Archive for candi mendut

Menyaksikan Perselingkuhan, Kisah Dua Burung Beo pada Relief Candi Mendut

Posted in Relief Candi with tags , , on August 25, 2013 by triwidodo

Mendhut-Tantri-2_parrots wikipedia

Gambar dua burung Beo pada Relief Candi Mendut sumber Wikipedia

Pengolahan Otak Harus Diimbangi Penghalusan Rasa

“Tidak berarti bahwa otak tidak perlu diasah. Tidak berarti bahwa ilmu tak berguna. Otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus. Kemampuan untuk “mengenal fakta” datang dari ilmu. Kepekaan untuk “melihat kebenaran” berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membuka bagi saya semua pintu ilmu.” (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah dua burung beo yang menyaksikan perselingkuhan istri seorang brahmana, membuat kita merenung apakah kita cukup dengan mengembangkan otak saja ataukah juga perlu mengembangkan intuisi kita.

 

Menyaksikan Perselingkuhan Istri Brahmana

Dua bersaudara burung beo ditangkap pemburu dan diserahkan kepada seorang brahmana. Mereka dipelihara dengan sangat baiknya, sehingga walau tidak diikat mereka tidak pergi juga, karena ingin membalas budi pada Sang Brahmana. Pada suatu hari Sang Brahmana pergi keluar kota untuk beberapa lama dan berpesan kepada kedua beo bersaudara. Agar mereka dapat menjaga istrinya. Bila istrinya berbuat tidak baik tolong diingatkan oleh mereka.

Ternyata istri Sang Brahmana tidak setia, setelah Sang Brahmana pergi dia bermain cinta dengan kekasih selingkuhannya. Baik di dalam maupun di luar rumahnya. Beo muda yang masih remaja berkata pada kakaknya yang sudah dewasa: “Kakak, kita diminta menjaga istri Sang Brahmana. Dia berpesan agar kalau istrinya berbuat tidak baik kita diminta mengingatkannya. Mengapa kita tidak mengingatkan istrinya?” Sang kakak berkata dengan bijaksana: “Adikku, kita harus tetap waspada, istri Sang Brahmana terlalu keji. Kita harus hati-hati dan melihat dengan jeli. Mari kita tunggu Sang Brahmana datang, kita laporkan dan segera pergi. Mungkin Sang Brahmana sudah mencurigai sang istri. Dan, kita diminta memberikan konfirmasi. Istri sang brahmana masih dipengaruhi oleh naluri hewani, hanya wujudnya manusia, akan tetapi tindakannya masih seperti hewan.”

“Setelah berhasil memahami sebagian rahasia DNA manusia dan berhasil memetakannya, para saintis pun bingung. Ternyata DNA manusia, blue print dasar manusia itu, menyimpan rahasia alam semesta. Setiap orang memiliki ‘memori’ yang bisa ditarik ke belakang sampai asal-usulnya alam semesta. Sungguh misterius! Jadi setiap manusia juga memiliki naluri hewani. Dituntun olehnya, tindakan anda akan menjadi hewani. Dipengaruhi olehnya, pikiran anda akan menjadi hewani. Dikuasai olehnya, ucapan-ucapan anda akan menjadi hewani.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Beo Remaja yang Kurang Waspada

Sang Beo Remaja tak bisa menahan diri. Pada suatu hari dia menemui istri Sang Brahmana dan menasehati, “Mengapa Nyonya melakukan tindakan tidak setia? Mohon jangan diulangi lagi, tidak baik seorang isteri melakukan ini!” Istri Sang Brahmana berkata, “Beo remaja yang bijaksana kau benar dalam berkata. Mari ke sini kuelus lehermu. Sebagai rasa terima kasihku. Aku tidak akan selingkuh lagi karena nasehatmu.” Istri Sang Brahmana memegang leher beo remaja. Dipuntir lehernya sampai kehilangan nyawa dan badannya dimasukkan api di dapur yang tengah membara.

Burung beo remaja belum paham, bahwa sang istri brahmana  adalah manusia, akan tetapi masih mengikuti naluri kebinatangan. Sehingga dia kurang waspada.

“Binatang harus mengikuti nalurinya. Ketika lapar, ia akan makan. la tidak bisa menahan diri. Ketika haus, la akan minum. Ketika harus melampiaskan napsu birahi, la akan melakukannya. Tidak perlu suasana, tidak perlu basa-basi. Lihat saja anjing-anjing di tengah jalan. Hanya manusia yang dapat melakukan sesuatu dengan ‘kesadaran’. la sudah tidak ‘perlu’ mengikuti nalurinya. la bisa ‘mengurus’ dirinya sendiri. Mereka yang ‘merasa’ digoda oleh Setan, lalu bertindak sesuai dengan apa yang mereka sebut ‘bisikan Setan’, sesungguhnya sedang mengikuti nalurinya. Dan manusia memang memiliki ‘naluri hewan’ the basic instincts.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kematangan Beo Dewasa Menghadapi Orang Berbahaya

Beo Dewasa sadar bahwa menghadapi manusia berbahaya yang tidak bisa dinasehati, perlu kehati-hatian.

“Orang yang dengki menjadi kalap; matanya tertutup. la tidak bisa memilah lagi, tindakan mana yang tepat dan yang mana tidak tepat. la seperti seorang pengemudi yang mabuk. la dikuasai oleh ‘alkohol’, oleh ‘anggur’. la akan mencelakakan dirinya dan orang lain. Dalam perjalanan, jika anda bertemu dengan seorang pengemudi seperti itu, apa yang akan anda lakukan? Menyadarkan dia? Percuma. la tidak akan menghentikan kendaraannya. la tidak akan mendengarkan nasihat anda. Satu-satunya jalan adalah ‘menyingkir’, melindungi diri. Jangan sampai jadi korban ketololannya.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Beo Dewasa pura-pura tidak mengetahui kejadian yang menimpa adiknya. Istri Sang Brahmana masih tetap berselingkuh. Saat Sang Brahmana pulang dia bertanya kepada Sang Beo bagaimana kabar istrinya. Sang Beo menceritakan tentang perselingkuhan istrinya. Setelah dia bercerita, dia bilang sekarang tak ada tempat yang aman baginya di rumah Sang Brahmana.  Sang Beo pamit terbang ke rimba. Konon Sang Beo Dewasa pada suatu ketika menitis menjadi Sang Buddha dan adiknya menjadi adalah salah seorang muridnya.

 

Melatih Intuisi

Beo Dewasa adalah lambang seorang yang telah memiliki intelijen, sedangkan beo remaja melambangkan orang yang masih dalam taraf intelektual.

“Saya selalu membedakan antara ‘intelljen’ dan ‘intelektual’. Seorang ‘intelijen’ menjadi demikian karena membuka diri terhadap semesta. la belajar dari alam. la belajar dari setiap peristiwa, setiap kejadian dalam hidupnya. la belajar dari pengalaman pribadi. Pengetahuan dia sepenuhnya berdasarkan pengalaman bahkan melampaui pengalaman pribadi. la memperolehnya lewat mekanisme alam yang mulai bekerja, apabila ia menjadi lebih peka, lebih reseptif terhadap alam itu sendiri. Itu yang disebut intuisi, ilham.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Kebenaran dihasilkan oleh intuisi dan intuisi berkembang dalam keheningan. Intuisi melampaui instink-instink hewani Anda, melampaui pikiran dan logika, melampaui filsafat, dan hanya intuisilah yang dapat bertatap muka dengan Kebenaran. Biarkan dunia, menentang Anda – pikiran Anda mungkin mengatakan satu hal dan hati Anda mengatakan hal yang lain. Jangan ikuti mereka. Ikutilah intuisi Anda. Pada saat-saat awal, memang sulit, bahkan sangat sulit untuk mendengar suara halus intuisi Anda. Tetapi, jangan menyerah. Suatu saat mungkin Anda salah menangkap suara pikiran ataupun suara hati Anda sebagai intuisi. Lewat kesalahan-kesalahan Anda sendiri, Anda akan belajar. (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Advertisements

Relief Candi Mendut: Ikan Korban Rayuan Iklan Bangau yang Culas dan Kepiting yang Waspada

Posted in Relief Candi with tags , , , on August 16, 2013 by triwidodo

mendut bangau kepiting ikan sumber wikipedia

Gambar Bangau menipu ikan-ikan dan akhirnya ditipu kepiting sumber Wikipedia

Ikan Dibujuk Bangau Berulang-Ulang

“Pengulangan membuat sesuatu menjadi nyata. Adolf Hitler menulis dalam otobiografinya bahwa jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran. Pengulangan adalah metode hypnosis. Apa yang diulangi secara terus-menerus itu akan terukir pada dirimu. Inilah yang menyebabkan ilusi dalam hidup. Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tersebutlah di sebuah kolam kecil hidup seekor kepiting dan sekumpulan ikan. Pada suatu musim  kemarau airnya menyusut tinggal sedikit dan bagi penghuni kolam keadaan tersebut cukup mengkhawatirkan. Kala itu seekor burung bangau sedang mengintai dan muncul pikiran jahatnya untuk menjadikan seluruh penghuni kolam sebagai santapan.

Burung Bangau sengaja beristirahat di tepi kolam dan nampak duduk termenung bermuram durja. Para Ikan bertanya kepada Sang Bangau, “Tuan sedang memikirkan apa?” Sang Bangau menjawab, “Aku memikirkan kehidupan kalian wahai para ikan. Kemarau ini begitu keringnya, semakin sedikit air semakin sedikit pula makanan kalian. Aku takut kolam ini beberapa hari lagi akan habis airnya dan kalian akan mati kekeringan. Kalau kalian percaya padaku, akan kubawa satu per satu kupindahkan ke telaga besar di balik hutan. Telaga yang dipenuhi dengan bunga teratai yang akan menjamin kehidupan kalian.” Para Ikan berkata, “Tuan Bangau, sejak awal kehidupan, tak ada ceritanya seekor bangau memikirkan kesejahteraan ikan. Terus terang kami takut satu per satu dari kami akan Tuan makan.” Sang Bangau menjawab pelan, “Coba pikir masak-masak, aku tidak berdusta silakan pilih satu perwakilan ikan untuk melihat telaga yang saya ceritakan.” Karena setiap hari Bangau membujuk dan memang air kolam nampak berkurang maka para ikan kemudian memilih satu ikan besar sebagai perwakilan. Sang Bangau membawanya ke atas telaga dan kemudian kembali ke kolam ikan. Para Ikan akhirnya percaya dan menurut saja dibawa Sang Bangau satu per satu ke telaga. Sebenarnya satu per satu ikan dijatuhkan di pohon di seberang telaga. Satu per satu disantap Sang Bangau dan dibawah pohon berserakan tulang-tulangnya. Demikian dilakukan berkali-kali sehingga ikan di kolam habis semuanya.

 

Kepiting yang Waspada

Tersisa seekor kepiting di kolam yang juga ingin dimangsanya. Sang Bangau berkata, “Tidakkah kamu ikuti para ikan pindah ke telaga?” Sang Kepiting berkata, “Lebih baik aku hidup di kolam ini saja.” Sang Bangau membujuk setiap hari, sehingga Sang Kepiting semakin waspada. Pada suatu hari akhirnya Sang Kepiting berkata, “Aku bisa memegang diri Tuan lebih kuat, maka biarkan aku memegang leher Tuan saat terbang menuju telaga.”

Sang Bangau setuju dan kemudian terbang di atas telaga. Akan tetapi kemudian Sang Bangau berbelok menuju pohon di seberang telaga. Sang Kepiting bertanya, “Mengapa Tuan membawaku menjauhi telaga?” Sang Bangau berkata, “Dasar kepiting bodoh, aku bukan budakmu, mengapa kamu harus kupindahkan? Lihatlah di bawah pohon terdapat tulang-tulang ikan berserakan. Kamu pun akan segera kujadikan santapan.” Sang Kepiting berkata, “Sang penipu telah ditipu itulah nasibmu, Tuan. Coba rasakan sedikit, saya mulai menjepit leher Tuan!” Sang Bangau ketakutan merasakan lehernya yang mulai kesulitan bernapas. Sang Kepiting berkata, “Sekarang Tuan Bangau yang bodoh, bawa aku ke atas telaga agar aku bisa terjun dan Tuan kembali bebas!” Sang Bangau menuruti dengan tergesa-gesa untuk menyelamatkan nyawanya. Saat tiba di tepi telaga leher Sang Bangau dipotong Sang Kepiting dan mati seketika. Sang Kepiting pun segera masuk ke dalam telaga.

 

Kisah Sang Buddha

Sang Buddha bercerita ada penjahit di Jetavana yang suka menipu. Dia membuat pakaian jadi dari baju bekas yang dicelupkan dengan cairan pewarna sehingga kelihatan baru. Setiap orang yang akan menjahitkan pakaian diminta menyerahkan kainnya dan ditukar dengan baju bekas yang nampak baru. Semakin hari, semakin banyak orang yang tertipu. Pada suatu hari, nampak seorang gagah dengan wool mewah berwarna oranye yang memperkenalkan diri sebagai Penjahit dari Desa. Sang Penjahit dari Jetavana minta baju wool yang dipakai Penjahit dari Desa dapat ditukar dengan sejumlah kainnya. Penjahit dari Desa merasa keberatan, tetapi akhirnya setuju juga. Saat Sang Penjahit dari Jetavana mencuci baju wool dia baru sadar bahwa dia telah ditipu karena baju wool tersebut berasal dari kain karpet yang diberi warna.

Konon Sang Buddha bercerita bahwa setelah beberapa kehidupan. Sang Bangau lahir kembali menjadi Sang Penjahit dari Jetavana. Sedangkan Sang Kepiting menjadi Sang Penjahit dari Desa dan sekelompok ikan menjadi masyarakat yang tertipu oleh Sang Penjahit dari Jetavana.

 

Sang Bangau Sangat Individualistik dan Tidak Peduli Penderitaan Pihak Lain

Seseorang yang masih sangat individualistik masih mempunyai sifat hewani yang masih terkendali oleh fight or flight mechanism. “Seseorang yang terkendali oleh fight or flight mechanism, sungguh sangat individualistik. Sesungguhnya, la hanya memikirkan dirinya saja. Bila la tidak terpelajar, tidak berpendidikan, sifat individualistiknya itu akan terlihat, terasa jelas sekali. Manifestasi dari sifatnya itu sudah pasti vulgar, dapat dibaca oleh siapa saja. Celakanya, bila ia berpendidikan, seperti para aktor intelektual di balik aksi teror di negeri kita, la dapat mengemas individualitasnya, egonya dengan rapi sekali. la dapat menutupinya dan malah memberi kesan sebaliknya, seolah la memikirkan kepentingan orang banyak, rakyat, dan sebagainya. la bisa menipu sejumlah orang, dapat membodohi beberapa orang. Ia tidak dapat menipu dan membodohi semua orang.” (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

 

Tidak Mengulangi Kesalahan yang Sama

Buddha mengingatkan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bila kita tidak mau memperbaiki, alam akan selalu memberi ujian yang mirip sampai kita lulus dalam menghadapinya. Sang Ikan melakukan kesalahan di tipu Sang Bangau, Sebagian masyarakat ditipu Penjahit Jetavana. Bila masyarakat yang tertipu tidak mau belajar dari sejarah, maka dia akan mengulangi masalah yang sama di kemudian hari.

Dalam kisah tersebut disampaikan bahwa apa yang terjadi di masa lalu terjadi pula di masa depan, tak ada sesuatu yang baru di atas dunia. Walau ‘setting’ panggung dan pemeran berbeda akan tetapi skenarionya tidak jauh berbeda. Bahkan kejadian bangau yang menipu dan menyantap sekelompok ikan saat ini dilakukan juga oleh segelintir manusia. Keterpurukan negeri dan kebohongan publik yang sering dilakukan oleh para oknum pemimpin, terjadi karena berkiblat pada keserakahan.

“Saat berdoa, hanya badan kita yang menghadap Bait Allah. Pikiran kita berkiblat pada harta benda. Perasaan kita berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri.” (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hipnotis Massal dan Para Pembebas

Para Ikan telah dihipnotis Sang Bangau untuk diperdaya pindah dari kolam yang lama dan dijadikan santapannya. Mirip dengan kisah tersebut, sebenarnya kita semua adalah para Ikan yang telah dihipnotis oleh Bangau “Dunia”. Pada waktu kita ke supermarket untuk mencari pasta gigi kita pasti melakukan “search” dalam memori pikiran kita dari iklan-iklan yang telah kita tonton untuk memilihnya. Bukan hanya iklan, sesungguhnya kita semua telah dihipnotis massal oleh sistem masyarakat.

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai pembaharu. Karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Orang-Orang Besar menjadi besar, karena mereka berhasil membebaskan diri dari pengaruh hypnosis massal yang membenarkan kebiasaan-kebiasaan umum. Karena itu, mereka bisa mentransformasi diri dan metransformasi setiap orang yang berada di sekitar mereka. Inilah kisah Krishna, Buddha, Lao Tze, Muhammad, dan Isa. Mereka bukan orang-orang yang konformis. Ketika ditawari kerajaan dunia, harta kekayaan, dan kedudukan, mereka menolak demi kebenaran yang mereka percayai. ‘Tidak menerima tawaran dunia’; inilah turning point dalam hidup mereka. Bacalah kisah kehidupan mereka. Mereka semua mendapatkan tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan dari iblis, namun mereka menolaknya. Dan mereka menjadi besar. Mereka menjadi jauh lebih besar daripada iblis yang menawarkan semuanya itu kepada mereka.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Relief Candi Mendut: Kisah Kura-Kura dan Angsa Terbang, Dunia Menghambat Perjalanan Batin

Posted in Relief Candi with tags , , on August 7, 2013 by triwidodo

Mendhut-Tantri01 kura2 angsa wikipedia

Relief Kura-Kura dan Angsa Terbang di Candi Mendut sumber Wikipedia

Pasang-Surut Ego yang Rawan Masalah

“Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kura-Kura menggigit kayu yang dicengkeram dua angsa. Ada ketakjuban dalam diri Kura-Kura merasakan bagaimana terbang di angkasa. Ada serigala yang menghina, dan egonya tersinggung. Anak-anak kampung memuji dan egonya bertambah. Dan ketika para putri istana minta penjelasannya, Kura-Kura menjadi lengah karena egonya ingin menjelaskan dan terjadilah musibah.

 

Kisah Kura-Kura dan Angsa dalam Perjalanan Menuju Telaga Kebahagiaan

Di sebuah kolam kecil seekor kura-kura berteman dengan dua ekor angsa. Terpengaruh pergantian musim, kolam tersebut kadang menyusut, kadang melimpah airnya. Kala air melimpah mereka bersuka ria. Kala air menyusut mereka menderita, bahkan cemas bila mengering kolamnya. Kedua angsa berkata bahwa mereka sudah bosan mengalami suka dan duka yang tak ada habisnya. Yang mungkin akan dialami mereka sepanjang hidupnya, sampai ajal menjemput mereka. Kedua angsa baru saja mendengar berita gembira. Seekor burung bijaksana berkata bahwa di puncak gunung ada sebuah telaga. “Telaga Kebahagiaan” dengan mata air yang tak ada habisnya. Kedua angsa bertekad bulat akan terbang menuju “Telaga Kebahagiaan” yang dapat membahagiakan mereka selamanya. Kura-kura tertarik dengan tekad  angsa dan berniat ingin mengikutinya.

Mereka berupaya mencari jalan keluarnya, dan sebuah ide cerdas diajukan Kura-Kura. Kedua angsa menyetujuinya. Walau mereka berpesan agar kura-kura selalu waspada, karena lengah sedikit saja, bahaya besar menimpa. Kedua angsa mencengkeram sepotong kayu pada ujung-ujungnya, dan Kura-Kura menggigit di tengahnya. Sebelum terbang mereka berpesan agar kura-kura fokus menggigit kayunya dan tidak berbicara sepanjang perjalanannya.

Di atas ladang sepasang serigala berkata, yang menggigit kayu itu bukan kura-kura tetapi kotoran kerbau, oleh-oleh buat anak angsa. Di atas desa anak-anak kecil ternganga, melihat kura-kura menggigit kayu yang dibawa terbang angsa di kanan dan kirinya. Anak-anak desa melambaikan tangannya dan berteriak, betapa berbahagianya Kura-Kura. Seumur hidup belum pernah terjadi peristiwa yang demikian langka. Di atas taman istana para putri terpesona. Mereka ingin mengetahui bagaimana awal cerita Kura-Kura mendapat karunia yang luar biasa. Kura-Kura lengah ingin menjelaskannya. Gigitannya lepas dan jatuh, badannya terbelah dua.

 

Nasehat Buat Sang Raja

Sang Raja datang dengan penasehatnya. Penasehatnya menjelaskan mengapa Kura-Kura jatuh di istana. Kebiasaan terlalu banyak bicara membuat lengah dan mengundang bencana. Sang Raja sadar bahwa sudah lama Penasehat menasehatinya agar pembicaraannya dikurangi. Ada waktunya bicara dan ada waktunya berdiam diri. Selama ini Sang Raja selalu mendominasi pembicaraan dengan para menteri. Peristiwa kura-kura membuat dia memahami kekurangannya selama ini….. Konon setelah beberapa kehidupan, Sang Penasehat berinkarnasi menjadi Sang Buddha. Sedangkan Sang Raja menjadi salah satu muridnya. Kisah Kura-Kura dan Angsa dapat mengubah pandangan hidupnya.

Anand Krishna memberikan contoh Hanuman yang menyimpan cincin Sri Rama pada mulutnya dan tidak membuka sebelum bertemu Ibu Sita. “Dengan menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya, Hanuman menutup rapat mulutnya. Ia tidak membuka mulut sampai ia tiba di Lanka dan bertemu Sita. Hal ini penting sekali untuk diingat, yakni pelajaran untuk menyimpan rahasia. Ketika Anda menjalani sebuah misi penting, janganlah membicarakan mengenai pro dan kontra serta tetek bengek mengenai misi yang Anda emban dengan siapa pun.  Pembicaraan semacam itu hanya membuktikan ketidak-siapan dan ketidak-percayaan diri Anda. Dan kegagalan Anda sudah hampir bisa dipastikan. Apa gunanya menjalankan misi Anda kalau demikian? Dengan menutup rapat mulutnya, Hanuman membuktikan kesiap-sediaan, kepercayaan diri, serta kebulatan tekadnya untuk menjalankan misinya. Hanuman, oh Manusia Ideal, kemenanganmu adalah sesuatu yang pasti! Terjemahan Bebas dari Kutipan buku The Hanuman Factor (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kura-Kura yang Mengabaikan Pesan Angsa untuk Selalu Waspada

Sang Kura-Kura sudah dalam perjalanan menuju “Telaga Kebahagiaan”. Ibarat seseorang yang mengikuti Instruksi Guru menuju Kebahagiaan Abadi, akan tetapi dunia di bawahnya selalu merayu Kura-Kura untuk membatalkan perjalanan.

“Dunia tidak pernah berhenti merayu kita. Dunia tidak rela melepaskan diri kita. Ia selalu berupaya agar kita menjadi bagian darinya. Bila rayuannya tidak berhasil, ia akan mengecam, mengancam, mendesak dan memaksa dengan menggunakan segala daya upaya. Pokoknya, kita tidak boleh keluar dari lingkarannya. Lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan, tak ada habis-habisnya. Dunia ingin memiliki kita. Keluarga, kerabat dan orang-orang yang mengaku seumat dan seiman ingin memiliki kita. Lembaga-lembaga keagamaan dan politik berebutan untuk memiliki kita. Kadang mereka bergabung untuk menyatakan kepemilikan mereka atas diri kita. Kita perlu berhati-hati, perlu waspada. Sebenarnya dunia tidak dapat memperbudak kita untuk selamanya, kecuali bila kita membiarkannya. Kecuali bila kita mau diperbudaknya.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Masih Memikirkan Pendapat Orang dan Pandangan Dunia

Kura-Kura tidak fokus sepenuhnya kepada tujuannya. Dia masih memperhatikan apa kata orang di bawah sana. Dia merasa marah pada mereka yang menghinanya, dia menepuk dada pada mereka yang menyanjungnya. Kura-kura masih ragu, masih bimbang dia masih memperhatikan keduniawian. Masih ada keterikatan.

“Ah, kita masih ragu, masih bimbang, masih takut, masih memikirkan pendapat orang, dan pandangan dunia. Kita masih mengharapkan masyarakat merestui hubungan kita. Sesungguhnya, harapan kita tidak pada tempatnya. Kita tidak membutuhkan fatwa untuk berhubungan dengan Tuhan, kita tidak membutuhkan izin dari siapa pun jua. Pertama, dunia akan memastikan bahwa keluargamu menghalang-halangimu. Keluarga yang menginginkan keterikatanmu, karena ingin memperbudak jiwamu, ingin menguasaimu, selalu menjadi penghalang utamamu. Jarang sekali kita temukan misalnya di mana keluarga justru menunjang atau membantu. Kedua, kawan dan kerabat akan meninggalkanmu. Ketiga, kau akan difitnah oleh dunia, berbagai hujatan akan dilontarkan kepadamu.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Yakin dan Sabar sebagai Teman Seperjalanan

“Keyakinan dan kesabaran adalah perahu yang dapat mengantarmu ke tepi seberang. Keyakinan dan kesabaran membersihkan jiwa dan menyucikan hati. Keyakinan dan kesabaran melenyapkan rasa takut, dan membebaskan kita dari segala macam penderitaan, keculitan, serta keraguan. Keyakinan dan kesabaran ibarat saudara kembar yang senantiasa melindungi kita dari segala macam marabahaya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013