Archive for keyakinan

Keraguan Berasal dari Pikiran, Keyakinan Berasal dari Jiwa

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 7, 2018 by triwidodo

Kisah Shankara Sewaktu Kecil

Kita telah membaca karya Mahaguru Shankara yang disampaikan oleh Bapak Anand Krishna yaitu:

  1. (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Indonesia: Gramedia Pustaka Utama)
  2. (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seorang Master menyampaikan kisah legenda tentang Mahaguru Shankara pada saat dia masih anak-anak. Sejak kecil Shankara telah paham kata-kata dari Veda: Matru devo bhava, Pitru devo Bhava. Ibu adalah Gusti Pangeran demikian Ayah adalah Gusti Pangeran juga.

Pada suatu hari, sang ayah berkata bahwa dia akan pergi bersama sang ibu. Sang ayah berpesan bahwa dia secara rutin melakukan ritual persembahan makanan untuk Bunda Ilahi di altar dan setelah itu membagikan sisa makanan persembahan (prasadam) kepada semua orang. Sang ayah berpesan agar Shankara melakukan hal tersebut, selama kedua orangtuanya bepergian. Shankara berjanji akan melakukan dengan sebaik-baiknya.

Shankara menuangkan susu ke dalam cangkir di altar dan berdoa kepada Bunda Ilahi, “Bunda mohon ambillah susu yang saya persembahkan ini!” meskipun Shankara sudah berdoa lama, akan tetapi Sang Bunda Ilahi tidak juga minum susu, susunya masih utuh, dan Shankara sangat kecewa. Shankara sendiri belum pernah melihat susu persembahan ayahandanya berkurang atau tidak di altar, akan tetapi dia sangat yakin, trust, terhadap pesan ayahandanya.

Shankara sangat kecewa dan kembali berdoa dari lubuk hati terdalam, bhava, “Bunda, ayah saya meminta saya mempersembahkan susu kepada Bunda, tapi Bunda tidak mau menerima persembahan. Kalau demikian, lebih baik saya mati!” Shankara pergi keluar mengambil batu besar untuk bunuh diri.

Bunda Alam Semesta sangat welas asih dan tersentuh dengan ketulusan Shankara. Dia langsung muncul di hadapan Shankara dan minum seluruh susu dalam cangkir persembahan. Shankara kecil sangat bahagia dan ingin meminum seteguk sisa susu dalam cangkir tersebut. Tapi cangkir tersebut telah kosong melompong.

Shankara bingung, nanti pada saat ayah dan ibunya datang pasti menanyakan susu sisa persembahan. Di keluarga mereka, mereka selalu mempersembahkan makanan ke altar dan baru kemudian mereka makan sisa persembahan (prasadam), makanan yang telah terberkati. Shankara berdoa, “Bunda, setidaknya beri setetes dua tetes susu bagi kedua orangtuaku.” Shankara berdoa terus tidak mau pergi sebelum cangkir susunya berisi susu walau sedikit. Bunda Alam Semesta akhirnya hadir dan memberikan air susu dari payudara Bunda sendiri. Shankara bersyukur dengan bersujud dan minum sedikit susu di cangkir.

Dikatakan itulah sebabnya Shankara memperoleh kebijaksanaan tertinggi karena minum air susu Bunda Ilahi.

 

Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava, Ibu dan Ayah Wujud Tuhan

Hormatilah ibumu sebagai Wujud Hyang Mulia, hormatilah ayahmu sebagai Wujud-Nya pula. Siapakah Tuhan itu? Ibu dan Ayah adalah Tuhan…… melupakan Sang Hyang yang berwujud dan berada dihadapanmu, dan berupaya mencari Tuhan di tempat lain tidak ada gunanya. Mereka (orangtua) senantiasa bersama kita dalam keadaan sulit, kehilangan dan duka, merekalah yang memahami dan memelihara kita. Cintailah orangtuamu lebih dahulu. Jika kau tidak mencintai orangtua, kau tidak akan pernah mendapatkan cinta sejati…Hormati orangtuamu. Layani mereka. Ketika membuat mereka bahagia, hidupmu akan selamanya bahagia.

Matru Devo Bhava, Pitru Devo Bhava, Ibu dan Ayah Wujud Tuhan: Jika kita tidak menghormati melayani kedua orang tua kita, kelak janganlah mengharapkan anak-anak kita akan mengurusi kita. Ingat Hukum Karma. Kita menuai hasil dari apa yang kita tanam.

Sumber: Sabda Sang Guru 4 Pancha Yajna Kewajiban Untuk Berbagi Bagian 2  Oleh Bapak Anand Krishna Sumber Media Hindu

Keyakinan Bersumber dari Jiwa

“Have faith, trust—yakinlah! Keraguan muncul dari pertimbangan, perhitungan, logika, dan pikiran. Sementara itu, keyakinan adalah urusan jiwa. Yakinlah bila kekuatan jiwa jauh melebihi kekuatan pikiran. Dan jangan lupa, energi yang Anda keluarkan untuk berkarya, untuk bekerja, justru memperkuat jiwa Anda, iman Anda, keyakinan Anda pada diri sendiri. Pertimbangan, penilaian, semuanya bisa salah. Akal bisa akal-akalan, bisa juga mengakali. Logika hanya menggunakan informasi yang sudah dimilikinya sebagai acuan. Keyakinan adalah dari jiwa. Dan dari keyakinan seperti itu lahir kehendak yang kuat. So, trust and will power, keyakinan dan kehendak yang kuat, dua-duanya adalah buah jiwa. Urusannya dengan akal budi di dalam diri Anda, bukan dengan akal atau akal sehat saja, yang adalah buah pikiran.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012).Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Biarlah kehendak-Nya yang terjadi!

“Hendaknya kekuatan kehendak tidak diterjemahkan sebagai kekeraskepalaan. Tujuan Anda  berkehendak kuat bukanlah untuk memenuhi keinginan Anda dan melayani kemauan ego Anda. Tidak. Tujuan Anda berkehendak kuat adalah untuk meleburkannya dalam Kehendak Gusti Pangeran. Untuk memuliakan-Nya, untuk mengagungkan-Nya. Biarlah kehendak-Nya yang terjadi!” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012).Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam buku Bhaja Govindam, Shankara menyampaikan tentang Keyakinan, Trust,

Keyakinanmu Menyelamatkanmu

Apa yang kau tahu tentang perjalanan bersama Shankara? Saat ini kau masih sibuk berjalan bersama Ahamkara, sama ego-mu.

“Kenikmatan duniawi saja yang kau kejar sepanjang hidup; di usia senja, penyakit mulai mengganggu; walau tahu yang lahir kelak pasti mati, kau tetap tidak berupaya untuk mengubah sikapmu.”

“Upaya apa Shankara? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana mengubah sikap? Aku belum capek, belum jenuh dengan dunia ini, walau kutahu pula kenikmatan yang kuperoleh selama ini semu, tak berarti. Aku belum layak duduk bersamamu, tapi janganlah mengusirku dari pekarangan rumahmu…. Apa yang harus kulakukan Guru?” ada juga murid seperti itu.

Maka Shankara pun tersenyum. Ia memeluknya, “Keyakinanmu akan menyelamatkanmu. Ketahuilah bahwa jiwamu terselamatkan sudah.”

Demi murid-murid seperti itulah seorang Shankara menggelar pesta raya di padepokannya. Ada nyanyian, tarian, macam-macam hiburan. Untuk apa? Agar panca indera kita terlibat semuanya, dan tidak lagi tergoda oleh stimulus-stimulus lain.

Ada yang mengeluh, “Koq pesta melulu?”

Daripada murung melulu! Daripada perang melulu! Dia tidak tahu apa tujuan Sang Guru dengan pesta-pesta itu. Musik Sang Guru bukanlah musik biasa. Nyanyiannya bukan nyanyian biasa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Indonesia: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Kisah Krishna dan Burung Gereja di Kurukshetra #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 11, 2017 by triwidodo

Seorang Guru bercerita tentang kejadian sehari sebelum perang Bharatayuda yang berdarah-darah sepanjang sejarah. Perang Pandava dengan Kaurava tersebut berlangsung selama 18 hari saja.

Pepohonan di sekitar medan perang ditebang sebagai kayu bakar untuk memasak makanan yang dikonsumsi selama perang berlangsung. Mereka menggunakan kawanan gajah untuk merobohkan pohon-pohon.

Adalah seekor induk burung gereja dengan 4 anak burung yang masih kecil-kecil, jatuh bersama sarangnya ketika pohon tempat dia tinggal dirobohkan.

Induk burung gereja tersebut paham dengan nalurinya, bahwa tempat tersebut mulai besok pagi akan digunakan sebagai medan perang dan anak-anaknya yang masih berada dalam sarang yang berada di tanah akan mati terinjak-injak pasukan perang. Pada saat itulah dia melihat Krishna bersam Arjuna sedang mengamati medan untuk merancang strategi perang. Sang burung gereja mendekati Sri Krishna dan mohon anak-anaknya yang terjatuh dari pohon dapat diselamatkan Krishna.

Krishna berbicara pada burung tersebut, “Saya mendengar permohonan Anda, tapi saya tidak dapat mengganggu hukum alam.”

Sang burung berkata, “ Saya tahu bahwa Gusti adalah pelindung makhluk, saya menyerahkan nasib saya dan anak-anak saya kepada Gusti!”

Krishna berkata, “Roda waktu bergerak tanpa pandang bulu!” sepertinya Sri Krishna tidak akan membantu keluarga burung tersebut, karena menghadapi perang besar yang segera terjadi.

Tetapi Sri Krishna berpesan agar burung tersebut menyimpan stok makanan selama 3 minggu dalam sarangnya.

Arjuna tidak sadar akan pembicaraan tersebut dan mengusir burung tersebut, saat Krishna tersenyum kepada burung tersebut. Burung tersebut segera kembali ke sarangnya.

Esok harinya sesaat sebelum dimulai peperangan, Krishna meminjam panah Arjuna. Arjuna bingung karena Krishna sudah berjanji tidak akan mengangkat senjata dalam perang tersebut. Krishna menenangkan Arjuna bahwa tidak akan ada yang mati oleh panahnya. Ternyata yang dibidik oleh Krishna adalah sebuah gajah dan panah tersebut meleset dan hanya mengenai lonceng besar gajah tersebut dan lonceng tersebut jatuh. Arjuna menahan ketawanya melihat hal tersebut.

Arjuna berkata, apakah dia harus memanah gajah tersebut, dan mengapa harus memanah seekor gajah. Krishna menjawab bahwa gajah itlah yang merobohkan pohon tempat burung gereja yang datang kepadanya sehari sebelumnya.

Perang Bharatayuda berjalan selama 18 hari dan kemenangan berada di pihak Pandava.  Sekali lagi Krishna mengajak Arjuna ke medan pertempuran dan melihat beberapa  gajah dan prajurit yang gugur yang belum sempat diperabukan.

Arjuna diminta mengangkat sebuah lonceng gajah dan diminta mengangkatnya. Arjuna heran mengapa Krishna tertarik dengan lonceng besar untuk gajah tersebut.

Saat Arjuna membuka lonceng gajah tersebut 4 burung kecil segera terbang diikuti oleh induknya. Arjuna langsung bersujud pada Krishna, dia teringat ucapan Sri Krishna pada burung agar menyimpan stok makanan selama 3 minggu, yang pada waktu itu aneh baginya, burung kok diajak bicara. Arjuna juga teringat Krishna yang pinjam panahnya untuk memananh lonceng gajah tersebut yang rupanya untuk menutupi sarang yang dihuni burung gereja dengan 4 anaknya.

Arjuna malu, dia baru yakin pada Krishna setelah Krishna menyampaikan Bhagavad Gita dan bahkan melihat Visvarupa. Akan tetapi sang burung gereja sudah yakin sejak dari awalnya.

 

Keyakinan terhadap Gusti Pangeran dalam Bhagavad Gita

“Keinginan-keinginan mereka terpenuhi, karena pemujaan mereka dengan penuh keyakinan. Sesungguhnya, apa pun yang mereka peroleh, semuanya berasal dari-Ku juga.”Bhagavad Gita 7:22

Lagi-lagi maknailah “Aku” Krsna sebagai Aku-Jiwa. Isa atau Isanatha pun berkata demikian, “Adalah imanmu, kepercayaanmu yang menyembuhkan!”

Suatu ketika seorang yang buta sejak lahir disentuh oleh Isa, dan saat itu juga ia sembuh dari kebutaannya. Maka, ia mengucapkan terima kasih. Dengan segala kerendahan hati, Sang Penyembuh Ilahi menjawab, “Bukan aku,” dalam pengertian bukanlah sosok fisiknya yang menyembuhkandia. “tapi adalah imanmu yang telah menyembuhkanmu.”

Iman, kepercayaan, keyakinan adalah urusan pribadi. Iman kita, kepercayaan kita, keyakinan kita, tidak bisa diurusi oleh lembaga. Bahkan tidak terdeteksi oleh orang lain. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Krishna adalah kesadaran Arjuna, kesadaran kita semua

Perbincangan ini, dialog antara Krsna dan Arjuna ini (Bhagavad Gita….Penulis kutipan), terjadi pada dua strata, dua level, dua alam.di alam benda, Krsna adalah sais kereta perang dan Arjuna adalah seorang ksatria yang duduk di belakang sais.

Dalam alam batin, Krsna adalah kesadaran Arjuna sendiri yang sedang berdialog dengan pikirannya. Dialog ini merupakan dialog transformatif. Tidak ada yang kalah atau menang dalam dialog ini. Pikiran tidak terkalahkan oleh kesadaran. Pikiran, sepenuhnya berubah menjadi kesadaran.

Kesadaran bukanlah sesuatu di luar pikiran. Kesadaran adalah benih-benih yang belum bertunas.

Sementara itu, pikiran adalah alang-alang yang seolah mencegah penunasan benih-benih itu. Sulit memang menjalankan proses ini – bagaimana pikiran kemudian bertransformasi menjadi kesadaran. Penjelasan Bhagavad Gita 9:19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Keyakinan mesti kuat

Keyakinan mesti menjadi sifat. Orang yang berkeyakinan tidak bimbang, tidak ragu. Orang yang berkeyakinan sesungguhnya meyakini diri sendiri. Ia tidak takut pada apa pun juga. Tiada sesuatu yang dapat membuatnya takut.

Keyakinan seperti itu – sebutlah, keyakinan pada diri, pada Jiwa – adalah hasil dari pengetahuan tentang Hakikat-Diri. Kemudian, keyakinan itu pula membuatnya mengenal hakikat hubungan dengan Jiwa Agung. Keyakinan seperti itu membuatnya mengenal diri lebih dalam, lebih jauh. ia melewati tahap-tahap pasca pencerahan seperti yang telah kita bahas sebelumnya.

Setelah mengetahui Kemampuan jiwa. Setelah mengetahui bila dirinya bukan badan, bukan indra, tapi Jiwa yang mengendarai kendaraan badan dan indra, maka ia langsung mengambil alih peran pikiran dan perasaan yang selama ini mengemudi kendaraan badannya.

Ia menjadi pengemudi. Ia menjadi pengendali indra. Dan, dengan pengendalian indra, ia memperoleh kedamaian abadi, kebahagiaan sejati. Perjalanan hidup menjadi menyenangkan. Tiada lagi kecelakaan-kecelakaan yang disebabkan oleh sifat ugal-ugalan mind – gugusan pikiran dan perasaan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:39 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia