Archive for maitreya

Lahir Kembali Selama Masih Ada Makhluk yang Menderita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 1, 2018 by triwidodo

Ada cerita dalam kehidupan Buddha: Ketika Buddha mencapai Nirvana dan penjaga membuka pintu, Buddha membalikkan punggungnya dari pintu Nirvana. Dia berkata, “Saya tidak akan masuk sampai setiap orang dibebaskan. Ketika orang terakhir masuk, saya akan mengikuti di belakangnya.”

Ini adalah kisah yang indah. Di dunia ini ada dua tipe orang yang menyadari diri, dan semua agama telah mengenal kedua jenis ini. Pertama: seseorang mencapai realisasi diri dan menjadi satu dengan kehampaan; Kedua seseorang telah mencapai realisasi diri tetapi masih tetap ada untuk membantu orang lain.

Tipe pertama dari orang yang tercerahkan disebut kaivalya, dia yang telah mengetahui kesendirian terakhir, oleh para pengikut Jaina. Ada begitu banyak kaivalya yang telah mencapai pencerahan dan telah menghilang ke dalam kehampaan. Mereka telah mencapai tujuan mereka. Mereka masuk dan tidak menunggu di depan pintu.

Jaina telah menyebutkan dua puluh empat jiwa yang tercerahkan ini, “tirthankaras”. Dua puluh empat orang ini menunggu di depan pintu. Mereka adalah orang-orang yang membimbing orang lain, yang membuka jalan bagi mereka. Umat ​​Buddha juga mengakui kedua tipe ini. Yang pertama adalah arhat, yang mencapai realisasi diri dan bergabung ke dalam kehampaan; yang lainnya adalah bodhisattva, yang menunggu orang lain.

Jadi ada dua jenis jiwa yang disadari. Ketika Anda juga mencapai keadaan terakhir ini, jika keinginan untuk membantu orang lain – karena dorongan untuk membantu orang lain juga merupakan keinginan – tetap berada di dalam diri Anda, Anda akan menunggu. Jika tidak, Anda akan bergabung dengan kekosongan. Inilah sebabnya mengapa guru sejati mencoba mengembangkan murid-muridnya yang memiliki kapasitas terbesar untuk welas asih ke bodhisattva. Dikisahkan oleh Osho

Selama masih ada satu makhluk menderita, Aku akan Lahir Lagi

Keinginan para Yogi yang sudah tidak terikat dengan alam benda berbeda dari keinginan kita.

Mereka ingin “berbagi” – Mereka ingin berbagi kesadaaran, berbagi kasih. Mereka ingin melayani! Seperti inilah keinginan para Vivekananda dan para Bodhisattva seperti Avalokiteshvara, “Selama masih ada satu pun Jiwa, satu pun makhluk yang menderita karena ketidaksadarannya, maka aku akan lahir lagi dan lagi, berulang kali, untuk melayaninya.”

Keinginan yang sangat mulia. Sesungguhnya, dunia ini masih eksis karena kebaikan hati mereka. kebaikan hati mereka – walau berjumlah sedikit – jauh lebih “berat” dari segudang kebatilan kita. Kebatilan diri kita larut dalam kasih mereka, dalam kebaikan mereka. Demikian, roda dharma, roda kebajikan berputar karena welas-asih mereka. Penjelasan Bhagavad Gita 6:42 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Buddha Yang Menunda Masuk Nirvana

Cina memiliki latar belakang budaya yang sangat tinggi, sangat indah. Seorang Buddha yang menunda masuk ke alam Nirvana digambarkan sebagai Mi-Le, atau Maitreya—Mitra Dunia, Sahabat, Teman Alam Semesta. Ia berbadan besar. Perutnya buncit, keluar. Perut buncit ini sangat bermakna—yang berarti bahwa apabila sedang ketawa, ia ketawa sepenuhnya, dari perut. Kita tidak selalu demikian. Ketawa kita pun sering kali palsu. Tawa kita tidak keluar dari perut, tidak sepenuhnya.

Dengan tangannya yang satu, ia memegang botol arak. Mabuknya lain dari mabuk kita. Arak pengalaman hidup yang ia miliki memang memabukkan—mabuk kesadaran. Tangan yang satu lagi memegang tongkat dan segala sesuatu yang ia rniliki dibungkus dan diikat pada tongkat itu. Kepemilikan dia sangat minim. Ia tidak perlu lemari, tidak perlu brankas untuk menyirnpannya. Untuk mempertahankan kehidupan ini, tentu ada beberapa hal pokok yang masih harus kita miliki. Seorang Buddha Maitreya pun masih harus memiliki beberapa bahan pokok, demi kelangsungan’ hidup. Apalagi Ia telah memilih untuk berada kembali di Pasar Dunia. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan selama dalam pelawatannya. Ia siap untuk itu. Ia telah mernbekali clirinya.

Anda akan berjumpa dengan dia ,di tengah-tengah keramaian dunia. Mungkin Ia sedang makan hamburger di McDonald’s atau sedang nonton film Titanic. Ia tidak akan menjauhkan diri dari keramaian. Keberadaan—Nya di tengah keramaian dunia merupakan anugerah, kurnia, blessing.

Siapa pun yang bertemu dengannya akan ikut memperoleh pencerahan. Ia menyebarkan virus kesadaran. Kehadiran Dia dalam hidup Anda akan membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalarn diri Anda. Ia tidak melakukan sesuatu. Ia tidak perlu menunjukkan mukjizat. Keberadaan Dia merupakan mukjizat. Hanya melihat Dia saja sudah cukup, Anda akan tersentuh oleh Kasih-Nya.

Seorang Maitreya adalah seorang Avalokiteshvara—Ia yang mendengar jeritan kita. Ia menunda Nirvana demi kita, demi saya dan demi Anda. Keberadaan Dia di tengah Anda merupakan suatu kejadian yang langka, amat sangat langka. Bukan sesuatu yang dapat terulang lagi setiap saat. Apabila Anda bertemu dengan seorang Maitreya, dengan seorang Avalokiteshvara, dengan seorang Mitra Alam Semesta, dengan seseorang Yang Mendengarkan Jeritan Makhluk-Makhluk Hidup, berbahagialah, bergembira-rialah! Sentuhan kasih Dia, senyuman Dia dapat mengantar Anda ke Puncak Bukit Kesadaran Murni. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hinayana Mahayana dan Vajrayana

Ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan. Ya, hanya tiga prinsip, yaitu :

Pertama : Kesadaran. Dan yang bisa menghasilkan kesadaran hanyalah “meditasi”. Meditasi berarti “mengurus diri”. Sebelum diri sendiri terurus, jangan mengurus orang lain. Dalam ajaran Sang Buddha, prinsip ini disebut Hinayana sesuatu yang mendasar sekali. Secara harfiah, Hinayana berarti “wahana kecil”. Dalam hal ini, harus diartikan sebagai “langkah awal”, yang paling utama.

Kedua : Kasih Sayang. Setelah melampaui mind lewat meditasi, baru berbagai rasa. Kasih sayang merupakan buah meditasi. Tanpa meditasi, kasih sayang tidak akan pernah tumbuh. Tanpa meditasi, yang tumbuh hanyalah napsu birahi, paling banter cinta. Kasih tidak akan pernah tumbuh. Seorang yang belum meditatif, belum kenal kasih. Ini yang disebut Mahayana kesadaran yang meluas. Secara harfiah, Mahayana berarti “wahana besar”. Saya mengartikannya sebagai “langkah yang lebih besar”.

Ketiga : Kebijakan. Dengan hati yang mengasihi, kita menjadi bijak dengan sendirinya. Sentuhan kasih membebaskan anda dari rasa benci, dengki dan iri. Ini yang disebut Vajrayana puncak kesadaran. Secara harfiah, Vajrayana berarti “wahana yang kukuh”, kukuh bagaikan senjata “Vajra”, dahsyat bagaikan petir. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Mengapa Guru Melayani Orang yang Belum Sadar

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 5, 2018 by triwidodo

Dikisahkan ada seorang Guru yang sedang mengadakan retret selama beberapa minggu dan para murid dari berbagai daerah datang mengikuti acara retret tersebut.

Dalam acara retret tersebut seorang murid tertangkap basah mencuri. Beberapa murid kemudian lapor kepada sang guru akan tetapi sang guru mendiamkan kasus tersebut.

Selang beberapa hari sang murid tersebut tertangkap basah melakukan hal yang sama, dan sekali lagi sang guru mengabaikan permintaan para murid untuk mengeluarkan sang pencuri. Para murid berencana akan protes akan kebijakan Sang Guru, akan tetapi salah seorang pengurus padepokan menenangkan mereka. Pengurus tersebut menyampaikan bahwa mereka semua sedang berguru, kalau mereka tidak percaya kepada kebijakan guru, mengapa mereka masih saja bertahan. Mereka telah yakin pada kebijakan Guru, oleh karena itu semua diminta menunggu penjelasan beliau.

Sore itu sang guru mengumpulkan semua murid, dan menyampaikan penjelasan, “Kalian semua adalah para murid yang bijaksana. Kalian sudah tahu mana yang benar maupun mana yang salah. Keluar dari padepokan ini kalian semua akan mempraktekkan pelajaran yang kalian peroleh dan masyarakat akan bersyukur karena kehadiran kalian. Akan tetapi saudara kalian, murid yang miskin ini bahkan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Siapa yang akan mengajari dia? Aku bahkan akan menahan dia di sini walau kalian semua akan pergi meninggalkan padepokan.

Air mata murid yang menjadi pencuri, mengalir deras, dalam hati sudah menancapkan tekad “aku tidak akan mencuri, aku akan belajar dengan tekun………….”

Melihat si pencuri menangis, semua murid maklum akan kebijakan Sang Guru. Mereka, para murid hanya menunjukkan dan tidak senang siapa yang salah, akan tetapi sang guru mengajari, memberi solusi agar tidak lagi berbuat salah. Guru ingin semua murid yang sudah komitmen belajar tidak berbuat salah…..

Para murid ingat kisah Sang Guru tentang Avalokiteshvara, yang dikenal di China sebagai Dewi Quan Yin, yang menunda ke Nirvana selama masih ada makhluk yang menderita, yang melakukan kesalahan…….. 

Kita semua telah melakukan kesalahan, kalau tidak melakukan kesalahan kita sudah tidak lahir kembali. Kita semua memperoleh berkah karena ada Orang Bijak yang berkenan lahir kembali memandu kita semua……… Kita juga harus membantu Guru melayani mereka yang belum sadar.

Berbagi kesadaran, berbagi kasih

Keinginan para Yogi yang sudah tidak terikat dengan alam benda berbeda dari keinginan kita. Mereka ingin “berbagi” – Mereka ingin berbagi kesadaran, berbagi kasih. Mereka ingin melayani! Seperti inilah keinginan para Vivekananda dan para Bodhisattva seperti Avalokiteshvara, “Selama masih ada satu pun Jiwa, satu pun makhluk yang menderita karena ketidaksadarannya, maka aku akan lahir lagi dan lagi, berulang kali, untuk melayaninya.”

Keinginan yang sangat mulia. Sesungguhnya, dunia ini masih eksis karena kebaikan hati mereka. kebaikan hati mereka – walau berjumlah sedikit – jauh lebih “berat” dari segudang kebatilan kita. Kebatilan diri kita larut dalam kasih mereka, dalam kebaikan mereka. Demikian, roda dharma, roda kebajikan berputar karena welas-asih mereka. Penjelasan Bhagavad Gita 6:42 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bertemu dengan Buddha Maitreya, Avalokiteshvara

Seorang Buddha Maitreya pun masih harus memiliki beberapa bahan pokok, demi kelangsungan hidup. Apalagi Ia telah memilih untuk berada kembali di Pasar Dunia. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan selama dalam pelawatannya. Ia siap untuk itu. Ia telah membekali dirinya.

Anda akan berjumpa dengan dia ,di tengah-tengah keramaian dunia. Mungkin Ia sedang makan hamburger di McDonald’s atau sedang nonton film Titanic. Ia tidak akan menjauhkan diri dari keramaian. Keberadaan-Nya di tengah keramaian dunia merupakan anugerah, kurnia, blessing.

Siapa pun yang bertemu dengannya akan ikut memperoleh pencerahan. Ia menyebarkan virus kesadaran. Kehadiran Dia dalam hidup Anda akan membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri Anda. Ia tidak melakukan sesuatu. Ia tidak perlu menunjukkan mukjizat. Keberadaan Dia merupakan mukjizat. Hanya melihat Dia saja sudah cukup, Anda akan tersentuh oleh Kasih-Nya.

Seorang Maitreya adalah seorang Avalokiteshvara—Ia yang mendengar jeritan kita. Ia menunda Nirvana demi kita, demi saya dan demi Anda. Keberadaan Dia di tengah Anda merupakan suatu kejadian yang langka, amat sangat langka. Bukan sesuatu yang dapat terulang lagi setiap saat. Apabila Anda bertemu dengan seorang Maitreya, dengan seorang Avalokiteshvara, dengan seorang Mitra Alam Semesta, dengan seseorang Yang Mendengarkan Jeritan Makhluk-Makhluk Hidup, berbahagialah, bergembira-rialah! Sentuhan kasih Dia, senyuman Dia dapat mengantar Anda ke Puncak Bukit Kesadaran Murni.

Ada yang menanyakan, bagaimana kita bisa mengenali seorang Maitreya, seorang Buddha, seorang Avalokiteshvara, seorang Kristus, seorang Nabi? Ia mengutip saya, “Menurut Pak Krishna sendiri, Dia mungkin sedang makan burger di McDonald’s, mungkin sedang nonton film Titanic. Ia begitu sederhana. Kalau begitu, kan sulit sekali mengenalinya?!”

Ada satu cara—cara yang paling gampang—atau mungkin satu-satunya cara: Bersihkan kerak dan karat jiwamu—apabila jiwamu tidak berkarat, apabila hatimu bersih, kau tidak perlu mencari-Nya. Ia akan menarik kamu. Ia bagaikan magnet. Ia bisa menarik kamu. Syaratnya hanya saru: bersihkan kotoran yang menutupi jiwamu, hatimu.

Dan untuk membersihkan jiwa itu, tidak terlalu banyak yang harus kau kerjakan. Membersihkan jiwa dalam konteks ini hanya berarti menjadi reseptif. Membersihkan hati berarti membuka diri. Lepaskan prasangka, praduga dan kebimbanganmu. Ia akan menarik kamu. Nuranimu akan mengenali-Nya. Jangan meragukan hal ini. Yakinilah suara hati nurani sendiri.

Seorang Maitreya tidak takut dengan hiruk-piruknya dunia. Ia telah memilih untuk kembali mengunjungi pasar dunia. Ia tidak akan melarikan diri. Keedanan dunia ini tidak bisa mempengaruhi kewarasan-Nya. Dunia akan menganggap—Nya edan, tetapi Ia tidak peduli.

Bukalah dirimu, jiwamu—jadilah reseptif, terbuka—mungkin saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang Maitreya, seorang Mitra Dunia! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Maitreya, Mitra Dunia Menunda Masuk Nirvana Kembali Ke Pasar Dunia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on August 25, 2016 by triwidodo

1 Buddha Ketawa

“Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Haruskah Anda duduk diam atau menyendiri? Tidak, Anda kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang Anda bahagia, Anda menikmati perjalanan hidup. Dan siapa pun yang bertemu dengan Anda, ikut merasa bahagia, ikut menikmati kehidupan.”

Dalam buku (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan urut-urutan Melangkah dalam Zen:

  1. Mencari Sapi yang Hilang
  2. Menemukan Jejak Sapi
  3. Melihat Ekor Sapi
  4. Menjinakkan Sapi
  5. Terjinakkannya Sapi
  6. Pulang ke Rumah
  7. Menikmati Ketenangan
  8. Keheningan
  9. Kembali ke Sumber
  10. Mengunjungi Pasar Dunia

Silakan search google: gita kehidupan sepasang pejalan renungan zen

Seseorang yang telah mencapai langkah ke-10, Mengunjungi Pasar Dunia digambarkan berbadan besar. Perutnya buncit, keluar. Dengan tangannya yang satu, ia memegang botol arak. Tangan yang satu lagi memegang tongkat dan segala sesuatu yang ia miliki dibungkus dan diikat pada tongkat tersebut.

Silakan simak penjelasan Bapak Anand Krishna dalam buku Zen Bagi Orang Modern berikut:

Setelah pikiran terkendalikan, setelah kasunyatan tercapai, setelah keheningan diperoleh, lantas apa? Haruskah Anda duduk diam atau menyendiri? Tidak, Anda kembali lagi ke dunia, ke pasar dunia ini. Sekarang Anda bahagia, Anda menikmati perjalanan hidup. Dan siapa pun yang bertemu dengan Anda, ikut merasa bahagia, ikut menikmati kehidupan.

Ia yang telah mencapai ke-Buddha-an, ia yang sudah mencapai kesadaran murni, tidak digambarkan sebagai seorang pendeta atau pastor atau ulama yang berparas muka serius. Justru sebaliknya, seorang Buddha, seorang Kristus, seorang Nabi adalah pribadi-pribadi yang murah senyum. Apabila sedang ketawa, ia akan ketawa sepenuhnya, terbahak-bahak.

Cina memiliki latar belakang budaya yang sangat tinggi, sangat indah. Seorang Buddha yang menunda masuk ke alam Nirvana digambarkan sebagai Mi Le, atau Maitreya—Mitra Dunia, Sahabat, Teman Alam Semesta. Ia berbadan besar. Perutnya buncit, keluar. Perut buncit ini sangat bermakna—yang berarti bahwa apabila sedang ketawa, ia ketawa sepenuhnya, dari perut. Kita tidak selalu demikian. Ketawa kita pun sering kali palsu. Tawa kita tidak keluar dari perut, tidak sepenuhnya.

Dengan tangannya yang satu, ia memegang botol arak. Mabuknya lain dari mabuk kita. Arak pengalaman hidup yang ia miliki memang memabukkan—mabuk kesadaran. Tangan yang satu lagi memegang tongkat dan segala sesuatu yang ia miliki dibungkus dan diikat pada tongkat itu. Kepemilikan dia sangat minim. Ia tidak perlu lemari, tidak perlu brankas untuk menyimpannya. Untuk mempertahankan kehidupan ini, tentu ada beberapa hal pokok yang masih harus kita miliki. Seorang Buddha Maitreya pun masih harus memiliki beberapa bahan pokok, demi kelangsungan hidup. Apalagi Ia telah memilih untuk berada kembali di Pasar Dunia. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan selama dalam pelawatannya. Ia siap untuk itu. Ia telah membekali dirinya.

Anda akan berjumpa dengan dia ,di tengah-tengah keramaian dunia. Mungkin Ia sedang makan hamburger di McDonald’s atau sedang nonton film Titanic. Ia tidak akan menjauhkan diri dari keramaian. Keberadaan—Nya di tengah keramaian dunia merupakan anugerah, kurnia, blessing.

Siapa pun yang bertemu dengannya akan ikut memperoleh pencerahan. Ia menyebarkan virus kesadaran. Kehadiran Dia dalam hidup Anda akan membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri Anda. Ia tidak melakukan sesuatu. Ia tidak perlu menunjukkan mukjizat. Keberadaan Dia merupakan mukjizat. Hanya melihat Dia saja sudah cukup, Anda akan tersentuh oleh Kasih-Nya.

Seorang Maitreya adalah seorang Avalokiteshvara—Ia yang mendengar jeritan kita. Ia menunda Nirvana demi kita, demi saya dan demi Anda. Keberadaan Dia di tengah Anda merupakan suatu kejadian yang langka, amat sangat langka. Bukan sesuatu yang dapat terulang lagi setiap saat. Apabila Anda bertemu dengan seorang Maitreya, dengan seorang Avalokiteshvara, dengan seorang Mitra Alam Semesta, dengan seseorang Yang Mendengarkan Jeritan Makhluk-Makhluk Hidup, berbahagialah, bergembira-rialah! Sentuhan kasih Dia, senyuman Dia dapat mengantar Anda ke Puncak Bukit Kesadaran Murni.

Ada yang menanyakan, bagaimana kita bisa mengenali seorang Maitreya, seorang Buddha, seorang Avalokiteshvara, seorang Kristus, seorang Nabi? Ia mengutip saya, “Menurut Pak Krishna sendiri, Dia mungkin sedang makan burger di McDonald’s, mungkin sedang nonton film Titanic. Ia begitu sederhana. Kalau begitu, kan sulit sekali mengenalinya?!”

Ada satu cara—cara yang paling gampang—atau mungkin satu-satunya cara: Bersihkan kerak dan karat jiwamu—apabila jiwamu tidak berkarat, apabila hatimu bersih, kau tidak perlu mencari-Nya. Ia akan menarik kamu. Ia bagaikan magnet. Ia bisa menarik kamu. Syaratnya hanya saru: bersihkan kotoran yang menutupi jiwamu, hatimu.

Dan untuk membersihkan jiwa itu, tidak terlalu banyak yang harus kau kerjakan. Membersihkan jiwa dalam konteks ini hanya berarti menjadi reseptif. Membersihkan hati berarti membuka diri. Lepaskan prasangka, praduga dan kebimbanganmu. Ia akan menarik kamu. Nuranimu akan mengenali-Nya. Jangan meragukan hal ini. Yakinilah suara hati nurani sendiri.

Seorang Maitreya tidak takut dengan hiruk-piruknya dunia. Ia telah memilih untuk kembali mengunjungi pasar dunia. Ia tidak akan melarikan diri. Keedanan dunia ini tidak bisa mempengaruhi kewarasan-Nya. Dunia akan menganggap-Nya edan, tetapi Ia tidak peduli.

Bukalah dirimu, jiwamu—jadilah reseptif, terbuka—mungkin saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang Maitreya, seorang Mitra Dunia!

Foto Mi Le, Maitreya di Dworowati Solo

Kisah Bodhisattva: Kekuatan Dahsyat Rasa Bersahabat

Posted in Relief Candi with tags , , on November 14, 2013 by triwidodo

borobudur maitribala jpg sumber www himalayanart org

Ilustrasi Raja Maitribala dan 5 Yaksha sumber www himalayanart org

Rasa Bersahabat

“Dalam bahasa Sanskerta, Maitri berarti ‘persahabatan’. Bahkan mungkin lebih dari sekadar persahabatan, tetapi sense of frienship. Dan bila ‘persahabatan’ menjadi sifat seseorang, orang itu disebut Maitreya. Seorang Bhakta adalah seorang Maitreya. Dia bersahabat dengan setiap orang dengan setiap makhluk. Dengan pepohonan dan bebatuan. Dengan sungai dan angin. Dengan  bumi dan langit. Dengan dunia dan akhirat. Itu sebabnya dia tidak pernah mencemari lingkungan, tidak akan merampas hak orang. Tidak percaya pada aksi teror, intimidasi, dan anarki. Seorang Maitreya siap berkorban demi keselamatan orang lain, karena baginya yang lain itu tidak ada. Dia melihat Tuhan di mana-mana.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan Bodhisattva lahir sebagai Maitribala, yang mempunyai kekuatan berdasar rasa persahabatan. Sang raja merasakan penderitaan semua rakyatnya dan memahami keinginan rakyatnya. Negara lain juga menghormatinya karena sang raja bersikap sebagai sahabat. Para pelaku kejahatan ditahan agar tidak mengganggu masyarakat dan dibina agar mempunyai karakter yang baik dan bisa kembali bermasyarakat.

Lima Yaksha Bertemu Penggembala

“Karma berarti ‘karya, tindakan’, dan setiap tindakan akan membawa hasil. Setiap aksi ada reaksinya. Itulah Hukum Karma. Hukum Karma ini yang menentukan pola hidup kita. Kita menanam biji buah asem, jangan harapkan pohon apel. Apa yang Anda tanam, itu pula yang Anda peroleh sebagai hasil akhirnya. Oleh karena itu, bertindaklah dengan bijak.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu ketika, lima yaksha jahat, makhluk yang suka mengganggu manusia, diusir oleh Dewa Kubera dan masuk ke kerajaan yang dipimpin oleh Raja Maitribala. Mereka bertekad mengganggu masyarakat, akan tetapi mereka heran karena kekuatan mereka pudar di negeri tersebut. Dengan menyamar sebagai brahmana, mereka menanyakan kepada seorang penggembala mengapa dia sendirian berani menggembala hewan. Apakah dia tidak takut terhadap raksasa dan yaksha yang suka makan daging manusia? Sang penggembala dengan bangga menyampaikan bahwa negeri tersebut dilindungi oleh kekuatan pelindung yang memancar dari raja yang saleh yang bersahabat dengan semua makhluk.

Sang penggembala berkata bahwa dia hanya mendengar kisah yaksha atau raksasa yang membunuh dan makan manusia, karena dia belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri. Sang pengembala balik bertanya kepada para brahmana, apakah para yaksha dan raksasa belum tahu hukum karma bahwa yang membunuh akan dibunuh? Sang penggembala berkata bahwa dia makan daging dalam kondisi tak ada pilihan makanan lainnya, karena apa yang dimakan akan menjadi tubuh, darah dan otak? Kalau hewan atau manusia yang dibunuh yaksha merasakan cemas sebelum mati dibunuh, maka kecemasan itu juga akan masuk ke dalam diri bersama daging yang dimakannya.

Penasaran dengan Pemahaman Sang Penggembala,

Para brahmana tersebut mendebat, bukankah banyak orang makan daging? Apakah orang tersebut akan dibunuh berkali-kali oleh hewan-hewan yang dimakannya? Kalau orang tersebut tidak dibunuh berkali-kali bukankah alam ini tidak adil? Sang penggembala menjawab, karena orang tersebut makan daging atau membunuh secara tidak langsung, maka orang itu pun akan dibunuh secara tidak langsung melalui penyakit.

“Sia-sialah harapanmu, bila kau mendambakan keadilan bagi setiap kasus dalam hidup. Kau harus melihat hidup secara utuh, sebagai satu kesatuan dan kalau begitu sungguh adil hidup ini. Karena kita telah membunuh 6000 ekor ayam semasa hidup kita, ditambah lagi dengan sekian kerbau, sapi, kambing, udang, kepiting, dan ikan, tidak berarti setiap hewan akan menyerang kita kembali, dan kita harus mati sekian kali. Tidak demikian. Yang menjadi persoalan adalah ‘pembunuhan’ itu sendiri. Hewan-hewan yang kita sembelih itu tak akan membunuh kita satu persatu. Mereka menyerang kita lewat sekian banyak virus, kuman yang kemudian menyebabkan kematian kita. Alam sungguh adil. Kita membunuh, kita terbunuh. Kematian yang kita anggap alami sesungguhnya tidak alami. Kita mendapatkan hukuman atas serangkaian pembunuhan yang kita lakukan semasa hidup. Ini baru ‘satu’ contoh. Masih banyak contoh-contoh lain.” (Krishna, Anand. (2003). Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan. Jakarta: Gramedia Pustaka)

Para brahmana bertanya apakah pengetahuan yang disampaikan sang penggembala tersebut juga berasal dari sang raja? Dan sang penggembala mengiyakan, sang penggembala mengatakan bahwa sang raja sering berbicara di depan umum dan dia ikut mendengarkan.

Lima Yaksha Menuju Istana Raja

“Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih ‘yang memuliakan’. Mereka yang tidak bijak memilih ‘yang menyenangkan’ karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kelima yaksha jahat tersebut semakin penasaran dan segera berangkat ke istana untuk membuat masalah. Mereka memilih membuat masalah demi kesenangan diri mereka sendiri, dan ingin menjatuhkan kewibawaan sang raja. Mereka semua menyamar sebagai brahmana lagi dan datang ke istana mendekati sang raja yang tengah menemui pemuka masyarakat. Mereka bilang pada sang raja bahwa mereka sangat lapar dan haus serta mohon disediakan makanan dan minuman. Sang raja segera menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi kelima brahmana tersebut.

Ketika hidangan telah disajikan, para yaksha tersebut berseru bahwa mereka tidak bisa makan hidangan yang disajikan. Ketika sang raja menanyakan hidangan apa yang mereka inginkan. Para yaksha tersebut segera mengubah kembali ke wujud aslinya dan berkata bahwa mereka perlu makan daging mentah manusia dan darah segar. Mereka berkata bahwa mereka telah memegang kata-kata sang raja yang akan melayani makanan dan minuman mereka.

Sang raja berpikir keras, dia mempunyai rasa bersahabat dengan semua makhluk. Dia tidak dapat menolak permintaan para tamu yang kelaparan, tidak elok menarik kata-kata yang telah diucapkan kepada para sahabat. Akan tetapi dia juga tidak dapat mengorbankan rakyatnya menjadi santapan para yaksha, dia tidak mungkin pula mengorbankan para sahabatnya sebagai makanan para yaksha.

Sang raja sampai pada kesimpulan untuk memberikan darah dan daging dari tubuhnya sediri. Para tabib dipanggil dan para tabib mohon kepada sang raja untuk tidak mengabulkan permohonan para yaksha karena akan membahayakan nyawa sang raja sendiri. Bumi mulai bergetar karena kesedihan menyaksikan raja yang rela mengorbankan dirinya.

Memberikan Darah dan Dagingnya Sendiri kepada Para Yaksha

“Dharma selalu mempersatukan. Sesuatu yang menjadi alasan bagi perpecahan, sesuatu yang memisahkan manusia dari sesama manusia – bukanlah Dharma. Dharma, sekali lagi, bukanlah sesuatu yang ‘baik’ dalam pengertian sederhana kita. Dharma tidak selalu ‘menyenangkan’ sebagaimana kita mengartikan kata ‘kesenangan’. Ia adalah ketepatan. Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, ‘Ada yang menyenangkan atau Preya, dan ada yang memuliakan atau ‘Shreya’. Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit – akhirnya manis. Dharma adalah sesuatu yang memuliakan.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Sang raja berkata kepada para tabibnya, “Mereka telah datang kepadaku dalam keadaan lapar dan haus, dan sebagai sahabat aku telah berjanji mempersiapkan makanan dan minuman bagi mereka. Ternyata mereka minta minum darah segar dan makanan daging segar manusia. Tidak mungkin aku mengorbankan warga masyarakat karena mereka semua adalah sahabatku juga. Darah dan daging pada tubuhku pun adalah sahabatku juga. Akan tetapi aku dapat mengambil sebagian daging dari pahaku yang cukup besar, demikian pula sebagian darahku akan kusajikan kepada mereka. Jika aku mengingkari janji karena cinta pada diriku sendiri, maka aku tidak akan punya kekuatan lagi untuk melindungi rakyatku. Aku tidak bisa membiarkan tamuku sebagai sahabatku meninggal karena kelaparan dan kehausan di rumahku. Pengemis dan orang yang memohon bantuan dapat ditemukan setiap hari, akan tetapi yang seperti mereka tidak dapat ditemukan setiap hari. Aku perintahkan untuk memotong beberapa urat darahku untuk disajikan sebagai minuman para tamuku!”

Para yaksha kaget mendengar titah sang raja kepada tabib istana. Tiba-tiba rasa haus dan lapar mereka lenyap. Nafsu makan daging dan minum darah manusia yang telah menjadi kebiasaan mereka, luntur. Rasa terdalam yang ada di dalam diri mereka muncul, rasa kemanusiaan dalam diri mereka berkembang begitu cepat mendengar titah sang raja.

Dan mereka berkata, “Sudah cukup raja, kami mohon maaf atas tingkah laku kami!”

Tabib istana telah memotong beberapa urat darah dan mulai mengerat paha sang raja. Dan para yaksha sudah tidak tahan lagi dan berkata, “Kami berlima sangat menyesal, mohon Paduka Raja berkenan menghentikan tindakan ini, kami semua berjanji untuk melaksanakan dharma dan tidak akan makan daging manusia lagi!”

Sakra, Sang penguasa dewa memperhatikan kesedihan bumi dan seluruh alam semesta yang menangis melihat luka sang raja. Sakra kemudian mengumpulkan rempah-rempah dari langit dan mengusapkannya pada luka sang raja. Dalam waktu singkat luka sang raja sembuh dan kembali sehat.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013