Archive for bhakta

Krishna Kecil: Akrura Perjalanan Menuju Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 14, 2017 by triwidodo

Tujuan hidup manusia hanya “satu” – menyatu, bersatu dengan Tuhan. Jika memang demikian, doa apa lagi yang harus Anda ucapkan? Tidak bisa lain, permohonan Anda pun harus satu: Supaya yang sulit dipermudah; supaya Dia menjadi penuntun, karena Dia pula yang menjadi tujuan hidup. Aku dalam perjalanan menuju Engkau, Ya Allah, Ya Rabb. Aku tidak tahu, bekal apa yang akan kubutuhkan dalam perjalanan ini. Apa yang harus kuminta? Engkau Maha Tahu! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita.

Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran! Penjelasan Bhagavad Gita 18:66 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ketika kita mencintai seseorang kita tentu memikirkan mereka. Jadi, ketika kita mencintai Krishna adalah wajar untuk berpikir tentang dia dan ingin mendengar atau membaca tentang leela-nya atau kegiatan ilahinya. Mereka yang ingin mencintai Krishna diharapkan membaca tentang leela Krishna dalam Srimad Bhagavatam.

Kisah tentang pencinta bernama Akrura ini dimulai saat ia melakukan perjalanan ke Brindavan untuk membawa Krishna dan Balarama ke Mathura. Akrura sangat bahagia saat ia melakukan perjalanan untuk menemui Krishna. Akrura memuja Krishna sebagai seorang bhakta. Empat suasana hati lainnya adalah rasa yang netralitas, persahabatan, orang tua, dan kasih suami-istri.

Setelah Krishna membunuh asura bernama Aristasura di Brindavan, Rishi Narada memutuskan untuk memfasilitasi salah satu misi Krishna untuk membunuh semua asura. Oleh karena itu, ia pergi ke Mathura untuk berbicara dengan Raja Kamsa. Narada menjelaskan kepada Raja Kamsa bagaimana ia telah ditipu oleh ayah Krishna, Vasudeva, dengan berpikir bahwa anak kedelapan adalah seorang putri, padahal sudah diramalkan bahwa anak kedelapan Vasudeva akan membunuh Kamsa. Sebenarnya anak kedelapan Vasudeva adalah Krishna, tetapi Vasudeva membawanya ke Brindavan, dia dilindungi dan dibesarkan oleh Nanda dan Yashoda. Setelah mendengar hal ini, Raja Kamsa marah dan segera ingin membunuh Vasudeva, tetapi Rishi Narada membujuknya agar tidak membunuh Vasudeva dan Devaki.

Bagaimanapun, Kamsa menjadi begitu marah sehingga Vasudeva dan Devaki dipenjara. Kemudian Kamsa memunculkan ide untuk mengatur pertandingan gulat di Kota Mathura dan mengundang Krishna dan Balarama, saudaranya, bersama para gopala untuk datang dan menyaksikan perayaan serta menikmati keindahan kota.

Rencana Kamsa adalah untuk menantang Krishna dan Balarama dalam pertandingan gulat dan dua bersaudara tersebut dibunuh. Selain itu, Kamsa memikirkan cara alternatif untuk membunuh Krishna bahkan sebelum pertandingan gulat berlangsung; melalui serangan dari gajah yang paling kuat.

Untuk memastikan keberhasilan rencananya, Kamsa memanggil Akrura. Akrura adalah seorang komandan tentara dari keturunan/dinasti Vrsni dan termasuk paman dari Krishna. Akrura seorang pencinta Krishna dan setiap hari dia memuja Krishna, oleh karena itu Raja Kamsa meminta bantuan Akrura untuk membujuk Krishna agar datang ke Mathura.

Bagi Akrura, hidup dia tidak menuruti pikiran pribadinya tetapi menuruti kehendak-Nya sehingga perintah Kamsa pun dia anggap merupakan kehendak-Nya untuk menemui Gusti dalam wujud Krishna.

Kamsa memanggil Akrura, dengan sopan ia memuji dan mencoba untuk membujuk untuk membantunya membawa Krishna dan Balarama ke Mathura dan juga mengundang semua para penggembala. Dia menggambarkan kepada Akrura semua rencana untuk membunuh Krishna, Balarama, orang tua mereka, dan semua raja saingannya sehingga ia dengan tenang bisa menguasai dunia.

Setelah dengan sabar mendengarkan Raja Kamsa, Akrura menjawab, “Wahai Raja, Paduka telah merencanakan dengan baik proses untuk membebaskan diri Paduka dari kemalangan. Namun, ada kemungkinan keberhasilan ataupun kegagalan, karenanya tentu takdirlah yang akan menentukan. Oleh karena itu, orang selalu bertemu kebahagiaan maupun kesusahan. Meskipun demikian, saya tetap akan melaksanakan perintah Paduka.”

Pagi berikutnya, Akrura berangkat ke Brindavan dengan menggunakan kereta baru yang diberikan oleh Raja Kamsa. Saat ia melakukan perjalanan, ia mengalami rasa devosi yang mendalam, merasa sangat diberkati karena memiliki kesempatan untuk melihat Krishna. Dia bertanya-tanya apa yang telah dia lakukan untuk menerima keberuntungan besar seperti itu, namun ia menganggap ini sebagai berkah dari Krishna kepadanya. Akrura menganggap bahwa pada hari ini hidupnya menjadi berhasil karena ia akan mampu menyentuh kaki teratai Krishna, yang dicari oleh para yogi besar.

Saat ia merenungkan apa yang mungkin terjadi ketika ia benar-benar melihat Krishna, ia berterima kasih kepada Raja Kamsa yang telah mengirimkan dia dalam misi ini. Meskipun Kamsa memiliki niat jahat, hal itu justru memberikan Akrura kesempatan langka bertemu Krishna.

Akrura merenungkan Krishna dengan sepenuh hatinya dan nyaris tidak menyadari waktu berlalu, sepertinya waktu yang sangat singkat. Akhirnya, setelah perjalanan sepanjang hari, ia memasuki Brindavan. Pada saat itu Akrura memperoleh berkah “penglihatan” bisa melihat bekas tapak kaki Krishna. Kita sudah membaca kisah saat para gopi menemukan jejak kaki Krishna. Demikian pula dengan Akrura, bhakta Krishna. Larut dalam kebahagiaan saat melihat jejak kaki Krishna, membuat ujung-ujung rambutnya berdiri karena cinta yang murni, dan matanya penuh dengan air mata, Akrura melompat turun dari kereta kudanya dan mulai berguling-guling di antara jejak kaki Krishna, dan berseru, “Ah, ini debu dari kaki Krishna! Betapa bahagianya Brindavan yang dipenuhi tapak kaki Krishna di mana-mana.”

Akrura berguling-guling di tanah suci, penuh kerendahan hati, tidak mempertimbangkan etika sosial atau apa pun kedudukan dia. Dia tidak takut kritik dari teman atau Kamsa. Akrura hanya ingin melayani Krishna dalam suasana hatinya penuh kasih.

Akhirnya, Akrura bertemu Krishna dan Balarama dan mengajak mereka ke Mathura. Ini adalah kejadian paling indah dalam kehidupan Akrura.

Cinta tidak mengenal basa-basi. Kasih berada di atas segala macam hukum dan peraturan. Itu sebabnya, seorang pencinta Allah akan melampaui segala macam formalitas. Hukum, peraturan, formalitas, dan basa-basi akan tetap dibutuhkan oleh mereka yang belum mengenal cinta, dan belum mengetahui arti Kasih. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Satu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kereta mereka tiba di Mathura. Selanjutnya Krishna berkata pada Akrura: “Paman, engkau masuklah terlebih dahulu ke kota, aku akan menyusul kemudian.”

Tak bisa membayangkan perpisahan dengan Krishna, dengan berat hati dan sambil menangis Akrura berkata: “Gusti, janganlah lupakan aku, pengabdi-Mu.  Mohon sucikan rumah kami dengan debu kaki-Mu. Dengan melakukannya Maharaja Bali mencapai tingkat kebahagiaan hakiki yang hanya bisa tercapai oleh dia yang pengabdiannya luar biasa, oleh mereka dengan devosi yang sangat tinggi saja. Air yang tersentuh oleh kaki suci-Mu mampu memberkati ketiga dunia.”

Krishna berkata, “Aku akan mengunjungi rumahmu setelah misi-Ku di Mathura selesai.”

Dan akhirnya Akrura pun beranjak pergi. Krishna dan rombongannya tinggal di daerah pinggiran kota Mathura. Kemudian, dengan berjalan kaki Krishna menuju pusat kota.

Krishna Kecil: Menyelamatkan Nanda dari Varuna #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 4, 2017 by triwidodo

Chaitanya hendak mengajak kita untuk menuju rumah-Nya lewat jalan kasih. Banyak jalan untuk menuju rumah-Nya, dan kita dapat memilih jalan yang mana saja, seperti tertulis dalam Bhagavad Gita, “Jalan mana pun yang kau tempuh, kau akan bertemu dengan-Ku!”

Semua jalan benar adanya, sama-sama benar. Tidak ada satu pun jalan yang salah. Kesalahan adalah ketika kita bermalas-malasan dan tidak berjalan.

Bila Hyang Maha Menawan hendak dituju, maka jalan kasihlah yang mesti ditempuh. Ini adalah jalan lembut, jalan yang penuh rasa. Inilah Bhakti, pengabdian purna waktu yang sepenuh hati. Mencintai Gusti Pangeran sebagaimana Rabi’ah al Adawiyya mencintai Tuhan. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari, kala Nanda sedang menjalani puasa Ekadashi, dia mandi di Sungai Yamuna pada waktu yang terlalu dini. Seorang Pengawal Dewa Varuna menganggap tindakannya salah karena mandi terlalu dini dan membawa Nanda ke istana Varuna. Ketika berdiri di tepi Sungai Yamuna, teman-teman Nanda melihat Nanda tenggelam dan tidak muncul ke permukaan, mereka ribut dan ada yang mendatangi Krishna untuk meminta bantuan-Nya. Krishna berpikir bahwa ini adalah tindakan bodoh pengawal Varuna, lalu dia segera terjun ke Sungai Yamuna. Para gopi begitu sedih melihat Krishna terjun ke Sungai Yamuna dan lama tidak kembali. Mereka merasa depresi karena menganggap Krishna telah pergi ke dunia lain.

Krishna mendatangi istana Varuna dan Varuna menyambut Krishna dengan penuh penghormatan. Varuna berterima kasih karena semua penduduk istana telah dimurnikan dengan kedatangan Krishna. Kelahiran Varuna pun menjadi bermakna berkat kedatangan Krishna. Varuna bersujud di kaki Krishna dan memohon ampun atas kesalahan pengawalnya yang membawa Nanda ke istananya. Setelah memuji Krshna, Varuna membasuh kaki Krishna sambil berkata, “Wahai Krishna, segalanya di sini termasuk saya adalah milik-Mu!”

Krishna dengan penuh kasih berkata bahwa Dia menyenangi penghormatan dari seorang bhakta-Nya dan mengatakan bahwa di mana pun bhakta-Nya tinggal, maka di sana pula Dia berada. Kemudian Krishna bersama Nanda segera kembali muncul dari Sungai Yamuna. Para gopa dan para gopi merasakan kebahagiaan yang tak terkira.

Nanda merasa kebingungan melihat kemewahan istana Varuna dan bagaimana Varuna sangat menghormati Krishna. Dia menceritakan kisahnya kepada para gembala di Brindavan. Tanpa ragu, para gembala di Brindavan berpikir bahwa Krishna adalah Tuhan Alam Semesta seperti yang digambarkan dalam kitab-kitab suci. Mereka berpikir apakah Krishna akan berkenan menunjukkan diri-Nya kepada mereka sebagai Brahman yang tanpa batas.

Krishna mengetahui apa yang dipikirkan para gembala dan memutuskan untuk melimpahkan rahmat-Nya. Para gopala, para gembala adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, akan tetapi bhakti mereka terhadap Krishna sangat besar sehingga mereka mendapatkan anugerah yang tak pernah diperoleh oleh seorang yogi pun.

Pertama, mereka dapat merasakan keagungan Brahman, tetapi Krishna paham bahwa mereka tak bisa mengalaminya dalam waktu lama. Selanjutnya, Krishna menunjukkan kepada mereka istana Vaikuntha tempat tinggal Sri Vishnu. Para gopala dapat merasakan kebahagiaan tanpa ada kecemasan sedikit pun. Akan tetapi, beberapa saaat kemudian mereka merasa sedih karena mereka belum melihat Krishna, dan kemudian mereka melihat Narayana di Vaikuntha yang sama dengan Krishna yang dikenal mereka. Akhirnya, mereka menyadari bahwa kehidupan di Brindavan adalah kehidupan yang sangat membahagiakan karena dapat melihat dan berbicara langsung setiap hari dengan Krishna atau Narayana yang mewujud.

 

Kerinduan para gopi dan gopala

Pertemuan adalah perayaan. Namun, kerinduan adalah kekuatan untuk merayakan. Rasa rindu adalah pendorong jiwa dan penyemangat batin. Adakah kerinduan di dalam diri kita untuk bertemu dengan Gusti Pangeran? Apa dan siapa yang kita rindukan selama ini? Jika kita masih merindukan istana, dan bukan pemilik istana, maka kita tak akan pernah bertemu dengan Sang Pangeran, dengan Gusti. Berada di dalam istana-Nya tidak berarti sudah bertemu dengannya. Tanpa niat kuat untuk bertemu dengan-Nya, istana semesta ini bisa menjadi jebakan. Itulah yang telah terjadi selama ini. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Krishna mengajak para gopala di Brindavan menuju rumah-Nya lewat jalan kasih. Pertemuan para gopi dan gopala dengan Krishna membekas amat dalam dalam hati mereka. itulah sebabnya mereka selalu merasakan kerinduan yang dalam saat tidak bertemu dengan Krishna. Setiap saat mereka merasa rindu dan selalu ingin bertemu dengan Krishna.

Kerinduan ini tak bisa dirasakan oleh para cendekiawan.

Seorang cendekiawan biasanya lebih banyak menggunakan otak daripada hati. Ini sudah menjadi rahasia umum. Ketidakseimbangan inilah yang membuat mereka agak kaku. Lalu, apa bedanya dengan para panembah? Bukankah mereka lebih banyak menggunakan hati daripada otak, maka menjadi cengeng? Bukankah mereka pun tidak seimbang?

Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami dan menyadari bahwa para panembah tidak berseberangan dengan para cendekiawan. Para cendekiawan berseberangan dengan para seniman. Dua kelompok ini berbeda pada dua ekstrem. Yang satu kutub utara, dan yang lain kutub selatan. Mereka jarang bertemu.

Wilayah panembahan berada di atas otak dan di bawah hati. Berarti ia meliputi keduanya. Karena itu, jika dibutuhkan, seorang panembah bisa tampil seratus persen otak dan seratus persen hati pada saat yang sama. Sungguh sangat sulit menjelaskan rahasia wilayah ini. Hanya seorang panembah yang tahu, Kendati ia pun tetap gagap. Ia juga tidak mampu menjelaskannya.

Berada di tengah para panembah, para pencinta Pangeran, ia menjadi lembut, selembut panutannya Krishna yang baru berusia 8-9 tahun. Imut-imut, lucu, agak nakal, tetapi sangat menawan. Ia adalah Mana-Mohana, sang Penawan Jiwa.

Berada di tengah medan perang Kuruksetra, ia sangat tegas. Demi kebajikan, keadilan, kepentingan umum, negara, dan bangsa ia siap berkorban. Ia rela menjadi sais kereta Arjuna, seorang sepupu, sahabat, sekaligus dalang, sutradara agung penentu arah perang itu. Ia bisa berada di belakang dan di depan layar pada saat yang sama.

Sungguh luar biasa! Tak seorang pun dapat menandingi kemampuan dan kejelian seorang panembah. Bagi seorang panembah, alam semesta adalah wilayah panembahannya. Di mana saja, dan dalam keadaan apa saja ia tetap berkarya. Para cendekiawan dengan otak besar, dan para seniman dengan hati besar menjadi sangat kecil di depan seorang panembah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dan, Arjuna pun “sungkem” kepada Penjagal Daging

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on August 27, 2016 by triwidodo

buku narada bhakti sutra arjuna minta nasehat kriahna

“Menjadi seorang pencinta Allah berarti tidak mengharapkan sesuatu dari siapa pun juga. Entah itu anak sendiri atau sahabat karib, bahkan tidak mengharapkan sesuatu dari Allah, dari Tuhan. Berserah diri sepenuhnya, “Engkau Maha Tahu, Tuhanku….. Engkaulah Maha Mengetahuai….”

“Jangan mengharapkan anak Anda akan menyantuni Anda di masa tua nanti. Besarkan dia, berikan dia pendidikan tanpa harapan apa pun juga. Bila Anda mengharapkan sesuatu dan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan itu, Anda pun kecewa.” Nasehat tersebut di atas mengawali kisah Arjuna, Krishna dan Penjagal Daging berikut:

 

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Arjuna sangat dekat dengan Sri Krishna, maka timbullah ego baru — ego spiritual. Seolah-olah dirinya sudah hebat.

Pada suatu hari, Arjuna hendak bepergian ke kota lain, dan Krishna menitipkan satu karung beras, “Arjuna, berikan karung ini kepada seorang temanku. Kebetulan dia tinggal di kota itu.”

Arjuna merasa aneh. “Satu karung beras?” pikir dia. Bila dia memang miskin, kenapa tidak dibantu saja? Krishna seorang Raja, dan tentu saja bisa memberikan pekerjaan, atau uang sehingga dia membuka usaha sendiri. Apa arti satu karung beras? Mau makan sampai kapan? Aneh, aneh, aneh…..

“Biarlah aku membantu dia. Tidak perlu membawa beras dari sini,” kata Arjuna.

“Tidak, tidak….. Bawalah beras ini. Satu karung ini sudah cukup untuk dia.” Sri Bhagavan menanggapinya.

Arjuna mungkin berpikir, “Pelit banget kamu… Pemberian ini tidak cocok dengan derajatmu. Berilah sesuai dengan kemampuan serta derajatmu. Demikian pula anjuran kitab-kitab suci.”

Memang demikian anjuran kitab-kitab suci, “Berilah sesuai dengan kemampuan serta derajatmu.” Dana-punia atau sedekah tidak bisa diseragamkan. Berilah sesuai dengan kesadaranmu, bila penghasilanmu meningkat, meningkat pula. Sebaliknya, bila penghasilanmu tidak seberapa, janganlah engkau memberi hanya karena rasa malu atau merasa wajib memberi.

Terpaksa, Arjuna harus mengangkutkarung beras itu. Sampai di kota tujuan, Arjuna mencari alamat “sahabat Krishna”. Ternyata dia seorang penjual daging. “Achhhhh, sungguh menjijikan. . ..,” pikir Arjuna.

Lebih-lebih lagi, ketika dia melihat si penjual daging itu menimbang jualannya sembari mengucapkan nama Tuhan, “Hari Bol, Hari Bol, Hari Bol…” Ucapkan Nama Dia Yang Maha Menyelamatkan, Maha Membebaskan….

Arjuna tidak memahami maksudnya, “Menyelamatkan dari apa, membebaskan dari apa? Siapa pula yang harus menyelamatkan diri dan membebaskan? Bukankah manusia harus berupaya sendiri untuk itu?”

Dia tidak paham bahwa si penjual daging sedang berdoa agar dirinya terbebaskan dari kesadaran badaniah, lahiriah.

Arjuna menegurnya dengan nada kesal, “Ini, aku membawakan satu karung beras untukmu.”

“Satu karung beras? Untuk apa? Dari siapa?”, tanya si penjual daging.

“Dari Sri Krishna. Karung beras ini titipan ini titipan dari beliau.”

“Kalau begitu, anda pastilah Prabhu Arjuna.”

“Ya, aku memang Arjuna.”

“Beruntung sekali aku, bisa bertemu dengan Sang Prabhu. Silakan masuk ke dalam.”

Masuk dalam ke mana? Duduk di mana? Arjuna masih belum “bebas” dari kesadaran wujud. Dia tidak bisa melihat kebenaran di balik wujud, “Mungkin lain kali saja… Saya masih banyak urusan dan harus segera berpulang ke Hastinapura.

Penjual daging tersenyum. Seolah bisa membaca pikiran Arjuna, “Ya, mungkin lain kali. Begitu pula dengan karung beras ini, mungkin lain kali saja.”

“Apa maksudmu?”

“Persediaan beras di rumah masih cukup untuk dua hari mendatang. Aku berterima kasih kepada Sri Krishna, tetapi tidak bisa menerima kirimannya. Aku juga berterima kasih kepada Sang Prabhu, karena sudah bersusah payah datang khusus untuk mengantar beras ini.”

“Kamu tidak mau menerima kiriman ini karena masih memiliki persediaan untuk dua hari mendatang? Demikian katamu tadi?”

“Ya, Sang Prabhu. Dan, selama ini aku tidak pernah kelaparan. Keluarga pun berkecukupan. Untuk apa menimbun beras? Dia memenuhi segala kebutuhanku selama ini. Dan akan memenuhi pula di kemudian hari.”

Solid… dua puluh empat karat emas murni. Logam mulia. Dialah seorang Bhakta. Dialah seorang pencinta Allah, bukan mereka yang sibuk menimbun harta dan kemudian “sekian persen dari harta itu disumbangkan untuk membangun tempat-tempat ibadah. Atau dibagikan kepada fakir miskin. Mereka adalah para pencinta “sekian persen”. Cinta mereka sebesar persentase sumbangan mereka. Cinta mereka belum seratus persen. Penyerahan diri mereka belum sampurna. Bahkan, sesungguhnya mereka belum berserah diri.

Arjuna baru sadar, “Engkaulah seorang Bhakta, seorang pencinta sejati.” Dan dia bersungkam mencium kaki si penjual daging itu.

“Untuk mencapai ketinggian Kasih, tidak perlu melepaskan dunia dan kewajiban-kewajiban duniawi. Yang perlu dilepaskan hanyalah keinginan untuk memperoleh imbalan.”

Melepaskan keinginan untuk memperoleh imbalan berarti membebaskan diri dari segala macam tuntutan, sekaligus membebaskan diri dari konflik serta kekerasan yang bisa terjadi karena tidak terpenuhinya tuntutan.

Melanjutkan kisah kita …. ..

Arjuna menyadari ketololan diri. Tetapi masih bingung, “Seorang Bhakta, seorang pencinta — dan berprofesi sebagai penjagal! Seorang Bhakta dan engkau membiarkan dia bekerja sebagai penjagal.”

Krishna menanggapi keluhan Arjuna dengan senyuman, “Masih ingat perang dahsyat di Kurukshetra?”

“Tentu, Krishna… tentu, masih ingat betul.”

“Saat itu, ‘Aku’ pun menjadi penjagal. Tanganmu ‘Ku’-gunakan untuk membunuh Kurawa dan pendukung-pendukung mereka.”

“Saat itu kita ‘melawan’ kezaliman dan ketidakadilan. Lain halnya dengan seorang penjagal. Dia melakukan kezaliman, ketidakadilan terhadap hewan-hewan tak bersalah.”

Kriishna mengucapkan satu kata, hanya satu kata, “Lihatlah! – Behold”…  Dan, Arjuna melihat Krishna berubah wujud menjadi penjagal. Seruling di tangannya berubah menjadi pisau untuk memotong daging.

Lagi-lagi Arjuna tersadarakan bahwa “Krishna” berada di mana-mana. Di dalam diri Raja Dvarka dan di dalam diri penjagal biasa, yang ada hanyalah Dia, Dia, Dia!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Keyakinan dan Pengabdian Mengatasi Semua Hambatan: Kisah Hanuman Mencari Obat Lakshmana

Posted in Ramayana with tags , , on January 16, 2014 by triwidodo

 

Hanuman membawa bukit tanaman Sanjeevani sumber www indianetzone com

Ilustrasi Hanuman membawa bukit tempat tanaman Sanjivani sumber www indianetzone com

Bhakta Seorang Pejuang Tulen

“Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. Utishtha, Jaagratah …… Bangkitlah, Bangunlah…… Hadapilah segala macam rintangan dengan jiwa seorang Bhakta. Berjuanglah dengan semangat seorang Satria. Tanpa rasa bimbang, tanpa keraguan – seorang Bhakta mengabdikan jiwa dan raganya bagi nusa dan bangsa. la sadar sesadar-sadarnya akan tugas serta kewajibannya terhadap Tanah-Air, terhadap Ibu Pertiwi. Terhadap lingkungan, terhadap sesama manusia dan sesama makhluk hidup…… Terhadap dunia ini, terhadap alam semesta. la memahami perannya dalam hidup ini. Mau bertemu dengan seorang Bhakta? Carilah dia di tengah medan perang ‘Kurukshetra’. Kau tidak akan menemukannya di dalam kuil la berada di tengah keramaian pasar, di tengah kebisingan dan kegaduhan dunia.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Hanuman dan Lakshmana adalah bhakta Sri Rama, dan kedua-duanya telah melepaskan diri dari keterikatan pada dunia benda, harta kekayaan, istri, keluarga dan kerabat. Yang ada di pikiran mereka hanyalah Sri Rama, mereka telah melampaui ego dan seks. Tujuan mereka bukan untuk mengalami moksha, akan tetapi menjadi alat Sri Rama. Saat Lakshmana terluka mendekati kematian, Hanuman diminta Sri Rama mencari obat di Pegunungan Himalaya yang harus diperoleh sebelum matahari terbit. Hanuman patuh dan merasa mendapat peluang untuk melakukan persembahan sesuai kekuatan yang telah dianugerahkan kepadanya. Hanuman yakin Lakshmana dapat sembuh kembali. Walaupun hanya Sri Rama yang tahu bahwa Lakshmana dalam pertempuran berikutnya akan membunuh Indrajit.

Lakshmana Terluka oleh Indrajit

Pada hari pertama pertempuran pasukan wanara Sri Rama melawan raksasa Alengka perang berkecamuk sangat dahsyat. Indrajit putra Rahwana berupaya menghancurkan pasukan Sri Rama. Sebenarnya nama putra mahkota Rahwana adalah Meghanada akan tetapi karena pernah mengalahkan Dewa indra, maka dia dikenal sebagai Indrajit. Lakshmana segera menghadang Indrajit sehingga Sugriva komandan pasukan wanara bahkan mulai bisa mendesak pasukan Alengka. Matahari sudah bergerak menuju ke barat, kala Indrajit sadar bahwa dia tidak akan menang berperang-tanding melawan Lakshmana, maka ia mulai menggunakan kekuatan magis untuk melesat melintasi awan. Dari balik awan Indrajit menggunakan senjata shakti yang dipanahkan ke arah Lakshmana. Lakshmana terkena, tubuhnya memar dan luka di dalam serta jatuh pingsan. Indrajit kemudian berupaya mengangkat tubuh Lakshmana untuk dibawa ke kemah pasukan Alengka. Akan tetapi ternyata dia tidak kuat mengangkatnya. Beberapa komandan raksasa membantu mengangkatnya, akan tetapi tidak berhasil. Lakshmana adalah Naga Adisesha pendamping Sri Vishnu yang mewujud, hanya mereka yang memperoleh blessing Sri Rama yang mampu mengangkatnya. Beberapa saat kemudian datanglah Hanuman mengusir Indrajit dan para komandannya, dan Hanuman segera memanggul Lakshmana ke kemah Sri Rama. Tak lama kemudian kedua pasukan mundur karena hari telah mulai senja.

Kemudian berhembus kabar bahwa seseorang yang terkena senjata Indrajit akan mati sebelum matahari terbit keesokan harinya. Jambavan mengatakan ada tabib Alengka yang paham pengobatan luka dalam akibat senjata Indrajit. Sushena sang tabib adalah pemuja Sri Rama. Sri Rama segera minta Hanuman membawa tabib Sushena untuk memeriksa Lakshmana. Sushena mengatakan bahwa ada ramuan yang dibuat dari akar tanaman Sanjivani yang dapat menyembuhkan luka Lakshmana. Akan tetapi tanaman tersebut hanya bisa diperoleh di Gunung Dunagiri di wilayah pegunungan Himalaya. Inilah satu-satu harapan untuk menyelamatkan Laksmana. Sebuah peluang yang nampaknya sangat musykil dilaksanakan.

Hanuman Sang Pengabdi

“Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Rama segera mengutus Hanuman untuk mengambil daun Sanjivani tersebut. Bagi Hanuman, bhakta Sri Rama, tugas yang diberikan oleh Sri Rama akan dilaksanakan sebaik-baiknya. Hanuman yakin Sri Rama telah bertindak dengan pertimbangan matang untuk memintanya mengemban tugas tersebut. Hanuman mohon blessing Sri Rama dan segera berangkat.

Dari masukan telik sandi, Rahwana tahu bahwa Hanuman berupaya memperoleh tanaman obat di Himalaya. Rahwana segera mengutus Kalanemi, pamannya untuk menggunakan segala cara agar Hanuman tidak berhasil memperoleh tanaman tersebut. Kalanemi berkata bahwa sulit untuk menghadang Hanuman, makhluk perkasa yang sendirian saja bisa membakar kota Alengka. Kalanemi menyarankan Rahwana untuk berdamai dengan Sri Rama dengan cara memberikan obat pemunah racun bagi Lakshmana. Rahwana naik pitam yang membuat Kalanemi harus membuat pilihan segera. Kalanemi segera mohon diri untuk menghadang Hanuman. Bagi Kalanemi lebih baik mati terbunuh Hanuman Utusan Sri Rama daripada mati ditangan Rahwana.

Hambatan oleh Kalanemi

Kalanemi dengan kekuatan ilusinya segera mewujud sebagai seorang brahmana dan  membuat kuil yang indah dengan dilengkapi kolam yang jernih di Gandamadhana. Saat Hanuman menuju Himalaya dan melintasi tempat tersebut, Hanuman memutuskan untuk beristirahat sebentar. Sang Brahmana datang menawarkan air dan memuji Sri Rama sehingga Hanuman sangat senang. Setelah minum air Hanuman justru semakin merasa haus dan minta untuk minum air kolam. Saat Hanuman di tepi kolam dan mulai minum, seekor buaya menyergap kakinya dan menariknya ke dalam kolam. Akan tetapi dengan sebuah pukulan buaya tersebut mati. Sang Buaya yang mati segera menjilma sebagai Apsara. Apsara tersebut pernah berbuat kesalahan sehingga dikutuk Daksha menjadi buaya dan kutukan akan sirna kala dia dibunuh oleh Hanuman. Sang Apsara segera memberitahu jatidiri Sang Brahmana yang ternyata adalah Kalanemi. Kalanemi segera dibunuh oleh Hanuman.

Dalam kehidupan sebelumnya Kalanemi dengan naik singa pernah bertarung dengan Vishnu yang naik Garuda dan Kalanemi terbunuh. Pada kehidupan berikutnya, Kalanemi lahir sebagai putra Hiranyakasiphu. Kalanemi mempunyai enam putra yang menjadi devoti Brahma yang kemudian dikutuk Hiranya Kasiphu akan lahir lagi dan dibunuh oleh Kalanemi pada kelahiran di masa depan. Kalanemi kemudian lahir sebagai paman Rahwana. Kalanemi akhirnya akan lahir lagi sebagai Kamsa dan 6 putranya lahir lagi sebagai putra Devaki yang dibunuh oleh Kamsa.

Berbagai Hambatan Lainnya

Rahwana tahu bahwa Kalanemi telah mati dan segera memanggil Dewa Surya, Sang Matahari untuk terbit sebelum waktunya. Hanuman segera mengeluarkan kesaktiannya untuk menahan gerakan  matahari. Sesampainya di Dunagiri,Hanuman kesulitan memilih tanaman Sanjiwani dan segera mengangkat seluruh bukit untuk dibawa ke Alengka. Sampai di Nandigram sebuah panah mengenai kakinya dan Hanuman terjatuh beserta bukit yang dipanggulnya. Rupanya Bharata saudara Sri Rama mengira Hanuman seorang penjahat yang sedang membawa bukit. Hanuman segera menjelaskan bahwa ia membawa bukit untuk mengobati Lakshmana saudara Bharata. Bharata mohon maaf dan menawarkan Hanuman untuk menaiki anak panah yang dibidiknya menju Alengka agar cepat sampai. Hanuman menolaknya dan segera terbang lagi menuju Alengka.

Sushena segera mengambil beberapa akar tanaman Sanjivani dan dibuat ramuan untuk diminum Lakshmana. Lakshmana cepat mengalamikesembuhan dan Hanuman segera terbang menuju matahari, mohon maaf atas tindakannya kepada Dewa Surya. Dewa Surya, tersenyum dan berkata pelan, “Siapakah makhluk yang dapat menahan bhaktanya Sri Rama? Dengan blessing Sri Rama, seorang bhakta akan menyelesaikan tugas apa pun yang diembannya!”

Jadilah Orang Besar!

Hanuman adalah contoh Orang Besar. Hanuman siap menghadapi segala kemungkinan dengan penuh kesabaran. Hanuman tetap optimistis, berkarya penuh keyakinan, tidak khawatir, tidak bimbang, tidak berkecil hati dan pantang menyerah.

“Jadilah Orang ‘Besar’! Tetap tenang dalam keadaan suka maupun duka; tidak terbawa oleh nafsu rendahan; tidak terkendali oleh pancaindra; tidak tergoyahkan oleh tantangan-tantangan kehidupan; Tidak tergesa-gesa, dan siap menghadapi segala kemungkinan dengan penuh kesabaran, itulah sebagian ciri-ciri ‘orang besar’. Dalam keadaan apa pun mereka tetap optimistis, tetap berkarya dengan penuh keyakinan. Tidak khawatir, tidak bimbang, dan tidak berkecil hati. Pantang menyerah, demikianlah mereka. Jadilah orang ‘besar’. Karena, kau memang dilahirkan untuk menjadi ‘besar’. Bukanlah badanmu saja, tapi jiwamu mesti tumbuh menjadi besar. Pikiranmu, perasaanmu, semuanya mesti mengalami pertumbuhan. Kebesaranmu pastilah mengundang kebesaran. Kekuatanmu mengundang kekuatan. Keyakinanmu mengundang keyakinan. Alam semesta maha baik adanya. Jika kau berbuat baik, dan menjadi baik, kau akan mengundang lebih banyak kebaikan dari semesta. Kebaikanmu mengundang kasih, kepedulian, dan kedekatan sesama manusia. Kau menolong mereka dan mereka pun akan menolongmu. Demikian, dengan cara saling tolong-menolong, kau memperoleh kebahagiaan. Dan, mereka pun memperoleh kebahagiaan. Orang ‘besar’ selalu bahagia, ceria, dan bersuka-cita. Itulah rahasia kesehatan dan kesejahteraan mereka. Kebesaran Sejati adalah ketika kau dapat berbagi ‘kebesaran’ dengan siapa saja, tanpa pilih kasih. Kebesaran sejati adalah ketika kau dapat berbagi kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaanmu-keceriaan dan kesukacitaanmu!” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Melepaskan Diri dari Azab Kutukan, Kisah Keyakinan dan Devosi Draupadi

Posted in Mahabharata with tags , on January 1, 2014 by triwidodo

Draupadi menyerahkan wadah penanak nasi kepada Sri Krishna sumber krishnamercy wordpress com

Ilustrasi Draupadi menyerahkan wadah penanak nasi kepada Sri Krishna disaksikan Pandawa sumber: Krishnamercy wordpress com

Devosi dan Cinta

“Ia Hyang Maha Benar dan Maha Adil adaNya Hanyalah tercapai lewat devosi dan cinta; Banyak peminta, banyak pula permintaan mereka; Ia Hyang Maha Memberi memenuhi semuanya; Apa yang dapat kuberikan padaMu? Bagaimana memasuki kerajaanMu? Bagaimana meraih kasihMu? Renungkan kemuliaanNya setiap pagi, dan segala akibat karma akan kau lampaui; kebebasan mutlak pun akan kau raih; Nanak berkata, Hyang Maha Benar itulah Kebenaran Sejati, tak ada kebenaran lain diluarNya.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Draupadi yakin dan selalu berdevosi terhadap Sri Krishna. Draupadi pernah mengalami mukjizat ditolong Sri Krishna sewaktu kain sarinya ditarik Dursasana dan tidak bisa habis. Setiap saat Draupadi mengingat dan menyebut Nama Sri Krishna dalam doanya. Dalam keadaan kritis Draupadi berserah diri pada Sri Krishna dan masalahnya pun terselesaikan.

 

Kutukan

Kata “kutuk” masih terdapat dalam kosa kata bahasa kita, seperti misalnya dalam berdoa kita mohon dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk. Walaupun zaman sudah modern, dalam diri kita masih terdapat kecemasan kuno terhadap azab yang datang akibat kutukan orang yang marah terhadap tindakan kita. Sesungguhnya kita memang takut terhadap azab sebagai akibat dari kesalahan tindakan kita sendiri. Dalam kisah-kisah Srimad Bhagavatam, Mahabharata dan berbagai legenda lokal, banyak diceritakan tentang kutukan terhadap mereka yang berbuat salah. Kutukan resi yang bertuah hanyalah pemicu datangnya azab akibat kesalahan diri sendiri. Dalam diri kita masih terdapat warisan genetika kecemasan tentang kutukan yang dapat memicu azab. Raja Yayati yang gagah perkasa leluhur Pandawa dikutuk Resi Shukracharya menjadi tua bangka. Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/11/16/dua-istri-membawa-masalah-kisah-raja-yayati-leluhur-pandawa/

Dewa Indra karena melecehkan karunia Ilahi pernah dikutuk Resi Durvasa sehingga tahtanya jatuh ke tangan para Asura. Silakan baca:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/08/09/keangkuhan-indra-dan-anugerah-bagi-mereka-yang-berkarya-tanpa-pamrih/

Ketakutan berbuat salah sehingga memperoleh kutukan, atau pun kegamangan melakukan kebenaran karena takut memperoleh resiko yang besar adalah warisan genetika yang turun temurun eksis dalam masyarakat yang perlu diperbaiki. Seorang Master harus melakukan upaya ekstra untuk memperbaiki kondisi yang rumit tersebut. Masyarakat yang sudah terikat erat dengan dualitas rasa suka-duka dan ego yang ingin menghindari penderitaan dan mengulangi kesukaan tanpa mempertimbangkan dharma kebenaran, membuat rumit karakter kita di zaman modern ini. Kelompok masyarakat yang sudah berani melakukan tindakan yang benar tanpa takut resiko dari tindakannya sudah selangkah lebih maju daripada kita, orang awam.

“Efek-efek trauma yang dialami Aji Saka yang membekas di bawah sadar orang Nusantara yaitu: Menghindari tukar pendapat; Memendam kemarahan; Tabu mempertanyakan status quo; Takut salah paham; danTakut melakukan kesalahan di luar petunjuk. Kelima hal ini menjadi semacam etika tidak tertulis bagi para pengguna bahasa ‘HaNaCaRaKa’. Tidak ada yang salah jika kelima nilai di atas ditempatkan pada porsinya yang pas. Memang sebaiknya kita menghindari: debat kusir, kemarahan, asal kritik, kesalahpahaman, dan melakukan sesuatu asal sesuai yang tertulis tanpa memahami intensitas latar belakang (taklid). Tetapi trauma berkepanjangan ini telah menjadikan penerapan nilai-nilai ini menjadi semakin berlebih-lebihan dari generasi ke generasi. Menjadi semakin kaku dari generasi ke generasi sehingga mematikan inisiatif, diskusi dan kebebasan berpikir. Dan lagi-lagi hal ini merupakan makanan empuk para atasan yang korup/penguasa yang rakus yang menyalahgunakan kepatuhan dan kepasifan rakyatnya/ bawahannya untuk dieksploitasi demi mempertahankan kekuasaannya. Diperparah lagi dengan sebagian pusaka-pusaka kekuasaan dan peraturan perundangan juga dibuat dengan misi-misi semacam ini.” Terjemahan dari kutipan (Krishna, Anand. (2012). The Wisdom of Sundaland. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Raja Duryodhana menjamu Resi Durvasa dan Sepuluh Ribu Muridnya

Dalam Bhagavata Vahini, Raja Parikshit cucu Arjuna mendengarkan kisah yang disampaikan Resi Vyasa kakek dari kakeknya tentang bagaimana Draupadi menyelamatkan Pandawa dari Kutukan Resi Durvasa. Pada masa itu Resi Durvasa sangat ditakuti para raja, karena seakan-akan sudah ada stigma bahwa kehadiran sang resi hanyalah untuk mengutuk mereka yang tidak dapat memuaskan beliau. Resi Durvasa sering digambarkan sebagai inkarnasi dari kemarahan.

Walaupun sudah berhasil mengasingkan Pandawa selama 12 tahun, dan menyita seluruh harta kekayaan mereka, Raja Duryodhana masih mengidap penyakit kebencian terhadap Pandawa. Dalam setiap kesempatan sang raja masih ingin mencelakakan para Pandawa. Kesempatan tersebut datang saat sang raja mendapat tamu Resi Durvasa bersama sepuluh ribu muridnya di Istana Hastina. Korawa tahu betul tuah kutukan sang resi, sehingga menjamu mereka selama 4 bulan dengan sebaik-baiknya agar sang resi puas. Sebelum pamit, Resi Durvasa berterimakasih kepada Duryodhana dan menanyakan kepada Raja Hastina tersebut untuk minta anugerah apa yang akan dikabulkan sang resi. Dengan tutur kata halus, Duryodhana seakan-akan menolak minta anugerah duniawi dan hanya meminta sang resi menemui Pandawa agar sang resi juga menerima pelayanan yang sama seperti saat bertamu di Istana Hastina. Resi Durvasa tertawa terbahak-bahak, karena memahami muslihat Duryodhana. Duryodhana yang culas tahu bahwa Draupadi mempunyai wadah penanak nasi mukjizat yang bisa memberi makan jumlah orang berapa pun. Akan tetapi ketika semua orang telah makan dan Draupadi terakhir makan dan mencuci wadah tersebut sampai bersih, maka wadah tersebut tidak dapat berfungsi lagi sampai keesokan harinya. Duryodhana meminta Resi Durvasa datang ke Pandawa yang sedang berada di hutan, pada waktu Draupadi telah mencuci wadah tersebut. Tentu saja Duryodhana berharap Resi Durvasa akan marah terhadap layanan Pandawa sehingga mereka dikutuk sang resi. Sang resi mengabulkan permintaan Duryodhana dan mohon pamit.

 

Kedatangan Sri Krishna

Resi Durvasa beserta sepuluh ribu muridnya bertamu kepada Pandawa dan minta disiapkan makanan dan akan makan setelah mereka mandi suci di sungai lebih dahulu. Pandawa dan Draupadi kebingungan karena wadah penanak nasi mukjizat sudah dicuci bersih sehingga tidak bisa difungsikan lagi. Pandawa berada dalam keadaan putus asa, azab kutukan sang resi sudah terbayang di depan mata. Sudah dicurangi Korawa, kini mereka diminta menerima resi pemarah yang gampang mengeluarkan kutukan bila tidak puas atas pelayanan yang diterimanya. Adalah Draupadi yang ingat pada Sri Kishna, sehingga dia mengajak Pandawa berdoa mohon pertolongan Sri Krishna.

Sri Krishna pun datang dan berkata bahwa dirinya sedang dalam keadaan lapar dan minta  disiapkan makanan. Draupadi membawa wadah penanak nasi mukjizat dan berkata pada Sri Krishna bahwa wadah tersebut sudah dicuci dengan bersih sehingga tidak ada nasi tersisa. Draupadi juga menambahkan bahwa mereka sedang kebingungan karena mereka harus menjamu Resi Durvasa dan sepuluh ribu muridnya  yang sedang melakukan ritual mandi suci di tengah hari. Draupadi menyampaikan bahwa dirinya dan Pandawa yakin Sri Krishna bisa memberikan solusi. Sri Krishna tertawa dan berkata bahwa dia tidak melihat seorang pun akan datang ke kediaman Pandawa, apalagi dalam jumlah sepuluh ribu orang. Sri Krishna mengambil wadah tersebut dan memperhatikan dengan cermat dan kemudian berkata bahwa dia masih melihat satu butir nasi tersisa. Sri Krishna memakan satu butir nasi tersebut dan berkata bahwa rasa laparnya telah hilang. Sri Krishna kemudian minta Bhima memanggil Resi Durvasa dan para muridnya untuk menerima jamuan dari Pandawa. Pandawa dan Draupadi melihat bahwa setelah diambil sebutir nasi tersisa, wadah tersebut tetap kosong, akan tetapi mereka sangat yakin dengan Guru mereka, sehingga dengan resiko apa pun Bhima mematuhi perintah Sri Krishna untuk mengundang Resi Durvasa dan sepuluh ribu muridnya.

 

Resi Durvasa Menghindari  Jamuan Makan Pandawa

Resi Durvasa dan sepuluh ribu muridnya selesai mandi suci dan tiba-tiba merasa kenyang. Para muridnya takut kala dijamu Pandawa, perut mereka sudah tidak mampu menerima tambahan lagi. Mereka mengingatkan sang resi bahwa Pandawa adalah bhakta Sri Krishna yang merupakan wujud Sri Vishnu. Adalah sangat berbahaya tidak makan jamuan makan yang telah disediakan oleh mereka. Sebagian muridnya juga mengingatkan bahwa sang resi pernah dikejar Chakra Sudarsana kala membuat tidak senang Raja Ambarisha bhakta Sri Vishnu. Sang resi dan murid-muridnya akhirnya segera mencari jalan lain menghindar dari kediaman Pandawa. Bhima yang melihat mereka mencari jalan lain segera mencari jalan pintas untuk mencegat mereka. Bhima mengundang Resi Durvasa agar datang ke kediaman Pandawa untuk menerima jamuan makan mereka.

Resi Duvasa mohon maaf tidak dapat memenuhi undangan Pandawa, karena mereka telah kekenyangan. Bahkan sang resi berkata bahwa seteguk air dan sesuap nasi pun mereka tidak mampu lagi memasukkan ke dalam perut mereka. Resi Durvasa berterima kasih dan berkata bahwa Pandawa akan menjadi penguasa dunia dan Korawa yang dengan tipu-muslihat ingin menjatuhkan Pandawa akan menerima kehancuran total. Trust and devotion to God akan menyelesaikan masalah apa pun.

 

Trust and Devotion to God

Keyakinan dan bhakti adalah jalan keluar dari segala macam permasalahan. Inilah yang diajarkan Master untuk melampaui kerumitan pikiran diri kita.

“Aku memenuhi keinginan setiap orang yang mengucapkan nama-Ku dengan tulus, dan meningkatkan kesadaran Kasih di dalam dirinya. Siapapun yang mengagungkan kisah kehidupan-Ku dan ajaran-Ku, akan kulindungi dari segala macam mara bahaya. Para bhakta, para penyembah yang telah berserah diri, dan menyerahkan hati dan jiwanya kepada-Ku sudah pasti bahagia ketika mendengar dan membaca kisah kehidupan-Ku… Yakinilah setiap kata yang Kukatakan, mereka akan menyampaikan dan menyebarkan kisah kehidupan-Ku ini akan memperoleh kepuasan diri yang tak terungkapkan lewat kata-kata, kebahagiaan yang mereka rasakan sungguh luar biasa! Setiap orang yang memuja-Ku dengan penuh keyakinan, dan berserah diri dengan pikirannya terpusatkan kepada-Ku sudah pasti meraih kebebasan sempurna, ini adalah janji-Ku, ini pula sifat-Ku. Mereka yang senantiasa mengingat-Ku, tak pernah tergoda oleh rayuan dunia benda. Aku membebaskan mereka dari kebendaan, dan kematian. Orang sakit yang mendengar cerita-cerita ini akan terbebaskan dari penyakit. Sebab itu, hendaknya kisah-Ku ini didengar dan disebarkan dengan penuh keyakinan. Inilah jalan menuju kebahagiaan abadi dan kepuasan diri. Hanya dengan membaca dan mendengar kisah kehidupan-Ku, para panembah terbebaskan dari rasa angkuh yang mencelakakan. Bila mereka lakukan itu dengan penuh keyakinan dan dengan pikiran yang terpusatkan, maka mereka akan menyatu dengan Kesadaran Murni, Kesadaran Semesta.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014