Archive for jiwa

Penyebab Munculnya Suka dan Duka

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 3, 2019 by triwidodo

Munculnya Keterikatan

Seorang Master berkisah tentang seorang gadis yang tinggal di suatu rumah di daerah elit di kota besar yang tidak begitu kenal dengan tetangga. Rumah-rumah di sana diberi pagar yang tinggi. Selisih beberapa rumah tinggal seorang perjaka akan tetapi mereka tidak saling kenal. Pada suatu hari sang gadis sakit parah, satu rumah sibuk dan sang perjaka juga melihat dokter datang akan tetapi dia tidak merasa terganggu, biasa saja.

Akan tetapi dalam perjalanan waktu, sebagai akibat dari takdir, sang perjaka menikah dengan sang gadis. Pernikahan berlangsung di siang hari dan pada malam hari sang gadis sakit perut. Sang perjaka sekarang sangat cemas dan sibuk memanggil saudaranya yang menjadi dokter.

Aneh, dulu sang gadis sakit parah dan dia tidak ambil pusing, akan tetapi setelah menjadi suami istri, hanya karena sakit perut sang perjaka menjadi cemas dan gelisah.

Keterikatan menjadi penyebab munculnya suka dan duka……..

Mengapa Kita Berkeluarga?

Ada insting, naluri dalam diri untuk berkembang-biak? Apakah karena Jiwa kita ingin mengalaminya demi perkembangan diri? Mengapa Swami Vivekananda atau para pelaku brahmachari tidak berkeluarga? Apakah mereka sudah pernah mengalami dan mereka tidak ingin mengulangi lagi? Kalau demikian tujuan hidup itu apa?

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri.

Sumber: (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan dalam buku Soul Awareness:

Kehidupan Anda membuktikan bahwa masih ada sesuatu yang harus Anda pelajari. Masih ada keinginan-keinginan yang harus dipenuhi. Masih ada obsesi-obsesi yang harus dilampaui. Jujurlah dengan diri Anda sendiri. Jangan membohongi diri. Anda berada di sini untuk mengurus diri sendiri. Perkawinan Anda, putra-putri Anda, hubungan kerja Anda, segala sesuatu yang sedang Anda lakukan, sedang Anda alami, semua demi perkembangan diri sendiri. Jangan lupa hal itu.

 

Yang Penting adalah Kebebasan Anda. Jangan terikat pada siapa atau apa pun. Begitu sadar bahwa dalam hidup ini kita harus belajar sesuatu, kita akan mempelajarinya dengan baik, namun kita tidak akan terikat pada sesuatu apa pun. Kita tidak akan terikat pada bangku yang kita duduki, kita tidak terikat pada bangunan sekolah. Kita tidak terikat pada guru yang mengajar kita. Kita pergi ke sekolah untuk belajar. Selesai belajar, kita pulang. Demikian pula dengan kehidupan ini: Selesai belajar kita pulang.

Tetapi apa yang terjadi selama ini? Kita melupakan pelajaran, kita malah terikat pada sarana-sarana penunjang yang disediakan oleh alam. Kita terikat pada rumah kita, pekerjaan kita, istri kita, suami kita, keluarga kita, kepercayaan kita, ideologi-ideologi kita. Semua itu hanya sarana penunjang, sarana-sarana pendidikan. Gunakan, tetapi jangan terikat pada mereka.

 

Keterikatan Kita Membuat Kita Gagal mempelajari mata pelajaran yang harus kita pelajari. Itu menyebabkan kelahiran kita kembali. Kita lahir dan mati, dan lahir, dan mati berulang kali, kadang kala hanya untuk mempelajari satu mata pelajaran. Kita sedang lari di tempat.

Hampir setiap kali kita mengalami kelahiran dalam lingkungan yang sama dan itu-itu juga. Kita lahir dalam keluarga yang sama. Yang dulu jadi istri, sekarang jadi ibu. Yang dulu jadi anak, sekarang jadi istri. Yang dulu jadi sahabat, sekarang jadi ayah. Yang sekarang jadi suami, dulunya kakak. Kita tidak pernah bebas dari lingkungan yang sempit ini. Bahkan, mereka yang memusuhi kita pun, umumnya, orang-orang yang sama pula. Dari dulu demikian, sekarang pun masih seperti itu. Peran kita berubah-ubah, tetapi tema sentralnya masih sama. Sesungguhnya, kita mengulang cerita yang sama, dengan sedikit variasi di sana-sini.

Manfaatkan kelahiran ini untuk menyadarkan diri bahwa ada mata pelajaran yang harus Anda pelajari. Jangan buang waktu untuk mengagung-agungkan sarana-sarana yang Anda miliki, termasuk kepercayaan-kepercayaan Anda, ideologi-ideologi yang Anda percayai.

Semua itu hanyalah sarana pendidikan. Gunakan semua itu tapi jangan lupa bahwa yang harus bekerja adalah Anda sendiri. Perjalanan ini harus dimulai dan langkah pertama harus diambil. Jangan lari di tempat. Lébih baik berjalan—walaupun perlahan—daripada lari di tempat.

Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Ketidaktahuan bahwa Jati Diri Kita Adalah Sebagai Jiwa

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

“Avidya atau Kebodohan, Ketidaktahuan; Asmita atau Ke-‘aku ‘-an; Raga atau Ketertarikan, Ke-‘suka’-an; Dvesa atau Ketaktertarikan, Ke-‘taksuka’-an, Kebencian; dan Abhinivesa atau Keinginan untuk Mempertahankan suatu Keadaan, termasuk kehidupan itu sendiri—semua ini adalah penyebab Klesa atau penderitaan.” Yoga Sutra Patanjali II.3

Duka-Derita disebabkan oleh beberapa hal yang disebut dalam sutra ini. Tidak terlalu banyak alasan. Beragam alasan yang terasa tak berujung, tak berpangkal, dan tak terhitung, sesungguhnya merupakan cabang-cabang, ranting-ranting dari beberapa alasan utama ini.

ALASAN PERTAMA AVIDYA, Kebodohan atau Ketidaktahuan. Yang dimaksud adalah ketidaktahuan tentang jati diri kita sebagai Jiwa dan tentang sifat kebendaan yang berubah-ubah terus.

Inilah Dwi-Tunggal sebab utama Avidya atau Ketidaktahuan kita. Dari pasangan inilah Iahir beragam kebodohan lainnya, segala kebodohan lainnya, termasuk yang disebut berikut.

ALASAN KEDUA: ASMITA atau Ke-“aku”-an. Ke-“aku”-an yang dimaksud adalah ke-“aku”-an pseudo atau palsu

……………..

AKU—GELAR, AKU—TABUNGAN, segala macam aku menggelembung menjadi besar karena keadaan-keadaan tertentu—keadaan-keadaan yang “terasa” menguntungkan,baik—, sudah pasti ciut kembali! Keadaan terus berubah. Sekarang naik, sesaat lagi bisa turun. Sekarang pasang, sebentar lagi surut.

Orang Jawa bilang “Ojo dumeh!”—Jangan Sombong. Jangan berbesar kepala karena keberhasilan materi.

ALASAN KETIGA DAN KEEMPAT: RAGA DAN DVESA atau Suka/Tak-Suka, Tertarik/Tak-Tertarik. Jika tidak dapat apa yang kita sukai—susah. Dapat apa yang kita tidak sukai—susah. Tertarik sama Jeng Joti, dapatnya Holi—susah. Celakanya, kemauan kita tidak selalu terenuhi. Boleh suka/tak-suka, boleh tertarik/tak-tertarik dengan seseorang atau sesuatu—dapatnya belum tentu sesuai dengan yang kita sukai. Alhasil, penderitaan—klesa.

Terakhir:

ALASAN KELIMA: ABHINIVESA ATAU KEINGINAN UNTUK MEMPERTAHANKAN sesuatu—suatu keadaan, suatu pengalaman, hubungan, atau apa saja.

Ingin mempertahankan masa muda—selalu muda, berhenti berusia, berhenti berumur. Berusia 21 tahun selamanya. Apa bisa? Apa mungkin? Kecuali, ya, ada pengecualian yaitu mati, mampus, minggat saat merayakan hari ulang tahun 21. Kemudian, ya, foto yang diambil saat perayaan itu bisa memperlihatkan diri kita berusia 21 tahun untuk selamanya. Setidaknya selama foto itu masih ada, masih ada anggota keluarga, konco, siapa saja yang sudi menyimpan foto itu.

Sumber: (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Tidak Ada Keseimbangan antara Materi dan Rohani

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on August 5, 2018 by triwidodo

Kisah Shuka Putra Vyasa Membedakan Alam Benda dan Jiwa

Rishi Vyasa, penulis Mahabharata, Srimad Bhagavatam dan Editor Veda adalah seorang suci. Ayahnya Parasara, Kakeknya Maharishi Sakti, Kakek Buyutnya Rishi Vasishta termasuk Rishi Vyasa sendiri berusaha menjadi manusia yang sempurna tapi belum mencapainya. Akan tetapi Shuka Muni putra Rishi Vyasa telah lahir dengan sempurna. Rishi Vyasa mengajar Shuka Muni dan kemudian minta Shuka belajar pada Raja Janaka. Janaka sendiri dipanggil Videha (tanpa tubuh). Sang raja sadar bahwa dia bukan tubuh, tapi Jiwa (mencapai tingkat Soul Awareness).

Menurut Mahabharata, Janaka adalah ras para raja yang memerintah Kerajaan Videha dengan ibukota Mithila. Ayah Sita (istri Rama) bernama Sīradwaja Janaka. Mahabharata menyebutkan banyak Raja Janaka lainnya yang merupakan sarjana agung dan hidup seperti rishi meskipun mereka adalah raja. Mereka senang berbincang-bincang mengenai agama dengan banyak rishi.

Raja Janaka tahu bahwa Putra Vyasa akan datang kepadanya untuk belajar. Oleh karena itu sang raja telah mempersiapkannya. Ketika Shuka masuk istana, para penjaga gerbang sengaja tidak mempedulikannya dan hanya memberi tempat duduk. Shuka duduk menunggu sampai 3 hari, tanpa ada yang bicara dengannya. Shuka tidak merasa tersinggung, walaupun dia seorang putra dari Rishi Agung yang dikenal sebagai Jagad Guru.

Selanjutnya, baru Menteri dan Para Pejabat Istana menemuinya dan memberi penghormatan besar. Dia diajak melihat kamar-kamar luar biasa indahnya, dengan pemandian yang elok dan tinggal selama 8 hari di tempat penuh kemewahan. Wajah Shuka tetap tenang, baik tidak dipedulikan  maupun dihormati berlebihan tidak mengubah raut wajahnya.

Kemudian Shuka dibawa menghadap Raja Janaka yang sedang menikmati tarian, musik dan hiburan lainnya di tengah aula. Sang raja memberinya secangkir susu penuh sampai bibir cangkir, dan minta Shuka mengelilingi aula yang penuh penari cantik, penyanyi merdu, dan pemusik, sebanyak 7 tanpa menumpahkan susu setetes pun.

Shuka berputar 7 kali memegang cangkir berisi susu dan tidak ada setetes pun yang jatuh. Shuka bisa melepaskan diri dari pengaruh sekitar (tidak menjadi budak dari panca indra dan pikiran), bisa memfokuskan pikiran dan panca indranya pada cangkir berisi susu agar tidak tumpah saat berjalan membawanya. Raja Janaka bertanya, “Apa yang telah diajarkan oleh ayahmu? Dan apa yang telah kau pelajari sendiri? Aku hanya bisa mengatakan bahwa Kau telah mengetahui Kebenaran, silakan pulang!”

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 1 Karma Yoga Non-Attachment

Shuka Muni telah menjadi Master yang menguasai pikiran mencapai Soul Awareness, dan setiap saat dengan penuh kesadaran bisa membedakan antara alam benda dan Jiwa.

Alam Benda (Kesadaran Rendah) dan Alam Jiwa (Kesadaraan Tinggi) menurut Bhagavad Gita

“Di luar Prakrti, alam benda, kebendaan, dan kesadaran rendah, adalah alam Jiwa, yang menopang sekaligus menghidupi seantero alam.” Bhagavad Gita 7:5

Segala sesuatu di luar Jiwa adalah bagian dari alam benda – termasuk pikiran, emosi, impian, keinginan – semua apa pun juga – semua tanpa kecuali.

Di sini, sekarang, kita melihat perbedaan yang jelas sekali antara “Pengalaman” Krsna dan “Pemahaman” para Motivator – Penceramah, pengkhotbah modern masih “mencari” keseimbangan antara dunia dan Tuhan, antara alam benda atau materi dan alam batin atau spirit.

Bagi Krsna, alam benda dan Jiwa tidak sebanding, tidak bisa disejajarkan. Alam benda adalah gambar-gambar yang sedang bergerak, bayang-bayang kita yang sedang diproyeksikan – sementara itu, Jiwa adalah Layar yang menjadi “Penopang” dan memberi kehidupan pada gambar-gambar yang sedang ditayangkan.

Layar yang statis ini tidak terpengaruh oleh adanya banjir,tsunami, gempa, perang, kelahiran, kematian dan sebagainya. Layar tidak menjadi basah karena tayangan banjir. Ia tidak terbakar karena adegan pembakaran.

Tidak ada perbandingan antara gambar-gambar yang sedang diproyeksikan dan Layar. Mustahil. Tidak ada keseimbangan di antaranya – dalam pengertian Layar yang statis digerakkan 50% dan gambar-gambar yang sedang diproyeksikan diturunkan kecepatannya 50% – semuanya malah menjadi kacau.  Kekacauan inilah yang sedang kita saksikan di dunia – saat ini.

Setiap orang bicara tentang “keseimbangan” tanpa memahami makna dan impliksinya. Keseimbangan seperti itu telah membuat kita agak  “rada-rada” – lebih dari 3-4 di antara 10 orang yang kita temui  di setiap jalan-raya di kota besar di seluruh dunia adalah penderita gangguan jiwa, atau lebih tepatnya, sakit mental tingkat menegah.

Mereka di border-line – persis di garis pemisah antara kewarasan dan ketidakwarasan. Penemuan-penemuan semacam ini jarang dipublikasikan. Tapi jika Anda seorang Psikolog atau Psikiater – apalagi seorang ahli syaraf – maka Anda tahu persis seperti apakah masyarakat kita saat ini.

Belum selesai. 3-4 orang di antara 10 orang adalah penderita gangguan jiwa, sakit mental ringan yang sewaktu-waktu bisa naik tingkat – dan bergabung dengan kelompok pertama yang berada di border-line – di garis batas.

Seorang Psikiater yang juga adalah seorang Guru Besar – mengatakan kepada saya bahwa di antara 100 orang, belum tentu ada 1 orang yang menurut Kriteria Standar Psikiatri, “betul-betul normal” – lebih parah lagi! Pasalnya setiap orang yang menderita stress berlebihan dan merasa tidak mampu menangani stressnya, sudah mengalami  gangguan mental. Dan, memang tidak mudahmencari seorang pun di antara kita yang betul-betul bahagia, atau setidaknya tenang, sehingga berani menghadapi segala tantangan dengan senyuman!

Keseimbangan diri yang sudah digembar-gemborkan saat ini akan, atau mungkin sudah, menciptakan manusia-manusia border-line – Dirinya sedang terbakar oleh berbagai macam api – dari rasa iri hingga kebencian – di luar ia memasang topeng badut. Manusia-manusia bertopeng inilah yang kita jumpai di setiap kota – dari Benua Beruang hingga Kutub Utara!

Dengarkan petunjuk Krsna, Alam Benda adalah Alam Benda – jangan ikut menjadi  “benda” bersamanya. Jangankan kedudukan, harta-kekayaan, dan sebaginya – identitas kita saat ini – nama pemberian orang tua, latar-belakang keluarga, sosial, pendidikan, dan sebagainya – semua adalah bagian dari alam benda! Ketika kita mengidentifikasikan diri dengan salah satu di antaranya, kita menjadi bagian dari kebendaan. Kita menjadi “benda” – maka bisa digadaikan dan diperjualbelikan.

Betapa mudahnya bagi kita untuk menggadaikan, atau bahkan membunuh batin kita sendiri,  mengabaikan  suara hati-nurani, dan memperkarakan seorang yang tidak bersalah; atau merampas hak orang; menjarah kampung halaman dan negeri kita sendiri; menyusahkan sesama manusia; menyakiti sesama makhluk hidup!

Inilah keadaan kita saat ini – semuanya karena memaknai diri dengan cara yang salah. Tingkatkan kesadaran, “aku bukan benda, aku bukanlah badan ini, akau adalah Jiwa Abadi! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Alexander Agung dan Dandamis #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 5, 2018 by triwidodo

Dikisahkan di India inilah Alexander bertemu satu-satunya pria yang tidak dapat dia taklukkan. Para Sejarawan Yunani membawa catatan tentang apa yang mereka hadapi. Mereka menyebutkan bahwa di hutan, terbaring telanjang seorang Brahmana di tempat tidur dari daun, bernama Dandamis.

Alexander Yang Agung sangat penasaran dengan dongeng kearifan orang-orang suci India. Alexander mengirim pesan kepada Dandamis: “Alexander, Anak Allah dan Raja Bumi, mengundang Anda menemuinya. Jika Anda datang, Anda akan diberi banyak hadiah. Jika Anda tidak datang, Anda akan mati.”

Dandamis tidak terkesan dengan pesan Alexander, “Hanya ada satu Raja”, Dia yang menciptakan terang dan hidup. Dia satu-satunya Raja yang saya taati, dan Dia membenci perang. Bagaimana Alexander bisa menjadi Raja Bumi selama dia tetap tunduk pada Raja Maut? Dan apa yang bisa dia tawarkan kepada saya sebagai hadiah, saat Ibu Bumi sudah memasok dan menyediakan semua yang saya butuhkan? Saya tidak punya barang yang harus saya lindungi, jadi saya tidur nyenyak di malam hari. Alexander bisa membunuh tubuhku, tapi dia tidak bisa menyentuh jiwaku. Beritahu Raja Anda bahwa pada saat kematian, masing-masing dari kita akan diminta untuk memperhitungkan tindakan kita dalam kehidupan ini.”

Tanyakan kepadanya bagaimana dia akan menjelaskan penderitaan dari semua orang yang telah dibunuh dan ditindas dengan sangat menyakitkan. Rajamu bisa menggoda orang yang mendambakan emas. Dia bisa menakut-nakuti orang yang takut mati. Tapi kita Brahmana tidak peduli sama sekali. Katakan pada Alexander bahwa dia tidak memiliki apa-apa yang kuinginkan dan bahwa aku tidak dapat menemuinya.”

Ketika orang-orang Alexander menyampaikan balasan Dandamis, Raja Alexander memberi jawaban kepada Dandamis bahwa dia mengakui bahwa Alexander penakluk dunia, telah ditaklukkan oleh pria tua telanjang.

Penjelasan Bhagavad Gita tentang Jiwa

“Adalah suatu keniscayaan bahwa apa yang tidak ada tak akan pernah ada; dan apa yang ada, tidak akan pernah tidak ada. Keniscayaan kedua hal ini dipahami oleh mereka yang telah menyaksikan kebenaran.” Bhagavad Gita 2:16

Kebenaran Hyang Tunggal Melampaui kebenaran relatif yang terlihat oleh mata. Yang terlihat adalah perubahan-perubahan yang memberi kesan seolah sesuatu yang saat ini ada dan menjadi milik kita, besok tidak akan ada. Ya, barangkali tidak menjadi miliki kita. Harta yang kita miliki bisa pindah tangan. Tapi harta itu , materi itu tetap ada. Kadang berpindah tangan, kadang berubah bentuk – Sesungguhnya materi pun hanyalah ungkapan dari energi yang kekal dan abadi.

Mereka, para resi yang telah menyaksikan, melihat kebenaran — memahami hal ini. Di balik segala sesuatu yang sedang berubah dan berpindah tangan, berpindah kepemilikan — ada Kebenaran  Tunggal yang Abadi. Sebab itu, mereka tidak terjebak dalam permainan petak-umpet di dunia ini.

Keberadaan—dunia bergantung pada dualitas – Ada dan tiada, zahir dan gaib, nyata dan tidak nyata. Di dalam dunia ini, yang ada, ya ada. Dan, yang tidak ada, ya tidak ada. Selama masih bermain petak-umpet, dualitas ini mesti dihormati. Untuk mempertahankan bumi ini, kerusakan lingkungan mesti dihentikan. Untuk menegakkan keadilan, kezaliman mesti dilawan.

Para bijak memahami hal ini. Sebab itu, walau mereka pun telah menjadi saksi akan Kebenaran Tunggal di balik segala dualitas, tetaplah mereka menghormati dualitas. Tanpa dualitas bumi tidak akan bertahan. Konstelasi perbintangan akan terganggu. Di mana-mana akan terjadi kekacauan. Maka, mereka tidak menolak kebenaran relatif yang dapat dilihat oleh mata kasat.

 

“Ketahuilah bahwa Hyang Meliputi alam semesta adalah Tak Termusnahkan. Tiada seorang pun yang dapat memusnahkan Ia Hyang Tak Termusnahkan.” Bhagavad Gita 2:17

Gusti Pangeran, Tuhan, Jiwa Agung, atau apa pun sebutan-Nya melingkupi, meliputi alam semesta. Segala sesuatu berada di dalam-Nya. Oleh karena itu, Krsna mengatakan kepada Arjuna:

“Janganlah menangisi perubahan!” Perubahan tidaklah mengakhiri sesuatu. Di balik segala perubahan yang terjadi dan terlihat oleh kita; di balik segala kepunahan, kematian, dan pembunuhan yang terjadi — adalah Ia Hyang Tak Termusnahkan!

 

Jiwa yang bersemayam dalam badan tidak mati

Badan, raga, fisik pun, sesungguhnya hanyalah tampak mati, punah, dan sebagainya. Padahal, yang terjadi, setelah apa yang kita sebut kematian, adalah penguraian elemen-elemen alami yang meng-“ada”-kan badan. Yaitu; tanah, air, api, angin, dan eter atau substansi ruang. Elemen-elemen tersebut hanyalah kembali ke asalnya. Kembali menjadi bagian dari alam. Dan di balik itu…

Jiwa yang Bersemayam di dalam Badan atau, lebih tepatnya, Jiwa yang menggerakkan badan, menghidupinya – tidak ikut mati, tidak pula terurai. Ia tetaplah Abadi sebagaimana sedia kalanya.

Jiwa inilah identitas diri kita yang sesungguhnya. Bukan badan, bukan indra, bukan mind atau gugusan pikiran dan perasaan – semua itu entah terurai, atau berubah. Tidak demikian dengan Jiwa, yang adalah hakikat diri kita, hakikat diri setiap makhluk.

 

Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan yang menganggapnya terbunuh—kedua-duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.” Bhagavad Gita 2:19

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, atau terbunuh.” Bhagavad Gita 2:20

 

Jiwa abadi adanya

Jiwa tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi pada raga. Ia tidak ikut terbunuh, tidak ikut mati, tidak ikut punah. Ia abadi adanya.

Ayat-ayat seperti ini disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak memahami kebenaran secara utuh untuk melakukan pembunuhan, “Toh yang mati, yang membunuh adalah badan. Jiwa tidak melakukan sesuatu.

Pemahaman tidak utuh seperti ini, hanyalah membuktikan kedunguan kita. Mengartikan satu ayat, memilih ayat untuk bertindak “semau gue” bukanlah semangat Bhagavad Gita.

Kita mesti membaca seluruh isi Gita, menghayatinya, baru mengambil sikap. Gita mengajarkan pula:  Hukum Sebab Akibat, Hukum Konsekuensi atau Hukum Karma – Jika kita berbuat jahat, walau menggunakan dalil-dalil dari Bhagavad Gītā atau kitab suci lainnya, untuk membenarkan ulah Anda – jangan pikir kita terbebaskan dari konsekuensi perbuatan Anda. Jelas tidak bisa. Kita mesti tetap menanggung akibat dari setiap perbuatan kita. Ini adalah suatu keniscayaan.

 

“Senjata tidak dapat membunuh-Nya – membunuh Jiwa yang menghidupi badan. Api tidak dapat membakar-Nya, Air tidak dapat membasahi-Nya, dan Angin tidak dapat mengeringkan-Nya.” Bhagavad Gita 2:23

“Ketahuilah wahai Arjuna, itulah sifatmu yang sebenarnya. Tidak ada yang dapat mencelakakanmu. Kau kekal abadi. Kau bukan badan, kau penghuni badan ini,” demikian kiranya maksud Kṛṣṇa.

Suka dan Duka, Pasang dan Surut, Panas dan Dingin – semuanya ini memang terjadi, tidak dapat dielakkan. Namun segalanya adalah tidak permanen. Dalam suka Anda ada, dalam duka pun Anda tetap ada. Sadarilah bahwa cacian orang, makian orang tidak dapat mencemari Anda.

Pada saat yang sama, sadari pula bahwa pujian orang pun tidak dapat menambah sesuatu pada diri Anda. Jangan gelisah akan cacian dan makian orang – jangan pula menjadi sombong karena pujian orang. Begitulah Anda, itulah Anda. Jangan terombang-ambing karena apa yang dikatakan oleh orang. Jadilah diri Anda sendiri! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kendaraan Badan dan Pengemudi Jiwa #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 12, 2018 by triwidodo

Pada zaman dahulu di wilayah peradaban Sindhu, anak laki-laki dikirim ke gurukula (sekolah) dan mereka tinggal di rumah Guru sampai selesai pendidikan mereka. Pada waktu mereka selesai pendidikan mereka memberikan Guru-dakshina sebagai rasa terima kasih kepada Guru yang telah mengajar mereka, bukan hanya masalah ilmu akan tetapi juga bagaimana hidup sehari-hari yang benar di bawah bimbingan Guru.

Dikisahkan ada 2 murid yang sudah selesai pendidikan dan berkata, “Gurudeva, tolong beritahu pemberian apa yang bisa kami berikan sebagai Guru0dakshina kepada Guru?”

Guru tersebut tidak membutuhkan apa-apa, dia merasa berbahagia mempunyai murid semacam mereka yang akan bermanfaat bagi masyarakat. Walaupun demikian Guru tersebut berkata, “Anak-anak terkasih pergi ke hutan di belakang gurukula dan ambil daun kering yang tidak berguna bagi siapa pun dan bawa kepadaku!”

Mereka mematuhi petunjuk Guru mereka dan pergi ke hutan. Begitu mereka memasuki hutan mereka menemukan tumpukan daun kering di bawah pohon, dan akan mengambil daun-daun kering tersebut. Seorang petani tua datang dan berkata, “Tolong jangan diambil, saya telah mengumpulkan daun-daun kering untuk dibakar dan setelah jadi abau saya campur dengan pupuk kandang agar kebun saya menjadi subur.”

Kedua murid tersebut masuk ke hutan lebih dalam dan melihat 3 wanita mengumpulkan daun kering. Murid tersebut bertanya untuk apa daun-daun kering tersebut. Mereka menjawab, bahwa daun-daun yang utuh untuk bungkus makanan dan yang sobek untuk bahan bakar memanaskan air.

Kedua murid tersebut melangkah lebih jauh ke dalam hutan dan mereka meihat tumpukan daun kering di bawah pohon yang tinggi. Kemudianmereka melihat seekor burung mematuk satu daun untuk membuat sarang dengan daun dan rumput kering.

Kedua murid tersebut memutuskan untuk kembali ke gurukula, saat mereka melihat ada daun keringbesar mengambang di atas air kolam kecil. Mereka berbahagia akhirnya ketemu juga daun kering yang tidak berguna bagi siapa pun sebagai persembahan kepada Guru. Tapi saat mereka mau mengambil daun, mereka melihat dua semut merah di atas daun tersebut. Tanpa daun tersebut mereka akan mati tenggelam di kolam.

Dengan nada sedih mereka menghadap Gur mereka dan berkata, “Gurudeva, kami menemukan bahwa daun kering memiliki banyak kegunaan, sehingga kami tidak dapat membawa selembar daun kering pun yang tidak digunakan bagi makhluk untuk dipersembahkan kepada Guru.”

Guru tersebut berkata, “Anak-anak terkasih, saya sudah menerima Guru-dakshina kalian. Pengetahuan tentang hal-hal yang tampaknya sepele tersebut sangat berguna bagi kita. Daun kering saja saja sangat bermanfaat, apalagi tubuh kalian. Jagalah tubuh kalian agar bermanfaat untuk melayani orang lain dan meningkatkan kesadaran diri………………

 

Nasehat Bapak Anand Krishna tentang tubuh kita

Ketika kalian berencana melakukan perjalanan panjang dengan mobil kalian – bukankah kalian mengecek kondisi mobil? Bukankah kalian membawanya ke bengkel jika diperlukan? Bukankah kalian mengisi bensin terlebih dahulu? Tubuh adalah kendaraan kalian. Kehidupan adalah perjalanan yang kalian jalani. Kesadaran akan jati diri adalah tujuan kalian. Jadi, sebelum kalian memulai perjalanan ini, adalah sangat penting bagi kalian untuk mengecek terlebih dahulu mobil-badan ini.

 

Petualangan spiritual kalian dimulai dengan memastikan kendaraan-badan berada dalam kondisi prima. Perkembangan jiwa kalian tergantung dari sebagaimana baiknya kendaraan-badan kalian. Jadi, seseorang yang menjadi vegetarian, walau murni untuk alasan “kesehatan” – sesungguhnya sudah bertindak tepat. Ia telah mempersiapkan kendaraan-badannya untuk melakukan perjalanan batin, dia mungkin belum menyadarinya saat ini – tetapi cepat atau lambat, ia akan menyadarinya!

Badan adalah Kendaraan dan Jiwa adalah Sang Pengemudi

Badan Adalah Kendaraan – Dan, Jiwa adalah Sang Pengemudi. Memang, ketika kendaraan rusak, pengemudi tidak ikut rusak. Namun, rusaknya kendaraan tetap saja menghambat perjalanan pengemudi.

Badan yang selama ini disebut sebagai “ciptaan” Prakrti atau Alam-Benda – sesungguhnya “diterangi” oleh Purusa juga. Purusa menerangi alam benda dan benda-benda yang termusnahkan. Purusa pula yang menerangi Jiwa-Individu yang tak-termusnahkan. Hubungan antara Jiwa Individu dan badan erat, setidaknya selama kita masih berbadan. Sehingga, adalah kewajiban kita untuk merawt dan memelihara Badan, yang juga diterangi oleh Purusa yang sama.

Dualitas ini tidak dapat diingkari. Dualitas ini mesti dipahami dan diapresiasi. Namun, pada saat yang sama, kita juga mesti menyadari adanya Kebenaran Tunggal – Paramatma – Hyang Melampaui segala dualitas. Penjelasan Bhagavad Gita 15:16 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Memahami Hubungan Badan, Jiwa dan Jiwa Agung

Baik kendaraan maupun pengemudi – baik Badan dan Alam Benda, maupun Jivatma atau Jiwa-Individu – ujung-ujungnya keberadaan semua adalah karena-Nya, karena Jiwa Agung. Kendati demikian, karena perbedaan fungsi, maka terciptalah ilusi-dualitas.

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada.

Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu.

KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAK – Jivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa.

LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung.

TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada. Penjelasan Bhagavad Gita 15:17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Selama masih Berbadan

Selama ia masih berbadan, dan badan itu masih dikemudikan oleh Jiwa Individu, seorang berkesadaran tinggi malah menjadi sangat rendah hati. Ia memuja Hyang Maha Tinggi dengan cara melayani semesta. Ia melayani setiap makhluk sesuai dengan kodrat dan alam mereka. Ia tidak akan tidur di selokan bersama cacing. Namun ia akan membiarkan cacaing hidup di selokan. Penjelasan Bhagavad Gita 15:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Past Life Vasudeva dan Devaki Orangtua Sri Krishna #srimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 12, 2017 by triwidodo

Seperti apakah karakter orangtua dari Avatar?

Bagaimanakah Past Life, Kehidupan Masa Lalu mereka?

 

Renungkan, berapa kali dalam seminggu atau sebulan kita mengucapkan kalimat seperti ini, “Ya, bagaimanapun kita kan manusia biasa, awam, orang kecil!”

Menurut Krsna, ungkapan-ungkapan seperti ini adalah ungkapan-ungkapan bodoh! Ketika menganggap diri kita sebagai “manusia biasa, yang terbuat dari darah, daging, dan tulang-belulang” — sesungguhnya kita telah menghina Jiwa, percikan Jiwa Agung yang sedang mengemudi kendaraan-badan ini.

“Kau bukanlah darah, daging, dan tulang—belulang. Kau bukanlah kendaraan-badan, mesin, radiator dan sebagainya. Kau adalah pengemudi kendaraan ini.”

Krsna mengajak kita untuk mengubah perspektif hidup kita. Krsna adalah Sang Pengemudi Agung. Dan Dia — Krsna — adalah hakikat diri Anda. Hakikat diri saya. Hakikat diri kita. Kitalah Krsna!

Jadilah penguasa kendaraan badan dan indra. Setidaknya itu dulu.kendalikanlah pancaindra, nafsu—tidak dikekang—tapi dikendalikan, di-manage, diolah dengan baik. Jangan menancap gas terus, kadang gas, kadang kopling, dan jika kendaraan kita adalah jenis mutakhir, maka bisa dikendalikan lewat programming komputer yang sudah menjadi bagiannya. Jadilah pengawas dan pengemudi yang baik bagi diri sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 9:11 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Mereka yang tidak sadar bila badan hanyalah sebuah kendaraan; dan indra, gugusan pikiran serta perasaan dan lainnya hanyalah sekadar perlengkapan kendaraan; dan bahwasanya mereka adalah percikan Jiwa Agung — hidup dalam kesia-siaan.

Celakanya, hidup dalam kesia-siaan tidak hanya merugikan diri saja; tidak hanya merugikan yang bersangkutan saja; tapi setiap orang yang berhubungan dengannya. Persis seperti kecelakaan kendaraan beruntun di jalan bebas hambatan.

Atau, seperti seseorang yang bergaul dengan pemakai narkoba. Dirinya bukan pemakai. Ia pun tidak tahu-menahu bila teman yang duduk di dalam mobilnya sedang mengantongi beberapa butir ekstasi. Maka, saat tertangkap, dia ikut dijatuhi hukuman yang sama sebagai pengedar narkoba — karena “kendaraannya dipakai untuk berdagang, mengedar narkoba.” Penjelasan Bhagavad Gita 9:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Kurang lebih 3.200 tahun SM, Ahakura dari keturunan Yadu mendirikan kerajaan kecil di tepi sungai Yamuna. Mathura adalah ibukotanya. Kerajaan Mathura meluas karena menanami hutan yang tidak produktif dengan tanaman produktif dan membatasi lahan untuk pembangunan sehingga kelestarian alam terjaga.

Setelah Ahakura meninggal, Ugrasena bersama-sama Devaka dua bersaudara putra Ahakura memerintah kerajaan ini. Pemimpin kerajaan  Mathura tak mau disebut Raja tetapi Daas, Pelayan. Mathura tidak diperintah raja tetapi oleh dwitunggal Ugrasena dan Devaka, dan mereka adalah Mathura Daas.

Ugrasena mempunyai putra bernama Kamsa, sedangkan Devaka mempunyai putri bernama Devaki. Mereka bermain bersama, belajar bersama, layaknya saudara kandung. Devaka akhirnya meninggal. Dan Ugrasena segera mencarikan jodoh bagi Devaki. Dipilihlah Vasudeva yang merupakan keluarga jauh Ugrasena. Vasudeva adalah sahabat Kamsa. Sumber: berdasarkan buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebiasaan-kebiasaan asuri atau syaitani tidak berasal dari luar – sisa-sisa sampah syaitani masih ada di dalam diri kita, namun sudah mengendap. Adalah pergaulan syaitani di luar yang memunculkan sifat-sifat syaitani kita ke permukaan. Sisa-sisa yang tidak seberapa mendapatkan angin segar, hidup baru, dan berkembang biak kembali. Pemicu utama bagi sifat syaitani adalah pergaulan yang tidak menunjang perkembangan Jiwa, dan justru mengalihkan perhatian kita sepenuhnya pada badan dan indra. Penjelasan Bhagavad Gita 9:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Ini adalah kisah dimana Vasudeva dan Devaki masih menjadikan Jiwa Agung sebagai pengemudi tubuh mereka, sedangkan Kamsa merasa diri pribadi (ego) nya sebagai pengemudi tubuhnya. Pergaulan Kamsa lah yang memicu sisa-sisa sampah syaitani dalam diri Kamsa muncul kembali. Ditambah lagi mertua Kamsa, Jarasandha adalah seorang yang ambisius ingin menguasai dunia.

Rishi Shuka melanjutkan, “Devaki adalah yang paling suci di antara wanita. Dalam kalpa sebelumnya, dia bernama Prsni. Pada kalpa tersebut, Vasudeva adalah Prajapati Sutapa, prajapati pada kalpa itu. Mereka diperintahkan untuk melakukan tapa penuh pengabdian.  Pikiran mereka terfokus pada Narayana. Mereka tidak meminta moksha tetapi ingin melahirkan Narayana sebagai putra mereka. Mereka masih terlibat dalam kesenangan dunia dalam proses  melahirkan Narayana. Narayana yang dilahirkan sebagai putra Prsni selanjutnya dikenal sebagai Prsnigarbha dan menjadi terkenal karena kualitas kesuciannya.

“Kemudian pada kalpa ini di zaman Satya Yuga, Sutapa dan Prsni lahir lagi sebagai Kasyapha dan Aditi, dan lahirlah putra mereka sebagai Upendra yang terkenal dengan nama Vamana, sang penakluk Raja Bali.

“Kali ini adalah waktu yang ketiga mereka melahirkan Narayana sebagai Sri Krishna. Pada saatnya nanti, Sri Krishna akan berkata pada sang ibunda, “Jika bunda tidak melihat bentuk sejatiku, maka bunda akan terlibat lagi dalam maya dan tidak dapat mencapai moksha. Setelah melihat wujud sejatiku, ibunda akan menyadari bahwa aku adalah Brahman. Dan, setelah kelahiran ini bunda akan moksha. Demikian wahai raja, awal kisah tentang Devaki dan Vasudeva.”

Parikshit mendengarkan dengan penuh perhatian.

Putri Ila: Istri Budha yang Setiap Bulan Berganti Gender #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 18, 2017 by triwidodo

 

Dari sudut pandang spiritual “Perempuan dan Lelaki adalah sama”. Di sana pertanyaan emansipasi tak pernah muncul. Pada titik itu, masalah tolok ukur, status juga tak relevan. Dan tak berguna untuk dibahas.

Jiwa melampaui semua pembahasan dan penjelasan. Ini tak butuh persetujuan ataupun penyangkalan. Ini adalah ini. Dan Ini Utuh dalam Dirinya sendiri. Tak ada perdebatan di sana, tak ada apa-apa.

Di sini, kita perlu mendiskusikan sesuatu, tapi bukan yang tak ada apa-apa melainkan jiwa dalam bentuknya yang paling kasat. Ya…kekasatannya yang kita bisa diskusikan di sini. Dalam bentuknya yang halus, jiwa-jiwa mereka, lelaki dan perempuan tetaplah sama. Mereka tak beda. Tapi dalam bentuknya yang kasat, mereka sama sekali berbeda. Kekasatanlah yang membuat perbedaan. Dan, kita harus menatap tajam guna menembus kekasatan ini. Dikutip dari artikel Bapak Anand Krishna Emansipasi dan Kaum Perempuan 22 April 2009 di: http://www.aumkar.org/ind/

 

Sraddhadeva dari Dinasti Surya lama tidak mempunyai keturunan dan meminta Vasishtha, gurunya untuk melakukan upacara yajna memohon bantuan Mitra dan Varuna. Akan tetapi, istri Sraddhadeva menginginkan kelahiran seorang putri, sehingga ketika proses yajna sedang berlangsung dia meminta bantuan Hota agar anak yang lahir menjadi seorang putri. Dan lahirlah seorang putri yang dinamakan Ila.

Rishi Vasishtha menjelaskan kepada raja bahwa Hota telah mengubah mantra. Akan tetapi, Rishi Vasistha sanggup mengubah kelamin Ila menjadi laki-laki dengan kekuatan tapanya. Dan, kemudian Ila berubah menjadi pangeran bernama Sudyumna.

Di suatu lereng Meru, dikisahkan bahwa Mahadeva sedang bercengkerama dengan Parvati. Pada suatu ketika, para rishi yang ingin bertemu dengan Mahadeva masuk ke tempatnya tanpa memberitahu lebih dahulu. Pada waktu itu Parvati sedang duduk di pangkuan Mahadeva tanpa pakaian. Parvati sangat malu atas kejadian tersebut, dan Mahadeva kemudian berkata bahwa mereka yang masuk ke dalam hutan tersebut akan berubah menjadi wanita.

Para rishi berubah menjadi wanita dan Parvati menjadi lega. Dengan berjalannya waktu tak ada lelaki yang berani memasuki hutan tersebut. Pada suatu ketika Pangeran Sudyumna kebetulan masuk ke hutan tersebut, dan dia berubah menjadi wanita lagi atau menjadi Ila.

Sang raja meminta bantuan Rishi Vasishtha lagi. Dan, Rishi Vasishtha kemudian berdoa kepada Mahadeva agar Ila dapat berubah menjadi laki-laki lagi. Mahadeva mengatakan bahwa dalam satu bulan, putra Sraddhadeva akan menjadi putri Ila dan satu bulan berikutnya menjadi pangeran Sudyumna dan sewaktu menjadi laki-laki lupa pernah menjadi wanita. Demikian pula saat menjadi wanita dia lupa pernah menjadi pria.

Dikisahkan saat Putri Ila berwujud wanita, Pangeran Budha, putra Chandra atau Soma, jatuh hati kepadanya, sehingga akhirnya mereka menikah. Dikisahkan selama 1 bulan Ila menjadi istri Budha, dan 1 bulan berikutnya begitu bangun tidur dia menjadi Pangeran Sudyumna dan belajar bertapa dari Budha, temannya tersebut. Setelah satu tahun lahirlah putra dari Ila dan Budha. Setelah sang putra lahir, Budha mohon bantuan Mahadeva agar masalah istrinya diselesaikan. Mahadeva memberkati dan Putri Ila menjadi Pangeran Sudyumna selamanya.

Dari Budha dan Ila lahirlah Pururava, raja pertama dari Dinasti Chandra yang merupakan nenek moyang Pandawa dan Kaurawa.

Ingatlah selalu bahwa Tuhan adalah Imminent dan Transendent. Berarti Ia berada di dalam setiap gender, semua gender ada di dalam diriNya, semua berasal dariNya. Itu imminent. Namun, Ia pun melampaui segalanya, transcendent.

………….

Kebahagiaan abadi hanya dirasakan ketika unsur-unsur maskulin dan feminin di dalam diri Anda bertemu di dalam Tuhan. Itulah kesempurnaan diri. Itulah pencerahan.

Sementara itu, pertemuan antara pria dan wanita, umumnya hanyalah pertemuan antara dua ego. Dan pertemuan antara dua ego tidak pernah bertahan lama. Selalu terjadi tarik-menarik, masing-masing ingin menguasai yang lain. Dari hubungan seperti itulah lahir ego baru dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Namun jika terjadi pertemuan agung di dalam Tuhan, maka hasilnya adalah kreativitas yang tertinggi, kesempurnaan abadi, kebahagiaan sejati.

……………..

Ketika Kesadaran Manusia berada di Wilayah 3 Chakra Awal, khususnya sekitar Chakra Kedua, maka ia mengejar kenikmatan duniawi. Ia baru mengenal keterikatan dan ketertarikan. Cintanya masih bersifat birahi dan ditujukan terhadap seseorang atau beberapa orang.

Ketika berada sekitar Chakra Keenam, ia mengenal kasih sejati yang tak bersyarat dan tak terbatas. Ia mulai mencintai sesama manusia tanpa mengharapkan timbal-balik. Ia tinggal selangkah lagi merasakan keselarasan sampurna dengan semesta. Tinggal selangkah lagi untuk melihat wajah Allah di mana-mana. Interaksi antara gender bagi para sanyasi hanya bermanfaat ketika masing-masing sudah berada di wilayah chakra keenam tersebut. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan ikuti kisah Raja Pururava dalam kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya.

Bharata: Kau-hina dan Kau-sakiti tidak Memengaruhi Aku! #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on March 18, 2017 by triwidodo

Para Suci yang lahir di keluarga Yogi

“(Jika ia sudah tidak terikat dengan kebendaan), maka ia ‘mengalami’ kelahiran dalam keluarga para Yogi. Kelahiran seperti itu, sungguh tidak mudah diperoleh.”

“Tidak” atau “belum” mencapai kesempurnaan dalam Yoga, berarti, saat meninggalkan badan, Jiwa masih terikat dengan alam benda, dengan kebendaan. Maka yang terjadi ialah seperti yang dijelaskan dalam ayat sebelumnya – “lahir dalam keluarga saleh dan sejahtera.” Penjelasan Bhagavad Gita 6:42  dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Kita masih ingat dalam kisah sebelumnya bahwa Raja Bharata sudah tidak terikat dengan kebendaan. Walaupun demikian, saat ajal menjemput dia belum mencapai kesempurnaan karena terlampau mencintai anak kijang, sehingga dia lahir sebagai kijang. Akan tetapi umur sang kijang sangat pendek, dan Bharata lahir lagi di tengah keluarga Yogi. Setelah ayahnya meninggal dia bekerja keras di ladang sampai sekelompok perampok membawanya ke kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Bhadra Kali. Justru para perampoklah yang dibunuh sang dewi dan Bharata selamat.

 

Ujung kelahiran dan kematian Barata

“Ketika seorang bijak menyadari segala sesuatu sebagai perwujudan-Ku, perwujudan Tuhan; kemudian dengan kesadaran demikian, ia memuja-Ku – maka ketahuilah bahwa ia telah mencapai ujung kelahiran dan kematiannya. Inilah kehidupannya yang terakhir. Seorang seperti itu sungguh sukar ditemukan.” Penjelasan Bhagavad Gita 7:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu ketika seorang raja bernama Rahugana sedang bepergian di sepanjang tepi sungai Iksumati. Ia adalah seorang raja kerajaan Sindhu dan Sauvira. Ia sedang ditandu dan merasa perlu menambah tenaga seorang lagi untuk mengangkat tandunya. Sang raja melihat Bharata yang bertubuh tegap sedang duduk di tepi sungai dan ditawarinya untuk menjadi pengangkat tandunya. Bharata walau seorang brahmana, tetapi mau melakukan pekerjaan apa saja, sehingga dia pun menyanggupinya.

Akan tetapi, setelah berjalan beberapa lama, sang raja merasa ada yang aneh dengan langkah dari para pemanggul tandunya. Ternyata Bharata selalu memperhatikan tanah yang akan diinjaknya, apakah ada cacing atau serangga atau hewan lainnya. Setelah merasa aman dia baru melangkahkan kakinya. Para pembantu berkata pada sang raja bahwa itu bukanlah kesalahan mereka, langkah sang pendatang baru tidak selaras dengan langkah mereka.

 

Bharata yang tidak takut hukuman dan bahkan tidak takut kematian

Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan yang menganggapnya terbunuh—kedua-duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.” Bhagavad Gita 2:19

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Penjelasan Bhagavad Gita 2:20 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sang raja marah, ia berpikir bahwa ia dalah manusia agung yang harus dituruti perintahnya dan menganggap orang lain lebih rendah derajatnya dan mestinya mereka menurut, karena akan dibayar mahal olehnya. Sang raja berkata kepada Bharata, “Kamu bertindak seperti mayat berjalan, kamu tidak mengindahkan perintahku. Aku harus memberi pelajaran kepadamu. Aku akan menghukum keangkuhanmu!”

Bharata sudah mencapai kesadaran Jiwa (soul awareness). Jiwa tidak pernah mati, maka jika tubuhnya akan dihukum oleh sang raja, dirinya tetap tenang. Bharata tersenyum kepada sang raja dan berkata, “Aku kau anggap tidak melakukan pekerjaan yang diberikan kepadaku dengan baik.  Dan, kamu menganggap dengan kemarahanmu aku akan takut atau hatiku akan tersakiti. Haruskah aku bercerita kepadamu, bahwa kau menganggap badanku ini nyata dan beban yang kupanggul adalah nyata? Aku Sejati berada dalam diriku dan tak ada hubungan dengan badanku. Menghina dan menyakiti diriku tidak memengaruhi Aku Sejati. Kau menganggap tubuhku, pikiran dan perasaanku sebagai diriku. Tetapi aku tahu bahwa kau salah. Aku Sejati tidak terpengaruh oleh ucapanmu.”

 

“Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap “rasa” atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelijensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bharata melanjutkan, “Kau mengatakan aku seperti mayat yang berjalan. Wahai raja, proses kelahiran dan kematian tidak membatasi Aku. Perbedaan antara seorang raja dan seorang pembantu muncul karena perasaan dualitas.”

 

Raja Rahugana bertemu dengan Guru Pemandu Rohani

“Para Master tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam kehidupan Anda. Begitu Anda siap, ia akan muncul dalam kehidupan Anda. Para master tidak datang dari mana-mana, mereka tidak pergi ke mana-mana. Master seperti ini merupakan suatu kejadian dalam hidup Anda. Apabila Anda menemukan seorang Master seperti itu dalam kehidupan Anda, peristiwa itu mungkin saja peristiwa yang terbesar dan terpenting dalam hidup Anda.

“Para Master tidak senang disebut Master. Mereka lebih senang dipanggil sahabat. Para Master tidak pernah menciptakan jarak antara dirinya dan Anda. Para Master merupakan keharuman bunga yang menyerbaki kehidupan Anda! Sekali lagi, Anda tidak dapat memperoleh alamatnya dari iklan-iklan koran. Anda harus sabar menanti, dan Ia akan terjadi, akan muncul dalam kehidupan Anda.

“Jika Anda bertemu dengan seorang Master, hidup Anda akan segera berubah. Suatu ruang yang gelap selama 40 tahun dapat menjadi terang dalam sekejap oleh sebatang lilin, tidak memerlukan 40 tahun untuk meneranginya. Pertemuan Anda dengan seorang Master akan membuat Anda gembira; hari pertemuan menjadi hari perayaan! Anda akan menari dan menyanyi karena kegirangan. Anda baru akan tahu bahwa seorang Master tidak pernah memperbudak orang lain. Ia telah menguasai dirinya; ia tidak ingin menguasai Anda. Pertemuan dcngan seorang Master justru akan mempercepat kebebasan Anda, mempermudah proses ketidaktergantungan Anda.” (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Rahugana termenung lama dan dapat memahami kebenaran yang diucapkan oleh Bharata, dia jatuh terduduk dan bersujud pada Bharata dengan berlinang air mata, “Keangkuhanku telah kau binasakan. Aku adalah raja dari Sindhu dan Sauvira akan mencari Rishi Kapila untuk belajar Brahmavidya, akan tetapi kau adalah Kapila sendiri yang datang menyelamatkan aku!”

Raja Rahugana sudah mempersiapkan dirinya untuk mencari kebenaran dalam hidupnya. Sang raja bepergian jauh untuk menemui Rishi Kapila ingin belajar tentang Pengetahuan Sejati. Keberadaan mempersiapkan pertemuan sang raja dengan Bharata, sang master yang sudah cerah dan sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah tujuan sejati. Beruntunglah seseorang yang bertemu dengan para Master yang sedang melanjutkan perjalanan terakhirnya di dunia ini.

 

Kendalikan Pikiran Dahulu

Jika gugusan pikiran dan perasaan belum terkendali, maka hawa nafsu pun tidak dapat dikendalikan. Seorang boleh bersumpah telah atau akan “menahan nafsu” — jika pikiran/perasaannya belum terkendali, sumpahnya tidak berarti apa-apa.

Semuanya ini langkah-langkah yang bersifat sangat teknis, dan menjelaskan alasan kegagalan kita selama ini. Mau langsung mengingat Tuhan, berjapa, berzikir; mau langsung mengendalikan nafsu — tidak bisa. Mesti mengikuti tahapan-tahapan sebagaimana dijelaskan di sini.

Penjelasan Krsna membuktikan bila ia memahami betul kinerja mind dan psikologi manusia. Ia tahu persis bagaimana seorang manusia dapat mengalami kedamaian sejati dan kebahagiaan total. Ia bukanlah seorang ahli yang asal-asalan atau asal-bunyi.

Kedamaian sejati dan kebahagiaan abadi tidak bisa diperoleh dari hal-hal duniawi yang bersifat tidak abadi. Pengalaman itu hanya dapat diperoleh jika seseorang berada dalam kesadaran-abadi, dalam keabadian. Ketika Jiwa menyadari hakikatnya sebagai percikan dari Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 6:126 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bharata kemudian menjelaskan Brahmavidya dengan penuh kasih sayang, “Adalah pikiran manusia yang menyebabkan dia terperosok ke dalam rawa samsara atau yang menyebabkan dia menemukan kebebasan. Pikiran manakala diarahkan ke arah Tuhan, maka tidak ada ketakutan lagi. Kebijaksanan yang diperoleh ini tidak dapat diganti dengan tapa. Bukan pula diganti dengan menyelenggarakan upacara ritual tanpa cacat.  Tidak dapat ditukar dengan memberi makan 1.000 orang. Tidak juga dengan derma yang dilakukan oleh para Grihastha. Menyanyikan veda berkelanjutan dan pemujaan kepada para dewa pun tak dapat memperoleh kebijaksanaan tersebut. Hanya dengan jatuh di kaki seorang suci,  menyerahkan diri kepada seorang Guru yang tak terpengaruh lagi terhadap kelahiran dan kematian, seorang manusia dapat mencapai keselamatan.”

Bharata mengajarkan pengetahuan sejati, kemudian memberkati Raja Rahugana dan melanjutkan pengembaraannya di atas permukaan bumi sampai tugas sucinya di atas dunia selesai.

 

Catatan:

Meditasi tak bisa diajarkan. Seorang master hanya bisa menunjukkan jalan menuju meditasi. Meditasi adalah sebuah “kejadian”, tetapi kita bisa mempercepatnya dengan mempersiapkan lahan yang akan menunjang terjadinya meditasi. Dan lahan itu adalah hati seseorang, jiwa seseorang. Teknik-teknik meditasi yang diberikan oleh seorang master adalah alat untuk membersihkan lahan di dalam diri Anda. Tetapi, sebelum Anda benar-benar menggunakannya, mereka bisa saja kelihatan sama bagi Anda. Dari buku Soul Quest

Sudahkah kita mengikuti latihan meditasi seperti yang ditunjukkan Master?