Archive for panembah

Keindahan Rasa Profesional dan Persembahan Panembah

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 11, 2019 by triwidodo

Menyanyi Untuk Raja dan Menyanyi Untuk Tuhan

Seorang Master berkisah tentang Kaisar Akbar, dari Kekaisaran Mughal (1542-1605) yang sangat bangga dengan musisi istana bernama Tansen. Tansen adalah musisi besar di zamannya. Ketika Tansen menyanyikan Raga “Meghamala”, terasa awan menebal di langit. Ketika dia menyanyikan Raga “Varuna”, pendengar merasakan hujan turun. Ketika dia menyanyikan “Nagasvara”, para ular terasa berkumpul. Kaisar Akbar begitu bangga dengan sang musisi yang luar biasa.

Tetapi pada suatu hari Sang Kaisar mendengar musik Haridasa, seorang penyanyi pengembara, dan dia merasa sangat terpesona dan sangat tersentuh.

Kaisar Akbar bertanya kepada Tansen, mengapa lagu Haridasa sangat menarik baginya, lebih dari semua lagu Tansen yang dinyanyikan di istana?

Tansen menjawab dengan jujur, “Paduka, hamba bernyanyi, memandang Paduka untuk melihat tanda-tanda penghargaan dari Paduka. Harapan hamba akan memperoleh beberapa permata atau beberapa hektar sawah. Sedangkan Haridasa menatap Tuhan, tanpa keserakahan akan kekayaan materi atau ambisi untuk barang duniawi. Itulah perbedaannya!”

Masih ada nuansa ego dalam nyanyian Tansen, ingin dipuji Sang Raja dan memperoleh hadiah. Sedangkan nyanyian Haridasa murni persembahan kepada Tuhan, tidak ada pamrih pribadi.

Kita perlu introspeksi apakah dalam tindakan kita masih ada ego, ingin dipuji atau sudah murni persembahan kepada Tuhan?

Ego Dalam Diri

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan.

Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun.

Sumber: (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

 

Mempersembahkan Rasa Senang Kepada Tuhan

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Ketertarikan, rasa senang, bahagia, semuanya berasal dari dalam diri Anda sendiri. Sesuatu yang indah telah membuat Anda senang, baik. Sekarang persembahkanlah rasa senang itu kepada Tuhan. Dan energi Anda akan langsung mengalir ke atas.

Bagaimana caranya? Bagaimana mempersembahkan rasa senang itu kepada Tuhan? Salah satu cara adalah dengan menyanyikan pujian, dari tradisi mana pun juga. Adalah sangat baik jika setiap ashram menjadwalkan setengah atau satu jam setiap hari untuk menyanyi bersama, menyanyikan lagu-lagu pujian yang biasa disebut bhajan atau kirtan. Dengan cara itu setiap penggiat ashram bisa menginternalisasikan pengalamannya.

Sumber: (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Persembahan Jiwa

Senantiasa Mengenang Karya Gusti Pangeran. Seperti apakah karya Gusti Pangeran? Ia berkarya tanpa berpamer. Ia bekerja dalam keheningan. Ia memberi tanpa gembar-gembor. Sifat-sifat inilah yang mesti ditiru.

Seorang panembah tidak menyembah secara mekanis. Ia menyembah dengan dan dalam penuh kesadaran. Persembahannya juga bukan laku badan saja, jungkir balik, berdiri diatas satu kaki, atau dengan cara lainnya; persembahannya adalah persembahan jiwa.

Ya, seorang panembah mempersembahkan pikirannya, “Kuserahkan kekacauan pikiranku ini. Jernihkanlah pikiranku, supaya aku dapat mengikuti panutan yang Kau berikan.”

Seorang panembah tidak berhenti pada tahap sembahyang seperti bulan, seperti minggu, atau bahkan setiap hari dan setiap jam. Ia mengubah seluruh hidupnya menjadi sebuah persembahan yang tak terputuskan.

Ia melakoni hidupnya dengan semangat persembahan. Ia berkarya dengan semangat persembahan. Ia berkeluarga dengan semangat persembahan. Ia Bangun setiap pagi dengan semangat persembahan dan tidur dengan semangat persembahan pula.

Apa maksudnya? Ketika ia bekerja, ia tak akan bekerja demi kepentingan diri sendiri atau kepentingan keluarganya saja. Ia akan berpikir lebih jauh: “Apakah pekerjaanku ini bermanfaat pula bagi orang lain? Bagi masyarakat sekitarku? Bahkan ia memikirkan negara, bangsa, dan dunia.”

Sumber: (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

 

Persembahan di Altar

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Apa saja yang kau terima, persembahkanlah terlebih dahulu di atas altar.

Hal ini biasa dilakukan di dalam hati, namun ada baiknya juga bila Anda melakukannya secara fisik. Kebiasaan ini akan selalu mengingatkan Anda bahwa sesungguhnya apa pun yang Anda peroleh berasal dari-Nya, dan Anda mempersembahkan kepada-Nya pula.

 

Ada baiknya jika kau memiliki altar di ruang kerja, bahkan di ruang tidurmu.

Dia ada di mana-mana, ada altar atau tidak, tidak menjadi soal. Altar adalah untuk mengingatkan diri Anda akan kehadiran-Nya, sebagaimana di luar sana ada yang memajang foto pasangannya, anaknya, cucunya, atau bahkan poster artis kesayangannya.

Biarlah altar ini Anda urus sendiri. Jika ingin mempersembahkan bunga, dupa, air, atau apa saja, silakan lakukan sendiri. Altar ini bukanlah sebuah formalitas, Anda mesti memiliki hubungan batin dengan altar itu. Biarlah altar itu menjadi jembatan antara Anda dan Ia Hyang Maha Diri.

Sumber: (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Pelajar, Murid dan Panembah #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on April 27, 2018 by triwidodo

Dikisahkan oleh Osho bahwa ada tahapan dari seorang Pencari (Seeker): Pelajar (Student), Murid (Disciples) dan Panembah (Devotee, Bhakta). Ada juga yang keempat, tetapi itu milik orang yang sudah sampai. Sang Pencari berada di Jalan Spiritual. Seorang Pelajar (Student) tidak menyadari bahwa dia seorang Murid (Disciples), atau dia berpikir bahwa dia adalah seorang Murid (Disciples), bahkan mungkin dia berpikir adalah seorang Panembah (Devotee, Bhakta); dia benar-benar tidak sadar……

Dikisahkan seorang pria ingin menjadi murid Junnaid, seorang sufi mistik. Junnaid menatap lama pada dia. Pria itu sedikit gugup, mengapa Junnaid berdiam diri begitu lama.

Akhirnya Junnaid berkata, “Menjadi murid (disciples) sangat sulit.”

Pria itu berkata, “Maka saya siap untuk menjadi seorang panembah (devotee).”

Junnaid berkata, “Itu bahkan lebih sulit. Satu-satunya hal yang tidak sulit di sini adalah menjadi seorang Master.”

Pria itu berkata, “Jika itu adalah masalahnya, saya siap menjadi Master.”

Junnaid memberi tahu para murid dan pengikutnya, “Ini adalah kasus ketidaksadaran. Dia bahkan bukan seorang pelajar, tetapi kerinduannya adalah menjadi Master apabila itu lebih mudah. ​”

Pelajar itu datang hampir tanpa sengaja. Mungkin dia membaca sebuah buku, mungkin seorang teman berbicara kepadanya dan dia menjadi penasaran. Tapi rasa ingin tahu begitu dangkal; itu tidak dapat membuat dia berkomitmen dan berbakti untuk perjalanan panjang. Itu sangat sesaat. Oleh karena itu pria tersebut tidak diterima. Dia terlalu mentah; dia harus mengembara beberapa lama lagi atau mungkin beberapa kehidupan lebih banyak sebelum dia dapat diterima oleh seorang Guru (Master) sebagai murid (disciples).

………………..

Kita semua sudah paham bahwa kita tidak dapat memperoleh kebahagiaan abadi dari sesuatu yang tidak abadi. Ini adalah start awal para pencari (Seeker).

Selama kita mempunyai Keinginan Mencapai Kesadaran Tertinggi, tapi belum berupa keinginan tunggal, masih punya keinginan dunia yang lain (yang kita tahu tidak dapat memberikan kebahagiaan abadi), kita belum menjadi Murid (Disciples).

Berhadapan dengan Master Bukan Hanya untuk Belajar

Berhadapan dengan seorang Master, bila anda hanya ingin belajar, anda sungguh menyia-nyiakan kesempatan. Belajar, bisa dari buku. Bisa lewat teve, internet. Bisa mengikuti program belajar jarak-jauh. Untuk itu, anda tidak membutuhkan seorang Master. Cukup seorang pengajar, seorang instruktur, seorang akademisi.

Berada bersama seorang Mursyid berarti duduk bersama dia. Menari dan menyanyi bersama dia. Makan dan minum bersama dia. Tidak menghitung untung-rugi. Tidak memikirkan masa lalu. Tidak pula mengkhawatirkan masa depan. Tetapi, menikmati kekinian. Adhere to a Master berarti mendaki gunung bersama dia. Dan turun ke lembah bersama dia. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

Murid Mempunyai Murad (Keinginan Tunggal untuk mencapa Kesadaran Tertinggi)

“Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kukehendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan Kasih-Mu yang tulus dan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam setiap masa kehidupanku.”

Seorang “murid”, dalam pemahaman bahasa Sindhi, bahasa ibuku, adalah seorang yang memiliki “murad” atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud.

Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal untuk memiliki kehadiran-Nya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadari-Nya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiran-Nya dengan keinginan-keinginan lain. Dan itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

3 Type “Murid”

Dalam sebuah wejangan, Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan tentang 3 “tipe” murid:

Tipe Pertama adalah Pashu Bhavana: Kesadaran masih seperti pashu, hewan jinak, kalau tidak diikat dia masih menuruti nafsunya. Orang tersebut masih memiliki sifat:

(1) contempt, nafsu rendah, kalau jalan seperti hewan menundukkan kepala sambil melihat bila ada makanan di depannya; apakah kita dalam menjalani kehidupan selalu melihat peluang “rejeki” yang bisa diambil?

(2) doubt, ragu, anjing akan  mencium makanan lebih dahulu sebelum memakannya, cium baju bekas pakai sebelum dipakai lagi, cium anggur sebelum minum; Ini pekerjaan tidak baik tapi nampaknya menguntungkan masih bisa dilakukan.

(3) fear, takut, takut ambil langkah, hewan takut kepada hal baru yang tidak biasa dilakukan; saya mengikuti jalan spiritual, apakah saya akan melarat dan sengsara?

(4) too much egoistic, terlalu egois, anjing tidak mau berbagi tulang dengan kawannya. Apakah kita demikian?

(5) disgust, menjijikkan, hewan tidak suka dimandikan, keterikatan terhadap bau badan. Bila manusia tidak sadar akan bau badannya, bagaimana dia bisa mencium pikiran, perasaan dan jiwanya? Apakah kita tidak membaui bau keserakahan kita atau nafsu kita terhadap lawan jenis?;

(6) family, memikirkan keluarga, bagi hewan keluarga sangat penting, bagi meditator apa yang ada dalam pikiran adalah famili yang sulit dilepaskan; hewan hanya ingin makanan untuk dia dan anak-anaknya, ayam lain yang ingin makan butir-butir jagung akan diusir, dilabrak induknya, apakah kita demikian?

(7) custom and tradition, kebiasaan dan tradisi, untuk melepaskan kebiasaan dan tradisi dibutuhkan keberanian; sudahkah kita melepaskan tradisi yang secara nalar sudah usang tapi masih dilaksanakan? Kita masih ingat dalam film MahaBharata Krishna menyampaikan bahwa tradisi awalnya seperti buah yang mentah, yang melakukan masih sedikit dan rasanya belum manis. Kemudian tradisi seperti buah yang masak dan semua orang senang melakukannya. Dan terakhir, tradisi seperti buah yang sudah busuk, sudah nggak enak dimakan tapi kita tak mau melepasnya karena masih dilakukan banyak orang?

(8). Cast, sejenis, hewan hanya menyukai mereka yang jenisnya sama. Apakah kita hanya menyukai kelompok kita? Dan salah atau tidak karena anggota kelompok kita dia perlu dimaafkan sedangkan orang lain walau baik, bukan kelompok kita dan jangan dipilih?

 

Tipe Kedua adalah Wira Bhavana: Berani, Sifat Manusia. Mempunyai niat untuk menghancurkan belenggu keterikatan. Kebanyakan murid merupakan tipe campuran antara tipe Pashu dan Tipe Wira Bhavana, gabungan manusia dan hewan yang jinak. Misalkan dari 8 sifat pashu, 6 sifat sudah terselesaikan.

Tipe Ketiga adalah Divya Bhawana: Sifat Ilahi. Berani ambil risiko. Bersiap diri dalam hal apa saja. Itulah yang sifat para gopi di Brindavan…..

Bhakta, Panembah, Devotee

“Pandava (Arjuna, Putra Pandu), ia yang melaksanakan tugasnya sebagai persembahan pada-Ku – demi Aku; berlindung pada-Ku; berbhakti pada-Ku; tiada memiliki keterikatan; dan bebas dari permusuhan serta kebencian terhadap sesama makhluk, niscayalah mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 11:55

Inilah definisi Bhakti. Seorang bhakta atau panembah berada di dunia, di tengah kebendaan. Pun, ia menggunakan, memanfaatkan kebendaan, tetapi ia tidak bersandar pada kebendaan – Ia tidak bertopang pada kebendaan. Sederhananya, kita makan untuk bertahan hidup, tetapi tidaklah hidup untuk makan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Ingin Bersama Master Menikmati Kasih-Nya

Di Vrindavan itulah Krishna memulai “leela”-nya, permainannya! Para Gopi dan Gopala yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokul dan pindah bersama Nanda dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para rishi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta! Ya, mereka hanya lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembap, malah banyak di antara mereka yang “jatuh” karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guarding and guiding angels – akhirnya mereka sadar bahwa “Cinta” adalah Aksara Terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Para Suci Lebih Sakti Dari Pada Vishnu? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on April 24, 2018 by triwidodo

Narada, seorang Rishi yang bijaksana, berziarah ke istana Dewa Vishnu. Pada suatu malam ia singgah di sebuah desa dan diterima dengan baik oleh sepasang suami-isteri yang miskin. Sebelum ia berangkat pada hari berikutnya, si suami minta kepada Narada: “Tuan akan pergi kepada Dewa Vishnu. Tolong mintakanlah kepadanya, agar Ia menganugerahi saya dan isteri saya seorang anak. Sebab, sudah bertahun-tahun lamanya kami berkeluarga, namun kami belum juga mempunyai anak.”

Sampai di istana, Narada berkata kepada Dewa Vishnu: “Orang itu dengan isterinya amat baik kepada saya. Maka sudilah bermurah hati dan berilah mereka seorang anak.” Dewa Vishnu menjawab dengan tegas: “Telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan mempunyai anak.” Maka Narada menyelesaikan kebaktiannya, lalu pulang.

Lima tahun kemudian Narada berziarah ke tempat yang sama. Ia singgah pula di desa yang sama dan sekali lagi diterima dengan baik oleh pasangan suami-isteri yang sama pula. Kali ini ada dua orang anak bermain-main di muka pondok mereka.

“Anak-anak siapa ini?” tanya Narada. “Anak-anak saya.” jawab si suami. Narada bingung. Si suami meneruskan ceritanya: “Segera setelah Tuan meninggalkan kami lima tahun yang lalu, seorang pengemis suci datang mengunjungi kampung kami. Kami menerimanya barang semalam. Paginya, sebelum berangkat, ia memberkati saya dan isteri saya … dan Dewa mengaruniai kami dua orang anak ini.”

Mendengar cerita ini, Narada cepat-cepat menuju istana Dewa Vishnu lagi. Ketika tiba di sana, di depan pintu istana ia sudah berteriak: “Bukankah Dewa telah mengatakan: telah menjadi nasib laki-laki itu, bahwa ia tidak akan punya anak? Kini ia mempunyai dua orang anak!”

Ketika Dewa Vishnu mendengar hal ini, ia tertawa keras dan berkata: “Pasti perbuatan seorang suci! Hanya orang suci yang mempunyai kuasa untuk mengubah nasib seseorang.”

Kita diingatkan akan pesta nikah di Kana. Waktu itu Ibu Jesus mendesak Putranya dengan doa-doanya untuk melakukan mukjizat yang pertama sebelum waktunya seperti yang telah ditentukan oleh Allah Bapa.

Dikutip dari (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Para Suci telah meninggalkan segalanya demi Gusti, maka Gusti tidak akan meninggalkan mereka. Para Suci penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Nya, mengingat-Nya, memuja-Nya tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Nya) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Nya. Mereka Dia-lindungi senantiasa dan Dia-penuhi segala kebutuhannya.

 

Para Suci Telah Meninggalkan Segalanya untuk Gusti, Gusti Tidak Akan Meninggalkan Mereka

Dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan bahwa Rishi Durvasa karena tersinggung kepada Raja Ambharisha menciptakan makhluk untuk menyerang sang raja. Akan tetapi Sudarsana Chakra melindungi sang raja dan bahkan mengejarnya. Rishi Durvasa minta tolong Brahma, tapi tidak bisa mengatasi senjata Vishnu tersebut. Demikian juga Mahadeva pun tidak sanggup mengatasi. Akhirnya Rishi Durvasa menghadap Vishnu.

Vishnu tersenyum dan berkata, “Durvasa, kamu juga tidak melihat bahwa aku pun sama seperti Brahma dan Mahadewa? Kamu tidak memahami diri-Ku. Aku bukan orang bebas. Aku mungkin mampu melakukan apa pun yang aku kehendaki. Tetapi aku adalah milik bhakta-Ku. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan memilih Aku sebagai sahabat mereka. Mereka meninggalkan segalanya untuk-Ku. Istri, rumah, anak, keinginan dan hidup mereka tinggalkan untuk-Ku. Mereka tidak memikirkan dunia dan tidak tergiur surga. Yang mereka harapkan hanya rahmat-Ku. Sebagai balasan, Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. mereka sudah menaklukkan aku dengan cinta mereka. hinaan apa pun terhadap mereka adalah hinaan kepada-Ku.”

Akhirnya Rishi Durvasa minta maaf kepada Raja Ambarisha.

Para Suci Senantiasa Ku-penuhi Segala Kebutuhannya

“Namun, para panembah penuh welas asih, devosi – yang senantiasa mengenang-Ku, mengingat-Ku, memuja-Ku tanpa mengharapkan sesuatu (semata karena mencintai-Ku) – selalu menikmati kemanunggalan dengan-Ku. Mereka Ku-lindungi senantiasa dan Ku-penuhi segala kebutuhannya.” Bhagavad Gita 9:22

Inilah alam yang lebih tinggi dari surga. Inilah alam-Nya, alam kebahagiaan Sejati. Bagi seorang panembah, alam ini, dunia ini adalah surga. Ia tidak mengejar surga setelah kematiannya. Ia sudah berada di dalam surga – sekarang dan saat ini juga.

Maka, setelah ia “mengalami kematian”, tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengalami sesuatu yang lebih tinggi; sesuatu yang lebih mulia.

Anak-anak kecil bermain dengan Gundu. Ketika sudah memasuki usia remaja, gundu-gundu itu ditinggalkannya. Ia memiliki permainan lain yang jauh lebih menarik. Demikian, seorang panembah melanjutkan perjalanan Jiwa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Gusti Memenuhi Segala Kebutuhan Para Suci

Seorang panembah tak pernah kekurangan sesuatu. Aku memenuhi segala kebutuhan para panembah yang telah berserah diri kepada-Ku. Demikian pula janji Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta. Maka, sesungguhnya kau tidak perlu khawatir tentang kebutuhanmu sehari-hari. Jika kekurangan sesuatu, mintalah kepadaKu.

Mintalah kepada Tuhan Hyang Maha Memiliki. Untuk apa mengharapkan sesuatu dari dunia, berharaplah kepada Hyang Memiliki dunia. Untuk apa mengharapkan penghargaan dan pengakuan dari dunia, lebih baik mengharapkan berkah dan karunia Ilahi.

Janganlah terperangkap dalam permainan dunia. Pujian yang kau terima dari dunia tidak berarti apa pun jua. Jalani hidupmu dengan kesadaranmu sepenuhnya terpusatkan kepada Tuhan. Ketertarikan kepada dunia sungguh tak berarti. Tuhan adalah Hyang Maha Menarik!

Ingatlah Aku setiap saat, sehingga dunia benda tidak menggodamu. Hanyalah dengan cara ini kau dapat merasakan kedamaian, dan ketenangan sejati. Inilah cara untuk hidup tanpa beban apapun.

Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Kisah Arjuna dan Seorang Pertapa #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 4, 2017 by triwidodo

Seorang Guru pernah bercerita: Arjuna adalah seorang kesatria perkasa sebagai pahlawan yang memenangkan pertempuran Bharatayuda. Arjuna pada saat itu menjadi angkuh karena merasa sebagai pahlawan dan dicintai Sri Krishna.

Sri Krishna mengajak Arjuna menyamar sebagai orang biasa pergi jalan-jalan. Mereka bertemu dengan seorang pertapa yang sedang makan rumput kering, padahal disekitar rumput kering tersebut banyak rumput hijau. Sang pertapa sendiri sedang membawa pedang. Arjuna bingung dan bertanya kepada Sri Krishna, pertapa tersebut sangat menyanyangi semua makhluk, bahkan dia hanya makan rumput kering, tidak mau mem-“bunuh” rumput hijau, tapi kenapa dia membawa pedang untuk membunuh manusia. Sri krishna menyuruh Arjuna menanyakan hal tersebut kepada sang pertapa.

Arjuna bertanya kepada sang pertapa, mengapa dia mengasihi sesama makhluk, tetapi membawa pedang? Sang pertapa menjawab, bahwa dia memang tidak ingin melukai makhluk hidup, tapi dia akan membunuh 4 orang saat bertemu dengannya.

Arjuna bertanya siapakah ke-4 orang tersebut, dan dijawab sang pertapa sebagai berikut:

Orang pertama yang akan dibunuhnya adalah Narada, dan Arjuna heran karena Rishi Narada adalah Rishi saleh pencinta Sri Krishna. Sang pertapa melanjutkan, Narada selalu memuliakan keagungan Sri Krishna. Dia selalu bernyanyi memuja Sri Krishna, kecuali saat dia tidur. Narada selalu mengganggu tidur Sri Krishna, aku ingin membunuh Narada saat bertemu dengannya.

Arjuna tercekat dan menanyakan siapa orang kedua yang akan dibunuhnya, dan dijawab sang pertapa bahwa orang kedua yang akan dibunuhnya adalah Draupadi istri Pandawa. Sang pertapa melanjutkan, pada saat Draupadi dipermalukan dengan ditarik pakaiannya oleh Duhshasana di Istana Hastina, dia berteriak, mohon Sri Krishna menyelamatkannya. Beraninya dia mengganggu Sri Krshna, sehingga Sri Krishna membuat keajaiban dan kain Draupadi yang ditarik tidak ada habis-habisnya, sehingga Duhshasana menyerah tidak sanggup menarik kain Draupadi.

Orang ketiga yang mau dibunuh Sang Pertapa adalah Prahlada. Dia adalah salah satu pemuja Sri Krishna. Saat Hiranyakashipu, sang ayah yang kesal kepada Prahlada yang selalu memuja Sri Krishna, maka sang ayah melemparkan Prahlada ke minyak yang mendidih, lalu merebahkan Prahlada agar diinjak-injak gajah gila. Prahlada selalu merepotkan Sri Krishna, kapan berada dalam keadaan bahaya dia menyebut Sri Krishna. Dan, Sri Krishna menyelamatkannya. Bukankah Prahlada selalu merepotkan Sri Krishna?

Saat Arjuna bertanya siapakah orang keempat yang akan dibunuhnya, sang pertapa berkata bahwa orang keempat yang akan dibunuhnya adalah  Arjuna. Arjuna melecehkan pujaannya, masak Sri Krishna disuruh menjadi kusir kereta perangnya. Itu merepotkan dan menghina Sri Krishna. Walaupun seorang pertapa, dia tidak pernah merepotkan Sri Krishna. Sang pertapa tidak mohon apa pun kepada-Nya.

Arjuna baru sadar akan keangkuhannya, dia merasa dikasihi Sri Krishna, akan tetapi Sang Pertapa ini sangat mencintai Sri Krishna. Arjuna belum mencapai kesadaran itu.

Arjuna sadar bahwa baik dirinya, Draupadi maupun Prahlada ketika menghadapi masalah besar selalu memanggil Sri Krishna. Sedangkan Rishi Narada selalu menyanyikan Pujian kepada Sri Krishna, agar pikirannya tidak liar dan selalu fokus kepada Sri Krishna. Sang pertapa hanya tahu satu hal, dia sangat mencintai Sri Krishna. Titik.

 

Empat Jenis Pemuja Sri Krishna menurut Bhagavad Gita

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) – seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.” Bhagavad Gita 7:16

Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi – kemudian menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh – mereka pun panembah yang sudah berbuat baik. mereka pun mulia adanya. Apa yang mereka lakukan adalah kemuliaan, perbuatan yang mulia.

Krsna memahami betul psikis manusia – Ia tidak menolak sebagian besar umat manusia, yang sering berdalih bahwa “mesti ada keseimbangan antara dunia dan akhirat”. Cara pandang yang tidak tepat. Namun setidaknya mereka telah berbuat baik. mereka sudah memiliki semangat untuk manembah.

Mereka tidak memikirkan diri saja, walau sebatas beberapa persen dari penghasilan – mereka telah ikut memikirkan sesama manusia. Kelompok Pertama, ini juga rajin menyumbang untuk pembangunan tempat-tempat ibadah dan sebagainya.

Kelompok Kedua adalah mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Bagi Krsna, mereka pun telah berbuat mulia. Mereka pun panembah. Mereka tidak mengetuk pintu seseorang yang zalim atau bersekongkol dengan pihak yang berada dalam kubu adharma. Mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma untuk mengakhiri penderitaan.

Kelompok Ketiga adalah para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati. Termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini – kemungkinan besar – berada dalam kelompok ketiga ini. Anda membeli buku ini dengan tujuan tersebut. Anda tidak membelinya untuk menjadi kaya-raya dalam sekejap. Anda tidak membelinya untuk mendapatkan voucher untuk masuk surga. Tidak. Anda membeli dan sedang membacanya untuk mengenal diri, untuk meraih pengetahuan sejati.

Namun, di atasnya adalah Kelompok Keempat, kelompok yang bijak. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun sangat mengasihinya.” Bhagavad Gita 7:17

Di atas segalanya adalah Kasih. Kata awal dan kata akhir adalah kasih. Seseorang boleh memiliki kesadaran tinggi – namun setinggi apa pun kesadarannya, tanpa kasih ia menjadi kering. Jiwanya tidak berlembab. Ia belum bisa disebut “bijak”.

Bagi Krishna seorang bijak bukan saja berpengetahuan dan berkesadaran hakiki, tetapi juga penuh kasih. Inilah Kelompok Panembah yang Keempat.

Sesungguhnya emosi yang umumnya disalahtafsirkan sebagai cinta kasih adalah Ketertarikan dan Keterikatan – Krsna tidak bicara tentang emosi-cinta seperti itu. Bukan, itu bukan cinta-sejati, belum kasih.

Seorang bijak mengenal Cinta-Sejati, Kasih. Ia tidak terjebak dalam dan oleh emosi ketertarikan yang menyebabkan keterikatan, kekecewaan, dan sebagainya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

“Semuanya memang mulia (keempat jenis panembah tersebut sama-sama mulia). Kendati demikian, seorang bijak yang sesungguhnya adalah diri-Ku sendiri; demikian pendapat-Ku. Seorang Panembah yang gugusan pikiran serta perasaannya; intelegensia dan kesadarannya selalu terpusatkan pada-Ku, larut di dalam-Ku, dan mencapai-Ku, yang mana adalah tujuan tertinggi.” Bhagavad Gita 7:18 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

4 Checkpoints tentang Bhakta, Panembah dalam Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 19, 2017 by triwidodo

Menjadi Bhakta, Mengembangkan bhakti, Mengikuti Petunjuk Krishna, Melayani sesama

  1. Menjadi bhakta

“Pusatkanlah segenap pikiran dan perasaanmu pada-Ku; berbhaktilah pada-Ku; (tundukkan kepala ego) bersujudlah pada-Ku dengan semangat panembahan yang tulus; demikian, berlindung pada-Ku senantiasa, niscayalah kau meraih kemanunggalan dengan-Ku.” Bhagavad Gita 9:34

Segala sembah, sujud, dan sebagainya – bukanlah untuk membuat seseorang menjadi hamba Krsna. Bukan, itu bukanlah tujuan Krsna. Krsna bukanlah seorang guru picisan yang sedang mencari, dan merekrut murid. Ia tidak senang melihat kita membuntutinya seperti domba. Ia menginginkan kita – setiap orang di antara kita – untuk mengalami apa yang dialami-Nya. Yaitu, kemanunggalan ‘aku’ kecil, aku-ego, dengan Jiwa Agung. Pertemuan antara Jiwa-Individu dan Jiwa-Agung – Jivatma dan Paramatma.

……….

“Pusatkanlah segenap pikiran serta perasaan pada-Ku; Berbaktilah pada-Ku dengan menundukkan kepala-egomu. Demikian, niscayalahengkau mencapai-Ku. Aku berjanji padamu, karena kau sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 18:65

“Aku, Aku, Aku,…..” Permainannya memang adalah antara aku-ego dan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.  Nasihat Krsna untuk berserah diri bukanlah berserah diri pada sosok Krsna—tetapi berserah diri pada Aku-Sejati yang kebetulan saat itu sedang mewujud sepenuhnya dalam diri Krsna.

……..

“Sebab itu, pusatkan segenap pikiran, perasaan, dan buddhi, inteligensiamu pada-Ku; demikian, niscayalah kau akan selalu bersama-Ku, tiada yang perlu kau ragukan dalam hal ini.” Bhagavad Gita 12:8

Bukan saja memusatkan segenap pikiran serta perasaan — tetapi juga segenap inteligensia. Berarti, memusatkan seluruh kesadaran pada-Nya.

“Jika kau tidak mampu memusatkan kesadaranmu pada-Ku; maka raihlah kemanunggalan dengan-Ku dengan melakoni Yoga; wahai Dhananjaya (Arjuna, Penakluk Kebendaan).” Bhagavad Gita 12:9

Kata “melakoni” dalam ayat ini adalah terjemahan gagap dari kata abhyasa, sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, berarti praktek-praktek yang dilakukan secara terus-menerus. Praktek secara intensif dan repetitif, diulangi terus.

“Jika kau tidak melakoni Yoga, maka berkaryalah untuk-Ku; demikian dengan cara itu pun, kau dapat meraih kesempurnaan diri.” Bhagavad Gita 12:10

“Namun, jika itu pun tak mampu kau lakukan, maka dengan penuh devosi pada-Ku, kendalikanlah dirimu dan serahkan segala hasil perbuatanmu pada-Ku.” Bhagavad Gita 12:11

“Pengetahuan Sejati lebih mulia dari laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan, melepaskan diri dari keterikatan hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.” Bhagavad Gita 12:12

……………..

“Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mana-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:14

………..

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku Iewat panembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) — demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70

…………

“Seorang Yogi berkesadaran demikian – senantiasa bersatu dengan-Ku; memuji-Ku sebagai Jiwa Agung yang bersemayam dalam diri setiap makhluk, termasuk di dalam dirinya sendiri; dan melakukan semua kegiatan dengan kesadaran itu.” Bhagavad Gita 6:31

Berkegiatan  dengan menyadari kehadiran Sang Jiwa Agung dalam diri setiap makhluk berarti tidak menyakiti siapa pun. Namun, pada saat yang sama kesadaran tersebut juga membuatnya tidak ragu-ragu untuk melakukan bedah terhadap tumor yang bersarang di badannya atau badan siapa saja.

………………

“Sebaliknya, mereka yang senantiasa berkarya dengan semangat persembahan pada-Ku; memuja-Ku sebagai Hyang Maha Mewujud; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku tanpa terganggu oleh sesuatu; wahai Partha (Putra Prtha — sebutan lain bagi Kunti, IbuArjuna), niscayalah Ku-bantu menyeberangi lautan samsara, kelahiran dan kematian yang berulang-ulang ini.” Bhagavad Gita 12:6-7

Memuja-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud berarti melayani setiap wujud, mencintai, menyayangi, mengasihi setiap wujud.

………..

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

……………

“Sebaliknya, ia yang berbagi ajaran ini dengan penuh kasih (dan sebagai ungkapan kasihnya pada-Ku), kepada para panembah yang memang sudah siap untuk menerimanya – niscayalah akan mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 18:68

Seseorang yang melakoni ajaran ini dan berbagi dengan penuh kasih—sebagai ungkapan kasihnya pada Hyang Tunggal – kepada para panembah yang penuh kasih juga…. Maka, hasilnya ialah Kesempumaan Diri. Hasilnya ialah menyatu dengan-Nya, dengan Sumber Kasih itu sendiri.

“Tiada seorang pun yang pelayanannya pada-Ku melebihi pelayanannnya (yang dimaksud ialah seorang yang berbagi ajaran mulia ini dengan penuh kasih kepada mereka yang memang siap untuk mendengarnya). Demikian pula, tiada seorang pun di seluruh dunia yang Ku-cintai lebih darinya.” Bhagavad Gita 18:69

Di sini Krsna menjelaskan rahasia orang yang paling dicintai-Nya — yaitu seperti yang telah dijelaskan dalam ayat sebelumnya – orang yang berbagi ajaran yang mulia ini dengan pcnuh kasih, dengan semangat kasih, semangat manembah, semangat melayani, kepada mereka yang layak, yang siap untuk menerimanya.

Orang itu — menurut Krsna — adalah……. PANEMBAH SEJATI – Siapa saja bisa berbagi receh, nasi kotak, mie instan, pakaian, dan sebagainya. Beramal-saleh dengan cara itu adalah biasa. Berdana-punia dengan cara menyumbang untuk pembangunan ternpat-tempat ibadah pun biasa.

…………….

“Demikian, para resi berpandangan jernih, yang telah sirna segala keinginannya oleh Pengetahuan Sejati tentang hakikat diri; pun, dirinya telah terkendali — senantiasa bersuka-cita dalam perbuatan yang membahagiakan semua makhluk. Mereka telah mencapai Brahmanirvana — Keheningan Sejati, Kasunyatan Agung dalam Brahma (Hyang Maha Kreatif). Bhagavad Gita 5:25

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Mengembangkan bhakti

Enam cara mencapai kemanunggalan dengan semesta

“Bebas dari rasa benci terhadap sesama makhluk; bersahabat dengan semua, penuh welas asih; bebas dari ke-‘aku’-an dan rasa kepemilikan; sama dan seimbang dalam suka dan duka; penuh ketabahan, mudah memaafkan;” “Puas dengan apa yang diraihnya, dan terkendali dirinya, senantiasa mengenang-Ku, manunggal dengan-Ku; pikiran, perasaan, serta inteligensianya terpusatpada-Ku; seorang panembah yang teguh dalam keyakinannya seperti itu sungguh sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:13-14

…………..

“Tidak sombong, tidak munafik, tanpa kekerasan, kesabaran, kebajikan; pelayanan pada Guru; kemurnian atau kebersihan luar dan dalam diri; keteguhan hati dan pengendalian diri;”

“Tidak tergoda oleh pemicu-pemicu indra; tanpa ego, dan perenungan pada penderitaan kelahiran, kematian, masa tua dan penyakit;”

“Tanpa keterikatan dan tidak bergantung pada anak, pendamping, hunian dan lain sebagainya; keseimbangandiri dalam keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan;”

“Pengabdian pada-Ku tanpa keraguan, dan dalam kesadaran kemanunggalan Yoga; senang bepergian ke tempat-tempat yang tenang dan suci; tidak menikmati persahabatan dengan mereka yang bersifat duniawi;”

“Senantiasa berkesadaran Jiwa, dan menyadari Kebenaran Hakiki sebagai tujuan tunggal segala pengetahuan, semuanya ini disebut Pengetahuan Sejati, segala hal selain ini adalah kebodohan.” Bhagavad Gita 13:7-11

Setiap butir kebijaksanaan luhur di atas adalah dalam bentuk tindakan, bukan pengetahuan belaka. Sementara itu, kita menerjemahkan pengetahuan sebagai informasi yang diperoleh dari bacaan, studi atau paling banter dari pengalaman hidup, yang diperoleh secara acak dan kebetulan.

Bagi Krsna, semua itu belum ‘Pengetahuan’ – Bagi Krsna, kita tidak menjadi ‘berpengetahuan’ karena gelar yang kita peroleh, atau karena kita seorang kutu buku dan senang mengoleksi informasi. Bagi Krsna, pengetahuan sejati adalah tindakan, upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar tahu tentang ego, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Bukan sekadar tahu tentang indra, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Pun demikian dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lainnya.

Pengetahuan sejati bagi Krsna, adalah suatu keadaan di mana seorang yang berpengetahuan tidak terpicu, tidak tergoda oleh hal-hal luaran. Ia tidak tertipu oleh dualitas. Ia menyelami hidupnya dengan semangat ‘all is one’ – semua satu adanya. Ia tidak membedakan kepentingan diri dan keluarga dari kepentingan umum.

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Mengikuti petunjuk Krishna

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;” Bhagavad Gita 16:1

“Ahimsa atau tidak menyakiti lewat pikiran, pengucapan maupun perbuatan; kejujuran, bebas dari amarah, tanpa rasa kepemilikan atau keakuan, ketenangan pikiran, bebas dari gosip, welas asih terhadap semua makhluk; bebas dari keinginan dan keterikatan, lembut atau sopan, bersahaja, tidak terbawa oleh nafsu, dan teguh dalam pendirian serta pengendalian diri;” Bhagavad Gita 16:2

“Cekatan (penuh energi, penuh semangat), tabah dan pemaaf, teguh dalam keyakinannya, bersih badan dan pikiran; tidak bermusuhan dengan siapa pun juga; dan tanpa keangkuhan — demikian, semuanya ini adalah kecenderungan-kecenderungan lahiriah mereka, yang lahir dengan sifat bawaan atau karakter dasar Daivi, Ilahi, Mulia, Wahai Bharata (Arjuna, Keturunan Raja Bharat).” Bhagavad Gita 16:3

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Melayani sesama

“Aku sama terhadap setiap makhluk, tiada yang Kubenci, tiada pula yang terkasih. Namun, kehadiran-Ku tampak nyata dalam diri mereka yang senantiasa berbhakti pada-Ku, sebab mereka berada dalam (kesadaran)-Ku.” Bhagavad Gita 9:29

…………….

“Ia yang memandang semua sama, sebagaimana ia memandang dirinya; dan menganggap sama suka dan duka, adalah Yogi – Manusia Utama, ia melebihi apa dan siapapun juga!” Bhagavad Gita 6:32

………….

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brahmana berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipan, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.” Bhagavad Gita 5:18

Semua ayat tersebut dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia