Archive for bhakta

Para Suci Lebih Sakti Dari Pada Vishnu? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 24, 2018 by triwidodo

Narada, seorang Rishi yang bijaksana, berziarah ke istana Dewa Vishnu. Pada suatu malam ia singgah di sebuah desa dan diterima dengan baik oleh sepasang suami-isteri yang miskin. Sebelum ia berangkat pada hari berikutnya, si suami minta kepada Narada: “Tuan akan pergi kepada Dewa Vishnu. Tolong mintakanlah kepadanya, agar Ia menganugerahi saya dan isteri saya seorang anak. Sebab, sudah bertahun-tahun lamanya kami berkeluarga, namun kami belum juga mempunyai anak.”

Sampai di istana, Narada berkata kepada Dewa Vishnu: “Orang itu dengan isterinya amat baik kepada saya. Maka sudilah bermurah hati dan berilah mereka seorang anak.” Dewa Vishnu menjawab dengan tegas: “Telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan mempunyai anak.” Maka Narada menyelesaikan kebaktiannya, lalu pulang.

Lima tahun kemudian Narada berziarah ke tempat yang sama. Ia singgah pula di desa yang sama dan sekali lagi diterima dengan baik oleh pasangan suami-isteri yang sama pula. Kali ini ada dua orang anak bermain-main di muka pondok mereka.

“Anak-anak siapa ini?” tanya Narada. “Anak-anak saya.” jawab si suami. Narada bingung. Si suami meneruskan ceritanya: “Segera setelah Tuan meninggalkan kami lima tahun yang lalu, seorang pengemis suci datang mengunjungi kampung kami. Kami menerimanya barang semalam. Paginya, sebelum berangkat, ia memberkati saya dan isteri saya … dan Dewa mengaruniai kami dua orang anak ini.”

Mendengar cerita ini, Narada cepat-cepat menuju istana Dewa Vishnu lagi. Ketika tiba di sana, di depan pintu istana ia sudah berteriak: “Bukankah Dewa telah mengatakan: telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan punya anak? Kini ia mempunyai dua orang anak!”

Ketika Dewa Vishnu mendengar hal ini, ia tertawa keras dan berkata: “Pasti perbuatan seorang suci! Hanya orang suci yang mempunyai kuasa untuk mengubah nasib seseorang.”

Kita diingatkan akan pesta nikah di Kana. Waktu itu Ibu Jesus mendesak Putranya dengan doa-doanya untuk melakukan mukjizat yang pertama sebelum waktunya seperti yang telah ditentukan oleh Allah Bapa.

Dikutip dari (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Para Suci telah meninggalkan segalanya demi Gusti, maka Gusti tidak akan meninggalkan mereka. Para Suci penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Nya, mengingat-Nya, memuja-Nya tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Nya) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Nya. Mereka Dia-lindungi senantiasa dan Dia-penuhi segala kebutuhannya.

 

Para Suci Telah Meninggalkan Segalanya untuk Gusti, Gusti Tidak Akan Meninggalkan Mereka

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan bahwa Rishi Durvasa karena tersinggung kepada Raja Ambharisha menciptakan makhluk untuk menyerang sang raja. Akan tetapi Sudarsana Chakra melindungi sang raja dan bahkan mengejarnya. Rishi Durvasa minta tolong Brahma, tapi tidak bisa mengatasi senjata Vishnu tersebut. Demikian juga Mahadeva pun tidak sanggup mengatasi. Akhirnya Rishi Durvasa menghadap Vishnu.

Vishnu tersenyum dan berkata, “Durvasa, kamu juga tidak melihat bahwa aku pun sama seperti Brahma dan Mahadewa? Kamu tidak memahami diri-Ku. Aku bukan orang bebas. Aku mungkin mampu melakukan apa pun yang aku kehendaki. Tetapi aku adalah milik bhakta-Ku. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan memilih Aku sebagai sahabat mereka. Mereka meninggalkan segalanya untuk-Ku. Istri, rumah, anak, keinginan dan hidup mereka tinggalkan untuk-Ku. Mereka tidak memikirkan dunia dan tidak tergiur surga. Yang mereka harapkan hanya rahmat-Ku. Sebagai balasan, Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. mereka sudah menaklukkan aku dengan cinta mereka. hinaan apa pun terhadap mereka adalah hinaan kepada-Ku.”

Akhirnya Rishi Durvasa minta maaf kepada Raja Ambarisha.

Para Suci Senantiasa Ku-penuhi Segala Kebutuhannya

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Inilah alam yang lebih tinggi dari surga. Inilah alam-Nya, alam kebahagiaan Sejati. Bagi seorang panembah, alam ini, dunia ini adalah surga. Ia tidak mengejar surga setelah kematiannya. Ia sudah berada di dalam surga – sekarang dan saat ini juga.

Maka, setelah ia “mengalami kematian”, tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengalami sesuatu yang lebih tinggi; sesuatu yang lebih mulia.

Anak-anak kecil bermain dengan Gundu. Ketika sudah memasuki usia remaja, gundu-gundu itu ditinggalkannya. Ia memiliki permainan lain yang jauh lebih menarik. Demikian, seorang panembah melanjutkan perjalanan Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Gusti Memenuhi Segala Kebutuhan Para Suci

Seorang panembah tak pernah kekurangan sesuatu. Aku memenuhi segala kebutuhan para panembah yang telah berserah diri kepada-Ku. Demikian pula janji Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta. Maka, sesungguhnya kau tidak perlu khawatir tentang kebutuhanmu sehari-hari. Jika kekurangan sesuatu, mintalah kepadaKu.

Mintalah kepada Tuhan Hyang Maha Memiliki. Untuk apa mengharapkan sesuatu dari dunia, berharaplah kepada Hyang Memiliki dunia. Untuk apa mengharapkan penghargaan dan pengakuan dari dunia, lebih baik mengharapkan berkah dan karunia Ilahi.

Janganlah terperangkap dalam permainan dunia. Pujian yang kau terima dari dunia tidak berarti apa pun jua. Jalani hidupmu dengan kesadaranmu sepenuhnya terpusatkan kepada Tuhan. Ketertarikan kepada dunia sungguh tak berarti. Tuhan adalah Hyang Maha Menarik!

Ingatlah Aku setiap saat, sehingga dunia benda tidak menggodamu. Hanyalah dengan cara ini kau dapat merasakan kedamaian, dan ketenangan sejati. Inilah cara untuk hidup tanpa beban apapun.

Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Advertisements

Keyakinan di Pasang-Surut Kehidupan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 29, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang pria yang habis menikah, pulang ke rumah bersama istrinya. Mereka menyeberangi selat kecil dengan perahu, ketika tiba-tiba badai besar muncul. Pria itu adalah seorang ksatria, tetapi wanita itu menjadi sangat takut. Perahu ini kecil, sedangkan gelombang badai benar-benar besar. Tetapi pria itu tetap tenang.

Si wanita gemetar dan berkata, “Apakah Kanda tidak takut? Ini mungkin saat terakhir hidup kita! Saya tidak melihat bahwa kita akan mampu mencapai pantai seberang. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan kita, jika tidak selamat kita pasti mati. Apakah Kanda tidak takut? Apakah Kanda marah? atau Kanda terbuat dari batu?”

Si pria tertawa dan mengeluarkan pedang dari sarungnya. Kemudian dia meletakkan pedang tersebut di dekat leher si wanita, begitu dekat hampir menyentuh lehernya. Si pria bertanya, “Apakah Dinda takut?”

Si wanita jadi tertawa dan berkata, “Mengapa saya harus takut? Karena pedang itu di tangan Kanda, mengapa saya takut? Dinda tahu Kanda mengasihiku?”

Si pria meletakkan kembali pedang tersebut pada sarungnya dan berkata, “Itu adalah jawaban Kanda. Saya tahu Gusti mengasihi saya, dan pedang ada ditangan-Nya, badai ada di tangan Gusti. Jadi apa pun yang akan terjadi adalah demi kebaikan. Jika kita bisa bertahan hidup bagus; jika kita tidak bisa bertahan hidup, bagus juga, karena semuanya ada dalam tangan Gusti.”

Keyakinan si pria memberi ketenangan pada si wanita. Keyakinan yang besar tersebut dapat mengubah seluruh kehidupan kita. Demikian kisah Osho

Pada waktu latihan AIM Yoga, afirmasi pertama adalah “Aku membuka diri terhadap semua kemungkinan (kedua belah tangan dibuka) dan aku menerima setiap keadaan (kedua tangan ditutup dalam posisi namaskar). Kita melakukan itu beberapa kali. Semoga afirmasi itu tertanam dalam hati-sanubari kita untuk siap menerima apa pun kejadian yang akan menimpa diri kita.

 

Ciri-ciri seorang Bhakta

Bagaimana ciri-ciri seorang Bhakta? Bagaimana mengenalinya? Gampang…… Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam keadaan suka maupun duka – ia tetap sama. Ketenangannya kebahagiaannya, keceriaannya – tidak terganggu.  Ia bebas dari rasa takut. la tidak akan menutup-nutupi Kebenaran. la akan mengungkapkannya demi Kebenaran itu sendiri. la menerima setiap tantangan hidup…..

la bersikap “nrimo” – nrimo yang dinamis, tidak pasif, tidak statis. Pun tidak pesimis. Menerima, bukan karena merasa tidak berdaya; iklas, bukan karena memang dia tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima kehendak Ilahi sebagaimana Isa menerimanya diatas kayu salib. Ia berserah diri pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Muhammad memaknai Islam sebagai penyerahan diri pada-Nya.

Pasang-surut dalam kehidupan seorang Bhakta tidak meninggalkan bekas. Tsunami boleh terjadi, tetapi jiwanya tidak terporak-porandakan. Banyak yang berprasangka bahwa sikap “nrimo” membuat orang menjadi malas. Sama sekali tidak. Sikap itu justru menyuntiki manusia dengan semangat, dengan energi  Terimalah setiap tantangan, dan hadapilah!               

Seorang Bhakta selalu penuh semangat. Badan boleh dalam keadaan sakit dan tidak berdaya – jiwanya tak pernah berhenti berkarya. la akan tetap membakar semangat setiap orang yang mendekatinya.

“Jadilah seorang Bhakta,” demikian ajakan Sri Krishna kepada Arjuna, di tengah medan perang Kurukshetra. Tentunya, ia tidak bermaksud Arjuna meninggalkan medan perang dan melayani fakir-miskin di kolong jembatan. Atau, berjapa, berzikir pada Hyang Maha Kuasa, ber-keertan, menyanyikan lagu-lagu pujian. Tidak. Krishna mengharapkan Arjuna tetap berada di Kurukshetra, dan mewujudkan Bhaktinya dengan mengangkat senjata demi Kebenaran, demi Keadilan.

Ingatlah pesan Sri Krishna kepada Arjuna: “Janganlah engkau membiarkan dirimu melemah di tengah medan perang ini. Angkatlah senjatamu untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan. Janganlah memikirkan hasil akhir, janganlah berpikir tentang untung-rugi.     Berkaryalah sesuai dengan tugas serta kewajibanmu dalam hidup ini!”

Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Mempersembahkan Hasil Akhir kepada Gusti

Jangan ‘asal berkarya’ – jangan asal ‘berbuat’. Jangan asal ‘makan’. Jangan asal ‘hidup’. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh, bagi lingkungan, bagi masyarakat.

Di anak tangga berikutnya adalah Meditasi – Senantiasa menyadari kesadaraan Ilahi di dalam diri, inilah Meditasi. Pemusatan kesadaran pada Ilahi, itulah Meditasi. Meditasi, berarti hidup berkesadaran. Melakoni hidup secara meditatif.

Jadi, apa yang dijelaskan Krsna dalam ayat ini adalah langkah-langkah progresif. Setiap langkah mengantar kita pada langkah berikut yang lebih mulia dan memuliakan.

Pengetahuan sejati pun tidak berarti apa-apa jika tidak dihayati. Bukan sekadar ‘tahu’, tetapi menghayati pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa ‘dihidupi’, akan menjadi basi, tidak berguna.

‘Hayat’ dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti ‘hidup’. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah meditasi yang sebenarnya. Inilah meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… Dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada ‘laku’ – ya, kembali pada laku. Tapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

‘Laku’ di anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakakan; laku yang meditatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan segala atribut tambahan tersebut, laku di anak tangga tersebut sudah bukan laku biasa.

Tidak seperti laku di anak tangga awal. Laku di anak tangga ini adalah laku seorang panembah, laku dengan semangat manembah. Dan, bukanlah sekedar itu, laku di anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna ‘renunciation’ atau ‘tyaga’.

Berati, bukan sekadar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dimuliakan. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Raja dan Guru Nanak

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 2, 2018 by triwidodo

Dikisahkan pada suatu ketika seorang raja di India mendatangi Guru Nanak yang sedang berada di tepi sungai dan bertanya, “Wahai Guru! Seperti yang Guru katakan bahwa Tuhan pribadi melindungi para bhakta, para devoti-Nya. Padahal Tuhan memiliki begitu banyak utusan, mengapa Dia melindungi para bhakta, para devoti-Nya secara pribadi? Mengapa Dia tidak menyuruh para utusan-Nya untuk membantu para bhakta, para devoti-Nya?”

Pada saat sang raja berkata demikian, putranya sendiri yang sedang bermain di tepi sungai tergelincir masuk ke sungai. Melihat kejadian tersebut sang raja langsung melompat ke tengah sungai menyelamatkan sang anak.

Setelah menyelamatkan anaknya sang raja kembali ke tempat Guru Nanak.

Guru Nanak bertanya, “Wahai Raja, mengapa Raja melompat ke sungai?”

Sang raja menjawab, “Anak saya tergelincir di sungai dan saya harus segera menyelamatkannya.”

Guru Nanak bertanya, “Raja mempunyai banyak bawahan yang tepercaya, mengapa Raja melompat sendiri, tidak minta bantuan bawahan?

Sang Raja menjawab, “Karena menyangkut anak yang saya sayangi, saya tidak mau ambil risiko, saya mesti melindunginya dan menjaga keselamatannya.”

Guru Nanak berkata dengan pelan, “Wahai Raja, Tuhan mencintai bhakta-Nya, devoti-Nya seperti Raja mencintai putra Raja………”

 

Panembah yang Senantiasa Dilindungi Gusti

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Sebenarnya Tuhan sama terhadap setiap makhluk, hanya bagi para bhakta kehadiran-Nya tampak nyata

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

Bayangkan rumah besar bak istana. Seluruhnya milik seorang kaya. Di mana-mana kita melihat ayat atau bukti kehadirannya. Namun, ia berada di salah satu ruangan — wujudnya berada dalam ruangan yang menjadi ruang pribadinya — entah itu ruang istirahat, ruang baca, atau ruang lain. Tidak berarti bila gerak-geriknya terbatas pada satu atau beberapa ruangan pilihannya saja. Tidak. Ia bisa berada di mana saja. Seluruh bangunan adalah milik dia. Kepemilikannya dapat dirasakan di mana saja, namun di ruang-ruang tertentu, kehadirannya menjadi sangat nyata.

Setiap analogi, perumpamaan yang kita gunakan, sesungguhnya hanyalah membuktikan kegagapan kita. Namun, mau tidak mau kita mesti menggunakannya untuk “sedikit” memfasilitasi pemahaman kita.

SEORANG PANEMBAH yang senantiasa berbakti pada-Nya adalah manunggal dengan-Nya. Dalam tradisi rohani di wllayah peradaban kita — kita tidak membedakan antara “Zat” Gusti dan Kawula. Zat yang mengabdi dan Hyang diabdi atau objek pengabdian – adalah satu dan sama.

Tentunya filsafat rohani ini tidak bisa dipahami oleh mereka yang beljiwa gersang, di mana kekerasan hati menjadi penghalang utama bagi kemanunggalan. Scbab itu, para penerima Wahyu, para resi mengajarkan paham VisistadvaitaDualitas Khusus – bagi mereka yang berjiwa keras dan gersang.

Visistadvaita adalah filsafat tengah di antara Dvaita atau dualitas dan Advaita atau non-dualitas murni.

ADVAITA ATAU NON—DUALITAS adalah filsafat hidup yang menjadi landasan pemikiran para resi di wilayah peradaban kita. Filsafat Non-Dualitas murni, di mana Kawula dan Gusti adalah manunggal, hanya dapat dipahami oleh rnereka yang bersentuhan dengan ajaran-ajaran para resi dari peradaban kita, mereka yang telah “melihat” kebenaran.

DVAITA ATAU DUALITAS adalah filsafat hidup yang melihat kawula sebagai kawula, dan Gusti sebagai Gusti. Tidak ada kemungkinan untuk menyatu atau manunggal. Bagairnanapun, kcdudukan pengabdi selalu di bawah Ia yang diabdi. Dalam pemahaman ini, ketunggalan Tuhan diakui. Tapi, kemanunggalan antara pengabdi dan yang diabdi tidak diakui. Pemahaman ini sering menciptakan perpecahan, distorsi, dan pada akhirnya pertikaian.

………….

Visistadvaita tetap mempertahankan perpisahan antara Jiwa dan Jiwa Agung — keduanya beda secara kuantitatif. Walau, di antara mereka ada juga yang berpendapat bahwa perbedaan kuantitatif itu menjadi tidak penting-penting banget, karena Jiwa dan Jiwa Agung adalah sama secara kualitatif. Secara kuantitatif, secawan air laut jelas tidak sama dengan seluruh air di laut. Tetapi, secara kualitatif, air di dalam cawan itu adalah sama asinnya dengan air laut. Sama-sama air laut.

Mereka yang berada dalam wilayah Visistadvaita memuja…… ..

TUHAN SEBAGAI AYAH, IBU, Saudara, Kawan, bahkan Kekasih. Mereka menciptakan hubungan yang erat — melebihi hubungan antara majikan yang diabdi dan jongos yang mengabdi. Ada pula di antara mereka, lulusan Wilayah Dvaita, yang merasa tidak perlu rnengubah hubungan dalam bentuk pengabdi dan Hyang diabdi — namun, mereka mengubah relasi antara keduanya, mempereratnya. Pengabdi bukanlah jongos yang selalu mengharapkan gaji. Ia mengabdi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Dasarnya bukan lagi untuk meminta suatu imbalan, tetapi semata karena kasih.

Hubungan antara Advaita dan Visistadvaita sangat erat. Ada kalanya seorang panembah yang telah manunggal, telah berada dalam Wilayah Advaita — memilih untuk turun tangga sedikit, berada dalam wilayah Visistadvaita dengan penuh kesadaran, supaya dapat merasakan manisnya cinta, manisnya kasih, manisnya rasa rindu. Mereka sengaja menciptakan perpisahan untuk memunculkan romance di dalam hidup mereka — Roman Ilahi. Inilah yang dimaksud oleh Krsna, bahwasanya kehadiran-Nya dapat dirasakan, bahkan dapat dilihat di dalam diri seoran g panembah sejati, walau sesungguhnya Ia Maha Ada — berada di mana-mana. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

5 Tingkat Pemahaman Diri dalam Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 22, 2017 by triwidodo

5 Tingkat Pemahaman Diri: 1. Belum memahami Jiwa, 2. Hanya memikirkan objek-objek di luar, 3. Memuja Gusti, 4. Melakoni Pengetahuan Sejati, 5. Menjadi Bhakta, Panembah:

  1. Belum memahami Jiwa

“Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran. Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya.” Bhagavad Gita 2:29

Banyak yang hendak menjelaskan tentang roh. Banyak buku dapat diperoleh di pasar. Setiap penulis mengaku memiliki informasi yang paling lengkap dan otentik. Jarang sekali kita bertemu dengan seorang Kṛṣṇa yang berani mengakui bahwa Jiwa Tak-Terjelaskan.

Banyak pula yang Berupaya untuk Menjelaskan Tuhan atau Gusti Pangeran, Jiwa Agung. Sulit, hampir mustahil, atau boleh dikatakan – mustahil. Jiwa adalah percikan dari Jiwa Agung. Mungkinkah percikan menjelaskan sumbernya?

Jiwa ibarat sinar matahari; dan Jiwa Agung, Tuhan, adalah Matahari. Bagaimana sinar matahari menjelaskan matahari? Bisakah sinar matahari menjelaskan sumbernya? Keberadaannya, keberadaan sinar, keberadaan Jiwa adalah penjelasan tentang adanya matahari, adanya Jiwa Agung. Tiada penjelasan lain. Keberadaan Anda – sebagai Jiwa – adalah definisi, penjelasan, setidaknya bukti akan keberadaan Sang Jiwa Agung Hyang Maha Ada, Gusti Pangeran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Hanya memikirkan objek-objek di luar

“Dalam diri seorang yang senantiasa memikirkan objek-objek di luar yang memikat indra – timbullah ketertarikan, keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan, keterikatan timbul keinginan untuk memiliki objek-objek tersebut. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).” Bhagavad Gita 2:62

Keterlibatan Berlebihan menimbulkan Ketertarikan – Anda bertemu dengan seseorang setiap hari. Ada urusan, tidak ada urusan – tetap bertemu. Maka, kemungkinannya dua, Anda bertengkar, atau makin tertarik, makin ingin bertemu.

Dari ketertarikan itulah timbul keterikatan. Anda mulai merasakan dunia Anda hampa tanpa orang tersebut. Hidup terasa tidak berarti tanpa sesuatu yang telah merangsang Anda, mungkin kendaraan, mungkin rumah, mungkin gadget elektronik terbaru – apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Memuja Gusti

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) – seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.” Bhagavad Gita 7:16

Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi – kemudian menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh – mereka pun panembah yang sudah berbuat baik. mereka pun mulia adanya. Apa yang mereka lakukan adalah kemuliaan, perbuatan yang mulia.

Krsna memahami betul psikis manusia – Ia tidak menolaksebagian besar umat manusia, yang sering berdalih bahwa “mesti ada keseimbangan antara dunia dan akhirat”. Cara pandang yang tidak tepat. Namun setidaknya mereka telah berbuat baik. mereka sudah memiliki semangat untuk manembah. Mereka tidak memikirkan diri saja, walau sebatas beberapa persen dari penghasilan – mereka telah ikut memikirkan sesama manusia. Kelompok Pertama, ini juga rajin menyumbang untuk pembangunan tempat-tempat ibadah dan sebagainya.

Kelompok Kedua adalah mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Bagi Krsna, mereka pun telah berbuat mulia. Mereka pun panembah. Mereka tidak mengetuk pintu seseorang yang zalim atau bersekongkol dengan pihak yang berada dalam kubu adharma. Mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma untuk mengakhiri penderitaan.

Kelompok Ketiga adalah para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati. Termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini – kemungkinan besar – berada dalaam kelompok ketiga ini. Anda membeli buku ini dengan tujuan tersebut. Anda tidak membelinya untuk menjadi kaya-raya dalam sekejap. Anda tidak membelinya untuk mendapatkan voucher untuk masuk surga. Tidak. Anda membeli dan sedang membacanya untuk mengenal diri, untuk meraih pengetahuan sejati.

Namun, di atasnya adalah Kelompok Keempat, kelompok yang bijak.

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun sangat mengasihinya.”

Di atas segalanya adalah Kasih. Kata awal dan kata akhir adalah kasih. Seseorang boleh memiliki kesadaran tinggi – namun setinggi apa pun kesadarannya, tanpa kasih ia menjadi kering. Jiwanya tidak berlembab. Ia belum bisa disebut “bijak”.

Bagi Krishna seorang bijak bukan saja berpengetahuan dan berkesadaran hakiki, tetapi juga penuh kasih. Inilah Kelompok Panembah yang Keempat. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Melakoni Pengetahuan Sejati

“Kepadamu yang (ingin) bebas dari segala keraguan, sekarang Ku-jelaskan rahasia tentang Jnana atau Pengetahuan Sejati dan Vijnana atau Ilmu Kebendaan. Setelah mengetahui dan menghayatinya, niscayalaah kau terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian yang berulang-ulang.” Bhagavad Gita 9:1

Rahasia yang dimaksud Krsna adalah tentang Jnana dan Vijnana – Pengetahuan Sejati tentang Kebenaran Hakiki atau Jnana, dan dampak dari-Nya, yaitu “ilmu”, sains, atau Vijnanaa – yang menjelaskan bagaaimana Kebenaran terungkap dalam dan lewat kebendaan. Spiritualitas dan Sains – Inilah Jnana dan Vijnana.

……………

Gerakan lempengan-lempengan adalah fenomena alam – Tapi, tidak mesti terjadi gempa bumi, tidak mesti tsunami, tidak mesti menelan korban. Bencara alam terjadi bukan karena alam mengamuk tanpa dasar, tapi karena ada intervensi dari perbuatan, pikiran, dan perasan manusia sendiri. Mind over matter.

Krsna menjelaskan bila kita menyadari adanya hal ini – menginsafi adanya hubungan erat antara kejadian-kejadian di luar diri dengan di dalam diri – maka kita terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian. Kenapa bisa demikian?

Kelahiran dan kematian – dua-duanya adalah fenomena alami yang terjadi di alam benda. Persis seperti musim semi, gugur, angin sepoi-sepoi, angin ribut, puting-beliung, badai, topan, tsunami, dan sebagainya. Semuanya adalah fenomena-fenomena alam yang terjadi di alam benda.

 Jika saya, Anda, kita memahami bahwasanya semua kejadian itu erat hubungannya dengan diri kita, maka dengan mengatur diri, kita dapat ikut mengatur keadaan di luar diri. Dengan mendamaikan diri, kita dapat merasakan kedamaian di luar diri. Dengan membebaskan diri dari rasa takut, kita bisa mewarnai dunia luar dengan warna-warna yang lebih cerah.

Kelahiran dan kematian- kedua fenomena alam yang terjadi di dunia benda ini – adalah proyeksi dari gejolak pikiran dan perasan kita sendiri. Jika gugusan pikiran dan perasaan yang senantiasa bergejolak ini dapat dilampaui, maka kelahiran dan kematian pun dapat dilampaui! Lampauilah pikiran, perasaan sekarang dan saat ini juga. Pelampauan itu, kelak saat ajal tiba, akan memastikan bila tidak ada lagi benih yang tersisa, benih yang dapat menjadi penyebab kelahiran-ulang. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Menjadi Bhakta

“Pandava (Arjuna, Putra Pandu), ia yang melaksanakan tugasnya sebagai persembahan pada-Ku – demiAku; berlindung pada-Ku; berbhakti pada-Ku; tiada memiliki keterikatan; dan bebas dari permusuhan serta kebencian terhadap sesama makhluk, niscayalah mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 11:55

“Inilah definisi Bhakti. Seorang bhakta atau panembah berada di dunia, di tengah kebendaan. Pun, ia menggunakan, memanfaatkan kebendaan, tetapi ia tidak bersandar pada kebendaan – Ia tidak bertopang pada kebendaan.

 

“Mereka yang menerima kebijakan luhur yang telah Ku-sampaikan; teguh dalam devosinya pada-Ku; dan, menganggap diri-Ku sebagai Tujuan Tertinggi adalah panembah, yang sangat Kusayangi.” Bhagavad Gita 12:20

Segala sifat sebelumnya terkalahkan oleh penerimaan seorang panembah tanpa keraguan. Oleh kasih tanpa syarat dan tanpa kondisi.

Untuk berinteraksi dengan dunia luar – Silakan menggunakan pikiran, akal-budi, dan sebagainya. Namun, untuk mengakses diri sendiri, kita mesti drop semuanya dan mesti jalan ke dalam diri dengan bekal keyakinan penuh dan devosi tanpa syarat. Bekal lain tidak berguna. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

4 Checkpoints tentang Bhakta, Panembah dalam Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 19, 2017 by triwidodo

Menjadi Bhakta, Mengembangkan bhakti, Mengikuti Petunjuk Krishna, Melayani sesama

  1. Menjadi bhakta

“Pusatkanlah segenap pikiran dan perasaanmu pada-Ku; berbhaktilah pada-Ku; (tundukkan kepala ego) bersujudlah pada-Ku dengan semangat panembahan yang tulus; demikian, berlindung pada-Ku senantiasa, niscayalah kau meraih kemanunggalan dengan-Ku.” Bhagavad Gita 9:34

Segala sembah, sujud, dan sebagainya – bukanlah untuk membuat seseorang menjadi hamba Krsna. Bukan, itu bukanlah tujuan Krsna. Krsna bukanlah seorang guru picisan yang sedang mencari, dan merekrut murid. Ia tidak senang melihat kita membuntutinya seperti domba. Ia menginginkan kita – setiap orang di antara kita – untuk mengalami apa yang dialami-Nya. Yaitu, kemanunggalan ‘aku’ kecil, aku-ego, dengan Jiwa Agung. Pertemuan antara Jiwa-Individu dan Jiwa-Agung – Jivatma dan Paramatma.

……….

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaan pada-Ku; Berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalahengkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 18:65

“Aku, Aku, Aku,…..” Permainannya memang adalah antara aku-ego dan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.  Nasihat Krsna untuk berserah diri bukanlah berserah diri pada sosok Krsna—tetapi berserah diri pada Aku-Sejati yang kebetulan saat itu sedang mewujud sepenuhnya dalam diri Krsna.

……..

“Sebab itu, pusatkan segenap pikiran, perasaan, dan buddhi, inteligensiamu pada-Ku; demikian, niscayalah kau akan selalu bersama-Ku, tiada yang perlu kau ragukan dalam hal ini.” Bhagavad Gita 12:8

Bukan saja memusatkan segenap pikiran serta perasaan — tetapi juga segenap inteligensia. Berarti, memusatkan seluruh kesadaran pada-Nya.

“Jika kau tidak mampu memusatkan kesadaranmu pada-Ku; maka raihlah kemanunggalan dengan-Ku dengan melakoni Yoga; wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan).” Bhagavad Gita 12:9

Kata “melakoni” dalam ayat ini adalah terjemahan gagap dari kata abhyasa, sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, berarti praktek-praktek yang dilakukan secara terus-menerus. Praktek secara intensif dan repetitif, diulangi terus.

“Jika kau tidak melakoni Yoga, maka berkaryalah untuk-Ku; demikian dengan cara itu pun, kau dapat meraih kesempurnaan diri.” Bhagavad Gita 12:10

“Namun, jika itu pun tak mampu kau lakukan, maka dengan penuh devosi pada-Ku, kendalikanlah dirimu dan serahkan segala hasil perbuatanmu pada-Ku.” Bhagavad Gita 12:11

“Pengetahuan Sejati lebih mulia dari laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan, melepaskan diri dari keterikatan hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.” Bhagavad Gita 12:12

……………..

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

………..

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku Iewat panembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) — demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70

…………

“Seorang Yogi berkesadaran demikian – senantiasa bersatu dengan-Ku; memuji-Ku sebagai Jiwa Agung yang bersemayam dalam diri setiap makhluk, termasuk di dalam dirinya sendiri; dan melakukan semua kegiatan dengan kesadaran itu.” Bhagavad Gita 6:31

Berkegiatan  dengan menyadari kehadiran Sang Jiwa Agung dalam diri setiap makhluk berarti tidak menyakiti siapa pun. Namun, pada saat yang sama kesadaran tersebut juga membuatnya tidak ragu-ragu untuk melakukan bedah terhadap tumor yang bersarang di badannya atau badan siapa saja.

………………

“Sebaliknya, mereka yang senantiasa berkarya dengan semangat persembahan pada-Ku; memuja-Ku sebagai Hyang Maha Mewujud; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku tanpa terganggu oleh sesuatu; wahai Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, IbuArjuna), niscayalah Ku-bantu menyeberangi lautan samsara, kelahiran dan kematian yang berulang-ulang ini.” Bhagavad Gita 12:6-7

Memuja-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud berarti melayani setiap wujud, mencintai, menyayangi, mengasihi setiap wujud.

………..

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

……………

“Sebaliknya, ia yang berbagi ajaran ini dengan penuh kasih (dan sebagai ungkapan kasihnya pada-Ku), kepada para panembah yang memang sudah siap untuk menerimanya – niscayalah akan mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 18:68

Seseorang yang melakoni ajaran ini dan berbagi dengan penuh kasih—sebagai ungkapan kasihnya pada Hyang Tunggal – kepada para panembah yang penuh kasih juga…. Maka, hasilnya ialah Kesempumaan Diri. Hasilnya ialah menyatu dengan-Nya, dengan Sumber Kasih itu sendiri.

“Tiada seorang pun yang pelayanannya pada-Ku melebihi pelayanannnya (yang dimaksud ialah seorang yang berbagi ajaran mulia ini dengan penuh kasih kepada mereka yang memang siap untuk mendengarnya). Demikian pula, tiada seorang pun di seluruh dunia yang Ku-cintai lebih darinya.” Bhagavad Gita 18:69

Di sini Krsna menjelaskan rahasia orang yang paling dicintai-Nya — yaitu seperti yang telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya – orang yang berbagi ajaran yang mulia ini dengan pcnuh kasih, dengan semangat kasih, semangat manembah, semangat melayani, kepada mereka yang layak, yang siap untuk menerimanya.

Orang itu — menurut Krsna — adalah……. PANEMBAH SEJATI – Siapa saja bisa berbagi receh, nasi kotak, mie instan, pakaian, dan sebagainya. Beramal-saleh dengan cara itu adalah biasa. Berdana-punia dengan cara menyumbang untuk pembangunan ternpat-tempat ibadah pun biasa.

…………….

“Demikian, para resi berpandangan jernih, yang telah sirna segala keinginannya oleh Pengetahuan Sejati tentang hakikat diri; pun, dirinya telah terkendali — senantiasa bersuka-cita dalam perbuatan yang membahagiakan semua makhluk. Mereka telah mencapai Brahmanirvana — Keheningan Sejati, Kasunyatan Agung dalam Brahma (Hyang Maha Kreatif). Bhagavad Gita 5:25

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Mengembangkan bhakti

Enam cara mencapai kemanunggalan dengan semesta

“Bebas dari rasa benci terhadap sesama makhluk; bersahabat dengan semua, penuh welas asih; bebas dari ke-‘aku’-an dan rasa kepemilikan; sama dan seimbang dalam suka dan duka; penuh ketabahan, mudah memaafkan;” “Puas dengan apa yang diraihnya, dan terkendali dirinya, senantiasa mengenang-Ku, manunggal dengan-Ku; pikiran, perasaan, serta inteligensianya terpusatpada-Ku; seorang panembah yang teguh dalam keyakinannya seperti itu sungguh sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:13-14

…………..

“Tidak sombong, tidak munafik, tanpa kekerasan, kesabaran, kebajikan; pelayanan pada Guru; kemurnian atau kebersihan luar dan dalam diri; keteguhan hati dan pengendalian diri;”

“Tidak tergoda oleh pemicu-pemicu indra; tanpa ego, dan perenungan pada penderitaan kelahiran, kematian, masa tua dan penyakit;”

“Tanpa keterikatan dan tidak bergantung pada anak, pendamping, hunian dan lain sebagainya; keseimbangandiri dalam keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan;”

“Pengabdian pada-Ku tanpa keraguan, dan dalam kesadaran kemanunggalan Yoga; senang bepergian ke tempat-tempat yang tenang dan suci; tidak menikmati persahabatan dengan mereka yang bersifat duniawi;”

“Senantiasa berkesadaran Jiwa, dan menyadari Kebenaran Hakiki sebagai tujuan tunggal segala pengetahuan, semuanya ini disebut Pengetahuan Sejati, segala hal selain ini adalah kebodohan.” Bhagavad Gita 13:7-11

Setiap butir kebijaksanaan luhur di atas adalah dalam bentuk tindakan, bukan pengetahuan belaka. Sementara itu, kita menerjemahkan pengetahuan sebagai informasi yang diperoleh dari bacaan, studi atau paling banter dari pengalaman hidup, yang diperoleh secara acak dan kebetulan.

Bagi Krsna, semua itu belum ‘Pengetahuan’ – Bagi Krsna, kita tidak menjadi ‘berpengetahuan’ karena gelar yang kita peroleh, atau karena kita seorang kutu buku dan senang mengoleksi informasi. Bagi Krsna, pengetahuan sejati adalah tindakan, upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar tahu tentang ego, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Bukan sekadar tahu tentang indra, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Pun demikian dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lainnya.

Pengetahuan sejati bagi Krsna, adalah suatu keadaan di mana seorang yang berpengetahuan tidak terpicu, tidak tergoda oleh hal-hal luaran. Ia tidak tertipu oleh dualitas. Ia menyelami hidupnya dengan semangat ‘all is one’ – semua satu adanya. Ia tidak membedakan kepentingan diri dan keluarga dari kepentingan umum.

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Mengikuti petunjuk Krishna

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;” Bhagavad Gita 16:1

“Ahimsa atau tidak menyakiti lewat pikiran, pengucapan maupun perbuatan; kejujuran, bebas dari amarah, tanpa rasa kepemilikan atau keakuan, ketenangan pikiran, bebas dari gosip, welas asih terhadap semua makhluk; bebas dari keinginan dan keterikatan, lembut atau sopan, bersahaja, tidak terbawa oleh nafsu, dan teguh dalam pendirian serta pengendalian diri;” Bhagavad Gita 16:2

“Cekatan (penuh energi, penuh semangat), tabah dan pemaaf, teguh dalam keyakinannya, bersih badan dan pikiran; tidak bermusuhan dengan siapa pun juga; dan tanpa keangkuhan — demikian, semuanya ini adalah kecenderungan-kecenderungan lahiriah mereka, yang lahir dengan sifat bawaan atau karakter dasar Daivi, Ilahi, Mulia, Wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat).” Bhagavad Gita 16:3

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Melayani sesama

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

…………….

“Ia yang memandang semua sama, sebagaimana ia memandang dirinya; dan menganggap sama suka dan duka, adalah Yogi – Manusia Utama, ia melebihi apa dan siapapun juga!” Bhagavad Gita 6:32

………….

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kemewahan Bhakta Shiva dan Kemiskinan Bhakta Vishnu #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , , on October 1, 2017 by triwidodo

 

Kita melihat orang-orang memuja Gusti, caranya tidak banyak berbeda, tapi kita tidak bisa melihat apa yang ada dalam pikiran setiap orang. Ada orang yang memuja Gusti, Gusti Idola (Ishta Deva) dalam bayangannya akan memberikan kelimpahan materi. Dan ada pula orang yang memuja Gusti, Gusti Idola (Ishta Deva) dalam bayangannya penuh kedamaian dan kebahagiaan sejati. Hasil perolehannya di dunia akan berbeda.

 

Pertemuan Materi dan Jiwa

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam semesta.

TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang membuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Parikshit bertanya kepada Rishi Shuka, mengapa para pemuja Shiva, baik dari para asura, makhluk setengah dewa, dan manusia, mereka semuanya hidup berkelimpahan, walaupun Shiva sendiri hidup sangat sederhana, tanpa perhiasan yang mewah, tidak punya rumah dan tinggal di bawah pohon. Di sisi lain para pemuja Vishnu nampak miskin, walaupun Vishnu yang merupakan pasangan Lakshmi, dewi kemakmuran, tinggal di istana Vaikuntha dengan pakaian penuh perhiasan gemerlapan. Mengapa bisa demikian?

Rishi Shuka menjawab bahwa Shiva adalah penguasa energi materi. Durga, pasangan Shiva adalah energi materi. Energi materi ini diwujudkan dalam tiga guna, sattva, rajas dan tamas. Oleh karena itu para pemuja Shiva memperoleh banyak materi, seperti Raja Ravana dan Raja Banasura. Shiva sendiri tidak terpengaruh oleh ketiga guna tersebut.

Ibaratnya Vishnu adalah susu murni, sedangkan Shiva adalah susu ditambah sedikit asam yang menjadi yoghurt. Vishnu adalah Sang jiwa Agung, sedangkan Shiva adalah Sang Jiwa Agung ditambah maya menjadi energi materi. Shiva sendiri bebas dari keterikatan pada materi. Para para pemuja Shiva memperoleh banyak materi yang diproduksi oleh maya atau tiga guna, sattvik, rajas dan tamas. Apabila para pemuja Shiva bisa hidup tanpa keterikatan pada materi maka tidak ada masalah. Akan tetapi pengaruh materi itu sangat besar. Seperti penjelasan Bhagavad Gita 14:5 di bawah ini:

Bukan saja sifat Agresif (Rajas) dan Malas (Tamas), tetapi sifat Tenang (Sattva) pun mengikat Jiwa dengan badan. Berarti, seluruh sifat, segala sesuatu yang berasal dari alam kebendaan memiliki kemampuan untuk mengikat Jiwa.

Jiwa tidak pernah punah – ia kekal abadi adanya. Namun, karena keterikatannya dengan badan, indra, dan alam kebendaan, ia “merasakan” pengalaman kelahiran, kematian, dan perubahan-perubahan lainnya.

Alam benda tidak bisa mengikat Jiwa, kecuali ia “bersedia” untuk diikat. Berarti, keterikatan Jiwa dengan alam benda tidak bisa terjadi kecuali seizin Jiwa itu sendiri.

………………..

Ketiga sifat ini kita miliki – kita semua memilikinya. Adalah penting bahwa kita memahami ketiga-tiganya, dan memanfaatkannya dalam keseharian hidup kita. Namun tidak terikat dengan satu sifat di antaranya – dan senantiasa menyadari hakikat kita sebabagi Jiwa yang bebas, merdeka. Penjelasan Bhagavad Gita 14:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Berbeda dengan para pemuja Vishnu, sejak awal mereka sudah berperan sebagai “saksi” yang tidak terpengaruh materi duniawi.

Sifat utama Sang Jiwa Agung adalah sebagai Saksi, sebagai Hyang sedang menikmati pertunjukan dan tidak terpengaruh oleh adegan mana pun. Inilah potensi Jiwa-Individu, potensi diri kita semua, yang masih mesti dikembangkan, jika kita ingin menikmati pertunjukan dunia. Penjelasan Bhagavad Gita 14:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Rishi Shuka menyampaikan bahwa pertanyaan Parikshit tersebut juga pernah diajukan oleh Yudhistira kepada Sri Krishna.

Sri Krishna menjawab, “Jika aku sangat menyukai pemuja dan ingin merawat devosinya, hal pertama yang aku lakukan adalah mengambil kekayaannya. Ketika pemuja menjadi orang yang relatif miskin maka para kerabat dan anggota keluarganya tidak lagi memperhatikannya, dan dalam kebanyakan kasus mereka melepaskan hubungannya dengannya. Para pemuja-Ku kemudian menjadi tidak bahagia karena kekayaan telah diambil demikian pula kerabatnya meninggalkan dia. Sehingga para pemuj-Ku benar-benar tergantung kepada-Ku. Dia bisa fokus pada-Ku, melayani-Ku, dan melayani semua makhluk sebagai manifestasi-Ku.”

 

Dalam Penjelasan Bhagavad Gita 18:66 disampaikan:

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita. Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran! Penjelasan Bhagavad Gita 18:66 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Mucukunda: Kesadaran Sebagai Alat Sri Krishna #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 28, 2017 by triwidodo

“Kulihat putra Dhrtarastra, para Kaurava bersama para raja-raja lain (di pihak mereka); Bhisma, Drona, dan Karna – putra sais; pun demikian para kesatria agung dari pihak kita; semuanya dengan cepat memasuki mulut-mulut-Mu yang bertaring dan sungguh mengerikan; beberapa di antara mereka tersangkut di sela-sela gigi-Mu, kepala mereka hancur karena benturan.” Bhagavad Gita 11:26-27

Arjuna melihat bahwa mereka yang berperang dan yang akan mati. Hal ini memberi semangat bahwa dia hanyalah alat Gusti, tanpa dia akan ada orang lain yang akan membunuh orang-orang yang akan mati tersebut. Sesungguhnya yang memusnahkan musuh adalah Sri Krishna sendiri.

“Sebagaimana laron terburu-buru memasuki nyala api untuk menemukan ajalnya; pun demikian seantero dunia dengan seluruh isinya sedang memasuki mulut-Mu dengan cepat, untuk berhancur-lebur tanpa bekas.” Bhagavad Gita 11:29

Penglihatan Arjuna bukanlah eksklusif “penglihatan” saat perang saja. Sesungguhnya, keadaan kita yang tidak terlibat dalam perang pun kurang lebih sama. Perjuangan hidup ini sama dengan perang. Kita pun sedang menuju mulut-Nya untuk hancur, musnah dan tercipta ulang. Lalu, APA BEDANYA? Apa beda antara mereka yang berpihak pada dharma — kebajikan – dan mereka yang berpihak pada adharma — kebatilan? Bukankah dua-duanya hancur juga? Bukankah dua-duanya akhirnya mati juga?

Ya, jika kita memperhatikan raga, maka dua-duanya hancur, punah. Dan, dua-duanya juga barangkali tercipta kembali untuk rnemasuki panggung dunia yang sama. Pertanyaannya, sebagai apa? Setiap pengalaman kehidupan rnemperkaya Jiwa. Berdasarkan kekayaannya itu, ia mengambil peran berikut yang sesuai dengan wataknya, keahliannya.

…………..

KITA MAU JADI APA? Puaskah kita sebagai Kaurava? Atau, kita ingin menjadi Pandava dan bersahabat dengan Krsna? Atau, malah ingin memainkan peran Krsna?

Jika mau menjadi Kaurava, maka silakan tetap berada dalam kubu adharma. Saat ini, mayoritas di antara kita berada dalam kubu tersebut. Tapi, jika ingin mendapatkan peran Pandava atau Krsna, maka kita mesti pindah kubu. Kita mesti memperkaya diri dengan dharma, kebajikan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ketika Krishna sedang mempersiapkan penyerangan yang ke-18, seorang pemimpin dari Yavana yang bernama Kalayavana berniat untuk menyerang Mathura. Karena dia memperoleh keterangan dari Rishi Narada bahwa hanya para Yadava yang akan mampu menandingi kekuatannya. Tertantang oleh hal inilah Kalayavana pergi untuk bertarung ke Mathura. Mengetahui tentang musuh yang baru ini segera saja Krishna membuat benteng pertahanan yang tak mungkin terkalahkan. Dalam 1 hari dibantu dengan arsitek-arsitek dan para ahli yang adalah para dewa sendiri maka benteng pertahanan itu pun selesai dibuat sehingga seluruh rakyat Mathura terlindungi dengan aman.

Krishna kemudian keluar dari benteng Mathura dan berhadapan langsung dengan Kalayavana. Melihat Krishna berdiri di hadapannya tanpa senjata apa pun maka Kalayavana pun menaruh seluruh senjatanya dan kini keduanya berhadapan dengan tangan kosong. Segera saja Kalayavana menyerang Krishna, namun ternyata Krishna berlari menjauhi Kalayavana dan terus saja berlari. Meski seolah-olah Krishna hampir tertangkap, tetap saja Krishna mampu untuk tidak tersentuh sedikit pun.

Tak lama kemudian Krishna memasuki sebuah gua di tepi gunung. Kalayavana pun gusar dan berteriak-teriak dari luar mulut gua sambil mengejek Krishna, “Mengapa kau melarikan diri dari musuhmu Krishna?” Karena Krishna tetap tidak keluar dari gua, maka dia pun memasuki mulut gua. Dia dalam gua ternyata Kalayavana menemukan seseorang yang sedang tertidur, dan berpikir orang itu adalah Krishna. Segera saja dia menendang orang yang sedang tertidur itu dan ketika orang tersebut bangun dan membuka matanya, tatapan matanya dalam sekejap membuat Kalayavana terbakar dan menjadi setumpuk abu.

Ternyata orang itu bernama Mucukunda anak dari Mandhata. Dia sebelumnya telah mengabdi kepada para dewa dengan ketekunan yang sangat luar biasa dalam waktu yang sangat lama. Sampai akhirnya para dewa kemudian membebaskannya dari kewajibannya yang telah dilaksanakannya dengan sangat baik. Kemudian dia diperbolehkan untuk meminta apa pun pada para dewa. Mucukunda meminta agar dapat tidur tanpa terganggu. Dan siapa pun yang membangunkannya akan mati terbakar menjadi abu. Karena itulah Kalayavana mati menjadi abu.

Sesaat kemudian Krishna pun muncul dan berdiri di hadapan Mucukunda yang segera merasa tergetar hatinya karena menyadari keilahian dalam diri Krishna: “Wahai Engkau yang berdiri di hadapanku, Cahaya-Mu melampaui keagungan matahari, bulan dan api. Menurutku Engkau adalah perwujudan Gusti Vishnu.“

Kemudian Mucukunda menceritakan asal-usulnya sampai dia tertidur di dalam goa. Selanjutnya Mucukunda meminta Krishna untuk menceritakan tentang diri-Nya  dan kebaikan apa saja yang telah diperbuat oleh-Nya.

Lalu Krishna pun berkata pada Mucukunda, “Mucukunda, perwujudan-Ku dan perbuatan-Ku sungguhlah tak mungkin dapat dihitung oleh siapa pun. Namun demikian, Aku akan menceritakan padamu tentang perwujudan-Ku saat ini. Aku lahir di keluarga Vasudeva, demi menjawab doa Brahma akan keadaan dunia saat ini. Untuk itu Aku telah banyak sekali menewaskan orang-orang jahat termasuk Kamsa. Bahkan Kalayavana pun Aku yang memusnahkannya melalu tatapan matamu.”

Mendengar perkataan Krishna, Mucukunda memohon untuk dapat mengucapkan doa untuk-Nya.

Mucukunda berkata, “Ya Gusti Pangeran, orang – orang yang terperangkap dalam ilusi-Mu sebenarnya mereka tak memuja-Mu. Mereka terikat pada rumah, keluarga, dan lain sebagainya di mana mereka mencari kesenangan meskipun sebenarnya yang mereka dapatkan adalah penderitaan. Kelahiran sebagai manusia sebenarnya merupakan hal yang sangat sulit dicapai namun mereka yang tidak sadar bukan memanfaatkan kesempatan yang sangat luar biasa ini malah memuja dan terikat pada duniawi. Lihatlah aku. Dulu aku begitu takabur sebagai raja yang dikelilingi oleh prajurit dan para patih yang luar biasa, tertipu dengan badanku, aku menganggapnya sebagai jati diriku yang sebenarnya sehingga aku begitu terikat dengan hubungan duniawi dan kekayaan. Namun Engkau, sebagai Jiwa dari Sang Waktu memasuki kehidupan kami para manusia, perlahan-lahan tanpa kami sadari dan membuat segala yang kami capai dan kami miliki menjadi tak berguna. Badan, tubuh yang sama yang menjadi raja, sesaat kemudian akan menjadi mayat, yang akhirnya menjadi kotoran, cacing ataupun abu.

“Ya Gusti Pangeran, bahkan seorang penakluk dunia pun menjadi mangsa dari Sang Nafsu, sehingga dia pun menjadi budak dari kesenangan. Atau seseorang yang begitu banyak berbuat kebaikan, sehingga mendapatkan hiburan sesaat di surga. Itu pun tak akan menyelesaikan masalah lingkaran kelahiran ini, kita akan terlahir kembali dan masuk kembali dalam lingkaran samsara. Hanya mereka yang hampir selesai menempuh lingkaran kelahiran dan kematian memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang suci, yang akan melahirkan rasa cinta tak berbatas yang pada akhirnya akan memutus tali samsara.”

Ya Gusti Pangeran, Kau menanyakan padaku permintaan apa yang kuinginkan. Bagiku cukup sudah yang Kau berikan padaku. Kau telah membebaskanku dari keterikatan akan kedudukan. Aku tidak akan memohon apa pun lagi selain agar aku tetap bersembah sujud di bawah kaki-Mu. Siapa manusia yang akan meminta hal-hal lain bila ia telah melihat Keilahian di dalam kaki-Mu? Maka dari itu aku menolak semua keinginan duniawi yang seluruhnya masih berada di bawah 3 kekuasaan alam, maka dari itu aku memohon perlindungan di bawah kaki suci-Mu. Kaulah Sang Manusia Ilahi, Kaulah Sang Kesadaran Murni. Tersiksa oleh karma dan dorongan-dorongan dalam diri yang tidak Ilahi, hanya oleh berkah dari-Mu aku memperoleh kesadaran ini. Oh Gusti Pangeran, lindungilah aku.”

Kemudian Krishna berkata: “Hanya karena ingin menguji cinta dan bhaktimulah maka aku menawarkan permintaan padamu. Mulai saat ini berusahalah terus untuk melepaskan diri dari segala keterikatan dan sucikan dirimu dari kesalahanmu dulu yaitu kesenangan dalam berburu dan lain-lain, meskipun kesalahan itu bukanlah kesengajaanmu, melainkan terjadi karena jabatanmu sebagai seorang raja. Dalam kelahiran berikutnya kau akan terlahir sebagai seorang brahmacharya dan tanpa diragukan lagi kau akan menyatu dengan-Ku.”