Archive for kematian

Laku Menghadapi Kematian

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on October 12, 2018 by triwidodo

Kisah Raja dan Sahabatnya, Si Puncak Kebodohan

Seorang Master berkisah tentang Raja yang telah mengalihkan tanggung-jawab kekuasaannya kepada Menteri dan menghabiskan waktunya dengan santai. Sang Raja mempunyai sahabat pribadi sekaligus sebagai pengawal pribadinya. Sang Raja memanggil sahabat pribadinya dengan sebutan “Avivekasikhamani”, Si Puncak Kebodohan. Sebagai hiburan Sang Raja minta sahabatnya yang bodoh memakai tulisan Avivekasikhamani dari emas yang diikat di dahinya. Semua orang menganggap sahabat Sang Raja sangat bodoh dan tidak pernah didengarkan pandangannya. Sahabat Sang Raja sendiri maklum bahwa dirinya memang bodoh.

Pada suatu ketika Sang Raja jatuh sakit, dan seluruh kerajaan berupaya menyembuhkan Sang Raja dengan mencari tabib dan obat-obatan. Akan tetapi semua upaya gagal dan kesehatan Sang Raja semakin memburuk dan dia sudah sampai di depan pintu kematian. Sang Raja menulis beberapa pesan dan tenggelam dalam kesedihan. Sang Raja sangat takut menghadapi kematian dan tidak bisa memikirkan hal yang lain.

Sang Raja memanggil Avivekasikhamani, Si Puncak Kebodohan dan berbisik, “Saya akan segera pergi, sahabatku!” Si Puncak Kebodohan bertanya, “Apa! Gusti lemah dan tidak bisa berjalan, saya segera akan memesan tandu, mohon tunggu sebentar.” Sang Raja berkata, “Tidak ada tandu yang bisa membawaku ke sana.” Si Puncak Kebodohan menanggapi, “Kalau demikian, saya akan memesan kereta.” Sang Raja berkata, “Kereta juga tidak ada gunanya.” Si Puncak Kebodohan menanggapi, “Kalau demikian, kuda menjadi satu-satunya sarana perjalanan Gusti.” Sang Raja menatap sahabatnya yang tidak ingin dirinya mengalami kesusahan dalam melakukan perjalanan, “Kuda juga tidak akan dapat masuk ke sana.” Si Puncak Kebodohan berkata, “Gusti, aku akan membawamu ke sana.” Sang Raja menjawab, “Sahabat terkasihku, “Bila waktunya tiba, seseorang harus pergi sendirian ke sana.” Si Puncak Kebodohan berkata, “Sangat aneh Gusti! Gusti berkata tidak bisa pakai tandu, kereta, atau kuda dan tidak ada orang yang bisa menemani. Tolong Gusti memberitahu, setidaknya di mana tempat itu.” Sang Raja menjawab, “Saya tidak tahu.”

Si Puncak Kebodohan berpikir lama dan setelah itu mengambil tulisan emas “Avivekasikhamani” dari dahinya dan memasangkannya di dahi Sang Raja. Si Puncak Kebodohan berkata, “Gusti tidak tahu tentang tempat itu, bahkan bagaimana perjalanan menuju ke sana, akan tetapi Gusti tetap akan pergi ke sana. Kalau demikian Gusti juga berhak memperoleh gelar Avivekasikhamani.” Sang Raja tersenyum malu, dan bergumam pada diri sendiri, “Saya telah menyia-nyiakan hidupku dengan makan, minum dan mengejar kesenangan. Tidak pernah berpikir, dari mana saya datang, ke mana saya pergi dan mengapa saya berada di dunia ini. Ya, saya berhak memperoleh gelar Avivekasikhamani, Si Puncak Kebodohan karena telah menyia-nyiakan kehidupan.aku tidak pernah belajar memilah mana hal yang menyenangkan pancaindra dan pikiran dengan hal yang membawa Kebahagiaan Sejati.” Dan Sang Raja menghembuskan napasnya yang terakhir.

Persiapan Apa yang Sudah Dilakukan untuk Perjalanan Menuju Kematian?

Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian?”

Hidup yang diawali dengan sebuah tangisan, harus diakhiri dengan sebuah senyuman. Ketika engkau masih bayi, orang-orang disekitarmu tetap tersenyum walaupun engkau terus menangis. Ketika engkau mati, orang-orang disekitarmu akan meratapi kehilangan ini, namun engkau semestinya tersenyum dalam damai dan mengundurkan diri dengan tenang. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Dunia ini Penuh dengan Orang-Orang Bodoh yang Tidak Tahu Tujuan Hidup

Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh. Mereka hidup tanpa mengetahui arah. Mereka tidak tahu tujuan hidup itu apa. Mereka pikir makan, minum, tidur, seks, kekuasaan, harta-benda, itulah kehidupan. Mereka “tampak”bahagia, tapi sesungguhnya hampa. Mereka kosong.

Hingga usia 35-40 tahun, mungkin mereka tidak mengerti arti kebahagiaan, dan menerjemahkan “kenyamanan” sebagai “kebahagiaan”. Setelah usia 35-40 tahun, umumnya mereka  baru tersadarkan bahwa

KENYAMANAN TIDAK SAMA DENGAN KEBAHAGIAAN. Namun, saat itu pun mereka masih belum tahu cara untuk meraih kebahagiaan sejati. Adalah suatu berkah jika seorang yang sudah berusia 35-40 tahun masih sempat tersadarkan akan kesalahannya, dan mulai mencari kebahagiaan sejati. Biasanya, mereka hidup sebagai layangan yang putus – tanpa arah – bergantung pada arus angin. Demikian satu masa kehidupan tersia-siakan.

BERAKTIFITASLAH SEPERTI BIASA—Nikmati segala kenyamanan, namun dengan penuh kesadaran bahwa kenyamanan yang Anda peroleh dari harta benda dan keuasaan tidak sama dengan kebahagiaan. Maka, berjuanglah pula untuk meraih kebahagiaan sejati dengan cara “mengenal diri”—mengenal Hakikat Diri, Hakikat Jiwa, hubungan Jiwa dengan Jiwa-Jiwa lain, hubungan Jiwa-Jiwa dengan sang Jiwa Agung.

Kembangkan sifat panembahan, belajarlah, biasakanlah diri untuk berbagi berkah. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati. Jangan menjadi bodoh, jangan terbawa oleh Maya! Lewati Maya, gunakan Maya untuk menembusnya, gunakan harta-benda dan kekuasaan untuk berbagi berkah! Di balik tirai Maya adalah Mayapati—the Lord of Maya—Sang Jiwa Agung. Penjelasan Bhagavad Gita 7:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Tujuan Hidup adalah Ananda (Kebahagiaan Sejati)

HIDUP BUKANLAH mengembangkan otak, mengumpulkan harta, ataupun beranak pinak. Tujuan hidup bukanlah sekadar menjalani profesi kita masing-masing, semulia apa pun profesi itu. Semua itu hanyalah sarana penunjang. Bukan tujuan. Sementara itu, badan, pikiran, perasaan, indra, intelek — semuanya adalah bagian dari wahana yang diperuntukkan bagi Jiwa.

Ya, kita butuh uang untuk membeli bensin dan merawat kendaraan. Tapi, uang bukanlah tujuan hidup. Kendaraan pun tidak dibuat untuk bensin. Bensin dibutuhkan untuk menjalankan kendaraan, bukan sebaliknya.

…………..

TUJUAN HIDUP ADALAH Kebahagiaan Sejati yang hanyalah diraih ketika kita sadar akan jati diri kita. Inilah “kesempurnaan-diri” yang dimaksud oleh Krsna. Untuk itu, kita mesti “bermain dengan apik”. Mengisi kendaraan badan kita dengan bensin, minyak, dan air secukupnya. Tidak perlu sampai meluber dan bertumpah-tumpah.

Di atas segalanya, setelah memeriksa kendaraan, setelah memahami perbedaan dan hubungan antara ksetra dan ksetrajna — antara badan, pikiran, perasaan, indra, dunia benda, Jiwa, dan Sang Jiwa Agung—berjalanlah menuju tujuan hidup, menuju kesempurnaan diri, dan meraih kebahagiaan sejati. Penjelasan Bhagavad Gita 15:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kesadaran Jiwa: Adalah Ia Hyang Kekal Abadi yang Menempati Wujud Kita

“Ketahuilah bahwa Hyang Meliputi alam semesta adalah Tak Termusnahkan. Tiada seorang pun yang dapat memusnahkan Ia Hyang Tak Termusnahkan.” Bhagavad Gita 2:17

“Ia Hyang Kekal Abadi, Tak Termusnahkan, dan Tak Terukur (Kemuliaan, Keagungan, dan Kekuasaan-Nya) itulah yang menempati wujud manusia dan wujud makhluk-makhluk lainnya. Maka, wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), bertempurlah, hadapi tantangan ini!” Bhagavad Gita 2:18

“Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan yang menganggapnya terbunuh—kedua-duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh.” Bhagavad Gita 2:19

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Bhagavad Gita 2:20

“Seseorang yang mengetahui hal ini; mengenal dirinya sebagai yang tak termusnahkan, tak-terlahirkan, dan tidak pernah punah, bagaimana pula iadapat terbunuh, wahai Partha (Putra Prtha – sebutan bagi Kunti, ibu Arjuna)? Dan, bagaimana pula ia dapat membunuh?” Bhagavad Gita 2:21

“Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru.” Bhagavad Gita 2:22

Yang tidak termusnahkan itu Tuhan tapi sel-sel badan kita sedang termusnahkan. Tuhan tidak terganggu oleh itu. Nanti kita mati pun Tuhan tidak terganggu. Yang terganggu siapa? Kita semua akan mati. Tapi kita mau mati dengan senyuman atau mati dengan aduh aduh, kesakitan itu di tangan kita. Kita bisa menentukan.

Silakan ikuti Video Youtube Bhagavad Gita Percakapan 2 15-27 Menghadapi Kematian & Keabadian Jiwa oleh Bapak Anand Krishna

Advertisements

Cinta Savitri: Menaklukkan Kematian

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 12, 2018 by triwidodo

Kisah Savitri – Satyavan versi Swami Vivekananda

Savitri adalah putri satu-satunya dari Raja Ashvapati yang cantik dan berbudi luhur. Savitri adalah putri yang berbakti terhadap kedua orangtuanya. Sang Raja minta Savitri mencari jodohnya, dan dengan kereta dan pengawal kerajaan bekeliling negeri untuk mencari calon suami yang baik, dan belum menemukannya.

Satyavan adalah putra mahkota dari seorang Raja Dyumatsena yang dikalahkan musuh-musuhnya yang di hari tuanya hampir buta, tidak dapat melihat sehingga sang raja dan istrinya menyingkir serta tinggal di tepi hutan. Satyavan adalah anak yang berbakti, dia ikut orangtuanya, menjaga dan menghidupi mereka dengan hidup di hutan.

Savitri akhirnya bertemu Satyavan yang tampan dan luhur budinya dan jatuh hati. Savitri menyampaikan pada raja, ayahandanya bahwa dia telah jatuh hati pada Satyavan. Adalah Rishi Narada yang memberitahu sang raja bahwa Satyavan usianya tinggal satu tahun lagi. Sang raja minta Savitri mencari suami yang lain, akan tetapi Savitri bersikeras memilih Satyavan sebagai suaminya. Sang raja sadar bahwa yang melakoni pernikahan adalah putrinya, dan sang putri telah siap menerima resiko sehingga sang raja akhirnya dengan berat hati mengizinkan.

Savitri, seorang putri raja kemudian hidup di hutan menjadi istri Satyavan ikut merawat kedua mertuanya. Savitri tahu betul kapan suaminya akan meninggal, tetapi suaminya tidak mengetahuinya. Bila sebelumnya Savitri berbakti terhadap orangtuanya, sekarang dia berbakti terhadap suami dan kedua mertuanya.

Tiga hari menjelang Hari-H Savitri berpuasa, berdoa dan tidak tidur. Sampai pada Hari-H, saat Satyavan akan pergi ke hutan Savitri minta izin kedua mertuanya untuk mengikuti Satyavan. Sampai di tengah hutan Satyavan merasa sakit, dan Savitri tahu bahwa saat kematian suaminya sudah tiba. Sang suami dimintanya meletakkan kepalanya pada pangkuannya. Para Utusan Yama ingin mengambil Jiwa Satyawan tapi tidak berhasil karena sekeliling Savitri ada tembok api yang tidak dapat ditembus. Para utusan Yama melaporkan kejadian tersebut dan Yama, Sang Dewa kematian datang sendiri ke tempat Satyavan dan Savitri.

Yama berkata pada Savitri bahwa dia adalah dirinya adalah orang yang pertama kali mati di bumi, dan menjadi Dewa Kematian. Takdir setiap orang adalah mati. Dan Yama kemudian membawa Jiwa Satyavan, akan tetapi Yama tahu Savitri mengikutinya. Yama berkata jangan mengikuti dirinya dan Savitri menjawab bahwa dia tidak mengikuti Yama tapi mengikuti suaminya. Adalah takdir perempuan untuk mengikuti suaminya dan hukum keabadian tidak bisa memisahkan suami penuh kasih dengan istri setianya.

Yama berkata pada Savitri bahwa dia akan mengabulkan permintaan Savitri kecuali menghidupkan kembali Satyavan. Savitri minta kesembuhan mertuanya dan dikabulkan Yama. Yama kemudian membawa Satyavan pergi, akan tetapi Savitri tetap mengikutinya. Yama bertanya mengapa Savitri masih mengikutinya dan Savitri menjawab bahwa dia mencoba pulang kembali akan tetapi pikirannya hanya pada sang suami dan tubuh Savitri mengikuti pikirannya. Jiwa Savitri telah tertambat pada Satyavan sehingga saat Satyavan pergi Jiwa Savitri mengikutinya. Yama kembali mengatakan bahwa dia akan mengabulkan permintaan Savitri kecuali menghidupkan Satyavan. Savitri minta kekayaan dan kekuasaan mertuanya dapat dikembalikan dan Yama mengabulkan. Yama kembali pergi membawa Satyavan, akan tetapi Savitri tetap mengikutinya.

Yama berkata bahwa orang hidup tidak bisa datang ke istana Yama dan minta Savitri pulang. Savitri berkata bahwa dirinya akan pulang tapi tidak bisa. Dirinya hanya mengikuti kemana suaminya pergi. Yama mengatakan agar dianggap Satyavan banyak dosa dan akan dibawa ke Neraka. Savitri menjawab ke surga atau neraka dia akan ikut suaminya. Menghadapi Savitri, Yama pun merasa “bohwat”, tak tahu harus berkata apa, dan akhirnya minta Savitri minta karunia sekali lagi kecuali menghidupkan Satyavan. Savitri minta garis keturunan mertuanya tidak putus dan agar anak-anak Satyavan menjadi raja-raja penerus keturunan. Yama tersenyum, “Ya sudahlah kembalilah dengan membawa Satyavan, dia hidup kembali………. Cinta Savitri menaklukkan kematian……

Sumber: Complete Works of Swami Vivekananda Volume 4 Lectures and Discources The Mahabharata

Penjelasan kisah berikut berdasar pandangan Bapak Anand Krishna bahwa Tuhan ada dalam setiap makhluk.

Tuhan ada Dalam Diri Setiap Makhluk

Anjing itupun wujud-Ku, sebagaimana hewan-hewan lain. Ia yang melihat-Ku dalam setiap makhluk adalah kekasih-Ku. Sebab itu lampauilah dualitas yang disebabkan oleh rupa dan nama. Layanilah setiap makhluk hidup, sebagaimana kau melayani anjing itu, karena Aku berada di mana-mana, di dalam diri setiap makhluk. Lihatlah Tuhan dalam diri setiap makhluk inilah non-dualitas. Inilah inti ajaran Guru Baba, inilah inti pesan setiap Guru Sejati. Kitab-kitab suci pun mengajarkan kita hal yang sama. Tiada sesuatu yang beda antara ajaran-ajaran yang tertulis dan apa yang disampaikan oleh para Sadguru seperti Baba. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava, Ibu dan Ayah Wujud Tuhan

Savitri dan Satyavan telah menunjukkan bhakti terhadap orangtua mereka.

Hormatilah ibumu sebagai Eujud Hyang Mulia, hormatilah ayahmu sebagai Wujud-Nya pula. Siapakah tuhan itu? Ibu dan Ayah adalah Tuhan…… melupakan Sang Hyang yang berwujud dan berada dihadapanmu, dan berupaya mencari Tuhan di tempat lain tidak ada gunanya. Mereka (orangtua) senantiasa bersama kita dalam keadaan sulit, kehilangan dan duka, merekalah yang memahami dan memelihara kita. Cintailah orangtuamu lebih dahulu. Jika kau tidak mencintai orangtua, kau tidak akan pernah mendapatkan cinta sejati…Hormati orangtuamu. Layani mereka. Ketika membuat mereka bahagia, hidupmu akan selamanya bahagia.

Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava, Ibu dan Ayah Wujud Tuhan: Jika kita tidak menghormati melayani kedua orang tua kita, kelak janganlah mengharapkan anak-anak kita akan mengurusi kita. Ingat Hukum Karma. Kita menuai hasil dari apa yang kita tanam.

Sumber: Sabda Sang Guru 4 Pancha Yajna Kewajiban Untuk Berbagi Bagian 2  Oleh Bapak Anand Krishna Sumber Media Hindu

Manasa Seva adalah Madhava Seva Melayani Sesama sama dengan Melayani Tuhan, Apalagi Melayani Suami

Savitri melayani Satyavan, Tuhan dalam diri Savitri melayani Tuhan dalam diri Satyavan.

Apa gunanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdoa dan meditasi, sementara tetangga kita sedang merintih kesakitan dan dalam ketidakberdayaan? Tuhan tak akan menanggapi doa kita seperti itu.

(Mendengar rintihan sesama) apa yang diharapkan dari seorang manusia adalah meninggalkan doanya dan terburu-buru melayani orang yang sedang menderita.

Tuhan di dalam diri kita mesti bergegas untuk melayani Tuhan di dalam diri orang lain yang sedang menderita, sebab Manasa Seva adalah Madhava Seva (Melayani Sesama sama dengan Melayani Tuhan). Seperti itulah semestinya seseorang melihat Tuhan, Hyang berada dalam diri setiap makhluk.

Sumber: Sabda Sang Guru 1-7 Pancha Yajna Kewajiban Untuk Berbagi Bagian  Oleh Bapak Anand Krishna di Media Hindu

Kisah Shvetaketu dan Pravahana: Proses Kematian dan Kelahiran Kembali

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on July 4, 2018 by triwidodo

Proses Kematian dan Kelahiran Kembali

Dalam Chandogya Upanishad dikisahkan Shvetaketu putra Uddalaka Aruni menganggap dirinya bijaksana. Pada suatu hari dia pergi ke Sidang Panchala. Pangeran Pravahana bertanya apakah Shvetaketu telah memperoleh pendidikan dengan baik? Shvetaketu menjawabdengan bangga bahwa dia telah memperoleh pendidikan yang baik.

Pangeran Pravahana bertanya apakah Shvetaketu dia tahu kemana semua makhluk setelah kematian? Apakah dia tahu kapan dia lahir kembali? Apakah dia tahu Jalan Cahaya, Devayana dan Jalan Kegelapan, Pitriyana, dimana ruh melakukan perjalanan? Apakah dia tahu mengapa dunia di luar dunia tidak penuh walau banyak orang memasukinya? Apakah dia tahu bagaimana elemen menjadi purusha atau manusia hidup?

Shvetaketu tidak bisa menjawab semuanya dan merasa malu dan melaporkan pertanyaan Pangeran Pravahana kepada ayahandanya. Uddalaka, ayah Shvetaketu dengan jujur mengatakan bahwa beliau tidak tahu jawabannya juga. Selanjutnya Uddalaka memutuskan ke sidang Panchala untuk belajar pada Pangeran Pravahana.

Pravahana menawarkan hadiah kekayaan apa saja kepada Uddalaka, akan tetapi Uddalaka menolaknya dan mohon diajari ajaran tentang pertanyaan yang disampaikan kepada putranya. Pangeran Pravahana minta Uddalaka bersama sang pangeran selama beberapa lama.

Pravahana menyampaikan bahwa pengetahuan ini hanya untuk para kshatriya dan belum pernah diberikan kepada para brahmana. Baru pertama kalinya pengetahuan itu diberikan kepada seorang brahmana.

Inti ajaran Pravahana adalah sebagai berikut:

Elemen materi akan diubah menjadi hidup atau seseorang secara bertahap dengan melalui 5 tahapan yang berbeda. Tahap pertama, elemen diterima oleh api dan matahari dan berubah menjadi Soma. Tahap kedua, Soma dituangkan ke Parjanya, kekuatan yang membawa hujan, menghasilakn hujan di bumi. Tahap ketiga, hujan di bumi menghasilkan makanan. Tahap keempat, manusia mencerna makanan dan menghasilakn Retas. Retas pria dan wanita beda bentuknya. Tahap kelima, Retas wanita dan pria bersatu lahir menjadi anak. Tubuh manusia larut menjadi elemen-elemen yang membentuknya, akan tetapi takdir Jiwa tergantung pada tindakan dan pengetahuan yang diperolehnya. Orang yang mencapai pengetahuan spiritual yang benar berjelan melalui Jalan Cahaya dan tidak kembali ke dunia. Orang yang tidak memiliki pengetahuan atau hanya berpengetahuan parsial pergi melalui Jalan Kegelapan dan jatuh ke dalam siklus kelahiran dan kematian yang abadi. Dengan demikian, beberapa yang pergi ke Dunia Brahman tidak pernah kembali, beberapa yang pergi ke Surga tinggal di sana untuk beberapa waktu dan kembali ke bumi untuk meyelesaikan tugasnya, dan banyak orang yang terjebak dalam silus kelahiran dan kematian yang terus berulang. Itulah mengapa dunia di luar tidak pernah penuh. Ini adalah pengetahuan tentang kehidupan.

Penjelasan Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) sebagai berikut:

 

Mind yang Banyak Keinginan Tetap Berada di Bumi

Saat kematian fisik, mind yang masih utuh karena banyak keinginan, memori dan sebagainya akan tetap berada dalam lingkup gravitasi bumi. Kemudian lahir kembali tanpa kesadaran. Bila keinginan dan memori mulai berkurang, mind yang telah musnah fisiknya itu “dapat” meninggalkan gravitasi bumi. Biasanya beristirahat sejenak di planet bulan, bulan kita, bulan yang anda lihat setiap malam. Kadang bisa juga di salah satu planet lain, tapi masih dalam galaksi kita. Mind penuh obsesi dan memori terbebani oleh obsesi dan memori itu sendiri dan tidak bisa bepergian jauh. Ia tidak cukup ringan untuk menembus galaksi Bima Sakti, apalagi menggapai Yang Tertinggi “Itu”.

Untuk bereinkarnasi di dunia ini, mind “turun” bersama air hujan, petir atau rembulan. Mereka yang mati secara alami dan harus mengalami jatuh-bangun berulang kali, biasanya jatuh bersarna air hujan. Inilah kelahiran yang paling sering, paling umum.

Mereka yang mati karena kecelakaan, dan perang, terbunuh, atau karena dihukum mati, turun bersama petir. Mereka tidak rela mati, karena itu ingin cepat-cepat turun. Dalam kehidupan berikutnya, mereka mcenjadi sangat restless. Ingin cepat-cepat jadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan, dan dapat menghalalkan segala cara untuk itu. Ada rasa takut dalam diri yang tidak mereka sadari: “Jangan-jangan tali hidupku terputus di tengah jalan lagi.” Mereka pun dibutuhkan dunia. Perkembangan teknologi dan kemajuan yang terjadi dalam lima puluh tahun terakhir disebabkan oleh sekian banyak manusia yang mati semasa Perang Dunia Pertama dan Kedua. Makin banyak orang terbunuh dalam perang, semakin berkembang teknologi kita, termasuk teknologi destruktif yang dapat menghancurkan dunia ini.

Perkernbangan dan kemajuan di segala bidang biasanya disebabkan oleh mereka yang mati tak ikhlas, kemudian lahir kembali. Mereka memiliki sense of urgency yang luar biasa, seolah sedang berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, menolak perang juga berarti menolak kemajuan teknologi liar seperti yang terjadi saat ini.

Tanpa dua kali perang dunia, hari ini kita sudah pasti belum memiliki peralatan perang yang super canggih. Pada saat yang sama, teknologi seluler untuk telepon genggam pun pasti belum ada. Kita baru akan mengenal teknologi secanggih itu sekitar akhir abad ini. Perkembangan di bidang sains, kemajuan teknologi dan sebagainya akan berjalan pelan, tapi dunia kita jauh lebih tenteram.

Kembali pada proses kelahiran dan kematian…..

Terakhir: Jiwa-jiwa yang turun bersama rembulan. Mereka datang untuk berbagi pengalaman, berbagi ketenteraman. Mereka sadar akan peran mereka. Itulah terakhir kalinya mereka turun untuk memberkati dunia kita. Setelah itu mereka tidak perlu turun lagi, kecuali atas kehendak mereka sendiri… lagi-lagi untuk tugas-tugas tertentu. Tugas yang sebenarnya bukan tugas. Mereka datang karena kasih mereka terhadap kita. Mereka datang untuk menyadarkan kita.

Lewat air hujan, petir, maupun rembulan —Jiwa-jiwa yang turun kemudian berinteraksi dengan elemen-elemen alami dan berevolusi cepat dari satu wujud ke wujud yang lain. Dari tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah dan buah-buahan hingga sperma dan ovum. Penemuan antara dua terakhir itu akhirnya menciptakan kehidupan baru.

Kehidupan ada di mana-mana, semua ini hidup. Bila anda kaitkan Kehidupan dengan Tuhan, Ia pun berada di mana-mana. Namun manusia selalu mengaitkan Tuhan dengan “atas” —“Yang Di Atas”, “Father in Heaven”…. Kenapa? Karena jiwa manusia memang “turun dari atas”. Turun dari atas untuk kembali naik ke atas… “Atas” itulah yang dianggap sebagai “asalnya”. Kemudian, asal-usul itu dikaitkannya dengan Tuhan.

Manusia naik-turun, lahir-mati sekian kali hingga pada suatu ketika tidak perlu naik-turun lagi, tidak perlu lahir dan mati lagi. Pada saat itu ia menyatu dengan semesta…. Atas-bawah, kanan-kiri, utara-selatan memiliki makna karena kaitannya dengan ruang dan waktu. Bila ruang dan waktu terlampaui sudah, arah dan jarak pun akan kehilangan makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Lahir Kembali atau Menyatu dengan Brahman dalam Bhagavad Gita

“Wahai Bharatarsabha (Arjuna, Banteng Dinasti Bharat), sekarang dengarlah tentang waktu (dan jalur) ideal. Meninggalkan raganya pada waktu tertentu, seorang Yogi tidak (lahir) kembali. Meninggalkannya pada waktu lain, ia mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:23

“Elemen Api dan Cahaya? Terang, menguasai waktu siang, purnama, dan masa 6 bulan saat matahari berada di utara khatulistiwa. Seorang Yogi yang telah mengetahui hakikat Brahman, dan meninggalkan raganya saat itu – menuju dan menyatu dengan Brahman!” Bhagavad Gita 8:24

Krsna menjelaskan hubungan erat antara waktu dan ruang. Dua-duanya saling terkait. Namun, waktu dan ruang ideal saja tidak cukup untuk menjamin kemanunggalan Jiwa dengan Jiwa Agung. Tetap ada prasyarat, yaitu “pengetahuan tentang Brahman”. Yang dimaksud di sini bukanlah pengetahuan “kitabi” – pengetahuan buku, pengetahuan tekstual. Tapi, sesuatu yang telah kita hayati, sadari, insafi, dan lakoni.

MENGINSAFI BRAHMAN BERARTI menyadari kehadiran Tuhan di mama-mana. Prasyarat ini mesti terpenuhi. Setelah itu, dan barulah setelah itu, waktu dan ruang memfasilitasi kemanunggalan kita.

Masa 6 bulan yang dimaksud bermula dari TANGGAL 14 JANUARI SETIAP TAHUN – ini sesuai perhitungan mistis, psikis. Jadi bukan sekadar perhitungan hari sesuai kalender. Namun, kemudian berdasarkan perhitungan mistis dan psikis itulah kalender lunar dan solar dipertemukan, diselaraskan. Nah, berdasarkan penanggalan Gregorian, tanggal 14 Januari adalah hari pertama dari masa 6 bulan yang dimaksud.

Konon, Bhisma dalam cerita Mahabharata, menunggu Uttarayana atau hari pertama dari masa enam bulan ini untuk menghembuskan napas terakhir. Ia dalam keadaan luka berat, badannya berdarah-darah, namun tetap bertahan selama belasan hari untuk memulai perjalanannya menuju Brahman.

Terlepas dari inti ayat ini, adalah penting untuk kita catat bahwa sesungguhnya kematian bisa di-‘jadwal’-kan! Kita bisa mengatur hari, tanggal dan jam kematian kita. Tentunya, untuk itu kita mesti qualified. Orang tidak meraih gelar doktor begitu saja. Ia mesti bekerja keras, dan melewati tahapan-tahapan yang ada. Nah, tahapannya adalah seperti yang dijelaskan dalam ayat ini,

API, CAHAYA, SIANG HARI, BULAN PURNAMA

Pertama: Api, Membakar ego dalam api kerendahan hati, kesahajaan; Kedua: Cahaya, Menjadi terang dan berbagi terang; Ketiga: Siang Hari, Aktif sepanjang hidup untuk melayani sesama; Keempat: Bulan Purnama, Ini terkait dengan sifat ‘cahaya’ kita yaitu lembut.

Semua ini adalah anak tangga menuju pengetahuan sejati, pengetahuan tentang hakikat diri – tentang Jiwa Individu dan Jiwa Agung. Kemudian pengetahuan sejati itu pula mengantar kita pada peleburan-diri, kemanunggalan. Ia yang mengenal Brahman, manunggal dengan-Nya menjadi Brahman.

 

“Asap atau kabut, waktu malam Amavasya (bulan mati/gelap), dan masa 6 bulan ketika matahari berada di selatan khatulistiwa – jika seorang Yogi meninggalkan raganya saat itu, maka ia terserap oleh cahaya bulan dan mengalami kelahiran ulang.” Bhagavad Gita 8:25

Adalah penting untuk kita pahami bahwa masa yang dimaksud tidaklah melulu sesuai dengan kalender kita. Mati di antara 14 Januari s/d 12/13 Juli: Bebas. Mati antaraa 14 Juli s/d 13 Januari:Balik! TIDAK. TIDAK SELALU DEMIKIAN – seseorang yang telah mengenal, menyadari, menginsafi hakikat dirinya seperti seorang pelancong yang sudah tahu jalan, tidak perlu ikut group untuk berpesiar. Dia bisa jalan sendiri.

Turis-awal, biasanya selalu mencari biro perjalanan, dan memercayakan seluruh agenda perjalanannya kepada mereka. dia tinggal bayar, dan ikut saja. Sebaliknya seorang turis yang sudah terbiasa, mengatur sendiri agenda perjalanan. Memesan hotel sendiri, beli tiket sendiri yang relatif lebih murah. Perjalanan turis-awal barangkali lebih nyaman, tapi belum tentu ‘senikmat’ turis adventuris yang mengatur sendiri semuanya.

Jadi, “JADWAL-JADWAL KEBERANGKATAN” dalam dua ayat ini, sesungguhnya mesti diartikan sebagai Jadwal Keberangkatan Group-Tour. Pilihan di tangan kita, ikut group atau jalan sendiri sewaktu-waktu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Nachiketa Tentang Kematian

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on June 29, 2018 by triwidodo

Kisah Nachiketa ini ada dalam Katha Upanishad. Nachiketa adalah putra seorang rishi bernama Udalaka. Pada suatu hari, Udalaka melakukan upacara persembahan. Sesuai kebiasaan masa itu, orang yang melakukan upacara menyumbangkan sapi kepada para Brahmana yang berkumpul di akhir upacara. Udalaka menyumbangkan sapi yang tua dan sakit-sakitan yang tidak menghasilkan susu. Nachiketa mengatakan seharusnya ayahnya menghadiahkan sesuatu yang berharga, yang masih disenanginya, bukan memberikan sesuatu yang dia sudah tidak menghargainya. Udalakan menjadi gusar kepada putranya dan berkata bahwa dia akan menghadiahkan Nachiketa kepada kematian, kepada Dewa Yama.

Nachiketa pergi ke tempat tinggal Yama. Penjaga Istana Yamaloka menghentikan Nachiketa di gerbang dan mengatakan kepadanya bahwa Yama tidak ada di Yamaloka. Nachiketa memutuskan untuk menunggu di gerbang Yamaloka tanpa makan dan minum. Yama kembali ke Istana-Nya dan menemukan anak muda itu menunggu Dia di depan gerbangselama 3 hari. Senang tindakan Nachiketa, Yama memberi makan dan minum dan menawarkan tiga anugerah kepada Nachiketa. Athiti devo bhava, tamu yang tidak diundang adalah Dewa yang patut dihormati.

Pertama, Nachiketa minta ayahnya menjadi damai bahagia bebas dari duka cita dan kemarahan. Yama menjawab, setelah Nachiketa kembali dari kematian, ayahnya akan menerimanya, bebas dari kesedihan dan kemarahan dan akan menjadi damai dan penuh suka cita.

Kedua, Nachiketa berkata bahwa di surga tidak ada rasa takut, bahkan tidak ada kematian dan usia tua, bahagia dan bebas dari semua penderitaan. Nachiketa ingin tahu jalan menuju surga melalui api batin. Yama menjelaskan tentang ilmu api batin sehingga Nachiketa dapat memahami sepenuhnya. Ilmu ini akan memberikan suka cita surgawi dan api ini tersembunyi dalam batin Nachiketa. Nachiketa dapat memahami ilmu tersebut dan Yama sangat senang dan bahkan memberikan nama ilmu api batin itu dengan nama Api-Nachiketa.

Yama menyampaikan bahwa eseorang yang membakar api batin ini tiga kali dan tanpa lelah mempraktekkan ritual api, praktik berbagi dan praktik pengendalian diri sesuai dengan tiga Veda, akan menjadi bebas dari kelahiran dan kematian. Dengan mengetahui api suci ini dan dengan memilihnya dengan tulus, dia akan mencapai kedamaian abadi.

Ketiga, Nachiketa berkata bahwa ada begitu banyak ketidakpastian tentang kematian. Ada yang mengatakan bahwa jiwa hidup setelah kematian dan yang lain mengatakan bahwa tidak demikian. Nachiketa ingin memahami ini hal tersebut.

Yama berpikir, adalaah berbahaya mengajarkan rahasia Jiwa kepada orang yang belum layak menerimanya.

Yama berkata, silakan Nachiketa minta anak keturunan dengan masa hidup ratusan tahun, banyak sapi, gajah, kuda dan emas. Bahkan kerajaan dengan wilayah yang luas dan menjadi kaisar terhebat di bumi. Akan tetapi Nachiketa tidak goyah.

Yama berkata agar Nachiketa minta kesenangan yang langka, musik yang indah, bahkan bidadari yang tidak mungkin diperoleh di dunia.

Nachiketa tahu bahwa segala kesenangan cepat atau lambat akan berakhir. Nchiketa ingin pengetahuan tentang Jiwa.

Akhirnya Yama menyampaikan ilmu tentang Jiwa kepada Nachiketa.

Usia Kesadaran dan Usia Fisik Manusia

Usia kesadaran sering tidak seirama dengan usia fisik. Banyak orang tua yang bertingkah seperti remaja, bahkan masih dipenuhi hasrat keserakahan di kala senja kehidupan telah datang menyapanya. Di lain pihak ada pula anak-anak yang sudah bijak sejak usia dini. Bagi yang mempercayai adanya siklus kehidupan, mereka menganggap bahwa anak-anak yang sudah bijak sejak dini telah banyak belajar dari sekian banyak kehidupan sebelumnya. Bagi yang mempercayai hidup itu hanya sepenggal garis lurus, mereka menganggap bahwa anak-anak tersebut lahir dengan sifat bawaan sempurna. Kita tidak dapat mencapai keadaan tersebut.

Sudahkah kita seperti Nachiketas yang mempertanyakan tindakan ayahnya (kebiasaan masyarakat) yang salah? Siapkah kita mendatangi kematian? Sadarkah kita bahwa segalaa kenyamanan dan kekuasaan di dunia ini hanya bersifat sementara dan selalu ada akhirnya?

Kematian

Ketika masih memiliki badan, kau menyia-nyiakannya untuk mengejar hal-hal yang serba semu. Kau tidak pernah mempersiapkan dirimu untuk sesuatu yang pasti terjadi, yaitu maut. Apabila kau hidup dalam ketidaksadaran, kau akan mati dalam ketidaksadaran pula. Lalu sia-sialah satu masa kehidupan. Kau memasuki lingkaran kelahiran dan kematian lagi.

Diantara sekian banyak ketidakpastian dalam hidup ini, mungkin hanya kematian yang merupakan satu-satunya kepastian. Aneh selama ini kita sibuk mengejar ketidakpastian. Dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sudah pasti. Sesungguhnya, mempersiapkan masyarakat untuk menerima kematian adalah tugas agama dan praktisi keagamaan. Tugas ini sudah lama terlupakan, karena para praktisi keagamaan tidak sepenuhnya memahami proses kematian. Lalu  penjelasan apa yang dapat mereka berikan? Tidak ada yang memperhatikan perkembangan diri manusia. Perkembangan rasa dalam diri manusia tidak diperhatikan sama sekali. Itu sebabnya, hidup kita masih kering, keras dan kaku. Tidak ada kelembamannya, tidak ada kelembutannya.

Agama bagaikan jalan-jalan menuju spiritualitas. Jalan menuju perkembangan batin. Sekarang agama dijadikan tujuan. Lalu kita sibuk mencocok-cocokkan yang satu dengan yang lain. Tentu saja tidak akan ketemu. Setiap jalan mempunyai rute sendiri, kekhasan sendiri. Pengalaman yang  diperoleh dalam perjalanan pun akan selalu berbeda.  Bekal kita adalah pengalaman-pengalaman yang berbeda yang kita peroleh dalam perjalanan. Kalau mau dicocok-cocokkan , ya pasti ribut melulu. Pengalaman perjalanan Kanjeng Nabi Muhammad berbeda dengan pengalaman Gusti Yesus. Pengalaman perjalanan Yang Mulia Buddha berbeda dengan pengalaman perjalanan Sri Krishna. Yang tidak berbeda adalah hasil akhirnya, tujuannya. Pengalaman akhir mereka tidak berbeda.

Pengalaman akhir setiap Nabi, setiap Mesias, setiap Buddha dan setiap Avatar, adalah apa yang terjadi pada saat kematian mereka. Peradaban yang masih sibuk dengan urusan perut dan politik tidak pernah memperhatikan pengalaman akhir. Mereka masih sibuk mempelajari pengalaman perjalanan para Nabi mereka, para Mesias mereka, para Avatar mereka, para Buddha mereka. Mereka yang sudah selesai dengan urusan perut, yang sudah muak dengan dunia politik, mulai mendalami hal-hal yang lenih esensial. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Cara Menghadapi Kematian #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on March 27, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang raja bermimpi bahwa bayangan gelap meletakkan tangannya di pundak sang raja. Sang raja ngeri karena saat ditanya siapakah bayangan tersebut, dia menjawab, “Aku adalah kematianmu, bersiaplah. Besok saat matahari akan terbenam, aku akan datang kepadamu.”

Mimpi buruk itu membuat sang raja cemas. Dia segera memanggil semua orang bijak ke istana, termasuk para astrolog dan raja memberitahu tentang mimpinya. Sang raja bertanya apakah arti mimpi itu? Apakah benar bahwa kematian akan terjadi?

Semua orang bijak, orang pintar, astrolog semuanya ramai berdebat tentang mimpi sang raja. Tapi mereka tidak bisa sampai pada kesimpulan tindakan apa yang harus diambil sang raja. Semua mempertahankan argumennya dengan sengit. Sampai pagi hari, semua orang mengatakan hal yang berbeda.

Adalah pengawal sang raja yang sudah tua, yang merawat sang raja sejak kecil karena ibunya meninggal, yang paling dipercaya oleh sang raja. Pengawal itu berkata, “Pemikir hebat, filsuf, dan astrolog telah berdebat selama berabad-abad dan mereka tidak pernah sampai pada suatu kesimpulan. Apakah Paduka Raja berpikir mereka akan memberikan kesimpulan dalam 12 jam sampai matahari terbenam?”

Sang raja berpikir, “Betul juga pendapat pengawal ini, mereka adalah orang-orang yang hanya tahu bagaimana berdebat; mereka tidak pernah sampai pada suatu kesimpulan. Mereka berdebat dengan baik tetapi pertanyaannya bukan keindahan argumen, pertanyaannya adalah apa kesimpulan dari semua filosofi Anda? Tidak ada kesimpulan sama sekali. Tidak ada dua filsuf yang setuju satu sama lain.”

Raja bertanya kepada pengawalnya, “Lalu apa yang kau usulkan?”

Sang pengawal tua berkata, “Biarkan mereka berdiskusi; tidak ada salahnya. Tetapi Paduka mengambil kuda tercepat dan pergi sejauh mungkin dari istana. Sangat berbahaya berada di tempat ini, setidaknya selama dua belas jam. Setelah matahari terbenam, Paduka bisa mulai kembali, tetapi tidak sebelum itu. Cara terbaik adalah menuju Damaskus, ibu kota dari kerajaan lain. Jadi saya akan tahu di mana menemukan Paduka, untuk memberi Paduka kesimpulan mereka. Aku akan datang di belakang Paduka.”

Sang raja patuh terhadap sang pengawal tua. Pergi dari istana dengan kuda terbaik dan memacu kuda sekencang mungkin. Sang raja dan kudanya bahkan tidak berhenti untuk makan atau minum air. Ini adalah hal yang sangat penting dalam kehidupannya. Mereka mencapai dekat Damaskus, tepat di luar kota, saat matahari terbenam. Mereka berhenti di hutan mangga dan saat sang raja mengikat kuda ke pohon, dia menepuk leher kudanya dan dia berkata, “Kudaku, kamu terbukti menjadi teman baik. Kau belum pernah berlari begitu cepat sebelumnya; kamu pasti mengerti situasiku. Dan kita telah menempuh ratusan mil.”

Saat matahari terbenam dia segera merasakan tangan yang sama di pundaknya dari belakang. Bayangan gelap itu ada di sana dan berkata, “Saya juga harus berterima kasih kepada kuda raja. Saya khawatir apakah raja akan dapat mencapai tempat ini pada waktu yang tepat atau tidak? Itu sebabnya saya datang untuk memberi tahu raja. Ini adalah tempat yang ditakdirkan untuk kematian raja, dan kuda tersebut membawa raja tepat waktu.”

Demikian cerita Osho.

Kematian adalah Hal yang Pasti

Diantara sekian banyak ketidakpastian dalam hidup ini, mungkin hanya “kematian” yang merupakan satu-satunya kepastian. Aneh, selama ini kita sibuk mengejar ketidakpastian. Dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sudah “pasti”. Sesungguhnya, mempersiapkan masyarakat untuk “menerima” kematian adalah tugas agama dan para praktisi keagamaan. Tugas ini sudah lama terlupakan, karena para praktisi keagamaan pun tidak sepenuhnya memahami proses kematian. Lalu, penjelasan apa yang dapat mereka berikan? Yang dapat mereka lakukan hanyalah menteror manusia, mengintimidasi dan menakut-nakutinya dengan ancaman api neraka atau alam kubur yang sunyi sepi…… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kehidupan itu sebagai Garis Datar atau berupa Siklus?

SIKLUS KEHIDUPAN – Siklus atau cycle bersifat circle, bulatan. Jika kita memahami kehidupan sebagai garis datar, entah horizontal atau vertikal, maka kita tidak bisa tidak bersedih hati atas kematian orang yang kita sayangi, karena kehidupan sudah berlalu. Tidak ada kemungkinan bagi kita untuk  bertemu dengannya lagi. Pertanyaannya: Apa iya demikian?

Jika kita memperhatikan alam, lingkungan sekitar kita, atau jika kita memahami hukum-hukum kebendaan, antara lain sebagaimana terungkap dalam Ilmu Fisika, maka kita sudah pasti memahami pula bila sesungguhnya kematian adalah mitos. Perubahan adalah abadi. Materi berubah bentuk saja….

Jika kita memahami rumusan Einstein tentang relativitas, maka sesungguhnya materi adalah energi dalam bentuk lain. Dan, energi itu sendiri tidak pernah hilang, selalu ada, hanya berubah bentuk.

Inilah sebab para bijak yang memahami kehidupan sebagai siklus, tidak akan berduka atau bersedih hati karena mereka. Sesungguhnya mereka sedang menjalani proses perubahan wujud. Penjelasan Bhagavad Gita 2:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Menghadapi Kematian Tanpa Rasa Cemas

Dalam cerita Mahabharata disampaikan bahwa Yudhistira bertemu dengan Dharmaraja, yang salah satu tugasnya adalah sebagai Yama, pencabut nyawa. Mereka berdialog dan Dharmaraja sedang menguji Yudhistira dengan pertanyaan, “Apa hal yang paling menakjubkan di dunia ini?”

Yudhistira menjawab, “Yang paling menakjubkan adalah kita semua menyaksikan kematian, tapi kita tidak percaya itu akan terjadi pada diri itu kita.”

Selama kita masih berusia 30-40 tahun. Bahkan kadang-kadang sampai 50 tahun, kita hampir tidak percaya bahwa kita akan mati. Kita masih mengejar ini, itu.

Tapi setelah usia 60 an tahun, sebetulnya 50 tahun dan apabila kita sensitif setelah usia 36 tahun.  Kita sudah merasakan bahwa arah jarum jam tidak bisa dibalik. Titik puncak energi kita adalah 36-38 tahun dan kemudian mulai menurun………………..

Setelah kita mulai tua sering sakit-sakitan, energi kita terasa menurun, kita baru sadar bahwa pada suatu saat kita akan mati. Baterai kehidupan dalam diri ada batasnya. Walau baterai long life semacam duracell atau alkaline eveready tetap ada batasnya.

Menyadari kematian adalah keniscayaan, membuat kita mempunyai kesadaran baru, bagaimana kita dapat memanfaatkan sisa hidup yang kita miliki. Apa yang ingin kita lakukan besok lakukan hari ini. Apa yang kita rencana lakukan hari ini lakukan sekarang juga. Kita seharusnya bekerja dengan semangat itu. Dikutip dari petikan video youtube: Menghadapi Kematian Tanpa Rasa Cemas oleh Bapak Anand Krishna.

 

Persiapan menghadapi Kematian

Ketika kita hendak pergi ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan sore, kita bersiap-siap dengan memakai sepatu kita. Saat ingin berkunjung ke kota lain, pakaian pun kita persiapkan dan masukkan ke dalam tas. Namun persiapan apa yang sudah kau lakukan untuk perjalanan terakhirmu, perjalanan menuju kematian? Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

 

Pesan Bapak Anand Krishna

Kematian adalah keniscayaan yang tak dapat dihindari. Mau jungkir balik seperti apa pun, setiap yang lahir mesti mati. Apa yang menyertai kita saat itu? Saat itu yang menyertai kita “hanyalah” kebaikan yang kita lakukan sepanjang hidup. “Perbuatan baik” bukanlah sekedar “amal saleh” – tetapi amal-saleh yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Seperti itu juga yang dikatakan oleh Sufi Besar Rumi, bukan sekedar bersedekah, tetapi memastikan bahwa uang yang kita peroleh untuk menjalani hidup dan bersedekah pun kita peroleh dengan cara yang baik, dan tidak menyakiti, mencelakakan, menipu atau memeras orang lain.

Hidup berkesadaran adalah perbuatan baik. Seorang yang telah sadar tidak bisa tidak berbuat baik. segala apa yang dilakukannya sudah pasti baik. sebaliknya, tanpa kesadaran perbuatan yang tampak baik pun kadang malah mencelakakan orang lain. Memberi uang kepada seorang pemabok sepertinya perbuatan baik, padahal tidak. Uang itu malah merusak dia. Perbuatan baik adalah perbuatan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan untuk menyadarkan orang lain.

Kisah Brahmana Sekolahan dan Wanita PSK #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 15, 2018 by triwidodo

Dikisahkan ada seorang brahmana yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjana dan mulai menetap di suatu desa. Persis di depan tempat tinggal dia tinggallah seorang wanita PSK, Pekerja Seks Komersial. Sang brahmana setiap hari duduk di beranda membaca Bhagavad Gita.sedang wanita PSK menjalankan pekerjaan separti biasanya.

Setelah beberapa tahun, sang brahmana merasa begitu terganggu oleh kegiatan sang wanita PSK. Dia selalu berpikir, betapa rendahnya pekerjaan wanita PSK, akan tetapi dia tetap membaca Kitab  Bhagavad Gita.

Setelah tahun-tahun berlalu, sang brahmana dan sang wanita PSK meninggal pada saat yang sama.

Sang brahmana kaget saat dia akan meninggal, dia melihat Utusan Vishnu datang membawa wanita PSK ke Vaikuntha, sedangkan yang mendatanginya justru Utusan Yama, Dewa Kematian  yang akan menghitung jumlah kebaikan dan kejahatannya untuk dimasukkan surga atau neraka sesuai tindakan yang telah dilakukannya baru lahir kembali.

Sang brahmana protes, bahwa pasti telah terjadi kesalahan. Baik Utusan Vishnu maupun Utusan Yama berkata bahwa tidak ada kesalahan.

Selama ini sang brahmana membaca kitab suci akan tetapi pikirannya selalu fokus pada kegiatan rendah sang PSK. Sedangkan sang PSK sudah lama ingin kembali ke jalan Gusti, ia mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dibaca sang brahmana, fikirannya terfokus pada Gusti. Pada saat sang brahmana meninggal pikirannya terfokus pada kegiatan rendah PSK, sedangkan pada waktu sang PSK meninggal fikirannya terfokus pada Gusti.

Fokus pikiran yang terakhir itulah yang menentukan dia akan lahir kembali atau tidak perlu lahir kembali…………….

Pikiran terfokus pada Gusti saat ajal tiba niscaya mencapai-Nya

“Saat ajal tiba, seseorang yang meninggalkan badan dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku, niscaya mencapai-Ku. Tiada keraguan dalam hal itu.” Bhagavad Gita 8:5

Saat ajal tiba – ini adalah closing scene atau adegan akhir dalam salah satu episode kehidupan kita. Tentunya, adegan akhir ini menjadi awal dari episode baru. Akhir adegan dalam episode ini, mengantar kita pada adegan pembukaan dalam episode berikutnya.

Jika sepanjang hidup kita sudah melatih diri untuk senantiasa berada dalam kesadaraan Jiwa, maka dalam kehidupan berikutnya kita akan melanjutkan upaya itu. Namun, jika dalam kehidupan ini kita sudah mencapai kesempurnaan, dan saat ajal tiba kesadaran kita sepenuhnya terpusatkan pada Sang Gusti Pangeran, maka tiada lagi episode baru. Kita menyatu dengan Sang Saksi Agung, Sang Jiwa Agung, Krsna mengatakan hal ini sebagai suatu keniscayaan.

Ayat ini sering disalahtafsirkan, seolah sepanjang hidup, kita bisa memikirkan apa saja. Kemudian saat ajal tiba kita mengenang-Nya, dan bingo! Kita menyatu dengan-Nya.

Teorinya demikian, prakteknya beda. Jika sepanjang hidup yang terpikir adalah dunia benda saja, maka saat ajal tiba, sesaat sebelumnya, kita tidak bisa, tidak mungkin, mengalihkan kesadaran pada-Nya. Saat itu yang terpikir adalah rumah, kerabat, keluarga; istana, yang telah kita bangun dan ‘belum cukup’ menikmatinya; perusahaan, yang kita tidak yakin akan dikelola dengan baik oleh ahli waris kita — dan sebagainya, dan seterusnya.

Pikiran terakhir, kesadaran terakhir saat mengembuskan napas terakhir — sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala ritus yang kita lakukan sepanjang hidup, segala amal-saleh atau dana-punia. Jika semuanya itu kita lakukan untuk pamer, dan bukan sebagai persembahan kepada-Nya_

PEMUSATAN KESADARAN PADA-NYA mesti dilakukan mulai sekarang dan saat ini juga – sehingga saat ajal tiba kesadaran kita tidak ke mana-mana; tetap terpusatkan pada-Nya.

Hola menafsirkan ayat ini sesuai dengan pemahamannya yang kerdil, maka putra-putrinya diberi nama sesuai dengan Nama-Nama Mulia Sang Gusti Pangeran, sebut saja Krishna, Rama, dan sebagainya dan seterusnya. Pikirannya sederhana, ‘Saat mati, saya pasti memikirkan mereka, maka jika saya memanggil siapa saja di antara mereka, dan tiba-tiba plak – mati! Ya, pasti masuk surga.’

Menyatu dengan Gusti Pgngeran adalah keadaan melampaui surga – tapi, bagi Hola surga adalah yang tertinggi – mau bilang apa?

Saat Yama, Dewa Maut datang menjemput — melihat bayangannya, Hola cepat-cepat memanggil anak sulungnya, ‘Krishna, cepat kemari…’ Krishna datang, sayang napas rnasih belum berhenti. Tidak mau rugi dan kecolongan, Hola memanggil anaknya yang kedua, ‘Rama!’ Rama pun datang, tapi Hola belum mampus!

Kemudian anak ketiga, keempat . . keduabelas — semua hadir, Hola masih bernapas! Melihat semuanya mengelilingi ranjangnya — Hola gelisah, ‘Kalian semua di sini, siapa menjaga toko kita

di bawah?’ Dan, plak, mampus – mati!

HOLA TIDAK BISA MENIPU DEWA MAUT! Anda dan saya pun tidak bisa. Jika mau menyatu dengan-Nya, maka mulailah dari saat ini berupaya dengan sepenuh hati, pikiran, dan raga untuk selalu berada dalam kesadaran Jiwa. Tidak bisa beralih pada kesadaran Jiwa saat ajal tiba, jika sepanjang hidup kesadaran kita terpusatkan pada dunia benda.

Dunia benda ibarat kantor – tempat kerja. Silakan bekerja dan pulang ke rumah. Jangan menjadi workaholic dan tidur di kantor. Pisahkan urusan kantor dari urusan rumah.

Kantor adalah dunia benda. Rumah kita, rumah sejati kita adalah Istana Gusti Pangeran. Selesaikan tugas kewajiban, dan kernbalilah pada-Nya. Masak terikat dengan kantor? Untuk apa berkantor, untuk apa bekerja? Bukankah supaya bisa menggunakan hasil dari jerih-payah kita untuk menikmati hidup? Kehidupan sejati ada di istana Gusti Pangeran, bukan di gubuk-dunia ini! Dalam pengertian, kehidupan sejati ada dalam Kesadaran Jiwa, bukan dalam kesadaran alam benda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Apa yang terpikirkan saat ajal tiba adalah apa yang dipikirkan sepanjang hidup

 “Apa pun yang terpikirkan saat ajal tiba, saat seseorang meninggalkan badannya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), itu pula yang dicapainya setelah meninggalkan badan. Sebab, pikiran terakhir adalah sama seperti apa yang terpikir olehnya secara terus-menerus sepanjang hidup.” Bhagavad Gita 8:6

Ayat ini adalah penegasan atas apa yang telah kita bahas dalam ayat sebclumnya. Kita tidak bisa memikirkan kebendaan sepanjang hidup, kemudian sesaat sebelum ajal tiba, kita mengubah channel. Dalam konteks ini, boleh dibilang kita tidak memegang remote-control.

Saat itu, batere remote-control pun sudah aus, habis. Tidak bekerja lagi. Diri kita sangat lemah untuk bangun dan mengubah channel. Orang lain tidak bisa mengubah channel untuk kita, karena, sesungguhnya setiap orang memiliki pesawat televisi pribadi. Setiap orang hanya menonton program-program “buatannya” sendiri di channel pribadi dan pesawat pribadi!

Guruku selalu mengingatkan bahwa…..

DEWA MAUT IBARAT SEORANG FOTOGRAFER, “Jika mau fotomu bagus, maka tersenyumlah selalu, karena kau tidak tahu kapan Sang Fotografer akan mengambil fotomu. Bersiap-siaplah untuk difoto setiap saat.”

Alihkan kesadaranmu pada Sang Gusti Pangeran, walau kaki, tangan, badanrnu masih tetap bekerja di dunia ini. Biarlah indra melaksanakan tugas mereka masing-masing – namun kesadaranmu selalu terpusatkan pada-Nya! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Parikshit: Menghadapi Kematian setelah Mendengarkan Bhagavatam #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , on October 24, 2017 by triwidodo

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

…………….

“Memuliakan-Nya” berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan moderasi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan – berkecukupan. Namun jangan lupa, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.

……………….

Tanpa Kesadaran Jiwa – badan yang satu ini; indra yang berjumlah lima ditambah indra-indra persepsi yang berjumlah lima pula; gugusan pikiran dan perasaan, keberhasilan akademis dan profesional – semuanya menjadi “segala-gala”nya. Jika ada yang hilang, maka kita kehilangan segala-galanya.

Kesadaran Jiwa membuat kita tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, walau kita menyaksikan tubuh menjadi debu, menjadi abu! Saat itu pun kita masih bisa menyanyi girang dan bersuka cita, “Aku abadi, aku abadi. Sivoham, So ham!” Saat itu, kita baru menyanyikan Bhajan, baru mengagungkan kemuliaan-Nya dalam pengertian yang sesungguhnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Pusatkanlah segenap pikiran dan perasaanmu pada-Ku; berbhaktilah pada-Ku; (tundukkan kepala ego) bersujudlah pada-Ku dengan semangat panembahan yang tulus; demikian, berlindung pada-Ku senantiasa, niscayalah kau meraih kemanunggalan dengan-Ku.”

Segala sembah, sujud, dan sebagainya – bukanlah untuk membuat seseorang menjadi hamba Krsna. Bukan, itu bukanlah tujuan Krsna. Krsna bukanlah seorang guru picisan yang sedang mencari, dan merekrut murid. Ia tidak senang melihat kita membuntutinya seperti domba. Ia menginginkan kita – setiap orang di antara kita – untuk mengalami apa yang dialami-Nya. Yaitu, kemanunggalan ‘aku’ kecil, aku-ego, dengan Jiwa Agung. Pertemuan antara Jiwa-Individu dan Jiwa-Agung – Jivatma dan Paramatma. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Tujuh hari telah berlalu, sejak Parikshit mendengarkan cerita-cerita dari Rishi Shuka.

Rishi Shuka berkata, bagi mereka yang mendengarkan cerita Srimad Bhagavatam ini dengan penuh penghayatan, tidak ada ketakutan terhadap kematian. Makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata – tidak berwujud; dan, berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Tidak demikian dengan Atman yang selalu ada. Renungkanlah badan yang sementara ada dan Atman yang selalu ada.

Parikshit berkata bahwa dia sudah melampaui rasa takut terhadap kematian. Parikshit mohon ijin pergi untuk menyelesaikan kehidupannya. Rishi Shuka beserta para rishi yang lain juga meninggalkan tempat tersebut.

Parikshit duduk bersila melakukan Yoga. Ular Taksaka mewujud sebagai brahmana mendekati Parikshit, tidak ada seorang pun yang mempedulikan brahmana tersebut. Tak lama kemudian brahmana tersebut kembali menjadi ular yang menggigit Parikshit. Parikshit terbakar menjadi abu………………

 

Bhagavatam mengatakan bahwa cerita dan perbuatan Gusti Pangeran tidak dapat dipahami. Tidak ada yang bisa mengerti mengapa dilakukan-Nya, tetapi mendengarkan/membaca kisah Srimad Bhagavatam menghasilkan kebahagiaan di dalam hati dan memberikan keabadian. Begitulah sifat keilahian.

(Memahami semua perbuatan Gusti Pangeran berarti kita telah menjadi Gusti Pangeran??)))

Perhatikan gelombang radio yang dipancarkan dari Delhi, Bangalore, Madras, Calcutta, Sri Lanka, bahkan Amerika. Tidak ada dua gelombang yang berbaur. Amat sangat misteri! Tidak ada kebingungan antara jutaan gelombang di udara. Kapan kebingungan muncul? Hanya saat kita tidak menyetel stasiun pemancar yang benar. “Tuning” atau menyetel gelombang itulah meditasi. Selesaikan pikiran Anda dengan fokus untuk menerima “berita”, yaitu, penglihatan ilahi. Bila pikiran tidak fokus, penerimaannya tidak jelas atau tidak berarti.

Matahari bersinar di atas kolam. Airnya beriak karena angin. Matahari tampak goyah di kolam. Namun kenyataannya, hanya gambar yang goyah, bukan matahari. Gelombang dalam pikiran Anda membuat Anda merasakan keilahian dalam berbagai suasana hati, nama, bentuk. Tapi keilahian adalah satu. Bukan keilahian tapi hanya perasaanmu yang berubah seiring berjalannya waktu. Meditasi adalah proses penyatuan pikiran yang terpecah.

Semua orang bisa melihat keberagaman. Kita harus melihat kesatuan dalam keberagaman, dengan prinsip dasar, atma. Bagaimana? Seperti piring, gelas dan sendok perak. Nama dan bentuknya berbeda. Nilai masing-masing objek juga berbeda. Tapi nilai peraknya sama, baik di piring, gelas maupun sendok. Keilahian telah mengasumsikan nama dan bentuk setiap entitas dalam penciptaan. Anda mungkin menghargai dan menghargai satu persatu dan menertawakan orang lain. Inilah sikap yang didasarkan pada perilaku orang-orang tersebut. Tapi prinsip atma adalah satu.

Terjemahan bebas dari Discourse on Srimad Bhagavatam by Sai Baba chapter 2

Terima kasih kami ucapkan kepada para pembaca #BhagavatamIndonesia, semoga Sri Vasudeva, caretaker, penjaga alam semesta, penjaga kesucian diri kita semua, Sri Narayana, Dia yang berada di setiap Nara, setiap makhluk, di mana-mana memberkati hidup kita semua.

 

Shanti mantra peace and meaning

 

Om Sarvesham Swastirvavatu – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

 

Om Sarveshaam Svastir-Bhavatu |

Sarveshaam Shaantir-Bhavatu |

Sarveshaam Purnnam-Bhavatu |

Sarveshaam Manggalam-Bhavatu |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: May there be Well-Being in All,

2: May there be Peace in All,

3: May there be Fulfilment in All,

4: May there be Auspiciousness in All,

5: Om Peace, Peace, Peace.

 

Om Sarve Bhavantu Sukhinah – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

 

Om Sarve Bhavantu Sukhinah

Sarve Santu Nir-Aamayaah |

Sarve Bhadraanni Pashyantu

Maa Kashcid-Duhkha-Bhaag-Bhavet |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, May All become Happy,

2: May All be Free from Illness.

3: May All See what is Auspicious,

4: May no one Suffer.

5: Om Peace, Peace, Peace.

 

Om Sahana Vavatu (Saha Navavatu) – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

Om Saha Naav[au]-Avatu |

Saha Nau Bhunaktu |

Saha Viiryam Karavaavahai |

Tejasvi Naav[au]-Adhiitam-Astu Maa Vidvissaavahai |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, May God Protect us Both (the Teacher and the Student) (during the journey of awakening our Knowledge),

2: May God Nourish us Both (with that spring of Knowledge which nourishes life when awakened),

3: May we Work Together with Energy and Vigour (cleansing ourselves with that flow of energy for the Knowledge to manifest),

4: May our Study be Enlightening (taking us towards the true Essence underlying everything), and not giving rise to Hostility (by constricting the understanding of the Essence in a particular manifestation only),

5: Om, Peace, Peace, Peace (be there in the three levels – Adhidaivika, Adhibhautika and Adhyatmika).

 

Om Asato Ma Sadgamaya – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

Om Asato Maa Sad-Gamaya |

Tamaso Maa Jyotir-Gamaya |

Mrtyor-Maa Amrtam Gamaya |

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, (O Lord) Keep me not in the Unreality (of the bondage of the Phenomenal World), but lead me towards the Reality (of the Eternal Self),

2: (O Lord) Keep me not in the Darkness (of Ignorance), but lead me towards the Light (of Spiritual Knowledge),

3: (O Lord) Keep me not in the (Fear of) Death (due to the bondage of the Mortal World), but lead me towards the Immortality (gained by the Knowledge of the Immortal Self beyond Death),

4: Om, (May there be) Peace, Peace, Peace (at the the three levels – Adidaivika, Adibhautika and Adhyatmika).

 

Om Purnamadah Purnamidam – in sanskrit with meaning – mantra from Upanishad

Om Puurnnam-Adah Puurnnam-Idam Puurnnaat-Purnnam-Udacyate

Puurnnasya Puurnnam-Aadaaya Puurnnam-Eva-Avashissyate ||

Om Shaantih Shaantih Shaantih ||

 

Meaning:

1: Om, That (Outer World) is Purna (Full with Divine Consciousness); This (Inner World) is also Purna (Full with Divine Consciousness); From Purna comes Purna (From the Fullness of Divine Consciousness the World is manifested) ,

2: Taking Purna from Purna, Purna Indeed Remains (Because Divine Consciousness is Non-Dual and Infinite).

3: Om Peace, Peace, Peace.