Archive for angkuh

Krishna Kecil: Keangkuhan Aristasura Mengabaikan Guru #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on August 10, 2017 by triwidodo

Umumnya Para Cendekiawan Adalah Angkuh – Orang-orang yang berpengetahuan, umumnya memiliki keangkuhan yang luar biasa. Mereka merasa lebih tahu dari orang lain.

Bukit nampaknya begitu dekat dengan langit. Lembah nampaknya begitu jauh dari langit. Namun, semakin tingginya bukit, semakin gundulnya dia. Dan lembah-lembah selalu subur. Bukit adalah arogan. la berdiri tegak lurus. la sombong. la lebih awal menerima air hujan. la lebih banyak menerima air hujan. Namun karena arogansinya, air hanya melewatinya saja. Bukit tetap juga gundul, dan lembah di bawahnya semakin subur. Bukalah diri Anda. Jadilah reseptif seperti seorang wanita. Terimalah alam ini dan syukurilah segala pemberiannya. Wanita yang membuka diri demikian, kelak akan mengandung dan akan menghasilkan keturunan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Orang yang berhasil karena disiplin diri pun perlu berhati-hati dari keangkuhan

Siddhi Sebagai Hasil Dari Tapa, berarti kesempurnaan yang diraih berkat disiplin-diri. Saya rasa tidak perlu dibahas lagi. Setiap orang yang disiplin, sudah pasti berhasil, sudah pasti sukses.

Siddhi Hasil Samadhi, inilah yang kelak mengantarkan kita pada kaivalya—the suchness.

Namun dalam perjalanan menuju keadaan super yang terjelaskan itu, setiap siddhi, setiap kesempurnaan yang diraih dengan cara apa pun dan di bidang apa pun, sudah pasti memiliki sisi negatif. Sisi negatif yang disebabkan oleh gugusan pikiran serta perasaan kita sendiri, oleh mind kita sendiri.

Contoh yang paling umum: Seseorang yang berhasil menjadi kaya raya, jika tidak menjaga diri, niscayalah ia menjadi korban egonya sendiri, keangkuhannya sendiri. “Aku kaya, aku berhasil karena kerja kerasku sendiri, upayaku sendiri.” Kalimat itu, walau “mungkin” benar, tidak patut diucapkan. Dengan mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu, kita memberikan bahan bakar kepada ego. Sebab itu, berhati-hatilah selalu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Asura suruhan Raja Kamsa bernama Aristasura, yang berwujud banteng raksasa, menyerang Brindavan. Beberapa pohon di tepi jalan dirobohkannya. Napasnya terengah-engah mengerikan, rumah-rumah di Brindavan bergoyang akibat kaki banteng yang dihentak-hentakkan. Sang banteng merasa paling perkasa dan berbuat sesuai dengan kehendaknya.

Para gembala mendatangi Krishna, meminta tolong agar dapat membunuh banteng tersebut. Krishna keluar mendatangi banteng tersebut dan berkata, “Kamu hanya menakut-nakuti wanita, anak-anak, dan para gembala yang tidak bersalah. Hadapilah aku!”

Krishna kemudian bertarung dengan Aristasura. Krishna sangat lincah sehingga merepotkan Aristasura. Krishna kemudian menangkap tanduknya dan saling dorong pun terjadi dengan hebatnya. Kemudian Krishna mengoyang-goyangkan tanduk tersebut, sehingga Aristasura terombang-ambing. Selanjutnya Krishna mencabut kedua tanduk tersebut dan memukul banteng tersebut dengan tanduk yang sudah berada di tangan Krishna. Sang banteng pun mati.

Aristasura mewakili manusia yang merasa arogan dengan kekuasaannya dan kepandaiannya, dia merasa paling benar dan merusak alam, karena tidak ada seorang pun yang berani mengingatkannya. Pikiran manusia semacam Aristasura harus dilenyapkan oleh Krishna, yang berhasil menaklukkan keangkuhannya.

 

Angkuh karena merasa sebagai manusia makhluk tertinggi

Seseorang menjadi arogan dan menganggap dirinya lebih hebat dari makhluk-makhluk lain, dari bentuk-bentuk kehidupan yang lain. Ia menempatkan dirinya di atas mereka semua. Ia merasa berhak untuk melakukan apa saja. 

Dalam keangkuhan serta ketololannya, manusia telah merusak hutan.  Ia menebang pohon seenaknya demi keuntungan materi. Ia menggali dan menambang tanpa perhitungan. Industrialisasi yang tidak cerdas telah menyebabkan pemanasan global. Semua itu dapat mengubah peta dunia dalam kurun waktu 50 tahun mendatang. Kepulauan kita akan kehilangan lebih dari 2000 pulau kecil. Pesisir Jawa, Bali, Sumatera, di mana-mana akan bergeser. 

Saatnya kita kembali kepada ajaran leluhur, kepada budaya asal Nusantara, kepada kearifan lokal, kebijakan nenek moyang. Saatnya kita menghormati dan menghargai alam, lingkungan. Hubungan dengan alam dan sesama makhluk hidup – bukanlah hubungan horizontal sebagaimana didoktrinkan kepada kita selama bertahun-tahun.

Pun hubungan kita dengan Tuhan bukanlah vertikal. Tuhan tidak berada di atas sana, di lapisan langit kesekian. Pemahaman vertikal-horizontal seperti ini telah memisahkan kita dari alam. Tuhan berada di mana-mana, Ia meliputi segalanya, sekaligus bersemayam di dalam diri setiap makhluk. Inilah inti ajaran leluhur kita. Inilah kearifan lokal kita. Dan, hanyalah pemahaman seperti ini yang dapat menyelamatkan kita dari kemusnahan dan kehancuran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Dalam kehidupan sebelumnya, Aristasura adalah Brahmana disiplin, sempurna dan berbudi luhur yang disebut Varatantu, dan mempelajari Veda di bawah pengawasan Rishi Brihaspati. Karena merasa sudah cepat menguasai, Varatantu tidak lagi memperhatikan wejangan dari Rishi Brihaspati. Dia merasa angkuh, karena merasa sudah memahami apa yang disampaikan oleh gurunya. Bahkan Varatantu bersikap seenaknya, mengabaikan Rishi Brihaspati yang sedang mengajar. Rishi Brihaspati berkata, “Kamu ini murid cerdas dan disiplin, tetapi belum reseptif, merasa sudah mengetahui segala sesuatu. Padahal kamu belum melakoni pemahamanmu dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kamu telah mengabaikan seorang Guru yang sedang mengajarmu, kamu menyerupai seekor banteng yang angkuh!”

Varatantu merasa menyesal atas tindakannya yang salah dan berjanji untuk memperbaikinya. Rishi Brihaspati berkata, “Kau harus mengalami kelahiran kembali sebagai seekor banteng, sampai tiba waktunya kau dibebaskan oleh Krishna dan kau akan kembali menjadi brahmana yang sadar dan mengalami peningkatan kesadaran yang luar biasa, sehingga tidak akan berbuat kesalahan lagi.”

Dalam kehidupan berikutnya sebagai Aristasura, ia tinggal di Bangladesh, di mana dia secara bertahap mengembangkan sifat asura, karena tidak menjaga pergaulan. Pada suatu saat, Raja Kamsa melakukan perluasan wilayah dengan menundukkan negara-negara tetangga. Raja Kamsa menantang duel kepada Aristasura. Pertarungan antara Raja Kamsa dengan Aristasura berjalan sengit dan akhirnya Aristasura ditundukkan. Aristasura dijadikan pengawal andalan Raja Kamsa. Akhirnya, Aristasura dibunuh oleh Krishna dan terbebaskan dari segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Dia kembali menjadi Brahmana Varatantu yang bijak dan melanjutkan pembelajarannya pada Rishi Brihaspati.