Archive for hikayat gangga

Hikayat Gangga 3: Keperkasaan Rambut Mahadeva #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 13, 2017 by triwidodo

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

Yoga, meditasi, laku spiritual bukan seperti itu – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bhagiratha melakukan sadhana untuk mencapai harapan para leluhurnya, menurunkan Gangga ke bumi untuk membasahi abu para leluhurnya yang sampai saat itu masih menderita di Patala karena keangkuhan mereka menyerang Rishi Kapila.

Bhagiratha adalah generasi ke 5 yang berupaya menurunkan Gangga mulai dari Sagara, Asamanja, Amsuman, Dilipa, Bhagiratha. Perjuangan lintas generasi yang tak kenal lelah.

Pada suatu ketika, Bhagiratha mendapat penglihatan tentang Dewi Gangga, “Dewi engkau lahir di kaki Narayana. Ketika Vamana menapakkan kaki tiga langkah sewaktu peristiwa dengan Raja Bali, kakinya dibersihkan tujuh Rishi dan  Brahma menggunakan dirimu. Berkahi kami dan rumah kami dengan dirimu.”

Kemudian Bhagiratha mendapat jawaban dari sang dewi, “Diriku menghormati upaya leluhurmu dalam beberapa generasi untuk membawaku ke bumi. Akan tetapi, kamu tidak mengetahui dampak yang terjadi kala diriku turun ke bumi. Siapa yang kuat menahan arusku? Kemudian, mengapa pula aku harus turun ke bumi? Orang yang berdosa kala mandi di airku akan bersih, dan dosa mereka tertinggal dalam diriku.  Bagaimana aku dibersihkan dari kotoran mereka?”

Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi, para rishi suci, para penglihat agung, mereka telah melampaui perbudakan karma. Mereka tidak punya pikiran selain Tuhan. Manakala mereka berendam di dalam airmu mereka akan membersihkanmu. Perihal kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadeva.”

Dewi Gangga jujur, karena air bersifat mensucikan, tetapi setelah banyak orang kotor yang mandi dia bingung bagaimana cara dia membersihkan dirinya. Dirinya hanya memberikan vibrasi sesuai apa yang ada dalam dirinya. Kesucian para suci itulah yang mengembalikan kesucian air. Oleh karena itu, manusia perlu waspada dalam melakukan ziarah atau tirtayatra. Banyak orang yang setelah ziarah di tempat tertentu malah menjadi pelit, penuh pertimbangan untung-rugi, karena aura materi meliputi tempat ziarah atau tirtayatra tersebut. Para sucilah yang memberikan vibrasi kesucian, berada dekat para suci meningkatkan kesucian diri.

Bhagiratha kemudian melakukan tapa untuk memperoleh bantuan Shiva, Sang Mahadewa. Dan setelah perjuangan berat, Mahadeva bersedia membantunya.

Dewi Gangga dengan sedikit kesombongan turun ke bumi dan airnya hilang ditahan rambut Sang Mahadeva. Gangga tidak bisa lepas dari rambut Sang Mahadeva. Bhagairatha mohon kepada Mahadeva agar berkenan menurunkan air Gangga ke bumi.

Setelah itu Gangga diturunkan Mahadeva dengan menetes agar tidak angkuh lagi. Gangga kemudian membagi dalam tujuh aliran, 3 ke barat, 3 ke timur, dan satu aliran mengikuti kereta Bhagiratha yang diarahkan menuju gua tempat para leluhurnya yang telah menjadi abu. Dan akhirnya, tumpukan abu leluhurnya tersebut termurnikan.

 

Sadhana bukanlah sekadar “laku” atau “praktik“ sebagaimana kata ini umum diterjemahkan. Sadhana juga bukan sekadar upaya yang sungguh-sungguh. Sadhana berarti Laku, Praktik atau Upaya penuh Devosi—Laku, Praktik, atau Upaya dengan semangat Pengabdian.

Pengabdian pada siapa? Pengabdian pada, devosi pada Tujuan Luhur upaya tersebut. Dan Tujuan Luhur itu adalah Samadhi—Keseimbangan Diri. Pencapaian Kesadaran Murni, Kemanunggalan Sempurna dengan Sang Jiwa Agung. Dalam satu kata, “Pencerahan”!

Manfaat utama dari Pencerahan adalah untuk Diri sendiri, untuk Diri yang Sejati, demi kemanunggalan dengan Sang Diri Agung. Hal ini mesti dipahami. Jadi, Disiplin atau Yoga—hidup berpedoman pada prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Patanjali ini—bukan untuk perkara Iain.

Perkara-perkara lain, seperti kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, ketenteraman hati, bahkan prajna atau pengetahuan sejati sekalipun cuma sekadar efek samping dari Yoga. Efek-efek samping yang menjadi berkah bagi diri kita sendiri sehingga kita dapat menggunakan badan, indra, bersama fakultas-fakultas lainnya—seperti mind atau gugusan pikiran dan perasaan, inteligensi, dan sebagainya—untuk mencapai tujuan akhir tersebut, yaitu Samadhi, Pencerahan! Pengantar sadhana Padah dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hikayat Gangga 2: Amsuman Putra Seorang Yogi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 12, 2017 by triwidodo

Sebagian (di antara mereka yang mengalami kelahiran ulang seperti itu) mencapai Samadhi, Keseimbangan Diri atau Pencerahan berkat prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah diraihnya pada masa lalu, dan (upaya sungguh-sungguh pada masa kini) dengan penuh sraddha atau keyakinan; virya atau keberanian dan kekuatan; dan smrti, ingatan atau perhatian (terhadap tujuan Jiwa, yaitu Manunggal dengan Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.20

Berarti, hanya prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah kita raih pada masa lalu pun tidak cukup. Belum cukup. Mesti dibarengi upaya lanjutan pada masa kini. Dan upaya pada masa kini pun bukanlah upaya sembarang. Mesti upaya sungguh-sungguh dengan segenap energi, dengan penuh keyakinan, dan penuh perhatian.

Sraddha adalah keyakinan yang tak tergoyahkan. Sraddha bukan sekadar kepercayaan yang bisa berubah-ubah……… Sraddha, keyakinan, atau trust—bukan belief, yang adalah kepercayaan—terkait dengan Jiwa. Sebab itu, ia tak tergoyahkan. Karena Jiwa yang di-“yakini”-nya adalah langgeng, abadi.

Kepercayaan bisa mengalami pasang surut selaras dengan sifat materi, sifat kebendaan yang berubah terus. Keyakinan atau Sraddha tidak mengalami pasang surut karena selaras dengan sifat hakiki Jiwa, yang adalah percikan Jiwa Agung.

Kemudian Virya atau keberanlan dan kesungguhan upaya dengan segenap kekuatan, segenap energi. Virya bukan sekadar energi……………

Virya bukanlah keberanian asal hantam. Virya adalah keberanian yang bertanggung jawab, inteligen. Keberanian untuk membela kebenaran, kebajikan, keadilan, dan untuk meraih kesadaran diri sejati.

Tidaklah gampang melepaskan kesadaran jasmani yang sudah melekat lama. Tidaklah mudah melepaskan kenyamanan tubuh. Bukan main godaan dari alam benda, dari pemicu-pemicu yang sangat menggiurkan bagi indra, gugusan pikiran serta perasaan, dan sebagainya.

Terakhir, Smrti, ingatan berkesadaran, penuh attentiveness atau penuh perhatian. Jadi dalam konteks ini, Smrti bukan sekadar ingatan atau memori. Namun, ingatan atau memori yang terkait dengan kesadaran, dengan attentiveness atau perhatian. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Asamanja, putra Raja Sagara yang tinggal di istana tingkah lakunya tidak seperti putra raja lainnya. Sebenarnya dalam kehidupan sebelumnya, Asamanja adalah seorang Yogi akan tetapi karena kesalahan tindakannya dia lahir sebagai putra mahkota. Asamanja ingat (Smirti) masa lalunya sebagai Yogi, mempunyai Sraddha, keyakinan, memiliki Virya, keberanian dalam menuju tujuan hidupnya.

Asamanja berupaya sekuat tenaga agar semua orang membencinya, sehingga dia  dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya. Asamanja sudah mempunyai putra bernama Amsuman, akan tetapi tingkah lakunya tidak dipahami masyarakat. Beberapa anak laki-laki ditenggelamkannya di Sungai Sarayu sambil tertawa-tawa. Akhirnya Raja Sagara tidak dapat menahan kesabaran, dan demi rakyatnya, Asamanja diusir dari istana.

Sebelum pergi dari istana Asamanja menghidupkan kembali beberapa anak laki-laki yang ditenggelamkannya. Selanjutnya Asamanja meneruskan perjalanan hidupnya sebagai seorang Yogi.

Putra Asamanjasa bernama Amsuman. Amsuman menjadi andalan kakeknya, Raja Sagara. Amsuman kemudian melacak jejak ke 60.000 pamannya. Akhirnya, Ansuman bertemu Rishi Kapila beserta kuda dan tumpukan debu yang menggunung di dekatnya. Ansuman merasakan kedamaian di depan sang rishi dan segala kekacauan pikirannya tiba-tiba lenyap.

Ansuman kemudian sadar bahwa rishi di depannya adalah Rishi Kapila yang sangat bijak yang telah terkenal di seluruh dunia. “Wahai rishi, kami hanya dapat melihat hal-hal yang bersifat duniawi, objek-objek indera. Bapa Rishi adalah Gusti yang mewujud untuk membimbing manusia. Tolonglah kami untuk menemukan paman-paman kami!” Amsuman menangis dan jatuh di kaki Rishi Kapila.

Rishi Kapila berkata pelan, “Wahai anak muda, ambillah kuda kakekmu. Indra telah meninggalkan kuda tersebut ketika aku larut dalam  meditasi yoganidra. Para pamanmu mati karena terbakar oleh keangkuhan. Satu-satunya sarana yang dapat mensucikan mereka kembali adalah air sungai Gangga.”

Kapila Vasudeva putra Kardama dan Devahuti adalah seorang rishi yang mengajarkan tentang ilmu samkhya.

Mendengar laporan Amsuman tentang ke 60.000 putranya, Raja Sagara merasa tak bahagia. Setelah menyelesaikan ritual Ashvamedha yang ke-100, Raja Sagara menobatkan Amsuman sebagai raja dan pergi bertapa. Raja Sagara tidak pernah mengira bahwa upacara Ashvamedha yang direncanakannya membuat ke-60.000 arwah putranya menderita.

Amsuman berusaha mendatangkan Dewi Gangga ke bumi demi keselamatan para pitri, leluhur, para pamannya. Akan tetapi sampai maut datang menjemput, keinginannya belum tercapai.

Dilipa, putra Amsuman, juga tidak berhasil membawa Dewi Gangga ke bumi sampai akhir hayatnya.

Bhagiratha, cucu Amsuman meninggalkan kerajaannya kepada para menterinya dan bertekad untuk membawa Dewi Gangga ke bumi untuk menyelamatkan para leluhurnya.