Archive for relief borobudur

Kisah Boddhisattva: Pengaruh Buruk Para Drona terhadap Raja

Posted in Relief Candi with tags , , , on December 7, 2013 by triwidodo

sang bijak relief Boddhisattva di Borobudur sumber en wikipedia org

Ilustrasi Relief Boddhisattva di Borobudur sumber en wikipedia org

Pikiran Yang Selaras dengan Alam Semesta

“Bagaimana kita mengetahui bahwa apa yang saya pikirkan itu harmonis, selaras, dan serasi dengan semesta? Segala macam pikiran, ide, konsep, gagasan, imajinasi dan lain sebagainya yang bersifat luas dan membebaskan adalah pikiran yang selaras dengan semesta. Karena alam semesta Maha Luas dan Maha Bebas adanya. Ia tak terkurung, tak terbingkai dan tak terbatas. Sebaliknya, pikiran-pikiran yang kerdil, sempit, membatasi, dan memenjarakan seperti dogma-dogma dan doktrin-doktrin yang membuat kita berpikiran picik sudah jelas tidak harmonis, selaras dan serasi dengan semesta. Pikiran yang picik menimbulkan berbagai macam keadaan psikologis yang tidak menunjang peningkatan kesadaran. Keadaan psikologis yang dimaksud antara lain rasa takut, khawatir, kecewa, marah, iri, benci, dendam, sedih, dan depresi.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Adalah Boddhisattva lahir sebagai seorang pengembara yang dikenal dengan sebutan Mahabodhi, Sang Bijak. Setelah meninggalkan keduniawian, Sang Boddhisattva berfokus pada pelajaran dharma yang membawa manfaat bagi semua makhluk. Pekerjaannya adalah ‘vihar’, bepergian. Kemana pun ia pergi selalu dijamu dan dilayani oleh para brahmana dan para perumahtangga yang ingin mendengarkan nasehatnya tentang kehidupan. Akhirnya sampailah sang bijak kepada seorang raja yang kaya yang sangat menghormatinya. Sang raja membangun tempat khusus untuk Mahabodhi di taman yang indah. Sang raja dengan sukacita mendengarkan ajaran sang bijak dengan tekun dan sang bijak bahagia dengan kemajuan spiritual sang raja.

Beberapa Drona, Penasehat Sang Raja mulai iri dengan Mahabodhi. Mereka berkata, bahwa Sang Raja tidak perlu terfokus pada ajaran sang pengembara. Sang pengembara mungkin adalah mata-mata dari negara tetangga dan menggunakan ketertarikan Sang Raja pada dharma untuk menipunya. Pikiran cerdas dari sang pengembara dan dengan lidah yang piawai  akan membingungkan Sang Raja yang akan membawanya pada bencana. Mereka berupaya meyakinkan Sang Raja bahwa sang pengembara berpura-pura menjadi pemuja kebaikan, mendorong Sang Raja berlatih welas asih dan rendah hati. Dan setelah Sang Raja mengikuti sumpah maka dia akan merusak kebijakannya. Mereka minta agar Sang Raja memperhatikan berapa banyak sang pengembara berbicara pada orang-orang asing.

 

Bujukan Secara Repetitif Intensif oleh Para Drona

“Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Diulang-ulang secara repetitif intensif, Sang Raja mulai berubah. Ketidakpercayaan Sang Raja mulai tumbuh. Sang Bijak dapat merasakan dan merasa bahwa kedatangannya tidak lagi menyenangkan sang raja. Dia segera mengumpulkan barang-barang untuk mengembara dan siap berangkat dari istana. Sang Raja mencoba menahannya dan bertanya apakah Sang Bijak kurang berkenan. Sang Bijak tegas berkata dia pergi bukan karena tidak dihormati, akan tetapi karena kedatanggannya sudah tidak mempunyai manfaat. Jadi harus pergi. Anjing kesayangan Sang Raja juga menggonggong keras-keras kepadan Sang Bijak seperti pada seorang musuh. Sang Bijak berkata bahwa anjing ini belum lama berselang suka tinggal disisinya mengikuti teladan Sang Raja. Sekarang dia menggonggong dengan keras, tentunya sang anjing telah mendengar bahwa Sang Raja telah berbicara kasar tentang saya. Demikianlah perilaku pegawai yang makan roti tuannya. Sang Raja merasa malu akan ketajaman persepsi Sang Bijak. Sang Raja berkata bahwa beberapa orang memang berbicara kasar tentang Sang Bijak.

 

Mohon Dukungan Sang Bijak Bila Sang Raja Berada dalam Kebingungan

Raja berkata jika Sang Bijak bersikeras akan pergi, maka dia mohon agar beliau kembali bila Sang Raja berada dalam kebingungan ketika memutuskan masalah besar. Sang Bijak berkata, bahwa hidup di dunia terjadi banyak hambatan, kadang harus lewat jalan memutar dan kadang datang musuh yang tak terduga. Dia tidak bisa janji. Hanya mempunyai keinginan untuk bertemu sekali lagi bila ada alasan yang baik untuk kunjungan tersebut. Sang Bijak kemudian pergi ke hutan.

Setelah beberapa bulan, Sang Bijak melihat bahwa Sang Raja terjebak dalam intrik-intrik para penasehatnya yang mendesak Sang Raja untuk menerima doktrin mereka. Jika hal tersebut dibiarkan, maka bisa membahayakan seluruh rakyatnya.

Salah satu penasehat meyakinkan Sang Raja bahwa hukum sebab-akibat sulit diikuti. Coba dilihat warna, bentuk, kelembutan, tangkai, kelopak pada bunga teratai. Alam semesta ada tanpa alasan. Penasehat lain membujuk Sang Raja agar memelihara kesenangan sensual, karena bila kesenangan tersebut musnah maka dia sudah kehilangan kesempatan menikmatinya. Penasehat yang lainnya lagi, menyarankan bahwa selama berguna bagi Sang Raja, guna memperpanjang kemuliaannya, maka bertindak kejam bisa dilakukan.

Boddhisattva melihat gambaran ini dan kemudian menciptakan jubah dari kulit orang hutan. Dan, dengan berpakaian jubah kulit orang hutan Sang Bijak ke istana.

 

Menghadapi Para Drona, Penasehat yang Tidak Bijak

“Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja bertanya siapa yang memberikan jubah kulit orang hutan untuk Sang Bijak? Sang Bijak menjawab bahwa duduk dan tidur di tanah yang keras dengan sedikit alas jerami menyakitkan tubuh dan membuat sulit beribadah. Sang Bijak berkata bahwa dia membunuh orang hutan dan mengambil kulitnya.

Menteri negara dan para penasehat berkata dengan lantang kepada sang raja bahwa perilaku Sang Bijak hanyalah terfokus kesenangannya. Sang Bijak tidak konsekuen.

Sang Bijak bertanya mengapa mereka menyalahkan dia dengan keras? Bukankah harus bersikap adil terhadap pendapat orang lain? Kepada penasehat yang tidak percaya hukum sebab-akibat, Sang Bijak berkata, “Tuan percaya bahwa alam semesta ada karena alasan alam yang terkandung di dalamnya. Lalu mengapa Tuan harus menyalahkan tindakan saya? Tentunya jika orang hutan tersebut mati akibat dari sifat yang dimilikinya sendiri, maka saya tidak salah telah membunuhnya. Tapi Tuan mengatakan saya berbuat dosa. Kematiannya disebabkan oleh penyebab, dan penyebabnya dalah saya. Oleh karena itu Tuan harus meninggalkan doktrin non-kausalitas/tak ada hukum sebab-akibat yang Tuan ucapkan.”

 

Hukum Sebab-Akibat

“Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya ‘simptom’ mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kepada Penasehat lainnya, sang bijak berkata, “Tuan mengatakan bahwa warna bentuk dan sebagainya dari teratai bukanlah hasil dari penyebab. Akan tetapi teratai hanya diproduksi oleh biji teratai yang ada di dalam air? Karena kondisi itu muncul, teratai tumbuh. Bila tidak terkondisi maka teratai tidak muncul. Juga pertimbangkan ini: Mereka yang menolak adanya hukum kausalitas/hukum sebab-akibat, selalu berupaya menggunakan logika. Bukankah logika itu sendiri mengikuti hukum sebab-akibat? Mereka telah menentang keyakinan mereka sendiri! Dan lebih lanjut , mereka yang mengatakan hukum kausalitas tidak ada, karena mereka tidak dapat memahami penyebab dari beberapa peristiwa tertentu! Kembali ke urusan orang hutan. Jika Tuan bertahan dalam doktrin Tuan, bahwa tidak ada kausalitas, maka kematian orang hutan itu tidak ada penyebabnya. Lalu mengapa menyalahkan saya? Mengapa menyalahkan saya kejam sedangkan Tuan berpendapat bila untuk memperpanjang kemuliaan tindakan kejam boleh dilakukan?”

Sang Bijak akhirnya berkata, “Paduka hamba tidak pernah membunuh orang hutan. Saya tidak pernah membunuh makhluk. Kulit ini saya buat berasal dari monyet yang saya imaginasikan sendiri. Sekarang ilusi tentang kulit orang hutan tersebut sudah kami buang dan saya hanya memakai pakaian biasa.”

“Ketika Paduka bertindak sesuai dengan Dharma, Paduka dapat memimpin sebagian besar rakyat untuk berbuat saleh. Bila Paduka memaksakan diri untuk melindungi rakyat dengan mengandalkan Dharma, Paduka akan menemukan bahwa aturan dan disiplin membuat jalan terindah dari semua orang. Sucikan perilaku Paduka, belajar untuk merangkul amal, membuka hati untuk tamu seolah-olah mereka kerabat terdekat Paduka, dan memerintah negeri dengan kebajikan dan tanggung jawab . Semoga Paduka mengatur negeri Paduka dengan kebenaran , tidak pernah berhenti merayaan tugas Anda.”

 

Memilih Pergaulan yang Baik

“Kelilingi diri Paduka dengan menteri yang setia, cerdas dan bijaksana, serta dengan teman-teman yang jujur ​​dan amanah. Biarkan Dharma memandu tindakan Paduka.”

“Demikian pula penemuan para saintis, para ilmuwan segala jaman. Setiap elemen memiliki daya tarik untuk menarik elemen yang sama. Berarti penyakit akan menarik penyakit, kekacauan akan menarik kekacauan. Sebaliknya, ke-selarasan akan menarik keselarasan. Daya tarik dalam kehidupan kita sehari hari juga persis demikian apabila kita senang minum alkohol, pergaulan kita tak akan jauh dari orang orang yang senang minum alkohol. Apabila kita senang baca buku, teman teman akrab kita pasti juga para pembaca buku.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah. Berada dalam lingkup seorang guru spiritual disebut Satsang, pergaulan yang baik, tepat dan benar. Satsang juga berarti pergaulan dengan mereka yang menunjang peningkatan kesadaran. Sebaliknya, Kusang adalah pergaulang yang tidak baik, tidak tepat, tidak benar, dan tidak menunjang kesadaran manusia. Seorang panembah akan selalu menghindari Kusang, Ia akan selalu mencari Satsang.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Sang Raja sadar dan tidak beberapa lama kemudian dia mengganti para penasehatnya dengan orang-orang bijak.

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Advertisements

Mengapa Harus Vegetarian? Kisah Agastya Sang Pertapa sebagai Boddhisattva

Posted in Relief Candi with tags , , on November 29, 2013 by triwidodo

 

Agastya relief kisah jataka candi borobudur sumber see about indonesia blogspot com

Ilustrasi Relief Kisah-Kisah Boddhisattva di Borobudur sumber: see about indonesia blogspot com

Kebahagiaan bersifat Rohani

“Uang, materi, dan pikiran menurut Buddha, yang terbangkitkan, adalah ‘benda’. Dan, seperti benda lainnya, memiliki awal dan akhir. Semua itu hanya temporer, sementara. Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kenikmatan pun tidaklah abadi. Lalu, kita pun kecewa. Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan indrawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stres dan depresi. Kita senantiasa mencari kebahagiaan, namun hanya segelintir yang menemukan kebahagiaan itu. Kenapa? karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam roh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar. Kebahagiaan bukanlah benda. Bukan pula materi. Kebahagiaan itu energi 100% dan 24 karat. Ups, tetapi energi dan materi itu relatif, keduanya dikaitkan oleh hukum relativitas yang diteorikan oleh Eistein.” (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Pada suatu ketika Boddhisattva lahir sebagai anak saleh yang bernama Agastya. Sejak kecil ia sudah mempelajari Veda. Setelah seseorang menjadi dewasa, dia harus menentukan pilihan, untuk menjadi Grahasthya, perumah tangga atau menjadi Sanyasi, yang terfokus pada Kesadaran Murni. Bagaimana pun setelah menjadi perumahtangga, akan tiba saatnya untuk melakukan Vanaprastha, meninggalkan keterikatan terhadap keluarga keterikatan terhadap duniawi lainnya dan akhirnya akan menempuh jalan Sanyasi seperti yang dijelaskan dengan kitab-kitab suci. Agastya paham bahwa berumah tangga mempunyai potensi halangan yang lebih besar daripada menjadi sanyasi. Keterikatan terhadap istri dan anak, kemudian mencari kesejahteraan keluarga, bisa melupakan diri dari tujuan utama hidup menuju Kesadaran Murni. Kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai dengan mencari keluarga, harta dan kekuasaan yang bersifat sementara. Agastya memilih menjadi Sanyasi, hidup terfokus pada Kesadaran Murni. Dan, sesuai dengan kondisi zaman itu maka dia melakukan tapa untuk mencapai tujuan hidupnya.

Bertapa dengan Mengkonsumsi Makanan dari Tumbuh-Tumbuhan

“Pedoman Pertama bagi pembangkitan energi di dalam diri bagi perwujudan Kundalini, adalah makanlah untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan saja. Sifat kehidupan yang memasuki tubuh anda lewat mulut, mempengaruhi sifat diri anda. Sesuai dengan istilah  yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki satu sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila-tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri  kita pun ikut bertumbuh.  Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri.” (Krishna, Anand. (2006). SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Agastya menyendiri bertapa di Pulau Kara di Laut Selatan. Pulau tersebut penuh dengan pohon buah-buahan dan terdapat sebuah danau dengan air yang jernih. Binatang liar dan burung-burung hutan mengenali Agastya sebagai seorang pertapa yang saleh. Meskipun tinggal sendirian akan tetapi Agastya menghormati setiap orang yang kebetulan datang ke tempatnya. Para tamu selalu dijamu dengan buah-buahan dan dia hanya makan dari sisa yang tidak dimakan tamunya. Agastya makan hanya untuk mempertahankan hidupnya.

Kemuliaan tapa Agastya menyebar ke mana-mana, bahkan mencapai telinga Shakra, pemimpin para dewa yang sangat berbahagia mendengar kesalehan Agastya. Shakra kemudian ingin menguji keteguhan Agastya. Shakra yang juga dikenal sebagai Dewa Indra bertugas mengurus bumi termasuk tubuh manusia. Shakra kemudian membuat sebagian besar umbi-umbian dan buah-buahan menghilang di hutan tersebut. Agastya, sang boddhisattva karena terserap ke dalam meditasi , maka dia tidak peka terhadap rasa lapar. Karena segala umbi dan buah-buahan menghilang, maka dia kemudian merebus beberapa lembar daun, dan kebutuhannya sudah memadai. Shakra kemudian merontokkan setiap daun dari semua pohon dan semak. Dan, Agastya hanya memilih daun yang jatuh di tanah  dan kemudian merebusnya sebagai makanannya. Dan sang boddhisattva tetap terserap ke dalam meditasi.

Melayani Tamu dengan Sepenuh Hati

“Pedoman Kedua pembangkitan energi Kundalini. Jangan lupa berdoa sebelum, sambil, dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, Doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. … Tidak cukup berdoa pada hari-hari tertentu, pada jam-jam tertentu. Seluruh hidupmu harus berubah menjadi sebuah Doa.”

“Pengendalian Diri – inilah Pedoman Ketiga. Rasa bahagia yang diperoleh dari penundaan ejakulasi dan orgasme, bisa bertahan hingga berhari-hari, kadang berbulan-bulan. … Karena kenikmatan yang Anda peroleh dari semua itu, tidak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang Anda peroleh dari pengendalian diri.”

“Keceriaanmu membebaskan dirimu dari belenggu-belenggu yang mengikat jiwamu. Jiwa ceria adalah jiwa bebas. … Kemurunganmu membebani jiwamu. Keceriaan meringankan jiwamu. Inilah Pedoman Keempat: Keceriaan, Rayakan Hidupmu! Berada pada lapisan ini, sesungguhnya kau sudah  memasuki wilayah ruh… wilayah kesadaran…” (Krishna, Anand. (2006). SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Agastya selalu berdoa sebelum makan, mensyukuri apa yang telah dikaruniakan, walaupun hanya beberapa daun rebus. Agastya juga selalu berlatih pengendalian diri, selalu mendahulukan tetamu daripada dirinya sendiri. Dan Agastya selalu ceria dalam kondisi apa pun juga.

Keteguhan Agastya menakjubkan Shakra. Dia mewujud sebagai brahmana yang kelaparan dan kehausan. Sang brahmana selalu muncul pada saat doa sebelum makan yang dilakukan oleh Agastya. Sang boddhisattva gembira menyambut tamunya dan dengan kata-kata lembut yang menenangkan pikiran. Dan kemudian menawarkan makanan kepada tamunya. Dia rela memberikan makanan yang diperolehnya dengan susah payah, dengan cara mengumpulkan daun-daun yang belum kering. Dan ia merasa bersukacita dapat menjamu tamunya. Kemudian dia masuk ke dalam pondok dan melanjutkan meditasinya.

Meditasi Dan Melakukan Japa Mantra

“Bahasa Sansekerta itu bukan bahasa lisan tetapi bahasa program. Bahasa yang dibuat untuk berhubungan dengan dewa. Dalam hal ini dewa bukan makhluk abadi akan tetapi frekuensi yang lebih tinggi. Semuanya frekuensi lebih tinggi disebut dewa. Dan masing-masing frekuensi ada namanya. Kadang kita menyebutnya sebagai makhluk surgawi, tetapi ini adalah nama-nama dari frekuensi yang lebih tinggi. Ketika berbicara dengan bahasa Sansekerta, setiap huruf dalam bahasa Sansekerta terhubung dengan ke beberapa bagian dari otak kita. Setiap huruf tertentu merangsang bagian tertentu dari otak kita. Setiap kata yang diucapkan dalam mulut kita dengan totalitas, otak kita dirangsang dan saat otak dirangsang maka seluruh tubuh juga dirangsang. Untuk membaca mantra tidak perlu belajar Sansekerta, cukup membaca mantra dasar seperti Gayatri Mantra.” Sumber: terjemahan bebas dari conversation Anand Krishna and Kali Ma in meditation, Spreaker. Bapak Anand Krishna tidak memiliki kesempatan mendalami mantra dalam bahasa lain. Kembali semuanya terserah kita.

Sang brahmana melakukan hal yang sama dalam beberapa hari, dan Boddhisatva merasa bahagia dapat melayani tamu dan kemudian kembali terserap dalam meditasi. Shakra tahu dengan cara demikian frekuensi kesadaran Agastya bisa meningkat dengan cepat bahkan bisa mengalahkan para dewa, mereka yang memiliki frekuensi tinggi.

Shakra kemudian mewujud dalam bentuk makhluk surgawi  dan bertanya, “Apa yang Anda harapkan dengan melakukan hal ini! Mengapa meninggalkan kebahagiaan berumah tangga, menjauhkan diri dari harta dan keluarga?

Agastya menjawab, “Kelahiran yang berulang kali menyebabkan kesengsaraan yang berulang kali. Takut usia tua adalah wabah yang mengerikan bagi manusia. Kepastian kematian mencemaskan manusia. Saya melakukan hal ini agar pada suatu kali dapat menjadi tempat perlindungan bagi semua makhluk!”

Shakra berbahagia mendengar jawaban Agastya dan berkata, “Untuk pernyataan Anda saya akan memberikan anugrah apa pun yang anda minta!”

Boddhisattva berkata, “Saya betul-betul tidak meminta, karena meminta berarti tidak puas dengan keadaan yang ada. Akan tetapi jika Tuan ingin memberikan apa yang menyenangkan saya, maka saya minta agar api ketidakpuasan yang telah membakar seluruh orang di dunia, walaupun mereka telah memperoleh pasangan, anak-anak dan kekuasaan serta kekayaan, agar api ketidakpuasan tersebut tidak pernah masuk ke pada diri saya.”

Shakra kemudina mendesak Agastya untuk menerima anugrah berikutnya. Agastya berkata, “Semoga kebencian  yang seperti tentara menaklukkan musuh, menghancurkan kekayaan, kedudukan dan reputasi selalu jauh dari saya.”

Shakra semakin gembira dan mendesak Agastya menerima satu anugerah lagi darinya. Agastya berkata, “Semoga saya tidak pernah mendengar orang yang bodoh, melihat orang yang bodoh, berbicara dengan orang yang bodoh atau menanggung rasa sakit berada dalam teman-teman yang bodoh.”

Shakra bertanya, “Siapa pun yang berada dalam kesulita pasti layak memperoleh bantuan dari dia yang berbudi luhur. Kebodohan adalah akar segala penderitaan. Bagaimana Anda yang penuh kasih tidak suka melihat orang yang bodoh. Yang membutuhkan kasih sayang?” Agastya menjawab, “Karena tidak ada bantuan bagi orang yang bodoh. Jika orang bodoh bisa dibantu, apakah saya akan menahan sesuatu yang baik untuknya? Si bodoh tidak bisa  menerima keuntungan apa pun dari saya. Dia yang bodoh menyalakan api kesombongan. Berpikir bahwa dia bijaksana. Berperilaku seolah-olah dia itu benar. Dan mendesak orang lain untuk bertindak seperti dia. Dia yang bodoh tidak terbiasa berperilaku lurus, bermoral yang rendah. Ia bahkan marah saat diperingatkan untuk kepentingan dia sendiri. Aku berharap tidak pernah ketemu orang bodoh. Dia adalah obyek bantuan yang tidak layak bagi saya.”

Semakin banyak jawaban dari Agastya yang mencerahkan jiwa semakin pula Shakra menawarkan tambahan anugrah terhadapnya.

Akhirnya saaat Shakra menawarkan anugrah, Agastya minta agar Shakra tidak lagi mengunjungi dia dalam segala kemegahannya. Shakra bingung dan bertanya, setiap ritual, setiap tapa, setiap agnihotra, orang selalu mencari Shakra, mengapa Agastya menolaknya? Agastya menjawab, “Kedatangan Tuan dalam wujud makhluk surgawi dengan segala kecemerlangannya bisa membuat saya melupakantugas-tugas spiritual yang harus saya lakukan!”

Shakra membungkuk hormat kepada sang boddhisattva melakukan pradaksina, mengelilingi sang pertapa dan menghilang. Di saat fajar Agastya menerima jamuan makanan ilahi dari Shakra yang kemudian mengundang ratusan Pratyekabuddha dan ribuan Dewa pesta bersama.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Kisah Bodhisattva: Burung Pelatuk, Singa dan Naluri Egois Dalam Diri

Posted in Relief Candi with tags , on October 21, 2013 by triwidodo

borobudur pelatuk dan singa sumber borobudur tv

Ilustrasi Burung Pelatuk menolong Singa pada Relief Borobudur Sumber: www borobudur tv

Pikiran yang Terbelenggu Pola Lama

“Selama conditioned mind, pikiran yang terkondisi, menguasai pancaindra, kita tidak mampu melihat-Nya. Telinga kita tidak mampu mendengar-Nya. Tangan kita tidak mampu meraba-Nya. Tetapi bila conditioned mind tersebut sudah dilampaui, tidak ada yang bisa menghalangi penglihatan kita. Mata kita melihat-Nya dengan jelas. Telinga kita pun akan mendengar-Nya dengan jelas. Tangan kita akan meraba-Nya dengan mudah.” (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan ada Bodhisattva yang hidup sebagai burung pelatuk yang indah, yang hidup bersama dengan lingkungan margasatwa di hutan. Walau hidup bersama margasatwa lainnya, akan tetapi dia tidak terpengaruh oleh karakter margasatwa lainnya. Dia juga tidak terbelenggu oleh karakter hewan di dalam dirinya. Nasehatnya adalah agar semua makhluk melakukan hidup berdasar kasih, peduli dengan makhluk lainnya dan agar selalu berbagi dengan sesama. Semua hewan di hutan tersebut berterima kasih terhadap sang burung pelatuk. Adalah sosok dewa hutan yang selalu ikut mendengarkan nasehat sang burung pelatuk dan sangat tertarik dengan kebijakan sang burung pelatuk.

Menolong Singa yang Sedang Menderita

“Melayani sesama adalah sama dengan melayani Tuhan”. Ibadah dan Pelayanan Tak Terpisahkan. Dan, pelayanan berarti kepedulian terhadap sesama makhluk hidup, bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi terhadap setiap bentuk dan wujud kehidupan. Terhadap flora, fauna, terhadap lingkungan hidup.” (Das, Sai. (2012). SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Pada suatu hari sang burung pelatuk terbang ke tepi hutan dan melihat seekor singa yang sedang menderita kesakitan. Tubuhnya nampak kurus dan terasa menahan rasa sakit di lehernya. Sang burung pelatih mendekat dan bertanya apakah singa tersebut sakit karena bertarung dengan gajah, atau terluka karena dipanah pemburu. Singa tersebut menyampaikan bahwa bukan bertarung dengan gajah atau dipanah pemburu, sakit yang dialaminya adalah kesalahan dia sendiri, akan tetapi akibatnya sangat fatal. Ada serpihan tulang yang tersangkut di kerongkongannya dan dia tidak sanggup mengeluarkannya, sehingga sudah beberapa hari dia kelaparan tidak bisa makan. Dia merasa sangat malu dan galau karena dia bisa mati karena serpihan tulang yang ada dikerongkongannya.

Sang burung pelatuk minta singa membuka mulutnya lebar-lebar dan kemudian memasang kayu sebagai penyangga rongga mulutnya. Setelah itu sang burung masuk ke rongga mulut singa dan mengambil serpihan tulang yang tersangkut di kerongkongannya. Akhirnya kayu penahan rongga mulut dijatuhkan dan terselesaikanlah masalah singa. Sang dewa hutan memperhatikan tindakan burung pelatuk dengan penuh kekaguman.

Naluri Hewani Sang Singa

“Sifat bawaan hewani dalam diri membuat kita hanya memikirkan diri, keluarga dan kelompoknya sendiri, kikir terhadap pihak lain. Pengembangan sifat manusiawi membuat kita berubah dari sifat tamak memikirkan kepentingan diri sendiri, menuju sifat rahim, pengasih, memikirkan kepentingan orang lain. Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap ‘cuwek’ terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut ‘manusia’, ‘insan’ bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia.” (Krishna, Anand. (1999). Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pada suatu hari sang dewa hutan melihat sang burung pelatuk terbang kelelahan mencari makanan dan tidak memperoleh apa pun. Sang burung kemudian melihat singa yang pernah ditolongnya sedang makan daging rusa buruan. Burung pelatuk mendekat, akan tetapi singa tersebut asyik makan dan seakan-akan tidak mengenali burung yang telah menyelamatkan dirinya. tidak ada sepatah kata ajakan untuk berbagi makanan. Sang burung pelatuk menyampaikan bahwa dia kelaparan dan minta diberikan makanan barang secuil. Ada kesempatan singa untuk berbuat kebaikan, berapa sih jumlah makanan burung pelatuk? Hanya kecil sekali dibanding porsi makanan singa. Apalagi ada kesempatan bagi singa untuk membalas budi kebaikan burung pelatuk. Seandainya singa tahu bahwa menolong seorang suci, seorang Buddha adalah jenis kebaikan yang beribu kali lipat kebaikan biasa, maka kejadian akan lain. Singa tersebut malah berkata, “Hai burung pelatuk, tidakkah kau bersyukur? Kau pernah masuk ke dalam rongga mulutku dan dapat keluar dengan selamat! Tidak ada satu makhluk pun yang seberuntung kamu. Sudahlah jangan meminta makanan kepadaku atau kau akan kusantap sekalian!”

Tahan terhadap Provokasi untuk Membalas Kejahatan

Sang burung pelatuk kemudian pamit dan terbang ke tempat lain. Sang dewa hutan menemui burung pelatuk dan bertanya, “Mengapa Anda tidak membalas kejahatan singa? Dia pernah Anda tolong, dan tanpa pertolongan Anda dia mungkin sudah binasa. Anda bisa menyerang tiba-tiba dengan membutakan matanya dan kemudian mengambil sebagian makanannya!”

Meskipun diprovokasi sang dewa, dengan lembut burung pelatuk berkata, “Untuk apa memperoleh makanan dengan menggunakan kemarahan. Kemarahan hanya akan menimbulkan kemarahan baru dan tidak akan menyelesaikan masalah. Aku menolong dia bukan untuk mencari balasan. Kalau memang yang aku lakukan adalah kebaikan, mengapa aku harus mengotori kebaikan yang pernah aku lakukan dengan kejahatan? Aku yakin pada kebijaksanaan alam semesta, walaupun aku kelaparan, akan datang saatnya aku akan memperolaeh makanan kecuali memang akau harus mati karena kelaparan. Yang lapar adalah fisikku, akan tetapi nuraniku tidak lapar, akau tidak akan mengotori nuraniku dengan kejahatan.”

Love Is the Only Solution…. Ya, ‘Kasih adalah satu-satunya solusi’. Apa pun persoalan, solusinya hanyalah satu, ‘Kasih’. Tiada solusi lain. Yang lain hanyalah menambah persoalan. Dapatkah kita membersihkan lantai kotor dengan air kotor? Tidak. Lantai sekotor apa pun, tetaplah mesti dibersihkan dengan air bersih. Air kotor malah menambah kekotoran. ‘Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu….’ (Matius 5:39). Sadarkan orang itu, gunakan segala daya upaya untuk menasihatinya supaya ia tidak mengulangi perbuatan jahat, tapi janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; kebohongan dengan kebohongan; kekerasan dengan kekerasan. Yesus tidak mengatakan orang jahat itu dibiarkan begitu saja sehingga ia merajalela dan menjahati setiap orang yang dijumpainya. Tidak. Orang itu mesti diberi pelajaran. Lantai kotor mesti dibersihkan, tidak bisa dibiarkan tetap kotor. Tetapi, ada caranya, dengan cara kita, bukan dengan cara dia. (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pelajaran tentang Babi yang Suka Hidup di Tempat Kotoran

“Dalam setiap tradisi, dalam agama mana pun, kita selalu diingatkan supaya tidak melemparkan mutiara kepada kawanan babi. Bhagavad Gita pun mengatakan, janganlah menyebarluaskan ajaran ini di tengah masyarakat yang belum siap. Babi diberi mutiara, apa yang terjadi? la tidak tahu nilai mutiara, ia memakannya, keselek, dan ia tidak dapat benapas. la gusar dan akan menyerangmu kembali. Berikan mutiara kepada mereka yang mengerti nilai mutiara. Kepada mereka yang mengapresiasinya. Kepada mereka yang akan menghargainya.” (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Burung Pelatuk berkata, “Wahai Dewa Hutan, coba perhatikan babi yang suka tinggal di tempat kotoran, asal ada makanan dan betina untuk melampiaskan seks. Babi telah terkondisi oleh naluri dan menuruti panca inderanya bahwa asal ada makanan dan betina, tempat kotor tidak mengapa. Lihatlah pula singa tadi, dia telah terkondisi bahwa apa pun yang sudah masuk rongga mulutnya seharusnya dikonsumsinya. Dia juga telah terkondisi, bahwa dia memperoleh makanannya sendiri, untuk apa pula berbagi dengan yang lain. Demikian pula makhluk/manusia yang sudah terkondisi, terbelenggu oleh pola pikiran tertentu dan menuruti panca inderanya untuk menghalalkan merebut makanan/harta orang lain dengan segala cara. Ada kesamaan antara makhluk/manusia, singa dan babi yaitu sama-sama pikiran mereka terkondisi dan mengikuti naluri panca inderanya. Makhluk/manusia yang telah melampaui pikiran, yang tidak terkondisi lagi oleh pikiran dan panca indera, yang sadar bahwa pikiran dan panca indera hanyalah alatnya, tidak akan memilih tempat kotor dan melakukan tindakan kotor!”

Sang dewa hutan bersujud, menyentuhkan dahinya dengan bumi dan berkata, “Sudah lama aku mendengarkan nasehat-nasehat Anda, akan tetapi hari ini aku belajar dari tindakan Anda, dan latar belakang tindakan Anda.”

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Oktober 2013

Kesetiaan Ananda terhadap Buddha, Kisah Dua Angsa pada Relief Borobudur

Posted in Relief Candi with tags , , , on September 23, 2013 by triwidodo

borobudur 2 angsa suci sumber www borobudur tv

Ilustrasi Angsa Suci dan komunitasnya pada Relief Candi Borobudur sumber: www borobudur tv

“Setiap agama, setiap kepercayaan memiliki kasih-sayang sebagai landasannya. Tanpa kasih sayang tidak ada kepercayaan, tidak ada agama yang manusiawi, yang bisa memikirkan dan peduli terhadap sesama makhluk. God is in you, within you, above you, around you, and behind you…  Tuhan berada di dalam dirimu, di atasmu, di sekelilingmu, di belakangmu. Dia berada di mana-mana. Demikian pula dengan kasih. Maka, sesungguhnya tidak perlu mencari pemahaman di luar diri tentang Tuhan, tentang kasih. Carilah di dalam diri. Di dalam diri itu ada Tuhan, dan ada kasih. Sesungguhnya Tuhan berada dalam wujud kasih di dalam diri setiap orang. Kasih di dalam diriku adalah Tuhan, sebagaimana kasih di dalam dirimu. Kasih di dalam diriku, sebab itu, mempersatukan ‘aku’ dan ‘kamu’.” (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

 

Dua Angsa Suci Pemimpin Ratusan Angsa

Tersebutlah tentang ratusan angsa yang tinggal di atas telaga yang berada di gunung yang sulit didatangi manusia. Angsa-angsa tersebut putih bersih bulunya dengan kuning keemasan warna kakinya. Kala mereka terbang bersama, seperti kapas yang sedang terbawa angin saja nampaknya. Kelompok angsa tersebut dipimpin oleh raja angsa yang dibantu wakilnya. Kedua pemimpin angsa tersebut luar biasa indah penampilannya. Mereka mempunyai bulu emas bercahaya di seluruh tubuhnya. Mereka bisa berkomunikasi dengan berbagai bahasa hewan, sehingga di mana pun mereka berada semua hewan menunjukkan penghormatannya. Hanya beberapa orang yang tersesat jalan, kaang menemukan telaga dan berkesempatan melihat keindahan kedua pemimpin angsa.

 

Upaya Luar Biasa Menangkap Dua Angsa Suci

Bagaimana pun berita tentang keindahan dan kebijaksanaan kedua angsa menyebar ke seluruh pelosok negeri dan terdengar sampai di istana. Sang Raja berhasrat menangkapnya dengan segala cara. Perjuangan Sang Raja sangatlah luar biasa, dia sengaja membangun sebuah telaga besar yang sangat indah di pinggir kota. Berbagai ikan dikembang-biakkan di sana. Berbagai macam bunga teratai menambah kecantikan telaga. Pada malam hari telaga tersebut nampak bagai cermin raksasa, tempat memandang bulan dan bintang pada permukaan airnya. Para hewan mulai berdatangan ke  telaga baru bikinan Sang Raja. Beberapa gajah sering datang untuk mandi dan bermain air di sana. Sedangkan para rusa sering merumput di dekatnya. Sebuah telaga baru yang keindahannya sulit diungkapkan kata-kata.

Pada suatu hari, sekelompok angsa terbang di atas telaga dan melihat telaga baru yang mempesona. Mereka turun, bermain air dan bersantai melepaskan lelahnya. Kemudian mereka kembali ke atas gunung dan menceritakan kepada teman-temannya tentang telaga baru di pinggir kota.

 

Nasehat Dua Angsa Kepada Komunitasnya

Masyarakat angsa mohon kepada Sang Raja Angsa dan wakilnya untuk bersama-sama pindah ke telaga baru di pinggir kota. Konon telaga baru tersebut lebih hangat dan lebih nyaman daripada tempat tinggal mereka. Kedua pemimpin angsa menolak permintaan untuk tinggal di dekat pemukiman manusia. Burung-burung dan hewan mempunyai kebiasaan  hidup bebas dan bisa mengekpresikan perasaannya selaras dengan alam semesta. Tetapi manusia ingin memelihara burung dalam sangkar demi kesenangan mereka. Manusia merasa burung berbahagia dalam kurungan yang indah asal telah dicukupi makan dan minumnya. Manusia belum halus rasanya, belum pernah merasakan kebebasan dari pola pikiran lama yang telah membelenggunya. Hal tersebut membuat manusia tidak peka akan belenggu sangkar yang membuat burung kehilangan kebebasannya. Manusia sendiri tidak suka dikekang dalam rumah indah mereka. Dia sering keluar bepergian juga, namun mereka memelihara burung dalam sangkar di rumah mereka. Betapa tidak pekanya manusia. Manusia tidak peka karena manusia sendiri telah terjebak dalam sangkar dunia.

“Identitas palsu dan status sosial kita, demikian juga dengan afiliasi profesional, politik maupun religius yang kita miliki, secara bersama-sama membentuk zona aman yang kita tinggali. Inilah sangkar di mana kita terjebak. Dan, kita sudah terjebak dalam waktu yang begitu lama yang membuat kita jadi terbiasa. Burung yang ada di dalam sangkar tidak perlu bersusah-payah mencari makan dan minum setiap hari. Awalnya ia akan berusaha membebaskan diri, kemudian ia mulai menerima takdirnya dan malah menikmatinya. Sang burung tidak menyadari bahwa kenyamanan superficial tersebut dibayar dengan kebebasannya. Situasi yang kita hadapi kurang lebih sama. Meskipun sangkar yang mengurung kita jauh lebih besar ukurannya, dengan bergerak kesana-kemari memberi kesan seolah-olah kita bebas. Kita ini seperti hewan yang ditawan di taman safari buatan manusia, dengan secara salah menganggap taman tersebut sebagai hutan alami. Delusi semacam ini bisa sangat fatal. Ketika sangkar yang mengurung kita kecil, maka kita akan segera merasa sesak dan berusaha membebaskan diri. Namun, ketika sangkarnya sangat besar dan luas, maka sangat kecil kemungkinan bagi kita untuk merasa perlu membebaskan diri. Kita menjadi terbiasa hidup dan mati di dalamnya.” Terjemahan bebas dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bagaimana pun para angsa tetap memohon, sehingga Sang Raja Angsa dan wakilnya akhirnya mengabulkan. Sang Raja berpesan agar selama berada di telaga baru di pinggir kota tetap menjaga kewaspadaan……

 

Sang Raja Angsa Terjebak Pemburu dari Istana

Mendengar kedatangan kedua angsa emas di telaga, Sang raja meminta seorang pemburu ulung untuk memasang jebakan. Saat Sang Raja Angsa sadar bahwa dia baru saja terperangkap dalam jebakan, Sang Raja Angsa memberitahu kepada seluruh angsa, agar telaga baru tersebut segera ditinggalkan. Seluruh angsa segera mematuhinya dan meninggalkan telaga yang dipenuhi jebakan. Akan tetapi Sang Wakil Raja Angsa yang tidak terperangkap, tetap tinggal di sana menemani Sang Raja. Sang Raja memerintahkan wakilnya untuk segera pergi, menemani para angsa untuk terbang menjauhinya. Tetapi Sang Wakil Raja Angsa tidak mematuhinya, dia tetap setia menemaninya.

Kala Sang Pemburu Ulung datang, Sang Wakil Raja Angsa berkata bahwa para manusia sulit membedakan antara Sang Raja Angsa dengan dia. Sang Wakil mohon agar Sang Raja Angsa dibebaskan dan dia ditangkap sebagai penggantinya. Sang Pemburu terkesima mendengar pernyataan Sang Wakil Raja Angsa. Dia mendapatkan pelajaran berharga, bahwa ada karakter angsa yang patut diteladani manusia karena kesetiaannya. Sang Pemburu Ulung lama merenung, dia belum pernah menemukan manusia yang kesetiaannya seperti Sang Wakil Raja Angsa. Kemudian, Sang Pemburu bahkan melepas Sang Raja Angsa menghormati kebijakan mereka. Akan tetapi kedua angsa tidak mau pergi juga, mereka tahu Sang Pemburu akan dihukum berat oleh Sang Raja karena telah melepaskan angsa buruan Sang Raja. Mereka segera hinggap di kedua pundaknya dan menemani Sang Pemburu menghadap Sang Raja.

“Sebaik-baiknya tindakan kita, masih belum ‘tepat” jika semangat dibaliknya adalah kepentingan diri, dan bukanlah kepentingan bersama. Dan, setepat-tepatnya tindakan kita, masih belum ‘mulia’ jika semangat dibaliknya sekedar kepentingan saja.  Entah kepentingan diri, atau kepentingan bersama.” (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bangkitnya Kesadaran Sang Raja

Mendengar laporan Sang Pemburu, Sang Raja membungkukkan kepala kepada kedua angsa yang bijaksana. Belum ada satu pun penasehat raja yang membabarkan dharma kebenaran begitu jelasnya. Kemudian Sang Raja Angsa diminta menyampaikan dharma tentang kesetiaan, tanggung jawab dan kebebasan. Setelah selesai bila ingin pergi dipersilakan. Sang Raja tidak lagi akan memasang jebakan hewan. Bila ada waktu diharap Sang Raja Angsa datang ke istana dan menyampaikan dharma kebenaran…… Konon setelah beberapa kali kehidupan, Sang Raja Angsa lahir sebagai Sang Buddha dan Sang Wakil Raja Angsa lahir sebagai murid Sang Buddha yang bernama Ananda.

Sang Raja mendengarkan dengan cermat laporan Sang Pemburu dan tidak ada sedikit pun rasa keangkuhan dalam dirinya, bahwa dia lebih bijak daripada Sang Pemburu bawahannya. Sang Raja juga ingin dekat dengan Sang Raja Angsa untuk belajar kepadanya. Sang Raja ingin bersahabat engan Raja Angsa yang bijak.

“Bersahabatlah dengan Para Bijak, kalimat ini dimaksudkan bagi para Saadhaka, yaitu mereka yang ‘sedang menjalani’ pelatihan rohani, bukan bagi mereka yang merasa ‘sudah selesai menjalani’nya. Bukan bagi mereka yang menganggap dirinya sudah cukup bijak, sehingga tidak lagi membutuhkan nasehat para bijak bagi dirinya. Kalimat ini dimaksudkan bagi mereka yang tidak angkuh, yang mau belajar dan siap menundukkan kepala. Kita akan terpengaruh oleh orang-orang yang berinteraksi dalam pergaulan kita. Karena itu mudah dimengerti: Bergaullah dengan para bijak, bersahabatlah dengan mereka, supaya kita sendiri nanti bisa menjadi bijak juga. Berbahagialah bila bertemu dengan seorang bijak yang sudi memberi nasehat, janganlah kita membantahnya. Bagaimana kita tahu bahwa dia seorang bijak?, tanya seorang teman. Gampang. Pertama : Nasihatnya selalu membebaskan, meluaskan, tidak membelenggu, tidak menyempitkan. Kedua : dia selalu bertindak tanpa pamrih, tanpa ‘memikirkan’ keuntungan bagi diri pribadinya. Seorang bijak tidak pernah membuat peraturan untuk membatasi gerak-gerak kita. Ia berupaya untuk menyadarkan diri kita supaya kita membatasi sendiri gerak-gerik kita, bahkan meninggalkan segala kebebasan yang tidak menunjang kesadaran kita.” (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

September 2013