Archive for anand krishna

Krishna Kecil: Kubja Berkat Tapa dari Bungkuk Menjadi Jelita #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 16, 2017 by triwidodo

Tapa berarti “latihan-latihan untuk mengendalikan diri”. Jadi seorang Tapasvi atau “praktisi tapa” adalah seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya. Yang bisa disebut tapa bukanlah latihan-latihan untuk mengembangkan tenaga dalam. Bukan juga latihan-latihan untuk menambah kewaskitaan Anda. Menambah atau mengembangkan berarti Anda masih “mengejar” sesuatu. Anda belum tenang, Anda masih gelisah. Berarti Anda belum ber-tapa.

Tapa juga berarti “disiplin”. Kendati latihannya sudah benar, tujuannya pun sudah betul—untuk mengendalikan diri—jika Anda tidak melakukannya secara teratur, Anda belum ber-tapa. Hari ini latihan untuk mengendalikan diri, besok tidak. Lusa latihan lagi, lalu berhenti lagi. Ini pun belum bisa disebut tapa. Latihan untuk mengendalikan diri secara teratur, itulah tapa. Berlatih untuk mengendalikan diri pada setiap saat, itulah tapa.

Seorang tapasvi atau praktisi tapa akan terbebaskan dari kegelisahan. Istilah yang digunakan untuk kegelisahan adalah “paapa”, yang biasanya diterjemahkan sebagai sin atau dosa……

Budaya dan tradisi Veda tidak mengartikan dosa sebagaimana di artikan oleh lembaga-lembaga keagamaan. Dosa berati kesalahan, kekhilafan. Tepatnya adalah salah langkah yang disebabkan oleh pikiran yang kacau, yang tidak jernih. Dosa adalah hasil kegelisahan diri manusia. Dan karena itu, bisa diatasi oleh manusia itu sendiri. Bahkan harus diatasi oleh manusia sendiri. Pemahaman Shankara tepat sekali. Dia mengatakan bahwa Anda bisa terbebbaskan dari “paapa” atau dosa atau kegelisahan – berkat tapa. Kegelisahan harus diatasi dengan keseimbangan, dan keseimbangan lahir dari pengendalian diri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ketika sedang melihat-lihat kota, Krishna bertemu dengan seorang wanita bungkuk namun berwajah cantik. Dia membawa bubuk kayu cendana. Krishna meminta sebagian dari bubuk kayu cendana tersebut yang ternyata merupakan persembahan untuk Raja Kamsa, yang sangat menyukai bubuk kayu cendana yang di persiapkan wanita itu. Namun, dengan berani dan penuh pengabdian pada Krishna, sang wanita bungkuk ini berkata, “Siapa yang lebih tepat menerima Bubuk Kayu cendana ini selain diri-Mu.” Kemudian Krishna dan Balarama memakai bubuk kayu cendana tersebut. Wanita tersebut dikenal sebagai Kubja atau si pendek. Tubuhnya sebetulnya tidak pendek akan tetapi ada 3 bengkokan pada tubuhnya: di leher, punggung dan kaki, sehingga menjadi pendek dan bungkuk. Dia juga dikenal sebagai Trivakra, orang dengan 3 bengkokan.

Senang dengan hal ini kemudian Krishna menekan kaki wanita bungkuk ini sambil menaruh tangannya di punggung  wanita bungkuk itu sementara satu tangannya mengangkat dugu wanita itu keatas dan dalam seketika wanita itu dapat berdiri tegak. Itulah keagungan bertemu langsung dan melayani Gusti. Dengan sentuhan Krishna, si wanita sembuh dari bungkuknya dan berubah menjadi wanita cantik sekali. Bersyukur atas apa yang terjadi dan dengan dipenuhi kasih pada Krishna sang wanita ini mengundang Krishna untuk datang ke rumahnya. Krishna berjanji akan datang ke rumah wanita itu setelah tugasnya di Mathura selesai.

Dalam kehidupan sebelumnya, Kubja adalah Surpanakha, adik Rahvana, dan ia pertama kali melihat Rama ketika Ia tinggal di Pancavati. Surpanakha melihat Sri Rama, ia merasa sangat tertarik. Tidak dapat menahan diri, dia mengubah wujudnya kemudian mendekati Sri Rama dan memintanya untuk menikahinya.

Surpanakha mulai membandingkan dirinya dengan Sita, menyatakan dirinya unggul dalam segala hal. Rama tertawa menolak lamaran untuk menikah, menjelaskan bahwa dia sudah menikah. Namun, Sri Rama meminta Surpanakha untuk menemui saudaranya Lakshmana yang masih bujangan.

Surpanakha berpaling kepada Lakshmana, dan bertanya lagi pertanyaan serupa yang baru saja diajukan ke saudaranya. Mendengar kata-katanya, Lakshmana menjelaskan bahwa tugas seorang hamba adalah untuk memuaskan Gustinya, dan tidak mencoba untuk menikmati dirinya sendiri secara pribadi. Lakshmana sibuk dengan kewajiban untuk Sri Rama.

Surpanakha sekali lagi berpaling kepada Sri Rama dan mengulangi permintaannya. Sri Rama menjawab bahwa dia sudah menikah, dan telah bersumpah untuk tidak menerima istri lain. Mendengar ini, Surpanakka menjawab: “Aku akan memakan istrimu!”

Sri Rama berkata serius pada Lakshmana: “Saya menghormati raksasa perempuan ini, tetapi dia sekarang ingin makan seorang wanita tidak bersalah!. Lakshmana, potong hidung dan telinganya sekaligus!”

Mengikuti instruksi Sri Rama, Lakshmana menggunakan senjatanya yang tajam melakukannya. Menjerit mengerikan, Surpanakha melarikan diri, akhirnya tiba di rumah saudara laki-lakinya, Khara dan Dushana, di mana dia terkait segala sesuatu yang telah terjadi padanya. Mereka memutuskan untuk membalas penghinaan tersebut dengan membunuh Sri Rama. Lalu, para raksasa berangkat dengan 14.000 pasukan tentara. Melihat awan debu yang mendekati pasukan raksasa yang berjumlah banyak, Sri Rama berbalik kepada Lakshmana, dan berkata: “Saudaraku terkasih, bawa Sita pergi ke tempat yang jauh, sehingga dia tidak akan menjadi takut dengan melihat raksasa menakutkan dan mengerikan gerombolan yang bergerak ke arah kita, bahkan saat kita sedang berbicara. Dalam ketidakhadiran kalian, aku akan membunuh mereka semua.”

Pada saat istri dan saudaranya telah pergi, Sri Rama menghadapi kekuatan musuh, dan pertempuran yang sangat sengit dan mengerikan pun terjadi.  Sri Rama memusnahkan seluruh pasukan mereka. Ketika menyaksikan hal tersebut, Surpanakha segera berangkat ke tempat tinggal Rahvana, kakaknya dan menceritakan tentang pertempuran yang mengerikan yang baru saja terjadi. Rahvana mendengarkan penjelasannya tentang  kecantikan dari Sita.

Akhirnya, Surpanakha menyadari bahwa kakaknya tidak akan bisa membantunya, dan dengan demikian dia pergi. Benar-benar sedih, ia akhirnya menemukan jalan ke Puskara, Rajasthan, di mana ia mulai melakukan pertapaan keras. Selama 10.000 tahun berikutnya, ia menenggelamkan tubuhnya dalam air, dan berdoa kepada Shiva, menginginkan Sri Rama sebagai suaminya.

Dengan cara ini, ia berhasil untuk memohon kehadiran Shiva, yang memintanya untuk menyebut keinginannya. Surpanakha berkata: “Wahai Gusti, Engkau dapat memenuhi keinginan seluruh makhluk hidup. Perkenankan saya untuk dapat menjadikan Sri Rama sebagai suamiku, yang sangat kusayangi untuk semua orang mulia dan murah hati.”

Shiva menjawab: “Wahai raksasa perempuan, aku tidak dapat memberikan berkah ini kepadamu segera, tetapi engkau harus menunggu sampai akhir Dvapara Yuga. Ketika di Mathupuri, semua keinginanmu akan terpenuhi, jangan meragukan kata-kataku.”

Surpanakha kemudian lahir menjadi Kubja dalam zaman Dvapara Yuga, dan dengan berkah ini menjadi kekasih Krishna.

Ini adalah kisah seorang perempuan yang mencintai Gusti, tetapi pada awalnya dia ingin memaksakan kehendak pribadinya. Tentu saja Gusti tidak dapat dipaksa dan dia menjadi menderita. Akan tetapi, perempuan tersebut mempunyai tekad yang kuat dan kedisiplinan sehingga dia rela bertapa selama 10.000 tahun.

Bagi Shankara, disiplin adalah ketekunan dan keceriaan. Shankara tidak setuju dengan disiplin yang dipaksakan. Disiplin tidak bisa dari luar, mesti dari dalam diri. Manusia tidak dapat didisiplinkan. Ia mesti mendisiplinkan diri. Disiplin diri berarti tekun, bukan karena dipaksa, tetapi karena sadar bahwa ketekunan itu dibutuhkan; bahwa ketekunan itu demi kebaikan dirinya juga, maka ia tetap ceria. Ya, orang yang menerapkan disiplin bagi dirinya tidak pernah berkeluh-kesah. la juga tidak mencari perhatian. la tidak mengaduh-aduh. la selalu ceria. (Krishna, Anand. (2009). Total Success Meraih Keberhasilan Sejati. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Krishna Kecil: Kematian Tukang Cuci Zaman Sri Rama #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 15, 2017 by triwidodo

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikatan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula! Penjelasan Bhagavad Gita 9:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Ketika Balarama dan Krishna berjalan menuju istana Raja Kamsa, mereka melihat tukang cuci kerajaan membawa bungkusan jubah kerajaan. Krishna minta pakaian tersebut untuk dipakai ke istana, tetapi si tukang cuci menolak bahkan memukul Balarama yang segera megelak. Krishna memberi tamparan di wajah tukang cuci dan si tukang cuci meninggal di tempat. Krishna membuka bungkusan, memberikan satu jubah untuk saudaranya dan satu jubah untuk dipakai dirinya sendiri.

Masyarakat berkumpul melihat kejadian tersebut. Masyarakat sudah lama tidak simpati dengan tukang cuci yang angkuh tersebut, tetapi tidak berani, karena dia merupakan tukang cuci kesayangan Raja Kamsa. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan dan kemudian ada seorang pedagang yang memberikan selendang dan ada juga penjual yang memberikan karangan bunga kepada Krishna. Kehidupan mereka yang mempersembahkan sesuatu kepada Krishna berbuah penuh kebahagiaan.

Balarama tidak bisa paham mengapa Krishna membunuh tukang cuci dan meminta Krishna untuk menjelaskan kejadian tersebut.

Krishna menjawab bahwa dia telah membunuh tukang cuci karena ia ingin mati di tangannya. Dia adalah tukang cuci yang sama yang telah bertanggung jawab untuk pengasingan Sita istri Sri Rama. Pada waktu itu si tukang cuci menyesal dan meminta Sri Rama untuk membunuh dia untuk dosa yang tak terampunkan yang telah dilakukannya. Sri Rama meyakinkannya bahwa keinginannya akan dipenuhi hanya oleh avatara berikutnya dalam zaman Dvapara Yuga. Setelah terbunuh oleh Krishna maka kesalahan tukang cuci tersebut telah terhapuskan.

Berikut salah satu kisah rakyat yang terjadi di zaman Sri Rama:

Ada seorang raja bernama Janaka Siradvaja, yang tinggal di Mithila. Suatu hari, dalam rangka mempersiapkan lapangan untuk digunakan sebagai tempat upacara kurban, ia mulai menggali dengan bajak emas. Dari alur yang dalam muncullah seorang bayi perempuan yang tubuhnya bersinar dengan kilau emas. Raja Janaka menjadi gembira, mengadopsi anak, dan menamakannya Sita.

Beberapa tahun kemudian, Sita melewati waktunya di taman istana dengan beberapa teman, dan dia melihat dua burung beo bertengger di pohon. Menjadi penasaran, ia melongok ke depan, dan ketika dia mulai mendekati kedua burung tersebut, ia bisa mendengar mereka mengobrol. Saat ia mendengarkan dengan seksama, Sita terheran-heran karena ia menyadari bahwa burung-burung itu menceritakan kisah hidupnya sendiri. Burung beo menggambarkan bagaimana dia akan menikah dengan seorang raja besar yang disebut Rama, dan bahwa bersama-sama mereka akan sangat terkenal. Ia akan menjadi raja yang sangat cerdas dan gagah berani, dan akan memerintah bumi selama sebelas ribu tahun, dengan Sita sebagai ratu tercinta. Burung beo kedua kemudian mengatakan bahwa pastinya dia adalah wanita yang beruntung karena mampu memperoleh Rama sebagai suaminya.

Sita memutuskan bahwa ia harus menangkap mereka, dan mengetahui segala yang mereka tahu. Berpikir demikian, ia meminta bantuan teman-temannya dan burung beo betina dapat ditangkap.

Sita berkata, “Beo sayangku, jangan takut, kami tidak akan  merugikan kalian berdua yang begitu indah. Tolong katakan padaku siapa kalian dan dari mana berasal, dan siapa Sita dan Rama? Tolong beritahu kami. Kalian mengetahui tentang mereka dan jika ada yang untuk diungkapkan, jangan menunda lebih lama lagi.”

Mendengar permintaan ini, kedua beo mulai menceritakan semua yang mereka tahu, “Wahai dewi, kita hidup di asrama rishi yang sangat kuat dan terkenal yang disebut Valmiki. Dia adalah rishi terbaik yang sedang menyusun sebuah cerita besar yang disebut Ramayana, yang sangat menyenangkan untuk pikiran. Setiap hari, semua muridnya terlibat dalam membaca dan merenungkan sastra ini. Setelah mendengar dan menyanyikan lagu itu lagi dan lagi, kami telah belajar kata demi kata tentang Sita dan Rama. Secara khusus, kami dapat mengungkapkan apa yang akan terjadi dengan putri Janaka, yang adalah permaisuri Rama. Rama akan melakukan perjalanan ke Mithila, didampingi Lakshmana saudaranya, dan Rishi Visvamitra. Ketika mereka tiba di istana, Rama akan mematahkan busur yang disimpan di sana, yang begitu besar, bahwa tidak ada orang mampu mengangkat. Setelah itu dia akan menikah dengan putri Janaka yang sangat cantik, Sita, yang akan melayani Dia sebagai istrinya. Kemudian, selama bertahun-tahun, Ia akan mempertahankan kerajaan besar. Kami hanya mengungkapkan kepadamu sebuah fragmen kecil dari apa yang kami tahu – ada begitu banyak yang harus didengar, tetapi engkau tidak perlu tahu lebih banyak. Oleh karena itu, Oh Dewi, bebaskan kami sekarang, karena kami ingin kembali.”

Sita, yang hatinya terpesona oleh kata-kata mereka, mencatat hati-hati mereka dalam pikirannya. Penasaran untuk mengetahui lebih lanjut, dia kembali bertanya, “Teman-temanku, tolong katakan padaku, di mana Sri Rama dilahirkan dan ayahnya siapa?”

Ketika burung beo betina mendengar pertanyaan-pertanyaan ini, dia bisa memahami bahwa yang bertanya adalah Sita sendiri. Beo betina melemparkan dirinya di kakinya, dan menjelaskan bagaimana wujud Sri Rama dan menanyakan siapa putri yang bertanya kepadanya. Sita berkata, “Saya Sita yang baru saja kalian jelaskan, aku akan melepaskanmu setelah Sri Rama datang tetapi tidak sebelumnya. Bermainlah bersama kami!”

Mendengar ini, burung beo menjawab, “Kami burung hutan, dan sejak lahir sudah terbiasa bepergian,  kami tidak akan bahagia sebagai tawanan di istanamu. Selain itu, aku juga betina. Jika Tuan Putri mengizinkan, kami akan bertelur di rumah, dan kembali segera setelah itu.” Melihat bahwa Sita masih tidak yakin, burung beo jantan kemudian memohon dengan suara rendah hati, “Aku mohon, lepaskan istriku, kami akan kembali ketika dia telah melahirkan anak-anaknya. Atas hal ini, Sita menjawab, “Oh burung cerdas, kau bebas untuk pergi jika kau ingin, tetapi setidaknya biarkan aku menjaga istrimu di sini, kepada siapa aku telah menjadi sangat terikat hubungannya yang akan memberikan aku kebahagiaan.”

Mendengar ini, burung beo jantan menjadi sangat sedih, dan berkata, “Memang, para yogi besar menganjurkan keheningan berkelanjutan dan berbicara dengan bijaksana, dan, sebenarnya, kata-kata mereka tidak pernah salah. Oh celakalah kami! Kalau saja pasangan tercinta saya tidak berbicara dalam cara dia lakukan, dia tidak akan dipenjara sekarang. Oh wanita cantik, aku tidak bisa hidup tanpa istriku, jadi bebaskanlah!”

Karena membujuk Sita dan tidak berhasil, maka burung beo betina berkata, “Sama seperti Tuan Putri sekarang yang memutuskan hubungan saya dari suami saya di saat yang penting, sehingga di masa depan, Tuan Putri juga akan juga berpisah dari Sri Rama ketika Tuan Putri hamil.” Terserang oleh penderitaan karena berpisah dari suaminya, ia kemudian meninggalkan tubuhnya, meneriakkan nama suci Sri Rama.

Dipenuhi dengan kesedihan, burung beo jantan berpaling kepada Sita, dan berkata dengan suara pahit, “Semoga aku terlahir kembali di Ayodhya sebagai manusia, dan menjadi alat kutukan dari istriku, dengan mana Tuan Putri akan dipaksa untuk melepaskan hubungan suami Tuan Putri.”

Burung beo jantan memang terlahir  kembali di Ayodhya, di mana ia menjadi tukang cuci. Suatu malam, Sri Rama mondar-mandir di jalan-jalan Ayodhya dengan penyamaran, dan datang ke rumah tukang cuci itu. Istri tukang cuci baru saja kembali setelah pergi lama, dan tukang cuci berseru, “Wahai wanita suci, jangan kembali ke rumah ini. Mungkin Sri Rama dapat mengambil Istrinya kembali tanpa mengetahui aktivitasnya di luar, tetapi jangan berpikir bahwa aku akan menerimamu!” Mendengar kata-kata ini, Sri Rama diam-diam kembali ke istana-Nya, tak lama setelah mengirim Sita ke hutan. Sri Rama tidak bermasalah dengan Sita, akan tetapi sebagai raja, dia perlu mengikuti pendapat umum.

Dikisahkan, Sita mencapai pencerahan kala bertemu Valmiki dan melahirkan Pangeran Kusa dan Lava. Sita tidak dendam atas perbuatan Sri Rama, segala sesuatu memang harus terjadi, karena kesalahan dia sebelumnya. Dikisahkan juga bahwa Sita telah mencapai moksha setelah hidup di bawah bimbingan Valmiki.

Dalam kisah tersebut, setelah Sri Rama menjemput Sita, Kusa dan Lava, Sita menyerahkan Kusa dan Lava dan masuk kembali ke bumi…….

Krishna Kecil: Akrura Perjalanan Menuju Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 14, 2017 by triwidodo

Tujuan hidup manusia hanya “satu” – menyatu, bersatu dengan Tuhan. Jika memang demikian, doa apa lagi yang harus Anda ucapkan? Tidak bisa lain, permohonan Anda pun harus satu: Supaya yang sulit dipermudah; supaya Dia menjadi penuntun, karena Dia pula yang menjadi tujuan hidup. Aku dalam perjalanan menuju Engkau, Ya Allah, Ya Rabb. Aku tidak tahu, bekal apa yang akan kubutuhkan dalam perjalanan ini. Apa yang harus kuminta? Engkau Maha Tahu! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita.

Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran! Penjelasan Bhagavad Gita 18:66 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ketika kita mencintai seseorang kita tentu memikirkan mereka. Jadi, ketika kita mencintai Krishna adalah wajar untuk berpikir tentang dia dan ingin mendengar atau membaca tentang leela-nya atau kegiatan ilahinya. Mereka yang ingin mencintai Krishna diharapkan membaca tentang leela Krishna dalam Srimad Bhagavatam.

Kisah tentang pencinta bernama Akrura ini dimulai saat ia melakukan perjalanan ke Brindavan untuk membawa Krishna dan Balarama ke Mathura. Akrura sangat bahagia saat ia melakukan perjalanan untuk menemui Krishna. Akrura memuja Krishna sebagai seorang bhakta. Empat suasana hati lainnya adalah rasa yang netralitas, persahabatan, orang tua, dan kasih suami-istri.

Setelah Krishna membunuh asura bernama Aristasura di Brindavan, Rishi Narada memutuskan untuk memfasilitasi salah satu misi Krishna untuk membunuh semua asura. Oleh karena itu, ia pergi ke Mathura untuk berbicara dengan Raja Kamsa. Narada menjelaskan kepada Raja Kamsa bagaimana ia telah ditipu oleh ayah Krishna, Vasudeva, dengan berpikir bahwa anak kedelapan adalah seorang putri, padahal sudah diramalkan bahwa anak kedelapan Vasudeva akan membunuh Kamsa. Sebenarnya anak kedelapan Vasudeva adalah Krishna, tetapi Vasudeva membawanya ke Brindavan, dia dilindungi dan dibesarkan oleh Nanda dan Yashoda. Setelah mendengar hal ini, Raja Kamsa marah dan segera ingin membunuh Vasudeva, tetapi Rishi Narada membujuknya agar tidak membunuh Vasudeva dan Devaki.

Bagaimanapun, Kamsa menjadi begitu marah sehingga Vasudeva dan Devaki dipenjara. Kemudian Kamsa memunculkan ide untuk mengatur pertandingan gulat di Kota Mathura dan mengundang Krishna dan Balarama, saudaranya, bersama para gopala untuk datang dan menyaksikan perayaan serta menikmati keindahan kota.

Rencana Kamsa adalah untuk menantang Krishna dan Balarama dalam pertandingan gulat dan dua bersaudara tersebut dibunuh. Selain itu, Kamsa memikirkan cara alternatif untuk membunuh Krishna bahkan sebelum pertandingan gulat berlangsung; melalui serangan dari gajah yang paling kuat.

Untuk memastikan keberhasilan rencananya, Kamsa memanggil Akrura. Akrura adalah seorang komandan tentara dari keturunan/dinasti Vrsni dan termasuk paman dari Krishna. Akrura seorang pencinta Krishna dan setiap hari dia memuja Krishna, oleh karena itu Raja Kamsa meminta bantuan Akrura untuk membujuk Krishna agar datang ke Mathura.

Bagi Akrura, hidup dia tidak menuruti pikiran pribadinya tetapi menuruti kehendak-Nya sehingga perintah Kamsa pun dia anggap merupakan kehendak-Nya untuk menemui Gusti dalam wujud Krishna.

Kamsa memanggil Akrura, dengan sopan ia memuji dan mencoba untuk membujuk untuk membantunya membawa Krishna dan Balarama ke Mathura dan juga mengundang semua para penggembala. Dia menggambarkan kepada Akrura semua rencana untuk membunuh Krishna, Balarama, orang tua mereka, dan semua raja saingannya sehingga ia dengan tenang bisa menguasai dunia.

Setelah dengan sabar mendengarkan Raja Kamsa, Akrura menjawab, “Wahai Raja, Paduka telah merencanakan dengan baik proses untuk membebaskan diri Paduka dari kemalangan. Namun, ada kemungkinan keberhasilan ataupun kegagalan, karenanya tentu takdirlah yang akan menentukan. Oleh karena itu, orang selalu bertemu kebahagiaan maupun kesusahan. Meskipun demikian, saya tetap akan melaksanakan perintah Paduka.”

Pagi berikutnya, Akrura berangkat ke Brindavan dengan menggunakan kereta baru yang diberikan oleh Raja Kamsa. Saat ia melakukan perjalanan, ia mengalami rasa devosi yang mendalam, merasa sangat diberkati karena memiliki kesempatan untuk melihat Krishna. Dia bertanya-tanya apa yang telah dia lakukan untuk menerima keberuntungan besar seperti itu, namun ia menganggap ini sebagai berkah dari Krishna kepadanya. Akrura menganggap bahwa pada hari ini hidupnya menjadi berhasil karena ia akan mampu menyentuh kaki teratai Krishna, yang dicari oleh para yogi besar.

Saat ia merenungkan apa yang mungkin terjadi ketika ia benar-benar melihat Krishna, ia berterima kasih kepada Raja Kamsa yang telah mengirimkan dia dalam misi ini. Meskipun Kamsa memiliki niat jahat, hal itu justru memberikan Akrura kesempatan langka bertemu Krishna.

Akrura merenungkan Krishna dengan sepenuh hatinya dan nyaris tidak menyadari waktu berlalu, sepertinya waktu yang sangat singkat. Akhirnya, setelah perjalanan sepanjang hari, ia memasuki Brindavan. Pada saat itu Akrura memperoleh berkah “penglihatan” bisa melihat bekas tapak kaki Krishna. Kita sudah membaca kisah saat para gopi menemukan jejak kaki Krishna. Demikian pula dengan Akrura, bhakta Krishna. Larut dalam kebahagiaan saat melihat jejak kaki Krishna, membuat ujung-ujung rambutnya berdiri karena cinta yang murni, dan matanya penuh dengan air mata, Akrura melompat turun dari kereta kudanya dan mulai berguling-guling di antara jejak kaki Krishna, dan berseru, “Ah, ini debu dari kaki Krishna! Betapa bahagianya Brindavan yang dipenuhi tapak kaki Krishna di mana-mana.”

Akrura berguling-guling di tanah suci, penuh kerendahan hati, tidak mempertimbangkan etika sosial atau apa pun kedudukan dia. Dia tidak takut kritik dari teman atau Kamsa. Akrura hanya ingin melayani Krishna dalam suasana hatinya penuh kasih.

Akhirnya, Akrura bertemu Krishna dan Balarama dan mengajak mereka ke Mathura. Ini adalah kejadian paling indah dalam kehidupan Akrura.

Cinta tidak mengenal basa-basi. Kasih berada di atas segala macam hukum dan peraturan. Itu sebabnya, seorang pencinta Allah akan melampaui segala macam formalitas. Hukum, peraturan, formalitas, dan basa-basi akan tetap dibutuhkan oleh mereka yang belum mengenal cinta, dan belum mengetahui arti Kasih. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Satu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kereta mereka tiba di Mathura. Selanjutnya Krishna berkata pada Akrura: “Paman, engkau masuklah terlebih dahulu ke kota, aku akan menyusul kemudian.”

Tak bisa membayangkan perpisahan dengan Krishna, dengan berat hati dan sambil menangis Akrura berkata: “Gusti, janganlah lupakan aku, pengabdi-Mu.  Mohon sucikan rumah kami dengan debu kaki-Mu. Dengan melakukannya Maharaja Bali mencapai tingkat kebahagiaan hakiki yang hanya bisa tercapai oleh dia yang pengabdiannya luar biasa, oleh mereka dengan devosi yang sangat tinggi saja. Air yang tersentuh oleh kaki suci-Mu mampu memberkati ketiga dunia.”

Krishna berkata, “Aku akan mengunjungi rumahmu setelah misi-Ku di Mathura selesai.”

Dan akhirnya Akrura pun beranjak pergi. Krishna dan rombongannya tinggal di daerah pinggiran kota Mathura. Kemudian, dengan berjalan kaki Krishna menuju pusat kota.

Krishna Kecil: Menundukkan Vyomasura, Asura Terakhir #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on August 13, 2017 by triwidodo

Rasa kepemilikan atau possesiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.” Doership, berarti “Aku” melakukan – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya  “ku” –peroleh karena kerja-keras“ku”, jerih-payah“ku”.

Ketika badan, indra gugusan pikiran serta perasaan, inteligensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka  mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.

                Padahal, materi sebagai hasil perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. Tidak langgeng, tidak abadi. Maka, segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada di genggaman orang lain, inilah yang menyebabkan suka-duka. Penjelasan Bhagavad Gita 5:8 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Seorang panembah sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tak akan pernah bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu, ketika otak mengalami gangguan, apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. la digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

REAS0NING SEPERTI INI, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukannya purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada penyerahan diri di mana kita sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah segala-galanya. Dialah semua! Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya. Penjelasan Bhagavad Gita 12:16 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu ketika Krishna bermain dengan teman-temannya di hutan. Mereka tengah bermain peran sebagai tiga kelompok: kelompok pencuri, kelompok penjaga dan kelompok para domba. Kelompok penjaga bertugas menjaga domba-domba, sedangkan kelompok pencuri berupaya mencuri para domba.

Vyomasura salah seorang asura penyihir suruhan Raja Kamsa menyamar menjadi salah seorang teman Krishna dari kelompok pencuri. Vyomasura mencuri para “domba” dan menyembunyikan mereka  ke dalam gua.

Tak lama kemudian Krishna mengetahui hal ini dan segera menangkap Vyomasura. Dan Vyomasura pun kembali ke wujud aslinya. Vyomasura berusaha melarikan diri dari tangkapan Krishna, tapi tidak berhasil. Vyomasura memperbesar tubuhnya akan tetapi pegangan Krishna sangat kuat dan tak bisa dilepaskan. Kemudian Krishna melempar Vyomasura sampai terjatuh di tanah dan saat itu pula Vyomasura tewas.

Vyomasura harus merasakan hidup sebagai asura, sehingga hilang rasa keangkuhan merasa paling suci sampai akhirnya Krishna membebaskannya. Vyomasura kembali kepada wujud asalnya, bersujud kepada Krishna dan meneruskan perjalanan spiritualnya. Pertemuan dengan Krishna merupakan berkah yang luar biasa. Setelah itu Krishna melepaskan teman-temannya dari dalam gua.

Vyomasura mewakili orang-orang yang suka bergaul dengan para pencuri dan penjahat lainnya.

Dalam kehidupan sebelumnya, Vyomasura adalah raja Kasipuri, Benares dan disebut Bhimarath. Dia adalah pemuja Vishnu yang taat. Meskipun selalu beramal, melakukan pengorbanan, dan menunjukkan keahliannya sebagai ksatria yang tangguh, ia selalu hormat kepada orang lain. Setelah beberapa waktu ia menobatkan putranya sebagai raja pengganti, dan dia pergi ke gunung Malaya, bertapa selama 100.000 tahun.

Ketenarannya menyebar jauh dan luas, dan banyak orang yang datang kepadanya meminta pertolongan. Hampir setiap orang yang meminta pertolongan diberi nasihat yang bijak dan berterima kasih kepadanya. Akhirnya Rishi Pulasthya, putra Brahma, berkenan mendatangi Bhimarath. Pada saat itu Bhimarath telah menjadi sombong karena kekuatan tapa yang  ia lakukan. Bhimarath tidak berdiri menghormati Rishi Pulasthya yang mendatanginya. Meskipun mereka berdua sama-sama rishi, Bhimarath lupa menyadari bahwa dia adalah seorang rajarishi, sedangkan Pulasthya adalah seorang devarishi. Rishi Pulasthya berkata, “Seorang brahmana mestinya tahu etika dan tidak merasa paling besar seperti seorang asura!”

Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke-“aku”-an. Kesadaran dan ke-“aku”-an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke-“aku”-an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke-“aku”-an, keangkuhan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Bhimarath kaget dan segera sadar atas keangkuhannya selama ini, dan ia segera memohon maaf kepada Rishi Pulasthya. Rishi Pulasthya berkata, “Memang jalan ini harus dilalui, merasakan hidup sebagai seorang asura, sehingga hilang rasa keangkuhan merasa paling suci sampai akhirnya pada zaman Dvapara Yuga, Krishna akan membebaskan. Pertemuan dengan Krishna merupakan berkah yang luar biasa.”

Bhimarath akhirnya terlahir kembali dari istri Mayasura sebagai Vyomasura, asura kelelawar. Vyomasura pergi ke puncak Gunung Trikuta, setelah merasa tak ada lawan bertarung sebanding dengan dia dan ia beristirahat di sana. Pada suatu saat Raja Kamsa melewati tempat tersebut. Melihat Vyomasura yang tidur pulas, dia menendangnya. Vyomasura bangun dan diajak bertarung oleh Raja Kamsa dan terjadilah pertarungan yang sangat seru. Namun, akhirnya Vyomasura mengakui kelebihan Raja Kamsa dan menyerah. Setelah itu Vyomasura menjadi pembantu Raja Kamsa.

Krishna Kecil: Keshi, Kejatuhan Keangkuhan Diri #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on August 11, 2017 by triwidodo

Tumbuh atau Maju, Keshi atau Krishna? Bertindak karena dorongan sifat dan pemicu luar atau demi Kebenaran Sejati?

Mereka yang masih terikat dengan alam benda; berkarya, bekerja, bertindak atas dorongan sifat mereka, dan karena pemicu-pemicu di luar diri.

LAIN TINDAKAN UMUM, LAIN TINDAKAN PARA BIJAK. Para Bijak tidak bertindak karena dorongan sifat dan pemicu di luar diri. Mereka, Para Bijak Pencari Kebenaran Sejati, Para Bijak Pencari Kebebasan Sejati, bertindak untuk meraih Kebebasan Mutlak itu sendiri.

Kita berjalan di tempat, membangun keluarga, rumah, kerajaan bisnis, dan sebagainya. Kita berhenti di satu alam, di alam dunia sekitar diri, keluarga, dan kerabat. Apa pun yang kita lakukan sesungguhnya tidak membuat kita maju selangkah pun.

Dari seorang miskin, kita menjadi kaya-raya; dari seorang bujang, menjadi ayah atau ibu, dari politisi kampung menjadi pejabat tinggi — semuanya adalah pertumbuhan, bukan kemajuan. Semuanya terjadi dalam dimensi yang sama.

Sementara itu, seorang Bijak Pencari Kebenaran Sejati atau Kebebasan Mutlak — Kebenaran Sejati yang Membebaskan — sedang maju. Ia sedang melewati dimensi di mana kita sedang bertumbuh dan beranak-pinak, untuk memasuki dimensi lain.

Kita berkarya semata untuk bertumbuh. Mereka berkarya untuk kemajuan. Ini yang membedakan tindakan mereka, perbuatan mereka dari perbuatan kita.

KRSNA MENASIHATI ARJUNA untuk mencontohi mereka. Krsna mengajak Arjuna untuk melangkah maju. Para kesatria di medan perang Kuruksetra pun, tidak semuanya maju. Mayoritas hanyalah bertumbuh.

Mereka yang berperang dan gugur dengan keyakinan tengah melakukan kewajiban mereka terhadap negara, atau terhadap kubu yang mereka wakili — hanyalah bertumbuh. Entah berada di kubu Pandava, maupun Kaurava. Sama-sama sekadar tumbuh.

Adalah segelintir saja yang berperang bukan karena loyalitas semu, tapi karena dharma, untuk menegakkan kebajikan dan keadilan — hanyalah mereka yang maju. Walau, jika dilihat sekilas seolah mereka sama. Sama-sama berperang.

Seorang pengusaha yang menjalankan usahanya semata untuk mencari nafkah dan membiayai diri serta keluarganya, maka ia sedang bertumbuh. Tapi, ketika seorang pengusaha — walau berada dalam bidang yang sama — menjalankan usahanya demi perputaran roda ekonomi, demi kesejahteraan bagi semua yang terlibat dalam usahanya, maka ia mengalami kemajuan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Salah seorang asura mesin pembunuh Raja Kamsa adalah Keshi. Keshi mempunyai dendam yang mendalam kepada Krishna. Banyak sekali kawannya yang dibunuh oleh Krishna. Keshi ingin menunjukkan kelebihan kekuatan dan kepatuhannya kepada Raja Kamsa dengan mengambil wujud seekor kuda raksasa. Kecepatan larinya secepat pikiran, dan suara ringkikannya menimbulkan badai. Batu-batu yang ada di jalan yang dilewatinya tersepak hingga beberapa puluh meter. Keshi langsung menuju Brindavan dan mencari Krishna.

Krishna menghadang Keshi dengan ketenangan yang luar biasa. Keshi langsung menyerang Krishna, akan tetapi Krishna bisa berkelit dengan lincah. Keshi semakin marah, matanya melotot dan giginya bergemeretak. Krishna sengaja memain-mainkan Keshi dengan selalu berkelit dari serangan Keshi. Akhirnya, Krishna berhasil memegang kaki belakang Keshi dan segera memutar-mutarkannya di atas kepalanya. Keshi merasa pusing dan putus asa. Kemudian Keshi merasa dirinya dilemparkan sangat tinggi dan jatuh dengan telak dan nyawanya pun melayang. Sebuah makhluk bersinar keluar dari tubuh Keshi, bersujud di kaki Krishna, dan menghilang sebagai makhluk setengah dewa.

Keshi mewakili manusia yang merasa angkuh, paling kuasa, paling mengerti karena kecepatan berpikirnya. Keshi senang berlomba dan bangga atas kemenangannya. Manusia semacam Keshi sering mengikuti nafsunya dan membenarkan tindakannya sendiri. Keshi bertindak mengikuti dorongan sifatnya atas pemicu di luar diri. Hanya Krishna yang dapat menundukkan Keshi, sehingga nafsunya tidak berkutik lagi.

Dalam kehidupan sebelumnya, Keshi adalah makhluk setengah dewa bernama Kumud. Kumud sangat tampan, berani, dan perkasa. Dia bertugas mengawal sekaligus memegang payung bagi Dewa Indra. Oleh karena itu, Kumud selalu mendapat kehormatan di mana saja Dewa Indra berada. Hal ini membuatnya menjadi angkuh.

Pada saat Dewa Indra membunuh Vrtrasura yang merupakan keturunan seorang Brahmana, dia dianggap telah melakukan tindakan kesalahan. Sebagai akibatnya, Dewa Indra dihantui perasaan bersalah yang membuntutinya tanpa henti di seluruh alam semesta. Akhirnya, Indra berhasil menemukan tempat berlindung di batang teratai di Mana Sarova, di mana ia bertapa selama 1.000 tahun. Sebagai hasil dari tapa yang memurnikan, akibat dari pelanggaran membunuh keturunan brahmana hampir sirna, dan akhirnya ia mampu muncul kemudian melanjutkan posisinya sebagai raja dewa.

Mengikuti saran dari para rishi, Dewa Indra melanjutkan Yajna Asvamedha untuk menebus pelanggaran tersebut. Saat Yajna Asvamedha berlangsung, “seekor kuda” dilepaskan untuk menjelajah seluruh wilayah tetangga. Jika ada orang yang ingin menolak supremasi raja yang memegang Yajna, maka mereka dapat menunjukkan hal ini dengan menghambat atau menangkap kuda. Ada sebuah pasukan yang menyertainya yang mengikuti kuda tersebut ke mana pun perginya. Pasukan tersebut akan bertarung dengan orang yang menghambat jalannya kuda. Jika, setelah satu tahun, kuda dan pasukan tersebut mampu kembali ke istana dan tak terkalahkan oleh siapa pun, maka raja bebas untuk memulai Yajna tersebut.

Untuk tujuan Asvamedha Yajna, Dewa Indra memilih kuda putih yang luar biasa kuat dengan telinga hitam, yang bisa bepergian dengan kecepatan pikiran. Ia memercayakan kuda tersebut kepada pengawal setianya Kumud yang mengikuti jalannya kuda dan pasukan tersebut. Namun, ketika Kumud melihat kuda yang megah tersebut, ia begitu dipenuhi dengan kekaguman, dan ia memutuskan untuk memiliki kuda tersebut.

Kala rombongan telah berangkat dari istana, pada kesempatan pertama, Kumud secara licik melarikan diri dengan kuda tersebut. Kumud mengetahui bahwa Atala (salah satu dari tujuh planet bawah) berada di luar kekuasaan Dewa Indra, dan Kumud bersembunyi di sana. Pasukan pun bingung mencari Kumud dan kuda Yajna, dan mereka tidak berhasil menemukannya, dan akhirnya kembali kepada Dewa Indra dengan tangan kosong.

Dewa Indra kemudian bekerja sama dengan saudara-saudaranya, para Marut, yang berjumlah 49 yang merupakan dewa angin, untuk mencari Kumud dan kudanya. Mereka segera menemukan Kumud di Atala, dan mereka mengikat Kumud dengan tali, dan membawanya menghadap Dewa Indra.

Dewa Indra berkata kepada Kumud, “Sungguh sangat menyedihkan, kau telah berbuat licik dan kurang cerdas. Karena kau telah bertindak sebagaimana para asura, aku mengutukmu untuk menjadi asura selama 2 manvatara. Karena kau egois, tidak bertanggung-jawab dan mencuri seekor kuda, maka kau akan mempunyai wajah kuda di kehidupanmu selanjutnya!”

Dengan cara ini, Kumud menjadi Keshi dalam kelahiran berikutnya, dan tinggal di Gunung Rsyamukha, sebagai asura bermuka kuda ia akan terbiasa meringkik yang menimbulkan suara seperti badai. Pada suatu hari, Raja Kamsa datang ke sana, dan bertempur dengan Keshi. Dengan pukulan yang kuat Kamsa menundukkan Keshi. Sejak saat itu, Keshi diangkat sebagai pengawal Kamsa, sampai ia akhirnya dibunuh oleh Krishna.

Krishna Kecil: Keangkuhan Aristasura Mengabaikan Guru #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on August 10, 2017 by triwidodo

Umumnya Para Cendekiawan Adalah Angkuh – Orang-orang yang berpengetahuan, umumnya memiliki keangkuhan yang luar biasa. Mereka merasa lebih tahu dari orang lain.

Bukit nampaknya begitu dekat dengan langit. Lembah nampaknya begitu jauh dari langit. Namun, semakin tingginya bukit, semakin gundulnya dia. Dan lembah-lembah selalu subur. Bukit adalah arogan. la berdiri tegak lurus. la sombong. la lebih awal menerima air hujan. la lebih banyak menerima air hujan. Namun karena arogansinya, air hanya melewatinya saja. Bukit tetap juga gundul, dan lembah di bawahnya semakin subur. Bukalah diri Anda. Jadilah reseptif seperti seorang wanita. Terimalah alam ini dan syukurilah segala pemberiannya. Wanita yang membuka diri demikian, kelak akan mengandung dan akan menghasilkan keturunan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Orang yang berhasil karena disiplin diri pun perlu berhati-hati dari keangkuhan

Siddhi Sebagai Hasil Dari Tapa, berarti kesempurnaan yang diraih berkat disiplin-diri. Saya rasa tidak perlu dibahas lagi. Setiap orang yang disiplin, sudah pasti berhasil, sudah pasti sukses.

Siddhi Hasil Samadhi, inilah yang kelak mengantarkan kita pada kaivalya—the suchness.

Namun dalam perjalanan menuju keadaan super yang terjelaskan itu, setiap siddhi, setiap kesempurnaan yang diraih dengan cara apa pun dan di bidang apa pun, sudah pasti memiliki sisi negatif. Sisi negatif yang disebabkan oleh gugusan pikiran serta perasaan kita sendiri, oleh mind kita sendiri.

Contoh yang paling umum: Seseorang yang berhasil menjadi kaya raya, jika tidak menjaga diri, niscayalah ia menjadi korban egonya sendiri, keangkuhannya sendiri. “Aku kaya, aku berhasil karena kerja kerasku sendiri, upayaku sendiri.” Kalimat itu, walau “mungkin” benar, tidak patut diucapkan. Dengan mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu, kita memberikan bahan bakar kepada ego. Sebab itu, berhati-hatilah selalu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Asura suruhan Raja Kamsa bernama Aristasura, yang berwujud banteng raksasa, menyerang Brindavan. Beberapa pohon di tepi jalan dirobohkannya. Napasnya terengah-engah mengerikan, rumah-rumah di Brindavan bergoyang akibat kaki banteng yang dihentak-hentakkan. Sang banteng merasa paling perkasa dan berbuat sesuai dengan kehendaknya.

Para gembala mendatangi Krishna, meminta tolong agar dapat membunuh banteng tersebut. Krishna keluar mendatangi banteng tersebut dan berkata, “Kamu hanya menakut-nakuti wanita, anak-anak, dan para gembala yang tidak bersalah. Hadapilah aku!”

Krishna kemudian bertarung dengan Aristasura. Krishna sangat lincah sehingga merepotkan Aristasura. Krishna kemudian menangkap tanduknya dan saling dorong pun terjadi dengan hebatnya. Kemudian Krishna mengoyang-goyangkan tanduk tersebut, sehingga Aristasura terombang-ambing. Selanjutnya Krishna mencabut kedua tanduk tersebut dan memukul banteng tersebut dengan tanduk yang sudah berada di tangan Krishna. Sang banteng pun mati.

Aristasura mewakili manusia yang merasa arogan dengan kekuasaannya dan kepandaiannya, dia merasa paling benar dan merusak alam, karena tidak ada seorang pun yang berani mengingatkannya. Pikiran manusia semacam Aristasura harus dilenyapkan oleh Krishna, yang berhasil menaklukkan keangkuhannya.

 

Angkuh karena merasa sebagai manusia makhluk tertinggi

Seseorang menjadi arogan dan menganggap dirinya lebih hebat dari makhluk-makhluk lain, dari bentuk-bentuk kehidupan yang lain. Ia menempatkan dirinya di atas mereka semua. Ia merasa berhak untuk melakukan apa saja. 

Dalam keangkuhan serta ketololannya, manusia telah merusak hutan.  Ia menebang pohon seenaknya demi keuntungan materi. Ia menggali dan menambang tanpa perhitungan. Industrialisasi yang tidak cerdas telah menyebabkan pemanasan global. Semua itu dapat mengubah peta dunia dalam kurun waktu 50 tahun mendatang. Kepulauan kita akan kehilangan lebih dari 2000 pulau kecil. Pesisir Jawa, Bali, Sumatera, di mana-mana akan bergeser. 

Saatnya kita kembali kepada ajaran leluhur, kepada budaya asal Nusantara, kepada kearifan lokal, kebijakan nenek moyang. Saatnya kita menghormati dan menghargai alam, lingkungan. Hubungan dengan alam dan sesama makhluk hidup – bukanlah hubungan horizontal sebagaimana didoktrinkan kepada kita selama bertahun-tahun.

Pun hubungan kita dengan Tuhan bukanlah vertikal. Tuhan tidak berada di atas sana, di lapisan langit kesekian. Pemahaman vertikal-horizontal seperti ini telah memisahkan kita dari alam. Tuhan berada di mana-mana, Ia meliputi segalanya, sekaligus bersemayam di dalam diri setiap makhluk. Inilah inti ajaran leluhur kita. Inilah kearifan lokal kita. Dan, hanyalah pemahaman seperti ini yang dapat menyelamatkan kita dari kemusnahan dan kehancuran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Dalam kehidupan sebelumnya, Aristasura adalah Brahmana disiplin, sempurna dan berbudi luhur yang disebut Varatantu, dan mempelajari Veda di bawah pengawasan Rishi Brihaspati. Karena merasa sudah cepat menguasai, Varatantu tidak lagi memperhatikan wejangan dari Rishi Brihaspati. Dia merasa angkuh, karena merasa sudah memahami apa yang disampaikan oleh gurunya. Bahkan Varatantu bersikap seenaknya, mengabaikan Rishi Brihaspati yang sedang mengajar. Rishi Brihaspati berkata, “Kamu ini murid cerdas dan disiplin, tetapi belum reseptif, merasa sudah mengetahui segala sesuatu. Padahal kamu belum melakoni pemahamanmu dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kamu telah mengabaikan seorang Guru yang sedang mengajarmu, kamu menyerupai seekor banteng yang angkuh!”

Varatantu merasa menyesal atas tindakannya yang salah dan berjanji untuk memperbaikinya. Rishi Brihaspati berkata, “Kau harus mengalami kelahiran kembali sebagai seekor banteng, sampai tiba waktunya kau dibebaskan oleh Krishna dan kau akan kembali menjadi brahmana yang sadar dan mengalami peningkatan kesadaran yang luar biasa, sehingga tidak akan berbuat kesalahan lagi.”

Dalam kehidupan berikutnya sebagai Aristasura, ia tinggal di Bangladesh, di mana dia secara bertahap mengembangkan sifat asura, karena tidak menjaga pergaulan. Pada suatu saat, Raja Kamsa melakukan perluasan wilayah dengan menundukkan negara-negara tetangga. Raja Kamsa menantang duel kepada Aristasura. Pertarungan antara Raja Kamsa dengan Aristasura berjalan sengit dan akhirnya Aristasura ditundukkan. Aristasura dijadikan pengawal andalan Raja Kamsa. Akhirnya, Aristasura dibunuh oleh Krishna dan terbebaskan dari segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Dia kembali menjadi Brahmana Varatantu yang bijak dan melanjutkan pembelajarannya pada Rishi Brihaspati.

Krishna Kecil: Vidyadhara, Makna Kutukan dan Hukum Sebab Akibat #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 9, 2017 by triwidodo

Uang, materi, dan pikiran menurut Buddha, yang terjaga, adalah “benda”. Dan, seperti benda lainnya, memiliki awal dan akhir. Semua itu hanya temporer, sementara. Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kenikmatan pun tidaklah abadi. Lalu, kita pun kecewa. Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan indrawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Pada suatu hari, para gembala dari Brindavan di bawah pimpinan Nanda pergi ke tempat yang dikenal sebagai “Ambikavanam.” Setelah mandi di sungai Sarasvati mereka menghabiskan malam itu di tepi sungai, dengan doa dan puasa. Tiba-tiba sebuah ular sanca besar muncul dan menelan Nanda.

Mendengar teriakan Nanda, para gembala berupaya untuk menyelamatkan Nanda dengan obor untuk membakar ular tersebut. Namun, ular sanca tersebut tidak juga melepaskan Nanda. Krishna kemudian datang dan menyentuh sanca dengan kakinya. Ular sanca tersebut lenyap dan berubah menjadi Vidyadhara yang menakjubkan. Ketika ditanya oleh Krishna, dia berkata, “Hamba adalah Vidyadhara bernama Sudarsana. Hamba diberkahi dengan kekayaan yang besar dan keindahan wujud dan dapat terbang di udara ke seluruh dunia. Karena sangat bangga dengan keindahan wujud yang dikaruniakan kepada hamba, maka hamba menjadi sangat angkuh. Pada suatu hari hamba menertawakan beberapa orang bijak dari keluarga Angirasa yang terlihat jelek. Mereka kemudian mengutuk hamba, bahwa hamba akan lahir sebagai ular sanca. Hamba kemudian memohon maaf atas kesalahan yang diperbuat, dan mereka berkata bahwa hamba akan dibersihkan dari kutukan setelah disentuh oleh kaki Gusti Narayana. Ternyata keluarga Angirasa tidak mengutuk hamba, akan tetapi memberi berkah. Makhluk manakah yang pernah disentuh kaki Gusti Narayana?” Sang Vidyadhara kemudian bersujud di kaki Krishna dan lenyap dari pandangan.

Ada pelajaran berharga dari kisah ini. Apa yang disebut kutukan dalam Purana benar-benar merupakan berkah ketika disampaikan oleh orang bijak yang penuh belas kasih dan bahkan tidak ingin menyakiti siapa pun, apalagi menimbulkan hukuman. Mereka berada di luar pujian dan cemoohan dan tidak sedikit pun dipengaruhi atau terpengaruh oleh pujian. Apa pun yang mereka lakukan adalah selalu untuk kebaikan orang lain. Jika kita menganalisis kutukan dalam Purana, kita akan menemukan bahwa ada dua kategori :

  1. Meskipun secara lahiriah menjadi kutukan, para bijak benar-benar memberkati orang yang bersangkutan dengan menempatkan dia dalam keadaan di mana ia mampu membebaskan dirinya dari cacat dalam karakternya yang merupakan hambatan di jalan kemajuan rohaninya. Ini bisa dibandingkan dengan tindakan seorang ahli bedah yang menggunakan pisau bedah pada pasien dengan niat mulia untuk menyembuhkan dirinya dari penyakitnya. Sebagai contoh, kutukan Sanathkumara pada Jaya dan Vijaya, kutukan Rishi Agasthya pada Raja Indradyumna yang menjadi gajah Gajendra, dan kutukan Rishi Narada pada Nalakubera dan Manigriva.
  2. Mereka yang hanya menekankan fakta bahwa kelahiran berikutnya seseorang akan sesuai dengan pikiran dan tindakan dalam kelahiran ini.

 

Vidyadhara Sudarsana telah menjadi sangat sombong karena anugerah ketampanannya. Keangkuhan adalah yang terbesar dari semua hambatan dalam kemajuan spiritual. Oleh karena itu, seorang bijak merampas penyebab kesombongannya, yaitu ketampanan dan membuatnya mengambil bentuk yang sangat menjijikkan dari ular sanca. Hal ini ternyata menjadi berkah karena ia mendapat sentuhan kaki Tuhan. Tidak hanya dia kemudian mendapatkan suatu bentuk yang bahkan lebih megah daripada bentuk aslinya, tetapi ia juga menyadari bahwa apa yang telah dilakukan dalam keangkuhannya adalah kesalahan besar. Dengan demikian, ia menjadi bebas dari keangkuhan sehingga mendapat kemajuan spiritual.

Kutukan diucapkan oleh orang bijak kepada Sudarsana, juga dapat masuk ke dalam kategori kedua. Karena Vidyadhara begitu bangga dengan ketampanannya dan dia merendahkan orang lain yang tidak mendapat berkah ketampanan, maka dia akan kehilangan ketampanan dalam kelahiran berikutnya. Inilah yang terjadi padanya kala ia lahir kembali sebagai ular sanca. Kutukan hanya mengulangi apa yang akan terjadi. Bahkan tanpa kutukan pun hal itu akan terjadi. Pelanggaran yang dilakukan tidak harus menentang orang bijak yang memiliki kekuatan untuk mengutuk. Suatu pelanggaran bahkan terhadap orang-orang biasa akan menyebabkan hasil yang sama, dalam kelahiran berikutnya.

Pelajaran disampaikan oleh kisah ini adalah bahwa seseorang tidak boleh bangga dengan kekayaan, silsilah, penampilan, kecerdasan atau prestasi lainnya dan memandang rendah orang lain yang tidak begitu beruntung. Setiap orang harus ingat bahwa apa yang telah diperoleh pada  kelahiran ini belum tentu sama dalam kelahiran berikutnya. Pikiran dan tindakan dalam kelahiran ini akan menentukan apa yang dialami dalam kelahiran berikutnya. Jika seseorang yang kaya menjadi sombong dan memperlakukan orang miskin dengan penghinaan atau menggunakan kekayaannya untuk melakukan menyakiti orang lain, ia dapat terlahir sebagai pengemis di kelahiran berikutnya. Tidak ada jaminan bahwa seseorang yang kaya dalam kelahiran ini akan tetap demikian di masa depan, apalagi di kelahiran berikutnya. Jika ia menggunakan kekayaannya untuk tujuan yang baik ia mungkin memiliki nasib baik menjadi kaya di kelahiran berikutnya juga. Ini adalah arti sebenarnya dari ungkapan terkenal bahwa tidak ada yang dapat membawa kekayaannya kala seseorang meninggal. Logika yang sama berlaku juga untuk semua anugerah. Seseorang harus menjadi rendah hati  dan menggunakan anugerahnya untuk tujuan yang baik. Kita harus ingat bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah sementara. Jika pemikiran ini selalu diingat, seseorang tidak akan pernah menyimpang dari jalan yang benar. Ini adalah pelajaran yang kita dapat tarik dari kisah ini.

 

Ada hukum alam yang bekerja dengan rapi sekali. Yang mencela akan dicela.Yang menghujat akan dihujat. Yang menindas akan tertindas. Yang menzalimi akan dizalimi. Inilah Hukum Sebab-Akibat. Dalam fisika dikenal dengan sebutan Hukum Aksi-Reaksi. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi. Dan Anda tidak dapat menghindarinya. Karena itu, mereka yang sedang berbuat baik sesungguhnya tidak perlu mengharap imbalan. Tidak perlu membuang energi memikirkan hasil. Imbalan akan datang sendiri. Hasil akan terlihat sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)