Archive for hanuman factor

Raja Saudasa: Leluhur Sri Rama #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 15, 2017 by triwidodo

Memahami Kisah-Kisah Srimad Bhagavatam di zaman yang berbeda

Dikatakan ada Zaman Emas, Perak, Tembaga, dan Besi. Orang-orang zaman dahulu mengaitkan emas dengan Kebenaran (Zaman Awal sebelum Sri Rama), perak dengan Kebajikan (Zaman Sri Rama), tembaga dengan penurunan kualitas (Zaman Sri Krishna), dan hitam dengan kejahatan merajalela (Zaman setelah Sri Krishna). Kisah Srimad Bhagavatam sebelum Sri Rama terjadi pada Zaman Emas. Berikut penjelasan zaman-zaman tersebut pada buku The Hanuman Factor:

Pada Zaman Emas (Satya Yuga), hidup adalah sederhana, begitu juga orang-orangnya. Kebenaran-lah yang mengatur sistem sosial. Kebenaran-lah yang menjadi hukum dan peraturan kehidupan. Orang-orang pada zaman itu sangat waspada terhadap pikiran-pikiran mereka, dan tidak akan mengijinkan benih-benih kebatilan tumbuh di dalam pikiran mereka. Kebenaran pun menjadi jalan menuju hidup yang terberkati.

                Hal yang demikian tidak terjadi pada Zaman Perak (Treta Yuga). Hidup menjadi lebih rumit, yang membuat orang semakin sulit dalam mengawasi pikiran mereka yang menghasilkan penyelewengan pada mind manusia. Sistem sosial tidak lagi diatur oleh kebenaran dan pikiran yang jernih, tetapi oleh seperangkat aturan buatan manusia. Orientasi manusia bergeser dari pikiran menjadi perkataan dan perbuatan.

                Berikutnya, pada Zaman Tembaga (Dvapara Yuga), bahkan kata-kata serta perbuatan yang tepat pun sering diabaikan. Orang-orang melakukan semua jenis kejahatan untuk memenuhi keinginan-keinginan duniawi mereka. Maka pada zaman inilah supremasi cinta diagungkan. Para bijak menyampaikan bahwa cinta adalah solusi bagi semua kejahatan. Sebuah golden rule mengatakan, “Lakukan pada orang lain, hal yang kau inginkan dari orang lain melakukannya kepadamu”.

                Yang terakhir adalah Zaman Besi (Kali Yuga)—zaman di mana kita hidup sekarang ini. Kita sudah berada di zaman ini sejak 5000 tahun terakhir. Berdasarkan pada beberapa perhitungan, kita sedang berada di akhir sebuah siklus. Kita akan segera memasuki sebuah siklus baru, permulaan Zaman Emas lagi. Zaman Besi ditandai dengan berkurangnya kedamaian. Jika tidak ada kedamaian di dalam rumah tangga, maka tidak ada kedamaian di dalam lingkungan kita, tidak ada kedamaian di desa kita, kota kita, dan tidak ada kedamaian di negeri kita dan tidak ada kedamaian di dunia kita. Konflik dan kekerasan, yang sering berujung pada perang, berkuasa penuh pada zaman ini. Kebenaran, Kebajikan dan Cinta, semuanya mengalami penurunan. Dikutip dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kutukan Istri Brahmana

Pada suatu ketika ada seorang brahmana bersama istrinya berkasih-mesra di hutan tersebut. Sebagaimana kebiasaan raksasa, maka sang raja yang menjadi raksasa berkeinginan untuk makan daging brahmana tersebut. Istri sang brahmana mengingatkan bahwa diri sejati sang raksasa adalah seorang raja manusia, agar dia bertindak sebagai seorang raja manusia dan tidak membunuh suaminya. Sang raja dalam kehidupannya sebagai raksasa dalam lingkungan hutan belantara tidak dapat mengendalikan sifat keraksasaannya, sehingga dia tetap membunuh dan makan daging sang brahmana……..

Istri sang brahmana kemudian membakar sisa tulang suaminya dan melompat ke dalam api pembakaran, mengikuti sang suami. Sang istri brahmana sempat mengutuk, karena sang raja membunuh brahmana dan menyebabkan istrinya mati, maka dia tidak akan bisa berhubungan suami-istri dengan sang permaisuri.

Setelah 12 tahun menjalani kehidupan sebagai seorang raksasa, sang raja kembali menjadi manusia dan memerintah kerajaannya lagi. Sang raja menceritakan pengalamannya kepada permaisuri bahwa dia telah membunuh suami-istri brahmana, dan mendapat kutukan dari istri brahmana tersebut yang menyebabkan dia tak bisa lagi berhubungan dengan istrinya.

Sepasang suami-istri tersebut menyadari bahwa tidak mudah membayar karma dalam satu kehidupan akibat kesalahan yang telah dibuatnya pada masa lalu. Selalu saja terjadi banyak kemungkinan seseorang akan membuat karma baru dalam kehidupan kini. Setiap orang perlu menjaga diri agar dapat hidup berkesadaran.

Mereka berdua kemudian menyerahkan diri mereka kepada Rishi Vasishtha, guru mereka, agar mereka dapat menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran. Rishi Vasishtha termasuk Sapta Rishi, 7 jenis genetika awal manusia. Pada kisah Srimad Bhagavatam semua manusia berasal dari 7 Maha Rishi tersebut.

Dengan bantuan Rishi Vasishtha akhirnya mereka mempunyai putra bernama Asmaka. Setelah kelahiran sang putra, Saudasa beserta istrinya meninggalkan istana dan dikisahkan mencapai kebebasan.

Dalam garis keturunan Asmaka, lahir raja bijak Khatvanga yang dapat mencapai Gusti Pangeran dalam waktu satu muhurta, 48 menit saja. Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/12/21/kemuliaan-kematian-maharaja-khatvanga-kisah-srimadbhagavatam/

Khatvanga mempunyai putra Dirghabahu. Dirghabahu mempunyai putra Raghu. Raghu mempunyai putra Aja. Aja mempunyai putra Dasaratha yang kemudian mempunyai putra Sri Rama, Lakshmana, Bharata, dan Satrughna.

Advertisements

Pengantar Blog Kisah Spiritual Yang Tak Lekang Zaman

Posted in Mahabharata with tags , , , on July 28, 2013 by triwidodo

buku the hanuman factor

“Sejarah adalah kata-kata tertulis. Dan kata-kata yang tertulis selalu subyektif. Ia tidak bisa memisahkan dirinya dari subyektifitas sang penulis. Seorang penulis, siapa pun penulis tersebut, tidak bisa sepenuhnya memisahkan dirinya dari conditioning mentalnya. Sebaliknya, mitos tidaklah bergantung pada kata-kata yang tertulis semata. Mitos merangkul sejarah tertulis sekaligus legenda maupun cerita-cerita rakyat yang tidak tertulis. Selain itu, mitos juga terbuka pada setiap penambahan, insight, apa saja. Mitos seperti Wikipedia, sebuah ensiklopedia yang terbuka.” Terjemahan Bebas dari Kutipan buku The Hanuman Factor (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Cukup banyak terkumpul kisah-kisah dari Blog http://triwidodo.wordpress.com/. Kisah-kisah tersebut dicoba dikemas ulang dengan sudut pandangan khusus bahwa kisah-kisah tersebut terjadi dalam diri kita. Diri kita adalah pemeran dari semua peran yang ada dalam kisah tersebut. Semua pandangan ke dalam diri tersebut diilhami oleh pandangan Bapak Anand Krishna yang telah mengubah hidup banyak orang menjadi lebih bermakna.

Ada kisah Bharatayuda, Ramayana, Srimad Bhagavatam, Kisah-kisah yang tertera pada Candi-Candi di Indonesia, Legenda-Legenda Daerah, Kisah-kisah Dewi Lalitha dan lain-lain yang mungkin berkembang nantinya.

Kisah-kisah yang diketengahkan untuk menggugah rasa, diharapkan dapat meningkatkan kesadaraan kita semua. Kami kutip pandangan Bapak Anand Krishna tentang Alam Rasa: “Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa… dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih!” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Salam!

Situs Artikel Terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013