Archive for meditasi

Meditasi Membebaskan Diri Kita dari Kebiasaan Buruk

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 2, 2018 by triwidodo

Kusir Yang Menjadi Budak Kebiasaan Yang Salah

Seorang Master berkisah tentang seorang kusir yang memacu keretanya dengan cepat ke stasiun mengantar banyak penumpang yang berada di dalam keretanya. Sang kusir menarik tali kekang dan mencambuk tanpa kasihan di punggung dan leher sang kuda agar dapat berlari lebih cepat.

Seorang pria tua berjanggut, yang nampak sehat dan cerah yang berpapasan dengan kereta yang dkendarai sang kusir berteriak, “Jangan memegang  tali kekang kuda terlalu kuat, biarkan kuda bebas berlari. Kuda akan berlari lebih cepat.”

Sang kusir menjawab, “kau diam saja! Aku lebih tahu tentang kudaku.” Salah satu penumpang dari dalam kereta bertanya kepada sang kusir, “Menurut Anda, orang tua itu siapa?”

Sang kusir menjawab, “Aku tidak peduli siapa dia?”

Kemudian sang kusir mendengar suara (adalah sang kuda yang berbicara), “Dia adalah Krishna, yang menjadi kusir Arjuna. Dia mengetahui segala hal tentang kuda.”

Sang kusir mengira yang berbicara adalah salah satu dari penumpangnya. Dia melihat ke dalam kereta dan berkata, “Ya, Dia tahu segala hal tentang kuda-kuda Arjuna, tetapi apa dia tahu  tentang kuda-kudaku?”

 

Jadikan Sri Krsna – Sang Sais Agung – sebagai sais Kereta Kehidupan kita, maka tidak ada lagi kekalahan, tidak ada lagi kegagalan. Saat ini, kita menempatkan nafsu berahi kita, keserakahan kita, keangkuhan kita, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan.

Apabila kita menempatkan Akal Sehat dan Pikiran Jernih, dan Hati yang Bersih pada posisi sais, hidup akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Hidup kita dapat menjadi suatu Perayaan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Samskara” berarti “kesan, dampak, tindakan yang kita lakukan berdasar ego kita”. Ketika kita melakukan tindakan semacam itu, sebuah kesan halus tersimpan dalam pikiran kita. Setiap kali aksi diulang, kesan menjadi lebih kuat. Begitulah kebiasaan terbentuk. Semakin kuat kebiasaannya, semakin sedikit penguasaan yang kita miliki di atas pikiran kita di saat kita mencoba melakukan tindakan yang bertentangan dengan pola kebiasaan kita. Orang yang terbiasa merokok, akan sulit berhenti, walau pikiran jernihnya ingain menghentikan kebiasaan tersebut. Tindakan yang sudah terbiasa diulang-ulang akan membentuk karakter.

Setiap Orang Merasa Dirinya Bebas Bertindak Padahal Dia Diperbudak Oleh Conditioning

Dalam Bhagavad Gita Pembukaan Percakapan ke 16 disampaikan: “Setiap orang secara a priori (tanpa pengalaman empiris — a. k.) percaya bahwa dirinya bebas untuk bertindak semaunya, dan bahwasanya setiap saat ia bisa memulai hidup baru……. Namun, secara a posteriori (lewat pengalaman empiris — a.k), dalam pengalaman hidup yang nyata, ia pun menyadari bila dirinya tidak bebas……. bahwasanya walau sudah membuat berbagai resolusi dan refleksi; tetaplah ia tidak mampu mengubah dirinya. Sejak awal hingga akhir hidupnya, ia tetap mesti menjalani peran yang barangkali tidak disukainya.” Arthur Schopenhauer (The Wisdom of Life, 1851)

Berdasarkan samskara atau “hikmah bawaan” dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, adalah dua Kecenderungan atau Karakter utama yang menjadi “pilihan alami” setiap manusia: SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Melampaui Perbudakan Conditioning Lewat Meditasi

Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang ia peroleh. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya.

Tragisnya: sudah tidak bebas, dia juga tidak sadar bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang perlu diekspresikan.

Meditasi mengantar kita pada penemuan jatidiri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya. Kemudian, synap-synap baru yang masih labil, yang muncul-lenyap, muncul-lenyap adalah thoughts atau satuan pikiran. Thoughts akan selalu segar. Tidak basi seperti mind. Dengan thoughts kita bisa hidup dalam kekinian. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bukan Hanya Sang Kusir Dalam Kisah, Kita pun Ter-Conditioning

Manusia yang serakah, yang berbudaya “tak kunjung cukup”, keadaannya sama seperti orang yang ketagihan obat-obatan. Persis seperti para pencandu, para korban narkotika. Ketagihan oleh narkotika atau oleh uang, seks dan lain-Iain, mekanismenya sama: dosisnya harus bertambah terus.

Reseptor-reseptor synap yang sudah terbentuk membutuhkan stimulus-stimulus yang sesuai dengan kebutuhannya. Kemudian, jika kebutuhannya dipenuhi terus, kepekaan reseptor akan semakin menurun, sehingga untuk memperoleh kenikmatan yang sama, dosisnya harus ditambah.

Itu sebabnya, para pencandu sulit sekali melepaskan narkotika. Begitu pula dengan para elite politik yang haus akan kekuasaan dan para konglomerat yang haus harta. Yang tadinya hanya mencak-mencak di luar, sekarang menjadi MPR. Tadinya hanya menguasai satu kelompok kecil, sekarang merasa menguasai negara. Ya, semakin menjadi-jadi.

Jelas semakin menjadi-jadi, karena kebutuhannya akan semakin meningkat. Dan ia pun akan mencari stimulus yang lebih bcsar. Budaya “tak kunjung cukup” ini saya sebut, “Ketagihan stimulus pemenuh instink hewani” atau “Property Addict” yang persis sama dengan “Narcotic Drug Addict”.

Budaya ini dengan sendirinya menciptakan rasa kepemilikan atau keterikatan dengan stimulus-stimulus tersebut. Itu yang menjelaskan kenapa seorang pejabat selalu terikat dengan jabatannya.

Ya, terikat dengan stimulus-stimulus yang sangat tidak berarti. Sampai menjadi tergantung—addicted! Seperti perokok yang tidak bisa melepaskan rokoknya. Karena sudah terbiasa merokok, kalau tidak merokok mulut serasa kecut. Karena sudah begitu biasa disanjung-sanjung, begitu pensiun dan kehilangan jabatan, lalu senewen!

Padahal dalam konsep yoga atau meditasi sebagaimana kita selami di Ashram, kesadaran manusia berlapis-lapis. Dari mulai kesadaran fisik yang paling luar, paling rendah dan paling kasar, sampai pada yang semakin dalam, semakin tinggi dan semakin halus. Ada yang disebut conscious mind, subconscious mind—lalu superconscious mind atau cosmic mind.

Bagi mereka yang masih berada pada lapisan fisik arau conscious mind, melampaui lapisan tersebut pasti terasa Sangat sulit. Untuk itu, dalam hidup sehari-hari, instink-instink hewani harus dikendalikan.

Salah satu contoh: Makan bila sungguh-sungguh lapar dan berhenti makan sebelum kenyang merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan instink hewani yang berkaitan dengan rasa lapar. Demikian kita tidak akan terbawa oleh “budaya tak kunjung cukup”.

Kemudian jika kebiasaan ini diulangi terus-menerus dengan penuh kesadaran, reseptor synap lapar akan mengalami regresi ataupun perubahan, sehingga yang biasanya menagih porsi besar akan puas dengan porsi yang kecil.

Cara ini dapat diterapkan untuk mengendalikan instink-instink lain. Dalam hal ini, kata kuncinya adalah “kesadaran”. Seseorang harus melakukannya atas kemauan sendiri—dan dengan kesadaran sendiri. Jika dipaksa, justru akan menciptakan obsesi dan synap-synap baru. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mereka Yang Sudah Melampaui Conditioning dan Berpikiran Jernih

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;” Bhagavad Gita 16:1

Krsna sedang menjelaskan karakter atau kecenderungan mereka yang lahir dengan dan dalam kesadaran. Sejak lahir, mereka sudah memiliki kecenderungan-kecenderungan ini sebagai balance-carried forward dari masa kehidupan sebelumnya. Mereka sedang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak perlu lagi mengembangkan karakter, kecenderungan, atau “sifat-sifat bawaan” tersebut—mereka hanya mesti memelihara dan mempertahankannya. Sebuah pekerjaan berat juga, tidak mudah. Tapi, setidaknya mereka tidak lagi membuang waktu untuk mengembangkan semua itu.

TIDAK DEMIKIAN DENGAN KITA, yang kemungkinan besar, tidak memilikj saldo seperti ini dari masa kehidupan sebelumnya. Berarti kita mesti bekerja keras untuk mengembangkannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Arjuna dan Penarik Gerobak Bunga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 9, 2017 by triwidodo

Cara Berdoa Bhima dan Arjuna

Ada beberapa panembah yang suka pamer. Selama berjam-jam mereka bermeditasi, beberapa jam membaca mantra, mengulang-ulang Nama Gusti Pangeran. Mereka memandang rendah panembah yang tidak menghabiskan waktu bermeditasi dan membaca mantra seperti mereka. Arjuna adalah salah satunya. Demikian seorang Guru bercerita demi kebaikan para pendengarnya.

Adalah Bhima kakak Arjuna, yang paling perkasa dalam Pandava, tidak pernah berdoa untuk dewa manapun. Bhima hanya terbiasa makan dan terbiasa bertarung. Bhima adalah banyak makan sekaligus petarung yang handal.

Arjuna lain, dia selalu berdoa kepada banyak dewa, dia berupaya menyenangkan semua dewa. Arjuna selalu mengumpulkan ratusan bunga dan mempersembahkan kepada Shiva satu persatu sambil menyebut nama Shiva. Arjuna bisa menghabiskan waktu berjam-jam jam untuk melakukan hal tersebut. Dan, hal itu membanggakannya.

Apa yang dilakukan Bhima sangat sederhana. Dia menempelkan jari di keningnya dan fokus selama beberapa menit sebelum makan dan dilanjutkan makan banyak. Demikianlah meditasinya.

Sri Krishna mengetahui hal tersebut dan mengajak Arjuna pergi jalan-jalan dengan menyamar sebagai orang biasa. Saat mereka berjalan, mereka melihat seorang pria sedang menarik gerobak penuh dengan bunga.

Arjuna bertanya kepada pria tersebut, “Kamu sedang melakukan apa? Ke mana kamu akan pergi membawa bunga-bunga tersebut?”

Pria itu tetap fokus pada pekerjaannya, dan tidak mempedulikan pertanyaan Arjuna. Krishna mengajak Arjuna untuk mengikuti pria tersebut melakukan perjalanannnya. Ketika pria itu sampai di tempat tujuannya, Arjuna dan Krishna melihat banyak gerobak berisi bunga.

Arjuna kembali bertanya, “Apa yang Anda lalukan dengan ribuan bunga ini?”

Pria tersebut menjawab, “Saya tidak punya waktu untuk berbicara dengan Anda. Saya baru fokus. Saya hanya berbicara kepada satu orang di bumi, dan itulah Bhima, Pandava yang kedua. Dia adalah pencari spiritual terbesar. Saat dia bermeditasi sebelum makan saja, untuk satu atau dua menit, dan berkata dengan penuh penghayatan, “Wahai Gusti Shiva Hyang Maha Kuasa”. Ribuan bunga dipersembahkan kepada Shiva dengan cara tersebut. Coba perhatikan adiknya yang bernama Arjuna, dia hanya melempar bunga kepada Shiva.”

Pukulan telak kepada Arjuna oleh pria tersebut, yang tanpa sadar tengah berhadapan dengan Arjuna sendiri yang sedang dalam penyamaran. Arjuna lunglai dan mohon petunjuk kepada Sri Krishna, bagaimana melakukan persembahan yang baik.

Krishna berkata pada Arjuna, “Aku ingin menyampaikan bahwa bukan jumlah jam, bukan jumlah bunga tapi fokus dan dedikasi.”

 

Bukan Ritual Tapi Menghayati Dengan Pikiran Tak Bercabang Dan Fokus

“Di pihak lain, Partha (Putra Prthu – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) para mahatma – mereka yang berjiwa mulia – yang selalu menyadari kemuliaan dirinya dan mengenali-Ku sebagai Sumber semua makhluk, dan segala-galanya; Tak Termusnahkan, dan Kekal Abadi; senantiasa memuja-Ku dengan seluruh kesadarannya berpusat pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:13

Selama Jiwa Individu atau Jivatma tidak mengenal hakikat dirinya – ia beranggapan bila dirinya adalah badan, indra, pikiran, perasaan dan sebagainya. Kadang seseorang yang menyatakan, “Aku Jiwa, bukan badan”, dan sebagainya pun, masih tetap tidak menyadari hal itu. Ia baru berwacana saja.

Meditator adalah seorang yang menyadari hakikat dirinya. Ia telah menemukan kemuliaan dirinya. Ia melihat dirinya di mana-mana. Tat Tvam Asi – Itulah kau. Kau juga Aku. Aku juga Kau. Dalam kesadaran Jiwa, dan hanyalah dalam kesadaran Jiwa, kita baru bisa bersatu.

…………..

Seperti apakah sifat para Mahatma? Apa yang mereka lakukan? Adakah yang dapat kita contohi? Krsna memberi rumusan: “bhajanty ananya-manasa” – mereka, senantiasa, memuja-Ku, mengenang-Ku, menyadari kehadiran-Ku, menghayati hakikat-Ku – dengan pikiran yang tak bercabang, dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku.

Ini tidak sama dengan disiplin doa beberapa kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Yang dimaksud bukanlah memuja-Nya dengan ritual-ritual tertentu, gerak badan tertentu, sesajen tertentu, ataupun cara-cara, metode-metode tertentu. Bukan, bukan semua itu. Adalah pemujaan purnawaktu yang dibutuhkan. Hal ini, jelas tidak bisa dilakukan secara fisik. Fisik punya dharmanya sendiri, banyak hal yang mesti dilakukannya – dari gosok gigi hingga mencari rezeki. Fisik tidak bisa berdoa atau meditasi saja. Yang dimaksud adalah kesadaraan diri.

“Bhajanty” bukan sekadar bhajan – Dalam pengertian memuji-Nya dengan bernyanyi, bertepuk tangan dengan diiringi musik. Inilah definisi bhajan yang kita temukan di internet. Bukan. Itu merupakan ekspresi bhajan yang paling mudah, paling populer dan paling umum. “Bhajanty” adalah “senantiasa memuji-Nya, mengagungkan-Nya; senantiasa bersyukur atas segala berkah  dan anugerah-Nya; senantiasa menyadari kehadiran-Nya.”

Dan, “ananya manaso” berarti, “dengan pikiran yang tidak bercabang”. Nah, pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran. Pikiran kita saat ini bercabang. Dan selama berinteraksi dengan dunia, pikiran yang bercabang tetap dibutuhkan.

Bagaimana kita bisa memutuskan, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Sifat dualitas pikiran kita membantu. Ia memilah antara yang sekadar nikmat, menyenangkan – dari sesuatu yang mulia. Sifat dualitas dibutuhkan pula untuk merawat badan sehingga kita dapat memilih makanan yang bergizi baginya. Sifat dualitas pikiran manusia di balik segala macam konflik, sekaligus di balik segala macam kemajuan dan perkembangan, pertumbuhan. Sifat dualitas inilah yang membuat pikiran bercabang. Jadi, pikiran yang bercabang pun tetap dibutuhkan.

Sifat pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran yang dibutuhkan pada tingkat Jiwa. Nyamuk yang mengganggu, menyebarkan berbagai penyakit; pun demikian dengan kecoa dan serangga-serangga lain – bahkan virus yang menyerang tubuh kita – mesti dibasmi. Saat itu, pikiran yang bercabang berguna untuk menentukan sikap.

Namun, pada saat yang sama pikiran tidak bercabang atau kesadaran juga dibutuhkan untuk menyadari bila dalam Kesadaran Jiwa kita semua bersatu. Tidak perlu membenci nyamuk dan kecoa saat membasmi mereka. Ada juga orang yang bahagia betul setelah berhasil ‘membunuh’ nyamuk dan kecoa. Tidak, tidak perlu bahagia, dan tidak perlu sedih. Pun tidak perlu bimbang, ‘saya kan spiritual, masak membunuh nyamuk?’ Kebimbangan seperti itu muncul dari ego-spiritual, bukan dari Jiwa-spiritual.

Nyamuk-nyamuk yang mengganggu manusia serta kemanusiaan tidak melulu berwujud sebagai nyamuk. Bisa juga berwujud sebagai manusia, sebagai Kaurava, sebagai apa dan siapa saja. Mereka mesti dibasmi tanpa rasa benci. Sembari membasmi ‘nyamuk-nyamuk’ itu, berdoalah dalam hati, semoga dalam perjalanan selanjutnya, kau mendapatkan tuntunan yang dibutuhkan demi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Kau tidak lagi mengganggu sesama makhluk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia