Archive for kesadaran jiwa

Soulmate, Sahabat Tak Terpisahkan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 26, 2018 by triwidodo

Kisah Sahabat Terbaik Yang Setia Mendampingi Kita

Seorang Master berkisah tentang pertemanan zaman sekarang. Dikisahkan seseorang yang mempunyai 3 teman istimewa. Dia selalu memperhatikan dan melayani ketiga temannya. Pada suatu ketika, dia harus menghadapi pengadilan sebagai akibat dari kesalahan tindakannya.

Dia pergi ke teman pertama minta bantuannya. Teman pertama mengatakan bahwa dirinya tidak mau dikait-kaitkan dengan kejahatan yang dilakukan olehnya. Dia menolak menjadi saksi ahli yang meringankannya.

Teman kedua didatangi dan diminta bantuannya. Teman kedua mengatakan bahwa dia akan mengantarkan dia sampai ke gedung pengadilan, akan tetapi dia tidak mau menjadi saksi yang dapat memperingan tuntutannya.

Adalah teman ketiga yang ketika diminta bantuannya segera menanggapi, “Ya, masalahmu adalah adalah masalah saya. Saya akan membantu dengan cara apa pun.” Teman ketiga adalah teman terbaik.

Kita juga memiliki 3 teman seperti demikian dalam kehidupan kita. Pada saat menjelang kematian datang menjemput, kita masih memiliki 3 teman tersebut. Teman pertama, harta kekayaan dan kedudukan kita tidak akan menemani kita. Teman kedua, rekan dan keluarga kita akan datang ke pemakaman atau upacara kremasi tubuh kita, tapi akan kembali ke rumah mereka. Hanya tindakan baik dan tindakan buruk kita yang akan menemani kita.

Kelahiran kita berikutnya akan diprogram sesuai dengan perbuatan yang telah kita lakukan. Agar kita tetap baik, kita harus menjaga dharma (kebenaran) yang bersifat sanatana (abadi), sedangkan segala sesuatu termasuk tubuh kita dapat berubah membusuk dan mati.

 

Tidak Membawa Harta dan Kedudukan ke Alam Sana

Apa yang terjadi bila aku meninggal? Rumahku yang mewah, kendaraanku, tabunganku, usahaku—semoga anak-anakku dapat merawat, memelihara, memperbanyak. Dalam keadaan sekarat pun pikiran seperti itu yang muncul. Harta, uang, fulus… sepanjang umur itu saja yang kita pikirkan. Saat mati pun pikiran yang sama yang muncul. Bila harta kekayaanmu dapat membahagiakan dirimu, kenapa kau begitu sedih saat meninggalkannya? Kenapa tidak membawanya ke alam sana? Tidak bisa kan? Lalu apa arti tabunganmu selama ini? Masih untung bila kau sempat menikmati harta itu semasa hidupmu. Masih untung bila kau sempat hidup nyaman dengan apayang kau miliki…. Silakan menabung. Silakan beli properti, silakan berinvestasi. Asal tahu bahwa semua itu tidak membahagiakan. Tidak ada kebahagiaan yang dapat kau peroleh dari semua itu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sahabat Atau Perekat Dunia?

Hubungan kita dengan dunia saat kelahiran sangat minim. Satu-satunya hubungan penting saat itu hanyalah hubungan dengan ibu, atau dengan siapa saja yang berperan sebagai ibu. Perekat kita dengan dunia saat itu hanyalah kasih ibu. Kemudian kita menambah perekat-perekat baru. Akhirnya terperangkap oleh perekat-perekat ciptaan kita sendiri. Adakah kebenaran di balik perekat-perekat ini? Adakah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berarti, bermakna di balik hubungan –hubungan kita yang semu? Orang tua bisa wafat, pasangan hidup bisa menceraikan, anak dan saudara bisa pisah rumah.kawan bisa berubah menjadi lawan. Is there anything more to life? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Jalan Keluar Dari Keterikatan

Lewat bait ini Shankara menawarkan solusi. Ia menunjukkan jalan keluar dari keterikatan. Lagi-lagi ia tidak menasihati Anda untuk meninggalkan pasangan hidup, anak dan keluarga. Ia hanya mengajak Anda untuk melihat kebenaran di balik hubungan-hubungan itu. Shankara mengajak kita untuk melakukan Tattvam Chintaya.. “Contemplate on the Essence”, kata dia. Coba perhatikan hakikat. Di balik hubungan kita dengan dunia masih ada hubungan lain, yaitu hubungan kita dengan Ia yang Menghadirkan Dunia ini—hubungan inti dengan Dia yang berada di balik semua hubungan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berada di Tengah Dunia Benda Tapi Tanpa Keterikatan

“Dalam diri seorang yang senantiasa memikirkan objek-objek di luar yang memikat indra – timbullah ketertarikan, keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan, keterikatan timbul keinginan untuk memiliki objek-objek tersebut. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).” Bhagavad Gita 2:62

Keterlibatan Berlebihan menimbulkan Ketertarikan – Anda bertemu dengan seseorang setiap hari. Ada urusan, tidak ada urusan – tetap bertemu. Maka, kemungkinannya dua, Anda bertengkar, atau makin tertarik, makin ingin bertemu.

Dari ketertarikan itulah timbul keterikatan. Anda mulai merasakan dunia Anda hampa tanpa orang tersebut. Hidup terasa tidak berarti tanpa sesuatu yang telah merangsang Anda, mungkin kendaraan, mungkin rumah, mungkin gadget elektronik terbaru – apa saja.

Muncul keinginan untuk memiliki – inilah induk dari keterikatan. Jika Anda tidak berhasil memiliki apa yang Anda inginkan, maka timbul rasa kecewa, dan dari rasa kecewa, timbul amarah.

Kemungkinan Ketiga – Netral – Ya, dan kemungkinan itu adalah hasil meditasi. Biasanya, kita menafsirkan ketidaksukaan atau ketidakterikatan kita sebagai “sikap netral”. Itu jelas salah.

Tidak suka dan tidak tertarik tidak sama dengan sikap netral. Sikap netral adalah bukan karena ketidaksukaan dan ketidaktertarikan, tetapi karena kesadaran. Anda bersikap netral terhadap Dunia Benda, ketika Anda sadar akan sifat kebendaan yang tidak permanen dan berubah terus.

Anda tetap menggunakan benda, tetap berada di tengah dunia benda, tapi tanpa keterikatan – yang demikian itulah hasil dari sifat netral. Anda tidak menimbun harta benda karena keterikatan, dan tidak pula membenci benda karena ketidaktertarikan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia #BhagavadGitaIndonesia

 

Kebahagiaan Sejati Nan Kekal Abadi

“Ia yang tidak terikat dengan sensasi-sensasi indrawi karena interaksinya dengan objek-objek di alam benda; ia yang menemukan sumber kenikmatan di dalam dirinya sendiri; ia yang senantiasa berada dalam Kesadaran Brahman, dan manunggal dengan-Nya lewat Yoga (berkarya tanpa pamrih) —meraih Kebahagiaan Sejati nan kekal abadi.” Bhagavad Gita 5:21

Kita mesti selalu mengingat bahwa setiap kali menyebut Yoga, maksud Krsna adalah Karma Yoga, Yoga Perbuatan yang Dinamis, yakni Berkarya tanpa Pamrih. Ketika Ia menyebut Yoga- Yoga jenis lain seperti Samkhya dan sebagainya, maka Ia secara spesifik menyebut-Nya.

 

KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali.

Pernahkah Anda memperhatikan, setelah berhubungan intim dengan pasangan Anda, kenikmatan yang Anda peroleh memudar, berlalu dengan cepat. Dan, setelah itu Anda, justru merasa lebih hampa lagi. Itulah sebab, setelah berhubungan intim, umumnya Anda langsung merokok atau menuju lemari es untuk mencari makanan. Setelah memperoleh kenikrnatan pun, Anda tetap merasa lapar, haus, kekurangan sesuatu.

Jika hubungan intim pun tidak bisa membahagiakan, maka pengalaman-pengalaman sensasional lain sudah pasti tidak bisa. Sebab, hubungan intim merupakan pengalaman paling sensasional, dalam pengertian, melibatkan semua senses, semua indra — yang amat sangat intens. Jika pengalarnan seintens itu pun berakhir dengan kehampaan, maka janganlah berharap dari pengalaman-pengalaman lain, dari sensasi-sensasi lain.

 

SUMBER KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH JIWA SENDIRI! Sifat Jiwa adalah Ananda – kebahagiaan sejati. Namun, selama Jiwa “merasa” terpisah dari Jiwa Agung, ia tidak menyadari hal tersebut. Ia tidak mengalaminya.

Hanyalah Yoga, dalam pengertian, Kemanunggalan Jiwa dengan dan dalam Jiwa Agung yang dapat memunculkan pengalaman tersebut— kebahagiaan abadi tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa kemanunggalan ini sebetulnya sudah terjadi. Kemanunggalan ini adalah hakikat. Justru perpisahan adalah ilusif. Ketika ilusi perpisahan terlampaui— kemanunggalan “terasa” kembali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Dari Hubungan Darah Menuju Kesadaran Jiwa

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 20, 2018 by triwidodo

Kesedihan Yudistira atas Kematian Karna

Seorang Master berkisah tentang permusuhan Karna dengan Pandawa. Sebelum pertempuran Bharatayuda, dikisahkan Kunti, Ibu Pandawa memberitahu Karna bahwa Karna adalah putranya dan Pandawa adalah adik-adiknya. Kunti minta Karna membatalkan keikutsertaan dia dengan Kaurawa melawan Pandawa. Karna mengatakan bahwa dirinya sudah berjanji kepada Duryodana yang telah memberikan kedudukan dan kekayaan untuk berpihak kepada Kaurawa. Karna hanya berjanji bahwa dia tidak akan membunuh keempat Pandawa dan dia hanya bertarung dengan Arjuna saja.

Di pihak lain, Pandawa tidak tahu bahwa Karna adalah kakak kandung yang lahir dari ibunya. Kelima Pandawa mempersiapkan diri untuk menghancurkan Karna, karena Karna adalah musuh yang perkasa dari pihak Kaurawa.

Ketika Karna mati terbunuh dan Yudistira mengetahui bahwa Karna adalah kakak kandungnya, dia sangat sedih tidak terkira. Penyesalannya tidak berkesudahan.

Jadi sampai kita tahu bahwa yang kita bunuh adalah saudara kita sendiri, rasa kebencian terhadap musuh tidak terlupakan.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa seluruh manusia termasuk musuh-musuh kita adalah saudara kita?

Sri Krishna mengajari Arjuna bahwa perang yang dilakukan bukan  berdasarkan keterkaitan hubungan darah akan tetapi untuk menegakkan dharma. Walaupun dalam satu keranjang apel dari pohon yang sama, apel yang busuk harus dibuang demi kesehatan apel lainnya. Walau ada tumor hidup dalam tubuh kita sendiri, maka tumor tersebut harus diangkat demi kesehatan tubuh kita. Walau kita masih berhubungan darah demi kesehatan jiwa umat manusia kita harus berperang dengan musuh yang menebarkan adharma.

 

Bapak Anand Krishna pada tahun 2012 menyampaikan:

Kecuali kita lahir kembali dalam kesadaran ruhani, kita tidak bisa memasuki kerajaan-Nya. Maksud Yesus apa? Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggungjawab terhadap darah dan daging. “Bagaimana pun juga,” kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri.” Atau, ada juga pepatah, “bagaimanapun juga darah lebih kental dari air.”

Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air.” Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga-“ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimanapun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa.

Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi “kesadaran murni yang luar biasa”.

Penjelasan:

Hubungan darah adalah hubungan terkait fisik lewat genetika. Hewan pun demikian juga mempunyai ikatan erat antara induk dan anaknya. Hubungan erat dalam kelompok manusia pun juga dilakukan oleh hewan.

Hubungan lewat air sudah lebih murni lagi. Sudah tidak membeda-bedakan kelompok atau keluarga. Semua makhluk hidup mengandung air, tanpa air akan mati.

Walau demikian air masih wujud materi, prakrti. Sedangkan hubungan lewat roh, soul jauh lebih dekat. Ibaratnya Sang  Jiwa Agung adalah Matahari, maka Gugusan Jiwa adalah Cahaya Matahari, sedangkan Jiwa Individu adalah sinar matahari, yang sudah terpengaruh oleh materi dalam diri. Sinar matahari tidak bisa dipisahkan dari Matahari. Kita semua terhubung dengan roh, soul, Jiwa.

Dalam Bhagavad Gita disampaikan tentang Kesadaran Jiwa, yang melihat bahwa Hyang Ada Hanyalah Gusti Pangeran Belaka. Semua makhluk adalah proyeksi dari Dia. Krishna menilai seeorang bukan dari jabatan atau orang awam, Dia menilai sama seperti menilai segumpal tanah, batu dan logam mulia.

Kesadaran Jiwa

“Berada dalam Kesadaran Jiwa, seseorang menganggap sama duka dan suka; ia menilai sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia; tidak tergoyahkan oleh hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, ia memandang sama pujian dan celaan.” Bhagavad Gita 14:24

 

Banyak yang menyalahgunakan ayat-ayat seperti ini untuk bertindak semau mereka terhadap orang-orang yang dianggap berkesadaran Jiwa. Mudah sekali bagi hakim-hakim dunia untuk menjatuhkan hukuman mati kepada para Socrates, karena mereka pun tahu para Socrates akan menerima kematian, sebagaimana menerima kehidupan. Yang mereka tidak sadari ialah bahwa penerimaan para Socrates terhadap hukuman mereka, tidak membebaskan mereka dari konsekuensi perbuatan konyol mereka.

 

ADA YANG PERNAH MENGKRITIK GANDHI – “Jika dia betul seorang Mahatma dan berjiwa besar, maka untuk apa mengajak bangsa India untuk memerdekakan diri dari penjajahan Inggris? Bukankah seorang bijak semestinya rnenganggap sarna kebebasan dan penjajahan sebagaimana iamenganggap sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia?”

Dalam penilaian para penilai duniawi, yang belum tercerahkan pun, “penjajahan adalah ibarat segumpal tanah atau batu” dan kebebasan adalah “logam mulia”. Namun, mereka ingin memaksa Gandhi unruk menerima segumpal tanah atau batu sebagaimana ia menerima logam mulia. Kenapa? Kenapa mesti memaksakan penilaian mereka pada Gandhi?

Seseorang berkesadaran Jiwa memang memandang sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia — namun tidak berarti tanah akan dijadikan perhiasan, batu disimpan di berangkas, dan logam mulia diletakkan di pinggir jalan.

 

KESADARAN JIWA TIDAK MENGUBAH FUNGI BENDA-BENDA DI DUNIA – Ketika Krsna mengatakan bahwa bagi seseorang berkesadaran Jiwa, semuanya itu adalah sama; atau lebih tepatnya, “dipandang sama”, Ia tidak mengisyaratkan bahwa seseorang yang telah berkesadaran demikian akan “mengacaukan tatanan inasyarakat dengan rnemutar balik fungsi setiap benda yang ada di alam benda.”

Segumpal tanah adalah segumpal tanah; pun dennikian batu adalah batu; dan logam mulia adalah logam mulia. Mereka yang berkesadaran Jiwa, tidak terikat pada sesuatu. Namun ketidakterikatannya itu tidak berarti ia akan membenarkan “batu berkuasa” dan “logam mulia dijajah”.

Segumpal tanah dan batu adalah ibarat penjajahan. Bukan si penjajah, tetapi tindakan menjajah. Dan logam mulia adalah kemerdekaan, kebebasan.

Sebab itu, walau Gandhi menganggap sama semuanya, tetap juga ia berseru “Do or die! Lakukan sesuatu demi kemerdekaan, berjuanglah untuk meraih kemerdekaan atau matilah, gugurlah dalam perjuangan!”

 

AYAT-AYAT SEPERTI INI MESTI DIARIFI, dipahami secara bijak. Menganggap sama duka dan suka tidak berarti kita memiliki otoritas untuk menindas dan menyebabkan duka pada seorang Socrates atau Gandhi, kemudian mengharapkan mereka yang telah ditindas itu untuk menerima tindakan kita yang biadab.

Menganggap sama segala sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan tidak berarti menyebabkan penderitaan umum sebagaimana yang dilakukan oleh para diktator dan penguasa zalim, yang selalu mengharapkan rakyat rela rnenderita demi “kebijakan-kebijakan”nya. Walau, kebijakan-kebijakan itu mengkhianati undang-undang negara, nilai-nilai luhur kemanusiaan, hukum alam, dan Ketuhanan yang Maha Esa, yang selalu digunakan sebagai slogan.

 

MENGANGGAP SAMA PUIIAN DAN CELAAN tidak mernberi kita hak untuk mencela siapa saja, untuk membunuh Gandhi, menembaki Martin Luther King, Jr., atau memenjarakan Mandela.

Tidak, tidak demikian maksud Krsna.

“Menganggap sama” adalah semangat Jiwa, Kesadaran Jiwa. Semangat ini bukanlah sebuah konsep yang bisa seenaknya dipakai dan disalahgunakan oleh mereka yang belum berkesadaran Jiwa.

Dan, para bijak yang telah berkesadaran demikian pun, hendaknya tidak menyalahartikan bila “semangat Jiwa” dapat mengubah “nilai pasar”, dalam arti kata “tata-krama dunia benda”, sifat kebendaan, dan lain sebagainya.

 

SEORANG BIJAK TIDAK TERTARIK DENGAN KEKUASAAN – Tetapi ia pun tidak duduk diam ketika menyaksikan kezaliman merajalela dan kemanusiaan serta nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan sebagainya terinjak-injak di bawah kaki mereka yang berkewajiban untuk menegakkan nilai-nilai tersebut.

Krsna sedang mempersiapkan Manusia Baru — Arjuna — seorang Kesatria Berkesadaran Jiwa, yang tetap berkarya di tengah rnasyarakat dunia, di tengah pasar alam benda.

Tugas Krsna memang berat — sangat berat.

Bagi seorang berkesadaran Jiwa, rneninggalkan keramaian dunia untuk menyepi di tengah hutan – adalah  hal yang mudah. Sebaliknya juga, jika seorang sepenuhnya berkesadaran dunia benda, berkarya di tengah pasar dunia — sama mudahnya.

Adalah sebuah tantangan berat untuk berkarya di tengah hiruk pikuknya dunia benda, dan mempertahankan Kesadaran Jiwa. Inilah “agenda” Krsna bagi Arjuna, bagi kita semua! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ikuti Nurani Bukan Pertimbangan Pribadi

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 14, 2018 by triwidodo

Kisah Karna Sang Pemberi Agung

Seorang Master berkisah tentang Karna, yang sedang mengoleskan minyak yang diambil dari cawan permata ke kepalanya sebelum mandi. Tangan kanan Karna menggosok rambut dengan minyak tersebut, saat Krishna datang menghampirinya.

Krishna minta cawan permata Karna sebagai hadiah baginya. Karna terkejut dan berkata, “Paduka Penguasa Alam Semesta memiliki keinginan ini, akan tetapi siapakah saya yang mengajukan pertanyaan kepada Paduka?” Karna segera menyerahkan cawan permata di tangan kiri kepada Krishna.

Krishna menerimanya dengan tangan kanan dan berkata, “Bukankah memberikan dengan tangan kiri tidak sesuai dengan sopan-santun?”

Karna menjawab, “Paduka, mohon maaf, tangan kanan saya sedang berlumuran minyak. Saya takut bila saya mencuci tangan saya lebih dahulu dan menyerahkan cawan lewat tangan saya. Waktu yang sekejap untuk mencuci tangan tersebut dapat mengubah pikiran saya yang telah setuju menyerahkan cawan dan membatalkannya. Waktu sekejap bisa mengubah pikiran saya untuk mempertimbangkan mengapa saya harus menyerahkan cawan berharga kepada Paduka. Itulah sebabnya saya menyerahkan dengan tangan kiri, walau kesantunan. Saya mengucapkan terima kasih atas Berkah Paduka sehingga saya legawa menyerahkan cawan kepada Paduka.”

Krishna tersenyum penuh makna….. Pada kisah ini, Karna telah mencapai Kesadaran Jiwa. Seandainya Karna dapat mempertahankan Kesadaran Jiwa ini, maka kisah perang Bharatayudha akan berbeda.

Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan apabila muncul keinginan untuk berbagi, untuk memberi segera lakukan, jangan diberi kesempatan berpikir lama, menunda-nunda sehingga kita batal berbagi. Mind itu bisa licik dan mempengaruhi kita. Mind atau ego itu tidak senang berbagi, pertimbangannya untung-rugi. Lampaui Mind

Karna Paham Mind Hanya Berkutat pada 3 Gigi Persneling

Ada tiga hal yang berbisa, yang juga bisa menjadi landasan bagi kebijakan. Kita harus melakukan perenungan sedikit. Apa maksud Atisha ? perhatikan pikiran anda; perhatikan pola kerja mind anda. Mind yang selama ini terasa begitu liar, sesungguhnya memiliki pola kerja yang sangat sederhana. Ibarat perseneling mobil. Mind hanya memiliki tiga gigi. Tidak lebih dari itu. Suka, tidak suka dan cuwek, itulah gigi-gigi mind. Tidak ada gigi keempat, kelima dan seterusnya. Hanya tiga gigi. Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan itu; Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan, dan antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuwek terhadap sesuatu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Karna Paham Bagaimana Menggunakan 3 Fungsi Mind

Atisha bukan seorang utopian. Ia tidak berhalusinasi, tidak berimajinasi. Ia sedang memberikan solusi. Pertama, lepaskan diri dari perbudakan mind. Kedua, gunakan mind untuk membantu anda dalam hidup ini. Sekarang kita terkendalikan oleh mind dengan tri fungsinya. Nanti, kita akan mengendalikan mind, tetap dengan tri fungsinya juga.

Aktifkan “Kesadaran” dan mind dengan trifungsinya dapat dijadikan landasan yang kukuh, landasan yang dapat menyangga bangunan kehidupan anda. Tri fungsi mind ini dapat Memperindah kehidupan anda. Fungsi pertama, suka-sukailah kesadaran fungsi kedua, tidak suka jangan menyukai ketidaksadaran. Fungsi ketiga, cuwek bersikaplah demikianlah terhadap mereka yang menghujat anda. Apabila itu yang ada lakukan, apabila pekerjaan itu yang anda berikan kepada mind, maka mind yang sama justru bisa memperkukuh kesadaran anda. Mind menjadi alat yang sangat efektif. Mind tidak akan memperalat anda lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Karna Mengucapkan Terima Kasih dengan Tulus Bukti Tidak Terikat Mind

Setiap kali anda mengucapkan Terima kasih sesungguhnya anda melepaskan mind anda. Mind tidak pernah berterimakasih. Mind selalu melakukan perhitungan. “Terima kasih” yang diucapkan oleh mind sekedar basa-basi. Mind hanya mengenal bahasa kalkulator. Mind, pikiran, selalu menghitung laba rugi. Mind tidak pernah bersyukur “Bersyukur” adalah sebuah rasa. “berterimakasih” adalah sebuah rasa. Setiap kali anda sungguh-sungguh bersyukur dan mengucapkan “Terima kasih”, sebenarnya anda sudah melepaskan diri dari cengkeraman mind. Anda sudah berhubungan dengan “rasa”. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Orang yang Berkesadaran Jiwa Tidak Mengharapkan Hasil Akhir Nanti Bagaimana

Harapan merupakan salah satu sifat, salah satu fungsi mind. Dan apabila mind terlampaui, sifat-sifatnya, fungsi-fungsinya pun akan terlampaui. Seorang meditator akan bekerja tanpa memikirkan hasil akhir. Ia akan bekerja keras sebatas kemampuannya. Ia sangat efisien. Dan mengikuti hukum sebab-akibat, ia akan berhasil tidak pernah memikirkan hasil akhir. Jangan memikirkan hasil akhir. Lepaskan harapan akan hasil. Demikian kata Atisha. Karena ia tahu bahwa setiap aksi menimbulkan reaksi, ia tahu pula bahwa karya yang membawa hasil. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Identitas Diri adalah Jiwa Bukan Badan, Indra atau Mind

Jiwa yang Bersemayam di dalam Badan atau, lebih tepatnya, Jiwa yang menggerakkan badan, menghidupinya – tidak ikut mati, tidak pula terurai. Ia tetaplah Abadi sebagaimana sedia kalanya.

Jiwa inilah identitas diri kita yang sesungguhnya. Bukan badan, bukan indra, bukan mind atau gugusan pikiran dan perasaan – semua itu entah terurai, atau berubah. Tidak demikian dengan Jiwa, yang adalah hakikat diri kita, hakikat diri setiap makhluk. Penjelasan Bhagavad Gita 2:18 dikutip dari Buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #BhagavadGitaIndonesia #SpiritualIndonesia

 

Selama Masih Memiliki 3 Guna Kita Tidak Akan Mencapai Kesetimbangan

“Veda, kitab-kitab suci bicara tentang tiga sifat utama alam benda. Lampauilah ketiga sifat itu, wahai Arjuna. Bebaskan dirimu dari perangkap dan pengaruh dualitas yang tercipta dari ketiga sifat itu. Berpegang teguhlah pada Kebenaran Hakiki tentang Jiwa; bebas dari pikiran-pikiran yang mengejar kenikmatan serta kekuasaan, beradalah senantiasa dalam Kesadaran Jiwa.” Bhagavad Gita 2:45

Tiga sifat utama alam benda mempengaruhi manusia. Sebab itu, manusia pun dapat dibagi dalam tiga kelompok utama. Pertama mereka yang Tenang. Kedua, mereka yang penuh Gairah, cenderung Agresif. Ketiga, mereka yang Malas-malasan.

Tidak berarti, Kita Memiliki Salah Satu Sifat Saja – Kita memiliki ketiga-tiganya, hanya proporsinya berbeda-beda. Apabila dalam diri Anda, sifat pertama lebih dominan, Anda akan kelihatan lebih tenang dari saya, karena dalam diri saya mungkin sifat kedua yang lebih dominan. Begitu pula, seseorang yang lebih dominan sifat ketiganya, akan tampak malas-malasan.

Pada dasarnya kita memiliki ketiga sifat tersebut. Dan, selama kita masih memiliki ketiga sifat tersebut, kita tidak akan pernah mencapai keseimbangan. Kita bagaikan pendulum, bandul yang sedang berayun-ayun dari ekstrem kanan ke ekstrem kiri. Kadang tenang, kadang tidak. Kadang agresif, kadang tidak. Kadang malas-malasan, kadang tidak.

Lampauilah ketiga sifat tersebut. Melampaui ketiga sifat tersebut berarti, berada di atas ketiga sifat tersebut. Saat itu, trinitas sifat alam benda tidak berkuasa lagi, yang berkuasa adalah Anda, Jiwa. Anda bersandar pada diri sendiri. Anda menyadari bahwa Anda bisa mengendalikan diri. Anda tidak lagi diperbudak oleh tiga sifat tersebut.

Beradalah dalam Kesadaran Jiwa – Itulah Kesadaran Hakiki Anda. Dalam kesadaran tersebut, Anda memberdayakan diri, Anda membebaskan diri dari perbudakan pada badan, indra, mind atau gugusan pikiran dan perasaan, dan sebagainya.

Saat itu Anda barulah merajai diri, menjadi penguasa atas diri sendiri. Kṛṣṇa mengajak Arjuna untuk menjadi penguasa diri seperti itu. Dikutip dari Buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #BhagavadGitaIndonesia #SpiritualIndonesia

Ananda, Kebahagiaan Sejati

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 11, 2018 by triwidodo

Kisah Maharishi Bhrigu dan Rishi Varuna

Seorang Master berkisah tentang Bhrigu yang bertanya kepada Varuna, ayahandanya, “Ayah! Maukah ayah mencerahkan saya tentang Brahman?” Varuna menjawab, “Putraku, tidak ada seorang pun yang bisa mencerahkan tentang Brahman. Seseorang harus mengalami lewat meditasi. Bermeditasilah, lakukan penyelidikan diri. Aku memberkatimu.”

Bhrigu pergi ke hutan dan melakukan meditasi. Dia merenungkan, “Apa hal terpenting yang diperlukan makhluk hidup pada umumnya dan manusia pada khususnya? Itu pasti makanan. Manusia hidup, tumbuh dan bekerja karena makanan, jadi makanan adalah Brahman.” Bhrigu berlari ke ayahnya dan berkata, “Ayah, makanan adalah Brahman.” Varuna menjawab dengan tersenyum, “Tidak putraku, makanan bukan Brahman. Pergi dan bermeditasilah!”

Bhrigu melanjutkan meditasi dan pada suatu hari berpikir, “Makanan mungkin penting, tapi tanpa energi bagaimana makanan bisa dicerna? Energi itu pasti Prana.” Bhrigu pergi ke ayahnya dan berkata, “Ayah! Prana adalah Brahman.” Varuna berkata, “Tidak putraku, Prana bukan Brahman. Pergi dan bermeditasilah.”

Bhrigu mematuhi ayahnya dan melanjutkan meditasi. Pada suatu hari dia berpikir, “Makanan dan Prana itu penting, tetapi apa yang lebih penting? Kalau seseorang tidak mempunyai keinginan untuk makan, maka makanan dan prana mubazir. Tempat keinginan adalah manas atau pikiran.” Bhrigu kembali menemui ayahandanya dan berkata, “Ayah! Manas adalah Brahman.” Varuna kembali tersenyum dan berkata, “Putraku! Manas bukan Brahman. Lakukan meditasi untuk beberapa hari lagi.”

Bhrigu melanjutkan meditasinya dan pada suatu hari berpikir, “Makanan, Prana, Manas itu penting tapi apa yang lebih penting? Pemilihan mana yang menyamankan badan (preya) dan mana perbuatan mulia (shreya) itu penting. Pengetahuan tentang Kebendaan (Vijnana) itu penting.” Bhrigu sekali lagi menemui ayahandanya, “Ayah! Vijnana adalah Brahman.” Varuna sekali lagi berkata, “Putraku! Vijnana bukan Brahman. Lakukan meditasi untuk beberapa hari lagi.”

Bhrigu melakukan meditasi dan pada suatu hari berpikir, “Makanan, energi dan manas itu penting. Kesadaran untuk memilah (Viveka) yang diperoleh dari Vijnana itu penting. Tapi saya harus mencari tahu apa tujuan akhir dari kehidupan manusia. Saya harus mengalaminya.” Dan, Bhrigu bermeditasi lebih dalam. Pada suatu hari Bhrigu mengalami sukacita yang tak terlukiskan dan dia benar-benar tidak sadar tentang dunia luar. Pada hari itu Varuna datang ke hutan dan bahagia melihat Sang Putra dalam keadaan samadhi, wajah Brighu bersinar. Varuna menyadari bahwa Bhrigu telah menyadari bahwa Ananda adalah Brahman.

Pengalaman adalah Guru Terbaik!

Bagaimana Memperoleh  Ananda

Apa yang membuat kita bahagia? Kita berpikir dengan membeli mobil kita akan bahagia? Beberapa orang berpikir setelah mengawini gadis itu saya akan bahagia? Setelah kawin dengan pria ini aku akan bahagia? Kita pikir setelah memperoleh sesuatu kita akan bahagia? Tapi pada akhirnya hari kita berpikir yang kita cari adalah kebahagiaan bukan perolehan atas sesuatu?

Dan apa yang kita cari bukan hanya kebahagiaan? Tapi kebahagiaan tanpa akhir. Kebahagiaan yang lestari tidak musnah? Dan apa pun yang kita pikir dapat memberikan kebahagiaan akan selalu punya akhir, akan selalu berubah. Adakah sesuatu yang tidak berubah? Kita hanya dapat memperoleh kebahagiaan permanen dari sesuatu yang permanen?

Para yogi kemudian mengasumsikan ada sesuatu yang tetap ada meskipun kita mati. Kemudian dengan asumsi tersebut mereka melakukan riset. Dan riset tersebut menegasikan segala sesuatu. Saya berkata saya punya tubuh berarti tubuh bukan saya. Saya punya hidung, hidung bukan saya. Dan mereka melakukan penegasian seperti itu. Saya punya otak, otak bukan saya. Saya punya pikiran, pikiran bukan saya? Akhirnya ketemu yang bahkan tidak diberi nama. Suatu energi, suatu atma yang tetap ada. Itulah diri yang sejati. Itulah yang tetap ada. Itu adalah atma bukan jiwa. Atma adalah diri. Dan dalam diri itu kita semua satu?

Bagaimana menjelaskan itu? Murid bertanya kepada guru bagaimana menjelaskan atma? Guru minta murid bawa ember air. Ambil garam dengan tangan dan aduk  garam tersebut. Dimana garam itu? sudah tidak ada. Rasakan dari yang di atas. Asin. Yang ditengah yang di bawah semuanya asin. Garam di mana? Garam di mana-mana. Dia ada di mana-mana, tat twam asi itulah dia? Garam yang ada di air yang ada dalam tubuh kita dalam berbagai bentuk. Bagaimana Anda mengetahui. Karena Anda asin seperti saya. Anda ilahi seperti saya dan kamu syaitani seperti saya. Apa yang ada pada kamu ada pada saya juga?

Anda punya hidung saya juga. Tapi kita melampaui wujud fisik. Ada esensi nya, esensi nya adalah life force. Apakah life force itu? Dan Menyadari hal itu semua adalah penuh keceriaan. Penuh dengan ananda. Itulah tujuan hidup  Semuanya menuju ke arah  itu…………….

Silakan simak video youtube: How to acquire Ananda, True Everlasting Happiness? (by Anand Krishna)

 

Bhagavad Gita Adalah Panduan untuk How to Live

Gita adalah panduan untuk how to live – Bagaimana melakoni hidup ini. Krsna mengajak Arjuna untuk menjalani hidup, bukan untuk berfilsafat.

Kendati demikian, di sana-sini Ia pun mesti memberi bocoran sedikit tentang apa yang akan ditemukannya di ujung terowongan. Bocoran ini adalah sepenuhnya berdasarkan pengalaman pribadi Krsna. Ia adalah Pribadi Agung. Ia senantiasa, 24/7 berada dalam Kesadaran Jiwa Agung. Sebab itu, bocoran dari Krsna adalah sangat berguna. Dalam ayat-ayat ini Krsna menyebut Sang Jiwa Agung, Tuhan, sebagai Brahman. Ia adalah Tri-Tunggal Kebenaran Abadi, Kesadaran Murni, dan Kebahagiaan Sejati — Sad, Cit, Ananda.

BOCORAN INI PENTING supaya kita tidak salah persepsi. Tidak menyalahartikan sebuah pengalaman “biasa” sebagai pencapaian. Bocoran ini semacam tolok ukur untuk Arjuna di dalam diri kita masing-masing.

Ketika kita mencapai-Nya, maka pengalaman awal kita adalah Ananda atau Kebahagiaan Sejati, langgeng, abadi. Bukan kebahagiaan sesaat seperti yang selama ini kita raih, kebahagiaan yang cepat menguap. Ananda adalah sifat Jiwa, bukan emosi sejenak.

Ketika kebahagiaan kita tidak terpengaruh oleh pengalaman suka dan duka di luar; ketika dalam keadaan apa pun kita masih tetap berkarya — maka kita telah meraih Ananda. Setelah Ananda, baru Kesadaran Murni dan Kebenaran Abadi. Jadi diurut dari belakang dulu. Sulit mencapai Kebenaran Abadi atau Kesadaran Mumi dulu. Awalnya, mesti dari Ananda. Penjelasan Bhagavad Gita 13:30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kebahagiaan Sejati (Ananda) Adalah Hasil dari Kesadaran Jiwa

KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali.

Pernahkah Anda memperhatikan, setelah berhubungan intim dengan pasangan Anda, kenikmatan yang Anda peroleh memudar, berlalu dengan cepat. Dan, setelah itu Anda, justru merasa lebih hampa lagi. Itulah sebab, setelah berhubungan intim, umumnya Anda langsung merokok atau menuju lemari es untuk mencari makanan. Setelah memperoleh kenikmatan pun, Anda tetap merasa lapar, haus, kekurangan sesuatu.

Jika hubungan intim pun tidak bisa membahagiakan, maka pengalaman-pengalaman sensasional lain sudah pasti tidak bisa. Sebab, hubungan intim merupakan pengalaman paling sensasional, dalam pengertian, melibatkan semua senses, semua indra — yang amat sangat intens. Jika pengalarnan seintens itu pun berakhir dengan kehampaan, maka janganlah berharap dari pengalaman-pengalaman lain, dari sensasi-sensasi lain.

SUMBER KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH JIWA SENDIRI! Sifat Jiwa adalah Ananda – kebahagiaan sejati. Namun, selama Jiwa “merasa” terpisah dari Jiwa Agung, ia tidak menyadari hal tersebut. Ia tidak mengalaminya.

Hanyalah Yoga, dalam pengertian, Kemanunggalan Jiwa dengan dan dalam Jiwa Agung yang dapat memunculkan pengalaman tersebut— kebahagiaan abadi tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa kemanunggalan ini sebetulnya sudah terjadi. Kemanunggalan ini adalah hakikat. Justru perpisahan adalah ilusif. Ketika ilusi perpisahan terlampaui— kemanunggalan “terasa” kembali. Penjelasan Bhagavad Gita 5:21 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

“Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kita Telah Diperbudak oleh Pancaindra?

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on October 10, 2018 by triwidodo

Kisah Petani di antara 2 Kelompok yang Berseteru

Seorang Master bercerita tentang perseteruan 2 kelompok yang telah berlangsung lama. Adalah salah satu petani desa yang bukan anggota dari 2 kelompok tersebut, yang mempunyai kebun anggur 2 ha untuk menghidupi keluarganya. Masing-masing kelompok menekan si petani untuk masuk ke dalam kelompok mereka. Akhirnya dia bergabung dengan kelompok yang berisi orang-orang buruk. Beberapa bulan kemudian si petani ditangkap bersama anggota kelompok buruk. Akibatnya tidak ada lagi yang menjaga kebun anggurnya, tanpa disirami dan diolah tanahnya pohon anggurnya tidak berbuah lagi. Istri dan anak-anaknya di rumah mulai menderita.

Di penjara, si petani biasa mendapatkan satu kartu pos setiap minggu dari istrinya. Adalah aturan di penjara baik kartu pos yang masuk maupun yang dikirim narapidana disensor dan dibaca oleh Petugas Penjara. Pada suatu kali, istrinya menulis, “Kebun kita kering, tidak ada yang mencangkul dan menyiapkan tanah untuk musim berikutnya. Saya juga tidak punya uang untuk mencangkul tanah karena uang yang masih ada dihemat untuk keperluan hidup saya dan anak-anak.

Si petani merasa sangat sedih membaca kartu pos tersebut, tapi dia punya sebuah rencana dan kemudian menulis di kartu pos, “Istriku, jangan khawatir, saya tidak pernah bercerita tentang harta karun berupa kepingan-kepingan emas yang saya simpan di kebun kita. Silakan gali dan gunakan koin emas tersebut untuk mencukupi kebutuhan hidup. Petugas Penjara membaca kartu pos si petani dan tidak mengirimkannya kepada istri si petani. Dia mengumpulkan semua tahanan untuk menggali kebun anggur si petani untuk menemukan harta karun tersebut. Dalam waktu singkat, seluruh kebun telah digali, tetapi tidak ditemukan harta karun tersebut. Pada hari ketiga, hujan turun dengan deras, tanah sudah dicangkul dan pada musim itu hasil panen sangat bagus. Sang istri memperoleh banyak uang dari penjualan anggur.

Setelah 6 bulan, si petani dibebaskan dari penjara. Sang istri bertanya, “Bagaimana kau bisa mengirim begitu banyak orang untuk mencangkul tanah?” Sang istri tidak menerima kartu pos dari suaminya yang disimpan Petugas Penjara. Si petani menjawab, “Ini semua karunia Tuhan, saya telah berpikir untuk membuat Petugas Penjara meyakini akan adanya harta karun di kebun kita. Mari kita bersyukur pada Tuhan”.

Sang Master memberi makna: Setiap individu memiliki 2 hektar lahan. Manusia memiliki 2 inchi hati. Dalam hati tersebut ada 2 kelompok: kelompok kualitas buruk yang mengikuti mind dan pancaindra serta kelompok kualitas baik yang bisa mengendalikan mind. Kedua kelompok ini selalu terlibat perseteruan. Jiwa, pemilik tubuh tadinya tidak mau ikut salah satu kelompok. Akan tetapi akhirnya dia ditarik masuk kelompok kualitas buruk.

Jiwa memiliki seorang istri – ia adalah Nivrithi dan anak-anaknya Pravirthi. Ada 2 impuls dalam setiap pikiran, yang pertama mengatakan “pergi ke luar” (Pravirthi) memenuhi tuntutan pancaindra dan mind, serta yang kedua mengatakan pergi “ke dalam” (Nivrithi) dengan pengendalian mind.

Karena Jiwa memilih kelompok kualitas buruk maka dia di penjara, penjara keterikatan. Namun Jiwa menyadari bahwa hati harus dibersihkan (dicangkul) untuk menemukan kebijaksanaan – emas. Untuk memperoleh kebijaksanaan, semua tahanan (semua keterikatan) harus mencangkul hati. Setelah proses penggalian dan pembersihan, seseorang akan menuai panen kebahagiaan. Pemurnian hati melalui pencangkulan (sadhana) sangat penting sekali.

Apakah Pancaindra Satu-Satunya Kebenaran dalam Diri Kita?

Bebaskan dirimu dari anggapan keliru bahwa badan inilah dirimu. Bebaskan diri dari anggapan keliru yang bersifat “delusory” ilusif. Anggapan keliru ini telah membingungkan kita. Kemudian kita bersuka dan berduka dalam kebingungan itu. Kita senang karena “merasa” berhasil dan menang. Kita sedih karena “merasa” gagal dan kalah. Siapa yang merasakan keberhasilan dan kegagalan itu? Siapa yang merasakan kemenangan dan kekalahan itu? Pancaindra kita. Apakah pancaindra itu satu-satunya kebenaran diri kita? Adakah kebenaran lain yang lebih tinggi di balik pancaindera yang kita miliki?

………….

Ketahuilah bahwa segala kenikmatan yang kita peroleh lewat indra kita diselimuti oleh duka. Inilah penyebab dosa. Inilah sebab kesalahan dan kekhilafan. Mempercayai kenikmatan yang kita peroleh lewat indra, dan menganggap bahwa kenikmatan itu menghasilkan adalah kesalahan atau kesalahpahaman kita. Kenikmatan yang diperoleh lewat indra adalah hasil interaksi kita dengan hal-hal di luar diri, dengan pemicu-pemicu luaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

…………..

Pancaindra, pikiran dan tubuh adalah alat untuk berinteraksi dengan dunia. “Perbudakan” pada tubuh terjadi ketika kita memikirkan makanan melulu… “makanan” lewat mulut, lewat telinga, lewat hidung, lewat mata, lewat perabaan, lewat getaran-getaran pikiran. Melepaskan diri dari perbudakan pada tubuh tidak berarti melepaskan tubuh, tidak berarti meninggalkan tubuh. Melainkan mengangkat diri sebagai majikan. Promosi ini bukanlah sedekah. Promosi ini adalah prestasi. Kita meraihnya sebagai hasil dari kerja keras… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Menyadari Diri Kita Terjebak Dalam Lumpur Pancaindra

Pertama-tama dengan menyadari keadaan kita, perbudakan dan kejatuhan kita. Kita semua berada dalam lumpur. “Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra”. Inilah kesadaran awal. Tanpa adanya kesadaran awal ini, sungguh tidak ada harapan bagi kita. Dan, kesadaran ini muncul ketika kita mulai jenuh, ketika kita mulai susah bernapas. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa menjadi jenuh? Bagaimana pula susah bernapas? Bukankah selama ini kita sudah terbiasa hidup dalam lumpur dan bernapas dalam lumpur? Ya, selama ini kita memang sudah terbiasa hidup dan bernapas dalam lumpur. Lumpur ini adalah lumpur pancaindra. Kita sibuk melayani segala kemampuan pancaindra. Sekarang, angkatlah kepalamu sedikit saja. Lihatlah ke atas, ke kanan, ke kiri. Ada dunia yang indah di balik kuala lumpur tempat kau tinggal. Kebebasanmu di dalam kuala lumpur ini adalah kebebasan yang semu… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pengendalian Diri dan Menyadari Kehadiran-Nya lewat Sadhana

Kehadiran-Nya dapat terasa bila pikiran dan pancaindra sudah terkendali dan keseimbangan diri terasa.  Penyusun Atmopanishad menyebut tiga “bagian” Yoga supaya kita dapat merasakan kehadiran-Nya setiap saat dan di setiap saat. Pertama, Pranayama: Pengendalian Pikiran Lewat Pengaturan Napas. Tarik napas dan buang napas pelan-pelan. Gunakan lubang hidung dan napas harus lembut tanpa suara. Makin pelan napas, makin jarang pula pikiran yang melintas dan makin tenang diri anda. Kedua, Pratyahara: Pengendalian Panca Indra dengan cara menarik diri dari rangsangan- rangsangan dari luar. Ketiga, samadhi  atau keseimbangan diri yang diperoleh lewat meditasi. Para pemula membutuhkan waktu dan tempat khusus untuk melakukan latihan meditasi. Dibutuhkan juga disiplin dan ketekunan. Lambat laun meditasi akan mewarnai seluruh hidup…… dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kesadaran Materi atau Kesadaran Jiwa?

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam sernesta. TANTANGANNYA IALAH ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng. Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Bahagia atau Sengsara Adalah Pilihan Kita? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 19, 2018 by triwidodo

Seorang mistik Sufi yang tetap bahagia sepanjang hidupnya – tidak ada yang pernah melihatnya tidak bahagia – dia selalu tertawa, yang tertawa, seluruh hidupnya penuh perayaan…. Di masa tuanya, ketika dia sekarat, di ranjang kematiannya dan masih menikmati kematian, tertawa dengan riang, seorang muridnya bertanya, “Guru membingungkan kita. Sekarang Guru sekarat, kenapa masih tertawa? Apa ada yang lucu? Kami merasa sangat sedih. Kami ingin bertanya berkali-kali mengapa Guru tidak pernah bersedih. Menghadapi kematian, setidaknya seseorang harus bersedih. Guru masih tertawa – bagaimana Guru mengelolanya?”

Orang tua itu berkata, “Ini sederhana. Saya telah bertanya kepada Master saya – saya telah pergi ke Master saya sebagai pemuda; Saya baru tujuh belas tahun dan dalam keadaan menderita, dan Master saya sudah tua, tujuh puluh tahun, dan dia duduk di bawah pohon, tertawa tanpa alasan sama sekali. Tidak ada orang lain di sana, tidak ada yang terjadi, tidak ada yang melontarkan lelucon atau apa pun, dan dia hanya tertawa, memegangi perutnya. Saya bertanya kepadanya, apa yang terjadi dengan Master?”

Dia berkata, “Suatu hari saya juga sama sedihnya dengan kamu. Kemudian saya sadar bahwa bahagia  itu adalah pilihan saya, ini adalah hidup saya.”

Sejak hari itu, setiap pagi ketika aku bangun, hal pertama yang kuputuskan adalah … sebelum aku membuka mataku, aku berkata pada diriku sendiri, “Abdullah – itu adalah namanya – apa yang kamu inginkan? Penderitaan? Kebahagiaan? Apa yang akan kaupilih hari ini? Dan saya selalu memilih kebahagiaan.”

Itu adalah sebuah pilihan. Cobalah. Ketika kau menjadi sadar saat pertama di pagi hari, saat bangun tidur, tanyakan pada diri Anda, “Abdullah, ini hari lain! Apa ide Anda? Apakah Anda memilih Sengsara atau Bahagia?”

Dan siapa yang memilih kesengsaraan? Dan mengapa? Hal ini sangat tidak alami – kecuali seseorang merasa bahagia dalam kesengsaraan. Tetapi kemudian Anda juga memilih kebahagiaan, bukan kesengsaraan. Dikisahkan oleh Osho…………………

Bahagia dan Derita adalah Pilihan Bebas Kita

Bahagia dan derita adalah pilihan bebas kita. Pilihlah bahagia, dan singkirkan penghalangnya, maka hidup Anda akan menjadi sebuah perayaan, dan diri Anda pun akan menjadi Berkah bagi dunia.

Be Joyful and Share Your Joy with Others- Jadilah Bahagia dan Bagilah Kebahagiaan. Tidak ada yang melarang kita untuk menjadi bahagia. Tidak ada yang bisa. Jadilah bahagia, sekarang dan saat ini juga, karena saat ini adalah saat kita , untuk menjadi bahagia dan berbagi kebahagiaan.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Uang Tetap Penting tetapi Bukan Segalanya

Mengutamakan “kebahagiaan” tidak berarti bahwa uang tidak penting. Uang tetap penting, tetapi uang bukanlah segalanya. Bila uang dapat membahagiakan, semestinya orang kaya tidak pernah menderita, walaupun sakit. Ternyata tidak dernikian. Orang sakit, tak peduli kaya atau miskin, tetap saja menderita.

Ketika seseorang jatuh sakit, harta seberapa pun tidak dapat membahagiakannya. Pada saat itu, kesehatanlah yang dibutuhkannya, dan kesehatan tidak dapat dibeli dengan uang. Uang hanya dapat membeli obat-obatan. Uang hanya dapat memastikan bahwa si kaya memperoleh bantuan medis yang terbaik, namun semuanya itu tetap tidak menjamin pemulihan kesehatan.

Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan uang. Adakah kita mengajarkan hal ini kepada anak-anak kita? Seorang anak yang ingin menjadi dokter ditanya “kenapa?”. Dengan enteng ia menjawab, “Supaya jadi kaya dan bisa beli mobil besar.” Idolanya adalah dokter keluarga yang memang memiliki mobil besar, rumah besar… dan barangkali juga kepala besar!

Idola anak-anak kita adalah para selebriti, bintang film dan sinetron yang serba wuaah. Idola mereka adalah para politikus dan pejabat, bukan karena mereka adalah pelayan dan pengabdi masyarakat, tetapi karena mereka memiliki banyak uang.

Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Para responden di Inggris menjawab “Ya”. Dan, lebih dari 50% mengharapkan bahwa sistem pendidikan harus berorientasi pada kebahagiaan, bukan pada kekayaan.

Berarti, sejak usia dini anak-anak kita sudah harus diperhatikan supaya tidak keluar dari jalur, supaya tidak menempatkan kekayaan, uang, dan harta di atas segalanya. Orientasi sistem pendidikan kita sudah saatnya diubah.

………….

Kenikmatan indriawi membutuhkan pemicu di luar. Telinga membutuhkan suara yang disenanginya. Hidung membutuhkan aroma pilihan. Mata ingin melihat tayangan yang mengasyikkan. Lidah ingin mencecap sesuatu yang enak. Dan, kulit kita ingin diraba, dielus-elus. Dan, untuk semuanya itu materi memang dibutuhkan.

Kenyamanan jasmani pun membutuhkan materi. Jangankan ranjang yang empuk, untuk ranjang biasa saja kita membutuhkan fulus. Lalu, apakah kenikmatan indra dan kenyamanan jasmani itu tidak panting? Penting juga! Kita hanya perlu menyadari bahwa semuanya itu “tidak dapat” membahagiakan. Silakan memanjakan diri dengan segala macam sarana yang dapat membuat tubuh nyaman dan memberi kenikmatan pada indra. Tidak ada yang salah dengan semuanya itu, asal kita ingat bahwa sarana-sarana itu tidak Ianggeng, tidak kekal, tidak abadi sehingga tidak dapat membahagiakan manusia untuk selamanya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2008). Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kesadaran Jiwa Membawa Kebahagian Sejati

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi. Bahkan, surga– mereka pun penuh dengan sarana-sarana kenikmatan indrawi, seolah “di sana” pun kita akan tetap berkaki-tangan, berkelamin, seperti “di sini”.

Bayangan kita tentang surga adalah cerminan dari keinginan-keinginan di dalam diri, keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi. Jika di sini punya pasangan yang menginjak dan menindas, maka kita akan berkhayal tentang surga yang memiliki jumlah pelayan tidak terhitung dan semuanya masih muda belia sehingga kita berharap tidak akan mengalami penindasan seperti di sini.

Ada pula yang berkarya, beramal saleh dengan pengertian membayar premi asuransi bagi reinkarnasi yang lebih baik – Lagi-lagi urusannya adalah kenikmatan indrawi. Lagi-lagi, urusannya adalah kebendaan.

Dengan berkesadaran Jiwa, kita tidak perlu menunggu mati untuk masuk surga. Dengan Kesadaran Jiwa, kita dapat mengubah hidp kita menjadi surgawi, dalam pengertian penuh kenikmatan Jiwani yang adalah esensi surga. Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa.

Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja. Penjelasan Bhagavad Gita 2:43 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Hidup Berkesadaran Menuju Kebahagiaan Sejati

Hidup Berkesadaran adalah Hidup Meditatif. Hidup Berkesadaran berarti hidup dengan penuh keyakinan bahwa kita adalah Jiwa, bukan badan, bukan indra. Kemudian, hidup yang demikian itulah yang membuahkan Samādhi, keseimbangan, di mana kita bisa melampaui segala dualitas, segala pengalaman suka-duka, panas-dingin, senang-susah, dan sebagainya. Adapun, hanyalah setelah itu, kita meraih Kebahagiaan Sejati atau Ānanda yang kekal, abadi. Penjelasan Bhagavad Gita 2:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Mengapa Karunia Kekayaan dari Lakshmi Tertunda #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 18, 2018 by triwidodo

Tidak ada gunanya doa kita dikabulkan kalau tidak dikabulkan pada waktu yang tepat:

Di  zaman  India kuno banyak tenaga dicurahkan untuk upacara Veda yang  dikatakan  begitu  ilmiah  dalam  pelaksanaannya, hingga  kalau  para  orang  suci  berdoa  mohon hujan, tidak pernah ada  kekeringan.

Demikianlah  seseorang  melakukan sadhana dan  berdoa kepada Dewi Kesejahteraan, Lakshmi, mohon supaya jadi kaya. Ia berdoa  tanpa  hasil  sepanjang  lebih dari sepuluh  tahun  lamanya.

Sesudahnya setelah waktu berlalu, ia tiba-tiba melihat sifat ilusi, maya pada kekayaan itu dan memilih hidup sebagai petapa di pegunungan Himalaya.

Ia  duduk bermeditasi dan pada suatu hari, ketika ia membuka matanya ia melihat di depannya seorang  wanita cantik,  gemilang dan gemerlapan seakan-akan ia terbuat dari emas.

“Siapa engkau dan kenapa engkau ke sini?” tanya orang tersebut.

“Aku Dewi  Lakshmi,  yang  kau  hormati  dengan  melakukan sadhana dan menyanyikan kidung selama  duabelas tahun,” kata Sang Wanita, “Aku menampakkan diri untuk mengabulkan keinginanmu.”

“Ah, sang dewi tercinta,” seru  orang  itu.  “Aku  sekarang sudah mendapat anugrah bermeditasi dan kehilangan keinginanku akan kekayaan. Engkau  datang  terlambat.  Katakan,  mengapa engkau datang begitu lambat?”

“Aku berkata kepadamu sebenarnya”, jawab “Sang Dewi, “Jika melihat sadhana dan doa  yang  kaulakukan  begitu  setia, engkau   sepenuhnya  pantas  menjadi  kaya.  Tetapi,  karena cintaku kepadamu dan keinginanku akan kesejahteraanmu,  maka kutahan dulu. Kekayaan akan memberikan kesejahteraan duniawi yang mengalami pasang dan surut. Sedangkan Kesejahteraan Jiwa tidak akan mengalami pasang surut lagi.

Lakshmi ingin memberikan Kesejahteraan Jiwa kepada orang itu dan bukan Kekayaan yang merupakan Kesejahteraan Duniawi. Dikutip dari buku (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)

Memuliakan Kesadaran Jiwa di atas Kebutuhan Raga dan Indra

“Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

………………..

“Memuliakan-Nya” berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan moderasi. Tidak berlebihan, tidak kekurangan – berkecukupan. Namun jangan lupa, terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.

JIKA KITA MEMILIKI TABUNGAN, atau, jika penghasilan kita memadai, maka ketika kendaraan kita rusak, kita akan menukarnya dengan kendaraan baru. Tukar-tambah, atau bahkan kendaraan yang sudah lama dan rusak itu dibiarkan di garasi untuk menjadi rongsokan. Tidak menjadi soal.

Tetapi jika penghasilan kita tidak cukup, tabungan kita tidak cukup—maka rusaknya kendaraan bisa membuat senewen. Kita stres berat. Tabungan dan penghasilan yang dimaksud di sini adalah “Kesadaran Jiwa.”

Tanpa Kesadaran Jiwa – badan yang satu ini; indra yang berjumlah lima ditambah indra-indra persepsi yang berjumlah lima pula; gugusan pikiran dan perasaan, keberhasilan akademis dan profesional – semuanya menjadi “segala-gala”nya. Jika ada yang hilang, maka kita kehilangan segala-galanya.

Kesadaran Jiwa membuat kita tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, walau kita menyaksikan tubuh menjadi debu, menjadi abu! Saat itu pun kita masih bisa menyanyi girang dan bersuka cita, “Aku abadi, aku abadi. Sivoham, So ham!” Saat itu, kita baru menyanyikan Bhajan, baru mengagungkan kemuliaan-Nya dalam pengertian yang sesungguhnya.

……………..

Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14. Dikutip Penjelasan Bhagavad Gita 9:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Kebahagiaan Sejati adalah Hasil dari Kesadaran Jiwa

“Ia yang tidak terikat dengan sensasi-sensasi indrawi karena interaksinya dengan objek-objek di alam benda; ia yang menemukan sumber kenikmatan di dalam dirinya sendiri; ia yang senantiasa berada dalam Kesadaran Brahman, dan manunggal dengan-Nya lewat Yoga (berkarya tanpa pamrih) —meraih Kebahagiaan Sejati nan kekal abadi.” Bhagavad Gita 5:21

Kita mesti selalu mengingat bahwa setiap kali menyebut Yoga, maksud Krsna adalah Karma Yoga, Yoga Perbuatan yang Dinamis, yakni Berkarya tanpa Pamrih. Ketika Ia menyebut Yoga- Yoga jenis lain seperti Samkhya dan sebagainya, maka Ia secara spesifik menyebut-Nya.

KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH hasil dari Kesadaran Jiwa; bahwasanya segala sensasi-sensasi badaniah yang kita peroleh bukanlah kebahagiaan sejati. Pengalaman-pengalaman sensasional, indrawi, tidak pernah bertahan lama. Setelah berlalu, kita merasa hampa kembali.

Pernahkah Anda memperhatikan, setelah berhubungan intim dengan pasangan Anda, kenikmatan yang Anda peroleh memudar, berlalu dengan cepat. Dan, setelah itu Anda, justru merasa lebih hampa lagi. Itulah sebab, setelah berhubungan intim, umumnya Anda langsung merokok atau menuju lemari es untuk mencari makanan. Setelah memperoleh kenikrnatan pun, Anda tetap merasa lapar, haus, kekurangan sesuatu.

Jika hubungan intim pun tidak bisa membahagiakan, maka pengalaman-pengalaman sensasional lain sudah pasti tidak bisa. Sebab, hubungan intim merupakan pengalaman paling sensasional, dalam pengertian, melibatkan semua senses, semua indra — yang amat sangat intens. Jika pengalarnan seintens itu pun berakhir dengan kehampaan, maka janganlah berharap dari pengalaman-pengalaman lain, dari sensasi-sensasi lain.

SUMBER KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH JIWA SENDIRI! Sifat Jiwa adalah Ananda – kebahagiaan sejati. Namun, selama Jiwa “merasa” terpisah dari Jiwa Agung, ia tidak menyadari hal tersebut. Ia tidak mengalaminya.

Hanyalah Yoga, dalam pengertian, Kemanunggalan Jiwa dengan dan dalam Jiwa Agung yang dapat memunculkan pengalaman tersebut— kebahagiaan abadi tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa kemanunggalan ini sebetulnya sudah terjadi. Kemanunggalan ini adalah hakikat. Justru perpisahan adalah ilusif. Ketika ilusi perpisahan terlampaui— kemanunggalan “terasa” kembali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia