan yang menggenggam banyak permen kesukaannya keluar dari toples.

Hanya dengan melepaskan genggaman tangan, tangan monyet bisa bebas ditarik keluar dengan selamat. Demikianlah mengikuti keinginan telah mengikat tangannya.

Dunia adalah seperti toples dan mulut toples adalah samsara. Setumpuk permen dalam toples adalah berbagai keinginan kita di dunia. Manusia ingin memperoleh keinginannya, seperti monyet yang memasukkan tangannya kedalam toples untuk mengambil banyak permen yang diinginkannya. Karena keserakahannya, ingin memuaskan keinginannya dia mengambil banyak yang diingini dan sebagai akibat tangannya terperangkap oleh samsara.

Demikian pula kita terperangkap oleh tindakan kita dalam memenuhi keinginan dan keserakahan kita. Bahkan untuk memperoleh keinginan tersebut kita menghalalkan segala cara sehingga kita bertindak menyakiti sesama. Kita harus mempertanggungjawabkan semua kegiatan kita, kita harus menerima akibat dari hukum dunia, hukum aksi-reaksi, hukum karma.

Untuk memperoleh kebebasan kita harus melepaskan apa yang kita genggam. Dan juga menerima apa pun akibat dari apa yang telah kita perbuat sebelumnya. Kebebasan jauh lebih berharga daripada genggaman hasil keinginan atau obsesi tubuh, indra dan pikiran kita.

 

Meraih Berbagai Keinginan Duniawi

“Mereka, para dungu itu – penuh dengan berbagai keinginan duniawi; tujuan mereka hanyalah kenikmatan surga; atau kelahiran kembali di dunia-benda –untuk itulah mereka berkarya. Bermacam-macam ritus, upacara yang mereka lakukan, pun semata untuk meraih kenikmatan indrawi, dan kekuasaan duniawi.” Bhagavad Gita 2:43

 

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi. Bahkan, surga–khayalan mereka pun penuh dengan sarana-sarana kenikmatan indrawi, seolah “di sana” pun kita akan tetap berkaki-tangan, berkelamin, seperti “di sini”.

Bayangan kita tentang surga adalah cerminan dari keinginan-keinginan di dalam diri, keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi. Jika di sini punya pasangan yang menginjak dan menindas, maka kita akan berkhayal tentang surga yang memiliki jumlah pelayan tidak terhitung dan semuanya masih muda belia sehingga kita berharap tidak akan mengalami penindasan seperti di sini.

Ada pula yang berkarya, beramal saleh dengan pengertian membayar premi asuransi bagi reinkarnasi yang lebih baik – Lagi-lagi urusannya adalah kenikmatan indrawi. Lagi-lagi, urusannya adalah kebendaan.

Dengan berkesadaran Jiwa, kita tidak perlu menunggu mati untuk masuk surga. Dengan Kesadaran Jiwa, kita dapat mengubah hidp kita menjadi surgawi, dalam pengertian penuh kenikmatan Jiwani yang adalah esensi surga.

Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa.

Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja.

Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hidup Berkesadaran

“Mereka, para dungu, yang terikat pada kenikmatan indrawi dan kekuasaan duniawi; terbawa oleh janji-janji tentang surga dan sebagainya; sebab itu mereka tidak bisa meraih kesadaran-diri yang dapat mengantar mereka pada keadaan Samādhi, keseimbangan.” Bhagavad Gita 2:44

Hidup Berkesadaran adalah Hidup Meditatif. Hidup Berkesadaran berarti hidup dengan penuh keyakinan bahwa kita adalah Jiwa, bukan badan, bukan indra. Kemudian, hidup yang demikian itulah yang membuahkan Samādhi, keseimbangan, di mana kita bisa melampaui segala dualitas, segala pengalaman suka-duka, panas-dingin, senang-susah, dan sebagainya. Adapun, hanyalah setelah itu, kita meraih Kebahagiaan Sejati atau Ānanda yang kekal, abadi.

Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Abhyasa dan Vairagya

“Wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), niscaya pikiran memang liar – pun sulit ditaklukkan. Namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti).” Bhagavad Gita 6:35

 

Dalam ayat ini, Krsna memberikan tips jitu untuk mengendalikan pikiran, pertama adalah:

Abhyasa – membiasakan diri, berlatih secara terus-menerus. Seorang sahabat, saintis tulen, ahli bedah otak, almarhum dr. Setiawan selalu menggunakan istilah ‘intensif dan repetitif’. Latihan untuk mengendalikan gugusan pikiran dan perasaan membutuhkan kegigihan, kebulatan tekad, keteguhan hati, dan kekuatan kehendak. Tidak bisa secara instan, seperti sering diiklankan oleh orang-orang yang sedang mencari keuntungan, dan tidak tahu-menahu tentang seluk-beluk mind.

Dr. Setiawan betul. Ia memahami kinerja brain, otak, sebagai alat yang digunakan oleh mind. Untuk itu butuh latihan secara intensif, tidak bisa sambilan. Hari ini berlatih, besok tidak – mustahil mind terkendali.

Berlatih secara intensif dan repetitif setiap hari saja tidak cukup. Dibutuhkan latihan setiap jam, setiap detik. Setiap kali mind baru mau kembali pada sifat keliarannya, segera kita menarik dia. Secara intensif dan repetitif – berulang-ulang. Inilah abhyasa – inilah cara untuk mengubah kebiasaan mind.

Namun, cara ini pun adalah semacam first-aid – pertolongan pertama. Untuk selanjutnya, supaya mind tidak liar terus, lagi-lagi secara intensif dan repetitif, kita mesti belajar untuk melepaskan keterikatan dari benda-benda dan keadaan-keadaan yang dapat memicu keliarannya. Ini disebut:

Vairagya – melepaskan diri dari keterikatan: membebaskan diri dari keterikatan pada hal-hal yang dapat memicu dan/atau menambah keliaran mind.

Abhyasa dan Vairagya – inilah cara untuk mengendalikan  mind. Pekerjaan ini adalah purnawaktu. Tidak bisa hanya sesekali saja. Mind tidak pernah mati. Setelah terkendali pun masih tetap diawasi, tidak bisa dilepas begitu saja.

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hidup Sesuai Kehendak-Nya, Belajar Pada Bharata

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 4, 2018 by triwidodo

Kisah Sandal Sri Rama

Dalam Buku The Hanuman Factor, Bapak Anand Krishna menyampaikan kisah tentang Bharata, salah seorang saudara Rama. Rama memiliki tiga orang saudara lelaki, yang lahir dari ayah yang sama namun dari ibu yang berbeda. Namun ketiganya sangat berbakti kepada Rama. Memang ada begitu banyak drama yang mengitari hubungan antara Rama dengan Bharat, tapi tentu saja ada lebih banyak drama lagi di sekitar hubungan Rama dengan Laksmana. Begitu baktinya Bharata, sehingga Rama menyamakan Hanuman dengan Bharata.

Nama Bharata itu punya arti penting. Dan, nilai-nilai luhur yang diwakili oleh Bharat juga penting. Secara watak, Hanuman lebih dekat kepada Bharat. Kepribadian mereka saling melengkapi. Sesungguhnya Rama tengah menyampaikan sebuah pernyataan penting bahwa: “Seorang panembah atau murid yang ideal mesti memiliki kualitas dari dua sosok ini.”

Ibunda Bharat, Kaikeyi, menginginkan Bharata untuk menggantikan Dasharata, sebagai raja Ayodhya. Ketika Bharata pergi, sang ibu membersihkan jalan bagi putranya menuju tahta dengan cara mengusir Rama, Sita istri Rama, dan Laksmana ke hutan. Kisah ini adalah kisah yang terkenal, saya pikir tidak perlu diulangi lagi di sini. Bagi mereka yang belum akrab dengan kisah yang satu ini, ada puluhan ribu sumber di internet tentang subjek ini. Dari ringkasan singkat sampai edisi terjemahan yang lengkap tentang kisah Ramayana tersedia secara on-line.

Namun Bharat menolak kerajaan tersebut. Ia sama sekali tidak tergoda. Ia merasa menyesal karena terlahir dari seorang wanita yang tidak memahami dharma atau kebenaran, “Aku malu menyebutmu ibu. Engkau sudah mengetahuinya dengan baik bahwa bukan aku, tetapi saudaraku, Rama, yang berhak atas tahta kerajaan. Ia bukan hanya saudara yang paling tua, tetapi juga yang paling mampu menjalankan tugas-tugas kenegaraan.”

Bharat adalah contoh hidup tentang dharma, tentang kebenaran. Ia adalah perwujudan dari moralitas, etika dan nilai-nilai luhur dalam hidup.

Sesungguhnya, namanya sesuai dengan sifatnya. Bharat berarti “ia yang menegakkan, melestarikan, dan/atau mempertahankan”. Bharat menegakkan dharma, kebenaran Dan melestarikan/mempertahankan semua nilai luhur yang terkait dengan kebenaran. Ia melakoni dharma, dan menghidupinya.

Namun, dari mana kekuatan semacam itu berasal? Bagaimana ia bisa mengalahkan godaan-godaan duniawi? Hal tersebut membawa kita kepada makna lain dari namanya: Bha dan Rat(i). Bha, sebagaimana di dalam kata bhaai, merupakan singkatan dari kata Bhagavaan, Tuhan, atau yang ilahi. Rat(i) adalah “ia yang mencintai”, atau “ia yang dicintai”. Mencintai berarti juga dicintai.

Bharat merupakan perwujudan dari “Cinta Kasih Tuhan”, kasih ilahi. Cinta ini merupakan perwujudan cinta yang paling tinggi, dalam bahasa Yunani agape, Latin “amore”, dan Sansekerta “bhakti”. Bharat Dan Bhakti memiliki makna yang serupa. Bhakti juga terdiri dari dua kata, yang dari kata tersebut kata bha juga sama artinya seperti dalam kata Bharat, dan aasakti yang berarti “keterikatan”. Bhakti artinya “keterikatan kepada Tuhan, atau pada yang ilahi”.

Terlahir dari Kaikeyi, ia yang tidak bijak, Bharat membuktikan diri bahwa dia mampu menjalankan kerajaanmu ketika engkau tidak ada. Bharat mewakili cinta dalam perwujudannya yang paling tinggi: cinta yang terarah pada Tuhan, cinta bagi Tuhan.

Jadilah pemerintah, pelayan lebih tepatnya, dengan cinta. Hiduplah di dalam cinta. Maka Anda tidak akan pernah tersesat dari jalan yang benar.

Terlahir dari Kaikeyi, ia yang tidak bijak, Bharat membuktikan diri bahwa dia mampu menjalankan kerajaanmu ketika engkau tidak ada. Bharat mewakili cinta dalam perwujudannya yang paling tinggi: cinta yang terarah pada Tuhan, cinta bagi Tuhan.

Jadilah pemerintah, pelayan lebih tepatnya, dengan cinta. Hiduplah di dalam cinta. Maka Anda tidak akan pernah tersesat dari jalan yang benar.

Sumber: (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bharata Selalu Mohon Berkah Sri Rama dalam Menjalankan Tugasnya

Bharata menemui Rama di pengasingan, mohon Rama kembali memimpin Kerajaan Ayodhya. Karena Rama berketetapan menjalankan dharmanya di dunia, dan meminta Bharata menjalankan roda pemerintahan, maka Bharata minta sandal yang dipakai Rama. Sandal itu diletakkan di singgasana, dan Bharata selalu memohon blessings Rama yang diwujudkan dengan sandal-Nya dalam menjalankan pemerintahan.

Para murid, selalu mohon berkah Sang Guru sebelum bertindak, meneladani Bharata, Bhakta Sri Rama.

 

Rama Adalah Kesadaran Bharata seperti Krsna Adalah Kesadaran Arjuna

Pikiran tidak bisa mengenal cinta, tidak bisa mengakses keilahian di dalam diri. Hanyalah kesadaran – pikiran yang sudah berubah sifat dan menjadi buddhi, buddhi citta – yang dapat mengenal cinta, mengenal Tuhan, bisa mencintai dan berbincang-bincang dengan Tuhan!

Perbincangan ini, dialog antara Krsna dan Arjuna ini, terjadi pada dua strata, dua level, dua alam. Di alam benda, Krsna adalah sais kereta perang dan Arjuna adalah seorang ksatria yang duduk di belakang sais.

Dalam alam batin, Krsna adalah kesadaran Arjuna sendiri yang sedang berdialog dengan pikirannya. Dialog ini merupakan dialog transformatif. Tidak ada yang kalah atau menang dalam dialog ini. Pikiran tidak terkalahkan oleh kesadaran. Pikiran, sepenuhnya berubah menjadi kesadaran.

Kesadaran bukanlah sesuatu di luar pikiran. Kesadaran adalah benih-benih yang belum bertunas.

Sementara itu, pikiran adalah alang-alang yang seolah mencegah penunasan benih-benih itu. Sulit memang menjalankan proses ini – bagaimana pikiran kemudian bertransformasi menjadi kesadaran. Namun, jika kita memperhatikan tanda-tanda-Nya, tanda-tanda kehadiran-Nya di alam sekitar kita, maka kita dapat memahami proses metamorfosa ini lewat pengalaman seekor kepompong yang menjijikkan, yang mengalami ‘transformasi total’, dan ‘menjadi’ kupu-kupu yang indah!

Kepompong tidak terkalahkan oleh kupu-kupu – ia ‘menjadi’ kupu-kupu. Demikian pula kematian bisa berubah menjadi keabadian, karena dalam kematian itu tersimpan benih keabadian. Dalam kepompong potensi untuk menjadi kupu-kupu.

Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dalam Bharata tersimpan benih Sri Rama, Gusti Pangeran yang bersemayam di mana-mana, di setiap makhluk.

 

Makna Menyerahkan Segala Kewajiban kepada-Nya

“Serahkan segala kewajibanmu pada-Ku (Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk), berlindunglah pada-Ku; dan akan Ku-bebaskan dirimu dari segala dosa-cela dan rasa takut yang muncul dari kekhawatiran akan perbuatan tercela. Jangan khawatir, janganlah bersusah-hati!” Bhagavad Gita 18:66

 

“Menyerahkan segala kewajiban” dalam pengertian “melepaskan segala dharma” …. .. Ayat ini sering membingungkan. Seorang berjiwa lemah yang melarikan diri dari tantangan hidup untuk menjadi petapa pun menggunakan ayat ini untuk membenarkan tindakannya.

 

“LEPASKAN SEGALA KEWAJIBANMU” – Alasan yang “terasa” kuat sekali bagi mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan-kenyataan hidup, dan melarikan diri untuk menyepi di tengah hutan.

Apakah itu maksud Krsna?

Sama sekali tidak. Krsna justru mengajak Arjuna untuk berperang, untuk menghadapi kenyataan hidup. Bukan untuk melarikan diri, dan menjadi petapa.

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

 

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita.

Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran!

Sumber: buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Penderitaan Yang Dihadapi Para Master Bukan Karena Karma

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 3, 2018 by triwidodo

Kisah Lakshmana dan Guha Membicarakan Penderitaan Sri Rama

Dikisahkan oleh seorang Master tentang Kesedihan Guha, bhakta Sri Rama yang merasa sedih melihat penderitaan Sri Rama dan Sita yang harus menjalankan pengasingan selama 14 tahun.  Sebagai kepala nelayan dia merasa sangat sedih Gusti junjungannya tidur dan hidup di hutan. Pada saat Guha mendayung perahu menyeberangi sungai, Sri Rama dan Sita tertidur dalam perahu, mungkin karena kecapekan.

Guha bergumam, “Betapa jahatnya Permaisuri Keikayi dan Manthara sang dayang jahat, yang membuat Gustinya mengalami penderitaan. Seorang putra mahkota harus hidup di hutan pengasingan bersama istrinya selama 14 tahun. Begitu banyak bahaya mengancam di hutan, apakah Gusti dapat menjalani dengan selamat? Semoga mereka yang bertindak jahat terhadap Gusti memperoleh balasan yang setimpal.”

Lakshmana yang tidak tidur mengingatkan Guha, “Saya juga sangat marah terhadap kejahatan yang dilakukan terhadap Rama. Tetapi saya pribadi tidak tahu Tujuan Hidup Rama. Saya yakin Dia harus menghancurkan Adharma. Untuk itulah Gusti Pangeran mewujud dalam ‘pakaian’ manusia. Dia meninggalkan istana untuk melakukan tugas yang tak dapat saya pahami. Bagaimana kita bisa memahami Gusti (Yang Mewujud sebagai Manusia), dengan segala keterbatasan pemahaman dan kesadaran rendah kita?”

Ketika Gusti Pangeran mewujud dalam dunia material, Dia selalu memiliki Agenda. Demikian pula ketika para Master lahir di Dunia, mereka selalu memiliki Agenda.

……………

Para Avatara menghargai orang saleh bijaksana, memusnahkan pelaku adharma dan menegakkan dharma. Mereka tidak terikat oleh hukum karma, mereka berada di atas hukum karma, tapi bertindak dalam hukum karma untuk memberi keteladanan.

Ketika Dia datang banyak para rekan akrabnya ikut berperan dalam drama dunia. Mereka memainkan drama begitu sempurna, seolah-olah nyata, tapi sejatinya tidak demikian. Krishna kecil menghadapi banyak bahaya dari para Raksasa, Asura bersama para gopi dan gopala.  Gusti memberikan kisah begitu banyak kesulitan dan bahaya mengepung-Nya. Dia menyampaikan pemahaman bahwa hidup di dunia materi adalah penuh penderitaan, tidak peduli siapa pun kita. Siapakah kita yang dapat melepaskan diri dari penderitaan selama hidup di dunia. Siapakah kita yang ingin mengalami kebahagiaan sempurna tanpa rintangan dan ketidaksempurnaan dalam dunia?

Keterikatan kita pada kenikmatan duniawi yang membuat kita berharap yang demikian. Gusti memberi keteladanan bagaimana menegakkan dharma di tengah kekacauan dunia. Sesulit apa pun peran yang harus di jalani tetapi hidup harus menegakkan dharma. Itulah instruksi Krishna kepada Arjuna untuk berperang melawan para sepupu dan gurunya untuk menegakkan dharma. Demikian pesan dalam Bhagavad Gita.

Para Avatara tidak memiliki karma, tidak terikat dengan karma tapi demi kebaikan manusia mereka bertindak seolah-olah menjalani karma.

Penjelasan Sang Master membuka wacana mengapa Gusti Yesus harus mengalami penyaliban, demikian pula para Master mengalami penderitaan dan bahkan penjara di dunia materi.

Penjelasan Bhagavad Gita Mengenai Keteladanan Para Suci

“Apa pun yang dilakukan oleh para petinggi, dan mereka yang berpengaruh, menjadi contoh bagi rakyat jelata. Keteladanan yang mereka berikan, menjadi anutan, dan diikuti oleh masyarakat umum.” Bhagavad Gita 3:21

 

Sebab itu, mereka yang berada dalam posisi “penting”, “besar”, “tinggi” , dan berpengaruh – mesti berhati-hati dalam segala hal. Dalam setiap ucapan dan tindakan.

……………

Krsna mengajak Arjuna untuk meneladani Janaka – Sebelum meraih kekuasaan, Krsna sudah meletakkan standar kepemimpinan bagi Arjuna, “Seperti Janaka, seperti para bijak lain yang bersifat sama.”

Para psikolog modern menemukan berbagai kecenderungan masyarakat yang sungguh mengkhawatirkan. Misalnya kecenderungan memilih pemimpin karena penampilan dan reportase media yang diatur untuk memenangkan calon tertentu. Ini bisa terjadi di negeri Paman Sam, di belahan dunia yang dianggap lebih pintar, lebih cerdas, lebih sadar dari dunia ketiga yang belum cukup berkembang. Apalagi di negara-negara yang tingkat pendidikan manusianya hanya dinilai dari kemelekan terhadap huruf atau dari gelar akademis belaka!

Kemampuan membaca dan gelar tidak membuktikan bahwa yang bersangkutan sudah berpendidikan, sudah matang, sudah mampu memilah antara yang tepat dan tidak tepat.

Nah, apalagi dalam keadaan seperti itu, contoh keteladanan yang diberikan oleh seorang pemimpin, seorang tokoh, menjadi sangat penting. Seorang pemimpin tidak boleh teledor. Jika ia teledor, maka keteledorannya itulah yang akan ditiru oleh rakyatnya.

Krsna mewanti-wanti Arjuna untuk tidak bersikap demikian, tapi untuk menjadi pemimpin yang baik, sadar dan efektif.

(Para Master selalu mengingatkan para muridnya untuk menjadi pemimpin yang baik, sadar dan efektif – Pencatat Kutipan)

 

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), di tiga alam ini tiada suatu tugas atau kewajiban bagi-Ku. Tiada pula sesuatu yang belum Ku-peroleh dan mesti diperoleh. Kendati demikian, Aku tetap berkarya.” Bhagavad Gita 3:22

 

Keadaan inilah yang sering membingungkan orang-orang bodoh seperti kita. Mereka yang belum sepenuhnya sadar – diajarkan untuk berkarya. Mereka yang sepenuhnya sadar – dianjurkan tetap berkarya juga. Dua-duanya mesti berkarya tanpa mementingkan diri. Lalu bedanya apa? Bagaimana mengetahui bila saat ini kita berhadapan dengan seorang Arjuna yang sedang melaksanakan tugasnya, atau Krsna yang sudah bebas tugas, tapi tetap berkarya?

Perbedaan antara Krsna dan Arjuna memang sangat tipis – Jika bertemu dengan mereka di pasar dunia, kita hampir tidak bisa membedakannya. Arjuna sedang jual bawang. Krsna sedang jual cabai.

Arjuna seorang profesional, pun demikian dengan Krsna. Ia pun punya profesi. Arjuna berada di istana, istana Krsna pun tidak kalah mewahnya.

Lalu begaimana membedakan mereka? Pertanyaan ini mesti dijawab dengan pertanyaan lain, “Perlukah kita membedakan mereka?Contohi mereka. Ikuti anutannya. Ikuti standar keteladanan yang mereka berikan. Yang penting adalah berkarya tanpa pamrih, demi kebaikan semua. Yakinlah, dalam kebaikan bagi semua, kebaikan diri dan keluarga Anda pasti sudah ikut terurusi.

Adalah sorang Krsna sendiri yang tahu bila dirinya sudah berkesadaran-Krsna. Kita hanya bisa mengetahuinya jika kesadaran kita, setidaknya sudah mencapai, menyerupai tingkat kesadaran Arjuna.

Kesadaran Arjuna adalah kesadaran atas kebingungannya. Kesadaran Arjuna adalah kesadaran yang mampu menundukkan kepala ego dan bersujud pada Krsna. Kesadaran Arjuna adalah bebas dari rasa ke-“aku”-an. Jika kita sudah berkesadaran demikian seperti itu, maka tiba-tiba, “Eh, ternyata selama ini Krsna ada di sampingku, mengarahkan setiap langkahku. Aku saja yang bodoh, dan tidak mengenal-Nya.”

 

“Jika Aku tidak giat berkarya, maka niscayalah tatanan dunia ini akan kacau, karena manusia mengikuti keteladanan-Ku dalam segala hal.” Bhagavad Gita 3:23

………

Ia menghendaki kita berkarya dengan semangat-Nya, tanpa pamrih, tidak korup – sehingga masyarakat umum dapat mengikuti teladan kita.

 

“Jika Aku berhenti berkarya, niscaya terjadi kekacauan di dunia ini, semuanya akan punah binasa, dan Aku menjadi penyebab kebingungan, kemusnahan dan kebinasaan seluruh umat manusia.” Bhagavad Gita 3:24

Di sini Krsna sedikt subjektif. Apa urusan-Nya di medan perang Kuruksetra? Dia tidak perlu terlibat, tapi tetaplah dia melibatkan diri, bahkan menjadi sais kereta Arjuna. Ia tetap berkarya demi dharma, demi kebajikan, keadilan, kebenaran.

…………….

Krsna memberi warna, memberi corak, memberi purpose, maksud dan tujuan. Krsna mengarahkan, dan Pandava mengikuti arahan-Nya. Tidak demikian dengan Kaurava. Krsna telah berusaha untuk menyadarkan Kaurava. Mereka tidak menggubris aeahan-Nya. Ya, apa boleh buat.

Pun, demikian dengan para Krsna masa kini…….

Mereka tidak memiliki kepentingan apa pun. Mereka telah mencapai kesadaran tertinggi, namun mereka tetap berkenan untuk turun dari puncak kesadarannya untuk mengarahkan masyarakat yang sudah tidak terarah. Mereka adalah manusia-manusia berkesadaran Krsna.

Dikutip dari buku  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia #BhagavadGitaIndonesia.

Dengan kisah di atas kita dapat menyadari bahwa Para Master tidak terikat dengan karma tapi demi kebaikan manusia mereka bertindak seolah-olah menjalani karma.

Meditasi Membebaskan Diri Kita dari Kebiasaan Buruk

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 2, 2018 by triwidodo

Kusir Yang Menjadi Budak Kebiasaan Yang Salah

Seorang Master berkisah tentang seorang kusir yang memacu keretanya dengan cepat ke stasiun mengantar banyak penumpang yang berada di dalam keretanya. Sang kusir menarik tali kekang dan mencambuk tanpa kasihan di punggung dan leher sang kuda agar dapat berlari lebih cepat.

Seorang pria tua berjanggut, yang nampak sehat dan cerah yang berpapasan dengan kereta yang dkendarai sang kusir berteriak, “Jangan memegang  tali kekang kuda terlalu kuat, biarkan kuda bebas berlari. Kuda akan berlari lebih cepat.”

Sang kusir menjawab, “kau diam saja! Aku lebih tahu tentang kudaku.” Salah satu penumpang dari dalam kereta bertanya kepada sang kusir, “Menurut Anda, orang tua itu siapa?”

Sang kusir menjawab, “Aku tidak peduli siapa dia?”

Kemudian sang kusir mendengar suara (adalah sang kuda yang berbicara), “Dia adalah Krishna, yang menjadi kusir Arjuna. Dia mengetahui segala hal tentang kuda.”

Sang kusir mengira yang berbicara adalah salah satu dari penumpangnya. Dia melihat ke dalam kereta dan berkata, “Ya, Dia tahu segala hal tentang kuda-kuda Arjuna, tetapi apa dia tahu  tentang kuda-kudaku?”

 

Jadikan Sri Krsna – Sang Sais Agung – sebagai sais Kereta Kehidupan kita, maka tidak ada lagi kekalahan, tidak ada lagi kegagalan. Saat ini, kita menempatkan nafsu berahi kita, keserakahan kita, keangkuhan kita, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan.

Apabila kita menempatkan Akal Sehat dan Pikiran Jernih, dan Hati yang Bersih pada posisi sais, hidup akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Hidup kita dapat menjadi suatu Perayaan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Samskara” berarti “kesan, dampak, tindakan yang kita lakukan berdasar ego kita”. Ketika kita melakukan tindakan semacam itu, sebuah kesan halus tersimpan dalam pikiran kita. Setiap kali aksi diulang, kesan menjadi lebih kuat. Begitulah kebiasaan terbentuk. Semakin kuat kebiasaannya, semakin sedikit penguasaan yang kita miliki di atas pikiran kita di saat kita mencoba melakukan tindakan yang bertentangan dengan pola kebiasaan kita. Orang yang terbiasa merokok, akan sulit berhenti, walau pikiran jernihnya ingain menghentikan kebiasaan tersebut. Tindakan yang sudah terbiasa diulang-ulang akan membentuk karakter.

Setiap Orang Merasa Dirinya Bebas Bertindak Padahal Dia Diperbudak Oleh Conditioning

Dalam Bhagavad Gita Pembukaan Percakapan ke 16 disampaikan: “Setiap orang secara a priori (tanpa pengalaman empiris — a. k.) percaya bahwa dirinya bebas untuk bertindak semaunya, dan bahwasanya setiap saat ia bisa memulai hidup baru……. Namun, secara a posteriori (lewat pengalaman empiris — a.k), dalam pengalaman hidup yang nyata, ia pun menyadari bila dirinya tidak bebas……. bahwasanya walau sudah membuat berbagai resolusi dan refleksi; tetaplah ia tidak mampu mengubah dirinya. Sejak awal hingga akhir hidupnya, ia tetap mesti menjalani peran yang barangkali tidak disukainya.” Arthur Schopenhauer (The Wisdom of Life, 1851)

Berdasarkan samskara atau “hikmah bawaan” dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, adalah dua Kecenderungan atau Karakter utama yang menjadi “pilihan alami” setiap manusia: SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Melampaui Perbudakan Conditioning Lewat Meditasi

Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang ia peroleh. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya.

Tragisnya: sudah tidak bebas, dia juga tidak sadar bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang perlu diekspresikan.

Meditasi mengantar kita pada penemuan jatidiri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya. Kemudian, synap-synap baru yang masih labil, yang muncul-lenyap, muncul-lenyap adalah thoughts atau satuan pikiran. Thoughts akan selalu segar. Tidak basi seperti mind. Dengan thoughts kita bisa hidup dalam kekinian. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bukan Hanya Sang Kusir Dalam Kisah, Kita pun Ter-Conditioning

Manusia yang serakah, yang berbudaya “tak kunjung cukup”, keadaannya sama seperti orang yang ketagihan obat-obatan. Persis seperti para pencandu, para korban narkotika. Ketagihan oleh narkotika atau oleh uang, seks dan lain-Iain, mekanismenya sama: dosisnya harus bertambah terus.

Reseptor-reseptor synap yang sudah terbentuk membutuhkan stimulus-stimulus yang sesuai dengan kebutuhannya. Kemudian, jika kebutuhannya dipenuhi terus, kepekaan reseptor akan semakin menurun, sehingga untuk memperoleh kenikmatan yang sama, dosisnya harus ditambah.

Itu sebabnya, para pencandu sulit sekali melepaskan narkotika. Begitu pula dengan para elite politik yang haus akan kekuasaan dan para konglomerat yang haus harta. Yang tadinya hanya mencak-mencak di luar, sekarang menjadi MPR. Tadinya hanya menguasai satu kelompok kecil, sekarang merasa menguasai negara. Ya, semakin menjadi-jadi.

Jelas semakin menjadi-jadi, karena kebutuhannya akan semakin meningkat. Dan ia pun akan mencari stimulus yang lebih bcsar. Budaya “tak kunjung cukup” ini saya sebut, “Ketagihan stimulus pemenuh instink hewani” atau “Property Addict” yang persis sama dengan “Narcotic Drug Addict”.

Budaya ini dengan sendirinya menciptakan rasa kepemilikan atau keterikatan dengan stimulus-stimulus tersebut. Itu yang menjelaskan kenapa seorang pejabat selalu terikat dengan jabatannya.

Ya, terikat dengan stimulus-stimulus yang sangat tidak berarti. Sampai menjadi tergantung—addicted! Seperti perokok yang tidak bisa melepaskan rokoknya. Karena sudah terbiasa merokok, kalau tidak merokok mulut serasa kecut. Karena sudah begitu biasa disanjung-sanjung, begitu pensiun dan kehilangan jabatan, lalu senewen!

Padahal dalam konsep yoga atau meditasi sebagaimana kita selami di Ashram, kesadaran manusia berlapis-lapis. Dari mulai kesadaran fisik yang paling luar, paling rendah dan paling kasar, sampai pada yang semakin dalam, semakin tinggi dan semakin halus. Ada yang disebut conscious mind, subconscious mind—lalu superconscious mind atau cosmic mind.

Bagi mereka yang masih berada pada lapisan fisik arau conscious mind, melampaui lapisan tersebut pasti terasa Sangat sulit. Untuk itu, dalam hidup sehari-hari, instink-instink hewani harus dikendalikan.

Salah satu contoh: Makan bila sungguh-sungguh lapar dan berhenti makan sebelum kenyang merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan instink hewani yang berkaitan dengan rasa lapar. Demikian kita tidak akan terbawa oleh “budaya tak kunjung cukup”.

Kemudian jika kebiasaan ini diulangi terus-menerus dengan penuh kesadaran, reseptor synap lapar akan mengalami regresi ataupun perubahan, sehingga yang biasanya menagih porsi besar akan puas dengan porsi yang kecil.

Cara ini dapat diterapkan untuk mengendalikan instink-instink lain. Dalam hal ini, kata kuncinya adalah “kesadaran”. Seseorang harus melakukannya atas kemauan sendiri—dan dengan kesadaran sendiri. Jika dipaksa, justru akan menciptakan obsesi dan synap-synap baru. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mereka Yang Sudah Melampaui Conditioning dan Berpikiran Jernih

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;” Bhagavad Gita 16:1

Krsna sedang menjelaskan karakter atau kecenderungan mereka yang lahir dengan dan dalam kesadaran. Sejak lahir, mereka sudah memiliki kecenderungan-kecenderungan ini sebagai balance-carried forward dari masa kehidupan sebelumnya. Mereka sedang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak perlu lagi mengembangkan karakter, kecenderungan, atau “sifat-sifat bawaan” tersebut—mereka hanya mesti memelihara dan mempertahankannya. Sebuah pekerjaan berat juga, tidak mudah. Tapi, setidaknya mereka tidak lagi membuang waktu untuk mengembangkan semua itu.

TIDAK DEMIKIAN DENGAN KITA, yang kemungkinan besar, tidak memilikj saldo seperti ini dari masa kehidupan sebelumnya. Berarti kita mesti bekerja keras untuk mengembangkannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia