Archive for persembahan

Berkarya dengan Semangat Persembahan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on August 23, 2018 by triwidodo

Kisah Buddha dengan Maharaja dan Perempuan Tua

Kisah seorang Master: Buddha terbiasa membawa gendang kecil dan para murid pernah bertanya mengapa Gurunya selalu membawa gendang kecil di sisinya. Buddha menjawab bahwa dia akan menabuh gendang pada hari orang memberikan persembahan terbesar kepada Beliau.

Setiap orang bersemangat untuk mengetahui siapa orang yang akan melakukan persembahan tersebut. Seorang Maharaja berniat mencapai kriteria tersebut dan datang dengan gajah-gajahnya membawa banyak harta kekayaan untuk dipersembahkan kepada Buddha. Sang Maharaja berharap Sang Buddha akan menabuh gendang kecil beliau.

Dalam perjalanan, seorang perempuan tua menghadap Sang Maharaja dan menyampaikan bahwa dia kelaparan dan mohon Sang Maharaja memberikan makanan kepadanya. Sang Maharaja mengambil buah delima dan memberikannya kepada perempuan tua tersebut. Perempuan tua itu juga datang ke Buddha dengan membawa buah delima tersebut.

Sang Maharaja mempersembahkan kepada Sang Buddha harta kekayaan yang dibawa gajah-gajahnya dan kemudian menunggu apakah Sang Buddha akan menabuh gendang kecilnya. Tetapi Sang Buddha tidak menabuh gendangnya dan Sang Maharaja tetap tinggal bersama banyak tamu di hadapan Sang Buddha.

Perempuan tua itu kemudian berdiri dan menawarkan buah delima kepada Sang Buddha. Sang Buddha langsung mengambilnya dan menabuh gendang kecil di sampingnya.

Sang Maharaja bertanya kepada Sang Buddha bahwa dia telah mempersembahkan banyak harta kekayaan tetapi Sang Buddha tidak menabuh gendangnya. Sedangkan saat Sang Buddha menerima sekadar buah delima, Beliau langsung menabuh gendang. Sang Maharaja bertanya apakah itu sebuah persembahan besar?

Sang Buddha menjawab, bahwa dalam persembahan itu yang dipertimbangkan bukan kuantitasnya akan tetapi kualitas dari persembahan. Adalah wajar bagi seorang maharaja mempersembahkan emas. Tetapi perempuan tua tersebut mempersembahkan buah delima kepada Guru meskipun dia sendiri menderita kelaparan. Dia bahkan tidak mempedulikan hidupnya dan mempersembahkan buah tersebut. Persembahan sejati berarti mempersembahkan apa yang paling dicintainya, apa yang paling dihargainya.

Sang Maharaja sadar bahwa dia melakukan persembahan demi sebuah pujian, adalah ego dirinya yang  menjiwai persembahan bukannya aroma kasih.

Perempuan tua itu tidak mengharapkan sesuatu dari Sang Guru, keinginan dia adalah untuk memberi saja. Sedangkan, Sang Maharaja memberi dengan mengharapkan mendapat pujian dari Sang Guru.

Persembahan Penuh Kasih

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung.

…………………

Di balik semua itu, adalah semangat panembahan yang penting. Adakah kasih yang mengiringi doa persembahan kita? Adakah cinta yang melubar saat kita memuji-Nya? Ini yang penting. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Persembahan dengan Semangat Manembah

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.” Bhagavad Gita 3:9

Setiap pekerjaan sudah pasti memiliki konsekuensi. Ada yang berkonsekuensi baik, ada yang kurang baik, dan ada yang tidak baik. Sehlngga, klta semua tldak bisa bebas dan konsekuensi perbuatan kita rnasing-masing, kecuali…. Dan “kecuali” ini adalah “kecuali yang membebaskan kita dari segala konsekuensi”, yakni………

BERBUAT DENGAN SEMANGAT MANEMBAH – Haturkan segala pekerjaanmu sebagai persembahan pada Gusti Pangeran. Bertindaklah karena cintamu, kasihmu pada-Nya.

Dengan cara itu;

Pertama, perbuatan kita menjadi baik dan tepat dengan sendirinya. Apakah kita mau menghaturkan sesuatu yang tidak baik kepada Hyang kita cintai? Mustahil.

Kedua, kita menjadi efisien. Tidak membuang waktu. Ingat saat kita berpacaran, bagaimana menjadi tepat waktu. Pertemuan dengan si doi menjadi urusan utama, prioritas utama. Berpacaranlah dengan Gusti Pangeran. Pacar-pacar Iain akan meninggalkan kita, cinta kita hanyalah berlanjut selama satu atau beberapa musim saja. Sementara itu, cinta Gusti Pangeran ibarat arak yang tambah lama, tambah memabukkan.

Ketiga, ketika kita betul-betul mencintai seseorang, kita tidak mengharapkan sesuatu. Keinginan kita adalah untuk memberi saja. Barangkali kaum Adam sulit rnemahami hal ini. Kaum Hawa lebih memahaminya. Sebab itu, dalam hal menjalin hubungan dengan Gusti, jadilah seperti seorang perempuan, memberi, memberi, dan memberi.

Inilah cinta sejati. Inilah berkarya tanpa keterikatan pada hasil, tanpa pamrih. Inilah Karma Yoga. Dan, ini pula bhakti — panembahan yang sesungguhnya.

 

Sang Pencipta Menciptakan Umat Manusia dengan Semangat Persembahan

“Prajapati Brahma – Sang Pencipta dan Penguasa makhluk-makhluk ciptaannya – menciptakan umat manusia dengan semangat persembahan dan pesannya ialah, “Berkembanglah dengan cara yang sama (berkarya dengan semangat persembahan) dan raihlah segala kenikmatan yang kau dambakan.” Bhagavad Gita 3:10

Penciptaan terjadi ketika Hyang Tunggal berkehendak untuk “menjadi banyak”. Selama masih tunggal, tanpa dualitas, penciptaan tidak mungkin. Berarti,

BRAHMA, SANG PENCIPTA ADALAH PRODUK DUALITAS – Anda dan saya, kita semua adalah produk dualitas pula. Kita lahir, hidup berkarya, dan mati dalam kesadaran dualitas. Kemanunggalan adalah hakikat kita, ya, tapi, saat ini kita tidak manunggal lagi. Saat ini kita terpisah, atau setidaknya “merasa” berpisah dari Hyang Tunggal. Maka kita mesti mengupayakannya kembali.

BAGAIMANA CARANYA? Sang Pencipta telah memberikan clue, isyarat. Yaitu, dengan berkarya dengan semangat pesembahan. Ia mengatakan kepada makhluk-makhluk ciptaannya, kepada manusia, “Aku pun demikian. Aku pun menciptakan semua dengan semangat persembahan, dengan semangat melayani.”

Dengan cara itulah, kita baru bisa mengikis ego kita, tidak membiarkannya meraja. Idam na mama – bukan aku, bukan ego-ku, bukan indra, bukan gugusan pikiran dan perasaan, bukan intelegensia – aku adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Segala apa yang terjadi lewat badan, indra, dan lainnya adalah persembahan pada-Nya.

Selain membebaskan kita dari ego, keangkuhan, semangat manembah juga memastikan bahwa apa pun yang kita perbuat adalah yang terbaik. Persembahan yang dihaturkan kepada Sang Kekasih Agung, Gusti Pangeran, mestilah yang terbaik. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Masih adakah Rasa Ego dalam Setiap Tindakan Kita? #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on February 8, 2018 by triwidodo

Dikisahkan dalam Bhagavatam Katha, seorang pemuda bernama Manu, bhakta Sri Krishna sedang berjalan menuju tempat suci Brindavan. Sampai di dekat pohon rindang di tepi jalan, dia mendengar beberapa orang cendikiawan berdebat tentang asal mula waktu menggunakan kutipan dari kitab-kitab suci. Tiba-tiba seekor burung gagak terbang dari salah satu pohon dan bersamaan dengan hal tersebut sebutir buah jatuh di tengah mereka yang sedang berdebat.

Seorang dari mereka berkomentar betapa kebetulan bisa terjadi, burung terbang dan buah jatuh, bagaimana hal yang acak pun bisa terjadi bersamaan.

Temannya mulai mendebat, semuanya hasil sebab-akibat, tidak ada yang kebetulan. Burung mencoba hinggap pada buah tersebut dan buah tersebut jatuh dan burung terbang.

Teman yang lain berdebat, bahwa itu murni pekerjaan gravitasi, buah jatuh dan burung terbang.

Manu mengambil buah yang jatuh membersihkan buah di sungai, berdoa: Om Brahmapanam brahma havir brhamagnau brahmana hutam, brahmaiva tena gantavyam brahma-karma-samadhina, para cendikiawan mengikuti doa yang bisa diucapkan mereka sehari-hari. Mereka mempersembahkan buah tersebut kepada Gusti dan kemudian berbagi buah dengan semua yang hadir.

Makna dari doa tersebut,

 “Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 4:24

Ayat ini dibaca sebelum melakukan apa saja… Umumnya, sebelum makan. Tapi, sesungguhnya kita bisa, dan memang semestinya, kita mengucapkannya sebelum melakukan apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) ) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Semua cendikiawan biasa mengucapkan doa tersebut secara mekanis, tapi kali ini bersama Manu mereka melakukan dengan penuh penghayataan.

Manu menyampaikan bahwa Gusti menerima persembahan buah, air, bunga dan bahkan daun yang dipersembahkan dengan cinta dan pengabdian. Manu melanjutkan, bahwa tubuh kita semua digerakkan oleh otak, kalau otak rusak kita sulit mengatur gerakan. Otak sendiri digerakkan oleh mind. Mind yang memberi kesan “aku” pun hanyalah salah satu gelombang dalam lautan Aku Sejati, Sang Jiwa Agung. Dibelakang segalanya adalah Gusti Yang Maha Agung. Demikian pula burung terbang dan buah jatuh adalah kehendak Gusti juga.

Semua cedikiawan setuju tentang hal tersebut. Di belakang semua kejadian adalah Kehendak Gusti.

 

Tidak ada gunanya berdebat hal-hal yang sepele, yang masing-masing berpegang pada pendirian masing-masing. Tugas kita hanyalah melayani Gusti yang berada di mana-mana dengan cinta dan pengabdian.

Para cendikiawan sadar, pada saat berdebat atau melakukan apa saja, masih saja ada rasa ego pada diri mereka. Doa tadi mengingatkan mereka sebelum bertindak untuk mengingat bahwa di balik semuanya adalah tangan Gusti.

Sadarkah kita apa yang kita perbuat? Apakah ada rasa ego di dalamnya? Selama ada rasa ego maka kebahagiaan yang kita inginkan masih bersifat sementara. Berdebat, atau apa saja yang kita lakukan, kita perlu evaluasi dulu apakah masih ada rasa ego di dalamnya…….

Manu hanya fokus pada persembahan……

Setiap Saat Kesadaran Fokus pada Gusti, Guru Mengajari Mengikis Ego

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja.

YOGA, MEDITASI, LAKU SPIRITUAL BUKAN SEPERTI ITU – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya.

Hal lain yang penting adalah…..

Kehadiran seorang Sadguru – Walau semuanya dapat dipelajari secara otodidak – istilah yang sedang trend dan trendy, padahal seringkali memberi angin pada ego – sesungguhnya tidak ada, saya ulangi, tidak ada pengganti bagi belajar di bawah bimbingan seorang Pemandu Rohani. Bukan sekadar guru, tetapi Sadguru – Guru Sejati yang tidak berfungsi sebagai guru di sekolah atau ahli kitab – tapi sebagai guide, pemandu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) ) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Jangan Mengikuti Keinginan Ego

“Ia yang tidak menginginkan sesuatu, berhati suci tanpa kemunafikan; cerdas, cermat—penuh kebijaksanaan, bebas dari keberpihakan dan kegelisahan – seorang panembah yang berkarya tanpa ke- ‘aku’ an seperti itulah yang sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:16

Keinginan muncul dari pikiran yang serba terbatas. Keinginan adalah buah persepsi manusia berdasarkan keadaan sesaat. Dalam keadaan tertentu kita menginginkan sesuatu. Namun, tak lama kemudian keadaan berubah – dan kendati kita telah memiliki, telah memperoleh apa yang diinginkan, tetap saja kita tidak puas, tidak bahagia.

……………….

FAVORITISM KITA DITENTUKAN OLEH PUBLISITAS, oleh penilaian di luar, dan oleh persepsi kita terhadap apa yang disajikan itu. Kita tidak menggunakan fakultas kesadaran saat menentukan favorit dan tidak favorit, hanyalah pikiran kita yang berjalan. Kemudian, pikiran itu pula mengecewakan kita. Yang demikian itu bukanlah sifat seorang panembah.

Yang terakhir dalam ayat ini adalah tentang ke-“aku”-an terkait dengan doership — aku telah berbuat ini, aku telah berbuat itu. Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu.

Seorang panembah sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tak akan pernah bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu, ketika otak mengalami gangguan, apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. la digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

REAS0NING SEPERTI INI, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukannya purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada penyerahan diri di mana kita sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah segala-galanya. Dialah semua!

Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) ) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bhakti Shabari Murid Wanita Rishi Matanga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 31, 2018 by triwidodo

Dikisahkan gadis muda bernama Shabari yang tidak begitu cantik, putra seorang pemburu akan dinikahkan oleh orangtuanya. Sang ayah sebagaimana kebiasaan pemburu waktu itu akan menyembelih 1.000 ekor kambing menjelang pernikahannya. Shabari tidak tahan melihat penyembelihan dan lari ke hutan.

Shabari mencari para brahmana untuk mengajarinya tentang ilmu kebijaksanaan sejati. Semua brahmana menolaknya, karena dia dari kasta rendah dan mempunyai warisan darah pemburu binatang dalam dirinya.

Hanyalah Rishi Matanga yang menerimanya, walau sang rishi dikutuk karena mengambil murid dari kasta rendah.

Shabari tinggal di Ashram Rishi Matanga melakukan tugas sehari-hari melayani kebutuhan sang rishi termasuk menggembala sapi-sapi di padang rumput.

Waktu berjalan dan sang rishi sudah menjadi tua, dan menjelang ajal kematiannya sang rishi bertanya, apa yang diinginkan Shabari? Shabari minta agar sang rishi mohon pada Gusti untuk mengajak dirinya meninggalkan dunia. Dirinya tidak dapat hidup tanpa sang rishi. Sang rishi berkata jangan mati dahulu, tunggu dulu sampai Shabari bertemu Sri Rama baru boleh pergi bersama dia.

Shabari tetap hidup sampai tua hanya untuk menunggu Sri Rama. Setiap hari dia pergi ke hutan mencari buah beri untuk melayani Sri Rama. Pada saat malam tiba dan Sri Rama belum muncul dia baru makan buah tersebut. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan cara itu. Pikirannya hanya ingin melayani Sri Rama.

Pada suatu hari Shabari mengambil air di danau tempat mata air sungai yang mengalir ke bawah. Seorang rishi tidak senang, ada seorang wanita kasta rendah yang akan mengotori air danau tersebut. Rishi tersebut melempar batu dan mengenai kakinya sehingga berdarah. Dalam beberapa saat tetesan darah Shabari mempengaruhi air danau berubah menjadi darah. Bahkan sungai yang mengalir di bawahnya juga mengalirkan air darah.

Shabari pulang ke Ashram dengan membawa air dan meringis karena kakinya sakit. Para rishi bingung, tidak ada air untuk diminum maupun untuk ritual. Mereka mulai menyanyikan mantra, melakukan yajna, bahkan ada yang membawa air Gangga untuk dituangkan ke danau. Akan tetapi tidak mengubah keadaan, semua air telah menjadi darah.

Seseorang berkata Sri Rama sedang berada dekat tempat tersebut, coba minta bantuan Sri Rama.

Sri Rama datang sambil tangan kirinya memegang dadanya yang nampak kesakitan dan kaki yang agak pincang jalannya. Sri Rama bertanya apa yang harus dilakukannya, mereka minat kaki Sri Rama dimasukkan danau, tetapi tetap tidak mengubah keadaan. Bahkan seseorang mohon bantuan Sri Rama minum air danau, keadaan tidak berubah juga. Sri Rama bertanya bagaimana awal mulanya sampai air danau dan sungai menjadi darah. Mereka menceritakan tentang Shabari yang dilempar kakinya dengan batu sampai berdarah.

Sri Rama tercekat mendengar nama Shabari. Sri Rama bahwa ini bukan  darah Shabari, tapi darah yang berasal dari hati Sri Rama, perihnya hati Shabari adalah perihnya hati Sri Rama, darah kaki Shabari adalah darah hati Sri Rama.

Sri Rama minta tolong salah seorang memanggil Shabari. Shabari datang sambil berlari lewat air di tepi danau, dan tiba-tiba air danau kembali menjadi air biasa. Sri Rama berkata kepada para rishi bahwa debu kaki Shabari mengembalikan kemurnian danau, bahkan sakit di dada dan kaki Sri Rama segera sembuh……

Shabari mengundang Sri Rama dan Lakshmana datang ke rumahnya dan menghidangkan buah beri yang setiap pagi dipetiknya di hutan. Lakshmana mengingatkanSri Rama bahwa semua buah beri tersebut sudah digigit lebih dahulu. Memang Shabari menggigit setiap buah beri yang terasa manis dimasukkan nampan dan yang masam dibuang. Sri Rama makan buah beri yang manis karena ssudah dipilihkan oleh Shabari.

Sri Rama bertanya apa yang diinginkan Shabari? Dan Shabari menjawab, bahwa dia ingin cahaya jiwanya bisa bersatu dengan cahaya jiwa Gurunya. Sri Rama memberkati, tubuh Shabari lenyap, jiwanya bergabung dengan Jiwa Sang Guru……….

Persembahan penuh kasih seorang Panembah

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

Ritus-ritus, tradisi-tradisi yang mengharuskan kita menghaturkan persembahan ini dan persembahan itu – adalah proyeksi dari pikiran yang kacau. Seolah Tuhan dapat dibeli dengan cara itu.

Di antara kita, ada pula yang berargumentasi bahwa,

“DALAM TRADISI KAMI, ADA TIGA MACAM PERSEMBAHAN, Utama bagi mereka yang mampu; Menengah bagi mereka yang kurang mampu; dan, Nista bagi mereka yang tidak mampu. Jadi tidak ada ada keharusan mesti Utama, sesuai dengan kemampuan masing-masing saja.”

Bertanyalah pada diri-sendiri, “Kata siapa?” bertanyalah, “Apakah kita percaya pada apa yang dikatakan oleh Krsna?” Jika jawaban kita “Tidak”, maka cukup sudah. tidak perlu berargumentasi dan memperpanjang perkara. Tapi, jika jawaban kita “ya”, maka baca ulang ayat ini.berusahalah untuk melihat kebenaran, supaya tidak tertipu oleh “kata si anu”, dari dulu sudah begitu”, atau kalimat-kalimat serupa.

Lewat ayat ini, Krsna menghapuskan tradisi perantara antara kita dan Sang Jiwa Agung, Parabrahman, Paramatma, Tuhan. Tidak ada calo. Hubungan kita langsung –direct. Berilah dia.

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung.

Jangan menyalahartikan ayat ini sebagaai anti ritus – Krsna bukan dan tidak pernah anti-ritus. Ia anti tradsi-tradisi ‘picisan’ yang memberatkan. Silakan mengikuti, memilih, bahkan menciptakan ritus sendiri, sesuai dengan kata hati. Bukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang.

Veda dan juga kitab-kitab suci lain, penuh pujiaan. Namun, jika kita mempelajari semuanya itu dengan hati terbuka, sesungguhnya pujian-pujian itu – yang sekarang dikaitkan dengan berbagai ritus – adalah berdiri sendiri.

Kita bisa menggunakan puji-pujian itu untuk mengiringai ritus-ritus yang sudah menjadi tradisi. Bisa juga menggunakannya untuk mengiringi ritus-ritus yang kita buat sendiri sesuai kata hati.

GUNAKAN AKAL SEHAT! Jika akal sehat mengatakan, “mesti mengikuti ritus sesuai dengan pakem” – maka ikutilah. Itulah kebenaran subyektif untuk diri sendiri kita. Barangkali jga uuntuk mayoritas orang. Namun, jika kita berjumpa dengan seorang Ramakrishna yang tidak mengikuti tradisi – maka hendaknya tidak menyalahkan dia. Itu adalah kebenaran dia.

Pemujaan adalah seuatu yang bersifat sangat pribadi. Dari rumah ke rumah – caranya, mantranya – semua bisa beda. Bahkan, dalam satu keluarga saja, ayah bisa memuja-Nya dalam wujud Ganesa; ibu sebagai Gauri, dan seorang anak sebaggai Sarasvati. Maka dengan sendirinya mantra-mantranya berubah total. Persembahannya pun beda. Bahkan cara bersujud, sikap tangan atau mudra – semuanya beda apalagi, jika di antara anggota keuarga, ada yang beda kepercayaan.

Salahkah mereka? Tidak. Sebaliknya, jika kita masih ingin tetap mengikuti satu cara yang sudah dibakukan oleh “entah siapa” – tapi akaal sehatt kita mengatakan bahwa kita masih harus, tetap mengikutinya – maka kita pun tidak salah.

Di balik semua itu, adalah…..

SEMANGAT PANEMBAHAN YANG PENTING. Adakah kasih yang mengiringi doa persembahan kita? Adakah cinta yang melubar saat kita memuji-Nya? Ini yang penting.

Jika kita melakukan suatu ritus sebagai kewajiban saja, ‘karena dari dulu, secara turun-temurun sudah seperti itu,’ atau ‘karena memang dari sononya sudah demikian,’ – maka, menurut saya, pandangan pribadi saya, saat itu, entah sesederhana atau semewah apa pun ritus yang kau lakukan – semangat panembahannya sudah tidak ada.

 “Ah tidak, saat saya mengikuti upacara, mendengar mantra-mantra yang dibacakan, dan ketika saya diperciki air suci – bulu roma saya berdiri, saya merinding. Ada semacam energi yang mengetarkan sekujur tubuh saya.”

PENGALAMAN-PENGALAMAN YANG DIANGGAP SENSASIONAL SEPERTI INI – memang sensasional – sebatas senses atau indra saja. Pengalaman badaniah. Getaran, melihat cahaya, mendengar suara, mencium sesuatu, merasakan sesuatu – semua sensasi ini adalah dari indra. Tidak membuktikan semangat panembahan. Tidak ada kaitannya dengan kasih, dengan cinta, dengan bhakti.

Seorang panembah larut dalam aksi panembahannya. Ia manunggal dengan yang disembah-Nya. Yang muncul adalah kesadaran akan kehadiran-Nya di mana-mana. Yang terlihat adalah wajah-Nya di mana-mana. Panembahan bukanlah sensasi indrawi. Panembahan adalah Ombak Dahsyat Cinta Sejati yang justru menghanyutkan ego, kesadaran jasmani dan indrawi. Kemudian, saat merinding pun, bukan sebatas bulu roma yang berdiri, tetapi Jiwa yang bangkit! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Pemain Catur dan Guru Bijak

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 25, 2017 by triwidodo

Seorang Guru bercerita: Seorang pemuda dengan penuh semangat menghadap Guru dari sebuah padepokan. “Guru, saya ingin menjadi murid, tapi saya tidak tahu bagaimana tindakan seorang murid yang baik, karena ayah saya hanya mengajarkan saya cara bermain catur, tidak pernah bicara tentang spiritual!”

Sang Guru berkata, “Kadang-kadang menghadapi pikiran yang jelek yang memenuhi diri, bisa juga menyibukkan diri dalam permainan untuk mengalihkan diri dari perbuatan yang tidak baik.

Sang Guru meminta seorang murid senior membawa papan catur dan memintanya main catur dengan sang pemuda.

Namun, sebelum pertandingan di mulai Sang Guru berkata, “Di waktu awal mungkin main catur bisa digunakan sebagai pengalih perhatian agar tidak berbuat jahat. Namun tidak ada gunanya bermain catur sepanjang waktu. Saya hanya akan memilih pemain catur terbaik di padepokan ini. Jika kau menang kau akan menjadi murid di sini, sedangkan murid saya harus keluar dari padepokan. Sebaliknya, jika kau kalah, kau tidak diterima menjadi murid di sini. Ini adalah kesempatan bagimu!”

Sang pemuda bermain catur dengan sangat agresif dan meyakinkan, karena dia memang sudah menjadi ahli catur. Akan tetapi dia memperhatikan wajah murid Sang Guru di depannya yang bingung  menghadapi gempuran bidak-bidak caturnya. Kembali diperhatikan wajah lawan mainnya yang polos dan tidak ada rasa keangkuhan. Tiba-tiba muncul rasa aneh menyelimuti hatinya. Sebegitu egoisnyakah dia? Agar menjadi murid, sampai mendepak murid senior yang nampak lebih dewasa daripadanya?

Tiba-tiba sang pemuda sengaja melakukan kesalahan dalam permainannya, dan kini dia menjadi terdesak. Tidak ada gunanya menjadi murid hanya dengan main catur menang, sehingga orang baik harus ke luar dari padepokan.

Akhirnya sang pemuda kalah main catur dan berkata kepada sang guru, bahwa dia kalah main catur dan dia tidak berhak menjadi murid, dan sang murid senior tetap menjadi murid padepokan.

Sang Guru tersenyum, “Tidak Demikian! Kau sudah mengalahkan rasa egoismu, kau telah mempersembahkan kekalahan main catur dengan penuh kasih pada Gusti! Kau pantas menjadi murid di sini dan muridku yang senior juga tidak perlu meninggalkan padepokan…….”.

 

Pelajaran Pertama Persembahan Penuh Kasih dari Bhagavad Gita

“Persembahan penuh kasih, penuh devosi seorang panembah – entah itu sehelai daun, sekuntum bunga, buah, ataupun sekadar air – niscayalah Ku-terima dengan penuh kasih pula.” Bhagavad Gita 9:26

Ritus-ritus, tradisi-tradisi yang mengharuskan kita menghaturkan persembahan ini dan persembahan itu – adalah proyeksi dari pikiran yang kacau. Seolah Tuhan dapat dibeli dengan cara itu.

Di antara kita, ada pula yang berargumentasi bahwa,

“DALAM TRADISI KAMI, ADA TIGA MACAM PERSEMBAHAN, Utama bagi mereka yang mampu; Menengah bagi mereka yang kurang mampu; dan, Nista bagi mereka yang tidak mampu. Jadi tidak ada ada keharusan mesti Utama, sesuai dengan kemampuan masing-masing saja.”

Bertanyalah pada diri-sendiri, “Kata siapa?” bertanyalah, “Apakah kita percaya pada apa yang dikatakan oleh Krsna?” Jika jawaban kita “Tidak”, maka cukup sudah. tidak perlu berargumentasi dan memperpanjang perkara. Tapi, jika jawaban kita “ya”, maka baca ulang ayat ini.berusahalah untuk melihat kebenaran, supaya tidak tertipu oleh “kata si anu”, dari dulu sudah begitu”, atau kalimat-kalimat serupa.

Lewat ayat ini, Krsna menghapuskan tradisi perantara antara kita dan Sang Jiwa Agung, Parabrahman, Paramatma, Tuhan. Tidak ada calo. Hubungan kita langsung –direct. Berilah dia.

Persembahkanlah daun lembaran kehidupan kita dari hari ke hari – setiap hari. Berkaryalah dengan semangat panembahan.

Layani keluarga; perusahaan tempat kita bekerja, masyarakat – layani semua dengan penuh kasih, dengan melihat wajah-Nya yang berada di balik setiap wajah.

Persembahkanlah Bunga Hati yang telah mekar, yang indah, tidak layu. Persembahkanlah kasih yang senantiasa baru, dinamis, segar. Tidak basi.

Dan, persembahkanlah Buah Perbuatan, ‘Apa pun yang kulakukan Gusti, adalah persembahanku yang hina dan dina bagi-Mu. Terimalah Tuhan-Ku’.

Persembahkanlah Air Perasaan yang terdalam. Perasaan terdalam itulah sumber kasih, cinta. Cair, mengalir terus, bersih, jernih. Itulah Jiwa. Persembahan ‘diri’ kepada Sang Pribadi Agung. Persembahkanlah Jiwa kepada Jiwa Agung.

Jangan menyalahartikan ayat ini sebagaai anti ritus – Krsna bukan dan tidak pernah anti-ritus. Ia anti tradsi-tradisi ‘picisan’ yang memberatkan. Silakan mengikuti, memilih, bahkan menciptakan ritus sendiri, sesuai dengan kata hati. Bukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang.

Veda dan juga kitab-kitab suci lain, penuh pujiaan. Namun, jika kita mempelajari semuanya itu dengan hati terbuka, sesungguhnya pujian-pujian itu – yang sekarang dikaitkan dengan berbagai ritus – adalah berdiri sendiri.

Kita bisa menggunakan puji-pujian itu untuk mengiringai ritus-ritus yang sudah menjadi tradisi. Bisa juga menggunakannya untuk mengiringi ritus-ritus yang kita buat sendiri sesuai kata hati.

GUNAKAN AKAL SEHAT! Jika akal sehat mengatakan, “mesti mengikuti ritus sesuai dengan pakem” – maka ikutilah. Itulah kebenaran subyektif untuk diri sendiri kita. Barangkali jga uuntuk mayoritas orang. Namun, jika kita berjumpa dengan seorang Ramakrishna yang tidak mengikuti tradisi – maka hendaknya tidak menyalahkan dia. Itu adalah kebenaran dia.

Pemujaan adalah seuatu yang bersifat sangat pribadi. Dari rumah ke rumah – caranya, mantranya – semua bisa beda. Bahkan, dalam satu keluarga saja, ayah bisa memuja-Nya dalam wujud Ganesa; ibu sebagai Gauri, dan seorang anak sebaggai Sarasvati. Maka dengan sendirinya mantra-mantranya berubah total. Persembahannya pun beda. Bahkan cara bersujud, sikap tangan atau mudra – semuanya beda apalagi, jika di antara anggota keuarga, ada yang beda kepercayaan.

Salahkah mereka? Tidak. Sebaliknya, jika kita masih ingin tetap mengikuti satu cara yang sudah dibakukan oleh “entah siapa” – tapi akaal sehatt kita mengatakan bahwa kita masih harus, tetap mengikutinya – maka kita pun tidak salah.

Di balik semua itu, adalah…..

SEMANGAT PANEMBAHAN YANG PENTING. Adakah kasih yang mengiringi doa persembahan kita? Adakah cinta yang melubar saat kita memuji-Nya? Ini yang penting.

Jika kita melakukan suatu ritus sebagai kewajiban saja, ‘karena dari dulu, secara turun-temurun sudah seperti itu,’ atau ‘karena memang dari sononya sudah demikian,’ – maka, menurut saya, pandangan pribadi saya, saat itu, entah sesederhana atau semewah apa pun ritus yang kau lakukan – semangat panembahannya sudah tidak ada.

 “Ah tidak, saat saya mengikuti upacara, mendengar mantra-mantra yang dibacakan, dan ketika saya diperciki air suci – bulu roma saya berdiri, saya merinding. Ada semacam energi yang mengetarkan sekujur tubuh saya.”

PENGALAMAN-PENGALAMAN YANG DIANGGAP SENSASIONAL SEPERTI INI – memang sensasional – sebatas senses atau indra saja. Pengalaman badaniah. Getaran, melihat cahaya, mendengar suara, mencium sesuatu, merasakan sesuatu – semua sensasi ini adalah dari indra. Tidak membuktikan semangat panembahan. Tidak ada kaitannya dengan kasih, dengan cinta, dengan bhakti.

Seorang panembah larut dalam aksi panembahannya. Ia manunggal dengan yang disembah-Nya. Yang muncul adalah kesadaran akan kehadiran-Nya di mana-mana. Yang terlihat adalah wajah-Nya di mana-mana. Panembahan bukanlah sensasi indrawi. Panembahan adalah Ombak Dahsyat Cinta Sejati yang justru menghanyutkan ego, kesadaran jasmani dan indrawi. Kemudian, saat merinding pun, bukan sebatas bulu roma yang berdiri, tetapi Jiwa yang bangkit! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Arjuna dan Penarik Gerobak Bunga #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 9, 2017 by triwidodo

Cara Berdoa Bhima dan Arjuna

Ada beberapa panembah yang suka pamer. Selama berjam-jam mereka bermeditasi, beberapa jam membaca mantra, mengulang-ulang Nama Gusti Pangeran. Mereka memandang rendah panembah yang tidak menghabiskan waktu bermeditasi dan membaca mantra seperti mereka. Arjuna adalah salah satunya. Demikian seorang Guru bercerita demi kebaikan para pendengarnya.

Adalah Bhima kakak Arjuna, yang paling perkasa dalam Pandava, tidak pernah berdoa untuk dewa manapun. Bhima hanya terbiasa makan dan terbiasa bertarung. Bhima adalah banyak makan sekaligus petarung yang handal.

Arjuna lain, dia selalu berdoa kepada banyak dewa, dia berupaya menyenangkan semua dewa. Arjuna selalu mengumpulkan ratusan bunga dan mempersembahkan kepada Shiva satu persatu sambil menyebut nama Shiva. Arjuna bisa menghabiskan waktu berjam-jam jam untuk melakukan hal tersebut. Dan, hal itu membanggakannya.

Apa yang dilakukan Bhima sangat sederhana. Dia menempelkan jari di keningnya dan fokus selama beberapa menit sebelum makan dan dilanjutkan makan banyak. Demikianlah meditasinya.

Sri Krishna mengetahui hal tersebut dan mengajak Arjuna pergi jalan-jalan dengan menyamar sebagai orang biasa. Saat mereka berjalan, mereka melihat seorang pria sedang menarik gerobak penuh dengan bunga.

Arjuna bertanya kepada pria tersebut, “Kamu sedang melakukan apa? Ke mana kamu akan pergi membawa bunga-bunga tersebut?”

Pria itu tetap fokus pada pekerjaannya, dan tidak mempedulikan pertanyaan Arjuna. Krishna mengajak Arjuna untuk mengikuti pria tersebut melakukan perjalanannnya. Ketika pria itu sampai di tempat tujuannya, Arjuna dan Krishna melihat banyak gerobak berisi bunga.

Arjuna kembali bertanya, “Apa yang Anda lalukan dengan ribuan bunga ini?”

Pria tersebut menjawab, “Saya tidak punya waktu untuk berbicara dengan Anda. Saya baru fokus. Saya hanya berbicara kepada satu orang di bumi, dan itulah Bhima, Pandava yang kedua. Dia adalah pencari spiritual terbesar. Saat dia bermeditasi sebelum makan saja, untuk satu atau dua menit, dan berkata dengan penuh penghayatan, “Wahai Gusti Shiva Hyang Maha Kuasa”. Ribuan bunga dipersembahkan kepada Shiva dengan cara tersebut. Coba perhatikan adiknya yang bernama Arjuna, dia hanya melempar bunga kepada Shiva.”

Pukulan telak kepada Arjuna oleh pria tersebut, yang tanpa sadar tengah berhadapan dengan Arjuna sendiri yang sedang dalam penyamaran. Arjuna lunglai dan mohon petunjuk kepada Sri Krishna, bagaimana melakukan persembahan yang baik.

Krishna berkata pada Arjuna, “Aku ingin menyampaikan bahwa bukan jumlah jam, bukan jumlah bunga tapi fokus dan dedikasi.”

 

Bukan Ritual Tapi Menghayati Dengan Pikiran Tak Bercabang Dan Fokus

“Di pihak lain, Partha (Putra Prthu – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) para mahatma – mereka yang berjiwa mulia – yang selalu menyadari kemuliaan dirinya dan mengenali-Ku sebagai Sumber semua makhluk, dan segala-galanya; Tak Termusnahkan, dan Kekal Abadi; senantiasa memuja-Ku dengan seluruh kesadarannya berpusat pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:13

Selama Jiwa Individu atau Jivatma tidak mengenal hakikat dirinya – ia beranggapan bila dirinya adalah badan, indra, pikiran, perasaan dan sebagainya. Kadang seseorang yang menyatakan, “Aku Jiwa, bukan badan”, dan sebagainya pun, masih tetap tidak menyadari hal itu. Ia baru berwacana saja.

Meditator adalah seorang yang menyadari hakikat dirinya. Ia telah menemukan kemuliaan dirinya. Ia melihat dirinya di mana-mana. Tat Tvam Asi – Itulah kau. Kau juga Aku. Aku juga Kau. Dalam kesadaran Jiwa, dan hanyalah dalam kesadaran Jiwa, kita baru bisa bersatu.

…………..

Seperti apakah sifat para Mahatma? Apa yang mereka lakukan? Adakah yang dapat kita contohi? Krsna memberi rumusan: “bhajanty ananya-manasa” – mereka, senantiasa, memuja-Ku, mengenang-Ku, menyadari kehadiran-Ku, menghayati hakikat-Ku – dengan pikiran yang tak bercabang, dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku.

Ini tidak sama dengan disiplin doa beberapa kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Yang dimaksud bukanlah memuja-Nya dengan ritual-ritual tertentu, gerak badan tertentu, sesajen tertentu, ataupun cara-cara, metode-metode tertentu. Bukan, bukan semua itu. Adalah pemujaan purnawaktu yang dibutuhkan. Hal ini, jelas tidak bisa dilakukan secara fisik. Fisik punya dharmanya sendiri, banyak hal yang mesti dilakukannya – dari gosok gigi hingga mencari rezeki. Fisik tidak bisa berdoa atau meditasi saja. Yang dimaksud adalah kesadaraan diri.

“Bhajanty” bukan sekadar bhajan – Dalam pengertian memuji-Nya dengan bernyanyi, bertepuk tangan dengan diiringi musik. Inilah definisi bhajan yang kita temukan di internet. Bukan. Itu merupakan ekspresi bhajan yang paling mudah, paling populer dan paling umum. “Bhajanty” adalah “senantiasa memuji-Nya, mengagungkan-Nya; senantiasa bersyukur atas segala berkah  dan anugerah-Nya; senantiasa menyadari kehadiran-Nya.”

Dan, “ananya manaso” berarti, “dengan pikiran yang tidak bercabang”. Nah, pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran. Pikiran kita saat ini bercabang. Dan selama berinteraksi dengan dunia, pikiran yang bercabang tetap dibutuhkan.

Bagaimana kita bisa memutuskan, tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat? Sifat dualitas pikiran kita membantu. Ia memilah antara yang sekadar nikmat, menyenangkan – dari sesuatu yang mulia. Sifat dualitas dibutuhkan pula untuk merawat badan sehingga kita dapat memilih makanan yang bergizi baginya. Sifat dualitas pikiran manusia di balik segala macam konflik, sekaligus di balik segala macam kemajuan dan perkembangan, pertumbuhan. Sifat dualitas inilah yang membuat pikiran bercabang. Jadi, pikiran yang bercabang pun tetap dibutuhkan.

Sifat pikiran yang tidak bercabang adalah kesadaran yang dibutuhkan pada tingkat Jiwa. Nyamuk yang mengganggu, menyebarkan berbagai penyakit; pun demikian dengan kecoa dan serangga-serangga lain – bahkan virus yang menyerang tubuh kita – mesti dibasmi. Saat itu, pikiran yang bercabang berguna untuk menentukan sikap.

Namun, pada saat yang sama pikiran tidak bercabang atau kesadaran juga dibutuhkan untuk menyadari bila dalam Kesadaran Jiwa kita semua bersatu. Tidak perlu membenci nyamuk dan kecoa saat membasmi mereka. Ada juga orang yang bahagia betul setelah berhasil ‘membunuh’ nyamuk dan kecoa. Tidak, tidak perlu bahagia, dan tidak perlu sedih. Pun tidak perlu bimbang, ‘saya kan spiritual, masak membunuh nyamuk?’ Kebimbangan seperti itu muncul dari ego-spiritual, bukan dari Jiwa-spiritual.

Nyamuk-nyamuk yang mengganggu manusia serta kemanusiaan tidak melulu berwujud sebagai nyamuk. Bisa juga berwujud sebagai manusia, sebagai Kaurava, sebagai apa dan siapa saja. Mereka mesti dibasmi tanpa rasa benci. Sembari membasmi ‘nyamuk-nyamuk’ itu, berdoalah dalam hati, semoga dalam perjalanan selanjutnya, kau mendapatkan tuntunan yang dibutuhkan demi kemajuan dan perkembangan Jiwa. Kau tidak lagi mengganggu sesama makhluk. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

3 Petunjuk tentang Membaca Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 29, 2017 by triwidodo

 

Sri Bhagavan (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda: “Wahai Mahabaho (Arjuna Berlengan Perkasa), dengarkanlah sabda mulia ini sekali lagi, yang Ku-sampaikan karena kasih-Ku padamu, dan demi kebaikanmu sendiri.” Bhagavad Gita 10:1

Kesimpulan pertama yang muncul: “Kalau begitu Krsna pilih kasih, hanya sayang sama Arjuna, maka, ia menjelaskannya kepada Arjuna.”

Kita lupa bahwa kita semua yang sedang membaca tulisan ini adalah “Priyamanaya” – yang dikasihi-Nya. Setiap orang yang membaca Gita, entah terjemahan siapa pun, penjelasan siapa pun – adalah seseorang yang dikasihi-Nya. Seseorang yang layak untuk menerima bingkisan kasih-Nya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Berikut 3 petunjuk tentang membaca Bhagavad Gita:

 

  1. Membaca dengan penuh keyakinan

“Barang siapa mendengarkan ajaran ini dengan penuh keyakinan dan tanpa celaan; niscaya meraih kebebasan mutlak dan kebahagiaan sejati yang diraih para bijak yang berbuat mulia.” Bhagavad Gita 18:71

Barangkali kita tidak menghayati ajaran ini, kita belum sepenuhnya memahami — tapi kita tetap mendengarkan dengan penuh perhatian dan keyakinan. “Aku belum paham, tapi aku tahu bila ajaran ini adalah baik untukku” – maka, dengan keyakinan seperti itu saja, kita sudah bisa terbebaskan dari kebodohan ilusif yang menyebabkan kesalahan, kekhilafan, dan sebagainya.

KITA AKAN DIPERTEMUKAN DENGAN MEREKA yang dapat membantu dalam hal penemuan jati diri. Bisa dalam kehidupan ini, bisa dalam kehidupan berikutnya — cepat atau lambat, tergantung pada daya-upaya kita, keseriusan kita, kesungguhan kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

 

  1. Mempelajari dan self study Bhagavad Gita sebagai persembahan

“Barang siapa mempelajari percakapan kita ini, sesungguhnya telah memuja-Ku Iewat panembahan dalam bentuk Pengetahuan Sejati (Jnana Yajna) — demikian keniscayaan-Ku.” Bhagavad Gita 18:70

Bagi Krsna, menghaturkan sesajen tidaklah mesti dalam bentuk bunga, air, dupa, dan sebagainya. Sembahyang tidak harus dalain bentuk ritus tertentu. Persembahan juga bisa dalam bentuk studi. Mempelajari sesuatu yang mernbantu Kesadaran Jiwa, adalah persembahan yang sudah pasti paling “digemari” oleh Jiwa.

Ritus-ritus lain tidak ditolak-Nya — inilah keunikan Krsna. Ia tidak menolak sesuatu – Ia memberi pilihan. Selanjutnya terserah kita.

JNANA YAJNA – Persembahan, Devosi, Panembahan dalam bentuk Berbagi Pengetahuan Sejati. Berbagi Pengetahuan tentang Hakikat-Diri.

Inilah “Bentuk” panembahan yang masih mesti dikembangkan di Indonesia. Di setiap wilayah Nusantara. Silakan melakoni ritus-ritus lain, memang penting bagi kita yang masih belum tenang pikirannya; kita yang emosinya masih bergejolak. Ritus-ritus penting untuk itu.

Tapi, jangan lupa kebutuhan inteligensia, buddhi. Jangan lupa pula kebutuhan Jiwa, Jivatma — yang senantiasa rnenginginkan kemanunggalan dengan Sumber-Nya, Sang Jiwa Agung, Paramatma. Untuk itu, Jnana Yajna adalah satu-satunya solusi.

JNANA YAJNA BERARTI, menjadi sadar dan berbagi kesadaran. Menjadi ceria karena peraihan pengetahuan sejati tentang hakikat diri dan berbagi keceriaan.

Caranya adalah dengan membentuk kelompok-kelompok studi. Jumlah peserta yang ideal adalah antara 7-9 hingga 21 orang. Janganlah menyakralkan angka. Kebetulan saja angka-angka itu signifikan bagi saya. Adalah “sekitar” jumlah itu yang saya maksudkan.

Kelompok-kelompok studi seperti itu bisa bertemu seminggu sekali, atau minimum 2 minggu sekali. Lebih jarang dari itu tidak akan membantu. Jarak yang terlampau jauh antar pertemuan tidak efektif.

Namun, sesuatu yang lebih penting lagi ialah: Self-Study — Swa Studi. Biasakan diri untuk membaca 1 ayat, 1 bab, atau seberapa saja — setiap hari. Ini akan memberi kita energi untuk berbagi. Tanpa adanya energi di dalam diri kita sendiri, apa yang akan kita bagikan?

Sisihkan waktu setiap hari, lebih baik setiap pagi — entah 5 menit atau 15 menit, tergantung pada alokasi waktu yang kita berikan bagi Self-Study. Lagi-lagi anjuran saya adalah, minimal 5 menit; tentu tidak ada maksimal.

Tapi, ya, ada saran untuk waktu yang ideal, yaitu di atas 20 menit, 2l menit pun boleh. Sebab, penelitian-penelitian di bidang neuroscience menunjukkan bahwa otak manusia baru me-register, merekam sesuatu secara permanen, setelah mendalaminya selama lebih dari 20 menit.

Jadilah Pelaku Jnana Yajna mulai saat ini juga dan raihlah Kasih-Nya. Kita semua bisa! Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Melakoni dalam kehidupan sehari-hari

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), demikian telah Ku-sampaikan ajaran esoteris ini; dengan menghayatinya, seseorang menjadi bijak. Ia menyelesaikan tugas-kewajibannya dengan baik, dan meraih kesempurnaan-diri.” Bhagavad Gita 15:20

Pertama: Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh dari buku-buku – termasuk buku ini, ya, termasuk Bhagavad Glta, entah versi pemahaman kita saat ini, atau pemahaman siapa pun.

Ajaran yang disampaikan lewat Bhagavad Gita — lewat Madah Agung ini — hanyalah bermanfaat jika dihayati. Berarti, dijalani, dilakoni, dihidupi. Penghayatan itu, laku itu yang membuat kita menjadi bijak. Hanya membaca Bhagavad Gita, menghafalnya, atau hanya sekadar memahaminya saja tidak cukup. Ini jelas. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Persembahan Dinasti Yadu dan Warga Brindavan bagi Sri Krishna #BhagavatamIndonesia

Posted in Bhagavatam with tags , , , on September 20, 2017 by triwidodo

#Gerhana di Samantapancaka

“Di antara beribu-ribu orang, belum tentu seorang pun berupaya untuk mencapai kesempurnaan diri. dan, di antara mereka yang sedang berupaya, belum tentu seorang yang memahami kebenaran-Ku.” Bhagavad Gita 7:3

Kesempurnaan diri adalah kesempurnaan dalan Jnana dan Vijnana. Banyak di antara kita yang sudah merasa puas dengan apa yang kita baca dalam kitab-kitab tebal, seperti yang ada di tangan kita saat ini. Hanyalah segelintir saja yang berupaya untuk memperoleh pengalaman pribadi.

Dan di antara segelintir yang sedang berusaha demikian pun, belum tentu satu orang yang mencapai kesempurnaan, dalam pengertian memahami kebenaran-Nya – Kebenaran Jiwa Agung.

Pengamatan Krsna merupakan tantangan bagi siapa saja – Tantangan bagi setiap orang yang menganggap dirinya berketuhanan, berkeyakinan, berkepercayaan, dan sebagainya. Adakah kita memuja-muja Tuhan, menyembah Tuhan untuk mendekatkan diri dengan-Nya, atau justru untuk menjauhkan diri dari-Nya?

Setiap doa untuk hal-hal bersifat duniawi – untuk mendapatkan rezeki, pekerjaan, jodoh, anak dan sebagainya – tidak mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Semua itu adalah urusan kendaran badan bersama indra, pikiran segala.

Semua urusan itu adalah urusan teknis, urusan bengkel. Kita tidak perlu mengenal pemilik bengkel, apalagi pemilik pabrik mobil untuk memperbaiki kendaraan yang rusak. Cukup berurusan dengan teknisi. Bahkan tidak perlu mengenalnya juga. Titipkan mobil di bengkel, daftarkan segala keluhan kita, dan datang kembali sorenya untuk mengambil mobil.

Banyak hal lain yang menjadi inti doa kita ibarat keinginan untuk menghias dan mempercantik kendaraan. Tidak perlu ke bengkel, untuk itu cukup ke toko yang menjual variasi mobil.

Selama ini, kepercayaan kita sesungguhnya bukanlah untuk mengenal Tuhan, tetapi sekedar rutinitas pemeriksaan kendaraan, supaya tetap “fit”.

Krsna menyatakan, dan Ia tidak salah, bahwa di antara beribu-ribu orang yang ingin serta berupaya untuk mengenal-Nya, belum tentu seorang pun mencapai tujuannya, dan mengenal-Nya.

Kenapa demikian? Apakah tidak setiap orang berupaya dengan kesungguhan yang sama? Ya, memang demikian adanya; tidak semua orang berupaya dengan kesungguhan yang sama. Selain itu, belum tentu upaya yang mereka lakukan itu betul. Banyak orang berupaya, namun dengan cara yang salah. Jadi, upayanya, metodenya mesti betul juga, bukan sekadar kesungguhan dan kerja keras. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Tanah, air, api, angin, eter (subtansi ruang), gugusan pikiran serta perasaan (manah atau mind), kemampuan untuk memilah (buddhi atau integensia), dan ego (ahamkara atau ke –aku-an) – kedelapan hal ini adalah prakrti atau sifat kebendaan-Ku, yang menyebabkan kesadaran rendah.” Bhagavad Gita 7:4

Segala upaya kita selama ini – dari yang bersangkutan dengan profesi dan keluarga, hingga bermasyarakat, politik, hubungan dengan sesama, kepercayaan, dan lain sebagainya – semuanya menyangkut kedelapan hal ini. Semuanya menyangkut alam benda, kebendaan, kesadaran rendah. Jadi , selama ini segala upaya kita sekadar untuk merawat kendaraan, mempercantiknya, menghiasnya, mengisi bahan bakar – dan, that’s that. Kendaraan itu tidak pernah dipakai untuk menuju tujuan – yaitu untuk menyadari hakikat diri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Pertemuan keluarga Dinasti Yadu dan warga Brindavan

Setelah tiba di Kurukṣhetra, para anggota Dinasti Yadu melakukan ritual mandi di danau Samantapancaka dan selanjutnya melakukan puasa selama gerhana berlangsung. Pada saat buka puasa mereka mempersembahkan makanan lezat kepada para brahmana.

Pada keesokan harinya mereka melakukan dana punya dengan memberikan banyak sapi kepada para brahmana. Semua sapi tersebut dilengkapi hiasan berwarna-warni, gelang kaki dari emas dan lonceng sapi dari emas di lehernya. Seluruh brahmana yang hadir bersyukur atas kemurahan hati Dinasti Yadu.

Orang awam melakukan mandi, puasa, berbagi makanan dan dana punya kepada para brahmana dengan harapan akan memperoleh imbalan dari Gusti Pangeran untuk memenuhi keinginannya. Kedudukan yang bagus, jodoh yang baik, keluarga bahagia, kekayaan yang melimpah dan anak keturunan yang sukses. Menurut Bhagavad Gita 7:3 itu semua adalah urusan kendaraan badan, bisa ke toko variasi mobil, belum perlu ke bengkel Ashram apalagi berurusan dengan Pemilik Bengkel Semesta. Menurut Bhagavad Gita 7:4. semuanya masih menyangkut alam benda

Akan tetapi bagi anggota Dinasti Yadu acara ritual dan dana punya tersebut hanya dipersembahkan kepada Sri Krishna. Mereka memperoleh berkah yang luar biasa dengan selalu berada dekat Sri Krishna. Ibarat murid yang telah ikut dalam kehidupan Guru, setiap saat selalu darshan dengan Sri Krishna. Itu adalah berkah yang luar biasa.

Acara makan bersama para anggota Dinasti Yadu hanya dilakukan setelah persembahan makanan kepada para brahmana selesai.

Tidak berapa lama datang para tamu, kerabat, sahabat, para raja dan prajurit mereka. Ada raja dari Matsya, Kusinara, Kosala, Vidharba, Kuru, Kamboja, Kekaya dan raja-raja lainnya.

Akan tetapi yang paling ditunggu oleh Balarama adalah warga Brindavan di bawah pimpinan Nanda. Peristiwa gerhana tersebut dimanfaatkan warga Brindavan untuk menemui Sri Krishna dan Balarama. Pertemuan antara warga Brindavan dan anggota keluarga Dinasti Yadu sangat mengharukan. Mereka saling memeluk dan melimpahkan kerinduan. Tidak banyak kata yang diungkapkan hanya mata mereka yang mengalirkan air mata keharuan.

Seperti halnya para anggota keluarga Dinasti Yadu, para warga Brindavan juga mempunyai pikiran yang terfokus kepada Sri Krishna. Mereka sudah lepas dari keterikatan dunia dan setiap tindakan mereka hanya merupakan persembahan kepada Sri Krishna.