Archive for meditasi

Kisah Arjuna dan Penarik Gerobak Bunga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 9, 2017 by triwidodo

Cara Berdoa Bhima dan Arjuna

Ada beberapa panembah yang suka pamer. Selama berjam-jam mereka bermeditasi, beberapa jam membaca mantra, mengulang-ulang Nama Gusti Pangeran. Mereka memandang rendah panembah yang tidak menghabiskan waktu bermeditasi dan membaca mantra seperti mereka. Arjuna adalah salah satunya. Demikian seorang Guru bercerita demi kebaikan para pendengarnya.

Adalah Bhima kakak Arjuna, yang paling perkasa dalam Pandava, tidak pernah berdoa untuk dewa manapun. Bhima hanya terbiasa makan dan terbiasa bertarung. Bhima adalah banyak makan sekaligus petarung yang handal.

Arjuna lain, dia selalu berdoa kepada banyak dewa, dia berupaya menyenangkan semua dewa. Arjuna selalu mengumpulkan ratusan bunga dan mempersembahkan kepada Shiva satu persatu sambil menyebut nama Shiva. Arjuna bisa menghabiskan waktu berjam-jam jam untuk melakukan hal tersebut. Dan, hal itu membanggakannya.

Apa yang dilakukan Bhima sangat sederhana. Dia menempelkan jari di keningnya dan fokus selama beberapa menit sebelum makan dan dilanjutkan makan banyak. Demikianlah meditasinya.

Sri Krishna mengetahui hal tersebut dan mengajak Arjuna pergi jalan-jalan dengan menyamar sebagai orang biasa. Saat mereka berjalan, mereka melihat seorang pria sedang menarik gerobak penuh dengan bunga.

Arjuna bertanya kepada pria tersebut, “Kamu sedang melakukan apa? Ke mana kamu akan pergi membawa bunga-bunga tersebut?”

Pria itu tetap fokus pada pekerjaannya, dan tidak mempedulikan pertanyaan Arjuna. Krishna mengajak Arjuna untuk mengikuti pria tersebut melakukan perjalanannnya. Ketika pria itu sampai di tempat tujuannya, Arjuna dan Krishna melihat banyak gerobak berisi bunga.

Arjuna kembali bertanya, “Apa yang Anda lalukan dengan ribuan bunga ini?”

Pria tersebut menjawab, “Saya tidak punya waktu untuk berbicara dengan Anda. Saya baru fokus. Saya hanya berbicara kepada satu orang di bumi, dan itulah Bhima, Pandava yang kedua. Dia adalah pencari spiritual terbesar. Saat dia bermeditasi sebelum makan saja, untuk satu atau dua menit, dan berkata dengan penuh penghayatan, “Wahai Gusti Shiva Hyang Maha Kuasa”. Ribuan bunga dipersembahkan kepada Shiva dengan cara tersebut. Coba perhatikan adiknya yang bernama Arjuna, dia hanya melempar bunga kepada Shiva.”

Pukulan telak kepada Arjuna oleh pria tersebut, yang tanpa sadar tengah berhadapan dengan Arjuna sendiri yang sedang dalam penyamaran. Arjuna lunglai dan mohon petunjuk kepada Sri Krishna, bagaimana melakukan persembahan yang baik.

Krishna berkata pada Arjuna, “Aku ingin menyampaikan bahwa bukan jumlah jam, bukan jumlah bunga tapi fokus dan dedikasi.”

 

Bukan Ritual Tapi Menghayati Dengan Pikiran Tak Bercabang Dan Fokus

“Di pihak lain, Partha (Putra Prthu – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) para mahatma – mereka yang berjiwa mulia – yang selalu menyadari kemuliaan dirinya dan mengenali-Ku sebagai Sumber semua makhluk, dan segala-galanya; Tak Termusnahkan, dan Kekal Abadi; senantiasa memuja-Ku dengan seluruh kesadarannya berpusat pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:13

Selama Jiwa Individu atau Jivatma tidak mengenal hakikat dirinya – ia beranggapan bila dirinya adalah badan, indra, pikiran, perasaan dan sebagainya. Kadang seseorang yang menyatakan, “Aku Jiwa, bukan badan”, dan sebagainya pun, masih tetap tidak menyadari hal itu. Ia baru berwacana saja.

Meditator adalah seorang yang menyadari hakikat dirinya. Ia telah menemukan kemuliaan dirinya. Ia melihat dirinya di mana-mana. Tat Tvam Asi – Itulah kau. Kau juga Aku. Aku juga Kau. Dalam kesadaran Jiwa, dan hanyalah dalam kesadaran Jiwa, kita baru bisa bersatu.

…………..

Seperti apakah sifat para Mahatma? Apa yang mereka lakukan? Adakah yang dapat kita contohi? Krsna memberi rumusan: “bhajanty ananya-manasa” – mereka, senantiasa, memuja-Ku, mengenang-Ku, menyadari kehadiran-Ku, menghayati hakikat-Ku – dengan pikiran yang tak bercabang, dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku.

Ini tidak sama dengan disiplin doa beberapa kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Yang dimaksud bukanlah memuja-Nya dengan ritual-ritual tertentu, gerak badan tertentu, sesajen tertentu, ataupun cara-cara, metode-metode tertentu. Bukan, bukan semua itu. Adalah pemujaan purnawaktu yang dibutuhkan. Hal ini, jelas tidak bisa dilakukan secara fisik. Fisik punya dharmanya sendiri, banyak hal yang mesti dilakukannya – dari gosok gigi hingga mencari rezeki. Fisik tidak bisa berdoa atau meditasi saja. Yang dimaksud adalah kesadaraan diri.

“Bhajanty” bukan sekadar bhajan – Dalam pengertian memuji-Nya dengan bernyanyi, bertepuk tangan dengan diiringi musik. Inilah definisi bhajan yang kita temukan di internet. Bukan. Itu merupakan ekspresi bhajan yang paling mudah, paling populer dan paling umum. “Bhajanty” adalah “senantiasa memuji-Nya, mengagungkan-Nya; senantiasa bersyukur atas segala berkah  dan anugerah-Nya; senantiasa menyadari kehadiran-Nya.”

Dan, “ananya manaso” berarti, “dengan pikiran yang tidak bercabang”. Nah, pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran. Pikiran kita saat ini bercabang. Dan selama berinteraksi dengan dunia, pikiran yang bercabang tetap dibutuhkan.

Bagaimana kita bisa memutuskan, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Sifat dualitas pikiran kita membantu. Ia memilah antara yang sekadar nikmat, menyenangkan – dari sesuatu yang mulia. Sifat dualitas dibutuhkan pula untuk merawat badan sehingga kita dapat memilih makanan yang bergizi baginya. Sifat dualitas pikiran manusia di balik segala macam konflik, sekaligus di balik segala macam kemajuan dan perkembangan, pertumbuhan. Sifat dualitas inilah yang membuat pikiran bercabang. Jadi, pikiran yang bercabang pun tetap dibutuhkan.

Sifat pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran yang dibutuhkan pada tingkat Jiwa. Nyamuk yang mengganggu, menyebarkan berbagai penyakit; pun demikian dengan kecoa dan serangga-serangga lain – bahkan virus yang menyerang tubuh kita – mesti dibasmi. Saat itu, pikiran yang bercabang berguna untuk menentukan sikap.

Namun, pada saat yang sama pikiran tidak bercabang atau kesadaran juga dibutuhkan untuk menyadari bila dalam Kesadaran Jiwa kita semua bersatu. Tidak perlu membenci nyamuk dan kecoa saat membasmi mereka. Ada juga orang yang bahagia betul setelah berhasil ‘membunuh’ nyamuk dan kecoa. Tidak, tidak perlu bahagia, dan tidak perlu sedih. Pun tidak perlu bimbang, ‘saya kan spiritual, masak membunuh nyamuk?’ Kebimbangan seperti itu muncul dari ego-spiritual, bukan dari Jiwa-spiritual.

Nyamuk-nyamuk yang mengganggu manusia serta kemanusiaan tidak melulu berwujud sebagai nyamuk. Bisa juga berwujud sebagai manusia, sebagai Kaurava, sebagai apa dan siapa saja. Mereka mesti dibasmi tanpa rasa benci. Sembari membasmi ‘nyamuk-nyamuk’ itu, berdoalah dalam hati, semoga dalam perjalanan selanjutnya, kau mendapatkan tuntunan yang dibutuhkan demi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Kau tidak lagi mengganggu sesama makhluk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements