Archive for avatara

Amrita: Keabadian demi Ego Asura atau Pelayanan Dharma Dewa? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 14, 2017 by triwidodo

Tidak ada Dia yang Lain Kecuali Dia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia. Dengan kesadaran tersebut, kita membaca bahwa sesungguhnya yang sedang bermain, yang sedang membuat kisah adalah Dia. Yang membaca kisah ini pun sesungguhnya adalah Dia yang bersemayam dalaam tubuh kita.

 

Keluarnya racun dari samudera

 

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya. Penjelasan Bhagavad Gita 18:66  dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Setelah beberapa lama, Vasuki terengah-engah dan dari mulutnya keluar asap, para Asura yang memegang kepala tidak kuat. Vishnu kemudian datang sebagai hujan dan angin sepoi-sepoi yang membawa asap dari mulut Vasuki.

Semua makhluk merasa ditolong Gusti. Memang demikian. Tetapi bukan berarti hanya mereka sendiri yang dicintai dan ditolong-Nya. Dia tidak membeda-bedakan. Semuanya sejatinya adalah Dia, hanya mind-lah yang membuat merasa terpisah.

Samudra diaduk terus dan seakan-akan nampak sebagai susu.  Selanjutnya muncul racun Kalakuta (Halahala dalam bahasa Sanskerta). Udara menjadi beracun dan semua asura berlarian, para dewa pun pada tidak kuat. Dan para dewa kemudian memohon pertolongan Shiva, Sang Mahadewa. Sang Mahadewa melindungi mereka yang memohon dengan keyakinan kepadanya, Mahadewa menelan racun masuk kerongkongan dan tetap di lehernya. Sebuah perbuatan yang penuh kasih. Setetes racun jatuh dan menjadi rebutan ular, kalajengking, lipan dan binatang merayap lainnya.

 

Semua diperoleh dengan kerja keras bukan instan

Tiada seorang pun yang dapat membantumu…….. Hanyalah engkau sendiri yang dapat membantu diri! Pencerahan pun adalah hasil upaya sendiri, yang kemudian mengundang berkah. Ya, peran anugerah, berkah, grace memang ada. Tidak bisa dinafikan. Tapi turunnya berkah karena upaya. Upaya adalah yang mengundang berkah.

Tidak ada penyelamat yang menyelamatkan diri kita. Seorang Sadguru atau Pemandu Rohani sejati pun tidak bisa melakukan perjalanan mewakili kita. Kita mesti berjalan sendiri. Krsna pun hanya menunjukkan jalan, menjelaskan tantangan dalam perjalanan. Tapi semua itu mesti kita hadapi sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 4:36 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Gusti Narayana memberi petunjuk, tetapi para dewa dan asura lah yang melakukannya. Upaya para dewa dan asura dilengkapi dengan berkah Gusti Narayana membuahkan hasil. Berupaya keras dan memperoleh berkah itulah kunci keberhasilan. Dalam berupaya dengan keras pun selalu ada side-product, efek samping, “racun” yang tidak berguna dan kadang membayakan. Efek samping tersebut harus ditangani dengan baik oleh ahlinya.

Setelah  para dewa dan para asura kembali berupaya mengaduk, dan kemudian keluar Kamadhenu, Sapi Suci. Para rishi yang melakukan upacara Yajna membawanya. Dari susu sapi diperoleh ghee untuk keperluan upacara Yajna.

Selanjutnya Ucchaisrava, Kuda Sakti yang diminta raja asura Bali. Kemudian Gajah Airavata untuk Indra, raja dewa. Permata Kaustubha dipakai Vishnu. Pohon Parijata dan para Apsara semua diambil Indra.

Setelah itu keluar Lakshmi dan semuanya menginginkannya. Akan tetapi sesuai etika Lakshmi sendirilah yang akan memilih siapa yang akan diikutinya. Laksmi melihat para Asura masih keras dan mau menang sendiri. Para rishi pun, nampak belum menaklukkan kemarahan dan masih sering mengutuk. Guru Sukra  pun bijak tetapi masih belum mengetahui tentang ketidakterikatan. Candra tampan, akan tetapi belum menaklukkan nafsu. Indra penguasa, tetapi belum mampu menaklukkan keinginan.  Hanya Vishnu yang tidak menginginkannya. Dia telah melampaui Triguna. Lakshmi menjatuhkan pilihan untuk mengikuti Vishnu.

Silakan baca ulang kisah:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/08/23/dewi-sri-kemuliaan-dan-kemakmuran-menghampiri-para-pekerja-keras/

Keluarnya Amrita dari samudra

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita berikan kepada “cara berpikir” seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

LALU, APAKAH AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh. Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Terakhir keluar Dhanvantari membawa mangkuk berisi amrita. Para asura dengan cepat melepaskan Vasuki, alat itu sudah selesai digunakan, mengapa harus repot? Vasuki dilemparkan dan mereka merenggut mangkuk berisi amrita. Tiba-tiba terjadilah perebutan di antara para asura, siapakah yang berhak mencicipi amrita lebih dahulu. Berlomba dengan teman sendiri, merasa paling unggul di antara sahabat adalah sifat asura. Asura dominan sifat rajas, agresif, serakah dan ambisius.

 

Munculnya Rohini sangat jelita dan mempesona

Di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, “Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!”

Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi.

Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, “Subhanallah! Maha Suci Allah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tiba-tiba suasana mendadak hening, dan dalam keheningan tersebut muncul seorang wanita yang amat sangat jelita.  Para asura dan para dewa duduk bersimpuh di hadapan wanita jelita tersebut. Para asura ternganga dan langsung menyerahkan mangkuk berisi amrita, “Wahai bidadari jelita, kami yakin dikau bertindak adil, ambillah dan bagikan kepada kami menurut pendapatmu.” Para asura dan para dewa membentuk 2 baris dan si jelita berjalan di tengahnya.

Para asura tetap ternganga dan terpesona, padahal sambil jalan berlenggok, Dia menyendok amrita untuk para dewa di sisi lainnya. Lupa diri membuat para asura lalai, alpa. Mereka berpikir, “Huh, para dewa memang tidak bisa menghargai kecantikan yang belum pernah ada sebelumnya di permukaan bumi ini.”

Hanya asura Rahu yang waspada, yang paham keadaan dan segera menyamar sebagai dewa dan duduk di antara Surya dan Candra.  Rahu telah mendapatkan amrita. Wanita itu tahu tapi membiarkan saja. Baru setelah Surya dan Candra memberi tanda, maka leher Rahu dipotong olehnya. Kepala Rahu tetap abadi tetapi dia tidak punya tubuh.

Kejadian tersebut menyadarkan para asura, dan Mohini, sang wanita jelita, kembali mewujud sebagai Vishnu dan menghilang. Tindakan Surya dan Candra tersebut membuat marah Rahu, maka pada waktu tertentu dia akan menelan Surya dan Chandra. Akan tetapi ,pemberitahuan kepada Mohini telah menyelamatkan mereka, karena begitu mereka ditelan Rahu setelah sampai di leher mereka keluar lagi. Konon, itulah legendanya peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan yang hanya memakan waktu sebentar saja.

 

Kita dapat menarik pelajaran dari penggalan kisah ini bahwa:

Pertama, para asura telah bekerja lebih keras, karena ambisi dari mind, ego, mereka ingin mendapatkan keabadian demi kenyamanan fisik , kenyamanan materi, dan itu selaras dengan sifat rajas-agresif dalam diri mereka. Sedangkan para dewa lebih menginginkan penyelesaian tugas yang diamanahkan kepada mereka dapat terselesaikan secara baik dan untuk itu mereka memerlukan keabadian. Hal demikian selaras dengan sifat satvik-tenang yang dimiliki para dewa.

Kedua, para dewa mendapatkan amrita, mendapatkan keabadian, mereka melampaui pikiran tentang mati, yang mati itu fisik. Jiwa tidak mati, abadi. Asura tidak paham hal tersebut karena terlalu mengikuti pikirannya yang terperangkap dalam maya, hijab dunia. Bagi kita yang hidup, amrita mungkin semacam kesadaran bahwa kita ini adalah Jiwa, dan Jiwa tidak bisa mati. Mereka yang tidak sadar berkeinginan agar fisik kita abadi, masih mempunyai sifat asura dalam diri mereka.

Advertisements

Kurma Avatara: Mendukung Perjuangan Gigih Memperoleh Amrita #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 10, 2017 by triwidodo

Membaca ulang kisah Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Perang dahsyat yang pernah terjadi di medan perang Kuruksetra masih berlanjut, masih terjadi, tidak pernah tidak, atau setidaknya belum berhenti.

Perang disebabkan oleh Keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Kita boleh saja bicara tentang kedamaian, kita boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan dan kebencian akan selalu ada. Selama itu pula, perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari.

………………

Skenario keserakahan inilah landasan kisah Mahabharata. Kendati, Mahabharata tidak berhenti pada landasan tersebut. Lewat Bhagavad Gita, Mahabharata juga menawarkan solusi untuk memerdekakan kita dari belenggu keserakahan, dan belenggu-belenggu lainnya. Kata Pengantar Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dunia tidak berubah bukan hanya sejak zaman Mahabharata, akan tetapi sezak zaman Satya Yuga, awal kehidupan manusia pun sudah demikian. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Itulah sebabnya kami menyisipkan mutiara-mutiara Bhagavad Gita yang sesuai dengan alur kisah Srimad Bhagavatam.

Bali adalah cucu Prahlada, sebagai raja para asura. Dalam diri Bali mengalir genetik bijak dari kakeknya, Prahlada. Akan tetapi kebijakan tersebut masih bercampur dengan keterikatan dengan kelompok yang dipimpinnya. Bali beserta para asura perang beberapa kali melawan Indra beserta para dewa.

Dalam beberapa peperangan terakhir para dewa mengalami kekalahan. Sehingga mereka menghadap  Brahma dan kemudian mohon pertolongan dari Vishnu. Kita tahu bahwa para asura bertindak untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, sedangkan para dewa berkarya demi kepentingan seluruh makhluk. Sudah sewajarnya para dewa perlu hidup abadi (dalam ukuran waktu manusia) layaknya Brahma, agar semua makhluk memperoleh berkah dan bantuan para dewa.

Vishnu memberi petunjuk agar para dewa mengadakan gencatan senjata dengan para asura. Mereka perlu bekerjasama mengaduk samudera, untuk memperoleh amrita minuman penyebab keabadian.

Gunung Mandaragiri agar dijadikan alat pengaduk dan ular raksasa Vasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para dewa dan para asura memegang tali bersama untuk mengaduk samudra. Para dewa harus bekerja sama dengan para asura, tidak dapat bekerja sendiri.

Kita dapat menarik pelajaran, bahwa untuk mencapai tujuan yang tidak dapat dikerjakan sendiri, kita harus bergotong-royong, bekerjasama. Kedua, Yang Maha Kuasa tidak memberikan buah yang sudah matang dan instan untuk dimakan. Diperlukan upaya mematangkan buah, diperlukan upaya memproses yang gigih agar hasil tercapai.

Para asura di bawah pimpinan Bali setuju untuk mengadakan gencatan senjata dan bekerja sama demi mendapatkan amrita. Hanya saja, para dewa ingin mendapatkan amrita bagi keabadian penegakan dharma, sedangkan para asura ingin mendapatkan keabadian agar memperoleh kenikmatan indrawi tanpa berhenti. Sebagaimana yang terjadi dalam persaingan antara dua kelompok yang bekerjasama, mereka telah menyiapkan alternative plan untuk merebut amrita dari tangan pesaing.

 

Gusti bermain game di atas layar dunia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara para putra Aditi, Akulah Visnu – Sang Pemelihara Agung; matahari dan seterusnya…. Bhagavad Gita 10:21

Di antara para Dewa, Akulah Indra, Sang Pengendali indra; dan seterusnya… Bhagavad Gita 10:22

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga……..

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa.

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton! Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku

Penjelasan Bhagavad Gita di atas akan membuat kita membaca kisah Srimad Bhagavatam dengan cara baca yang berbeda. Kita kemudian menyadari bahwa di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia.

Awalnya, para dewa memegang kepala Vasuki yang membelit gunung dan ekornya dipegang para Asura. Para Asura tersinggung , merasa martabatnya direndahkan maka mereka meminta untuk memegang kepala. Para dewa menuruti kemauan para Asura.

Kendati sudah dipegang oleh para dewa dan para asura yang kuat, gunung tersebut tenggelam di samudra. Sang Pemelihara Alam mewujud sebagai kura-kura raksasa, Kurma Avatara. Bertindak sebagai penyangga di bawah gunung. Banyak yang tidak tahu mengapa gunung tersebut tidak tenggelam lagi. Akibatnya luar biasa,  semuanya merasa bersemangat, bekerja sama, bergotong-royong. Sesungguhnya, Dia lah yang merasuk ke semua pelaku dan membuat semua pelaku merasa bersemangat.  Dia adalah gairah yang berada dalam hati Gunung Mandaragiri. Dia adalah ketidaktahuan, sifat tamasa Vasuki. Dia juga merupakan sifat alami agresif, rajasika para asura. Dia juga adalah sifat satvika dewa.

Silakan baca kisah lanjutannya dalam Srimad Bhagavatam berikutnya…..

Avatara Narasimha: Wujud Narayana Pelindung Dharma #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 2, 2017 by triwidodo

Ketika adharma merajalela, maka Aku menjelma

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

Ini adalah sebuah janji yang bukan asal-bunyi. Janji ini memiliki dasar ilmiah yang dapat dipahami. KETIKA ADHARMA MERAJALELA — Ketika kebatilan dan ketidakadilan berkuasa, maka di manakah dharma, di manakah kebajikan dan keadilan? Apakah dharma, kebajikan dan keadilan, lenyap sama sekali? Apakah sirna? Apakah punah tanpa bekas?

Dharma adalah energi, adharma pun sama, energi. Dan, energi tidak pernah punah. Energi hanya berubah wujud saja. Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak.

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:7 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hiranyakasipu yang sangat cerdas minta kepada Brahma, bahwa tidak ada satu pun makhluk ciptaan Brahma yang dapat membunuhnya. Tidak ada hewan atau manusia yang dapat membunuhnya. Dia minta dia tidak akan mati di dalam rumah atau di luar rumah dan juga tidak bisa mati sepanjang siang dan sepanjang malam. Tidak mati di bumi atau di langit. Tidak ada satu pun senjata yang dapat membunuhnya. Dengan kesaktiannya, dia menaklukkan 3 dunia dan menghancurkan tempat-tempat pemujaan bagi Narayana. Para brahmana dikejar-kejar dan para pemuja Narayana hidup dalam ketakutan.

Hiranyakasipu yakin dengan janji Brahma, bahwa dia tidak mungkin mati oleh makhluk ciptaan Brahma. Hanya sang maharaja sangat galau bahwa putra bungsunya yang sakti adalah pemuja Narayana, musuh besarnya. Tapi dia yakin Prahlada, sang putra tidak akan mampu membunuhnya, karena sang putra pun termasuk ciptaan Brahma.

 

Puncak kemarahan Hiranyakasipu terhadap Prahlada

“Kama dan Krodha – nafsu keinginan yang tidak pernah terpenuhi, jika dilayani terus; dan, api amarah yang jika tidak segera dipadamkan, akan berkobar terus. Kedua-duanya adalah musuh utama manusia.

“Kama dan Krodha adalah dwi-tunggal – Walau dua kata, sesungguhnya kedua-duanya itu seperti Kembar-Siam – tidak terpisahkan. Dua-duanya muncul, lahir dari rahim Rajoguna sifat penuh gairah, nafsu berlebihan, sehingga manusia menjadi tidak tenang. Ia kehilangan kedamaiannya.

“Kedua sifat ini saling mendukung, saling menunjang. Sehingga, perlawanan kita terhadap mereka mesti mantap – full force, dengan seluruh kekuatan. Tidak bisa loyo, tidak bisa perlahan-lahan, tidak bisa alon-alaon, tidak bisa adem-ayem, tidak bisa santai…………….

Kenalilah sifat keinginan yang selalu tidak pernah puas. Dilayani terus, ia pun menagih terus. Seperti apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, “Dunia ini memiliki sumber yang cukup bagi seluruh warga dunia, semua orang – tapi tidak cukup untuk melayani keserakahan seorang pun.”

Ketika keinginan tidak terpenuhi, maka muncul amarah. Dan, amarah, sebagaimana kita ketahui adalah energi. Energi yang super dahsyat. Ketika energi ini tidak dibendung, tidak diarahkan dan digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, maka hasilnya adalah bencana, kerusakan, kebinasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 3:37 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hiranyakasipu sudah menguasai tiga dunia, akan tetapi dia tidak pernah puas, dia ingin menaklukkan Narayana. Karena belum ketemu, maka dia akan memusnahkan semua orang pemuja Narayana dan kali ini dia sangat marah pada Prahlada, putra bungsunya yang menjadi pemuja Narayana.

Prahlada ditanya teman-teman belajarnya dari mana dia memahami tentang Narayana, sedangkan mereka mempunyai guru yang sama. Prahlada menyampaikan bahwa pada saat ibunya sedang hamil dirinya, ibunya tinggal di rumah Rishi Narada yang setiap hari mendendangkan lagu-lagu pujian terhadap Narayana. Sejak di dalam kandungan dan kemudian lahir dirinya sudah memahami tentang Narayana dan baru setelah ayahnya selesai bertapa, dia kembali tinggal di istana.

Para gurunya melaporkan pembicaraan anak-anak tersebut kepada Hiranyakasipu yang kemudian menjadikan dia sangat marah, “Panggil Prahlada sekarang, aku akan membunuhnya bila dia masih saja berlindung di kaki Narayana yang tidak pernah nampak oleh penglihatan kita semua!”

Prahlada mendatangi ayahnya dan menangkupkan kedua telapak tangannya dan kemudian mengambil debu dari kakinya. Hiranyakasipu tidak tersentuh oleh tindakan Prahlada dan berteriak, “Kamu anak bodoh, kamu adalah putra raja yang berkuasa atas tiga dunia, apa pun yang kamu minta kepadaku pasti kukabulkan, akan tetapi kau tidak berlindung padaku, tetapi berlindung pada Narayana yang tidak nampak batang hidungnya. Sekarang kamu menjadi ancaman bagi bangsa asura. Batas kesabaranku telah habis, kamu akan kukirim ke tempat Yama!”

Prahlada berkata dengan tenang, “Ayahanda pasti menganggap  aku adalah seorang putra yang tidak baik. tetapi sebenarnya aku akan menyelamatkan ayahanda. Narayana adalah Hyang Maha Kuat, jauh lebih agung dibandingkan Brahma. Dunia diciptakan, dipelihara dan didaur-ulang olehnya. Narayana bukan musuhmu, adalah pikiranmu sendiri yang menjadi musuhmu. Ayahanda menuruti, tunduk dan bahkan menjadi budak dari pikiran ayahanda sendiri. Buktinya ayahanda masih takut bahwa aku menjadi pengganggu dan ancaman kekuasaan ayahanda. Ada rasa takut dalam diri ayahanda, sedang dalam diriku tidak ada rasa takut, karena aku tidak berlindung pada pikiranku, aku berlindung pada Dia yang menciptakan pikiranku, yang selalu membimbingku lewat rasa nuraniku.”

Hiranyakasipu memuncak kemarahannya dan berteriak, “Bila Narayana itu ada tunjukkan dia di mana!” Dan pada saat Prahrada menjawab bahwa Narayana ada di mana-mana Hiranyakasipu berteriak apakah Narayana juga berada di dalam tiang yang kokoh yang menyangga ruangan itu dan dia langsung memukul tiang tersebut hingga roboh. Dan, dari dalam tiang muncul wujud yang mengerikan, bukan manusia dan bukan binatang, bukan makhluk ciptaan Brahma. Wujud setengah manusia dan setengah binatang, kepalanya berbentuk seekor singa yang mengerikan dengan tubuh manusia sangat besar dan perkasa, Narasimha Avatara.

Hiranyakasipu menyerang Narasimha tetapi dengan amat mudah dia dikalahkan dan diangkat olehnya dan dipangku di tengah pintu. Hiranyakasipu tidak ingat permintaan dia kepada Brahma sewaktu bertapa. Hiranyakasipu tidak sadar bahwa dia tidak di dalam rumah dan tidak di luar rumah, saat itu senja, tidak siang dan tidak malam, dia dipangku Narasimha tidak di bumi atau tidak dilangit. Saat cakar Narasimha merobek dadanya sekelebat dia ingat saat dia menjadi penjaga istana Sri Vishnu, dan kemudian dikutuk Rishi Sanaka cs untuk lahir ke dunia menjadi musuh Narayana. Tiba-tiba dia ingat semuanya dan merasa damai, “Satu episode telah kuselesaikan…..” dan ruhnya menghilang di kaki Narasimha.

 

Prahlada, bhakta yang yakin pada kebijakan Narayana

Pencerahan menuntut pengorbanan. “aku” yang kecil ini harus melebur, menyatu dengan “Aku” Semesta. Niat kita, hasrat kita, kesiapan diri kita merupakan modal utama. Apabila Anda siap terjun ke dalam api penyucian, Ia Yang Maha Esa akan mempersiapkan api itu bagi Anda.

Apabila Anda siap meleburkan ego Anda, Ia Yang Maha Kuasa pun siap untuk menerima Anda. Allah, Tuhan, Widhi menggunakan berbagai cara untuk menguji kesiapan diri Anda. Semesta ini bagaikan unversitas terbuka, dimana Anda sedang menjalani program, sedang mempelajari seni kehidupan.

Bukan hanya mereka yang menyenangkan hati Anda, tetapi juga mereka yang melukai jiwa Anda, yang mencaci Anda, yang memaki Anda, sebenarnya diutus oleh Kebenaran untuk menguji kesiapan diri Anda. Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar.

Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Prahlada “trust” pada Narayana. Narayana adalah pelindungnya. Demikianlah saat diinjak kawanan Gajah liar, digigit ular beracun dia tetap dilindungi Narayana. Bahkan di saat terakhir Narayana sendiri yang turun tangan, mewujud sebagai Narasimha membunuh Hiranyakasipu.

Wujud mengerikan dari Avatara Narasimha menakutkan para dewa dan para asura, bahkan bumi bergolak dan samudra dan gunung-gunung menggigil. Para dewa kemudian menemui Lakshmi agar datang menenangkan Narayana, akan tetapi dia tidak berani melakukannya.

Brahma kemudian meminta Prahlada untuk menenangkan-Nya, dia mengatakan bahwa Narayana mewujud untuk melindungi bhakta terkasihnya. Prahlada bersujud dan menangis di kaki Narasimha dan mencuci kaki Narasimha dengan air matanya dan dia merasakan ada tangan lembut yang mengelus punggungnya. Tiba-tiba Prahrada dapat menyaksikan wajah Narayana yang sesungguhnya. Ada rasa keharuan dan takjub dan ia semakin tidak dapat membendung air matanya, “Duh Gusti, hamba adalah asura yang paling berbahagia karena telah mendapatkan anugerah untuk melihat wajah Gusti. Hamba berterima kasih atas pertolongan Gusti dan juga memohonkan ampun kejahatan ayah hamba, karena ketidaktahuannya tentang keagungan Gusti.

Narayana menjawab, “Semoga demikian. Sebab kamu telah dilahirkan dalam keluarga Hiranya, ayahmu dan dua puluh satu wujud yang berasal dari nenek moyangnya telah dibersihkan. Ia telah mencapai tempat pitri, leluhurmu. Adakan upacara untuknya. Dan ketahuilah semua keturunanmu akan mengasihi diri-Ku.”