Archive for narada bhakti sutra

Setiap Orang Ingin Bahagia? Kisah Anak Sapi dan Para Gopi Sri Krishna

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 13, 2016 by triwidodo

buku narada bhakti sutra anand ashram ubud

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Ada kisah menarik tentang Krishna. Diceritakan bahwa beliau memiliki 16,000 pacar, para Gopi. Sesungguhnya hubungan Krishna dengan para Gopi adalah hubungan Kasih. Saat itu, Krishna baru berusia 10-11 tahun, sementara para Gopi rata-rata diatas usia 16 tahun. Gopi berarti Cow-girl. Bukan Cowboy tetapi Cowgirl!

Krishna sendiri disebut Gopal — Pelindung Sapi. Dalam tradisi Hindu, sapi dianggap sebagai hewan yang paling jinak, dan kejinakan itu yang dilindungi Krishna.

Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”-nya.

Para Gopi disebut-sebut sebagai reinkarnasi para pertapa yang telah mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu, tetapi belum mencicipi manisnya kasih. Mereka lahir kembali untuk menyelesaikan “skripsi”. Untuk mcngikuti “semester terakhir”. Sungguh beruntung mereka, karena Krishna menjadi dosen pembimbing mereka.

Sebelumnya, mereka hidup dalam masa yang berbeda. Setelah meninggalkan badan, di alam “transit” sana, mereka janjian, “Ada yang masih kurang nih. . .. Kembali yuk!”

Dan mereka menunggu lama sampai “berita” kelahiran Krishna. Mereka mendengar bahwa akan lahir scorang Avatar. Seseorang yang sudah mencapai Kesadaran Tertinggi dan balik lagi atas Kemauan-Nya “Sendiri”.  Jangan lupa bahwa “Sendiri” orang semacam itu tidak sama dengan “sendiri kita”. Seperti juga “Aku” dia tidak sama dengan “aku kita”.

Ibarat para siswa, pertapa-pertapa itu menunggu kedatangan seorang Dosen Favorit. Sengaja mereka memilih lahir lebih awal, karena “informasi” yang mereka miliki, bahwa Krishna akan menjadi sangat sibuk. ]adi, antre duluan.

Dikisahkan, setiap kali Krishna memainkan serulingnya, para Gopi akan mengerumuni dia. Pagi, siang, sore, malam, kapan saja, bunyi seruling akan menarik mereka ke tepi sungai Yamuna, dimana Krishna selalu menunggui kedatangan mereka.

Pada suatu hari, para Gopi melihat seekor anak sapi tergeletak di tepi sungai Yamuna. Ternyata sudah tidak bernyawa. Mereka merasa kasihan: “Krishna, biarlah dia hidup kembali.”

Krishna menanggapi mereka, “Dia sudah mati. Bagaimana bisa dihidupkan kembali?”

“Apa susahnya bagimu, Krishna? Kira pernah melihatmu mengangkat bukit Govardhana dengan jari kelingkingmu. Sekian banyak mukjizat yang terjadi setiap saat. Apa sulitnya menghidupkan kembali seekor anak sapi?”

Dan mereka betul. Banyak keajaiban yang terjadi sekitar Krishna. Tuntutan mereka, permohonan mereka tidak berlebihan. Masih segar dalam ingatan, ketika Krishna melarang mereka untuk memuja Dewa Indra, “Para Dewa hanya menjalankan Perintah Dia Yang Maha Esa. Cukup menghormati mereka. Tidak perlu menyembah. Tidak perlu memuja.”

Dewa Indra marah. Dia sudah terbiasa dipuja dan dihormati…. Sekarang, tiba-tiba….. Itu pun gara-gara seorang anak yang masih ingusan. Dan turunlah hujan serta angin kencang. Warga Gokula kehilangan tempat tinggal. Krishna tetap tenang. Dengan jari kelingkingnya dia mengangkat Bukit Govardhana, “Ayuk, berlindunglah di bawah payung raksasa ini.”

Dan Dewa Indra pun sadar, “Engkau bukanlah anak biasa. Maafkan aku. Maafkan kesombonganku. Aku sempat lupa bahwa kekuatanku, kekuasaanku — semuanya pemberian Dia. . ..”

Para Gopi mendesak Krishna, “Ayuk Krishna hidupkan anak sapi ini.”

“Baiklah, bila kalian mendesak, anak sapi itu akan kuhidupkan kembali, tetapi  dengan syarat.”

“Apa syaratnya, Krishna?” tanya mcreka.

“Salah seorang di antara kalian harus mengungkapkan isi hatinya dengan jujur. Dia harus menjawab pertanyaanku.”

“Apa lagi, Krishna, pertanyaan apa yang harus kami jawab?”

What do you desire the most? Apa yang kalian inginkan? jawaban tepat dan jujur akan menghidupkan kembali anak sapi ini.”

Satu per satu, mereka maju ke depan untuk menjawab pertanyaan Krishna. Dan jawaban mereka hampir sama, ”Aku menginginkan kamu, Krishna.” Anak sapi tetap tidak bernyawa. Tidak hidup kembali.

Maka seorang Gopi memberanikan diri: “Krishna, yang terbayang saat ini adalah perhiasan leher milik tetanggaku. Mungkin itu yang kuinginkan.”

Memang tidak terjadi sesuatu pun pada anak sapi, tetapi yang lain makin berani, makin jujur: “Atap rumahku bocor. Yang terpikir saat ini adalah perbaikan atap rumah. Aku membutuhkan seorang  tukang, Krishna.”

Krishna tersenyum, “Ternyata keinginan kalian beragam. Tidak seragam. Aneh, anak sapi ini masih tidak hidup kcmbali. Mungkin kalian sudah cukup jujur, tetapi masih kurang tepat.”

Sisa tiga Gopi. . . .

Savitri mengatakan: “Krishna aku mencintaimu. Dan aku tahu kamu pun mencintaiku. Lalu apa lagi yang harus kuinginkan?”

Anak sapi tetap tidak bergerak.

Radha berdiri persis di belakang Savitri. Gilirannya untuk menjawab, tetapi dia malah mendorong Janaki. Krishna melihat hal itu, “Tidak Radha, jangan mendesak Janaki. Kamu dulu. …”

Jawaban Radha sungguh manis, “Krishna, biarlah wujudmu dan wujudku sirna. Kasih di antara kita tak akan punah. Itulah keyakinanku. Itu pula keinginanku.”

Tetapi, anak sapi masih saja tergeletak tak bernyawa seperti semula.

Terakhir Janaki, “Setiap orang ingin bahagia. Kebahagiaan — itulah keinginan tunggal manusia.”

Dan, anak sapi itu langsung hidup.

Radha marah…. sekaligus iri. Selama itu dia merasa dirinya sangat dekat dengan Krishna. Kesayangan Krishna. “Jangan-jangan Janaki mengambil kedudukanku,” pikir dia. Dia berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya, tetapi tidak bisa, “Krishna, aku bingung …. ..”

“Kenapa Radha. Kenapa bingung?”

“Jawaban Janaki tadi menghidupkan kembali anak sapi yang sudah mati. . . .  Apa iya, keinginan tunggal setiap orang adalah kebahagiaan diri?”

Krishna mengajak Radha untuk merenungkan, “Ada yang menginginkan aku. Untuk apa? Karena aku membahagiakan dia. Kamu sendiri menginginkan wujudmu dan wujudku sirna. Kenapa? Karena kamu yakin bahwa cinta di antara kita tak akan punah. Ada wujud atau tidak, tidak menjadi soal.”

Radha diam, merasa tersanjung.

“Renungkan, Radha. Tidak adanya wujud ini tidak menjadi soal bagi siapa? Jelas bagimu saja. Bagaimana dengan para Gopi yang lain? Tahukah kamu isi hati mereka? Keinginan mereka? Yakinkah kamu bahwa mereka tidak menginginkan kedekatan dengan wujud ini?”

Radha diam, kini dia tahu ke arah mana pembicaraan itu akan berakhir.

“Kamu tidak memikirkan mereka. Kamu hanya memikirkan diri sendiri. Karena dirimu sudah  melampaul kesadaran jasmam, kamu menginginkan wujudku sirna bersama wujudmu. Bagaimana dengan mereka yang masih belum bisa melampaui kesadaran jasmani? Bagaimana dengan mereka yang masih membutuhkan wujudku yang satu ini?”

Radha baru menyadari kesalahannya. Dan ikut sadar bersama dia, para Gopi yang lain. Betul — yang dicari-cari dan diinginkan oleh setiap manusia adalah kebahagiaan diri. Dan, demi kebahagiaan diri, kita sering lupa memikirkan kebahagiaan orang lain.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) hal 108-113

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Advertisements

Mau Mengejar Surga atau Mau “Bertemu” dengan Tuhan?

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on July 30, 2016 by triwidodo

buku narada bhakti sutra para gopi

Bila ada pengumuman resmi dari atas sana bahwa Tuhan pindah rumah dan sekarang tinggal di Neraka, mungkin kita pun mengurungkan niat untuk bertemu dengan Tuhan. Lebih baik memilih Surga daripada memilih Tuhan di Neraka. Yang lebih pintar malah akan mencari pembenaran, “Ah, pengumuman itu tidak benar. Menyesatkan. Pasti dari Setan. Masa iya, Tuhan mau pindah ke Neraka?”

buku narada bhakti sutra

Cover Buku Narada Bhakti Sutra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

 

Para Gopi di Vraja telah melakukannya.

Para Gopi di Vraja memiliki kasih seperti itu. Kasih mewarnai seluruh hidup mereka. Bagi mereka, kasih itu scgala-galanya. Kesadaran dan Ketuhanan, Pencerahan dan Pembebasan — semuanya Kasih.

Pada suatu hari Krishna “mengaku” sakit kepala. Kedelapan istrinya menjadi sibuk. Ada yang memijitnya. Ada yang mengolesinya dengan salep. Krishna tetap saja mengeluh, “Sakit kepala malah bertambah. . .. Aduh, aduh, aduh. . ..”

Para vaidya atau tabib pun dipanggil, tetapi tak seorang pun bisa membantu. Krishna mulai menjerit. Dan setiap jeritan menyayat hati para pendengarnya.

Maka datanglah tokoh kita, Narada…. “Narayana, Narayana… Penyakit ini bisa disembuhkan. Ada obatnya….”

Para istri mulai main tarik-tarikkan. Yang satu menarik Narada ke kanan. Yang satu ke kiri. Yang satu ke belakang, “Katakan Rishi, apa obatnya?”

Setiap di antara mereka ingin menjadi pahlawan. Ya, menjadi yang pertama untuk memberi obat. Yang repot ya Narada. Mau bilang sama siapa? Yang mana harus diberitahu?

“Begini saja, saya beritahu obatnya kepada semua. Terserah kalian, siapa yang akan memberinya kepada Sri Krishna.”

Narada sedang melaksanakan tugas. Dia adalah Chief Executive Oflicer. Saat itu dia hanya meneruskan “bisikan” Krishna kepadanya, “Debu telapak kaki seorang pencinta Krishna — obat yang dibutuhkan. Oleskan di kepalanya dan Sri Krishna akan langsung sembuh… Tetapi….”

Para istri sudah tidak sabar lagi, cepat-cepat mereka membungkuk untuk mengambil debu. . ..

“Tunggu dulu, aku belum selesai. Tetapi ada satu hal yang perlu saya jelaskan. Dengarkan dulu. Jangan terburu-buru. . …”

“Apa lagi, Narada? Katakan. . ..”

Dan Narada mengutip Shastra, kitab suci, tradisi dan peraturan yang sudah baku dan dianggap bagian dari agama, “Ada tertulis bahwa seorang istri tidak boleh menghina suaminya. Dan mengolesi debu di dahi suami merupakan penghinaan terbesar. Hukumannya pun berat, yaitu Neraka. . ..”

Maka para istri mulai melihat ke kanan dan ke kiri. Saling menunggu. Hanya sesaat sebelumnya, rebutan. Sekarang. . ..

Jeritan Krishna makin keras. Tetapi, siapa peduli? Ini sudah urusan Surga-Neraka. Krishna menarik lengan Narada, “Narada, bantulah aku. Carilah seorang pencinta yang bersedia memberikan debu dari kakinya.”

Para istri mulai mencari pembenaran, “Bukan karena Surga-Neraka, Narada, tetapi bagaimana menghina suami tercinta dengan mengoleskan debu dari kaki kita?”

Dalam hati, Narada mungkin berpikir, “Bull….. Tadi sudah siap-siap mengambil debu. Ada yang bungkuk ke depan, ada yang malah mengangkat kaki. . .. Sekarang bicara soal penghinaan segala?

But, never mind — it happens.

Begitulah sifat manusia. Bila ada pengumuman resmi dari atas sana bahwa Tuhan pindah rumah dan sekarang tinggal di Neraka, mungkin kita pun mengurungkan niat untuk bertemu dengan Tuhan. Lebih baik memilih Surga daripada memilih Tuhan di Neraka. Yang lebih pintar malah akan mencari pembenaran, “Ah, pengumuman itu tidak benar. Menyesatkan. Pasti dari Setan. Masa iya, Tuhan mau pindah ke Neraka?”

Narada berupaya untuk menenangkan Sri Krishna, “Jangan khawatir, Tuanku…  Saya akan segera ke Vrij, ke Vrindavan. Di sana ada belasan ribu Gopi. Mungkin salah satu di antara mereka akan memberi debu dari kakinya.”

Krishna bernapas lega, “Ya, ya, Narada. . .. cepat. Mungkin salah satu di antara mereka rela masuk Neraka demi aku.”

Tidak lama kemudian, Narada sudah berada di Vrindavan. Para Gopi mengerumuninya, “Rishi, ada kabar tentang Krishna? Apakah Rishi sempat bertemu dengan dia?”

“Ya, baru saja…. Dan, Narayana, Narayana… Keadaannya sungguh menyedihkan. Mendengar jeritannya, hatiku tersayat. . ..”

“Apa yang terjadi?” Beberapa di antara para Gopi bahkan langsung jatuh pingsan.

Krishna menderita sakit kepala. Para vaidya pun tidak berhasil menyembuhkan dia.”

Para Gopi mulai menjerit histeris, “Krishna, Krishna, Krishna….”

Narada berupaya menenangkan mereka, “Ada satu cara. Hanya satu cara. Yaitu, debu dari kaki pencinta…. Ya, bila debu itu ditaruh di atas kepalanya, dia akan sembuh. . ..”

Maka para Gopi yang baru saja mandi dan kaki mereka masih bersih sengaja menginjak-injak tanah basah. Pasir, apa saja….”Ambilah debu dari kaki kami. Ambil sebanyak mungkin, Narada…. Dan kembalilah ke Dvaraka. Krishna harus segera sembuh….”

Narada kembali menguji mereka, “Tetapi, jangan lupa…… Kitab-kitab suci dan peraturan agama dalam hal ini jelas sekali. Menaruh debu di atas kepala seseorang yang kalian cintai, sayangi, hormati….. Hukumannya hanya satu: Neraka.”

“Ah, ah, ah…” teriak para Gopi, “Siapa yang memikirkan Neraka dan Surga? Cepat Narada ambillah debu ini dan tinggalkan Vrija.”

Di Dvaraka…..

Saat itu juga, sakit kepala Krishna hilang. Sebelumnya pun sebetulnya tidak ada, mau hilang bagaimana? Seluruh sandiwara itu memang dimainkan untuk memberi pelajaran kepada isteri. Dan lewat mereka, kepada kita semua……

Para istri bertanya, “Krishna, kamu sudah sembuh?”

“Ya, sembuh. . .. Sakit kepalaku hilang sudah.”

But how, bagaimana?”

“Sekian banyak karung debu yang kuterima dari Vrindavana.”

Debu dari 16,000 pasang kaki sudah pasti beberapa karung…. Ketika Narada datang membawa karung-karung itu, Krishna mengucapkan terima kasih kepadanya, “Terima kasih Narada….. Kasih mereka telah mendahului karung-karung itu.”

Narada tersenyum. Dia memang menjadi bagian dari sandiwara itu. Para istri baru menyadari kesalahan mereka.

Giliran kita…….. siapkah kita mengorbankan Surga, Neraka dan peraturan-peraturan usang demi Cinta? Demi Kasih? Bila ya, maka besok-besok Narada akan menyebut nama kita. Nama kita pun akan masuk ke dalam daftar para pencinta. Bila tidak, ya tetap berada dalam daftar pemburu Surga.

Dan memburu Surga tidak berarti sudah pasti masuk Surga. Sementara, masuk ke dalam daftar para pencinta berarti sudah menjadi pencinta. Pilihan ada di tangan kita……. Mau menjadi seorang pemburu, atau penemu? Mau mengejar Surga atau mau “bertemu” dengan Tuhan?

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) hal 108-113

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2