Archive for pendengar bijak

Menemukan Kesadaran dengan Mendengar Sepenuh Hati

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on August 28, 2018 by triwidodo

Kisah Sang Bijak dan Menteri Raja

Dikisahkan oleh seorang Master tentang seorang bijak menemui Raja yang sedang duduk bersama para menteri, para pakar dan seniman. Sang Raja menghormati Sang Bijak dan mengucapkan terima kasih karena telah berkenan mengunjungi istana. Sang Bijak berkata bahwa dia mendengar bahwa Sang Raja dan Para Pejabatnya terkenal karena kebijaksanaannya. Sang Bijak berkata bahwa dia membawa 3 boneka dan ingin Menteri Sang Raja memberi penilaian dan evaluasi terhadap ketiga boneka tersebut.

Sang Raja menerima 3 boneka dari Sang Bijak dan memanggil Menteri Senior untuk melakukan penilaian dan evaluasi. Sang Menteri Senior  meminta seorang stafnya untuk mengambil 3 potong kawat baja tipis. Raja dan Para Pejabat penuh semangat memperhatikan apa yang dikerjakan Sang Menteri Senior.

Sang Menteri memasukkan kawat ke telinga kanan boneka pertama dan kawat itu menembus keluar dari telinga kiri. Kemudian, Sang Menteri memasukkan kawat ke telinga boneka kedua  dan kawat menembus keluar dari mulut boneka. Selanjutnya, Sang Menteri memasukkan kawat ke telinga boneka ketiga, tapi kawat tersebut tidak menembus ke luar baik di telinga lainnya maupun mulut boneka.

Sang Menteri berkata kepada Sang Bijak bahwa adalah boneka ketiga yang terbaik. Ketiga boneka itu adalah simbol dari tiga tipe pendengar. Tipe pertama mendengarkan setiap kata hanya untuk disampaikan kepada telinga yang lain. Tipe kedua mendengar dengan baik, mengingatnya dengan baik hanya untuk mengatakan semua apa yang dia dengar. Tipe ketiga mendengarkan dan mempertahankan semua yang mereka dengar dan menyimpannya dalam hati mereka.  Tipe ketiga adalah tipe pendengar terbaik. Sang Bijak tersenyum dan menyampaikan apresiasi kepada Sang Raja dan Para Menteri, selanjutnya memberkati mereka dan meninggalkan istana.

Shravanam (mendengar dengan penuh perhatian terhadap nasehat bijak) adalah yang pertama dan terdepan di antara sembilan tipe devosi. Setelah mendengar kata-kata bijak, kita harus mencoba menggali makna dan pesan mereka di dalam pikiran kita dan mempraktekannya.

Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan macam-macam Devosi 1. Shravana (Mendengarkan Kisah Ilahi). 2. Kirtana (menyanyikan lagu-lagu Ilahi). 3. Smarana (mengingat Tuhan berulang-ulang). 4. Padasevana (berserah diri pada Ilahi). 5. Archana (melakukan persembahan bagi Tuhan). 6. Vandana (menghormati Tuhan dan setiap wujud Tuhan). 7. Dasya (melayani Tuhan). Bila ke 7 Devosi telah dilakukan akan sampai pada tingkatan 8. Sakhya (suka atau tidak suka sesuai kehendak Tuhan) dan 9. Nivedana (menganggap dirinya sebagai persembahan).

 

Jadilah Pendengar yang Baik Jangan Terlalu Banyak Bicara

Jadilah seorang pendengar yang baik! Selama ini kita terlalu banyak bicara. Energi kita mengalir ke luar terus-menerus. Memperhatikan orang lain melulu, sehingga diri sendiri tidak terurus, sehingga suara nurani dan ilham pun tak terdengar. Kita lupa meniti jalan ke dalam diri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Dengarlah lebih banyak, berbicara lebih sedikit. Anatomi tubuh Anda membuktikan hal ini. Anda mempunyai dua telinga, dan hanya satu mulut. Kita tidak mempunyai satu telinga di tengah wajah kita dan dua mulut di samping. Bayangkan apabila demikian, betapa lucunya kita! Lagi pula fakta-fakta berikut ini patut kita perhatikan: telinga tidak punya penutup dan sebelum kita berbicara, kata-kata kita harus melewati dua pagar yaitu gigi kita dan bibir kita. Jadi, sebelum berbicara seyogyanya kita pikirkan dulu dua kali. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kesadaran untuk Mendengar, Memahami dan Menemukan Kesadaran

Abu Bakar mendengar suara Muhammad, dan memahaminya, maka dia menemukan Kebenaran. Abu Jahl juga mendengar suara Muhammad, tetapi tidak memahaminya, maka dia tidak menemukan kebenaran, padahal sudah ratusan tanda yang diperlihatkan kepadanya. Demikianlah manusia. Kita hanya mendengarkan apa yang ingin kita dengarkan. Kalau sudah tidak “sreg” dengan seseorang, apa pun yang dia katakan akan kita salahpahami. Sedikit-sedikit, kita akan tersinggung. Sebaliknya, kalau “sreg” dengan seseorang, apa pun yang dia katakan akan kita terima.

Dalam hal berhadapan dengan seorang nabi, seorang avatar, seorang buddha, atau seorang mesias, ke-“sreg”-an yang dibutuhkan adalah kesadaran. Tanpa kesadaran, kita tidak bisa memahami mereka. Kesadaran bahwa diri kita sakit dan membutuhkan dokter-itu saja sudah cukup. Ya, kesadaran secuil itu, sebatas itu pun sudah cukup. Masalahnya, kita sama sekali tidak memiliki kesadaran. Sudah lama menderita, sudah terbiasa hidup dengan rasa sakit, itu yang menjadi masalah. Begitu sadar bahwa diri anda sakit, jangan menunggu lama. Cepat-cepat carilah seorang dokter. Biarkan dia mengobati anda. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mempraktekkan Apa yang Telah Didengar dan Dipahami

Sekadar pemahaman tidak akan membantu kita. Tidak akan terjadi perkembangan jiwa dalam diri kita. Sekadar pemahaman bahkan bisa mengelabui kita. Kita pikir sudah paham, ya sudah cukup, lantas kita duduk diam kita lupa melakoni apa yang kita pahami. Sekadar pemahaman sangat berbahaya, karena kita bisa tertipu olehnya. Pemahaman tanpa laku, tanpa penghayatan, tidak bermakna sama sekali, tidak berarti sama sekali. Apa yang kita baca, apa yang kita pahami, harus kita lakoni pula. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2002). Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kembangkan Sistem Penyaring dalam Diri Kita

Pesan untuk mendisiplinkan pendengaran kita, “Jangan mendengar yang buruk”. Tentu saja kita tidak dapat menutup telinga kita. Suka atau tidak, kita tetap harus hidup di dunia ini dengan telinga kita dalam keadaan terbuka. Dan bersama dengan hal-hal yang baik, tidak terelakkan telinga kita akan mendengar hal-hal yang buruk juga.

Apa yang mesti kita lakukan jika demikian? Kembangkanlah sistem penyaring di dalam diri, sehingga kita tidak harus “menyimak” apa yang kita dengar. Biarkan telinga kita mendengar karena itu memang tugasnya. Kita tidak bisa menghentikan mereka menjalankan tugas mereka. Namun, jiwa kita dapat memutuskan apa yang harus kita simak dengan seksama. Terjemahan dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mendengarkan Orang yang Kita Yakini sebagai Pembawa Pesan Ilahi

Hanuman adalah pendengar yang baik, yang penuh perhatian, selalu bersemangat untuk mendengarkan Sri Rama. Tergantung dari apa yang Anda dengarkan, Anda bisa belajar tentang perdagangan, Anda dapat menguasai bidang tersebut. Hanuman tengah mendengarkan Rama, dan kisah-kisah tentang Rama. Ia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang diwakili oleh Rama. Maka pantaslah jika ia pada akhirnya bersatu dengan keluhuran yang ia agungkan, dengan Rama.

Inilah hukum timbal-balik yang sederhana. Jika Anda mencintai seseorang dengan segenap hati, pikiran, dan jiwa Anda, maka orang tersebut pasti akan membalas cinta Anda. Jika Anda tetap teguh dan tidak mudah patah semangat, serta berupaya mempertahankan intensitas cinta Anda—maka Anda dapat memenangkan hati siapa saja. Hanuman memenangkan hati Rama, Laksmana, dan Sita dengan cinta. Rama mewakili Yang Maha Luas, Yang Senantiasa Meluas, Tuhan yang bersemayam di hati semua makhluk. Rama adalah Yang Maha Besar, Anda bisa menyebutNya Allah, Buddha, Jehovah, Satnaam, apa saja. Rama adalah kesadaran murni. Sita, istri Rama, mewakili bumi, atau dunia benda. Ini adalah makna harfiah dari namanya. Sita mengingatkan kita untuk tetap membumi di dunia benda ini. Terjemahan dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements