Archive for bhakta

Hidup Sesuai Kehendak-Nya, Belajar Pada Bharata

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 4, 2018 by triwidodo

Kisah Sandal Sri Rama

Dalam Buku The Hanuman Factor, Bapak Anand Krishna menyampaikan kisah tentang Bharata, salah seorang saudara Rama. Rama memiliki tiga orang saudara lelaki, yang lahir dari ayah yang sama namun dari ibu yang berbeda. Namun ketiganya sangat berbakti kepada Rama. Memang ada begitu banyak drama yang mengitari hubungan antara Rama dengan Bharat, tapi tentu saja ada lebih banyak drama lagi di sekitar hubungan Rama dengan Laksmana. Begitu baktinya Bharata, sehingga Rama menyamakan Hanuman dengan Bharata.

Nama Bharata itu punya arti penting. Dan, nilai-nilai luhur yang diwakili oleh Bharat juga penting. Secara watak, Hanuman lebih dekat kepada Bharat. Kepribadian mereka saling melengkapi. Sesungguhnya Rama tengah menyampaikan sebuah pernyataan penting bahwa: “Seorang panembah atau murid yang ideal mesti memiliki kualitas dari dua sosok ini.”

Ibunda Bharat, Kaikeyi, menginginkan Bharata untuk menggantikan Dasharata, sebagai raja Ayodhya. Ketika Bharata pergi, sang ibu membersihkan jalan bagi putranya menuju tahta dengan cara mengusir Rama, Sita istri Rama, dan Laksmana ke hutan. Kisah ini adalah kisah yang terkenal, saya pikir tidak perlu diulangi lagi di sini. Bagi mereka yang belum akrab dengan kisah yang satu ini, ada puluhan ribu sumber di internet tentang subjek ini. Dari ringkasan singkat sampai edisi terjemahan yang lengkap tentang kisah Ramayana tersedia secara on-line.

Namun Bharat menolak kerajaan tersebut. Ia sama sekali tidak tergoda. Ia merasa menyesal karena terlahir dari seorang wanita yang tidak memahami dharma atau kebenaran, “Aku malu menyebutmu ibu. Engkau sudah mengetahuinya dengan baik bahwa bukan aku, tetapi saudaraku, Rama, yang berhak atas tahta kerajaan. Ia bukan hanya saudara yang paling tua, tetapi juga yang paling mampu menjalankan tugas-tugas kenegaraan.”

Bharat adalah contoh hidup tentang dharma, tentang kebenaran. Ia adalah perwujudan dari moralitas, etika dan nilai-nilai luhur dalam hidup.

Sesungguhnya, namanya sesuai dengan sifatnya. Bharat berarti “ia yang menegakkan, melestarikan, dan/atau mempertahankan”. Bharat menegakkan dharma, kebenaran Dan melestarikan/mempertahankan semua nilai luhur yang terkait dengan kebenaran. Ia melakoni dharma, dan menghidupinya.

Namun, dari mana kekuatan semacam itu berasal? Bagaimana ia bisa mengalahkan godaan-godaan duniawi? Hal tersebut membawa kita kepada makna lain dari namanya: Bha dan Rat(i). Bha, sebagaimana di dalam kata bhaai, merupakan singkatan dari kata Bhagavaan, Tuhan, atau yang ilahi. Rat(i) adalah “ia yang mencintai”, atau “ia yang dicintai”. Mencintai berarti juga dicintai.

Bharat merupakan perwujudan dari “Cinta Kasih Tuhan”, kasih ilahi. Cinta ini merupakan perwujudan cinta yang paling tinggi, dalam bahasa Yunani agape, Latin “amore”, dan Sansekerta “bhakti”. Bharat Dan Bhakti memiliki makna yang serupa. Bhakti juga terdiri dari dua kata, yang dari kata tersebut kata bha juga sama artinya seperti dalam kata Bharat, dan aasakti yang berarti “keterikatan”. Bhakti artinya “keterikatan kepada Tuhan, atau pada yang ilahi”.

Terlahir dari Kaikeyi, ia yang tidak bijak, Bharat membuktikan diri bahwa dia mampu menjalankan kerajaanmu ketika engkau tidak ada. Bharat mewakili cinta dalam perwujudannya yang paling tinggi: cinta yang terarah pada Tuhan, cinta bagi Tuhan.

Jadilah pemerintah, pelayan lebih tepatnya, dengan cinta. Hiduplah di dalam cinta. Maka Anda tidak akan pernah tersesat dari jalan yang benar.

Terlahir dari Kaikeyi, ia yang tidak bijak, Bharat membuktikan diri bahwa dia mampu menjalankan kerajaanmu ketika engkau tidak ada. Bharat mewakili cinta dalam perwujudannya yang paling tinggi: cinta yang terarah pada Tuhan, cinta bagi Tuhan.

Jadilah pemerintah, pelayan lebih tepatnya, dengan cinta. Hiduplah di dalam cinta. Maka Anda tidak akan pernah tersesat dari jalan yang benar.

Sumber: (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bharata Selalu Mohon Berkah Sri Rama dalam Menjalankan Tugasnya

Bharata menemui Rama di pengasingan, mohon Rama kembali memimpin Kerajaan Ayodhya. Karena Rama berketetapan menjalankan dharmanya di dunia, dan meminta Bharata menjalankan roda pemerintahan, maka Bharata minta sandal yang dipakai Rama. Sandal itu diletakkan di singgasana, dan Bharata selalu memohon blessings Rama yang diwujudkan dengan sandal-Nya dalam menjalankan pemerintahan.

Para murid, selalu mohon berkah Sang Guru sebelum bertindak, meneladani Bharata, Bhakta Sri Rama.

 

Rama Adalah Kesadaran Bharata seperti Krsna Adalah Kesadaran Arjuna

Pikiran tidak bisa mengenal cinta, tidak bisa mengakses keilahian di dalam diri. Hanyalah kesadaran – pikiran yang sudah berubah sifat dan menjadi buddhi, buddhi citta – yang dapat mengenal cinta, mengenal Tuhan, bisa mencintai dan berbincang-bincang dengan Tuhan!

Perbincangan ini, dialog antara Krsna dan Arjuna ini, terjadi pada dua strata, dua level, dua alam. Di alam benda, Krsna adalah sais kereta perang dan Arjuna adalah seorang ksatria yang duduk di belakang sais.

Dalam alam batin, Krsna adalah kesadaran Arjuna sendiri yang sedang berdialog dengan pikirannya. Dialog ini merupakan dialog transformatif. Tidak ada yang kalah atau menang dalam dialog ini. Pikiran tidak terkalahkan oleh kesadaran. Pikiran, sepenuhnya berubah menjadi kesadaran.

Kesadaran bukanlah sesuatu di luar pikiran. Kesadaran adalah benih-benih yang belum bertunas.

Sementara itu, pikiran adalah alang-alang yang seolah mencegah penunasan benih-benih itu. Sulit memang menjalankan proses ini – bagaimana pikiran kemudian bertransformasi menjadi kesadaran. Namun, jika kita memperhatikan tanda-tanda-Nya, tanda-tanda kehadiran-Nya di alam sekitar kita, maka kita dapat memahami proses metamorfosa ini lewat pengalaman seekor kepompong yang menjijikkan, yang mengalami ‘transformasi total’, dan ‘menjadi’ kupu-kupu yang indah!

Kepompong tidak terkalahkan oleh kupu-kupu – ia ‘menjadi’ kupu-kupu. Demikian pula kematian bisa berubah menjadi keabadian, karena dalam kematian itu tersimpan benih keabadian. Dalam kepompong potensi untuk menjadi kupu-kupu.

Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dalam Bharata tersimpan benih Sri Rama, Gusti Pangeran yang bersemayam di mana-mana, di setiap makhluk.

 

Makna Menyerahkan Segala Kewajiban kepada-Nya

“Serahkan segala kewajibanmu pada-Ku (Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk), berlindunglah pada-Ku; dan akan Ku-bebaskan dirimu dari segala dosa-cela dan rasa takut yang muncul dari kekhawatiran akan perbuatan tercela. Jangan khawatir, janganlah bersusah-hati!” Bhagavad Gita 18:66

 

“Menyerahkan segala kewajiban” dalam pengertian “melepaskan segala dharma” …. .. Ayat ini sering membingungkan. Seorang berjiwa lemah yang melarikan diri dari tantangan hidup untuk menjadi petapa pun menggunakan ayat ini untuk membenarkan tindakannya.

 

“LEPASKAN SEGALA KEWAJIBANMU” – Alasan yang “terasa” kuat sekali bagi mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan-kenyataan hidup, dan melarikan diri untuk menyepi di tengah hutan.

Apakah itu maksud Krsna?

Sama sekali tidak. Krsna justru mengajak Arjuna untuk berperang, untuk menghadapi kenyataan hidup. Bukan untuk melarikan diri, dan menjadi petapa.

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

 

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita.

Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran!

Sumber: buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Memperoleh Anugerah Lewat Ketulusan Persembahan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 6, 2018 by triwidodo

Kisah tentang Kuchela dan istrinya, para Panembah Sri Krishna

Seorang Master berkisah tentang Kuchela. Nama aslinya adalah Sudama, teman sekolah Krishna di Gurukula Sandipani, akan tetapi karena karena selalu mengenakan pakaian compang-camping maka dipanggil Kuchela. Dalam banyak hal, seseorang berhail adalah karena Shakti, Wanita, Sumber Energi yang mendampinginya, apakah dia ibunya, istrinya atau bankan murid wanitanya.

Demikianlah istri Kuchela adalah bhakta Sri Krishna, dia tidak mengeluh hidup miskin bersama Kuchela. Pada suatu hari datang intuisi untuk mempersembahkan makanan pada Sri Krishna. Kuchela malu, apakah Sri Krishna masih mengingatnya, dan apakah pantas mempersembahkan nasi kering kepada seorang raja sekaligus seorang Avatara.

Akan tetapi sang istri mendesaknya, mengingatkan bahwa Sri Krishna memperhatikan ketulusan persembahan dari bhaktanya. Kalau tidak berani menghadap Krishna, cukuplah sampai di gerbang istana saja, Sri Krishna pasti memanggilnya.

Sang istri mengambil segenggam nasi yang telah dijemur (nasi aking) dan memasukkan dalam air mendidih, kemudian menggoreng tanpa minyak, menambah bumbu rempah dan menumbuknya. Itulah nasi aking tumbuk kesenangan Sri Krishna waktu sekolah kata Kuchela. Nasi tumbuk itu disimpan dalam kain dan dibawa Kuchela. Kuchela adalah seorang brahmana walau miskin, dia menguasai kitab-kitab, akan tetapi emakin melangkap rasa takut menghantuinya. Apakah dia akan diterima Sri Krishna. Hanya semangat sang istri yang mendorongnya berjalan menuju gerbang istana Sri Krishna. Kalau kita berjalan selangkah menuju Gusti, Dia akan mendekat seribu langkah.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan tentang 4 macam panembah, pertama yang mencari dunia tapi berbagi sebagian hartanya sebagai persembahan. Kedua, mereka yang menderita tapi tetap mengingat Gusti Pangeran, ketiga mereka yang mencari pengetahuan sejati dan keempat yang hidupnya semata-mata dipersembahkan kepada-Nya.

Sang istri meningatkan bahwa mereka adalah keluarga yang menderita tapi tetap ingat Gusti. Apabila Gusti berkenan mereka tidak akan miskin lagi dan mereka benar-benar bisa menjadi bhakta yang mempersembahkan hidupnya pada Gusti Pangeran.

Akhirnya, sampai juga Kuchela di gerbang istana Sri Krishna. Benar juga Sri Krishna memanggilnya dan mereka langsung bernostalgia tentang waktu sekolah dulu. Sri Krishna membuka buntalan kain yang dibawa Kuchela dan makan nasi tumbuk dengan nikmatnya. Persembahan yang tulus membuat Sri Krishna nampak bahagia.

Rukmini datang dan memegang tangan Sri Krishna agar tidak menghabiskan persembahan, dia pun ingin menikmati persembahan dari istri Kuchela. Air mata Kuchela menetes, sang istri benar, Gusti berkenan dengan persembahan yang tulus, bahkan permaisuri pun ingin memperoleh bagian dari persembahan tersebut.

Kuchela meninggalkan istana Sri Krishna dengan sedikit kecewa, karena tidak memperoleh bantuan dana dari Sri Krishna. Akan tetapi sampai di rumah dia melihat istrinya memanggilnya dari rumah besar yang indah. Gubuk reyotnya telah berubah menjadi rumah indah dengan berbagai harta kekayaan. Keluarga Kuchela telah menjadi bhakta yang mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Sri Krishna.

Persembahan Seorang Panembah

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

…………..

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Kisah Karma yang Mempersembahkan Nasi Setengah Matang kepada Sri Krishna

Berikut adalah salah satu kisah dari Bapak Anand Krishna yang kami catat tentang Kisah Karma yang mirip dengan kisah Sudama. Karma mempersembahkan nasi setengah matang kepada Sri Krishna dan Sudama mempersembahkan nasi “aking” (sisa nasi yang dijemur dan dimasak kembali) kepada Sri Krishna.

“Terimalah persembahanku yang sederhana ini, O Gusti, sebagaimana Engkau menerima nasi setengah matang dari Karma.”

Nasi setengah matang dari Karma mewakili kepanembahan kita yang setengah matang; iman kita yang belum matang. Nasi setengah matang dari Karma juga mewakili pikiran-pikiran kita yang belum dewasa; perbuatan-perbuatan kita yang tidak selalu selaras dengan pikiran, perasaan, dan ucapan kita; tindakan-tindakan kita yang tidak selalu bajik.

Sang panembah, sang murid meminta pada Master, “Gusti, aku belum matang, aku tidak matang, tidak dewasa, dan bodoh. Mohon terimalah aku apa adanya.”

Dengan mengakui ketidaksiapan kita, sesungguhnya kita mengkomitmenkan diri untuk Evolusi Jiwa. Jika tidak, sekadar pengakuan saja tidak berarti apa-apa.

Marilah kita tidak melupakan bahwa kita tidak akan pernah bisa membodohi sang Master. Sang Master mengenal kita luar dalam. Kita tidak bisa menyembunyikan apapun dari Master Sejati.

Karma mendekati sang Master dengan iman yang penuh dan kepanembahan yang total, yang one-pointed – jadi sang Master menerimanya, menerima persembahan dirinya yang belum matang, belum selesai dimasak, belum siap.

“O Master, O Gusti, Engkau tidak peduli, apakah nasinya keasinan atau kurang asing. Engkau memakannya seolah itu adalah makanan terlezat yang pernah dimasak.”

Bagi sang Master, panembahan atau iman kita adalah “kesiapan kita”, atau lebih tepatnya “kelayakan kita”; “satu-satunya kualifikasi” kita untuk memasuki diri-Nya. Waspadalah, jangan sampai kita menjadi sombong karena hal ini.

Penerimaan dari sang Master adalah keberuntungan kita. Adalah karunia dari-Nya.Janganlah kita menjadi sombong, “Lihat, lihat, aku diterima.” Kesombongan kita, ego kita hanya akan membawa satu hasil – yaitu, kejatuhan kita dari karunia-Nya.

Ketika seorang anak dikirim ke sekolah – perkara ia diterima masuk atau tidak adalah hak prerogatif dari sekolah. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Hak prerogatif sekolah duniawi masih dapat dikompromikan dengan uang, dengan sumbangan. Tetapi, prerogatif dari Guru tidak dapat dikompromikan dengan apapun, ketika ia menerima, itu adalah karunia-Nya. Dan, seperti telah kita lihat sebelumnya – ada pre-requisite tertentu, persyaratan tertentu, yaitu Iman dan Panembahan.

Dekatilah Sadguru dengan karma kita yang belum matang, selama kita memiliki iman dan panembahan yang dibutuhkan, Ia mungkin akan menerima kita.

Tetapi janganlah sekali-kali kita mengeluh saat Ia mulai memasak diri kita. Yang belum matang, setengah matang harus dimatangkan. Yang mentah harus dibuat matang. Yang belum dewasa harus didewasakan. Dan prosesnya bisa jadi sangat melelahkan.

Gusti menerima persembahan Karma berupa nasi setengah matang dan Ia memakannya. Pahami makna yang tersirat, signifikansi dari cerita ini. “Proses” makan inilah sesungguhnya arti bermurid. Dimakan oleh Sadguru berarti menjadi tanpa ego, menjadi nol.

Kita mungkin dipuja sebagai pahlawan oleh dunia, tetapi Sadguru tidak terpengaruh oleh itu. Sadguru harus menghabiskan kita, menghabiskan ego kita sampai nol, karena pintu, gerbang karunia terbuka semakin lebar saat kesadaran-ego kita semakin habis.

Sumber catatan tentang message Bapak Anand Krishna

Melayani Gusti Yang Bersemayam dalam Setiap Makhluk

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 27, 2018 by triwidodo

Kisah Draupadi dan Romarishi

Seorang Master bercerita tentang Pandawa yang berada dalam pengasingan dan masuk ke wilayah hutan Romarishi. Romarishi adalah seorang rishi yang tubuhnya ditutupi rambut dan janggut yang sangat Panjang sehingga menutupi seluruh area hutan. Di hutan tersebut ada sebuah pohon istimewa yang sekali digigit akan membebaskan dari rasa lapar dan haus selama bertahun-tahun. Akan tetapi buah dari pohon tersebut tidak diambil dengan cara dipetik, harus jatuh dengan sendirinya.

Pada suatu hari Yudistira dan Draupadi kebetulan berada di dekat pohon istimewa tersebut dan Draupadi tergoda untuk mencicipi buah besar di atas pohon. Draupadi berkata bahwa buah besar tersebut dapat dimakan oleh semua Pandawa dan dirinya. Yudistira memanah sehingga buah jatuh ke tanah. Akan tetapi ketika Yudistira Bersama Draupadi berupaya mengangkatnya mereka tidak kuat. Arjuna dan Nakula serta Sadewa datang untuk membantu mengangkat buah tersebut, namun tidak berhasil. Bahkan Bhima yang datang membantu pun gagal mengangkatnya.

Adalah Romarishi yang merasa terganggu ketika rambutnya diinjak 6 orang untuk mengangkat buah. Sang Rishi menyadari ada orang yang berusaha mencuri buahnya. Rambut Sang Rishi segera menyatu dan mengikat Pandawa dan Draupadi.

Draupadi yang menyadari mereka dalam bahaya segera berdoa memanggil Krishna. Krishna segera muncul di hadapan mereka. Draupadi segera minta bantuan Krishna, akan tetapi Krishna berkata, “Saudariku, aku tidak berdaya. Romarishi adalah bhakta yang agung. Aku bersemayam dalam hatinya. Bagaimana Aku dapat melakukan hal yang bertentangan dengan keinginan bhakta-Ku?”

Draupadi sekali lagi memohon, “Krishna, hanya kau yang dapat menyelamatkan kami.” Krishna berkata, “Aku dapat menyelamatkan kalian semua, tetapi kamu harus patuh terhadap instruksiku untuk diam dalam situasi apa pun. Lakukanpersis seperti yang Aku instruksikan!” Krishna melepaskan rambut yang mengikat mereka dan mereka diminta ke ashram Romarishi beberapa saat setelah Krishna ke ashram terlebih dahulu.

Romarishi baru akan meninggalkan rumah saat Krishna masuk ashram. Romarishi bersujud dengan penuh bahagia pada Krishna yang datang ke ashramnya. Romarishi berkata, “Bhagavan, betapa beruntungnya saya mempunyai tamu ilahi seperti Bhagavan. Apa yang dapat saya lakukan untuk Bhagavan?” Krishna berbicara mengenai keilahian dan didengarkan dengan seksama ole Romarishi.

Saat Pandawa dan Draupadi tiba di ashram, Krishna segera berlari dan bersujud di depan mereka. Pandawa dan Draupadi merasa amat sangat malu, akan tetapi mereka semua patuh terhadap instruksi Krishna dan tetap diam. Melihat Krishna bersujud, Romarishi segera mengikuti Hrishna untuk bersujud di hadapan mereka juga. Krishna kemudian minta mereka masuk ke ashram dan memperkenalkan mereka kepada Romarishi. Dia memuji Yudistira yang berbudi luhur, Arjuna dan Bhima yang gagah berani, Nakula dan Sadewa yang cerdas serta Draupadi bhakta yang setia. Krishna mengatakan bahwa mereka tergoda untuk mencicipi buah milik Sang Rishi. Romarishi tentu saja ingin menyenangkan mereka yang telah menyenangkan Bhagavan dan mempersilakan mereka menikmati buah tersebut. Dengan makan buah tersebut Pandawa dan Draupadi bebas dari rasa lapar selam bertahun-tahun. Sangat sulit memprediksi karunia seorang Bhagavan, yang penting selalu ingat Dia setiap saat dengan penuh kasih. Setiap tindakan dilakukan sebagai persembahan kepada-Nya.

Draupadi adalah Bhakta Gusti (Krishna), putri seorang raja yang hidup melayani Pandawa dalam keadaan suka dan duka. Dia merasa sebagai Alat Gusti untuk melayani dan memberi semangat bagi Pandawa dalam menegakkan dharma. Draupadi melayani Pandawa dengan kesadaran bahwa Krishna bersemayam dalam diri tiap Pandawa. Krishna selalu membantu dan melindungi bhakta-Nya yang selalu ingat kepada-Nya.

Romarishi adalah seorang bhakta yang menghabiskan sisa hidupnya untuk fokus pada Krishna. Adalah sebuah anugerah Krishna datang menemuinya. Adalah berkah tak terduga untuk dapat menyenangkan Krishna dengan menjamu mereka yang dihormati oleh Krishna.

Puja, tapa, meditasi seperti yang dilakukan Romarishi adalah kegiatan yang membuat hidup kita bermakna. Akan tetapi menurut Sang Master, “Tangan yang Melayani lebih suci daripada Bibir yang Berdoa.” Melayani Gusti (yang bersemayam dalam setiap makhluk) lebih mulia daripada sadhana pribadi.

Bhakti: Alam Benda Ibarat Kantor Tempat Bekerja, Rumahnya Adalah Istana Gusti Pangeran

Ketika Jiwa individu masih mengidentifikasikan dirinya dengan materi, dengan benda, dengan indra, dengan alam benda, dengan suka dan duka yang diperolehnya dari hubungan dengan semua itu – maka tidak-bisa-tidak ia berjungkat-jungkit sepanjang usia. Tidak-bisa-tidak ia bergelinding antara dua kutub senang-susah, bahagia-gelisah, dan sebagainya.

Mereka yang tidak memahami hal ini, tidak berjiwa bhakti, senantiasa berupaya untuk mengubah keadaan. Padahal, perubahan sudah merupakan sifat dasar alam benda. Menceraikan satu pasangan dan mengawini orang lain bukan solusi. Bukan solusi meditatif. Mengharapkan cinta dari sesama manusia – setidaknya, bagi seorang bhakta, sebagaimana dikatakan oleh Paramhansa Yogananda adalah penghinaan terhadap Gusti Pangeran. Seolah ia tidak mendapatkan kasih dari-Nya.

Seorang anak meninggalkan masakan ibunya yang sudah disajikan di atas meja. Sudah dibuat, dimasak dengan penuh cinta. Kemudian mencari makanan di luar. Dengan cara itu, ia menghina ibu yang melahirkannya. Ia menghina masakannya.

Implikasinya sama saja seperti meninggalkan pasangan di rumah, dan mencari pasangan lain di luar rumah. Hati seorang bhakta yang seluruh kesadarannya terpusatkan pada Gusti Pangeran, sudah tidak bercabang lagi. Ia telah menghaturkannya pada Gusti Pangeran. Alam benda hanyalah ibarat kantor tempat ia bekerja, bukan rumahnya. Rumahnya adalah istana Gusti Pangeran. Ia tidak pernah lupa akan hal itu.

Ia tidak mencari rumah lain. Ia tidak mencari cinta dari dunia benda. Ia sudah mendapatkan segala-galanya dari Gusti Pangeran, Hyang adalah Wujud Cinta Kasih. Penjelasan Bhagavad Gita 9:31 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Semangat untuk Manembah (Bhakti) tertutup Keinginan Duniawi

Kita tidak bisa menjadi seorang panembah. Kita hanya dapat mengungkapkan jiwa panembahan kita. Karena, sesungguhnya setiap jiwa hendak menyembah, mempersembahkan diri, kembali pada asalnya, menyatu kembali dengan Gusti Pangeran.

Jiwa, atau semangat untuk menyembah ini tertimbun dibawah keinginan duniawi yang bertambah terus setiap hari. Selain harapan, keinginan yang tak terpenuhi memunculkan juga rasa kecewa, amarah, dan sebagainya. Keinginan asal jiwa, semangat untuk manembah pun kian hari mengendap ke bawah. Lalu, bagaimana mengungkapkannya? Bagaimana membawanya ke permukaan?

Satu-satunya cara adalah dengan melakukan introspeksi diri. Apakah kita bahagia dan puas dengan hidup kita saat ini?

Jika jawaban kita adalah “ya”, maka sulit untuk memunculkan jiwa panembahan yang tertimbun di bawah berbagai macam keinginan, harapan, dan sebagainya. Belum waktunya, belum saatnya. Jika jawaban kita “tidak”—kita tidak bahagia, tidak puas dengan hidup kita saat ini—maka ada harapan bagi semangat panembahan kita untuk muncul ke permukaan.

Kemudian, yang dibutuhkan adalah: Pemicu Kesadaran

Pemicu awal bisa dalam bentuk apa saja. Barangkali dari tulisan atau buku yang kita baca. Namun, bacaan saja tidak cukup. Kira mesti mengamalkan apa yang kita baca atau kita dengar dari seseorang yang telah bangkit jiwa panembahannya.

Jika seseorang belum bangkit jiwa panembahannya, ia tidak dapat membantu orang lain. Demikian juga halnya dengan tulisan mereka yang belum terbangkit jiwa panembahannya.

Lalu, bagaimana mengetahui bahwa jiwa panembahan seseorang telah bangkit? Dari mana kita tahu seseorang telah mencapai tahap kesadaran di mana dirinya bisa menjadi pemicu?

Dari kedamaian dirinya. Dari keceriaan dan kebahagiaannya. Dari kesiapsediaannya untuk menghadapi tantangan hidup seberat apa pun. Hidup para panembah adalah pesan mereka. Mereka berpesan lewat laku hidup mereka sendiri.

Ada yang menyebut pemicu kesadaran guru, master, bhagavan atau begawan (berarti ia terberkati, tentunya yang dimaksud adalah terberkati oleh kesadaran. Dan, bukan dia saja, siapa pun bisa terberkati seperti itu). Dikutip dari buku      (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tuhan Bersemayam dalam Diri Bhakta-Nya

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on October 14, 2018 by triwidodo

Kisah Narada dan Narayana tentang Kebesaran Alam Semesta

Dikisahkan oleh seorang Master tentang Maharishi Narada yang sedang menghadap Gusti Narayana. Gusti bertanya, “Narada, dalam perjalananmu di seluruh dunia, apakah kau menemukan rahasia utama alam semesta? Apakah kau mampu memahami misteri di balik dunia iani? Saat kau melihat lima elemen alami besar, bumi, air, api, angin dan ruang, menurutmu apa yang paling penting?”

Narada mengingat-ingat pengalamannya menjelajah dunia dan menjawab, “Gusti, dari lima elemen yang paling padat yang paling penting adalah elemen bumi.” Gusti Narayana berkata, “Bagaimana mungkin bumi menjadi yang terbesar ketika tertutup oleh lautan? Ditelan oleh air? Mana yang lebih besar, benda yang ditelan atau yang menelannya?” Narada mengakui bahwa air harus lebih besar karena telah menelan bumi.

Gusti Narayana berkata, “Tapi Narada, kita memiliki kisah kuno bahwa ketika iblis berada di lautan, seorang bijak yang sakti datang dan menelan seluruh air lautan termasuk iblis di dalamnya dalam satu tegukan. Apakah kau pikir Orang Bijak tersebut lebih besar dari lautan?” Narada setuju pendapat tersebut. Tetapi Gusti Narayana melanjutkan, “Tetapi dikisahkan ketika dia meninggalkan tubuh duniawinya, dia menjadi bintang di langit. Orang Bijak tersebut sebagai bintang kecil di hamparan luas langit. Manakah yang lebih besar, Orang Bijak atau Langit?” Narada menjawab, “Gusti pasti Langit lebih besar?” Gusti Narayana bertanya, “Narada, tidakkah kau ingat kala Gusti mewujud sebagai Vamana, orang kerdil, satu langkahnya dapat menutupi bumi dan langit. Bukankah kau berpikir kaki Gusti lebih besar daripada langit?” Narada berkata, “Benar Gusti, kaki Gusti lebih besar daripada langit. Gusti Narayana berkata, “Jika kaki Gusti saja demikian besar, bagaimana pula dengan tubuh-Nya yang tidak terbatas?”

Maharishi Narada sampai pada kesimpulan akhir, “Ya, Gusti adalah terbesar, tak terbatas dan tak terukur, tidak ada yang lebih besar dari Guati.” Gusti Narayana masih melanjutkan, “Bagaimana dengan Bhakta yang dapat memenjarakan Gusti? Gusti berkenan bersemayam dalam diri Bhakta. Bhakta itu lebih besar daripada Gusti.”

 

Gusti “Takluk” dengan Bhakta-Nya

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan bahwa Rishi Durvasa karena tersinggung kepada Raja Ambharisha menciptakan makhluk untuk menyerang sang raja. Akan tetapi Sudarsana Chakra milik Vishnu melindungi sang raja dan bahkan mengejarnya. Rishi Durvasa minta tolong Brahma, tapi tidak bisa mengatasi senjata Vishnu tersebut. Demikian juga Mahadeva pun tidak sanggup mengatasi. Akhirnya Rishi Durvasa menghadap Vishnu.

Vishnu tersenyum dan berkata, “Durvasa, kamu juga tidak melihat bahwa aku pun sama seperti Brahma dan Mahadeva? Kamu tidak memahami diri-Ku. Aku bukan orang bebas. Aku mungkin mampu melakukan apa pun yang aku kehendaki. Tetapi aku adalah milik bhakta-Ku. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan memilih Aku sebagai sahabat mereka. Mereka meninggalkan segalanya untuk-Ku. Istri, rumah, anak, keinginan dan hidup mereka tinggalkan untuk-Ku. Mereka tidak memikirkan dunia dan tidak tergiur surga. Yang mereka harapkan hanya rahmat-Ku. Sebagai balasan, Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. mereka sudah menaklukkan aku dengan cinta mereka. hinaan apa pun terhadap mereka adalah hinaan kepada-Ku.”

Akhirnya Rishi Durvasa minta maaf kepada Raja Ambarisha.

 

Tuhan Bersemayam dalam Hati Hamba Beriman

Bapak Anand Krishna menyampaikan, “Bumi dan langit-Ku tidak dapat memuat-Ku. Tetapi hati hamba-Ku yang berimanlah yang lemah lembut dan tenang yang dapat memuat-Ku”.

Keyakinan, kelembutan dan ketenangan, tiga hal ini yang Anda butuhkan. Untuk menyadari kehadiran-Nya dalam kalbu Anda, dalam hati Anda, itu saja yang anda butuhkan. Selama Anda masih mencari-Nya di luar, sesungguhnya anda belum berkeyakinan, Anda belum cukup lemah lembut dan jelas belum tenang. Itu sebabnya Anda mencari Dia kemana-mana. Padahal Ia berada dalam hati kita sendiri. Keyakinan, kelembutan dan ketenangan pernahkah Anda menyelami kata-kata kunci ini? Pernahkah Anda menganggapnya sebagai kata-kata kunci?

Untuk menyadari kehadiran-Nya dalam hati, Anda harus berkeyakinan. Berarti pikiran Anda tidak kacau lagi. Selama pikiran Anda masih kacau, Anda tidak bisa yakin sepenuhnya. Keyakinan Anda, iman Anda akan selalu mengalami pasang surut. Jadi pikiran Anda harus terkendalikan. Kemudian, Anda harus lembut. Dan yang dimaksudkan harus menjadi lembut adalah kepribadian Anda, sifat Anda. Perilaku Anda harus lembut. Kata-kata yang Anda ucapkan harus lembut. Cara Anda mengucapkan harus lembut. Tetapi kelembutan ini harus muncul dari kesadaran. Bukan sesuatu yang dipaksakan. Bukan pula topeng yang harus Anda pakai. Anda harus menjadi lembut karena “sadar” bahwa kekerasan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah.

Yang ketiga, dan terakhir, adalah ketenangan. Ketenangan adalah rasa. Anda harus mengembangkan rasa dalam diri Anda. Jangan mengembangkan otak melulu………. Selama ini, kepribadian kita memang agak pincang. Otak diisi dengan segala macam pengetahuan, tetapi rasa tidak pernah dikembangkan. Dan jika rasa tidak berkembang, belum berkembang, seseorang tidak akan pernah kenal kasih. Lalu tanpa kasih Anda tidak akan pernah bisa mengasihi. Anda akan takut pada Tuhan, tetapi tidak bisa mengasihi-Nya. Ia yang mengaku dirinya sudah “cerah” sesungguhnya masih belum apa-apa. Ia masih angkuh, masih sombong. Ia masih hidup dalam kegelapan. Ia yang cerah akan membagi “pencerahan” tanpa gembar-gembor. Ia tidak akan memasang iklan. Ia tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari mereka yang memperoleh bingkisan “pencerahan” dari dirinya. Bahkan, mereka tidak pernah “merasa” telah membagikan sesuatu kepada siapapun juga. Dan, sebenarnya mereka memang tidak “memberikan” atau “membagikan” sesuatu apapun juga. “Kehadiran” mereka sudah merupakan berkah. Dimanapun mereka berada, disana akan terjadi pencerahan………..

Panembah yang Penuh Welas Asih dalam Bhagavad Gita

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Inilah alam yang lebih tinggi dari surga. Inilah alam-Nya, alam kebahagiaan Sejati. Bagi seorang panembah, alam ini, dunia ini adalah surga. Ia tidak mengejar surga setelah kematiannya. Ia sudah berada di dalam surga – sekarang dan saat ini juga.

Maka, setelah ia “mengalami kematian”, tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengalami sesuatu yang lebih tinggi; sesuatu yang lebih mulia.

Anak-anak kecil bermain dengan Gundu. Ketika sudah memasuki usia remaja, gundu-gundu itu ditinggalkannya. Ia memiliki permainan lain yang jauh lebih menarik. Demikian, seorang panembah melanjutkan perjalanan Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Para Suci Lebih Sakti Dari Pada Vishnu? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 24, 2018 by triwidodo

Narada, seorang Rishi yang bijaksana, berziarah ke istana Dewa Vishnu. Pada suatu malam ia singgah di sebuah desa dan diterima dengan baik oleh sepasang suami-isteri yang miskin. Sebelum ia berangkat pada hari berikutnya, si suami minta kepada Narada: “Tuan akan pergi kepada Dewa Vishnu. Tolong mintakanlah kepadanya, agar Ia menganugerahi saya dan isteri saya seorang anak. Sebab, sudah bertahun-tahun lamanya kami berkeluarga, namun kami belum juga mempunyai anak.”

Sampai di istana, Narada berkata kepada Dewa Vishnu: “Orang itu dengan isterinya amat baik kepada saya. Maka sudilah bermurah hati dan berilah mereka seorang anak.” Dewa Vishnu menjawab dengan tegas: “Telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan mempunyai anak.” Maka Narada menyelesaikan kebaktiannya, lalu pulang.

Lima tahun kemudian Narada berziarah ke tempat yang sama. Ia singgah pula di desa yang sama dan sekali lagi diterima dengan baik oleh pasangan suami-isteri yang sama pula. Kali ini ada dua orang anak bermain-main di muka pondok mereka.

“Anak-anak siapa ini?” tanya Narada. “Anak-anak saya.” jawab si suami. Narada bingung. Si suami meneruskan ceritanya: “Segera setelah Tuan meninggalkan kami lima tahun yang lalu, seorang pengemis suci datang mengunjungi kampung kami. Kami menerimanya barang semalam. Paginya, sebelum berangkat, ia memberkati saya dan isteri saya … dan Dewa mengaruniai kami dua orang anak ini.”

Mendengar cerita ini, Narada cepat-cepat menuju istana Dewa Vishnu lagi. Ketika tiba di sana, di depan pintu istana ia sudah berteriak: “Bukankah Dewa telah mengatakan: telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan punya anak? Kini ia mempunyai dua orang anak!”

Ketika Dewa Vishnu mendengar hal ini, ia tertawa keras dan berkata: “Pasti perbuatan seorang suci! Hanya orang suci yang mempunyai kuasa untuk mengubah nasib seseorang.”

Kita diingatkan akan pesta nikah di Kana. Waktu itu Ibu Jesus mendesak Putranya dengan doa-doanya untuk melakukan mukjizat yang pertama sebelum waktunya seperti yang telah ditentukan oleh Allah Bapa.

Dikutip dari (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Para Suci telah meninggalkan segalanya demi Gusti, maka Gusti tidak akan meninggalkan mereka. Para Suci penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Nya, mengingat-Nya, memuja-Nya tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Nya) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Nya. Mereka Dia-lindungi senantiasa dan Dia-penuhi segala kebutuhannya.

 

Para Suci Telah Meninggalkan Segalanya untuk Gusti, Gusti Tidak Akan Meninggalkan Mereka

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan bahwa Rishi Durvasa karena tersinggung kepada Raja Ambharisha menciptakan makhluk untuk menyerang sang raja. Akan tetapi Sudarsana Chakra melindungi sang raja dan bahkan mengejarnya. Rishi Durvasa minta tolong Brahma, tapi tidak bisa mengatasi senjata Vishnu tersebut. Demikian juga Mahadeva pun tidak sanggup mengatasi. Akhirnya Rishi Durvasa menghadap Vishnu.

Vishnu tersenyum dan berkata, “Durvasa, kamu juga tidak melihat bahwa aku pun sama seperti Brahma dan Mahadewa? Kamu tidak memahami diri-Ku. Aku bukan orang bebas. Aku mungkin mampu melakukan apa pun yang aku kehendaki. Tetapi aku adalah milik bhakta-Ku. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan memilih Aku sebagai sahabat mereka. Mereka meninggalkan segalanya untuk-Ku. Istri, rumah, anak, keinginan dan hidup mereka tinggalkan untuk-Ku. Mereka tidak memikirkan dunia dan tidak tergiur surga. Yang mereka harapkan hanya rahmat-Ku. Sebagai balasan, Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. mereka sudah menaklukkan aku dengan cinta mereka. hinaan apa pun terhadap mereka adalah hinaan kepada-Ku.”

Akhirnya Rishi Durvasa minta maaf kepada Raja Ambarisha.

Para Suci Senantiasa Ku-penuhi Segala Kebutuhannya

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Inilah alam yang lebih tinggi dari surga. Inilah alam-Nya, alam kebahagiaan Sejati. Bagi seorang panembah, alam ini, dunia ini adalah surga. Ia tidak mengejar surga setelah kematiannya. Ia sudah berada di dalam surga – sekarang dan saat ini juga.

Maka, setelah ia “mengalami kematian”, tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengalami sesuatu yang lebih tinggi; sesuatu yang lebih mulia.

Anak-anak kecil bermain dengan Gundu. Ketika sudah memasuki usia remaja, gundu-gundu itu ditinggalkannya. Ia memiliki permainan lain yang jauh lebih menarik. Demikian, seorang panembah melanjutkan perjalanan Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Gusti Memenuhi Segala Kebutuhan Para Suci

Seorang panembah tak pernah kekurangan sesuatu. Aku memenuhi segala kebutuhan para panembah yang telah berserah diri kepada-Ku. Demikian pula janji Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta. Maka, sesungguhnya kau tidak perlu khawatir tentang kebutuhanmu sehari-hari. Jika kekurangan sesuatu, mintalah kepadaKu.

Mintalah kepada Tuhan Hyang Maha Memiliki. Untuk apa mengharapkan sesuatu dari dunia, berharaplah kepada Hyang Memiliki dunia. Untuk apa mengharapkan penghargaan dan pengakuan dari dunia, lebih baik mengharapkan berkah dan karunia Ilahi.

Janganlah terperangkap dalam permainan dunia. Pujian yang kau terima dari dunia tidak berarti apa pun jua. Jalani hidupmu dengan kesadaranmu sepenuhnya terpusatkan kepada Tuhan. Ketertarikan kepada dunia sungguh tak berarti. Tuhan adalah Hyang Maha Menarik!

Ingatlah Aku setiap saat, sehingga dunia benda tidak menggodamu. Hanyalah dengan cara ini kau dapat merasakan kedamaian, dan ketenangan sejati. Inilah cara untuk hidup tanpa beban apapun.

Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Keyakinan di Pasang-Surut Kehidupan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 29, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang pria yang habis menikah, pulang ke rumah bersama istrinya. Mereka menyeberangi selat kecil dengan perahu, ketika tiba-tiba badai besar muncul. Pria itu adalah seorang ksatria, tetapi wanita itu menjadi sangat takut. Perahu ini kecil, sedangkan gelombang badai benar-benar besar. Tetapi pria itu tetap tenang.

Si wanita gemetar dan berkata, “Apakah Kanda tidak takut? Ini mungkin saat terakhir hidup kita! Saya tidak melihat bahwa kita akan mampu mencapai pantai seberang. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan kita, jika tidak selamat kita pasti mati. Apakah Kanda tidak takut? Apakah Kanda marah? atau Kanda terbuat dari batu?”

Si pria tertawa dan mengeluarkan pedang dari sarungnya. Kemudian dia meletakkan pedang tersebut di dekat leher si wanita, begitu dekat hampir menyentuh lehernya. Si pria bertanya, “Apakah Dinda takut?”

Si wanita jadi tertawa dan berkata, “Mengapa saya harus takut? Karena pedang itu di tangan Kanda, mengapa saya takut? Dinda tahu Kanda mengasihiku?”

Si pria meletakkan kembali pedang tersebut pada sarungnya dan berkata, “Itu adalah jawaban Kanda. Saya tahu Gusti mengasihi saya, dan pedang ada ditangan-Nya, badai ada di tangan Gusti. Jadi apa pun yang akan terjadi adalah demi kebaikan. Jika kita bisa bertahan hidup bagus; jika kita tidak bisa bertahan hidup, bagus juga, karena semuanya ada dalam tangan Gusti.”

Keyakinan si pria memberi ketenangan pada si wanita. Keyakinan yang besar tersebut dapat mengubah seluruh kehidupan kita. Demikian kisah Osho

Pada waktu latihan AIM Yoga, afirmasi pertama adalah “Aku membuka diri terhadap semua kemungkinan (kedua belah tangan dibuka) dan aku menerima setiap keadaan (kedua tangan ditutup dalam posisi namaskar). Kita melakukan itu beberapa kali. Semoga afirmasi itu tertanam dalam hati-sanubari kita untuk siap menerima apa pun kejadian yang akan menimpa diri kita.

 

Ciri-ciri seorang Bhakta

Bagaimana ciri-ciri seorang Bhakta? Bagaimana mengenalinya? Gampang…… Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam keadaan suka maupun duka – ia tetap sama. Ketenangannya kebahagiaannya, keceriaannya – tidak terganggu.  Ia bebas dari rasa takut. la tidak akan menutup-nutupi Kebenaran. la akan mengungkapkannya demi Kebenaran itu sendiri. la menerima setiap tantangan hidup…..

la bersikap “nrimo” – nrimo yang dinamis, tidak pasif, tidak statis. Pun tidak pesimis. Menerima, bukan karena merasa tidak berdaya; iklas, bukan karena memang dia tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima kehendak Ilahi sebagaimana Isa menerimanya diatas kayu salib. Ia berserah diri pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Muhammad memaknai Islam sebagai penyerahan diri pada-Nya.

Pasang-surut dalam kehidupan seorang Bhakta tidak meninggalkan bekas. Tsunami boleh terjadi, tetapi jiwanya tidak terporak-porandakan. Banyak yang berprasangka bahwa sikap “nrimo” membuat orang menjadi malas. Sama sekali tidak. Sikap itu justru menyuntiki manusia dengan semangat, dengan energi  Terimalah setiap tantangan, dan hadapilah!               

Seorang Bhakta selalu penuh semangat. Badan boleh dalam keadaan sakit dan tidak berdaya – jiwanya tak pernah berhenti berkarya. la akan tetap membakar semangat setiap orang yang mendekatinya.

“Jadilah seorang Bhakta,” demikian ajakan Sri Krishna kepada Arjuna, di tengah medan perang Kurukshetra. Tentunya, ia tidak bermaksud Arjuna meninggalkan medan perang dan melayani fakir-miskin di kolong jembatan. Atau, berjapa, berzikir pada Hyang Maha Kuasa, ber-keertan, menyanyikan lagu-lagu pujian. Tidak. Krishna mengharapkan Arjuna tetap berada di Kurukshetra, dan mewujudkan Bhaktinya dengan mengangkat senjata demi Kebenaran, demi Keadilan.

Ingatlah pesan Sri Krishna kepada Arjuna: “Janganlah engkau membiarkan dirimu melemah di tengah medan perang ini. Angkatlah senjatamu untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan. Janganlah memikirkan hasil akhir, janganlah berpikir tentang untung-rugi.     Berkaryalah sesuai dengan tugas serta kewajibanmu dalam hidup ini!”

Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Mempersembahkan Hasil Akhir kepada Gusti

Jangan ‘asal berkarya’ – jangan asal ‘berbuat’. Jangan asal ‘makan’. Jangan asal ‘hidup’. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh, bagi lingkungan, bagi masyarakat.

Di anak tangga berikutnya adalah Meditasi – Senantiasa menyadari kesadaraan Ilahi di dalam diri, inilah Meditasi. Pemusatan kesadaran pada Ilahi, itulah Meditasi. Meditasi, berarti hidup berkesadaran. Melakoni hidup secara meditatif.

Jadi, apa yang dijelaskan Krsna dalam ayat ini adalah langkah-langkah progresif. Setiap langkah mengantar kita pada langkah berikut yang lebih mulia dan memuliakan.

Pengetahuan sejati pun tidak berarti apa-apa jika tidak dihayati. Bukan sekadar ‘tahu’, tetapi menghayati pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa ‘dihidupi’, akan menjadi basi, tidak berguna.

‘Hayat’ dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti ‘hidup’. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah meditasi yang sebenarnya. Inilah meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… Dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada ‘laku’ – ya, kembali pada laku. Tapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

‘Laku’ di anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakakan; laku yang meditatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan segala atribut tambahan tersebut, laku di anak tangga tersebut sudah bukan laku biasa.

Tidak seperti laku di anak tangga awal. Laku di anak tangga ini adalah laku seorang panembah, laku dengan semangat manembah. Dan, bukanlah sekedar itu, laku di anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna ‘renunciation’ atau ‘tyaga’.

Berati, bukan sekadar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dimuliakan. Penjelasan Bhagavad Gita 12:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Raja dan Guru Nanak

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 2, 2018 by triwidodo

Dikisahkan pada suatu ketika seorang raja di India mendatangi Guru Nanak yang sedang berada di tepi sungai dan bertanya, “Wahai Guru! Seperti yang Guru katakan bahwa Tuhan pribadi melindungi para bhakta, para devoti-Nya. Padahal Tuhan memiliki begitu banyak utusan, mengapa Dia melindungi para bhakta, para devoti-Nya secara pribadi? Mengapa Dia tidak menyuruh para utusan-Nya untuk membantu para bhakta, para devoti-Nya?”

Pada saat sang raja berkata demikian, putranya sendiri yang sedang bermain di tepi sungai tergelincir masuk ke sungai. Melihat kejadian tersebut sang raja langsung melompat ke tengah sungai menyelamatkan sang anak.

Setelah menyelamatkan anaknya sang raja kembali ke tempat Guru Nanak.

Guru Nanak bertanya, “Wahai Raja, mengapa Raja melompat ke sungai?”

Sang raja menjawab, “Anak saya tergelincir di sungai dan saya harus segera menyelamatkannya.”

Guru Nanak bertanya, “Raja mempunyai banyak bawahan yang tepercaya, mengapa Raja melompat sendiri, tidak minta bantuan bawahan?

Sang Raja menjawab, “Karena menyangkut anak yang saya sayangi, saya tidak mau ambil risiko, saya mesti melindunginya dan menjaga keselamatannya.”

Guru Nanak berkata dengan pelan, “Wahai Raja, Tuhan mencintai bhakta-Nya, devoti-Nya seperti Raja mencintai putra Raja………”

 

Panembah yang Senantiasa Dilindungi Gusti

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Sebenarnya Tuhan sama terhadap setiap makhluk, hanya bagi para bhakta kehadiran-Nya tampak nyata

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

Bayangkan rumah besar bak istana. Seluruhnya milik seorang kaya. Di mana-mana kita melihat ayat atau bukti kehadirannya. Namun, ia berada di salah satu ruangan — wujudnya berada dalam ruangan yang menjadi ruang pribadinya — entah itu ruang istirahat, ruang baca, atau ruang lain. Tidak berarti bila gerak-geriknya terbatas pada satu atau beberapa ruangan pilihannya saja. Tidak. Ia bisa berada di mana saja. Seluruh bangunan adalah milik dia. Kepemilikannya dapat dirasakan di mana saja, namun di ruang-ruang tertentu, kehadirannya menjadi sangat nyata.

Setiap analogi, perumpamaan yang kita gunakan, sesungguhnya hanyalah membuktikan kegagapan kita. Namun, mau tidak mau kita mesti menggunakannya untuk “sedikit” memfasilitasi pemahaman kita.

SEORANG PANEMBAH yang senantiasa berbakti pada-Nya adalah manunggal dengan-Nya. Dalam tradisi rohani di wllayah peradaban kita — kita tidak membedakan antara “Zat” Gusti dan Kawula. Zat yang mengabdi dan Hyang diabdi atau objek pengabdian – adalah satu dan sama.

Tentunya filsafat rohani ini tidak bisa dipahami oleh mereka yang beljiwa gersang, di mana kekerasan hati menjadi penghalang utama bagi kemanunggalan. Scbab itu, para penerima Wahyu, para resi mengajarkan paham VisistadvaitaDualitas Khusus – bagi mereka yang berjiwa keras dan gersang.

Visistadvaita adalah filsafat tengah di antara Dvaita atau dualitas dan Advaita atau non-dualitas murni.

ADVAITA ATAU NON—DUALITAS adalah filsafat hidup yang menjadi landasan pemikiran para resi di wilayah peradaban kita. Filsafat Non-Dualitas murni, di mana Kawula dan Gusti adalah manunggal, hanya dapat dipahami oleh rnereka yang bersentuhan dengan ajaran-ajaran para resi dari peradaban kita, mereka yang telah “melihat” kebenaran.

DVAITA ATAU DUALITAS adalah filsafat hidup yang melihat kawula sebagai kawula, dan Gusti sebagai Gusti. Tidak ada kemungkinan untuk menyatu atau manunggal. Bagairnanapun, kcdudukan pengabdi selalu di bawah Ia yang diabdi. Dalam pemahaman ini, ketunggalan Tuhan diakui. Tapi, kemanunggalan antara pengabdi dan yang diabdi tidak diakui. Pemahaman ini sering menciptakan perpecahan, distorsi, dan pada akhirnya pertikaian.

………….

Visistadvaita tetap mempertahankan perpisahan antara Jiwa dan Jiwa Agung — keduanya beda secara kuantitatif. Walau, di antara mereka ada juga yang berpendapat bahwa perbedaan kuantitatif itu menjadi tidak penting-penting banget, karena Jiwa dan Jiwa Agung adalah sama secara kualitatif. Secara kuantitatif, secawan air laut jelas tidak sama dengan seluruh air di laut. Tetapi, secara kualitatif, air di dalam cawan itu adalah sama asinnya dengan air laut. Sama-sama air laut.

Mereka yang berada dalam wilayah Visistadvaita memuja…… ..

TUHAN SEBAGAI AYAH, IBU, Saudara, Kawan, bahkan Kekasih. Mereka menciptakan hubungan yang erat — melebihi hubungan antara majikan yang diabdi dan jongos yang mengabdi. Ada pula di antara mereka, lulusan Wilayah Dvaita, yang merasa tidak perlu rnengubah hubungan dalam bentuk pengabdi dan Hyang diabdi — namun, mereka mengubah relasi antara keduanya, mempereratnya. Pengabdi bukanlah jongos yang selalu mengharapkan gaji. Ia mengabdi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Dasarnya bukan lagi untuk meminta suatu imbalan, tetapi semata karena kasih.

Hubungan antara Advaita dan Visistadvaita sangat erat. Ada kalanya seorang panembah yang telah manunggal, telah berada dalam Wilayah Advaita — memilih untuk turun tangga sedikit, berada dalam wilayah Visistadvaita dengan penuh kesadaran, supaya dapat merasakan manisnya cinta, manisnya kasih, manisnya rasa rindu. Mereka sengaja menciptakan perpisahan untuk memunculkan romance di dalam hidup mereka — Roman Ilahi. Inilah yang dimaksud oleh Krsna, bahwasanya kehadiran-Nya dapat dirasakan, bahkan dapat dilihat di dalam diri seoran g panembah sejati, walau sesungguhnya Ia Maha Ada — berada di mana-mana. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia