Archive for dualitas

Manunggaling Kawula Gusti, Pandangan Dualitas dan Non-Dualitas

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on September 23, 2018 by triwidodo

Kisah Pemuda Pembaca Buku-Buku dan Shankaracharya

Seorang Master berkisah tentang seorang pemuda berusia 22 tahun yang pergi menemui Shankaracharya. Sang pemuda telah membaca banyak buku dan menjadi senang berdebat. Ketika Shankaracharya sedang memberi pelajaran kepada para muridnya, sang pemuda menginterupsi dan bertanya apakah semua manusia tidak boleh dianggap sama karena aliran darah yang sama yang mengalir dalam diri semua manusia.

Shankara tersenyum dan mengatakan bahwa darah yang mengalir pada anak muda itu panas dan cepat. Shankara berupaya mendorong agar anak muda itu tidak berjalan terlalu jauh dengan pemahamannya. Tidak mungkin bagi manusia untuk membedakan antara hal-hal yang abadi dan yang tidak abadi. Seseorang dapat mengadopsi gagasan non-dualitas atau advaita dalam pikiran dan sikapnya sendiri. Tetapi tidak mungkin menyamakan semuanya dalam praktek di dunia nyata.

Sang pemuda bersikeras bahwa pandangan demikian sepertinya tidak benar. Dia menyatakan bahwa baginya, hal yang tepat adalah memperlakukan semua makhluk hidup dengan cara yang sama.

Shankara merasa jika pemuda ini dibiarkan mempraktekkan hal ini, akan ada kemungkinan dia sampai beberapa kesimpulan yang tidak masuk akal. Shankara segera memutuskan untuk memberinya pelajaran dengan bertanya, apakah dia memiliki seorang ibu. Pemuda itu menjawab bahwa dia mempunyai seorang ibu sangat yang dihormatinya. Shankara bertanya lagi apakah sang pemuda sudah menikah. Pemuda itu menjawab bahwa dia sudah menikah dan istrinya juga datang bersamanya ke ashram. Shankara kemudiaan bertanya apakah dia punya ibu mertua. Pemuda itu menjawab bahwa ibu mertuanya masih sehat. Shankara bertanya lagi apakah dia punya saudara perempuan. Pemuda itu menjawab dengan tegas bahwa dia memiliki dua saudara perempuan.

Shankara bertanya apakah semua orang itu adalah wanita. Pemuda itu menjawab memang demikianlah adanya. Shankara kembali bertanya karena dia menganggap mereka semua setara dan memperlakukan semua orang tersebut dengan cara yang sama apakah dia akan memperlakukan istrinya sebagai ibunya dan saudara perempuannya sebagai ibunya.

Dalam dunia multipelitas (multiplicity, bukan hanya non-dualitas dan dualitas), seseorang harus mengakui perbedaan kualitatif dan kuantitatif. Setiap bohlam listrik bervariasi dalam daya dan watt. Oleh karena itu cahaya yang memancar dari bohlam lampu bukan hanya karena arus listrik. Arusnya sama di mana-mana tapi perbedaan muncul dari bohlam lampu dengan intensitas yang berbeda. Kekuatan Tuhan adalah seperti tenaga listrik dan tubuh kita adalah bohlamnya.

 

4 Maharesi yang Mewakili Cara Pandang Pikiran Manusia

Ada 4 orang Maharesi, yakni: Sanaka, Sananda, Sanatana, dan SanatKumara. Keempat “orang” yang disebut Maharesi itu adalah mewakili jenis pikiran manusia, empat cara pandang yang saling terkait, namun beda.

Sanaka mewakili cara pandang Dvaita atau Dualitas, bahwasanya ciptaan dan pencipta adalah berbeda. Sananda adalah cara pandang Visistadvaita, bahwasanya walaupun beda, ada hubungan antara Ciptaan dengan Hyang Maha Mencipta. Sanatana adalah cara pandang Advaita atau Non-Dualitas bahwasanya Ciptaan dan Hyang Maha Mencipta tiada perbedaan apa-apa. Sementara itu yang terakhir, Sanat-Kumara adalah cara pandang yang membenarkan ketiga-tiga cara pandang sebelumnya.

Ya, tiga-tiganya benar – Tergantung pada tingkat kesadaran manusia dan juga waktu, tempat, dan situasi, dimana cara pandang yang satu bisa lebih applicable, lebih relevan daripada cara pandang lainnya.

Misalnya, saat kita ingin menasehati anak, dibutuhkan cara pandang kedua. Orangtua dan anak adalah beda, sehingga ada yang menerima nasehat dan ada yang memberinya. Namun, ketika anak itu sudah dewasa, sudah mengambil seluruh tanggung jawab dan menjadi kepala keluaraga, maka cara pandang ketiga yang berlaku. Sementara itu, cara pandang pertama dibutuhkan ketika kita menghadapi seorang pekerja atau pembantu. Ini bukan diskriminasi, tetapi justru meletakkan peran masing-masing pada tempatna dan secara proporsional. Penjelasan Bhagavad Gita 10:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Dualitas (Dvaita), Non-Dualitas (Advaita) dan Visistadvaita

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

Bayangkan rumah besar bak istana. Seluruhnya milik seorang kaya. Di mana-mana kita melihat ayat atau bukti kehadirannya. Namun, ia berada di salah satu ruangan — wujudnya berada dalam ruangan yang menjadi ruang pribadinya — entah itu ruang istirahat, ruang baca, atau ruang lain. Tidak berarti bila gerak-geriknya terbatas pada satu atau beberapa ruangan pilihannya saja. Tidak. Ia bisa berada di mana saja. Seluruh bangunan adalah milik dia. Kepemilikannya dapat dirasakan di mana saja, namun di ruang-ruang tertentu, kehadirannya menjadi sangat nyata.

Setiap analogi, perumpamaan yang kita gunakan, sesungguhnya hanyalah membuktikan kegagapan kita. Namun, mau tidak mau kita mesti menggunakannya untuk “sedikit” memfasilitasi pemahaman kita.

SEORANG PANEMBAH yang senantiasa berbakti pada-Nya adalah manunggal dengan-Nya. Dalam tradisi rohani di wllayah peradaban kita — kita tidak membedakan antara “Zat” Gusti dan Kawula. Zat yang mengabdi dan Hyang diabdi atau objek pengabdian – adalah satu dan sama.

Tentunya filsafat rohani ini tidak bisa dipahami oleh mereka yang berjiwa gersang, di mana kekerasan hati menjadi penghalang utama bagi kemanunggalan. Scbab itu, para penerima Wahyu, para resi mengajarkan paharn Visistadvaita – Dualitas Khusus – bagi mereka yang berjiwa keras dan gersang.

Visistadvaita adalah filsafat tengah di antara Dvaita atau dualitas dan Advaita atau non-dualitas murni.

ADVAITA ATAU NON—DUALITAS adalah filsafat hidup yang menjadi landasan pemikiran para resi di wilayah peradaban kita. Filsafat Non-Dualitas murni, di mana Kawula dan Gusti adalah manunggal, hanya dapat dipahami oleh rnereka yang bersentuhan dengan ajaran-ajaran para resi dari peradaban kita, mereka yang telah “melihat” kebenaran.

DVAITA ATAU DUALITAS adalah filsafat hidup yang melihat kawula sebagai kawula, dan Gusti sebagai Gusti. Tidak ada kemungkinan untuk menyatu atau manunggal. Bagairnanapun, kcdudukan pengabdi selalu di bawah Ia yang diabdi. Dalam pemahaman ini, ketunggalan Tuhan diakui. Tapi, kemanunggalan antara pengabdi dan yang diabdi tidak diakui. Pemahaman ini sering menciptakan perpecahan, distorsi, dan pada akhirnya pertikaian.

Mereka yang berada dalam Wilayah pemahaman ini akan selalu melihat Wilayah Advaita atau Non-Dualitas Murni sebagai Wilayah haram, dan mereka yang berada dalam wilayah tersebut sebagai penghuni atau calon-penghuni neraka, “Berani-beraninya mereka menyamakan diri dengan Tuhan!”

Padahal bagi mereka yang berada dalam wilayah Advaitajustru Kemanunggalan Jiwa dengan Jiwa Agung mernbuktikan bahwa Ia adalah Hyang Tunggal. Percikan-percikan yang disebut Jiwa adalah bagaikan sinar bagi matahari Jiwa Agung; atau ombak bagi Samudera Gusti Pangeran.

VISISTADVAITA…. Mereka yang berada dalam Wilayah Dvaita juga sering, hampir selalu memusuhi mereka yang berada dalam wilayah Visistadvaita. Visistadvaita tetap mempertahankan perpisahan antara Jiwa dan Jiwa Agung — keduanya beda secara kuantitatif. Walau, di antara mereka ada juga yang berpendapat bahwa perbedaan kuantitatif itu menjadi tidak penting-penting banget, karena Jiwa dan Jiwa Agung adalah sama secara kualitatif. Secara kuantitatif, secawan air laut jelas tidak sama dengan seluruh air di laut. Tetapi, secara kualitatif, air di dalam cawan itu adalah sama asinnya dengan air laut. Sama-sama air laut.

Mereka yang berada dalam wilayah Visistadvaita memuja…… TUHAN SEBAGAI AYAH, IBU, Saudara, Kawan, bahkan Kekasih. Mereka menciptakan hubungan yang erat — melebihi hubungan antara majikan yang diabdi dan jongos yang mengabdi. Ada pula di antara mereka, lulusan Wilayah Dvaita, yang merasa tidak perlu rnengubah hubungan dalam bentuk pengabdi dan Hyang diabdi — namun, mereka mengubah relasi antara keduanya, mempereratnya. Pengabdi bukanlah jongos yang selalu mengharapkan gaji. Ia mengabdi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Dasarnva bukan lagi untuk meminta suatu imbalan, tetapi semata karena kasih.

Hubungan antara Advaita dan Visistadvaita sangat erat. Ada kalanya seorang panembah yang telah manunggal, telah berada dalam Wilayah Advaita — memilih untuk turun tangga sedikit, berada dalarn wilayah Visistadvaita dengan penuh kesadaran, supaya dapat merasakan manisnya cinta, manisnya kasih, manisnya rasa rindu. Mereka sengaja menciptakan perpisahan untuk memunculkan romance di dalam hidup mereka — Roman Ilahi. Inilah yang dimaksud oleh Krsna, bahwasanya kehadiran-Nya dapat dirasakan, bahkan dapat dilihat di dalam diri seorang panembah sejati, walau sesungguhnya Ia Maha Ada — berada di mana-mana. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Advertisements

Tuhan Selalu Berada di Pihakku? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 17, 2018 by triwidodo

Anthony de Mello berkisah: Jesus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajak-Nya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.

Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya: “Saudara berteriak untuk pihak yang mana?”

“Saya?”, jawab Jesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. “Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.”

Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Jesus: “Ateis!”

Sewaktu pulang, Jesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. “Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan”, kata kami. “Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.”

Jesus mengangguk setuju. “Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya,” katanya. “Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat.”

“O Lord, berhati-hatilah dengan kata-kata-Mu,” kata salah seorang di antara kami dengan was-was. “Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu.”

“Ya – dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama”, kata Jesus sambil tersenyum kecewa.

Dikutip dari buku (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

 

Ilusi Dualitas Membuat Kita Pilih Kasih

Ilusi Dualitas menciptakan preferensi, pilih kasih, favoritism – ini kesukaanku, itu bukan kesukaanku.

Selama masih terjebak dalam Dualitas, kita tidak bisatidak pilih kasih. Ini bangsaku, itu bangsa lain, asing. Aku tidak boleh mencela, menyakiti dan merugikan orang-orang sekepercayaan. Tapi terhadap kelompok kepercayaan lain, aku boleh berbuat apa saja.

Beberapa tradisi di masa lalu, bahkan mengatur secara rapi siapa saja yang boleh dijarah, dan siapa saja yang tidak boleh. Penjarahan terhadap harta benda, bahkan istri, anak, dan budak-budak kelompok tertentu – tidak hanya diperbolehkan, tapi dianggap sesuatu yang lumrah, lazim.

 

Tentunya, aturan-aturan seperti itu bertentangan dengan apa yang hendak Krsna sampaikan. Misalnya…

Brahman atau Tuhan tidak pilih kasih – hal ini saja sulit dipahami oleh mereka yang menganggap  kelompok mereka, masyarakat mereka sebagai orang-orang yang terpilih. Penjelasan Bhagavad Gita 5:18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Pada Kenyataannya Setiap Orang Hanya Bekerja untuk Kelompoknya?

Masalah ekonomi, masalah sosial – hampir semua masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat kita, merupakan hasil putusnya rantai persatuan. Tidak dapat dielakkan lagi bahwa masyarakat kita sudah sakit. Setiap orang bekerja hanya untuk kelompoknya.

Mulai dari pendidikan, sekolah-sekolah khusus yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kepercayaan… Sejak usia dini, kita telah meracuni anak-anak kita dengan racun perpecahan. Kita mengkotak-kotakkan mereka. Kau berkepercayaan A, B, C… Bahkan, kita mendirikan bank-bank, lembaga-lembaga keuangan yang bercirikan kepercayaan. Pers kita bernapaskan kepercayaan. Apabila situasi semacam ini dibiarkan terus, Persatuan Bangsa akan tinggal menjadi bagian dari sejarah masa lalu

Jalankan usahamu, profesimu, bukan hanya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan suatu kelompok, tetapi untuk kepentingan seluruh bangsa, untuk kepentingan masyarakat dunia – dan kepentingan pribadimu akan ikut terurus.

Jangan lupa bahwa kita semua merupakan bagian dari masyarakat dunia yang tidak dapat dipisahkan satu dari lainnya. Apalagi mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada tingkat atas dalam susunan kemasyarakatan kita. Mereka justru harus memberikan contoh, menjadi teladan. Apabila mereka mengabaikan kewajiban mereka, masyarakat di bawah akan kacau.

Kekacauan ini akan Memecah Belah Masyarakat dalam 3 kelompok.

Pertama, mereka yang cuek. Mereka yang sama-sama hanya mementingkan diri mereka pribadi. Mereka akan diam, bahkan akan melindungi pemimpin-pemimpin mereka. Mereka berada dalam perahu yang sama.

Kedua, mereka yang diam. Mereka tahu persis apa yang terjadi akan menghancurkan seluruh tatanan masyarakat, namun tetap memilih diam. Mereka takut, pengecut.

Ketiga, mereka yang berani. Berani mengungkapkan kebenaran. Acap kali mereka akan kita cap sebagai pemberontak.

Renungkan jasa para pahlawan – mereka yang mengabdikan seluruh hidup mereka untuk memperoleh kemerdekaan dari penjajah. Mereka pun pernah dicap sebagai pemberontak dan pembangkang oleh penguasa waktu itu. Penjelasan Bhagavad Gita 2:33 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Jangan Hanya Bertumbuh, Maju-lah

PERTUMBUHAN ADALAH INDIVIDUALISTIK, KEMAJUAN ADALAH KOLEKTIF…… Kita bertumbuh sendiri. Keluarga, kerabat, kelompok, partai, atau siapa dan apa saja yang ikut bertumbuh bersama kita, adalah perpanjangan diri kita. Mereka tidak mewakili masyarakat umum. Mereka adalah bagian dari ego kita, keluarga-“ku”; kelompok-“ku”; umat-“ku”; dan sebagainya.

Kemajuan terjadi ketika kesadaran kita meluas dan mencakup seantero alam, seluruh umat manusia. Saat itu, tiada lagi ego-diri yang mengaku, “aku sudah berbuat”. Saat itu, hanyalah kesadaran pelayanan yang ada. Apa pun yang kita lakukan adalah persembahan pada semesta.

“Para bijak di masa lalu pun, sudah berkarya dengan semangat itu,” nasihat Krsna kepada Arjuna, “Kemudian, semangat kerja seperti itulah yang membebaskan mereka dari keterikatan yang menyedihkan, menyempitkan, menahan kemajuan. Wahai Arjuna, contohi mereka. Mereka berhasil dan engkau pun niscaya pasti berhasil!” Penjelasan Bhagavad Gita 4:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Karma, Dualitas dan Melayani Tanpa Pamrih #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , , on January 21, 2018 by triwidodo

Dikisahkan adalah seorang cendikiawan yang merasa memahami seluk-beluk karma. Pada suatu hari dia bertemu dengan seorang hanya mempunyai kaki, dan mind-nya berkata, “Orang ini pasti pada kehidupan masa lalunya pernah menghina seorang Suci.” Pada kehidupan masa lalu orang tersebut memang amat angkuh dan menghina orang-orang yang memegang kaki seorang Suci dan berkata, “Kenapa tidak memegang Tuhan di kaki saya, hahaha…. Silakan menikmati Tuhan pada kaki saya…”

Sang Cendikiawan berjalan dan bertemu seorang pengemis tanpa jari mohon bantuan. Sang Cendikiawan melengos dan mind-nya berpikir, “orang ini pasti di kehidupan masa lalu sebagai pencuri dan kini jari-jari tangannya tak ada.” Pada kehidupan masa lalu dia memang mencuri harta seorang pedagang yang bekerja bersusah payah untuk membiayai kelarganya. Sang pedagang mengutuk pencuri yang tidak tahu kesusahan orang lain, semoga di kehidupan selanjutnya lahir tanpa jari-jari tangan.

Pada suatu kali Sang Cendikiawan melihat orang buta sedang memegang tongkat dan berjalan berhati-hati karena jalan disampingnya adalah sebuah parit yang dalam. Sang Cendikiawan tidak mau membantu orang buta tersebut dan mind-nya berkata, “Orang ini pada kehidupan yang lalu pasti memperoleh segala sesuatu tapi tidak mau melihat hal-hal yang penting dalam kehidupan maka sekarang dia menjadi buta!”

Tiba-tiba si buta tertawa, “Hahaha, benar sekali di kehidupan masa lalu saya tidak mau melihat hal yang penting, maka saya lahir buta. Demikian pula Tuan. Tuan akan lahir kembali sebagai orang buta!”

Tiba-tiba Sang Cendiawanan kaget dan matanya tidak dapat melihat lagi. Sang Cendikiawan mohon maaf dan mohon petunjuk apa yang harus dikerjakannya.

Si  Buta berkata, “saya dulu persis seperti Tuan hanya melihat dan menganalisa orang lain tapi tidak membantu sama sekali. Saya tidak melihat bahwa orang yang menderita adalah aku juga. Mereka yang tidak punya kaki, tidak punya jari-jari tangan dan mereka yang buta adalah diriku juga. Tuan masih hidup dalam dualitas, sehingga masih mengalami hukum karma!”

Sang Cendiawan sadar, mohon maaf, berjanji akan membantu orang yang sedang menderita sebagaimana membantu dirinya sendiri……….. dan matanya bisa dibuka kembali……………….

 

Tat Tvam Asi, aku adalah kamu, kamu adalah aku

“Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), apa pun yang kau lakukan; apa pun yang kau makan; apa pun yang kau persembahkan kepada api suci (segala puja persembahanmu); apa pun yang kau hadiahkan (derma yang kau berikan); dan segala tapa-brata – persembahkanlah semuanya  kepada-Ku.” Bhagavad Gita 9:27

Makna pertama adalah jelas: Lakukan segala-galanya dengan semangat persembahan. Jadi bukan sekadar ora-et-labora atau berdoa sambil berkarya – namun segala macam karya dijadikan doa. Pekerjaan itu sendiri menjadi persembahan – work is worship. Ini makna pertama.

Ada pula makna lain yang terselubung – Melakukan segala sesuatu, termasuk beramal saleh, berdana-punia, segala-galanya dengan penuh kesadaran bila kita sedang melakukannya bagi diri sendiri – bukan bagi orang lain.

Kita tidak menghadiahi orang lain, kita sedang menghadiahi diri sendiri. Kita tidak bersedekah atau melayani ‘orang lain’, kita tidak membantu ‘orang lain’ – kita sedang melayani diri sendiri, kita sedang membantu diri sendiri. Lihatlah kemuliaan Jiwa yang sama, percikan Jiwa Agung Hyang Tunggal dalam diri setiap orang, setiap makhluk.

Kegagalan segala Program Sosial – dompet bantuan, dan sebagainya – disebabkan oleh semangat yang salah. Semangatnya adalah membantu fakir-miskin, melayani yatim-piatu. Semangatnya adalah aku memberi, kau menerima. Semangatnya adalah terserah aku, mau memberimu berapa, dan seberapa kukantongi sebagai sendiri sebagai komisi.

Tidak heran bila dalam kegiatan amal-saleh di bawah pengawsan lembaga-lembaga kepercayaan pun – tetap terjadi korupsi dan proses penyunatan sumbangan. Bahkan tidak jarang, sunat berubah menjadi amputasi. Dapat 10, disalurkan 4 saja. Ini sudah bukan komisi lagi, sudah bukan korupsi lagi, sudah bukan sunat lagi – sudah amputasi.

Tega-teganya si penyalur yang diberi kepercayaan oleh masyarakat, oleh lembaga – melakukan hal itu. Dan melakukannyasecara beramai-ramai ; korupsi bersama, dengan melibatkan opsir tinggi, bahkan tertinggi, hingga pegawai kecil! Ketegaan seperti ini bisa terjadi karena semangatnya adalah aku memberi, kau menerima, ‘Sudah bagus kuberi kau. Dan sebagai pemberi, ya aku sendiri yang menentukan, seberapa yang kuberikan. Kau, sebagai penerima – tidak berhak untuk mempersoalkan keputusanku. Kuberi berapa, terima saja. Jangan mengeluh!’

Ya, itu – semangatnya adalah kau lain, aku lain. Semangat ini mesti diubah. Tidak ada orang lain. Yang ada hanyalah wujud lain dari Sang Jiwa yang sama – tunggal.

Tat Tvam Asi – sepertisemboyan Departemen Sosial yang masih merupakan warisan dari Founding Fathers kita, ‘Aku adalah kau, kau adalah aku – aku tidak melayanimu, tidak bisa. Aku sedang melayani diri sendiri lewat wujudmu. Aku sedang membantu diriku sendiri yang berada dalam wujud yang beda.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Lepas dari dualitas

“Demikian, dengan pikiranmu kukuh dalam kesadaran samnyasa, lepas dari segala dualitas dan keterikatan; niscayalah kau terbebaskan dari belenggu karma baik dan buruk, dan mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 9:28

Samnyas Yoga – melepaskan diri dari segala macam keterikatan adalah Samnyas. Dan, pelepasan itulah yang mengantar kita ke alam kemanunggalan, bebas, dari segala dualitas. Itulah Yoga.

Apa yang menyebabkan keterikatan? Dualitas, halusinasi-perbedaan. Ini anakku, itu anakmu. Ini hartaku, itu milikmu. Bahkan, tidak jarang para anggota ISTI – Ikatan Suami Takut Istri – setakut apa pun, masih tetap bisa membuat perjanjian ‘pisah harta’. Sehingga, suatu saat kalau cerai, nggak repot. Untung ada ‘lembaga’ pisah-harta! Ha ha ha…. Intinya, semua itu adalah hasil dari dualitas. Kepercayaanku, kepercayaanmu; Tuhanku, Tuhanmu. Daftar dualitas tidak pernah bisa diperpendek, selalu bertambah panjang.

Lampauilah dualitas! Melampaui dualitas tidak berarti kita meninggalkan suami atau istri. Tidak. Kita tetap melayani pasangan kita, tapi dengan semangat yang beda. Kita sedang melayani diri kita sendiri dalam wujud yang beda. Jika susah, maka layanilah dia dengan mempersembahkan yang terbaik kepada Gusti Pangeran.

Mulailah dari saat ini – ya mari kita mulai dari saat ini. Karya ini bukanlah karyaku, tapi karya kita. Tulisan ini, coretan-coretan ini, pemikiran ini adalah persembahan kita bersama kepada Gusti Pangeran.

Dalam wujud ini – yang sedang menulis dengan menggunakan bolpen dan saat ini berada di balik jeruji – aku sedang menulis. Dalam wujudmu, aku sendiri sedang membaca tulisanku. Antara menulis dan membaca – adalah proses panjang mentranskrip, mengedit, melakukan setting, menentukan layout, merancang sampul, mencetak, membungkus, menyalurkan, menjuala – dan masih entah berapa langkah lagi – semuanya adalah langkah yang kuambil, kita ambil. Semuanya adalah persembahaan kita kepada Hyang Maha Tunggal.

Akulah penulis, aku pula pembaca, akulah seluruh proses editing, penyaluran, penjualan – akulah semuanya. Akulah yang mempersembahkan karya ini kepada Gusti Pangeran yang adalah hakikat diriku. Akulah kau.

Aku-Ego dan Aku-Kesadaran beda – ‘aku-ego’ bunyinya nyaring. Aku-Kesadaraan Besar, Maha Besar, senantiasa bergetar dan Getaran-Nya menghidupi seantero alam dengan segala isinya, tetapi tidak berbunyi nyaring seperti kaleng kosong. Aku-Kesadaran berkarya tanpa gembar-gembor, seperti terbitnya matahari setiap pagi dan terbenamnya setiap sore. Raihlah Kesadaran Jiwa itu – demikian kita akan terbebaskan dari ikatan karma.

Ya, bebas dari ‘ikatan’ karma. Karma baik maupun buruk – dua-duanya menciptakan belenggu. Dua-duanya mengikat. Karma buruk mengikat kita, taruhlah dengan belenggu yang terbuat dari besi. Jelek. Kelihatan jelas.

Karma baik mengikat kita, merantai kita dengan belenggu yang terbuat dari emas. Indah dan kita menganggapnya sebagaai perhiasan, bukan belenggu lagi. Sehingga kita, enggan untuk melepaskannya.

Ya belenggu karma baik lebih susah dilepaskan. Kita sedang menikmati segala kenyamanan dan kenikmatan surga – bagaimana meninggalkan surga? Belenggu karma baik membuat kita lebih parah. Ada keengganan untuk melepaskannya. Atau malah seperti yang dianalogikan di atas, tidak tahu bila kita terbelenggu. Belenggu emas tidak seperti belenggu – seperti perhiasan.

Seorang Samnyas tidak berurusan dengan belenggu macam apa pun, jenis apa pun, sekalipun bertatahkan permata dan intan berharga. Harga adalah ilusi yang diciptakan oleh dualitas juga. Arang, batu bara, kristal, pernata, intan, berlian, wujud Anda dan wujud saya – semuanya adalah carbon-based. Kalau dihargai – semestinya sama harganya. Semestinya dihargai dengan satuan kiloan. Tapi tidak, kita menghargai tubuh dengan satuan lain, batu bara dengan satuan lain, dan berlian dengan satuan yang beda lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Pemuja Vishnu dengan 3 Permohonannya #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 15, 2017 by triwidodo

Seorang pemuja Vishnu bertapa dengan keras agar hidupnya bahagia. Selama ini hidupnya selalu mengalami pasang-surut, suka dan duka yang tidak berkesudahan dan dia sudah jenuh mengalami hal tersebut.

Lakshmi kasihan terhadap orang tersebut dan minta Vishnu menemuinya. Vishnu berkata bahwa orang tersebut belum memahami kehidupan, apa pun yang dimintanya hanyalah untuk kepentingan dunia yang memberikan kebahagiaan yang bersifat sementara.

Atas desakan Lakshmi, Vishnu pun akhirnya menemui orang tersebut. Vishnu berkata bahwa dia akan mengabulkan 3 permintaan orang tersebut dan setelah itu dia orang tersebut jangan minta apa pun kepadanya.

Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta, agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Ternyata setelah kawin dengan istrinya, kebiasaan mereka tidak sama sehingga merepotkan. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

Akan tetapi semua teman-teman dan keluarganya yang menghadiri perabuan istrinya, menyesalkannya. Sulit sekali mencari orang seperti dia, kalau dengan dia saja tidak cocok pasti dengan yang lainnyapun sama. Perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan istri. Maka sang pemuja Vishnu itu menjadi murung dan merenung seharian. Akhirnya dia permohonan kedua adalah agar istrinya dihidupkan kembali.

 

Tinggal sebuah pertanyaan lagi, dan dia mulai bertanya kepada semua teman-temannya permohonan apalagi permohonan yang perlu disampaikan kepada Vishnu. Ada yang menyarankan agar minta hidup selamanya, akan tetapi kembali dia berpikir, apa gunanya hidup terus kalau badan sakit-sakitan. Mohon harta kekayaan, akan tetapi kalau kalau dirinya dikucilkan tidak punya teman tidak ada artinya. Mohon kesehatan prima, tapi kalau hidupnya menderita juga tidak memuaskan.

Apa pun yang diminta tidak ada yang membuatnya suka selamanya, rasa suka yang abadi. Semuanya selalu dibayang-bayangi duka.

Bertahun-tahun sang pemuja Vishnu melakoni hidup tanpa menyampaikan permohonan yang dijanjikan oleh Vishnu. Sang istri dengan setia mendampinginya dalam mencari solusi agar hidup bahagia selamanya. Mereka telah dikaruniai seorang putra. Di samping melakoni hidup, mereka tetap menyisakan waktu untuk merenungkan apa yang dapat membuat mereka hidup bahagia tanpa dibayang-bayangi rasa duka.

Mereka mengalami pasang surut tapi ada satu saat mereka tidak mengeluh lagi karena paham hidup memang demikian, selalu ada pasang dan surut. Sampailah mereka berdua pada satu kesimpulan semestinya mereka bisa hidup ceria walau mengalami kejadian apapun.

Akhirnya sang pemuja Vishnu menghadap Vishnu dan menyampaikan permohonan terakhir: “Gusti Vishnu, apabila Gusti berkenan dan kami berdua layak mendapatkan, mohon Gusti sudi memberi kami keceriaan hati yang tidak terpengaruh pasang-surutnya dunia.

Lakshmi datang kepada Vishnu dan tersenyum penuh arti. Lakshmi berbisik kepada Vishnu, “dia telah berupaya sungguh-sunggh untuk memperoleh keceriaan dalam hidupnya.” Vishnu berkenan mengabulkan permohonan pemuja-Nya.

 

Senantiasa Ceria   

“Berada dalam Kesadaran Brahman, seseorang senantiasa ceria, tidak lagi berduka dan tidak mengejar sesuatu. Ia bersikap sama terhadap semua makhluk. Demikian, sesungguhnya ia telah ber-bhakti pada-Ku.” Bhagavad Gita 18:54

Tidak berarti seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi itu meninggalkan pekerjaannya. Tidak. Ia masih tetap berkarya di tengah keramaian pasar dunia, namun terjadi perubahan nyata dalam sikapnya.

PERTAMAI IA MENJADI CERIA — Keceriaan bukanlah cengengesan. Keceriaan bukanlah rasa bahagia yang dibuat-buat. Keceriaan adalah hasil dari kesadaran tertinggi, di mana ia mulai mengapresiasi keindahan jagad-raya. Keceriaannya adalah keceriaan polos, tulus, lugu. Keceriaan seorang anak kecil yang sedang mengamati dan menikmati warna-warni dunia.

KEDUA: IA TIDAK LAGI BERDUKA – Ini erat kaitannya dengan keceriaan. Jika ia hanya berada dalam keadaan suka, maka ketika keadaan berubah, ia akan berduka.

Keadaan suka, sebab itu, tidaklah sama dengan keceriaan. Keceriaan melampaui suka dan duka. Suka dan duka tergantung pada keadaan di luar diri. Keceriaan adalah sikap hidup yang muncul dari kesadaran diri.

Brahman, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, memiliki tiga sifat utama, yaitu Sad atau Kebenaran Hakiki; Cit atau Kesadaran Murni; dan Ananda atau Kebahagiaan Sejati. Keceriaan bersumber dari ketiganya itu. Namun, secara spesifik, keceriaan adalah ungkapan dari Ananda. Jadi, berasal dari dalam diri, bukan dari sesuatu di luar diri.

KETIGA: IA TIDAK MENGEJAR SESUATU – Ia tetap berkarya, dan berkarya secara efisien. Ia tidak malas, namun, ia berkarya sebagai ungkapan keceriaan dirinya. Ia tidak berkarya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya.

Alangkah baiknya, jika para pemimpin, pengusaha, pendidik, pekerja, kita semua bersemangat dernikian! Sehingga tidak ada urusan sikut-menyikut, tidak ada perlombaan, tidak ada praduga dan prasangka. Semua orang berkarya sepenuh hati sesuai peran serta kapasitasnya. Inilah keadaan yang dapat menciptakan masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam arti kata sebenarnya, sesungguhnya.

 

KEEMPAT: BERSIKAP SAMA TERHADAP SEMUA – Berarti, tidak pilih kasih. Tidak pandang bulu; tidak tebang pilih. Ia tidak menganggap orang lain rendah karena kepercayaannya beda, rasnya lain, bahasanya beda, dan sebagainya dan seterusnya.

Bersikap sama tidak berarti kita tidak adil. Bersikap sama berarti kita bersikap adil dengan menggunakan tolok ukur dan timbangan yang sama buat semua.

Berarti, kita tidak hanya bersuara lantang ketika seorang pengusaha ditindak karena memperbudak buruhnya, dan membisu seribu bahasa ketika saudara kita sendiri memparbudak staf, atau menipu rekan bisnisnya.

 

DEMIKIAN, DENGAN DIBEKALI KEEMPAT SIFAT MULIA INI – ketika seseorang yang telah mencapai kesadaran tertinggi masih tetap berkarya juga; maka, sesungguhnya ia pun sedang berdoa.

Tidak sama dengan “berdoa sambil bekerja”.

Keadaan ini menjadikan doa sebagai warna dasar setiap pekerjaan. Jadi, pekerjaan itu sendiri berubah menjadi doa.

Inilah semangat panembahan, semangat bhakti.

Bagi seseorang yang berkarya dengan semangat bhakti — tiada lagi dosa, tiada lagi keraguan, kekhawatiran, atau kegelisahan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Vishnu dan Seorang Pertapa #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 13, 2017 by triwidodo

Cerita Vishnu beristri dua: Lakshmi dan Alakshmi

Seorang Guru bercerita bahwa Vishnu yang mempunyai dua istri, Lakshmi, Dewi Keberuntungan dan Alakshmi, Dewi Kemalangan. Kedua istri itu sudah sepakat hanya salah satu di antara mereka yang bersama Vishnu. Saat Lakshmi datang maka Alakshmi pergi dari Vishnu dan demikian sebaliknya.

Salah seorang pertapa berhasil menemui Vishnu dan menanyakan hal yang masih membingungkannya, dan dia bertanya kepada Vishnu, “Bagi Gusti Vishnu siapa yang lebih cantik? Lakshmi atau Alakshmi?

Vishnu menjawab, “Pada saat Lakshmi datang dialah yang paling cantik, dan ketika ALaksmi pergi, Alakshmilah yang paling cantik.”

Sang pertapa menanggapi, “Gusti Vishnu, apakah itu berarti yang cantik itu adalah Dewi Keberuntungan ketika datang dan Dewi Kemalangan ketika pergi? Tapi bagaimana saat Dewi Keberuntungan pergi dan Dewi Kemalangan datang? Padahal mereka sudah janjian, manakala yang satu pergi, yang lain akan datang. Bukankah mereka menjadi tidak cantik?

Sang pertapa melanjutkan, “Gusti, Bukankah ini berarti, bukan hanya masalah kecantikan dewi, tetapi masalah apa pun di dunia tidak ada jawaban yang benar, hanya ada jawaban yang tepat. Hidup bukan tentang kebenaran, tetapi tentang kesesuaian, tepat tidaknya pilihan keputusan. Apakah demikian Gusti Vishnu?

Vishnu menjawab, “Kalau kita terikat pada satu dewi, maka dewi yang lain menjadi menakutkan saat dia mendatangi. Kalau kita terikat pada suatu yang mendatangkan kebahagiaan, maka kita akan takut saat yang menyusahkan datang. Suka dan duka silih berganti, pasang-surut selalu dialami demikianlah hidup di dunia?

Sang pertapa bertanya lagi, “Adakah suatu jalan agar kita selalu tenang dan ceria saat Keberuntungan ataupun Kemalangan mendatangi kita?

Vishnu menjawab, “Belajarlah memahami dan melakoni Bhagavad Gita, kau akan melampaui rasa suka dan duka!

 

Melampaui Dualitas

Seorang Yogi Meraih Kebebasan dari Dualitas baik dan buruk, kedua-duanya merupakan sisi dari satu keping uang logam yang sama. Seperti halnya panas dan dingin, pagi dan sore, siang dan malam. Segala sesuatu dalam dunia ini memiliki oposannya, lawannya.

Selama kita masih berada di dunia ini, kita tidak dapat menghindari interaksi dengan dunia-benda yang bersifatkan dualitas ini. Namun, kita dapat menciptakan sistem filter bagi diri kita sendiri. Kita dapat menguasai diri, sehingga tidak terpengaruh oleh dualitas.

Tidak berarti bahwa seseorang yang sadar, yang telah mencapai pencerahan, tidak akan mengalami pasang surut dalam kehidupannya. Kṛṣṇa hanya ingin mengatakan bahwa ia tidak akan lagi terpengaruh oleh pasang surutnya kehidupan. Apa pun yang terjadi, tidak ada yang dapat memudarkan senyumannya.

Dan jangan lupa kata-kata Kṛṣṇa, berkaryalah secara efisien. Jangan setengah- setengah. Seluruh kesadaran kita dianjurkan terfokus pada apa yang sedang kita lakukan, pada saat ini, pada masa kini, pada pekerjaan itu sendiri, sehingga tidak ada energi yang terbuang. Inilah Yoga. Penjelasan Bhagavad Gita 2:50 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Para Bijak yang terbebaskan dari segala derita

“Para bijak yang berkesadaran demikian (Yoga; seimbang, terampil) tidak lagi terikat pada hasil perbuatannya, bebas dari kelahiran ulang, dan terbebaskan pula dari segala derita (di dunia, maupun di alam setelah kematian).” Bhagavad Gita 2:51

Kelahiran Menyebabkan Segala macam Pengalaman – Anda tidak dapat menghindari pengalaman-pengalaman Anda. Semuanya itu merupakan akibat dari kelahiran Anda. Lalu, apakah kematian dapat membebaskan Anda dari segala macam derita dan pengalaman yang bertentangan?

Apakah Kṛṣṇa menganjurkan bunuh diri? Tidak. Ia menganjurkan agar kita menghadapi segala situasi dengan kesadaran. Dengan kesadaran bahwa semuanya itu wajar-wajar saja, jangan mengeluh. Keluhan Anda hanya membuktikan bahwa Anda belum dapat memahami mekanisme kehidupan, bagaimana Anda dapat melakoninya?

Hiduplah dalam dunia ini dengan kesadaran semacam itu, dan Anda akan terbebaskan dari rasa duka dan kegelisahan, dari stres yang disebabkan oleh kelahiran Anda. Anda tetap berada dalam dunia yang sama ini tetapi alam Anda sudah berbeda.

Kelihatannya sama, serupa, namun sesungguhnya tidak. Kendati Anda hidup dalam kolam dunia yang kotor ini, Anda ibarat bunga teratai yang tidak tersentuh oleh lumpur. Keindahan Anda tidak terpengaruh oleh kolam berlumpur. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Lampaui Awan Tebal Delusi

“Ketika kesadaran telah melampaui awan tebal kebingungan yang bersifat ilusif, maka kau menjadi tawar, tidak lagi peduli pada segala apa yang telah kau dengarkan dan akan kau dengarkan (karena apa yang kau dengar, baca, dan sebagainya hanyalah pengetahuan belaka, Kesadaran adalah pengalaman pribadi).” Bhagavad Gita 2:52

Awan Delusi menyebabkan penglihatan kita tidak jelas. Awan delusi adalah awan jabatan, awan kekuasaan, awan kekayaan – sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Namun, kita percaya pada awan. Kita tidak pernah berupaya untuk melihat di balik awan. Itu sebabnya, kita selalu mengejar konfirmasi dari pihak lain. Pihak lain mengatakan kita baik, kita senang. Pihak lain mengatakan kita jahat, kita gusar. Kita mempercayai apa yang kita dengar, apa yang kita baca tentang diri kita, kita tidak memiliki kepercayaan diri.

Sifat ini Sungguh Melemahkan – Dan, membuat kita tergantung pada dunia benda. Kita makin percaya pada kebendaan, dan makin jauh dari Hakikat-Diri kita sebagai Jiwa.

Lampauilah awan delusi yang membingungkan, temukan diri-sejati, dan lepaskan ketergantungan pada dunia benda yang bersifat ilusif, sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Usir Kemunafikan, Arogansi baru Dualitas? Kisah Tukang Kebun #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , , on January 22, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-2-tukang-kebun

Seorang tukang kebun melihat tiga orang asing memasuki kebunnya. Pertama, seorang hakim yang korup; kedua, seorang pejabat yang tidak jujur; dan ketiga, seorang penipu berjubah sufi. Tiga-tiganya jahat, tetapi bagaimana mengusir mereka? Mereka bertiga dan Si Tukang Kebun hanya seorang diri.

Si Tukang Kebun berpikir, “Aku harus memisahkan mereka. Selama masih bersatu, sulit mengusir mereka.”

Maka dia menghampiri mereka, “Silakan duduk, tetapi sebaiknya di atas alas. Bila tidak keberatan, wahai Darvish, ambilkan alas duduk dari pondok saya di sana.”

Setelah darvish palsu itu meninggalkan mereka, Si Tukang Kebun bicara dengan Si Hakim, “Wahai Hakim Agung, Bapak adalah seorang ahli hukum. Apa pun yang kita lakukan harus berdasarkan hukum yang Bapak tetapkan. Dan, teman Bapak, Pejabat Tinggi, adalah seorang Sayyid, masih memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad. Masa Bapak-Bapak ini bersahabat dengan seorang Darvish berpakaian compang-camping? Untuk apa? Silakan tinggal di kebun ini selama satu minggu, tetapi saya tidak rela kaiau Si Darvish itu tinggal bersama Bapak-Bapak sekalian.”

Demikian, tukang kebun yang pintar itu berhasil meracuni mereka. Sekembalinya, Si Darvish itu mereka usir. Tinggal berdua—Si Hakim dan Si Pejabat.

Selanjutnya, tukang kebun mempersilakan Sang Pejabat memasuki pondoknya untuk mengambil roti, sehingga tinggal dia berdua dengan Hakim, “Wahai Hakim Agung yang berpikir jernih, percayakah Bapak bahwa Pejabat itu seorang Sayyid? Percayakah bahwa dia masih punya hubungan darah dengan Nabi Muhammad? Apa buktinya? Usirlah dia dari kebun ini. Dan tinggallah di dalam kebun ini bersama saya.”

Seperti Si Darvish Palsu, Si Pejabat Tinggi yang tidak jujur itu pun kena gusur. Tinggal Sang Hakim seorang diri. Mudah sekali bagi Si Tukang Kebun untuk mengusirnya, “Keluarlah dari kebun ini. Adakah hukum yang memperbolehkan seseorang memasuki kebun orang lain, tanpa izin, tanpa diundang?”

Si Hakim baru sadar bahwa dirinya dan teman-temannya telah menjadi korban siasat Si Tukang Kebun, “Baiklah, usir aku. Memang sepantasnya demikian, karena aku telah mengusir kedua sahabatku. Aku telah mengkhianati mereka.”

buku-masnawi-2

Cover Buku Masnawi Dua

Kisah ini memiliki beberapa sisi. Dilihat dari sisi tukang kebun yang mewakili “kesadaran diri”, tiga orang “asing” yang memasuki “kebun kehidupannya” adalah:

Pertama—Ahli Hukum. Apa kerjaan seorang ahli hukum? Dia memilah, membedakan, memisahkan yang satu dari yang lain, yang menurut  hukum dan yang bertentangan dengan hukum.

Kedua—Pejabat Negara. Tanpa kecuali, setiap orang yang memperoleh kedudukan tinggi mulai mempercayai kedudukannya. Dia menjadi arogan, sombong, angkuh.

Ketiga—Penipu berjubah sufi, Si Darvish. Hati masih hitam, wajah dibedaki. Jiwa masih kotor, badan tampak bersih.

Untuk lebih jelasnya: Sang Ahli Hukum mewakili “dualitas”. Pejabat Negara mewakili “arogansi”, kesombongan, keangkuhan. Sufi Palsu mewakili “kemunafikan”, ketidakjujuran, kepalsuan.

Bila ingin “kebun hidup” anda bebas dari dualitas, arogansi dan kemunafikan, anda harus bersiasat seperti Si Tukang Kebun dalam kisah ini. Yang harus diberantas pertama-tama adalah “kemunafikan”. Jujur dulu, be yourself. Jangan meniru orang. Jadilah diri sendiri. Pada tahap awal itu, dualitas masih akan tetap ada. Baik-buruk, surga-neraka, panas-dingin, Adam-Iblis—semuanya masih ada. Begitu pula dengan keangkuhan, kesombongan, arogansi masih tetap ada.

Karena itu, setelah berhasil mengusir “darvish palsu kemunafikan” dari dalam diri, jangan terlena. jangan duduk diam. Langkah berikutnya adalah mengusir  “arogansi”, Bung Kesombongan, Saudara Keangkuhan.

Terakhir, baru mengatasi dualitas baru mengusir “Si Ahli Hukum”. Mansur Al Hallaj sudah berhasil mengusir ahli hukum dari kebun hidupnya, maka berani mengatakan Ana all Haqq—Akulah Kebenaran. Begitu pula Siti Jenar dan Sarmad.

Tetapi ada juga yang hanya ingin meniru mereka. Belum mengusir kemunafikan, belum mengusir keangkuhan, sudah cepat-cepat  ingin melampaui dualitas. Jelas tidak bisa. Kemudian, kalau dia mengatakan Ana al Haqq — pernyataannya tidak berarti sama sekali, tidak berbobot, hampa.

Dilihat dari sisi mereka yang berhasil diusir oleh tukang kebun: United We stand, divided we fall! Bersatu, mereka kokoh,tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Terpecah-pecah mereka jatuh, hancur. Tiupan angin dengan sangat mudah bisa meruntuhkan mereka.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Catatan:

Bagaimana menyadari adanya Kemunafikan, Arogansi dan  Dualitas dalam diri? Dengan Meditasi!

Buddha mengaitkan bhaava dengan “keadaan meditatif”. Ia menyebutnya bhaavanaa. Sekarang, kita sering mengaitkan meditasi dengan kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, keseimbangan emosi, kedamaian jiwa, dan sebagainya. Sah-sah saja, tapi sayang. Ibarat menggunakan computer canggih untuk surat-menyurat saja. Fitur-fitur lain dari computer itu tidak digunakan, bahkan tidak dipelajari. Ada kalanya kita sama sekali tidak tahu-menahu tentang kecanggihan serta kemampuan alat yang kita miliki. Buddha menggunakan inner feeling atau bhaava untuk menelusuri diri, untuk eksplorasi diri, untuk menemukan sesuatu yang tak terjangkau oleh pikiran, maupun alasan semu, yang sangat tergantung pada otak. Dan, ia menemukannya! (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Sudahkah kita latihan rutin meditasi? Bagaimana latihan meditasi yang benar?

Antara Ego dan Jatidiri, Antara Penderitaan Dasaratha dan Kebahagiaan Sri Rama

Posted in Ramayana with tags , , on January 4, 2014 by triwidodo

dasharatha sumber www indianetzone com

Ilustrasi Raja Dasaratha memperhatikan Rama putra kesayangannya sumber: www indianetzone com

Salah Identitas Diri

“Manusia menderita karena menganggap dirinya hanyalah kelima indera, badan, pikiran, atau intelejensia. Kemudian, apa yang terjadi pada mereka, dianggapnya terjadi pula pada jatidirinya. Padahal tidak demikian. Sekali lagi, dia bukanlah kereta, bukan jalan raya yang ditempuh oleh kereta itu. Bukan tali pengendali, bukan sais, tetapi pemilik kereta. Itulah dia yang sebenarnya! Kesadaran itu seketika membebaskan manusia dari segala macam penderitaan, dan keterikatan yang disebabkan oleh salah identitas.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Dasaratha, ayah Sri Rama menganggap bahwa aku adalah badanku, kelima inderaku, pikiranku. Yang bekerja adalah aku. Dan akhirnya dia mengalami penderitaan yang luar biasa. Demi untuk memperoleh putra, dia sampai kawin 3 kali dan dengan istri ketiga dia menjanjikan putranya akan menjadi putra mahkota. Kemudian karena belum juga memperoleh putra, Dasaratha tetap merasakan duka sampai akhirnya melakukan ritual persembahan agnihotra sesuai saran para resi. Dan, Dasaratha memperoleh 4 putra yang membuat dia bersukacita. Selanjutnya, demi mematuhi janji terhadap istri ketiga, Kaikeyi maka Dasaratha mengangkat putra istri ketiganya, Bharata sebagai putra mahkota dan mengasingkan Sri Rama di hutan. Bagi Dasaratha, kepentingan negara dan masyarakat banyak untuk memperoleh pemimpin negara yang baik sebagai pengganti dia pun dikalahkan oleh keinginan istri ketiganya. Dalam kisah Ramayana kebetulan Bharata adalah orang yang baik dan tidak mau naik tahta yang seharusnya menjadi hak Sri Rama. Akhirnya Dasaratha merasa sangat berduka karena telah mengirimkan Sri Rama ke hutan pengasingan. Karena sedihnya Dasaratha sampai meninggal dalam keadaan merana dan putus asa.

Karena ketidaktahuan, terciptalah kesan yang salah bahwa ada ‘aku’ dan ‘milikku’. Dari kesan yang salah itu lahirlah perasaan suka dan senang, tersanjung dan terhina, pujian dan makian, dan sebagainya. Bila kita melihat dunia melewati jendela ego dan dualitas, kita akan merasa suka dan senang. Itulah yang dialami Dasaratha. Bagaimana dengan kita?

Selama kita melihat dunia melalui jendela ego, jendela dualitas maka gelombang otak kita akan mengalami naik-turun yang significant dan kehidupan kita akan melalui pasang surut suka duka yang besar sehingga membuat kita selalu gelisah. Latihan meditasi membuat kita lebih tenang, karena gelombang otak akan relatif lebih tenang dan gelombang pasang surut kehidupan tidak begitu menyengsarakan kita.

Beda Dasaratha dan Sri Rama

“Terdorong oleh sifat dasar alam itu sendiri, setiap orang terlibat dalam pekerjaan. Namun ia yang penglihatannya kabur karena awan keangkuhan, merasa bahwa yang bekerja adalah dia.” Bhagavad Gita 3:27 (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam Bhagavata Vahini disampaikan: “Perhatikan perbedaan antara Dasaratha, sang ayah dan Rama, sang putra. Mereka berbeda seperti bumi dan langit. Untuk menyenangkan istrinya, untuk membuatnya bahagia dan puas, sang ayah siap untuk menanggung penderitaan paling berat. Ia mengirim anak kesayangannya menjalani pengasingan ke hutan! Sebaliknya, sang putra bersama istrinya ke hutan pengasingan, untuk menghormati hukum di kerajaannya! Dua cara menghayati kehidupan secara berbeda. Dasaratha kewalahan oleh ilusi bahwa ia adalah tubuh fisik, sedangkan Rama sadar bahwa ia adalah Atma.”

Dasaratha merasa dirinya adalah pelaku dan akhirnya kebingungan sendiri dan meninggal dalam keadaan menderita. Bukankah kita seperti Dasaratha, kita selalu berpikir kita telah melakukan hal yang benar, kita sudah berupaya dengan sekuat tenaga untuk memperoleh apa yang kita inginkan, akan tetapi kita tetap saja dihadapkan lagi pada hal yang membuat kita menderita. Selama kita melihat dunia melalui jendela dualitas dan ego maka suka dan duka akan kita alami silih berganti.

Belajar dari Sri Rama

“Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, ‘Aku Sejati’, ‘Self’, ‘Atma’ adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini. Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka ‘aku’ atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya. Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan. Untuk itu, setiap orang mesti menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Ia tidak bisa melarikan diri dari kewajiban, dan mengharapkan agar pikirannya tenang. Pikiran yang tenang adalah pikiran yang suci. Dan, di atas lahan pikiran yang suci itulah tumbuh Viveka kemampuan untuk memilih mana yang tepat bagi kita, dan mana yang tidak tepat. Tumbuh pula Vairagya, ketakterikatan kepada dunia benda, karena sadar bila kebendaan itu tidak langgeng, dan berubah terus. Maka, dengan sendirinya manusia terbebaskan dari ego, ke-’aku’-an, atau identitas palsu. Ia tersadarkan bila dirinya bukanlah badan, apa lagi kelima indera yang merupakan bagian dari badan. Ia tercerahkan bila menyadari bahwa dirinya bukanlah pikiran, bukan intelejensia, tetapi pemilik kereta, Atma, Self, ‘Aku Sejati’. Ia memahami bahwa penderitaannya selama ini semata karena salah identitas.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Sri Rama tidak merasa sedih pergi bersama Sita dan Laskhmana ke hutan untuk menjalani pengasingan. Masalah yang dihadapinya adalah masalah utama dunia sejak zaman dahulu kala, yaitu “tadinya tidak ada kemudian nampak ada dan akhirnya akan tidak ada lagi. Mengapa harus bersedih?”

“Pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya bersedih hati?” Bhagavad Gita 2:28

Bapak Anand Krishna mengingatkan diri kita untuk mengendalikan pancaindera dengan pikiran. Kita perlu menaklukkan pikiran/emosi dengan intelejensia. Kita perlu berpikir jernih, “bahagiakah aku selama ini dituntun oleh pikiran/emosi? Mestikah aku  mengulangi pengalaman-pengalaman yang tidak membahagiakan itu? Tahap terakhir adalah menggunakan intelejensia untuk menemukan jatidiri. Siapakah aku? Sampai kita sadar sesadar-sadarnya bahwa aku bukan pikiran, bukan perasaan, bukan intelejensia, aku adalah wujud kebenaran sejati,  kesadaran murni, dan kebahagiaan abadi. Inilah Sat Chitta Ananda. Inilah meditasi, proses dan tujuannya. Menemukan kebahagiaan di dalam diri, sehingga tak akan mencarinya di luar diri.

Berserah Diri pada Tuhan

Maya adalah ilusi yang menciptakan dualitas panas-dingin, siang-malam, laki-perempuan, suka-duka, dan lain sebagainya. Sebab itu maya juga merupakan dasar penciptaan. Tanpa ilusi dualitas, tak akan terjadi penciptaan. Maka, selama kita masih menjadi bagian dari ciptaan, pengaruh maya mustahil untuk dihindari. Maka, kita perlu menjaga kesadaran kita supaya kita terlalu terperangkap dalam permainan maya, permainan dualitas. Seorang Sadguru mengingatkan kita akan peran penting maya dalam mempertahankan ciptaan, sekaligus bahayanya, dan mengajarkan cara supaya kita tidak tenggelam dalam lautan maya, tapi bisa berenang dengan penuh kesadaran. Pada suatu hari Beliau (Shirdi Baba) bersabda : “Aku seorang fakir, tidak punya tanggungan maupun keterikatan. Aku tinggal di satu tempat, tidak kemana-mana. Ke-‘aku’an pun telah kunafikan, tetap saja maya masih menggoda-Ku. Para dewa, malaikat pun digoda maya, apalagi seorang fakir biasa seperti diri-Ku… Hanyalah mereka yang berserah diri kepada Tuhan dan memperoleh anugerah-Nya terbebaskan dari godaan maya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Agar kita tidak mengalami kedukaan Dasaratha, kita perlu berserah diri kepada Tuhan. Bapak Anand Krishna memberi nasehat:” Hyang bekerja bukanlah kita. Kita hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Serahkan semuanya kepada Dia. Kita berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego.”

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014