Archive for pir

Duta Besar Kerajaan Tuhan Penghubung Negeri-Nya dengan Negeri Kita #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , , on April 21, 2017 by triwidodo

Dia yang mengetahui “Jalan” disebut Pir atau Pemandu. Jika kamu bertemu dengan seorang Pir, ikutilah dia tanpa keraguan, karena dia “tahu”!

Awam bagaikan kegelapan malam. Pir adalah Bulan yang meneranginya. Pir juga berarti “Tua”. Seorang Pir menjadi “Tua” karena Kebenaran, bukan karena Waktu.

Saya memberikan julukan Pir kepada Husamuddin, “keberuntungan”-ku yang masih muda, karena, walaupun tampak muda, sesungguhnya dia tua……….

 

Husamuddin adalah seorang murid yang relatif baru—baru bergabung dengan Rumi. Tetapi, Rumi tidak menilainya berdasarkan “waktu”. Rumi menilainya berdasarkan “kebenaran” —”kesadaran”.

Karena itu pula, Rumi menyebutnya “keberuntunganku”. Seorang murshid bagaikan pedagang yang membuka usaha dengan tujuan jelas: mencari keuntungan. Tetapi keuntungan yang dicarinya bukanlah keuntungan materi. Keuntungan seorang murshid adalah jumlah orang yang meningkat kesadarannya. Berapa orang yang setidaknya menjadi sesadar dia. Makin besar untungnya, jika di antara mereka ada yang menjadi “lebih” sadar dari dia.

 

Anggur tua dinilai lebih tinggi. Begitu pula dengan para Pir. Carilah seorang Pir yang sangat tua. Tua karena kcbenaran, karena kesadaran, bukan karena waktu.

Jika kamu sudah menemukannya, jadikan dia Pemandumu. Dengan adanya seorang Pemandu, perjalananmu akan menjadi lebih nyaman dan terarah.

Ingat, perjalanan ini baru pertama kali kamu tempuh. jangan sok berani. Indahkan panduan Sang Pemandu!

 

Bagi seorang murshid, murid adalah sahabat. Murshid “tahu diri” betul. Pada dasamya, tidak ada perbedaan antara mereka. Seorang murid adalah masa lalu seorang murshid. Dan seorang murshid adalah masa depan seorang murid. Beda “kesadaran” sedikit. Itu saja.

Yang seringkali “lupa daratan” adalah para murid. Disebut “sahabat”, mereka menjadi sombong. “Sekarang aku bisa jalan sendiri. ”—pikir dia. Ternyata apa? Baru berjalan sebentar sudah babak-belur. Tetapi karena kesombongannya, karena keangkuhannya, dia tidak akan mengaku salah. Walaupun sudah “tersesat”, dia akan tetap melanjutkan perjalanannya.

Rumi menasihati mereka:

 

Seperti seekor keledai yang tergiur oleh rerumputan dan berhenti di pinggir jalan, begitu pula kenikmatan duniawi bisa menyibukkanmu, sampai lupa menempuh perjalanan yang harus kau tempuh. Pada saat-saat seperti itu, hanya seorang pemandu yang bisa menyadarkan dirimu.

“Banyak orang berupaya untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat ritus-ritus keagamaan.” kata Nabi Muhammad kepada Ali, sambil menasihatinya, “Dekatkan dirimu dengan para pengabdi Allah yang terpilih dan bijak, maka kau akan lebih awal sampai di tujuan.”

Nabi Muhammad melanjutkan, “Ali, engkau adalah seorang Pemberani yang bernyali. Kendati demikian, jangan terlalu percaya pada ‘nyali’. Turutilah nasihat seorang Pemandu yang bisa menemanimu dalam perjalanan ini. Turuti nasihat seorang Pemandu, sebagaimana Musa menuruti nasihat Khidir.

“Jangan menyangsikan kebijakannya, seperti Musa menyangsikan kebijakan Khidir. Jangan sampai Pemandumu meninggalkan kamu, seperti Musa ditinggalkan oleh Khidir.”

“Tangan seorang Pir bagaikan Tangan Tuhan. Jangan meragukan hal ini. Jangan kira ada yang pernah sampai di tujuan tanpa bantuan para Pir. Kalaupun ada yang berjalan sendiri dan sampai di tujuan, hal itu disebabkan oleh doa para Pir yang senantiasa melindungi dirinya.”

Para Pir para Wali, para Nabi—apa pun sebutannya—adalah wakil Keberadaan di atas bumi, seperti para Duta Besar yang mewakili negerinya. Dia berperan sebagai penghubung antara negeri yang mengut us dan negeri di mana dia ditempatkan.

Setelah menyelesaikan masa baktinya, seorang Duta Besar akan pulang ke negerinya, dan digantikan oleh Duta Besar yang baru. Demikian, berjalan terus. Kecuali, terjadi konflik dan pemutusan hubungan  diplomatik.

Untungnya, Tuhan tidak pemah memutuskan “hubungan” dengan dunia kita.  Itu sebabnya, dari jaman ke jaman, ada saja utusan yang Dia kirimkan. Jika anda alergi terhadap istilah “nabi” dan hanya ingin menggunakan untuk pribadi-pribadi tertentu, tidak apa. Gunakan istilah “wali”, “pir”, “pemandu”, “pelayan”, “petugas”—apa saja! Tidak menjadi soal.

Negara-Negara Persemakmuran (The Commonwealth Countries), bekas jajahan Inggris tidak mengenal istilah “Duta Besar” di antara mereka. Mereka menggunakan istilah “High Commissioner”. Tidak menjadi soal. High Commissioner atau Ambassa dor  atau Duta Besar atau apa saja, ketahuilah bahwa yang mereka wakili, satu dan sama.

Sering kali, seorang Duta Besar tidak akan turun tangan sendiri untuk memberi informasi tentang negerinya. Dia akan menggunakan media cetak dan media elektronik untuk menyampaikan berbagai informasi. Lalu berkat informasi yang dia sampaikan itu, anda tertarik untuk mengunjungi negerinya. Langsung membeli tiket dan jalan sendiri.

Tampaknya, anda tidak menggunakan jasa kedutaan. Apalagi kalau negeri itu tidak mengharuskan anda memiliki visa. Tetapi, sesungguhnya ketertarikan anda terhadap negeri itu sudah membuktikan adanya “tangan” Sang Duta Besar yang sedang bekerja di balik layar.

Jadi kalau anda berjalan sendiri dan sampai di tujuan dengan selamat, itu pun berkat bantuan para Pir. Demikian menurut Rumi……..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Kisah Orang Tua dan Tabib #Masnawi

Posted in Kisah Sufi with tags , , , on February 28, 2017 by triwidodo

buku-masnawi-2-tabib-dan-orang-tua

Seorang lelaki berusia lanjut mendatangi seorang tabib dan mengeluh, “Sepertinya aku ini menjadi pikun. Tolong otakku diperiksa.”

“Tidak perlu, Pak. Bagi orang seusia Bapak, hal itu lumrah; tak ada yang tidak wajar”, jawab Sang Tabib.

“Kalau begitu, bagaimana dengan mataku? Periksalah mataku, karena penglihatanku kurang tajam”, kata lelaki itu.

“Itu pun hal yang lumrah. Setiap orang berusia lanjut akan mengalaminya.”

“Tetapi pencernaanku juga tidak baik. Perutku sering sakit.”

“Itu pun karena usia lanjut.”

“Dan, nafasku sering sesak.”

“Biasa juga—kalau sudah tua, badan pun berpenyakitan.”

Maka beranglah si tua, “Dari tadi engkau mengatakan ini biasa, itu biasa. Hanya kalimat itukah yang engkau pelajari selamaini? Tabib macam apa engkau ini?”

Sang Tabib tetap tenang, ”Aku dapat memahami kegusaranmu, Pak Tua. Itu pun karena usia tua. Bersama dengan melemahnya organ-organ tubuhmu, pengendalian diri juga melemah. Dan orang menjadi tidak sabar.”

Si Tua betul-betul marah…. Meledaklah dia. Sampai muntah-muntah.

Lain Si Tua dalam kisah ini. Lain pula seorang pir, seorang wali, seorang nabi. Mereka senantiasa muda. Walau badan sudah menunjukkan tanda-tanda lanjut usia, jiwa mereka tetap muda. Jangan tertipu oleh penampilan mereka. Di balik apa yang terlihat, tersembunyi tambang emas dan permata.

cover-buku-masnawi-2

Bagi Rumi, seorang pir, seorang wali, seorang nabi adalah “Wakil Tuhan” di atas muka bumi. Tidak berarti Anda dan saya bukan “Wakil Tuhan”; Tidak berarti bahwa  Anda dan saya “Wakil Setan”. Tidak demikian. Yang membedakan kita dari mereka hanya satu—yaitu kesadaran.

Mereka sadar akan peran mereka dan berperan sesuai dengan kesadaran mereka. Kita tidak sadar. Kalaupun sadar; belum berperan sesuai dengan kesadaran. Kalaupun sudah berperan sesuai dengan kesadaran, masih belum sepenuh waktu. Masih setengah waktu.

Tentang “Wakil Tuhan Puma Waktu” ini, Rumi mengatakan:

 

Surga dan Neraka berada di dalam dirinya. Dia tidak terjangkau oleh pikiranmu. Apa yang terjangkau oleh pikiran hanyalah hal-hal yang bersifat sementara. Yang saat ini ada, saat berikutnya tidak ada. Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran.

 

Anda masih bersikeras bahwa Tuhan lain, Manusia lain. Tuhan berada  “di ataaaaas” sana, jauh sekali; sedangkan manusia berada “di bawaaaaah” sini, bisanya hanya merengek-rengek. Kalau begitu, Anda tidak akan pernah bisa memahami Rumi.

Paling banter, Anda bisa memahami Al Ghazali. Itu pula sebabnya, sampai akhir tahun 80-an, Rumi hampir tidak dikenal di  Indonesia. Seorang Doktor dari kalangan IAIN mengakui hal tersebut dan bahkan menulisnya dalam disertasinya. Sementara Al Ghazali cukup populer.

Sebab lain kenapa Rumi tidak populer adalah karena sesungguhnya bangsa kita sudah familiar dengan ajaran sejenis. Satu dua abad yang lalu, kalau seorang pujangga seperti Ronggowarsito atau Mangkunagoro membaca Rumi, mereka akan mengangggukkan kepala mereka. Dan hanya itu saja. Karena, apa yang disampaikan oleh Rumi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat zaman itu.

Kalau sekarang Rumi menjadi populer, itu bukan karena dia luar biasa, tetapi karena selama ini Anda menutup terhadap ajaran luhur yang berasal dari budaya sendiri. Anda selalu bersandar pada ajaran yang berasal dari budaya asing.

Sekarang pun demikian. Rumi pun Anda impor. Puisinya diterjemahkan mentah-mentah. Tulisan-tulisan orang Barat tentang dirinya juga disajikan begitu saja. Seperti membeli alat listrik dari luar negeri. Tegangan listrik di negeri orang lain, tegangan listrik di negeri kita lain, tetapi kita tidak ambil peduli. Main colok saja. Hasilnya, ya berantakan!

Tujuan saya menghadirkan Rumi di Indonesia lain! Saya ingin menggugah kesadaran dan kewarasan yang tersisa dalam diri manusia Indonesia, “Lihat, apa yang dia sampaikan itu pernah disampaikan oleh para pujangga kita sendiri. Ronggowarsito, Mangkunagoro, dan para penyusun Centini tidak kalah dari Rumi. Sadarlah!”

Melanjutkan wejangan Rumi:

 

Bangunan masjid dihormati, dijunjung tinggi, tetapi hati manusia di mana Tuhan bersemayam, dihancurkan. Sungguh tolol!

Bangunan (yang terbuat dari pasir dan batu) hanyalah simbolik. Masjid yang sesungguhnya adalah hati manusia, hati mereka yang sadar; hati para pir, para wali dan nabi. Itulah tempat ibadah sejati, yang terbuka bagi semua orang. Tuhan pun berada di sana.

 

Terpaksa saya harus mengutip terjemahan R.A. Nicholson, sehingga Anda melihat sendiri. Betapa lebih kerasnya bahasa Maulana:

Fools venerate the mosque and endeavour to destroy them that have the heart (in which God dwells).

That (mosque) is phenomenal, this (heart) is real, O asses! The (true) mosque is naught but the hearts of the (spiritual) captains.

The mosque that is the inward (consciousness) of the saints is the place of worship for all: God is there.

Apa yang saya terjemahkan sebagai “tolol” atau “bodoh” disebut “asses” oleh Rumi—Keledai. Dalam bahasa Parsi, Urdu, Hindi dan Sindhi, inilah ungkapan yang paling keras bagi orang yang bodoh, tolol, stupid, idiot, fool ……

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Catatan:

Ada mentega dalam susu, walaupun tidak tampak, belum tampak, tapi ia memang di sana. Dengan mengaduk susu, mentega yang tak tampak “menjadi” tampak. Namun, fenomena munculnya mentega ini tidak membuktikan bahwa mentega tidak eksis sebelum “proses pengadukan”. Upaya Manusia, usaha keras manusia — dalam konteks ini adalah sadhana spiritual, meditasi, dan lain-lain — dapat diibaratkan seperti proses mengaduk. Dengan mengaduk susu manah atau mind — buddhi atau inteligensia bermanifestasi. Dengan menggali jauh ke dalam buddhi atau inteligensia, lapisan-lapisan kesadaran yang lebih tinggi ditemukan, dan akhimya menuntun pada Paramatma atau Hyang Tunggal — mentega dari mentega, esensi pokok. Dari buku Dvipantara Jnana Sastra

Sudahkah kita mulai latihan meditasi atau sadhana spiritual?

16507904_607845372736503_4157403851028120712_n