Archive for hanuman

Menemukan Kesadaran dengan Mendengar Sepenuh Hati

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 28, 2018 by triwidodo

Kisah Sang Bijak dan Menteri Raja

Dikisahkan oleh seorang Master tentang seorang bijak menemui Raja yang sedang duduk bersama para menteri, para pakar dan seniman. Sang Raja menghormati Sang Bijak dan mengucapkan terima kasih karena telah berkenan mengunjungi istana. Sang Bijak berkata bahwa dia mendengar bahwa Sang Raja dan Para Pejabatnya terkenal karena kebijaksanaannya. Sang Bijak berkata bahwa dia membawa 3 boneka dan ingin Menteri Sang Raja memberi penilaian dan evaluasi terhadap ketiga boneka tersebut.

Sang Raja menerima 3 boneka dari Sang Bijak dan memanggil Menteri Senior untuk melakukan penilaian dan evaluasi. Sang Menteri Senior  meminta seorang stafnya untuk mengambil 3 potong kawat baja tipis. Raja dan Para Pejabat penuh semangat memperhatikan apa yang dikerjakan Sang Menteri Senior.

Sang Menteri memasukkan kawat ke telinga kanan boneka pertama dan kawat itu menembus keluar dari telinga kiri. Kemudian, Sang Menteri memasukkan kawat ke telinga boneka kedua  dan kawat menembus keluar dari mulut boneka. Selanjutnya, Sang Menteri memasukkan kawat ke telinga boneka ketiga, tapi kawat tersebut tidak menembus ke luar baik di telinga lainnya maupun mulut boneka.

Sang Menteri berkata kepada Sang Bijak bahwa adalah boneka ketiga yang terbaik. Ketiga boneka itu adalah simbol dari tiga tipe pendengar. Tipe pertama mendengarkan setiap kata hanya untuk disampaikan kepada telinga yang lain. Tipe kedua mendengar dengan baik, mengingatnya dengan baik hanya untuk mengatakan semua apa yang dia dengar. Tipe ketiga mendengarkan dan mempertahankan semua yang mereka dengar dan menyimpannya dalam hati mereka.  Tipe ketiga adalah tipe pendengar terbaik. Sang Bijak tersenyum dan menyampaikan apresiasi kepada Sang Raja dan Para Menteri, selanjutnya memberkati mereka dan meninggalkan istana.

Shravanam (mendengar dengan penuh perhatian terhadap nasehat bijak) adalah yang pertama dan terdepan di antara sembilan tipe devosi. Setelah mendengar kata-kata bijak, kita harus mencoba menggali makna dan pesan mereka di dalam pikiran kita dan mempraktekannya.

Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan macam-macam Devosi 1. Shravana (Mendengarkan Kisah Ilahi). 2. Kirtana (menyanyikan lagu-lagu Ilahi). 3. Smarana (mengingat Tuhan berulang-ulang). 4. Padasevana (berserah diri pada Ilahi). 5. Archana (melakukan persembahan bagi Tuhan). 6. Vandana (menghormati Tuhan dan setiap wujud Tuhan). 7. Dasya (melayani Tuhan). Bila ke 7 Devosi telah dilakukan akan sampai pada tingkatan 8. Sakhya (suka atau tidak suka sesuai kehendak Tuhan) dan 9. Nivedana (menganggap dirinya sebagai persembahan).

 

Jadilah Pendengar yang Baik Jangan Terlalu Banyak Bicara

Jadilah seorang pendengar yang baik! Selama ini kita terlalu banyak bicara. Energi kita mengalir ke luar terus-menerus. Memperhatikan orang lain melulu, sehingga diri sendiri tidak terurus, sehingga suara nurani dan ilham pun tak terdengar. Kita lupa meniti jalan ke dalam diri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Dengarlah lebih banyak, berbicara lebih sedikit. Anatomi tubuh Anda membuktikan hal ini. Anda mempunyai dua telinga, dan hanya satu mulut. Kita tidak mempunyai satu telinga di tengah wajah kita dan dua mulut di samping. Bayangkan apabila demikian, betapa lucunya kita! Lagi pula fakta-fakta berikut ini patut kita perhatikan: telinga tidak punya penutup dan sebelum kita berbicara, kata-kata kita harus melewati dua pagar yaitu gigi kita dan bibir kita. Jadi, sebelum berbicara seyogyanya kita pikirkan dulu dua kali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kesadaran untuk Mendengar, Memahami dan Menemukan Kesadaran

Abu Bakar mendengar suara Muhammad, dan memahaminya, maka dia menemukan Kebenaran. Abu Jahl juga mendengar suara Muhammad, tetapi tidak memahaminya, maka dia tidak menemukan kebenaran, padahal sudah ratusan tanda yang diperlihatkan kepadanya. Demikianlah manusia. Kita hanya mendengarkan apa yang ingin kita dengarkan. Kalau sudah tidak “sreg” dengan seseorang, apa pun yang dia katakan akan kita salahpahami. Sedikit-sedikit, kita akan tersinggung. Sebaliknya, kalau “sreg” dengan seseorang, apa pun yang dia katakan akan kita terima.

Dalam hal berhadapan dengan seorang nabi, seorang avatar, seorang buddha, atau seorang mesias, ke-“sreg”-an yang dibutuhkan adalah kesadaran. Tanpa kesadaran, kita tidak bisa memahami mereka. Kesadaran bahwa diri kita sakit dan membutuhkan dokter-itu saja sudah cukup. Ya, kesadaran secuil itu, sebatas itu pun sudah cukup. Masalahnya, kita sama sekali tidak memiliki kesadaran. Sudah lama menderita, sudah terbiasa hidup dengan rasa sakit, itu yang menjadi masalah. Begitu sadar bahwa diri anda sakit, jangan menunggu lama. Cepat-cepat carilah seorang dokter. Biarkan dia mengobati anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mempraktekkan Apa yang Telah Didengar dan Dipahami

Sekadar pemahaman tidak akan membantu kita. Tidak akan terjadi perkembangan jiwa dalam diri kita. Sekadar pemahaman bahkan bisa mengelabui kita. Kita pikir sudah paham, ya sudah cukup, lantas kita duduk diam kita lupa melakoni apa yang kita pahami. Sekadar pemahaman sangat berbahaya, karena kita bisa tertipu olehnya. Pemahaman tanpa laku, tanpa penghayatan, tidak bermakna sama sekali, tidak berarti sama sekali. Apa yang kita baca, apa yang kita pahami, harus kita lakoni pula. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kembangkan Sistem Penyaring dalam Diri Kita

Pesan untuk mendisiplinkan pendengaran kita, “Jangan mendengar yang buruk”. Tentu saja kita tidak dapat menutup telinga kita. Suka atau tidak, kita tetap harus hidup di dunia ini dengan telinga kita dalam keadaan terbuka. Dan bersama dengan hal-hal yang baik, tidak terelakkan telinga kita akan mendengar hal-hal yang buruk juga.

Apa yang mesti kita lakukan jika demikian? Kembangkanlah sistem penyaring di dalam diri, sehingga kita tidak harus “menyimak” apa yang kita dengar. Biarkan telinga kita mendengar karena itu memang tugasnya. Kita tidak bisa menghentikan mereka menjalankan tugas mereka. Namun, jiwa kita dapat memutuskan apa yang harus kita simak dengan seksama. Terjemahan dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mendengarkan Orang yang Kita Yakini sebagai Pembawa Pesan Ilahi

Hanuman adalah pendengar yang baik, yang penuh perhatian, selalu bersemangat untuk mendengarkan Sri Rama. Tergantung dari apa yang Anda dengarkan, Anda bisa belajar tentang perdagangan, Anda dapat menguasai bidang tersebut. Hanuman tengah mendengarkan Rama, dan kisah-kisah tentang Rama. Ia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang diwakili oleh Rama. Maka pantaslah jika ia pada akhirnya bersatu dengan keluhuran yang ia agungkan, dengan Rama.

Inilah hukum timbal-balik yang sederhana. Jika Anda mencintai seseorang dengan segenap hati, pikiran, dan jiwa Anda, maka orang tersebut pasti akan membalas cinta Anda. Jika Anda tetap teguh dan tidak mudah patah semangat, serta berupaya mempertahankan intensitas cinta Anda—maka Anda dapat memenangkan hati siapa saja. Hanuman memenangkan hati Rama, Laksmana, dan Sita dengan cinta. Rama mewakili Yang Maha Luas, Yang Senantiasa Meluas, Tuhan yang bersemayam di hati semua makhluk. Rama adalah Yang Maha Besar, Anda bisa menyebutNya Allah, Buddha, Jehovah, Satnaam, apa saja. Rama adalah kesadaran murni. Sita, istri Rama, mewakili bumi, atau dunia benda. Ini adalah makna harfiah dari namanya. Sita mengingatkan kita untuk tetap membumi di dunia benda ini. Terjemahan dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Jejak Kaki Narada dan Bhakti Hanuman Kecil #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 5, 2018 by triwidodo

Dikisahkan dalam Bhagavatam Katha, Hanuman Kecil mendengar alunan musik Vina yang mengiringi nyanyian merdu mengagungkan Gusti Pemelihara Jagad Raya. Anjani, sang ibu berkata bahwa itu adalah suara Rishi Suci Narada bhakta Sri Vishnu.

Hanuman melompat menemui Narada dan mohon blessings. Ditanya Narda blessing apa yang diperlukan dan dijawab blessings apa saja. Narada berpikir bahwa Hanuman tidak punya bakat menyanyi, maka sang rishi membekati Hanuman untuk menguasai nyanyian ilahi. Selesai memberkati Hanuman, Narada akan pergi melanjutkan perjalanan tapi ditahan Hanuman. Hanuman berdalih, bagaimana dia tahu sudah bisa menyanyi ilahi. Harus dicobanya terlebih dahulu.

Narada meletakkan Vina di atas batu karang dan bersiap mendengarkan Hanuman menyanyi. Hanuman menyanyi lagu keilahian dan batu karang bisa mencair dan Vina mengambang di atas cairan batu. Sang rishi sangat menikmati nyanyian ilahi tersebut. Kemudian Hanuman mohon sang rishi membuka mata. Narada membuka mata dan akan mengambil Vina dan pergi melanjutkan perjalanan. Akan tetapi Vina tidak dapat diambil, terjepit cairan batu karang yang mengeras kembali setelah nyanyian berhenti.

Narada minta Hanuman menyanyi lagi agar batu karang mencair dan Narada bisa mengambil Vina-nya. Sang rishi tahu bahwa minggu lalu Hanuman membuat repot dunia karena dia menelan matahari sehingga dunia gelap gulita. Dan sewaktu akan dihukum Deva Vayu marah dan dunia kacau karena angin tidak mau bertiup. Akhirnya dicapai kesepakatan Hanuman tidak dihukum karena ketidakmengertiannya dan berjanji menjadi anak baik.

Hanuman malah berlari ke rumahnya, dan jadilah sang rishi mengejar. Dan kejar-kejaran terjadi di seluruh kamar dan halaman rumah. Anjani bertanya apa yang terjadi dan minta Hanuman tidak nakal lagi. Sang rishi berkata bahwa Hanuman mulai nakal lagi sehingga Vina-nya terjepit di batu karang dan Hanuman harus menyanyi lagi agar batu karang mencair dan sang rishi bisa mengambil Vina.

Hanuman langsung bersujud di kaki Narada, “ Wahai Rishi Suci, Bhakta Gusti Sang Pemelihara Jagad, kami hanya bermaksud kaki paduka menginjak seluruh rumah kami. Dan debu kaki paduka telah memberkati rumah ini dengan menginjak seluruh ruangan. Di manapun saya berada di rumah ini saya akan merasa terberkati.”

Hanuman segera menyanyi lagi, Vina diambil sang rishi dan berpesan, “Hanuman kau sudah diberkati, kau adalah bhakta abadi Sri Rama!” dan Narada melanjutkan perjalanannya.

Para sadguru sangat tulus, Rishi Narada mengajari Hanuman hal yang tidak diketahui sampai menjadi master. Ikuti sadguru ketika mengajak kita melakukan nada yoga, banyak hal yang berguna yang belum kita pahami. Penggal kepala ego diri dan serahkan pada sadguru, biarkan dia bekerja dan kita akan menjadi alat-Nya yang bermanfaat bagi diri kita sendiri.

Setiap kita ke ashram, atau ke tempat suci yang pernah dipijak seorang sadguru, selalu bersyukur seperti Hanuman yang berada di kamar mana pun semuanya sudah diberkati orang suci………

Dengan segenap kemampuannya, dengan sikap nakalnya yang tulus, sebenarnya Hanuman menempuh jalan bhakti. Hanuman adalah jalan bhakti itu sendiri, jalan yang menyelamatkan kita dalam perjalanan kehidupan kita………………..

Hanya melalui Jalan Bhakti kita memahami bahwa dunia ini adalah sinetron belaka

Kita hidup dalam Sinetron Jagad Raya. Adanya tiga sifat alam – Sattva yang menenangkan, Rajas yang penuh gairah, dan Tamas yang membuat malas dan membodohkan, membuat kita merasa benar-benar hidup nyata. Dan,  kita lupa bahwa kita ini sebenarnya sedang main di atas layar sinetron yang bersambung. Hanya melalui jalan bhakti kita bisa bisa memahami permainan sinetron yang terasa nyata dan selanjutnya kita dapat melepaskan diri dari permainan yang tak kunjung usai.

 

“Tirai Maya, hijab ilusif, yang terbuat dari tiga sifat alam – Sattva yang menenangkan, Rajas yang penuh gairah, dan Tamas yang membuat malas dan membodohkan – memang sungguh menakjubkan dan sulit dilampaui. Hanyalah mereka yang senantiasa berbakti pada-Ku, dan Jiwanya terpusatkan pada-Ku yang akan dapat melampauinya.” Bhagavad Gita 7:14

Maya – kekuatan ilusif ini adalah kekuatan-Nya, yang menimbulkan, memunculkan “kesan ciptaan”. Ya, “kesan ciptaan” – seperti kesan suka-duka, banjir-kering, panas-dingin, kelahiran-kematian, dan sebagainya yang kita peroleh saat menyaksikan sebuah pertunjukan. Semuanya sekadar kesan.

Kelahiran dan kematian; suka dan duka adalah tuntutan “peran” yang dimainkan oleh para pemain di atas panggung. Ketika “peran” itu berakhir, si pemain tidak ikut berakhir dengannya. Ia bisa muncul lagi dalam periode berikutnya, melanjutkan perannya. Atau, bahkan memainkan peran lain. Atau muncul dalam kisah lain.

Memang membingungkan – Kita selalu dibingungkan oleh kisah-kisah yang seolah tidak berkesinambungan, sebagaimana seseorang yang tiba-tiba menonton satu episode sinetron yang sudah berjalan lama. Ia tidak mengetahui kisah awalnya. Ia tidak tahu alur ceritanya seperti apa.

Mengetahui seluruh cerita, menyaksikan sinetron atau serial dari awal pun sesungguhnya hanyalah untuk menghibur diri. Janganlah percaya pada  peran yang dimainkan oleh setiap pemain. Itu bukan karakter mereka, bukan sifat mereka yang sesungguhnya.

Tertipu oleh peran – tertipu oleh karakter-karakter di atas panggung. Kita pun sedang menuju nasib yang sama. Mati secara alami dalam keadaan kecewa atau mati bunuh diri – sama saja. Unsur kekecewaan ada dalam keduanya.

Tapi apakah setiap orang mesti mengalami nasib yang sama? Tidak, Krsna meyakinkan kita bahwa jika kesadaran kita terpusatkan pada Sang Aku Sejati, pada Sang Jiwa Agung, maka kita tidak perlu mati dengan cara yang mengenaskan itu. Kita bisa mati sambil tersenyum, “Terima kasih peranku sudah selesai!” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Akrura: Pembawa Pesan Krishna ke Hastina #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 26, 2017 by triwidodo

Pembawa pesan seperti Hanuman bukan Angada

Rama pernah mengutus Angada, untuk bernegosiasi dengan Rahvana, “Jika Yang Mulia berkenan melepas Sita, saya akan menarik para prajurit saya,” pesan Rama sangat jelas. Ia tidak berada di sana untuk sebuah ekspedisi militer untuk menganeksasi Lanka kedalam kerajaannya.

Rahvana tetap bersikukuh. Ia tidak mau melepaskan Sita. Ia justru mencoba mempengaruhi Angada untuk berkhianat pada Rama. Ia meracuni pikiran Angada dengan semua hal-hal buruk tentang Rama. Angada tetap bertahan untuk mendengar Rahvana. Inilah kesalahan Angada. Ia sebenarnya tidak ada urusan untuk mendengar cerita-cerita tersebut. Itu bukan bagian dari tugasnya. Ia berada di sana hanya untuk menyampaikan pesan dari tuannya, Rama. Ia seharusnya langsung pulang setelah menyampaikan pesan. Ia tidak langsung pulang, dan Rahvana pun memanfaatkan situasi tersebut dengan sangat baik.

                Angada adalah orang yang berbeda ketika ia kembali ke ke Rama. Ia memendam amarah dan kebencian kepada Rama, yang ia anggap sebagai pembunuh ayahandanya.

                Rama memang membantu Sugriva, paman Angada dan yang juga ayah angkatnya, dalam sebuah pertarungan melawan ayah kandung Angada, Bali. Namun bantuan yang diberikan oleh Rama tersebut bukanlah karena ada hubungan khusus dengan Sugriva. Rama tidak mengenal Sugriva dan Bali. Bantuan itu diberikan bukan atas keberpihakan Rama.

                Rama membantu Sugriva setelah mendengarkan kesedihannya, dan ia mendapati sendiri kebenaran dari kata-kata Sugriva tersebut. Yakin atas kebenaran informasi dari Sugriva dan kezaliman yang dilakukan Bali terhadapnya, maka Rama pun memutuskan untuk membantunya. Tindakan tersebut merupakan tindakan politis sekaligus etis.

                Hanuman—yang menjadi saksi atas semua peristiwa tersebut—harus mendisiplinkan Angada, “Aku berhubungan baik dengan ayahmu maupun dengan pamanmu. Keduanya adalah orang yang dekat dengan aku dan aku sayang. Tapi aku membela Sugriva dan bukan ayahmu, karena budaya kita, tradisi kita, prinsip-prinsip serta nilai-nilai yang kita junjung tinggi yang jadi taruhannya.

                Ayahmu melanggar semua hal tersebut. Partarungan ayahmu Bali, dan pamanmu, yang sekarang ayah angkatmu, Sugriva—bukanlah sebuah pertarungan memperebutkan kekuasaan duniawi. Pertarungan itu adalah pertarungan antara dharma kebenaran, dan adharma, kebatilan.

 

Ketahuilah Angada, bahwa dharma harus ditegakkan selamanya apa pun resikonya. Demi kebaikan masyarakat luas, hubungan serta kenyamanan pribadi mesti dikorbankan. Ini adalah tindakan yang tepat bagi semua ksatria.

                “Tidakkah kamu cukup peka terhadap ketulusan serta kejujuran Sugriva? Di hari ketika ayahmu terbunuh dan dia menggantikan ayahmu sebagai raja para kera, di hari yang sama pula, ia juga mengumumkan kamu sebagai putra mahkota untuk meneruskannya.

                Angada menyadari kesalahannya, “Memang benar seperti yang sering dikatakan bahwa pergaulan yang buruk akan menularkan sifat yang buruk pula, dan pergaulan yang baik akan menularkan sifat yang baik. Hamba berada dalam lingkungan yang buruk. Hamba tidak bisa menahan diri untuk tidak dipengaruhi oleh Rahvana. Maafkan hamba, tuanku, Rama.”

                Ketika dikelilingi oleh sifat-sifat raksasa, kita harus bisa langsung mengatakan “selamat tinggal” setelah dengan cepat menyapa “Hai”. Tunaikan tugasmu dan langsung kembali. Kembalilah ke lingkunganmu. Jangan buang-buang waktu sedetik pun dengan orang-orang semacam itu, karena kau akan terpengaruh oleh mereka. Terjemahan bebas dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kadang kita datang menghadap tokoh atau pejabat suatu instansi dan kemudian kita terpengaruh oleh kemegahan yang dimiliki si Pejabat, dan kita melupakaan diri kita sebagai pembawa pesan dari Gusti yang mewujud dalam diri Sang Pembawa Pesan. Akrura tidak bertindak seperti Angada yang terpengaruh kegemerlapan istana Rahvana, walaupun Hastina adalah sebuah kerajaan besar sekali yang diperintah oleh seorang Maharaja. Akrura selalu mengingat bahwa dirinya hanyalah pembawa pesan dari Gusti yang telah mewujud, sehingga dia tidak terpengaruh dan selalu ingat tugas dia sebagai pembawa pesan.

Akrura pergi ke Hastinapura. Di sana, dia bertemu dengan Dhrtarastra, sang raja yang telah lanjut usia, anak-anaknya, para penasihat termasuk Bhisma yang agung, anak-anak Pandu dan ibu mereka, Kunti. Bergantian mereka menyalami Akrura.

Setelah selesai dari pertemuan resmi, Akrura menemui Kunti. Kunti dan Vidura menyampaikan pada Akrura perkara mengenai perlakuan tidak adil dan semena-mena yang diterima oleh para putra Pandu dari sang raja yang telah lanjut usia. Yang sepenuhnya dikendalikan oleh anak-anaknya yang jahat.

Sambil berlinang airmata, Kunti berkata pada Akrura: “Apakah  sanak keluargaku masih mengingatku? Bagaimana kabar sang keponakanku yang suci, Krishna? Apakah Ia mengingat kami, para bhakta-Nya, yang sedang mengalami derita ketidakadilan dari saudara iparku dan anak-anaknya? Akankah Dia membantu kami untuk segera terbebaskan dari perlakuan sewenang-wenang ini?”

Karena memikirkan Krishna tiba-tiba saja Kunti tidak dapat menahan perasaannya, dia meneriakkan nama Krishna: “Krishna sang Maha Yogi,  yang mampu berada di mana pun, lindungilah aku yang telah menyerahkan keselamatanku sepenuhnya dibawah kaki-Mu. Bagiku tiada yang dapat memberikan kebebasan paripurna selain dibawah kaki-Mu. Aku berlindung pada-Mu wahai Sri Krishna, sang Jati Diri Agung, Sang Yogi.”

Akrura mencoba menghibur Kunti dengan mengatakan bahwa anak-anaknya telah dilindungi oleh keilahian.

Sebelum pergi, Akrura menasihati Dhrtarastra, “Kau telah menaiki singgasana kerajaan karena saudaramu Pandu telah tiada. Ini membuatmu memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Kau akan mampu menjadi raja yang dimuliakan hanya bila kau bertindak adil pada anak dan para keponakanmu. Lagipula apa pun hubungan kita dengan orang lain, kita tidak akan pernah hidup selamanya. Semua orang lahir sendirian, mati sendirian, juga menikmati hasil perbuatan baik maupun buruknya sendirian pula. Maka dari itu sungguhlah sia-sia menyalahkan orang lain untuk tindakan yang kita lakukan. Apa pun yang kita terima dalam kehidupan di dunia ini, baik ataupun buruk semuanya karena kita juga. Sadarilah bahwa dunia ini tak lebih dari mimpi dan jangan terkecohkan oleh keterikatan padanya yang akan membuatmu bertindak tidak adil kepada yang lain.”

Dhrtarastra membela diri  akan ketidaksediaannya untuk mengikuti nasihat dari Akrura walau pada dasarnya dia menyadari kebijaksanaan di balik kata-kata yang diucapkan oleh Akrura. Karena dia tidak bisa melepaskan diri dari keterikatan pada anak-anaknya, meski dia menyadari bahwa anak-anaknya malah menjerumuskan dirinya pada jurang kejahatan.”

Akrura pun berkata, “Tiada seorang pun yang mampu untuk menghalangi keinginan Gusti untuk lahir di Yadava dengan misi menghilangkan penderitaan dunia. Aku bersujud pada Gusti yang kehendak-Nya begitu misterius.”

Kemudian, Akrura segera kembali ke Mathura dan melaporkan segalanya kepada Krishna dan Balarama.

Keyakinan dan Pengabdian Mengatasi Semua Hambatan: Kisah Hanuman Mencari Obat Lakshmana

Posted in Ramayana with tags , , on January 16, 2014 by triwidodo

 

Hanuman membawa bukit tanaman Sanjeevani sumber www indianetzone com

Ilustrasi Hanuman membawa bukit tempat tanaman Sanjivani sumber www indianetzone com

Bhakta Seorang Pejuang Tulen

“Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. Utishtha, Jaagratah …… Bangkitlah, Bangunlah…… Hadapilah segala macam rintangan dengan jiwa seorang Bhakta. Berjuanglah dengan semangat seorang Satria. Tanpa rasa bimbang, tanpa keraguan – seorang Bhakta mengabdikan jiwa dan raganya bagi nusa dan bangsa. la sadar sesadar-sadarnya akan tugas serta kewajibannya terhadap Tanah-Air, terhadap Ibu Pertiwi. Terhadap lingkungan, terhadap sesama manusia dan sesama makhluk hidup…… Terhadap dunia ini, terhadap alam semesta. la memahami perannya dalam hidup ini. Mau bertemu dengan seorang Bhakta? Carilah dia di tengah medan perang ‘Kurukshetra’. Kau tidak akan menemukannya di dalam kuil la berada di tengah keramaian pasar, di tengah kebisingan dan kegaduhan dunia.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Hanuman dan Lakshmana adalah bhakta Sri Rama, dan kedua-duanya telah melepaskan diri dari keterikatan pada dunia benda, harta kekayaan, istri, keluarga dan kerabat. Yang ada di pikiran mereka hanyalah Sri Rama, mereka telah melampaui ego dan seks. Tujuan mereka bukan untuk mengalami moksha, akan tetapi menjadi alat Sri Rama. Saat Lakshmana terluka mendekati kematian, Hanuman diminta Sri Rama mencari obat di Pegunungan Himalaya yang harus diperoleh sebelum matahari terbit. Hanuman patuh dan merasa mendapat peluang untuk melakukan persembahan sesuai kekuatan yang telah dianugerahkan kepadanya. Hanuman yakin Lakshmana dapat sembuh kembali. Walaupun hanya Sri Rama yang tahu bahwa Lakshmana dalam pertempuran berikutnya akan membunuh Indrajit.

Lakshmana Terluka oleh Indrajit

Pada hari pertama pertempuran pasukan wanara Sri Rama melawan raksasa Alengka perang berkecamuk sangat dahsyat. Indrajit putra Rahwana berupaya menghancurkan pasukan Sri Rama. Sebenarnya nama putra mahkota Rahwana adalah Meghanada akan tetapi karena pernah mengalahkan Dewa indra, maka dia dikenal sebagai Indrajit. Lakshmana segera menghadang Indrajit sehingga Sugriva komandan pasukan wanara bahkan mulai bisa mendesak pasukan Alengka. Matahari sudah bergerak menuju ke barat, kala Indrajit sadar bahwa dia tidak akan menang berperang-tanding melawan Lakshmana, maka ia mulai menggunakan kekuatan magis untuk melesat melintasi awan. Dari balik awan Indrajit menggunakan senjata shakti yang dipanahkan ke arah Lakshmana. Lakshmana terkena, tubuhnya memar dan luka di dalam serta jatuh pingsan. Indrajit kemudian berupaya mengangkat tubuh Lakshmana untuk dibawa ke kemah pasukan Alengka. Akan tetapi ternyata dia tidak kuat mengangkatnya. Beberapa komandan raksasa membantu mengangkatnya, akan tetapi tidak berhasil. Lakshmana adalah Naga Adisesha pendamping Sri Vishnu yang mewujud, hanya mereka yang memperoleh blessing Sri Rama yang mampu mengangkatnya. Beberapa saat kemudian datanglah Hanuman mengusir Indrajit dan para komandannya, dan Hanuman segera memanggul Lakshmana ke kemah Sri Rama. Tak lama kemudian kedua pasukan mundur karena hari telah mulai senja.

Kemudian berhembus kabar bahwa seseorang yang terkena senjata Indrajit akan mati sebelum matahari terbit keesokan harinya. Jambavan mengatakan ada tabib Alengka yang paham pengobatan luka dalam akibat senjata Indrajit. Sushena sang tabib adalah pemuja Sri Rama. Sri Rama segera minta Hanuman membawa tabib Sushena untuk memeriksa Lakshmana. Sushena mengatakan bahwa ada ramuan yang dibuat dari akar tanaman Sanjivani yang dapat menyembuhkan luka Lakshmana. Akan tetapi tanaman tersebut hanya bisa diperoleh di Gunung Dunagiri di wilayah pegunungan Himalaya. Inilah satu-satu harapan untuk menyelamatkan Laksmana. Sebuah peluang yang nampaknya sangat musykil dilaksanakan.

Hanuman Sang Pengabdi

“Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Rama segera mengutus Hanuman untuk mengambil daun Sanjivani tersebut. Bagi Hanuman, bhakta Sri Rama, tugas yang diberikan oleh Sri Rama akan dilaksanakan sebaik-baiknya. Hanuman yakin Sri Rama telah bertindak dengan pertimbangan matang untuk memintanya mengemban tugas tersebut. Hanuman mohon blessing Sri Rama dan segera berangkat.

Dari masukan telik sandi, Rahwana tahu bahwa Hanuman berupaya memperoleh tanaman obat di Himalaya. Rahwana segera mengutus Kalanemi, pamannya untuk menggunakan segala cara agar Hanuman tidak berhasil memperoleh tanaman tersebut. Kalanemi berkata bahwa sulit untuk menghadang Hanuman, makhluk perkasa yang sendirian saja bisa membakar kota Alengka. Kalanemi menyarankan Rahwana untuk berdamai dengan Sri Rama dengan cara memberikan obat pemunah racun bagi Lakshmana. Rahwana naik pitam yang membuat Kalanemi harus membuat pilihan segera. Kalanemi segera mohon diri untuk menghadang Hanuman. Bagi Kalanemi lebih baik mati terbunuh Hanuman Utusan Sri Rama daripada mati ditangan Rahwana.

Hambatan oleh Kalanemi

Kalanemi dengan kekuatan ilusinya segera mewujud sebagai seorang brahmana dan  membuat kuil yang indah dengan dilengkapi kolam yang jernih di Gandamadhana. Saat Hanuman menuju Himalaya dan melintasi tempat tersebut, Hanuman memutuskan untuk beristirahat sebentar. Sang Brahmana datang menawarkan air dan memuji Sri Rama sehingga Hanuman sangat senang. Setelah minum air Hanuman justru semakin merasa haus dan minta untuk minum air kolam. Saat Hanuman di tepi kolam dan mulai minum, seekor buaya menyergap kakinya dan menariknya ke dalam kolam. Akan tetapi dengan sebuah pukulan buaya tersebut mati. Sang Buaya yang mati segera menjilma sebagai Apsara. Apsara tersebut pernah berbuat kesalahan sehingga dikutuk Daksha menjadi buaya dan kutukan akan sirna kala dia dibunuh oleh Hanuman. Sang Apsara segera memberitahu jatidiri Sang Brahmana yang ternyata adalah Kalanemi. Kalanemi segera dibunuh oleh Hanuman.

Dalam kehidupan sebelumnya Kalanemi dengan naik singa pernah bertarung dengan Vishnu yang naik Garuda dan Kalanemi terbunuh. Pada kehidupan berikutnya, Kalanemi lahir sebagai putra Hiranyakasiphu. Kalanemi mempunyai enam putra yang menjadi devoti Brahma yang kemudian dikutuk Hiranya Kasiphu akan lahir lagi dan dibunuh oleh Kalanemi pada kelahiran di masa depan. Kalanemi kemudian lahir sebagai paman Rahwana. Kalanemi akhirnya akan lahir lagi sebagai Kamsa dan 6 putranya lahir lagi sebagai putra Devaki yang dibunuh oleh Kamsa.

Berbagai Hambatan Lainnya

Rahwana tahu bahwa Kalanemi telah mati dan segera memanggil Dewa Surya, Sang Matahari untuk terbit sebelum waktunya. Hanuman segera mengeluarkan kesaktiannya untuk menahan gerakan  matahari. Sesampainya di Dunagiri,Hanuman kesulitan memilih tanaman Sanjiwani dan segera mengangkat seluruh bukit untuk dibawa ke Alengka. Sampai di Nandigram sebuah panah mengenai kakinya dan Hanuman terjatuh beserta bukit yang dipanggulnya. Rupanya Bharata saudara Sri Rama mengira Hanuman seorang penjahat yang sedang membawa bukit. Hanuman segera menjelaskan bahwa ia membawa bukit untuk mengobati Lakshmana saudara Bharata. Bharata mohon maaf dan menawarkan Hanuman untuk menaiki anak panah yang dibidiknya menju Alengka agar cepat sampai. Hanuman menolaknya dan segera terbang lagi menuju Alengka.

Sushena segera mengambil beberapa akar tanaman Sanjivani dan dibuat ramuan untuk diminum Lakshmana. Lakshmana cepat mengalamikesembuhan dan Hanuman segera terbang menuju matahari, mohon maaf atas tindakannya kepada Dewa Surya. Dewa Surya, tersenyum dan berkata pelan, “Siapakah makhluk yang dapat menahan bhaktanya Sri Rama? Dengan blessing Sri Rama, seorang bhakta akan menyelesaikan tugas apa pun yang diembannya!”

Jadilah Orang Besar!

Hanuman adalah contoh Orang Besar. Hanuman siap menghadapi segala kemungkinan dengan penuh kesabaran. Hanuman tetap optimistis, berkarya penuh keyakinan, tidak khawatir, tidak bimbang, tidak berkecil hati dan pantang menyerah.

“Jadilah Orang ‘Besar’! Tetap tenang dalam keadaan suka maupun duka; tidak terbawa oleh nafsu rendahan; tidak terkendali oleh pancaindra; tidak tergoyahkan oleh tantangan-tantangan kehidupan; Tidak tergesa-gesa, dan siap menghadapi segala kemungkinan dengan penuh kesabaran, itulah sebagian ciri-ciri ‘orang besar’. Dalam keadaan apa pun mereka tetap optimistis, tetap berkarya dengan penuh keyakinan. Tidak khawatir, tidak bimbang, dan tidak berkecil hati. Pantang menyerah, demikianlah mereka. Jadilah orang ‘besar’. Karena, kau memang dilahirkan untuk menjadi ‘besar’. Bukanlah badanmu saja, tapi jiwamu mesti tumbuh menjadi besar. Pikiranmu, perasaanmu, semuanya mesti mengalami pertumbuhan. Kebesaranmu pastilah mengundang kebesaran. Kekuatanmu mengundang kekuatan. Keyakinanmu mengundang keyakinan. Alam semesta maha baik adanya. Jika kau berbuat baik, dan menjadi baik, kau akan mengundang lebih banyak kebaikan dari semesta. Kebaikanmu mengundang kasih, kepedulian, dan kedekatan sesama manusia. Kau menolong mereka dan mereka pun akan menolongmu. Demikian, dengan cara saling tolong-menolong, kau memperoleh kebahagiaan. Dan, mereka pun memperoleh kebahagiaan. Orang ‘besar’ selalu bahagia, ceria, dan bersuka-cita. Itulah rahasia kesehatan dan kesejahteraan mereka. Kebesaran Sejati adalah ketika kau dapat berbagi ‘kebesaran’ dengan siapa saja, tanpa pilih kasih. Kebesaran sejati adalah ketika kau dapat berbagi kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kebahagiaanmu-keceriaan dan kesukacitaanmu!” (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Setubandha Jembatan Ke Negeri Alengka, Jalan Penghubung Penakluk Nafsu Angkara

Posted in Ramayana with tags , , on December 3, 2013 by triwidodo

 

Sethubandha bridge sumber hariharji blogspot com

Ilustrasi Pembangunan Jembatan Setubandha sumber hariharji blogspot com

Setubandha, Jembatan Dibangun Para Wanara yang Sudah Tidak Liar

“Wahai manusia, wahai pikiran, bernyanyilah! Jalani kehidupan dengan penuh lagu, penuh irama. Bernyanyilah sepanjang hidupmu! Cara Swami menjinakkan pikiran seperti monyet ini sangat musical. Bhajan, sebagaimana yang disarankan dan diajarkan oleh Swami bukanlah sekedar lagu pujian, namun adalah meditasi dalam musik. Adalah memasuki keadaan pikiran yang meditative melalui musik. Secara alamiah pikiran kita yang seperti monyet ini juga tertarik akan lagu, musik, dan tarian. Pada dasarnya jauh lebih mudah menjinakkan pikiran dengan musik daripada melalui visualisasi mental dan perenungan intelektual. Begitu pikiran yang seperti monyet ini terjinakkan, visualisasi mental dan perenungan intelektual menjadi mudah. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang bisa berpikir, berefleksi dan bisa membuat keputusan yang cerdas. Pikiran yang jinak adalah pikiran yang mengalami transformasi total….. Letupan emosi tidak akan mengangkat hakikat kita yang terdalam; bahkan tidak akan bisa menyentuhnya. Letupan emosi hanya akan menjauhkan kita dari perasaan yang terdalam dari cinta. Letupan emosi tidaklah spiritual. Cinta dan devosi bukanlah emosi. Cinta adalah rasa terdalam, jauh lebih dalam dari emosi yang terdalam. Dan devosi, bhakti, adalah buah dari cinta yang sudah matang. Bhajan adalah jalan yang menghubungkan jiwa kita dengan Dia Hyang Mahatinggi. Pada ujung jalan satunya adalah sang jiwa, diujung lain adalah Dia Hyang Mahatinggi, Entah kita mau menapaki jalan tersebut atau tidak, tetap saja kita semua sama-sama terhubung. (Das,Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Rama adalah simbol dari Paramatman, Diri Hyang Agung sedangkan Sita adalah Jeevatman, Diri Individual  yang sudah terpisah dari Paramatman karena ulah Rahwana atau Ego. Untuk menghubungkan Jeevatman kepada Paramatman diperlukan Hanuman sebagai jembatan. Sampai sekarang orang memuja Hanuman dan mempergunakannya sebagai jembatan menuju Paramatman. Setubandha adalah jembatan yang dihasilkan para wanara untuk menyeberangi samudera. Wanara yang terkenal berpikiran liar dan suka meloncat-loncat ternyata bisa dijinakkan dengan kidung pujian. Mereka bergotong-royong membangun jembatan sebagai persembahan kepada Rama, Sang Paramatman. Keberhasilan membangun jembatan Setubandha membuat para wanara semakin percaya diri, mati pun mereka rela demi Sri Rama.

Mata-Mata Alengka yang Tertangkap Pasukan Sri Rama

“Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita warisi sejak lahir hanya dapat diubah dengan berkah ilahi, by the grace of God. Undanglah berkah ilahi dengan senantiasa memuji namaNya. Pujian yang dilakukan secara intensif dan repetitif, diulangi terus-menerus secara intens dapat mengubah kebiasaan Anda; dapat mengubah mulut yang jahat menjadi mulut yang penuh pujian.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang mata-mata dari Alengka yang dikirim oleh Rahwana terlihat oleh Vibhisana. Kemudian para wanara mengikatnya dibawa menghadap Panglima Perang Sugriva. Sugriva memerintahkan prajuritnya untuk memotong hidung dan telinganya. Sang mata-mata yang mengaku sebagai utusan Rahwana segera menangis dan mohon perlindungan Sri Rama, “Om Shri Rama”, saya berserah diri terhadap Rama. Ucapannya ternyata menyelamatkannya, hidung dan telinganya tidak jadi dipotong. Lakshmana segera datang dan kemudian menulis surat kepada Rahwana.

“Wahai Rahwana, pemusnah sendiri dari ras raksasa, segeralah mengubah pendapat Anda, tunduklah kepada Sri Rama dan ras raksasa akan diampuni olehnya. Kematian Anda sudah dekat.”

Suka, sang mata-mata menerima surat tersebut, mengucapkan Jaya Shri Rama dan segera balik ke Alengka.

Rahwana didepan persidangan mendengarkan penuturan Suka dan sangat marah dengan perbuatan Vibhisana yang telah diangkat sebagai raja Alengka masa depan. Menurutnya hanya tinggal beberapa hari lagi Vibhisana akan mati dalam peperangan. Rahwana juga bertanya apakah sang mata-mata tidak menyampaikan kekuatan pasukan Alengka yang bersikeras untuk tetap berperang? Rahwana juga bertanya bagaimana kekuatan pasukan Rama.

Suka menjawab, “Hamba tidak bisa menggambarkan kekuatan pasukan wanara. Ada banyak wanara dengan warna bulu yang berbeda-beda. Hamba mendengar jumlah mereka ada delapan belas Padma. Setiap Padma memiliki seorang jenderal yang berkekuatan puluhan gajah. Tidak ada seorang prajurit pun yang meragukan kemenangan mereka. Mereka hanya menunggu aba-aba dari Sri Rama.”

Suka dimarahi oleh Rahwana dan malam itu dia menyeberang samudera mencari perlindungan Sri Rama.

Rama Akan Mengeringkan Samudra

Rama memperhatikan samudera yang menghalangi perkemahannya dengan Alengka. Rama minta panah dan busur kepada Lakshmana. Rama mulai membidikkan panahnya untuk mengeringkan samudera.

Dewa Samudera dan para penghuni samudera mengalami ketakutan yang luar biasa. Mereka cemas dan segera membasahi kaki Sri Rama mohon ampun.

Dewa Samudera berkata pelan, “Dengan energi Paduka, saya akan mengering dan pasukan wanara bisa menyeberangi samudera, akan tetapi hal tersebut akan membuat hamba menderita. Hamba paham bahwa panah Paduka tidak bisa ditarik kembali, saya akan terpaksa menderita mengalami hal tersebut.”

Mendengar kata-kata sederhana dari samudera, Rama bertanya, apakah ada alternatif untuk menyeberangkan pasukan wanara?

Dewa Samudera mengatakan, bahwa Jenderal Nila dan Nala adalah keturunan Vishvakarma sang arsitek pembangun istana dewa. Mereka memperoleh anugrah dari para suci bahwa apa pun yang dipegang oleh mereka walaupun batu yang berat tidak akan tenggelam. Juga apabila setiap batu ditulis dengan nama Sri Rama, maka batu-batu tersebut juga akan terapung sesuai kehendak Sri Rama.

Sri Rama segera memanahkan panahnya ke daerah yang masyarakatnya banyak melakukan dosa dan daerah tersebut menjadi gurun pasir.

Seluruh Wanara, Segenap Batu Dan Bukit Melakukan Persembahan Kepada Rama

“Adalah perasaan kita yang memberi kesan kasar dan halus. Dan, perasaan kita tergantung pada kesadaran kita. Jika kesadaran kita terfokus pada dunia, getaran itu terasa kasar. Jika kesadaran kita terfokus pada Gusti Pangeran, getaran itu terasa halus. Kasar dan halus tidak bersifat absolut. Kasar bisa terasa halus, dan halus bisa terasa kasar. Dalam menjalani kepercayaan atau agama, jika seorang masih memikirkan pahala yang bersifat ‘materi’, kenyamanan dunia, atau kenikmatan surga maka sesungguhnya ia masih berada pada frekuensi rendah. Ia sedang bergetar dengan keras sekali. Sementara itu, seorang panembah yang berada di tengah keramaian dunia, jika kesadarannya terfokus pada Gusti Pangeran, ia akan berada pada frekuensi yang tinggi. Ia sedang bergetar halus. ‘Sekujur tubuhku bergetar dengan getaran ilahi, dan suaraku serak karena luapan kasih ketika menyanyikan keagungan-Mu.’ Dengan setiap napas yang kau tarik, ucapkan nama-Nya. Dan, dengan setiap napas yang kau embuskan, pujilah kebesaran dan kemuliaan-Nya. Seorang panembah mengubah irama napasnya menjadi irama ilahi. Seluruh hidupnya menjadi sebuah lagu indah yang menyanyikan keagungan-Nya. Bagi seorang panembah sejati tiada lagi perpisahan antara jam kerja, jam libur, jam keluarga, setiap menit, setiap detik adalah saat untuk menyembah. Seorang panembah mengubah seluruh hidupnya menjadi suatu persembahan. Ia melakukan segala sesuatu dengan semangat panembahan, persembahan. Ia menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Panembahan bukanlah pekerjaan mereka yang belum sadar. Mereka yang belum, atau tidak sadar, tidak dapat menjalani hidup seperti itu. Mereka masih menghitung untung-rugi, sementara seorang Panembah sudah tidak peduli akan hal itu. Para panembah bukan penyanyi profesional. Lagu dan nyanyian adalah ungkapan dari panembahan mereka, bukan profesi mereka. Chaitanya menyadari betul hal tersebut, maka ia ingin bebas dari segala macam syarat dan ketentuan. Ia ingin menyembah secara bebas, tanpa ketergantungan pada sesuatu di luar diri. Ia ingin menyembah dengan cara yang paling sederhana, “hanya dengan mengucapkan nama-Nya.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para wanara segera mencari batu, untuk diserahkan kepada Hanuman yang menuliskan Nama Rama pada batu-batu tersebut dan diserahkan kepada Nila dan Nala yang menatanya sebagai jembatan.  Para wanara bekerja keras sambil melakukan chanting Nama Rama. Seluruh pekerjaan dipersembahkan kepada Rama, kepada Gusti Pangeran. Dan, pekerjaan berjalan cepat sekali. Dalam lima hari jembatan selesai.

Satrawan Suci Tulsidas menulis bahwa siapa pun juga yang yakin dengan kisah ini akan lebih mudah menyeberangi samudera dunia fana ini. Nama Sri Rama adalah jembatan yang kuat untuk menyeberang samudera samsara.

Saat Sugriwa membawa batu terakhir jembatan, Hanuman mendengar keluh kesah Bukit Brindavan yang jauh dari tempat pembangunan jembatan yang menangis, karena belum berkesempatan membantu tugas Sri Rama. Hanuman melaporkan kepada Sri Rama dan oleh Sri Rama,  Hanuman diminta terbang ke Brindavan untuk menenangkan mereka bahwa pada Zaman Dwapara Yuga, Rama akan datang dan tinggal di bukit tersebut. Dan, Bukit Brindavan lega serta bersyukur.

Mendirikan Shivalingga pada Jembatan Setubandha

“Trinitas asli Bali dan dari kepulauan Indonesia disebut Trimurti – ‘Tiga Bentuk’. Ketiga bentuk tersebut bisa dijelaskan dengan menguraikan kepanjangan kata ‘God’; ‘G’ Generator, Pencipta, ‘O’ Operator, Pemelihara dan ‘D’ Destroyer, Pemusnah. Dalam bahasa kuno, ketiga fungsi tersebut dikenal sebagai Brahma, Visnu dan Shiva. Dalam Trinitas masyarakat Bali, fungsi Tuhan sebagai pemusnah dibutuhkan sebagai prasyarat regenerasi. Secara berkesinambungan mencari keseimbangan dan harmoni, ketiga fungsi yang tampaknya berbeda membentuk sebuah lingkaran. Shiva sering disimbolisasikan sebagai Lingga atau organ kelamin pria, dengan Yoni atau organ kelamin wanita di bawahnya. Ini adalah simbol yang lengkap; ia mewakili ke-3 fungsi Tuhan tersebut.” Dikutip dari Bapak Anand Krishna Dalam Radar Bali: Tri Hita Karana

Setelah jembatan selesai, Vibhisana berkata kepada Sri Rama, “Paduka, Rahwana adalah bhakta teguh dari Shiva. Kami yakin Rahwana akan menemui ajal di tangan Paduka. Untuk menghormati Shiva mohon Paduka mendirikan Shivalingga di jembatan ini. Sebagai peringatan agar setiap orang sadar tentang Kebenaran. Setiap orang atau pemerintahan walau bagaimana pun kuatnya akan didaur ulang oleh zaman. Lingga tersebut akan dikenal sebagai Rama Lingesvara.

Rama memenuhi permintaan Vibhisana sebagai penguasa Alengka masa depan. Rama kemudian melakukan acara ritual persembahan atas selesainya jembatan tersebut. Para wanara menyanyikan kidung dengan penuh kebahagiaan. Shiva berkenan pada Rama untuk menaklukkan Rahwana.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Mengapa Masyarakat Ikut Dihukum Akibat Kesalahan Kepala Negara? Kisah Hanuman Membakar Alengka

Posted in Ramayana with tags , , on November 18, 2013 by triwidodo

Vishnu dengan 4 tangan sumber www exoticindiaart com

Ilustrasi Vishnu dengan empat tangan sumber: exoticindiaart com

Mengapa Menghukum Orang-Orang yang Tidak Bersalah

“Kepada para penduduk dan penguasa Negara Lanka, Hanuman muncul dalam wujud raksasanya yang menakutkan. Hal tersebut merupakan peringatan bagi mereka, ‘Kembalikanlah Sita kepada Sri Rama. Rahwana, sadarilah kesalahanmu. Kamu tidak berhak atas Sita.’ Mereka tidak mengindahkan peringatan ini, maka ketika meninggalkan Lanka, Hanuman pun membakar seluruh kota. Orang sering bertanya, ‘Mengapa Hanuman melakukan itu? Mengapa menghukum orang-orang yang tidak bersalah, penduduk Lanka, atas kesalahan yang dilakukan oleh penguasa mereka?’ Hal ini adalah sesuatu yang sangat sulit dihindari. Kita memilih pemimpin kita, kita memilih penguasa kita, kita memilih presiden dan perdana menteri kita, kita memilih anggota parlemen kita, dan kita bahkan memilih para diktator kita. Mereka berada di posisi mereka karena kita juga.Bagaimana kita memilih diktator kita? Mereka tetap berkuasa selama kita terang-terangan takut kepada mereka, atau takut kehilangan sesuatu.” Terjemahan bebas dari kutipan (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seandainya Kepala Negara dan para Pejabat melakukan kesalahan, maka masyarakat turut bersalah. Karena yang memilih Kepala Negara dan Dewan Perwakilan Rakyat adalah masyarakat. Yang melakukan fit and proper test bagi para pejabat adalah para wakil yang dipilih oleh masyarakat. Ingin mengubah keadaan? Masyarakat harus cerdas dan kritis dalam melakukan pilihannya. Kesalahan pilihan akan mengakibatkan kesengsaraan paling tidak selama 5 tahun ke depan. Bahkan dampak kesalahan memilih dapat berdampak dalam masa yang sangat panjang. Masyarakat harus cerdas dan kritis itulah salah satu nasehat dalam kisah Ramayana.

 

Masyarakat Alengka Melupakan Dharma Karena Terlalu Nyaman

“Bersyukur dalam keadaan suka. Senantiasa mengingat-ingatkan diri bahwa Ialah Hyang Maha Kuasa, tiada kekuasaan diluarNya. Duka/kesulitan adalah ‘polisi tidur’ supaya kita tidak terlena, tidak lengah, dan mengingatNya selalu. Tiada polisi tidur sepanjang jalan, ada kalanya beberapa sekaligus, satu setelah yang lain, tetapi ya sebatas itu saja, perjalanan ke depan mulus lagi. Kabir mengatakan ‘Dalam duka semua mengingatNya, dalam suka selalu lupa;  jika kau mengingatNya dalam suka, maka untuk apa mengalami duka?’ Berarti apa? Pengalaman duka hanyalah sarana untuk mengingatkan kembali kita yang sudah lupa. Jika sudah ingat terus, tidak ada lagi peringatan. Sungguh dengan definisi ini kita semua tergolong kafir, karena masih membutuhkan pembawa peringatan. Kita semua masih berjihad untuk menjadi mukmin. Kita semua mujahid, belum layak menjadi khalifa.” *)Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Bila di negara lain masyarakat takut kepada penguasa walau mereka ditindas, di Alengka masyarakat hidup sangat sejahtera. Masyarakat Alengka berada dalam keadaan nyaman sehingga melalaikan dharma. Pemerintah Alengka mempunyai sumber pendapatan hasil bumi dan hasil tambang yang cukup untuk menjalankan pemerintahan. Tidak ada pajak bagi masyarakat Alengka. Para penduduk Alengka begitu nyaman sampai-sampai mereka tidak peduli bahwa Rahwana melakukan sebuah kejahatan dengan menyekap istri seseorang dan menjadikannya tawanan di istananya. Dengan demikian, mereka pun juga turut andil atas kejahatan yang dilakukan oleh penguasa mereka.

Sebagaimana para Utusan adalah pembawa peringatan bagi umat yang zalim, demikian pula Hanuman memberi peringatan kepada masyarakat Alengka agar sadar dan segera mengingatkan rajanya untuk tidak melakukan tindakan adharma menyekap ibu Sita.

 

Hanuman Mengganggu Para Raksasa

Hanuman mengambil wujud sebagai monyet kecil yang makan buah-buahan di taman dengan sepuas-puasnya. Seorang pengawal raksasa melihatnya dan melemparinya dengan batu agar sang monyet lari. Sang monyet justru meniup sang raksasa sehingga dia terjatuh. Raksasa tersebut segera memanggil kawan-kawannya, akan tetapi Hanuman mengubah ke wujud aslinya dan mempermainkan mereka. Berita tersebut cepat menyebar dan sampai ke telinga Rahwana. Rahwana mengirim putranya bernama Indrajit yang memiliki senjata Brahmaastra. Hanuman membiarkan dirinya terikat, padahal dia hanya terikat sesaat saja dan dengan mudah dapat melepaskannya.

Hanuman berpikir, dengan membiarkannya dirinya terikat, dia akan bisa melihat istana raja dan bertemu dengan Rahwana. Hanuman selanjutnya dibawa ke sidang pengadilan. Hanuman mengatakan bahwa dia merasa lapar dan sebagaimana kebiasaan monyet dia makan buah-buahan. Karena diganggu raksasa maka dia membalas. Para raksasa justru ingin membunuhnya dan dia melindungi dirinya. Selanjutnya, Hanuman berkata bahwa dia mengetahui bahwa Ayahanda Rahwana adalah Resi Visrava. Visrava adalah putra Pulasthya. Sedangkan Pulasthya adalah putra Brahma. Sudah seharusnya sebagai anak keturunan Brahma, Rahwana tidak melakukan tindakan adharma. Hanuman juga mengatakan bahwa dia mengetahui kekuatan Rahwana yang pernah bertarung melawan Subali. Dia ke Alengka untuk melaksanakan perintah Sri Rama agar Rahwana cucu buyut Brahma mengembalikan Sita kepada Sri Rama.

Rahwana menolak mengembalikan Sita, bahkan ingin membunuh Hanuman yang telah membunuh beberapa raksasa. Vibhisana menyampaikan usul kepada Rahwana, karena Hanuman adalah seorang Utusan Kerajaan maka Kerajaan tersebut harus dihormati dan Utusan Kerajaan tersebut jangan dibunuh. Rahwana tetap berpendapat Hanuman mesti dibunuh. Dari berbagai masukan diketahui bahwa monyet itu bangga dengan ekor mereka dan selalu menjaga agar ekor mereka panjang dan kuat. Oleh karena itu maka ekor Hanuman akan dibakar, agar raja pengutusnya marah dan menuntut balas ke Alengka dan dihabisi di Alengka.

Mereka membalut ekor Hanuman dengan kain dan mulai membakarnya. Hanuman segera mengecilkan tubuhnya dan melepaskan diri dari belenggu Brahmaastra. Selanjutnya Hanuman mengambil wujud raksasa yang sangat besar dan menakutan dan mulai menggerak-gerakkan ekornya yang terbakar ke atap istana dan penduduk Alengka. Dan mulailah Alengka terbakar dan masyarakat tercekam ketakutan. Hanya rumah Vibhisana yang selamat sebagai tanda bahwa pemuja Vishnu yang taat akan selamat. Hanuman segera mendatangi Ibu Sita di Ashokavanam yang juga tidak terbakar. Ibu Sita memberikan permata Chudamani untuk disampaikan kepada Sri Rama. Hanuman kemudian meloncat ke laut untuk memadamkan api di ekornya dan kembali terbang menuju Sri Rama.

 

Tahapan Simbolik Tangan Vishnu, Kisah Hanuman Membakar Alengka

Alam tidak bertindak gegabah, untuk melakukan suatu tindakan ada tahapan-tahapan yang perlu dilalui. Seseorang yang sadar telah berbuat salah bisa segera membelokkan tindakannya kembali ke jalan yang benar.

Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan tahapan simbolik empat tangan Vishnu sebelum menggunakan gadanya untuk menghancurkan adharma. Tangan pertama menghadap ke depan memberi blessings dapat dimaknai kesalahan bisa dimaafkan bila kita segera sadar dan bertobat. Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, dapat dimaknai bahwa bila kita tetap melakukan kesalahan akan datang peringatan agar kita segera sadar dan cepat bertobat. Tangan ketiga memegang chakra, dapat dimaknai bahwa apabila kita tetap melakukan kesalahan sambil berjalannya cakra waktu yang berputar kita tetap masih memperoleh kesempatan untuk tobat. Tangan keempat memegang gada, bila sampai waktu tertentu kita masih nekat bertahan melakukan kesalahan, maka gada alam semesta akan berbicara untuk meremukkan kita.

Hanuman adalah pemberi peringatan, dan telah memberikan peringatan simbolik dengan api yang membakar istana dan rumah-rumah di Alengka. Akan tetapi Rahwana dan penduduk Alengka tidak mengambil hikmah dari terbakarnya Alengka. Dan kehancuran hanya menunggu berputarnya cakra sang kala saja. Apakah negeri kita tidak mendapat peringatan dari para UtusanNya? Apakah dunia tidak memperoleh peringatan dari UtusanNya? UtusanNya tidak hanya berupa para suci akan tetapi bencana pun bisa menjadi utusanNya sebelum gadaNya berbicara.

 

Peringatan, Firman kepada Kita Semua

“Alam telah bersabda. Keberadaan telah menyampaikan firman-Nya. Ia telah menurunkan fatwa-Nya. Apakah kita mendengar sabda-Nya? Apakah kita memahami firman-Nya? Apakah kita menghormati fatwa-Nya? Dengan seribu satu macam cara, dalam seribu satu macam bahasa, dari seribu satu sudut dunia – la menyapa kita. la berusaha untuk membangunkan kita. Kita tetap tertidur lelap. Maka, ‘terpaksa’ la pun harus meneriaki kita: ‘Bangun, bangunlah!’ Adakah seseorang di antara kita yang mendengar teriakan itu? Ada, dan sesungguhnya banyak. Namun, kita masih saja bermalas-malasan di atas ranjang. Kita masih enggan untuk meninggalkan tempat tidur. Bahkan, ada yang malah menyangsikan bila teriakan itu berasal dari-Nya, ‘Ah, mana mungkin? Tidak. la tidak pernah berteriak. Titik.’ Kita menempatkan fatwa kita di atas fatwa-Nya. la tidak pernah berteriak. Titik. Kenapa tidak? Siapa yang dapat melarang-Nya? Kau? Aku? Memangnya kita ini siapa? Dalam kebodohanmu, kau menentukan kode etik bagi-Nya. Dalam ketaksadaranku, aku mengatur gerak-gerik-Nya. Sungguh ajaib! Sungguh lucu dan tidak masuk akal. Kita siapa? Tsunami adalah teriakan-Nya. Gempa bumi, banjir, dan bencana alam lainnya adalah teguran keras yang telah disampaikan-Nya. Itulah Sabda Alam. Bagaimana kita mengartikan Sabda itu? Bagaimana kita memahami Sabda-Nya?” (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Rama Duta, Utusan Tuhan bagi Umat Saleh, Kisah Hanuman di Alengka

Posted in Ramayana with tags , , , on November 12, 2013 by triwidodo

HanumanwithSita_22717 sumber www indianetzone com

Ilustrasi Hanuman bertemu Ibu Sita sumber www indianetzone com

Pesan lewat Hanuman, Duta Sri Rama

“Salah satu bekal berkarya dalam kisah Ramayana adalah dedikasi dan komitmen, seperti yang ditunjukkan oleh Hanuman, keras sakti ini yang mencari tahu tentang keberadaan Sita. Hanuman memang tokoh yang unik. Dari sekian banyak keahliannya, salah satunya adalah keahliannya dalam hal berkomunikasi. Ya, dari tokoh yang satu ini, kita memperoleh dua bekal sekaligus. Hanuman menyampaikan pesan Sri Rama kepada Sita dengan baik. Ia berhasil meyakinkan Sita bahwa dirinya betul mewakili Rama. Ia juga berupaya dengan baik untuk menyampaikan pesan Sri Rama kepada Rahwana, Walau Rahwana tidak mendengar pesannya. Rahwana tidak mau mengembalikan Sita, dan dengan cara itu ia memprakarsai sendiri kehancurannya. Sebelum itu Hanuman juga dapat menghubungkan Rama dengan Sugriwa, raja para kera, sehingga mereka dapat menjalin kerjasama yang baik. Semua ini terjadi berkat keahlian Hanuman dalam bidang komunikasi.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bagi seseorang yang peka, dia dapat merasakan kebenaran yang disampaikan oleh Hanuman, Duta Sri Rama, Duta Keberadaan yang mengingatkan pentingnya diri berada di jalan yang benar. Setelah berbicara dengan Hanuman, Sugriva yakin bahwa membantu Sri Rama adalah tugas yang mulia. Vibhisana bertemu Hanuman dan menjadi yakin bahwa sekedar berdoa pada Sri Rama setiap hari kurang sempurna tanpa berpartisipasi dalam misi-Nya. Mendengarkan Hanuman, Ibu Sita menjadi yakin bahwa Sri Rama akan membebaskannya dalam waktu dekat dari sekapan Rahwana. Adalah Rahvana yang menolak Nasehat Hanuman, Duta Sri Rama, dan akhirnya dia akan menerima kejatuhan akibat kesalahan yang dilakukannya.

 

Bertemu Vibhisana

“Dalam tradisi India, pertemuan dengan seorang suci bukanlah pertemuan biasa. Pertemuan itu adalah darshan atau ‘melihat sekilas’ kesucian yang sudah ada dalam diri kita melalui Sang Master. Seorang Guru bagai sebuah cermin di mana seorang pengikut dapat bisa melihat dirinya sendiri, wajah ‘asli’-nya sendiri. Seorang Master adalah masa depan muridnya dan seorang murid adalah masa lalu seorang Master dan mereka bertemu dalam kekinian. Kehadiran seorang Master adalah berkah yang langka. Pengenalannya akan dirimu membuatmu mengenal dirimu sendiri. Ya, ia telah membuat saya tahu siapa diri saya sebenarnya. Itulah yang dilakukan oleh seorang Master kepada pengikutnya. Seorang pengikut, seorang murid harus reseptif, kalau tidak, tidak akan terjadi apa-apa. Ada beberapa tingkat reseptivitas, seperti ada beberapa tingkat dalam Kesadaran. Kesadaran tergantung para tingkat reseptivitasnya.  Masterlah mengetahui tingkat reseptivitasnya. Bukan kau yang memutuskan. Seorang Master-lah yang mengevaluasinya. Dan kau telah menemukan seorang Master yang sesuai dengan tingkat reseptivitasmu.” (Krishna, Anand. (2004). Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hanuman mengecilkan tubuhnya dan masuk Kota Alengka. Ternyata Alengka merupakan kota metropolitan dan sulit menemukan tempat Ibu Sita. Hanuman mencoba mencari keberadaan Ibu Sita di rumah-rumah besar dan pada suatu kali di sebuah rumah besar yang megah tampak ornamen yang menghormati Vishnu. Hanuman mendengar seseorang menyebut “Hari, Hari, Hari”, panggilan kepada Sri Vishnu yang pada zaman tretayuga ini telah mewujud sebagai Sri Rama. Hanuman segera mengubah wujudnya sebagai brahmana dan mengetok pintu. Vibhisana, sang empunya rumah menanyakan bagaimana bisa seorang brahmana bisa masuk Alengka lepas dari pengamatan penjagaan para raksasa. Vibhisana menyampaikan kabar bahwa Hanuman utusan Sri Rama telah masuk Alengka dan telah menaklukkan penjaga Lankini sehingga para pasukan Alengka semua dalam keadaan waspada. Sang brahmana menjawab bahwa dia tertarik dengan adanya orang membaca Japa Sri Vishnu. Ternyata di Alengka ada bhakta Sri Vishnu dan Hanuman menanyakan apakah Vibhisana tahu tentang siapakah Rama dan istrinya Sita yang diculik oleh Rahvana. Vibhisana menjawab bahwa dia tahu bahwa Vishnu telah mewujud sebagai Sri Rama dan tahu bahwa Rahvana, kakaknya telah menculik istri Rama. Dia ingin memberi nasehat kepada Rahvana untuk mengembalikan Sita akan tetapi dia tidak bisa berbuat banyak, karena sebagai raja, Rahvana sangat berkuasa.Pasti tidak akan berhasil menurut Vibhisana. Vibhisana kemudian berkata oleh karena itulah dia setiap hari selalu mendoakan Rama agar Rama selamat saat menjalani pengasingan dan Sita dapat terselamatkan. Vibhisana berkata bahwa dia berhasrat mengalami darshan, melihat wujud Sri Rama.

Hanuman segera mengubah wujud ke wujud aslinya dan berkata bahwa dirinya adalah Hanuman, utusan Sri Rama. Hanuman menghibur Vibhisana bahwa Rama berfokus pada kejernihan dan rasa kasih di dalam diri. Rama tidak terpengaruh dengan kaitan keluarga, ras atau agama. Rama mencintai kemurnian jiwa, Rama akan memberkati Vibhisana dan akan memberikan darshan kepada Vibhisana.

Vibhisana berkata, “Betapa beruntungnya Tuan Hanuman yang telah menjadi utusan Sri Rama. Sepanjang hari dari bangun pagi sampai menjelang tidur saya selalu menyebut nama Rama, akan tetapi belum pernah mengalami darshan dengan Sri Rama.”

Hanuman berkata, “Tuan Vibhisana, Tuan hanya mengucapkan Rama melalui mulut, akan tetapi Tuan belum berpartisipasi dalam pekerjaan dan misi-Nya. Tidak cukup hanya berdoa, Tuan perlu harus memberikan kontribusi nyata terhadap tugasnya. Sudah sepuluh bulan Sita diculik dan Tuan perlu mengupayakan agar Ibu Sita dibebaskan!”

Vibhisana berterimakasih atas nasehat Hanuman yang mengingatkan akan kelemahan dirinya dan mengatakan bahwa Sita berada dalam taman Ashokavanam. Kemudian Vibhisana mengatakan kepada Hanuman agar waspada terhadap pos-pos penjagaan para raksasa. Hanuman segera pamit mencari Sita.

 

Bertemu dengan Ibu Sita

Hanuman mengubah wujudnya menjadi monyet kecil dan masuk istana yang amat besar dan mewah. Ternyata sulit juga mencari taman Ashokavanam, karena setiap bangunan megah selalu dilengkapi dengan taman indah di sekelilingnya. Dalam keadaan kesulitan Hanuman beristirahat di atas salah satu pohon dan kemudian melihat wanita cantik yang nampak pucat dijaga raksasa wanita. Hanuman merasa bahwa wanita tersebut adalah Ibu Sita. Hanuman kemudian melihat Rahvana muncul dan mengancam dengan memberikan waktu 2 bulan agar Ibu Sita menyerah kepadanya.Ibu Sita menolak dan Rahvana minta raksasa wanita agar membujuk Sita dan kemudian keluar dari taman tersebut.

Hanuman kemudian menembangkan kidung kisah Dasaratha yang membuat Ibu Sita kaget. Kemudian Hanuman memperkenalkan diri sebagai utusan Sri Rama. Hanuman menyerahkan cincin Sri Rama yang dikenali oleh Ibu Sita yang membuat Ibu Sita percaya terhadap Hanuman.

Sai Baba berbicara tentang Guru Bhakti yang harus kita miliki dengan mengambil keteladanan dari Hanuman. Pertama, Trust – percaya penuh kepada Guru. Kedua, Kasih kepada Guru tanpa syarat. Ketiga berserah diri pada Guru. Tanpa iman dan kasih kita tidak dapat pasrah.

Hanuman memberanikan diri memohon Ibu Sita naik ke punggungnya dan akan membawanya kembali kepada Sri Rama. Ibu Sita berkata dengan anggun berkata bahwa Hanuman merasa pantas membawanya karena telah menganggapnya sebagai ibunya sendiri, akan tetapi bagaimana pandangan masyarakat? Hanuman mempunyai usia yang panjang dan Hanuman masih akan berada di dunia selama orang masih berkisah tentang Ramayanan dan Hanuman. Apakah Hanuman sebagai pelaku tidak perlu membuat kisah yang baik? Ibu Sita mengingatkan kalau hanya masalah kesaktian, Sri Rama sendiri pun akan sanggup terbang ke Alengka dan mengambilnya sendiri. Sri Rama mempunyai misi tertentu, diantaranya: memusnahkan adharma yang merajalela, menemui dan memberi semangat kepada para bhakta Tuhan dan membuat kisah spiritual yang tak lekang zaman. Ibu Sita akan menunggu Sri Rama datang ke Alengka untuk membebaskannya.

“Perang antara Rama dan Rahwana hanyalah sebuah sandiwara. Banyak sekali diantara kita yang mengira perang itu hanya dongeng berkala, tetapi kurang lebih 8,000 tahun sebelum Masehi, perang semacam itu memang ada dan harus terjadi, untuk membersihkan bumi ini dari ‘sub-human species’ bentuk kehidupan yang terciptakan karena hubungan seksual antar manusia dan binatang. Apa yang kita sebut raksasa atau ‘demon’ itu merupakan jenis kehidupan yang memang harus dilenyapkan. Bagaimana juga yang dilenyapkan hanyalah ‘bentuk’ atau ‘wujud’ kehidupan tersebut. Jiwa mereka, roh mereka justru mengalami evolusi, peningkatan, dan lahir kembali sebagai manusia. Rahwana berperan sebagai raja para raksasa, sehingga ia mampu mengumpulkan mereka di satu tempat, di medan perang. Lalu datang Sri Rama, dan dalam satu minggu, selesailah pekerjaan itu.” (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Meditasi pada Sadguru

Ibu Sita juga menyampaikan apabila Hanuman belum yakin apakah Sri Rama berkenan atau tidak dengan pilihan tindakannya, Hanuman bisa bermeditasi kepada Sri Rama.

“Apa yang mesti saya lakukan ketika saya dalam keadaan bingung? Jalan mana yang mesti saya pilih jika berada di perapatan jalan ? Ada jalan menuju kesenangan indera. Ada jalan menuju kenyamanan materi. Ada jalan yang menuntut pengorbanan demi sesuatu yang lebih mulia. Setiap saya mengalami kebimbangan, keraguan seperti itu – maka saya berpaling kepada Sadguru, kepada Beliau. Saya berusaha menenangkan diri dulu dengan memejamkan mata, menarik napas pelan-pelan, dan membuangnya dengan pelan-pelan juga. Kemudian, kita memasuki latihan meditasi, yang paling dasar, namun paling utama, paling penting. Meditasi pada Sadguru Sai.” (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna). Untuk lebih lengkapnya silakan baca buku tersebut.

Hanuman menghaturkan sembah bhakti kepada Ibu Sita dan mohon ijin untuk menikmati buah –buahan yang ada di pohon-pohon di dalam taman. Rupanya sudah ada skenario alam, ada blue print alam semesta, menikmati buah-buahan di taman tersebut akan membuat Alengka geger. Ikuti kisah selanjutnya.

Belum baca kisah sebelumnya? Silakan baca https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/11/06/rama-duta-utusan-tuhan-bagi-umat-zalim-kisah-hanuman-menuju-alengka/

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013