Archive for vasishtha

Raja Saudasa: Membatalkan Kutukan Menerima Ketidakadilan #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 14, 2017 by triwidodo

 

Mereka adalah orang-orang yang sangat berpotensi dan sesungguhnya sudah mengalami evolusi spiritual. Dalam usia tertentu, mereka mengenal spiritualitas dan terdorong oleh batinnya sendiri untuk mendalaminya. Tidak ada paksaan dari siapa pun, termasuk dari orang tua dan keluarga. Ada kalanya keluarga mereka mendukung, ada kalanya tidak. Terbukti 18 kasus tidak cukup mendapat dukungan. Pada umumnya ada pengalaman tertentu dalam hidup mereka yang menjadi trigger atau pemicu sehingga mereka berpaling pada spiritualitas. Dan jalan spiritual yang mereka tempuh pun bervariasi. Selama beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, mereka menjalani hal-hal yang dianggap sudah menjadi takdir.

Kesalahan mereka, tanpa kecuali, mereka semua masih mempertahankan “pergaulan” mereka sebelumnya. Pergaulan inilah yang kemudian menjadi bumerang bagi mereka. Terjadilah tarik menarik antara pergaulan lama dan kesadaran baru. Dan dalam pertarungan itu, pergaulan lamalah yang keluar sebagai pemenang. Jelas demikian karena kesadaran baru tersebut “baru” berusia beberapa bulan atau beberapa tahun (paling baru kurang lebih 8 bulan dan paling lama 5 tahun). Sementara itu, pergaulan lama sudah berusia belasan bahkan puluhan tahun (bila kita mengambil “satu episode kehidupan” saja sebagai bidang studi. Bila memperhatikan episode-episode sebelumnya maka pergaulan dalam “episode yang berjalan” sesungguhnya mewakili belasan hingga ratusan episode sebelumnya dalam bentangan waktu 500 hingga 5000 tahun). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Saudasa salah satu anak-cucu keturunan Raja Bhagiratha adalah raja yang adil dan bijaksana. Pada suatu hari, dia pergi berburu di hutan, bertemu dengan seorang raksasa dan membunuhnya. Pada saat dia kembali ke istana dia tidak sadar bahwa ada saudara raksasa tersebut ingin membalas dendam kepadanya dan kemudian masuk ke istana menyamar sebagai seorang juru masak istana.

Pada suatu ketika Rishi Vasishtha, Guru Saudasa datang berkunjung atas undangan sang raja. Raja Saudasa menawari gurunya untuk makan bersama. Sang raksasa yang menjadi juru masak istana, memasak daging manusia untuk makanan yang disajikan kepada Rishi Vasishtha. Rishi Vasishtha mengerti bahwa dia disuguhi makanan dari daging manusia dan kemudian mengutuk sang raja bahwa tidak sepantasnya seorang raja menghidangkan daging manusia bagi gurunya. Hanya seorang raksasa yang berbuat demikian!

Rishi Vasishtha sadar bahwa sang raja tidak tahu bahwa yang dihidangkan adalah daging manusia, mungkin saja hal tersebut adalah kesalahan juru masaknya. Oleh karenanya, Rishi Vasistha mengatakan bahwa sang raja akan menjadi raksasa selama 12 tahun.

Raja Saudasa merasa tersinggung karena tidak merasa bersalah, dan mengambil air dan siap untuk ganti mengutuk Rsi Vasistha. Adalah permaisuri raja, Madayanti, yang mengingatkan bahwa tak baik mengutuk seorang guru. Guru adalah Gusti yang mewujud untuk memandu kita. Mungkin saja di kehidupan dahulu sang raja pernah berbuat salah sehingga dalam kehidupan ini harus menyelesaikan hutang karma. Dengan mengutuk maka sang raja akan membuat karma baru lagi sehingga hutang karmanya tak pernah terselesaikan. Sang raja sadar bahwa peringatan isrinya ada benarnya sehingga dia mengurungkan mengutuk gurunya dan airnya dijatuhkan ke kakinya. Kakinya menjadi hitam, gelap sehingga sang raja mendapat nama “Kalmasapada”, kaki malam, kaki yang hitam gelap.

Sang raja kemudian menjalani kutukan sebagai raksasa di hutan dengan berusaha hidup penuh kesadaran. Tidak mudah. Dengan menjadi raksasa, karakter bawaan raksasa akan mempengaruhi tindakannya. Lingkungan hutan akan mempengaruhinya. Kehidupan masa lalunya sebagai raksasa bisa terpicu kembali.

Hidup itu memang penuh resiko, perlu waspadaan setiap saat. Ibaratnya kita mengemudi mobil sudah mendekati tujuan, karena lalai bisa terjadi kecelakaan yang menghambat kita menuju tempat tujuan.

Pada suatu ketika ada seorang brahmana bersama istrinya berkasih-mesra hutan tersebut. Sebagaimana kebiasaan raksasa, maka sang raja berkeinginan untuk makan daging brahmana tersebut. Istri sang brahmana mengingatkan bahwa diri sejatinya adalah seorang raja manusia, agar dia bertindak sebagai seorang raja manusia dan tidak membunuh suaminya.

Sang raja dalam kehidupannya sebagai raksasa dalam lingkungan hutan belantara tidak dapat mengendalikan sifat keraksasaannya, sehingga dia nekat membunuh sang brahmana……….

Satu kesalahan dalam kehidupan bisa mengakibatkan banyak kesalahan yang semakin menyeretnya jatuh dari hidup berkesadaran…..

Apakah sang istri Brahmana akan mengutuk sang raja sehingga hidupnya makin sengsara?

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya……..

Salah satu syarat untuk meniti ke dalam diri adalah menerima ketidakadilan yang menimpa kita. Dalam kehidupan masa lalu, mungkin saja kita berbuat tidak adil sehingga kita menerima ketidakadilan masa kini. Bisa juga seseorang menerima ketidakadilan, karena Keberadaan ingin menunjukkan kepada orang banyak bagaimana seseorang dapat menghadapi ketidakadilan dengan bijaksana. Yang jelas kita tidak dapat membersihkan lantai dengan air yang kotor. Terima, hadapi, selesaikan tanpa kehilangan kesadaran……..

Ada pohon yang berbuah dalam sekian bulan, atau sekian tahun. Persis seperti itu pula dengan perbuatan-perbuatan kita. Ada kalanya kita tidak berbuat jahat, dan langsung dijatuhi hukuman. Pada saat itu seharusnya kita bersyukur, berterima kasih: “Ya Allah, sungguh beruntunglah diriku, tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan utang-piutang perbuatanku.” (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Advertisements

Beda Anak yang Lahir Akibat “Kecelakaan” dan Hasil “Pemujaan”: Kisah Kelahiran Sri Rama

Posted in Ramayana with tags , on August 29, 2013 by triwidodo

dasaratha-payasam sumber kbehari wordpress com

Ilustrasi Dasharatha menerima karunia payas sewaktu Upacara Yajna sumber: kbehari wordpress com

Persiapan Melahirkan Putra

Dalam diri pasangan suami istri terdapat ribuan potensi genetika yang akan menurun kepada anak mereka. Bagi yang percaya, banyak jiwa yang ingin dilahirkan kembali dan ingin menjadi anak dari pasangan suami istri tersebut. Jiwa-jiwa tersebut mempunyai kaitan karma masa lalu dengan calon kedua orang tuanya tersebut. Anak yang lahir karena “kecelakaan” dan akibat “pemujaan” akan berbeda, karena beda jiwa yang masuk dalam benih calon anak tersebut. Minimal itulah yang disampaikan dalam kisah Ramayana.

Akibat “kecelakaan” Resi Visrava dengan Sukesi lahirlah Rahwana, Kumbhakarna dan Sarpakenaka yang digambarkan bersifat raksasa. Di pihak lain Sri Rama, Lakshmana, Satrughna dan Bharata lahir akibat pemujaan orang tua dan seluruh rakyat Kerajaan Kosala. Kedua orang tua boleh memiliki kualitas genetika yang sempurna, akan tetapi “persiapan” kedua orang tua dalam membentuk calon anak sangat mempengaruhi karakter anaknya.

Upaya Rahwana Menggagalkan Ramalan Kekalahannya

Di Kahyangan, para dewa mengadu bahwa Rahwana menjadi sangat sakti akibat karunia Brahma, dan bertindaksewenang-wenang kepada kerajaan lain. Ia bahkan ingin merebut tahta Indra. Brahma dan para dewa menghadap Vishnu dan Vishnu berkata bahwa dia akan lahir ke dunia menyelesaikan masalah tersebut.

Dalam kitab Ananda Ramayana, dikisahkan bahwa Rahwana mendengar selentingan ramalan bahwa nantinya dirinya akan bisa dikalahkan oleh satria yang sebentar lagi akan lahir. Rahwana segera menemui Brahma, dan bertanya siapakah nantinya satria yang dapat mengalahkannya. Akhirnya Rahwana tahu bahwa satria tersebut akan dilahirkan oleh Dasaratha dan Kausalya. Untuk melawan Dasaratha dari Kerajaan Kosala, Rahwana berpikir matang-matang karena Kosala selama ini belum pernah ditaklukkan oleh kerajaan mana pun. Rahwana akhirnya menculik Kausalya dan diletakkan di pulau kecil di tengah lautan. Dasaratha membawa pasukanke pulau tersebut, akan tetapi kapal mereka ditenggelamkan oleh para raksasa pasukan Rahwana. Ternyata Dasaratha tidak tenggelam tetapi memegang serpihan kayu kapal dan bisa menemui Kausalya. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia di istana Ayodya, ibukota kerajaan Kosala.

Kejadian serupa terjadi pada zaman Dvapara Yuga yang dilakukan Raja Kamsa untuk selalu membunuh Putra Devaki yang baru lahir, karena Putra Devaki diramalkan akan membunuhnya di kemudian hari. Firaun juga dikatakan membunuh semua bayi laki-laki Yahudi yang diramalkan akan menaklukkannya di kemudian hari. Pada masa kini pun seseorang yang diperkirakan menjadi pesaing kuat dalam Pemilihan Kepala Negara atau Kepala Daerah, sering dirusak sebelum menjadi Calon Saingan. Potensi Rahwana, Kamsa dan Firaun dalam diri manusia belum pernah reda.

“Cara-cara klasik ini sampai saat kini pun masih digunakan. Aneh, kita tak pernah belajar dari sejarah. Kita selalu takut akan persaingan, karena kita tidak percaya pada diri sendiri. Kita takut pada mereka yang kita anggap sebagai saingan kita. Untuk menghilangkan persaingan, kita melakukan apa saja. Kita tidak dapat menerima keberadaan seorang kompetitor. Kita akan berupaya keras untuk mengeluarkan dia dari arena permainan.”  (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Melakukan Pemujaan Guna Memperoleh Putra

Karena belum juga mempunyai putra, maka Kausalya meminta Dasaratha kawin lagi dan kemudian kawin dengan Sumitra. Ternyata mereka berdua belum juga mempunyai putra dan mereka berdua minta Dasaratha kawin lagi, dan akhirnya kawin dengan Keikayi. Keikayi mempunyai syarat bahwa dia mau kawin hanya bila anak sulungnya putra, maka putranyalah yang akan menggantikan Dasaratha. Ternyata ketiga permaisuri belum melahirkan putra semuanya.

Atas nasehat Penasehat Agung, Resi Vasishta, maka Dasaratha dan para istrinya diminta melakukan upacara yajna mohon dikaruniai putra. Setelah selesai acara ritual, bubur payas dalam acara persembahan dibagi dalam 3 mangkok untuk dibagikan kepada 3 istri Dasaratha. Ketiga permaisuri segera melakukan mandi keramas, mencuci rambut mereka, sebelum makan makanan tersebut. Saat Sumitra berkeramas, mangkok berisi makanan diletakkannya  di atas tembok. Seekor burung elang mendekat dan tiba-tiba membawa mangkok tersebut. Sumitra menjadi panik dan menceritakan kejadian tersebut kepada Kausalya dan Keikayi. Kausalya dan Keikayi memberikan separuh bagian mereka kepada Sumitra sehingga Sumitra mendapatkan separuh makanan dari Kausalya dan separuh makanan dari Keikayi.

Akhirnya ketiga permaisuri melahirkan putra-putra mereka. Kausalya melahirkan Rama, Keikayi melahirkan Bharata sedangkan Sumitra melahirkan anak kembar Lakshmana dan Satrughna.

Kedekatan Lakshmana dengan Rama

Nampaknya pembagian bubur payas tersebut menjadi tanda bagi kelahiran keempat putra Dasharatha.

Dikisahkan disediakan 4 ayunan untuk 4 bayi tersebut, akan tetapi Lakshmana selalu menangis dan atas saran Resi Vasishta, Lakshmana di tempatkan pada ayunan Rama, dan Lakshmana  menjadi tenang. Setelah agak besar semakin nampak bahwa Lakshmana selalu menemani Rama, sedangkan Satrughna selalu menemani Bharata. Mungkin itulah makna pemberian sebagian makanan dari Kausalya dan Keikayi kepada Sumitra.

Makna Nama Keluarga Dasharatha

Berikut adalah terjemahan bebas dari kutipan buku the Hanuman Factor, (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dasharatha atau “sepuluh” ratha, atau kereta perang di bawah perintahnya. Yang dimaksud di sini adalah kereta-kereta dari 5 pengindera serta 5 organ-organ panca indera kita.

Kaushalyaa adalah melatih diri dan disiplin. Dengan melatih kemampuan dan dengan disiplin, sesungguhnya kita dapat mengendalikan Dasharatha.

Sumitra adalah seorang mitra, seorang “teman” bagi semuanya, dan tidak menjadi musuh bagi siapa pun juga.

Kaikeyi adalah manis dan lembut, namun “tidak bijak”. Itulah mengapa pembantunya, Manthara, yang bermakna “pikiran yang bergejolak”, dapat mempengaruhinya. Dan mereka berdua membuat sang komandan 10 kereta perang, Dasharata, kehilangan kendali atas kereta-kereta tersebut dan mematuhi apa yang mereka berdua perintahkan. Demikianlah, ketidak-bijaksanaan dan pikiran yang bergejolak menjadi alasan pengusiranmu ke hutan.

Lakshmana adalah “perhatian yang tidak bercabang”, intelejensia dan kebijaksanaan sejati, yang merupakan antidote bagi ketidakbijaksanaan dan pikiran yang bergejolak.

Bharat terlahir dari Kaikeyi, ia yang tidak bijak, Bharat membuktikan diri bahwa dia mampu menjalankan kerajaan ketika Rama tidak ada. Bharat mewakili cinta dalam perwujudannya yang paling tinggi: cinta yang terarah pada Tuhan, cinta bagi Tuhan.

Shatrughna adalah Sang Penghancur para musuh.

Rama adalah Sang Penghuni Sejati. Saya menghuni tubuh ini dalam waktu yang sudah ditentukan bagi saya. Saya membawa voucher hotel yang membatasi waktu tinggal saya di kamar hotel ini. Saya tidak bisa tinggal di hotel ini melewati masa tertera dalam voucher tersebut. Ketika saya meninggalkan kamar ini, kamar ini mungkin menganggap saya mati. Ia mungkin tidak bertemu dengan saya lagi. Saya mungkin tidak akan tinggal di kamar hotel yang sama lagi. Tetapi, apakah saya mati? Manajemen hotel dan para staff bisa saja menyampaikan ucapan selamat tinggal kepada saya, tetapi kemanakah sebenarnya saya pergi? Saya hanya check out saja dari hotel tersebut. Saya masih ada di sekitar hotel tersebut. Saya mungkin akan mendapatkan voucher untuk menginap di hotel lain. Atau saya mungkin mencoba untuk memesan kamar di hotel yang sama. Saya mungkin datang kembali untuk menyapa Anda lagi. Kemana saya dapat pergi? Jika tidak di kota ini, maka di kota lain—jika tidak di planet ini, maka di planet lain—saya tetap ada. Saya telah ada dalam keabadian. Dan saya tidak melihat kemungkinan bagi saya untuk berhenti ada.

Proses evolusi terus berlanjut; saya telah mengupgrade diri saya dari sebuah hotel tak berbintang menjadi hotel berbintang dan mewah. Ya, kamar hotel tetaplah kamar hotel. Waktu tinggal saya di sini, dalam kehidupan kali ini, mungkin singkat—sesingkat waktu tinggal saya yang sebelum-sebelumnya. Hotel ini bukan milik saya. Saya hanya seorang tamu di sini.

Situs artikel terkait

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Agustus 2013