Archive for jiwa

Past Life Vasudeva dan Devaki Orangtua Sri Krishna #srimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 12, 2017 by triwidodo

Seperti apakah karakter orangtua dari Avatar?

Bagaimanakah Past Life, Kehidupan Masa Lalu mereka?

 

Renungkan, berapa kali dalam seminggu atau sebulan kita mengucapkan kalimat seperti ini, “Ya, bagaimanapun kita kan manusia biasa, awam, orang kecil!”

Menurut Krsna, ungkapan-ungkapan seperti ini adalah ungkapan-ungkapan bodoh! Ketika menganggap diri kita sebagai “manusia biasa, yang terbuat dari darah, daging, dan tulang-belulang” — sesungguhnya kita telah menghina Jiwa, percikan Jiwa Agung yang sedang mengemudi kendaraan-badan ini.

“Kau bukanlah darah, daging, dan tulang—belulang. Kau bukanlah kendaraan-badan, mesin, radiator dan sebagainya. Kau adalah pengemudi kendaraan ini.”

Krsna mengajak kita untuk mengubah perspektif hidup kita. Krsna adalah Sang Pengemudi Agung. Dan Dia — Krsna — adalah hakikat diri Anda. Hakikat diri saya. Hakikat diri kita. Kitalah Krsna!

Jadilah penguasa kendaraan badan dan indra. Setidaknya itu dulu.kendalikanlah pancaindra, nafsu—tidak dikekang—tapi dikendalikan, di-manage, diolah dengan baik. Jangan menancap gas terus, kadang gas, kadang kopling, dan jika kendaraan kita adalah jenis mutakhir, maka bisa dikendalikan lewat programming komputer yang sudah menjadi bagiannya. Jadilah pengawas dan pengemudi yang baik bagi diri sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 9:11 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Mereka yang tidak sadar bila badan hanyalah sebuah kendaraan; dan indra, gugusan pikiran serta perasaan dan lainnya hanyalah sekadar perlengkapan kendaraan; dan bahwasanya mereka adalah percikan Jiwa Agung — hidup dalam kesia-siaan.

Celakanya, hidup dalam kesia-siaan tidak hanya merugikan diri saja; tidak hanya merugikan yang bersangkutan saja; tapi setiap orang yang berhubungan dengannya. Persis seperti kecelakaan kendaraan beruntun di jalan bebas hambatan.

Atau, seperti seseorang yang bergaul dengan pemakai narkoba. Dirinya bukan pemakai. Ia pun tidak tahu-menahu bila teman yang duduk di dalam mobilnya sedang mengantongi beberapa butir ekstasi. Maka, saat tertangkap, dia ikut dijatuhi hukuman yang sama sebagai pengedar narkoba — karena “kendaraannya dipakai untuk berdagang, mengedar narkoba.” Penjelasan Bhagavad Gita 9:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Kurang lebih 3.200 tahun SM, Ahakura dari keturunan Yadu mendirikan kerajaan kecil di tepi sungai Yamuna. Mathura adalah ibukotanya. Kerajaan Mathura meluas karena menanami hutan yang tidak produktif dengan tanaman produktif dan membatasi lahan untuk pembangunan sehingga kelestarian alam terjaga.

Setelah Ahakura meninggal, Ugrasena bersama-sama Devaka dua bersaudara putra Ahakura memerintah kerajaan ini. Pemimpin kerajaan  Mathura tak mau disebut Raja tetapi Daas, Pelayan. Mathura tidak diperintah raja tetapi oleh dwitunggal Ugrasena dan Devaka, dan mereka adalah Mathura Daas.

Ugrasena mempunyai putra bernama Kamsa, sedangkan Devaka mempunyai putri bernama Devaki. Mereka bermain bersama, belajar bersama, layaknya saudara kandung. Devaka akhirnya meninggal. Dan Ugrasena segera mencarikan jodoh bagi Devaki. Dipilihlah Vasudeva yang merupakan keluarga jauh Ugrasena. Vasudeva adalah sahabat Kamsa. Sumber: berdasarkan buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebiasaan-kebiasaan asuri atau syaitani tidak berasal dari luar – sisa-sisa sampah syaitani masih ada di dalam diri kita, namun sudah mengendap. Adalah pergaulan syaitani di luar yang memunculkan sifat-sifat syaitani kita ke permukaan. Sisa-sisa yang tidak seberapa mendapatkan angin segar, hidup baru, dan berkembang biak kembali. Pemicu utama bagi sifat syaitani adalah pergaulan yang tidak menunjang perkembangan Jiwa, dan justru mengalihkan perhatian kita sepenuhnya pada badan dan indra. Penjelasan Bhagavad Gita 9:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Ini adalah kisah dimana Vasudeva dan Devaki masih menjadikan Jiwa Agung sebagai pengemudi tubuh mereka, sedangkan Kamsa merasa diri pribadi (ego) nya sebagai pengemudi tubuhnya. Pergaulan Kamsa lah yang memicu sisa-sisa sampah syaitani dalam diri Kamsa muncul kembali. Ditambah lagi mertua Kamsa, Jarasandha adalah seorang yang ambisius ingin menguasai dunia.

Rishi Shuka melanjutkan, “Devaki adalah yang paling suci di antara wanita. Dalam kalpa sebelumnya, dia bernama Prsni. Pada kalpa tersebut, Vasudeva adalah Prajapati Sutapa, prajapati pada kalpa itu. Mereka diperintahkan untuk melakukan tapa penuh pengabdian.  Pikiran mereka terfokus pada Narayana. Mereka tidak meminta moksha tetapi ingin melahirkan Narayana sebagai putra mereka. Mereka masih terlibat dalam kesenangan dunia dalam proses  melahirkan Narayana. Narayana yang dilahirkan sebagai putra Prsni selanjutnya dikenal sebagai Prsnigarbha dan menjadi terkenal karena kualitas kesuciannya.

“Kemudian pada kalpa ini di zaman Satya Yuga, Sutapa dan Prsni lahir lagi sebagai Kasyapha dan Aditi, dan lahirlah putra mereka sebagai Upendra yang terkenal dengan nama Vamana, sang penakluk Raja Bali.

“Kali ini adalah waktu yang ketiga mereka melahirkan Narayana sebagai Sri Krishna. Pada saatnya nanti, Sri Krishna akan berkata pada sang ibunda, “Jika bunda tidak melihat bentuk sejatiku, maka bunda akan terlibat lagi dalam maya dan tidak dapat mencapai moksha. Setelah melihat wujud sejatiku, ibunda akan menyadari bahwa aku adalah Brahman. Dan, setelah kelahiran ini bunda akan moksha. Demikian wahai raja, awal kisah tentang Devaki dan Vasudeva.”

Parikshit mendengarkan dengan penuh perhatian.

Advertisements

Putri Ila: Istri Budha yang Setiap Bulan Berganti Gender #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 18, 2017 by triwidodo

 

Dari sudut pandang spiritual “Perempuan dan Lelaki adalah sama”. Di sana pertanyaan emansipasi tak pernah muncul. Pada titik itu, masalah tolok ukur, status juga tak relevan. Dan tak berguna untuk dibahas.

Jiwa melampaui semua pembahasan dan penjelasan. Ini tak butuh persetujuan ataupun penyangkalan. Ini adalah ini. Dan Ini Utuh dalam Dirinya sendiri. Tak ada perdebatan di sana, tak ada apa-apa.

Di sini, kita perlu mendiskusikan sesuatu, tapi bukan yang tak ada apa-apa melainkan jiwa dalam bentuknya yang paling kasat. Ya…kekasatannya yang kita bisa diskusikan di sini. Dalam bentuknya yang halus, jiwa-jiwa mereka, lelaki dan perempuan tetaplah sama. Mereka tak beda. Tapi dalam bentuknya yang kasat, mereka sama sekali berbeda. Kekasatanlah yang membuat perbedaan. Dan, kita harus menatap tajam guna menembus kekasatan ini. Dikutip dari artikel Bapak Anand Krishna Emansipasi dan Kaum Perempuan 22 April 2009 di: http://www.aumkar.org/ind/

 

Sraddhadeva dari Dinasti Surya lama tidak mempunyai keturunan dan meminta Vasishtha, gurunya untuk melakukan upacara yajna memohon bantuan Mitra dan Varuna. Akan tetapi, istri Sraddhadeva menginginkan kelahiran seorang putri, sehingga ketika proses yajna sedang berlangsung dia meminta bantuan Hota agar anak yang lahir menjadi seorang putri. Dan lahirlah seorang putri yang dinamakan Ila.

Rishi Vasishtha menjelaskan kepada raja bahwa Hota telah mengubah mantra. Akan tetapi, Rishi Vasistha sanggup mengubah kelamin Ila menjadi laki-laki dengan kekuatan tapanya. Dan, kemudian Ila berubah menjadi pangeran bernama Sudyumna.

Di suatu lereng Meru, dikisahkan bahwa Mahadeva sedang bercengkerama dengan Parvati. Pada suatu ketika, para rishi yang ingin bertemu dengan Mahadeva masuk ke tempatnya tanpa memberitahu lebih dahulu. Pada waktu itu Parvati sedang duduk di pangkuan Mahadeva tanpa pakaian. Parvati sangat malu atas kejadian tersebut, dan Mahadeva kemudian berkata bahwa mereka yang masuk ke dalam hutan tersebut akan berubah menjadi wanita.

Para rishi berubah menjadi wanita dan Parvati menjadi lega. Dengan berjalannya waktu tak ada lelaki yang berani memasuki hutan tersebut. Pada suatu ketika Pangeran Sudyumna kebetulan masuk ke hutan tersebut, dan dia berubah menjadi wanita lagi atau menjadi Ila.

Sang raja meminta bantuan Rishi Vasishtha lagi. Dan, Rishi Vasishtha kemudian berdoa kepada Mahadeva agar Ila dapat berubah menjadi laki-laki lagi. Mahadeva mengatakan bahwa dalam satu bulan, putra Sraddhadeva akan menjadi putri Ila dan satu bulan berikutnya menjadi pangeran Sudyumna dan sewaktu menjadi laki-laki lupa pernah menjadi wanita. Demikian pula saat menjadi wanita dia lupa pernah menjadi pria.

Dikisahkan saat Putri Ila berwujud wanita, Pangeran Budha, putra Chandra atau Soma, jatuh hati kepadanya, sehingga akhirnya mereka menikah. Dikisahkan selama 1 bulan Ila menjadi istri Budha, dan 1 bulan berikutnya begitu bangun tidur dia menjadi Pangeran Sudyumna dan belajar bertapa dari Budha, temannya tersebut. Setelah satu tahun lahirlah putra dari Ila dan Budha. Setelah sang putra lahir, Budha mohon bantuan Mahadeva agar masalah istrinya diselesaikan. Mahadeva memberkati dan Putri Ila menjadi Pangeran Sudyumna selamanya.

Dari Budha dan Ila lahirlah Pururava, raja pertama dari Dinasti Chandra yang merupakan nenek moyang Pandawa dan Kaurawa.

Ingatlah selalu bahwa Tuhan adalah Imminent dan Transendent. Berarti Ia berada di dalam setiap gender, semua gender ada di dalam diriNya, semua berasal dariNya. Itu imminent. Namun, Ia pun melampaui segalanya, transcendent.

………….

Kebahagiaan abadi hanya dirasakan ketika unsur-unsur maskulin dan feminin di dalam diri Anda bertemu di dalam Tuhan. Itulah kesempurnaan diri. Itulah pencerahan.

Sementara itu, pertemuan antara pria dan wanita, umumnya hanyalah pertemuan antara dua ego. Dan pertemuan antara dua ego tidak pernah bertahan lama. Selalu terjadi tarik-menarik, masing-masing ingin menguasai yang lain. Dari hubungan seperti itulah lahir ego baru dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Namun jika terjadi pertemuan agung di dalam Tuhan, maka hasilnya adalah kreativitas yang tertinggi, kesempurnaan abadi, kebahagiaan sejati.

……………..

Ketika Kesadaran Manusia berada di Wilayah 3 Chakra Awal, khususnya sekitar Chakra Kedua, maka ia mengejar kenikmatan duniawi. Ia baru mengenal keterikatan dan ketertarikan. Cintanya masih bersifat birahi dan ditujukan terhadap seseorang atau beberapa orang.

Ketika berada sekitar Chakra Keenam, ia mengenal kasih sejati yang tak bersyarat dan tak terbatas. Ia mulai mencintai sesama manusia tanpa mengharapkan timbal-balik. Ia tinggal selangkah lagi merasakan keselarasan sampurna dengan semesta. Tinggal selangkah lagi untuk melihat wajah Allah di mana-mana. Interaksi antara gender bagi para sanyasi hanya bermanfaat ketika masing-masing sudah berada di wilayah chakra keenam tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan ikuti kisah Raja Pururava dalam kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya.

Bharata: Kau-hina dan Kau-sakiti tidak Memengaruhi Aku! #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on March 18, 2017 by triwidodo

Para Suci yang lahir di keluarga Yogi

“(Jika ia sudah tidak terikat dengan kebendaan), maka ia ‘mengalami’ kelahiran dalam keluarga para Yogi. Kelahiran seperti itu, sungguh tidak mudah diperoleh.”

“Tidak” atau “belum” mencapai kesempurnaan dalam Yoga, berarti, saat meninggalkan badan, Jiwa masih terikat dengan alam benda, dengan kebendaan. Maka yang terjadi ialah seperti yang dijelaskan dalam ayat sebelumnya – “lahir dalam keluarga saleh dan sejahtera.” Penjelasan Bhagavad Gita 6:42  dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Kita masih ingat dalam kisah sebelumnya bahwa Raja Bharata sudah tidak terikat dengan kebendaan. Walaupun demikian, saat ajal menjemput dia belum mencapai kesempurnaan karena terlampau mencintai anak kijang, sehingga dia lahir sebagai kijang. Akan tetapi umur sang kijang sangat pendek, dan Bharata lahir lagi di tengah keluarga Yogi. Setelah ayahnya meninggal dia bekerja keras di ladang sampai sekelompok perampok membawanya ke kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Bhadra Kali. Justru para perampoklah yang dibunuh sang dewi dan Bharata selamat.

 

Ujung kelahiran dan kematian Barata

“Ketika seorang bijak menyadari segala sesuatu sebagai perwujudan-Ku, perwujudan Tuhan; kemudian dengan kesadaran demikian, ia memuja-Ku – maka ketahuilah bahwa ia telah mencapai ujung kelahiran dan kematiannya. Inilah kehidupannya yang terakhir. Seorang seperti itu sungguh sukar ditemukan.” Penjelasan Bhagavad Gita 7:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu ketika seorang raja bernama Rahugana sedang bepergian di sepanjang tepi sungai Iksumati. Ia adalah seorang raja kerajaan Sindhu dan Sauvira. Ia sedang ditandu dan merasa perlu menambah tenaga seorang lagi untuk mengangkat tandunya. Sang raja melihat Bharata yang bertubuh tegap sedang duduk di tepi sungai dan ditawarinya untuk menjadi pengangkat tandunya. Bharata walau seorang brahmana, tetapi mau melakukan pekerjaan apa saja, sehingga dia pun menyanggupinya.

Akan tetapi, setelah berjalan beberapa lama, sang raja merasa ada yang aneh dengan langkah dari para pemanggul tandunya. Ternyata Bharata selalu memperhatikan tanah yang akan diinjaknya, apakah ada cacing atau serangga atau hewan lainnya. Setelah merasa aman dia baru melangkahkan kakinya. Para pembantu berkata pada sang raja bahwa itu bukanlah kesalahan mereka, langkah sang pendatang baru tidak selaras dengan langkah mereka.

 

Bharata yang tidak takut hukuman dan bahkan tidak takut kematian

Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan yang menganggapnya terbunuh—kedua-duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.” Bhagavad Gita 2:19

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Penjelasan Bhagavad Gita 2:20 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sang raja marah, ia berpikir bahwa ia dalah manusia agung yang harus dituruti perintahnya dan menganggap orang lain lebih rendah derajatnya dan mestinya mereka menurut, karena akan dibayar mahal olehnya. Sang raja berkata kepada Bharata, “Kamu bertindak seperti mayat berjalan, kamu tidak mengindahkan perintahku. Aku harus memberi pelajaran kepadamu. Aku akan menghukum keangkuhanmu!”

Bharata sudah mencapai kesadaran Jiwa (soul awareness). Jiwa tidak pernah mati, maka jika tubuhnya akan dihukum oleh sang raja, dirinya tetap tenang. Bharata tersenyum kepada sang raja dan berkata, “Aku kau anggap tidak melakukan pekerjaan yang diberikan kepadaku dengan baik.  Dan, kamu menganggap dengan kemarahanmu aku akan takut atau hatiku akan tersakiti. Haruskah aku bercerita kepadamu, bahwa kau menganggap badanku ini nyata dan beban yang kupanggul adalah nyata? Aku Sejati berada dalam diriku dan tak ada hubungan dengan badanku. Menghina dan menyakiti diriku tidak memengaruhi Aku Sejati. Kau menganggap tubuhku, pikiran dan perasaanku sebagai diriku. Tetapi aku tahu bahwa kau salah. Aku Sejati tidak terpengaruh oleh ucapanmu.”

 

“Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap “rasa” atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelijensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bharata melanjutkan, “Kau mengatakan aku seperti mayat yang berjalan. Wahai raja, proses kelahiran dan kematian tidak membatasi Aku. Perbedaan antara seorang raja dan seorang pembantu muncul karena perasaan dualitas.”

 

Raja Rahugana bertemu dengan Guru Pemandu Rohani

“Para Master tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam kehidupan Anda. Begitu Anda siap, ia akan muncul dalam kehidupan Anda. Para master tidak datang dari mana-mana, mereka tidak pergi ke mana-mana. Master seperti ini merupakan suatu kejadian dalam hidup Anda. Apabila Anda menemukan seorang Master seperti itu dalam kehidupan Anda, peristiwa itu mungkin saja peristiwa yang terbesar dan terpenting dalam hidup Anda.

“Para Master tidak senang disebut Master. Mereka lebih senang dipanggil sahabat. Para Master tidak pernah menciptakan jarak antara dirinya dan Anda. Para Master merupakan keharuman bunga yang menyerbaki kehidupan Anda! Sekali lagi, Anda tidak dapat memperoleh alamatnya dari iklan-iklan koran. Anda harus sabar menanti, dan Ia akan terjadi, akan muncul dalam kehidupan Anda.

“Jika Anda bertemu dengan seorang Master, hidup Anda akan segera berubah. Suatu ruang yang gelap selama 40 tahun dapat menjadi terang dalam sekejap oleh sebatang lilin, tidak memerlukan 40 tahun untuk meneranginya. Pertemuan Anda dengan seorang Master akan membuat Anda gembira; hari pertemuan menjadi hari perayaan! Anda akan menari dan menyanyi karena kegirangan. Anda baru akan tahu bahwa seorang Master tidak pernah memperbudak orang lain. Ia telah menguasai dirinya; ia tidak ingin menguasai Anda. Pertemuan dcngan seorang Master justru akan mempercepat kebebasan Anda, mempermudah proses ketidaktergantungan Anda.” (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Rahugana termenung lama dan dapat memahami kebenaran yang diucapkan oleh Bharata, dia jatuh terduduk dan bersujud pada Bharata dengan berlinang air mata, “Keangkuhanku telah kau binasakan. Aku adalah raja dari Sindhu dan Sauvira akan mencari Rishi Kapila untuk belajar Brahmavidya, akan tetapi kau adalah Kapila sendiri yang datang menyelamatkan aku!”

Raja Rahugana sudah mempersiapkan dirinya untuk mencari kebenaran dalam hidupnya. Sang raja bepergian jauh untuk menemui Rishi Kapila ingin belajar tentang Pengetahuan Sejati. Keberadaan mempersiapkan pertemuan sang raja dengan Bharata, sang master yang sudah cerah dan sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah tujuan sejati. Beruntunglah seseorang yang bertemu dengan para Master yang sedang melanjutkan perjalanan terakhirnya di dunia ini.

 

Kendalikan Pikiran Dahulu

Jika gugusan pikiran dan perasaan belum terkendali, maka hawa nafsu pun tidak dapat dikendalikan. Seorang boleh bersumpah telah atau akan “menahan nafsu” — jika pikiran/perasaannya belum terkendali, sumpahnya tidak berarti apa-apa.

Semuanya ini langkah-langkah yang bersifat sangat teknis, dan menjelaskan alasan kegagalan kita selama ini. Mau langsung mengingat Tuhan, berjapa, berzikir; mau langsung mengendalikan nafsu — tidak bisa. Mesti mengikuti tahapan-tahapan sebagaimana dijelaskan di sini.

Penjelasan Krsna membuktikan bila ia memahami betul kinerja mind dan psikologi manusia. Ia tahu persis bagaimana seorang manusia dapat mengalami kedamaian sejati dan kebahagiaan total. Ia bukanlah seorang ahli yang asal-asalan atau asal-bunyi.

Kedamaian sejati dan kebahagiaan abadi tidak bisa diperoleh dari hal-hal duniawi yang bersifat tidak abadi. Pengalaman itu hanya dapat diperoleh jika seseorang berada dalam kesadaran-abadi, dalam keabadian. Ketika Jiwa menyadari hakikatnya sebagai percikan dari Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 6:126 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bharata kemudian menjelaskan Brahmavidya dengan penuh kasih sayang, “Adalah pikiran manusia yang menyebabkan dia terperosok ke dalam rawa samsara atau yang menyebabkan dia menemukan kebebasan. Pikiran manakala diarahkan ke arah Tuhan, maka tidak ada ketakutan lagi. Kebijaksanan yang diperoleh ini tidak dapat diganti dengan tapa. Bukan pula diganti dengan menyelenggarakan upacara ritual tanpa cacat.  Tidak dapat ditukar dengan memberi makan 1.000 orang. Tidak juga dengan derma yang dilakukan oleh para Grihastha. Menyanyikan veda berkelanjutan dan pemujaan kepada para dewa pun tak dapat memperoleh kebijaksanaan tersebut. Hanya dengan jatuh di kaki seorang suci,  menyerahkan diri kepada seorang Guru yang tak terpengaruh lagi terhadap kelahiran dan kematian, seorang manusia dapat mencapai keselamatan.”

Bharata mengajarkan pengetahuan sejati, kemudian memberkati Raja Rahugana dan melanjutkan pengembaraannya di atas permukaan bumi sampai tugas sucinya di atas dunia selesai.

 

Catatan:

Meditasi tak bisa diajarkan. Seorang master hanya bisa menunjukkan jalan menuju meditasi. Meditasi adalah sebuah “kejadian”, tetapi kita bisa mempercepatnya dengan mempersiapkan lahan yang akan menunjang terjadinya meditasi. Dan lahan itu adalah hati seseorang, jiwa seseorang. Teknik-teknik meditasi yang diberikan oleh seorang master adalah alat untuk membersihkan lahan di dalam diri Anda. Tetapi, sebelum Anda benar-benar menggunakannya, mereka bisa saja kelihatan sama bagi Anda. Dari buku Soul Quest

Sudahkah kita mengikuti latihan meditasi seperti yang ditunjukkan Master?