Archive for kutukan

Krishna Kecil: Vidyadhara, Makna Kutukan dan Hukum Sebab Akibat #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 9, 2017 by triwidodo

Uang, materi, dan pikiran menurut Buddha, yang terjaga, adalah “benda”. Dan, seperti benda lainnya, memiliki awal dan akhir. Semua itu hanya temporer, sementara. Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kenikmatan pun tidaklah abadi. Lalu, kita pun kecewa. Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan indrawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Pada suatu hari, para gembala dari Brindavan di bawah pimpinan Nanda pergi ke tempat yang dikenal sebagai “Ambikavanam.” Setelah mandi di sungai Sarasvati mereka menghabiskan malam itu di tepi sungai, dengan doa dan puasa. Tiba-tiba sebuah ular sanca besar muncul dan menelan Nanda.

Mendengar teriakan Nanda, para gembala berupaya untuk menyelamatkan Nanda dengan obor untuk membakar ular tersebut. Namun, ular sanca tersebut tidak juga melepaskan Nanda. Krishna kemudian datang dan menyentuh sanca dengan kakinya. Ular sanca tersebut lenyap dan berubah menjadi Vidyadhara yang menakjubkan. Ketika ditanya oleh Krishna, dia berkata, “Hamba adalah Vidyadhara bernama Sudarsana. Hamba diberkahi dengan kekayaan yang besar dan keindahan wujud dan dapat terbang di udara ke seluruh dunia. Karena sangat bangga dengan keindahan wujud yang dikaruniakan kepada hamba, maka hamba menjadi sangat angkuh. Pada suatu hari hamba menertawakan beberapa orang bijak dari keluarga Angirasa yang terlihat jelek. Mereka kemudian mengutuk hamba, bahwa hamba akan lahir sebagai ular sanca. Hamba kemudian memohon maaf atas kesalahan yang diperbuat, dan mereka berkata bahwa hamba akan dibersihkan dari kutukan setelah disentuh oleh kaki Gusti Narayana. Ternyata keluarga Angirasa tidak mengutuk hamba, akan tetapi memberi berkah. Makhluk manakah yang pernah disentuh kaki Gusti Narayana?” Sang Vidyadhara kemudian bersujud di kaki Krishna dan lenyap dari pandangan.

Ada pelajaran berharga dari kisah ini. Apa yang disebut kutukan dalam Purana benar-benar merupakan berkah ketika disampaikan oleh orang bijak yang penuh belas kasih dan bahkan tidak ingin menyakiti siapa pun, apalagi menimbulkan hukuman. Mereka berada di luar pujian dan cemoohan dan tidak sedikit pun dipengaruhi atau terpengaruh oleh pujian. Apa pun yang mereka lakukan adalah selalu untuk kebaikan orang lain. Jika kita menganalisis kutukan dalam Purana, kita akan menemukan bahwa ada dua kategori :

  1. Meskipun secara lahiriah menjadi kutukan, para bijak benar-benar memberkati orang yang bersangkutan dengan menempatkan dia dalam keadaan di mana ia mampu membebaskan dirinya dari cacat dalam karakternya yang merupakan hambatan di jalan kemajuan rohaninya. Ini bisa dibandingkan dengan tindakan seorang ahli bedah yang menggunakan pisau bedah pada pasien dengan niat mulia untuk menyembuhkan dirinya dari penyakitnya. Sebagai contoh, kutukan Sanathkumara pada Jaya dan Vijaya, kutukan Rishi Agasthya pada Raja Indradyumna yang menjadi gajah Gajendra, dan kutukan Rishi Narada pada Nalakubera dan Manigriva.
  2. Mereka yang hanya menekankan fakta bahwa kelahiran berikutnya seseorang akan sesuai dengan pikiran dan tindakan dalam kelahiran ini.

 

Vidyadhara Sudarsana telah menjadi sangat sombong karena anugerah ketampanannya. Keangkuhan adalah yang terbesar dari semua hambatan dalam kemajuan spiritual. Oleh karena itu, seorang bijak merampas penyebab kesombongannya, yaitu ketampanan dan membuatnya mengambil bentuk yang sangat menjijikkan dari ular sanca. Hal ini ternyata menjadi berkah karena ia mendapat sentuhan kaki Tuhan. Tidak hanya dia kemudian mendapatkan suatu bentuk yang bahkan lebih megah daripada bentuk aslinya, tetapi ia juga menyadari bahwa apa yang telah dilakukan dalam keangkuhannya adalah kesalahan besar. Dengan demikian, ia menjadi bebas dari keangkuhan sehingga mendapat kemajuan spiritual.

Kutukan diucapkan oleh orang bijak kepada Sudarsana, juga dapat masuk ke dalam kategori kedua. Karena Vidyadhara begitu bangga dengan ketampanannya dan dia merendahkan orang lain yang tidak mendapat berkah ketampanan, maka dia akan kehilangan ketampanan dalam kelahiran berikutnya. Inilah yang terjadi padanya kala ia lahir kembali sebagai ular sanca. Kutukan hanya mengulangi apa yang akan terjadi. Bahkan tanpa kutukan pun hal itu akan terjadi. Pelanggaran yang dilakukan tidak harus menentang orang bijak yang memiliki kekuatan untuk mengutuk. Suatu pelanggaran bahkan terhadap orang-orang biasa akan menyebabkan hasil yang sama, dalam kelahiran berikutnya.

Pelajaran disampaikan oleh kisah ini adalah bahwa seseorang tidak boleh bangga dengan kekayaan, silsilah, penampilan, kecerdasan atau prestasi lainnya dan memandang rendah orang lain yang tidak begitu beruntung. Setiap orang harus ingat bahwa apa yang telah diperoleh pada  kelahiran ini belum tentu sama dalam kelahiran berikutnya. Pikiran dan tindakan dalam kelahiran ini akan menentukan apa yang dialami dalam kelahiran berikutnya. Jika seseorang yang kaya menjadi sombong dan memperlakukan orang miskin dengan penghinaan atau menggunakan kekayaannya untuk melakukan menyakiti orang lain, ia dapat terlahir sebagai pengemis di kelahiran berikutnya. Tidak ada jaminan bahwa seseorang yang kaya dalam kelahiran ini akan tetap demikian di masa depan, apalagi di kelahiran berikutnya. Jika ia menggunakan kekayaannya untuk tujuan yang baik ia mungkin memiliki nasib baik menjadi kaya di kelahiran berikutnya juga. Ini adalah arti sebenarnya dari ungkapan terkenal bahwa tidak ada yang dapat membawa kekayaannya kala seseorang meninggal. Logika yang sama berlaku juga untuk semua anugerah. Seseorang harus menjadi rendah hati  dan menggunakan anugerahnya untuk tujuan yang baik. Kita harus ingat bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah sementara. Jika pemikiran ini selalu diingat, seseorang tidak akan pernah menyimpang dari jalan yang benar. Ini adalah pelajaran yang kita dapat tarik dari kisah ini.

 

Ada hukum alam yang bekerja dengan rapi sekali. Yang mencela akan dicela.Yang menghujat akan dihujat. Yang menindas akan tertindas. Yang menzalimi akan dizalimi. Inilah Hukum Sebab-Akibat. Dalam fisika dikenal dengan sebutan Hukum Aksi-Reaksi. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi. Dan Anda tidak dapat menghindarinya. Karena itu, mereka yang sedang berbuat baik sesungguhnya tidak perlu mengharap imbalan. Tidak perlu membuang energi memikirkan hasil. Imbalan akan datang sendiri. Hasil akan terlihat sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)