Archive for devolusi

Gajendra: Perjuangan Berat Melawan Buaya Menuju Moksa #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on May 6, 2017 by triwidodo

 

Pergulatan Tak Berkesudahan antara Gajah dan Buaya

Umumnya, Tidak Ada Devolusi, yang ada hanyalah evolusi. Manusia tidak akan lahir kembali sebagai binatang. Tetapi, ya, ada saja pengecualian. Dalam keadaan tertentu, seseorang yang telah mencapai kesadaran cukup tinggi bisa memilih untuk lahir kembali sebagai binatang—hanya demi mempelajari suatu mata pelajaran tertentu.

Barangkali mata pelajaran tentang compassion, tentang bagaimana menyayangi sesama, bagaimana merendahkan diri dan tidak angkuh, dengan memilih wujud hewan. Sebab, sebagai hewan ia bisa belajar dalam waktu singkat. Ia tidak perlu menghabiskan waktu panjang. Sebagai hewan, cukup bila ia hidup 6—7 tahun, sebagai manusia bisa 70-80 tahun.

Sekali lagi, ini merupakan pengecualian. Justru terjadi, bisa terjadi pada orang-orang yang sudah berkesadaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kutipan tersebut di atas menjiwai kisah tentang gajah dan buaya berikut:

Seekor gajah memimpin kawanan gajah tinggal di Gunung Trikuta yang sangat indah. Para suci, para carana-pemusik surgawi, para gandharva-pemusik surgawi sering ke sana bertapa ataupun berwisata di danau yang luas di atas gunung.

Pada suatu ketika kawanan gajah tersebut setelah berjalan jauh, beristirahat, minum dan main air di tepi danau tersebut. Mereka sangat bergembira dan kurang waspada akan adanya bahaya yang mengintai diri mereka.

Tiba-tiba seekor buaya yang sangat besar menarik kaki pemimpin gajah dengan kuatnya. Kejadian tak terduga tersebut membuat sang gajah terkejut dan mencoba untuk melepaskan diri dari sang buaya. Teman-temannya berusaha membantunya tetapi gigitan sang buaya begitu kuatnya dan ekornya memukul siapa pun yang membantu, sehingga mereka tidak berhasil melepaskan kaki sang pemimpin. Akhirnya, tak ada seekor gajah pun yang dapat membantunya, termasuk istri dan anak-anaknya.

Pergumulan berlangsung sengit sampai beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan dan bahkan beberapa tahun. Bahkan para dewa hadir untuk melihat pertarungan antara sang raja gajah dan sang raja buaya. Pelan-pelan tetapi pasti kekuatan sang gajah mulai surut dan kekuatan sang buaya semakin perkasa. Sang gajah akhirnya menyadari bahwa pada suatu saat dia akan kalah dan hidupnya akan tamat, persoalannya hanya masalah waktu saja.

Sambil berjuang dengan gigih melawan gigitan sang buaya, dalam diri sang gajah timbul sebuah kesadaran, bahwa hidup dia di dunia hanya melakukan sebuah peran. Semua skenario adalah milik Gusti Pangeran. Tetap berjuang tetapi sadar untuk mengikuti kehendak-Nya. Selamat atau tidak dia pasrah kepada Gusti Pangeran Sang Sutradara Dunia.

 

Pasrah kepada Gusti Pangeran

SUMBER DAN SEBAB SEGALA-GALANYA – semuanya ada karena Dia. Ketika kita merasa sesuatu terjadi karena “diri” kita – maka saat itu adalah ego, gugusan pikiran dan perasaan yang bekerja. Kemudian, kita terlempar jauh dari Kesadaran Jiwa.

                Semuanya terjadi bukan karena aku, tetapi karena Jiwa. Berilah nama lain kepada Jiwa sehingga mudah memisahkannya dari aku-ego. Sebutlah Dia Tuhan – tidak salah. Karena, Jiwa yang bersemayam di dalam diri kita hanyalah percikan dari Sang Jiwa Agung. Katakan, semua itu terjadi karena Tuhan. Bukan karena Aku, bukan karena egoku, bukan karena pikiran atau perasaanku – tapi karena Dia. Dia, Dia, Dia, Tuhan, Sang Jiwa Agung! Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 15:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada. Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu. KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAKJivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa. LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung. TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada. Penjelasan Bhagavad Gita 15:16-17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sambil tetap berjuang keras mempertahankan hidupnya, sang gajah pasrah dan berdoa kepada Gusti Pangeran, dan akan menerima apa pun yang dikehendaki-Nya. Kalau memang dia harus mati, itupun tidak lepas dari pengawasan-Nya. Kalau dia akan selamat, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mencederainya. “Aku pasrah Gusti Narayana!”

Tiba-tiba datanglah Gusti Narayana naik Garuda dan masuk ke dalam danau membunuh buaya dengan senjata cakra serta menarik sang gajah keluar dari danau. Semua yang hadir melihat dari bangkai buaya muncul sosok gandharva. Ia bersujud di kaki Narayana dan memuji Dia dengan nyanyian Ilahi.

 

Para Suci bertindak sesuai Kehendak Gusti, egonya sudah terlampaui

“Ketahuilah bahwa ‘aku’ sudah mati. Sekarang, Yang ada hanyalah Dia. Yang bernapas lewat aku adalah Dia.” Nuh bagaikan singa dalam wujud rubah. Ketika dia meraung, suaranya terdengar jelas. “Janganlah ragu-ragu. Jangan menyangsikan kebenaran kata-kata yang kuucapkan, karena ucapanku berasal dari Dia yang berada di balik ‘kerudung badan’.”

Setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar, setiap buddha adalah singa berbadan rubah. Kita semua mendengarkan suara raungnya. Tetapi tertipu oleh apa yang terlihat dengan kasat mata, “Ah masa…. No, no, no, no—dia bukan singa. Dia hanyalah seekor rubah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan, gandharva Huhu sedang mandi bersama istrinya di danau tersebut dan bermain air sepuasnya, sampai melupakan segala sesuatu. Karena gembiranya, sang gandharva menarik kaki seorang rishi bernama Devala yang sedang bertapa di danau tersebut.

Sang resi mengutuk, “Karena kau menikmati permainan air, maka kau akan menjadi buaya dalam satu kehidupan. Kau akan lama berada di sini sampai datangnya kawanan gajah dipimpin raja gajah yang sangat besar. Kau harus menggigit kakinya dan jangan sampai terlepas. Pada saat gajah dan kau kecapaian ingatlah Gusti Pangeran. Berserahdirilah kepada-Nya. Biarkan apa yang terjadi sesuai Kehendak-Nya!”

Gandharva Huhu, sadar obsesinya untuk bersukaria dalam air membawa dia menjadi buaya, dan sampai suatu saat dia akan sadar bahwa kenikmatan itu sudah cukup dan dia harus melanjutkan kehidupan spiritualnya. Sang gandharva melakukan pradaksina, menghormati sang rishi dan menyanyikan lagu pujian bagi Gusti Narayana.

Rishi Suka melihat wajah Parikshit yang bingung mendengar kisahnya. Dan Rishi Suka melanjutkan kisahnya……..

Adalah sebuah negeri di Pandya yang dipimpin oleh seorang raja bijak bernama Indrayumna. Ia adalah seorang panembah Gusti, pemuja Narayana. Suatu saat ia sedang memuja Gusti di lereng gunung di Malaya. Dia mandi dan kemudian mengendalikan pikirannya dengan berdiri pada satu kaki dan pikirannya terfokus pada wujud Narayana. Sang raja larut dalam bermeditasi sehingga tidak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Rishi Agastya yang tinggal di gunung tersebut datang ke tempat tersebut dengan para muridnya. Melihat sang raja berdiri dan tidak menggunakan etika untuk menyambut seorang rishi yang datang, maka Rishi Agastya mengutuk, “Karena tindakanmu, kau akan dilahirkan lagi sebagai gajah.” Dan kemudian sang rishi pergi bersama murid-muridnya.

 

Dalam diri sang raja sama sekali tak ada rasa marah atas ketidakadilan ini. Sang raja paham kutukan tersebut adalah untuk membebaskan dia hutang perbuatan di masa lalu yang tidak dapat diingatnya lagi. Gusti Narayana yang dipujanya, bertindak melalui Rishi Agastya untuk memberikan jalan mencapai tujuan hidupnya…………….

 

Upayakan kesempurnaan hidup saat ini, walau belum berhasil, kau akan memetiknya nanti

Walau, dalam kehidupan ini kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga, belum menyatu dengan-Nya dan keburu “mati”, tiada yang perlu dikhawatirkan. Upaya kita sepanjang hidup tidak sia-sia. Demikianlah kehidupan Raja Indrayumna yang dapat dijelaskan sesuai penjelasan Bhagavad Gita berikut:

DALAM MASA KELAHIRAN BERIKUTNYA… Walau lahir dalam keluarga kaya, sejahtera, serba berkecukupan, atau bahkan berlimpah, walau masih sering terbawa oleh hawa nafsu, dan masih pula terkendali oleh indra — kita akan tetap berupaya untuk meraih kesempurnaan dalam Yoga.

Kita tidak bisa mengabaikan dorongan Jiwa, suara hati, untuk melanjutkan perjalanan rohani kita. Kiranya, keadaan ini yang dialami oleh seorang pangeran seperti Siddhartha. Maka, dengan adanya pemicu sedikit saja — dengan melihat kenyataan hidup berupa kelahiran, kematian, penyakit, usia tua, dan sebagainya — ia langsung mengingat kembali “tujuannya” dan meninggalkan istana untuk melanjutkan perjalanannya.

ARJUNA BERADA DALAM P0SISI YANG MIRIP, tapi tidak sama. Dalam diri Arjuna, potensi sebagai seorang kesatria masih tetap melengket. Tidak demikian dengan Siddharta. Sebab itu, Arjuna mesti berada di tengah keramaian dunia dan mengupayakan kesempurnaan dalam Yoga sambil tetap menjalankan profesinya. Penjelasan Bhagavad Gita 6:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sang raja menerima kelahiran sebagai gajah dan mengembara di Gunung Trikuta. Tetapi karena pikirannya terfokus pada Tuhan maka dia berbeda dengan gajah lainnya. Pada kondisi kritis, antara hidup dan mati, dia teringat lagi kelahiran sebelumnya dan ia berdoa kembali kepada Gusti layaknya seorang manusia bijak. Raja Indrayumna kini bebas dari kutukan dan juga telah memperoleh kebebasan dari perbudakan samsara. Gusti Narayana menjadikannya sebagai penjaga-Nya di samping Garuda.

 

Makna simbolis di balik kisah

Hikmah dari kisah Gajah yang bermain-main air di danau tertangkap oleh buaya adalah sebagai berikut:

Danau adalah simbol dari samsara. Manusia dengan pikiran seperti seekor gajah liar, memasuki danau samsara di hutan kehidupan. Pikiran selalu haus akan kesenangan indrawi. Dan, saat manusia melangkah ke dalam danau samsara, buaya maya menangkap dan memegangnya.

Manusia berjuang keras untuk membebaskan diri dari perbudakan tetapi hal tersebut merupakan pekerjaan purnawaktu selama hayat dikandung badan. Tidak ada keluarga dan kerabat yang dapat membantunya. Suatu saat usianya bertambah dan dia menjadi semakin lemah.

Kemudian dia sadar akan kelemahan dirinya dan dia berdoa kepada Gusti Pangeran untuk menyelamatkannya. Ketika manusia terjebak dalam belenggu samsara, dia perlu berdoa kepada Gusti dan berserah diri kepada-Ny. Hanya Gusti yang dapat membebaskannya dari perbudakan maya.

Advertisements