Archive for kasih

Krishna Kecil: Menyelamatkan Nanda dari Varuna #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 4, 2017 by triwidodo

Chaitanya hendak mengajak kita untuk menuju rumah-Nya lewat jalan kasih. Banyak jalan untuk menuju rumah-Nya, dan kita dapat memilih jalan yang mana saja, seperti tertulis dalam Bhagavad Gita, “Jalan mana pun yang kau tempuh, kau akan bertemu dengan-Ku!”

Semua jalan benar adanya, sama-sama benar. Tidak ada satu pun jalan yang salah. Kesalahan adalah ketika kita bermalas-malasan dan tidak berjalan.

Bila Hyang Maha Menawan hendak dituju, maka jalan kasihlah yang mesti ditempuh. Ini adalah jalan lembut, jalan yang penuh rasa. Inilah Bhakti, pengabdian purna waktu yang sepenuh hati. Mencintai Gusti Pangeran sebagaimana Rabi’ah al Adawiyya mencintai Tuhan. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari, kala Nanda sedang menjalani puasa Ekadashi, dia mandi di Sungai Yamuna pada waktu yang terlalu dini. Seorang Pengawal Dewa Varuna menganggap tindakannya salah karena mandi terlalu dini dan membawa Nanda ke istana Varuna. Ketika berdiri di tepi Sungai Yamuna, teman-teman Nanda melihat Nanda tenggelam dan tidak muncul ke permukaan, mereka ribut dan ada yang mendatangi Krishna untuk meminta bantuan-Nya. Krishna berpikir bahwa ini adalah tindakan bodoh pengawal Varuna, lalu dia segera terjun ke Sungai Yamuna. Para gopi begitu sedih melihat Krishna terjun ke Sungai Yamuna dan lama tidak kembali. Mereka merasa depresi karena menganggap Krishna telah pergi ke dunia lain.

Krishna mendatangi istana Varuna dan Varuna menyambut Krishna dengan penuh penghormatan. Varuna berterima kasih karena semua penduduk istana telah dimurnikan dengan kedatangan Krishna. Kelahiran Varuna pun menjadi bermakna berkat kedatangan Krishna. Varuna bersujud di kaki Krishna dan memohon ampun atas kesalahan pengawalnya yang membawa Nanda ke istananya. Setelah memuji Krshna, Varuna membasuh kaki Krishna sambil berkata, “Wahai Krishna, segalanya di sini termasuk saya adalah milik-Mu!”

Krishna dengan penuh kasih berkata bahwa Dia menyenangi penghormatan dari seorang bhakta-Nya dan mengatakan bahwa di mana pun bhakta-Nya tinggal, maka di sana pula Dia berada. Kemudian Krishna bersama Nanda segera kembali muncul dari Sungai Yamuna. Para gopa dan para gopi merasakan kebahagiaan yang tak terkira.

Nanda merasa kebingungan melihat kemewahan istana Varuna dan bagaimana Varuna sangat menghormati Krishna. Dia menceritakan kisahnya kepada para gembala di Brindavan. Tanpa ragu, para gembala di Brindavan berpikir bahwa Krishna adalah Tuhan Alam Semesta seperti yang digambarkan dalam kitab-kitab suci. Mereka berpikir apakah Krishna akan berkenan menunjukkan diri-Nya kepada mereka sebagai Brahman yang tanpa batas.

Krishna mengetahui apa yang dipikirkan para gembala dan memutuskan untuk melimpahkan rahmat-Nya. Para gopala, para gembala adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, akan tetapi bhakti mereka terhadap Krishna sangat besar sehingga mereka mendapatkan anugerah yang tak pernah diperoleh oleh seorang yogi pun.

Pertama, mereka dapat merasakan keagungan Brahman, tetapi Krishna paham bahwa mereka tak bisa mengalaminya dalam waktu lama. Selanjutnya, Krishna menunjukkan kepada mereka istana Vaikuntha tempat tinggal Sri Vishnu. Para gopala dapat merasakan kebahagiaan tanpa ada kecemasan sedikit pun. Akan tetapi, beberapa saaat kemudian mereka merasa sedih karena mereka belum melihat Krishna, dan kemudian mereka melihat Narayana di Vaikuntha yang sama dengan Krishna yang dikenal mereka. Akhirnya, mereka menyadari bahwa kehidupan di Brindavan adalah kehidupan yang sangat membahagiakan karena dapat melihat dan berbicara langsung setiap hari dengan Krishna atau Narayana yang mewujud.

 

Kerinduan para gopi dan gopala

Pertemuan adalah perayaan. Namun, kerinduan adalah kekuatan untuk merayakan. Rasa rindu adalah pendorong jiwa dan penyemangat batin. Adakah kerinduan di dalam diri kita untuk bertemu dengan Gusti Pangeran? Apa dan siapa yang kita rindukan selama ini? Jika kita masih merindukan istana, dan bukan pemilik istana, maka kita tak akan pernah bertemu dengan Sang Pangeran, dengan Gusti. Berada di dalam istana-Nya tidak berarti sudah bertemu dengannya. Tanpa niat kuat untuk bertemu dengan-Nya, istana semesta ini bisa menjadi jebakan. Itulah yang telah terjadi selama ini. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Krishna mengajak para gopala di Brindavan menuju rumah-Nya lewat jalan kasih. Pertemuan para gopi dan gopala dengan Krishna membekas amat dalam dalam hati mereka. itulah sebabnya mereka selalu merasakan kerinduan yang dalam saat tidak bertemu dengan Krishna. Setiap saat mereka merasa rindu dan selalu ingin bertemu dengan Krishna.

Kerinduan ini tak bisa dirasakan oleh para cendekiawan.

Seorang cendekiawan biasanya lebih banyak menggunakan otak daripada hati. Ini sudah menjadi rahasia umum. Ketidakseimbangan inilah yang membuat mereka agak kaku. Lalu, apa bedanya dengan para panembah? Bukankah mereka lebih banyak menggunakan hati daripada otak, maka menjadi cengeng? Bukankah mereka pun tidak seimbang?

Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami dan menyadari bahwa para panembah tidak berseberangan dengan para cendekiawan. Para cendekiawan berseberangan dengan para seniman. Dua kelompok ini berbeda pada dua ekstrem. Yang satu kutub utara, dan yang lain kutub selatan. Mereka jarang bertemu.

Wilayah panembahan berada di atas otak dan di bawah hati. Berarti ia meliputi keduanya. Karena itu, jika dibutuhkan, seorang panembah bisa tampil seratus persen otak dan seratus persen hati pada saat yang sama. Sungguh sangat sulit menjelaskan rahasia wilayah ini. Hanya seorang panembah yang tahu, Kendati ia pun tetap gagap. Ia juga tidak mampu menjelaskannya.

Berada di tengah para panembah, para pencinta Pangeran, ia menjadi lembut, selembut panutannya Krishna yang baru berusia 8-9 tahun. Imut-imut, lucu, agak nakal, tetapi sangat menawan. Ia adalah Mana-Mohana, sang Penawan Jiwa.

Berada di tengah medan perang Kuruksetra, ia sangat tegas. Demi kebajikan, keadilan, kepentingan umum, negara, dan bangsa ia siap berkorban. Ia rela menjadi sais kereta Arjuna, seorang sepupu, sahabat, sekaligus dalang, sutradara agung penentu arah perang itu. Ia bisa berada di belakang dan di depan layar pada saat yang sama.

Sungguh luar biasa! Tak seorang pun dapat menandingi kemampuan dan kejelian seorang panembah. Bagi seorang panembah, alam semesta adalah wilayah panembahannya. Di mana saja, dan dalam keadaan apa saja ia tetap berkarya. Para cendekiawan dengan otak besar, dan para seniman dengan hati besar menjadi sangat kecil di depan seorang panembah. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)