Archive for bidadari

Pururava: Cinta Bidadari Urvashi dari Planet Berbeda #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 18, 2017 by triwidodo

Dulu, kita masih bisa memilih: mau berteman, bersahabat, bergaul dengan para dewa, para malaikat, manusia, atau pada raksasa, para danawa. Sekarang, hal itu sudah tidak mungkin lagi, karena ketiga sifat malaikat, manusia dan raksasa berada dalam porsi yang sama dalam setiap insan. Karena itu, hendaknya kita mengembangkan ketiga nilai luhur dam, datta, dan dayaa, pengendalian diri, membari atau berbagi, dan mengasihani.

………….

Suara pertama diterjemahkan para Dewa sebagai dam atau Pengendalian Diri. Dewa atau Malaikat tercipta dari Cahaya atau Nur. Mereka dalam pandangan manusia Hindia zaman dahulu, berasal dari siklus penciptaan sebelumnya. Sang Keberadaan mengangkat mereka untuk tugas-tugas tertentu. Mereka ibarat para menteri. Antara lain, mereka juga bertugas untuk menuntun dan mengarahkan para pejalan, para pencari. Sesungguhnya bagi setiap orang yang berkuasa dan sedang menikmati kekuasaan, kekayaan, kedudukan serta ketenarannya harus belajar mengendalikan diri.

Namun lain dewa, lain manusia. Ia menerjemahkan suara itu sebagai datta – memberi. Dengan cara memberi dan berbagi, manusia belajar untuk tidak menjadi egois, tidak hanya mementingkan diri.

Kesimpulan para raksasa atau danawa lain lagi: dayaa – kasihanilah, kasihilah. Tumbuh kembangkanlah nilai yang satu ini di dalam diri. Kalian memang kuat, penuh tenaga, namun janganlah menggunakan kekuatan dan tenaga itu untuk mencelakakan makhluk lain.

Bila bertemu dengan seseorang yang telah berhasil mengendalikan diri, mengendalikan nafsu-nafsu rendahan, senang memberi atau berbagi, dan mengasihi tanpa memandang bulu, ciumlah tangan dia. Bertekuk-lututlah kehadapannya. Ia adalah Insan Kaamil, Manusia Sempurna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pururava adalah putra Budha dari Dinasti Chandra dengan Putri Ila dari Dinasti Surya. Pururava terkenal mempunyai ketampanan seperti Soma, sang kakek namun mempunyai kebijaksanaan seperti Budha, sang ayah. Saat Putri Ila berubah menjadi Raja Sudyumna, Pururava menjadi putra mahkota penerus sang raja.

Dikisahkan Devarishi Narada sedang bercerita tentang kebaikan dan ketampanan Raja Pururava di istana para dewa, dan seorang bidadari cantik Urvasi menjadi jatuh cinta kepada sang raja.

Dalam Srimad Bhagavatam sering dikisahkan intervensi para dewa yang kawin dengan putri manusia, atau bidadari yang kawin dengan putra manusia. Ada kemungkinan bahwa hal tersebut juga untuk meningkatkan evolusi manusia ke arah kesempurnaan. Hal tersebut juga bisa menjadi jawaban, mengapa ada kelompok manusia yang sudah berperadaban sangat maju dan masih ada kelompok manusia yang seakan-akan masih mengalami peradaban manusia purba karena terisolasi. Karena bila hanya berdasar evolusi saja mestinya peradaban di seluruh dunia akan sama.

Dalam alam semesta ini ada ratusan miliar galaksi. Dan dalam satu galaksi ada ratusan milyar matahari. Dalam satu matahari ada beberapa planet. Mungkin sekali di alam semesta ada makhluk-makhluk yang sangat tinggi peradabannya dan datang ke bumi dengan pesawat yang lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Siapa tahu mereka mengintervensi kita, datang dengan vimana dan dibayangkan dalam tulisan lama dengan naik kereta yang ditarik kuda. Seperti tulisan lama yang menggambarkan Gatotkaca terbang pakai sayap yang digantung di kedua pundaknya, padahal kemungkinan besar Gatotkaca memakai jet tempur, karena perang Bharatayuda adalah perang nuklir. Hal tersebut terjadi karena pada saat tersebut sang penulis belum bisa membayangkan bepergian tanpa kereta atau terbang tanpa sayap.

 

Pada saat Pururava ketemu Urvasi mereka saling jatuh cinta. Akan tetapi, Urvasi mengajukan dua syarat kepada Pururava yang berniat mempersuntingnya. Pertama, Urvasi mempunyai kambing kesayangan yang harus dilindungi. Kedua, Urvasi tidak boleh melihat sang raja telanjang, kecuali saat mereka sedang bercinta saja. Mungkin maksud Urvasi agar tidak melihat Pururava berkasih mesra dengan wanita lain. Pururava menyanggupi dan jadilah mereka suami-istri yang setia dan bahagia.

Adalah Dewa Indra yang selalu mengganggu ketenangan hidup manusia. Dikisahkan bahwa setelah beberapa bulan, Indra merasa surga menjadi muram dengan hilangnya Urvasi dan Indra berusaha mengembalikan Urvasi ke istana para dewa.

Pada suatu ketika, sewaktu Pururava dan Urvasi tidur nyenyak, datang para gandharva utusan Indra untuk mengambil kambing Urvasi. Sang kambing mengembik karena ditarik dengan paksa. Urvasi berteriak bahwa ada pencuri yang mengambil kambing kesayangannya. Dalam keadaan buru-buru Pururava mengambil senjatanya dan meloncat keluar dalam keadaan telanjang. Kesempatan itu digunakan Indra untuk membuat kilat sehingga Pururava nampak sedang tidak berpakaian.

Urvasi melihat suaminya dalam keadaan telanjang dan sebagaimana janjinya dahulu, maka dia menghilang. Para gandharva segera melepaskan melepaskan sang kambing, tetapi Urvasi telah lenyap.

Pururava sangat berduka, akan tetapi hal itu sebagai pembangkit semangat untuk bertemu lagi dengan Urvasi. Dan kemudian Pururava bertapa dan mengembara mencari jejak berita Urvasi. Pada suatu ketika, sang raja bisa bertemu dengan para bidadari dan mendengar kabar bahwa pada akhir tahun Urvasi akan datang selama satu malam sambil menyerahkan putranya.

Akhirnya, Pururava dapat bertemu dengan Urvasi yang membawa putranya sebagai obat kerinduan dan juga penerus keturunannya. Tanpa keturunan dari Urvasi maka tidak akan ada Dinasti Bharata. Pururava sendiri dengan mantra gandharva bisa ikut Urvasi tinggal di Planet para dewa.

Rishi Shuka putra Bhagavan Vyaasa berkata kepada Parikhsit, bahwa Pururava adalah nenek moyang Parikhsit yang juga nenek moyang dirinya. Itulah sebabnya Bhagavan Vyaasa, ayahnya, tidak mau tergoda oleh bidadari, karena tidak mau mengalami kejadian seperti nenek moyangnya tersebut.

Putra Pururava adalah Ayu. Putra Ayu adalah Nahusha. Putra Nahusha adalah Yayati. Putra Yayati adalah Puru. Setelah 14 generasi lahirlah Dusyanta. Dusyanta mempunyai putra Bharata.

Advertisements

Rishi Markandeya: Menghadapi Godaan Indrawi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 31, 2017 by triwidodo

Kebahagiaan sejati adalah hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali. Penjelasan Bhagavad Gita 5:21 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Rishi Markandeya putra Markandu adalah seorang yang menguasai Veda dan juga pertapa yang sempurna. Pikirannya tenang dan terfokus pada Narayana. Sang rishi mengalami kebahagiaan sejati. Sang rishi paham bahwa kebahagiaan yang berasal dari indrawi tidak akan bertahan lama.

Dewa Indra meragukan kekuatan tapa sang rishi dan ingin mengganggunya. Ia mengirimkan rombongan penggoda yang terdiri dari para gandharva untuk menyanyi, para apsara untuk menari, dan Manmatha, dewa cinta sebagai pemimpin rombongan.

Markandeya sedang berada dalam keadaan meditasi dan apsara cantik Pujikastali menari di depannya. Manmatha memungut busur cintanya dan menunggu mata Markandeya terbuka dan kemudian dengan segera melepaskan panah asmaranya. Akan tetapi semua usaha Manmatha dan tim-nya sia-sia. Sang rishi tidak tergiur dengan kejelitaan Pujikastali yang sedang menari.

Mereka melarikan diri dengan penuh kengerian melihat mata Markandeya yang paham bahwa dirinya telah digoda. Mereka takut sang rishi mengutuk, dan mereka melarikan diri. Bagaimana pun Markandeya tidak mengutuk mereka, itulah salah satu sifat agung dalam diri sang rishi.

Selanjutnya Narayana datang dalam wujud Nara dan Narayana yang berkulit hitam dan putih.  Rishi Markandeya menghormati mereka dan berkata, “Gusti, meliputi alam semesta. Gusti adalah Brahma, Mahadeva, Vishnu dan juga Atman dalam diri manusia. Bentuk kembar ini telah Kau ambil untuk kepentingan dunia.”

Nara dan Narayana kemudian berkata, “Tapa dan bhaktimu kepada kami telah menjadikanmu seorang Siddha dan kami sangat terhibur olehmu. Mintalah apa pun dan aku akan mengabulkannya!”

Markandeya menjawab, “Dapatkah manusia mempunyai keinginan yang lain setelah menyaksikan-Mu? Bagaimana pun juga adalah tidak hormat menolak perintah Tuhan. Oleh karena itu hamba mohon diberitahu apakah “Maya” yang menyebabkan ketidaktahuan dalam pikiran manusia.

Nara dan Narayana tersenyum dan berkata, “Semoga demikian!” dan mereka lenyap.

Saatnya kita merenung, seandainya kita digoda bidadari cantik, apakah kita akan tahan? Atau bahkan kita yang akan menggoda bidadari tersebut. Tidak usah menunggu Manmatha, Kamadeva, Dewa Cinta membidik anak panah asmara, kita pun sudah klepek-klepek berduaan dengan bidadari. Bila demikian, memang kita masih berada dalam maya. Belum saatnya memahami maya seperti yang akan dialami Rishi Markandeya dalam kisah selanjutnya….

Silakan simak kisah lanjutan Rishi Markandeya pada kisah berikutnya: Kesaksian Rishi Markandeya: Alam Semesta Berada di dalam Gusti #SrimadBhagavatam