Archive for bhakta

5 Tingkat Pemahaman Diri dalam Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 22, 2017 by triwidodo

5 Tingkat Pemahaman Diri: 1. Belum memahami Jiwa, 2. Hanya memikirkan objek-objek di luar, 3. Memuja Gusti, 4. Melakoni Pengetahuan Sejati, 5. Menjadi Bhakta, Panembah:

  1. Belum memahami Jiwa

“Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran. Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya.” Bhagavad Gita 2:29

Banyak yang hendak menjelaskan tentang roh. Banyak buku dapat diperoleh di pasar. Setiap penulis mengaku memiliki informasi yang paling lengkap dan otentik. Jarang sekali kita bertemu dengan seorang Kṛṣṇa yang berani mengakui bahwa Jiwa Tak-Terjelaskan.

Banyak pula yang Berupaya untuk Menjelaskan Tuhan atau Gusti Pangeran, Jiwa Agung. Sulit, hampir mustahil, atau boleh dikatakan – mustahil. Jiwa adalah percikan dari Jiwa Agung. Mungkinkah percikan menjelaskan sumbernya?

Jiwa ibarat sinar matahari; dan Jiwa Agung, Tuhan, adalah Matahari. Bagaimana sinar matahari menjelaskan matahari? Bisakah sinar matahari menjelaskan sumbernya? Keberadaannya, keberadaan sinar, keberadaan Jiwa adalah penjelasan tentang adanya matahari, adanya Jiwa Agung. Tiada penjelasan lain. Keberadaan Anda – sebagai Jiwa – adalah definisi, penjelasan, setidaknya bukti akan keberadaan Sang Jiwa Agung Hyang Maha Ada, Gusti Pangeran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Hanya memikirkan objek-objek di luar

“Dalam diri seorang yang senantiasa memikirkan objek-objek di luar yang memikat indra – timbullah ketertarikan, keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan, keterikatan timbul keinginan untuk memiliki objek-objek tersebut. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).” Bhagavad Gita 2:62

Keterlibatan Berlebihan menimbulkan Ketertarikan – Anda bertemu dengan seseorang setiap hari. Ada urusan, tidak ada urusan – tetap bertemu. Maka, kemungkinannya dua, Anda bertengkar, atau makin tertarik, makin ingin bertemu.

Dari ketertarikan itulah timbul keterikatan. Anda mulai merasakan dunia Anda hampa tanpa orang tersebut. Hidup terasa tidak berarti tanpa sesuatu yang telah merangsang Anda, mungkin kendaraan, mungkin rumah, mungkin gadget elektronik terbaru – apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Memuja Gusti

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) – seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.” Bhagavad Gita 7:16

Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi – kemudian menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh – mereka pun panembah yang sudah berbuat baik. mereka pun mulia adanya. Apa yang mereka lakukan adalah kemuliaan, perbuatan yang mulia.

Krsna memahami betul psikis manusia – Ia tidak menolaksebagian besar umat manusia, yang sering berdalih bahwa “mesti ada keseimbangan antara dunia dan akhirat”. Cara pandang yang tidak tepat. Namun setidaknya mereka telah berbuat baik. mereka sudah memiliki semangat untuk manembah. Mereka tidak memikirkan diri saja, walau sebatas beberapa persen dari penghasilan – mereka telah ikut memikirkan sesama manusia. Kelompok Pertama, ini juga rajin menyumbang untuk pembangunan tempat-tempat ibadah dan sebagainya.

Kelompok Kedua adalah mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Bagi Krsna, mereka pun telah berbuat mulia. Mereka pun panembah. Mereka tidak mengetuk pintu seseorang yang zalim atau bersekongkol dengan pihak yang berada dalam kubu adharma. Mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma untuk mengakhiri penderitaan.

Kelompok Ketiga adalah para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati. Termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini – kemungkinan besar – berada dalaam kelompok ketiga ini. Anda membeli buku ini dengan tujuan tersebut. Anda tidak membelinya untuk menjadi kaya-raya dalam sekejap. Anda tidak membelinya untuk mendapatkan voucher untuk masuk surga. Tidak. Anda membeli dan sedang membacanya untuk mengenal diri, untuk meraih pengetahuan sejati.

Namun, di atasnya adalah Kelompok Keempat, kelompok yang bijak.

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun sangat mengasihinya.”

Di atas segalanya adalah Kasih. Kata awal dan kata akhir adalah kasih. Seseorang boleh memiliki kesadaran tinggi – namun setinggi apa pun kesadarannya, tanpa kasih ia menjadi kering. Jiwanya tidak berlembab. Ia belum bisa disebut “bijak”.

Bagi Krishna seorang bijak bukan saja berpengetahuan dan berkesadaran hakiki, tetapi juga penuh kasih. Inilah Kelompok Panembah yang Keempat. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Melakoni Pengetahuan Sejati

“Kepadamu yang (ingin) bebas dari segala keraguan, sekarang Ku-jelaskan rahasia tentang Jnana atau Pengetahuan Sejati dan Vijnana atau Ilmu Kebendaan. Setelah mengetahui dan menghayatinya, niscayalaah kau terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian yang berulang-ulang.” Bhagavad Gita 9:1

Rahasia yang dimaksud Krsna adalah tentang Jnana dan Vijnana – Pengetahuan Sejati tentang Kebenaran Hakiki atau Jnana, dan dampak dari-Nya, yaitu “ilmu”, sains, atau Vijnanaa – yang menjelaskan bagaaimana Kebenaran terungkap dalam dan lewat kebendaan. Spiritualitas dan Sains – Inilah Jnana dan Vijnana.

……………

Gerakan lempengan-lempengan adalah fenomena alam – Tapi, tidak mesti terjadi gempa bumi, tidak mesti tsunami, tidak mesti menelan korban. Bencara alam terjadi bukan karena alam mengamuk tanpa dasar, tapi karena ada intervensi dari perbuatan, pikiran, dan perasan manusia sendiri. Mind over matter.

Krsna menjelaskan bila kita menyadari adanya hal ini – menginsafi adanya hubungan erat antara kejadian-kejadian di luar diri dengan di dalam diri – maka kita terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian. Kenapa bisa demikian?

Kelahiran dan kematian – dua-duanya adalah fenomena alami yang terjadi di alam benda. Persis seperti musim semi, gugur, angin sepoi-sepoi, angin ribut, puting-beliung, badai, topan, tsunami, dan sebagainya. Semuanya adalah fenomena-fenomena alam yang terjadi di alam benda.

 Jika saya, Anda, kita memahami bahwasanya semua kejadian itu erat hubungannya dengan diri kita, maka dengan mengatur diri, kita dapat ikut mengatur keadaan di luar diri. Dengan mendamaikan diri, kita dapat merasakan kedamaian di luar diri. Dengan membebaskan diri dari rasa takut, kita bisa mewarnai dunia luar dengan warna-warna yang lebih cerah.

Kelahiran dan kematian- kedua fenomena alam yang terjadi di dunia benda ini – adalah proyeksi dari gejolak pikiran dan perasan kita sendiri. Jika gugusan pikiran dan perasaan yang senantiasa bergejolak ini dapat dilampaui, maka kelahiran dan kematian pun dapat dilampaui! Lampauilah pikiran, perasaan sekarang dan saat ini juga. Pelampauan itu, kelak saat ajal tiba, akan memastikan bila tidak ada lagi benih yang tersisa, benih yang dapat menjadi penyebab kelahiran-ulang. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Menjadi Bhakta

“Pandava (Arjuna, Putra Pandu), ia yang melaksanakan tugasnya sebagai persembahan pada-Ku – demiAku; berlindung pada-Ku; berbhakti pada-Ku; tiada memiliki keterikatan; dan bebas dari permusuhan serta kebencian terhadap sesama makhluk, niscayalah mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 11:55

“Inilah definisi Bhakti. Seorang bhakta atau panembah berada di dunia, di tengah kebendaan. Pun, ia menggunakan, memanfaatkan kebendaan, tetapi ia tidak bersandar pada kebendaan – Ia tidak bertopang pada kebendaan.

 

“Mereka yang menerima kebijakan luhur yang telah Ku-sampaikan; teguh dalam devosinya pada-Ku; dan, menganggap diri-Ku sebagai Tujuan Tertinggi adalah panembah, yang sangat Kusayangi.” Bhagavad Gita 12:20

Segala sifat sebelumnya terkalahkan oleh penerimaan seorang panembah tanpa keraguan. Oleh kasih tanpa syarat dan tanpa kondisi.

Untuk berinteraksi dengan dunia luar – Silakan menggunakan pikiran, akal-budi, dan sebagainya. Namun, untuk mengakses diri sendiri, kita mesti drop semuanya dan mesti jalan ke dalam diri dengan bekal keyakinan penuh dan devosi tanpa syarat. Bekal lain tidak berguna. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

4 Checkpoints tentang Bhakta, Panembah dalam Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 19, 2017 by triwidodo

Menjadi Bhakta, Mengembangkan bhakti, Mengikuti Petunjuk Krishna, Melayani sesama

  1. Menjadi bhakta

“Pusatkanlah segenap pikiran dan perasaanmu pada-Ku; berbhaktilah pada-Ku; (tundukkan kepala ego) bersujudlah pada-Ku dengan semangat panembahan yang tulus; demikian, berlindung pada-Ku senantiasa, niscayalah kau meraih kemanunggalan dengan-Ku.” Bhagavad Gita 9:34

Segala sembah, sujud, dan sebagainya – bukanlah untuk membuat seseorang menjadi hamba Krsna. Bukan, itu bukanlah tujuan Krsna. Krsna bukanlah seorang guru picisan yang sedang mencari, dan merekrut murid. Ia tidak senang melihat kita membuntutinya seperti domba. Ia menginginkan kita – setiap orang di antara kita – untuk mengalami apa yang dialami-Nya. Yaitu, kemanunggalan ‘aku’ kecil, aku-ego, dengan Jiwa Agung. Pertemuan antara Jiwa-Individu dan Jiwa-Agung – Jivatma dan Paramatma.

……….

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaan pada-Ku; Berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalahengkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 18:65

“Aku, Aku, Aku,…..” Permainannya memang adalah antara aku-ego dan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.  Nasihat Krsna untuk berserah diri bukanlah berserah diri pada sosok Krsna—tetapi berserah diri pada Aku-Sejati yang kebetulan saat itu sedang mewujud sepenuhnya dalam diri Krsna.

……..

“Sebab itu, pusatkan segenap pikiran, perasaan, dan buddhi, inteligensiamu pada-Ku; demikian, niscayalah kau akan selalu bersama-Ku, tiada yang perlu kau ragukan dalam hal ini.” Bhagavad Gita 12:8

Bukan saja memusatkan segenap pikiran serta perasaan — tetapi juga segenap inteligensia. Berarti, memusatkan seluruh kesadaran pada-Nya.

“Jika kau tidak mampu memusatkan kesadaranmu pada-Ku; maka raihlah kemanunggalan dengan-Ku dengan melakoni Yoga; wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan).” Bhagavad Gita 12:9

Kata “melakoni” dalam ayat ini adalah terjemahan gagap dari kata abhyasa, sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, berarti praktek-praktek yang dilakukan secara terus-menerus. Praktek secara intensif dan repetitif, diulangi terus.

“Jika kau tidak melakoni Yoga, maka berkaryalah untuk-Ku; demikian dengan cara itu pun, kau dapat meraih kesempurnaan diri.” Bhagavad Gita 12:10

“Namun, jika itu pun tak mampu kau lakukan, maka dengan penuh devosi pada-Ku, kendalikanlah dirimu dan serahkan segala hasil perbuatanmu pada-Ku.” Bhagavad Gita 12:11

“Pengetahuan Sejati lebih mulia dari laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan, melepaskan diri dari keterikatan hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.” Bhagavad Gita 12:12

……………..

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

………..

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku Iewat panembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) — demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70

…………

“Seorang Yogi berkesadaran demikian – senantiasa bersatu dengan-Ku; memuji-Ku sebagai Jiwa Agung yang bersemayam dalam diri setiap makhluk, termasuk di dalam dirinya sendiri; dan melakukan semua kegiatan dengan kesadaran itu.” Bhagavad Gita 6:31

Berkegiatan  dengan menyadari kehadiran Sang Jiwa Agung dalam diri setiap makhluk berarti tidak menyakiti siapa pun. Namun, pada saat yang sama kesadaran tersebut juga membuatnya tidak ragu-ragu untuk melakukan bedah terhadap tumor yang bersarang di badannya atau badan siapa saja.

………………

“Sebaliknya, mereka yang senantiasa berkarya dengan semangat persembahan pada-Ku; memuja-Ku sebagai Hyang Maha Mewujud; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku tanpa terganggu oleh sesuatu; wahai Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, IbuArjuna), niscayalah Ku-bantu menyeberangi lautan samsara, kelahiran dan kematian yang berulang-ulang ini.” Bhagavad Gita 12:6-7

Memuja-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud berarti melayani setiap wujud, mencintai, menyayangi, mengasihi setiap wujud.

………..

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

……………

“Sebaliknya, ia yang berbagi ajaran ini dengan penuh kasih (dan sebagai ungkapan kasihnya pada-Ku), kepada para panembah yang memang sudah siap untuk menerimanya – niscayalah akan mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 18:68

Seseorang yang melakoni ajaran ini dan berbagi dengan penuh kasih—sebagai ungkapan kasihnya pada Hyang Tunggal – kepada para panembah yang penuh kasih juga…. Maka, hasilnya ialah Kesempumaan Diri. Hasilnya ialah menyatu dengan-Nya, dengan Sumber Kasih itu sendiri.

“Tiada seorang pun yang pelayanannya pada-Ku melebihi pelayanannnya (yang dimaksud ialah seorang yang berbagi ajaran mulia ini dengan penuh kasih kepada mereka yang memang siap untuk mendengarnya). Demikian pula, tiada seorang pun di seluruh dunia yang Ku-cintai lebih darinya.” Bhagavad Gita 18:69

Di sini Krsna menjelaskan rahasia orang yang paling dicintai-Nya — yaitu seperti yang telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya – orang yang berbagi ajaran yang mulia ini dengan pcnuh kasih, dengan semangat kasih, semangat manembah, semangat melayani, kepada mereka yang layak, yang siap untuk menerimanya.

Orang itu — menurut Krsna — adalah……. PANEMBAH SEJATI – Siapa saja bisa berbagi receh, nasi kotak, mie instan, pakaian, dan sebagainya. Beramal-saleh dengan cara itu adalah biasa. Berdana-punia dengan cara menyumbang untuk pembangunan ternpat-tempat ibadah pun biasa.

…………….

“Demikian, para resi berpandangan jernih, yang telah sirna segala keinginannya oleh Pengetahuan Sejati tentang hakikat diri; pun, dirinya telah terkendali — senantiasa bersuka-cita dalam perbuatan yang membahagiakan semua makhluk. Mereka telah mencapai Brahmanirvana — Keheningan Sejati, Kasunyatan Agung dalam Brahma (Hyang Maha Kreatif). Bhagavad Gita 5:25

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Mengembangkan bhakti

Enam cara mencapai kemanunggalan dengan semesta

“Bebas dari rasa benci terhadap sesama makhluk; bersahabat dengan semua, penuh welas asih; bebas dari ke-‘aku’-an dan rasa kepemilikan; sama dan seimbang dalam suka dan duka; penuh ketabahan, mudah memaafkan;” “Puas dengan apa yang diraihnya, dan terkendali dirinya, senantiasa mengenang-Ku, manunggal dengan-Ku; pikiran, perasaan, serta inteligensianya terpusatpada-Ku; seorang panembah yang teguh dalam keyakinannya seperti itu sungguh sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:13-14

…………..

“Tidak sombong, tidak munafik, tanpa kekerasan, kesabaran, kebajikan; pelayanan pada Guru; kemurnian atau kebersihan luar dan dalam diri; keteguhan hati dan pengendalian diri;”

“Tidak tergoda oleh pemicu-pemicu indra; tanpa ego, dan perenungan pada penderitaan kelahiran, kematian, masa tua dan penyakit;”

“Tanpa keterikatan dan tidak bergantung pada anak, pendamping, hunian dan lain sebagainya; keseimbangandiri dalam keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan;”

“Pengabdian pada-Ku tanpa keraguan, dan dalam kesadaran kemanunggalan Yoga; senang bepergian ke tempat-tempat yang tenang dan suci; tidak menikmati persahabatan dengan mereka yang bersifat duniawi;”

“Senantiasa berkesadaran Jiwa, dan menyadari Kebenaran Hakiki sebagai tujuan tunggal segala pengetahuan, semuanya ini disebut Pengetahuan Sejati, segala hal selain ini adalah kebodohan.” Bhagavad Gita 13:7-11

Setiap butir kebijaksanaan luhur di atas adalah dalam bentuk tindakan, bukan pengetahuan belaka. Sementara itu, kita menerjemahkan pengetahuan sebagai informasi yang diperoleh dari bacaan, studi atau paling banter dari pengalaman hidup, yang diperoleh secara acak dan kebetulan.

Bagi Krsna, semua itu belum ‘Pengetahuan’ – Bagi Krsna, kita tidak menjadi ‘berpengetahuan’ karena gelar yang kita peroleh, atau karena kita seorang kutu buku dan senang mengoleksi informasi. Bagi Krsna, pengetahuan sejati adalah tindakan, upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar tahu tentang ego, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Bukan sekadar tahu tentang indra, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Pun demikian dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lainnya.

Pengetahuan sejati bagi Krsna, adalah suatu keadaan di mana seorang yang berpengetahuan tidak terpicu, tidak tergoda oleh hal-hal luaran. Ia tidak tertipu oleh dualitas. Ia menyelami hidupnya dengan semangat ‘all is one’ – semua satu adanya. Ia tidak membedakan kepentingan diri dan keluarga dari kepentingan umum.

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Mengikuti petunjuk Krishna

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;” Bhagavad Gita 16:1

“Ahimsa atau tidak menyakiti lewat pikiran, pengucapan maupun perbuatan; kejujuran, bebas dari amarah, tanpa rasa kepemilikan atau keakuan, ketenangan pikiran, bebas dari gosip, welas asih terhadap semua makhluk; bebas dari keinginan dan keterikatan, lembut atau sopan, bersahaja, tidak terbawa oleh nafsu, dan teguh dalam pendirian serta pengendalian diri;” Bhagavad Gita 16:2

“Cekatan (penuh energi, penuh semangat), tabah dan pemaaf, teguh dalam keyakinannya, bersih badan dan pikiran; tidak bermusuhan dengan siapa pun juga; dan tanpa keangkuhan — demikian, semuanya ini adalah kecenderungan-kecenderungan lahiriah mereka, yang lahir dengan sifat bawaan atau karakter dasar Daivi, Ilahi, Mulia, Wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat).” Bhagavad Gita 16:3

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Melayani sesama

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

…………….

“Ia yang memandang semua sama, sebagaimana ia memandang dirinya; dan menganggap sama suka dan duka, adalah Yogi – Manusia Utama, ia melebihi apa dan siapapun juga!” Bhagavad Gita 6:32

………….

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kemewahan Bhakta Shiva dan Kemiskinan Bhakta Vishnu #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , , on October 1, 2017 by triwidodo

 

Kita melihat orang-orang memuja Gusti, caranya tidak banyak berbeda, tapi kita tidak bisa melihat apa yang ada dalam pikiran setiap orang. Ada orang yang memuja Gusti, Gusti Idola (Ishta Deva) dalam bayangannya akan memberikan kelimpahan materi. Dan ada pula orang yang memuja Gusti, Gusti Idola (Ishta Deva) dalam bayangannya penuh kedamaian dan kebahagiaan sejati. Hasil perolehannya di dunia akan berbeda.

 

Pertemuan Materi dan Jiwa

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam semesta.

TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang membuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Parikshit bertanya kepada Rishi Shuka, mengapa para pemuja Shiva, baik dari para asura, makhluk setengah dewa, dan manusia, mereka semuanya hidup berkelimpahan, walaupun Shiva sendiri hidup sangat sederhana, tanpa perhiasan yang mewah, tidak punya rumah dan tinggal di bawah pohon. Di sisi lain para pemuja Vishnu nampak miskin, walaupun Vishnu yang merupakan pasangan Lakshmi, dewi kemakmuran, tinggal di istana Vaikuntha dengan pakaian penuh perhiasan gemerlapan. Mengapa bisa demikian?

Rishi Shuka menjawab bahwa Shiva adalah penguasa energi materi. Durga, pasangan Shiva adalah energi materi. Energi materi ini diwujudkan dalam tiga guna, sattva, rajas dan tamas. Oleh karena itu para pemuja Shiva memperoleh banyak materi, seperti Raja Ravana dan Raja Banasura. Shiva sendiri tidak terpengaruh oleh ketiga guna tersebut.

Ibaratnya Vishnu adalah susu murni, sedangkan Shiva adalah susu ditambah sedikit asam yang menjadi yoghurt. Vishnu adalah Sang jiwa Agung, sedangkan Shiva adalah Sang Jiwa Agung ditambah maya menjadi energi materi. Shiva sendiri bebas dari keterikatan pada materi. Para para pemuja Shiva memperoleh banyak materi yang diproduksi oleh maya atau tiga guna, sattvik, rajas dan tamas. Apabila para pemuja Shiva bisa hidup tanpa keterikatan pada materi maka tidak ada masalah. Akan tetapi pengaruh materi itu sangat besar. Seperti penjelasan Bhagavad Gita 14:5 di bawah ini:

Bukan saja sifat Agresif (Rajas) dan Malas (Tamas), tetapi sifat Tenang (Sattva) pun mengikat Jiwa dengan badan. Berarti, seluruh sifat, segala sesuatu yang berasal dari alam kebendaan memiliki kemampuan untuk mengikat Jiwa.

Jiwa tidak pernah punah – ia kekal abadi adanya. Namun, karena keterikatannya dengan badan, indra, dan alam kebendaan, ia “merasakan” pengalaman kelahiran, kematian, dan perubahan-perubahan lainnya.

Alam benda tidak bisa mengikat Jiwa, kecuali ia “bersedia” untuk diikat. Berarti, keterikatan Jiwa dengan alam benda tidak bisa terjadi kecuali seizin Jiwa itu sendiri.

………………..

Ketiga sifat ini kita miliki – kita semua memilikinya. Adalah penting bahwa kita memahami ketiga-tiganya, dan memanfaatkannya dalam keseharian hidup kita. Namun tidak terikat dengan satu sifat di antaranya – dan senantiasa menyadari hakikat kita sebabagi Jiwa yang bebas, merdeka. Penjelasan Bhagavad Gita 14:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Berbeda dengan para pemuja Vishnu, sejak awal mereka sudah berperan sebagai “saksi” yang tidak terpengaruh materi duniawi.

Sifat utama Sang Jiwa Agung adalah sebagai Saksi, sebagai Hyang sedang menikmati pertunjukan dan tidak terpengaruh oleh adegan mana pun. Inilah potensi Jiwa-Individu, potensi diri kita semua, yang masih mesti dikembangkan, jika kita ingin menikmati pertunjukan dunia. Penjelasan Bhagavad Gita 14:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Rishi Shuka menyampaikan bahwa pertanyaan Parikshit tersebut juga pernah diajukan oleh Yudhistira kepada Sri Krishna.

Sri Krishna menjawab, “Jika aku sangat menyukai pemuja dan ingin merawat devosinya, hal pertama yang aku lakukan adalah mengambil kekayaannya. Ketika pemuja menjadi orang yang relatif miskin maka para kerabat dan anggota keluarganya tidak lagi memperhatikannya, dan dalam kebanyakan kasus mereka melepaskan hubungannya dengannya. Para pemuja-Ku kemudian menjadi tidak bahagia karena kekayaan telah diambil demikian pula kerabatnya meninggalkan dia. Sehingga para pemuj-Ku benar-benar tergantung kepada-Ku. Dia bisa fokus pada-Ku, melayani-Ku, dan melayani semua makhluk sebagai manifestasi-Ku.”

 

Dalam Penjelasan Bhagavad Gita 18:66 disampaikan:

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita. Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran! Penjelasan Bhagavad Gita 18:66 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Mucukunda: Kesadaran Sebagai Alat Sri Krishna #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 28, 2017 by triwidodo

“Kulihat putra Dhrtarastra, para Kaurava bersama para raja-raja lain (di pihak mereka); Bhisma, Drona, dan Karna – putra sais; pun demikian para kesatria agung dari pihak kita; semuanya dengan cepat memasuki mulut-mulut-Mu yang bertaring dan sungguh mengerikan; beberapa di antara mereka tersangkut di sela-sela gigi-Mu, kepala mereka hancur karena benturan.” Bhagavad Gita 11:26-27

Arjuna melihat bahwa mereka yang berperang dan yang akan mati. Hal ini memberi semangat bahwa dia hanyalah alat Gusti, tanpa dia akan ada orang lain yang akan membunuh orang-orang yang akan mati tersebut. Sesungguhnya yang memusnahkan musuh adalah Sri Krishna sendiri.

“Sebagaimana laron terburu-buru memasuki nyala api untuk menemukan ajalnya; pun demikian seantero dunia dengan seluruh isinya sedang memasuki mulut-Mu dengan cepat, untuk berhancur-lebur tanpa bekas.” Bhagavad Gita 11:29

Penglihatan Arjuna bukanlah eksklusif “penglihatan” saat perang saja. Sesungguhnya, keadaan kita yang tidak terlibat dalam perang pun kurang lebih sama. Perjuangan hidup ini sama dengan perang. Kita pun sedang menuju mulut-Nya untuk hancur, musnah dan tercipta ulang. Lalu, APA BEDANYA? Apa beda antara mereka yang berpihak pada dharma — kebajikan – dan mereka yang berpihak pada adharma — kebatilan? Bukankah dua-duanya hancur juga? Bukankah dua-duanya akhirnya mati juga?

Ya, jika kita memperhatikan raga, maka dua-duanya hancur, punah. Dan, dua-duanya juga barangkali tercipta kembali untuk rnemasuki panggung dunia yang sama. Pertanyaannya, sebagai apa? Setiap pengalaman kehidupan rnemperkaya Jiwa. Berdasarkan kekayaannya itu, ia mengambil peran berikut yang sesuai dengan wataknya, keahliannya.

…………..

KITA MAU JADI APA? Puaskah kita sebagai Kaurava? Atau, kita ingin menjadi Pandava dan bersahabat dengan Krsna? Atau, malah ingin memainkan peran Krsna?

Jika mau menjadi Kaurava, maka silakan tetap berada dalam kubu adharma. Saat ini, mayoritas di antara kita berada dalam kubu tersebut. Tapi, jika ingin mendapatkan peran Pandava atau Krsna, maka kita mesti pindah kubu. Kita mesti memperkaya diri dengan dharma, kebajikan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ketika Krishna sedang mempersiapkan penyerangan yang ke-18, seorang pemimpin dari Yavana yang bernama Kalayavana berniat untuk menyerang Mathura. Karena dia memperoleh keterangan dari Rishi Narada bahwa hanya para Yadava yang akan mampu menandingi kekuatannya. Tertantang oleh hal inilah Kalayavana pergi untuk bertarung ke Mathura. Mengetahui tentang musuh yang baru ini segera saja Krishna membuat benteng pertahanan yang tak mungkin terkalahkan. Dalam 1 hari dibantu dengan arsitek-arsitek dan para ahli yang adalah para dewa sendiri maka benteng pertahanan itu pun selesai dibuat sehingga seluruh rakyat Mathura terlindungi dengan aman.

Krishna kemudian keluar dari benteng Mathura dan berhadapan langsung dengan Kalayavana. Melihat Krishna berdiri di hadapannya tanpa senjata apa pun maka Kalayavana pun menaruh seluruh senjatanya dan kini keduanya berhadapan dengan tangan kosong. Segera saja Kalayavana menyerang Krishna, namun ternyata Krishna berlari menjauhi Kalayavana dan terus saja berlari. Meski seolah-olah Krishna hampir tertangkap, tetap saja Krishna mampu untuk tidak tersentuh sedikit pun.

Tak lama kemudian Krishna memasuki sebuah gua di tepi gunung. Kalayavana pun gusar dan berteriak-teriak dari luar mulut gua sambil mengejek Krishna, “Mengapa kau melarikan diri dari musuhmu Krishna?” Karena Krishna tetap tidak keluar dari gua, maka dia pun memasuki mulut gua. Dia dalam gua ternyata Kalayavana menemukan seseorang yang sedang tertidur, dan berpikir orang itu adalah Krishna. Segera saja dia menendang orang yang sedang tertidur itu dan ketika orang tersebut bangun dan membuka matanya, tatapan matanya dalam sekejap membuat Kalayavana terbakar dan menjadi setumpuk abu.

Ternyata orang itu bernama Mucukunda anak dari Mandhata. Dia sebelumnya telah mengabdi kepada para dewa dengan ketekunan yang sangat luar biasa dalam waktu yang sangat lama. Sampai akhirnya para dewa kemudian membebaskannya dari kewajibannya yang telah dilaksanakannya dengan sangat baik. Kemudian dia diperbolehkan untuk meminta apa pun pada para dewa. Mucukunda meminta agar dapat tidur tanpa terganggu. Dan siapa pun yang membangunkannya akan mati terbakar menjadi abu. Karena itulah Kalayavana mati menjadi abu.

Sesaat kemudian Krishna pun muncul dan berdiri di hadapan Mucukunda yang segera merasa tergetar hatinya karena menyadari keilahian dalam diri Krishna: “Wahai Engkau yang berdiri di hadapanku, Cahaya-Mu melampaui keagungan matahari, bulan dan api. Menurutku Engkau adalah perwujudan Gusti Vishnu.“

Kemudian Mucukunda menceritakan asal-usulnya sampai dia tertidur di dalam goa. Selanjutnya Mucukunda meminta Krishna untuk menceritakan tentang diri-Nya  dan kebaikan apa saja yang telah diperbuat oleh-Nya.

Lalu Krishna pun berkata pada Mucukunda, “Mucukunda, perwujudan-Ku dan perbuatan-Ku sungguhlah tak mungkin dapat dihitung oleh siapa pun. Namun demikian, Aku akan menceritakan padamu tentang perwujudan-Ku saat ini. Aku lahir di keluarga Vasudeva, demi menjawab doa Brahma akan keadaan dunia saat ini. Untuk itu Aku telah banyak sekali menewaskan orang-orang jahat termasuk Kamsa. Bahkan Kalayavana pun Aku yang memusnahkannya melalu tatapan matamu.”

Mendengar perkataan Krishna, Mucukunda memohon untuk dapat mengucapkan doa untuk-Nya.

Mucukunda berkata, “Ya Gusti Pangeran, orang – orang yang terperangkap dalam ilusi-Mu sebenarnya mereka tak memuja-Mu. Mereka terikat pada rumah, keluarga, dan lain sebagainya di mana mereka mencari kesenangan meskipun sebenarnya yang mereka dapatkan adalah penderitaan. Kelahiran sebagai manusia sebenarnya merupakan hal yang sangat sulit dicapai namun mereka yang tidak sadar bukan memanfaatkan kesempatan yang sangat luar biasa ini malah memuja dan terikat pada duniawi. Lihatlah aku. Dulu aku begitu takabur sebagai raja yang dikelilingi oleh prajurit dan para patih yang luar biasa, tertipu dengan badanku, aku menganggapnya sebagai jati diriku yang sebenarnya sehingga aku begitu terikat dengan hubungan duniawi dan kekayaan. Namun Engkau, sebagai Jiwa dari Sang Waktu memasuki kehidupan kami para manusia, perlahan-lahan tanpa kami sadari dan membuat segala yang kami capai dan kami miliki menjadi tak berguna. Badan, tubuh yang sama yang menjadi raja, sesaat kemudian akan menjadi mayat, yang akhirnya menjadi kotoran, cacing ataupun abu.

“Ya Gusti Pangeran, bahkan seorang penakluk dunia pun menjadi mangsa dari Sang Nafsu, sehingga dia pun menjadi budak dari kesenangan. Atau seseorang yang begitu banyak berbuat kebaikan, sehingga mendapatkan hiburan sesaat di surga. Itu pun tak akan menyelesaikan masalah lingkaran kelahiran ini, kita akan terlahir kembali dan masuk kembali dalam lingkaran samsara. Hanya mereka yang hampir selesai menempuh lingkaran kelahiran dan kematian memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang suci, yang akan melahirkan rasa cinta tak berbatas yang pada akhirnya akan memutus tali samsara.”

Ya Gusti Pangeran, Kau menanyakan padaku permintaan apa yang kuinginkan. Bagiku cukup sudah yang Kau berikan padaku. Kau telah membebaskanku dari keterikatan akan kedudukan. Aku tidak akan memohon apa pun lagi selain agar aku tetap bersembah sujud di bawah kaki-Mu. Siapa manusia yang akan meminta hal-hal lain bila ia telah melihat Keilahian di dalam kaki-Mu? Maka dari itu aku menolak semua keinginan duniawi yang seluruhnya masih berada di bawah 3 kekuasaan alam, maka dari itu aku memohon perlindungan di bawah kaki suci-Mu. Kaulah Sang Manusia Ilahi, Kaulah Sang Kesadaran Murni. Tersiksa oleh karma dan dorongan-dorongan dalam diri yang tidak Ilahi, hanya oleh berkah dari-Mu aku memperoleh kesadaran ini. Oh Gusti Pangeran, lindungilah aku.”

Kemudian Krishna berkata: “Hanya karena ingin menguji cinta dan bhaktimulah maka aku menawarkan permintaan padamu. Mulai saat ini berusahalah terus untuk melepaskan diri dari segala keterikatan dan sucikan dirimu dari kesalahanmu dulu yaitu kesenangan dalam berburu dan lain-lain, meskipun kesalahan itu bukanlah kesengajaanmu, melainkan terjadi karena jabatanmu sebagai seorang raja. Dalam kelahiran berikutnya kau akan terlahir sebagai seorang brahmacharya dan tanpa diragukan lagi kau akan menyatu dengan-Ku.”

Krishna Kecil: Akrura Perjalanan Menuju Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 14, 2017 by triwidodo

Tujuan hidup manusia hanya “satu” – menyatu, bersatu dengan Tuhan. Jika memang demikian, doa apa lagi yang harus Anda ucapkan? Tidak bisa lain, permohonan Anda pun harus satu: Supaya yang sulit dipermudah; supaya Dia menjadi penuntun, karena Dia pula yang menjadi tujuan hidup. Aku dalam perjalanan menuju Engkau, Ya Allah, Ya Rabb. Aku tidak tahu, bekal apa yang akan kubutuhkan dalam perjalanan ini. Apa yang harus kuminta? Engkau Maha Tahu! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita.

Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran! Penjelasan Bhagavad Gita 18:66 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ketika kita mencintai seseorang kita tentu memikirkan mereka. Jadi, ketika kita mencintai Krishna adalah wajar untuk berpikir tentang dia dan ingin mendengar atau membaca tentang leela-nya atau kegiatan ilahinya. Mereka yang ingin mencintai Krishna diharapkan membaca tentang leela Krishna dalam Srimad Bhagavatam.

Kisah tentang pencinta bernama Akrura ini dimulai saat ia melakukan perjalanan ke Brindavan untuk membawa Krishna dan Balarama ke Mathura. Akrura sangat bahagia saat ia melakukan perjalanan untuk menemui Krishna. Akrura memuja Krishna sebagai seorang bhakta. Empat suasana hati lainnya adalah rasa yang netralitas, persahabatan, orang tua, dan kasih suami-istri.

Setelah Krishna membunuh asura bernama Aristasura di Brindavan, Rishi Narada memutuskan untuk memfasilitasi salah satu misi Krishna untuk membunuh semua asura. Oleh karena itu, ia pergi ke Mathura untuk berbicara dengan Raja Kamsa. Narada menjelaskan kepada Raja Kamsa bagaimana ia telah ditipu oleh ayah Krishna, Vasudeva, dengan berpikir bahwa anak kedelapan adalah seorang putri, padahal sudah diramalkan bahwa anak kedelapan Vasudeva akan membunuh Kamsa. Sebenarnya anak kedelapan Vasudeva adalah Krishna, tetapi Vasudeva membawanya ke Brindavan, dia dilindungi dan dibesarkan oleh Nanda dan Yashoda. Setelah mendengar hal ini, Raja Kamsa marah dan segera ingin membunuh Vasudeva, tetapi Rishi Narada membujuknya agar tidak membunuh Vasudeva dan Devaki.

Bagaimanapun, Kamsa menjadi begitu marah sehingga Vasudeva dan Devaki dipenjara. Kemudian Kamsa memunculkan ide untuk mengatur pertandingan gulat di Kota Mathura dan mengundang Krishna dan Balarama, saudaranya, bersama para gopala untuk datang dan menyaksikan perayaan serta menikmati keindahan kota.

Rencana Kamsa adalah untuk menantang Krishna dan Balarama dalam pertandingan gulat dan dua bersaudara tersebut dibunuh. Selain itu, Kamsa memikirkan cara alternatif untuk membunuh Krishna bahkan sebelum pertandingan gulat berlangsung; melalui serangan dari gajah yang paling kuat.

Untuk memastikan keberhasilan rencananya, Kamsa memanggil Akrura. Akrura adalah seorang komandan tentara dari keturunan/dinasti Vrsni dan termasuk paman dari Krishna. Akrura seorang pencinta Krishna dan setiap hari dia memuja Krishna, oleh karena itu Raja Kamsa meminta bantuan Akrura untuk membujuk Krishna agar datang ke Mathura.

Bagi Akrura, hidup dia tidak menuruti pikiran pribadinya tetapi menuruti kehendak-Nya sehingga perintah Kamsa pun dia anggap merupakan kehendak-Nya untuk menemui Gusti dalam wujud Krishna.

Kamsa memanggil Akrura, dengan sopan ia memuji dan mencoba untuk membujuk untuk membantunya membawa Krishna dan Balarama ke Mathura dan juga mengundang semua para penggembala. Dia menggambarkan kepada Akrura semua rencana untuk membunuh Krishna, Balarama, orang tua mereka, dan semua raja saingannya sehingga ia dengan tenang bisa menguasai dunia.

Setelah dengan sabar mendengarkan Raja Kamsa, Akrura menjawab, “Wahai Raja, Paduka telah merencanakan dengan baik proses untuk membebaskan diri Paduka dari kemalangan. Namun, ada kemungkinan keberhasilan ataupun kegagalan, karenanya tentu takdirlah yang akan menentukan. Oleh karena itu, orang selalu bertemu kebahagiaan maupun kesusahan. Meskipun demikian, saya tetap akan melaksanakan perintah Paduka.”

Pagi berikutnya, Akrura berangkat ke Brindavan dengan menggunakan kereta baru yang diberikan oleh Raja Kamsa. Saat ia melakukan perjalanan, ia mengalami rasa devosi yang mendalam, merasa sangat diberkati karena memiliki kesempatan untuk melihat Krishna. Dia bertanya-tanya apa yang telah dia lakukan untuk menerima keberuntungan besar seperti itu, namun ia menganggap ini sebagai berkah dari Krishna kepadanya. Akrura menganggap bahwa pada hari ini hidupnya menjadi berhasil karena ia akan mampu menyentuh kaki teratai Krishna, yang dicari oleh para yogi besar.

Saat ia merenungkan apa yang mungkin terjadi ketika ia benar-benar melihat Krishna, ia berterima kasih kepada Raja Kamsa yang telah mengirimkan dia dalam misi ini. Meskipun Kamsa memiliki niat jahat, hal itu justru memberikan Akrura kesempatan langka bertemu Krishna.

Akrura merenungkan Krishna dengan sepenuh hatinya dan nyaris tidak menyadari waktu berlalu, sepertinya waktu yang sangat singkat. Akhirnya, setelah perjalanan sepanjang hari, ia memasuki Brindavan. Pada saat itu Akrura memperoleh berkah “penglihatan” bisa melihat bekas tapak kaki Krishna. Kita sudah membaca kisah saat para gopi menemukan jejak kaki Krishna. Demikian pula dengan Akrura, bhakta Krishna. Larut dalam kebahagiaan saat melihat jejak kaki Krishna, membuat ujung-ujung rambutnya berdiri karena cinta yang murni, dan matanya penuh dengan air mata, Akrura melompat turun dari kereta kudanya dan mulai berguling-guling di antara jejak kaki Krishna, dan berseru, “Ah, ini debu dari kaki Krishna! Betapa bahagianya Brindavan yang dipenuhi tapak kaki Krishna di mana-mana.”

Akrura berguling-guling di tanah suci, penuh kerendahan hati, tidak mempertimbangkan etika sosial atau apa pun kedudukan dia. Dia tidak takut kritik dari teman atau Kamsa. Akrura hanya ingin melayani Krishna dalam suasana hatinya penuh kasih.

Akhirnya, Akrura bertemu Krishna dan Balarama dan mengajak mereka ke Mathura. Ini adalah kejadian paling indah dalam kehidupan Akrura.

Cinta tidak mengenal basa-basi. Kasih berada di atas segala macam hukum dan peraturan. Itu sebabnya, seorang pencinta Allah akan melampaui segala macam formalitas. Hukum, peraturan, formalitas, dan basa-basi akan tetap dibutuhkan oleh mereka yang belum mengenal cinta, dan belum mengetahui arti Kasih. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Satu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kereta mereka tiba di Mathura. Selanjutnya Krishna berkata pada Akrura: “Paman, engkau masuklah terlebih dahulu ke kota, aku akan menyusul kemudian.”

Tak bisa membayangkan perpisahan dengan Krishna, dengan berat hati dan sambil menangis Akrura berkata: “Gusti, janganlah lupakan aku, pengabdi-Mu.  Mohon sucikan rumah kami dengan debu kaki-Mu. Dengan melakukannya Maharaja Bali mencapai tingkat kebahagiaan hakiki yang hanya bisa tercapai oleh dia yang pengabdiannya luar biasa, oleh mereka dengan devosi yang sangat tinggi saja. Air yang tersentuh oleh kaki suci-Mu mampu memberkati ketiga dunia.”

Krishna berkata, “Aku akan mengunjungi rumahmu setelah misi-Ku di Mathura selesai.”

Dan akhirnya Akrura pun beranjak pergi. Krishna dan rombongannya tinggal di daerah pinggiran kota Mathura. Kemudian, dengan berjalan kaki Krishna menuju pusat kota.

Krishna Kecil: Menyelamatkan Nanda dari Varuna #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 4, 2017 by triwidodo

Chaitanya hendak mengajak kita untuk menuju rumah-Nya lewat jalan kasih. Banyak jalan untuk menuju rumah-Nya, dan kita dapat memilih jalan yang mana saja, seperti tertulis dalam Bhagavad Gita, “Jalan mana pun yang kau tempuh, kau akan bertemu dengan-Ku!”

Semua jalan benar adanya, sama-sama benar. Tidak ada satu pun jalan yang salah. Kesalahan adalah ketika kita bermalas-malasan dan tidak berjalan.

Bila Hyang Maha Menawan hendak dituju, maka jalan kasihlah yang mesti ditempuh. Ini adalah jalan lembut, jalan yang penuh rasa. Inilah Bhakti, pengabdian purna waktu yang sepenuh hati. Mencintai Gusti Pangeran sebagaimana Rabi’ah al Adawiyya mencintai Tuhan. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari, kala Nanda sedang menjalani puasa Ekadashi, dia mandi di Sungai Yamuna pada waktu yang terlalu dini. Seorang Pengawal Dewa Varuna menganggap tindakannya salah karena mandi terlalu dini dan membawa Nanda ke istana Varuna. Ketika berdiri di tepi Sungai Yamuna, teman-teman Nanda melihat Nanda tenggelam dan tidak muncul ke permukaan, mereka ribut dan ada yang mendatangi Krishna untuk meminta bantuan-Nya. Krishna berpikir bahwa ini adalah tindakan bodoh pengawal Varuna, lalu dia segera terjun ke Sungai Yamuna. Para gopi begitu sedih melihat Krishna terjun ke Sungai Yamuna dan lama tidak kembali. Mereka merasa depresi karena menganggap Krishna telah pergi ke dunia lain.

Krishna mendatangi istana Varuna dan Varuna menyambut Krishna dengan penuh penghormatan. Varuna berterima kasih karena semua penduduk istana telah dimurnikan dengan kedatangan Krishna. Kelahiran Varuna pun menjadi bermakna berkat kedatangan Krishna. Varuna bersujud di kaki Krishna dan memohon ampun atas kesalahan pengawalnya yang membawa Nanda ke istananya. Setelah memuji Krshna, Varuna membasuh kaki Krishna sambil berkata, “Wahai Krishna, segalanya di sini termasuk saya adalah milik-Mu!”

Krishna dengan penuh kasih berkata bahwa Dia menyenangi penghormatan dari seorang bhakta-Nya dan mengatakan bahwa di mana pun bhakta-Nya tinggal, maka di sana pula Dia berada. Kemudian Krishna bersama Nanda segera kembali muncul dari Sungai Yamuna. Para gopa dan para gopi merasakan kebahagiaan yang tak terkira.

Nanda merasa kebingungan melihat kemewahan istana Varuna dan bagaimana Varuna sangat menghormati Krishna. Dia menceritakan kisahnya kepada para gembala di Brindavan. Tanpa ragu, para gembala di Brindavan berpikir bahwa Krishna adalah Tuhan Alam Semesta seperti yang digambarkan dalam kitab-kitab suci. Mereka berpikir apakah Krishna akan berkenan menunjukkan diri-Nya kepada mereka sebagai Brahman yang tanpa batas.

Krishna mengetahui apa yang dipikirkan para gembala dan memutuskan untuk melimpahkan rahmat-Nya. Para gopala, para gembala adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, akan tetapi bhakti mereka terhadap Krishna sangat besar sehingga mereka mendapatkan anugerah yang tak pernah diperoleh oleh seorang yogi pun.

Pertama, mereka dapat merasakan keagungan Brahman, tetapi Krishna paham bahwa mereka tak bisa mengalaminya dalam waktu lama. Selanjutnya, Krishna menunjukkan kepada mereka istana Vaikuntha tempat tinggal Sri Vishnu. Para gopala dapat merasakan kebahagiaan tanpa ada kecemasan sedikit pun. Akan tetapi, beberapa saaat kemudian mereka merasa sedih karena mereka belum melihat Krishna, dan kemudian mereka melihat Narayana di Vaikuntha yang sama dengan Krishna yang dikenal mereka. Akhirnya, mereka menyadari bahwa kehidupan di Brindavan adalah kehidupan yang sangat membahagiakan karena dapat melihat dan berbicara langsung setiap hari dengan Krishna atau Narayana yang mewujud.

 

Kerinduan para gopi dan gopala

Pertemuan adalah perayaan. Namun, kerinduan adalah kekuatan untuk merayakan. Rasa rindu adalah pendorong jiwa dan penyemangat batin. Adakah kerinduan di dalam diri kita untuk bertemu dengan Gusti Pangeran? Apa dan siapa yang kita rindukan selama ini? Jika kita masih merindukan istana, dan bukan pemilik istana, maka kita tak akan pernah bertemu dengan Sang Pangeran, dengan Gusti. Berada di dalam istana-Nya tidak berarti sudah bertemu dengannya. Tanpa niat kuat untuk bertemu dengan-Nya, istana semesta ini bisa menjadi jebakan. Itulah yang telah terjadi selama ini. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Krishna mengajak para gopala di Brindavan menuju rumah-Nya lewat jalan kasih. Pertemuan para gopi dan gopala dengan Krishna membekas amat dalam dalam hati mereka. itulah sebabnya mereka selalu merasakan kerinduan yang dalam saat tidak bertemu dengan Krishna. Setiap saat mereka merasa rindu dan selalu ingin bertemu dengan Krishna.

Kerinduan ini tak bisa dirasakan oleh para cendekiawan.

Seorang cendekiawan biasanya lebih banyak menggunakan otak daripada hati. Ini sudah menjadi rahasia umum. Ketidakseimbangan inilah yang membuat mereka agak kaku. Lalu, apa bedanya dengan para panembah? Bukankah mereka lebih banyak menggunakan hati daripada otak, maka menjadi cengeng? Bukankah mereka pun tidak seimbang?

Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami dan menyadari bahwa para panembah tidak berseberangan dengan para cendekiawan. Para cendekiawan berseberangan dengan para seniman. Dua kelompok ini berbeda pada dua ekstrem. Yang satu kutub utara, dan yang lain kutub selatan. Mereka jarang bertemu.

Wilayah panembahan berada di atas otak dan di bawah hati. Berarti ia meliputi keduanya. Karena itu, jika dibutuhkan, seorang panembah bisa tampil seratus persen otak dan seratus persen hati pada saat yang sama. Sungguh sangat sulit menjelaskan rahasia wilayah ini. Hanya seorang panembah yang tahu, Kendati ia pun tetap gagap. Ia juga tidak mampu menjelaskannya.

Berada di tengah para panembah, para pencinta Pangeran, ia menjadi lembut, selembut panutannya Krishna yang baru berusia 8-9 tahun. Imut-imut, lucu, agak nakal, tetapi sangat menawan. Ia adalah Mana-Mohana, sang Penawan Jiwa.

Berada di tengah medan perang Kuruksetra, ia sangat tegas. Demi kebajikan, keadilan, kepentingan umum, negara, dan bangsa ia siap berkorban. Ia rela menjadi sais kereta Arjuna, seorang sepupu, sahabat, sekaligus dalang, sutradara agung penentu arah perang itu. Ia bisa berada di belakang dan di depan layar pada saat yang sama.

Sungguh luar biasa! Tak seorang pun dapat menandingi kemampuan dan kejelian seorang panembah. Bagi seorang panembah, alam semesta adalah wilayah panembahannya. Di mana saja, dan dalam keadaan apa saja ia tetap berkarya. Para cendekiawan dengan otak besar, dan para seniman dengan hati besar menjadi sangat kecil di depan seorang panembah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dan, Arjuna pun “sungkem” kepada Penjagal Daging

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on August 27, 2016 by triwidodo

buku narada bhakti sutra arjuna minta nasehat kriahna

“Menjadi seorang pencinta Allah berarti tidak mengharapkan sesuatu dari siapa pun juga. Entah itu anak sendiri atau sahabat karib, bahkan tidak mengharapkan sesuatu dari Allah, dari Tuhan. Berserah diri sepenuhnya, “Engkau Maha Tahu, Tuhanku….. Engkaulah Maha Mengetahuai….”

“Jangan mengharapkan anak Anda akan menyantuni Anda di masa tua nanti. Besarkan dia, berikan dia pendidikan tanpa harapan apa pun juga. Bila Anda mengharapkan sesuatu dan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan itu, Anda pun kecewa.” Nasehat tersebut di atas mengawali kisah Arjuna, Krishna dan Penjagal Daging berikut:

 

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Arjuna sangat dekat dengan Sri Krishna, maka timbullah ego baru — ego spiritual. Seolah-olah dirinya sudah hebat.

Pada suatu hari, Arjuna hendak bepergian ke kota lain, dan Krishna menitipkan satu karung beras, “Arjuna, berikan karung ini kepada seorang temanku. Kebetulan dia tinggal di kota itu.”

Arjuna merasa aneh. “Satu karung beras?” pikir dia. Bila dia memang miskin, kenapa tidak dibantu saja? Krishna seorang Raja, dan tentu saja bisa memberikan pekerjaan, atau uang sehingga dia membuka usaha sendiri. Apa arti satu karung beras? Mau makan sampai kapan? Aneh, aneh, aneh…..

“Biarlah aku membantu dia. Tidak perlu membawa beras dari sini,” kata Arjuna.

“Tidak, tidak….. Bawalah beras ini. Satu karung ini sudah cukup untuk dia.” Sri Bhagavan menanggapinya.

Arjuna mungkin berpikir, “Pelit banget kamu… Pemberian ini tidak cocok dengan derajatmu. Berilah sesuai dengan kemampuan serta derajatmu. Demikian pula anjuran kitab-kitab suci.”

Memang demikian anjuran kitab-kitab suci, “Berilah sesuai dengan kemampuan serta derajatmu.” Dana-punia atau sedekah tidak bisa diseragamkan. Berilah sesuai dengan kesadaranmu, bila penghasilanmu meningkat, meningkat pula. Sebaliknya, bila penghasilanmu tidak seberapa, janganlah engkau memberi hanya karena rasa malu atau merasa wajib memberi.

Terpaksa, Arjuna harus mengangkutkarung beras itu. Sampai di kota tujuan, Arjuna mencari alamat “sahabat Krishna”. Ternyata dia seorang penjual daging. “Achhhhh, sungguh menjijikan. . ..,” pikir Arjuna.

Lebih-lebih lagi, ketika dia melihat si penjual daging itu menimbang jualannya sembari mengucapkan nama Tuhan, “Hari Bol, Hari Bol, Hari Bol…” Ucapkan Nama Dia Yang Maha Menyelamatkan, Maha Membebaskan….

Arjuna tidak memahami maksudnya, “Menyelamatkan dari apa, membebaskan dari apa? Siapa pula yang harus menyelamatkan diri dan membebaskan? Bukankah manusia harus berupaya sendiri untuk itu?”

Dia tidak paham bahwa si penjual daging sedang berdoa agar dirinya terbebaskan dari kesadaran badaniah, lahiriah.

Arjuna menegurnya dengan nada kesal, “Ini, aku membawakan satu karung beras untukmu.”

“Satu karung beras? Untuk apa? Dari siapa?”, tanya si penjual daging.

“Dari Sri Krishna. Karung beras ini titipan ini titipan dari beliau.”

“Kalau begitu, anda pastilah Prabhu Arjuna.”

“Ya, aku memang Arjuna.”

“Beruntung sekali aku, bisa bertemu dengan Sang Prabhu. Silakan masuk ke dalam.”

Masuk dalam ke mana? Duduk di mana? Arjuna masih belum “bebas” dari kesadaran wujud. Dia tidak bisa melihat kebenaran di balik wujud, “Mungkin lain kali saja… Saya masih banyak urusan dan harus segera berpulang ke Hastinapura.

Penjual daging tersenyum. Seolah bisa membaca pikiran Arjuna, “Ya, mungkin lain kali. Begitu pula dengan karung beras ini, mungkin lain kali saja.”

“Apa maksudmu?”

“Persediaan beras di rumah masih cukup untuk dua hari mendatang. Aku berterima kasih kepada Sri Krishna, tetapi tidak bisa menerima kirimannya. Aku juga berterima kasih kepada Sang Prabhu, karena sudah bersusah payah datang khusus untuk mengantar beras ini.”

“Kamu tidak mau menerima kiriman ini karena masih memiliki persediaan untuk dua hari mendatang? Demikian katamu tadi?”

“Ya, Sang Prabhu. Dan, selama ini aku tidak pernah kelaparan. Keluarga pun berkecukupan. Untuk apa menimbun beras? Dia memenuhi segala kebutuhanku selama ini. Dan akan memenuhi pula di kemudian hari.”

Solid… dua puluh empat karat emas murni. Logam mulia. Dialah seorang Bhakta. Dialah seorang pencinta Allah, bukan mereka yang sibuk menimbun harta dan kemudian “sekian persen dari harta itu disumbangkan untuk membangun tempat-tempat ibadah. Atau dibagikan kepada fakir miskin. Mereka adalah para pencinta “sekian persen”. Cinta mereka sebesar persentase sumbangan mereka. Cinta mereka belum seratus persen. Penyerahan diri mereka belum sampurna. Bahkan, sesungguhnya mereka belum berserah diri.

Arjuna baru sadar, “Engkaulah seorang Bhakta, seorang pencinta sejati.” Dan dia bersungkam mencium kaki si penjual daging itu.

“Untuk mencapai ketinggian Kasih, tidak perlu melepaskan dunia dan kewajiban-kewajiban duniawi. Yang perlu dilepaskan hanyalah keinginan untuk memperoleh imbalan.”

Melepaskan keinginan untuk memperoleh imbalan berarti membebaskan diri dari segala macam tuntutan, sekaligus membebaskan diri dari konflik serta kekerasan yang bisa terjadi karena tidak terpenuhinya tuntutan.

Melanjutkan kisah kita …. ..

Arjuna menyadari ketololan diri. Tetapi masih bingung, “Seorang Bhakta, seorang pencinta — dan berprofesi sebagai penjagal! Seorang Bhakta dan engkau membiarkan dia bekerja sebagai penjagal.”

Krishna menanggapi keluhan Arjuna dengan senyuman, “Masih ingat perang dahsyat di Kurukshetra?”

“Tentu, Krishna… tentu, masih ingat betul.”

“Saat itu, ‘Aku’ pun menjadi penjagal. Tanganmu ‘Ku’-gunakan untuk membunuh Kurawa dan pendukung-pendukung mereka.”

“Saat itu kita ‘melawan’ kezaliman dan ketidakadilan. Lain halnya dengan seorang penjagal. Dia melakukan kezaliman, ketidakadilan terhadap hewan-hewan tak bersalah.”

Kriishna mengucapkan satu kata, hanya satu kata, “Lihatlah! – Behold”…  Dan, Arjuna melihat Krishna berubah wujud menjadi penjagal. Seruling di tangannya berubah menjadi pisau untuk memotong daging.

Lagi-lagi Arjuna tersadarakan bahwa “Krishna” berada di mana-mana. Di dalam diri Raja Dvarka dan di dalam diri penjagal biasa, yang ada hanyalah Dia, Dia, Dia!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4