Archive for sanyas dharma

Soma: Melarikan Tara Istri Rishi Brhaspati #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 16, 2017 by triwidodo

Sri Ramakrishna Paramhansa selalu mengingatkan kita supaya berhati-hati dengan kamini dan kanchan. Ini adalah sebuah pepatah kuno. Kamini berarti “apa saja yang menggairahkan”, sekarang sering diterjemahkan sebagai wanita. Dan kanchan berarti “sesuatu yang menyilaukan”. Persis seperti kamini, kanchan pun sekarang sering disalahartikan sebagai “uang” dan “emas”. Padahal maksudnya bukan uang atau emas saja.

Sri Ramakrishna Paramhansa selalu mengingatkan kita supaya berhati-hati dengan kamini dan kanchan. Ini adalah sebuah pepatah kuno. Kamini berarti “apa saja yang menggairahkan”, sekarang sering diterjemahkan sebagai wanita. Dan kanchan berarti “sesuatu yang menyilaukan”. Persis seperti kamini, kanchan pun sekarang sering disalahartikan sebagai “uang” dan “emas”. Padahal maksudnya bukan uang atau emas saja.

Kamini dan Kanchan bukan sekadar “lawan jenis”. Makanan pun bisa “menggairahkan”, demikian pula bacaan, tontonan, pergaulan, dan sebagainya. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Rishi Suka telah menceritakan Kisah-Kisah Ilahi tentang anak keturunan Dinasti Surya kepada Parikshit. Sri Rama adalah termasuk anak keturunan Dinasti Surya. Dan, kini mulai menceritakan tentang kisah-kisah dari Dinasti Chandra.

Soma atau Chandra adalah putra Rishi Atri dan merupakan cucu dari Brahma. Dia adalah penguasa osadhi, tanaman obat, dan bintang. Dia demikian tampan sehingga banyak wanita yang jatuh cinta kepadanya. Soma tertarik dengan Tara, istri Brhaspati yang masih muda dan mengajaknya melarikan diri dari rumahnya.

Pada zaman itu, wanita sangat dihormati. Seorang pria tidak bisa melakukan ritual tanpa istrinya. Tanpa istri Rishi Brhaspati akan kehilangan jabatannya sebagai guru para dewa.

Brhaspati minta agar Tara dikembalikan akan tetapi Soma tidak mau. Para asura di bawah didikan Guru Sukracharya tidak senang dengan Brhaspati putra Rishi Angira, yang merupakan guru para dewa, musuh mereka. Para asura mereka melindungi Soma. Dan, terjadilah peperangan antara para asura dengan para dewa.

Brahma turun tangan dan datang ke Soma, mengambil Tara dan mengembalikannya kepada Brhaspati. Brhaspati sangat mencintai Tara, sehingga menerima kondisi Tara yang sedang hamil.

Seorang putra yang sangat tampan dilahirkan dan Brhaspati sangat sayang kepada anak tersebut. Akan tetapi, Soma merasa bahwa putra tersebut adalah anaknya. Para rishi dan para dewa menanyakan kepada Tara siapa bapak dari anak tersebut, akan tetapi dia diam seribu bahasa.

Anak yang baru dilahirkan kemudian langsung berbicara, “Ibu, kenapa engkau diam? Engkau tidak setia terhadap suamimu dan keberatan menceritakan siapa ayahku? Aku ingin kebenaran dibuka, berbicaralah kepadaku!”

Tara akhirnya berbicara kepada sang anak. Brahma kemudian bertanya kepada sang anak siapakah bapaknya yang dijawab: Soma. Brahma kemudian mengambil sang anak dan diberikan kepada Soma. Brahma menyebut anak tersebut sebagai Budha, ia yang mengetahui kebenaran. Dan anak tersebut akhirnya menjadi remaja yang bijaksana yang menjadi cikal-bakal Dinasti Chandra.

Salah satu versi menyatakan bahwa Brhaspati menerima hukum sebab-akibat. Sewaktu masih muda Brhaspati tertarik pada Mamata, istri Uttathya, kakak Brhaspati yang sedang hamil. Dan Brhaspati melakukan hal yang sama.

Kisah-kisah Bhagavatam erat dengan kisah perbintangan/astronomi. Dan, para leluhur kita mempunyai keyakinan bahwa planet-planet ikut mempengaruhi suasana kehidupan. Chandra, atau Soma adalah penguasa Bulan, dan leluhur kita menamakan hari yang dipengaruhi bulan sebagai Soma, Senin dalam bahasa Jawa kuna, Monday, hari yang dipengaruhi “moon”, “manas”.

Selasa dipengaruhi oleh planet Mars, leluhur kita menyebut Anggara, di Indua Mangalavara.

Rabu dipengaruhi oleh planet Mercurius, yang dalam bahasa Jawa Kuna disebut Buda, putra Chandra.

Kamis dipengaruhi oleh planet Yupiter, penguasanya Brhaspati, guru para dewa, leluhur kita menyebutnya Respati.

Jumat dipengaruhi oleh planet Venus, penguasanya adalah Sukracharya, leluhur kita menyebut hari Jumat sebagai Sukra.

Saptu dipengaruhi oleh planet Saturnus, sehingga disebut Saturday, leluhur kita menyebutnya Tumpak atau Saniscara, penguasanya adalah Dewa Sani.

Sedangkan Minggu dipengaruhi oleh Matahari, Sun, Surya, Dewa Ra, sehingga harinya disebut Sunday, para leluhur kita menyebut Radite atau di India Aditya, matahari.

Tara sendiri berarti bintang.

Silakan baca tulisan di tahun 2013:

https://triwidodo.wordpress.com/2013/01/06/kalender-jawa-dan-pengaruh-rasi-perbintangan-terhadap-manusia/

 

Mengapa Rakyat Kecil Harus Menanggung Derita Saat Para Pemimpin Berebut Kuasa?

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on August 5, 2016 by triwidodo

buku sanyas dharma pengungsi suriah

Hanuman pernah membakar sebagian kota Langka ibukota Kerajaan yang dipimpin Ravana. Kita bertanya-tanya, “Mengapa menghukum orang-orang yang tidak bersalah, penduduk Lanka, atas kesalahan yang dilakukan oleh penguasa mereka?”

Hal ini adalah sesuatu yang sangat sulit dihindari. Rakyat memilih pemimpin mereka, rakyat memilih penguasa mereka, rakyat memilih presiden dan perdana menteri mereka, rakyat memilih anggota parlemen mereka, dan rakyat bahkan memilih para diktator mereka. Para diktator berada di posisi mereka karena rakyat juga. Para diktator tetap berkuasa selama rakyat terang-terangan takut kepada mereka, atau takut kehilangan sesuatu…..… dikutip dari terjemahan buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut ini adalah kisah Arjuna yang bimbang untuk mengawali perang terhadap sepupu dan sanak familinya dan juga paham bahwa rakyat akan menerima imbasnya.

buku sanyas dharma

Cover buku Sanyas Dharma

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Arjuna Bimbang……….

Dan ia mulai mencari dalih, mencari alasan, untuk menghindari perang: “Mereka adalah sepupu saya sendiri, orang tua saya, bagaimana melawan mereka? untuk apa? Jika mereka tidak sadar dan menjahati kita, apa kita mesti membalas mereka dengan kejahatan pula?”

Krishna menegaskan, “Wahai Arjuna, janganlah kau mengira bila keberadaanku di medan perang ini untuk membelamu. Tidak, tidak demikian. Aku tidak perlu membelamu, bahkan kau tidak perlu menganbil bagian dalam perang ini.”

Krishna dan kakaknya, Balarama atau Baladewa menguasai negara bagian yang berada di bawah naungan federasi yang saat ini diperintah oleh Kurawa, lawan Arjuna. Jika mau mencari aman Krishna akan berpihak pada Kurawa yang berkuasa, atau setidaknya tidak mengambil bagian dalam perang “saudara”.

Tapi tidak. Krishna tidak melihat perang itu sebagai perang saudara. Bagi Krishna perang di medan Kurukshetra itu adalah: Perang untuk melawan ketidakadilan.

Krishna berpihak pada dharma, pada kebajikan, pada hukum alam, hukum keberadaan, kebaikan, dan kebenaran.

“Wahai Arjuna mereka yang kau sebut orang tua itu sangat tidak pantas untuk dituakan. Masih ingat ketika Draupadi dipermalukan di tengah sidang? Apakah mereka tidak hadir saat itu? Apakah mereka tidak berada dalam ruang sidang saat itu? Mereka semua ada. Dan tidak seorang pun yang berkutik.

“Mereka tahu betul siapa Draupadi, putri seorang raja, istri seorang raja, tetap saja memperlakukannya dengan cara yang tidak sopan, tidak beradab.

“Bukan saja orang tua, tetapi para menteri, para pejabat yang hadir, bahkan seluruh masyarakat, semuanya diam membiasu seribu bahasa. Semuanya berpikir, ‘Ah, ini kan bukan urusan kita.’ Pikiran seperti itu adalah adharma. Setiap orang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya adalah pelaku adharma.

“Kau mengangkat senjata atau tidak, kau berperang atau tidak, kekuatan adharma pasti binasa. Maka raihlah kemuliaan dengan mengangkat senjata dan menghabisi mereka.”

Arjuna masih berdalih, “Apa salah rakyat jelata, orang-orang kecil? Mereka ikut binasa dalam perang ini.” Seolah ia tidak mendengar penjelasan Krishna sebelumnya.

Rakyat yang Membisu Ketika Menyaksikan Pezaliman…

Dan berpikir, “Wah itu kan permainan orang-orang gede. Kita kan rakyat kecil, tidak punya apa-apa. Urusan kita mah cari nafkah, ngisi perut, untuk apa ikut campur urusan orang-orang gede?”

Mereka bisa bicara demikian karena tidak merasakan kesengsaraan orang lain. Mereka tidak peka terhadap penderitaan orang lain. Maka, mau tak mau, mereka mesti memperoleh pelajaran dari Keberadaan. Mereka mesti sengsara, mesti menderita, mesti ikut binasa.

Rakyat “cilik” yang hanya mencari aman bagi dirinya adalah rakyat yang “licik”, penuh dengan logika yang tidak sehat. Besar atau kecil, anggota masyarakat seperti itu bukanlah warganegara yang baik, bahkan mereka bukan manusia yang baik. Mereka menjadi beban kemanusiaan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) halaman 333

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2Elearning-Banner-2

Seks? Mencintai Gusti Pangeran Melampaui Seks? Kisah Para Brahmachari dalam Ramayana

Posted in Ramayana with tags , , , on January 26, 2014 by triwidodo

hanuman lakshamana Rama Sita sumber devotionalimages blogspot com

Ilustrasi Hanuman dan Lakshmana bersama Rama dan Sita sumber: devotionalimages blogspot com

Brahmacharya atau Hidup dalam Kesadaran Tuhan

Brahmacharya biasanya diterjemahkan sebagai hidup selibat. Ada juga yang menterjemahkannya sebagai ‘tidak memanjakan indera-indera kenikmatan’.  Definisi ini mungkin lebih cocok untuk para pendeta dan pertapa peminta-minta. Namun Brahmacharya bukanlah hanya dimaksudkan untuk mereka saja. Siapapun bisa melakukannya. Seharusnya malah semua orang melakukannya. Brahma sering diterjemahkan sebagai Tuhan, walaupun sesungguhnya maksudnya adalah aham sejati, ‘diri’ sejati. Acharya adalah ‘orang yang melakukannya’, para praktisioner. Karenanya Brahmacharya mengacu pada penerapan ketuhanan dalam kehidupan. Brahmacarya berarti hidup dalam kesadaran Tuhan. Tidak masalah apakan anda sudah mengambil sumpah selibat atau tidak, satu yang sudah jelas. Anda tidak bisa lagi terlalu bermanja-manja dengan kenikmatan duniawi. Kenikmatan semacam itu jadi tidak berarti saat anda mencapai kenikmatan kesadaran tinggi yang lebih tinggi.” (Krishna, Anand. (2009). One Earth One Sky One Humankind, Celebration of Unity of Diversity. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan bahwa sebenarnya Sri Rama, Gusti yang mewujud di dunia bisa bersabda, “Rahwana kau mati, Sita kau kembali!” dan kisah Ramayana akan selesai begitu singkat. Para Guru Suci mengatakan bahwa Ramayana merupakan sebuah drama untuk menunjukkan kepada dunia adanya pengabdian Hanuman. Secara fisik dia berwujud kera, akan tetapi berkat pengabdian dan dedikasinya kepada Sri Rama dan misi Sri Rama maka ia diteladani sebagai bhakta tulen, seorang panembah sejati.

Sewaktu bertemu Rama, Sugriva menunjukkan beberapa perhiasan wanita yang dijatuhkan untuk memberi tanda ke arah mana dia dibawa terbang Rahwana. Rama melihat gelang, kalung dan anting-anting dan yakin bahwa itu adalah milik Sita. Lakshmana diminta Rama melihatnya dan Lakshmana hanya mengenali gelang kaki Sita. Ketika ditanya Rama, Lakshmana menjawab bahwa selama ini dia hanya melihat kaki Sita. Yang dipikirkan hanyalah Rama dan dia sangat menghormati Rama dan istrinya. Rama sangat berbahagia mendengar jawaban Lakshmana. Ekagrata, one-pointedness yang pantas diteladani manusia dari Lakshmana.

Hanuman, Bhakta Sri Rama

“Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Pada saat awal bertemu Sri Rama dan Lakshmana, Hanuman melihat aura yang terpancar dari mereka berdua yang membuatnya terpesona. Hanuman bertanya, “Apakah Paduka penyebab utama dari dunia ini yang mewujud sebagai manusia untuk menjembatani antara duniawi dan ilahi?” Rama dan Lakshmana kemudian membuka jatidiri mereka. Hanuman segera bersujud kepada Sri Rama dan berkata, “Paduka, meskipun hamba banyak kesalahan mohon pelayan ini tidak dibuang dan dilupakan oleh Paduka!” Setelah itu Hanuman hanya berfokus pada Sri Rama, yang dipikir Hanuman hanya Sri Rama dan tidak terlintas sedikitpun pikiran tentang seks.

Kalung Sita

Dalam buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan sebuah legenda tentang kepulangan Sri Rama dan Sita ke Ayodhya. Ibu Sita memberikan hadiah kalung permata kepada Hanuman. Hanuman langsung menggigit batu-batu permata tersebut. Lakshmana naik pitam dan bertanya mengapa Hanuman tidak menghargai hadiah dari Ibu Sita? Hanuman menjawab bahwa dia sedang mencoba membaui aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut. Sri Rama mendekat dan bertanya apakah Hanuman menemukan aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut? Hanuman mengatakan bahwa aroma Sri Rama tidak terdapat dalam batu-batu permata tersebut.

Lakshmana berang dan bertanya bahwa apakah Hanuman berpikir bahwa kalung pemberian Ibu Sita itu tidak ada harganya karena tidak ada aroma Sri Rama? Hanuman menjawab bahkan tubuhnya pun tidak berharga bila tidak memiliki aroma Sri Rama. Rama kemudian memberikan perintah agar Hanuman menunjukkan bahwa tubuhnya beraroma Sri Rama. Hanuman segera menyobek dadanya sendiri dan tepat di tengah-tengah dadanya terdapat gambar Sri Rama dan aroma kasturi kesukaan Sri Rama tersebar ke seluruh penjuru.

Lakshmana, Membhaktikan Hidupnya bagi Sri Rama

“Bagi seorang sanyasi, Brahmacharya adalah langkah awal. Tanpa pengendalian diri seorang sanyasi tidak mampu menjalankan perannya sebagai pengabdi, sebagai pelayan. Dan jika ia tidak mampu melayani tanpa pilih kasih, tidak mampu mengabdi tanpa pamrih, untuk apa menjadi sanyasi? Jika Anda ingin tetap menjalankan brahmacharya, sebaiknya menyisihkan setidaknya 2 x 45 menit setiap hari untuk latihan yoga asana  yang dapat membantu Anda mengendalikan keinginan seks. Selain itu pola makan pun mesti diperbaiki. Pure vegetarian diet, puasa sekali atau dua kali setiap minggu, dan menghindari karbohidrat yang berlebihan, semua itu akan membantu Anda. Bacaan Anda, tontonan Anda, semuanya mesti diatur kembali supaya menunjang kehidupan Anda sebagai brahmachari. Mereka yang tidak memperoleh pelajaran brahmacharya di usia dini memang harus bekerja lebih keras. Tapi Anda bisa. Anda pasti berhasil. Fokus!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Meskipun dikisahkan sebagai Grhastha, perumahtangga, Lakshmana adalah seorang Brahmachari ideal. Selama 14 tahun mendampingi Sri Rama, yang terpikirkan oleh Lakshmana hanyalah Sri Rama dan misi Sri Rama. Rama berkata bahwa Meghanada putra Rahwana adalah Komandan Raksasa yang tak terkalahkan di tiga dunia, bahkan Indra pun dikalahkan sehingga dia dikenal sebagai Indrajit. Hanya Lakshmana yang dapat mengalahkan Indrajit yang dapat menghilang dan mempunyai ilmu sihir. Dan kemenangan itu diperoleh karena kemurnian Lakshmana.

Diuji Sri Rama

“Walaupun tidak kawin, jika seseorang memikirkan seks melulu, maka energinya sudah pasti tersedot ke bawah. Sama saja. Jadi urusannya bukanlah kawin atau tidak kawin, urusannya adalah ‘seks secara berlebihan’, termasuk ‘memikirkan’ seks melulu. Mengapa saya mesti menjelaskan hal ini secara panjang lebar? Karena sebagai sanyasi Anda mesti memahami fenomena ini. Jangan sampai merasa sudah ‘beres’ hanya karena membujang. Paramhansa Yogananda mengingatkan bahwa sperma yang keluar dalam satu kali ejakulasi adalah sepadan dengan satu quart darah (kurang lebih 0.94 liter, hampir 1 liter). Lalu bagaimana jika tidak terjadi ejakulasi? Bagimana jika seorang hanya memikirkan seks saja? Energinya tetap tersedot ke bawah. Paramhansa Yogananda mewanti-wanti kaum pria. Karena alasan itu (berkurangnya darah setiap kali ejakulasi), dan keinginan seks seorang pria yang memang lebih kuat, maka perjalanan spiritual baginya tidak semudah bagi seorang perempuan.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ada suatu kisah yang disampaikan seorang Guru bahwa pada suatu hari Sri Rama menguji Lakshmana. Sita sedang tidur di pangkuan Sri Rama dan dia membisiki Lakshmana untuk menggantikannya karena dia mempunyai kepentingan mendesak dan tidak ingin membangunkan Sita. Lakshmana patuh dan membiarkan Sita tidur di pangkuannya. Setelah pergi Sri Rama segera datang kembali mewujud sebagai burung beo dan memperhatikan tingkah laku Lakshmana.

Lakshmana yang berdekatan dengan seorang wanita jelita tercantik di dunia ternyata menutup mata dan membaca japa, Sumitra… Sumitra… Sumitra. Rupanya Lakshmana membayangkan bahwa yang tidur di pangkuannya adalah Sumitra, ibunya.

Brahmacharya

Brahmachari berarti ia yang Berperilaku seperti Brahma atau Pencipta. Perhatikan ciptaannya, tidak ada sesuatu yang terulang. Dua helai daun dari satu pohon yang sama pun tidak persis sama. Penciptaan, pemeliharaan, Dan Pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendakNya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendakNya. Sebab itu remaja yang mengolah dirinya disebut Brahmachari berperilaku seperti Brahma atau sang pencipta. Kemudian gelar yang diperolehnya juga sudah tepat: Srajanahaar, sang pencipta—ia ibarat cahaya atau sinar matahari yang tengah berbagi kehidupan dengan sesama makhluk hidup.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Selama enam tahun pertama seorang anak belajar menggunakan fisiknya, inderanya, menggerakkan otot-ototnya, menyesuaikan setiap gerakan dengan keinginannya. Awalnya ia mesti diajari supaya tidak ngompol dan buang air di toilet, di tempat yang sudah tersedia untuk keperluan itu. Itulah pelajaran awal pengendalian diri. Pengendalian fisik, indra, dan gerakan otot adalah proses pembelajaran awal menuju brahmacharya. Jadi brahmacharya bukan sesuatu yang aneh, kuno, kolot, atau terkait dengan salau satu kepercayaan. Brahmacharya adalah bagian dari kehidupan manusia. Tanpa pengendalian diri, sulit membedakan manusia dari hewan. Selama enam tahun pertama ini, seorang anak belum bisa mengendalikan emosinya. Jika mau menangis, ia akan menangis. Ia tidak memperhatikan waktu dan tempat. Mau berteriak, berteriak saja. Mau tertawa, tertawa saja.

“Ia mulai belajar mengendalikan emosinya dalam masa enam tahun berikutnya. Masa inilah yang biasa disebut golden years, di mana lapisan-lapisan mental/emosionalnya mulai berkembang. Ia terinspirasi oleh cerita-cerita yang didengarnya, dibacanya; oleh acara-acara di televisi; oleh pelajaran di sekolah; oleh keadaan di rumah, di lingkungan sekitarnya; dan oleh pergaulannya. Demikianlah mulai terbentuk karakter seorang anak, berdasarkan faktor-faktor di atas, mana yang lebih dominan. Kekacauan yang terjadi saat ini, banyak pejabat tinggi yang semestinya melayani masyarakat malah menyusahkan masyarakat, para pengusaha nakal yang tidak peduli dengan keadaan bangsa dan Negara, para profesional yang lupa kode etik profesinya, semuanya disebabkan oleh pendidikan yang salah selama 12 tahun awal.

“Selanjutnya, padas usia 13 tahun ke atas ketika ia memasuki usia puber, ia mulai memberontak. Ia ingin mencoba segala hal yang baru. Ia ingin menguji kekuatan mental, emosional, dan kehendaknya. Jika dilarang melakukan sesuatu, ia malah tertantang untuk mencobanya. Banyak perokok berat mulai merokok pada usia ini. Demikian pula korban alcohol. Sebab itu, amat penting sebelum memasuki usia puber seorang anak belajar untuk mengendalikan emosi dan pikirannya. Jika hal itu tidak terjadi, usia puber hanyalah pertanda bencana.

“Kemudian, sekitar usia 19 tahun seorang remaja menentukan sendiri jalur hidupnya. Ia tidak mau diintervensi. Lagi-lagi, tanpa pengedalian diri, dan tanpa arahan yang tepat, seorang remaja tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak bertanggung jawab, dan hanya mementingkan diri.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Diilhami oleh Buku Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual.

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151382463028899&set=a.10150718394503899.454510.382009333898&type=1&theater

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Rahwana: Warisan Genetika Pilihan Belum Tentu Hasilkan Putra Teladan

Posted in Ramayana with tags , , , on July 31, 2013 by triwidodo

resi wisrawa dan sukesi

Gambar Resi Wisrawa dan Sukesi sumber: http://kajianspiritual212.blogspot.com

Beberapa Faktor  Yang Mempengaruhi Karakter Seseorang

Dikisahkan di Srimad Bhagavatam bahwa Raksasa Hiranyakasipu dan Hiranyaksa mempunyai orang tua pilihan, Rsi Kasyapa dan Dewi Diti. Akan tetapi karena mereka berdua bersanggama dengan penuh gelora nafsu pada saat senja yang biasa mereka gunakan untuk puja, sedangkan kesadaran mereka pada titik terendah, maka putra mereka menjadi raksasa walaupun raksasa yang hebat.

Faktor Genetik dan Lingkungan juga akan mempengaruhi karakter seseorang. Rahwana besar di lingkungan raksasa Alengka. Ilmu pengetahuan sekarang membuka cakrawala pandangan kita bahwa ibulah yang mempunyai peranan besar terhadap karakter sang anak. Pada beberapa serangga, yang jantan lebih berpengaruh terhadap keturunannya atau Male Inheritance. Akan tetapi pada mamalia, yang berpengaruh adalah Female Inheritance, sperma mamalia biasanya dihancurkan setelah terjadi proses pembuahan.

 

Maternal Inheritance

Demikian pula manusia termasuk Maternal Inheritance. Salah seorang sahabat kami ahli biologi menyampaikan bahwa saat terjadi fertilisasi, kedua perangkat kromosom dari ayah dan ibu disatukan.  Sel telur ibu yang mendapatkan perangkat kromosom dari sel sperma ayah, kini menjadi sel dengan 2 set kromosom sebagai sel diploid yang disebut sebagai zigot. Dari sebuah sel zigot inilah yang kemudian mulai berkembang menjadi sebuah organisme baru yang utuh melalui proses yang sangat rumit. Pada saat fertilisasi, sel sperma hanya berkontribusi untuk memberikan materi genetiknya pada sel telur, tidak lebih. Setelah terjadi fertilisasi, seluruh bagian sel sperma terdegradasi, sama sekali tidak terlibat dalam proses embriogenesis. Oleh karena itu, seluruh sel yang dimiliki oleh seorang manusia dia warisi sepenuhnya dari Ibu. Tiap sel yang kita miliki, lengkap dengan perangkat organ yang mengatur kehidupan kita, sepenuhnya berasal dari ibunda. dalam ilmu genetika, hal ini disebut sebagai “Maternal Inheritance”.

Penemuan medis mengakui bahwa kromosom “x” yang terdapat dalam diri manusia, baik pria maupun wanita, sesungguhnya berasal dari wanita. Dan, bila kita masih ingat, kromosom “x” inilah yang menjadi motor kehidupan. Seorang pria pun mewarisi kromosom ini dari induknya, dari ibunya, dari perempuan! (Krishna, Anand. (2008). Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Jangan Bersanggama Dalam Keadaan Mabuk Dan Di Sebarang Tempat

Bagi yang percaya, banyak jiwa yang ingin dilahirkan kembali dan ingin menjadi anak dari suatu pasangan suami istri. Jiwa-jiwa tersebut mestinya mempunyai kaitan karma masa lalu dengan calon kedua orang tuanya. Seorang Guru pernah memberi pesan agar kita perlu dalam keadaan sadar dan berdoa sebelum bersanggama agar anak yang dihasilkan menjadi anak yang berbakti. Bila kita lalai, bisa saja musuh kita yang akan lahir sebagai anak kita, sehingga lahirlah anak yang berseberangan dengan orang tuanya. Musuh tetap akan lahir demi membalas karma, akan tetapi tidak perlu dia menjadi putra kita.

 

Sayembara Memperebutkan Sukesi

Prabu Sumali, Raja Alengka sadar bahwa sayembara memperebutkan Sukesi, sang putri dengan cara perang tanding antar ksatria telah menimbulkan pertumpahan darah yang tidak seharusnya terjadi. Telah banyak ksatria mati di tangan Harya Jambumangli adik, sekaligus patih kerajaan Alengka. Akan tetapi permintaan sang putri untuk bersedia menjadi isteri dari orang yang sanggup mengupas Sastrajendra Pangruwating Diyu membuatnya sangat gundah. Bagaimana pun sang putri adalah seorang gadis yang tegas dan dia terlanjur memanjakannya, maka dia menuruti apa pun kemauan sang putri.

Resi Wisrawa adalah seorang raja yang meninggalkan kenyamanan istana demi peningkatan kesadaran. Akan tetapi sang resi masih punya keterikatan dengan sang putra yang menggantikannya sebagai raja Lokapala. Sang putra mabuk kepayang ingin mempersunting Sukesi, akan tetapi ketakutan karena semua ksatria yang datang meminang sang putri dibunuh oleh Patih Harya Jambumangli adik Prabu Sumali yang diam-diam jatuh cinta kepada sang keponakan.

Resi Wisrawa berangkat ke Alengka  untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Dan dia bersedia mengupas tentang Sastrajendra Pangruwating Diyu.

 

Sastra Jendra Pangruwating Diyu

Resi Wisrawa sedang mengupas ilmu Sastrajendra Pangruwating Diyu di taman keputren bersama Sukesi. ‘Sastrajendra’, Tulisan Agung tersebut tak jauh dari pemahaman tentang manusia itu sendiri, tentang ‘gumelaring jagad’, asal-usul jagad, ‘sejatining urip’, makna hidup, ‘sejatining panembah’, pengabdian kepada Gusti dan ‘sampurnaning pati’, kesempurnaan kematian.

“Sifat keraksasaan dalam diri harus diruwat, dikembalikan ke keadaan asalnya. Dan untuk mensucikan jiwa, kita harus menggunakan raga. “Anakku Sukesi, mari kita kembali ke bumi untuk menyelesaikan tugas kita mengendalikan keraksasaan, mengendalikan ‘Diyu’ dalam diri!” Sukesi merasa belum terpuaskan keingintahuannya dan belum mau menyudahi penguraian tentang Satrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

 

Godaan Nafsu

“Jangan lama-lama berpandangan dengan lawan jenis. Setiap orang memiliki daya magnet, ada yang kekuatannya melebihi kekuatan Anda, ada yang kurang. Tetapi, tanpa kecuali, setiap orang memilikinya. Selain itu ada juga ketertarikan alami antara lawan jenis. Dengan saling memandang untuk beberapa lama saja sudah terjadi interaksi energy, walau tidak sekata pun terucap.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Resi Wisrawa dalam mengupas Sastrajendra masih menuruti ego pribadi untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Sukesi dalam menerima pengetahuan juga masih mempunyai keterikatan terhadap ego pribadi untuk mencari suami. Mereka menuruti hasrat ego-nya, bukan ridho Gusti, hubungan mereka belum mencerminkan hubungan antara Guru dan murid.

Begitu larutnya mereka dalam penjabaran Sastrajendra, sampai mereka lupa bahwa “Diyu”, sang raksasa dalam diri mereka yang lama terpendam bangkit dan menutup kesadaran mereka. Keduanya bahkan gagal memaknai Sastrajendra, Sang Tulisan Agung. Mereka melakukan hubungan suami istri. Mereka tidak dinikahkan oleh orang tua atau dinikahkan oleh pelaksana ritual pernikahan, tetapi mereka dinikahkan oleh gelora syahwat mereka.

“Rumi menasihati kita untuk senantiasa waspada. Kendati sudah berada pada Kesadaran Kasih, Kesadaran Tinggi, kaki kita bisa saja terpeleset. Kita bisa jatuh lagi. Karena: Kesadaran rendah bagaikan seorang maling. Setiap saat dia bisa keluar dari tempat persembunyiannya.” (Krishna, Anand. (2001). Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kelahiran Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka

Dewi Sukesi mengandung akibat buah cinta terlarangnya dengan Resi Wisrawa. Dan, kemudian dari rahimnya terlahir segumpal darah, bercampur sebuah wujud telinga dan kuku. Segumpal darah itu menjadi raksasa bernama Rahwana yang melambangkan nafsu angkara manusia. Sedangkan telinga menjadi raksasa sebesar gunung yang bernama Kumbakarna, yang meski pun berwujud raksasa tetapi hatinya bijak, ia melambangkan penyesalan ayah ibunya. Sedangkan kuku menjadi raksasa wanita yang bertindak semaunya bernama Sarpakenaka. Kelak Wisrawa dan Sukesi melahirkan seorang putera bernama Gunawan Wibisana. Anak terakhir ini berupa manusia sempurna yang baik dan bijaksana, karena terlahir dari cinta sejati, jauh dari hawa nafsu kedua orang tuannya.

“Kesadaran kita masih mengalami pasang surut, hidup berkesadaran mengandung resiko kaki kita terpeleset dan jatuh. Itulah biaya kebebasan yang harus kita bayar karena tiada kebebasan di luar hidup berkesadaran. Di luar hidup berkesadaran itu, yang ada hanyalah perbudakan.” (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013

Karakter Korawa dalam Diri Manusia: Duryudana

Posted in Mahabharata with tags , , , on July 28, 2013 by triwidodo

duryudana sumber wikipedia

Gambar Duryudana sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Duryodana

Egoistis

Korawa dikesankan sebagai kaum yang egoistis, yang hanya memikirkan kepentingan diri pribadi dan mengabaikan kepentingan orang-orang lain yang dirugikannya. Sifat egois perlu dikendalikan sehingga kesadaran seseorang meningkat dari fokus memikirkan diri pribadi ke memikirkan sesama manusia dan semua makhluk lainnya.

Ego sendiri bukan sifat manusiawi, tetapi telah diwarisi manusia dalam proses evolusinya. “Pusat Ego adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan. Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun. Secara medis, medulla dikaitkan dengan fungsi respirasi, cardiag, batuk, bersin, muntah, menelan, termasuk pengaturan gerakan, waktu bangun, waktu tidur, dan sebagainya. Jadi, cukup banyak fungsinya. Fungsi-fungsi yang sangat esensial, sangat mendasar bagi kehidupan manusia.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Korawa adalah diri kita yang masih dikuasai insting bawaan hewani dalam diri, yang hanya ingin memuaskan diri sendiri dan tidak peduli dengan pihak lain.

Pemimpin Yang Menghalalkan Segala Cara

Duryudana adalah seorang raja di Hastina yang pongah, keras kepala dan mudah terhasut oleh pamannya Shakuni yang menjadi patih kerajaan. Demi kekuasaan yang diperolehnya, dia berusaha mempertahankannya sampai titik darah penghabisan dan menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Etika moral sudah diabaikannya. Dia bahkan membuat skenario untuk memperdaya dan berusaha membunuh Sri Krishna yang datang sebagai Duta Perdamaian…… Duryudana baru sadar saat dia tergolek luka parah setelah kalah perang melawan Bhima dan tengah menunggu Bathara Yamadipati datang menjemputnya. Bhima tak tega lagi untuk  membunuhnya, sehingga justru  membiarkan dirinya lebih lama menderita. Saat itu Duryudana mendengar bahwa istrinya Banowati sudah menyerah dan ingin menjadi istri Arjuna, musuhnya. Dia juga ingat bahwa anaknya Lesmana Mandrakumara yang diharapkannya menjadi pengganti dirinya ternyata mempunyai bawaan bodoh, sial dan pengecut. Bahkan dalam perang Bharatayuda saat putranya akan membunuh Abimanyu putra Arjuna yang sudah terkapar karena masuk perangkap dan luka parah ditembus banyak anak panah, dengan sisa tenaganya Abimanyu masih bisa membunuh putranya.

Menerima Akibat dari Perbuatan Diri Sendiri

Pada waktu kita berkuasa, setelah memperoleh harta dan tahta dengan perjuangan yang berat, kadang kita lupa bahwa perjuangan tersebut penuh lika-liku yang sering menggunakan tipu daya, akal yang cerdik dan keberanian mengambil resiko. Apa pun benih yang kita tanam, kita sendiri yang akan menuainya. Hanya saja bila menanam benih padi menunggu panen sekitar 4 bulan, menanam biji mangga menunggu buahnya sekitar 6 tahun, maka menanam benih kebaikan atau kejahatan akan panen pada waktunya nanti menunggu masaknya buah dari benih pohon yang kita tanam. Bisa segera, bisa menunggu lama ataupun datang dalam kehidupan yang akan datang, bagi yang mempercayainya, sehingga nasib seseorang sebenarnya adalah hasil dari perbuatannya sendiri.

Duryudana adalah gambaran dari seorang yang telah dibutakan mata hatinya oleh hasrat keduniawian. Dalam masyarakat, dia adalah figur seorang pejabat, pemimpin instansi yang pongah, keras kepala mudah terhasut orang kepercayaannya yang licik. Dia haus kekuasaan, kemewahan kenikmatan duniawi akan tetapi keluarganya tidak berbahagia. Dia bersama orang-orang kepercayaannya memperdaya, bahkan menyutradarai pembunuhan karakter seorang utusan ilahi pembawa perdamaian Sri Krishna.

Duryudana dalam Diri

Dalam diri kita pun terdapat sifat bawaan Duryudana, yang ingin memuaskan nafsu pribadi dengan menghalalkan segala macam cara. Apabila nurani kita telah mulai muncul, maka kita akan malu dengan segala perbuatan jelek yang telah kita lakukan. Sebagai pemeran pimpinan pelaku kejahatan dalam masyarakat, bila kita sudah tidak merasa nyaman dengan peran tersebut, maka kita perlu memperbaiki karakter kita. Kita harus mempunyai niat yang kuat untuk mengubah karakter jelek kita. Kita perlu mengendalikan kecenderungan jelek dari diri kita dan berupaya membiasakan diri, mengulang-ulang pikiran, ucapan tindakan yang baik, yang selaras dengan alam. Dengan mengulang-ulang akhirnya akan menjadi kebiasaan dan akhirnya mengubah karakter.

Boleh-boleh saja diberitakan seorang mantan pejabat yang menutup mata dengan khusnul khatimah. Ucapan terima kasihnya memenuhi setengah halaman berbagai koran. Yang datang takziah ribuan orang dan disiarkan berbagai televisi. Akan tetapi bila pada saat menjelang ajal, dia merasa bahwa dia telah banyak membuat kesalahan, dia akan menyesal mengapa tidak melakukan kebenaran semasa hidupnya. Oleh karena itu mengapa tidak memperbaiki karakter selama kita masih bernafas?

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Juli 2013