Archive for cinta

Krishna Kecil: Rindu Wujud Krishna atau Rindu Parabrahman? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 6, 2017 by triwidodo

Intensitas perasaan dan ingatan terhadap Tuhan

“Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan.”

“Para Sufi dan mistik para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini.”

“Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini.”

“Intensitas, suatu hal mendasar yang hilang dalam kehidupan kita kini. Kita tidak menjalani kehidupan secara intens. Kita menjalaninya biasa-biasa saja. Karena itulah kita kurang bahagia. Intensitas dan kebahagiaan berjalan beriringan.”  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Pada saat bulan purnama, Krsna meniup serulingnya. Suara seruling dari tepi sungai Yamuna itu sampai ke Brindavan, menyentuh telingan para Gopi yang juga sedang teringat pada Krishna. Semua gopi meninggalkan pekerjaannya menuju asal suara seruling. Ada yang sedang memerah susu sapi dan periuk isi susunya ditinggalkan. Ada yang sedang mendidihkan susu, dan apinya diperbesar, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan untuk berlari menuju Sungai Yamuna. Ada gopi yang meninggalkan pekerjaan menanak nasi, tidak peduli apa yang akan terjadi, semua ditinggalkannya. Ada wanita yang sdang menyuapi anak, dan anak tersebut ditinggalkan begitu saja.

Suami, anak, pekerjaan semua ditinggalkan demi pertemuan dengan Krishna.

Kesalahan-kesalahan mereka dibakar oleh cinta mereka terhadap Krishna. Mereka mencapai moksha dalamm kehidupan ini.

Parikshit bingung dan bertanya kepada Rishi Shuka, “Guru, mereka mencintai Krishna, tapi tidak sebagai Parabrahman, bukan sebagai Dia Hyang Maha Agung, mereka mencintai Krishna sebagai seorang kekasih. Mengapa mereka mencapai moksha? Apakah cinta semacam itu disebut bhakti?”

Rishi Shuka berkata, “Tidakkah Raja mendengar, mereka yang minum nectar, walau tercampur racun, pengaruh racun akan hilang dan mereka teta menerima manfaat nectar? Setiap saat yang dipikir oleh para gopi adalah Krishna. Bagi Gusti yang penting adalah intensitas dan perasaan. Justru sifat kejantanan bisa menjauhkan kita dari Gusti……

Bisakah kita selalu mengingat Gusti Pangeran dan  rindu pada-Nya seperti rindunya para gopi atau para sufi? Mabok cinta pada Gusti.

 

Mereka yang menjadi Mempelai Gusti

Yang anda sebut “logis”, rasional”, dan “realistis” adalah produk-produk mind. Dan mind sendiri tidak pernah berada di satu tempat. Kadang ada, kadang tidak ada. Itu sebabnya anda selalu ragu-ragu. Undangan untuk memasuki “Balai Pertemuan” pun anda sia-siakan. Anda sakit. Kejantanan, kepriaan, kelelakian – itulah penyakit anda. Sadarilah penyakit diri. Obatilah penyakit anda. Jadilah “wanita”, karena yang bisa masuk ke dalam Balai Pertemuan hanyalah para “Pengantin Wanita”.

Perhatikan senyuman mesra pada wajah Krishna dan kedamaian abadi pada wajah Siddhartha. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan. Lihatlah cahaya kasih yang terpancarkan lewat wajah Yesus. Perhatikan kepolosan hati Muhammad. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

 

Badan pun rindu dengan Gusti

Sesungguhnya, para Gopi menyadari kemahaadaan-Krishna. But, what about the body? Bagaimana dengan badan ini? Kita masih berbadan. Anda dan saya masih berbadan. Sementara roh telah mengalami persatuan dan kesatuan rohani, bagaimana dengan badan?

Badan merasa iri. Dia pun ingin merasakan kesatuan dan persatuan semacam ini. Apalagi “setelah” terjadi pertemuan rohani!

Itu sebab para bhakta, para pencinta Allah merindukan Allah. Sadar akan kemahahadiran-Nya, sadar akan kemahaadaan-Nya, sadar Dia ada di mana-mana — di dalam dan di luar diri — tetapi tetap rindu.

Sebelum terjadi pertemuan rohani kerinduan semacam ini tidak ada. Yang ada hanyalah “kehausan intelek untuk memahaml-Nya. Paling banter, tuntutan rasa untuk merasakan-Nya.

Intelek boleh berkata Tuhan ada di mana-mana. Rasa boleh merasakan kehadiran-Nya. Badan tetap saja haus. Bagaimana bertemu dengan-Nya?

Di balik wujud putra Vasudeva, para Gopi melihat “apa” yang dilihat Maria Magdalena di balik putra Yosep.

Adanya patung para nabi dan santo-santa dalam agama Katolik, para buddha dan bodhisatva dalam agama Buddha atau para avatar dan deva dalam agama Hindu, dimaksudkan untuk menghibur “kesadaran” badaniah dalam diri manusia. Demikian pandangan saya. Sekali lagi, anda tidak perlu menerimanya.

Sekarang kesadaran badaniah kita hanya melirik para Madonna dan Michael Jackson. Ratusan ribu bahkan jutaan orang akan menghadiri acara “Jumpa Fans”. Mati terhimpit pun rela, asal bisa dekat dengan bintang idola.

………..

Melirik dan berkiblat pada Madonna sama saja. Kesadaran badaniah kita masih melirik pada “badan”. Entah itu badan Madonna, atau pemimpin partai dan kelompok itu sendiri.

Sebaliknya kesadaran badaniah seorang Bhakta, seorang pencinta Tuhan, melirik Tuhan. Apa lagi yang bisa dilirikinya? Maka setiap sifat ilahi, diwujudkannya dalam bentuk patung. Dalam bentuk tulisan indah. Dalam bentuk syair pujian. Salahkah mereka?

Mereka bukanlah penyembah patung. Penilaian kita selama ini sangat bias, keliru, tanpa pemahaman betul tentang apa yang mereka yakini.

Keyakinan mereka pun berlandaskan kasih, sama seperti keyakinan kita, keyakinan Anda dan saya — Kasih Sejati, Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas…….. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)