Archive for ashtavakra

Wujud Murshid Sebagai Gerbang Masuk Keilahian

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 27, 2018 by triwidodo

Kisah Raja Janaka Berguru pada Pemuda Ashtavakra

Dikisahkan oleh seorang Master tentang Raja Janaka yang membuat pengumuman kepada para Sarjana, Ahli Kitab, Yogi, Mahatma, Maharishi atau Orang Bijak di kerajaannya untuk datang dan mengajarkan mengenai Atma kepada Sang Raja. Sang Raja berharap untuk mencapai Atma Jnana, Pengetahuan tentang Diri Sejati sesaat setelah memperoleh instruksi yang benar. Jika orang yang mengajari Sang Raja tidak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Sang Raja, maka Sang Raja tidak akan mau lagi melihat orang tersebut. Semua orang menjadi takut dengan resiko tersebut, dan ini merupakan ujian yang sangat berat bagi mereka.

Pemuda Ashtavakra sedang dalam perjalanan ke ibukota Mithilapura, tempat Raja Janaka memerintah, kala melihat para sarjana sedang tampak gelisah dan sedih. Ashtavakra bertanya dan mereka menjelaskan tentang pengumuman Raja Janaka yang menggelisahkan mereka. Ashtavakra menghadap Raja Janaka dan berkata kepada Sang Raja bahwa dia siap memberikan pengetahuan tentang Atma seperti yang raja harapkan. Ashtavakra mengatakan bahwa pekerjaan tersebut tidak mudah dan harus ke luar dari istana yang penuh dengan Rajo Guna dan Tamo Guna, ke tempat yang dipengaruhi Sattva Murni. Sang Raja mengikuti Ashtavakra masuk hutan. para prajurit yang mengawal Sang Raja di tinggal di luar hutan.

Ashtavakra menyampaikan kepada Sang Raja bahwa walaupun ia seorang pemuda dia adalah pemandu sedangkan Sang Raja adalah sebagai murid. Setelah Sang Raja menyetujuinya, Ashtavakra minta Sang Raja mempersembahkan Guru Daksina, persembahan Murid kepada Guru. Kembali Sang Raja menyetujuinya dan Ashtavakra tidak minta barang-barang apa pun kecuali Mind Sang Raja yang harus diserahkan kepadanya. Sang Raja menyetujuinya.

Janaka disuruh turun dari kudanya, membawanya ke tengah jalan dan Janaka diminta duduk. Ashtavakra kemudian pergi ke tengah hutan, duduk santai di bawah pohon. Para pengawal raja yang menunggu lama tidak sabar dan mulai menyebar mencari keberadaan Sang Raja. Mereka menemukan Sang Raja duduk di tengah jalan dengan kuda yang berdiri di depannya. Melihat Sang Raja tidak bergerak mereka mengirim utusan untuk memanggil Perdana Menteri.

Perdana Menteri datang dan mencoba membangunkan Sang Raja, tetapi Sang Raja tetap tidak bergerak. Kejadian ini membuat semua pejabat kerajaan ketakutan dan mereka mengirim utusan untuk memanggil permaisuri. Permaisuri datang dengan kereta dan mencoba membangunkan Sang Raja dengan membawa makanan dan minuman yang disukai Sang Raja. Akan tetapi Sang Raja tetap tidak bergerak. mereka berpikir tentang apa yang telah diperbuat Pemuda Ashtavakra terhadap Sang Raja. Para prajurit kemudian menyebar mencari Ashtavakra dan ketemu sedang santai di bawah pohon. mereka minta Ashtavakra pergi ke tempat Sang Raja.

Ashtavakra berkata, “Bangunlah Raja!” Dan, anehnya Sang Raja langsung membuka mata dan berkata, “Siap Swami!” Ashtavakra bertanya, “Para Prajurit, Pendeta, Perdana Menteri, bahkan Permaisuri mohon agar Raja bangun, mengapa Raja tidak membalas permohonan mereka?” Janaka menjawab, “Mind saya sudah saya persembahkan kepada Swami. Pikiran, Ucapan dan Tindakan berhubungan dengan Mind. Apa kewenangan saya untuk menggunakan Pikiran, Ucapan dan Tindakan kepada mereka tanpa izin Swami?” Ashtavakra kemudian berkata, “Raja telah mencapai tingkat Kesadaran Ilahi.”

Begitu seseorang telah mempersembahkan Mind: Pikiran, Ucapan dan Tindakannya, maka dia tidak memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan apa pun tanpa izin dari orang yang yang dia sebagai pemandunya. Para Pemandu pun sudah mempersembahkan Mind mereka kepada Gusti Pangeran. Apa yang dilakukan Para Pemandu adalah Kehendak-Nya bukan kehendak pribadinya.

 

Ashtavakra mengajari Raja Janaka tidak menggunakan mind pribadinya,

Guru Tidak Menggunakan Mind, Hanya Menyampaikan Apa yang Terdengar lewat Nurani

Jangan berguru pada mereka yang hanya menggunakan logika dan matematika. Mereka bisa menjadi pengajar, pendidik, tetapi tidak dapat jadi Master. Mereka bukan guru. Seorang guru tidak lagi menggunakan pikirannya. Ia hanya menyampaikan apa terdengar lewat nuraninya, yang selalu dalam keadaan mawas diri, yang dianugerahi dengan wahyu Allah – hanya merekalah yang pantas disebut Guru, disebut Master, disebut Murshid, Mustafa. Yang lain hanyalah pengajar biasa, hanya pendidik biasa, hanya ustad biasa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kepatuhan Raja Janaka pada Ashtavakra membuka gerbang untuk memasuki Tuhan,

Wujud Murshid sebagai Gerbang untuk Memasuki Tuhan

Para sufi menggunakan “wujud” murshid sebagai gerbang untuk memasuki Tuhan. Ketika Yesus menyatakan diri sebagai pintu u ntuk memasuki Kerajaan Allah, maksudnya ya itu. Para lama di Tibet melakukan Guru Pooja, penghormatan khusus terhadap para guru. Begitu pula dengan para “pencari” di dataran India. Lewat Guru Bhakti atau cinta tak bersyarat dan tak terbatas terhadap seorang guru, mereka menemukan cinta yang sama di dalam diri mereka masing-masing. Seorang guru tidak membutuhkan puja dan bakti. Dia justru memberikan kesempatan bagi perkembangan puja dan bhakti di dalam diri kita masing-masing. Puja dan bakti terhadap seorang guru tidak berarti mencium kaki atau tangannya. Puja dan bakti semata-mata untuk mendekatkan diri kita dengan Ia yang bersemayam di dalam setiap makhluk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Raja Janaka patuh, trust kepada Ashtavakra, Sang Murshid,

Tradisi Sungkem pada Guru

Kita lupa tradisi kuno di mana seorang murid melakukan sungkem atau mencium tangan seorang Guru. Kedua gerakan itu sarat dengan makna. Dengan itu mau diungkapkan, “Sekarang kutundukkan kepalaku, egoku, pengetahuan yang telah kuperoleh selama ini. Kubuangkan semuanya, karena semua itu tidak membantuku. Wahai Guru, sekarang aku datang ke padepokanmu; ajarilah aku yang masih bodoh ini.” Saat mencium tangan seorang murshid kita menyatakan kepercayaan kita; trust kita terhadap segala karyanya. Tanpa trust, tanpa kepercayaan, kita tidak bisa berguru. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Aku Raja Janaka tidak eksis lagi, rohnya adalah Jiwa Ashtavakra

“Aku” sudah tidak eksis, tidak ada. Sekarang, rohku adalah jiwa-Mu, Murshid, Master, Guru. (Dan pada saat itulah terjadi transmission, shaktipaat. Terjadi loncatan kuantum. Dalam sekejap, sang Murid memperoleh apa yang dimiliki oleh gurunya. Ia “ketularan” kesadaran Sang Murshid. Untuk itu, seorang murshid menggunakan berbagai cara untuk mengikis ego para muridnya. Kita melihat seorang Murid mencium kaki murshidnya, dan langsung berang: “Apaan tuh, masak seorang guru dikultuskan”. Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi pada saat-saat seperti itu. Kita tidak sadar bahwa kegerahan kita hanya membuktikan betapa kuatnya ego kita. Kita sendiri belum “mampu” menundukkan kepala. Ya tak apa. Tetapi, apa hak kita untuk mengomentari mereka yang sudah “mampu” melakukannya”). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)

 

Para Master Berjalan di Atas Samudra Kehidupan, Jangan Lewatkan Kesempatan!

Ajari aku cara berjalan di atas samudra kehidupan, O Tuhan. (Sang Maestro tidak ingin belajar. Ia tidak perlu “lagi” menyelami hidup. Berlayar dan penyelaman sudah pernah ia lakukan, entah berapa kali. Sekarang sudah tidak usah. Ia ingin berjalan diatas permukannya. Dan, sesungguhnya para wali, nabi, mesias, avatar, Buddha, murshid, memang hanya berjalan di atas permukaan hidup. Dunia, keduniawian, hidup dan kehidupan tidak membasahi jubah mereka. Mereka melewati pesta raya kehidupan. Keberadaan mereka disini hanya untuk sesaat. Oleh karena itu, saya tidak pernah berhenti meneriaki anda, bila bertemu dengan mereka, jangan menyia-nyiakan waktu. Berjalanlah bersama mereka. Bertekuk-lututlah untuk menghormati mereka. Cium tangan mereka. Kesempatan seperti itu datang hanya satu kali dalam satu masa kehidupan. Bila terlewatkan, ya sudah). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)