Archive for master

Cendikiawan, Master dan Teh Poci

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 20, 2017 by triwidodo

Seorang cendikiawan terkenal mendatangi seorang Master, ingin berguru kepadanya. Sang Master menerima sang cendikiawan di beranda rumah dan mengajaknya minum teh poci bersama.

Sang cendikiawan merasa bangga diterima sang master dan bahkan diajak minum teh poci bersama. Pikir sang cendikiawan, mungkin sang master telah mengenalnya sebagai cedikiawan terkenal dan ini memudahkannya belajar pada sang master.

Seorang murid menyiapkan 2 cangkir kosong, satu diletakkan di depan sang cendiawan dan satu di depan sang master. Sang master menerima poci berisi teh dan mulai menuang teh kedalam cangkir sang cendikiawan.

Cangkir di depan sang cendekiawan telah penuh tapi sang master terus menuangnya, sehingga tehnya tumpah ke luar.

Sang cendikiawan berkata:”Master, cangkirnya sudah penuh, tidak muat untuk diisi lagi!

Sang Master berkata: “Sekarang kau sudah paham bahwa bila cangkir sudah penuh, maka dimasuki teh baru pun tidak bisa masuk, akan tumpah!

Sang cendikiawan yang cukup smart kaget, dan berkata dengan menyesal: “Master, saya mohon maaf. Master telah memberi pelajaran berharga, bahwa bila seseorang telah merasa pandai, dan penuh ilmu seperti saya, maka tidak akan bisa menerima ilmu baru. Saya berjanji akan membuka diri saya terhadap pelajaran dari Master, dan saya biarkan ajaran Master mengisi relung-relung diri saya!

Sang Cendikiawan langsung bersujud dan mohon blessings pada Sang Master.

Mendatangi Mereka Yang Mengetahui Kebenaran dengan Membuka Diri

“Ketahuilah hal ini dengan mendatangi mereka yang mengetahui kebenaran; bertanyalah dengan penuh ketulusan hati; layani mereka dengan penuh keikhlasan; dan mereka akan mengajarkan, mengungkapkan kebenaran itu padamu.” Bhagavad Gita 4:34

Ayat penting bagi setiap “Calon” Siswa, calon murid. Ketika menghadapi seorang Pemandu Rohani, seorang Sadguru, maka sikap kita sangat menentukan bagi Sang Sadguru untuk menyampaikan kebenaran sesuai dengan kemampuan kita untuk menerimanya.

Ketika bertanya sesuatu… Kita mesti tulus. Bukan bertanya untuk “menguji” sang Pemandu Rohani. Banyak di antara kita yang melakukan hal itu, bertanya untuk “mencari tahu betapa pintarnya kau.”

Jika kita sudah bersikap seperti itu, maka seberapa pun hebatnya seorang pemandu, tidakakan bermanfaat bagi kita.

Kita sudah menempatkan diri kita di atasnya; sementara itu, pengetahuan adalah seperti aliran sungai. Sifat alami air adalah mencari dataran rendah, mengalir ke bawah. Ia tidak pernah mengalir ke atas secara alami.

Seringkali kita berada sangat dekat dengan seorang Pernandu kelas prima. Tapi, karena sikap egois kita, tidak terjadi apa-apa. Aliran kebenaran yang keluar darinya, pengetahuan sejati yang mengalir darinya tidak membasahi kita.

Lalu, jika kita mengeluh, “Aku bertemu, tapi tidak terjadi apa-apa,” maka yang mesti disalahkan adalah diri sendiri — ego kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Orang Tua dan Tabib #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , on February 28, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-2-tabib-dan-orang-tua

Seorang lelaki berusia lanjut mendatangi seorang tabib dan mengeluh, “Sepertinya aku ini menjadi pikun. Tolong otakku diperiksa.”

“Tidak perlu, Pak. Bagi orang seusia Bapak, hal itu lumrah; tak ada yang tidak wajar”, jawab Sang Tabib.

“Kalau begitu, bagaimana dengan mataku? Periksalah mataku, karena penglihatanku kurang tajam”, kata lelaki itu.

“Itu pun hal yang lumrah. Setiap orang berusia lanjut akan mengalaminya.”

“Tetapi pencernaanku juga tidak baik. Perutku sering sakit.”

“Itu pun karena usia lanjut.”

“Dan, nafasku sering sesak.”

“Biasa juga—kalau sudah tua, badan pun berpenyakitan.”

Maka beranglah si tua, “Dari tadi engkau mengatakan ini biasa, itu biasa. Hanya kalimat itukah yang engkau pelajari selamaini? Tabib macam apa engkau ini?”

Sang Tabib tetap tenang, ”Aku dapat memahami kegusaranmu, Pak Tua. Itu pun karena usia tua. Bersama dengan melemahnya organ-organ tubuhmu, pengendalian diri juga melemah. Dan orang menjadi tidak sabar.”

Si Tua betul-betul marah…. Meledaklah dia. Sampai muntah-muntah.

Lain Si Tua dalam kisah ini. Lain pula seorang pir, seorang wali, seorang nabi. Mereka senantiasa muda. Walau badan sudah menunjukkan tanda-tanda lanjut usia, jiwa mereka tetap muda. Jangan tertipu oleh penampilan mereka. Di balik apa yang terlihat, tersembunyi tambang emas dan permata.

cover-buku-masnawi-2

Bagi Rumi, seorang pir, seorang wali, seorang nabi adalah “Wakil Tuhan” di atas muka bumi. Tidak berarti Anda dan saya bukan “Wakil Tuhan”; Tidak berarti bahwa  Anda dan saya “Wakil Setan”. Tidak demikian. Yang membedakan kita dari mereka hanya satu—yaitu kesadaran.

Mereka sadar akan peran mereka dan berperan sesuai dengan kesadaran mereka. Kita tidak sadar. Kalaupun sadar; belum berperan sesuai dengan kesadaran. Kalaupun sudah berperan sesuai dengan kesadaran, masih belum sepenuh waktu. Masih setengah waktu.

Tentang “Wakil Tuhan Puma Waktu” ini, Rumi mengatakan:

 

Surga dan Neraka berada di dalam dirinya. Dia tidak terjangkau oleh pikiranmu. Apa yang terjangkau oleh pikiran hanyalah hal-hal yang bersifat sementara. Yang saat ini ada, saat berikutnya tidak ada. Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran.

 

Anda masih bersikeras bahwa Tuhan lain, Manusia lain. Tuhan berada  “di ataaaaas” sana, jauh sekali; sedangkan manusia berada “di bawaaaaah” sini, bisanya hanya merengek-rengek. Kalau begitu, Anda tidak akan pernah bisa memahami Rumi.

Paling banter, Anda bisa memahami Al Ghazali. Itu pula sebabnya, sampai akhir tahun 80-an, Rumi hampir tidak dikenal di  Indonesia. Seorang Doktor dari kalangan IAIN mengakui hal tersebut dan bahkan menulisnya dalam disertasinya. Sementara Al Ghazali cukup populer.

Sebab lain kenapa Rumi tidak populer adalah karena sesungguhnya bangsa kita sudah familiar dengan ajaran sejenis. Satu dua abad yang lalu, kalau seorang pujangga seperti Ronggowarsito atau Mangkunagoro membaca Rumi, mereka akan mengangggukkan kepala mereka. Dan hanya itu saja. Karena, apa yang disampaikan oleh Rumi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat zaman itu.

Kalau sekarang Rumi menjadi populer, itu bukan karena dia luar biasa, tetapi karena selama ini Anda menutup terhadap ajaran luhur yang berasal dari budaya sendiri. Anda selalu bersandar pada ajaran yang berasal dari budaya asing.

Sekarang pun demikian. Rumi pun Anda impor. Puisinya diterjemahkan mentah-mentah. Tulisan-tulisan orang Barat tentang dirinya juga disajikan begitu saja. Seperti membeli alat listrik dari luar negeri. Tegangan listrik di negeri orang lain, tegangan listrik di negeri kita lain, tetapi kita tidak ambil peduli. Main colok saja. Hasilnya, ya berantakan!

Tujuan saya menghadirkan Rumi di Indonesia lain! Saya ingin menggugah kesadaran dan kewarasan yang tersisa dalam diri manusia Indonesia, “Lihat, apa yang dia sampaikan itu pernah disampaikan oleh para pujangga kita sendiri. Ronggowarsito, Mangkunagoro, dan para penyusun Centini tidak kalah dari Rumi. Sadarlah!”

Melanjutkan wejangan Rumi:

 

Bangunan masjid dihormati, dijunjung tinggi, tetapi hati manusia di mana Tuhan bersemayam, dihancurkan. Sungguh tolol!

Bangunan (yang terbuat dari pasir dan batu) hanyalah simbolik. Masjid yang sesungguhnya adalah hati manusia, hati mereka yang sadar; hati para pir, para wali dan nabi. Itulah tempat ibadah sejati, yang terbuka bagi semua orang. Tuhan pun berada di sana.

 

Terpaksa saya harus mengutip terjemahan R.A. Nicholson, sehingga Anda melihat sendiri. Betapa lebih kerasnya bahasa Maulana:

Fools venerate the mosque and endeavour to destroy them that have the heart (in which God dwells).

That (mosque) is phenomenal, this (heart) is real, O asses! The (true) mosque is naught but the hearts of the (spiritual) captains.

The mosque that is the inward (consciousness) of the saints is the place of worship for all: God is there.

Apa yang saya terjemahkan sebagai “tolol” atau “bodoh” disebut “asses” oleh Rumi—Keledai. Dalam bahasa Parsi, Urdu, Hindi dan Sindhi, inilah ungkapan yang paling keras bagi orang yang bodoh, tolol, stupid, idiot, fool ……

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Ada mentega dalam susu, walaupun tidak tampak, belum tampak, tapi ia memang di sana. Dengan mengaduk susu, mentega yang tak tampak “menjadi” tampak. Namun, fenomena munculnya mentega ini tidak membuktikan bahwa mentega tidak eksis sebelum “proses pengadukan”. Upaya Manusia, usaha keras manusia — dalam konteks ini adalah sadhana spiritual, meditasi, dan lain-lain — dapat diibaratkan seperti proses mengaduk. Dengan mengaduk susu manah atau mind — buddhi atau inteligensia bermanifestasi. Dengan menggali jauh ke dalam buddhi atau inteligensia, lapisan-lapisan kesadaran yang lebih tinggi ditemukan, dan akhimya menuntun pada Paramatma atau Hyang Tunggal — mentega dari mentega, esensi pokok. Dari buku Dvipantara Jnana Sastra

Sudahkah kita mulai latihan meditasi atau sadhana spiritual?

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n

Rusa yang Bijak: Guru Spiritual Seorang Raja, Kisah pada Relief Candi Borobudur

Posted in Relief Candi with tags , , on September 6, 2013 by triwidodo

borobudur Rusa Ruru sumber old kaskus co id

Ilustrasi Rusa Ruru sumber: old kaskus co id

Bertemu Seorang Master

“Para Master tidak senang disebut Master. Mereka lebih senang dipanggil sahabat. Para Master tidak pernah menciptakan jarak antar dirinya dan Anda. Para Master merupakan keharuman bunga yang menyerbaki kehidupan Anda. Sekali lagi, Anda tidak dapat mencarinya. Anda tidak dapat memperoleh alamatnya dari iklan-iklan koran. Anda harus sabar menanti, dan la akan terjadi, akan muncul dalam kehidupan Anda! Jika Anda bertemu dengan seorang Master, hidup Anda akan segera berubah. Suatu ruangan yang gelap selama 40 tahun dapat menjadi terang dalam sekejap oleh sebatang lilin, tidak memerlukan 40 tahun untuk meneranginya. Pertemuan Anda dengan seorang Master akan membuat Anda gembira; hari pertemuan menjadi hari perayaan! Anda akan menari dan menyanyi karena kegirangan. Anda baru akan tahu bahwa seorang Master tidak pernah memperbudak orang lain. la telah menguasai dirinya; ia tidak ingin menguasai Anda. Pertemuan dengan seorang Master justru akan mempercepat kebebasan Anda, mempermudah proses ketidaktergantungan Anda.” (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kisah Bodhisattva yang lahir sebagai Rusa

Konon Bodhisattwa pernah lahir sebagai seekor rusa. Rusa Ruru namanya. Tanduknya seperti dilapisi oleh emas murni, kuning mengkilat bercahaya. Bulu-bulu kulitnya sangat indah seakan-akan terdiri dari batu-batu permata beraneka warna. Matanya biru penuh kelembutan dan bercahaya, permata safir pun kalah dengan keindahannya. Seekor rusa yang tak ada taranya dan dia pun pandai berbicara seperti manusia. Sang Rusa Ruru paham bahwa dirinya akan menjadi buruan para manusia. Sehingga tak pernah keluar dari hutan kediamannya. Sebuah hutan yang tak pernah terjamah oleh manusia, berbatasan dengan sebuah kali yang deras alirannya.

Pada suatu hari, saat Sang Rusa Ruru duduk mengagungi keindahan alam semesta, dia mendengar teriakan yang menyayat hati. Seseorang berteriak minta tolong karena sudah tak berdaya lagi. Setelah didatangi ternyata ada seseorang yang hanyut di kali. Kematian segera mendatangi, bila tidak ada makhluk yang peduli. Sang Rusa terjun ke kali dan berkata, “Cepat pegang tanduk saya!” Dengan susah payah dibantunya orang tersebut naik ke atas punggungnya. Dibawanya orang tersebut berenang ke tepian untuk menyelamatkan nyawanya. Orang tersebut sangat bersyukur, ada rusa indah yang rela bertarung nyawa menyelamatkan dirinya. Dan Sang Rusa ternyata dapat berbicara seperti manusia. Orang tersebut berkata, “Tak ada manusia walaupun saudara sendiri yang bertindak seperti Tuan Rusa. Saya serahkan hidup saya kepada Tuan Rusa. Apa yang Tuan minta akan saya penuhi. Termasuk bila Tuan minta saya menjadi pelayan Tuan seumur hidup saya.” Sang Rusa menjawab pelan, “Keserakahan memenuhi dunia. Akan banyak orang yang memburu saya bila tahu tempat tinggal saya.” Sang Rusa hanya berpesan, “Mohon Anda tidak usah menceritakan pertemuan dengan saya.” Kemudian orang tersebut ditunjukkan jalan keluar dari tempat tersebut menuju desa.

 

Mimpi Permaisuri

Tersebutlah seorang permaisuri raja yang mimpinya selalu menjadi nyata. Pada suatu hari dia bermimpi tentang seekor rusa yang indah sekali. Tubuhnya dipenuhi oleh batu-batu permata beraneka warna. Tanduknya seperti mahkota yang terbuat dari emas murni. Matanya begitu indah dan meluluhkan siapa saja. Sang Rusa nampak sedang berdiri, berbicara dikelilingi raja dan para menteri….. Sang permaisuri menceritakan mimpinya kepada Sang Raja. Dan minta Sang Raja mencari kebenaran tentang keberadaan Sang Rusa. Sang Raja pun tertarik dengan berbagai permata yang ada di tubuh Sang Rusa. Sang Raja membuat pengumuman bahwa barangsiapa dapat menunjukkan tempat Sang Rusa akan diberi imbalan sebuah desa.

 

Terpikat Dunia dan Melupakan Kebaikan Hati

Tersebutlah orang yang pernah ditolong Sang Rusa. Dia pernah berjanji pada Sang Rusa untuk tidak akan memberitahukan tempat tinggalnya. Akan tetapi dia sekarang sangat miskin, hidup penuh derita. Setelah perang batin yang lama, nafsu keserakahan mengalahkan hati nuraninya. Akhirnya dia memberitahu raja bahwa dia tahu tempat tinggal Sang Rusa. Sang Raja kemudian membawa pasukan lengkap untuk menangkap Sang Rusa. Tersebutlah mereka sampai di sungai tempat orang tersebut pernah diselamatkan oleh Sang Rusa. Dia menunjuk seberang kali dan nampak Sang Rusa berada di sana. Tiba-tiba tangan orang tersebut lumpuh setelah menunjukkan tempat Sang Rusa.

“Bebaskan dirimu dari keterikatan, karena keterikatanmu bersifat ilusif. Keterikatan manusia tidak pada tempatnya. Keterikatan manusia adalah ciptaannya sendiri. Tercipta karena ketidaktahuan.  Bagaimana menyadari hal itu? Dengan cara apa pula dapat kubebaskan diri dari keterikatan? Ketahuilah bahwa Gerbang Kebebasan dijaga oleh empat pengawal. Pengawal pertama adalah Shaanti. Kedamaian yang dimaksud bukanlah kedamaian semu, kedamaian luaran. Yang dimaksud kedamaian dalaman, kedamaian yang berasal dari dalam diri. Dari jiwa sendiri. Pengawal kedua adalah Aatma Vichaarana. Aatma Vicharana berarti ‘menganalisa diri’, introspeksi diri, mawas diri. Pengawal ketiga gerbang kebebasan adalah Santhosa berarti kepuasan. Bukan memuaskan diri, tetapi memang puas. Pengawal keempat gerbang kebebasan adalah Sadhusanga atau Satsanga berarti ‘Pergaulan dengan mereka yang baik’. (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Orang yang ditolong Rusa Ruru masih terikat dengan harta, sehingga walaupun nyawanya pernah diselamatkan sang rusa, dia membalas air susu dengan air tuba. Orang tersebut belum mengalami shaanti, damai, dia masih bergejolak saat mendengar ada hadiah bagi yang menunjukkan tempat keberadaan rusa yang telah menyelamatkan nyawanya. Dia tidak melakukan Aatma Vichaarana, introspeksi diri, tanpa bantuan sang rusa dia sudah meninggal dunia. Dia juga belum mengalami Santhosa, puas, dia masih tidak puas dengan keadaannya dan menginginkan hadiah dari raja walau dengan mengkhianati sang rusa.  Dia juga pasti mempunyai pergaulan yang kurang baik, pergaulan yang baik akan mengingatkan dia untuk membalas budi dan bukan membalas kebaikan dengan kejahatan.

 

Raja yang Bisa Mengendalikan Diri

Para pengawal raja segera membidik Sang Rusa. Sang Rusa paham tak ada gunanya melarikan dirinya. Dia bertanya, “Wahai raja siapa yang menunjukkan tempat tinggal hamba? Ada seseorang yang hampir mati tenggelam terseret arus kali yang kemudian kuselamatkan nyawanya. Dia telah berjanji tak akan menunjukkan tempat tinggal hamba.” Sang raja bertanya kepada orang yang menunjukkan tempat Sang Rusa, “Apakah kau pernah mengalami apa yang diceritakan Sang Rusa?” Orang tersebut mengangguk dan raja mengarahkan panah kepadanya. Sang Raja berkata, “Tak ada gunanya hidup lebih lama bagi orang yang membalas budi dengan air tuba.” Kemudian Sang Rusa berkata, “Orang tersebut terpaksa mengingkari janji karena kemiskinannya. Mohon dia jangan dihukum dan agar diberi hadiah sesuai janji Sang Raja.”

“Ada orang yang bertanya kepada seorang bijak, ‘Apakah yang membedakan seorang manusia dengan binatang?’ Sang bijak menjawab, ‘Pengendalian diri.’ Binatang tidak dapat mengendalikan dirinya, harus mengikuti nalurinya. Seorang manusia dapat mengendalikan keinginan-keinginan dan naluri hewaninya bukannya diperbudak oleh mereka. Sayang, banyak di antara kita yang menjadi budak nafsu dan sifat-sifat kebinatangan yang lain.” (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Raja adalah contoh orang yang bisa mengendalikan diri. Pertama kali raja ingin mencari rusa yang indah tersebut demi memenuhi mimpi permaisuri, akan tetapi sang raja mau mendengarkan lebih dahulu penjelasan sang rusa.  Setelah mengetahui bahwa orang yang menunjukkan tempat sang rusa itu berkhianat setelah ditolong oleh sang rusa dia berniat untuk membunuh orang tersebut. Tetapi dia kembali bisa mengendalikan dirinya dengan mendengarkan nasehat sang rusa.

 

Bertemu Seorang Master

Sang Raja sadar telah bertemu rusa yang bijaksana. Sang Raja berkata, “Demi rusa yang bijaksana kau kuampuni dan kuberikan hadiah sesuai janji seorang raja.” Kemudian sang raja melanjutkan, “Wahai rusa yang bijaksana, aku sudah membuat keputusan, kau tidak akan diganggu seluruh masyarakat di kerajaanku. Sekarang mari ke istana naik keretaku.” Sang Raja mengajak Sang Rusa Ruru ke istana dan bertemu permaisuri dan para menterinya. Sang Rusa Ruru diangkat menjadi penasehat Sang Raja. Raja menjadi lebih bijaksana dan rakyatnya makmur sejahtera. Konon setelah beberapa kelahiran, Sang Rusa Ruru lahir kembali menjadi Sang Buddha dan sang raja menjadi salah satu muridnya.

Sang Raja telah menemukan Sang Master akibat tumpukan kebaikannya di masa lalu.

Master berarti orang yang memiliki ‘Mastery‘ atas dirinya sendiri. Orang yang memerintah, mengatur dirinya sendiri. Orang yang bertanggung jawab, yang datang bukan untuk menimbulkan kekacauan, tetapi untuk menciptakan ketentraman. Bernasib-baiklah suatu bangsa, berjayalah suatu kebudayaan, di mana orang-orang seperti itu ada. Master seperti mereka tidak diperjual-belikan, mereka tidak dapat diperoleh dari pasar. Mereka tidak membutuhkan propaganda ataupun promosi. Para Master tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam kehidupan Anda. Begitu Anda siap, la akan muncul dalam kehidupan Anda. Para master tidak datang dari mana-mana, mereka tidak pergi ke mana-mana. Master seperti ini merupakan suatu kejadian dalam hidup Anda. Apabila Anda menemukan seorang Master seperti itu dalam kehidupan Anda, peristiwa itu mungkin saja peristiwa yang terbesar dan terpenting dalam hidup Anda.” (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013