Archive for trust

Lompatan Quantum Berbekal Trust, Keyakinan

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 30, 2018 by triwidodo

Kisah Kakak Krishna

Seorang Master berkisah tentang anak kecil, putra seorang brahmana miskin di kota Govardhana. Anak tunggal berusia 6 tahun tersebut  selalu bersuka-cita dalam mendengarkan kisah-kisah dan legenda tentang Krishna. Pada suatu hari dia pergi ke padang rumput dengan ternaknya dan melihat kuil dan arca Krishna di dalam kuil.

Dengan sepenuh hati dia memanggil Krishna dan mengajaknya bermain. Meskipun pintu kuil digembok, Krishna datang dan mereka bergandengan tangan bermain sampai malam hari. Krishna duduk di batu yang besar dan memainkan seruling. Setelah beberapa jam Krishna yang dipanggilnya dengan kakak menghilang kembali masuk kuil. Arca Krishna sendiri masih terlihat dari sela-sela pintu gerbang yang digembok.

Sang bocah sangat sedih berpisah dengan kakak teman bermainnya. Dia menghabiskan malam dan pagi harinya dengan menangis di luar gerbang. Orangtua sang bocah bersama pendeta kuil menemukannya dia sedang menangis di pintu gerbang kuil. Orangtua bocah tersebut marah, karena sang bocah pergi dan tidak pulang ke rumah.

Dipukulinya sang bocah dengan rotan hingga tubuhnya berdarah-darah. Sang pendeta yang membuka gerbang tiba-tiba berteriak melihat arca Krishna juga berdarah-darah persis seperti sang bocah. Teriakan sang pendeta membuat orangtua bocah ternganga……..

Sang Master memberikan pesan, jika kalian memanggil-Nya sebabagi kakak dengan penuh devosi, Dia akan merespon sebagai teman bermain yang menyenangkan. Bila kalian memanggilnya sebagai Guru dengan penuh devosi, Dia akan mengajar dan memberi inspirasi. Dia tidak pernah mengecewakan mereka yang meng-invoke-Nya dengan tulus dan penuh keyakinan.

Have Faith, Trust, Yakinlah

Guruji Anand Krishna menyampaikan: “Have faith, trust—yakinlah! Keraguan muncul dari pertimbangan, perhitungan, logika, dan pikiran. Sementara itu, keyakinan adalah urusan jiwa. Yakinlah bila kekuatan jiwa jauh melebihi kekuatan pikiran. Dan jangan lupa, energi yang Anda keluarkan untuk berkarya, untuk bekerja, justru memperkuat jiwa Anda, iman Anda, keyakinan Anda pada diri sendiri. Pertimbangan, penilaian, semuanya bisa salah. Akal bisa akal-akalan, bisa juga mengakali. Logika hanya menggunakan informasi yang sudah dimilikinya sebagai acuan. Keyakinan adalah dari jiwa. Dan dari keyakinan seperti itu lahir kehendak yang kuat. So, trust and will power, keyakinan dan kehendak yang kuat, dua-duanya adalah buah jiwa. Urusannya dengan akal budi di dalam diri Anda, bukan dengan akal atau akal sehat saja, yang adalah buah pikiran.”

Sumber: (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna#UbudAshram

Roh Dalam Diri Hanya Terpicu Oleh Kehendak yang Sangat Kuat

Guruji Anand Krishna menyampaikan: Dengan menggunakan badan dan indra, kita tidak mungkin merasakan kemanunggalan diri dengan-Nya. Ada kalanya, badan kita indra malah menolak keberadaan Tuhan karena mereka tidak bisa menggapai-Nya. Untuk menggapai kesadaran kosmis, doa mesti, terlebih dahulu, memicu roh dalam diri manusia, supaya terungkap. Supaya mulai berkarya. Kemudian, mempersatukan roh itu dengan Roh Agung, dengan Sumber Tunggal, Allah Bapa, Tuhan.

Nah, roh dalam diri manusia – kesadaran, atau “aku” dalam diri setiap insan hanya akan terpicu jika ada strong will power, kehendak, yang sangat kuat. Siapa yang mesti berkehendak atau berkeinginan kuat? Manusia sendiri, “aku” dalam diri setiap insan, atau kesadaran “ku” sendiri.

Sumber: (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) #SpiritualIndonesia lewat #AnandKrishna#UbudAshram

Lompatan Quantum yang Dialami Sang Bocah

Guruji Ananad Krishna menyampaikan: Ketika nucleus, inti atom dibelah. Terjadi ledakan yang dahsyat sekali. Ledakan yang terjadi belum bisa dihitung berapa PK, Horse Power. Dalam badan kita ada sekian trilyun atom. Tenaga yang kita miliki luar biasa. Matter benda apa pun terbuat dari atom. Kita juga terbuat dari atom. Ketika atom dipadatkan. Terjadilah benda-benda ini. Termasuk badan kita adalah atom yang dipadatkan. Kita sering mendengar penyembuhan dengan energi yang dahsyat. Dalam diri kita ada energi yang begitu dahsyat. Kita semua bahkan anak sekecil apa pun sudah memiliki.

Kekuatan setiap atom dalam badan kita. Disebut satu unit purusha. Kenapa kita tidak bisa menggunakan itu? Quantum mechanics. Pemahaman terbaru dari quantum adalah tidak akan terjadi sesuatu pada gelas ini kecuali saya memandangnya, mengamatinya dan mengangkatnya. Kalau nggak ya statis.

Newton sedang duduk di bawah pohon ada buah apel yang jatuh. Dan dia menemukan gravitasi. Sekarang quantum mekanik mengatakan tidak demikian. Kenapa buah itu tidak jatuh ketika orang lain duduk di bawahnya. Kenapa jatuh pada saat Newton duduk di bawah. Ada kekuatan dari diri Newton yang memandang buah itu dan kemudian buah itu jatuh. Tidak akan terjadi apa pun kecuali kita mengamati dan kita memberikan energi.

(Sang Bocah bisa menemui Krishna, karena dalam dirinya hanya berpikir tentang Krishna, anak kecil yang lain tidak akan bisa menirunya)

Kalau Gunung Agung meletus bukan karena Gunung Agung mau meletus, tetapi karena kita memberikan tenaga trigger pemicu kepada Gunung Agung untuk meletus. Apa pun yang kita baca di koran kita berada di ring of fire, cincin gunung api. Fisika terbaru quantum mekanik tidak mengatakan demikian. Tidak akan terjadi kecuali ada yang mengamati, observe. Dan memberikan energi trigger kepada dia. Ini telah mengubah pengetahuan tentang fisika sekarang. Tanpa kita sadari kita telah memberikan trigger, pemicu Gunung Anank Krakatau memuntahkan lahar.

Silakan lihat: Video Youtube Bapak Anand Krishna: Purusharta 4 Pilar untuk Hidup Bahagia

#AnandKrishna #UbudAshram

Beda Keinginan vs Kehendak 

Apakah will dan desire itu sama? Dalam bahasa indonesia will adalah kehendak, desire adalah keinginan.

Pengertian will dalam bahasa sanskrit orang yang punya will langsung menerapkan will nya, menjadi kerja nyata dia tidak akan bertanya lagi.

Kalau masih desire pasti gagal deh. Will tidak punya keraguan. Tidak bisa disamakan dengan desire. Desire pekerjaan belum pas tapi dia ingin jadi kaya raya.

………………

Apa maksudnya, ada divine will with divine intervention. Keberadaan menginginkan dia seperti itu. Dan dia digunakan sebagai alat Keberadaan?

Buddha sendiri mempunyai will power untuk menjadi buddha. “Saya tidak akan bergerak. Kalau ini terakhir sekali saya duduk saya tidak akan meninggalkan pohon ini. Tidak. Saya ingin cerah.”

Silakan simak video youtube: Beda Keinginan vs Kehendak oleh Bapak Anand Krishna

#AnandKrishna #UbudAshram

Keyakinan Tidak Takut Mati

Guruji Anand Krishna menyampaikan: Pernahkah Anda merenungkan bahwa ‘harapan’ dan ‘keyakinan’ merupakan dua hal yang berbeda? Mereka yang merasa telah berbuat baik dan ‘mengharapkan’ ganjaran atau imbalan, sesungguhnya  belum ‘yakin’. Dan karena belum  yakin, maka mereka berharap. Sebaliknya, mereka yang yakin tidak perlu berharap lagi. Entah kita berada dalam kelompok  mana, kelompok mereka yang berharap atau kelompok mereka yang yakin!

Rumi menawarkan batu ujian – kematian!

Apabila takut mati, kita masih berada dalam kelompok meraka yang berharap, mereka yang belum bercocok tanam.

Apabila tidak takut mati, kita berada dalam kelompok mereka yang sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi. Mereka yakin. Mereka sudah bercocok tanam.

Sumber: (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna #UbudAshram

Advertisements

Keyakinan Terhadap Sadguru

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on December 29, 2018 by triwidodo

Kisah Sandal Draupadi

Seorang Master berkisah tentang Bhisma yang sudah menjadi Senapati Kaurava dalam perang Bharatayuda selama 8 hari. Duryodhana masygul mengapa kemenangan melawan Pandava belum juga nampak. Duryodhana yang percaya pada materi, kekuatan kebendaan mendatangI Bhisma dan mohon agar esok hari bertempur lebih keras agar Pandava ditaklukkan. Bhisma berkata bahwa esok hari akan menjadi kemenangannya atau kematiannya.

Draupadi yang iman, trust pada Sri Krishna selalu berdoa untuk keselamatan Pandava. Sri Krishna mendatangi Draupadi dan mengajaknya ke kemah Bhisma pada waktu malam hari. Keyakinan Draupadi telah menggerakkan Sri Krishna.

Draupadi adalah seorang bhakta yang luar biasa. Malam hari datang ke perkemahan musuh. Keyakinan Draupadi pada Sri Krishna adalah sepenuh hati. Draupadi memakai kerudung menyelinap ke kemah Bhisma. Sri Krishna meminta sandal Draupadi dibungkus saputangan sutra dan diselipkan di ketiak Sri Krishna. Draupadi diminta masuk ke dalam kemah dengan tidak bersuara.

Draupadi memegang kaki Bhisma dan melakukan sembah sujud. Bhisma otomatis dengan spontan memberkati perempuan berkerudung yang ada di kakinya, “Semoga dalam tahun-tahun mendatang kau diberkati pernikahan yang berbahagia!”

Segera setelah diberkati Bhisma, Draupadi membuka kerudungnya dan mohon doa restu agar kelima Pandava selamat dari senjata Bhisma.

Bhisma segera paham bahwa ini semua adalah strategi Sri Krishna yang dia lihat berdiri di pintu masuk kemahnya. Bhisma tahu bahwa esok pagi dia akan mati. Berkatalah Bhisma, “Kita hanyalah boneka di tangan-Nya.”

Bhisma bertanya kepada Sri Krishna, bungkusan apakah yang diselipkan diketiak-Nya. Bhisma terperangah setelah mengetahui bahwa seorang Avatara mewujud di dunia membawa sandal bhakta-Nya……….

Selama kita seperti Duryodhana yang percaya pada materi, pada uang, pada kekuatan kebendaan sebenarnya kita telah melupakan Tuhan.

Guruji Anand Krishna menyampaikan dalam Gospel of Mahamaya: Keberhasilan kita adalah karena upaya kita sesuai dengan Kehendak-Nya.

…………….

Guru Adalah Cermin Tempat Kita Trust padanya

Guruji Anand Krishna menyampaikan: Pada waktu kita berada di depan cermin, kita trust pada apa yang kita lihat pada cermin. Kita yakin demikianlah wajah kita sesuai yang kita lihat pada cermin tersebut.

Kalau kita ingin mengetahui diri kita maka kita juga membutuhkan cermin. Guru adalah cermin diri kita. Kita trust pada cermin, kita tidak mempertanyakan lagi.

Demikianlah trust Draupadi kepada Sri Krishna, seperti trust anak kecil terhadap ibunya.

Sumber: Video Youtube Who Am I? Self Discovery and surrender of the Ego by Anand Krishna

#AnandKrishna#AnandAshram#UbudAshram

Darshan, Melihat Benih Potensi Diri Dalam Diri Guru

Guruji Anand Krishna menyampaikan: Dalam tradisi India, pertemuan dengan seorang suci bukanlah pertemuan biasa. Pertemuan itu adalah darshan atau “melihat sekilas” kesucian yang sudah ada dalam diri kita melalui Sang Master. Seorang Guru bagai sebuah cermin di mana seorang pengikut dapat bisa melihat dirinya sendiri, wajah “asli”-nya sendiri. Seorang Master adalah masa depan muridnya dan seorang murid adalah masa lalu seorang Master dan mereka bertemu, menyatu di saat ini, dalam kekinian. Itulah sebabnya kehadiran seorang Master adalah berkah yang langka.

Sumber: (Krishna, Anand. (2004), Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian, Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna#AnandAshram#UbudAshram

Trust Pada Sadguru

Seorang Sadguru sebagai pemandu pribadi mengetahui persis kelemahan, kekurangan, dan kesulitan yang dapat kita hadapi dalam perjalanan. Baginda Baba pernah bersabda : Para suci ibarat orang tua. Banyak para suci, dan banyak orangtua di dunia semuanya patut dihormati.

Kendati demikian, orang tua kita adalah orang tua kita. Guru yang kita yakini sebagai guru pribadi, dialah Sadguru kita. Semuanya menyampaikan hal yang baik. Tetapi Guru kita menyampaikan sesuatu yang tepat bagi kita. Sebab itu, penyerahan diri hendaknya kepada seorang guru yang sepenuhnya kita terima, dan percayai, yakini.

Cintailah Guru yang telah kaupilih itu dengan sepenuh hatimu. Maka, kau akan lihat sendiri bila lautan samsara lenyap seketika. Tidak ada lagi lautan “kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan” untuk diseberangi. Adakah kegelapan tetap bertahan bila matahari telah terbit?

Sumber: (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

#AnandKrishna#AnandAshram#UbudAshram

Karakteristik Pemandu Rohani

Karakteristik para pemandu rohani sudah bisa dideteksi sejak usia dini. Baru-baru ini kami melakukan penelitian kecil-kecilan dengan melibatkan lebih dari 300 responden di Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali.

Walau penelitian itu dilakukan di kota-kota tersebut, mereka yang terlibat sebagai responden mewakili Indonesia selengkapnya. Ada orang Bugis, ada Betawi, ada Batak, ada yang berasal dari Flores, Aceh, Minang, KaIimantan…. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun orang yang pada usia 5 hingga 10 tahun memikirkan spiritualitas. Tidak seorang pun.

Keadaan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa para Sadguru atau Pemandu Sejati memang bukan run of the millproduct, bukan produk pabrikan.

Seorang Pemandu Sejati, seorang Sadguru sudah menunjukkan sifat-sifat rohani sejak usia dini. Ia sudah memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dilakukannya selama perlawatannya di dunia ini. Ia sudah mengantongi blueprint yang jelas tentang dunia yang akan dibangunnya.

Nah, kalau Anda bertemu dengan seorang Pemandu Sejati seperti itu, maka perannya penting sekali. Ia dapat menunjukkan jalan kepada Anda. Kendati setelah itu, Anda mesti berjalan sendiri. Seorang pernandu sejati tidak akan menggendong Anda atau mengantar Anda ke tujuan Anda. Ia tidak akan memanjakan Anda.

Sumber: (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

#AnandKrishna#AnandAshram#UbudAshram

Yakin, Trust! Lampaui Logika dan Pemahaman dari Buku Belaka

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , , , on August 21, 2018 by triwidodo

Kisah Pundit dan Pengantar Susu

Seorang Master berkisah tentang Pundit (Cendekiawan, Pakar, Ahli Kitab) dan Pengantar Susu. Ada seorang Pundit yang sangat disiplin, berpegang pada jadwal waktu yang sudah terencana. Sang Pundit bangun pagi sekali, membaca pranawa dan kemudian setelah bersuci minum secangkir susu pada jam 7 pagi tepat. Kadang-kadang Pengantar Susu datang terlambat, karena dia tinggal di seberang sungai yang membatasi tempat tinggalnya dengan tempat tinggal Sang Pundit. Sang Pengantar Susu harus naik perahu tambangan untuk menyeberangi sungai. Tukang perahu tambangan tersebut kadang lebih awal atau kadang sedikit lambat, sehingga Sang Pengantar Susu sering tidak tepat waktu.

Suatu hari Sang Pundit marah dan berkata, “Kamu membuatku kesal dengan merusak jadwal disiplin saya. Tidakkah kamu tahu bahwa saya harus minum secangkir susu pada jam 7 pagi? Mengapa kamu bergantung pada perahu tambangan untuk menyeberang? Hanya mengulang nama Rama (Tuhan), kamu akan bisa berjalan menyeberangi sungai. Rama akan melihat bahwa kamu tidak tenggelam.”

Pengantar Susu yang sangat sederhana dan lugu itu yakin, trust pada kata-kata Sang Pundit. Keesokan harinya, Pengantar Susu mengulangi nama Rama dan dia dapat berjalan menyeberangi sungai. Sang Pundit bertanya, “Bagaimana kamu bisa dataang tepat waktu?” Sang Pengantar Susu menjawab, “Tuan, saya mengulangi nama Rama seperti yang Tuan katakan kemarin, dan saya bisa berjalan menyeberangi sungai. “

Sang Pundit terperangah. Dia tidak percaya, langsung minum susu dan mengajak Pengantar Susu membuktikan perkataannya. Sang Pengantar Susu menju sungai, mengulang-ulang nama Rama dan dia bisa berjalan di atas air menyeberangi sungai dan mengajak Sang Pundit mengikutinya di belakang. Sang Pundit tahu bahwa dia tidak akan bisa erjalan menyeberangi sungai karena dia tidak memiliki trust, keyakinan terhadap apa yang dia sendiri katakan – kekuataan dari menyebut Nama.

Boleh jadi Sang Pundit hapal Kitab-Kitab, akan tetapi hanya sekedar hapal dan bisa membanggakaan apa yang dia pahami. Akan tetapi dia tidak punya trust, keyakinan terhadap apa yang disebutkan dalan kitab-kitab tersebut. Otak kita berisi memori yang kita kumpulkan mulai dari sekitar 5.000 tahun yang lalu. Hanya berpengang pada logika yang dimiliki memori otak kita, kita susah melampaui logika. Meditasi bisa melampaui logika. Dan, Sang Pengantar Susu telah mempunyai keyakinan yang melampaui logika.

Melampaui Lapisan Mental dan Pikiran

Bila kita dapat melampaui lapisan mental dan pikiran kita, maka dalam alam Kesadaran yang melampaui pikiran itulah kita menemukan Inteligensia, Kecerdasan, atau apa pun sebutannya. Sesungguhnya, kita tidak berpisah dari Kesadaran, dari Inteligensia dan, dari Kecerdasan itu. Segala sesuatu adalah manifestasi dari-”Nya”.  Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mind dan emosi mesti menyelami diri lebih dalam lagi untuk menemukan inteligensia. Mulai belajar untuk beriman bahwasanya kedalaman diri yang telah dicapainya belum seberapa. Dan, bahwasanya tiada batas dari apa yang dapat dicapainya, bila mereka menyelam terus. Ketika mind dan emosi masuk ke dalam wilayah inteligensia murni, dualitas mulai sirna. Secara pelahan tapi pasti, mulailah kesadaran “tunggal” mengambil alih.

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Lukas 17:6)

Saat itu, manusia siap memasuki Kerajaan Allah: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius7:7) dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keyakinan dan Kehendak Yang Kuat, Dua-Duanya Adalah Buah Jiwa

“Have faith, trust—yakinlah! Keraguan muncul dari pertimbangan, perhitungan, logika, dan pikiran. Sementara itu, keyakinan adalah urusan jiwa. Yakinlah bila kekuatan jiwa jauh melebihi kekuatan pikiran. Dan jangan lupa, energi yang Anda keluarkan untuk berkarya, untuk bekerja, justru memperkuat jiwa Anda, iman Anda, keyakinan Anda pada diri sendiri. Pertimbangan, penilaian, semuanya bisa salah. Akal bisa akal-akalan, bisa juga mengakali. Logika hanya menggunakan informasi yang sudah dimilikinya sebagai acuan. Keyakinan adalah dari jiwa. Dan dari keyakinan seperti itu lahir kehendak yang kuat. So, trust and will power, keyakinan dan kehendak yang kuat, dua-duanya adalah buah jiwa. Urusannya dengan akal budi di dalam diri Anda, bukan dengan akal atau akal sehat saja, yang adalah buah pikiran.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sang Pengantar Susu memiliki bekal keyakinan penuh dan devosi tanpa syarat.

 

Panembah Sejati Menempatkan Devosi di atas Rasio menurut Bhagavad Gita

Seorang panembah sejati tidak terjebak dalam permainan pikiran, persepsi, dan sebagainya. Dia menempatkan devosinya, penembahannya di atas rasio dan intelek.

Ini bukanlah soal “percaya-buta”, “perbudakan”, ataupun “pengultusan”. Sama sekali tidak. Sebab Krsna adalah Kesadaran Sejati Arjuna sendiri. Krsna adalah Kesadaran Sejati kita semua. Mengalahkan pikiran dan intelek demi Kesadaran Sejati menguntungkan kita sendiri; bukan perbudakan, bukan pengultusan, dan bukan percaya-buta.

Devosi atau penernbahan mendekatkan kita dengan ilahi, dengan diri kita yang sejati — dengan potensi diri yang tak terbatas, dengan intuisi, dengan kemampuan mengubah gagak-diri menjadi koyal bersuara merdu. Sementara itu, pikiran, akal-budi, intelek, pengetahuan — semuanya mengantar kita ke luar diri.

Untuk berinteraksi dengan dunia luar – Silakan menggunakan pikiran, akal-budi, dan sebagainya. Namun, untuk mengakses diri sendiri, kita mesti drop semuanya dan mesti jalan ke dalam diri dengan bekal keyakinan penuh dan devosi tanpa syarat. Bekal lain tidak berguna.

Topeng-topeng yang kita pakai sepanjang hari “barangkali” berguna untuk berhubungan dengan dunia luar. Namun, sama sekali tidak berguna untuk diri sendiri. Intelek, gelar, kedudukan — semuanya adalah atribut-atribut Iuaran, dan berguna untuk dunia luar. Untuk alam di dalam diri, kita tidak membutuhkan semua itu. Saat tidur saja, kita sepenuhnya berada dengan diri sendiri. Saat itu, kita tidak memakai jas, dasi, dan sebagainya. Saat itu kita tidak berpakaian rapi. Penjelasan Bhagavad Gita 12:20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)