Archive for keterikatan

Penyebab Munculnya Suka dan Duka

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 3, 2019 by triwidodo

Munculnya Keterikatan

Seorang Master berkisah tentang seorang gadis yang tinggal di suatu rumah di daerah elit di kota besar yang tidak begitu kenal dengan tetangga. Rumah-rumah di sana diberi pagar yang tinggi. Selisih beberapa rumah tinggal seorang perjaka akan tetapi mereka tidak saling kenal. Pada suatu hari sang gadis sakit parah, satu rumah sibuk dan sang perjaka juga melihat dokter datang akan tetapi dia tidak merasa terganggu, biasa saja.

Akan tetapi dalam perjalanan waktu, sebagai akibat dari takdir, sang perjaka menikah dengan sang gadis. Pernikahan berlangsung di siang hari dan pada malam hari sang gadis sakit perut. Sang perjaka sekarang sangat cemas dan sibuk memanggil saudaranya yang menjadi dokter.

Aneh, dulu sang gadis sakit parah dan dia tidak ambil pusing, akan tetapi setelah menjadi suami istri, hanya karena sakit perut sang perjaka menjadi cemas dan gelisah.

Keterikatan menjadi penyebab munculnya suka dan duka……..

Mengapa Kita Berkeluarga?

Ada insting, naluri dalam diri untuk berkembang-biak? Apakah karena Jiwa kita ingin mengalaminya demi perkembangan diri? Mengapa Swami Vivekananda atau para pelaku brahmachari tidak berkeluarga? Apakah mereka sudah pernah mengalami dan mereka tidak ingin mengulangi lagi? Kalau demikian tujuan hidup itu apa?

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri.

Sumber: (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

 

Guruji Anand Krishna menyampaikan dalam buku Soul Awareness:

Kehidupan Anda membuktikan bahwa masih ada sesuatu yang harus Anda pelajari. Masih ada keinginan-keinginan yang harus dipenuhi. Masih ada obsesi-obsesi yang harus dilampaui. Jujurlah dengan diri Anda sendiri. Jangan membohongi diri. Anda berada di sini untuk mengurus diri sendiri. Perkawinan Anda, putra-putri Anda, hubungan kerja Anda, segala sesuatu yang sedang Anda lakukan, sedang Anda alami, semua demi perkembangan diri sendiri. Jangan lupa hal itu.

 

Yang Penting adalah Kebebasan Anda. Jangan terikat pada siapa atau apa pun. Begitu sadar bahwa dalam hidup ini kita harus belajar sesuatu, kita akan mempelajarinya dengan baik, namun kita tidak akan terikat pada sesuatu apa pun. Kita tidak akan terikat pada bangku yang kita duduki, kita tidak terikat pada bangunan sekolah. Kita tidak terikat pada guru yang mengajar kita. Kita pergi ke sekolah untuk belajar. Selesai belajar, kita pulang. Demikian pula dengan kehidupan ini: Selesai belajar kita pulang.

Tetapi apa yang terjadi selama ini? Kita melupakan pelajaran, kita malah terikat pada sarana-sarana penunjang yang disediakan oleh alam. Kita terikat pada rumah kita, pekerjaan kita, istri kita, suami kita, keluarga kita, kepercayaan kita, ideologi-ideologi kita. Semua itu hanya sarana penunjang, sarana-sarana pendidikan. Gunakan, tetapi jangan terikat pada mereka.

 

Keterikatan Kita Membuat Kita Gagal mempelajari mata pelajaran yang harus kita pelajari. Itu menyebabkan kelahiran kita kembali. Kita lahir dan mati, dan lahir, dan mati berulang kali, kadang kala hanya untuk mempelajari satu mata pelajaran. Kita sedang lari di tempat.

Hampir setiap kali kita mengalami kelahiran dalam lingkungan yang sama dan itu-itu juga. Kita lahir dalam keluarga yang sama. Yang dulu jadi istri, sekarang jadi ibu. Yang dulu jadi anak, sekarang jadi istri. Yang dulu jadi sahabat, sekarang jadi ayah. Yang sekarang jadi suami, dulunya kakak. Kita tidak pernah bebas dari lingkungan yang sempit ini. Bahkan, mereka yang memusuhi kita pun, umumnya, orang-orang yang sama pula. Dari dulu demikian, sekarang pun masih seperti itu. Peran kita berubah-ubah, tetapi tema sentralnya masih sama. Sesungguhnya, kita mengulang cerita yang sama, dengan sedikit variasi di sana-sini.

Manfaatkan kelahiran ini untuk menyadarkan diri bahwa ada mata pelajaran yang harus Anda pelajari. Jangan buang waktu untuk mengagung-agungkan sarana-sarana yang Anda miliki, termasuk kepercayaan-kepercayaan Anda, ideologi-ideologi yang Anda percayai.

Semua itu hanyalah sarana pendidikan. Gunakan semua itu tapi jangan lupa bahwa yang harus bekerja adalah Anda sendiri. Perjalanan ini harus dimulai dan langkah pertama harus diambil. Jangan lari di tempat. Lébih baik berjalan—walaupun perlahan—daripada lari di tempat.

Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Ketidaktahuan bahwa Jati Diri Kita Adalah Sebagai Jiwa

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

“Avidya atau Kebodohan, Ketidaktahuan; Asmita atau Ke-‘aku ‘-an; Raga atau Ketertarikan, Ke-‘suka’-an; Dvesa atau Ketaktertarikan, Ke-‘taksuka’-an, Kebencian; dan Abhinivesa atau Keinginan untuk Mempertahankan suatu Keadaan, termasuk kehidupan itu sendiri—semua ini adalah penyebab Klesa atau penderitaan.” Yoga Sutra Patanjali II.3

Duka-Derita disebabkan oleh beberapa hal yang disebut dalam sutra ini. Tidak terlalu banyak alasan. Beragam alasan yang terasa tak berujung, tak berpangkal, dan tak terhitung, sesungguhnya merupakan cabang-cabang, ranting-ranting dari beberapa alasan utama ini.

ALASAN PERTAMA AVIDYA, Kebodohan atau Ketidaktahuan. Yang dimaksud adalah ketidaktahuan tentang jati diri kita sebagai Jiwa dan tentang sifat kebendaan yang berubah-ubah terus.

Inilah Dwi-Tunggal sebab utama Avidya atau Ketidaktahuan kita. Dari pasangan inilah Iahir beragam kebodohan lainnya, segala kebodohan lainnya, termasuk yang disebut berikut.

ALASAN KEDUA: ASMITA atau Ke-“aku”-an. Ke-“aku”-an yang dimaksud adalah ke-“aku”-an pseudo atau palsu

……………..

AKU—GELAR, AKU—TABUNGAN, segala macam aku menggelembung menjadi besar karena keadaan-keadaan tertentu—keadaan-keadaan yang “terasa” menguntungkan,baik—, sudah pasti ciut kembali! Keadaan terus berubah. Sekarang naik, sesaat lagi bisa turun. Sekarang pasang, sebentar lagi surut.

Orang Jawa bilang “Ojo dumeh!”—Jangan Sombong. Jangan berbesar kepala karena keberhasilan materi.

ALASAN KETIGA DAN KEEMPAT: RAGA DAN DVESA atau Suka/Tak-Suka, Tertarik/Tak-Tertarik. Jika tidak dapat apa yang kita sukai—susah. Dapat apa yang kita tidak sukai—susah. Tertarik sama Jeng Joti, dapatnya Holi—susah. Celakanya, kemauan kita tidak selalu terenuhi. Boleh suka/tak-suka, boleh tertarik/tak-tertarik dengan seseorang atau sesuatu—dapatnya belum tentu sesuai dengan yang kita sukai. Alhasil, penderitaan—klesa.

Terakhir:

ALASAN KELIMA: ABHINIVESA ATAU KEINGINAN UNTUK MEMPERTAHANKAN sesuatu—suatu keadaan, suatu pengalaman, hubungan, atau apa saja.

Ingin mempertahankan masa muda—selalu muda, berhenti berusia, berhenti berumur. Berusia 21 tahun selamanya. Apa bisa? Apa mungkin? Kecuali, ya, ada pengecualian yaitu mati, mampus, minggat saat merayakan hari ulang tahun 21. Kemudian, ya, foto yang diambil saat perayaan itu bisa memperlihatkan diri kita berusia 21 tahun untuk selamanya. Setidaknya selama foto itu masih ada, masih ada anggota keluarga, konco, siapa saja yang sudi menyimpan foto itu.

Sumber: (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Mengikuti Hawa Nafsu Mengikat Kita pada Dunia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 6, 2018 by triwidodo

Terperangkap Hawa Nafsu

Seorang Master berkisah tentang monyet yang terperangkap oleh keinginannya sendiri untuk memperoleh makanan permen kesukaan yang menjadi obsesinya.

Adalah setumpuk permen kesukaan monyet diletakkan di dalam sebuah toples dengan mulut toples yang kecil, yang hanya tangan monyet yang dapat masuk ke dalam toples. Di dalam toples, tangan monyet merasa leluasa dan bisa memegang banyak permen yang disukainya untuk digenggam dan ditarik keluar toples. Sang monyet terperangkap tidak bisa mengeluarkan tangan yang menggenggam banyak permen kesukaannya keluar dari toples.

Hanya dengan melepaskan genggaman tangan, tangan monyet bisa bebas ditarik keluar dengan selamat. Demikianlah mengikuti keinginan telah mengikat tangannya.

Dunia adalah seperti toples dan mulut toples adalah samsara. Setumpuk permen dalam toples adalah berbagai keinginan kita di dunia. Manusia ingin memperoleh keinginannya, seperti monyet yang memasukkan tangannya kedalam toples untuk mengambil banyak permen yang diinginkannya. Karena keserakahannya, ingin memuaskan keinginannya dia mengambil banyak yang diingini dan sebagai akibat tangannya terperangkap oleh samsara.

Demikian pula kita terperangkap oleh tindakan kita dalam memenuhi keinginan dan keserakahan kita. Bahkan untuk memperoleh keinginan tersebut kita menghalalkan segala cara sehingga kita bertindak menyakiti sesama. Kita harus mempertanggungjawabkan semua kegiatan kita, kita harus menerima akibat dari hukum dunia, hukum aksi-reaksi, hukum karma.

Untuk memperoleh kebebasan kita harus melepaskan apa yang kita genggam. Dan juga menerima apa pun akibat dari apa yang telah kita perbuat sebelumnya. Kebebasan jauh lebih berharga daripada genggaman hasil keinginan atau obsesi tubuh, indra dan pikiran kita.

 

Meraih Berbagai Keinginan Duniawi

“Mereka, para dungu itu – penuh dengan berbagai keinginan duniawi; tujuan mereka hanyalah kenikmatan surga; atau kelahiran kembali di dunia-benda –untuk itulah mereka berkarya. Bermacam-macam ritus, upacara yang mereka lakukan, pun semata untuk meraih kenikmatan indrawi, dan kekuasaan duniawi.” Bhagavad Gita 2:43

 

Mereka belum memahami diri sebagai Jiwa. Mereka masih mengejar kekuasaan semu dan kenikmatan-kenikmatan yang tidak berarti. Semuanya terkait degan fisik, yang senantiasa berubah, dan suatu ketika sudah pasti punah. Mereka Berkarya, Beramal-Saleh semata untuk memperoleh kenikmatan indrawi, kekuasaan duniawi. Bahkan, surga–khayalan mereka pun penuh dengan sarana-sarana kenikmatan indrawi, seolah “di sana” pun kita akan tetap berkaki-tangan, berkelamin, seperti “di sini”.

Bayangan kita tentang surga adalah cerminan dari keinginan-keinginan di dalam diri, keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi. Jika di sini punya pasangan yang menginjak dan menindas, maka kita akan berkhayal tentang surga yang memiliki jumlah pelayan tidak terhitung dan semuanya masih muda belia sehingga kita berharap tidak akan mengalami penindasan seperti di sini.

Ada pula yang berkarya, beramal saleh dengan pengertian membayar premi asuransi bagi reinkarnasi yang lebih baik – Lagi-lagi urusannya adalah kenikmatan indrawi. Lagi-lagi, urusannya adalah kebendaan.

Dengan berkesadaran Jiwa, kita tidak perlu menunggu mati untuk masuk surga. Dengan Kesadaran Jiwa, kita dapat mengubah hidp kita menjadi surgawi, dalam pengertian penuh kenikmatan Jiwani yang adalah esensi surga.

Anda bisa hidup dalam surga – sekarang dan saat ini juga – jika Anda berkesadaran Jiwa.

Definisi Surga bagi Kṛṣṇa ialah Hidup Bebas – Kebebasan Mutlak – Mokṣa, Nirvāṇa. Hidup dalam surga tidak berarti menjadi budak indra lagi, tapi, justru bebas dari perbudakan. Dan, kebebasan itu, dapat diraih sekarang, saat ini juga. Kebahagiaan sejati adalah Jiwani, tidak sama dengan kenikmatan indra. Para bijak menemukannya, menemukan kebahagiaan sejati, dalam Kesadaran Jiwa. Para dungu mengejar kenikmatan raga, kesenangan indrawi saja.

Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hidup Berkesadaran

“Mereka, para dungu, yang terikat pada kenikmatan indrawi dan kekuasaan duniawi; terbawa oleh janji-janji tentang surga dan sebagainya; sebab itu mereka tidak bisa meraih kesadaran-diri yang dapat mengantar mereka pada keadaan Samādhi, keseimbangan.” Bhagavad Gita 2:44

Hidup Berkesadaran adalah Hidup Meditatif. Hidup Berkesadaran berarti hidup dengan penuh keyakinan bahwa kita adalah Jiwa, bukan badan, bukan indra. Kemudian, hidup yang demikian itulah yang membuahkan Samādhi, keseimbangan, di mana kita bisa melampaui segala dualitas, segala pengalaman suka-duka, panas-dingin, senang-susah, dan sebagainya. Adapun, hanyalah setelah itu, kita meraih Kebahagiaan Sejati atau Ānanda yang kekal, abadi.

Sumber: Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Abhyasa dan Vairagya

“Wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), niscaya pikiran memang liar – pun sulit ditaklukkan. Namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti).” Bhagavad Gita 6:35

 

Dalam ayat ini, Krsna memberikan tips jitu untuk mengendalikan pikiran, pertama adalah:

Abhyasa – membiasakan diri, berlatih secara terus-menerus. Seorang sahabat, saintis tulen, ahli bedah otak, almarhum dr. Setiawan selalu menggunakan istilah ‘intensif dan repetitif’. Latihan untuk mengendalikan gugusan pikiran dan perasaan membutuhkan kegigihan, kebulatan tekad, keteguhan hati, dan kekuatan kehendak. Tidak bisa secara instan, seperti sering diiklankan oleh orang-orang yang sedang mencari keuntungan, dan tidak tahu-menahu tentang seluk-beluk mind.

Dr. Setiawan betul. Ia memahami kinerja brain, otak, sebagai alat yang digunakan oleh mind. Untuk itu butuh latihan secara intensif, tidak bisa sambilan. Hari ini berlatih, besok tidak – mustahil mind terkendali.

Berlatih secara intensif dan repetitif setiap hari saja tidak cukup. Dibutuhkan latihan setiap jam, setiap detik. Setiap kali mind baru mau kembali pada sifat keliarannya, segera kita menarik dia. Secara intensif dan repetitif – berulang-ulang. Inilah abhyasa – inilah cara untuk mengubah kebiasaan mind.

Namun, cara ini pun adalah semacam first-aid – pertolongan pertama. Untuk selanjutnya, supaya mind tidak liar terus, lagi-lagi secara intensif dan repetitif, kita mesti belajar untuk melepaskan keterikatan dari benda-benda dan keadaan-keadaan yang dapat memicu keliarannya. Ini disebut:

Vairagya – melepaskan diri dari keterikatan: membebaskan diri dari keterikatan pada hal-hal yang dapat memicu dan/atau menambah keliaran mind.

Abhyasa dan Vairagya – inilah cara untuk mengendalikan  mind. Pekerjaan ini adalah purnawaktu. Tidak bisa hanya sesekali saja. Mind tidak pernah mati. Setelah terkendali pun masih tetap diawasi, tidak bisa dilepas begitu saja.

Sumber: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ibu, Aku Mencintaimu! #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 5, 2018 by triwidodo

Sebuah kisah tentang seorang pria yang berhenti pada sebuah toko bunga untuk memesan seikat mawar yang akan dikirimkan ke ibunya yang tinggal di kota lain dengan jarak sekitar 200 km. Ayah pria tersebut sudah meninggal dunia beberapa saat sebelumnya. Saat ke luar mobil dia melihat seorang anak kecil perempuan duduk di depan toko sambil menangis terisak-isak. Pria tersebut bertanya, ada masalah apa? Dan dijawab anak tersebut bahwa dia ingin membeli mawar merah untuk ibunya, tetapi hanya punya tujuh puluh lima sen, sedangkan harga satu mawar adalah dua dollar.

Pria tersebut tersenyum dan berkata, “Ayo ikut saya. Akan kubelikan mawar.” Pria itu membeli mawar bagi anak perempuan itu dan memesan bunga mawar bagi ibunya agar dikirim toko tersebut ke rumah ibunya. Pria itu memberikan bunga kepada anak perempuan dan menawari kalau dia mau diantar ke rumahnya. Anak perempuan tersebut sangat berterima kasih, ikut naik mobil dan menunjukkan tempat ibunya.

Pria itu kaget, ternyata dia mengemudikan mobil menuju pemakaman, dan anak perempuan tersebut meletakkan mawar pada sebuah kuburan yang masih baru.

Pria itu kembali ke toko bunga, membatalkan pesanan dan membeli sebuah buket bunga dan mengemudikan langsung mobilnya ke rumah ibunya yang berjarak 200 km.

Kita tidak pernah bisa membalas kebaikan orangtua kita. Kita bisa menjadi seperti saat ini adalah karena orangtua kita yang mengasihi kita sejak kecil.

Kita lahir di dunia dan pertama-tama kita mengenal kedua orangtua kita. Kemudian kita menjadi dewasa dan kita mengenal beberapa orang yang dekat dengan kita. Hubungan dengan orang-orang terdekat tersebut adalah karena hubungan karma. Dan kita harus bisa menyelesaikan karma dengan sebaik-baiknya. Mereka yang tidak ada kaitan karma tidak pernah bersinggungan dengan kita. Berhubungan baiklah dengan semua orang yang kita temui, termasuk yang bertemu dalam media sosial. Kita dapat menyelesaikan karma dengan mereka tanpa harus membuang waktu bertemu langsung……

Hubungan dengan 20 orang terdekat

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna disampaikan tentang hubungan keterikatan dengan keluarga:

“Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Dikutip dari video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda. Oleh karena itu jangan membuat karma buruk!

Tidak meninggalkan keluarga tapi melayani tanpa keterikatan

“Dengan sepenuhnya membebaskan diri dari keterikatan, rasa takut dan amarah; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, sepenuhnya berlindung pada-Ku; serta menyucikan diri dengan tapa, laku spiritual untuk mengetahui Hakikat-Diri; banyak yang telah mencapai kesadaran-Ku dan manunggal dengan-Ku.” Bhagavad Gita 4:10

Tidak henti-hentinya Krsna mengingatkan kita bahwa kesadaran tertinggi bukanlah rnonopoli diri-Nya.

SIAPA SAJA BISA MENCAPAI-NYA, asal kita berupaya dengan sungguh-sungguh. Yaitu, dengan cara membebaskan diri dari keterikatan. Tidak berhenti bekerja, tapi bekerja tanpa pamrih. Tidak meninggalkan keluarga, tetapi mencintai dan melayaninya tanpa keterikatan. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

https://www.facebook.com/bukuspiritual/

 

Keterikatan bukan Landasan Kehidupan

Banyak juga yang beranggapan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa keterikatan, “Mana mungkin hidup tanpa keterikatan keluarga, pekerjaan segala? Bagaimana dengan kewajiban-kewajiban manusia?

Mereka yang berpaham demikian, umumnya menjadikan keterikatan sebagai landasan mereka berkeluarga, bekerja, dan bahkan untuk bertahan hidup.

SALAH PAHAM INI MEMUNCULKAN EG0, aku, ke-“aku”-an, keangkuhan, dan ilusi. Hasilnya adalah suka dan duka, panas dan dingin, dan pengalaman-pengalaman lain yang saling bertentangan.

Pernahkah kita berpikir balik, ketika sedang hangat-hangat berpacaran, apakah kita merencanakan perkawinan untuk “saling mengikat”? Pernahkah kita memikirkan “keterikatan”? Pacaran supaya “aku bisa terikat denganmu” — begitu? Atau, bekerja di kantormu, supaya aku bisa “terikat dengan kantormu”? Begitukah?

Jelas tidak. Ketika berpacaran, landasannya adalah cinta. Ketika mencari pekerjaan, landasannya adalah penghasilan. Bukankah demikian secara umum?

KEMUDIAN, DARI MANAKAH TIMBULNYA KETERIKATAN? Cinta meluntur, kepuasan berakhir — dan keterikatan muncul. Sepasang suami-istri yang menikah setelah rnengakhiri masa pacaran selama belasan tahun sejak di bangku SMP — berakhir dengan cerai. Setelah cerai, baru sadar bahwa selama beberapa tahun sebagai suami-istri, cinta di antara mereka sudah hilang, diganti, diambil tempatnya oleh keterikatan.

Bersama keterikatan, muncul pula rasa kepemilikan, kecemburuan, dan kekecewaan. Hasil akhir: Perceraian. Namun, kisah kita belum selesai, setelah cerai….

MEREKA SALING MERINDUKAN – Namun, lagi-lagi, bukan karena Cinta, tetapi karena, “Sekarang, sebelum pergi ke kantor, mesti mempersiapkan makan pagi dulu,” Atau, “Dulu ada yang menjemput, sekarang pulang kantor mesti naik taksi.”

Untuk disiapkan makan pagi dan disopiri — itukah alasan kita berpacaran dan menikah? Untuk menyiapkan makan pagi, pembantu sudah cukup. Untuk menjemput dari tempat kerja — kita perlu menggaji seorang sopir. Kita tidak perlu kawin untuk itu!

Dalam perkawinan maupun pekerjaan, kita mesti memiliki Integritas Tinggi untuk membuat dan menjaga komitmen. Dan landasan komitmen dalam perkawinan adalah Cinta. Bagi pekerjaan, landasannya adalah Kepuasan Hati. Keterikatan tidak bisa dijadikan landasan.

KITA TERKAIT DENGAN MASAKAN JAWA, maka ke Jepang pun mencari nasi pecel. Bayangkan betapa terbatas jadinya wawasan kita! Cobalah hidangan Jepang, apa salahnya? Hidup memiliki sekian banyak warna — termasuk warna-warna yang belum pernah terdeteksi oleh mata manusia. Masih ada segudang warna kehidupan yang dapat di-explore — mengapa mesti mernbatasi diri dengan keterikatan pada beberapa warna saja?

Keterikatan mempersempit wawasan kita. Jiwa yang hendak berpetualang, tersesakkan oleh keterikatan dan keterbatasan ilusif.

Keterikatan membuat kita tidak mampu keluar dari kepompong dan terbang di alam bebas sebagai kupu-kupu. Jika kita terikat dengan kepompong — kita tidak akan pernah menjadi kupu-kupu. Padahal, terbang bebas seperti kupu-kupu adalah takdir kepompong; kebebasan adalah takdir kita!

KETERIKATAN BUKANLAH LANDASAN KEHIDUPAN – Letting go adalah landasan bagi kehidupan. Setiap saat kita melewati saat sebelumnya. Saat yang sudah berlalu tidak pernah kembali. Penjelasan Bhagavad Gita 15:5 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

2 Cara Melepaskan Diri dari Keterikatan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on February 14, 2018 by triwidodo

Dikisahkan Rishi Narada menemui Sri Krishna yang berada dalam keadaan menangis. Sri Krishna mengatakan banyak manusia yang terikat dengan dunia materi dan tidak mau kembali pada-Nya. Padahal manusia-manusia ini merupakan percikan dari-Nya. Narada bertanya apakah dia boleh membantu-Nya?

Sri Krishna menyebutkan di bumi ada seorang bhakta bernama Chandulal. Narada diminta menyampaikan padanya, bahwa dia tidak usah sadhana (laku spiritual), japa (zikir menyebut Tuhan), yagya (ritual persembahan) ataupun dana (persembahan harta) untuk kembali pada-Nya. Cukup bawa dia ke Vaikuntha (Manunggal dengan Gusti).

Chandulal ditemuai Narada dan berkata, bahwa saat ini dia sudah siap manunggal dengan Gusti, tapi mohon pengertian Narada bahwa dia baru saja menikah, istri sangat muda, bagaimana kata orang dia meninggalkan tanpa tanggung jawab. Chandulal minta setelah anaknya lahir baru ke Vaikuntha sehingga istrinya bisa melupakan kepergian dia.

Setelah beberapa tahun Narada datang lagi dan Chandulal sudah punya anak kecil yang berlarian kesana kemari. Chandulal berkata bahwa dia sudah siap, akan tetapi ada satu masalah. Istri dan ibunya berada satu rumah dengannya, dia perlu waktu agar ibu dan istrinya akur dan anaknya sudah cukup besar kala ditinggalkan.

Narada datang lagi, Chandalal sudah punya cucu, tapi nampaknya ingin bersembunyi dari Narada, lari naik tangga, terjatuh, Dewa Yama datang mencabut nyawanya……..

Narada melaporkan peristiwa tersebut kepada Sri Krishna, dan Sri Krishna meminta Narada tidak usah khawatir. Chandulal telah menjadi seekor anjing yang berada dil luar rumahnya. Narada diberi kemampuan berkomunikasi dengan bahasa anjing untuk mengajaknya langsung pergi ke Vaikuntha.

Narada datang ke rumah Chandulal dan menemui anjing di bawah pohon, mengatakan bahwa Sri Krishna sangat pengasih dan tetap minta anjing tersebut pergi ke Vaikuntha. Chandulal dalam wujud anjing, merasa bersalah dan bersyukur masih juga diberi undangan ke Vaikuntha. Akan tetapi Chandulal dalam wujud anjing berkata, “Wahai Rishi Narada, lihatlah rumah itu. Mereka membiarkan pintu dan jendela rumah terbuka, bagaimana jika ada pencuri yang masuk mengambil harta yang telah saya kumpulkan selama bertahun-tahun? Kalau mereka di dalam rumah itu sudah sadar dan rumah itu aman aku akan ikut Rishi Narada ke Vaikuntha!”

Semua kisah tersebut terjadi dalam diri manusia. Sri Krishna dan Narada berada dalam diri kita. Sudah berapa kali Sri Krishna mengajak kita kembali ke Ananda (Kebahagiaan sejati), sudah berapa kali Rishi Narada dalam diri mengajak kita menghadap Gusti di dalam diri agar kita dapat mencapai kebahagiaan sejati dan kita masih menunda-nunda saja demi dunia yang maya, yang merupakan ilusi belaka?

Antara Pesta Gusti yang Melimpah dan Kesadaran Restoran

Jalalludin Rumi memakai istilah Pesta Gusti yang melimpah dan kesadaran restoran manusia:

Tidak ikut dalam Pesta-Nya berarti tidak menerima undangan-Nya. Bukan karena Anda tidak dikirimi undangan, tetapi karena Anda memilih untuk tidak menerimanya. Kalaupun menerima undangan-Nya, Anda tidak menghadiri Pesta-Nya.

Menghadiri Pesta Dia berarti tidak memikirkan “soal dapur” lagi. Untuk apa memikirkan “soal dapur”? Bukankah Dia telah mengundang Anda untuk makan di Rumah-Nya?

Menghadiri Pesta Dia berarti tidak mengurusi “makanan”.”Untuk apa mengurusi ‘makanan’” Bukankah Dia telah mengurus semuanya?

Sementara ini kita masih ber-“kesadaran-restoran”. Masih membedakan antara “Mie Cina” dan “Mie Jawa”. Mau ini, tidak mau itu. Mau itu, tidak mau ini. Dengan “kesadaran-restoran” seperti itu, kita tidak bisa menghadiri Pesta-Nya. Di Pesta, kemauan Dia haruslah menjadi kemauan kita. Apa pun yang dia suguhkan kita terima.

Seseorang pernah menanggapi saya, “Kalau begitu, saya pilih ber-‘kesadaran-restoran’ saka. Saya bisa memilih. Di Pesta-Nya tidak ada pilihan.”

Demikianlah adanya. Mereka yang masih ber-‘kesadaran-restoran’ akan menolak undangan-Nya. ‘Untuk apa?’, pikir mereka. ‘Entah di sana ada makanan kesukaanku atau tidak, lebih baik makan di restoran saja.’

Tidak ada yang bisa mendesak Anda untuk melampaui ‘kesadaran-restoran’ dan berpesta bersama Dia. Para nabi, para mesias,para avatar dan para buddha hanya bisa merayu Anda, “Restoran yang kau datangi itu tidak ada apa-apanya. Di Pesta Dia semuanya berkelimpahan. Daftar makanan di restoran yang kau datangi itu masih belum apa-apa. Di Pesta Dia lebih banyak macam makanan.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Cara Melepaskan Diri dari Keterikatan

Baik keterikatan pada keluarga maupun berkesadaran restorang kedua-duanya adalah wujud dari keterikatan. Bagaimankah cara melepaskan diri dari keterikatan?

“Wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), niscaya pikiran memang liar – pun sulit ditaklukkan. Namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya, wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti).” Bhagavad Gita 6:35

Dalam ayat ini, Krsna memberikan tips jitu untuk mengendalikan pikiran, pertama adalah:

Abhyasa – membiasakan diri, berlatih secara terus-menerus. Seorang sahabat, saintis tulen, ahli bedah otak, almarhum dr. Setiawan selalu menggunakan istilah ‘intensif dan repetitif’. Latihan untuk mengendalikan gugusan pikiran dan perasaan membutuhkan kegigihan, kebulatan tekad, keteguhan hati, dan kekuatan kehendak. Tidak bisa secara instan, seperti sering diiklankan oleh orang-orang yang sedang mencari keuntungan, dan tidak tahu-menahu tentang seluk-beluk mind.

Dr. Setiawan betul. Ia memahami kinerja brain, otak, sebagai alat yang digunakan oleh mind. Untuk itu butuh latihan secara intensif, tidak bisa sambilan. Hari ini berlatih, besok tidak – mustahil mind terkendali.

Berlatih secara intensif dan repetitif setiap hari saja tidak cukup. Dibutuhkan latihan setiap jam, setiap detik. Setiap kali mind baru mau kembali pada sifat keliarannya, segera kita menarik dia. Secara intensif dan repetitif – berulang-ulang. Inilah abhyasa – inilah cara untuk mengubah kebiasaan mind.

Namun, cara ini pun adalah semacam first-aid – pertolongan pertama. Untuk selanjutnya, supaya mind tidak liar terus, lagi-lagi secara intensif dan repetitif, kita mesti belajar untuk melepaskan keterikatan dari benda-benda dan keadaan-keadaan yang dapat memicu keliarannya. Ini disebut:

Vairagya – melepaskan diri dari keterikatan: membebaskan diri dari keterikatan pada hal-hal yang dapat memicu dan/atau menambah keliaran mind.

Abhyasa dan Vairagya – inilah cara untuk mengendalikan  mind. Pekerjaan ini adalah purnawaktu. Tidak bisa hanya sesekali saja. Mind tidak pernah mati. Setelah terkendali pun masih tetap diawasi, tidak bisa dilepas begitu saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)  #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

2 Cara Membebaskan Diri dari Keterikatan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 1, 2017 by triwidodo

Keterikatan menyebabkan Kecemasan

“Saya harus menikmati hidup saat ini. Tapi saya memiliki pasangan dan anak-anak saya untuk dijaga. Orang tua saya kesehatannya menurun drastis, sedangkan mereka butuh bantuan. Meskipun saya menghasilkan banyak uang sekarang, itu bukan jaminan situasi masa depan. Saya berupaya sekuat tenaga mencari harta demi kenikmatan hidup saya, kalau tidak, saya bisa menjadi miskin pada suatu hari nanti.”

Untuk membebaskan diri dari keterikatan ada 2 cara yaitu Berlindung pada Gusti dan Menyadari bahwa yang terikat itu mind, sedangkan Jiwa itu tidak terikat.

 

  1. Membebaskan Keterikatan dengan Berlindung pada Gusti

“Dengan sepenuhnya membebaskan diri dari keterikatan, rasa takut dan amarah; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, sepenuhnya berlindung pada-Ku; serta menyucikan diri dengan tapa, laku spiritual untuk mengetahui Hakikat-Diri; banyak yang telah mencapai kesadaran-Ku dan manunggal dengan-Ku.” Bhagavad Gita 4:10

Tidak henti-hentinya Krsna mengingatkan kita bahwa kesadaran tertinggi bukanlah rnonopoli diri-Nya. SIAPA SAJA BISA MENCAPAI-NYA, asal kita berupaya dengan sungguh-sungguh. Yaitu, dengan cara membebaskan diri dari keterikatan. Tidak berhenti bekerja, tapi bekerja tanpa pamrih. Tidak meninggalkan keluarga, tetapi mencintai dan melayaninya tanpa keterikatan.

……………..

BEKERJALAH SESUAI DENGAN KATA HATI TERDALAM. Nurani kita tidak akan pernah mendukung perbuatan yang merugikan orang lain. Jika kita bekerja sesuai dengan petunjuknya, maka tidak akan bertindak salah. Dan, tiada lagi kecemasan di kemudian hari. Tiada lagi amarah yang muncul karena keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi dan sebagainya, sebab kata-hati, nurani selalu berbahasa moderat. Tidak pernah ekstrem.

KEMUDIAN, PEMUSATAN DIRI PADA-NYA – Berlindung pada-Nya, serta menyucikan diri dengan Tapa, Disiplin-Diri untuk mengetahui Hakikat-Diri; untuk mengenal diri kita sebagai percikan_nya. Inilah jalan menuju kebebasan mutlak. Inilah satu-satunya cara untuk membebaskan diri dari kelahiran dan kematian yang berulang-ulang.

……………….

BANGUNAN KEHIDUPAN TERBUAT DARI batu bata suka-duka yang diletakkan, dipasang dengan cara bersilang. Ada suka, ada duka. Demikianlah karakteristik hidup ini. Tidak bisa selalu suka. Dan, tidak mungkin selalu duka juga.

Persoalannya bukan sengsara atau tidak; enak atau tidak. Perkaranya, jenuh atau belum? Gita adalah obat mujarab bagi orang-orang yang sudah jenuh. Jika kita belum jenuh, ya sudah – simpan dulu obat ini. Obat ini tidak pemah kadaluarsa. Pada suatu ketika nanti, kita pasti membutuhkannya.

KEJENUHAN MANUSIA ADALAH ALAMI. Rasa jenuh membuat kita maju, berkembang. Kita menjadi dinamis, tidak statis. Dan, Gita menuntun mereka yang sudah jenuh, dan ingin melihat sisi-sisi lain kehidupan. Hidup ini penuh dengan cerita, sementara selama ini kita fokus pada cerita hitam-putih diri kita sendiri, ya pasti jenuh.

Ketika kita berfokus, atau mengalihkan fokus dari diri ego-pribadi ke arah Sang Jiwa Agung, maka kita menyaksikan setiap warna kehidupan. Hidup menjadi betul-betul hidup, berwarna-warni.

BERFOKUS PADA-NYA BERARTI… Berfokus pada Sang Jiwa Agung yang menggerakkan setiap badan. Alih-fokus seperti ini mengubah seluruh cara pandang kita. Wawasan kita terbuka. Kesadaran berekspansi. “Ternyata, selama ini aku hidup dalam sebuah kolam kecil!” Si kodok-diri melompat keluar dan menemukan kehidupan yang maha luas di luar kolam.

Inilah Pencerahan! Dan seseorang yang sudah tercerahkan, sesungguhnya sudah manunggal dengan-Nya. Tiada lagi kelahiran di Bumi ini. Ia telah berhasil menyelesaikan permainannya dengan baik. Goal! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Menyadari bahwa Mind yang terikat sedangkan Jiwa tidak terikat

“Sebagaimana angin dapat membawa wangi atau aroma dari satu tempat ke tempat lain, demikian pula Jiwa Individu yang telah menguasai tubuh untuk beberapa lama; saat meninggalkannya, dapat membawa pikiran serta perasaan dan indra persepsi ke tubuh lain yang hendak dikuasainya.” Bhagavad Gita 15:8

Sesungguhnya angin tidak memiliki aroma, ia netral adanya. Sebab itu pula, ia bisa kurir bagi aroma apa saja. Ia bisa menjadi kurir bagi bau tidak sedap, dan bisa juga menjadi kurir aroma sedap, bagi wangi harum.

SIFAT ANGIN YANG TAK BERSIFAT ITULAH membuatnya begitu halus, luas, dan ekspansif. Jika ia berhubungan dengan keharurnan bunga, maka keharuman pula yang disebarkannya. Jika ia melewati tumpukan sampah, maka bau tak sedap dari sampah itulah yang disebarkannya.

Demikianlah sifat Jiwa — persis seperti angin yang tak bersifat. Saat ini Jiwa sedang menyinari kita, cerita kita. Saat episode berakhir, maka Jiwa mengantar pikiran serta perasaan dan indra persepsi kita (penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, dan peraba atau sentuhan) ke episode berikutnya. Demikian, cerita kita berlanjut. Setiap episode berakhir dengan catatan “dilanjutkan dalam episode berikutnya”.

JADI, BUKANLAH JIVATMA YANG LAHIR KEMBALI – Sesungguhnya adalah gabungan gugusan pikiran dan perasaan (mind) serta indra-indra persepsi yang “mengalami” kelahiran atau kejadian kembali. Gabungan dari fakultas-fakultas inilah yang biasa disebut roh. Kita sengaja menghindari pemakaian istilah roh supaya tidak disalahkaitkan dengan Jiwa Individu, Jivatma atau Individual Soul.

Jivatma yang menonton, hanya berperan sebagai kurir. Sehingga, cerita yang belum selesai, dapat dilanjutkan dalam episode berikutnya.

                Inilah yang terjadi selama ini. Jika cerita masa lalu beraroma tidak sedap, maka aroma tidak sedap itu pula yang diantar kurir Jiwa ke episode berikut. Jika aromanya sedap, maka kesedapan yang diantarnya.

NAMUN, ADA JUGA KEMUNGKINAN LAIN – Ketika Jiwa sudah tidak mau menonton lagi — dan atas kehendaknya ia “berhenti” dan kembali menjadi bagian dari asalnya. Proses inilah “kesadaran, pencerahan.” Ini bisa terjadi kapan saja. Tidak perlu menunggu hingga cerita berakhir. Karena sesungguhnya cerita tidak pernah berakhir.

Selama Jiwa masih menyinari dan asyik menonton, cerita ini akan bersambung terus. Persis seperti serial teve, selama ratingnya masih bagus, masih diminati, serial tersebut akan berlanjut terus. Namun, ketika jumlah penonton berkurang, maka serial itu dihentikan – padahal ceritanya belum selesai.

Bagi dunia, cerita yang berlanjut adalah tanda-sukses. Bagi Jiwa, cerita yang berlanjut membuktikan bila ia belum bosan. Atau malah karena ia terikat dan mengidentifikasikan dirinya dengan cerita tersebut. Jadi,

KESIMPULAN DUNIA ADALAH KEBALIKAN DARI KESADARAN JIWA. Rating yang menentukan popularitas salah satu serial adalah kesimpulan dunia, kesimpulan alam benda. Tujuannya adalah untuk menghentikan perjalanan Jiwa, untuk memakunya di sini.

Ketika kita meninggalkan segala pekerjaan untuk menonton salah satu program teve — hal itu adalah keberhasilan bagi produsen acara tersebut. Namun, kerugian bagi kita. Selama berjam-jam menonton acara tersebut, dari minggu ke minggu, atau bahkan setiap hari — kita telah kehilangan sekian banyak waktu yang sesungguhnya dapat digunakan untuk sesuatu yang Iebih berguna, lebih kreatif.

Kendati demikian, putusan akhir adalah di tangan kita sendiri. Tidak ada yang dapat melarang kita. Mau tetap menonton, terlibat dalam tontonan, pindah channel; atau berhenti menonton dan melanjutkan penerbangan — pilihan sepenuhnya di tangan kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kardama Putra Brahma Bhakti Anak Saleh sekaligus Suami Bijak #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on January 6, 2017 by triwidodo

buku-bhagavatam-kardama-bertemu-vishnu

“Dalam hal berhubungan kita mesti waspada, senantiasa sadar bahwa tujuannya bukanlah mengikat diri kita, bukanlah membelenggu Jiwa – justru untuk membebaskan kita dari belenggu. Jika Anda berada dalam keadaan terbelenggu, maka Anda butuh bantuan orang lain untuk membebaskan Anda dari belenggu, bukan untuk memperkuatnya. Bukan untuk menambah belenggu.

Itulah Sebab Seorang Anak disebut Putra – Berarti, yang “membebaskan”. Bukan yang mengikat. Seorang putra membebaskan kedua orangtuanya dari belenggu kewajiban duniawi, sehingga mereka dapat berlanjut ke tahap berikut hidup mereka dengan tenang; yaitu sepenuhnya mendedikasikan diri bagi kepentingan masyarakat umum dan penggalian diri. Sayangnya, pemahaman ini sudah terlupakan. Adanya anak, kemudian cucu, cicit – justru menambah keterikatan, bukan menyelesaikannya. Sebab itu, saat ajal tiba – hanyalah rasa kecewa yang menyelimuti hati, dan kita beraduh-aduh, sepertinya, masih banyak pekerjaan yang belum selesai.

Anak, pekerjaan-pekerjaan duniawi, yang sesungguhnya hanyalah sarana untuk meraih kesadaran diri, kita jadikan tujuan. Sementara itu, tujuan hidup sendiri terlupakan – sedemikian bingungnya diri kita saat ini. Jangan lupa tujuan – penemuan jati diri, hidup berkesadaran 24/7 dalam kasih, saling sayang-menyayangi, saling menghormati, saling peduli – tanpa keterikatan.” Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 2:72 (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Anak Saleh

Brahma memerintahkan Rishi Kardama bersama 9 Putra Brahma lainnya untuk menghuni bumi. Kardama melakukan tapa selama 10 ribu tahun, melayani alam, manembah, menyerahkan diri secara total kepada Gusti. Gusti berkenan dan mewujud menemui Rishi Kardama.

Rishi Kardama mendengarkan sabda Gusti yang menanyakan anugerah apa yang diminta olehnya. Kardama menyampaikan bahwa bertemu Gusti adalah anugerah tertinggi umat manusia, akan tetapi dia juga ingin menjalankan perintah Brahma, ayahandanya agar mempunyai putra dan putri di dunia. Kakak-kakaknya para Kumara, sadar bahwa tujuan hidup adalah kembali ke asal mula, kembali ke Gusti, sehingga mereka telah menolak permintaan Brahma, ayahandanya untuk berkeluarga. Gusti berkenan dengan kepatuhan Kardama dan  berjanji akan memberikan istri yang baik bagi kehidupannya.

Doa yang ditujukan kepada Gusti tidak akan pernah sia-sia. Gusti sudah menyadari harapan yang muncul dalam hati orang  bahkan sebelum dia mengucapkannya. Gusti telah memenuhi harapannya. Gusti bersabda bahwa Penguasa Bumi, Raja Svayambu Manu akan segera memberikan anak gadisnya untuk dijadikan isteri Kardama. Kardama akan diberkahi dengan 9 anak perempuan. Kardama akan hidup tidak mementingkan diri, tanpa ego. Kardama akan selalu merasa manunggal dengan Gusti. Dan bahkan Gusti akan mewujud lahir sebagai putra Kardama. Kardama  tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena rasa harunya. Gusti begitu mencintai bhaktanya.

 

Suami yang Bijak

“Umumnya keterikatan kita pada dunia benda, harta kekayaan, keluarga dan kerabat yang menjadi penyebab ‘susah mati’. Kita tidak rela meninggalkan segala apa yang kita miliki. Kita tahu bila segalanya mesti di sini, tetapi tidak menyadarinya, baru sekedar tahu. Maka kita tidak rela meninggalkannya. Sanyas Ashram adalah suatu masa di mana sesungguhnya kita mencicipi kebebasan mutlak. Sayang sekali, seperti burung-burung yang sudah terbiasa hidup di dalam sangkar, kita pun tidak rela meninggalkan sangkar dunia ini. Masa transisi dari Vanaprashta menuju Sanyas tidak bisa ditentukan. Bisa satu tahun, dua tahun, atau sepuluh tahun. Bisa juga sehari, seminggu, sebulan. Semuanya kembali kepada diri kita sendiri, kepada persiapan diri masing-masing.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Tempat mewujudnya Gusti menjadi tempat yang sangat indah dan menggetarkan rasa. Pada suatu hari Raja Svayambu Manu beserta istrinya Shatarupa dan salah satu putrinya menemui Kardama. Mereka datang dengan penuh rasa hormat dan penuh aroma kasih. Sang Raja mengatakan kepada Rishi Kardama bahwa dia akan menyerahkan Devahuti, putrinya untuk dinikahkan dengan sang rishi.

Kardama menyampaikan bahwa dia bersedia menikahinya. Akan tetapi sang raja dan putrinya agar memahami tujuan hidup seorang rishi. Kardama menjelaskan bahwa dia akan menjadi Sanyasi setelah seorang anak laki-laki lahir dari Devahuti. Berkah Gusti, Rishi Kardama menyampaikan penglihatannya bahwa Gusti sendiri yang akan lahir sebagai putra tersebut. Devahuti akan sangat berbahagia mempunyai putra tersebut dan akan merelakan Kardama menjadi seorang sanyasi.

Sang raja dan putrinya menerima persyaratan dan Kardama pun menikahi Devahuti. Pada zaman itu hampir semua orang paham bahwa tujuan hidup adalah untuk moksa, manunggal dengan Gusti, bebas dari lingkaran kehidupan dan kematian. Keluarga sang maharaja juga paham bahwa setelah anak lahir, maka keterikatan antara suami-istri sudah mulai berkurang. Seorang istri akan lebih terikat dengan anaknya. Apalagi dengan seorang putra ilahi, maka Devahuti akan lebih terikat dengan putranya. Oleh karena itulah mereka menyetujui persyaratan Rishi Kardama.

Rishi Kardama sadar bahwa pada waktu membina rumah tangga sepasang suami istri adalah sebagai teman perjalanan menuju Gusti dan membina putra-putri yang merupakan amanah Gusti bagi mereka. Adalah tugas Rishi Kardama mencarikan menantu yang cocok bagi para putrinya. Akan tetapi setelah putranya lahir, seorang putra ilahi, yang merupakan perwujudan Gusti, maka perkembangan spiritual istrinya akan lebih berkembang bila diajari oleh sang putra sendiri. Kardama sudah paham bahwa putra tunggalnya akan jauh lebih bijak dari pada dirinya sebagai sang ayah. Setelah pernikahan sang raja kembali ke istana kerajaannya.

 

Renungan: bagaimanakah hubungan suami-istri pada umumnya?

“Pertemuan antara pria dan wanita, umumnya hanyalah pertemuan antara dua ego. Dan pertemuan antara dua ego tidak pernah bertahan lama. Selalu terjadi tarik-menarik, masing-masing ingin menguasai yang lain. Dari hubungan seperti itulah lahir ego baru dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Namun jika terjadi pertemuan agung di dalam Tuhan, maka hasilnya adalah kreativitas yang tertinggi, kesempurnaan abadi, kebahagiaan sejati.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)