Archive for cermin

Nafsu Keinginan Menutupi Kesucian Diri

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 22, 2018 by triwidodo

Kisah Pelukis dan Sri Krishna

Seorang Master berkisah tentang seorang pelukis berbakat yang ingin melukis wajah Sri Krishna. Pelukis tersebut datang ke Sri Krishna dan ingin melukis-Nya dan Sri Krishna menyetujuinya. Pelukis itu mohon Sri Krishna berkenan duduk selama 1 jam dengan posisi yang sama untuk mengambil sketsa garis besar wajahnya. Setelah selesai membuat sketsa, pelukis tersebut bersujud di kaki Sri Krishna dan berkata bahwa besok pagi dia akan menunjukkan hasil lukisannya.

Sepanjang malam, Sang Pelukis bekerja tanpa kenal lelah melukiskan wajah Sri Krishna secara akurat. Esoknya Sang Pelukis membungkus lukisannya dengan kain dan membawanya ke hadapan Sri Krishna. Akan tetapi saat kain pembungkus itu dibuka, terlihat bahwa dalam 24 jam wujud Sri Krishna telah mengalami perubahan. Krishna melihat hasil lukisannya dan mengatakan bahwa lukisan itu tidak mirip dengannya. Sang Pelukis malu dan mohon kesempatan lagi untuk minta Sri Krishna berkenan duduk selama 1 jam untuk mengambil sketsa-Nya. Kejadiaan itu telah berlangsung 10 hari akan tetapi hasil lukisannya masih saja belum sempurna, tidak mirip dengan Sri Krishna yang berada di hadapannya.

Sang Pelukis sangat malu dan segera meninggalkan kota. Adalah Rishi Narada yang kebetulan bertemu dengan Sang Pelukis dan bertanya mengapa Sang Pelukis nampak murung dan gundah gulana. Sang pelukis menyampaikan apa yang dialaminya. Rishi Narada berkata bahwa Sri Krishna adalah Master baik sebagai Aktor sekaligus Sutradara Utama. Seluruh drama di alam ini adalah ciptaan Dia. Dengan metode yang dipakai Sang Pelukis, dia tidak akan berhasil memperoleh lukisan yang mirip dengan Sri Krishna. Nafsu keinginan Sang Pelukis membuatnya gagal. Amarah akibat frustasi membuat Sang Pelukis ingin melarikan diri dari tugasnya. Sang Rishi berkata bahwa bila Sang Pelukis ingin sukses dalam pekerjaannya maka dia harus mengikuti nasehat Sang Rishi.

Sang Pelukis patuh dan dia kembali ke Dvaraka menemui Sri Krishna membawa hasil lukisan yang dibungkus kain. Sang Pelukis menyampaikan bahwa dia telah berhasil melukiskan Wajah Sri Krishna dengan akurat. Perubahan apa pun yang terjadi akan ditunjukkan oleh hasil lukisan tersebut.  Sang Pelukis kemudian membuka kain penutup dan mohon Sri Krishna berkenan menerima hasil lukisannya. Ketika kain penutupnya dibuka maka terlihatlah sebuah cermin yang bersih.

Di alam semesta fisik semuanya bersifat sementara. Semua bentuk terus menerus mengalami perubahan. Bentuk-bentuk sementara yang demikian tidak bisa memberikan gambaran yang tepat terhadap Tuhan yang permanen. Jika kita ingin memiliki gambaran Tuhan yang bersih dan tidak berubah, kita hanya dapat memperolehnya hanya dengan cermin yang bersih, hati kita yang murni. Menjadi Cermin yang Bersih berarti membersihkan nafsu keinginan, membersihkan ego, Tuhan akan nampak sesuai Kehendak-Nya, bukan seperti keinginan kita.

Cermin Diri yang Tertutup oleh Debu Keinginan dan Amarah

“Sebagaimana api tertutup oleh asap; cermin oleh debu; dan janin oleh kandungan – pun demikian Kesadaran Diri atau Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri sebagai jiwa, percikan Jiwa Agung, tertutup oleh nafsu keinginan dan amarah.” Bhagavad Gita 3:38

Penutup-penutup yang disebut oleh Krsna bukanlah penutup yang dapat menutupi untuk selamanya. Asal ada kemauan, ada sedikit upaya, penutup-penutup ini dapat dibuka. Kebenaran Sejati dapat terungkap ketika nafsu keinginan, dan amarah teratasi. Ketika tirai berlapis dua itu terangkat. Bagaimana mengangkat tirai berlapis dua itu? Krsna tidak hanya berfilsafat. Ia pun memberi solusi, menjelaskan caranya. Gita adalah panduan solusi.

 

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri tertutup oleh nafsu keinginan yang oleh para bijak disebut musuh manusia sejak dahulu kala; berhubung nafsu keinginan bagaikan kobaran api yang berkobar terus, tidak pernah puas.” Bhagavad Gita 3:39

Krsna menjelaskan akar persoalan. Apa yang menyebabkan nafsu keinginan, keserakahan, amarah? Ia juga membeberkan sifat dari nafsu itu sendiri.

Jadi bukan sekadar “Jangan Serakah!” Tidak sekadar larangan untuk tidak berkeinginan. Bukan sekadar sepucuk keputusan untuk tidak melakukan ini, atau tidak melakukan itu. Krsna menjelaskan “kenapa”, “bagaimana”, dan yang terpenting “apa” itu yang disebut keinginan berlebihan.

Jika kita sadar akan betapa berbahayanya asap rokok bagi paru-paru kita, maka dengan sendirinya kita akan melepaskan rokok. Tapi, jika hanya dilarang saja, maka bisa kita tidak merokok di depan orang yang melarang. Tapi, begitu orang itu tidak ada, kita merokok kembali.

Cara Krsna membebaskan kita dari nafsu adalah dengan memahami sifatnya, dan mencabut dari akarnya.

 

“Indra, gugusan pikiran serta perasaan (mind) dan buddhi atau intelegensia adalah lapisan-lapisan tempat hawa nafsu atau keinginan dan amarah bersarang,. Dengan menggunakan semuanya itu, ia menutupi Kebenaran Sejati, Hakikat Diri, sehingga membingungkan Jiwa yang bersemayam di dalam badan.” Bhagavad Gita 3:40

Terkecoh oleh indra, gugusan pikiran serta perasaan dan inteligensia yang berkabut karena tertutup oleh nafsu – Jiwa tidak mengenal dirinya. Ia menjadi bingung.

Inilah keadaan kita semua – kita lupa akan jati diri kita sebagai Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Kadang kita mengidentifikasikan diri dengan indra, kadang dengan gugusan pikiran serta perasaan. Dan, kadang dengan inteligensia.

 

“Sebab itu, Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), terlebih dahulu kendalikanlah indra-indramu. Kemudian, dengan sekuat tenaga, taklukkan hawa nafsu, yang merupakan penghalang utama bagi perolehan Pengetahuan Sejati Jnana dan Vijnana. Yaitu pengetahuan tentang Nirguna Brahman – Hyang Melampaui Wujud; dan tentang Saguna Brahman – Hyang Mewujud.” Bhagavad Gita 3:41. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Hati Kita Bagaikan Cermin yang Berdebu – Debu Ketamakan, Debu Keangkuhan, Debu Iri Hati

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Kata “suci” yang digunakan oleh Yesus sangat bermakna. la tidak menggunakan kata “baik”. la juga tidak menggunakan kata “jujur” atau lain sebagainya. Suci berarti melampaui segala kebaikan dan segala keburukan. Suci berarti melampaui segala macam dualitas. Kebenaran dan kesalahan, sorga dan neraka, semuanya dilampaui oleh kesucian. Suci berarti pandangan Anda menjadi begitu jernih, begitu jelas, sehingga di balik segala sesuatu Anda melihat Tangan Allah.

Selama kita masih memilah antara baik dan buruk, antara sorga dan neraka, selama itu pula kita belum suci. Ia yang suci hatinya tidak akan memilah. la yang suci hatinya melihat Allah di balik segala sesuatu.

Selama ini yang membuat kita tidak dapat menyadari kehadiran-Nya adalah ketidak-sucian hati kita. Hati kita bagaikan cermin yang berdebu-debu ketamakan, debu keangkuhan, debu iri hati. Bersihkan cermin hati Anda, dan Anda akan langsung melihat Allah – menyadari Kebenaran jati-diri Anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements