Archive for melayani

Ibu, Aku Mencintaimu! #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 5, 2018 by triwidodo

Sebuah kisah tentang seorang pria yang berhenti pada sebuah toko bunga untuk memesan seikat mawar yang akan dikirimkan ke ibunya yang tinggal di kota lain dengan jarak sekitar 200 km. Ayah pria tersebut sudah meninggal dunia beberapa saat sebelumnya. Saat ke luar mobil dia melihat seorang anak kecil perempuan duduk di depan toko sambil menangis terisak-isak. Pria tersebut bertanya, ada masalah apa? Dan dijawab anak tersebut bahwa dia ingin membeli mawar merah untuk ibunya, tetapi hanya punya tujuh puluh lima sen, sedangkan harga satu mawar adalah dua dollar.

Pria tersebut tersenyum dan berkata, “Ayo ikut saya. Akan kubelikan mawar.” Pria itu membeli mawar bagi anak perempuan itu dan memesan bunga mawar bagi ibunya agar dikirim toko tersebut ke rumah ibunya. Pria itu memberikan bunga kepada anak perempuan dan menawari kalau dia mau diantar ke rumahnya. Anak perempuan tersebut sangat berterima kasih, ikut naik mobil dan menunjukkan tempat ibunya.

Pria itu kaget, ternyata dia mengemudikan mobil menuju pemakaman, dan anak perempuan tersebut meletakkan mawar pada sebuah kuburan yang masih baru.

Pria itu kembali ke toko bunga, membatalkan pesanan dan membeli sebuah buket bunga dan mengemudikan langsung mobilnya ke rumah ibunya yang berjarak 200 km.

Kita tidak pernah bisa membalas kebaikan orangtua kita. Kita bisa menjadi seperti saat ini adalah karena orangtua kita yang mengasihi kita sejak kecil.

Kita lahir di dunia dan pertama-tama kita mengenal kedua orangtua kita. Kemudian kita menjadi dewasa dan kita mengenal beberapa orang yang dekat dengan kita. Hubungan dengan orang-orang terdekat tersebut adalah karena hubungan karma. Dan kita harus bisa menyelesaikan karma dengan sebaik-baiknya. Mereka yang tidak ada kaitan karma tidak pernah bersinggungan dengan kita. Berhubungan baiklah dengan semua orang yang kita temui, termasuk yang bertemu dalam media sosial. Kita dapat menyelesaikan karma dengan mereka tanpa harus membuang waktu bertemu langsung……

Hubungan dengan 20 orang terdekat

Dalam video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna disampaikan tentang hubungan keterikatan dengan keluarga:

“Hubungan, keterikatan dengan keluarga atau orang lain, menurut pandangan Veda, pandangan Yoga berdasarkan kredit dan debit. Partner kamu saat ini bisa saja ayah atau ibumu di kehidupan masa lalu. Dan sekarang dia adalah partner-mu. Dan apabila kita menelusuri hal demikian, maka hanya ada 20 orang yang benar-benar dekat. Dengan 20 orang ini kita terus bertemu. Peran  berubah tetapi hubungan tetap.” Dikutip dari video youtube Kamasutra Part 2: From Passion to Compassion by Anand Krishna

Dalam episode kehidupan saat ini kita mempunyai hubungan dengan sekitar 20 orang. Terutama ayah, ibu saudara dan sebagainya. Setiap hubungan pasti membuahkan hutang-piutang perbuatan, ada yang perbuatan baik dan ada perbuatan buruk. Misalkan kita punya hutang (banyak perbuatan buruk) terhadap salah satu keluarga kita, maka kita akan lahir lagi untuk melunasi hutang tersebut. Demikian juga sebaliknya jika kita berbuat baik dengan salah satu anggota keluarga, maka kita akan lahir lagi untuk menerima hasil pengembalian dari anggota keluarga tersebut.

Hutang-piutang harus tetap diselesaikan oleh orang yang bersangkutan dalam episode kelahiran berikutnya, akan tetapi peran orang tersebut bisa berubah, misalkan tadinya anak sekarang menjadi suami atau saudaranya. Intinya dalam kehidupan mendatang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kaitan hutang-piutang dengan kita namun dengan peran yang berbeda. Oleh karena itu jangan membuat karma buruk!

Tidak meninggalkan keluarga tapi melayani tanpa keterikatan

“Dengan sepenuhnya membebaskan diri dari keterikatan, rasa takut dan amarah; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, sepenuhnya berlindung pada-Ku; serta menyucikan diri dengan tapa, laku spiritual untuk mengetahui Hakikat-Diri; banyak yang telah mencapai kesadaran-Ku dan manunggal dengan-Ku.” Bhagavad Gita 4:10

Tidak henti-hentinya Krsna mengingatkan kita bahwa kesadaran tertinggi bukanlah rnonopoli diri-Nya.

SIAPA SAJA BISA MENCAPAI-NYA, asal kita berupaya dengan sungguh-sungguh. Yaitu, dengan cara membebaskan diri dari keterikatan. Tidak berhenti bekerja, tapi bekerja tanpa pamrih. Tidak meninggalkan keluarga, tetapi mencintai dan melayaninya tanpa keterikatan. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

https://www.facebook.com/bukuspiritual/

 

Keterikatan bukan Landasan Kehidupan

Banyak juga yang beranggapan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa keterikatan, “Mana mungkin hidup tanpa keterikatan keluarga, pekerjaan segala? Bagaimana dengan kewajiban-kewajiban manusia?

Mereka yang berpaham demikian, umumnya menjadikan keterikatan sebagai landasan mereka berkeluarga, bekerja, dan bahkan untuk bertahan hidup.

SALAH PAHAM INI MEMUNCULKAN EG0, aku, ke-“aku”-an, keangkuhan, dan ilusi. Hasilnya adalah suka dan duka, panas dan dingin, dan pengalaman-pengalaman lain yang saling bertentangan.

Pernahkah kita berpikir balik, ketika sedang hangat-hangat berpacaran, apakah kita merencanakan perkawinan untuk “saling mengikat”? Pernahkah kita memikirkan “keterikatan”? Pacaran supaya “aku bisa terikat denganmu” — begitu? Atau, bekerja di kantormu, supaya aku bisa “terikat dengan kantormu”? Begitukah?

Jelas tidak. Ketika berpacaran, landasannya adalah cinta. Ketika mencari pekerjaan, landasannya adalah penghasilan. Bukankah demikian secara umum?

KEMUDIAN, DARI MANAKAH TIMBULNYA KETERIKATAN? Cinta meluntur, kepuasan berakhir — dan keterikatan muncul. Sepasang suami-istri yang menikah setelah rnengakhiri masa pacaran selama belasan tahun sejak di bangku SMP — berakhir dengan cerai. Setelah cerai, baru sadar bahwa selama beberapa tahun sebagai suami-istri, cinta di antara mereka sudah hilang, diganti, diambil tempatnya oleh keterikatan.

Bersama keterikatan, muncul pula rasa kepemilikan, kecemburuan, dan kekecewaan. Hasil akhir: Perceraian. Namun, kisah kita belum selesai, setelah cerai….

MEREKA SALING MERINDUKAN – Namun, lagi-lagi, bukan karena Cinta, tetapi karena, “Sekarang, sebelum pergi ke kantor, mesti mempersiapkan makan pagi dulu,” Atau, “Dulu ada yang menjemput, sekarang pulang kantor mesti naik taksi.”

Untuk disiapkan makan pagi dan disopiri — itukah alasan kita berpacaran dan menikah? Untuk menyiapkan makan pagi, pembantu sudah cukup. Untuk menjemput dari tempat kerja — kita perlu menggaji seorang sopir. Kita tidak perlu kawin untuk itu!

Dalam perkawinan maupun pekerjaan, kita mesti memiliki Integritas Tinggi untuk membuat dan menjaga komitmen. Dan landasan komitmen dalam perkawinan adalah Cinta. Bagi pekerjaan, landasannya adalah Kepuasan Hati. Keterikatan tidak bisa dijadikan landasan.

KITA TERKAIT DENGAN MASAKAN JAWA, maka ke Jepang pun mencari nasi pecel. Bayangkan betapa terbatas jadinya wawasan kita! Cobalah hidangan Jepang, apa salahnya? Hidup memiliki sekian banyak warna — termasuk warna-warna yang belum pernah terdeteksi oleh mata manusia. Masih ada segudang warna kehidupan yang dapat di-explore — mengapa mesti mernbatasi diri dengan keterikatan pada beberapa warna saja?

Keterikatan mempersempit wawasan kita. Jiwa yang hendak berpetualang, tersesakkan oleh keterikatan dan keterbatasan ilusif.

Keterikatan membuat kita tidak mampu keluar dari kepompong dan terbang di alam bebas sebagai kupu-kupu. Jika kita terikat dengan kepompong — kita tidak akan pernah menjadi kupu-kupu. Padahal, terbang bebas seperti kupu-kupu adalah takdir kepompong; kebebasan adalah takdir kita!

KETERIKATAN BUKANLAH LANDASAN KEHIDUPAN – Letting go adalah landasan bagi kehidupan. Setiap saat kita melewati saat sebelumnya. Saat yang sudah berlalu tidak pernah kembali. Penjelasan Bhagavad Gita 15:5 dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Karma, Dualitas dan Melayani Tanpa Pamrih #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , , on January 21, 2018 by triwidodo

Dikisahkan adalah seorang cendikiawan yang merasa memahami seluk-beluk karma. Pada suatu hari dia bertemu dengan seorang hanya mempunyai kaki, dan mind-nya berkata, “Orang ini pasti pada kehidupan masa lalunya pernah menghina seorang Suci.” Pada kehidupan masa lalu orang tersebut memang amat angkuh dan menghina orang-orang yang memegang kaki seorang Suci dan berkata, “Kenapa tidak memegang Tuhan di kaki saya, hahaha…. Silakan menikmati Tuhan pada kaki saya…”

Sang Cendikiawan berjalan dan bertemu seorang pengemis tanpa jari mohon bantuan. Sang Cendikiawan melengos dan mind-nya berpikir, “orang ini pasti di kehidupan masa lalu sebagai pencuri dan kini jari-jari tangannya tak ada.” Pada kehidupan masa lalu dia memang mencuri harta seorang pedagang yang bekerja bersusah payah untuk membiayai kelarganya. Sang pedagang mengutuk pencuri yang tidak tahu kesusahan orang lain, semoga di kehidupan selanjutnya lahir tanpa jari-jari tangan.

Pada suatu kali Sang Cendikiawan melihat orang buta sedang memegang tongkat dan berjalan berhati-hati karena jalan disampingnya adalah sebuah parit yang dalam. Sang Cendikiawan tidak mau membantu orang buta tersebut dan mind-nya berkata, “Orang ini pada kehidupan yang lalu pasti memperoleh segala sesuatu tapi tidak mau melihat hal-hal yang penting dalam kehidupan maka sekarang dia menjadi buta!”

Tiba-tiba si buta tertawa, “Hahaha, benar sekali di kehidupan masa lalu saya tidak mau melihat hal yang penting, maka saya lahir buta. Demikian pula Tuan. Tuan akan lahir kembali sebagai orang buta!”

Tiba-tiba Sang Cendiawanan kaget dan matanya tidak dapat melihat lagi. Sang Cendikiawan mohon maaf dan mohon petunjuk apa yang harus dikerjakannya.

Si  Buta berkata, “saya dulu persis seperti Tuan hanya melihat dan menganalisa orang lain tapi tidak membantu sama sekali. Saya tidak melihat bahwa orang yang menderita adalah aku juga. Mereka yang tidak punya kaki, tidak punya jari-jari tangan dan mereka yang buta adalah diriku juga. Tuan masih hidup dalam dualitas, sehingga masih mengalami hukum karma!”

Sang Cendiawan sadar, mohon maaf, berjanji akan membantu orang yang sedang menderita sebagaimana membantu dirinya sendiri……….. dan matanya bisa dibuka kembali……………….

 

Tat Tvam Asi, aku adalah kamu, kamu adalah aku

“Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), apa pun yang kau lakukan; apa pun yang kau makan; apa pun yang kau persembahkan kepada api suci (segala puja persembahanmu); apa pun yang kau hadiahkan (derma yang kau berikan); dan segala tapa-brata – persembahkanlah semuanya  kepada-Ku.” Bhagavad Gita 9:27

Makna pertama adalah jelas: Lakukan segala-galanya dengan semangat persembahan. Jadi bukan sekadar ora-et-labora atau berdoa sambil berkarya – namun segala macam karya dijadikan doa. Pekerjaan itu sendiri menjadi persembahan – work is worship. Ini makna pertama.

Ada pula makna lain yang terselubung – Melakukan segala sesuatu, termasuk beramal saleh, berdana-punia, segala-galanya dengan penuh kesadaran bila kita sedang melakukannya bagi diri sendiri – bukan bagi orang lain.

Kita tidak menghadiahi orang lain, kita sedang menghadiahi diri sendiri. Kita tidak bersedekah atau melayani ‘orang lain’, kita tidak membantu ‘orang lain’ – kita sedang melayani diri sendiri, kita sedang membantu diri sendiri. Lihatlah kemuliaan Jiwa yang sama, percikan Jiwa Agung Hyang Tunggal dalam diri setiap orang, setiap makhluk.

Kegagalan segala Program Sosial – dompet bantuan, dan sebagainya – disebabkan oleh semangat yang salah. Semangatnya adalah membantu fakir-miskin, melayani yatim-piatu. Semangatnya adalah aku memberi, kau menerima. Semangatnya adalah terserah aku, mau memberimu berapa, dan seberapa kukantongi sebagai sendiri sebagai komisi.

Tidak heran bila dalam kegiatan amal-saleh di bawah pengawsan lembaga-lembaga kepercayaan pun – tetap terjadi korupsi dan proses penyunatan sumbangan. Bahkan tidak jarang, sunat berubah menjadi amputasi. Dapat 10, disalurkan 4 saja. Ini sudah bukan komisi lagi, sudah bukan korupsi lagi, sudah bukan sunat lagi – sudah amputasi.

Tega-teganya si penyalur yang diberi kepercayaan oleh masyarakat, oleh lembaga – melakukan hal itu. Dan melakukannyasecara beramai-ramai ; korupsi bersama, dengan melibatkan opsir tinggi, bahkan tertinggi, hingga pegawai kecil! Ketegaan seperti ini bisa terjadi karena semangatnya adalah aku memberi, kau menerima, ‘Sudah bagus kuberi kau. Dan sebagai pemberi, ya aku sendiri yang menentukan, seberapa yang kuberikan. Kau, sebagai penerima – tidak berhak untuk mempersoalkan keputusanku. Kuberi berapa, terima saja. Jangan mengeluh!’

Ya, itu – semangatnya adalah kau lain, aku lain. Semangat ini mesti diubah. Tidak ada orang lain. Yang ada hanyalah wujud lain dari Sang Jiwa yang sama – tunggal.

Tat Tvam Asi – sepertisemboyan Departemen Sosial yang masih merupakan warisan dari Founding Fathers kita, ‘Aku adalah kau, kau adalah aku – aku tidak melayanimu, tidak bisa. Aku sedang melayani diri sendiri lewat wujudmu. Aku sedang membantu diriku sendiri yang berada dalam wujud yang beda.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Lepas dari dualitas

“Demikian, dengan pikiranmu kukuh dalam kesadaran samnyasa, lepas dari segala dualitas dan keterikatan; niscayalah kau terbebaskan dari belenggu karma baik dan buruk, dan mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 9:28

Samnyas Yoga – melepaskan diri dari segala macam keterikatan adalah Samnyas. Dan, pelepasan itulah yang mengantar kita ke alam kemanunggalan, bebas, dari segala dualitas. Itulah Yoga.

Apa yang menyebabkan keterikatan? Dualitas, halusinasi-perbedaan. Ini anakku, itu anakmu. Ini hartaku, itu milikmu. Bahkan, tidak jarang para anggota ISTI – Ikatan Suami Takut Istri – setakut apa pun, masih tetap bisa membuat perjanjian ‘pisah harta’. Sehingga, suatu saat kalau cerai, nggak repot. Untung ada ‘lembaga’ pisah-harta! Ha ha ha…. Intinya, semua itu adalah hasil dari dualitas. Kepercayaanku, kepercayaanmu; Tuhanku, Tuhanmu. Daftar dualitas tidak pernah bisa diperpendek, selalu bertambah panjang.

Lampauilah dualitas! Melampaui dualitas tidak berarti kita meninggalkan suami atau istri. Tidak. Kita tetap melayani pasangan kita, tapi dengan semangat yang beda. Kita sedang melayani diri kita sendiri dalam wujud yang beda. Jika susah, maka layanilah dia dengan mempersembahkan yang terbaik kepada Gusti Pangeran.

Mulailah dari saat ini – ya mari kita mulai dari saat ini. Karya ini bukanlah karyaku, tapi karya kita. Tulisan ini, coretan-coretan ini, pemikiran ini adalah persembahan kita bersama kepada Gusti Pangeran.

Dalam wujud ini – yang sedang menulis dengan menggunakan bolpen dan saat ini berada di balik jeruji – aku sedang menulis. Dalam wujudmu, aku sendiri sedang membaca tulisanku. Antara menulis dan membaca – adalah proses panjang mentranskrip, mengedit, melakukan setting, menentukan layout, merancang sampul, mencetak, membungkus, menyalurkan, menjuala – dan masih entah berapa langkah lagi – semuanya adalah langkah yang kuambil, kita ambil. Semuanya adalah persembahaan kita kepada Hyang Maha Tunggal.

Akulah penulis, aku pula pembaca, akulah seluruh proses editing, penyaluran, penjualan – akulah semuanya. Akulah yang mempersembahkan karya ini kepada Gusti Pangeran yang adalah hakikat diriku. Akulah kau.

Aku-Ego dan Aku-Kesadaran beda – ‘aku-ego’ bunyinya nyaring. Aku-Kesadaraan Besar, Maha Besar, senantiasa bergetar dan Getaran-Nya menghidupi seantero alam dengan segala isinya, tetapi tidak berbunyi nyaring seperti kaleng kosong. Aku-Kesadaran berkarya tanpa gembar-gembor, seperti terbitnya matahari setiap pagi dan terbenamnya setiap sore. Raihlah Kesadaran Jiwa itu – demikian kita akan terbebaskan dari ikatan karma.

Ya, bebas dari ‘ikatan’ karma. Karma baik maupun buruk – dua-duanya menciptakan belenggu. Dua-duanya mengikat. Karma buruk mengikat kita, taruhlah dengan belenggu yang terbuat dari besi. Jelek. Kelihatan jelas.

Karma baik mengikat kita, merantai kita dengan belenggu yang terbuat dari emas. Indah dan kita menganggapnya sebagaai perhiasan, bukan belenggu lagi. Sehingga kita, enggan untuk melepaskannya.

Ya belenggu karma baik lebih susah dilepaskan. Kita sedang menikmati segala kenyamanan dan kenikmatan surga – bagaimana meninggalkan surga? Belenggu karma baik membuat kita lebih parah. Ada keengganan untuk melepaskannya. Atau malah seperti yang dianalogikan di atas, tidak tahu bila kita terbelenggu. Belenggu emas tidak seperti belenggu – seperti perhiasan.

Seorang Samnyas tidak berurusan dengan belenggu macam apa pun, jenis apa pun, sekalipun bertatahkan permata dan intan berharga. Harga adalah ilusi yang diciptakan oleh dualitas juga. Arang, batu bara, kristal, pernata, intan, berlian, wujud Anda dan wujud saya – semuanya adalah carbon-based. Kalau dihargai – semestinya sama harganya. Semestinya dihargai dengan satuan kiloan. Tapi tidak, kita menghargai tubuh dengan satuan lain, batu bara dengan satuan lain, dan berlian dengan satuan yang beda lagi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia