Archive for doa

Berdoa demi Kebaikan Diri #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 25, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Guru Nanak selalu bepergian dan mengajar di mana-mana. Sang Guru ditemani kedua sahabatnya, Mardana, seorang Muslim dan Bala seorang Hindu. Orang bertanya-tanya apakah agama Guru Nanak?

Guru Nanak menjawab, “Jika saya mengatakan Hindu, saya akan membohongi kamu. Jika saya mengatakan Muslim, saya juga tidak jujur dengan kamu. Renungkan sahabatku, kawanku, bukankah badan kita ini terbuat dari darah, daging, tulang dan sumsum yang sama? Badan seorang Hindu dan seorang Muslim tidak berbeda. Roh yang menghidupkan badannya pun tidak berbeda, karena berasal dari satu Sumber Yang Sama, yaitu Tuhan, Allah. Saya hanyalah seorang pengabdi, seorang pelayan di Hadirat-Nya. Ia tidak membedakan antara Hindu dan Muslim. Yang Ia perhatikan adalah amal-saleh mereka. Bukankah demikian?”

Guru Nanak mengkritik mereka yang melaksanakan ibadah ritual secara mekanis, tanpa terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri mereka. Baik orang-orang Hindu, maupun orang-orang Islam—dua-duanya ia kritik. Dan kadang-kadang, kritikan beliau terasa pedas sekali. Ada yang menolaknya. Ada yang menghujatnya. Tetapi, ada juga yang menerimanya. Kelompok terakhir inilah yang memanfaatkan keberadaan seorang Nanak di tengah mereka. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Seorang Gubernur ingin bertemu dengan Guru Nanak, maka Guru Nanak dipanggil menghadap ke kantor Gubernur.

Setelah tanya jawab beberapa lama, Sang Gubernur tampak puas dan kemudian mengajak Guru Nanak berdoa bersama. Guru Nanak bersedia mengikuti doa yang dipimpin oleh Imam mereka.

Mereka mulai melakukan ritual, akan tetapi Guru Nanak tetap berdiri dan itu membuat Sang Gubernur marah, “Apa yang Anda lakukan? Anda sama sekali tidak berdoa!”

Guru Nanak berkata, “Saya berkata saya akan berdoa bersama Tuan, jika Tuan memimpin doa. Akan tetapi Tuan tidak memimpin doa.”

Guru Nanak menoleh kepada Imam, “Tuan sedang memikirkan anak kuda yang baru lahir dan takut anak kuda tersebut tercebur ke dalam sumur!”

Sang Imam mengakui apa yang dikatakan Guru Nanak benar adanya.

Guru Nanak kemudian berkata kepada Gubernur, “Tuan juga sedang memikirkan semua kuda yang akan tuan jual dan berapa banyak uang yang akan Tuan terima!”

Gubernur mengakui apa yang dikatakan Guru Nanak benar, mereka telah melakukan ritual dan seolah-olah sedang berdoa padahal yang dipikirkan berbeda, sedangkan Guru Nanak walau tidak melakukan gerakan ritual tapi berdoa dengan sepenuh hati………………..

Guru Nanak memberi nasehat, “Tuan harus menenangkan pikiran dan berdoa dari dalam hati bukan dari pikiran. Biarlah Cahaya Tuhan bersinar dalam hati Tuan.”

Doa yang masih membawa keinginan amarah dan keangkuhan

Menyadari kehadiran serta keterlibatan-Nya setiap saat tidak segampang berdoa sekian kali setiap hari atau setiap minggu, karena saat ini apa yang kita anggap berdoa hanya melibatkan fisik kita. Lapisan-lapisan kesadaran mental dan emosional pun sering tidak terlibat.

Itu sebabnya saat berdoa, kita masih bisa berpikir tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan ibadah kita.  Lalu bagaimana berserah diri sepenuhnya? Bagaimana berdoa dengan khusuk?

Dalam sutra ini, Narada menyebut tiga hal – keinginan, amarah dan keangkuhan. Saat berdoa pun ketiga-tiganya masih ada. Misalnya berdoa untuk memperoleh sesuatu. Entah sesuatu itu rumah di Simprug atau kapling di Surga, keinginan tetaplah keinginan. Kemudian, amarah. Bila ada keinginan yang tidak terpenuhi, doa pun bisa menjadi luapan amarah. Dan, keangkuhan… Saat berdoa, “aku” masih hadir. “Aku” berdoa. “Aku” rajin berdoa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Doa demi kebaikan diri sendiri bukan demi Tuhan

Tuhan tidak membutuhkan ibadah. Dia tidak perlu disembah dan didoakan. Yang membutuhkan ibadah adalah manusia. Yang harus berdoa dan menyembah adalah kita. Beribadah, karena itulah kebaikan “terbaik” yang dapat kita lakukan. Berdoa dan menyembah, karena memang tidak ada “kebaikan” lebih baik dari itu……. mari kita renungkan bersama… Layakkah kita bagi “pemunculan” kasih? Sadarkah kita bahwa selama ini kita hanya membantu diri sendiri? Melayani diri sendiri? Beramal saleh, berdoa dan berziarah pun demi kebaikan diri sendiri. Bukan demi Tuhan. Kesempatan untuk melayani dan membantu orang harus dianggap sebagai sarana untuk memperbaiki diri. Untuk meningkatkan kesadaran diri. Untuk melihat Wajah-Nya di mana-mana. Untuk merasakan Kasih-Nya di dalam diri mereka. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Doa mohon duniawi tidak mendekatkan diri pada Tuhan

(duniawi atau kebutuhan dari egonya lebih besar daripada kecintaan pada Tuhan)

“Di antara beribu-ribu orang, belum tentu seorang pun berupaya untuk mencapai kesempurnaan diri. dan, di antara mereka yang sedang berupaya, belum tentu seorang yang memahami kebenaran-Ku.” Bhagavad Gita 7:3

Kesempurnaan diri adalah kesempurnaan dalan Jnana dan Vijnana. Banyak di antara kita yang sudah merasa puas dengan apa yang kita baca dalam kitab-kitab tebal, seperti yang ada di tangan kita saat ini. Hanyalah segelintir saja yang berupaya untuk memperoleh pengalaman pribadi.

Dan di antara segelintir yang sedang berusaha demikian pun, belum tentu satu orang yang mencapai kesempurnaan, dalam pengertian memahami kebenaran-Nya – Kebenaran Jiwa Agung.

Pengamatan Krsna merupakan tantangan bagi siapa saja – Tantangan bagi setiap orang yang menganggap dirinya berketuhanan, berkeyakinan, berkepercayaan, dan sebagainya. Adakah kita memuja-muja Tuhan, menyembah Tuhan untuk mendekatkan diri dengan-Nya, atau justru untuk menjauhkan diri dari-Nya?

Setiap doa untuk hal-hal bersifat duniawi – untuk mendapatkan rezeki, pekerjaan, jodoh, anak dan sebagainya – tidak mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Semua itu adalah urusan kendaran badan bersama indra, pikiran segala.

Semua urusan itu adalah urusan teknis, urusan bengkel. Kita tidak perlu mengenal pemilik bengkel, apalagi pemilik pabrik mobil untuk memperbaiki kendaraan yang rusak. Cukup berurusan dengan teknisi. Bahkan tidak perlu mengenalnya juga. Titipkan mobil di bengkel, daftarkan segala keluhan kita, dan datang kembali sorenya untuk mengambil mobil.

Banyak hal lain yang menjadi inti doa kita ibarat keinginan untuk menghias dan mempercantik kendaraan. Tidak perlu ke bengkel, untuk itu cukup ke toko yang menjual variasi mobil.

Selama ini, kepercayaan kita sesungguhnya bukanlah untuk mengenal Tuhan, tetapi sekedar rutinitas pemeriksaan kendaraan, supaya tetap ‘fit’.

Krsna menyatakan, dan Ia tidak salah, bahwa di antara beribu-ribu orang yang ingin serta berupaya untuk mengenal-Nya, belum tentu seorang pun mencapai tujuannya, dan mengenal-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Arjuna dan Penarik Gerobak Bunga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 9, 2017 by triwidodo

Cara Berdoa Bhima dan Arjuna

Ada beberapa panembah yang suka pamer. Selama berjam-jam mereka bermeditasi, beberapa jam membaca mantra, mengulang-ulang Nama Gusti Pangeran. Mereka memandang rendah panembah yang tidak menghabiskan waktu bermeditasi dan membaca mantra seperti mereka. Arjuna adalah salah satunya. Demikian seorang Guru bercerita demi kebaikan para pendengarnya.

Adalah Bhima kakak Arjuna, yang paling perkasa dalam Pandava, tidak pernah berdoa untuk dewa manapun. Bhima hanya terbiasa makan dan terbiasa bertarung. Bhima adalah banyak makan sekaligus petarung yang handal.

Arjuna lain, dia selalu berdoa kepada banyak dewa, dia berupaya menyenangkan semua dewa. Arjuna selalu mengumpulkan ratusan bunga dan mempersembahkan kepada Shiva satu persatu sambil menyebut nama Shiva. Arjuna bisa menghabiskan waktu berjam-jam jam untuk melakukan hal tersebut. Dan, hal itu membanggakannya.

Apa yang dilakukan Bhima sangat sederhana. Dia menempelkan jari di keningnya dan fokus selama beberapa menit sebelum makan dan dilanjutkan makan banyak. Demikianlah meditasinya.

Sri Krishna mengetahui hal tersebut dan mengajak Arjuna pergi jalan-jalan dengan menyamar sebagai orang biasa. Saat mereka berjalan, mereka melihat seorang pria sedang menarik gerobak penuh dengan bunga.

Arjuna bertanya kepada pria tersebut, “Kamu sedang melakukan apa? Ke mana kamu akan pergi membawa bunga-bunga tersebut?”

Pria itu tetap fokus pada pekerjaannya, dan tidak mempedulikan pertanyaan Arjuna. Krishna mengajak Arjuna untuk mengikuti pria tersebut melakukan perjalanannnya. Ketika pria itu sampai di tempat tujuannya, Arjuna dan Krishna melihat banyak gerobak berisi bunga.

Arjuna kembali bertanya, “Apa yang Anda lalukan dengan ribuan bunga ini?”

Pria tersebut menjawab, “Saya tidak punya waktu untuk berbicara dengan Anda. Saya baru fokus. Saya hanya berbicara kepada satu orang di bumi, dan itulah Bhima, Pandava yang kedua. Dia adalah pencari spiritual terbesar. Saat dia bermeditasi sebelum makan saja, untuk satu atau dua menit, dan berkata dengan penuh penghayatan, “Wahai Gusti Shiva Hyang Maha Kuasa”. Ribuan bunga dipersembahkan kepada Shiva dengan cara tersebut. Coba perhatikan adiknya yang bernama Arjuna, dia hanya melempar bunga kepada Shiva.”

Pukulan telak kepada Arjuna oleh pria tersebut, yang tanpa sadar tengah berhadapan dengan Arjuna sendiri yang sedang dalam penyamaran. Arjuna lunglai dan mohon petunjuk kepada Sri Krishna, bagaimana melakukan persembahan yang baik.

Krishna berkata pada Arjuna, “Aku ingin menyampaikan bahwa bukan jumlah jam, bukan jumlah bunga tapi fokus dan dedikasi.”

 

Bukan Ritual Tapi Menghayati Dengan Pikiran Tak Bercabang Dan Fokus

“Di pihak lain, Partha (Putra Prthu – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) para mahatma – mereka yang berjiwa mulia – yang selalu menyadari kemuliaan dirinya dan mengenali-Ku sebagai Sumber semua makhluk, dan segala-galanya; Tak Termusnahkan, dan Kekal Abadi; senantiasa memuja-Ku dengan seluruh kesadarannya berpusat pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:13

Selama Jiwa Individu atau Jivatma tidak mengenal hakikat dirinya – ia beranggapan bila dirinya adalah badan, indra, pikiran, perasaan dan sebagainya. Kadang seseorang yang menyatakan, “Aku Jiwa, bukan badan”, dan sebagainya pun, masih tetap tidak menyadari hal itu. Ia baru berwacana saja.

Meditator adalah seorang yang menyadari hakikat dirinya. Ia telah menemukan kemuliaan dirinya. Ia melihat dirinya di mana-mana. Tat Tvam Asi – Itulah kau. Kau juga Aku. Aku juga Kau. Dalam kesadaran Jiwa, dan hanyalah dalam kesadaran Jiwa, kita baru bisa bersatu.

…………..

Seperti apakah sifat para Mahatma? Apa yang mereka lakukan? Adakah yang dapat kita contohi? Krsna memberi rumusan: “bhajanty ananya-manasa” – mereka, senantiasa, memuja-Ku, mengenang-Ku, menyadari kehadiran-Ku, menghayati hakikat-Ku – dengan pikiran yang tak bercabang, dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku.

Ini tidak sama dengan disiplin doa beberapa kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Yang dimaksud bukanlah memuja-Nya dengan ritual-ritual tertentu, gerak badan tertentu, sesajen tertentu, ataupun cara-cara, metode-metode tertentu. Bukan, bukan semua itu. Adalah pemujaan purnawaktu yang dibutuhkan. Hal ini, jelas tidak bisa dilakukan secara fisik. Fisik punya dharmanya sendiri, banyak hal yang mesti dilakukannya – dari gosok gigi hingga mencari rezeki. Fisik tidak bisa berdoa atau meditasi saja. Yang dimaksud adalah kesadaraan diri.

“Bhajanty” bukan sekadar bhajan – Dalam pengertian memuji-Nya dengan bernyanyi, bertepuk tangan dengan diiringi musik. Inilah definisi bhajan yang kita temukan di internet. Bukan. Itu merupakan ekspresi bhajan yang paling mudah, paling populer dan paling umum. “Bhajanty” adalah “senantiasa memuji-Nya, mengagungkan-Nya; senantiasa bersyukur atas segala berkah  dan anugerah-Nya; senantiasa menyadari kehadiran-Nya.”

Dan, “ananya manaso” berarti, “dengan pikiran yang tidak bercabang”. Nah, pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran. Pikiran kita saat ini bercabang. Dan selama berinteraksi dengan dunia, pikiran yang bercabang tetap dibutuhkan.

Bagaimana kita bisa memutuskan, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Sifat dualitas pikiran kita membantu. Ia memilah antara yang sekadar nikmat, menyenangkan – dari sesuatu yang mulia. Sifat dualitas dibutuhkan pula untuk merawat badan sehingga kita dapat memilih makanan yang bergizi baginya. Sifat dualitas pikiran manusia di balik segala macam konflik, sekaligus di balik segala macam kemajuan dan perkembangan, pertumbuhan. Sifat dualitas inilah yang membuat pikiran bercabang. Jadi, pikiran yang bercabang pun tetap dibutuhkan.

Sifat pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran yang dibutuhkan pada tingkat Jiwa. Nyamuk yang mengganggu, menyebarkan berbagai penyakit; pun demikian dengan kecoa dan serangga-serangga lain – bahkan virus yang menyerang tubuh kita – mesti dibasmi. Saat itu, pikiran yang bercabang berguna untuk menentukan sikap.

Namun, pada saat yang sama pikiran tidak bercabang atau kesadaran juga dibutuhkan untuk menyadari bila dalam Kesadaran Jiwa kita semua bersatu. Tidak perlu membenci nyamuk dan kecoa saat membasmi mereka. Ada juga orang yang bahagia betul setelah berhasil ‘membunuh’ nyamuk dan kecoa. Tidak, tidak perlu bahagia, dan tidak perlu sedih. Pun tidak perlu bimbang, ‘saya kan spiritual, masak membunuh nyamuk?’ Kebimbangan seperti itu muncul dari ego-spiritual, bukan dari Jiwa-spiritual.

Nyamuk-nyamuk yang mengganggu manusia serta kemanusiaan tidak melulu berwujud sebagai nyamuk. Bisa juga berwujud sebagai manusia, sebagai Kaurava, sebagai apa dan siapa saja. Mereka mesti dibasmi tanpa rasa benci. Sembari membasmi ‘nyamuk-nyamuk’ itu, berdoalah dalam hati, semoga dalam perjalanan selanjutnya, kau mendapatkan tuntunan yang dibutuhkan demi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Kau tidak lagi mengganggu sesama makhluk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Doa Rumi Bukan untuk Mempertahankan Keadaan Saat Ini #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on April 13, 2017 by triwidodo

 

Meminjam mulut para tokohnya, Rumi pun sering berdoa. Khususnya di dalam Buku Kelima ini.

 

Ya Allah, Ya Rabb,

tanah segumpal Kau ubah menjadi emas….

Gumpalan lain kau jadikan Adam.

Ya Allah, Ya Rabb,

dengan Kemampuan-Mu itu,

ubah pula kelalaian diriku

menjadi kesadaran selalu.

 

Rumi berdoa untuk perubahan, karena dia sadar bahwa perubahan adalah Hukum Alam. Rumi juga menyadari Dia sebagai “Yang Maha Mengubah”, sehingga doa seorang Rumi akan selalu selaras dengan “Kehendak Ilahi”.

Seorang Rumi tidak akan berdoa untuk “mempertahankan” suatu keadaan. Dia tahu bahwa doa semacam itu tidak selaras dengan Kehendak-Nya. Walau terkabulkan, doa untuk mempertahankan sesuatu hanyalah membuktikan kurangnya kepasrahan kita.

Segala sesuatu di dalam alam ini sedang berubah. Dan tidak sekadar berubah, tetapi berubah untuk menjadi “lebih” baik. Lalu untuk apa mempertahankan “yang lama”?

Rumi mengajak kita untuk melakukan perenungan:

 

Badanmu yang terbuat dari gumpalan tanah, api, dan angin membuktikan hal itu. Apabila engkau masih berupa tanah atau api atau angin, maka badan pun tak akan ada. Kemudian, dapatkah engkau mencapai tingkat kesadaran yang telah kau capai saat ini?

Tingkat kesadaran ini pun harus kau lewati, dan masih ratusan ribu tingkatan lain yang harus kau lalui. Setiap tingkat, setiap keadaan melebihi tingkat dan keadaan sebelumnya.

Sejak awal keberadaanmu, sudah ratusan ribu kali engkau mengalami perubahan. Sudah berulang kali engkau mengalami kebangkitan kembali.

Perhatikan jejak kaki mereka yang sedang menuju Lautan Luas, hingga suatu saat yang ada hanyalah Lautan Luas, jejak kaki tak terlihat lagi.

 

Adakah orang yang “berubah”, “berjaIan”, tetapi tidak menuju Laut dan justru menjauhi Laut? Menurut Rumi ada; hal itu bisa terjadi.

Rumi mengutip Sang Nabi:

 

Kasiihanilah ketiga (kelompok orang) itu: Petinggi yang direndahkan, orang kaya yang menjadi miskin, dan orang sadar yang harus tinggal bersama mereka yang tidak sadar.”

 

Kesadaran bisa merosot: Tinggi bisa menjadi rendah. Kaya bisa menjadi miskin. Tetapi, yang paling berbahaya adalah ketika seorang sadar harus tinggal bersama mereka yang tidak sadar.

Yang ketiga ini mengandung risiko paling tinggi, karena dalam dua kasus sebelumnya, seseorang mengalami kemerosotan kesadaran. Dari tinggi menjadi rendah. Dari kaya menjadi miskin. Kadang-kadang kemerosotan itu bahkan tidak disadarinya. Tetapi, dalam kasus ketiga, seseorang masih sadar sepenuhnya. Dan dalam keadaan sadar pula dia harus tinggal bersama mereka yang tidak sadar. Dia harus hidup “dalam lumpur” tetapi “tidak berlumpur”, bagaikan bunga teratai. Sungguh sulit. Hanya para pemberani yang bisa. Dan dalam peradaban manusia, para pemberani seperti itulah yang disebut Nabi, Avatar, Mesias, Buddha, Wali, Pir; Murshid, Guru, dan Master.

Mereka harus turun ke dalam lumpur untuk mengangkat kita dari lumpur. Mereka tidak pernah mencari pengikut. Karena itu, mereka patut diikuti. Mereka tidak pernah mengejar ketenaran dan kekuasaan. Sebab itu, ketenaran dan kekuasaan mengejar mereka.

Dengan kesadaran penuh, mereka “menunda” perjalanan menuju laut, hanya untuk mengangkat kita dari lumpur. Jangan ragu-ragu. jangan bimbang. Jangan berpraduga dan berprasangka. Dia tidak mengharapkan apa-apa dari anda. Dia datang untuk memberi, bukan untuk mengambil dan menerima.

Biarkan dirimu diangkat olehnya. Setelah dikeluarkan dari lumpur, janganlah engkau menengok ke belakang lagi, ke bawah lagi. Jalanlah bersama dia. Dia tak akan lama bersamamu.

Dengarkan, apa kata Rumi tentang seorang Nabi, Avatar, Mesias, Buddha, Wali, Pir, Murshid, Guru dan Master:

 

Seperti seekor rusa yang dikandangkan bersama keledai dan kerbau. Pemakan rumput hijau dikandangkan bersama pemakan jerami, pemakan gabah. Jelas, si rusa sengsara.

 

Tetapi dia tetap bertahan di dalam kandang itu. Tetap bertahan karena Sang Majikan yang menempatkannya di situ.

 

Tidak terbiasa makan jerami dan gabah, si rusa harus berpuasa. Dan kawanan keledai pun mengejeknya: “Dia akan dikirimi makanan dari istana raja.”

“Rumput hijau yang segar—itulah makanan saya,” kata Rusa.

“Sombong banget kamu. Sepertinya kamu ini lain sendiri,” seekor keledai menanggapinya.

“Memang lain. Aroma musk yang keluar dari pusarku menjadi saksi. Walau demikian, aroma itu pun tak akan tercium oleh hidung yang sudah terbiasa mencium bau najis.”

 

Demikian adanya. Mereka yang sudah terbiasa hidup dalam kegelapan tidak tahan melihat cahaya. Walau sebelumnya mendambakan cahaya.

Seperti bangsa kita saja: Selama bertahun-tahun kita hidup dalam keseragaman. Kita mendambakan reformasi dan demokrasi. Sekarang ketika angin reformasi itu sudah mulai terasa, bola demokrasi sudah mulai bergulir, kita malah mundur beberapa langkah. Kembali kita menginginkan keseragaman.

Kita belum siap menerima ide baru, gagasan baru. Kita tidak siap dikritik. Seorang pemimpin redaksi salah satu koran nasional mengatakan kepada saya: “Pendapat anda bahwa semua agama itu jalan menuju Tuhan tidak dapat diterima oleh masyarakat ‘a’.”

Saya bertanya kernbali, “Masyarakat ‘a’ mana yang anda maksudkan?”

Tulisan-tulisan saya sudah mulai dibaca sejak tahun 1997. Ide dan gagasan saya sudah dikenal oleh ribuan orang sejak tahun 1991. Bahkan mungkin sejak jauh sebelum itu. Yang tidak bisa menerima hanyalah sebagian masyarakat “a”—bukan seluruh. Lalu apabila “pendapat sebagian masyarakat” itu harus dijadikan alasan untuk “membunuh” kreativitas seseorang, untuk “menzalimi” seseorang, untuk “menolak” beda pendapat – adilkah anda?

Apabila kita tidak secepatnya mengubah sikap, tidak meningkatkan kesadaran diri dan tidak menerima semua agama sebagai jalan yang “valid” untuk menuju Tuhan Yang Satu Ada-Nya, maka disintegrasi negara dan bangsa pun tinggal tunggu waktu!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Air bagi Badan, Doa bagi Jiwa untuk Pembersihan Diri #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on April 5, 2017 by triwidodo

Keyakinan seseorang terbukti oleh doa, puasa, perjalanan serta perang suci yang dilakukaannya. Dan sifat dan pola pikir seseorang terbukti oleh amal jariah yang dilakukannya, oleh rasa iri yang telah dilampauinya.

 

Ada juga yang beramal saleh, karena terdorong oleh rasa iri. “Si Fulan menyumbang satu juta, aku harus menyumbang lebih dari dia.” Kemudian kita membanjiri “satu tempat” dengan pemberian yang “tidak pada tempatnya.”

 

Pemberianmu kepada orang lain, menjadi saksi akan kemurah-hatianmu: “Seorang Pemberi tak akan pernah merampas hak orang.”

Puasamu menjadi saksi akan pengendalian dirimu: “Makanan yang halal saja dapat dia hindari, apalagi hal-hal yang diharamkan.”

Ya, mereka akan menjadi saksi—asal engkau tidak melakukan semua itu demi kepentingan diri, tidak untuk pamer.

Bagaimana dengan merelea yang berpuasa, beramal saleh, tetapi masih senang pamer? Rumi mengatakan:

 

Dengan guyuran berkah-Nya, Tuhan akan membersihkan jiwa mereka!

 

Maha Suci Allah, Maha Besar Allah, sedemikian besar-Nya Kasih-Mu, sehingga tak akan tersisa satu pun jiwa yang tidak terselamatkan.

Rumi mengajak kita untuk merenungkan Kesucian dan Kebesaran Allah:

 

Setelah membersihkan badan manusia, air menjadi kotor. Kemudian, air yang kotor itu dipertemukan dengan laut, dan dia bersih kembali. Beberapa lama kemudian air yang sama digunakan kembali untuk membersihkan badan.

Bertanyalah kepada air itu: “Di manakah engkau selama ini?”

“Aku berada di laut yang jernih dan bersih. Tadinya aku kotor, dan laut itu membersihkan diriku. Sekarang aku memiliki sifat sama seperti laut. Kotoranmu dapat kubersihkan. Nanti apabila aku kotor kembali, aku akan cepat-cepat kembali ke laut. Kembali ke ‘pusat pembersihan’ itu. Di sana akan kutanggalkan bajuku yang lama, yang kotor. Dan memperoleh baju baru yang bersih.”

 

Proses ini berjalan terus, tidak pernah berhenti. Sekotor-kotornya baju kita, sudah pasti dibersihkan kembali. Demikian besarnya Kasih-Mu—Ya Allah, Ya Rabb……

Rumi juga melihat perumpamaan ini dari sisi lain:

 

Jiwa para suci, para wali, bagaikan air yang membersihkan kotoran diri manusia. Setiap kali tercemar sedikit, mereka akan kembali ke Pusat, berpaling kepada Allah, dan berdoa untuk “pemulihan kembali”.

 

Air bagi badan, Doa bagi jiwa. Dua-duanya membersihkan. Yang satu membersihkan badan, yang lain membersihkan jiwa. Pertanyaannya: selama ini kita berdoa untuk apa? Untuk membersihkan jiwa atau untuk kepentingan-kepentingan lain? Setiap orang harus jujur dengan dirinya sendiri dan menjawab sendiri pertanyaan ini. Anda berdoa untuk “memulihkan kesehatan jiwa” ata sekadar untuk “kenikmatan indra”? Entah, kenikmatan indera itu ber-label “jodoh”, “keturunan”, “rezeki”, “pangkat” atau apa saja.

Banyak cara dan metode untuk memulihkan kembali kesehatan jiwa, tetapi intinya satu dan sama: “doa”. Dan doa berarti “kepasrahan”. Doa berarti “melepaskan pikiran”. Doa berarti “melampaui keakuan”. Berdoa berarti “berserah diri”.

Doa bukanlah sekadar gerakan badan, tetapi gerakan jiwa. Dengarkan Rumi:

 

Ketika badan sedang melakukan gerakan-gerakan itu, jiwa melayang untuk melakukan perjalanan rohani. Itu sebabnya, kembali dari sana dia mengucapkan “Salam”.

(Ritus-ritus) ini bagaikan air. Ya, air hangat untuk menyegarkan badanmu yang kegerahan.

 

Asal kita tidak lupa tujua! Penyegaran badan, pembersihan jiwa—itulah tujuan ritus-ritus keagamaan. Bila hal itu tidak terjadi, ritus-ritus tersebut akan kehilangan maknanya. Ritus-ritus keagamaan adalah sarana untuk untuk mencapai tujuan akhir tersebut.

 

“Kesehatan” berasal dari Tuhan, tetapi untuk menikmatinya, engkau butuh makan. Begitu pula, “Keindahan” berasal dari Tuhan, tetapi untuk menghargainya, engkau harus melihat “sesuatu” yang indah.

Sampai pada suatu ketika engkau bisa melihat Cahaya yang ada di dalam dirimu sendiri; tanpa tirai penutup, sebagaimana Musa pernah melihat-Nya.

Sesungguhnya air kotor yang menjadi bersih itu menjadi saksi akan Kemurahan Tuhan bahwasanya dia telah diberkahi oleh Allah.

 

Menjadi saksi bagi nabi bukanlah demi kepentingan nabi. Kenabiannya tidak tergantung pada kesaksian kita. Kenabiannya disaksikan oleh alam semesta. Kenabiannya adalah bukti nyata akan Kebesaran Allah.

Menjadi saksi bagi nabi berarti menjadi saksi bagi “diri sendiri”: ”Adakah sifat-sifat Rasul Allah di dalam diriku?” Bila ya, hendaknya kita mengembangkan terus sifat-sifat itu. Bila tidak, sudah saatnya kita memperbaiki diri.

Jangan lupa, kata Rumi:

 

Ucapanmu, tindakanmu, menjadi saksi bagi sifat dasarmu. Sebagaimana penyakit dalam seseorang dapat diketahui dengan memeriksa air-seninya, begitu pula sifat dasar seseorang dapat diketahui dari ucapan serta tindakannya.

 

Cepat-cepat, Rumi juga mengingatkan kita:

 

Tetapi para “Tabib Rohani”, para “Wali”, para “Murshid” tidak membutuhkan kesaksian apa pun untuk mengetahui isi hatimu. Mereka bisa menembus jiwamu. Dan dengan sangat mudah bisa tahu segala sesuatu tentang dirimu.

Mereka bagaikan “Pelita Berjalan”. Setiap jalan yang mereka lewati menjadi terang. Mereka tidak membutuhkan kesaksian orang. Keberadaam mereka justru menjadi saksi nyata akan Keberadaan dan Kebesaran Tuhan.

Jangan pula engkau meminta kesaksiannya. Sebenarnya, kesaksian itu apa sih? Mengungkapkan apa yang belum terungkapkan—itulah kesaksian. Mengungkapkan Kebenaran Sejati, Kebenaran Rohani di dalam diri manusia—itulah kesaksian.

 

Ucapan dan tindakan kita bisa berubah, tetapi Kebenaran Sejati yang sudah terungkapkan oleh para murshid tak akan pernah berubah.

Rumi juga mengingatkan kembali bahwa ritus-ritus keagamaan dilakukan untuk pembersihan jiwa; untuk mengungkapkan Kebenaran Sejati yang selama ini “terpendam” di dalam diri kita—yang mungkin masih berupa benih, belum berbuah, belum berkembang.

Ritus-ritus tersebut akan kehilangan makna, apabila dilakukan hanya karena “kewajiban”, atau karena takut “hukuman”.

Bahasa Masnawi sungguh keras dan tegas. Saya harus menyadur penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh Rumi. Hal-hal yang bersifat spesifik dan merupakan kritiknya terhadap “tradisi tertentu” harus saya ubah menjadi kritik umum.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Berbuatlah Baik pada Semua Orang, Agar Ada yang Mendoakanmu! #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on March 20, 2017 by triwidodo

Beberapa orang menghadap Nabi Muhammad dan menyampaikan keluhan mereka tentang Bilal, ”Dia tidak pantas menjadi mu’adzdzin. Ucapan dia banyak yang salah. Wahai Rasul Allah, carilah orang yang tepat.”

Sang Nabi balik menegur mereka, “Jangan sampai aku membuka rahasia kalian. Ucapan dia yang salah lebih baik daripada kata-kata yang kalian ucapkan.”

 

Yang penting adalah ketulusan hati dan kesungguhan jiwa. Tanpa itu, doa bukan doa lagi. Rumi mengatakan sesuatu yang sangat indah:

 

Bilamana nafasmu masih bau, datangilah mereka yang bernafas wangi. Mohonlah bantuan mereka, agar mereka bisa rnendoakan kamu. Allah pernah mengatakan kepada Musa, “Untuk mendapatkan perlindungan dari Aku, berdoalah dengan mulut yang tidak pernah berbuat salah.”

Musa sangat jujur, “Tuhan, aku tidak memiliki mulut seperti itu.”

“Kalau begitu, gunakan mulut orang lain. Berbuatlah baik terhadap setiap orang. Sehingga mereka bisa mendoakan kamu,” demikian Allah berfirman.

 

Ini yang saya sebut “applied spirituality”. Tanpa memandang bulu, tanpa pilih kasih, berbuatlah baik terhadap setiap orang. Sehingga mereka bisa mendoakan kamu. Atau bersihkan mulutmu dari kebohongan, ketidakjujuran dan kepalsuan, baru berdoa. Tampaknya Musa diberi pilihan. Kalau mau berdoa sendiri, mulutnya harus bersih. Atau berbuat baik terhadap orang lain, sehingga merekalah yang memanjatkan doa untuknya.

Sesungguhnya, tidak ada pilihan bagi Musa. Untuk berdoa sendiri, terlebih dahulu dia harus membersihkan dirinya. Dan orang yang dirinya bersih, akan selalu berbuat baik. Dia tidak bisa berbuat jahat. Maka hilangkanlah kehendak berbuat jahat dengan kehendak berbuat baik.

Di lain pihak, orang yang selalu berbuat baik, dengan sendirinya akan mengalami perubahan-diri, perbaikan-diri. Mungkin agak lama, perjalanannya agak panjang, tetapi kebaikan yang dia buat itu akan memper-“baik”-i dirinya.

Kita tidak punya pilihan. Doa yang Dia terima, haruslah berasal dari kebaikan. Entah kebaikan diri atau kebaikan yang kita lakukan terhadap diri orang lain.

Rumi memberikan contoh lain:

Tengah malam, ketika seorang pencinta Allah sedang mengulangi Nama Allah, Iblis menggodanya, “Sudah cukup lama engkau memanggil Dia. Adakah jawaban dari Allah?”

Orang itu tergoda. Semangatnya mengendur dan tertidur. Malam itu dia bertemu dengan Nabi Khidir dalam mimpi, “Kenapa kamu berhenti mengulangi Nama-Nya? Kenapa tertidur?”

“Karena tidak ada tanggapan dari Dia,” demikian jawab orang itu dalam mimpi.

“Lupakah engkau bahwa Nama Allah itu sendiri sudah merupakan bukti Keberadaan-Nya? Kepasrahan dan kerinduanmu ketika mengulangi Nama-Nya, adalah Utusan Dia bagi kamu.Setiap kali engkau mengucapkan ‘Ya Allah’ dengan kasih dan kesadaran, Dia menjawabmu berulang kali, ‘Di sinilah Aku, di sinilah Aku, di sinilah Aku.”

“Berbahagialah orang yang bisa menyebut Nama-Nya dengan kasih dan kesadaran. Allah memberikan segala sesuatu kepada Fir’aun, tetapi tidak memberkahinya dengan kasih dan kesadaran. Sehingga dia lupa daratan dan terlupakan pula Nama Allah.”

 

Kalau kita masih ingat Tuhan, jangan pikir hal itu karena daya-upaya kita. Jangan pikir kita sudah berijtihad untuk mengingat Nama-Nya. Tidak demikian. Yang membuat kita bisa mengingat Dia, Dia juga! Tanpa benih kasih dan kesadaran yang Dia tanamkan di dalam jiwa, kita tidak akan bisa mengingat Nama-Nya.

Jangan tergoda oleh “iblis pikiran” yang selalu berorientasi pada hasil. Iblis, setan, pikiran, mind—apa pun nama yang Anda berikan kepada dia memang ahli dalam hal hitung-menghitung. Modal yang ditanam harus membawakan basil. Dan harus cepat. “Iblis Pikiran” tidak pernah sabar. Kodratnya memang demikian, tidak bisa sabar. Dan karena tidak bisa sabar maka dia jauh dari Tuhan Yang Mahasabar Ada-Nya— Al-Shabur.

“Bersabarlah, karena Kesabaran anda sudah membuktikan kedekatan Anda dengan Tuhan. Ulangi Asma Allah, dengan kasih, dengan kesadaran, tanpa motivasi, tanpa mengharapkan imbalan. Dan dalam kesadaran itu, dalam kasih itu, Anda akan merasakan kehadiran-Nya.

Rumi juga mengatakan:

 

Bersabarlah, karena kesabaran adalah kunci kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa kesadaran dan kebijaksanaan. Sesungguhnya, kesabaran merupakan kaki-tangan kebijaksanaan.  Bersikaplah bijaksana terhadap segala sesuatu termasuk terhadap makanan. Jangan mengisi perutmu dengan apa saja.

Memang banyak godaan. Dari setiap penjuru engkau mendapatkan panggilan, “Kemarilah saudaraku, aku akan menuntun kamu, kita akan jalan bersama.” Ketahuilah, bahwa suara-suara itu berasal dari ketidaksabaran.

 

Ketidaksabaran berarti tidak dari Allah. Mereka yang sedang berjualan agama di pinggir jalan sangat tidak sabar. Ketika saya menegur seorang “penjual”, dia menjawab saya dengan penuh “keyakinan”, “Kalau saya berhasil menyelamatkan 100 jiwa, pintu surga akan terbuka lebar bagi saya. Tetapi di balik keyakinan itu, ketidaksabarannya pun terasa betul. Dia sedang buru-buru, mengejar waktu. Pendek kata, tidak sabar!

Ditanya, “Kenapa buru-buru mau masuk surga?” jawaban dia sederhana sekali, ”Kita sudah berada di akhir zaman. Ini sudah ujung-ujungnya. Akan terjadi malapetaka kehancuran dan entah apa lagi. Yang terselamatkan hanyalah mereka yang sudah berada di surga.” Surga dia sepertinya salah satu planet di luar angkasa. Tawaran dia memang sangat menggiurkan. Bayangkan, kalau mau ke planet sana pakai pesawat, berapa biayanya? Kalau lewat dia, gratis! Banyak juga yang kemudian mau di-“selamat”-kan oleh dia, lewat dia.

Mau pergi ke mana? Bukankah Tuhan tidak bisa “ditempatkan”? Yang menggoda kita untuk mencari Tuhan “ke mana-mana” adalah “pikiran”—Si Iblis. Dialah yang membuat kita tidak sabar. Sekarang kita mau apa? Mendengarkan suara dia atau merasakan Kehadiran Allah?

Rumi melanjutkan:

 

Dunia dengan segala isinya akan selalu menggoda, “Nikmatilah semua ini.” Bilamana engkau bijaksana, maka engkau tidak akan tergoda. Engkau diberi umpan. Lalu, demi umpan itu engkau kehilangan nyawa. Untuk apa?

 

Dalam kisah berikutnya, Rumi akan menegaskan kembali perkara umpan ini. Bagaimana kita mengejar umpan, sampai kehilangan nyawa. Untuk sementara, kesimpulan Rumi harus direnungkan kembali. Kesabaran, Kasih, dan Kesadaran, trio ini yang harus menyertai doa kita.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Sesungguhnya, dalam Laku Meditasi—dalam kesadaran meditatif, rohani, atau spiritual—kita semua dipersatukan. Warna kulit, bahasa, ras, suku, dan kepercayaan kita boleh beda; penampilan kita, fisik kita, bahkan cara pikir kita boleh beda; tetapi dalam kesadaran rohani, kita semua dipersatukan oleh Kebutuhan kita akan Kebahagiaan Sejati, yang mana adalah satu dan sama pula. Dari buku Soul Awareness

Sudahkah kita tidak membeda-bedakan warna kulit, bahasa, ras, kepercayaan dan sebagainya?