Archive for dharma

Sudahkah Kita Hidup Sesuai Potensi dan Kodrat Alami Diri?

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 8, 2019 by triwidodo

Kisah Raja Mendalami Dharma

Seorang Master berkisah tentang aktor yang sempurna yang sedang pergi menghadap raja dengan peran seorang Sanyasi. Raja menghormati dia sebagai bhikku besar dan berbagai pertanyaan raja tentang sadhana dan filsafat dijawab dengan memakai istilah-istilah yang tepat.

Raja sangat senang dan memerintahkan Menteri untuk membawa koin emas sebagai persembahan kepada Orang Suci. Sang Sanyasi menolak pemberian itu dan mengatakan bahwa semua kemelekatan dan keinginannya telah tiada.

Beberapa hari kemudian, aktor yang sama datang ke istana Sang Raja sebagai penari perempuan yang sangat luar biasa. Raja menghargainya dan minta Menteri memberikan sepiring koin emas.

Sang penari menerimanya, dan minta tambahan hadiah karena penampilan tari yang dipamerkannya.

Sang Raja curiga dengan suara Sang Penari yang mirip dengan suara Sanyasi beberapa hari sebelumnya. Akhirnya Sang Raja yakin bahwa Sang Penari adalah Sang Sanyasi yang datang beberapa hari sebelumnya.

Sang Raja bertanya mengapa dia minta hadiah lebih banyak sebagai penari akan tetapi menolak pemberian saat sebagai Sanyasi.

Sang aktor menjawab, “Beberapa hari yang lalu saya adalah seorang Sanyasi dan adalah dharma saya untuk menolak hadiah. Sedangkan hari ini saya sebagai penari dan adalah dharma saya memperoleh imbalan sebanyak mungkin dari penonton tarian saya.”

Sang Raja termenung memperoleh pencerahan, dia harus menjalani dharmanya sebagai seorang raja, dan minta penjelasan tentang dharma pada umumnya dan dharma seorang raja khususnya….

Sifat Bawaan Seseorang Diperoleh dari Kehidupannya di Masa Lalu

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

“Sebagai hasil (dari karma atau perbuatan baik, buruk, dan di antaranya) muncullah vasana, keinginan-keinginan atau obsesi-obsesi masa lalu, yang belum terpenuhi, mewujud sebagai kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan.” Yoga Sutra Patanjali IV.8

Perhatikan “sifat bawaan” seseorang, perhatikan sifat bawaan diri sendiri, maka kita bisa tahu seperti apakah kita pada masa lalu.

Seorang pemalas mewarisi kecenderungan dari masa lalu. Seorang yang agresif secara berlebihan pun demikian. Dan yang di antaranya, seseorang yang tidak malas juga tidak agresif, pada masa lalunya pun seperti itu.

Sumber: (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Setiap Orang Terdorong untuk Berkarya sesuai Kodrat Alaminya

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

“Tak seorang pun bisa hidup tanpa berbuat sesuatu. Setiap orang senantiasa terdorong  untuk berbuat berdasarkan sifat dan kodrat alaminya.” Bhagavad Gita 3:5

Badan manusia adalah bagian dari alam semesta, terbuat dari elemen-elemen alami. Lewat badan kita dan badan makhluk-makhluk  lainnya, alam benda hendak mengungkapkan keberadaannya. Maka, tiada kemungkinan bahwa badan yang  terbuat dari materi kebendaan ini bisa duduk diam, tanpa berbuat sesuatu. Kita semua, seolah tidak berdaya untuk senantiasa bekerja, bertindak, berbuat.

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

#AnandKrishna #UbudAshram

Berkarya Sesuai Potensi dan Kodrat Alaminya

Guruji Anand Krishna menyampaikan penjelasan ayat 3:5

“Tak seorang pun bisa hidup tanpa berbuat sesuatu. Setiap orang senantiasaterdorong  untuk berbuat berdasarkan sifat dan kodrat alaminya.” Bhagavad Gita 3:5

…………..

Kita akan selalu berbuat sesuai dengan potensi dan kodrat kita. Misalnya sorang yang berpotensi dan kodratnya pedagang masuk politik, apa yang dia lakukan? Politik pun akan didagangkan. Itu yang terjadi karena sesungguhnya ia seorang pedagang.

Seorang pedagang menjadi dokter, potensinya sebagai pedagang, cari uang melulu, pasien tidak dipikirkan. Banyak dokter di kota-kota besar tidak peduli pasien, hanya cari uang.

Hukum juga begitu, banyak orang yang jiwanya jiwa dagang, kebanyakan di antara kita, kebanyakan manusia banyak yang berjiwa dagang.

Krishna mengatakan kepada Arjuna, “Kamu seorang ksatria, kodratmu adalah melawan musuh, membela negara. Kalau kamu melarikan diri menjadi pendeta atau pertapa, itu bukan kodratmu, di sana pun kau akan memikirkan medan perang. Jadi pikirkanlah Arjuna kodratmu apa? Berkaryalah sesuai dengan kodratmu.”

Sumber: Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-hari percakapan 3 ayat 01-10 Temukan Potensi Diri dan Berkaryalah Sesuai Kodratmu oleh Bapak Anand Krishna

#AnandKrishna #UbudAshram

Swadharma

Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan membunuh. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu memutarkan roda ekonomi, bukan hanya mencari uang untuk diri sendiri. Dan, bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk menjalankan dharmanya sendiri, atau swadharma melaksanakan tugas kewajibannya seusai dengan kemampuannya.

Sumber: (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Dharma, Kemanusiaan Dalam Diri Manusia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 2, 2019 by triwidodo

Kisah Yudistira di awal Perang Bharayayudha

Seorang Master berkisah tentang saat dimulainya Perang Bharatayudha di Kurukshetra. Kedua pasukan lengkap dengan kavaleri, gajah dan infanteri sedang berhadap-hadapan. Terompet kerang ditiup bersahutan membuat suasana mencekam, cemas dan marah bercampur aduk dalam diri setiap prajurit, jantung berdebar lebih kencang dan senjata digenggam lebih kencang.

Dharmaja, atau Yudistira sulung Pandava melepaskan baju besi dan alas kakinya naik kereta menuju kereta Panglima musuh, Bhisma. Duryodhana, gembira mengira Yudistira akan menyerah dan perang tidak usah dilanjutkan.

Keempat saudara Dharmaja sangat terkejut, Arjuna marah melihat kepengecutan Dharmaja, demikian pula Nakula dan Sahadeva serta Bhima. Adalah Krishna sebagai sais kereta Arjuna yang berada di paling depan pasukan Pandava, mengajak ke 4 Pandava mengikuti Dharmaja. “Jangan ragu, selama ini kalian mengikuti langkah Dharmaja, Dharmaja adalah perwujudan dari Dharma. Dia paham bahwa Dharma akan melindungi para pelaku Dharma, apa pun konsekuensinya.”

Dharmaja bersujud di kaki Bhisma yang tangannya dilipat sambil menundukkan kepala, “Pitamaha, Kakek Yang Agung, kami tidak memiliki kesempatan memperoleh kasih sayang dari seorang ayah, Beliau meninggal terlalu cepat. Kakek membesarkan kami sejak bayi dengan penuh kasih, dan membuat kami menjadi seperti yang kami inginkan. Hari ini, kami tidak memiliki hak untuk berperang melawan kakek. Tapi takdir telah berkonspirasi membawa kami ke dalam pertempuran dengan kakek. Izinkan kami mengangkat senjata melawan kakek!”

Bhisma terpesona dan bangga dengan kerendahan hati Dharmaja. Matanya dipenuhi air mata haru. Bhisma memberikan berkah doa restu, “Dharmaja, kau telah terperangkap dalam Dharma dan berhasil melampaui godaan situasi yang kau hadapi untuk tetap menjalankan Dharma. Teladan muliamu telah kau sampaikan kepada dunia. Dharma yang kau ikuti akan memberi kau kemenangan!”

Selanjutnya, Dharmaja dan saudara-saudaranya bergerak ke arah Jenderal Drona. Para Pandava bersujud di kaki Drona, dan Dharmaja berkata, “Guru yang sangat kami hormati, kami berlima adalah murid-muridmu. Bagaimana kami dapat mengangkat senjata melawan Guru? Kami serba salah, maafkan kami atas kesalahan ini. Izinkan kami terlibat pertarungan dengan Guru.”

Drona tersentuh, dalam hati berpikir, betapa hebat dan baiknya Dharmaja, bahkan ketika anjing-anjng perang dilepaskan untuk menyebarkan kematian dan kemarahan, dia tetap berpegang pada Dharma. Dronabahagia mempunyai murid yang demikian, “Dharmaja! Bagiku kau lebih berharga daripada Asvathama, karena aku tertarik padanya sebagai kewajiban dan tanggungjawab, sedangkan aku tertarik kepadamu karena Cinta. Kalian adalah anak-anakku, aku mencintai kalian. Adalah hak kalian untuk memperoleh kekuatan dan kemenangan.

Ketaatan pada Dharma memastikan kemenangan para Pandava.

Berjuang menyampaikan dan menegakkan Kebenaran Kolektif adalah Dharma

Pandava dapat memaafkan tindakan para Kaurava yang berbuat jahat terhadap mereka. Akan tetapi tindakan para Kaurava itu merugikan manusia pada umumnya, menghancurkan kemanusiaan, merusak tatanan sosial masyarakat. Berjuang menegakkan kebenaran adalah sebuah tindakan dharma, walau harus melawan kakek dan guru mereka.

Guruji Anand Krishna dalam Video Youtube berbahasa Indonesia: Karma Individu & Karma Kolektif: Ketika Karma Menjadi Dharma disampaikan bahwa Karma Individu terhadap diri kita harus kita maafkan. Akan tetapi Karma Kolektif terhadap Bangsa kita harus kita selesaikan. Berjuang menyampaikan dan menegakkan Kebenaran Kolektif adalah Dharma.

Sumber:  Video Youtube, Karma Individu & Karma Kolektif, Ketika Karma Menjadi Dharma oleh Bapak Anand Krishna.

#AnandKrishna #UbudAshram

Dharma Berubah dari Waktu ke Waktu

Apakah Dharma yang dilakukan Dharmaja dapat dilakukan pada saat ini?

Guruji Anand Krishna menyampaikan sifat Dharma berubah dari waktu ke waktu:

Dharma seorang bayi lain, dharma orang dewasa lain. Kesalahpahaman terjadi, ketidakpuasan muncul, jika dalam ketidaksadaran kita berupaya untuk memberlakukan satu dharma bagi setiap orang untuk selama-lamanya. Karena tidak sadar akan sifat dharma yang harus berubah dari waktu ke waktu, karena belum memahami sifat hukum yang perlu penyempurnaan dan perbaikan dari masa ke masa, kita selalu bertindak tidak arif, kurang bijaksana.

Dharma atau hukum alam berlaku selama anda masih berada dalam alam. Dan dharma atau hukum alam memang bersifat sementara. Ada peraturan baru, dan peraturan lama pun ditinggalkan. Ada yang kurang baik, maka diperbaiki. Ada yang dikurangi, ada juga yang ditambah. Selama anda masih “terikat” dengan alam, mau tak mau anda harus tunduk pada hukumnya.

Sumber: (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

#AnandKrishna #UbudAshram

Dharma, Kemanusiaan dalam Diri Manusia

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Dharma atau kebajikan. Kebajikan adalah ketepatan bertindak. Kebajikan juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Meraih pendidikan yang baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan.

Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan membunuh. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu memutarkan roda ekonomi, bukan hanya mencari uang untuk diri sendiri. Dan, bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk menjalankan dharmanya sendiri, atau swadharma melaksanakan tugas kewajibannya seusai dengan kemampuannya.

Dan dharma atau hukum alam memang bersifat sementara. Ada peraturan baru, dan peraturan lama pun ditinggalkan. Ada yang kurang baik, maka diperbaiki. Ada yang dikurangi, ada juga yang ditambah. Selama anda masih “terikat” dengan alam, mau tak mau kita harus tunduk pada hukumnya.

Pengetahuan kita baru sebatas hukum sebab-akibat dan hukum evolusi. Kita belum tahu peraturan bagi “mereka” yang sudah melampauinya. Hukum diapers yang berlaku bagi para bayi yang masih suka ngompol, sudah tidak berlaku lagi bagi seorang anak yang 3-4 tahun usianya. Demikian pula dengan dharma. Dharma seorang bayi lain dengan dharma orang dewasa. Dharma “Para Suci” lain pula…….

Sumber: Buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Hidup Sesuai Kehendak-Nya, Belajar Pada Bharata

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 4, 2018 by triwidodo

Kisah Sandal Sri Rama

Dalam Buku The Hanuman Factor, Bapak Anand Krishna menyampaikan kisah tentang Bharata, salah seorang saudara Rama. Rama memiliki tiga orang saudara lelaki, yang lahir dari ayah yang sama namun dari ibu yang berbeda. Namun ketiganya sangat berbakti kepada Rama. Memang ada begitu banyak drama yang mengitari hubungan antara Rama dengan Bharat, tapi tentu saja ada lebih banyak drama lagi di sekitar hubungan Rama dengan Laksmana. Begitu baktinya Bharata, sehingga Rama menyamakan Hanuman dengan Bharata.

Nama Bharata itu punya arti penting. Dan, nilai-nilai luhur yang diwakili oleh Bharat juga penting. Secara watak, Hanuman lebih dekat kepada Bharat. Kepribadian mereka saling melengkapi. Sesungguhnya Rama tengah menyampaikan sebuah pernyataan penting bahwa: “Seorang panembah atau murid yang ideal mesti memiliki kualitas dari dua sosok ini.”

Ibunda Bharat, Kaikeyi, menginginkan Bharata untuk menggantikan Dasharata, sebagai raja Ayodhya. Ketika Bharata pergi, sang ibu membersihkan jalan bagi putranya menuju tahta dengan cara mengusir Rama, Sita istri Rama, dan Laksmana ke hutan. Kisah ini adalah kisah yang terkenal, saya pikir tidak perlu diulangi lagi di sini. Bagi mereka yang belum akrab dengan kisah yang satu ini, ada puluhan ribu sumber di internet tentang subjek ini. Dari ringkasan singkat sampai edisi terjemahan yang lengkap tentang kisah Ramayana tersedia secara on-line.

Namun Bharat menolak kerajaan tersebut. Ia sama sekali tidak tergoda. Ia merasa menyesal karena terlahir dari seorang wanita yang tidak memahami dharma atau kebenaran, “Aku malu menyebutmu ibu. Engkau sudah mengetahuinya dengan baik bahwa bukan aku, tetapi saudaraku, Rama, yang berhak atas tahta kerajaan. Ia bukan hanya saudara yang paling tua, tetapi juga yang paling mampu menjalankan tugas-tugas kenegaraan.”

Bharat adalah contoh hidup tentang dharma, tentang kebenaran. Ia adalah perwujudan dari moralitas, etika dan nilai-nilai luhur dalam hidup.

Sesungguhnya, namanya sesuai dengan sifatnya. Bharat berarti “ia yang menegakkan, melestarikan, dan/atau mempertahankan”. Bharat menegakkan dharma, kebenaran Dan melestarikan/mempertahankan semua nilai luhur yang terkait dengan kebenaran. Ia melakoni dharma, dan menghidupinya.

Namun, dari mana kekuatan semacam itu berasal? Bagaimana ia bisa mengalahkan godaan-godaan duniawi? Hal tersebut membawa kita kepada makna lain dari namanya: Bha dan Rat(i). Bha, sebagaimana di dalam kata bhaai, merupakan singkatan dari kata Bhagavaan, Tuhan, atau yang ilahi. Rat(i) adalah “ia yang mencintai”, atau “ia yang dicintai”. Mencintai berarti juga dicintai.

Bharat merupakan perwujudan dari “Cinta Kasih Tuhan”, kasih ilahi. Cinta ini merupakan perwujudan cinta yang paling tinggi, dalam bahasa Yunani agape, Latin “amore”, dan Sansekerta “bhakti”. Bharat Dan Bhakti memiliki makna yang serupa. Bhakti juga terdiri dari dua kata, yang dari kata tersebut kata bha juga sama artinya seperti dalam kata Bharat, dan aasakti yang berarti “keterikatan”. Bhakti artinya “keterikatan kepada Tuhan, atau pada yang ilahi”.

Terlahir dari Kaikeyi, ia yang tidak bijak, Bharat membuktikan diri bahwa dia mampu menjalankan kerajaanmu ketika engkau tidak ada. Bharat mewakili cinta dalam perwujudannya yang paling tinggi: cinta yang terarah pada Tuhan, cinta bagi Tuhan.

Jadilah pemerintah, pelayan lebih tepatnya, dengan cinta. Hiduplah di dalam cinta. Maka Anda tidak akan pernah tersesat dari jalan yang benar.

Terlahir dari Kaikeyi, ia yang tidak bijak, Bharat membuktikan diri bahwa dia mampu menjalankan kerajaanmu ketika engkau tidak ada. Bharat mewakili cinta dalam perwujudannya yang paling tinggi: cinta yang terarah pada Tuhan, cinta bagi Tuhan.

Jadilah pemerintah, pelayan lebih tepatnya, dengan cinta. Hiduplah di dalam cinta. Maka Anda tidak akan pernah tersesat dari jalan yang benar.

Sumber: (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bharata Selalu Mohon Berkah Sri Rama dalam Menjalankan Tugasnya

Bharata menemui Rama di pengasingan, mohon Rama kembali memimpin Kerajaan Ayodhya. Karena Rama berketetapan menjalankan dharmanya di dunia, dan meminta Bharata menjalankan roda pemerintahan, maka Bharata minta sandal yang dipakai Rama. Sandal itu diletakkan di singgasana, dan Bharata selalu memohon blessings Rama yang diwujudkan dengan sandal-Nya dalam menjalankan pemerintahan.

Para murid, selalu mohon berkah Sang Guru sebelum bertindak, meneladani Bharata, Bhakta Sri Rama.

 

Rama Adalah Kesadaran Bharata seperti Krsna Adalah Kesadaran Arjuna

Pikiran tidak bisa mengenal cinta, tidak bisa mengakses keilahian di dalam diri. Hanyalah kesadaran – pikiran yang sudah berubah sifat dan menjadi buddhi, buddhi citta – yang dapat mengenal cinta, mengenal Tuhan, bisa mencintai dan berbincang-bincang dengan Tuhan!

Perbincangan ini, dialog antara Krsna dan Arjuna ini, terjadi pada dua strata, dua level, dua alam. Di alam benda, Krsna adalah sais kereta perang dan Arjuna adalah seorang ksatria yang duduk di belakang sais.

Dalam alam batin, Krsna adalah kesadaran Arjuna sendiri yang sedang berdialog dengan pikirannya. Dialog ini merupakan dialog transformatif. Tidak ada yang kalah atau menang dalam dialog ini. Pikiran tidak terkalahkan oleh kesadaran. Pikiran, sepenuhnya berubah menjadi kesadaran.

Kesadaran bukanlah sesuatu di luar pikiran. Kesadaran adalah benih-benih yang belum bertunas.

Sementara itu, pikiran adalah alang-alang yang seolah mencegah penunasan benih-benih itu. Sulit memang menjalankan proses ini – bagaimana pikiran kemudian bertransformasi menjadi kesadaran. Namun, jika kita memperhatikan tanda-tanda-Nya, tanda-tanda kehadiran-Nya di alam sekitar kita, maka kita dapat memahami proses metamorfosa ini lewat pengalaman seekor kepompong yang menjijikkan, yang mengalami ‘transformasi total’, dan ‘menjadi’ kupu-kupu yang indah!

Kepompong tidak terkalahkan oleh kupu-kupu – ia ‘menjadi’ kupu-kupu. Demikian pula kematian bisa berubah menjadi keabadian, karena dalam kematian itu tersimpan benih keabadian. Dalam kepompong potensi untuk menjadi kupu-kupu.

Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dalam Bharata tersimpan benih Sri Rama, Gusti Pangeran yang bersemayam di mana-mana, di setiap makhluk.

 

Makna Menyerahkan Segala Kewajiban kepada-Nya

“Serahkan segala kewajibanmu pada-Ku (Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk), berlindunglah pada-Ku; dan akan Ku-bebaskan dirimu dari segala dosa-cela dan rasa takut yang muncul dari kekhawatiran akan perbuatan tercela. Jangan khawatir, janganlah bersusah-hati!” Bhagavad Gita 18:66

 

“Menyerahkan segala kewajiban” dalam pengertian “melepaskan segala dharma” …. .. Ayat ini sering membingungkan. Seorang berjiwa lemah yang melarikan diri dari tantangan hidup untuk menjadi petapa pun menggunakan ayat ini untuk membenarkan tindakannya.

 

“LEPASKAN SEGALA KEWAJIBANMU” – Alasan yang “terasa” kuat sekali bagi mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan-kenyataan hidup, dan melarikan diri untuk menyepi di tengah hutan.

Apakah itu maksud Krsna?

Sama sekali tidak. Krsna justru mengajak Arjuna untuk berperang, untuk menghadapi kenyataan hidup. Bukan untuk melarikan diri, dan menjadi petapa.

“Menyerahkan segala kewajiban pada-Ku” berarti “membiarkan Sang Aku Sejati untuk memegang kendali”. Berarti, menyerahkan ego yang membingungkan, melemahkan, dan menyesatkan. Berarti bertindak sesuai dengan tuntutan Jiwa yang hendak mengalami berbagai pengalaman hidup.

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya.

 

ADA KALANYA DHARMA MEMBINGUNGKAN. .. Apa kewajibanku, apa yang mesti kulakukan, tindakan mana yang tepat — sangat membingungkan. Ada dharma, ada adharma — ada tindakan yang tepat, ada yang tidak tepat.

Jika kita tetap saja menggunakan gugusan pikiran dan perasaan untuk memilah dan menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat — maka kita akan selalu was-was, cemas, khawatir, takut, bimbang, ragu. Sebab itu, serahkanlah ego kita, mind kita kepada-Nya — kepada Jiwa yang adalah percikan Jiwa Agung — dan biarlah Ia menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Biarlah Ia menerangi inteligensia kita dan memandu setiap gerak kita.

Hiduplah sesuai dengan kehendak-Nya. Jadilah selaras dengan kehendak-Nya. Demikian kita terbebaskan dari segala kekhawatiran!

Sumber: buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Gigih Mempertahankan Dharma

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on October 25, 2018 by triwidodo

Kisah Prahlada dan Dharma

Seorang Master berkisah tentang Raja Prahlada, bhakta Narayana yang sangat saleh. Sang Raja tidak pernah menolak permintaan seseorang, jika dia diminta bantuan atau hadiah.

Adalah Dewa Indra yang datang menguji Prahlada dengan menyamar sebagai seorang brahmana. Prahlada bertanya, “Apa yang kau butuhkan agar kau bahagia?”  Sang brahmana menjawab, “Saya ingin Paduka memberikan Sheela (karakter) Paduka.” Prahlada menjawab, “Jadilah. Aku memberikan Sheela aya kepadamu.”

Tidak lama setelah Sang Brahmana pergi, seorang pria tampan berjalan menjauhi istana. Prahlada bertanya, “Tuan siapa?” Sang Pemuda menjawab, “Saya Ketenaran, saya tidak bias tinggal Bersama Paduka sejak Sheela meninggalkan Paduka.” Prahlada mengizinkannya pergi.

Beberapa saat kemudian, pria menawan lain terlihat menjauhi istana. Prahlada bertanya, “Boleh tahu siapa Tuan?” Pria itu menjawab, “Saya Keberanian. Bagaimana saya bia Bersama Paduka tanpa Sheela dan Ketenaran?” Prahlada mengizinkan dia pergi.

Tak lama kemudian, tampak seorang wanita jelita meninggalkan istana dengan tergesa-gesa. Prahlada bertanya, “Ibu, boleh saya tahu siapakah Ibu?” Wanita itu menjawab, “Saya Rajyalaksmi, dewi ketua kerajaan. Saya tidak bias tinggal tanpa Sheela, Ketenaran, dan Keberanian.”

Kemudian tampak seorang wanita bercahaya bergerak meninggalkan istana sambal berlinang air mata. Prahlada menemui dan bertanya, “Ibu, siapakah ibu?” Wanita itu berkata, “Saya Dharma Devata (Kebenaran). Saya tidak memiliki tempat dimana tidak ada Sheela, Ketenaran, Keberanian. Bahkan Rajyalaksmi telah meninggalkan paduka.”

Prahlada bersujud di kaki wanita tersebut dan berkata, “Ibu, aya bias hidup tanpa Sheela, Ketenaran, Keberanian, dan Rajyalaksmi, tetapi aku tidak bias hidup tanpa Ibu. Bagaimana aya bias melepas ibu kemana-mana? Adalah tugas Raja melindungi Dharma. Dharma sendiri adalah daar dari seluruh dunia. Mohon Ibu sudi kiranya tetap Bersama saya. Jangan meninggalkan saya.”

Akhirnya Dharma Devata setuju untuk tinggal. Dan kemudian yang lain juga dating kembali, “Kami semua tidak bisa tinggal tanpa Dharma. Kami akan menemani Paduka.”

Prahlada menjunjung tinggi Dharma.

Bhagavad Gita adalah dialog Krsna dengan Arjuna untuk mengapresiasi Dharma

Krsna membutuhkan komitmen Arjuna terhadap Dharma atau Rightteousness – Kebajikan, Kadilan, Kebenaran. Ini merupakan komitmen yang luar biasa. Ini adalah sebuah komitmen di mana nyawa, raga, kepentingan pribadi –semua mesti dinomorduakan, dikesampingkan. Sebab itu, terjadilah dialog – sebuah dialog dimana Krsna mengajak, menuntun Arjuna untuk mengapresiasi Dharma, untuk mengetahui , dan menghayati Dharma, sehingga Arjuna akan berkomitmen sepenuh hati. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Bharatayudha adalah Perang antara Dharma dan Adharma

Perang Bhārata-Yudha Bukanlah antara Kubu yang Baik dan Kubu yang Jahat. Apakah Pāṇḍava sepenuhnya baik? Pikirkan kebaikan Yudhisthira, seorang raja yang kalah dalam judi, dan mempertaruhkan kerajaan, saudara, serta istrinya! Baik? Benar?

Jika mau mencari sebab utama Perang Bhārata-Yudha niscayalah kekonyolan Yudhisthira adalah sebabnya. Dialah penyebab perang.

Lalu, apakah di Kubu Kaurava semuanya adalah seserakah Duryodhana, selicik Paman Śakuni? Tidak juga. Banyak orang baik di kubu mereka. Dalam diri seorang Bhīṣma saja, hampir mustahil menemukan sifat yang bisa disebut jahat, kecuali ia tidak bersuara secara tegas ketika para Pāṇḍava ditipu oleh Kaurava bersaudara.

Jadi, Urusannya bukanlah Baik-Buruk. Benar-salah, dan sebagainya… Sebagaimana akan dijelaskan secara panjang lebar oleh Kṛṣṇa, urusannya adalah Dharma-Adharma. Apa arti Dharma, apa pula yang disebut Adharma – akan kita pelajari bersama dalam bab-bab berikut. Penjelasan Bhagavad Gita 2:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Antara Dharma dan Bukan Dharma

Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik, itulah Adharma”.

Bhishma terlebih dahulu menjelaskan apa yang “bukan dharma”, Disharmony, Disunity and Conflict. Ketiganya inilah sifat adharma. Ada apa siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecahbelah bangsa adalah adharma. Ia tidak mengetahui arti dharma.

Dan, “segala apa yang dapat mengakhirinya, adalah Dharma” lanjut Bhisma. Mengakhiri apa? Mengakhiri Ketakserasian, Perpecahan dan Konflik atau Ketegangan. Penjelasan Bhishma jelas sekali. Makanya tidak bisa diselewengkan. Tidak bisa diputarbalikkan.

Dharma, Walau dapat diterjemahkan sebagai syariat, tidak bisa dikaitkan dengan akidah salah satu agama. Ia tidak tergantung pada pemahaman para alim ulama yang lebih sering menyelewengkan makna ayat-ayat suci demi kepentingan diri, kelompok, dan tidak kurang dari itu.

“Dharma strengthens, develops unity and harmony”. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian demikian menurut Bhishma.

Unity. Persatuan, bukan kesatuan. Unity bukanlah keseragaman. Itu uniformity. Perbedaan sekitar kita, antara kita, dapat dipertemukan, dipersatukan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)

Bhisma: Sumpah Mengerikan, Kehidupan Masa Lalu, dan Pesan Terakhir Menjelang Ajal

Posted in Mahabharata with tags , , on September 8, 2013 by triwidodo

Santanu melihat Gangga membunuh bayinya sendiri sumber media radiosai org

Santanu memperhatikan Gangga membunuh bayinya sendiri sumber: media radiosai org

Sumpah Devavrata

Setelah Devavrata menginjak remaja, Prabu Santanu sering menyerahkan kerajaan kepadanya untuk berburu ke hutan menghilangkan kesedihan ditinggal Gangga. Dalam kesedihan itu dia bertemu dengan Satyavati dan jatuh cinta lagi. Permintaan Satyavati agar anaknya menjadi raja Hastina, menambah kepusingan sang raja. Walaupun Devavrata bersedia mengalah, akan tetapi anak keturunannya pasti tetap akan menuntut haknya, dan perang saudara pada Dinasti Kuru, sudah terbayang-bayang di benak sang raja.

Demi  kecintaan Devavrata terhadap negara Hastina, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari, Devavrata bersumpah tidak akan kawin dan tidak akan mewarisi tahta raja. Oleh karena sumpah yang dahsyat tersebut dia dikenal sebagai Bhisma, dia yang bersumpah sangat dahsyat. Pengorbanan Bhisma yang begitu besar bagi Persatuan Hastina, membuat dia menerima anugerah untuk menentukan kapan saatnya untuk meninggalkan jasadnya di dunia. Bhisma selalu berupaya menegakkan dharma atau kebajikan.

“Kebajikan adalah ketepatan bertindak. Kebajikan juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Meraih pendidikan yang baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan membunuh. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu memutarkan roda ekonomi, bukan hanya mencari uang untuk diri sendiri. Dan, bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk menjalankan dharmanya sendiri, atau swadharma melaksanakan tugas kewajibannya seusai dengan kemampuannya.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Melakukan Segala Tindakan demi Persatuan Negeri

Dua putra Satyavati dengan Santanu ternyata mengecewakan ibunya. Citragada mati muda, sedangkan Vichitravirya adalah seorang yang lemah dan diperkirakan akan kalah dalam sayembara memperoleh permaisuri putri seorang raja. Bhisma demi anak keturunan raja yang baik, bersedia ikut memperebutkan tiga putri Raja Kasi bagi Vichitravirya. Bhisma berhasil memboyong ketiga putri untuk diberikan kepada Putra Mahkota Vichitravirya. Akan tetapi berlainan dengan Ambika dan Ambalika yang bersedia dinikahi Vichitravirya, Amba menolak kawin dengan Vichitravirya, dia hanya mau kawin dengan pemenang sayembara yaitu Bhisma. Bhisma menolak dan menakut-nakuti Amba dengan anak panah, akan tetapi anak panah tersebut terlepas dan membunuh Amba.  Demi Persatuan Hastina dia membunuh seorang putri dan di akhir hayatnya nanti dia pun akan dipanah oleh seorang wanita.

 

Kehidupan Masa Lalu Bhisma

Ada seorang raja agung di bumi bernama Mahabhishaka. Sang raja pernah ke istana Indra untuk mendapat penghargaan. Kala itu Bidadari Gangga datang ke istana dan terpesona oleh ketampanan sang raja. Indra berkata, “Sesungguhnya kamu seorang penghuni kahyangan, akan tetapi kamu menyenangi wajah manusia. Oleh karena itu kamu harus lahir ke dunia dan menjadi pasangan raja ini dalam kelahiran berikutnya.” Dalam kegalauan hatinya, Gangga berjumpa dengan delapan Vasu, delapan dewa yang mewakili unsur-unsur alam. Mereka adalah Agni-api, Prithvi-bumi, Vayu-angin, Antariksha-atmosfir, Aditya-Surya, Dyaus-langit (kadang disebut Prabhasa-fajar), Chandra-Bulan, Nakstrani-bintang-bintang (kadang disebut Dhruva-bintang kutub). Mereka berkata bahwa mereka dikutuk Rsi Vasistha sehingga mereka harus lahir di bumi.

Para Vasu sedang menikmati perjalanan di hutan, kala istri Dyaus melihat seekor sapi yang sangat elok. Sang istri membujuk Dyaus suaminya untuk mencurinya. Ketujuh Vasu yang lain tidak mengingatkan dan membiarkan saja terjadinya pencurian tersebut. Akan tetapi, sapi tersebut ternyata milik Rsi Vasistha, dan sang rsi tahu bahwa para Vasu telah mencuri sapinya. Kedelapan Vasu kemudian dikutuk harus lahir ke dunia. Para Vasu kemudian memohon maaf dan Rsi Vasistha meringankan kutukannya. Tujuh dari Vasu akan bebas dari kelahiran di bumi dalam tahun kelahirannya, sedangkan Vasu Dyaus harus menerima hukuman penuh di bumi sampai meninggalnya.

 

Minta Tolong kepada Gangga

Para Vasu meminta tolong kepada Gangga, “Bunda Mandakini, mohon melakukan tindakan kebaikan kepada kami. Kami mohon dilahirkan sebagai putramu, tetapi kami takut memikirkan untuk hidup di dalam dunia. Oleh karena itu, buang kami ke Sungai Gangga, setelah Bunda melahirkan kami. Tindakan tersebut akan membuat kami memenuhi kutukan yang telah diberikan kepada kami.” Gangga menyetujui permintaan para Vasu.

Dyaus di bumi dikenal sebagai Devavrata, bhakti atau janji seorang dewa. Devavrata demi persatuan istana berjanji tidak akan kawin seumur hidup, sebuah janji yang mengerikan sehingga dia dikenal sebagai Bhisma. Silakan Baca: Pengorbanan Bhisma demi Persatuan Hastina di http://sosbud.kompasiana.com/2013/08/06/permaisuri-yang-ambisius-pemantik-kisah-perang-bharatayudha-582469.html

Dikisahkan, Raja Mahabhishaka lahir lagi sebagai Prabu Santanu, salah seorang raja generasi ke sembilan belas dari dinasti Bharata. Prabu Santanu kawin dengan Gangga dengan perjanjian bahwa sang raja tidak akan mempertanyakan apa yang dilakukan Gangga terhadap putra-putranya. Sebanyak tujuh putra lahir dari Gangga yang kemudian dilemparkan ke sungai. Pada waktu Gangga melahirkan anak kedelapan, Prabu Santanu tidak kuat menahan diri melihat kekejaman istrinya dan bertanya mengapa hal tersebut dilakukan. Gangga kemudian menyampaikan kisah para Vasu yang meminta tolong kepada dirinya agar mereka tidak usah berlama-lama hidup di dunia. Bayi kedelapan tidak dibuang ke sungai dan harus hidup di dunia dan diberi nama Devavrata. Kemudian, karena Prabu Santanu telah ingkar janji, maka Gangga kembali ke kahyangan meninggalkan sang raja beserta putranya.

 

Mempertahankan Negeri Hastina

Bhisma tetap setia melindungi Kerajaan Hastina. Apabila penguasanya bijaksana, Bhisma akan mendukung penuh, akan tetapi bila penguasanya lalim, Bhisma akan berusaha sekuat tenaga untuk mengingatkannya. Baginya yang penting negara Hastina aman sentosa dan sedapat mungkin berjalan di jalan yang benar. Dalam intrik-intrik perebutan kekuasaan, antara kelompok pro-Destarastra yang buta, ataupun kelompok pro-Pandu yang sakit-sakitan, Bhisma melindungi negara agar negara tetap utuh. Ketika kebijakan Hastina mulai dibelokkan oleh Patih Shakuni, Bhisma tidak mau mengundurkan diri. Apabila ditinggalkannya, negara Hastina akan semakin kacau. Kalau Bhisma mengundurkan diri karena kecewa terhadap Shakuni, keberadaannya tidak ada manfaatnya bagi Hastina. Usaha diplomasi Sri Krishna untuk menggagalkan perang Bharatayuda didukung Bhisma, tetapi hasilnya sia-sia juga. Bhisma juga paham bahwa tekadnya mempersatukan Hastina bagi dinasti Kuru adalah perbuatan mulia, tetapi Kehendak Hyang Widhi lah yang terjadi, bukan kehendaknya pribadi. Bagaimana pun dia tetap berjuang demi negeri Hastina yang akan berperang melawan Pandawa.

 

Menghembuskan Nafas Terakhir di Perang Bharatayudha

Bhisma harus menjalankan peran yang dianugerahkan Hyang Widhi untuk dirinya. Selama 8 hari sejak perang bharatayuda dimulai, Bhisma didaulat menjadi Senapati dan pasukan Pandawa tidak dapat membunuhnya. Di hari ke-9 Arjuna mengajak Srikandi naik di keretanya, dan Bhisma sadar Dewi Amba yang dulu terbunuh olehnya dalam usahanya mempersatukan Hastina telah menitis pada Srikandi untuk menyelesaikan tugasnya di dunia. Panah Srikandi mengenai dadanya dan kemudian ratusan anak panah Arjuna menancap pada tubuhnya. Kedua belah pihak sementara menghentikan perang dan menempatkan Bhisma, “Pitamaha”, Kakek Besar kedua belah pihak di tepi medan pertempuran berbantalkan anak-anak panah. Bhisma menunggu kematian di tempat tersebut hingga perang bharatayuda usai dan menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan jasadnya.

Setiap saat dia hanya mengingat Sri Krishna, fokus pada Sri Krishna. Kedatangan Sri Krishna bersama Pandawa membesarkan hatinya. Bhisma pasrah dengan keadaannya, menunggu saat yang amat mulia untuk meninggalkan jasad sambil terus memperhatikan Sri Krishna. Ketika posisi matahari dan bulan harmonis dan matahari mulai bergerak ke utara yaitu pada tanggal 14 Januari 3.000 SM Bhisma meninggalkan jasadnya dengan menyebut, “Om, Sri Krishna ya namaha.”

Sebelum kematiannya Bhisma sempat memberi nasehat kepada Yudisthira tentang dharma.

“Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik, itulah Adharma. Bhishma terlebih dahulu menjelaskan apa yang ‘bukan dharma’, Disharmony, Disunity and Conflict. Ketiganya inilah sifat adharma. Siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecahbelah bangsa adalah adharma. Ia tidak mengetahui arti dharma. Dan, segala apa yang dapat mengakhirinya, adalah Dharma. Dharma mengakhiri ketakserasian, perpecahan dan konflik atau ketegangan. Makanya tidak bisa diselewengkan. Tidak bisa diputarbalikkan. Dharma, Walau dapat diterjemahkan sebagai syariat, tidak bisa dikaitkan dengan akidah salah satu agama. Ia tidak tergantung pada pemahaman para alim ulama yang lebih sering menyelewengkan makna ayat-ayat suci demi kepentingan diri, kelompok, dan tidak kurang dari itu. ‘Dharma strengthens, develops unity and harmony’. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian demikian menurut Bhishma. Unity, persatuan, bukan kesatuan. Unity bukanlah keseragaman. Itu uniformity. Perbedaan sekitar kita, antara kita, dapat dipertemukan, dipersatukan.” (Krishna, Anand. (2006). Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013