Archive for be happy

Kebahagiaan Ada Dalam Diri dan Kita Mencarinya di Luar

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 9, 2019 by triwidodo

Tempat Paling Aman Terhadap Pencuri Yang Mengikuti

Seorang Master berkisah tentang seorang pedagang kaya yang sedang pergi ke kuil suci. Seorang pencuri mengikuti sang pedagang untuk mencari saat lengah untuk mengambil dompet sang pedagang. Sang pencuri menjadi teman sang pedagang dan mereka tidur bersama di ruang aula kuil tersebut.

Ketika semua orang tertidur lelap termasuk sang pedagang, sang pencuri bangkit dan mencari dompet sang pedagang di mana-mana di sekitar diri sang pedagang.

Keesokan harinya, sang pencuri yang ingin tahu dompet sang pedagang ditaruh di mana, bertanya kepada sang pedagang, “Banyak hal dapat terjadi di tempat ini, saya harap Anda bisa menyimpan dompet Anda baik-baik.”

Pedagang itu menjawab, “Terima kasih, tadi malam saya menyimpan dompet saya di bawah bantal Anda. Silakan lihat, betapa amannya.” Demikian kata sang pedagang sambil mengambil dompet di bawah bantal sang pencuri.”

Dikatakan Tuhan seperti pedagang tersebut, dia menempatkan dompet kebahagiaan sejati dalam diri manusia. Akan tetapi manusia tidak mengetahui dan mencarinya di mana-mana di luar dirinya.

Be Happy

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi berkah bagi dunia. “Sikap santai” terkait dengan kenyamanan tubuh, kenyamanan sesaat, karena tubuh itu sendiri bersifat temporer dan tak dapat bertahan untuk selamanya. Selain itu, apa yang dapat membuat Anda santai untuk sesaat atau dua saat belum tentu membuat saya santai.Pertanyaan saya: Apakah semuanya itu membahagiakan?

Bertanyalah pada seekor kambing. Saya kira, dia tidak tahu bahagia itu apa. Selama masih bisa makan rumput dan hidup dalam kandang, ya bahagialah dia. Padahal, itu baru sebatas kenyamanan. Dia tidak dapat membedakan kebahagiaan dari kenyamanan.Bertanyalah kepada seekor keledai. Selama ada yang masih menyediakan makanan baginya, diapun tenang. Dan, ketenangan itu dianggapnya kebahagiaan. Kita manusia, dan kita memiliki kemampuan untuk membedakan kenyamanan sesaat dari kebahagiaan sejati.

 

Polling yang diadakan di Inggris pada tahun 1957 menyatakan bahwa 52% di antara para responden merasa sudah cukup bahagia. Sementara itu, pada tahun 2007, hanya 36% yang merasa bahagia. Padahal, dalam 50 tahun terakhir penghasilan orang-orang Inggris telah meningkat hingga 3 kali lipat. Mengutamakan kebahagiaan tidak berarti bahwa uang tidak penting. Uang tetap penting, tetapi uang bukanlah segalanya. Bila uang dapat membahagiakan, semestinya orang kaya tidak pernah menderita, walaupun sakit. Ternyata tidak demikian. Orang sakit, tak peduli kaya atau miskin, tetap saja menderita. Uang hanya dapat membeli obat-obatan. Uang hanya memastikan si kaya memperoleh bantuan medis yang terbaik, namun tidak menjamin pemulihan kesehatan.

 

Faktor-faktor membahagiakan menurut polling BBC:

1         Relasi.

2         Kesehatan.

3         Ketenangan batin dan kepuasan.

 

Kepuasan dan ketenangan batin atau contentment dan inner peace adalah rasa puas dan tenang yang muncul dari kesadaran. Kita sadar bahwa keinginan tidak mengenal batas. Setiap keinginan yang terpenuhi menimbulkan kekecewaan. Karena itu, dengan penuh kesadaran kita membatasi keinginan kit. Saat itulah kita menjadi puas. Kala itulah kita menjadi tenang. Aman Sentosa.

 

Kunci kebahagiaan adalah kesadaran. Dengan kunci kesadaran itulah kita membuka pintu batin dan menemukan inner peace dan contentment yang dimaksud. Harga diri – inilah pemicu yang dibutuhkan. Selama ini kita tidak bahagia, kita mencari kebahagiaan di luar, karena kita tidak pernah menghargai diri sendiri. Justru keadaan dan benda-benda di luarlah yang kita hargai.  Bekerja keras dan puaslah dengan apa yang kita peroleh. Janganlah kecewa bila apa yang kita peroleh tidak sesuai dengan harapan.

 

Harapan adalah sebuah nilusi. Harapan adalah khayalan. Apa yang kita peroleh adalah kenyataan. Janganlah menukar kenyataan dengan khayalan.  Nabi Isa pernah meningatkan kita. Carilah Dia, maka segala sesuatu yang lain akan ditambahkan kepadamu. Maksudnya carilah Dia, dan tidak perlu pusing dengan segala yang lain karena yang lain itu dengan sendirinya akan terpenuhi.

Kita membalikkannya. Karena kita menginginkan segala sesutu tambahan itu, kita memanfaatkan Dia agar memenuhi keinginan kita akan segala tambahan itu. Kita sesungguhnya menginginkan semua tambahan itu, kita pun mencari Dia supaya memperoleh segala sesuatu. Shift awareness inilah yang membahagiakan. Seorang pecandu, pemabuk, perokok dan orang gila merasa bahagia ketika ia mengalami shift of awareness, ketika ia melampaui kesdaran jaga dan memasuki kesadaran yang lain. Saat terjadinya shift awareness itulah yang membahagiakan.

 

Marilah kita mencari kebahagiaan sejati yang langgeng nan abadi lewat shift awareness yang terjadi bukan sesaat saja, tetapi untuk selamanya. Berarti shifting awareness yang kita rasakan mesti berlanjut untuk waktu yang lama.  Jalan menuju kebahagiaan sesungguhnya lurus dan tanpa liku. Kekacauan pikiran kitalah yang menciptakan halangan, rintangan dan liku. Kekacauan tidak perlu dilawan, hanya perlu dipahami sebagai kekacauan, kemudian dilampaui. Saat menghadapi kebuntuan ambillah jalur alternatif.

 

Kesimpulan pertama: ketertutupan adalah penghalang utama. Dengan membuka wawasan, memperluas pandangan, terbukalah apa yang selama ini tertutup.

 

Kesimpulan kedua: ketertutupan mematikan kreativitas. Hilangnya kreativitas itulah penghalang kedua.

 

Kesimpulan ketiga: ada jenis persahabatan dan/atau lingkungan yang tidak menunjang.

Sumber: (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Bahagia itu Sikap Hidup #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on May 2, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang wanita berusia 92 tahun, mungil, berpenampilan menarik dan percaya diri, yang berpakaian lengkap setiap pagi pada pukul delapan, dengan rambutnya yang dikepang dan di tata rias sempurna, meskipun ia buta secara hukum, hari ini pindah ke panti jompo.

Suaminya baru saja meninggal dunia, dan dia merasa perlu pindah ke panti jompo.

Setelah berjam-jam menunggu dengan sabar di lobi panti jompo, dia tersenyum manis ketika petugas mengatakan bahwa kamarnya sudah siap. Saat dia mengarahkan alat berjalannya ke lift, petugas memberikan gambaran visual tentang kamar kecilnya.

“Saya menyukainya,” katanya dengan antusiasme seperti seorang anak berusia balita yang baru saja diberikan mainan.

“Nyonya Jones, kamu belum melihat ruangan … tunggu saja.”

“Itu tidak ada hubungannya dengan itu,” jawabnya. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang Anda putuskan sebelumnya. Apakah saya suka kamar saya atau tidak tergantung pada bagaimana perabotan diatur…… itulah cara saya mengatur pikiran saya.”

“Saya sudah memutuskan untuk menyukainya … Ini adalah keputusan yang saya buat setiap pagi ketika saya bangun. Saya punya pilihan; Saya dapat menghabiskan hari di tempat tidur menceritakan kesulitan yang saya miliki dengan bagian-bagian tubuh saya yang tidak lagi berfungsi, atau bangun dari tempat tidur dan bersyukur. Setiap hari adalah hadiah, dan selama mata saya terbuka, saya akan fokus pada hari baru dan semua kenangan indah yang telah saya simpan….. hanya untuk kali ini dalam hidup saya.”

Tumbuh lebih tua, dan semoga lebih bijak, seperti rekening bank. Anda menariknya dari apa yang telah Anda masukkan. Ketika Anda terus menyimpan di rekening bank kenangan, ingatlah rumusan sederhana ini untuk kehidupan yang damai dan menyenangkan:

Bebaskan hati Anda dari kebencian. Bebaskan pikiran Anda dari kekhawatiran. Hidup sederhana. Berikan lebih banyak. Kurangilah berharap.

Be Happy! Jadilah Bahagia dan Berkah bagi Dunia

Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi berkah bagi dunia.

Bertanyalah pada seekor kambing. Saya kira, dia tidak tahu bahagia itu apa. Selama masih bisa makan rumput dan hidup dalam kandang, ya bahagialah dia. Padahal, itu baru sebatas kenyamanan. Dia tidak dapat membedakan kebahagiaan dari kenyamanan.Bertanyalah kepada seekor keledai. Selama ada yang masih menyediakan makanan baginya, diapun tenang. Dan, ketenangan itu dianggapnya kebahagiaan. Kita manusia, dan kita memiliki kemampuan untuk membedakan kenyamanan sesaat dari kebahagiaan sejati.

Kepuasan dan ketenangan batin atau contentment dan inner peace adalah rasa puas dan tenang yang muncul dari kesadaran. Kita sadar bahwa keinginan tidak mengenal batas. Setiap keinginan yang terpenuhi menimbulkan kekecewaan. Karena itu, dengan penuh kesadaran kita membatasi keinginan kit. Saat itulah kita menjadi puas. Kala itulah kita menjadi tenang. Aman Sentosa.

Kunci kebahagiaan adalah kesadaran. Dengan kunci kesadaran itulah kita membuka pintu batin dan menemukan inner peace dan contentment yang dimaksud. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebahagiaan Sejati berada dalam Kesadaran Jiwa

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi.

……….

Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa. Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja. Penjelasan Bhagavad Gita 2:43 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Kebahagiaan dan Manusia Indonesia

Berikut adalah sebagian kutipan Artikel Bapak Anand Krishna Anand Krishna pada Radar Bali, Senin 26 November 2007:

Sumber: https://triwidodo.wordpress.com/tag/kebahagiaan/

Tuhan dan Uang – keduanya itulah yang membahagiakan Manusia Indonesia. Coba kita telusuri lebih lanjut dengan menggunakan sedikit rasio, sedikit intelejensia: Apa urusan kita dengan Tuhan, sehingga Ia dapat membahagiakan kita?

Ya, pertanyaan ini sungguh penting, sangat penting – supaya menjadi jelas “apanya” Tuhan yang membahagiakan kita? Saya berusaha untuk mencari jawaban dari orang-orang yang sebelumnya saya tidak kenal, supaya lebih objektif. Ternyata dugaan saya betul – umumnya kita berurusan dengan Tuhan karena Ia adalah Yang Maha Memberi.

Urusan kita dengan Tuhan pun bukanlah urusan cinta, bukanlah urusan kasih – tetapi perkara materi murni. Kita berdoa, kita menjalankan ritus-ritus keagamaan, bahkan kita beragama – hanya karena Tuhan adalah Hyang Maha Memberi segala apa yang kita butuhkan, Hyang Maha Mendengar segala macam keluhan kita, Hyang Maha Memenuhi segala macam keinginan kita, Hyang Maha Menyelesaikan segala macam perkara kita.

Barangkali kita tidak akan berurusan dengan Tuhan bila Ia adalah Hyang Maha Menegur dan Maha Menjewer kuping ketika kita berbuat salah. Kita lebih suka dengan atribut-atribut Tuhan seperti Hyang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Jelas, kita tidak mau ditegur dan dijewer kuping kita.

Berarti, Tuhan yang Membahagiakan kita adalah Tuhan yang Memenuhi segala macam kebutuhan, bahkan keinginan materi kita. Dan, tidak pernah menegur, apalagi menghakimi dan menghukum kita. Keberagamaan kita sepenuhnya, 100 persen adalah urusan materi murni!

Tuhan dan Uang Membahagiakan kita…..

Sesungguhnya, yang kita maksud adalah: Tuhan yang menyediakan Uang dan Uang itu sendiri yang membahagiakan kita. Berarti, kebahagiaan manusia Indonesia sepenuhnya datang dari Uang, dari Materi.

Tidak heran, bila politisi senior kita menganggap perolehan suara di pemilu sebagai rejeki. Tidak heran pula bila kita tidak pernah lupa mengucapkan syukur kepada Hyang Maha Kuasa ketika meraih kekuasaan. Dari olahragawan hingga rohaniwan – semuanya mengharapkan materi dari Tuhan.

Nabi Isa pernah mengingatkan kita: “Carilah Dia, maka segala sesuatu yang lain akan ditambahkan kepadamu.”

Kita mencari Dia, supaya memperoleh segala sesuatu.

Sama-sama mencari, tetapi lain pencaharian Sang Nabi dan lain pencaharian kita. Sang Nabi tidak mencari untuk memperoleh sesuatu. Kita mencari dengan tujuan jelas untuk memperoleh sesuatu.

Dikutip dari Artikel Bapak Anand Krishna: Kebahagiaan dan Manusia Indonesia,  pada Radar Bali, Senin 26 November 2007: