Archive for Relief Candi

Kisah Boddhisattva, Lepaskan Otak Gunakan Hati, Berdermalah Tanpa Pamrih!

Posted in Relief Candi with tags , , on November 8, 2013 by triwidodo

borobudur kelinci sumber thedaoofdragonball com

Ilustrasi Kelinci meloncat ke dalam api sumber: thedaoofdragonball com

Melepaskan Otak Masuk ke Alam Rasa

“Demikian, wahai Sariputra, seorang Boddhisatva yang telah melampaui segala macam pengalaman dan tidak berkeinginan untuk mencapai sesuatu apa pun lagi, ‘hidup’ tanpa gangguan (yang disebabkan oleh pikiran). Dan karena ‘hidup’ tanpa gangguan, ia tidak akan pernah takut; ia telah melampaui segala macam pengalaman yang bisa menakutkan, sehingga akhirnya ia mencapai Nirvana, Kasunyatan Sejati. Dengan cara itulah, para Buddha dari tiga jaman telah mencapainya. Lewat ayat ini, Siddhartha Gautama memberikan ciri-ciri seorang Buddha. Ia harus memberikannya, sehingga anda tidak keliru mengenali seorang Buddha. Perlu diingat juga bahwa sutra ini diberikan kepada Sariputra. Buddha juga ingin menyampaikan kepada Sariputra, ‘Temanku, sahabatku, demikianlah ciri-ciri seorang Buddha. Lakukan introspeksi diri, apakah kamu telah mencapainya?’ Untuk bertemu dengan seorang Buddha, anda memang harus membayar mahal. Anda harus membayar dengan otak anda, dengan pikiran anda. Bersama sandal, bersama alas kaki, anda juga harus melepaskan otak, melepaskan mind, sebelum memasuki ruangannya.” (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Membaca kisah Boddhisattva, kita harus melepaskan otak dan mencoba menggunakan rasa. Bagi otak kita, kisah tersebut tidak masuk akal. Pikiran diibaratkan pikiran rumah yang mempunyai dinding-dinding pembatas, sedangkan alam rasa adalah halaman rumah. Halaman rumah adalah bagian dari alam bebas. Dalam buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan: “Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa. Dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Cinta adalah alam rasa. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih!”

 

Kisah Kelinci, Berang-Berang, Serigala dan Monyet

Dikisahkan Bodhisattva lahir sebagai kelinci. Dia memuaskan kebutuhan hidupnya dengan makan rumput, mengenakan bulu sendiri sebagai pakaiannya dan jauh dari perbuatan jahat. Ada 3 hewan yang menjadi murid sekaligus sahabatnya yaitu  berang-berang, serigala dan monyet. Mereka saling mengasihi dan hidup dalam sukacita. Keserakahan tidak lagi menggoda mereka, mereka hidup dalam dharma.

Pada suatu malam sebelum bulan purnama, Sang kelinci memberikan wacana bahwa besok malam adalah bulan purnama, mereka jangan hanya berpikir tentang kebutuhan pribadi. Apabila ada tamu, mereka perlu menghormati tamu dengan menyiapkan makanan yang baik. Mereka perlu melakukan good karma, tindakan bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri. Ketiga sahabat Kelinci mendengarkan dengan seksama, memberi hormat dan kemudian mohon ijin pulang ke kediamannya.

Sampai kini hari pada saat bulan purnama dianggap sebagai hari yang baik untuk melakukan kebaikan.

“Sesungguhnya, kita semua terhubung. Albert Eistein telah mengemukakan tentang adanya unified field of energy. Ada sebuah medan energi yang menyatukan kita semua. Kita semua satu. Hanya saja, kita perlu meningkatkan kesadaran untuk bisa mengakses energi yang lebih tinggi itu. Soalnya, adalah bagaimana cara mengaksesnya? Dalam banyak tradisi kuno, festival-festival keagamaan selalu dikaitkan dengan bulan purnama. Pada saat bulan purnama, bukan hanya air laut, tapi air di dalam tubuh kita akan mengalami pasang naik. Pada saat itu pula, energi kita akan ikut meningkat. Oleh sebab itu, mereka yang memahami mekanisme ini akan memanfaatkan momentum ini dengan mengajak umat beragama untuk melakukan zikir atau sembahyang. Dengan cara itu, kesadaran kita dapat ikut meningkat.” (Krishna, Anand dkk. (2006). Mengungkap Misteri Air. One Earth Media)

Pengetahuan tentang unsur alami air ini berkaitan erat dengan sifat alam. Pasang surut air laut dipengaruhi oleh tarikan bulan dan matahari, pada waktu air pasang, maka 70% air di tubuh manusia juga mengalami pasang. Pada waktu terjadi gerhana dimana matahari, bulan dan bumi pada pada posisi garis lurus, maka pasang terbesar akan terjadi. Tubuh kita akan merasakannya.

 

Tekad sang Kelinci

Matrudevo bhava, pitrudevo bhava, acharyadevo bhava, atithidevo bhava. Ibu adalah Tuhan, Ayah adalah Tuhan, Guru adalah Tuhan, Tamu adalah Tuhan – Taittiriya Upanishad.” Kita perlu menghormati ibu, ayah, guru, tamu sebagai Tuhan yang mewujud untuk menemui kita.

Setelah ketiga sahabatnya pulang, Kelinci merenung lama. Tiga sahabatnya mempunyai banyak cara untuk mempersiapkan makanan bagi tamu, akan tetapi dia hanya mempunyai sedikit rumput untuk mempertahankan kehidupannya dan tidak mungkin dia menawarkan rumput kepada seorang tamu. Apa gunanya hidup bila tidak bisa memberikan kepuasan pelayanan terhadap tamu? Kelinci merenung lagi, “Apakah tubuhku ini tidak berguna bagi siapa pun?” Tubuh seperti halnya pikiran juga perlu dilatih mempersembahkan diri kepada sesama. Kemudian datang tekad dalam dirinya, “Aku bisa menggunakan tubuhku untuk melayani orang lain. Ini tubuhku dan aku tidak merugikan tubuh orang lain.” Kelinci bersukacita  dan pemikiran luhur tersebut membuat bumi berguncang, samudera bergelombang karena sukacita. Bumi, samudera dan alam semesta telah lama mempersembahkan tubuhnya bagi kemanusiaan.

Melihat ini, Sakra, dewa penguasa ingin menguji kesalehan Kelinci dan para sahabatnya. Dia menyamar sebagai seorang pengembara yang lelah dan tersesat serta putus asa di sekitar tempat mereka.

 

Mengorbankan Nyawa

“Ia yang telah melihat ‘momok’ kematian, tidak akan takut menghadapi para maling biasa. Para prajurit yang pernah terlibat dalam perang nyata, tidak akan takut oleh lemparan batu dari anak-anak kecil. Kematian adalah ‘Maling Kelas Wahid’-The Thief! Tidak ada maling sehebat dia. Ia ‘mencuri’ nyawa anda – sesuatu yang tidak bisa dicuri oleh siapa pun juga, selain dia. Hanya seorang ‘pemberani’, seorang ‘pahlawan’ yang tidak takut menghadapi kematian. Banyak diantara kita hanya ‘mengaku’ tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi ‘rasa takut’ yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita – bahkan ‘kekitaan’ itu sendiri. Dan kalau Anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena ‘ego’. Seolah-olah kalau Anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa.” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang brahmana yang tersesat berkata, “Saya kehilangan teman, sendirian lapar, haus dan lelah.Siapa yang bisa membantu saya?”

Keempat binatang bersahabat segera menghampirinya. Berang-berang berkata, “Aku menemukan tujuh ekor ikan yang mungkin ditinggalkan oleh nelayan, silakan memanfaatkannya!” Serigala  berkata, “Aku menemukan kadal dan susu asam yang mungkin ditinggalkan orang tak dikenal, silakan menikmatinya!” Monyet datang dan berkata, “aku mempunyai mangga yang matang, silakan menikmatinya!” Kelinci mendekat dan berkata, “aku tidak punya kacang, atau butir nasi yang akan kutawarkan. Akan hanya punya tubuh dan aku serahkan kepada Tuan!”

Sang brahmana berkata, “Terima kasih teman-teman semua yang telah memberikan makanan kepadaku. Akan tetapi aku tidak bisa menerima kebaikan Kelinci. Bagaimana aku bisa membunuh makhluk hidup?” sambil berkata demikian sang brahmana mengumpulkan ranting-ranting dan mulai membuat api. Kelinci berkata, “Aku mempunyai tekad untuk memberi, dan Tuan adalah tamu yang layak. Kesempatan ini tidak mudah diperoleh. Ini adalah caraku menunjukkan niat baikku, silakan menikmati dagingku!” dan Kelinci melemparkan dirinya ke dalam api yang berkobar.

Sakra kembali pada wujudnya sendiri dan mengangkat Kelinci ke langit. “Para dewa, lihatlah dan bersukacitalah atas perbuatan heroik hewan ini. Tanpa ragu-ragu dia mempersembahkan tubuhnya kepada tamunya. Dalam tubuh hewaninya dia mempunyai kebesaran sejati yang patut diteladani manusia dan dewa!”

Kemudian Sakra menghiasi istananya dengan gambar Kelinci untuk memuliakan kejadian tersebut. Dan ia juga menghiasi bulan dengan gambar yang sama.

 

Mengapa Selalu Mengutip Pendapat Para Master dalam Menyampaikan Sebuah Kisah?

Kata-kata kita hanyalah kata-kata belaka. Kisah yang kita sampaikan hanyalah sekedar pengutipan belaka, karena kita hanya menyampaikan pengalaman orang lain. Seorang Master telah mengalami semuanya, sehingga pandangannya sangat berharga, karena apa yang Master ucapkan, Beliau telah mengalaminya.

“Kata-kata bukanlah ajaran. Untuk menjadi ajaran, kata-kata haruslah diterangi oleh pencerahan si penyampainya, Pencerahan seorang Master, seorang Mursyid bagaikan nyawa. Kata-kata plus nyawa sama dengan ajaran. Bila Anda berwawasan luas, tidak fanatik terhadap suatu ajaran, dan masih bisa berpikir dengan kepala dingin, anda akan melihat persamaan dalam setiap ajaran. Setiap Master, setiap Guru, setiap Murysid sedang menyampaikan hal yang sama. Cara penyampaian mereka bisa berbeda. Tekanan mereka pada hal-hal tertentu bisa berbeda. Tetapi inti ajaran mereka sama. Dan memang harus sama, karena berasal dari sumber yang sama. And yet, setiap kali, ada saja yang mengulanginya. Kenapa? Yang kita anggap pengulangan sesungguhnya adalah proses pemberian nyawa. Para Master, para Guru, para Mursyid memberi nyawa kepada ajaran-ajaran lama.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

November 2013

Advertisements

Hikmah dari Musibah, Kisah Bodhisattva tentang Kerbau dan Monyet pada Relief Candi Borobudur

Posted in Relief Candi with tags , , , on September 17, 2013 by triwidodo

borobudur kerbau kera sumber borobudur tv

Ilustrasi Kerbau Perkasa dan Monyet Tak Tahu Diri sumber borobudur tv

Keyakinan dan Kesabaran

“Keyakinan dan kesabaran adalah perahu yang dapat mengantarmu ke tepi seberang. Keyakinan dan kesabaran membersihkan jiwa dan menyucikan hati. Keyakinan dan kesabaran melenyapkan rasa takut, dan membebaskan kita dari segala macam penderitaan, kesulitan, serta keraguan. Keyakinan dan kesabaran ibarat saudara kembar yang senantiasa melindungi kita dari segala macam marabahaya.”  (Das, Sai. (2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Konon Bodhisattva pernah hidup sebagai seekor kerbau perkasa yang sangat lembut hatinya. Sangat terkenal kesabaran dan kebijaksanaannya. Sang Kerbau sering diganggu seekor monyet tak tahu diri yang suka mempermainkan dirinya. Paham tentang kesabaran Sang Kerbau, Sang Monyet selalu menggoda dan mempermainkan tanpa takut mendapat resiko akibat perbuatannya. Kadang-kadang Sang Monyet sengaja duduk didepan Sang Kerbau yang sedang memakan rumput, sehingga Sang Kerbau menghentikan kegiatan makannya. Kadang-kadang Sang Monyet menaiki kepala Sang Kerbau dan menarik-narik tanduknya. Kadang Sang Monyet menutup kedua mata Sang Kerbau dan kadang ekornya dipakai sebagai ayunan. Sang Kerbau hanya mengingatkan Sang Kera dengan penuh kesabaran.

 

Setiap Makhluk yang Bertemu Kita Pasti Mempunyai Kaitan Karma

Pada suatu hari seorang penghuni hutan mempertanyakan, “Wahai Kerbau Perkasa, mengapa kau mendiamkan saja tindakan Sang Monyet yang keterlaluan. Dengan salah satu kakimu atau dengan kedua tandukmu, monyet usil tersebut dengan mudah dapat kau lemparkan!” Sang Kerbau menjawab, “Baiklah aku menjawab pertanyaanmu. Kelembutan dan tidak suka kekerasan adalah sifat bawaanku. Bahwa monyet menggodaku mungkin adalah akibat dari perbuatanku di masa lalu. Aku menerima dengan penuh kesadaran apapun yang menimpa hidupku…… Mungkin kalian menganggap tindakan sabarku sudah  keterlaluan. Tetapi aku menjunjung tinggi suara Kebenaran. Mungkin kalian bertanya bagaimana aku yakin tindakanku benar, bukan hanya semata dalih pikiran. Setiap saat, diriku mengupayakan pembersihan. Setiap kekotoran yang terbuang diupayakan terganti oleh sifat keilahian!” Kerbau Perkasa yakin bahwa petunjuk Ilahi lah yang selalu mendatangi, dan bukan solusi yang berasal dari pikiran. Demi peningkatan kesadaran monyet, dia harus menerima perlakuan yang demikian.

“Siapapun yang datang kepadamu, manusia ataupun hewan, sudah pasti karena adanya hubungan. Maka, janganlah sekali-kali menolak mereka. Terimalah mereka dengan penuh rasa hormat. Kau akan membahagiakan Ia, Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk, dengan memberi minum kepada mereka yang haus, memberi makan kepada mereka yang lapar; memberi pakaian kepada mereka yang membutuhkan; dan mempersilahkan orang asing beristirahat sejenak di Pekarangan rumahmu. Janganlah bersikap kasar terhadap mereka yang mengharapkan bantuan darimu. Bila memang tidak bisa, atau tidak mau, mintalah maaf. Jangan menghardik mereka. Biarlah orang lain mengejekmu, jangan membalas dia dengan ejekan. Jika kau bersabar, maka kau akan selalu bahagia. Biarlah seluruh dunia bersikap tidak waras, kau tetaplah tenang. Janganlah terganggu, anggap semuanya sebagai adegan dalam pertunjukan. Runtuhkan dinding yang memisahkan dirimu dari-Ku, maka kita akan bertemu seketika….. Singkirkan jauh-jauh anggapan keliru seperti itu. Anggaplah itulah yang menjadi penghalang sehingga kau tidak bertemu dengan-Nya. Allah Malik hai, Tuhan adalah Hyang Maha Memiliki. Dia pula Hyang Maha Melindungi. Cara Dia bekerja memang sulit dipahami. Tapi, apa pun yang dilakukannya, adalah demi kebaikan kita. Maka, biarlah kehendak-Nya yang terjadi! Dialah yang selalu menuntunmu, dan Dia pula yang dapat memenuhi setiap keinginanmu.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Sang Monyet Mulai Sadar atas Kebijaksanaan Kerbau Perkasa

Sang penghuni hutan berterima kasih mendengar penjelasan Sang Kerbau, dia telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Sang Monyet yang mendengar kebijaksanaan Sang Kerbau langsung datang dan minta maaf atas perbuatannya serta berjanji tak akan mengulanginya. Kata-kata Sang Kerbau yang bijaksana telah menyadarkannya.

“Setiap orang yang sedang meniti jalan ke dalam diri pada suatu ketika akan menemukan bahwa ‘Kebenaran’ Itu Satu Adanya. Dan bahwa jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran – apa pun nama yang Anda berikan kepada Yang Satu Itu – merupakan jalan pribadi. Sempit – begitu sempit, sehingga Anda harus melewatinya seorang diri. Anda tidak bisa bergandengan tangan dengan siapa pun.” (Krishna, Anand. (2002). Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Kerbau berkata, “Wahai Kera banyak jalan menuju satu tujuan Kebenaran. Setiap makhluk mempunyai ‘jalan’ tersendiri. Jalan menuju Kebenaran bukanlah jalan raya, bukan jalan kita bisa bergandengan dengan siapa saja. Jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran merupakan jalan pribadi. Setiap orang berbeda jalannya. Karena pengalaman hidupnya juga tidak sama…… Wahai Monyet, saat ini sudah waktunya kau memperbaiki tingkah lakumu. Cobalah merenung, apakah kau senang tindakan demikian diperlakukan kepadamu? Seandainya kau dipermainkan, sedangkan kau mempunyai kekuatan untuk melawan, apakah kau akan membiarkan diganggu? Bila tidak senang diperlakukan dengan cara demikian, maka jangan melakukan hal yang demikian. Kalau tindakan suka mempermainkan sudah menjadi kebiasaan. Suatu saat kepada hewan yang temperamental kau akan mempermainkan. Dan kau akan babak belur dijadikan bulan-bulanan. Wahai Monyet engkau tahu tempat tinggalku. Apabila kau merasa membutuhkanku, dan mau menemuiku aku tunggu!’

 

Datangnya Musibah kepada Sang Monyet

Hukum sebab akibat tak akan selesai dengan pemintaan maaf saja. Setelah beberapa bulan, Sang Monyet lupa janjinya dan hasratnya menggelora ingin mengulang kebiasaannya. Seekor kerbau liar datang dan berdiri di tempat yang sama. Sang Monyet digerakkan kebiasaan lama yang masih selalu menggoda. Dia ketagihan untuk mempermainkan Sang Kerbau seperti kebiasaan lamanya. Sang Kerbau Liar marah dan segera melemparkannya, dan menanduk bagian perutnya. Sang monyet lari dalam keadaan luka-luka. Perbuatan monyet mengganggu Kerbau Perkasa telah menjadi matang dan datang menemui Sang Monyet.

Anand Krishna dalam materi Neo Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/) menyampaikan:

“Dhammapada 9:125: Barang siapa berbuat jahat terhadap orang baik, orang suci, dan orang yang tidak bersalah, maka kejahatan akan berbalik menimpa orang bodoh itu, bagaikan debu yang dilempar melawan angin.”

“Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya. Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang ‘belum matang’. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Segala penganiayaan dan kezaliman yang terjadi pada diri kita, marilah kita tetap mengirimkan getaran kasih kepada para pelakunya, karena mereka bodoh. Mereka tidak tahu bahwa pada suatu ketika mereka akan terhancurkan oleh perbuatan mereka sendiri. Di saat yang sama kita juga mesti menolak kejahatan, tidak berkompromi, dan melindungi diri dari pengaruh jahatnya. Bagaimana pun juga kejahatan adalah kejahatan, kalau saya membiarkan kejahatan merajalela maka saya bersalah terhadap bukan saja diri sendiri tapi juga terhadap pelaku kejahatan yang akan makin tidak sadar dan makin banyak orang tercelakakan olehnya. Maka hadapilah kejahatan secara tegas, tapi dengan cara kasih dan tanpa kekerasan.”

Sang Monyet sekarang mencari Sang Kerbau Perkasa. Dia ingin Sang Kerbau Perkasa menjadi pemandu kehidupannya. Musibah yang dialaminya meningkatkan kesadarannya. Dalam menghadapi samudera kehidupan yang sering bergolak dia memerlukan pemandu yang handal.

 

Sabar, Ikhlas dan Tenang

“Sabar, ikhlas, dan tenang adalah tiga kemuliaan utama. Sabar tetapi tidak menyabar-nyabarkan diri… ini yang disebut ikhlas, keikhlasan. Hanya keikhlasan seperti ini yang membawa Ketenangan. Sesungguhnya tiga kemuliaan ini adalah tri tunggal, tiga tapi satu. Satu yang memiliki tiga manifestasi. Sabar karena ikhlas. Tenang karena ikhlas. Sabar adalah ‘bahan baku’ yang kita masukkan ke dalam mesin kehidupan kita. Keikhlasan adalah ‘proses’ yang terjadi, ‘olah diri’ yang diwarnai olehnya…. Kemudian, hasil akhirnya adalah ketenangan. Ketenangan diri seperti itulah yang dapat dibagikan kepada orang lain. Kebahagiaan sejati yang muncul dari ketenangan diri itulah yang berarti dan bermanfaat. Baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan kita.” (Krishna, Anand. (2008). Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Harimau dan Pengorbanan Nyawa Boddhisattva, Kisah pada Relief Candi Borobudur

Posted in Relief Candi with tags , , , on August 30, 2013 by triwidodo

borobudur harimau dan bodhisattva

Ilustrasi Harimau dan Bodhisattva sumber: Gernot katzer spice pages com

Selalu Membayar dengan Kasih, karena di Dompetnya Hanya berisi Mata Uang Kasih

“Master Sufi, Attar dari Nishapur pernah bercerita tentang Yesus: Para ahli kitab, ahli Taurat para cendikiawan tidak bisa menerima Yesus. Ajarannya yang mengutamakan kasih dan rasa di anggap berbahaya dan dapat meruntuhkan ‘apa yang mereka anggap’ Lembaga Keagamaan. Mereka menertawakan Yesus, mencemoohnya, namun tidak berhasil mengundang reaksi apa pun. Malah, Yesus mendoakan mereka. Para Murid mengeluh, ‘Rabbi, Master, Guru, mereka menghina, menertawakan Guru. Kok Guru tidak mencela mereka, malah mendoakan mereka? Aneh!’ Yesus menjawab, ‘Tidak aneh, sahabatku, Aku hanya dapat memberikan apa yang aku miliki. Yang kumiliki hanyalah kasih, doa, dan itu pula yang dapat kuberikan kepada mereka. Mata uang yang ada dalam kantongku adalah mata uang kasih. Aku tidak memiliki mata uang lain’.”  (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seseorang yang mengutamakan rasa dan penuh kasih, yang di dalam dirinya hanya ada kasih, maka tindakannya akan selalu penuh rasa kasih. Egonya sudah lumer menjadi kasih. Bahkan nyawa pun diberikan sebagai wujud rasa kasih. Kisah ini sulit dinalar dengan pikiran, karena pikiran memikirkan logika untung rugi, dan menganggap aku ini lebih penting daripada lainnya, aku jangan sampai dirugikan dengan memberikan berbagai alasan yang rasional. Kisah ini berkaitan dengan rasa yang melampaui pikiran. Rasa bahagia justru datang saat memberi tanpa pamrih pribadi. Tanpa pertimbangan logika untung-rugi, hanya memberi, memberi dan memberi tanpa mengharap balasan kembali.

Dilema Harimau Betina dan Anak yang Disusuinya

Pada suatu ketika seorang Bodhisattva berjalan-jalan di pegunungan bersama muridnya bernama Agita. Mereka melihat dari atas tebing seekor harimau betina yang sedang galau, resah kebingungan. Sang Harimau betina sedang menderita kelaparan. Bagaimana pun kehidupannya harus dipertahankan. Seekor anaknya nampak sedang menyusu kepadanya. Ada sebuah dilema yang luar biasa sulitnya. Dia harus mempertahankan kehidupannya sendiri. Kehidupan itu pemberian Ilahi. Kalau dia mati, sang anak pun akan mati, karena sang anak akan kelaparan, tidak punya induk yang dapat menyusui. Untuk mempertahankan hidup hanya ada satu jalan yaitu memakan sang anak, si buah hati. Di kemudian hari sang harimau dapat melahirkan anak yang lain sebagai pengganti. Berdasar pikirannya, itulah yang harus dilakukannya. Akan tetapi, rasa nuraninya berkata lain, air matanya meleleh, dia menangis melihat anaknya yang sedang menyusui, yang sebentar lagi akan mati sebagai makanan penyelamat diri. Tegakah memakan anak sendiri? Dalam diri harimau ada pertempuran sengit antara pikiran dan hati nurani. Dia hanya bisa menangis tak punya solusi.

Seandainya Harimau itu seorang manusia, maka untuk menghilangkan rasa bimbang dia akan berupaya mendengarkan suara nuraninya.

“Pikiran itulah Setan yang menggoda. Ketika suara pikiran muncul, ketika bisikan setan terdengar, tercipta pula keraguan di dalam diri. Saat itu, nurani menciptakan keraguan itu. Sebaliknya jika kita mendengar suara hati, bisikan nurani, tidak ada keraguan lagi. Kita sudah pasti bertindak sesuai dengan tuntunannya. Selama kita masih ragu, masih bimbang, selama itu suara hati belum terdengar. Saat itu, lebih baik duduk tenang, lakukan pernapasan perut sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Biarlah pikiran mengendap. Setelah beberapa menit, suara hati pun pasti terdengar jelas.” (Krishna, Anand. (2007). Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Emphaty Sang Bodhisattva

Sang Boddhisatwa menyuruh Agita mencari makanan pengganti bagi Sang Harimau, tetapi sudah berjam-jam dia belum kembali. Melihat harimau sekarat karena kelaparan, Sang Bodhisattva menggigil karena kasih, seperti menggigilnya Mahameru karena gempa. Sang Bodhisattva berpikir bahwa dia akan melihat seekor harimau betina memakan anaknya, melawan hukum kasih alam semesta. Sang Bodhisattva merenung dalam, mengapa saya menyuruh Agita mencari tubuh makhluk lainnya. Tubuh saya cukup untuk mengobati kelaparannya. Ragaku sudah tua, beberapa saat lagi juga sudah tidak berguna. Ragaku sudah tak mudah untuk melakukan dharma. Sang Bodhisattva melihat kesempatan untuk membahagiakan makhluk yang sedang menderita. Kini diperhatikannya bahwa sang harimau akan memilih mati daripada memakan anaknya. Dan, dua kehidupan akan segera meninggalkan dunia fana.

Hubungan seseorang dengan lainnya bisa berupa “apathy”, “sympathy” dan “empathy”. Seorang yang “apathy”, tidak peduli urusan orang lain, dia berkutat pada urusan pribadinya. Cuek dengan penderitaan orang lain. Tidak mengakui eksistensi yang lain. Emangnya Gue Pikirin? Bukankah takdir seseorang memang lain-lain? Seorang yang mempunyai “sympathy”, merasa kasihan dengan orang yang sedang menderita, tetapi dia sendiri dia sendiri tidak merasakan penderitaannya. Lugasnya, yang menderita itu kamu, saya ikut bela sungkawa, tetapi saya tidak mengalaminya. Seorang yang mempunyai rasa “empathy”, ikut merasakan apa yang diderita orang lainnya. Seorang ibu merasa stress  kala anaknya tidak tidur mengerjakan tugas dari dosennya. Seseorang ikut merasakan kerepotan seorang  ibu tua yang berdesakan dalam bis kota, sehingga memberikan tempat duduknya. Dalam empathy atau “tepo saliro” seseorang merasa ada “connectedness” dengan yang lainnya.

“Simpati berarti aku menaruh rasa kasihan terhadapmu. Empati berarti aku merasakan penderitaanmu. Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing dan menjawab sendiri pertanyaan itu?” (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pasrah kepada Alam

Harimau betina akhirnya dapat mendengarkan suara nuraninya, untuk apa dia bertahaan hidup bila dia akan selalu sedih mengenang perbuatannya memakan anaknya. Mengapa harus takut mati? Paling tidak di akhir hayatnya dia telah berbuat kebaikan menyelamatkan sementara kehidupan anaknya dengan susunya. Setelah dia mati? Itu sudah bukan urusannya lagi, itu urusan alam yang akan mengurus anaknya yang masih hidup. Bisa saja sang anak mati kelaparan, tapi bisa saja hidup dan ada pertolongan. Harimau betina menjadi tenang dan memasrahkan segalanya kepada alam.

Suara kejatuhan benda dari atas tebing di dekatnya membuat sang harimau waspada. Dan dia melihat tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa. Dia menyembah tubuh yang tidak bernyawa sebagai karunia dari Yang Maha Kuasa. Dan dia mulai memakannya setelah berdoa. Telah terselamatkan kehidupan dia dan anaknya.

Kemenangan Bodhisattva menaklukkan Mara

Tidak dapat menemukan hewan buruan di hutan, sang murid Agita kembali menemui Gurunya. Akan tetapi dia dapat melihat jasad gurunya yang berada di bawah tebing, sedang dimakan harimau betina. Dia menangis, melihat pengorbanan nyata seorang Bodhisattva. Sang Bodhisattva seperti bumi yang menyerahkan apa pun yang ada pada dirinya demi kehidupan makhluk yang mendiaminya. Semua makhluk, termasuk para gandarwa, dewa, binatang, tanaman menghormati tindakan yang begitu mulia. Sang Mara kecewa, dia dikalahkan Sang Bodhisattva. Setelah beberapa kehidupan konon Sang Bodhisattva  lahir sebagai Sang Buddha, yang dihormati semua makhluk di alam semesta. Inilah kisah Dia yang pernah mengorbankan nyawanya kepada harimau betina yang hampir makan anaknya.

“Bagi seorang Bodhisattva semangat melayani adalah sangat alami. Dalam pandangan kita seorang Bodhisattva telah melakukan pengorbanan yang tertinggi. Tidak ada lagi pengorbanan lain yang sebanding dengan pengorbanannya. Tetapi, bertanyalah kepada seorang Bodhisattva. Ia akan tersenyum, “Pengorbanan apa?” Bagi dia, apa yang kita sebut pengorbanan itu hanyalah bagian dari sifatnya. Bagi dia pengorbanan seperti itu bersifat sangat alami. Semangat untuk melayani sangat alami. Kerelawanan sangat alami. Kesadaran seorang Bodhisattva tidaklah sama dengan kesadaran kita, dimana kita masih membedakan antara napsu yang senantiasa menutut; cinta yang mulai memberi dan menerima; dan kasih yang selalu memberi, dan memberi, dan memberi. Seorang Bodhisattva telah melampaui napsu hewani – ia sudah tidak menuntut lagi. Apa yang kita sebut kasih adalah napsu dia. Dia bernapsu untuk membantu, untuk melayani sesama makhluk hidup. Pembagian napsu, cinta, dan kasih sudah tidak berlaku baginya. Seorang Bodhisattva hanyalah mengenal cinta-kasih yang tidak bersyarat dan tidak terbatas.”  (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Menyaksikan Perselingkuhan, Kisah Dua Burung Beo pada Relief Candi Mendut

Posted in Relief Candi with tags , , on August 25, 2013 by triwidodo

Mendhut-Tantri-2_parrots wikipedia

Gambar dua burung Beo pada Relief Candi Mendut sumber Wikipedia

Pengolahan Otak Harus Diimbangi Penghalusan Rasa

“Tidak berarti bahwa otak tidak perlu diasah. Tidak berarti bahwa ilmu tak berguna. Otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus. Kemampuan untuk “mengenal fakta” datang dari ilmu. Kepekaan untuk “melihat kebenaran” berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membuka bagi saya semua pintu ilmu.” (Krishna, Anand. (2005). Neo Psychic Awareness. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah dua burung beo yang menyaksikan perselingkuhan istri seorang brahmana, membuat kita merenung apakah kita cukup dengan mengembangkan otak saja ataukah juga perlu mengembangkan intuisi kita.

 

Menyaksikan Perselingkuhan Istri Brahmana

Dua bersaudara burung beo ditangkap pemburu dan diserahkan kepada seorang brahmana. Mereka dipelihara dengan sangat baiknya, sehingga walau tidak diikat mereka tidak pergi juga, karena ingin membalas budi pada Sang Brahmana. Pada suatu hari Sang Brahmana pergi keluar kota untuk beberapa lama dan berpesan kepada kedua beo bersaudara. Agar mereka dapat menjaga istrinya. Bila istrinya berbuat tidak baik tolong diingatkan oleh mereka.

Ternyata istri Sang Brahmana tidak setia, setelah Sang Brahmana pergi dia bermain cinta dengan kekasih selingkuhannya. Baik di dalam maupun di luar rumahnya. Beo muda yang masih remaja berkata pada kakaknya yang sudah dewasa: “Kakak, kita diminta menjaga istri Sang Brahmana. Dia berpesan agar kalau istrinya berbuat tidak baik kita diminta mengingatkannya. Mengapa kita tidak mengingatkan istrinya?” Sang kakak berkata dengan bijaksana: “Adikku, kita harus tetap waspada, istri Sang Brahmana terlalu keji. Kita harus hati-hati dan melihat dengan jeli. Mari kita tunggu Sang Brahmana datang, kita laporkan dan segera pergi. Mungkin Sang Brahmana sudah mencurigai sang istri. Dan, kita diminta memberikan konfirmasi. Istri sang brahmana masih dipengaruhi oleh naluri hewani, hanya wujudnya manusia, akan tetapi tindakannya masih seperti hewan.”

“Setelah berhasil memahami sebagian rahasia DNA manusia dan berhasil memetakannya, para saintis pun bingung. Ternyata DNA manusia, blue print dasar manusia itu, menyimpan rahasia alam semesta. Setiap orang memiliki ‘memori’ yang bisa ditarik ke belakang sampai asal-usulnya alam semesta. Sungguh misterius! Jadi setiap manusia juga memiliki naluri hewani. Dituntun olehnya, tindakan anda akan menjadi hewani. Dipengaruhi olehnya, pikiran anda akan menjadi hewani. Dikuasai olehnya, ucapan-ucapan anda akan menjadi hewani.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Beo Remaja yang Kurang Waspada

Sang Beo Remaja tak bisa menahan diri. Pada suatu hari dia menemui istri Sang Brahmana dan menasehati, “Mengapa Nyonya melakukan tindakan tidak setia? Mohon jangan diulangi lagi, tidak baik seorang isteri melakukan ini!” Istri Sang Brahmana berkata, “Beo remaja yang bijaksana kau benar dalam berkata. Mari ke sini kuelus lehermu. Sebagai rasa terima kasihku. Aku tidak akan selingkuh lagi karena nasehatmu.” Istri Sang Brahmana memegang leher beo remaja. Dipuntir lehernya sampai kehilangan nyawa dan badannya dimasukkan api di dapur yang tengah membara.

Burung beo remaja belum paham, bahwa sang istri brahmana  adalah manusia, akan tetapi masih mengikuti naluri kebinatangan. Sehingga dia kurang waspada.

“Binatang harus mengikuti nalurinya. Ketika lapar, ia akan makan. la tidak bisa menahan diri. Ketika haus, la akan minum. Ketika harus melampiaskan napsu birahi, la akan melakukannya. Tidak perlu suasana, tidak perlu basa-basi. Lihat saja anjing-anjing di tengah jalan. Hanya manusia yang dapat melakukan sesuatu dengan ‘kesadaran’. la sudah tidak ‘perlu’ mengikuti nalurinya. la bisa ‘mengurus’ dirinya sendiri. Mereka yang ‘merasa’ digoda oleh Setan, lalu bertindak sesuai dengan apa yang mereka sebut ‘bisikan Setan’, sesungguhnya sedang mengikuti nalurinya. Dan manusia memang memiliki ‘naluri hewan’ the basic instincts.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kematangan Beo Dewasa Menghadapi Orang Berbahaya

Beo Dewasa sadar bahwa menghadapi manusia berbahaya yang tidak bisa dinasehati, perlu kehati-hatian.

“Orang yang dengki menjadi kalap; matanya tertutup. la tidak bisa memilah lagi, tindakan mana yang tepat dan yang mana tidak tepat. la seperti seorang pengemudi yang mabuk. la dikuasai oleh ‘alkohol’, oleh ‘anggur’. la akan mencelakakan dirinya dan orang lain. Dalam perjalanan, jika anda bertemu dengan seorang pengemudi seperti itu, apa yang akan anda lakukan? Menyadarkan dia? Percuma. la tidak akan menghentikan kendaraannya. la tidak akan mendengarkan nasihat anda. Satu-satunya jalan adalah ‘menyingkir’, melindungi diri. Jangan sampai jadi korban ketololannya.” (Krishna, Anand. (2000). Surah-Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Beo Dewasa pura-pura tidak mengetahui kejadian yang menimpa adiknya. Istri Sang Brahmana masih tetap berselingkuh. Saat Sang Brahmana pulang dia bertanya kepada Sang Beo bagaimana kabar istrinya. Sang Beo menceritakan tentang perselingkuhan istrinya. Setelah dia bercerita, dia bilang sekarang tak ada tempat yang aman baginya di rumah Sang Brahmana.  Sang Beo pamit terbang ke rimba. Konon Sang Beo Dewasa pada suatu ketika menitis menjadi Sang Buddha dan adiknya menjadi adalah salah seorang muridnya.

 

Melatih Intuisi

Beo Dewasa adalah lambang seorang yang telah memiliki intelijen, sedangkan beo remaja melambangkan orang yang masih dalam taraf intelektual.

“Saya selalu membedakan antara ‘intelljen’ dan ‘intelektual’. Seorang ‘intelijen’ menjadi demikian karena membuka diri terhadap semesta. la belajar dari alam. la belajar dari setiap peristiwa, setiap kejadian dalam hidupnya. la belajar dari pengalaman pribadi. Pengetahuan dia sepenuhnya berdasarkan pengalaman bahkan melampaui pengalaman pribadi. la memperolehnya lewat mekanisme alam yang mulai bekerja, apabila ia menjadi lebih peka, lebih reseptif terhadap alam itu sendiri. Itu yang disebut intuisi, ilham.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Kebenaran dihasilkan oleh intuisi dan intuisi berkembang dalam keheningan. Intuisi melampaui instink-instink hewani Anda, melampaui pikiran dan logika, melampaui filsafat, dan hanya intuisilah yang dapat bertatap muka dengan Kebenaran. Biarkan dunia, menentang Anda – pikiran Anda mungkin mengatakan satu hal dan hati Anda mengatakan hal yang lain. Jangan ikuti mereka. Ikutilah intuisi Anda. Pada saat-saat awal, memang sulit, bahkan sangat sulit untuk mendengar suara halus intuisi Anda. Tetapi, jangan menyerah. Suatu saat mungkin Anda salah menangkap suara pikiran ataupun suara hati Anda sebagai intuisi. Lewat kesalahan-kesalahan Anda sendiri, Anda akan belajar. (Krishna, Anand. (2002). Kehidupan Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Relief Candi Mendut: Ikan Korban Rayuan Iklan Bangau yang Culas dan Kepiting yang Waspada

Posted in Relief Candi with tags , , , on August 16, 2013 by triwidodo

mendut bangau kepiting ikan sumber wikipedia

Gambar Bangau menipu ikan-ikan dan akhirnya ditipu kepiting sumber Wikipedia

Ikan Dibujuk Bangau Berulang-Ulang

“Pengulangan membuat sesuatu menjadi nyata. Adolf Hitler menulis dalam otobiografinya bahwa jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran. Pengulangan adalah metode hypnosis. Apa yang diulangi secara terus-menerus itu akan terukir pada dirimu. Inilah yang menyebabkan ilusi dalam hidup. Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tersebutlah di sebuah kolam kecil hidup seekor kepiting dan sekumpulan ikan. Pada suatu musim  kemarau airnya menyusut tinggal sedikit dan bagi penghuni kolam keadaan tersebut cukup mengkhawatirkan. Kala itu seekor burung bangau sedang mengintai dan muncul pikiran jahatnya untuk menjadikan seluruh penghuni kolam sebagai santapan.

Burung Bangau sengaja beristirahat di tepi kolam dan nampak duduk termenung bermuram durja. Para Ikan bertanya kepada Sang Bangau, “Tuan sedang memikirkan apa?” Sang Bangau menjawab, “Aku memikirkan kehidupan kalian wahai para ikan. Kemarau ini begitu keringnya, semakin sedikit air semakin sedikit pula makanan kalian. Aku takut kolam ini beberapa hari lagi akan habis airnya dan kalian akan mati kekeringan. Kalau kalian percaya padaku, akan kubawa satu per satu kupindahkan ke telaga besar di balik hutan. Telaga yang dipenuhi dengan bunga teratai yang akan menjamin kehidupan kalian.” Para Ikan berkata, “Tuan Bangau, sejak awal kehidupan, tak ada ceritanya seekor bangau memikirkan kesejahteraan ikan. Terus terang kami takut satu per satu dari kami akan Tuan makan.” Sang Bangau menjawab pelan, “Coba pikir masak-masak, aku tidak berdusta silakan pilih satu perwakilan ikan untuk melihat telaga yang saya ceritakan.” Karena setiap hari Bangau membujuk dan memang air kolam nampak berkurang maka para ikan kemudian memilih satu ikan besar sebagai perwakilan. Sang Bangau membawanya ke atas telaga dan kemudian kembali ke kolam ikan. Para Ikan akhirnya percaya dan menurut saja dibawa Sang Bangau satu per satu ke telaga. Sebenarnya satu per satu ikan dijatuhkan di pohon di seberang telaga. Satu per satu disantap Sang Bangau dan dibawah pohon berserakan tulang-tulangnya. Demikian dilakukan berkali-kali sehingga ikan di kolam habis semuanya.

 

Kepiting yang Waspada

Tersisa seekor kepiting di kolam yang juga ingin dimangsanya. Sang Bangau berkata, “Tidakkah kamu ikuti para ikan pindah ke telaga?” Sang Kepiting berkata, “Lebih baik aku hidup di kolam ini saja.” Sang Bangau membujuk setiap hari, sehingga Sang Kepiting semakin waspada. Pada suatu hari akhirnya Sang Kepiting berkata, “Aku bisa memegang diri Tuan lebih kuat, maka biarkan aku memegang leher Tuan saat terbang menuju telaga.”

Sang Bangau setuju dan kemudian terbang di atas telaga. Akan tetapi kemudian Sang Bangau berbelok menuju pohon di seberang telaga. Sang Kepiting bertanya, “Mengapa Tuan membawaku menjauhi telaga?” Sang Bangau berkata, “Dasar kepiting bodoh, aku bukan budakmu, mengapa kamu harus kupindahkan? Lihatlah di bawah pohon terdapat tulang-tulang ikan berserakan. Kamu pun akan segera kujadikan santapan.” Sang Kepiting berkata, “Sang penipu telah ditipu itulah nasibmu, Tuan. Coba rasakan sedikit, saya mulai menjepit leher Tuan!” Sang Bangau ketakutan merasakan lehernya yang mulai kesulitan bernapas. Sang Kepiting berkata, “Sekarang Tuan Bangau yang bodoh, bawa aku ke atas telaga agar aku bisa terjun dan Tuan kembali bebas!” Sang Bangau menuruti dengan tergesa-gesa untuk menyelamatkan nyawanya. Saat tiba di tepi telaga leher Sang Bangau dipotong Sang Kepiting dan mati seketika. Sang Kepiting pun segera masuk ke dalam telaga.

 

Kisah Sang Buddha

Sang Buddha bercerita ada penjahit di Jetavana yang suka menipu. Dia membuat pakaian jadi dari baju bekas yang dicelupkan dengan cairan pewarna sehingga kelihatan baru. Setiap orang yang akan menjahitkan pakaian diminta menyerahkan kainnya dan ditukar dengan baju bekas yang nampak baru. Semakin hari, semakin banyak orang yang tertipu. Pada suatu hari, nampak seorang gagah dengan wool mewah berwarna oranye yang memperkenalkan diri sebagai Penjahit dari Desa. Sang Penjahit dari Jetavana minta baju wool yang dipakai Penjahit dari Desa dapat ditukar dengan sejumlah kainnya. Penjahit dari Desa merasa keberatan, tetapi akhirnya setuju juga. Saat Sang Penjahit dari Jetavana mencuci baju wool dia baru sadar bahwa dia telah ditipu karena baju wool tersebut berasal dari kain karpet yang diberi warna.

Konon Sang Buddha bercerita bahwa setelah beberapa kehidupan. Sang Bangau lahir kembali menjadi Sang Penjahit dari Jetavana. Sedangkan Sang Kepiting menjadi Sang Penjahit dari Desa dan sekelompok ikan menjadi masyarakat yang tertipu oleh Sang Penjahit dari Jetavana.

 

Sang Bangau Sangat Individualistik dan Tidak Peduli Penderitaan Pihak Lain

Seseorang yang masih sangat individualistik masih mempunyai sifat hewani yang masih terkendali oleh fight or flight mechanism. “Seseorang yang terkendali oleh fight or flight mechanism, sungguh sangat individualistik. Sesungguhnya, la hanya memikirkan dirinya saja. Bila la tidak terpelajar, tidak berpendidikan, sifat individualistiknya itu akan terlihat, terasa jelas sekali. Manifestasi dari sifatnya itu sudah pasti vulgar, dapat dibaca oleh siapa saja. Celakanya, bila ia berpendidikan, seperti para aktor intelektual di balik aksi teror di negeri kita, la dapat mengemas individualitasnya, egonya dengan rapi sekali. la dapat menutupinya dan malah memberi kesan sebaliknya, seolah la memikirkan kepentingan orang banyak, rakyat, dan sebagainya. la bisa menipu sejumlah orang, dapat membodohi beberapa orang. Ia tidak dapat menipu dan membodohi semua orang.” (Krishna, Anand. (2005). Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut-Marutnya Keadaan Bangsa. One Earth Media)

 

Tidak Mengulangi Kesalahan yang Sama

Buddha mengingatkan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bila kita tidak mau memperbaiki, alam akan selalu memberi ujian yang mirip sampai kita lulus dalam menghadapinya. Sang Ikan melakukan kesalahan di tipu Sang Bangau, Sebagian masyarakat ditipu Penjahit Jetavana. Bila masyarakat yang tertipu tidak mau belajar dari sejarah, maka dia akan mengulangi masalah yang sama di kemudian hari.

Dalam kisah tersebut disampaikan bahwa apa yang terjadi di masa lalu terjadi pula di masa depan, tak ada sesuatu yang baru di atas dunia. Walau ‘setting’ panggung dan pemeran berbeda akan tetapi skenarionya tidak jauh berbeda. Bahkan kejadian bangau yang menipu dan menyantap sekelompok ikan saat ini dilakukan juga oleh segelintir manusia. Keterpurukan negeri dan kebohongan publik yang sering dilakukan oleh para oknum pemimpin, terjadi karena berkiblat pada keserakahan.

“Saat berdoa, hanya badan kita yang menghadap Bait Allah. Pikiran kita berkiblat pada harta benda. Perasaan kita berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri.” (Krishna, Anand. (2007). The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Hipnotis Massal dan Para Pembebas

Para Ikan telah dihipnotis Sang Bangau untuk diperdaya pindah dari kolam yang lama dan dijadikan santapannya. Mirip dengan kisah tersebut, sebenarnya kita semua adalah para Ikan yang telah dihipnotis oleh Bangau “Dunia”. Pada waktu kita ke supermarket untuk mencari pasta gigi kita pasti melakukan “search” dalam memori pikiran kita dari iklan-iklan yang telah kita tonton untuk memilihnya. Bukan hanya iklan, sesungguhnya kita semua telah dihipnotis massal oleh sistem masyarakat.

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai pembaharu. Karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Orang-Orang Besar menjadi besar, karena mereka berhasil membebaskan diri dari pengaruh hypnosis massal yang membenarkan kebiasaan-kebiasaan umum. Karena itu, mereka bisa mentransformasi diri dan metransformasi setiap orang yang berada di sekitar mereka. Inilah kisah Krishna, Buddha, Lao Tze, Muhammad, dan Isa. Mereka bukan orang-orang yang konformis. Ketika ditawari kerajaan dunia, harta kekayaan, dan kedudukan, mereka menolak demi kebenaran yang mereka percayai. ‘Tidak menerima tawaran dunia’; inilah turning point dalam hidup mereka. Bacalah kisah kehidupan mereka. Mereka semua mendapatkan tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan dari iblis, namun mereka menolaknya. Dan mereka menjadi besar. Mereka menjadi jauh lebih besar daripada iblis yang menawarkan semuanya itu kepada mereka.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Relief Candi Mendut: Kisah Kera dan Buaya Lambang Buddha dan Devadatta

Posted in Relief Candi with tags , , , on August 11, 2013 by triwidodo

mendut relief buaya dan kera sumber www borobudur tv

Relief Kera dan Buaya pada Candi Mendut sumber www borobudur tv

Tidak Memikirkan Diri Pribadi

Meditasi bukan latihan. Latihan-latihan hanyalah mengantar kita kepada keadaan alam meditasi atau dhiaan, dhyaan, chan, zen di mana seluruh hidup, cara, pola, dan gaya hidup kita berubah total menjadi meditatif. Hidup meditatif adalah Hidup Transpersonal, ketika Anda tidak lagi memikirkan kepentingan dan keuntungan bagi diri sendiri, tapi memikirkan kebaikan masyarakat luas, kepentingan sesama makhluk hidup. (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Moder. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Persahabatan Kera dan Buaya Jantan

Di atas pohon mangga di tepi sungai besar hiduplah seekor kera. Pada suatu hari seekor buaya jantan datang minta mangga kepada Sang Kera. Beberapa butir mangga diberikan Sang Kera kepada Sang Buaya. Sang Buaya berterima kasih dan mohon diizinkan datang lagi kala memerlukannya. Akhirnya terjadilah semacam persahabatan antara Sang Buaya dan Sang Kera. Seekor buaya betina, istri Sang Buaya Jantan dapat merasakan bahwa suaminya menjadi lembut karena banyak makan mangga dan sering lupa membawakan ayam dan kambing sebagai santapan bagi dirinya.

Apa yang kita makan pada dasarnya akan bertransformasi menjadi anggota tubuh kita, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pikiran dan rasa kita. Dalam kisah tersebut, Buaya Jantan menjadi lebih lembut setelah makan vegetarian.

“Karena dua hal, Hazrat Inayat Khan menganjurkan agar kita tidak mengkonsumsi daging. Pengertian daging di sini bukan semata mata daging sapi, tetapi daging apa saja ayam, ikan, semuanya. Pertama, konsumsi daging akan memperlamban proses peningkatan kesadaran dalam diri kita. Kemajuan spiritual kita akan terganggu. Kedua, membunuh binatang dan mengkonsumsi dagingnya sangat tidak bermoral, sangat tidak manusiawi. Dari segi spiritual, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi sifat dan watak manusia. la akan mewarisi watak binatang yang dimakan dagingnya itu. Dari sudut pandang mistik, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi pernafasan kita, dan selanjutnya memblokir sentra sentra psikis dalam diri kita, yang sebenarnya berfungsi sebagai “jaringan tanpa kabel”. Sentra sentra psikis atau chakra inilah yang membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri kita, dan menghubungkan kita dengan alam semesta. Untuk itu dianjurkan tidak makan daging. Dari sudut pandang moral, hati seorang pemakan daging akan menjadi keras. Hati yang seharusnya lembut dan diberikan oleh Allah untuk mengasihi sesama makhluk bukan hanya sesama manusia akan kehilangan kelembutan atau rasa kasihnya.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Tipu Daya Sang Buaya Betina

Sang Buaya Betina tidak ingin suaminya terpengaruh oleh persahabatan dengan Sang Kera. Maka Sang Buaya Betina membuat tipu muslihat untuk membunuh Sang Kera. Pada suatu hari, Sang Buaya Betina bilang kepada suaminya bahwa dia sedang sakit parah dan obatnya adalah jantung seekor kera. Sang Buaya Betina bersandiwara bahwa dia segera meninggal bila tidak makan jantung kera. Sang Buaya Jantan berada dalam dilema. Seekor kera yang baik hati selalu memberi mangga dan sudah menjadi sahabatnya. Tetapi istri tercinta segera mati apabila tidak makan jantung kera. Buaya Betina suka makan daging, sehingga sifat hewani untuk memperoleh tujuan dengan segala cara telah mendarah-daging.

“Sifat kehidupan yang memasuki tubuh anda lewat mulut, mempengaruhi sifat diri anda. Sesuai dengan istilah  yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki satu sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila-tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri  kita pun ikut bertumbuh.  Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri.” (Krishna, Anand. (2006). SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra. One Earth Media)

Anand Krishna mengingatkan para pembaca buku-bukunya tentang sifat kemanusiaan: “Kemanusiaan adalah percikan kasih Gusti Pangeran yang ada di dalam diri setiap manusia.  Kemanusiaan adalah kesadaran bahwa apa yang kau inginkan bagi dirimu juga diinginkan oleh orang lain bagi dirinya. Jika kau ingin bahagia, maka orang lain pun ingin bahagia. Jika kau ingin sehat, maka orang lain pun ingin sehat. Jika kau ingin aman, maka orang lain pun ingin aman. Jika kau tidak mau dilukai, maka orang lain pun demikian. Jika kau tidak mau ditipu, maka orang lain pun tidak mau ditipu. Jika kau tidak mau disembelih, dimasak, dan disajikan di atas piring; jika kau tidak mau dagingmu dijual dengan harga kiloan; jika kau tidak mau jeroanmu dipanggang atau digoreng; maka janganlah engkau menyembelih sesama makhlukNya. Menyembelih sesama makhluk hidup bukanlah tindakan yang memuliakan. Bagaimana kau bisa mengagungkan Hyang Maha Agung dengan mengorbankan ciptaanNya?” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Moder. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Akhir Persahabatan antara Buaya Jantan dengan Kera

Akhirnya Sang Buaya Jantan mengundang Sang Kera untuk datang ke seberang sungai tempat tinggalnya. Dikatakan di seberang sungai terdapat pohon apel dan juga pohon nangka. Sang Kera diminta naik ke atas punggungnya. Sampai di tengah sungai, Sang Buaya Jantan mulai menyelam, dan Sang Kera bertanya mengapa dia tega bertindak sedemikian kejinya. Sang Buaya Jantan berkata bahwa istrinya sedang sakit parah dan harus makan jantung kera sebagai obatnya. Sehingga dia harus melakukan hal demikian pada Sang Kera. Kemudian Sang Kera berkata, bahwa dia selalu memberikan apa saja yang diminta Sang Buaya. Sang Kera kemudian memberi tahukan sebuah rahasia, bahwa dia selalu meloncat dari ujung dahan ke dahan lainnya, sehingga membawa jantung di badan sangatlah riskan. Dia menyembunyikan jantungnya di sebuah dahan yang tertutup oleh kerimbunan dedaunan. Sang Buaya diminta segera kembali menepikan ke dekat pohon mangga agar dia dapat segera mengambil jantungnya untuk diserahkan. Sang Buaya percaya dan membawa Sang Kera kembali ke tepi sungai yang segera melompat ke pohon mangga dan naik ke salah satu dahan.

 

Sang Kera menyampaikan bahwa bahwa Sang Buaya Betina tidak punya perasaan. Sedangkan Sang Buaya Jantan tidak mengerti arti persahabatan. Sang Buaya Jantan melongo merasa dipermainkan. Tetapi dia tak dapat memanjat pohon mengejar Sang Kera yang sudah terbebas dari ancaman kematian. Konon ceritanya dalam beberapa kali kehidupan Sang Kera lahir menjadi Sang Buddha, dan Sang Buaya Jantan menjadi Dewadatta. Sedangkan buaya betina lahir menjadi Ratu Cinca.

 

Pergaulan Mempengaruhi Kita, Apalagi Pasangan Hidup Kita

“Pergaulan dapat menginduksi kita dengan cara tersebut. Dengan makan, minum, dan bergaul dengan orang baik, kita ikut terinduksi menjadi baik. Jika melakukannya dengan orang yang tidak bermoral, kita juga akan terinduksi dan ikut menjadi orang yang tidak bermoral. Mengapa bisa demikian? Napas kita bisa secara otomatis menjadi selaras dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Apalagi jika orang-orang itu kita anggap sebagai sahabat. Dalam keadaan napas kita selaras, maka kita dapat saling mempengaruhi. Hal yang sama (penyelarasan napas) terjadi ketika kita bernyanyi bersama. Kemudian, muatan pada lirik lagu pun mempengaruhi jiwa kita. Lagu-lagu rohani yang dinyanyikan bersama menginduksi kita untuk bersama-sama memasuki alam rohani. Lagu-lagu disco mengantar kita kealam disco.” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual HYPNOTHERAPY, Seni Pemusatan Diri Untuk Bebas Dari Pengaruh Hipnosis Massal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Peringatan bagi kaum pria: Bila kesadaran anda lebih rendah dari pasangan anda, anda tidak perlu khawatir. Kesadaran pasangan anda dapat menarik anda ke atas. Asal anda tidak egois dan tidak menganggap wanita lebih rendah daripada pria, anda tidak menutup diri untuk belajar dari wanita. Celaka, bila kesadaran anda lebih tinggi dari kesadaran pasangan anda, karena kesadaran rendah pasangan anda dapat menarik ke bawah. Seorang pria tidak selalu mampu menarik ke atas kesadaran pasangannya yang lebih rendah.” (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013

Relief Candi Mendut: Kisah Kura-Kura dan Angsa Terbang, Dunia Menghambat Perjalanan Batin

Posted in Relief Candi with tags , , on August 7, 2013 by triwidodo

Mendhut-Tantri01 kura2 angsa wikipedia

Relief Kura-Kura dan Angsa Terbang di Candi Mendut sumber Wikipedia

Pasang-Surut Ego yang Rawan Masalah

“Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kura-Kura menggigit kayu yang dicengkeram dua angsa. Ada ketakjuban dalam diri Kura-Kura merasakan bagaimana terbang di angkasa. Ada serigala yang menghina, dan egonya tersinggung. Anak-anak kampung memuji dan egonya bertambah. Dan ketika para putri istana minta penjelasannya, Kura-Kura menjadi lengah karena egonya ingin menjelaskan dan terjadilah musibah.

 

Kisah Kura-Kura dan Angsa dalam Perjalanan Menuju Telaga Kebahagiaan

Di sebuah kolam kecil seekor kura-kura berteman dengan dua ekor angsa. Terpengaruh pergantian musim, kolam tersebut kadang menyusut, kadang melimpah airnya. Kala air melimpah mereka bersuka ria. Kala air menyusut mereka menderita, bahkan cemas bila mengering kolamnya. Kedua angsa berkata bahwa mereka sudah bosan mengalami suka dan duka yang tak ada habisnya. Yang mungkin akan dialami mereka sepanjang hidupnya, sampai ajal menjemput mereka. Kedua angsa baru saja mendengar berita gembira. Seekor burung bijaksana berkata bahwa di puncak gunung ada sebuah telaga. “Telaga Kebahagiaan” dengan mata air yang tak ada habisnya. Kedua angsa bertekad bulat akan terbang menuju “Telaga Kebahagiaan” yang dapat membahagiakan mereka selamanya. Kura-kura tertarik dengan tekad  angsa dan berniat ingin mengikutinya.

Mereka berupaya mencari jalan keluarnya, dan sebuah ide cerdas diajukan Kura-Kura. Kedua angsa menyetujuinya. Walau mereka berpesan agar kura-kura selalu waspada, karena lengah sedikit saja, bahaya besar menimpa. Kedua angsa mencengkeram sepotong kayu pada ujung-ujungnya, dan Kura-Kura menggigit di tengahnya. Sebelum terbang mereka berpesan agar kura-kura fokus menggigit kayunya dan tidak berbicara sepanjang perjalanannya.

Di atas ladang sepasang serigala berkata, yang menggigit kayu itu bukan kura-kura tetapi kotoran kerbau, oleh-oleh buat anak angsa. Di atas desa anak-anak kecil ternganga, melihat kura-kura menggigit kayu yang dibawa terbang angsa di kanan dan kirinya. Anak-anak desa melambaikan tangannya dan berteriak, betapa berbahagianya Kura-Kura. Seumur hidup belum pernah terjadi peristiwa yang demikian langka. Di atas taman istana para putri terpesona. Mereka ingin mengetahui bagaimana awal cerita Kura-Kura mendapat karunia yang luar biasa. Kura-Kura lengah ingin menjelaskannya. Gigitannya lepas dan jatuh, badannya terbelah dua.

 

Nasehat Buat Sang Raja

Sang Raja datang dengan penasehatnya. Penasehatnya menjelaskan mengapa Kura-Kura jatuh di istana. Kebiasaan terlalu banyak bicara membuat lengah dan mengundang bencana. Sang Raja sadar bahwa sudah lama Penasehat menasehatinya agar pembicaraannya dikurangi. Ada waktunya bicara dan ada waktunya berdiam diri. Selama ini Sang Raja selalu mendominasi pembicaraan dengan para menteri. Peristiwa kura-kura membuat dia memahami kekurangannya selama ini….. Konon setelah beberapa kehidupan, Sang Penasehat berinkarnasi menjadi Sang Buddha. Sedangkan Sang Raja menjadi salah satu muridnya. Kisah Kura-Kura dan Angsa dapat mengubah pandangan hidupnya.

Anand Krishna memberikan contoh Hanuman yang menyimpan cincin Sri Rama pada mulutnya dan tidak membuka sebelum bertemu Ibu Sita. “Dengan menyimpan cincin tersebut di dalam mulutnya, Hanuman menutup rapat mulutnya. Ia tidak membuka mulut sampai ia tiba di Lanka dan bertemu Sita. Hal ini penting sekali untuk diingat, yakni pelajaran untuk menyimpan rahasia. Ketika Anda menjalani sebuah misi penting, janganlah membicarakan mengenai pro dan kontra serta tetek bengek mengenai misi yang Anda emban dengan siapa pun.  Pembicaraan semacam itu hanya membuktikan ketidak-siapan dan ketidak-percayaan diri Anda. Dan kegagalan Anda sudah hampir bisa dipastikan. Apa gunanya menjalankan misi Anda kalau demikian? Dengan menutup rapat mulutnya, Hanuman membuktikan kesiap-sediaan, kepercayaan diri, serta kebulatan tekadnya untuk menjalankan misinya. Hanuman, oh Manusia Ideal, kemenanganmu adalah sesuatu yang pasti! Terjemahan Bebas dari Kutipan buku The Hanuman Factor (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kura-Kura yang Mengabaikan Pesan Angsa untuk Selalu Waspada

Sang Kura-Kura sudah dalam perjalanan menuju “Telaga Kebahagiaan”. Ibarat seseorang yang mengikuti Instruksi Guru menuju Kebahagiaan Abadi, akan tetapi dunia di bawahnya selalu merayu Kura-Kura untuk membatalkan perjalanan.

“Dunia tidak pernah berhenti merayu kita. Dunia tidak rela melepaskan diri kita. Ia selalu berupaya agar kita menjadi bagian darinya. Bila rayuannya tidak berhasil, ia akan mengecam, mengancam, mendesak dan memaksa dengan menggunakan segala daya upaya. Pokoknya, kita tidak boleh keluar dari lingkarannya. Lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan, tak ada habis-habisnya. Dunia ingin memiliki kita. Keluarga, kerabat dan orang-orang yang mengaku seumat dan seiman ingin memiliki kita. Lembaga-lembaga keagamaan dan politik berebutan untuk memiliki kita. Kadang mereka bergabung untuk menyatakan kepemilikan mereka atas diri kita. Kita perlu berhati-hati, perlu waspada. Sebenarnya dunia tidak dapat memperbudak kita untuk selamanya, kecuali bila kita membiarkannya. Kecuali bila kita mau diperbudaknya.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Masih Memikirkan Pendapat Orang dan Pandangan Dunia

Kura-Kura tidak fokus sepenuhnya kepada tujuannya. Dia masih memperhatikan apa kata orang di bawah sana. Dia merasa marah pada mereka yang menghinanya, dia menepuk dada pada mereka yang menyanjungnya. Kura-kura masih ragu, masih bimbang dia masih memperhatikan keduniawian. Masih ada keterikatan.

“Ah, kita masih ragu, masih bimbang, masih takut, masih memikirkan pendapat orang, dan pandangan dunia. Kita masih mengharapkan masyarakat merestui hubungan kita. Sesungguhnya, harapan kita tidak pada tempatnya. Kita tidak membutuhkan fatwa untuk berhubungan dengan Tuhan, kita tidak membutuhkan izin dari siapa pun jua. Pertama, dunia akan memastikan bahwa keluargamu menghalang-halangimu. Keluarga yang menginginkan keterikatanmu, karena ingin memperbudak jiwamu, ingin menguasaimu, selalu menjadi penghalang utamamu. Jarang sekali kita temukan misalnya di mana keluarga justru menunjang atau membantu. Kedua, kawan dan kerabat akan meninggalkanmu. Ketiga, kau akan difitnah oleh dunia, berbagai hujatan akan dilontarkan kepadamu.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Yakin dan Sabar sebagai Teman Seperjalanan

“Keyakinan dan kesabaran adalah perahu yang dapat mengantarmu ke tepi seberang. Keyakinan dan kesabaran membersihkan jiwa dan menyucikan hati. Keyakinan dan kesabaran melenyapkan rasa takut, dan membebaskan kita dari segala macam penderitaan, keculitan, serta keraguan. Keyakinan dan kesabaran ibarat saudara kembar yang senantiasa melindungi kita dari segala macam marabahaya.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Sacharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013