Archive for masnawi

Kisah Kesabaran Ali dan Keangkuhan Adam #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , on May 28, 2017 by triwidodo

 

Kesabaran Ali

 

Dalam perang melawan para kafir—yaitu mereka yang menempatkan kehendak pribadi di atas Kehendak Ilahi, mereka yang menduakan Allah dengan cara menuhankan bayangan-Nya (dunia benda)—pada suatu ketika Ali mengalahkan salah seorang di antara mereka.

Siap untuk memenggal kepala lawannya itu, Ali mengeluarkan pedang clari sarungnya. Tiba-tiba Si Kafir meludahi wajah Ali. Saat itu juga, Ali mengembalikan pedangnya dalam sarung.

“Apa yang terjadi? Kenapa engkau mengurungkan niat untuk memenggal kepalaku?” tanya ksatria kafir itu.

Ali menjawab, ”Pedang ini, untuk melayani Allah. Bukan untuk melayani hawa napsu. Tadi, ketika aku menarik pedang, pikiranku masih jernih. Masih belum terbawa oleh hawa napsu, tetapi ketika engkau meludahi wajahku, aku sempat marah. Dan, aku tidak akan membunuhmu karena marah diludahi.”

“Hanya untuk sesaat…. Hanya untuk sesaat tadi, amarah hampir menguasai jiwaku. Tetapi sekarang aku sudah terbebaskan clari cengkeramannya. Aku sudah lolos dari api amarah. Aku melihat diriku dalam dirimu dan dirimu dalam diriku. Katakan, bagaimana Ali bisa membunuh Ali?”

“Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah memaafkanmu, sahabatku. Bertobatlah dan kembalilah ke jalan yang lurus. Ketahuilah bahwa Kasih Allah melebihi Kegusaran-Nya.”

Kemudian, Ali berbagi rasa dengan ksatria itu, “Pada suatu hari, Nabi memberitahu kepada salah seorang pembantu bahwa dia akan menyebabkan terjadinya pembunuhan atas diri saya. Pembantu itu langsung menghadap saya dan minta segera dibunuh. ‘Bunuhlah aku, Singa Allah, sebelum aku terlibat dalam perbuatan yang keji dan memilukan itu, biarlah aku mati..’—demikian katanya.”

“Aku menjawab, ‘Jika Tuhan sudah menentukan kematianku karena kamu, aku tidak akan menghindarinya. Lagipula, bagaimana aku dapat menghindarinya? Allah akan menggunakanmu untuk membunuhku. Engkau adalah alat yang akan Dia gunakan. Jangan, jangan menyesali Kehendak Ilahi, sebagaimana aku pun tidak menyesali-Nya.”

 

Sekarang, yang terjadi justru sebaliknya. Sedikit-sedikit, kita sudah siap membunuh dan dibunuh. Lalu, pembunuhan massal pun akan kita benarkan dengan menggunakan dalil-dalil dari Riwayat Sang Nabi.

Rumi menjelaskan, keterlibatan Nabi Muhammad dalam perang bukarn untula kepentingan pribadi, bukan untuk meraih keluasaan.

Keterlibatan Nabi dalam perang adalah untuk menghasilkan kedamaian. Nabi melakukan apa yang biasa dilakukan oleh seorang Tukang Kebun. Dia membersihkan ranting-ranting yang tidak berguna, sehingga tanamannya bisa tumbuh pesat, tanpa halangan.

 

Seorang dokter melakukan amputasi, melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien. Persis itu yang dilakukan oleh Nabi. Kelembutan dan Kasih Muhammad selalu disalahartikan. Tidak, dia tidak pernah berperang demi harta dan takhta.

 

Keangkuhan Adam

 

Ketika iblis dihukum oleh Allah, Adam menertawakan dia. Dia menjadi sombong. Maka, Allah memberikan peringatan, “Engkau belum tahu-menahu Rahasia-Ku. Jika Kukehendaki, iman sekuat apa pun dapat tergoyahkan. Dalam sekejap, ratusan Adam bisa merosot kesadarannya. Dan ratusan iblis bisa meningkat kcsadarannya.”

Adam merasa malu sekali dan menundukkan kepalanya, “Maafkan aku, Tuhanku. Aku tidak akan pernah menyombongkan diri lagi.”

Bantulah mereka yang jatuh. Jangan menertawakan mereka. Tidak perlu menyombongkan kepemilikanmu, hartamu, dan pengetahuanmu.

Kita semua terbuat dari darah dan daging. Dan kesadaran daging kita masih kuat sekali. Sesungguhnya kita semua masih berperilaku seperti iblis. Lalu, untuk apa menertawakan iblis?

 

Adam sudah sadar, sudah tidak angkuh lagi, tetapi anak-cucunya masih saja angkuh. Tepat sekali bahwa kisah ini mengakhiri penyelaman kita kali ini.

Sebelum memasuki Buku Kedua, kita memiliki waktu yang cukup panjang untuk melakukan introspeksi diri:

“Bisakah aku menemukan iblis di dalam diri? Mampukah aku mengajak dia untuk bertobat?”

Sekian dulu …….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Bersahabat dengan Yesus #Kisah #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 24, 2017 by triwidodo

Seorang pakar agama menasihati seorang sufi pengembara, “Jangan menangis terus. Matamu akan rusak.”

Si Sufi menjawab, “Persoalannya bukan itu. Persoalannya, mataku bisa melihat Keindahan-Nya atau tidak. Kalau sudah bisa melihat Keindahan-Nya, sudah bisa menatap Cahaya-Nya, walaupun sepasang bola mata ini tidak bercahaya lagi, tidak menjadi masalah. Sebaliknya, kalau belum bisa melihat Keindahan-Nya, belum bisa menatap Cahaya-Nya, apa gunanya sepasang bola mata yang bercahaya?

“Apa gunanya memikirkan kerusakan mata, jika sudah bersahabat dengan Yesus? Tinggal memohon bantuan dia yang adalah jiwamu. Dan dia pun akan langsung membantu kamu. Tetapi janganlah meminta ‘keselamatan badan’ dari Yesus. Jangan pula terlalu banyak memikirkan urusan lahiriah. Urusan apa lagi yang engkau pikirkan, jika sudah berada di dalam Istana-Nya?

“Badan ini bagaikan kemah bagi Sang Jiwa. Perlakukanlah sebagai kemah, tidak lebih, tidak kurang!”

 

Para cendekiawan, para pakar agama, selalu berbicara tentang keseimbangan. Entah itu keseimbangan antara lahiriah dan batiniah, atau antara badan dan roh.

Seorang sufi tidak akan bicara tentang keseimbangan. Setidaknya, seorang Rumi tidak akan bicara tentang keseimbangan. Keseimbangan apa? Secara ilmiah terbukti sudah bahwa antara materi dan energi tidak ada keseimbangan, karena sesungguhnya materi dan energi tidak berbeda. Hanya beda wujud saja, intinya sama. Lalu keseimbangan apa pula yang harus dibicarakan antara lahiriah dan batiniah, antara badan dan roh?

Untuk memasuki kesadaran batiniah, kesadaran lahiriah harus ditinggalkan. Mau mempertahankan “uap”, air harus dimasak sampai mendidih. Air itu sendiri harus “menguap”. Anda tidak bisa mempertahankan dua-duanya. Air juga, uap juga—tidak bisa. Kendati demikian, dalam uap juga ada air.

Itu sebabnya, Yesus menasihati kita agar mengejar Kerajaan Allah terlebih dahulu. Segala sesuatu yang lain, akan kita peroleh dengan sendirinya, karena dalam kerajaan Allah—segalanya ada.

Saat ini, kita mengejar satuan. Kadang pensil, kadang pena. Kadang penghapus, kadang papan tulis. Carilah Si Penjual, Si Pemilik Toko, dan Dia akan memberikan segala sesuatu kepada anda. Tidak perlu mencari satu per satu. Buang waktu…….

Nasihat Rumi untuk bersahabat dengan Yesus harus dipahami artinya. Yesus dikenal sebagai penyembuh. Ya, dia bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Kita harus pintar-pintar memohon bantuannya. Jika Anda minta minyak gosok untuk punggung yang pegal atau obat tetes untuk mata yang memerah, Anda sungguh menyia-nyiakan Yesus. Sementara ini, kita sungguh menyia-nyiakan Yesus dengan meminta hal-hal yang tidak berarti; meminta keselamatan badan, yang pada suatu saat sudah pasti menjadi debu; meminta harta dan takhta, yang pada akhirnya justru bisa mencelakakan kita.

Mintalah keselamatan jiwa. Jika bersahabat dengan Yesus, jangan meminta gula-gula. Mintalah sesuatu yang lebih berarti, lebih bermakna.

Rumi juga menjelaskan bahwa Yesus tidak berada di luar diri. Yesus berada di dalam diri—senantiasa siap sedia untuk membantu Anda!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Doa Nabi Sulaiman Kisah #Masnnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , on May 20, 2017 by triwidodo

Salju dan hujan es tidak membahayakan tanaman anggur yang siap panen, tetapi sangat membahayakan buah yang belum matang.

 

Banyak murid yang belum siap, belum matang, tetapi ingin cepat-cepat tampil sebagai murshid. Rumi memberi peringatan keras.

Dunia ini ibarat kolam yang kotor, penuh dengan lumpur. Para wali, para suci, para murshid bagaikan bunga teratai yang “hidup” di tengah lumpur, tetapi tidak tercemar olehnya.

Muhammad memiliki peran ganda, sebagai Pimpinan Umat dan Pimpinan Negara. Dan beliau bisa menjaga keseimbangan diri. Banyak orang yang ingin meniru Beliau, ingin memimpin umat, sekaligus memimpin negara. Mampukah mereka? Bagaimana dengan kesadaran mereka? Apakah mereka sesadar Nabi Muhammad? jika tidak, jangan berpura-para meniru Nabi!

Rumi memberikan contoh Nabi Sulaiman:

Sulaiman sering berdoa, ”Ya Allah, jangan sampai ada orang lain yang memiliki kekuasaan serta kerajaan seperti yang saya miliki.”

Sepertinya, Sulaiman sangat egois. Dia merasa iri, kalau ada yang menandingi clia. Sesungguhnya tidak demikian.

Sulaiman saclar bahwa tahta dan kuasa sangat berbahaya, bahwa rasa angkuh yang muncul oleh karenanya bisa mempengaruhi imannya, keagamaannya. Sekuat-kuatnya iman dan keagamaannya, kadang-kadang masih saja terhanyutkan dalam arus keduniawian. Setiap kali sadar kembali, dia merasa malu. Dia menyesali keterikatannya pada dunia.

Doa Sulaiman tidak muncul dari hati yang picik, yang penuh dengan rasa iri, tetapi dari jiwa yang besar, yang penuh dengan welas kasih. Permohonannya kepada Allah muncul dari kepeduliannya terhadap orang lain, “Jangan sampai ada yang merosot kesadarannya, iman serta keagamaannya, hanya karena tahta dan kuasa. Ya, Allah, janganlah memberikan kekuasaan serta kerajaan seperti ini kepada orang yang belum sadar. Setidaknya dia harus sesadar saya, sehingga kalaupun kesadarannya merosot, kalaupun  kakinya terpeleset karena keterikatan pada dunia ini, dia akan segera bangkit kembali. Sadar kembali dan merasa malu.” Demikian makna terselubung di balik doa Nabi Sulaiman.

Demikianlah orang yang sadar. Walaupun menjadi raja dan memperoleh kekuasaan, dia tetap sadar. Lain halnya dengan mereka yang tidak sadar. Kerajaan dan kekuasaan bisa membuat mereka sombong, angkuh, arogan.

Banyak orang sadar yang begitu naik tahta, begitu berkuasa, jadi hilang kesadarannya. Banyak murid unggulan yang terpeleset, jatuh dan tidak sadar akan kejatuhannya, hanya karena cepat-cepat ingin menjadi murshid. Anda tidak bisa “mengangkat” diri menjadi murshid. Tidak ada lembaga atau institusi yang bisa mengukuhkan ke-“murshid’-an anda. Yang mengangkat anda adalah Keberadaan. Dan Keberadaan pula yang akan mempertemukan para murid dengan anda. Sadarilah hal ini, dan anda tidak akan terpeleset. Anda tidak akan menjadi angkuh, arogan, sombong. Anda tahu persis bahwa peran yang sedang anda mainkan adalah pemberian Sang Sutradara. Dialah yang menentukan segala-galanya.

Panggung Sandiwara ini adalah milik Dia. Yang menulis cerita dan skenario adalah Dia. Yang memilih para pemain adalah Dia. Pertunjukan ini adalah pertunjukan Dia. Saya dan anda diberi kesempatan untuk tampil—bukan karena kita hebat. Banyak pemain lain yang lebih hebat, tetapi Dia memilih kita! Ucapkan Syukur Alhamdulillah, Puji Tuhan, Shukraan, Dhanyavaad—Halleluyah!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Zayd dan Matahari Pencerahan #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 16, 2017 by triwidodo

“Bagaimana kabarmu pagi ini, Sahabatku?” tanya Nabi kepada Zayd.

“Pagi ini aku melayani Allah,” jawab Zayd.

“Berarti kamu telah mengunjungi ‘Taman Iman’. Adakah sesuatu yang ikut berbunga dalam dirimu?”

Zayd menjawab, “Sepanjang hari aku mengenangnya. Tiba malam, dan aku merana, merintih, mengingat Dia. Maka, aku melampaui dua-duanya. Ternyata, malam memang tidak berbeda dari pagi. Yang berjalan tidak berbeda dari yang duduk. Waktu ribuan tahun sama seperti satu jam.”

Nabi menanggapinya, ”Apakah kamu membawa ’Cinderamata Ketulusan Hati’ dari perjalananmu?”

Di sini kita membedakan hitam dari putih. Di sana, semuanya sama. Sebaliknya, apa yang terlihat sama di sini, di sana tampak berbeda. Terungkapkan sudah rahasia kiamat dan pembangkitan. Haruskah aku menjelaskan semuanya?” demikian kata Zayd.

Nabi Muhammad memberi isyarat dengan matanya, seolah-olah mengatakan, ”Cukup sudah.”

 

Zayd baru saja mengalamai sesuatu yang indah, tetapi sangat alami. Dia bingung, jika pengalaman itu begitu indah, alami dan mudah diperoleh, kenapa tidak semua orang mengalaminya…….

 

“Kenapa tidak semua orang melihat Matahari Kebenaran?” tanya Zayd.

“Karena mata mereka tertutup oleh jari mereka sendiri. Begitu melepaskan jari, Matahari yang terang benderang akan terlihat jelas,” jawab Nabi.

 

Tidak perlu sepuluh jari. Dua jari sudah cukup untuk menutup mata kita, untuk membuat kita tidak melihat Matahari Kebenaran.

Jari-jari tangan yang berjumlah sepuluh dan dapat membutakan kita itu digerakkan oleh naluri hewani, bekerjasama dengan panca indera.

Lima jari pertama adalah: hawa nafasu, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan. Lima jari kedua adalah: indera pendengaran, penglihatan, perabaan, penciuman dan pencecap. Jika kita kurang waspada, sudah pasti akan kecolongan. Kolusi antara mereka merosotkan kesadaran manusia.

Nabi Muhammad menjelaskan lebih lanjut, “Aku pun manusia biasa. Seperti kamu, aku pun pernah hidup dalam kegelapan. Lalu, terbitlah Matahari Pencerahan. Cahayaku ini berasal dari Matahari Pencerahan itu. Aku tidak secerah Matahari, sehingga tidak menyilaukan. Dan bisa ditatap oleh siapa saja.”

 

Para nabi, para avatar, para mesias dan para buddha sesungguhnya secerah “Matahari Tuhan”, Allah, Widhi, Tao—apa pun sebutan yang anda berikan kepada-Nya. Sengaja mereka “menurunkan” pencerahan mereka, agar tidak terlalu menyilaukan, sehingga kita dapat menatapi mereka.

Mereka adalah ayat-ayat Allah di atas muka bumi. Mereka adalah bukti nyata Kehadiran-Nya. Jika anda tidak bisa melihat-Nya, mata anda yang sakit. Mata anda berdebu. Atau mungkin anda belum membuka mata. Mata anda masih tertutup rapat.

Jika anda masih saja melihat perbedaan antara ajaran Muhammad, Isa, Buddha, Krishna dan Lao Tze, maka sesungguhnya perbedaan itu memang mereka “rekayasa” sendiri. Muhammad tahu persis, jika dia lebih ”silau”, orang-orang Arab pada jaman itu tidak akan bisa menatapi wajahnya. Muhammad harus turun sedikit, untuk bisa berdialog dengan mereka. Seperti seorang profesor doktor harus “menurunkan” bahasanya untuk bisa herdialog dengan cucunya sendiri yang masih duduk di bangku TK.

Demikian pula dengan Isa, Krishna dan ……. ..Mereka harus “turun”. Seberapa turunnya, tergantung pada pendengar mereka pada jaman itu.

Jangan membedakan Muhammad dari Buddha, Lao Tze dari Krishna, Isa dari Zarathustra. Pencerahan mereka sama. Jika bahasa mereka berbeda, hal itu lumrah. Jika penyampaian mereka berbeda, sangat masuk akal, karena pendengar mereka berbeda.

Lain dulu, lain sekarang. Sekarang anda dan saya, kita semua sudah berevolusi panjang. Sudah ribuan tahun berlalu. Ajaran mereka harus didefinisikan kembali. Harus ada penafsiran ulang. Jika anda tidak melakukannya, anak-cucu anda akan melakukannya. Dan mereka akan menertawakan kebodohan anda. Anda tidak bisa menunda lama upaya penafsiran ulang. Kemajuan di bidang Sains dan Teknologi, perkembangan jaman dan peningkatan kesadaran manusia menuutut pemahaman baru. Jika anda tidak memenuhi tuntutan mereka, orang lain akan memenuhinya. Mau apa—terserah anda!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Iblis Memperbandingkan Diri #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 13, 2017 by triwidodo

MakhIuk pertama yang melakukan perbandingan adalah Iblis, “Aku diciptakan dari api. Sementara Adam diciptakan dari tanah. Sudah jelas, api Iebih unggul daripada tanah. Api mewakili Cahaya. Tanah mewakili Kegelapan. Dari sudut pandang mana pun, aku melebihi dia.”

 

Tuhan menanggapinya, “Tidak demikian. Keunggulan berasal dari Pengendalian Diri dan Kebajikan. Dan, Pengendalian Diri serta Kebajikan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun juga.”

 

Indah sekali!

Yang bisa dibandingkan adalah sesuatu yang bisa diukur, bisa ditimbang, bisa dinilai. Baik Api, maupun Tanah bisa diukur. Ada api besar, ada api kecil. Ada tanah banyak, ada tanah sedikit. Tetapi, Pengendalian Diri dan Kebajikan tidak bisa diukur.

Pernyataan seperti, “Pengendalian diri dia ‘kurang’” atau “Pengendalian diri saya ’lebih”’ bisa dianggap benar dari segi tata bahasa. Tetapi dari segi penerapannya dalam hidup tidak bisa dibenarkan. Karena, kekurangan se-“sedikit” apa pun bisa mencelakakan. Kurang sedikit atau kurang banyak, bahayanya sama. Setetes atau segelas air jeruk nipis merusak susu. Dan, kerusakannya sama.

Begitu pula dengan Kebajikan—tak dapat diukur. Kita tidak bisa berbaik hati “sedikit”. Meskipun berbaik hati terhadap kelompoknya,  jika seseorang mencelakakan kelompok-kelompok lain, dia belum “baik”.

Rumi sedang menegur kita:

(Pengendalian Diri dan Kebajikan) bukanlah warisan duniawi yang bisa dinilai, diukur dan dibandingkan. Warisan ini adalah warisan rohani — tak dapat dinilai, diukur dan dibandingkan.

 

Diciptakan dari Api atau dari Tanah, so what? Memang kenapa? Bukankah api dan tanah pun ciptaan Allah? Teguran Rumi semakin keras……..

 

Abu Jahl tidak beriman, tetapi putranya beriman. Nuh seorang Nabi, tetapi putranya tersesat. Adam diciptakan dari tanah, dan wajahnya bercahaya. Engkau diciptakan dari api, dan wajahmu hangus terbakar.” Demikian Allah bersabda.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Berdoa Beramal Saleh seperti Cara Si Tuli dalam #Kisah #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 8, 2017 by triwidodo

Sebelum menjenguk tetangganya yang  sedang sakit, seorang tuli berpikir dalam hati: “Jika aku bertanya, ‘Sahabatku, bagaimana keadaanmu?’—dia pasti menjawab, Sudah baikan sedikit.’

“Lalu aku akan menanggapinya, ‘Alhamdulillah, Puji Tuhan! Obat apa yang kau minum?’

“Dan dia akan memberitahu nama obat itu. Kemudian, aku akan mengatakan, ‘Obat yang baik sekali. Apakah ada seorang tabib yang merawatmu?’

“Jawaban dia pasti, ’Ya, Si Fulan yang merawat aku.’

“Dan aku akan berbasa-basi, ‘Ah, dia seorang tabib yang baik sekali. Kesehatanmu akan segera pulih kembali.’”

 

Anda dan saya tidak lebih baik dari Si Tuli dalam cerita ini. Sebelum mengajukan pertanyaan, kita sudah memikirkan jawabannya terlebih dahulu. Kemudian, jika jawaban yang kita terima tidak sesuai dengan harapan kita—maka terjadilah kekacauan:

 

Dengan penuh percaya diri, Si Tuli mendatangi tetangganya yang sakit, “Sahabatku, bagaimana keadaanmu?”

Jawaban yang dia peroleh tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya, “Aduh, aku sekarat, nih.”

Si Tuli menanggapinya, “Alhamdulillah, Puji Tuhan! Obat apa yang kau minum?”

Karena kesal dan marah, tetangga yang sudah sekarat itu, menjawab Si Tuli, “Obat? Obat apaan! Racun!”

Si Tuli tidak mendengarkan jawaban temannya, dan menyahutnya dengan tanggapan yang telah ia siapkan sebelumnya, “Ah, obat yang baik sckali. Apakah ada seorang tabib yang merawatmu?”

Sang Tetangga lebih kesal lagi, “Azraeel! Malaikat Maut yang merawatku!”

“Pantas! Dia memang baik sekali. Dalam waktu dekat, semuanya akan beres!” kata Si Tuli.

Tetangga yang sakit sudah tidak tahan lagi dan mengusirnya clari rurnah, “Aku tidak tahu bahwa selama ini kamu memusuhi aku. Kamu mengharapkan aku mati.”

Sesungguhnya Si Tuli ingin berbuat baik. Ingin bersahabat dengan tetangga yang jarang ia temui, tetapi karena ketuliannya, ia malah menambah seorang musuh.

Banyak orang yang bertlndak seperti Si Tuli. Mereka berdoa, beramal-saleh, tetapi dengan harapan akan imbalan. Dcngan harapan akan pujian. Bahkan, sebelum berbuat sesuatu sudah mengharapkan imbalannya.

Kepada orang-orang seperti itulah Nabi Muhammad memberikan peringatan, “Dirikan Shalat, karena selama ini cara kalian berdoa tidak benar.”

Di sini, Rumi menyentuh inti ajaran Nabi Muhammad. Inti yang terlupakan oleh orang Arab, oleh Anda dan oleh saya — oleh kita semua. “Mendirikan” Shalat berarti  “meningkatkan” kesadaran diri. “Menundukkan kepala dan bersijud berarti “merendahkan” ego.

Yang sedang mengejar nama dan pujian, yang sedang mencari imbalan, ganjaran dan pahala adalah ego Anda. Pemah saya mengikuti mimbar agama di salah satu stasiun teve, dan tidak bisa menahan tawa. Seorang “tokoh” agama menguraikan “fasilitas-fasilitas” yang kita terima dari Allah. Rejeki, hidup, ini dan itu. Lalu ia bertanya, “Masa kita tidak akan mengucapkan terima kasih kepada si pemberi fasilitas?”

Ucapan terima kasih untuk segala fasilitas yang kita dapatkan—demikianlah isi doa kita. Demikianlah isi doa orang-orang Arab sebelum Nabi Muhammad. Lalu apa bedanya?

Rumi menegaskan:

 

Oleh karena itu, Nabi mengingatkan, “Mohonlah tuntunan-Nya, bimbingan-Nya!” Jangan-jangan caramu berdoa sama seperti cara para musyrik dan para munafik.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Kisah JuruTulis dan Kepedulian Nabi #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , on May 4, 2017 by triwidodo

Setiap kali mendapatkan wahyu, Nabi menyampaikannya kepada seorang juru tulis yang segera mencatatnya. Demikian, cahaya wahyu yang diterima oleh Nabi ikut menerangi jiwa Si Juru Tulis.

Lama-lama, Juru Tulis itu menjadi sombong, “Kebenaran yang disampaikan oleh Nabi ada juga di dalam diriku.” Dia pikir dirinya sudah hebat. Dia meninggalkan Nabi dan malah memusuhinya.

Nabi menegur dia, “Jika Kebenaran yang sama ada di dalam dirimu, kenapa engkau berperilaku demikian?”

 

Renungkan teguran Sang Nabi. Teguran itu indah dan bermakna, yang muncul karena kepedulian Nabi terhadap Si Juru Tulis.Teguran seorang Murshid kepada Muridnya.

Jika Kebenaran yang sama ada di dalam diri Murshid dan Murid, maka selesai sudah segala persoalan. Sang Murshid dan Si Murid menyatu dengan Kebenaran yang juga Satu Ada-Nya.

Jangan bimbang, jangan ragu-ragu, Kebenaran yang sama memang ada di dalam diri setiap orang. Yang sadar, tidak pernah sombong. Yang tidak sadar, selalu sombong.

Juru Tulis dalam kisah ini baru “tahu”, belum sadar! “Pengetahuan” tentang Kebenaran membuat dia menjadi sombong. Dia pikir, dirinya sudah sadar. Mengetahui Kebenaran dan menyadari Kebenaran adalah dua ha! yang berbeda. Anda tahu bahwa rokok atau narkoti atau apa saja yang menciptakan “ketergantungan” tidak baik bagi kesehatan. Hasilnya apa? Anda masih tetap saja tergantung. Sebaliknya, dia yang sadar akan langsung melepaskan diri dari ketergantungan.

Nabi “menyadari” Kebenaran. Juru Tulis “mengetahui” Kebenaran. Yang membedakan Nabi dari Juru Tulis hanya itu saja.

 

Berapa lama kemudian, Si JuruTulis menyadari kesalahannya. Tetapi, sudah terlarnbat. Dia sudah terlanjur jauh dari Nabi.

Banyak orang yang menyadari kesalahan mereka, dan ingin kembali ke jalan yang lurus. Ingin kembali ke Islam. Ingin berserah diri kembali, tetapi sudah tidak bisa lagi, karena ego mereka sendiri. Mereka berpikir, “Apa kata orang, apa kata masyarakat jika aku kembali…..?”

Janganlah berpikir demikian. Mohonlah pengarnpunan Allah, karena Dia Maha Pengampun Ada-Nya!

Yang memisahkan Anda dari seorang Nabi adalah ego anda, keangkuhan anda, kesombongan anda. Baru sebentar jalan bersama, Anda pikir Anda sudah sampai. Karena “dia” sedang jalan bersama Anda, Anda pikir dia pun sama seperti Anda. Anda tidak sadar bahwa “dia” sadah sampai di tujuan. Dia sudah tidak perlu mengulangi perjalanan yang sama. Dia melakukan hal itu karena kepeduliannya terhadap Anda. Karena belas-kasihnya terhadap Anda. Untuk itu, jangan lupa mengucapkan terima kasih kepadanya.

Rumi melanjutkan:

 

Cahaya yang menerangi dirimu, berasal dari tetanggamu yang bcrcahaya. Jangan angkuh, jangan sombong. Berterimakasihlah kepadanya.

Berjalanlah terus. Jangan berhenti di setiap tmpat persinggahan. Kalaupun berhenti, jangan lama-lama. Lanjutkan perjalananmu.

Yang paling penting, jangan angkuh. Jangan menyombongkan diri seperti Bal’am, putra Ba’ur. Seperti Nabi Isa, seperti Yesus, dia pun bisa menyembuhkan orang. Tetapi, dia menjadi sombong, dan akhirnya jatuh juga.

Untuk ltu (sebelum engkau jatuh) bunuhlah “kebinatangan” dalam dirimu Bahkan, bunuh juga “kemanusiaan” dalam dirimu, sehingga engkau dapat mencapai Kesadaran Ilahi.

 

Kesadaran hewani berasal dari alam bawah sadar. Yang dia kenal hanyalah konsep “take-take”—terima, terima. Kalau perlu — rampas, rampas. Jarah, jarah.

Kesadaran insani lebih tinggi sedikit – kesadaran jaga kita sehari-hari. Kendati tidak selalu dipraktekkan, tetapi kita sudah mulai kenal konsep “take and give”—konsep timbal-balik. Memberi dan menerima. Menerima dan memberi.

Rumi mengatakan bahwa untuk mencapai “Kesadaran Ilahi”, konsep “take and give” pun harus ditinggalkan. Belajarlah untuk memberi dan memberi dan memberi. Jangan mengharapkan imbalan. Just give and give and give! Nabi Isa bisa melakukan hal itu. Nabi Muhammad pun bisa. Setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar dan setiap buddha melakukan hal yang sama. Anda pun bisa! Sadarilah hal ini, bulatkan tekad Anda, dan lihat apa yang akan terjadi……. ..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)