Archive for gopi

Rasa Kridha: Tarian Krishna Para Gopi Larutkan Ketidakbahagiaan #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on August 7, 2017 by triwidodo

“Malam bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari jati-dirinya, adalah saat di mana para bijak yang sadar akan jati-dirinya berada dalam keadaan jaga. Dan, siang bagi makhluk-makhluk yang menyadari diri, adalah malam bagi para bijak.” Bhagavad Gita 2:69

Di sini ada yang tersurat, ada juga yang tersirat. Memang, mereka yang sedang menempuh perjalanan menuju pencerahan, kesadaran, dan pengendalian diri akan lebih senang berada dalam keadaan jaga pada malam hari, sewaktu dunia luar sedang dalam keadaan tidur. Ia dapat mempraktekkan latihan-latihan meditasi dan laku spiritual tanpa diganggu.

TETAPI, SEBENARNYA ADA ARTI LAIN… Hal-hal yang bersifatkan duniawi dan sementara, yang membuat mata mereka yang belum sadar menjadi silau, tidak dapat mengganggu seseorang yang telah mencapai kesadaran. Ia menikmati semuanya, namun tidak terikat pada sesuatu apa pun. Tidak ada lagi yang dapat menggodanya. Ia bebas dari segala-galanya.

Seorang bijak terjaga terhadap segala sesuatu yang menunjang evolusi-diri. Sebaliknya, mereka yang tidak bijak tertidur lelap terhadapnya.

Bayangkan, di antara 200-an juta penduduk Indonesia, atau di antara 6 milyar lebih penduduk dunia, adakah 1 persen saja yang betul-betul menempuh perjalanan spiritual? Jangan menghitung jumlah “praktisi yoga” yang berlatih untuk kesehatan badan, kecantikan atau ketenangan semu yang bersifat sesaat saja.

PERHATIKAN JUML AH FOOD COURTS, Mall, dan tempat-tempat hiburan lainnya, yang kian bertambah, jauh melebihi proporsi pertumbuhan penduduk.

Kesadaran umum memang masih terjebak dan terperangkap di tengah benda-benda duniawi yang menyamankan bagi indra. Nikmat bagi badan.

Bicaralah tentang kesadaran diri dengan mereka. Dan, mereka akan menertawakan Anda. Bicaralah tentang restoran terbaru di ujung langit, dan mereka langsung memasang kuping – all ears – menjadi tertarik!

Inilah makna tersirat di balik malam bagi mereka yang tidak sadar, adalah siang bagi mereka yang sadar; dan siang bagi mereka yang tidak sadar, adalah malam bagi mereka yang sadar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Rasa adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki beberapa arti, termasuk: “rasa”, “juice“, “cairan tubuh”, “cairan yang mampu melarutkan logam (merkuri).” Rasa adalah jus termanis dari Prema, cinta murni.

Kreedha, Kridha adalah tindakan. Rasa Kridha berhubungan dengan tindakan penuh rasa yang melarutkan semua ketidakbahagiaan.

Lila mempunyai makna yang dekat dengan permainan, antara Gusti dengan bhakta-Nya.

Krishna berusia sepuluh tahun ketika ia melakukan Rasa Lila. Selama tarian, para gopi hanya melihat Krishna saja. Mereka lupa semua tentang keluarga mereka. Hati mereka larut dalam Krishna. Krishna melakukan Rasa Lila untuk menghancurkan kemelekatan pada tubuh melalui cinta murni atau Prema. Dia mengajarkan manusia melalui Rasa Lila bagaimana mentransformasi passion menjadi compassion, cinta murni, dan bagaimana untuk menyapih pikiran dari Vasanas, naluri seksual. Dia menunjukkan bahwa melalui Rasa Madhurya cinta antara seorang pencinta dengan yang dicintainya, maka seseorang dapat mengalami total penyerahan diri atau Atma-Nivedana, dan mencapai Sayujya atau penyerapan dalam Tuhan atau suami dari hati kita.

Dikisahkan pada zaman Treta Yuga, para rishi di Hutan Dandakaranya yang menjadi bhakta Sri Rama, ingin menjadi wanita untuk lebih dapat merasakan cinta Sri Rama. Dalam kelahiran berikutnya mereka lahir sebagai para gopi di Brindavan. Sebetulnya cinta Gusti bukan hanya kepada para wanita. Para sufi mengatakan bahwa mereka semua adalah wanita, yang menjadi satu-satunya pria adalah Dia, Gusti Pangeran.

Pada suatu malam, Krishna meniup seruling dengan suara yang begitu indah dan para gopi segera meninggalkan kegiatan mereka untuk pergi ke Hutan Brindavan tempat Krishna memainkan serulingnya. Pada awalnya, Krishna menggoda dengan mematahkan semangat para gopi dengan mempertanyakan mengapa mereka pergi ke hutan pada waktu malam hari. Apakah para gopi tidak takut dengan binatang yang berkeliaran di hutan tersebut. Krishna menyarankan para gopi pulang, seorang perempuan pada malam hari sebaiknya berada dekat dengan keluarganya.

Para gopi begitu sedih kala Krishna berkata demikian dan mengapa Krishna berbicara dengan kejam tanpa perasaan kepada mereka. Mereka datang ke tempat Krishna mengesampingkan semua hubungan duniawi untuk menyerahkan diri pada seorang kekasih.

Setelah mendengar kesungguhan cinta para gopi, Krishna mulai menyanyi dan menari dengan mereka sambil berjalan-jalan. Mereka mencapai tepi Sungai Yamuna yang berpasir. Mereka semua sangat berbahagia. Namun para gopi merasa bangga, mengingat diri mereka sebagai orang-orang yang sangat beruntung dari semua wanita di dunia karena dikasihi Krishna. Timbul rasa ego dalam diri para gopi. Dan Krishna tiba-tiba menghilang…

Ketika Krishna menghilang, para gopi mulai mencari di setiap tempat. Mereka bertanya kepada pohon-pohon, dan binatang di hutan apakah mereka melihat Krishna. Mereka juga saling bertanya kepada sesama gopi, Krishna berada di mana. Setelah mereka kelelahan, mereka melihat jejak sepasang manusia dan mereka mengikuti jejak-jejak tersebut. Mereka berkesimpulan bahwa ini adalah jejak kaki gopi Radha Rani dan Krishna. Selanjutnya mereka melihat hanya tinggal jejak kaki Krishna yang lebih dalam, berarti Radha Rani sedang dipanggul oleh Krishna sambil berjalan.

Radha Rani mencintai Krishna sangat dalam. Saat para gopi lainnya merasa sangat bangga bahwa mereka adalah wanita yang paling beruntung karena dicintai Krishna, Radha tenggelam dalam kontemplasi terhadap Krishna. Krishna menggandeng Radha yang tidak merasa paling dicintai oleh Krishna. Ketika mereka sampai jauh di tengah hutan, Radha mengatakan bahwa ia sangat lelah dan tidak kuat berjalan lagi. Krishna mengangkat Radha di pundaknya dan Radha  mulai diserang kebanggaan halus bahwa Krishna meninggalkan semua gopi untuk dirinya. Rasa ego mulai muncul…..

Radha sedang dinaikkan ke cabang pohon untuk kemudian naik ke pundak Krishna. Saat merasuk kebanggan halus bahwa dia lebih disayangi Krishna daripada para gopi lainnya, rasa ego muncul, dan Krishna pun kemudian menghilang.

Saat semua gopi datang mereka melihat Radha berada di atas cabang pohon. Radha kemudian menceritakan apa yang terjadi. Mereka sadar atas kesalahan mereka terhadap Krishna, mereka kemudian bersama-sama mencari Krishna. Ketika upaya mereka sia-sia, mereka duduk di tepi Sungai Yamuna dan mulai melantunkan lagu-lagu tentang kemuliaan Krishna. Mereka berulang kali meminta Krishna muncul lagi. Akhirnya, Krishna pun muncul……..

Rasa bahagia tak terkira dirasakan oleh para gopi. Kemudian Krishna memulai tarian rasa. Krishna menari di tengah-tengah para gopi dan Krishna kemudian memperbanyak diri-Nya dan setiap gopi merasa masing-masing sedang menari bersama Krishna. Merasa gerah mereka kemudian mandi di Sungai Yamuna. Mereka kemudian menari dan menyanyi semalaman. Menjelang fajar para gopi diminta kembali ke rumah mereka. Dengan rahmat Krishna, keluarga mereka di rumah tidak merasa bahwa para gopi telah bepergian semalaman.

 

Cinta gopi  kepada Krishna bukanlah gelora gairah fisik. Itu adalah cinta tertinggi. Bagi mereka, Krishna adalah Gusti yang hidup. Dia adalah Gusti yang mewujud. Ketika mereka memikirkan Gusti mereka lupa kegiatan duniawi mereka. Mereka bergabung dalam kasih Gusti. Krishna menarik hati mereka sejak masa kanak-kanak. Krishna adalah anak yang sangat menawan. Para gopi mulai mencintai Krishna sejak kelahiran-Nya. Para ibu membelai dan mencintai Krishna seakan-akan anak mereka sendiri. Gadis-gadis gopi mencintai Krishna sebagai saudara mereka sendiri. Begitulah hubungan antara para gopi dan Krishna. Mereka selalu mengingat Krishna sambil melakukan tugas mereka sehari-hari.

Mungkin saat para gopi bertambah usia mereka mendambakan cinta fisik juga, tetapi Krishna paham dan menghilangkan gairah fisik di dalam diri mereka. Krishna melakukan rasa lila dengan para gopi dengan memperbanyak dirinya. Ini membuat para gopi heran dan takjub. Mereka menikmati kebahagiaan samadhi atau penyatuan dengan Gusti.

Lagu dari para gopi dalam Bhagavata Purana memberikan banyak bukti bahwa mereka menganggap Krishna sebagai Gusti Yang Agung. Keajaiban Krishna sejak masa kecil-Nya membuat mereka percaya pada Kemahatahuan dan kemahakuasaan Krishna. Cinta kasih para gopi terhadap Krishna bersifat ilahi, jauh dari kenikmatan indrawi. Rasa Lila adalah krida ilahi dengan para bhakta untuk membawa penyatuan mereka melalui Prema atau cinta ilahi yang murni. Rasa adalah jus termanis dari Prema. Rasa Lila Krishna adalah misteri dari misteri. Ini adalah rahasia dari rahasia. Ini berisi Rasa Madhurya, kasih antara pencinta dan yang dicintai, kemuliaan Bhakti, yang mengarah ke penyerahan diri mutlak kepada Gusti.

Krishna Kecil: Rindu Wujud Krishna atau Rindu Parabrahman? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 6, 2017 by triwidodo

Intensitas perasaan dan ingatan terhadap Tuhan

“Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan.”

“Para Sufi dan mistik para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini.”

“Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini.”

“Intensitas, suatu hal mendasar yang hilang dalam kehidupan kita kini. Kita tidak menjalani kehidupan secara intens. Kita menjalaninya biasa-biasa saja. Karena itulah kita kurang bahagia. Intensitas dan kebahagiaan berjalan beriringan.”  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Pada saat bulan purnama, Krsna meniup serulingnya. Suara seruling dari tepi sungai Yamuna itu sampai ke Brindavan, menyentuh telingan para Gopi yang juga sedang teringat pada Krishna. Semua gopi meninggalkan pekerjaannya menuju asal suara seruling. Ada yang sedang memerah susu sapi dan periuk isi susunya ditinggalkan. Ada yang sedang mendidihkan susu, dan apinya diperbesar, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan untuk berlari menuju Sungai Yamuna. Ada gopi yang meninggalkan pekerjaan menanak nasi, tidak peduli apa yang akan terjadi, semua ditinggalkannya. Ada wanita yang sdang menyuapi anak, dan anak tersebut ditinggalkan begitu saja.

Suami, anak, pekerjaan semua ditinggalkan demi pertemuan dengan Krishna.

Kesalahan-kesalahan mereka dibakar oleh cinta mereka terhadap Krishna. Mereka mencapai moksha dalamm kehidupan ini.

Parikshit bingung dan bertanya kepada Rishi Shuka, “Guru, mereka mencintai Krishna, tapi tidak sebagai Parabrahman, bukan sebagai Dia Hyang Maha Agung, mereka mencintai Krishna sebagai seorang kekasih. Mengapa mereka mencapai moksha? Apakah cinta semacam itu disebut bhakti?”

Rishi Shuka berkata, “Tidakkah Raja mendengar, mereka yang minum nectar, walau tercampur racun, pengaruh racun akan hilang dan mereka teta menerima manfaat nectar? Setiap saat yang dipikir oleh para gopi adalah Krishna. Bagi Gusti yang penting adalah intensitas dan perasaan. Justru sifat kejantanan bisa menjauhkan kita dari Gusti……

Bisakah kita selalu mengingat Gusti Pangeran dan  rindu pada-Nya seperti rindunya para gopi atau para sufi? Mabok cinta pada Gusti.

 

Mereka yang menjadi Mempelai Gusti

Yang anda sebut “logis”, rasional”, dan “realistis” adalah produk-produk mind. Dan mind sendiri tidak pernah berada di satu tempat. Kadang ada, kadang tidak ada. Itu sebabnya anda selalu ragu-ragu. Undangan untuk memasuki “Balai Pertemuan” pun anda sia-siakan. Anda sakit. Kejantanan, kepriaan, kelelakian – itulah penyakit anda. Sadarilah penyakit diri. Obatilah penyakit anda. Jadilah “wanita”, karena yang bisa masuk ke dalam Balai Pertemuan hanyalah para “Pengantin Wanita”.

Perhatikan senyuman mesra pada wajah Krishna dan kedamaian abadi pada wajah Siddhartha. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan. Lihatlah cahaya kasih yang terpancarkan lewat wajah Yesus. Perhatikan kepolosan hati Muhammad. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

 

Badan pun rindu dengan Gusti

Sesungguhnya, para Gopi menyadari kemahaadaan-Krishna. But, what about the body? Bagaimana dengan badan ini? Kita masih berbadan. Anda dan saya masih berbadan. Sementara roh telah mengalami persatuan dan kesatuan rohani, bagaimana dengan badan?

Badan merasa iri. Dia pun ingin merasakan kesatuan dan persatuan semacam ini. Apalagi “setelah” terjadi pertemuan rohani!

Itu sebab para bhakta, para pencinta Allah merindukan Allah. Sadar akan kemahahadiran-Nya, sadar akan kemahaadaan-Nya, sadar Dia ada di mana-mana — di dalam dan di luar diri — tetapi tetap rindu.

Sebelum terjadi pertemuan rohani kerinduan semacam ini tidak ada. Yang ada hanyalah “kehausan intelek untuk memahaml-Nya. Paling banter, tuntutan rasa untuk merasakan-Nya.

Intelek boleh berkata Tuhan ada di mana-mana. Rasa boleh merasakan kehadiran-Nya. Badan tetap saja haus. Bagaimana bertemu dengan-Nya?

Di balik wujud putra Vasudeva, para Gopi melihat “apa” yang dilihat Maria Magdalena di balik putra Yosep.

Adanya patung para nabi dan santo-santa dalam agama Katolik, para buddha dan bodhisatva dalam agama Buddha atau para avatar dan deva dalam agama Hindu, dimaksudkan untuk menghibur “kesadaran” badaniah dalam diri manusia. Demikian pandangan saya. Sekali lagi, anda tidak perlu menerimanya.

Sekarang kesadaran badaniah kita hanya melirik para Madonna dan Michael Jackson. Ratusan ribu bahkan jutaan orang akan menghadiri acara “Jumpa Fans”. Mati terhimpit pun rela, asal bisa dekat dengan bintang idola.

………..

Melirik dan berkiblat pada Madonna sama saja. Kesadaran badaniah kita masih melirik pada “badan”. Entah itu badan Madonna, atau pemimpin partai dan kelompok itu sendiri.

Sebaliknya kesadaran badaniah seorang Bhakta, seorang pencinta Tuhan, melirik Tuhan. Apa lagi yang bisa dilirikinya? Maka setiap sifat ilahi, diwujudkannya dalam bentuk patung. Dalam bentuk tulisan indah. Dalam bentuk syair pujian. Salahkah mereka?

Mereka bukanlah penyembah patung. Penilaian kita selama ini sangat bias, keliru, tanpa pemahaman betul tentang apa yang mereka yakini.

Keyakinan mereka pun berlandaskan kasih, sama seperti keyakinan kita, keyakinan Anda dan saya — Kasih Sejati, Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas…….. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)