Archive for anand krishna

Ke Surga dengan Tubuh Manusia? Bersama Anjing yang Setia Menemaninya?

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 13, 2018 by triwidodo

Kisah Kematian Pandava versi Swami Vivekananda

Tiga puluh enam tahun setelah Yudhistira menjadi raja setelah menang perang bharatayuda, Arjuna datang dari Dvaraka dengan penuh kesedihan mengabarkan bahwa Sri Krishna dan kaum Yadawa telah meninggal. Yudhistira menobatkan Parikshit sebagai raja, dan kemudian kelima Pandava beserta Draupadi melakukan Mahaprasthana. Mereka menuju ke Himalaya, tanpa makan atau minum dan terus berjalan sampai tubuh ambruk. Sepanjang waktu hanya memikirkan Tuhan sampai maut menjemput. (menurut pengalaman, menjelang ajal seseorang juga puasa tidak mau makan dan minum sampai maut menjemput, bedanya Pandava dan Draupadi hanya fokus pada Tuhan sampai maut menjemput, sedangkan kita masih memikir keduniaan sehingga masih harus lahir kembali – penulis).

Kelima Pandava beserta Draupadi mengenakan jubah kulit naik ke Himalaya dan di tengah perjalanan seekor anjing mengikutinya. Mereka mulai melihat Puncak Gunung Meru yang tertutup salju. Kemudian, satu per satu mulai dari Draupadi, Sahadeva, Nakula, Arjuna dan Bhima jatuh dan tidak bangun lagi di jalan bersalju. (menurut pengalaman, kematian seseorang setelah berpuasa menjelang ajal dimulai dengan rasa dingin pada kaki dan merambat ke atas, sampai semua tubuh dingin – penulis). Tinggallah Yudhistira dan anjing yang terus mengikutinya melewati salju dan es. Sampai di Puncak Meru, para deva menyambutnya dengan kereta deva dan minta Yudhistira naik kereta. Yudihistira menolak, dia tidak akan menuju surga tanpa saudara-saudaranya dan Draupadi. Deva Indra menjelaskan bahwa mereka sudah sudah sampai di surga sebelum dia.

Yudhistira naik kereta mengajak anjingnya, tetapi para deva melaraangnya. Hanya orang yang berbudi paling luhur dari umat manusia yang bisa ke surga dengan tubuhnya. Tidak ada tempat di surga bagi manusia bersama anjing. Yudhistira berkata bahwa saat para saudaranya dan Draupadi mati, anjing tersebut tidak meninggalkannya. Yudhistira tidak akan pernah melepaskan orang atau makhluk yang telah berlindung padanya. (inilah pentingnya berlindung pada orang suci, beliau akan selalu melindungi kita, bahkan Shuka Muni memandu 100.000 muridnya yang berlindung kepada Beliau sampai mencapai moksha – penulis).

Yudhistira tidak mau pergi ke surga tanpa ditemani anjingnya. Dewa Indra berkata bahwa bahwa anjing itu memburu, membunuh dan makan hewan sehingga ia harus pergi ke neraka. Yudhistira diperkenankan, apabila dia bertukar tujuan sehingga anjingnya yang masuk surga. Yudhistira menyetujuinya. Mendengar ucapan mulia dari Yudhistira, anjing tersebut mengubah dirinya sebagai Deva Dharma, yang juga disebut Yama, Dewa Kematian dan Keadilan. Yudhistira, Deva Dharma, Deva Indra melanjutkan perjalanan dengan kereta surgawi dan menemui para saudaranya yang telah lebih dahulu di surga………………

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 4 Lectures and Discources The Mahabharata

Anjing pun Tercipta dari Cahaya Ilahi yang Sama Sehingga Patut Dihormati

Bumi adalah Divya, wujud Ilahi yang paling nyata; Langit adalah Divya, pepohonan, sungai, laut, kali, angin, api, bahkan ruang itu sendiri-semuanya Divya. Manusia dan makhluk-makhluk lainnyapun Divya, tercipta dari cahaya Ilahi yang satu dan sama. Sebab itu, semuanya patut dihormati. Dikutip dari (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Bapak Anand Krishna menyampaikan dalam artikel Sabda Sang Guru 1-7 tentang Ringkasan Tri Hita Karana dan Pancha Yajna. Faktor pertama dari Tri Hita Karana, Parahyangan mencakup dua yajna yakni Brahma atau Rishi Yajna dan Deva Yajna. Hubungan kita dengan wujud-wujud kehidupan yang lebih tinggi, bahkan Yang Tertinggi. Faktor kedua dari Tri Hita Karana, Pawongan terkait hubungan kita dengan sesama manusia, termasuk leluhur, Yajna ke 3 Pitru Yajna dan Yajna ke 4 Manushya Yajna. Faktor ketiga dari Tri Hita Karana, Palemahan. Yajna ke 5. Hubungan kita dengan wujud-wujud kehidupan yang lebih lemah dari kita. Sehingga kita perlu melindungi mereka demi kelestarian alam supaya tidak ada mata rantai yang terputus. Untuk menghindari dampak negatif terhadap kehidupan. Menghormati anjing termasuk dalam Deva Yajna………….

 

Menghormati Anjing Termasuk dalam Deva Yajna

Dewa Yajna: pengertian Deva bukanlah sekadar para dewa, Demigods atau apa pun sebutannya, yang berada dalam dimensi lain, sehingga bisa mengawasi kita, melihat kita setiap saat. Deva juga merujuk pada Divya – bukan saja yang bersinar atau bercahaya atau mulia. Deva Yajna dilakukan dengan menyadari kemuliaan yang ada dalam setiap makhluk, bukan sesama manusia saja.

Deva Yajna: menyadari adanya kemuliaan dalam segala wujud kehidupan termasuk binatang, serangga, burung, ikan, bebatuan, gunung, pohon, tumbuh-tumbuhan, laut dan ebagainya. Kita melakoninya dengan merubah cara pandang kita terhadap alam semesta, yang adalah Vishvarupa, Wujud Cosmis Sang Paramatma, Sang Kesadaran Agung, Hyang Maha Sadar, Hyang Sejati, Hyang Widhi.

Sumber: Sabda Sang Guru 3 Pancha Yajna Kewajiban Untuk Berbagi Bagian 1  Oleh Bapak Anand Krishna Sumber Media Hindu

Sang Pengendali Agung Atau Isvara ada Dalam Diri Setiap Makhluk

(dari amoeba bersel tunggal hingga manusia yang terdiri dari triliunan sel)

Di dalam diri Anjing juga bersemayam Sang Pengendali Agung yang satu dan sama.

“Ketahuilah Arjuna, bahwa Isvara — Penguasa Alam Semesta — bersemayam di (wilayah sekitar) hati setiap makhluk. Dengan kekuatan Maya-Nya (yang ilusif namun sakti), Ia-lah yang menggerakkan setiap makhluk secara mekanis.” Bhagavad Gita 18:61

Adalah sangat menarik bahwa Krsna menggunakan istilah yantra atau mesin. Ia ingin menjelaskan bahwa proses ini tidaklah lebih atau tidaklah kurang dari proses masinis. Krsna sedang berbicara tentang….

TEKNOLOGI KEHIDUPAN MANUSIA – Pertama: Hrddese atau “Wilayah Sekitar Hati” sebagai pusat kendali, di mana Isvara — Sang Pengendali Agung — bersemayam. Kedua: Maya atau Kekuatan Ilusif. Inilah kekuatan energi materi atau kebendaan, yang membuat seluruh sistem kita berfungsi. Kekuatan ini pun berasal dari Sang Pengendali Agung.

………….

Badan kita memang persis seperti mesin. Ia berfungsi secara mekanis pula. Sejak di dalam kandungan hingga ajal — badan ini bergerak sendiri secara mekanis. Sungguh luar biasa! Krsna mengatakan bahwa pusat pengendali mesin-badan ini adalah di hrddaya — di mana Ia bersemayam:

SANG PENGENDALI AGUNG ATAU ISVARA dalam konteks ini adalah Kekuatan Ilahi yang ada dalam diri setiap makhluk — sarvabhutanam — dari amoeba bersel tunggal hingga manusia yang terdiri dari triliunan sel. Bahkan, bhuta juga termasuk elemen-elemen dasar alami — yakni air, api, tanah, angin, dan eter sebagai substansi ruang. Isvara berada di mana-mana.

Isvara adalah “Penggerak Agung” yang menggerakkan “setiap mesin” sesuai dengan fungsi mesin tersebut. Setiap “mesin-badan” adalah spesial. Walau sama-sama terbuat dari materi, mesin badan Anda memiliki fitur-fitur khusus yang tidak terdapat dalam mesin-badan saya. Demikian pula, fitur-fitur khusus dalam badan saya tidak ada dalam badan Anda. Inilah kode DNA kita, genetika kita masing-masing yang unik.

Jika dikaitkan dengan kornputer, program dasarnya sama, barangkali operating system kita pun sama karena merupakan merek yang sama. Tapi, ada aplikasi-aplikasi khusus yang telah Anda download atau peroleh saat membeli komputer itu yang tidak saya miliki. Demikian pula dengan aplikasi-aplikasi khusus yang saya miliki, barangkali tidak ada dalam komputer Anda, karena Anda memang tidak membutuhkan aplikasi—aplikasi itu.

JIWA MEMILIH BADAN dengan segala fitur dan aplikasi khusus untuk mengalami sesuatu yang khusus. Jika, ego komputer itu menolak untuk menjalani aplikasi-aplikasi tersebut, maka kemungkinannya hanya satu — ada yang telah meng-hack komputer kita, sehingga “mesin” itu tidak berjalan sesuai dengan fungsinya.

“Mesin” yang telah di-hack itu menjadi tidak berguna untuk kita, untuk Jiwa. Jika kita memahami cara untuk membersihkan komputer kita dari segala macam virus dan membebaskannya dari kemungkinan hacking di masa depan — maka silakan perbaiki!

Jika kita tidak tahu caranya, maka bawalah komputer itu kepada seorang teknisi yang mahir, supaya komputer kita dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan Jiwa. Ketika komputer sedang dibersihkan dari virus-virus asing yang bersarang di dalamnya – maka terjadilah proses “healing” atau penyembuhan.

Apa yang dilakukan Krsna terhadap Arjuna adalah proses healing. Krsna sedang membersihkan bagian komputer — “gugusan pikiran serta perasaan” Arjuna yang sedang mengalami pengaruh virus dan hacking terparah. Ada virus rasa takut, virus kekhawatiran, virus kegelisahan, dan sebagainya dan seterusnya.

GITA ADALAH ANTIDOT terhadap virus-virus yang dapat mengganggu sistem kita. Gita adalah program anti-virus dan anti-hacking. Gunakanlah Gita untuk kebutuhan itu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Cinta Savitri: Menaklukkan Kematian

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 12, 2018 by triwidodo

Kisah Savitri – Satyavan versi Swami Vivekananda

Savitri adalah putri satu-satunya dari Raja Ashvapati yang cantik dan berbudi luhur. Savitri adalah putri yang berbakti terhadap kedua orangtuanya. Sang Raja minta Savitri mencari jodohnya, dan dengan kereta dan pengawal kerajaan bekeliling negeri untuk mencari calon suami yang baik, dan belum menemukannya.

Satyavan adalah putra mahkota dari seorang Raja Dyumatsena yang dikalahkan musuh-musuhnya yang di hari tuanya hampir buta, tidak dapat melihat sehingga sang raja dan istrinya menyingkir serta tinggal di tepi hutan. Satyavan adalah anak yang berbakti, dia ikut orangtuanya, menjaga dan menghidupi mereka dengan hidup di hutan.

Savitri akhirnya bertemu Satyavan yang tampan dan luhur budinya dan jatuh hati. Savitri menyampaikan pada raja, ayahandanya bahwa dia telah jatuh hati pada Satyavan. Adalah Rishi Narada yang memberitahu sang raja bahwa Satyavan usianya tinggal satu tahun lagi. Sang raja minta Savitri mencari suami yang lain, akan tetapi Savitri bersikeras memilih Satyavan sebagai suaminya. Sang raja sadar bahwa yang melakoni pernikahan adalah putrinya, dan sang putri telah siap menerima resiko sehingga sang raja akhirnya dengan berat hati mengizinkan.

Savitri, seorang putri raja kemudian hidup di hutan menjadi istri Satyavan ikut merawat kedua mertuanya. Savitri tahu betul kapan suaminya akan meninggal, tetapi suaminya tidak mengetahuinya. Bila sebelumnya Savitri berbakti terhadap orangtuanya, sekarang dia berbakti terhadap suami dan kedua mertuanya.

Tiga hari menjelang Hari-H Savitri berpuasa, berdoa dan tidak tidur. Sampai pada Hari-H, saat Satyavan akan pergi ke hutan Savitri minta izin kedua mertuanya untuk mengikuti Satyavan. Sampai di tengah hutan Satyavan merasa sakit, dan Savitri tahu bahwa saat kematian suaminya sudah tiba. Sang suami dimintanya meletakkan kepalanya pada pangkuannya. Para Utusan Yama ingin mengambil Jiwa Satyawan tapi tidak berhasil karena sekeliling Savitri ada tembok api yang tidak dapat ditembus. Para utusan Yama melaporkan kejadian tersebut dan Yama, Sang Dewa kematian datang sendiri ke tempat Satyavan dan Savitri.

Yama berkata pada Savitri bahwa dia adalah dirinya adalah orang yang pertama kali mati di bumi, dan menjadi Dewa Kematian. Takdir setiap orang adalah mati. Dan Yama kemudian membawa Jiwa Satyavan, akan tetapi Yama tahu Savitri mengikutinya. Yama berkata jangan mengikuti dirinya dan Savitri menjawab bahwa dia tidak mengikuti Yama tapi mengikuti suaminya. Adalah takdir perempuan untuk mengikuti suaminya dan hukum keabadian tidak bisa memisahkan suami penuh kasih dengan istri setianya.

Yama berkata pada Savitri bahwa dia akan mengabulkan permintaan Savitri kecuali menghidupkan kembali Satyavan. Savitri minta kesembuhan mertuanya dan dikabulkan Yama. Yama kemudian membawa Satyavan pergi, akan tetapi Savitri tetap mengikutinya. Yama bertanya mengapa Savitri masih mengikutinya dan Savitri menjawab bahwa dia mencoba pulang kembali akan tetapi pikirannya hanya pada sang suami dan tubuh Savitri mengikuti pikirannya. Jiwa Savitri telah tertambat pada Satyavan sehingga saat Satyavan pergi Jiwa Savitri mengikutinya. Yama kembali mengatakan bahwa dia akan mengabulkan permintaan Savitri kecuali menghidupkan Satyavan. Savitri minta kekayaan dan kekuasaan mertuanya dapat dikembalikan dan Yama mengabulkan. Yama kembali pergi membawa Satyavan, akan tetapi Savitri tetap mengikutinya.

Yama berkata bahwa orang hidup tidak bisa datang ke istana Yama dan minta Savitri pulang. Savitri berkata bahwa dirinya akan pulang tapi tidak bisa. Dirinya hanya mengikuti kemana suaminya pergi. Yama mengatakan agar dianggap Satyavan banyak dosa dan akan dibawa ke Neraka. Savitri menjawab ke surga atau neraka dia akan ikut suaminya. Menghadapi Savitri, Yama pun merasa “bohwat”, tak tahu harus berkata apa, dan akhirnya minta Savitri minta karunia sekali lagi kecuali menghidupkan Satyavan. Savitri minta garis keturunan mertuanya tidak putus dan agar anak-anak Satyavan menjadi raja-raja penerus keturunan. Yama tersenyum, “Ya sudahlah kembalilah dengan membawa Satyavan, dia hidup kembali………. Cinta Savitri menaklukkan kematian……

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 4 Lectures and Discources The Mahabharata

Penjelasan kisah berikut berdasar pandangan Bapak Anand Krishna bahwa Tuhan ada dalam setiap makhluk.

Tuhan ada Dalam Diri Setiap Makhluk

Anjing itupun wujud-Ku, sebagaimana hewan-hewan lain. Ia yang melihat-Ku dalam setiap makhluk adalah kekasih-Ku. Sebab itu lampauilah dualitas yang disebabkan oleh rupa dan nama. Layanilah setiap makhluk hidup, sebagaimana kau melayani anjing itu, karena Aku berada di mana-mana, di dalam diri setiap makhluk. Lihatlah Tuhan dalam diri setiap makhluk inilah non-dualitas. Inilah inti ajaran Guru Baba, inilah inti pesan setiap Guru Sejati. Kitab-kitab suci pun mengajarkan kita hal yang sama. Tiada sesuatu yang beda antara ajaran-ajaran yang tertulis dan apa yang disampaikan oleh para Sadguru seperti Baba. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava, Ibu dan Ayah Wujud Tuhan

Savitri dan Satyavan telah menunjukkan bhakti terhadap orangtua mereka.

Hormatilah ibumu sebagai Eujud Hyang Mulia, hormatilah ayahmu sebagai Wujud-Nya pula. Siapakah tuhan itu? Ibu dan Ayah adalah Tuhan…… melupakan Sang Hyang yang berwujud dan berada dihadapanmu, dan berupaya mencari Tuhan di tempat lain tidak ada gunanya. Mereka (orangtua) senantiasa bersama kita dalam keadaan sulit, kehilangan dan duka, merekalah yang memahami dan memelihara kita. Cintailah orangtuamu lebih dahulu. Jika kau tidak mencintai orangtua, kau tidak akan pernah mendapatkan cinta sejati…Hormati orangtuamu. Layani mereka. Ketika membuat mereka bahagia, hidupmu akan selamanya bahagia.

Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava, Ibu dan Ayah Wujud Tuhan: Jika kita tidak menghormati melayani kedua orang tua kita, kelak janganlah mengharapkan anak-anak kita akan mengurusi kita. Ingat Hukum Karma. Kita menuai hasil dari apa yang kita tanam.

Sumber: Sabda Sang Guru 4 Pancha Yajna Kewajiban Untuk Berbagi Bagian 2  Oleh Bapak Anand Krishna Sumber Media Hindu

Manasa Seva adalah Madhava Seva Melayani Sesama sama dengan Melayani Tuhan, Apalagi Melayani Suami

Savitri melayani Satyavan, Tuhan dalam diri Savitri melayani Tuhan dalam diri Satyavan.

Apa gunanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdoa dan meditasi, sementara tetangga kita sedang merintih kesakitan dan dalam ketidakberdayaan? Tuhan tak akan menanggapi doa kita seperti itu.

(Mendengar rintihan sesama) apa yang diharapkan dari seorang manusia adalah meninggalkan doanya dan terburu-buru melayani orang yang sedang menderita.

Tuhan di dalam diri kita mesti bergegas untuk melayani Tuhan di dalam diri orang lain yang sedang menderita, sebab Manasa Seva adalah Madhava Seva (Melayani Sesama sama dengan Melayani Tuhan). Seperti itulah semestinya seseorang melihat Tuhan, Hyang berada dalam diri setiap makhluk.

Sumber: Sabda Sang Guru 1-7 Pancha Yajna Kewajiban Untuk Berbagi Bagian  Oleh Bapak Anand Krishna di Media Hindu

Penjahat Bejat pun Tetap Berpeluang Menjadi Orang Bijak Kekasih Tuhan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on August 10, 2018 by triwidodo

Kisah Perampok yang Bertemu Rishi Narada

Swami Vivekananda mengisahkan tentang pria muda yang perkasa yang tidak dapat memberi nafkah kepada keluarganya. Akhirnya pria muda tersebut menjadi perampok, mencegat orang dan menjarah harta mereka.  Harta yang diperolehnya dipergunakan untuk memberi nafkah kepada ayah, ibu, istri dan anak-anaknya.

Pada suatu ketika Maharishi Narada lewat dan pria muda itu akan merampoknya. Sang Rishi bertanya, mengapa pria itu merampok? Karena merampok dan membunuh manusia adalah dosa yang besar. Pria itu berkata bahwa dia menghidupi keluarganya dari hasil rampokannya. Sang Rishi bertanya apakah keluarga sang pria akan turut memikul dosa yang diperbuatnya? Pria itu menjawab tentu saja demikian. Sang Rishi minta pria itu mengikatnya pada pohon, dan agar kemudian bertanya kepada keluarganya apakah mereka mau ikut memikul dosa yang diperbuatnya. Pria itu sepakat dan pulang kepada keluarganya.

Kepada ayahnya pria itu berkata bahwa dia memberi nafkah pada ayahnya dari hasil merampok. Sang ayah marah dan mengusirnya pergi dari rumah. Pria itu menemui ibunya dan mengatakan bahwa selama ini dia memberi nafkah ibunya dengan melakukan perampokan dan pembunuhan. Selanjutnya, dia bertanya apakah sang ibu bersedia ikut menanggung beban dosanya? Ibunya berkata mengapa dia harus ikut menanggung beban dosa, padahal dia tidak melakukan perampokan. Pria itu datang kepada istrinya dan berkata bahwa selama bertahun-tahun dia memberi nafkah istrinya dari hasil perampokan. Apakah istrinya bersedia ikut menanggung beban dosa yang dilakukannya. Istrinya menjawab bahwa memberi nafkah adalah tugas suami, dia tidak bertanggungjawab atas dosa suaminya.

Perampok tersebut menjadi terbuka, keluarganya hanya menginginkan terpenuhinya kebutuhan mereka saja dan tak mau ikut menanggung dosa yang diperbuatnya. Pria tersebut kembali ke Rishi Narada dan bersujud di kakinya, sambil menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Rishi Narada minta pria itu melepaskan keterikatan pada keluarganya dan berfokus pada Gusti yang tidak pernah meninggalkan dirinya. Selanjutnya, Sang Rishi mengajarkan cara bermeditasi. Pria itu bermeditasi sampai dia melupakan dirinya, semut-semut datang dan membangun sarang di sekelilingnya, dan dia tidak menyadarinya.

Suatu saat dia mendengar suara Rishi bangunlah. Tidak ada orang lain di sekitarnya, sehingga dia berkata bahwa dirinya adalah perampok bukan rishi. Tidak kata suara itu, dirinya bukan perampok lagi dan sudah menjadi rishi, namamu Valmiki – dia yang lahir di bukit semut…..

Pada suatu pagi saat Valmiki akan mandi di Sungai Gangga, dia melihat sepasang burung merpati sedang bercumbu sambil terbang. Kemudian sebuah panah dan membunuh merpati jantan. Valmiki mampu mendengar ucapan burung betina yang penuh kesedihan. Dan, mulailah Valmiki menulis kisah Ramayana……….

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 4 Lectures and Discources The Ramayana

Rishi Narada mengingatkan bahwa perampok tersebut harus menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri. Cinta Sang Perampok kepada keluarganya didasari oleh ego. Cinta sendiri pada dasarnya tidak terbatas.

Cinta adalah Sifat Jiwa

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan tidak membiarkannya terjerumus oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, ‘diri’-mu adalah kawan dan lawanmu sendiri.” Bhagavad Gita 6:5

Ini adalah puncak dari ayat-ayat pemberdayaan diri, di mana Krsna jelas sekali. Diri atau Atma dalam ayat ini adalah Diri-Sejati; Sang Jiwa yang merupakan percikan dari Jiwa Agung atau Paramatma.

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaraan kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan sebagainya.

…………….

CINTA ADALAH SIFAT JIWA. Sebab itu Cinta adalah Tak-Terbatas, Tak-Terkungkung, Bebas dari Keterbatasan yang diciptakan oleh ruang dan waktu. Kemudian, Cinta yang tak terbatas ini kita aplikasikan terhadap ‘se’-seorang ‘yang’ kita cintai. Mencintai ‘se’-seorang ini sudah tidak sesuai, tidak selaras dengan sifat Cinta yang tak terbatas, sementara ‘se’-seorang adalah terbatas, sebatas ‘se’-seorang.

……………

Ketika kita kecewa dengan pasangan kita, maka kita mencari pasangan yang lain. Demikian, kita jatuh ke dalam lubang yang sama. Kita tidak sadar bahwa ‘rasa kecewa’ yang kita alami bukanlah ‘karena pasangan’ kita — sebejat atau sekurangajar apa pun pasangan kita. Rasa kecewa yang kita alami, sesungguhnya adalah kekecewaan Jiwa yang merasa terkungkung. Untuk itu, ganti pasangan bukanlah solusi. Ganti pasangan adalah sama dengan keluar dari mulut buaya, masuk ke dalam mulut singa. Menjadi sarapan buaya, atau makan-siang singa — sami mawon. Di kedua kemungkinan itu, KITA BINASA!

Saat itu, menurut Krsna, kita telah menjerumuskan diri sendiri. Kita menjadi musuh bagi diri kita sendiri. Kita rnembiarkan ego yang menciptakan perpisahan dan perbedaan itu berkuasa. Kita pikir dengan cara berpisah dari pasangan lama dan berganti pasangan — persoalan terselesaikan. Tidak, tidak bisa. Pesoalan hidup tidak terselesaikan dengan cara berpindah penjara. Persoalan hidup hanyalah terselesaikan ketika kita keluar dari penjara ego, dan hidup bebas dalam kesadaran Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Penjahat Terbejat Bisa menjadi Orang Bijak

Sekalipun seorang penjahat terbejat memuja-Ku dengan penuh keyakinan dan kasih serta dengan segenap kesadarannya terpusatkan pada-Ku – maka ia mesti dianggap sebagai seorang bijak, seorang sadhu yang telah menemukan kedamaian di dalam dirinya, karena ia telah bersikap yang tepat.” Bhagavad Gita 9:30

Penjahat sebejat apa pun, jika berpaling pada-Nya, maka ia mesti dianggap seorang sadhu – seorang bijak berhati tenang, damai. Ia telah berhasil menenangkan pikirannya serta emosinya, yang sebelumnya selalu bergejolak.

Dalam hal ini adalah penting untuk memahami “jenis” bhakti ala Krsna….. Krsna mengaitkan bhakti atau pemujaan, panembahan, devosi, dengan kasih. Bhakti, yang biasa diterjemahkan sebagai berbakti, mengabdi, atau memuja – sesungguhnya, memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bhakti adalah semua itu plus dengan penuh kasih. Landasannya adalah kasih, kasih yang tak bersyarat dan tak terbatas.

Seorang anak bisa saja berbakti pada orangtuanya dengan harapan terselubung untuk mendapatkan warisan. Atau, rnendapatkan lebih banyak dari saudara-saudaranya. Karena, toh saudara-saudaranya tidak mengunjungi orangtua sesering dirinya, walau ia tidak mengungkapkan hal itu. Niat saja sudah cukup untuk menodai baktinya. Ia belum berbhakti.

Seorang hamba, seorang pengabdi pun sama. Ia bisa berhamba, mau mengabdi karena digaji, atau seperti para abdi-dalem di keraton-keraton kita. Gaji mereka tidak seberapa, tapi mereka puas dengan kedudukan mereka sebagai abdi-dalem. Mereka pun mengabdi demi posisi itu, demi gelar itu, demi penghargaan itu, demi identitas itu. Bagi kita, identitas “abdi-dalem” mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi bagi mereka sangat berarti. Bagi mereka, identitas itu adalah jauh lebih berharga daripada uang jutaan per bulan. Jadi, di balik pengabdian dan penghambaan, mereka pun masih ada pamrih.

Pengabdian dan penghambaan kita pada Gusti Pangeran pun sama. Ada yang mengharapkan rezeki dari Gusti, ada yang mengharapkan kehorrnatan dari masyarakat, “Dia seorang saleh, dia begini, dia begitu………

BHAKTI MESTI BERLANDASKAN CINTA-KASIH tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya – dari bhaktinya, dari pemujaannya.

Hidup dia telah berubah menjadi aksi-bhakti. Ia menginterpretasikan bhakti lewat hidupnya. Ia menerjemahkan bhakti dalam bahasa tindakan nyata. Dan, ia melakukan semua ini karena ia melihat Wajah Gusti Pangeran di mana-mana. Baginya melayani sesama makhluk adalah ungkapan cintanya bagi Gusti Pangeran.

Baru setelah itu….. Jika seorang penjahat – sebejat apa pun – menginsafi dirinya, menyadari dirinya sebagai percikan Jiwa Agung, berpaling, dan mengubah hidupnya menjadi Berita-Baik; kemudian, melayani sesama makhluk, bukan saja sesama manusia; maka, ia dinyatakan sebagai seorang sadhu. Pikirannya sudah tenang; perasaannya tidak bergejolak; raga dan indranya terkendali; jiwanya damai; dan di atas segalanya perbuatannya mencerminkan ketenangan serta kedamaian dirinya. Ia menjadi wahana ketenangan dan kedamaian. Ia seorang sadhu……. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Pencari Tuhan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 8, 2018 by triwidodo

Kisah Pemuda Energik Ingin Bertemu Tuhan oleh Swami Vivekananda

Seorang pemuda yang energik pergi kepada seorang Master dan berkata bahwa dia berhasrat menemui Tuhan dan mohon petunjuk Sang Master. Sang Master memandang Sang Pemuda tanpa berkata sepatah kata pun dan hanya tersenyum. Akan tetapi Sang Pemuda datang setiap hari dan bersikeras ingin menemui Tuhan.

Pada suatu hari, ketika cuaca sangat panas, Sang Master mengajak Sang Pemuda pergi ke sungai bersamanya dan minta Sang Pemuda mengambil resiko. Sang Pemuda masuk kedalam air dan kepalanya dibenamkan dan dipegang Sang Master sehingga kepalanya tidak dapat muncul ke permukaan sungai. Sang Pemuda berjuang untuk sementara waktu, sampai kehabisan napas di dalam air. Setelah dirasa cukup, Sang Master melepaskan kepala Sang Pemuda sehingga dapat muncul ke atas permukaan sungai dan bernapas lagi.

Sang Master menanyakan kepada Sang Pemuda apa yang paling dia inginkan ketika berada di bawah air? Sang Pemuda menjawab bahwa dia membutuhkan napas. Sang Master bertanya kepada sang Pemuda apakah dia menginginkan Tuhan seperti dia menginginkan napas ketika kehabisan napas di bawah air? Bila Sang Pemuda menginginkan Tuhan dengan cara demikian, Sang Pemuda akan segera menemui Tuhan. Sampai Sang Pemuda memiliki kehausan itu, keinginan itu, dia tidak akan dapat menemui Tuhan. Mungkin Sang Pemuda akan bergumul dengan kecerdasannya, atau buku-buku yang dipelajarinya, tapi tidak dapat menemui Tuhan. Kalau rasa haus akan Tuhan itu bangkit seperti saat Sang Pemuda kehabisan napas dan ingin bernapas maka tujuannya akan tercapai.

Seorang bijak berkata, seandainya ada pencuri di sebuah ruangan dan di kamar sebelah ada banyak emas permata sedangkan dinding pembatas hanya berupa sekat yang tipis, maka sang pencuri tidak akan bisa tidur. Sang pencuri tidak akan bisa makan atau melakukan pekerjaan apa pun, seluruh pikirannya terfokus bagaimana caranya memperoleh emas tersebut.

Mabuk akan Tuhan itu butuh waktu yang lama. Semua ritual, doa, mantra, ziarah, buku-buku dan sebagainya adalah persiapan untuk melepas kotoran dari Jiwa. Sang Pemuda baru paham perlunya seorang Guru Pemandu yang pernah mengalami hal tersebut………

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 2 Bhakti or Devotion

Tuhan Bagaikan Magnet

Tuhan bagaikan magnet. Senantiasa siap untuk “menarik” kita. Jiwa kita saja yang karatan, sehingga tidak “ketarik”.

Kehadiran para suci di dalam hidup membantu kita membersihkan jiwa. Itu saja. Selanjutnya, tidak perlu mencari Tuhan. Mencari ke mana? Di mana? Dia Maha Dekat dan Maha Hadir Ada-Nya, tidak pernah menghilang.

Jiwa yang sudah karatan harus dibakar. Ya, dimasukkan ke dalam api. Tidak ada cara lain untuk membersihkannya. Itu sebabnya proses pembersihan selalu menyakitkan. Bila tidak sakit, berarti karat jiwa kita belum terbakar. Dan bila tidak dibakar, tak akan bersih juga.

Jangan harap “pertemuan” dengan para suci menyelesaikan perkara. Tidak. Sebaliknya, pertemuan itu justru membuka perkara. Jiwa kita dibuka, ditelanjangi. Borok-borok kita diperlihatkan. Pertemuan dengan para suci memang sulit. Hanya terjadi bila dikehendaki oleh Allah. Dan yang lebih sulit lagi, bagaimana mempertahankan pertemuan itu. Bagaimana bertahan menghadapi “ulah” para suci. Mereka tidak pandang bulu, tidak pilih kasih. Berusia tua atau muda, kaya atau miskin, berpangkat atau tidak, semua sama. Mau dibakar, ya dibakar. Mau ditelanjangi, ya ditelanjangi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Pengaruh Semua Pikiran di Alam Semesta yang Sama Frekuensinya

Mengapa Swami Vivekananda mengatakan perlunya rasa haus akan Tuhan, seperti Sang Pemuda yang terbenam dan berjuang karena haus akan napas?

Setiap tindakan kita akan membawa pengaruh penguatan intensitasnya. Dalam ilmu fisika, ketika saya melakukan tindakan tertentu, pikiran saya akan berada dalam getaran tertentu. Semua pikiran yang mempunyai frekuensi yang sama akan terpengaruh oleh pikiran saya.

Seandainya saya melakukan tindakan jahat, pikiran saya berada pada frekuensi tertentu dan semua pikiran di alam semesta yang mempunyai frekuensi sama akan terpengaruh oleh getaran pikiran saya. Demikian juga apabila saya melakukan tindakan baik, pikiran saya berada pada frekuensi yang lain dan akan mempengaruhi pikiran yang satu frekuensi dengan pikiran saya.

Mengikuti analogi tersebut, sangat mungkin seperti gelombang cahaya dari bintang yang berjalan selama jutaan tahun sebelum mencapai obyek, maka gelombang pikiran mungkin juga berjalan ratusan tahun sebelum bertemu dengan obyek yang satu frekuensi dengannya.

Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa atmosfir kita ini penuh pikiran dengan berbagai frekuensi. Setiap pikiran yang diproyeksikan dari setiap otak bergetar terus, sampai bertemu dengan obyek yang selaras frekuensinya yang menerimanya. Pikiran yang terbuka untuk menerima getaran batin ini akan segera mengambilnya, semacam intuisi. Demikian pula vibrasi pikiran yang Haus akan Tuhan akan menarik pikiran-pikiran yang selaras frekuensinya juga.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Karma Yoga Non Attachment

Silakan baca Catatan terkait: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2018/07/16/mengapa-sinkron-dengan-kejahatan-atau-kebaikan-bagaimana-sinkron-dengan-guru/

 

Wahyu adalah Getaran Ilahi, Semakin Dalam Meniti ke Dalam Diri Semakin Jelas Penerimaan

Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan: “Wahyu adalah getaran-getaran Ilahi. Seperti siaran radio. Gelombang radio ada di mana-mana. Siaran dari setiap setasiun dari seluruh dunia berada dalam ruangan di mana anda berada saat ini. Bahkan, berada dalam setiap ruangan, di setiap tempat, di manapun anda pernah ada, dan akan berada. Untuk menerima siaran-siaran itu, yang dibutuhkan adalah sebuah receiver, alat penerima-radio.

“Nah, sekarang tergantung betapa canggihnya alat penerima anda. Semakin canggih radio yang anda miliki, semakin banyak siaran yang dapat anda terima. Anehnya, semakin pendek gelombang radio, semakin luas jangkauannya. Short wave bisa menerima siaran dari manca-negara, tetapi FM dan AM hanya bisa menerima siaran dalam negeri.

“Sesuai dengan gambaran itu, mari kembali kepada apa yang kita sebut “wahyu”. “Wahyu” adalah Getaran-Getaran Ilahi yang bergelombang amat sangat pendek. Semakin dalam anda meniti diri sendiri, semakin jelas penerimaan anda.”

Oleh Karena itu, Persembahkan Semua Tindakan kepada Tuhan

Berbuat dengan semangat manembah – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya.

Dengan cara itu; Pertama, perbuatan kita menjadi baik dan tepat dengan sendirinya. Apakah kita mau menghaturkan sesuatu yang tidak baik kepada Hyang kita cintai? Mustahil. Kedua, kita menjadi efisien. Tidak membuang waktu. Ingat saat kita berpacaran, bagaimana menjadi tepat waktu. Pertemuan dengan si doi menjadi urusan utama, prioritas utama.

Berpacaranlah dengan Gusti Pangeran. Pacar-pacar Iain akan meninggalkan kita, cinta kita hanyalah berlanjut selama satu atau beberapa musim saja. Sementara itu, cinta Gusti Pangeran ibarat arak yang tambah lama, tambah memabukkan.

Ketiga, ketika kita betul-betul mencintai seseorang, kita tidak mengharapkan sesuatu. Keinginan kita adalah untuk memberi saja. Barangkali kaum Adam sulit rnemahami hal ini. Kaum Hawa lebih memahaminya. Sebab itu, dalam hal menjalin hubungan dengan Gusti, jadilah seperti seorang perempuan, memberi, memberi, dan memberi.

Inilah cinta sejati. Inilah berkarya tanpa keterikatan pada hasil, tanpa pamrih. Inilah Karma Yoga. Dan, ini pula bhakti — panembahan yang sesungguhnya. Penjelasan Bhagavad Gita 3:9 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Menunggu Moksha: Ceria, Empati, Peduli, Berbagi Penuh Kasih dan Rileks!

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 7, 2018 by triwidodo

Kisah Narada dan Dua Yogi dalam Kurma Purana oleh Swami Vivekananda

Devarishi Narada selalu bepergian ke mana-mana. Pada suatu hari dia melewati hutan dan bertemu dengan seorang Yogi yang sedang melakukan duduk meditasi yang sangat lama, sampai semut putih telah membuat gundukan besar pada tubuhnya. Yogi tersebut bertanya kepada Narada mau ke mana? Dan dijawab Narada bahwa dia mau menemui Tuhan.  Yogi tersebut mohon agar Narada menyampaikan pada Tuhan, kapan Tuhan berbelaskasihan kepadanya sehingga dia dapat mencapai moksha.

Selanjutnya Narada bertemu Yogi lain yang sedang bergembira, meloncat, bernyanyi, menari yang kemudian juga bertanya Narada mau kemana? Narada menjawab bahwa dia akan menemui Tuhan. Yogi tersebut berbicara pada Narada, agar menanyakan kepada Tuhan kapan dia akan mencapai moksha.

Selesai menghadap Tuhan, Narada kembali lewat jalan yang sama. Yogi yang bermeditasi dengan gundukan semut di tubuhnya bertanya, apakah Narada telah menyampaikan pertanyaannya kepada Tuhan tentang dirinya. Narada menjawab bahwa dia akan mencapai moksha dalam empat kehidupan lagi. Orang itu bersedih, dia telah berupaya bermeditasi bahkan sampai semut membuat gundukan di tubuhnya, akan tetapi dia masih harus lahir sebanyak empat kali lagi, dan dalam setiap kelahiran dia harus menjaga kesadaran agar tidak terjatuh.

Selanjutnya Narada bertemu dengan Yogi lainnya yang masih bergembira, menyanyi dan menari yang kemudian bertanya kepada Narada, apakah Narada telah menyampaikan pertanyaan dirinya kepada Tuhan. Narada menjawab bahwa sebanyak daun pohon asam di depan pria itu, dia akan lahir sebanyak jumlah daun tersebut sampai dia mencapai moksha. Yogi itu semakin gembira,dan berkata bahwa dia akan moksha dalam waktu yang singkat. Narada selanjutnya berkata bahwa orang tersebut akan mencapai moksha pada saat itu juga. Itu adalah sebagai imbalan ketekunannya, dia siap untuk berkarya melalui semua kelahiran. Tidak seperti Yogi pertama yang merasa bahwa 4 kelahiran sudah terlalu lama.

Demikian terjemahan bebas Swami Vivekananda dari Kurma Purana yang diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia.

Swami Vivekananda menyampaikan dalam terjemahan bebasnya::

Dia yang telah melepaskan semua kemelekatan, semua ketakutan, dan semua amarah, dia yang seluruh jiwanya telah dipersembahkan kepada Tuhan, dia yang telah berlindung kepada Tuhan, hatinya telah dimurnikan.

Dia yang tidak membenci siapa pun, teman dari semua, berbelas kasih kepada semua, bebas dari egoisme, pikiran sempit dalam suka dan duka, sabar, selalu puas ,selalu dalam Yoga, dirinya telah terkendali, kehendaknya teguh, pikiran dan inteleknya dipersembahkan kepada-Ku, yang demikian itu adalah Bhakta-Ku yang tercinta. Dia tidak dapat diganggu oleh orang lain, bebas dari kegembiraan, kemarahan, ketakutan, dan kecemasan, yang demikian adalah Kekasih-Ku. Dia yang tidak bergantung pada apa pun, murni dan aktif, tidak peduli apakah kebaikan atau keburukan yang datang, tidak pernah menjadi sengsara, pikiran yang tenang dan bijaksana, seperti itu adalah Bhakta-Ku yang terkasih.

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Raja Yoga Raja Yoga in Brief

Menunggu Pencerahan Ibarat Petani Usai Bercocok Tanam, Rileks Menunggu Waktu, Tidak Bisa Dipaksakan Kapan Panennya

 

“Dalam keadaan tenang, tenteram – berakhirlah segala duka, segala derita. Ketika gugusan pikiran dan perasaan tenang, buddhi atau intelegensia berkembang, maka tercapailah kesempurnaan, dan kebahagiaan dalam hidup berkesadaran.” Bhagavad Gita 2:65

Buddhi, sebagaimana telah kita bahas secara panjang lebar dalam “Neo Spiritual Hypnotherapy”, dan buku-buku lain, adalah hasil daur-ulang dari gugusan pikiran dan perasaan, mind.

Kṛṣṇa sedang Menjelaskan Tahapan-Tahapan Meditasi, yang tidak lain adalah hidup berkesadaran. Hidup dengan memanfaatkan buddhi – pikiran dan perasaan yang telah tercerahkan.

Untuk itu, tahap awalnya adalah ketenangan, ketenteraman, rileks! Kṛṣṇa sudah menjelaskan cara-cara untuk meraih ketenangan, ketenteraman. Yaitu, dengan pengendalian-diri, pengendalian hawa-nafsu, kepuasan serta keseimbangan diri, dan sebagainya. Setelah seluruh tahapan itu dilalui, rileks!

Sebagaimana setelah bercocok tanam, seorang petani tidak akan berbuat apa-apa lagi. Ia hanya mengawasi sawahnya. Santai. Ia akan membiarkan benih-benih yang ditanamnya bertunas dan tumbuh. Proses tersebut butuh waktu, tidak bisa dipaksa.

Pun demikian dalam hal mencapai kesempurnaan dalam hidup berkesadaran. Kita mesti berlatih setiap hari, dalam pengertian menjadi ceria dan menyebarkan keceriaan, berempati terhadap sesama; saling peduli, berbagi, dan sayang-menyayangi.

Rileks, perhatikan apa yang sudah kita pelajari selama ini dengan tenang, tanpa memaksa diri. Tidak pula memikirkan hasil. Pencerahan sudah terjadi. Sekarang, biarlah ia berkembang sendiri! Pencerahan adalah proses yang berjalan terus menuju kesempurnaan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Orang yang Telah Menjadi Master dalam Pengendalian Diri, Bebas dari Perbudakan

 

“Tiada buddhi, tiada inteligensia dalam diri yang tak terkendali, tiada pula keseimbangan diri serta kesadaran; dan tanpa keseimbangan, tanpa kesadaran, tiada kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Lalu, bagaimana pula meraih kebahagiaan  sejati tanpa kedamaian?” Bhagavad Gita 2:66

Berkembangnya buddhi, kesadaran untuk memilah antara yang tepat bagi kita dan tidak tepat, adalah mengikuti pengendalian diri secara proporsional. Makin Mampu Mengendalikan Diri makin berkembangnya buddhi, kesadaran diri – makin meditatifnya seseorang. Makin seimbangnya dia dalam keadaan suka maupun duka. Kemudian, dalam keadaan meditatif itulah muncul kedamaian, kebahagiaan sejati. Perhatikan, betapa pentingnya pengendalian diri.

Pengendalian Diri, Berarti Bebas dari Perbudakan – Selama ini kita diperbudak oleh badan, indra, hawa-nafsu, keinginan-keinginan, pikiran yang liar, perasaan yang bergejolak, dan sebagainya. Sebab itu, jelaslah hidup kita tidak tenang. Batin kita tidak tenteram. Tidak ada pula kedamaian dan kebahagiaan. Jadi, kuncinya adalah Pengendalian Diri. Dengan mengendalikan diri, kita sesungguhnya mengambil alih kekuasaan atas diri sendiri. Pengendalian Diri adalah semacam Proklamasi Kemerdekaan, sekaligus Pengukuhan Kesadaran-Diri; Penemuan Jati-Diri; Mengenal Diri sebagai Jiwa, percikan Jiwa Agung, Gusti Pangeran, Tuhan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Tidak Ada Keseimbangan antara Materi dan Rohani

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on August 5, 2018 by triwidodo

Kisah Shuka Putra Vyasa Membedakan Alam Benda dan Jiwa

Rishi Vyasa, penulis Mahabharata, Srimad Bhagavatam dan Editor Veda adalah seorang suci. Ayahnya Parasara, Kakeknya Maharishi Sakti, Kakek Buyutnya Rishi Vasishta termasuk Rishi Vyasa sendiri berusaha menjadi manusia yang sempurna tapi belum mencapainya. Akan tetapi Shuka Muni putra Rishi Vyasa telah lahir dengan sempurna. Rishi Vyasa mengajar Shuka Muni dan kemudian minta Shuka belajar pada Raja Janaka. Janaka sendiri dipanggil Videha (tanpa tubuh). Sang raja sadar bahwa dia bukan tubuh, tapi Jiwa (mencapai tingkat Soul Awareness).

Menurut Mahabharata, Janaka adalah ras para raja yang memerintah Kerajaan Videha dengan ibukota Mithila. Ayah Sita (istri Rama) bernama Sīradwaja Janaka. Mahabharata menyebutkan banyak Raja Janaka lainnya yang merupakan sarjana agung dan hidup seperti rishi meskipun mereka adalah raja. Mereka senang berbincang-bincang mengenai agama dengan banyak rishi.

Raja Janaka tahu bahwa Putra Vyasa akan datang kepadanya untuk belajar. Oleh karena itu sang raja telah mempersiapkannya. Ketika Shuka masuk istana, para penjaga gerbang sengaja tidak mempedulikannya dan hanya memberi tempat duduk. Shuka duduk menunggu sampai 3 hari, tanpa ada yang bicara dengannya. Shuka tidak merasa tersinggung, walaupun dia seorang putra dari Rishi Agung yang dikenal sebagai Jagad Guru.

Selanjutnya, baru Menteri dan Para Pejabat Istana menemuinya dan memberi penghormatan besar. Dia diajak melihat kamar-kamar luar biasa indahnya, dengan pemandian yang elok dan tinggal selama 8 hari di tempat penuh kemewahan. Wajah Shuka tetap tenang, baik tidak dipedulikan  maupun dihormati berlebihan tidak mengubah raut wajahnya.

Kemudian Shuka dibawa menghadap Raja Janaka yang sedang menikmati tarian, musik dan hiburan lainnya di tengah aula. Sang raja memberinya secangkir susu penuh sampai bibir cangkir, dan minta Shuka mengelilingi aula yang penuh penari cantik, penyanyi merdu, dan pemusik, sebanyak 7 tanpa menumpahkan susu setetes pun.

Shuka berputar 7 kali memegang cangkir berisi susu dan tidak ada setetes pun yang jatuh. Shuka bisa melepaskan diri dari pengaruh sekitar (tidak menjadi budak dari panca indra dan pikiran), bisa memfokuskan pikiran dan panca indranya pada cangkir berisi susu agar tidak tumpah saat berjalan membawanya. Raja Janaka bertanya, “Apa yang telah diajarkan oleh ayahmu? Dan apa yang telah kau pelajari sendiri? Aku hanya bisa mengatakan bahwa Kau telah mengetahui Kebenaran, silakan pulang!”

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Karma Yoga Non-Attachment

Shuka Muni telah menjadi Master yang menguasai pikiran mencapai Soul Awareness, dan setiap saat dengan penuh kesadaran bisa membedakan antara alam benda dan Jiwa.

Alam Benda (Kesadaran Rendah) dan Alam Jiwa (Kesadaraan Tinggi) menurut Bhagavad Gita

“Di luar Prakrti, alam benda, kebendaan, dan kesadaran rendah, adalah alam Jiwa, yang menopang sekaligus menghidupi seantero alam.” Bhagavad Gita 7:5

Segala sesuatu di luar Jiwa adalah bagian dari alam benda – termasuk pikiran, emosi, impian, keinginan – semua apa pun juga – semua tanpa kecuali.

Di sini, sekarang, kita melihat perbedaan yang jelas sekali antara “Pengalaman” Krsna dan “Pemahaman” para Motivator – Penceramah, pengkhotbah modern masih “mencari” keseimbangan antara dunia dan Tuhan, antara alam benda atau materi dan alam batin atau spirit.

Bagi Krsna, alam benda dan Jiwa tidak sebanding, tidak bisa disejajarkan. Alam benda adalah gambar-gambar yang sedang bergerak, bayang-bayang kita yang sedang diproyeksikan – sementara itu, Jiwa adalah Layar yang menjadi “Penopang” dan memberi kehidupan pada gambar-gambar yang sedang ditayangkan.

Layar yang statis ini tidak terpengaruh oleh adanya banjir,tsunami, gempa, perang, kelahiran, kematian dan sebagainya. Layar tidak menjadi basah karena tayangan banjir. Ia tidak terbakar karena adegan pembakaran.

Tidak ada perbandingan antara gambar-gambar yang sedang diproyeksikan dan Layar. Mustahil. Tidak ada keseimbangan di antaranya – dalam pengertian Layar yang statis digerakkan 50% dan gambar-gambar yang sedang diproyeksikan diturunkan kecepatannya 50% – semuanya malah menjadi kacau.  Kekacauan inilah yang sedang kita saksikan di dunia – saat ini.

Setiap orang bicara tentang “keseimbangan” tanpa memahami makna dan impliksinya. Keseimbangan seperti itu telah membuat kita agak  “rada-rada” – lebih dari 3-4 di antara 10 orang yang kita temui  di setiap jalan-raya di kota besar di seluruh dunia adalah penderita gangguan jiwa, atau lebih tepatnya, sakit mental tingkat menegah.

Mereka di border-line – persis di garis pemisah antara kewarasan dan ketidakwarasan. Penemuan-penemuan semacam ini jarang dipublikasikan. Tapi jika Anda seorang Psikolog atau Psikiater – apalagi seorang ahli syaraf – maka Anda tahu persis seperti apakah masyarakat kita saat ini.

Belum selesai. 3-4 orang di antara 10 orang adalah penderita gangguan jiwa, sakit mental ringan yang sewaktu-waktu bisa naik tingkat – dan bergabung dengan kelompok pertama yang berada di border-line – di garis batas.

Seorang Psikiater yang juga adalah seorang Guru Besar – mengatakan kepada saya bahwa di antara 100 orang, belum tentu ada 1 orang yang menurut Kriteria Standar Psikiatri, “betul-betul normal” – lebih parah lagi! Pasalnya setiap orang yang menderita stress berlebihan dan merasa tidak mampu menangani stressnya, sudah mengalami  gangguan mental. Dan, memang tidak mudahmencari seorang pun di antara kita yang betul-betul bahagia, atau setidaknya tenang, sehingga berani menghadapi segala tantangan dengan senyuman!

Keseimbangan diri yang sudah digembar-gemborkan saat ini akan, atau mungkin sudah, menciptakan manusia-manusia border-line – Dirinya sedang terbakar oleh berbagai macam api – dari rasa iri hingga kebencian – di luar ia memasang topeng badut. Manusia-manusia bertopeng inilah yang kita jumpai di setiap kota – dari Benua Beruang hingga Kutub Utara!

Dengarkan petunjuk Krsna, Alam Benda adalah Alam Benda – jangan ikut menjadi  “benda” bersamanya. Jangankan kedudukan, harta-kekayaan, dan sebaginya – identitas kita saat ini – nama pemberian orang tua, latar-belakang keluarga, sosial, pendidikan, dan sebagainya – semua adalah bagian dari alam benda! Ketika kita mengidentifikasikan diri dengan salah satu di antaranya, kita menjadi bagian dari kebendaan. Kita menjadi “benda” – maka bisa digadaikan dan diperjualbelikan.

Betapa mudahnya bagi kita untuk menggadaikan, atau bahkan membunuh batin kita sendiri,  mengabaikan  suara hati-nurani, dan memperkarakan seorang yang tidak bersalah; atau merampas hak orang; menjarah kampung halaman dan negeri kita sendiri; menyusahkan sesama manusia; menyakiti sesama makhluk hidup!

Inilah keadaan kita saat ini – semuanya karena memaknai diri dengan cara yang salah. Tingkatkan kesadaran, “aku bukan benda, aku bukanlah badan ini, akau adalah Jiwa Abadi! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Luwak Emas, Keukeuh Berkarya Tanpa Pamrih Menjelang Ajal

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on August 4, 2018 by triwidodo

Kisah Luwak Emas di Mahabharata

Dikisahkan oleh Swami Vivekananda bahwa setelah perang Bharatayudha di Medan Kurukshetra, Pandava melakukan Upacara Yajna yang sangat besar dan memberikan hadiah yang luar biasa besar kepada para orang miskin. Semua orang ternganga dan takjub melihat kebesaran Upacara Yajna tersebut.

Upacara baru saja usai kala seekor luwak yang separuh tubuhnya berwarna emas dan separuh coklat berguling-guling di lantai tempat yajna dilakukan. Sang Luwak berteriak, “Kalian semua salah, ini bukan Yajna, upacara persembahan.” Para hadirin menjawab, “Apa? Kau mengatakan ini bukan upacara persembahan? Kau tiak tahu berapa uang dan perhiasan yang dibagikan agar penduduk miskinmenjadi bahagia dan kaya. Ini adalah Yajna yang paling menakjubkan.”

Sang Luwak berkata,”Dengarkan dulu pengalamanku! Pernah tinggal di sebuah desa kecil seorang brahmana miskin bersama istri, anak dan menantunya. Mereka sangat miskin danhidup dari hadiah kecil setelah dia mengajar orang-orang miskin di desa tersebut. Pada suatu saat datang bencana kelaparaan di desa tersebut selama 3 tahun, dan keluarga brahmana tersebut menjadi semakin menderita.

Pada hari itu sang brahmana membawa pulang seporsi kecil makanan yang diperolehnya dan dibaginya menjadi 4 bagian untuk masing-masing anggota keluarganya. Pada saat mereka akan makan, tiba-tiba ada ketukan di pintu, dan sang brahmana menyilakan sang taku masuk ke rumah sederhana mereka. Tamu yang hadir tanpa undangan sebelumnya adalah wujud Tuhan, atithi devo bhava. Sang brahmana menghidangkan bagian makanannya untk tamu tersebut yang segera disantapnya.

Sang tamu berkata bahwa dia telah menderita lapar selam 10 hari dan makan yang sangat sedikit tersebut justru meningkatkan rasa laparnya. Sang istri berkata kepada sang brahmana dia akan menghidangkan bagian makanannya. Sang brahmana bilang tidak perlu melakukannya, akan tetapi sang istri bersikeras sehingga sang istri memberikan bagian makanannya kepada sang tamu.

Sang tamu menyantap bagian istri brahmana dan mengatakan bahwa dia masih terbakar oleh rasa lapar. Anak sang brahmana memberikan bagiannya tapi sang tamu masih lapar juga sehingga istri sang anak pun memberikan bagiannya juga. Tamu tersebut baru merasa kenyang, minta izin pulang dan memberkati mereka. Malamnya keempat anggota keluarga itu meninggal karena kelaparan.

Sang Luwak berkata bahwa ada beberapa butir makanan yang jatuh di lantai dan Sang Luwak menggulingkan tubuh mereka ke butir-butir sisa makanan tersebut. Butir-butir makanan sisa tersebut membuat kulitnya menjadi keemasan. Sang Luwak melanjutkan bahwa dia telah berkeliling ke seluruh dunia, berharap menemukan persembahan seperti itu. Sampai saaat ini dia belum menemukan hal yang sama. Itulah sebabnya Sang Luwak mengguling-gulingkan tubuhnya di lantai bekas yajna, upacara yang dilakukan Pandava. Kulit dirinya yang sebelah tidak berubah menjadi emas, itulah sebanya Sang Luwak mengatakan bahwa itu belum persembahan, pengurbanan.

Bagi seorang perumahtangga, saat berada di depan kematian pun mereka tetap melakukan karma yoga, berkarya tanpa pamrih. Ini adalah pengabdian tertinggi yang bahkan melebihi para sanyasin…..

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Karma Yoga The Secret of Work

Kepuasan Diri karena berkarya tanpa pamrih jauh lebih besar daripada kepuasan karena makan atau kenikmatan indra yang lain. Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan teruslah berkarya, sebaiknya orang meninggal pada saat dia masih berkarya.

Kepuasan Diri Jauh Melebihi Kepuasan Indra

Śrī Bhagavān (Kṛṣṇa Hyang Maha Berkah) bersabda: “Wahai Pārtha (Putra Pṛthā – sebutan lain bagi Kuntī, Ibu Arjuna); ia yang telah berhasil melampaui semua keinginan yang muncul dari gugusan pikiran serta perasaan; dan puas diri, puas dengan dirinya sendiri, adalah seorang Sthitaprajña –seorang bijak yang teguh, tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:55

“Kepuasan Diri karena Diri.” Berarti, puas bukan karena memperoleh sesuatu dari luar diri, puas bukan karena keadaan di luar diri yang dianggapnya menguntungkan; puas bukan karena faktor apa pun di luar diri – tapi puas diri karena diri sendiri. Puas karena kesadaran bila dirinya yang sejati, Jiwa, tidak Membutuhkan Sesuatu – Puas, karena sadar bila Jiwa adalah sempurna, tak kekurangan  sesuatu. Puas, karena sadar bila Jiwa tidak perlu ditambahi sesuatu untuk menambah kepuasannya. Pun, tidak bisa dikurangi kepuasannya jika dikurangi sesuatu. Sesungguhnya Jiwa tidak perlu, dan tidak bisa ditambahi, atau dikurangi. Ia sempurna adanya. Kesadaran-Diri, Kesadaran Jiwa seperti inilah membuat seorang puas – memuaskan seorang dalam arti kata yang sebenarnya.

Para psikolog modern pun sudah menyimpulkan bila motivasi terbesar, motivasi sesungguhnya datang dari dalam diri kita sendiri.

Pemahaman tempo doeloe, bahwasanya orang yang gampang puas tidak pernah maju, tidak berkembang – ternyata salah. Orang yang tidak maju, tidak berkembang – adalah karena kemalasan diri, tidak percaya diri, bukan karena kepuasan diri.

Kepuasan-Diri adalah Energi Yang sungguh dahsyat. Makin puas diri Anda, makin kreatif, dan makin produktif diri Anda. Makin efisien pula.

Jadi, kepuasan-diri justru merupakan pendorong yang luar biasa. Dorongan-dorongan lain seperti kepuasan indra, kenikmatan jasmani, gratifikasi berupa seks, atau materi lainnya – adalah dorongan-dorongan, motivasi-motivasi bernilai rendah, jika dibanding dengan kepuasan diri. Demikian hasil penelitian para ilmuwan modern.

Kepuasan Diri bukanlah Kepuasan Indra atau, kenikmatan jasmani, dan sebagainya. Kepuasan diri bersumber dari diri kita yang sejati, dari Jiwa. Jiwa merasa puas ketika ia mempelajari sesuatu yang baru. Jiwa merasa puas ketika ia sudah berkarya secara kreatif. Jiwa merasa puas ketika ia bersentuhan dengan rasa empati, cinta-kasih, kepedulian. Jiwa merasa puas ketika ia berkarya tanpa pamrih. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Tindakan Keluarga Brahmana tersebut adalah Manusia Yajna

Dalam artikel:Sabda Sang Guru 6 Pancha Yajna Kewajiban untuk Berbagi (Bag 4) Bapak Anand Krishna mengutip Saythya Sai Baba:

Apa gunanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdoa dan meditasi, sementara tetangga kita sedang merintih kesakitan dan dalam keadaan ketidakberdayaan? Tuhan tidak menanggapi doa kita seperti itu.

(Mendengar rintihan sesama) apa yang diharapkan dari seorang manusia adalah meninggalkan doanya dan terburu-buru melayani orang yang sedang menerita.

Tuhan di dalam diri kita mesti bergegas untuk melayani Tuhan di dalam diri orang yang sedang menderita.

Manava Seva adalah Madhava Seva (Melayani Sesama sama dengan Melayani Tuhan). Seperti itulah semestinya seorang melihat Tuhan, Hyang berada dalam diri setiap makhluk.