Archive for keinginan

Benih Gusti Dalam Setiap Diri

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 12, 2019 by triwidodo

Kisah Ravana Mengambil Wujud Rama untuk Menaklukkan Sita

Seorang Master berkisah tentang Ravana yang berupaya untuk merayu Sita agar menyerah sebagai pendampingnya. Ravana mengancam Sita dengan kematian, membujuk dengan hadiah dan janji-janji tetapi Sita tetap tak bergeming. Ravana mencoba dengan kata-kata lembut dan siksaan kejam, Sita tetap tidak tergoyahkan.

Ravana akhirnya memperoleh ide cemerlang. Di kamarnya, Ravana mengubah dirinya mengambil wujud Rama. Ravana berpikir Sita akan teperdaya.

Tetapi, apa yang terjadi? Begitu Ravana mengambil wujud Rama, semua pikiran jahat lari dari dirinya, hanya kebenaran yang berkuasa. Ravana sadar dengan wujud Rama dia tidak akan dapat  memperdaya Sita, bahkan dia akan menjadi orang baik dan akan mengembalikan Sita kepada Rama.

Jati Diri, Benih Potensi Rama dalam diri Ravana muncul saat Ravana mewujud sebagai Rama. Akan tetapi Nafsu Keinginan dan Amarah segera menutupi Jati Diri Ravana dan Ravana batal mengambil wujud Rama…..

Keinginan dan Amarah Menutup Jati Diri Ravana

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

“(Dorongan itu) adalah keinginan dan amarah, bersumber dari sifat rajas, penuh nafsu, penuh gairah. Keduanya tidak pernah puas dan tidak terselesaikan. Pembawa bencana, mereka musuh utama manusia (sebab, menjadi penghalang bagi hidup berkesadaran).” Bhagavad Gita 3:37

Keduanya dari sifat Rajas. Rajas ini yang membuat kita aktif. Energi kita itu dari sifat Rajas. Setiap orang punya sifat Rajas. Berarti setiap orang mempunyai keinginan dan bisa marah.

2 hal ini memang ada dalam diri kita semua. Harus dikendalikan.

 

“Sebagaimana api tertutup oleh asap; cermin oleh debu; dan janin oleh kandungan – pun demikian Kesadaran Diri atau Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri sebagai jiwa, percikan Jiwa Agung, tertutup oleh nafsu keinginan dan amarah.” Bhagavad Gita 3:38

Nafsu keinginan dan amarah ini menutup identitas diri kita yang sebenarnya. Identitas diri kita ada dan tidak pernah hilang. Tapi nafsu keinginan dan amarah, karena tidak dapat sesuatu kita marah. Mengapa menutup identitas diri, karena saat kita punya keinginan saya mengidentitaskan diri kita dengan sesuatu itu. Siang malam yang terpikir sesuatu itu. Mau kawin dengan seseorang seolah-olah tanpa orang itu kita tidak punya kepribadian lagi. Mau mobil mewah, seolah-olah tanpa mobil itu kita tidak punya jati diri. Tidak punya kepribadian. Jadi apa pun yang kita kehendaki, kita mengidentitaskan diri kita dengan barang itu, benda itu, orang itu. Kalau nggak dapat kita marah.

Kita lupa bahwa sejak lahir kita tidak punya benda itu. Sejak lahir kita tidak kenal orang itu, kok tiba-tiba sekarang tanpa dia  hidup akan menjadi hitam putih. Ini yang dikatakan oleh Krishna bahwa api tertutup oleh asap, cermin oleh debu, janian oleh kandungan, begitu juga nafsu keinginan dan amarah menutupi diri kita.

 

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri tertutup oleh nafsu keinginan yang oleh para bijak disebut musuh manusia sejak dahulu kala; berhubung nafsu keinginan bagaikan kobaran api yang berkobar terus, tidak pernah puas.” Bhagavad Gita 3:39

Beberapa orang lapor pada nabi bahwa kita baru saja menyelesaikan perang. Dan perang sesungguhnya adalah perang melawan nafs-nafs. Itulah perang sesungguhnya yang terjadi setiap saat.

Apa yang dikatakan oleh Krishna 5.000 tahun yang lalu. Sekarang psikologi pun akan membenarkan. Bahwa keinginan kita, dorongan dari pada nafsu, apalagi ada pemicunya di luar, kalau dua-duanya ketemu menyebabkan kecelakaan. saya punya nafsu, saya mau minum alkohol, di luar ada alkohol, saya punya uang, segalanya ketemu, menyebabkan kecelakaan. Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri tertutup oleh nafsu keinginan yang oleh para bijak disebut musuh manusia sejak dahulu kala; berhubung nafsu keinginan bagaikan kobaran api yang berkobar terus, tidak pernah puas. Nafsu tidak pernah puas. Nggak pernah selesai.

Sumber: Video Youtube oleh Bapak Anand Krishna, Bhagavad Gita dalam Hidup Sehari-hari 03: 36-43 Musuh Utama Manusia, Nafsu Keinginan dan Amarah

#AnandKrishna #UbudAshram

Benih Rama dalam Diri Ravana dan Setiap Orang

Ketertarikan Indra Ravana terhadap Sita menjadi perkara,

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti, dalam perwujudan setiap makhluk, jenis apa pun, alam benda atau Prakrti berperan sebagai Rahim Agung yang mengandung. Dan, Aku adalah Ayah yang memberikan benih.” Bhagavad Gita 14:4

………..

Kembali pada Sang Jiwa Agung sebagai pemberi benih. Sifat utama Sang Jiwa Agung adalah sebagai Saksi, sebagai Hyang sedang menikmati pertunjukan dan tidak terpengaruh oleh adegan mana pun. Inilah potensi Jiwa-Individu, potensi diri kita semua, yang masih mesti dikembangkan, jika kita ingin menikmati pertunjukan dunia.

 

ADANYA PANDAVA DAN KAURAVA Dl ANTARA KITA – sebagaimana telah, dan masih akan dijelaskan secara panjang lebar, adalah karena ketertarikan indra kita dengan sifat-sifat kebendaan tertentu. Benih Jiwa Agung tidak dapat disalahkan untuk itu. Adalah ketertarikan indra dan keterikatannya yang mesti diurusi.

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Mewaspadai Keinginan dan Keserakahan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 27, 2018 by triwidodo

Kisah Pemuda yang Terbelit Beban Akibat Ulahnya Sendiri

Sorang Master berkisah tentang kejadian seorang pemuda yang datang kepadanya. Dia datang menghadap Sang Master mohon dapat lulus ujian pendidikan dan mendapatkan nilai cumlaude. Sang Master memberikan restu dan berkata yang penting ada upaya dan hasil akan sesuai dengan Kehendak Tuhan.

Setelah lulus sang pemuda mohon doa restu agar memperoleh pekerjaan. Dalam waktu 1 bulan dia telah memperoleh pekerjaan.

Setelah beberapa bulan, dia datang dengan mmenyampaikan bahwa dia sudah bekerja dan bahagia dan ingin menikahi gadis juru ketik di kantornya. Sang Master mengatakan bahwa dia harus minta izin kedua orangtuanya sendiri. Akan tetapi dia cenderung tidak mendengarkan Sang Master, bahkan apabila kedua orangtuanya tidak setuju dia akan nekat menikahi gadis tersebut.

Setelah satu tahun dia mengajak istrinya menghadap Sang Master mohon restu agar dikaruniai seorang putra.

Setelah punya anak, dia datang kepada Sang Master mohon doa restu agar memperoleh promosi, karena beban keluarga sudah semakin membesar, istri sudah tidak bekerja lagi.

Dengan keberuntungannya dia memperoleh promosi dan tidak muncul ke hadapan Sang Master selama 5 tahun.

Ketika dia menghadap Sang Master, dia mengatakan bahwa dia sudah punya anak 4 anak dan mengatakan sudah jenuh dengan segala keruwetan berkeluarga. Biaya hidup, urusan keluarga, urusan kantor membuatnya stress. Dia ingin tinggal di Ashram melakukan pekerjaan apa saja dan meninggalkan beban kehidupan keluarganya. Dia mengatakan bahwa dia sekarang seperti telah dibelit oleh seekor ular besar dan susah bernapas.

Sang Master berkata, apakah dia yang ditangkap ular atau dia sendiri yang mendatangi ular agar ditangkap dan dibelitnya?

Seandainya sang pemuda sadar sejak awal, maka dia hanya punya keterikatan dengan kedua orangtuanya dan beberapa orang lainnya. Dengan masuk Ashram, keterikatan dengan beberapa orang tersebut sedikit demi sedikit bisa dilampauinya. Sekarang dia sudah menambah keterikatan dengan istri, 4 anak, mertua, saudara ipar serta beberapa kolega di kantor. Tindakan apa pun yang sudah dilakukannya mempunyai konsekuensi dan dia harus menerima hasil dari sebab-akibat yang dilakukannya sendiri.

 

Keinginan dan Keserakahan Penyebab Jatuhnya Jiwa

“Keinginan, amarah, dan keserakahan – inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganya.” Bhagavad Gita 16:21

NERAKA ADALAH SUATU KEADAAN saat Jiwa lupa akan hakikat dirinya. Dan sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengan dunia benda. Neraka adalah keadaan ilusif di mana gugusan pikiran dan perasaan berkuasa, hawa nafsu berkuasa, dan Jiwa diperbudak olehnya.

Neraka adalah keadaan saat Jiwa tidak percaya diri, tetapi memercayai kendaraan badan, wahana indra, kereta gugusan pikiran dan perasaan yang semuanya, sebenamya hanyalah sarana, alat pelengkap — bukan jati diri. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 Pertimbangkan Masak-Masak Sebelum Bertindak

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), terbebaskan dari ketiga pintu neraka ini, seseorang yang berupaya untuk meraih keselamatan, niscaya meraihnya; bahkan mencapai Kesadaran Jiwa, yang adalah Keadaan Tertinggi atau Param Gati. ” Bhagavad Gita 16:22

Hindarilah terlebih dahulu, ketiga pintu neraka tersebut – setelah itu, keselamatan, kesadaran-diri, keadaan tertinggi, kebahagiaan sejati – semuanya menyusul dengan sendiri.

BANYAK PENCARI GAGAL dalam upaya mereka, karena mereka mencari, mengejar keselamatan sebelum melakukan pembenahan dan pembersihan diri.

Sebelum mengarungi lautan kehidupan, persiapkanlah diri kita. Pertama, kita mesti bisa berenang atau memiliki perahu, entah kita mendayungnya sendiri atau ikut seorang nakhoda menjadi penumpang kapal besar.

Kedua, kita pun mesti tahu tujuan kita apa, mau ke mana. Mengarungi samudra kehidupan untuk apa? Ketiga, apakah kita punya kompas? Tahu arah? Semuanya itu penting. Tanpa persiapan yang matang, kita tak akan berhasil mengarungi samudra kehidupan. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Hubungan Dengan 20 Orang Terdekat

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna disampaikan tentang hubungan keterikatan dengan keluarga:

“Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Sumber: video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda. Oleh karena itu jangan membuat karma buruk!

 

Tidak Meninggalkan Keluarga Tapi Melayani Tanpa Keterikatan

“Dengan sepenuhnya membebaskan diri dari keterikatan, rasa takut dan amarah; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, sepenuhnya berlindung pada-Ku; serta menyucikan diri dengan tapa, laku spiritual untuk mengetahui Hakikat-Diri; banyak yang telah mencapai kesadaran-Ku dan manunggal dengan-Ku.” Bhagavad Gita 4:10

Tidak henti-hentinya Krsna mengingatkan kita bahwa kesadaran tertinggi bukanlah rnonopoli diri-Nya.

SIAPA SAJA BISA MENCAPAI-NYA, asal kita berupaya dengan sungguh-sungguh. Yaitu, dengan cara membebaskan diri dari keterikatan. Tidak berhenti bekerja, tapi bekerja tanpa pamrih. Tidak meninggalkan keluarga, tetapi mencintai dan melayaninya tanpa keterikatan. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Birbal dan Akbar: 3 Pintu Neraka #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on February 22, 2018 by triwidodo

Ini kisah tentang Mahesh Das seorang warga di kerajaan Akbar. Dia adalah seorang pemuda yang cerdas. Pada suatu hari Kaisar Akbar berburu di hutan dan tersesat. Adalah Mahesh Das yang tinggal di pinggiran hutan memandu Akbar kembali ke jalan besar menuju istana. Kaisar berterima kasih dan memberi hadiah berupa cincin raja. Kkaisar juga berjanji akan memberinya pekerjaan di istananya.

Setelah beberapa hari Mahesh Das pergi ke sidang kerajaan, tetapi penjaga tidak mengizinkannya, bahkan Mahesh Das dimarahi oleh sang penjaga. Orang-orang kaya selalu memberinya tip beberapa keping uang perak sebelum masuk ruang sidang tempat kaisar berada. Selanjutnya, Mahesh Das menunjukkan kepada penjaga cincin raja yang telah diberikan kepadanya. Penjaga yang serakah tersebut mengizinkan Mahesh Das masuk ruang persidangan dengan satu syarat. Syarat itu adalah Mahesh Das harus membagi setengah hadiah Kaisar kepadanya. Mahesh Das menyetujuinya.

Mahesh Das kemudian masuk ruang sidang dan menunjukkan cincin itu kepada sang kaisar. Kaisar Akbar yang masih mengenali Mahesh bertanya, “Oh, pemuda, apa yang Anda harapkan sebagai hadiah dari Kaisar Hindustan?”

Mahesh Das menjawab, “Paduka yang mulia, saya mengharapkan 50 cambukan sebagai hadiah!” para pejabat tertegun, mereka mengira pemuda ini gila. Kaisar Akbar merenungkan permintaan pemuda tersebut dan menanyakan alasannya.

Mahesh Das mengatakan bahwa dia akan memberitahu alasannya setelah menerima hadiah cambukan 25 kali. Setelah dicambuk 25 kali Mahesh Das mohon sang kaisar memanggil penjaga gerbang. Sang penjaga muncul di hadapan kaisar dan berpikir akan diberi hadiah.

Mahesh Das berkata, “Penjaga serakah ini memperbolehkan saya masuk dengan syarat saya memberikan setengah hadiah dari Kaisar kepadanya. Saya ingin menepati janji, mohon 25 cambukan tersisa diberikan kepada penjaga gerbang ini.”

Kaisar memerintahkan agar penjaga gerbang  diberi 25 cambukan dan dihukum 1 tahun penjara. Kaisar sangat senang terhadap Mahesh Das dan sang kaisar memanggilnya Raja Birbal……………..

Kerusakan akhlak manusia dipicu oleh 3 hal: keinginan, amarah dan keserakahan. Itulah yang ditunjukkan Raja Birbal kepada Kaisar Akbar…………….

Tiga Pintu Neraka

“Keinginan, amarah, dan keserakahan – inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganya.” Bhagavad Gita 16:21

NERAKA ADALAH SUATU KEADAAN saat Jiwa lupa akan hakikat dirinya. Dan sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengan dunia benda. Neraka adalah keadaan ilusif di mana gugusan pikiran dan perasaan berkuasa, hawa nafsu berkuasa, dan Jiwa diperbudak olehnya.

Neraka adalah keadaan saat Jiwa tidak percaya diri, tetapi memercayai kendaraan badan, wahana indra, kereta gugusan pikiran dan perasaan yang semuanya, sebenamya hanyalah sarana, alat pelengkap — bukan jati diri. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Terbebaskan dari 3 Pintu Neraka

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), terbebaskan dari ketiga pintu neraka ini, seseorang yang berupaya untuk meraih keselamatan, niscaya meraihnya; bahkan mencapai Kesadaran Jiwa, yang adalah Keadaan Tertinggi atau Param Gati. ” Bhagavad Gita 16:22

Hindarilah terlebih dahulu, ketiga pintu neraka tersebut – setelah itu, keselamatan, kesadaran-diri, keadaan tertinggi, kebahagiaan sejati – semuanya menyusul dengan sendiri.

BANYAK PENCARI GAGAL dalam upaya mereka, karena mereka mencari, mengejar keselamatan sebelum melakukan pembenahan dan pembersihan diri.

Sebelum mengarungi lautan kehidupan, persiapkanlah diri kita. Pertama, kita mesti bisa berenang atau memiliki perahu, entah kita mendayungnya sendiri atau ikut seorang nakhoda menjadi penumpang kapal besar.

Kedua, kita pun mesti tahu tujuan kita apa, mau ke mana. Mengarungi samudra kehidupan untuk apa? Ketiga, apakah kita punya kompas? Tahu arah? Semuanya itu penting. Tanpa persiapan yang matang, kita tak akan berhasil mengarungi samudra kehidupan. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Butuh Peta dan Juga Pemandu

“Tidak mengindahkan pedoman-pedoman yang diberikan dalam susastra, seseorang yang bertindak atas kemauan nafsunya, tidak pernah mencapai kesempurnaan diri, tidakpernah mencapai tujuannya, dan tidak pernah meraih kebahagiaan sejati.” Bhagavad Gita 16:23

Mengikuti petunjuk susastra — kitab-kitab yang disucikan karena kesucian isinya – berarti, betul-betul mengindahkan apa yang dianjurkan dan melakoninya. Kemudian, barulah kitab-kitab tersebut dapat memandu kita mengarungi samudra kehidupan.

JADI, BUKAN ASAL MENGIKUTI KITAB APA SAJA, tetapi mengikuti kitab-kitab yang mengandung petuah-petuah suci; ajaran-ajaran mulia; anjuran-anjuran yang berguna.

Kita membutuhkan peta dalam perjalanan ini.

Kita juga butuh pemandu. Kitab suci adalah peta. Seorang Sadguru adalah pemandu. Namun, kita masih tetap mesti berjalan sendiri. Kita tidak akan pemah mencapai tujuan hidup jika hanya sibuk memuja kitab suci atau memuji Pemandu. Peta bukanlah untuk dipuja, tapi untuk dijadikan pedoman dalam perjalanan. Dan Pemandu untuk diikuti nasihatnya.

Kesempurnaan atau kesadaran diri, pencerahan, tujuan hidup, kebahagiaan sejati – semuanya adalah sifat-sifat ketuhanan, kemuliaan yang dapat diraih dengan cara meniti jalan ke dalam diri.

Perjalanan ini mesti dilakukan sendiri oleh setiap orang. Tidak bisa diwakilkan.

Peta bukanlah untuk diletakkan di atas altar dan diberi sesajen. Pemandu bukan untuk diagung-agungkan saja. Semua itu hanyalah sarana. Gunakan mereka sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup! Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Berkarya di Dunia

“Sebab itu, gunakan anjuran susastra sebagai pedoman bagi perbuatanmu; apa yang mesti kau lakukan, dan apa yang mesti kau hindari. Demikian, dengan panduan susastra, berkaryalah di dunia ini.” Bhagavad Gita 16:24

Bagi Krsna, kitab suci mesti berfungsi sebagai susastra. Kesucian suatu kitab tergantung pada apakah ia bisa menjadi “sastra” atau alat yang “su” – baik, tepat. Susastra atau Susastra, berarti, alat yang baik. Alat yang dapat digunakan untuk memfasilitasi hidup kita di dunia ini.

KESUCIAN KITAB dari sudut pandang Bhagavad Gita sepenuhnya tergantung pada isi kitab tersebut. Apakah masih relevan, masih dapat diaplikasikan — ini penting. Pengertian tentang kitab suci seperti ini mesti dihayati, supaya pesan Krsna menjadi jelas. Ia tidak menasihati kita untuk mengikuti segala sesuatu dengan menggunakan kaca mata kuda, atau secara membabi buta.

Tulisan-tulisan yang menebarkan kebencian, permusuhan; menciptakan ego kelompok dan eksklusivisme; membenarkan diskriminasi, dan sebagainya — hendaknya dipelajari sebagai sejarah dan dipetik hikmahnya. Tulisan-tulisan seperti itu tidak dapat dijadikan pedoman untuk setiap zaman. Manusia bukanlah lahir untuk membenci. Ia lahir untuk mencintai.

MENGIKUTI PETUNJUK SUSASTRA atau kitab suci, berarti, menerjermahkan kesucian dalam keseharian hidup. Mengikuti petunjuk susastra, berarti mengubah diri kita menjadi susastra – alat yang baik di tangan Tuhan.

Jadilah alat-Nya. Kenalilah sifat wahana badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan yang selama ini kita salah anggap sebagai diri kita.

Dengan menjadi alat-Nya, kita tersadarkan bila sesungguhnya yang bekerja adalah Jiwa.

Dan, adalah Jiwa Agung yang menghidupi Jiwa Individu. Keberadaan kita adalah semata karena Ia berkenan untuk menggunakan kita sebagai alat-Nya untuk bermain-main di alam raya ini. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia