Archive for samskara

Obsesi dan Impresi Penyebab Kita Lahir Kembali

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on January 7, 2019 by triwidodo

Pemahaman Esoteris Pernikahan Rukmini Krishna

Rukmini adalah seorang putri raja, ketenaran, kekayaan, kedudukan, kebangsawanan melekat pada dirinya. Kecantikan dan kemuliaan hatinya tiada bandingnya. Walaupun demikian Rukmini tidak bahagia, semua berkah duniawi tidak membahagiakannya. Dia hanya mencintai Krishna dan mohon bantuan seorang brahmana untuk membantunya menyatu dengan Krishna. Krishna berkenan menjemput Rukmini.

Bhishmaka, raja Vidarbha memiliki  5 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, anak sulung adalah Rukmi sedangkan putrinya bernama Rukmini. Bhishmaka telah mendengar banyak cerita tentang Krishna dan berharap dia menjadi menantunya. Namun Bhishmaka tahu bahwa hal itu mungkin tidak mungkin karena ayah mertua Kamsa adalah Maharaja Jarasandha, yang bersumpah untuk membunuh Krishna. Kerajaan Vidharba sendiri berada di bawah kekuasaan Jarasandha.

Rukmi, putra mahkota Kerajaan Vidharba dan Shisupala, putra mahkota Kerajaan Chedi adalah murid dari Jarasandha. Rukmi ingin Rukmini kawin dengan Shisupala. Ketika Rukmini mendengar bahwa Rukmi telah memilih Shisupala sebagai calon suaminya, Rukmini sedih dan bersumpah ingin menikah dengan Krishna atau mati.

Rukmini meminta bantuan Brahmana tua yang bijak Sunanda untuk menghadap Krishna. Rukmini menulis sebuah catatan kepada Krishna bahwa dia ingin Krishna menjadi suami untuknya dan bertanya apakah Krishna akan datang dan membawanya pergi dari Vidharba. Rukmini menyampaikan bila Krishna tidak menyetujui, maka dia akan bunuh diri daripada kawin dengan Shisupala. Rukmini menceritakan bahwa hari pernikahan dengan Shisupala sudah dekat. Bila Krishna berkenan dia pada hari pernikahan akan akan pergi ke Kuil Parvati dan pada saat itu Krishna bisa membawanya ke Dvarka. Brahmana Sunanda menyampaikan pesan Rukmini tersebut kepada Krishna.

Krishna sudah lama mendengar tentang Rukmini dan ingin menikahinya. Setelah menerima pesan tersebut, Krishna bersedia untuk membawa Rukmini dan menikahinya. Krishna pergi ke Vidarbha terlebih dahulu dan Balarama mengikuti dari jauh dengan pasukannya. Pada hari pernikahan, Rukmini ke kuil dan memperhatikan apakah ada Krishna yang menjemputnya. Rukmini tidak melihatnya. Akan tetapi saat Rukmini akan memasuki kereta, dia merasa ada yang menahannya dari belakang dan itu adalah Krishna. Krishna mengangkatnya ke kereta dan melesat pergi.

Silakan baca: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/08/29/rukmini-berharap-hanya-pada-gusti-pangeran-tak-mau-lainnya-srimadbhagavatam/

Seorang Master memberikan makna bahwa pernikahan Rukmini bukan sekedar pernikahan. Rukmini adalah simbol Jivatma (Jiwa Individu) dan Krishna adalah Paramatma (Sang Jiwa Agung). Brahmana yang menjadi perantara adalah simbol berkarya tanpa pamrih tanpa keterikatan dan menjadikan semua tindakan sebagai persembahan yang memandu Individu menuju Tuhan.

Kakak Rukmini dan ayahandanya adalah simbol keduniawian. Ayahanda Rukmini tahu negaranya berada di bawah kewenangan musuh Krishna, sedangkan Rukmi menjodohkan Rukmini dengan Shisupala.

Rukmini sebagai wujud prakrti (materi, alam benda, keduniawian) menderita karena pagar pembatas yang dibuat keduniawian. Akan tetapi sadachara, perilaku baik, sadhana dan melayani alam tanpa keterikatan hanya sebagai persembahan kepada Tuhan, membuat Rukmini sadar bahwa dirinya adalah Jivatma, yang hanya rindu pada Tuhan, Paramatma. Krishna, Paramatma dengan anugrah, berkah-Nya membawa Rukmini ke istana-Nya.

Mari merenung sejenak, apabila kita sudah hidup nyaman dan berkelimpahan di dunia, apakah kita rela meninggalkan semua demi Tuhan semata?

Rukmini sudah tidak memiliki passion terhadap duniawi (Vasana), dan impression terhadap duniawi (Samskaras)

Kita Semua Lahir Karena Punya 2 Penyakit: Vasana dan Samskaras

Guruji Anand Krishna menyampaikan:

Para Ilmuwan Modern menyatakan bahwa individual ego adalah halusinasi. Adalah halusinasi bahwa kita adalah individual.  Fisika membuktikan sekarang bahwa ragu atau tidak ragu, mereka bicara tentang entanglement theory, superstring. Kita semua terhubung walau kita menyadari atau tidak.

Individual ego adalah ilusi. Para yogi sudah membicarakan itu ribuan tahun yang lalu. Ego kalian, “I” adalah ilusi. Tubuh adalah ilusi.

Kita harus googling atau youtube beberapa tahun yang lalu. The Powers of Ten. Apabila kalian melihat ke dalam sampai tingkat molekul, kalian akan menemukan nothingness, kekosongan. Dan kalian pergi ke luar, kalian melampaui galaksi, kalian akan menemukan kekosongan lagi. Semuanya hanyalah sementara. Jauh di dalam silence, tenang, jauh di luarsilence, tenang.

Buddha 2500 tahun yang lalu mengutip Veda, semuanya adalah keseluruhan atau nol. Bagaimana mendefinisikan nol (zero). Nol datan dari para Yogi. Nol adalah sempurna atau kosong. Dua-duanya benar. Karena hanya kekosongan yang dapat disebut sempurna.

Science menyadari hal itu. Semuanya adalah kekosongan. Dan dari mana datangnya passion. Dari pandangan Yogi, kita semua ada, mempunyai tubuh ini, kita semua menderita sakit sehingga kita berada di rumah sakit. Alam ini adalah rumah sakit.

Sakit kita hanya ada 2:

  1. Passion/obsession, vasana
  2. Impression, samskaras

Saat kalian melihat sesuatu otak kalian mencatatnya. Impresi dan obsesi membuat kita lahir kembali. Kita passion terhadap dunia. Kemudian seseorang mengatakan bahwa kalian grounded, tidak ada yang terbang.

Biarkan saya memberi tahu mengapa kita lahir adalah untuk melampaui passion. Tidak diperbudak oleh passion. Saat kita berjalan di atas dua kaki. Kita sesungguhnya telah defy, menentang gravitasi. Kita seharusnya merangkak. Kita tidak merangkak seperti hewan.

Elemen air selalu ke bawah. Elemen api bergerak ke atas. Sesungguhnya kita telah menentang hukum gravitasi. Dan kita semua berada di sini untuk keluar dari passion. Tidak passion terhadap segala sesuatu. Hanya ketika kalian bisa pergi meninggalkan passion kalian akan dapat benar-benar mencinta. Sebelum itu kalian tidak dapat mencintai. Kalian infatuated, kalian melihat seseorang cantik atau tampan, dapat bicara dengan benar, sophisticated, kalian jatuh cinta.

Kalian dapat bangkit dalam cinta bila kalian bisa meninggalkan passion. Hanya etelah itu kalian tahu arti cinta.

Sumber: Rising in Love Going Beyond Ego and Passion Video Youtube by Anand Krishna

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Meditasi Membebaskan Diri Kita dari Kebiasaan Buruk

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 2, 2018 by triwidodo

Kusir Yang Menjadi Budak Kebiasaan Yang Salah

Seorang Master berkisah tentang seorang kusir yang memacu keretanya dengan cepat ke stasiun mengantar banyak penumpang yang berada di dalam keretanya. Sang kusir menarik tali kekang dan mencambuk tanpa kasihan di punggung dan leher sang kuda agar dapat berlari lebih cepat.

Seorang pria tua berjanggut, yang nampak sehat dan cerah yang berpapasan dengan kereta yang dkendarai sang kusir berteriak, “Jangan memegang  tali kekang kuda terlalu kuat, biarkan kuda bebas berlari. Kuda akan berlari lebih cepat.”

Sang kusir menjawab, “kau diam saja! Aku lebih tahu tentang kudaku.” Salah satu penumpang dari dalam kereta bertanya kepada sang kusir, “Menurut Anda, orang tua itu siapa?”

Sang kusir menjawab, “Aku tidak peduli siapa dia?”

Kemudian sang kusir mendengar suara (adalah sang kuda yang berbicara), “Dia adalah Krishna, yang menjadi kusir Arjuna. Dia mengetahui segala hal tentang kuda.”

Sang kusir mengira yang berbicara adalah salah satu dari penumpangnya. Dia melihat ke dalam kereta dan berkata, “Ya, Dia tahu segala hal tentang kuda-kuda Arjuna, tetapi apa dia tahu  tentang kuda-kudaku?”

 

Jadikan Sri Krsna – Sang Sais Agung – sebagai sais Kereta Kehidupan kita, maka tidak ada lagi kekalahan, tidak ada lagi kegagalan. Saat ini, kita menempatkan nafsu berahi kita, keserakahan kita, keangkuhan kita, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan.

Apabila kita menempatkan Akal Sehat dan Pikiran Jernih, dan Hati yang Bersih pada posisi sais, hidup akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Hidup kita dapat menjadi suatu Perayaan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

“Samskara” berarti “kesan, dampak, tindakan yang kita lakukan berdasar ego kita”. Ketika kita melakukan tindakan semacam itu, sebuah kesan halus tersimpan dalam pikiran kita. Setiap kali aksi diulang, kesan menjadi lebih kuat. Begitulah kebiasaan terbentuk. Semakin kuat kebiasaannya, semakin sedikit penguasaan yang kita miliki di atas pikiran kita di saat kita mencoba melakukan tindakan yang bertentangan dengan pola kebiasaan kita. Orang yang terbiasa merokok, akan sulit berhenti, walau pikiran jernihnya ingain menghentikan kebiasaan tersebut. Tindakan yang sudah terbiasa diulang-ulang akan membentuk karakter.

Setiap Orang Merasa Dirinya Bebas Bertindak Padahal Dia Diperbudak Oleh Conditioning

Dalam Bhagavad Gita Pembukaan Percakapan ke 16 disampaikan: “Setiap orang secara a priori (tanpa pengalaman empiris — a. k.) percaya bahwa dirinya bebas untuk bertindak semaunya, dan bahwasanya setiap saat ia bisa memulai hidup baru……. Namun, secara a posteriori (lewat pengalaman empiris — a.k), dalam pengalaman hidup yang nyata, ia pun menyadari bila dirinya tidak bebas……. bahwasanya walau sudah membuat berbagai resolusi dan refleksi; tetaplah ia tidak mampu mengubah dirinya. Sejak awal hingga akhir hidupnya, ia tetap mesti menjalani peran yang barangkali tidak disukainya.” Arthur Schopenhauer (The Wisdom of Life, 1851)

Berdasarkan samskara atau “hikmah bawaan” dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, adalah dua Kecenderungan atau Karakter utama yang menjadi “pilihan alami” setiap manusia: SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Melampaui Perbudakan Conditioning Lewat Meditasi

Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang ia peroleh. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya.

Tragisnya: sudah tidak bebas, dia juga tidak sadar bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang perlu diekspresikan.

Meditasi mengantar kita pada penemuan jatidiri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya. Kemudian, synap-synap baru yang masih labil, yang muncul-lenyap, muncul-lenyap adalah thoughts atau satuan pikiran. Thoughts akan selalu segar. Tidak basi seperti mind. Dengan thoughts kita bisa hidup dalam kekinian. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bukan Hanya Sang Kusir Dalam Kisah, Kita pun Ter-Conditioning

Manusia yang serakah, yang berbudaya “tak kunjung cukup”, keadaannya sama seperti orang yang ketagihan obat-obatan. Persis seperti para pencandu, para korban narkotika. Ketagihan oleh narkotika atau oleh uang, seks dan lain-Iain, mekanismenya sama: dosisnya harus bertambah terus.

Reseptor-reseptor synap yang sudah terbentuk membutuhkan stimulus-stimulus yang sesuai dengan kebutuhannya. Kemudian, jika kebutuhannya dipenuhi terus, kepekaan reseptor akan semakin menurun, sehingga untuk memperoleh kenikmatan yang sama, dosisnya harus ditambah.

Itu sebabnya, para pencandu sulit sekali melepaskan narkotika. Begitu pula dengan para elite politik yang haus akan kekuasaan dan para konglomerat yang haus harta. Yang tadinya hanya mencak-mencak di luar, sekarang menjadi MPR. Tadinya hanya menguasai satu kelompok kecil, sekarang merasa menguasai negara. Ya, semakin menjadi-jadi.

Jelas semakin menjadi-jadi, karena kebutuhannya akan semakin meningkat. Dan ia pun akan mencari stimulus yang lebih bcsar. Budaya “tak kunjung cukup” ini saya sebut, “Ketagihan stimulus pemenuh instink hewani” atau “Property Addict” yang persis sama dengan “Narcotic Drug Addict”.

Budaya ini dengan sendirinya menciptakan rasa kepemilikan atau keterikatan dengan stimulus-stimulus tersebut. Itu yang menjelaskan kenapa seorang pejabat selalu terikat dengan jabatannya.

Ya, terikat dengan stimulus-stimulus yang sangat tidak berarti. Sampai menjadi tergantung—addicted! Seperti perokok yang tidak bisa melepaskan rokoknya. Karena sudah terbiasa merokok, kalau tidak merokok mulut serasa kecut. Karena sudah begitu biasa disanjung-sanjung, begitu pensiun dan kehilangan jabatan, lalu senewen!

Padahal dalam konsep yoga atau meditasi sebagaimana kita selami di Ashram, kesadaran manusia berlapis-lapis. Dari mulai kesadaran fisik yang paling luar, paling rendah dan paling kasar, sampai pada yang semakin dalam, semakin tinggi dan semakin halus. Ada yang disebut conscious mind, subconscious mind—lalu superconscious mind atau cosmic mind.

Bagi mereka yang masih berada pada lapisan fisik arau conscious mind, melampaui lapisan tersebut pasti terasa Sangat sulit. Untuk itu, dalam hidup sehari-hari, instink-instink hewani harus dikendalikan.

Salah satu contoh: Makan bila sungguh-sungguh lapar dan berhenti makan sebelum kenyang merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan instink hewani yang berkaitan dengan rasa lapar. Demikian kita tidak akan terbawa oleh “budaya tak kunjung cukup”.

Kemudian jika kebiasaan ini diulangi terus-menerus dengan penuh kesadaran, reseptor synap lapar akan mengalami regresi ataupun perubahan, sehingga yang biasanya menagih porsi besar akan puas dengan porsi yang kecil.

Cara ini dapat diterapkan untuk mengendalikan instink-instink lain. Dalam hal ini, kata kuncinya adalah “kesadaran”. Seseorang harus melakukannya atas kemauan sendiri—dan dengan kesadaran sendiri. Jika dipaksa, justru akan menciptakan obsesi dan synap-synap baru. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Mereka Yang Sudah Melampaui Conditioning dan Berpikiran Jernih

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;” Bhagavad Gita 16:1

Krsna sedang menjelaskan karakter atau kecenderungan mereka yang lahir dengan dan dalam kesadaran. Sejak lahir, mereka sudah memiliki kecenderungan-kecenderungan ini sebagai balance-carried forward dari masa kehidupan sebelumnya. Mereka sedang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak perlu lagi mengembangkan karakter, kecenderungan, atau “sifat-sifat bawaan” tersebut—mereka hanya mesti memelihara dan mempertahankannya. Sebuah pekerjaan berat juga, tidak mudah. Tapi, setidaknya mereka tidak lagi membuang waktu untuk mengembangkan semua itu.

TIDAK DEMIKIAN DENGAN KITA, yang kemungkinan besar, tidak memilikj saldo seperti ini dari masa kehidupan sebelumnya. Berarti kita mesti bekerja keras untuk mengembangkannya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

Kehendak Bebas Manusia Terbelenggu Pola Kebiasaan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on March 13, 2018 by triwidodo

Ini kisah tentang anak laki-laki menjelang remaja yang sulit mengendalikan emosinya. Saat dia terpicu kemarahan dia akan mengumpat dan bahkan memukul orang. Ayahnya seorang yang paham tentang pengalihan energi kemarahan agar tidak melukai rasa orang lain. Ayahnya memberinya sekantong paku dan palu dan berkata, “Setiap kali kau marah, palu satu paku ke pagar di belakang rumah.

Beberapa hari pertama remaja itu memalu banyak paku. Kemudian selama beberapa minggu berikutnya, amarahnya sudah mulai terkendali sehingga paku yang dipalu semakin sedikit. Sampai suatu kali dia tidak mengeluarkan amarah lagi, amarahnya sudah dikuasainya, dan dia tidak memalu paku lagi…..

Kemudian ayahnya berkata bahwa setiap hari dia dapat mengendalikan kemarahan, keesokan harinya satu paku harus dicabutnya. Pada hari terakhir paku di pagar halaman belakang sudah habis dicabut, ayahnya berkata, “Kau sudah dapat mengendalikan amarahmu, akan tetapi lihatlah lobang-lobang bekas paku di pagar. Demikianlah kau sudah mengendalikan kemarahan, akan tetapi masih meninggalkan bekas pada orang yang pernah kau marahi…………

Tindakan aksi akan mengakibatkan reaksi dan walaupun kau sudah dapat mengendalikan amarah, kau akan tetap menerima aksi kemarahan yang pernah kau lakukan pada orang lain…… itulah hukum sebab-akibat.

Bahkan kebiasaan kita telah membekas sebagai kesan yang tersimpan dalam pikiran kita.

“Samskara” berarti “kesan, dampak, tindakan yang kita lakukan berdasar ego kita”. Ketika kita melakukan tindakan semacam itu, sebuah kesan halus tersimpan dalam pikiran kita. Setiap kali aksi diulang, kesan menjadi lebih kuat. Begitulah kebiasaan terbentuk. Semakin kuat kebiasaannya, semakin sedikit penguasaan yang kita miliki di atas pikiran kita di saat kita mencoba melakukan tindakan yang bertentangan dengan pola kebiasaan kita. Orang yang terbiasa merokok, akan sulit berhenti, walau pikiran jernihnya ingain menghentikan kebiasaan tersebut. Tindakan yang sudah terbiasa diulang-ulang akan membentuk karakter.

Anak remaja tersebut sudah berhasil memberdayakan diri untuk mengendalikan amarah. Akan tetapi kebiasaan marah sendiri walau sudah di-delete masih ada file-samskara-nya dan bisa terpicu lagi.

Kehendak kita tidak bebas karena masih terpengaruh karakter bawaan masa lalu

Dalam Bhagavad Gita Pembukaan Percakapan ke 16 disampaikan: “Setiap orang secara a priori (tanpa pengalaman empiris — a. k.) percaya bahwa dirinya bebas untuk bertindak semaunya, dan bahwasanya setiap saat ia bisa memulai hidup baru……. Namun, secara a posteriori (lewat pengalaman empiris — a.k), dalam pengalaman hidup yang nyata, ia pun menyadari bila dirinya tidak bebas……. bahwasanya walau sudah membuat berbagai resolusi dan refleksi; tetaplah ia tidak mampu mengubah dirinya. Sejak awal hingga akhir hidupnya, ia tetap mesti menjalani peran yang barangkali tidak disukainya.” Arthur Schopenhauer (The Wisdom of Life, 1851)

Berdasarkan samskara atau “hikmah bawaan” dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, adalah dua Kecenderungan atau Karakter utama yang menjadi “pilihan alami” setiap manusia: SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia lewat #BhagavadGitaIndonesia

 

Penjelasan Patanjali tentang kebiasaan yang sudah tidak dilakukan tapi masih ada dalam memori

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

Hola sudah lama lepas, sudah bersih dari rokok, shabu, ganja, dan sebagainya. Tetapi, ketika ia mencium aroma tembakau atau daun ganja yang terbakar, “Wah aromanya sedap sekali!” Berarti, ia masih memiliki retrievable file tentang memori sedapnya aroma tembakau dan ganja.

Sebaliknya, Bola yang memang tidak pemah dan tidak suka merokok, saat mencium aroma yang sama, memberikan komentar berbeda, “Bau apa ini, apa yang terbakar?!” Hola dan Bola mencium aroma yang sama. Namun, komentar mereka sesuai clengan purva samskara mereka masing-masing. Hola punya pengalaman sebagai “pemakai” pada masa lalu, maka aroma itu diterjemahkannya sebagai “sedap”. Bola tidak punya pengalaman rnasa lalu, maka ia menerjemahkannya sebagai “bau bakar”—bahkan, “bakar apa” pun tidak bisa ditentukannya.

Dalam hal ini, Hola dengan bekas residu atau sisa impresi masa lalu “berpotensi” untuk tergoda dan mulai merokok lagi, “memakai” lagi. Sebaliknya, Bola yang tidak memiliki seperti itu, relatif lebih aman.

CELAKANYA, DALAM HAL KEBENDAAN, tidak seorang pun di antara kita yang bisa menyebut dirinya Bola, yang bisa menganggap berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola. Kita semua belum aman. Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanlta, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada ‘pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah behas seperti Bola, dan berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola, masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri. Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya.

RETRIEVABLE FILES PURVA SAMSKARA hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan.

Jadi, selain mengeliminasi files dari masa lalu, kita pun mesti pintar-pintar menjalani, melewati masa kini tanpa meninggalkan residu. Kita mesti hidup tanpa menyisakan sampah-kesan. Kalau tidak, maka sepanjang usia kita akan tersibukkan oleh upaya penghapusan files masa lalu, sembari menambah files masa kini yang kelak akan menantang dan mengganggu kita lagi.

Untuk itulah adanya teknik-teknik dalam Yoga, yang akan kita dalami sepanjang perjalanan kita lewat sutra-sutra ini. Pun, di bagian akhir buku ini, ada beberapa saran yang sudah teruji dan terbukti manfaatnya, dan dapat membantu Anda. Penjelasan Patanjali I.18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kelahiran ulang pun akibat samskara masa lalu

“Kendati sudah videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan prakrti atau alam-benda—kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.” Yoga Sutra Patanjali I.19

Kehendak itu muncul dari purva samskara, dari residu kesan-kesan sepanjang hidup yang masih ada dalam gugusan pikiran serta perasaan.

BERARTI, SAAT KEMATIAN, hanya elemen-elemen alami kebendaan murni, seperti air, api, tanah, udara, dan subtansi eter dalam ruang saja yang terurai. Elemen-elemen halus, seperti mind, manah atau gugusan pikiran serta perasaan; ego atau ahamkara, dan sebagainya belum terurai. Mereka masih mengkristal, masih utuh—dan mereka inilah yang kemudian mencari badan baru untuk mengalami kehidupan-ulang.

Keadaan tersebut adalah keadaan umum. Biasanya demikian. Tidak selalu. Jika semasa hidup seseorang sudah bebas dari residu kesan dan pesan masa lalu, pun tiada lagi sesuatu yang dapat mengikat dirinya dengan alam benda, maka saat kematian fisik, bukan saja elemen-elemen alami seperti tanah, air, dan sebagainya yang terurai—mind, ego, intelek, semua ikut terurai. Tiada lagi sesuatu yang mengkristal. Tiada kesan dan pesan; tiada ingatan atau obsesi; tiada niat untuk “berada” kembali di alam benda ini—maka, Jiwa Individu atau Jivatma menyatu dengan Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Bagaimana mencapai keadaan itu? Selesaikan semua pekerjaan sekarang, saat ini, dalam kehidupan ini juga. Jangan menyisakan pekerjaan rumah. Jangan menyisakan sesuatu yang bisa menjadi benih, bisa menjadi citta yang rentan terhadap vrtti, gejolak, fluktuasi, modifikasi; dan dapat memulai serangkaian pengalaman-pengalaman baru.

AKAR DARI SEGALA PENYAKIT ADALAH ASMITA’—KE-AKU-AN, identitas-diri yang salah. Menganggap diri sebagai badan; manah, mind, dan gugusan pikiran serta perasaan; intelek; dan sebagainya—inilah akar segala penyakit, inilah sebab kelahiran kembali di alam-benda. Dari asmita atau ke-aku-an inilah timbul vasana, obsesi-obsesi yang menjadi samskara, atau kesan dan smrti atau memori. Demikian, terkumpullah bahan-bahan untuk kelahiran ulang. Penjelasan Patanjali I.19 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengubah Kebiasaan Lama #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on January 21, 2018 by triwidodo

Dikisahkan seorang anak yang memiliki seekor anjing sedang berjalan-jalan dengan anjingnya bersama salah seorang temannya. Si pemilik anjing ingin memberi anjingnya yogurt tetapi tidak punya uang, demikian pula temannya, tidak membawa uang juga.

Mereka memperhatikan orang-orang yang pada membeli yogurt atau susu pada warung di dekat mereka. Mereka berdua berpikir keras bagaimana caranya agar anjingnya dapat makan yogurt.

Aha, teman si pemilik anjing melihat seorang berbadan tegap dan berjalan dengan langkap mantap ke arah warung tersebut. Anak tersebut berkata bahwa orang tersebut pasti seorang tentara. Temannya bertanya, bagaimana dia bisa tahu? Dia berkata bahwa langkah orang tersebut sangat mantap, tuk-wak, tuk-wak (satu-dua, satu-dua), kiri-kanan, kiri kanan……

Mereka melihat orang tersebut membeli segelas plastik yogurt dan berjalan di dekat mereka. Anak-anak itu bersama anjingnya mengikuti orang tersebut, dan salah satu dari  mereka berkata, “Tuk-wak, tuk-wak, kiri-kanan, kiri kanan….” Mereka melangkah bersama layaknya seperti baris-berbaris dalam sebuah barisan pasukan. Orang tegap tersebut tersenyum dan mengikuti aba-aba anak-anak. “Tuk-wak, tuk-wak, kiri-kanan, kiri kanan….” Semakin lama semakin cepat anak itu memberi aba-aba dan tiba-tiba dia berteriak, “Berhenti….. gerak!” Si orang tegap tersebut tiba-tiba berhenti dan lupa membawa yogurt dan yogurtnya jatuh. Segera saja anjing si anak makan yogurt yang jatuh tersebut.

Si anak bertanya kepada orang tersebut, mengapa dia menjatuhkan yogurt di tangannya. Orang tersebut menjawab, saat diberi aba-aba dia seperti lupa diri, dia mengikuti kebiasaan baris-berbaris dan saat berhenti, sebagaimana kebiasaan yang dikerjakannya, kedua tangannya diletakkan di samping badan dan yogurt yang dipegang jatuh.

Orang tersebut segera kembali ke warung membeli segelas plastik yogurt lagi.

Berhati-hatilah dengan kebiasaan lama, bisa saja menjadi kejatuhan kesadaaran kita.

Bukan hanya kebiasaan, tapi kebiasaan yang sudah dhapus pun masih berbahaya

Kesan-kesan dari masa lalu ini boleh diumpamakan sebagai file yang sudah di-delete, tapi belum musnah, masih ada di hard-disk, masih bisa di-retrieve. Retrievable file ini, walau tidak “se”-berbahaya file memori yang masih terpakai, tapi tidak aman-aman pula.

CONTOH LAIN. Hola sudah lama lepas, sudah bersih dari rokok, shabu, ganja, dan sebagainya. Tetapi, ketika ia mencium aroma tembakau atau daun ganja yang terbakar, “Wah aromanya sedap sekali!”

Berarti, ia masih memiliki retrievable file tentang memori sedapnya aroma tembakau dan ganja.

Sebaliknya, Bola yang memang tidak pemah dan tidak suka merokok, saat mencium aroma yang sama, memberikan komentar berbeda, “Bau apa ini, apa yang terbakar?!”

Hola dan Bola mencium aroma yang sama. Namun, komentar mereka sesuai clengan purva samskara mereka masing-masing. Hola punya pengalaman sebagai “pemakai” pada masa lalu, maka aroma itu diterjemahkannya sebagai “sedap”. Bola tidak punya pengalaman rnasa lalu, maka ia menerjemahkannya sebagai “bau bakar”—bahkan, “bakar apa” pun tidak bisa ditentukannya.

Dalam hal ini, Hola dengan bekas residu atau sisa impresi masa lalu “berpotensi” untuk tergoda dan mulai merokok lagi, “memakai” lagi. Sebaliknya, Bola yang tidak memiliki seperti itu, relatif lebih aman.

 

CELAKANYA, DALAM HAL KEBENDAAN, tidak seorang pun di antara kita yang bisa menyebut dirinya Bola, yang bisa menganggap berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola. Kita semua belum aman. Wujud kita beda, jenis residu kita beda; tapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki residu atau sesa dari purva samskara—impresi-impresi dari berbagai pengalaman pada masa lalu.

Ada yang memiliki kesan dan impresi merokok; ada yang memiliki kesan menyabu; ada yang punya pengalaman dengan scotch; ada yang pernah termabukkan, tergila-gila oleh harta; ada yang oleh takhta; ada yang oleh wanlta, pria, atau di antaranya; ada yang masih memiliki kesan berkeluarga pada masa lalu, sebaliknya, ada ‘pula yang punya kesan melarikan diri dari tanggung jawab dan menyepi di hutan.

Intinya, tidak seorang pun bisa menyebut dirinya sudah behas seperti Bola, dan berada dalam wilayah aman. Kita semua Hola, masih dalam zona bahaya, danger zone! Jadi, sudah melakoni hidup berkesadaran selama berapa tahun pun, kita mesti tetap menjaga diri.

Kita mesti tetap berniat kuat, dan berupaya terus-menerus untuk mengeliminasi kesan-kesan dari masa lalu tersebut. Retrievable files mesti dihapus untuk selamanya.

 

RETRIEVABLE FILES PURVA SAMSKARA hanya membutuhkan trigger kecil, pemicu berkekuatan rendah di luar, untuk muncul kembali ke permukaan.

Jadi, selain mengeliminasi files dari masa lalu, kita pun mesti pintar-pintar menjalani, melewati masa kini tanpa meninggalkan residu. Kita mesti hidup tanpa menyisakan sampah-kesan. Kalau tidak, maka sepanjang usia kita akan tersibukkan oleh upaya penghapusan files masa lalu, sembari menambah files masa kini yang kelak akan menantang dan mengganggu kita lagi.

Untuk itulah adanya teknik-teknik dalam Yoga, yang akan kita dalami sepanjang perjalanan kita lewat sutra-sutra ini. Pun, di bagian akhir buku ini, ada beberapa saran yang sudah teruji dan terbukti manfaatnya, dan dapat membantu Anda. Yoga Sutra Patanjali I.18 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mengubah Kebiasaan Lama

“Di antara Daitya, Danava, atau raksasa, Akulah Prahlada, panembah yang teguh dalam keyakinannya; di antara segala perhitungan, Akulah Sang Kala, waktu; di antara hewan, Akulah Raja Rimba atau Singa; dan, di antara burung, Akulah Burung Garuda.” Bhagavad Gita 10:30

Raksasa, Danava atau Daitya bukanlah kaum yang “terkutuk” dan mesti dimusuhi hingga akhir zaman. Tidak ada permusuhan mutlak atau abadi seperti itu. Di sinilah letak kemuliaan Gita dan Krsna.

DI ANTARA PARA DAITYA, DANAVA ATAU RAKSASA PUN, jika ada seorang Prahlada yang memutuskan untuk “berubah” — maka pintu kesempatan terbuka lebar baginya. Berubah, dalam hal ini berarti the conversion of heart — konversi hati. Bukan berubah kepercayaan atau keyakinan. Bukan pula perubahan ideologi. Tapi, perubahan-hati. Perubahan karakter.

Sejak usia dini, berkat pendidikan yang diperolehnya, Prahlada sudah merasa “tidak pas”, tidak cocok dengan karakteristik raksasa ayahnya.

la melakukan pemberontakan terhadap kebiasaan-kebiasaan, adat-istiadat, tradisi, dan segala sesuatu yang bersifat raksasa – alias, bersifat materialistis.

JIKA KITA INGIN BERUBAH, mau-tidak-mau, kita pun mesti bersikap seperti Prahlada. Tidak bisa adem ayem, berubah piece-by-piece, sedikit-sedikit. Tidak bisa. Perubahan sikap mesti terjadi secara drastis. Ini yang dilakukan oleh Prahlada. Pertama, ia mengubah dietnya. Para raksasa makan daging, ia makan sayur-mayur. Para raksasa mengejar kemewahan, ia hidup bersahaja. Para raksasa membanggakan diri sebagai makhluk kuat dan terpilih, ia bersikap rendah-hati. Prahlada bertolak belakang dari segala kebiasaan ayahnya.

PERUBAHAN SEPERTI INILAH YANG MESTI TERJADI. Sifat tegas dan ketegasan seperti inilah yang patut kita contohi. Tanpa ketegasan Prahlada — kita tidak bisa berubah. Kita akan tetap menjadi raksasa, hanya berjubah manusia saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Melepaskan Ingatan Terhadap Wanita Cantik

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , on December 18, 2017 by triwidodo

 

Kisah versi Indonesia ini, hanya beda sedikit setting panggungnya dengan kisah zen, tapi inti kisahnya sama.

Dua orang murid perguruan spiritual sedang berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah Guru mereka. Salah seorang dari mereka sudah senior sedangkan satunya masih yunior. Akhirnya sampailah mereka ke tepi sungai dangkal yang biasa dilewati orang untuk pergi ke seberang sungai. Pada waktu itu arus sungai cukup deras, sehingga bagi perempuan agak was-ws juga menyeberanginya.

Adalah seorang wanita cantik yang minta pertolongan murid senior untuk membawa sang wanita pada punggungnya menyeberangi sungai tersebut. Sang murid senior menyanggupi dan jadilah wanita cantik tersebut dibantunya naik di atas bahunya sampai keseberang. Sang murid yunior mengikutinya dari belakng memperhatikan betapa cantiknya wanita yang dipanggul temannya.

Sang wanita mengucapkan terima kasih dan kemudian mohon diri dan mereka berpisah. Sang murid yunior nampak kesal.

Setelah jalan beberapa lama dan sudah mendekati rumah sang guru, sang murid yunior kelihatan masih kesal. Sang murid senior bertanya apakaah ada sesuatu yang dipikirkan oleh sang murid yunior. Sang murid yunior berkata, apakah baik bagi mereka menyentuh wanita dan bahkan memanggulnya menyeberangi sungai. Mengapa sang murid senior melakukannya?

Sang murid senior tersenyum dan berkata bahwa dia telah meninggalkan wanita itu setelah menyeberangi sungai, akan tetapi nampaknya sang murid yunior masih membawa wanita itu (dalam ingatannya) sampai saat ini…………..

Sang murid yunior tersadarkan, dalam diri manusia masih ada samskara, kesan-kesan kehidupan masa lalu yang belum terhapus file-nya dari diri manusia, walau mereka sudah berguru dan menempuh jalan spiritual. Dia harus men-delete file ketertarikan dengan wanita yang membuat pikiran menjadi kacau. Sedangkan sang murid senior mungkin mempunyai sifat bawaan daivi atau mulia sejak lahir.

Sang murid yunior ingat beberapa penjelasan Bhagavad Gita tentang samskara dan sifat bawaan sejak lahir tersebut:

 

Bhagavad Gita tentang Samskara, kesan-kesan keidupan masa lalu

Program komputer dalam diri kita

Anda, saya – kita memiliki Window masing-masing. Setiap window memproses kehidupan kita sejak awal mulanya planet ini – bahkan ada yang sejak awal mula semesta. Banyak file masih terbuka, masih di-“kerja”-kan. Banyak yang sudah tertutup, tersimpan rapi.

Jika masih tetap mau berada di window, maka tidak perlu tergesa-gesa. Nanti, ketika Komputer Kolosal ini crash, atau ada bagian kecilnya yang sudah mesti istirahat — window kita akan tertutup sendiri dengan segala pekerjaan yang belum terselesaikan di-zip menjadi benih baru untuk masa-keberadaan berikutnya.

Tapi, jika kita berniat untuk segera menyelesaikan pekerjaan kita — maka, JANGAN MENAMBAH FILE – Bukalah file lama, bersihkan, dan delete. Tidak perlu menambah beban pada jatah yang telah dialokasikan kepada kita. Demikian setelah jumlah file karma berkurang terus, pada suatu ketika kita sadar, “Wah selesai sudah!” Saat itu, Om plus niat, kehendak yang kuat, dan, bingo! Kita menyatu dengan-Nya. Window kita tertutup untuk selamanya. Sisa-sisa file terhapus dengan sendirinya. Tidak ada lagi hutang-piutang yang mesti diselesaikan. Beres semua.

Jadi, Om juga merupakan password untuk keluar dari window Keberadaan. Masuk-keluar dengan Om! Penjelasan Bhagavad Gita 8:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Memahami sifat bawaan sejak lahir untuk meningkatkan kesadaraan

Krsna sedang menjelaskan karakter atau kecenderungan mereka yang lahir dengan dan dalam kesadaran. Sejak lahir, mereka sudah memiliki kecenderungan-kecenderungan ini sebagai balance-carried forward dari masa kehidupan sebelumnya. Mereka sedang melanjutkan perjalanan. Mereka tidak perlu lagi mengembangkan karakter, kecenderungan, atau “sifat-sifat bawaan” tersebut—mereka hanya mesti memelihara dan mempertahankannya. Sebuah pekerjaan berat juga, tidak mudah. Tapi, setidaknya mereka tidak lagi membuang waktu untuk mengembangkan sernua itu.

TIDAK DEMIKIAN DENGAN KITA, yang kemungkinan besar, tidak memilikj saldo seperti ini dari masa kehidupan sebelumnya. Berarti kita mesti bekerja keras untuk mengembangkannya. Penjelasan Bhagavad Gita 16:1 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Sifat Bawaan Daivi atau Mulia

Mereka yang lahir dengan kecenderungan, karakter, atau sifat bawaan, sifat dasar Daivi atau Mulia adalah, yang telah menjalani masa kehidupan sebelumnya dalam Kesadaran Ilahi. Atau, setidaknya sudah berada dalam “proses” untuk mencapai Kesadaran Ilahi. Mungkin, saat itu mereka hampir mencapainya — sementara kendaraan badan sudah tidak menunjang perjalanan selanjutnya. Jiwa meninggalkan kendaraan tersebut dan menggunakan kendaraan badan yang baru.

KELAHIRAN DEMIKIAN ADALAH SEBUAH “BERKAH”, dalam pengertian ada balance-carried forward berupa hikmah sebagai hasil pencapaian dari masa kehidupan sebelumnya — sekarang tinggal dilanjutkan. Penjelasan Bhagavad Gita 16:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Mengembangkan Sifat Daivi saat ini juga

Yang penting, kembangkan Sifat-sifat dasar Daivi atau Ilahi sekarang dan saat ini juga. Maka, jika tidak dalam hidup ini, setidaknya dalam masa kehidupan berikut, kita sudah pasti mencapai kesempurnaan diri.

Dalam kelahiran berikut, kita hanya akan melanjutkan apa yang tidak sempat diselesaikan kehidupan sekarang. Saat itu, kita akan ingat hikmah setiap pengalaman penting. Setiap pengalaman dari masa kehidupan sebelurnnya, yang dapat menunjang peningkatan kesadaran.

Ada saja di antara kita yang lahir dengan “ingatan” seperti itu. Di antaranya, ada yang berbagi pengalaman seperti Siddhartha Gautama, ada juga yang merasa tidak perlu menjelaskan, seperti Gandhi — Sang Mahatma. Mereka inilah yang lahir dengan Sifat-sifat Daivi atau Ilahi.

Mereka, yang dalam masa hidup ini lahir dengan daya ingat, dengan ingatan seperti itu, sudah  tidak “perlu” lahir kembali. Inilah kehidupan mereka yang terakhir. Kecuali, mereka sendiri memilih untuk menjalani kelahiran ulang semata untuk berbagi pengalaman dalam serial lain, barangkali juga di dunia atau alam lain.

“JANGANLAH KHAWATIR, ARJUNA, KARENA KAU LAHIR DENGAN SIFAT BAWAAN DAIVI ATAU ILAHI!” lni adalah kata-kata yang membakar semangat Arjuna. Namun, Krsna tidak menggunakan kata-kata ini sekadar untuk menyenangkan Arjuna. Tidak. Krsna tahu persis seperti apakah Arjuna di dalam masa kehidupan sebelumnya. Lalu, kenapa Arjuna tidak mengingatnya?

Ada kalanya, seorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi pun “lupa” akan sifat bawaannya. Ini bisa disebabkan oleh pendidikan, pengaruh lingkungan, atau berbagai faktor lain. Termasuk, pengalaman-pengalaman dahsyat dalam kehidupan ini, yang membuatnya lupa-ingatan sementara. Arjuna adalah korban lupa ingatan atau amnesia sementara. Pengalaman tinggal dalam pengasingan selama belasan tahun dan saat ini menghadapi perang dahsyat — semuanya membingungkan Arjuna, sehingga ia lupa, lupa akan hakikat jati dirinya. Namun, amnesia macam ini tidak pemah bertahan lama.

ALAM KEBENDAAN TIDAK MAMPU memperbudak seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi. Seseorang yang lahir dengan Sifat Bawaan Daivi atau Ilahi, tidak selamanya menderita amnesia, atau lupa-ingatan tentang hakikat dirinya.

Sebab itu, pertemuan dengan seorang Krsna, seorang Sadguru atau Pemandu Rohani, adalah berkah Ilahi. Hujan berkah ini turun bagi mereka semua yang siap untuk menerimanya. Dan Jiwa terguyur oleh siraman rohani yang dapat membantunya bangkit dari tidur panjang. Apa yang sebelumnya terlupakan, teringat kembali. Apa yang sebelumnya tertutup, terbuka kembali. Apa yang sebelumnya gelap, menjadi terang-benderang. Penjelasan Bhagavad Gita 16:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia