Archive for ceria

Kedatangan Dewi Kekayaan dan Kepergian Dewi Kemiskinan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on October 16, 2018 by triwidodo

Kisah Dewi Kekayaan dan Dewi Kemiskinan Menemui Seorang Pedagang

Seorang Master bercerita tentang dua dewi cantik jelita yang datang pada seorang pedagang dan memperkenalkan diri sebagai Dewi Kekayaan dan Dewi Kemiskinan. Sang pedagang bertanya, “Apa gerangan yang membawa Bunda-Bunda Dewi ke rumah hamba?” Dewi Kekayaan berkata, “Kami ingin kau menilai dan memberitahu siapa yang lebih cantik dari kita berdua?”

Sang pedagang berada dalam keadaan dilematis. Jika dia menyatakan Dewi Kekayaan lebih cantik daripada Dewi Kemiskinan, maka Dewi Kemiskinan akan mengutuknya, dan dia bisa saja menjadi miskin selamanya. Akan tetapi, jika dia mengatakan Dewi Kemiskinan lebih cantik daripada Dewi Kekayaan, maka Kekayaan akan meninggalkannya dan dia akan hidup miskin. Dengan menarik napas pelan-pelan yang dalam, dan membuang napas juga perlahan-lahan beberapa kali, dia kemudian menjawab, “Wahai Bunda-Bunda Dewi, hamba sangat menghormati Bunda berdua. Semoga Bunda berdua berkenan menuruti permohonan saya, agar saya dapat menilai dengan benar.”

Kedua Dewi setuju, dan sang pedagang berkata, “Wahai Bunda Kekayaan, mohon datang dan masuk ke rumah hamba. Dan, wahai Bunda Kemiskinan, mohon berjalan dari sini ke pintu halaman?” kedua Dewi mengikuti permintaan sang pedagang.

Sang pedagang kemudian berkata, “Bunda Kekayaan, Bunda tampak sangat cantik ketika memasuki rumah hamba. Dan wahai Bunda Kemiskinan, Bunda terlihat sangat cantik saat Bunda meninggalkan rumah hamba!” Kedua Dewi menghargai kejernihan pikiran sang pedagang. Dewi Kekayaan dengan senag hati tinggal di rumah sang pedagang dan Dewi Kemiskinan dengan senang hati pergi dari rumah sang pedagang.

Ketika kita menghadapi masalah, sebaiknya kita tenang, berpikir jernih untuk mencari solusinya.

 

Walau Kaya, Akan Tetapi Seseorang Tetap Mengalami Suka dan Duka

Mungkin sang pedagang tetap kaya menurut ukuran masyarakat. Walaupun demikian bila dia mengharapkan keuntungan yang besar, sedangkan hasilnya hanya keuntungan kecil, dia tetap mengalami duka. Ibarat obat addiktif, seseorang yang teradiksi terhadap kekayaan apabila dosisnya tidak bertambah dia tidak akan merasa nyaman lagi. Pada saat dia memperoleh keuntungan sedikit atau bahkan keruguan sedikit, dia tetap akan mengalami duka.

Juga, Sang Dewi Kekayaan tidak mau serumah dengan Dewi Kemiskinan, apabila Dewi Kemiskinan datang, maka Dewi Kekayaan akan pergi meninggalkan rumah. Sang pedagang tetap merasa terancam dengan kedatangan Dewi Kemiskinan dan hidupnya tidak akan tenang.

Suka dan duka silih berganti, demikianlah kehidupan di dunia. Pertanyaannya, adakah suatu jalan agar kita selalu tenag dan ceria saat Dewi Kekayaan ataupun Dewi Kemiskinan mendatangi kita?

Melampaui Dualitas Suka dan Duka

Seorang Yogi Meraih Kebebasan dari Dualitas baik dan buruk, kedua-duanya merupakan sisi dari satu keping uang logam yang sama. Seperti halnya panas dan dingin, pagi dan sore, siang dan malam. Segala sesuatu dalam dunia ini memiliki oposannya, lawannya.

Selama kita masih berada di dunia ini, kita tidak dapat menghindari interaksi dengan dunia-benda yang bersifatkan dualitas ini. Namun, kita dapat menciptakan sistem filter bagi diri kita sendiri. Kita dapat menguasai diri, sehingga tidak terpengaruh oleh dualitas.

Tidak berarti bahwa seseorang yang sadar, yang telah mencapai pencerahan, tidak akan mengalami pasang surut dalam kehidupannya. Kṛṣṇa hanya ingin mengatakan bahwa ia tidak akan lagi terpengaruh oleh pasang surutnya kehidupan. Apa pun yang terjadi, tidak ada yang dapat memudarkan senyumannya.

Dan jangan lupa kata-kata Kṛṣṇa, berkaryalah secara efisien. Jangan setengah- setengah. Seluruh kesadaran kita dianjurkan terfokus pada apa yang sedang kita lakukan, pada saat ini, pada masa kini, pada pekerjaan itu sendiri, sehingga tidak ada energi yang terbuang. Inilah Yoga. Penjelasan Bhagavad Gita 2:50 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Menjadi Ceria, Tidak Berduka dan Bersikap Sama terhadap Semua

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.” Bhagavad Gita 18:54

Tidak berarti seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi itu meninggalkan pekerjaannya. Tidak. Ia masih tetap berkarya di tengah keramaian pasar dunia, namun terjadi perubahan nyata dalam sikapnya.

PERTAMAI IA MENJADI CERIA — Keceriaan bukanlah cengengesan. Keceriaan bukanlah rasa bahagia yang dibuat-buat. Keceriaan adalah hasil dari kesadaran tertinggi, di mana ia mulai mengapresiasi keindahan jagad-raya. Keceriaannya adalah keceriaan polos, tulus, lugu. Keceriaan seorang yang sedang mengamati dan menikmati warna-warni dunia.

KEDUA: IA TIDAK LAGI BERDUKA – Ini erat kaitannya dengan keceriaan. Jika ia hanya berada dalam keadaan suka, maka ketika keadaan berubah, ia akan berduka.

Keadaan suka, sebab itu, tidaklah sama dengan keceriaan. Keceriaan melampaui suka dan duka. Suka dan duka tergantung pada keadaan di luar diri. Keceriaan adalah sikap hidup yang muncul dari kesadaran diri.

Brahman, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, memiliki tiga sifat utama, yaitu Sad atau Kebenaran Hakiki; Cit atau Kesadaran Murni; dan Ananda atau Kebahagiaan Sejati. Keceriaan bersumber dari ketiganya itu. Namun, secara spesifik, keceriaan adalah ungkapan dari Ananda. Jadi, berasal dari dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri.

KETIGA: IA TIDAK MENGEJAR SESUATU – Ia tetap berkarya, dan berkarya secara efisien. Ia tidak malas, namun, ia berkarya sebagai ungkapan keceriaan dirinya. Ia tidak berkarya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya.

Alangkah baiknya, jika para pemimpin, pengusaha, pendidik, pekerja, kita semua bersemangat dernikian! Sehingga tidak ada urusan sikut-menyikut, tidak ada perlombaan, tidak ada praduga dan prasangka. Semua orang berkarya sepenuh hati sesuai peran serta kapasitasnya. Inilah keadaan yang dapat menciptakan masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam arti kata sebenarnya, sesungguhnya.

KEEMPAT: BERSIKAP SAMA TERHADAP SEMUA – Berarti, tidak pilih kasih. Tidak pandang bulu; tidak tebang pilih. Ia tidak menganggap orang lain rendah karena kepercayaannya beda, rasnya lain, bahasanya beda, dan sebagainya dan seterusnya.

Bersikap sama tidak berarti kita tidak adil. Bersikap sama berarti kita bersikap adil dengan menggunakan tolok ukur dan timbangan yang sama buat semua.

Berarti, kita tidak hanya bersuara lantang ketika seorang pengusaha ditindak karena memperbudak buruhnya, dan membisu seribu bahasa ketika saudara kita sendiri memparbudak staf, atau menipu rekan bisnisnya.

DEMIKJAN, DENGAN DIBEKALI KEEMPAT SIFAT MULIA INI – ketika seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi masih tetap berkarya juga. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Pemuja Vishnu dengan 3 Permohonannya #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 15, 2017 by triwidodo

Seorang pemuja Vishnu bertapa dengan keras agar hidupnya bahagia. Selama ini hidupnya selalu mengalami pasang-surut, suka dan duka yang tidak berkesudahan dan dia sudah jenuh mengalami hal tersebut.

Lakshmi kasihan terhadap orang tersebut dan minta Vishnu menemuinya. Vishnu berkata bahwa orang tersebut belum memahami kehidupan, apa pun yang dimintanya hanyalah untuk kepentingan dunia yang memberikan kebahagiaan yang bersifat sementara.

Atas desakan Lakshmi, Vishnu pun akhirnya menemui orang tersebut. Vishnu berkata bahwa dia akan mengabulkan 3 permintaan orang tersebut dan setelah itu dia orang tersebut jangan minta apa pun kepadanya.

Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta, agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Ternyata setelah kawin dengan istrinya, kebiasaan mereka tidak sama sehingga merepotkan. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

Akan tetapi semua teman-teman dan keluarganya yang menghadiri perabuan istrinya, menyesalkannya. Sulit sekali mencari orang seperti dia, kalau dengan dia saja tidak cocok pasti dengan yang lainnyapun sama. Perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan istri. Maka sang pemuja Vishnu itu menjadi murung dan merenung seharian. Akhirnya dia permohonan kedua adalah agar istrinya dihidupkan kembali.

 

Tinggal sebuah pertanyaan lagi, dan dia mulai bertanya kepada semua teman-temannya permohonan apalagi permohonan yang perlu disampaikan kepada Vishnu. Ada yang menyarankan agar minta hidup selamanya, akan tetapi kembali dia berpikir, apa gunanya hidup terus kalau badan sakit-sakitan. Mohon harta kekayaan, akan tetapi kalau kalau dirinya dikucilkan tidak punya teman tidak ada artinya. Mohon kesehatan prima, tapi kalau hidupnya menderita juga tidak memuaskan.

Apa pun yang diminta tidak ada yang membuatnya suka selamanya, rasa suka yang abadi. Semuanya selalu dibayang-bayangi duka.

Bertahun-tahun sang pemuja Vishnu melakoni hidup tanpa menyampaikan permohonan yang dijanjikan oleh Vishnu. Sang istri dengan setia mendampinginya dalam mencari solusi agar hidup bahagia selamanya. Mereka telah dikaruniai seorang putra. Di samping melakoni hidup, mereka tetap menyisakan waktu untuk merenungkan apa yang dapat membuat mereka hidup bahagia tanpa dibayang-bayangi rasa duka.

Mereka mengalami pasang surut tapi ada satu saat mereka tidak mengeluh lagi karena paham hidup memang demikian, selalu ada pasang dan surut. Sampailah mereka berdua pada satu kesimpulan semestinya mereka bisa hidup ceria walau mengalami kejadian apapun.

Akhirnya sang pemuja Vishnu menghadap Vishnu dan menyampaikan permohonan terakhir: “Gusti Vishnu, apabila Gusti berkenan dan kami berdua layak mendapatkan, mohon Gusti sudi memberi kami keceriaan hati yang tidak terpengaruh pasang-surutnya dunia.

Lakshmi datang kepada Vishnu dan tersenyum penuh arti. Lakshmi berbisik kepada Vishnu, “dia telah berupaya sungguh-sunggh untuk memperoleh keceriaan dalam hidupnya.” Vishnu berkenan mengabulkan permohonan pemuja-Nya.

 

Senantiasa Ceria   

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.” Bhagavad Gita 18:54

Tidak berarti seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi itu meninggalkan pekerjaannya. Tidak. Ia masih tetap berkarya di tengah keramaian pasar dunia, namun terjadi perubahan nyata dalam sikapnya.

PERTAMAI IA MENJADI CERIA — Keceriaan bukanlah cengengesan. Keceriaan bukanlah rasa bahagia yang dibuat-buat. Keceriaan adalah hasil dari kesadaran tertinggi, di mana ia mulai mengapresiasi keindahan jagad-raya. Keceriaannya adalah keceriaan polos, tulus, lugu. Keceriaan seorang anak kecil yang sedang mengamati dan menikmati warna-warni dunia.

KEDUA: IA TIDAK LAGI BERDUKA – Ini erat kaitannya dengan keceriaan. Jika ia hanya berada dalam keadaan suka, maka ketika keadaan berubah, ia akan berduka.

Keadaan suka, sebab itu, tidaklah sama dengan keceriaan. Keceriaan melampaui suka dan duka. Suka dan duka tergantung pada keadaan di luar diri. Keceriaan adalah sikap hidup yang muncul dari kesadaran diri.

Brahman, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, memiliki tiga sifat utama, yaitu Sad atau Kebenaran Hakiki; Cit atau Kesadaran Murni; dan Ananda atau Kebahagiaan Sejati. Keceriaan bersumber dari ketiganya itu. Namun, secara spesifik, keceriaan adalah ungkapan dari Ananda. Jadi, berasal dari dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri.

KETIGA: IA TIDAK MENGEJAR SESUATU – Ia tetap berkarya, dan berkarya secara efisien. Ia tidak malas, namun, ia berkarya sebagai ungkapan keceriaan dirinya. Ia tidak berkarya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya.

Alangkah baiknya, jika para pemimpin, pengusaha, pendidik, pekerja, kita semua bersemangat dernikian! Sehingga tidak ada urusan sikut-menyikut, tidak ada perlombaan, tidak ada praduga dan prasangka. Semua orang berkarya sepenuh hati sesuai peran serta kapasitasnya. Inilah keadaan yang dapat menciptakan masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam arti kata sebenarnya, sesungguhnya.

 

KEEMPAT: BERSIKAP SAMA TERHADAP SEMUA – Berarti, tidak pilih kasih. Tidak pandang bulu; tidak tebang pilih. Ia tidak menganggap orang lain rendah karena kepercayaannya beda, rasnya lain, bahasanya beda, dan sebagainya dan seterusnya.

Bersikap sama tidak berarti kita tidak adil. Bersikap sama berarti kita bersikap adil dengan menggunakan tolok ukur dan timbangan yang sama buat semua.

Berarti, kita tidak hanya bersuara lantang ketika seorang pengusaha ditindak karena memperbudak buruhnya, dan membisu seribu bahasa ketika saudara kita sendiri memparbudak staf, atau menipu rekan bisnisnya.

 

DEMIKIAN, DENGAN DIBEKALI KEEMPAT SIFAT MULIA INI – ketika seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi masih tetap berkarya juga; maka, sesungguhnya ia pun sedang berdoa.

Tidak sama dengan “berdoa sambil bekerja”.

Keadaan ini menjadikan doa sebagai warna dasar setiap pekerjaan. Jadi, pekerjaan itu sendiri berubah menjadi doa.

Inilah semangat panembahan, semangat bhakti.

Bagi seseorang yang berkarya dengan semangat bhakti — tiada lagi dosa, tiada lagi keraguan, kekhawatiran, atau kegelisahan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia