Archive for bahagia

Bahagia itu Sikap Hidup #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on May 2, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang wanita berusia 92 tahun, mungil, berpenampilan menarik dan percaya diri, yang berpakaian lengkap setiap pagi pada pukul delapan, dengan rambutnya yang dikepang dan di tata rias sempurna, meskipun ia buta secara hukum, hari ini pindah ke panti jompo.

Suaminya baru saja meninggal dunia, dan dia merasa perlu pindah ke panti jompo.

Setelah berjam-jam menunggu dengan sabar di lobi panti jompo, dia tersenyum manis ketika petugas mengatakan bahwa kamarnya sudah siap. Saat dia mengarahkan alat berjalannya ke lift, petugas memberikan gambaran visual tentang kamar kecilnya.

“Saya menyukainya,” katanya dengan antusiasme seperti seorang anak berusia balita yang baru saja diberikan mainan.

“Nyonya Jones, kamu belum melihat ruangan … tunggu saja.”

“Itu tidak ada hubungannya dengan itu,” jawabnya. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang Anda putuskan sebelumnya. Apakah saya suka kamar saya atau tidak tergantung pada bagaimana perabotan diatur…… itulah cara saya mengatur pikiran saya.”

“Saya sudah memutuskan untuk menyukainya … Ini adalah keputusan yang saya buat setiap pagi ketika saya bangun. Saya punya pilihan; Saya dapat menghabiskan hari di tempat tidur menceritakan kesulitan yang saya miliki dengan bagian-bagian tubuh saya yang tidak lagi berfungsi, atau bangun dari tempat tidur dan bersyukur. Setiap hari adalah hadiah, dan selama mata saya terbuka, saya akan fokus pada hari baru dan semua kenangan indah yang telah saya simpan….. hanya untuk kali ini dalam hidup saya.”

Tumbuh lebih tua, dan semoga lebih bijak, seperti rekening bank. Anda menariknya dari apa yang telah Anda masukkan. Ketika Anda terus menyimpan di rekening bank kenangan, ingatlah rumusan sederhana ini untuk kehidupan yang damai dan menyenangkan:

Bebaskan hati Anda dari kebencian. Bebaskan pikiran Anda dari kekhawatiran. Hidup sederhana. Berikan lebih banyak. Kurangilah berharap.

Be Happy! Jadilah Bahagia dan Berkah bagi Dunia

Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi berkah bagi dunia.

Bertanyalah pada seekor kambing. Saya kira, dia tidak tahu bahagia itu apa. Selama masih bisa makan rumput dan hidup dalam kandang, ya bahagialah dia. Padahal, itu baru sebatas kenyamanan. Dia tidak dapat membedakan kebahagiaan dari kenyamanan.Bertanyalah kepada seekor keledai. Selama ada yang masih menyediakan makanan baginya, diapun tenang. Dan, ketenangan itu dianggapnya kebahagiaan. Kita manusia, dan kita memiliki kemampuan untuk membedakan kenyamanan sesaat dari kebahagiaan sejati.

Kepuasan dan ketenangan batin atau contentment dan inner peace adalah rasa puas dan tenang yang muncul dari kesadaran. Kita sadar bahwa keinginan tidak mengenal batas. Setiap keinginan yang terpenuhi menimbulkan kekecewaan. Karena itu, dengan penuh kesadaran kita membatasi keinginan kit. Saat itulah kita menjadi puas. Kala itulah kita menjadi tenang. Aman Sentosa.

Kunci kebahagiaan adalah kesadaran. Dengan kunci kesadaran itulah kita membuka pintu batin dan menemukan inner peace dan contentment yang dimaksud. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebahagiaan Sejati berada dalam Kesadaran Jiwa

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi.

……….

Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa. Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja. Penjelasan Bhagavad Gita 2:43 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Kebahagiaan dan Manusia Indonesia

Berikut adalah sebagian kutipan Artikel Bapak Anand Krishna Anand Krishna pada Radar Bali, Senin 26 November 2007:

Sumber: https://triwidodo.wordpress.com/tag/kebahagiaan/

Tuhan dan Uang – keduanya itulah yang membahagiakan Manusia Indonesia. Coba kita telusuri lebih lanjut dengan menggunakan sedikit rasio, sedikit intelejensia: Apa urusan kita dengan Tuhan, sehingga Ia dapat membahagiakan kita?

Ya, pertanyaan ini sungguh penting, sangat penting – supaya menjadi jelas “apanya” Tuhan yang membahagiakan kita? Saya berusaha untuk mencari jawaban dari orang-orang yang sebelumnya saya tidak kenal, supaya lebih objektif. Ternyata dugaan saya betul – umumnya kita berurusan dengan Tuhan karena Ia adalah Yang Maha Memberi.

Urusan kita dengan Tuhan pun bukanlah urusan cinta, bukanlah urusan kasih – tetapi perkara materi murni. Kita berdoa, kita menjalankan ritus-ritus keagamaan, bahkan kita beragama – hanya karena Tuhan adalah Hyang Maha Memberi segala apa yang kita butuhkan, Hyang Maha Mendengar segala macam keluhan kita, Hyang Maha Memenuhi segala macam keinginan kita, Hyang Maha Menyelesaikan segala macam perkara kita.

Barangkali kita tidak akan berurusan dengan Tuhan bila Ia adalah Hyang Maha Menegur dan Maha Menjewer kuping ketika kita berbuat salah. Kita lebih suka dengan atribut-atribut Tuhan seperti Hyang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Jelas, kita tidak mau ditegur dan dijewer kuping kita.

Berarti, Tuhan yang Membahagiakan kita adalah Tuhan yang Memenuhi segala macam kebutuhan, bahkan keinginan materi kita. Dan, tidak pernah menegur, apalagi menghakimi dan menghukum kita. Keberagamaan kita sepenuhnya, 100 persen adalah urusan materi murni!

Tuhan dan Uang Membahagiakan kita…..

Sesungguhnya, yang kita maksud adalah: Tuhan yang menyediakan Uang dan Uang itu sendiri yang membahagiakan kita. Berarti, kebahagiaan manusia Indonesia sepenuhnya datang dari Uang, dari Materi.

Tidak heran, bila politisi senior kita menganggap perolehan suara di pemilu sebagai rejeki. Tidak heran pula bila kita tidak pernah lupa mengucapkan syukur kepada Hyang Maha Kuasa ketika meraih kekuasaan. Dari olahragawan hingga rohaniwan – semuanya mengharapkan materi dari Tuhan.

Nabi Isa pernah mengingatkan kita: “Carilah Dia, maka segala sesuatu yang lain akan ditambahkan kepadamu.”

Kita mencari Dia, supaya memperoleh segala sesuatu.

Sama-sama mencari, tetapi lain pencaharian Sang Nabi dan lain pencaharian kita. Sang Nabi tidak mencari untuk memperoleh sesuatu. Kita mencari dengan tujuan jelas untuk memperoleh sesuatu.

Dikutip dari Artikel Bapak Anand Krishna: Kebahagiaan dan Manusia Indonesia,  pada Radar Bali, Senin 26 November 2007:

Advertisements

Bahagia atau Sengsara Adalah Pilihan Kita? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 19, 2018 by triwidodo

Seorang mistik Sufi yang tetap bahagia sepanjang hidupnya – tidak ada yang pernah melihatnya tidak bahagia – dia selalu tertawa, yang tertawa, seluruh hidupnya penuh perayaan…. Di masa tuanya, ketika dia sekarat, di ranjang kematiannya dan masih menikmati kematian, tertawa dengan riang, seorang muridnya bertanya, “Guru membingungkan kita. Sekarang Guru sekarat, kenapa masih tertawa? Apa ada yang lucu? Kami merasa sangat sedih. Kami ingin bertanya berkali-kali mengapa Guru tidak pernah bersedih. Menghadapi kematian, setidaknya seseorang harus bersedih. Guru masih tertawa – bagaimana Guru mengelolanya?”

Orang tua itu berkata, “Ini sederhana. Saya telah bertanya kepada Master saya – saya telah pergi ke Master saya sebagai pemuda; Saya baru tujuh belas tahun dan dalam keadaan menderita, dan Master saya sudah tua, tujuh puluh tahun, dan dia duduk di bawah pohon, tertawa tanpa alasan sama sekali. Tidak ada orang lain di sana, tidak ada yang terjadi, tidak ada yang melontarkan lelucon atau apa pun, dan dia hanya tertawa, memegangi perutnya. Saya bertanya kepadanya, apa yang terjadi dengan Master?”

Dia berkata, “Suatu hari saya juga sama sedihnya dengan kamu. Kemudian saya sadar bahwa bahagia  itu adalah pilihan saya, ini adalah hidup saya.”

Sejak hari itu, setiap pagi ketika aku bangun, hal pertama yang kuputuskan adalah … sebelum aku membuka mataku, aku berkata pada diriku sendiri, “Abdullah – itu adalah namanya – apa yang kamu inginkan? Penderitaan? Kebahagiaan? Apa yang akan kaupilih hari ini? Dan saya selalu memilih kebahagiaan.”

Itu adalah sebuah pilihan. Cobalah. Ketika kau menjadi sadar saat pertama di pagi hari, saat bangun tidur, tanyakan pada diri Anda, “Abdullah, ini hari lain! Apa ide Anda? Apakah Anda memilih Sengsara atau Bahagia?”

Dan siapa yang memilih kesengsaraan? Dan mengapa? Hal ini sangat tidak alami – kecuali seseorang merasa bahagia dalam kesengsaraan. Tetapi kemudian Anda juga memilih kebahagiaan, bukan kesengsaraan. Dikisahkan oleh Osho…………………

Bahagia dan Derita adalah Pilihan Bebas Kita

Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi Berkah bagi dunia.

Be Joyful and Share Your Joy with Others- Jadilah Bahagia dan Bagilah Kebahagiaan. Tidak ada yang melarang kita untuk menjadi bahagia. Tidak ada yang bisa. Jadilah bahagia, sekarang dan saat ini juga, karena saat ini adalah saat kita , untuk menjadi bahagia dan berbagi kebahagiaan.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Uang Tetap Penting tetapi Bukan Segalanya

Mengutamakan “kebahagiaan” tidak berarti bahwa uang tidak penting. Uang tetap penting, tetapi uang bukanlah segalanya. Bila uang dapat membahagiakan, semestinya orang kaya tidak pernah menderita, walaupun sakit. Ternyata tidak dernikian. Orang sakit, tak peduli kaya atau miskin, tetap saja menderita.

Ketika seseorang jatuh sakit, harta seberapa pun tidak dapat membahagiakannya. Pada saat itu, kesehatanlah yang dibutuhkannya, dan kesehatan tidak dapat dibeli dengan uang. Uang hanya dapat membeli obat-obatan. Uang hanya dapat memastikan bahwa si kaya memperoleh bantuan medis yang terbaik, namun semuanya itu tetap tidak menjamin pemulihan kesehatan.

Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan uang. Adakah kita mengajarkan hal ini kepada anak-anak kita? Seorang anak yang ingin menjadi dokter ditanya “kenapa?”. Dengan enteng ia menjawab, “Supaya jadi kaya dan bisa beli mobil besar.” Idolanya adalah dokter keluarga yang memang memiliki mobil besar, rumah besar… dan barangkali juga kepala besar!

Idola anak-anak kita adalah para selebriti, bintang film dan sinetron yang serba wuaah. Idola mereka adalah para politikus dan pejabat, bukan karena mereka adalah pelayan dan pengabdi masyarakat, tetapi karena mereka memiliki banyak uang.

Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Para responden di Inggris menjawab “Ya”. Dan, lebih dari 50% mengharapkan bahwa sistem pendidikan harus berorientasi pada kebahagiaan, bukan pada kekayaan.

Berarti, sejak usia dini anak-anak kita sudah harus diperhatikan supaya tidak keluar dari jalur, supaya tidak menempatkan kekayaan, uang, dan harta di atas segalanya. Orientasi sistem pendidikan kita sudah saatnya diubah.

………….

Kenikmatan indriawi membutuhkan pemicu di luar. Telinga membutuhkan suara yang disenanginya. Hidung membutuhkan aroma pilihan. Mata ingin melihat tayangan yang mengasyikkan. Lidah ingin mencecap sesuatu yang enak. Dan, kulit kita ingin diraba, dielus-elus. Dan, untuk semuanya itu materi memang dibutuhkan.

Kenyamanan jasmani pun membutuhkan materi. Jangankan ranjang yang empuk, untuk ranjang biasa saja kita membutuhkan fulus. Lalu, apakah kenikmatan indra dan kenyamanan jasmani itu tidak panting? Penting juga! Kita hanya perlu menyadari bahwa semuanya itu “tidak dapat” membahagiakan. Silakan memanjakan diri dengan segala macam sarana yang dapat membuat tubuh nyaman dan memberi kenikmatan pada indra. Tidak ada yang salah dengan semuanya itu, asal kita ingat bahwa sarana-sarana itu tidak Ianggeng, tidak kekal, tidak abadi sehingga tidak dapat membahagiakan manusia untuk selamanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kesadaran Jiwa Membawa Kebahagian Sejati

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi. Bahkan, surga– mereka pun penuh dengan sarana-sarana kenikmatan indrawi, seolah “di sana” pun kita akan tetap berkaki-tangan, berkelamin, seperti “di sini”.

Bayangan kita tentang surga adalah cerminan dari keinginan-keinginan di dalam diri, keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi. Jika di sini punya pasangan yang menginjak dan menindas, maka kita akan berkhayal tentang surga yang memiliki jumlah pelayan tidak terhitung dan semuanya masih muda belia sehingga kita berharap tidak akan mengalami penindasan seperti di sini.

Ada pula yang berkarya, beramal saleh dengan pengertian membayar premi asuransi bagi reinkarnasi yang lebih baik – Lagi-lagi urusannya adalah kenikmatan indrawi. Lagi-lagi, urusannya adalah kebendaan.

Dengan berkesadaran Jiwa, kita tidak perlu menunggu mati untuk masuk surga. Dengan Kesadaran Jiwa, kita dapat mengubah hidp kita menjadi surgawi, dalam pengertian penuh kenikmatan Jiwani yang adalah esensi surga. Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa.

Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja. Penjelasan Bhagavad Gita 2:43 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Hidup Berkesadaran Menuju Kebahagiaan Sejati

Hidup Berkesadaran adalah Hidup Meditatif. Hidup Berkesadaran berarti hidup dengan penuh keyakinan bahwa kita adalah Jiwa, bukan badan, bukan indra. Kemudian, hidup yang demikian itulah yang membuahkan Samādhi, keseimbangan, di mana kita bisa melampaui segala dualitas, segala pengalaman suka-duka, panas-dingin, senang-susah, dan sebagainya. Adapun, hanyalah setelah itu, kita meraih Kebahagiaan Sejati atau Ānanda yang kekal, abadi. Penjelasan Bhagavad Gita 2:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Setiap Orang Ingin Bahagia? Kisah Anak Sapi dan Para Gopi Sri Krishna

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 13, 2016 by triwidodo

buku narada bhakti sutra anand ashram ubud

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Ada kisah menarik tentang Krishna. Diceritakan bahwa beliau memiliki 16,000 pacar, para Gopi. Sesungguhnya hubungan Krishna dengan para Gopi adalah hubungan Kasih. Saat itu, Krishna baru berusia 10-11 tahun, sementara para Gopi rata-rata diatas usia 16 tahun. Gopi berarti Cow-girl. Bukan Cowboy tetapi Cowgirl!

Krishna sendiri disebut Gopal — Pelindung Sapi. Dalam tradisi Hindu, sapi dianggap sebagai hewan yang paling jinak, dan kejinakan itu yang dilindungi Krishna.

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

Para Gopi disebut-sebut sebagai reinkarnasi para pertapa yang telah mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu, tetapi belum mencicipi manisnya kasih. Mereka lahir kembali untuk menyelesaikan “skripsi”. Untuk mcngikuti “semester terakhir”. Sungguh beruntung mereka, karena Krishna menjadi dosen pembimbing mereka.

Sebelumnya, mereka hidup dalam masa yang berbeda. Setelah meninggalkan badan, di alam “transit” sana, mereka janjian, “Ada yang masih kurang nih. . .. Kembali yuk!”

Dan mereka menunggu lama sampai “berita” kelahiran Krishna. Mereka mendengar bahwa akan lahir scorang Avatar. Seseorang yang sudah mencapai Kesadaran Tertinggi dan balik lagi atas Kemauan-Nya “Sendiri”.  Jangan lupa bahwa “Sendiri” orang semacam itu tidak sama dengan “sendiri kita”. Seperti juga “Aku” dia tidak sama dengan “aku kita”.

Ibarat para siswa, pertapa-pertapa itu menunggu kedatangan seorang Dosen Favorit. Sengaja mereka memilih lahir lebih awal, karena “informasi” yang mereka miliki, bahwa Krishna akan menjadi sangat sibuk. ]adi, antre duluan.

Dikisahkan, setiap kali Krishna memainkan serulingnya, para Gopi akan mengerumuni dia. Pagi, siang, sore, malam, kapan saja, bunyi seruling akan menarik mereka ke tepi sungai Yamuna, dimana Krishna selalu menunggui kedatangan mereka.

Pada suatu hari, para Gopi melihat seekor anak sapi tergeletak di tepi sungai Yamuna. Ternyata sudah tidak bernyawa. Mereka merasa kasihan: “Krishna, biarlah dia hidup kembali.”

Krishna menanggapi mereka, “Dia sudah mati. Bagaimana bisa dihidupkan kembali?”

“Apa susahnya bagimu, Krishna? Kira pernah melihatmu mengangkat bukit Govardhana dengan jari kelingkingmu. Sekian banyak mukjizat yang terjadi setiap saat. Apa sulitnya menghidupkan kembali seekor anak sapi?”

Dan mereka betul. Banyak keajaiban yang terjadi sekitar Krishna. Tuntutan mereka, permohonan mereka tidak berlebihan. Masih segar dalam ingatan, ketika Krishna melarang mereka untuk memuja Dewa Indra, “Para Dewa hanya menjalankan Perintah Dia Yang Maha Esa. Cukup menghormati mereka. Tidak perlu menyembah. Tidak perlu memuja.”

Dewa Indra marah. Dia sudah terbiasa dipuja dan dihormati…. Sekarang, tiba-tiba….. Itu pun gara-gara seorang anak yang masih ingusan. Dan turunlah hujan serta angin kencang. Warga Gokula kehilangan tempat tinggal. Krishna tetap tenang. Dengan jari kelingkingnya dia mengangkat Bukit Govardhana, “Ayuk, berlindunglah di bawah payung raksasa ini.”

Dan Dewa Indra pun sadar, “Engkau bukanlah anak biasa. Maafkan aku. Maafkan kesombonganku. Aku sempat lupa bahwa kekuatanku, kekuasaanku — semuanya pemberian Dia. . ..”

Para Gopi mendesak Krishna, “Ayuk Krishna hidupkan anak sapi ini.”

“Baiklah, bila kalian mendesak, anak sapi itu akan kuhidupkan kembali, tetapi  dengan syarat.”

“Apa syaratnya, Krishna?” tanya mcreka.

“Salah seorang di antara kalian harus mengungkapkan isi hatinya dengan jujur. Dia harus menjawab pertanyaanku.”

“Apa lagi, Krishna, pertanyaan apa yang harus kami jawab?”

What do you desire the most? Apa yang kalian inginkan? jawaban tepat dan jujur akan menghidupkan kembali anak sapi ini.”

Satu per satu, mereka maju ke depan untuk menjawab pertanyaan Krishna. Dan jawaban mereka hampir sama, ”Aku menginginkan kamu, Krishna.” Anak sapi tetap tidak bernyawa. Tidak hidup kembali.

Maka seorang Gopi memberanikan diri: “Krishna, yang terbayang saat ini adalah perhiasan leher milik tetanggaku. Mungkin itu yang kuinginkan.”

Memang tidak terjadi sesuatu pun pada anak sapi, tetapi yang lain makin berani, makin jujur: “Atap rumahku bocor. Yang terpikir saat ini adalah perbaikan atap rumah. Aku membutuhkan seorang  tukang, Krishna.”

Krishna tersenyum, “Ternyata keinginan kalian beragam. Tidak seragam. Aneh, anak sapi ini masih tidak hidup kcmbali. Mungkin kalian sudah cukup jujur, tetapi masih kurang tepat.”

Sisa tiga Gopi. . . .

Savitri mengatakan: “Krishna aku mencintaimu. Dan aku tahu kamu pun mencintaiku. Lalu apa lagi yang harus kuinginkan?”

Anak sapi tetap tidak bergerak.

Radha berdiri persis di belakang Savitri. Gilirannya untuk menjawab, tetapi dia malah mendorong Janaki. Krishna melihat hal itu, “Tidak Radha, jangan mendesak Janaki. Kamu dulu. …”

Jawaban Radha sungguh manis, “Krishna, biarlah wujudmu dan wujudku sirna. Kasih di antara kita tak akan punah. Itulah keyakinanku. Itu pula keinginanku.”

Tetapi, anak sapi masih saja tergeletak tak bernyawa seperti semula.

Terakhir Janaki, “Setiap orang ingin bahagia. Kebahagiaan — itulah keinginan tunggal manusia.”

Dan, anak sapi itu langsung hidup.

Radha marah…. sekaligus iri. Selama itu dia merasa dirinya sangat dekat dengan Krishna. Kesayangan Krishna. “Jangan-jangan Janaki mengambil kedudukanku,” pikir dia. Dia berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya, tetapi tidak bisa, “Krishna, aku bingung …. ..”

“Kenapa Radha. Kenapa bingung?”

“Jawaban Janaki tadi menghidupkan kembali anak sapi yang sudah mati. . . .  Apa iya, keinginan tunggal setiap orang adalah kebahagiaan diri?”

Krishna mengajak Radha untuk merenungkan, “Ada yang menginginkan aku. Untuk apa? Karena aku membahagiakan dia. Kamu sendiri menginginkan wujudmu dan wujudku sirna. Kenapa? Karena kamu yakin bahwa cinta di antara kita tak akan punah. Ada wujud atau tidak, tidak menjadi soal.”

Radha diam, merasa tersanjung.

“Renungkan, Radha. Tidak adanya wujud ini tidak menjadi soal bagi siapa? Jelas bagimu saja. Bagaimana dengan para Gopi yang lain? Tahukah kamu isi hati mereka? Keinginan mereka? Yakinkah kamu bahwa mereka tidak menginginkan kedekatan dengan wujud ini?”

Radha diam, kini dia tahu ke arah mana pembicaraan itu akan berakhir.

“Kamu tidak memikirkan mereka. Kamu hanya memikirkan diri sendiri. Karena dirimu sudah  melampaul kesadaran jasmam, kamu menginginkan wujudku sirna bersama wujudmu. Bagaimana dengan mereka yang masih belum bisa melampaui kesadaran jasmani? Bagaimana dengan mereka yang masih membutuhkan wujudku yang satu ini?”

Radha baru menyadari kesalahannya. Dan ikut sadar bersama dia, para Gopi yang lain. Betul — yang dicari-cari dan diinginkan oleh setiap manusia adalah kebahagiaan diri. Dan, demi kebahagiaan diri, kita sering lupa memikirkan kebahagiaan orang lain.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) hal 108-113

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2