Archive for bhagavad gita

Kisah Cendekiawan dan Brahmana Pedesaan #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on December 8, 2017 by triwidodo

Seorang Guru bercerita: Seorang Cendekiawan sedang berjalan-jalan ke daerah pedesaan. Dia bertemu dengan seorang brahmana desa yang duduk di bawah pohon membolak-balik kitab Bhagavad Gita sambil merenung dan menangis sedih.

Sang Cendekiawan mendekati dan berkata, “Bapak, tidak ada sebuah kejadian yang bersifat kebetulan. Pertemuan kita ini pun bukan bersifat kebetulan. Semuanya sepengetahuan Gusti. Mungkin Gusti mengirim saya untuk meringankan kesedihan Bapak.  Jangan bersedih karena bingung tidak memahami Bhagavad Gita, katakan pada saya, sloka yang mana yang sulit dipahami, saya akan menjelaskan kepada Bapak.”

Sang Cendekiawan masih hapal penjelasan Bhagavad Gita 9:10, “Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan….. Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adalah Hyang Maha Mengawasi – Sang Pengawas Agung.”

Sang Brahmana desa menjawab, “Terima kasih Nak, saya menangis karena saya melihat Sri Krishna selalu berada di depan saya. Tidak peduli halaman atau sloka yang mana yang saya lihat, saya melihat kereta Arjuna dan Sri Krishna. Di semua halaman atau sloka saya melihat Sri Krishna. Kemudian saat saya berjalan, bekerja, makan atau berbuat apa pun saya melihat Sri Krishna. Apakah itu tidak membuat saya menangis, Nak?”

Sang Cendekiawan hapal Penjelasan Bhagavad Gita 9:31, “Hati seorang bhakta yang seluruh kesadarannya terpusatkan pada Gusti Pangeran, sudah tidak bercabang lagi. Ia telah menghaturkannya pada Gusti Pangeran. Alam benda hanyalah ibarat kantor tempat ia bekerja, bukan rumahnya. Rumahnya adalah istana Gusti Pangeran. Ia tidak pernah lupa akan hal itu. Ia tidak mencari rumah lain. Ia tidak mencari cinta dari dunia benda. Ia sudah mendapatkan segala-galanya dari Gusti Pangeran, Hyang adalah Wujud Cinta Kasih.”

Sang Cendekiawan sadar, bahwa pertemuan itu memang bukan sebuah kebetulan, Gusti mempertemukan dirinya dengan seorang brahmana desa agar dia belajar dari sang brahmana, bukan dia mengajari sang brahmana. Dia hapal Bhagavad Gita tapi Sang Brahmana Desa telah melakoninya.

Sang Cendekiawan ingat Gurunya yang berkata, “Dikatakan perlu beberapa jam untuk membaca kitab suci. Perlu waktu bertahun-tahun untuk memahaminya. Tapi, untuk menghidupi kitab suci, melakoni kitab suci dalam kehidupan dengan penuh penghayatan, bisa menghabiskan banyak kehidupan.”

 

Menghidupi Pengetahuan Sejati dengan Laku

“Pengetahuan Sejati lebih mulia dari laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan, melepaskan diri dari keterikatan hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.” Bhagavad Gita 12:12

………………..

Pengetahuan sejati pun tidak berarti apa-apa jika tidak dihayati. Bukan sekadar ‘tahu’, tetapi menghayati pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa ‘dihidupi’, akan menjadi basi, tidak berguna.

‘Hayat’ dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti ‘hidup’. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah meditasi yang sebenarnya. Inilah meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… Dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada ‘laku’ – ya, kembali pada laku. Tapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

‘Laku’ di anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakakan; laku yang meditatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan segala atribut tambahan tersebut, laku di anak tangga tersebut sudah bukan laku biasa.

Tidak seperti laku di anak tangga awal. Laku di anak tangga ini adalah laku seorang panembah, laku dengan semangat manembah. Dan, bukanlah sekedar itu, laku di anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna ‘renunciation’ atau ‘tyaga’.

Berati, bukan sekadar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dimuliakan.

Dalam tradisi Hindu kuno, seorang anak menyerahkan seluruh penghasilannya kepada orangtua. Kemudian orangtua yang mengatur seluruh keuangan keluarga, termasuk untuk kebutuhan pribadi anak itu sendiri. Ketika terjadi keperluan di luar dugaan, maka orangtua pula yang berkewajiban untuk menutupinya. Si anak bebas dari segala tanggung jawab, karena ia telah menyerahkan seluruh penghasilannya.

Jika kita bisa menghaturkan buah perbuatan kita kepada Hyang Maha Kuasa, maka Ia akan mengatur hidup kita. As simple as that, memang membutuhkan iman, keyakinan yang kuat, penyerahan diri yang sempurna. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Badan dan Jiwa berasal dari Gusti Pangeran

Baik kendaraan maupun pengemudi – baik Badan dan Alam Benda, maupun Jivatma atau Jiwa-Individu – ujung-ujungnya keberadaan semua adalah karena-Nya, karena Jiwa Agung. Kendati demikian, karena perbedaan fungsi, maka terciptalah ilusi-dualitas.

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada.

Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu.

KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAK – Jivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa.

LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung.

TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada. Penjelasan Bhagavad Gita 15:17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Advertisements

Kisah Guru Nanak Mengunjungi Desa Baik dan Desa Jahat #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 27, 2017 by triwidodo

Mereka yang Selaras dengan Hukum Alam  dan Mereka yang Merusak Alam

“Ketahuilah bahwa Karma (yang selaras dengan hukum-hukum alam) adalah sesuai dengan Kehendak Ilahi, Brahman yang Kekal Abadi. Maka sesungguhnya, Ia Hyang Meliputi segala-galanya ada juga dalam Yajna, Persembahan atau Karya tanpa Pamrih dengan semangat Manembah.” Bhagavad Gita 3:15

Tiada sesuatu di luar-Nya. Ia meliputi segala-galanya. Maka, persembahan yang kita lakukan dalam bentuk pelestarian alam dan sebagainya adalah bagian dari kehendak-Nya!

Demikian, berkarya sesuai dengan kehendak-nya – kita menyelaraskan diri dengan-Nya. Kita lebih maju menuju, mendekati istana-Nya. Kita makin dekat dengan takdir kita, yaitu menemukan kesejatian diri kita, kebenaran hakiki kita, sebagai percikan Ilahi.

Barangkali Anda bertanya, “Bagaimana dengan mereka yang merusak alam, tidak berkarya dengan hukum-hukum alam yang adalah selaras dengan kehendak-Nya? Apakah semua itu terjadi di luar-Nya? Apakah Ia tidak meliputinya? Kemudian siapakah yang meliputi mereka yang batil, jahat, merusak?”

Krsna sudah menjelaskan sebelumnya, mereka adalah pencuri – Mereka memilih untuk hidup di permukaan. Mereka pun diliputi-Nya. Mereka pun berada di dalam-Nya. Tapi, atas kemauan mereka sendiri, mereka tidak berada dekat pusat kesadaran. Mereka hidup di pinggiran. Mereka tidak merasakan kehadiran-Nya, karena ulah mereka sendiri.

Mereka menganggap hidup mereka pribadi adalah segala-galanya dan yang terpenting. Mereka hidup dalam anggapan bahwa diri mereka bisa eksis tanpa berkah-Nya. Mereka sepenuhnya dikendalikan oleh badan dan indra. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Guru Nanak dan 2 Muridnya Mengunjungi 2 Desa

Seorang Guru bercerita tentang Guru Nanak dan 2 orang muridnya yang sedang melakukan perjalanan. Mereka sampai kepada sebuah desa yang penduduknya saleh, sangat baik, ramah dan murah hati. Guru Nanak dan kedua muridnya berbahagia melihat keadaan desa tersebut. Guru Nanak berkata kepada muridnya, semoga desa tesebut musnah dan tidak ada lagi di permukaan bumi.

kedua murid bingung dan salah seorang murid bertanya kepada sang guru bukankah desa yang demikian sangat indah, mengapa sang guru tega mengatakan hal demikian? Guru Nanak tidak menjawab melainkan mengajak kedua muridnya untuk meneruskan perjalanan dulu.

Sampailah mereka ke desa lain yang penduduknya jahat, culas, nampak di mana-mana terjadi pertengkaran dan mereka yang bertengkar saling ngotot merasa paling benar. Guru Nanak berkata kepada kedua muridnya bahwa dia mengharapkan desa ini bisa menjadi makmur.

Kedua muridnya semakin bingung dan kembali salah seorang murid mempertanyakan mengapa desa dengan penduduk yang jahat yang sudah selayaknya dimusnahkan, tapi sang guru justru mengharapkan desa tersebut menjadi makmur?

Guru Nanak mengajak kedua muridnya beristirahat di bawah pohon dan menjelaskan dasar pandangan beliau.

“Renungkan! Desa pertama berisi penduduk yang saleh dan sangat baik. Apabila desa tersebut dimusnahkan, maka para penduduknya akan menyebar ke desa-desa lain di sekitarnya. Setiap penduduk dari desa yang baik tersebut akan menyebarkan virus kebaikan mereka ke desa-desa yang didatanginya. Sungguh sangat sayang bila “benih-benih yogurt” dari baskom yang baik itu tidak dimanfaatkan. Biarlah mereka pergi dan setiap tetes dari mereka akan mengubah susu biasa di baskom lain menjadi yogurt.”

“Di desa kedua, yang penduduknya jahat, bila desa tersebut makmur, maka seluruh penduduknya tidak akan pergi dari desa tersebut. Biarlah para penduduk yang jahat ‘dikarantina’ oleh kemakmuran mereka sehingga tidak berbagi kejahatan mereka ke desa lain.”

“Marilah kita mengkarantina kejahatan dan keculasan dalam diri kita dan berbagi kemuliaan dan kebaikan dari diri kita!”

 

Berbagi Kebaikan dan Menjadi Bagian dari Pesta Raya Kehidupan

“Demikian, roda kehidupan berputar terus, dengan makhluk-makhluk hidup saling menghidupi dan berbagi. Seseorang yang tidak melakukan hal itu Partha (Putra Prtha –sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) dan hidup untuk memenuhi nafsu-indranya saja, sesungguhnya hidup dalam kesia-siaan.” Bhagavad Gita 3:16

Berbagi berarti menjadi bagian dari Kehidupan Agung. Menjadi bagian dari Pesta Raya Kehidupan. Sungguh merugilah orang yang datang ke pesta, tapi duduk bengong di pojok.

Atau seperti seorang pedagang yang datang ke pasar untuk berbelanja, tapi tidak jadi. Ia malah menunggu di luar pasar sambil berulang-ulang menghitung uang di kantongnya dan berpikir terus, tidak bisa menentukan  mau beli apa untuk dijual kembali.

Jadilah bagian dari Pesta Raya Kehidupan, jadilah pedagang yang cerdas dan bijak. Berkaryalah dengan semangat manembah. Hidup dan saling menghidupi! Nikmatilahkeberadaan kita di dunia ini. Persinggahan  kita di sini hanyalah untuk sesaat saja, manfaatkan setiap saat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

5 Tingkat Pemahaman Diri dalam Bhagavad Gita #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 22, 2017 by triwidodo

5 Tingkat Pemahaman Diri: 1. Belum memahami Jiwa, 2. Hanya memikirkan objek-objek di luar, 3. Memuja Gusti, 4. Melakoni Pengetahuan Sejati, 5. Menjadi Bhakta, Panembah:

  1. Belum memahami Jiwa

“Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran. Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya.” Bhagavad Gita 2:29

Banyak yang hendak menjelaskan tentang roh. Banyak buku dapat diperoleh di pasar. Setiap penulis mengaku memiliki informasi yang paling lengkap dan otentik. Jarang sekali kita bertemu dengan seorang Kṛṣṇa yang berani mengakui bahwa Jiwa Tak-Terjelaskan.

Banyak pula yang Berupaya untuk Menjelaskan Tuhan atau Gusti Pangeran, Jiwa Agung. Sulit, hampir mustahil, atau boleh dikatakan – mustahil. Jiwa adalah percikan dari Jiwa Agung. Mungkinkah percikan menjelaskan sumbernya?

Jiwa ibarat sinar matahari; dan Jiwa Agung, Tuhan, adalah Matahari. Bagaimana sinar matahari menjelaskan matahari? Bisakah sinar matahari menjelaskan sumbernya? Keberadaannya, keberadaan sinar, keberadaan Jiwa adalah penjelasan tentang adanya matahari, adanya Jiwa Agung. Tiada penjelasan lain. Keberadaan Anda – sebagai Jiwa – adalah definisi, penjelasan, setidaknya bukti akan keberadaan Sang Jiwa Agung Hyang Maha Ada, Gusti Pangeran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Hanya memikirkan objek-objek di luar

“Dalam diri seorang yang senantiasa memikirkan objek-objek di luar yang memikat indra – timbullah ketertarikan, keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan, keterikatan timbul keinginan untuk memiliki objek-objek tersebut. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).” Bhagavad Gita 2:62

Keterlibatan Berlebihan menimbulkan Ketertarikan – Anda bertemu dengan seseorang setiap hari. Ada urusan, tidak ada urusan – tetap bertemu. Maka, kemungkinannya dua, Anda bertengkar, atau makin tertarik, makin ingin bertemu.

Dari ketertarikan itulah timbul keterikatan. Anda mulai merasakan dunia Anda hampa tanpa orang tersebut. Hidup terasa tidak berarti tanpa sesuatu yang telah merangsang Anda, mungkin kendaraan, mungkin rumah, mungkin gadget elektronik terbaru – apa saja. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Memuja Gusti

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, Bharatarsaba (Arjuna, Banteng Dinasti Bharata) – seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.” Bhagavad Gita 7:16

Mereka yang sedang mengejar harta-benda; mereka yang sedang mengejar kekuasaan duniawi – kemudian menyisihkan waktu untuk berdoa, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk beramal saleh – mereka pun panembah yang sudah berbuat baik. mereka pun mulia adanya. Apa yang mereka lakukan adalah kemuliaan, perbuatan yang mulia.

Krsna memahami betul psikis manusia – Ia tidak menolaksebagian besar umat manusia, yang sering berdalih bahwa “mesti ada keseimbangan antara dunia dan akhirat”. Cara pandang yang tidak tepat. Namun setidaknya mereka telah berbuat baik. mereka sudah memiliki semangat untuk manembah. Mereka tidak memikirkan diri saja, walau sebatas beberapa persen dari penghasilan – mereka telah ikut memikirkan sesama manusia. Kelompok Pertama, ini juga rajin menyumbang untuk pembangunan tempat-tempat ibadah dan sebagainya.

Kelompok Kedua adalah mereka yang sedang menderita, barangkali sakit, barangkali stres, barangkali miskin – atau ada penderitaan lain. Mereka berdoa supaya bisa bebas dari penderitaan. Bagi Krsna, mereka pun telah berbuat mulia. Mereka pun panembah. Mereka tidak mengetuk pintu seseorang yang zalim atau bersekongkol dengan pihak yang berada dalam kubu adharma. Mereka tidak mencari jalan pintas atau jalan adharma untuk mengakhiri penderitaan.

Kelompok Ketiga adalah para pencari pengetahuan sejati, kebenaran sejati. Termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini – kemungkinan besar – berada dalaam kelompok ketiga ini. Anda membeli buku ini dengan tujuan tersebut. Anda tidak membelinya untuk menjadi kaya-raya dalam sekejap. Anda tidak membelinya untuk mendapatkan voucher untuk masuk surga. Tidak. Anda membeli dan sedang membacanya untuk mengenal diri, untuk meraih pengetahuan sejati.

Namun, di atasnya adalah Kelompok Keempat, kelompok yang bijak.

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun sangat mengasihinya.”

Di atas segalanya adalah Kasih. Kata awal dan kata akhir adalah kasih. Seseorang boleh memiliki kesadaran tinggi – namun setinggi apa pun kesadarannya, tanpa kasih ia menjadi kering. Jiwanya tidak berlembab. Ia belum bisa disebut “bijak”.

Bagi Krishna seorang bijak bukan saja berpengetahuan dan berkesadaran hakiki, tetapi juga penuh kasih. Inilah Kelompok Panembah yang Keempat. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Melakoni Pengetahuan Sejati

“Kepadamu yang (ingin) bebas dari segala keraguan, sekarang Ku-jelaskan rahasia tentang Jnana atau Pengetahuan Sejati dan Vijnana atau Ilmu Kebendaan. Setelah mengetahui dan menghayatinya, niscayalaah kau terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian yang berulang-ulang.” Bhagavad Gita 9:1

Rahasia yang dimaksud Krsna adalah tentang Jnana dan Vijnana – Pengetahuan Sejati tentang Kebenaran Hakiki atau Jnana, dan dampak dari-Nya, yaitu “ilmu”, sains, atau Vijnanaa – yang menjelaskan bagaaimana Kebenaran terungkap dalam dan lewat kebendaan. Spiritualitas dan Sains – Inilah Jnana dan Vijnana.

……………

Gerakan lempengan-lempengan adalah fenomena alam – Tapi, tidak mesti terjadi gempa bumi, tidak mesti tsunami, tidak mesti menelan korban. Bencara alam terjadi bukan karena alam mengamuk tanpa dasar, tapi karena ada intervensi dari perbuatan, pikiran, dan perasan manusia sendiri. Mind over matter.

Krsna menjelaskan bila kita menyadari adanya hal ini – menginsafi adanya hubungan erat antara kejadian-kejadian di luar diri dengan di dalam diri – maka kita terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian. Kenapa bisa demikian?

Kelahiran dan kematian – dua-duanya adalah fenomena alami yang terjadi di alam benda. Persis seperti musim semi, gugur, angin sepoi-sepoi, angin ribut, puting-beliung, badai, topan, tsunami, dan sebagainya. Semuanya adalah fenomena-fenomena alam yang terjadi di alam benda.

 Jika saya, Anda, kita memahami bahwasanya semua kejadian itu erat hubungannya dengan diri kita, maka dengan mengatur diri, kita dapat ikut mengatur keadaan di luar diri. Dengan mendamaikan diri, kita dapat merasakan kedamaian di luar diri. Dengan membebaskan diri dari rasa takut, kita bisa mewarnai dunia luar dengan warna-warna yang lebih cerah.

Kelahiran dan kematian- kedua fenomena alam yang terjadi di dunia benda ini – adalah proyeksi dari gejolak pikiran dan perasan kita sendiri. Jika gugusan pikiran dan perasaan yang senantiasa bergejolak ini dapat dilampaui, maka kelahiran dan kematian pun dapat dilampaui! Lampauilah pikiran, perasaan sekarang dan saat ini juga. Pelampauan itu, kelak saat ajal tiba, akan memastikan bila tidak ada lagi benih yang tersisa, benih yang dapat menjadi penyebab kelahiran-ulang. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Menjadi Bhakta

“Pandava (Arjuna, Putra Pandu), ia yang melaksanakan tugasnya sebagai persembahan pada-Ku – demiAku; berlindung pada-Ku; berbhakti pada-Ku; tiada memiliki keterikatan; dan bebas dari permusuhan serta kebencian terhadap sesama makhluk, niscayalah mencapai-Ku.” Bhagavad Gita 11:55

“Inilah definisi Bhakti. Seorang bhakta atau panembah berada di dunia, di tengah kebendaan. Pun, ia menggunakan, memanfaatkan kebendaan, tetapi ia tidak bersandar pada kebendaan – Ia tidak bertopang pada kebendaan.

 

“Mereka yang menerima kebijakan luhur yang telah Ku-sampaikan; teguh dalam devosinya pada-Ku; dan, menganggap diri-Ku sebagai Tujuan Tertinggi adalah panembah, yang sangat Kusayangi.” Bhagavad Gita 12:20

Segala sifat sebelumnya terkalahkan oleh penerimaan seorang panembah tanpa keraguan. Oleh kasih tanpa syarat dan tanpa kondisi.

Untuk berinteraksi dengan dunia luar – Silakan menggunakan pikiran, akal-budi, dan sebagainya. Namun, untuk mengakses diri sendiri, kita mesti drop semuanya dan mesti jalan ke dalam diri dengan bekal keyakinan penuh dan devosi tanpa syarat. Bekal lain tidak berguna. dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Tanaman Manusia, Tanaman Tuhan dan Guru #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 21, 2017 by triwidodo

Berkah seorang Guru

Pertemuan dengan seorang Krsna, seorang Sadguru atau Pemandu Rohani, adalah berkah Ilahi. Hujan berkah ini turun bagi mereka semua yang siap untuk menerimanya. Dan Jiwa terguyur oleh siraman rohani yang dapat membantunya bangkit dari tidur panjang. Apa yang sebelumnya terlupakan, teringat kembali. Apa yang sebelumnya tertutup, terbuka kembali. Apa yang sebelumnya gelap, menjadi terang-benderang. Penjelasan Bhagavad Gita 16:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Kisah Seorang Pencari Kebenaran dan Seorang Master

Seorang Guru pernah berbagi kisah di dunia maya: Ada seorang pencari kebenaran yang selama beberapa tahun mencari seorang Master untuk menjadi gurunya dan dia tidak pernah menemukannya. Banyak Guru dijumpainya tapi tidak sesuai harapannya. Pada suatu hari dia melihat seorang Master sedang duduk di lapangan rumput dan beberapa muridnya sedang menyirami rumput.

Sang Pencari mendekati kepada Sang Master dan berkata bahwa semua murid-muridnya nampak mendengarkan apa pun yang diucapkan Sang Master. Mereka percaya penuh kepada Sang Master. Sang Pencari mengatakan bahwa seorang duniawi sulit menyadari Tuhan. Dia mengatakan bahkan mencari Master saja sulit, apalagi menyadari Tuhan. Dia bertanya apakah Sang Master menyetujui pendapatnya.

Sang Master tidak setuju, dan dia berkata tidak sulit menemukan Guru dan menyadari Tuhan. Sang Master minta sang Pencari melihat murid-muridnya yang sedang menyirami tanaman. Dia menujuk 2 tanaman kecil, kemudian dia mengambil alat untuk mengambil satu tanaman tersebut lengkap dengan akar beserta tanahnya menuju tempat tanaman kecil lainnya dan mengambil tanaman kecil satunya persis sama cara melakukan dengan yang sebelumnya. Sang Master menanam tanaman kecil pertama di tempat tanaman kedua, dan menanam tanaman kedua pada tempat tanaman pertama.

Sang Master berkata, bahwa tanaman pertama adalah manusia sedangkan tanaman kedua adalah Tuhan. Saya sebagai Master datang dan menyentuh tanaman pertama, dan tanaman pertama tersebut memnerikan respon keilahian, dan membawanya kepada tanaman kedua, tanaman Tuhan dan menanam di sana ditempat saya mengambil tanaman kedua. Selanjutnya saya membawa tanaman kedua, tanaman Tuhan yang penuh dengan Rasa Sayang, Kasih, Keceriaan dan Menyenangkan kepada tempat tanaman manusia. Hanya membutuhkan beberapa waktu membawa seseorang kepada Tuhan dan membawa Tuhan kepada orang tersebut.

Sang Pencari Kebenaran berkata bahwa dia ingin menjadi muridnya dan mohon diinisiasi.

Sang Master berkata akan menginisiasinya dan melanjutkan perkataannya bahwa apabila kamu merasa tidak mungkin menyadari Tuhan, maka pikiranmu tentang Tuhan salah dan spiritualmu salah, karena kemu terikat dengan dunia. Tapi apabila kamu mempunyai keterikatan yang sama terhadap Tuhan, kamu akan merasa mudah menyadarinya. Kemudian saya pergi ke Tuhan mengetuk pintunya dan langsung Dia membuka pintunya dan Dia berkata, silakan datang bersama-Ku. Dia datang dengan Kasih, Keceriaan, Berkah dan Rasa sayang.

Selanjutnya, saya datang dan mengetuk pintumu dan kamu tidak membukanya, kamu tetap membuat pintumu tertutup, terkunci, sehingga saya dan Tuhan pergi kembali. Ketika saya membawamu menghadap Tuhan di istana-Nya, Dia tidak akan membuka pintu istana-Nya, karena kamu tidak membukakan saat Dia bersamaku mengetuk pintumu.

Apabila kamu membuka pintu saat saya datang menemuimu, saya bersama Tuhan kamu persilakan masuk, Tuhan juga akan mengizinkan kamu datang ke istana-Nya. Apabila pintu hatimu terbuka, Tuhan mudah masuk ke dalam dirimu.

Tetapi, ketika saya mendatangimu, kamu langsung merasa terganggu, kamu takut, ragu, bermasalah dengan perasaanmu, punya rasa iri, kamu ingin menyembunyikan dan tidak membuka diri.

Tetapi, saat saya memindahkan tanaman manusia, dia tidak menunjukkan ketakutan, keraguan, tidak malu, tidak takut terhadap kebodohan diri. Ketika saya menyentuhmu, seorang Master memberkatimu atau bermeditasi untukmu, adalah waktunya kamu menyerahkan kebodohan dan ketidaksempurnaanmu bersama dengan devosimu, maka seorang Master gampang membawamu kepada Tuhan. Apabila tidak demikian, adalah tidak mungkin seorang Master mentransformasi kesadaran murid. Hanya memindahkan dua tanaman, itulah yang dikerjakan seorang Master ketika dia berurusan dengan murid. Satu tanaman adalah Tuhan dan tanaman lainnya adalah Tuhan.

Mendatangi seorang Guru

“Ketahuilah hal ini dengan mendatangi mereka yang mengetahui kebenaran; bertanyalah dengan penuh ketulusan hati; layani mereka dengan penuh keikhlasan; dan mereka akan mengajarkan, mengungkapkan kebenaran itu padamu.” Bhagavad Gita 4:34

Ayat penting bagi setiap “Calon” Siswa, calon murid. Ketika menghadapi seorang Pemandu Rohani, seorang Sadguru, maka sikap kita sangat menentukan bagi Sang Sadguru untuk menyampaikan kebenaran sesuai dengan kemampuan kita untuk menerimanya.

Ketika bertanya sesuatu… Kita mesti tulus. Bukan bertanya untuk “menguji” sang Pemandu Rohani. Banyak di antara kita yang melakukan hal itu, bertanya untuk “mencari tahu betapa pintarnya kau.”

Jika kita sudah bersikap seperti itu, maka seberapa pun hebatnya seorang pemandu, tidak akan bermanfaat bagi kita. Kita sudah menempatkan diri kita di atasnya; sementara itu, pengetahuan adalah seperti aliran sungai. Sifat alami air adalah mencari dataran rendah, mengalir ke bawah. Ia tidak pernah mengalir ke atas secara alami.

Seringkali kita berada sangat dekat dengan seorang Pernandu kelas prima. Tapi, karena sikap egois kita, tidak terjadi apa-apa. Aliran kebenaran yang keluar darinya, pengetahuan sejati yang mengalir darinya tidak membasahi kita. Lalu, jika kita mengeluh, “Aku bertemu, tapi tidak terjadi apa-apa,” maka yang mesti disalahkan adalah diri sendiri — ego kita sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Kisah Orang Saleh dan 3 Temannya #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , on November 18, 2017 by triwidodo

 

Jangan pernah mempercayai seorang teman yang belum pernah diuji. Dalam kisah ini digambarkan dengan indah siapa yang bisa dipercaya sebagai teman sejati kita.

Di sebuah desa kecil tinggal seorang saleh dan jujur. Pada suatu hari dia menerima sebuah panggilan dari raja untuk menghadap pengadilan. Raja tersebut dikenal karena eksentrik, mudah berubah, dan kejam. Orang saleh tersebut menjadi sangat terganggu dan takut. Dia merasa tidak pernah melakukan kesalahan atau ketidakadilan, jadi bagaimana dia bisa menerima panggilan seperti ini, dia bertanya-tanya.

Orang saleh tersebut memiliki tiga teman: teman terbaik, teman biasa dan teman yang tidak akrab.

Dia mendatangi teman terbaiknya, menjelaskan ketakutan dan kesusahannya kepadanya, dan memintanya untuk datang bersamanya ke istana raja. Teman terbaiknya, yang berdiri di depan pintu rumahnya, mendengar keseluruhan masalah dan berkata, “Saya khawatir saya tidak bisa menemani Anda ke istana raja. Saya hanya bisa mengucapkan silakan datang memenuhi panggilan,” dan dia menutup pintu rumahnya. Orang saleh tersebut menjadi sangat kecewa karena menyadari bahwa seseorang yang selalu dia anggap sebagai teman terbaiknya membiarkannya dalam masalah sendirian.

Dia kemudian pergi menemui teman kedua yang merupakan teman biasa, menceritakan keseluruhan masalahnya, dan mengajukan permintaan yang sama kepadanya. Teman biasa tersebut berkata: “Saya tahu Anda menjadi orang yang baik dan saya tidak akan pernah bisa membayangkan Anda melakukan sesuatu yang salah. Saya akan menemanimu sampai ke gerbang istana, tapi saya tidak berniat masuk istana dan berdiri di hadapan raja, karena Raja tidak dapat diprediksi dan eksentrik yang mungkin saja memutuskan saya ke penjara bersama Anda. ” Orang saleh tersebut menjadi kecewa untuk kedua kalinya.

Merasa sedih dan kecewa dengan kebaikan manusia, dia mendatangi teman yang tidak akrab baginya, yang tidak pernah diharapkan bantuan apa pun juga dari teman tersebut. Ketika teman ketiga ini mendengar tentang masalahnya, dia berkata kepadanya: “Saya tahu Anda untuk menjadi orang yang jujur ​​dan saya juga yakin Anda tidak mungkin melakukan sesuatu yang salah. Jangan khawatir, teman saya datanglah dengan santai ke istana raja. Saya akan pergi untuk memberi kesaksian kepada raja tentang kejujuran dan kebaikan Anda.” Orang saleh tersebut sangat terkejut dengan janji dukungan dari seorang teman yang tidak pernah diperhatikannya.

 

Orang saleh dalam kisah tersebut mewakili manusia dalam keadaan tertekan, menghadapi raja maut dan panggilan kematian. Gerbang istana merupakan tempat pemakaman. “Teman terbaik” mewakili uang dan harta benda, yang mengatakan selamat tinggal pada orang saat meninggal dan tidak pernah keluar dari rumahnya untuk menemaninya.

“Teman berikutnya” mewakili keluarga dan para teman, yang menemaninya hanya sampai ke kuburan dan kemudian meninggalkan mayatnya di sana.

“Teman yang tidak akrab”, yang tidak pernah diperhatikannya, adalah amal perbuatan baiknya, yang dilakukan tanpa pamrih untuk kepentingan orang lain. Amal perbuatan baiknya menjadi satu-satunya dukungan dalam perjalanannya yang menakutkan menghadapi maut. Amal tersebut adalah satu-satunya teman sejati dan tepercaya.

Berikut penjelasan tentang teman yang tidak akrab yang perlu dijadakan teman sejatinya:

Berkarya demikian, tiada upaya yang tersia-sia; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir, dan cemas.” Bhagavad Gita 2:40 Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Bersahabat dengan diri sendiri

Persahabatan sejati sama sekali tanpa pamrih. Persahabatan adalah ekspresi keintiman antara dua manusia yang menghormati dan meninggalkan kebebasan masing-masing secara utuh. Mencintai seseorang berarti peduli dan merasa bertanggung jawab atas hidupnya – bukan hanya keberadaan fisiknya tapi juga kesejahteraan totalnya. Kebutuhan akan perawatan dan tanggung jawab menunjukkan bahwa persahabatan adalah laku, bukan hasrat.

Kita harus menyelamatkan diri dengan upaya sendiri, berteman dengan diri sendiri. Kita tidak bisa bersandar kepada dunia benda. Egolah yang salah mengidentifikasi diri sehingga membedakan ini milikku dan ini milikmu, ini keluarga dan teman-temanku, itu keluarga dan teman-temanmu. Bersandar kepada harta benda atau bersandar kepada keluarga dan teman-teman-teman kita adalah karena ego kita. Dan ego tidak bisa menyelamatkan kita, karena harta-benda dan keluarga serta teman-teman tidak akan menemani kita saat kita menghadap kematian.

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan tidak membiarkannya terjerumus oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, ‘diri’-mu adalah kawan dan lawanmu sendiri.” Bhagavad Gita 6:5

Ini adalah puncak dari ayat-ayat pemberdayaan diri, di mana Krsna jelas sekali. Diri atau Atma dalam ayat ini adalah Diri-Sejati; Sang Jiwa yang merupakan percikan dari Jiwa Agung atau Paramatma.

Ego tidak bisa menyelamatkan – Ego menarik kesadaraan kita ke bawah. Ego sudah terkontaminasi oleh sekian banyak faktor di luar diri; dari pendidikan awal – formal maupun non-formal – hingga pergaulan dan sebagainya.

Sesungguhnya, pembangkitan diri yang dimaksud  ialah meninggalkan alam ego dan kembali pada Alam Jiwa, yang merupakan habitat kita yang sebenarnya.

Dalam Alam Jiwa kita semua bersatu – karena ‘setiap’ Jiwa adalah percikan dari sang Jiwa Agung yang satu dan sama.

Dalam Alam Ego, kita beragam, berbeda – Walau terbuat dari bahan baku – elemen-elemen alami – yang sama, badan kita pun sudah memberi kesan beda. Wajah Anda tidak sama dengan wajah saya. Penampilan kita beda. Cara pikir kita beda. Perasaan kita beda!

Ketika, kita memperhatikan, berfokus pada perbedaan – maka terjadilah konflik: ‘Milikku, milikmu; golonganku, golonganmu; aku bisa, kau tidak bisa; aku mampu, kau tidak…’

KONFLIK ADALAH HASIL DARI SALAH IDENTIFIKASI. Ketika kita memercayai dunia-benda sedemikian rupa, sehingga kita merasa “belum cukup hidup” tanpa memiliki atau menguasai sesuatu — maka, kesadaran kita merosot. Terjadi konflik dalam diri — karena sesungguhnya Jiwa bebas adanya, ia tidak mau terikat — tapi ia terpengaruh oleh keinginan-keinginan indra, sehingga tidak cukup berkuasa untuk mengatakan ‘tidak’ terhadap kekuasaan ego.

Maka terjadilah kekecewaan — karena, bagaimanapun juga kita tak akan pernah bisa menguasai dunia-benda sepenuhnya. Penguasaan kita sudah pasti bersifat terbatas. Sementara itu, Jiwa adalah percikan Hyang Tak Terbatas. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Empat Orang yang Berkutat dalam Kehidupan Materi #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 13, 2017 by triwidodo

Menurut para rishi, para bijak sejak ribuan tahun yang lalu, tujuan hidup adalah Ananda, Bliss, Kebahagiaan Abadi. Mereka yang masih berkutat dengan materi, gigih untuk memperoleh materi duniawi akan  sulit memahami tujuan hidup.

Berikut ini adalah kelompok orang yang masih berkutat dengan materi duniawi.

 

  1. Miskin, selalu merasa kurang

Orang yang keinginannya tidak pernah merasa puas: “Kenalilah sifat keinginan yang selalu tidak pernah puas. Dilayani terus, ia pun menagih terus. Seperti apa yang pernah dikatakan Mahatma Gandhi, ‘Dunia ini memiliki sumber yang cukup bagi seluruh warga dunia, semua orang – tapi tidak cukup untuk melayani keserakahan seorang pun.’” Penjelasan Bhagavad Gita 3:37 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

Orang yang belum menaklukkan insting hewani.

“Insting kita sama dengan insting hewani. Urusannya makan, minum, tidur, kenyamanan, seks, dan survival—pertahanan diri. BoIak-balik itu saja. Orang miskin maupun kaya raya; seorang pengusaha, pejabat, profesional, atau bahkan seorang pelacur, urusannya itu-itu saja. Ada yang melacurkan diri—dalam pengertian, melacurkan badannya—ada yang melacurkan batinnya.

Insting hewani berkepentingan dengan dirinya sendiri. Itu yang terutama. Sepenuhnya berada di bawah insting hewani, seseorang bisa saja tampak peduli terhadap keluarga, kerabat, atau siapa saja yang dekat dengannya—termasuk institusi, ideologi tertentu, dan sebagainya. Ruang geraknya sebatas: aku, punyaku, milikku, itu saja. Ia tidak bisa keluar dari lingkaran tersebut.

Sementara itu, jiwa berada dalam ruang tanpa batas. Semesta adalah miliknya, dan ia adalah milik semesta. Berada dalam ruang inilah, kemanusiaan kita bisa berkembang dan berbuah menjadi keilahian dan kemuliaan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

  1. Pengusaha, profesional yang fokus pada aspek materi

Raksasa adalah para penguasa, pengusaha, profesional, siapa saja, termasuk para pendeta dan rohaniwan – yang sepanjang hidup lebih mementingkan aspek materi dari keberadaan. Berarti, para materialis. Misalnya, cari uang untuk apa? Jika untuk diri sendiri saja, atau untuk keluarga, kawan, kerabat, dan para pengikut saja – maka ia materialis, ia Raksasa.

Namun, jika uang yang dihasilkan itu juga menjadi berkah bagi masyarakat luas – maka orang tersebut tidak bisa disebut materialis. Tentunya, idealnya adalah “menjadi berkah secara alami dan bagi seluruh alam”. Maksudnya, membantu, melayani, berbagi tanpa pamrih. Bukan untuk mencari nama, penghargaan, atau pujian. Penjelasan Bhagavad Gita 10:23 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Politisi, yang berfokus untuk memperoleh kursi bagi dirinya

Jumlah kursi jelas jauh lebih kecil, Iebih sedikit dari jumlah para peserta lomba. Maka terjadilah sikut-rnenyikut. Terjadilah politik dagang sapi, dagang kuda, dagang kecoa, dagang nyamuk, dagang semut, dan entah dagang apa lagi. Dagang daging, barangkali.

Kita melupakan potensi diri – Berpotensi sebagai pendidik, tapi menjadi politisi. Berpotensi sebagai abdi negara, tapi lebih suka dagang karena “duitnya banyak.” Sebaliknya, pengusaha menginginkan kekuasaan, dan masuk politik.

Jiwa yang sadar tidak akan pernah melakukan hal itu. Jiwa yang sadar, sadar sesadar-sadarnya bahwa dengan menjalankan peran sesuai dengan potensinya, ia sudah berkontribusi terhadap masyarakat. Berkontribusi secara positif dan efektif. Mau apa lagi? Untuk apa mengikuti jejak orang lain, ramai-ramai berlomba untuk mendapatkan kursi panas yang berusia sangat pendek?

Ketika kita bertindak sesuai dengan potensi kita masing-masing, pekerjaan menjadi hiburan. Kita bekerja, tapi seperti tidak bekerja. Terlibat sepenuhnya dalam profesi kita, tapi seperti tidak terlibat. Seperti sedang bermain-main, sedang menghibur diri. Penjelasan Bhagavad Gita 4:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Selebriti, yang fokus pada ketenaran pribadi

Konflik antara Kesadaran Jiwa dan Kesadaran Raga. Kesadaran Raga menginginkan kenikmatan indra, kenyamanan; dan Jiwa ingin menikmati kebebasannya sebagai penonton. Dua-duanya nikmat, namun jenis kenikmatannya beda. Sebagai penonton, kita bebas. Kita bisa menikmati pertunjukan hidup ini sebagai pertunjukan. Selesai pertunjukan, ya sudah, kita pulang ke rumah. Namun sebagai pemeran, kita akan selalu was-was. “Permainan saya disukai orang Nggak? Diapresiasi nggak?” Sebagai pemeran kita tidak bebas. Seluruh identitas diri kita bergantung pada peran yang sedang kita mainkan.

Para “Selebriti” yang kita saksikan di TV hari ini belum tentu bertahan selama sepuluh tahun lagi. Silakan mengingat-ingat nama para pemain sinetron atau film 10-20 tahun yang lalu. Nama-nama mereka tenggelam bersama masa lalu. Kita juga tidak tahu apa profesi mereka sekarang.

Ketika seorang pemain sinetron atau teater kehilangan perannya, atau audiens memilih wajah baru yang lebih muda, lebih segar untuk dipandang – maka ia pun seolah hilang bersama pamornya sebagai pemain.

Ini adalah kehidupan materialistik yang menganggap materi-pamor, materi-apresiasi dari penonton, materi-ketenaran, dan tentunya materi-materi, yakni materi-fulus sebagai identitas diri, menjadi identitas diri. Ketika materi hilang, diri kita yang bergantung pada materi pun ikut hilang. Penjelasan Bhagavad Gita 6:38 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

Memahami makna berkah

Untuk memberkahi mereka, “Aku” yang bersemayam di dalam sanubari mereka, melenyapkan gelap-ketidaktahuan, dengan menyalakan Pelita Pengetahuan Sejati. Bhagavad Gita 10:11

Ayat ini mengandung makna yang luar biasa. Makna anugerah, arti berkah yang sesungguhnya. Rezeki, jodoh, kekuasaan, pangkat, pujian, makian dan lain-lain – semuanya adalah hasil perbuatan kita sendiri. Semuanya materi. Dari rezeki yang berlimpah hingga relasi dengan suami, istri, anak, orang tua – semuanya adalah konsekuensi dari karma kita sendiri, perbuatan kita sendiri. Entah karma sekarang di masa kehidupan ini, atau hasil akumulasi dari beberapa masa kehidupan sebelumnya.

Semua terjadi karena perbuatan kita, ulah kita. Semuanya terjadi atas kehendak-Nya pula, dalam pengertian Hukum Sebab Akibat atau Karma pun ada kehendak-Nya. Namun, semuanya itu belum berkah – bukan berkah. Untuk mendapatkan seorang pasangan yang baik – dibutuhkan ‘diri’ yang baik. jika kita baik, kita menarik orang-orang baik sekitar kita. Kita bergaul dengan orang-orang baik. tinggal memilih pasangan. Jika mesti membayar hutang karma kepada seseorang – maka pasangan baik pun bisa menyusahkan, padahal dia orang baik. berpasangan dengan orang lain – ok. Dengan kita – tidak ok. Karma.

Berkah atau Anugerah Gusti Pangeran adalah ketika gelap-kebodohan, ketidaktahuan, ketidaksadaraan kita sirna; dan sanubari kita, nurani kita menjadi terang-benderang. Berkah adalah ketika kita mampu memilah mana tindakan yang tepat, mana yang tidak tepat. Berkah adalah ketika cahaya kesadaran yang telah menerangi hidup – mulai memancarkan sinarnya dan menerangi setiap orang yang berinteraksi dengan kita. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

5 Tuntunan Sadguru Mempersingkat Masa Samsara #BhagavadGitaIndonesia

Posted in Inspirasi Rohani with tags , , on November 7, 2017 by triwidodo

  1. Memberikan Contoh Keteladanan yang Jelas

Sadguru adalah guru spiritual yang memimpin dengan memberi contoh. Mereka menetapkan standar yang bisa ditiru orang lain. Jadikan Raja Janaka sebagai Teladan Kehidupan dalam berkarya tanpa pamrih tanpa keterikatan. (Seharusnya kita meneladani kehidupan sadguru sehari-hari dalam menghadapi masalah, akan tetapi karena karena kerendahan hati Sadguru, Beliau memberikan contoh kehidupan orang lain)

“Apa pun yang dilakukan oleh para petinggi, dan mereka yang berpengaruh, menjadi contoh bagi rakyat jelata. Keteladanan yang mereka berikan, menjadi anutan, dan diikuti oleh masyarakat umum.” Bhagavad Gita 3:21

Sebab itu, mereka yang berada dalam posisi “penting”, “besar”, “tinggi” , dan berpengaruh – mesti berhati-hati dalam segala hal. Dalam setiap ucapan dan tindakan.

Seorang pemimpin yang arogan menularkan sifat arogannya kepada mereka yang dipimpinnya. Tanpa disadari, rnereka mengikuti keteladanannya. Keteladanan Arogan. Seorang penguasa berdarah dingin, cuek terhadap penderitaan rakyat kecil; senantiasa sibuk melindungi pasangan, anak, dan cucunya – menciptakan rnasyarakat yang serupa.

Jika seorang penguasa seperti itu dibiarkan berkuasa hingga 20-30 tahun, atau beberapa penguasa dengan sifat serupa menguasai suatu bangsa secara bergilir, maka seluruh bangsa akan terkontaminasi oleh sifat-sifat syaitani dan tidak terpuji seperti itu.

Bangsa seperti itu akan membenarkan penindasan. Mereka yang berkuasa di pemerintahan bertindak zalim terhadap rakyat. Rakyat bertindak zalim terhadap sesama anak bangsa. Demikian, kacaulah seluruh tatanan masyarakat.

Krsna mengajak Arjuna untuk meneladani Janaka – Sebelum meraih kekuasaan, Krsna sudah meletakkan standar kepemimpinan bagi Arjuna, “Seperti Janaka, seperti para bijak lain yang bersifat sama.”

“Dengan berkarya tanpa keterikatan dan tanpa pamrih seperti itulah Raja Janaka dan para bijaklainnya mencapai kesempurnaan diri. Demikian, hendaknya engkau pun bertindak tanpa kepentingan pribadi dan, semata untuk mempertahankan tatanan dunia.” Bhagavad Gita 3:20

Keberhasilan Janaka adalah karena semangat di balik apa yang dilakukannya. Ia bebas dari kepentingan dirinya. Ia berkarya tanpa pamrih untuk menjaga tatanan dunia dan masyarakat. Krsna mengajak Arjuna untuk berbuat serupa. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Sadguru mengungkapkan identitas sejati dari kita untuk menghemat waktu yang sangat berharga.

“Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal-Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, terbunuh.” Bhagavad Gita 2:20

Karena tidak pernah lahir, maka tidak pernah mati pula. Kematian adalah konsekuensi, akibat dari kelahiran. Jika, kelahiran tidak terjadi, maka kematian pun tidak bisa terjadi. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

  1. Sadguru mengungkapkan rahasia yang paling membingungkan: Hidup dan Mati

“Bagi yang lahir, kematian adalah keniscayaan; bagi yang mati, kelahiran adalah keniscayaan. Sebab itu janganlah bersedih hati, menangisi sesuatu yang sudah pasti terjadi.” Bhagavad Gita 2:27

Setiap aksi akan menimbulkan reaksi. Ini merupakan hukum alam. Yang lahir harus mati. Sejak hari kelahiran, proses kematian sudah mulai berjalan. Setiap hari Anda mati sedikit, sedikit, sedikit – sampai akhirnya proses kematian pun berhenti, dan saat berhentinya proses kematian adalah saat Jiwa sudah meninggalkan badan.

Namun, alam tidak pernah berhenti – Kehidupan tidak pernah berhenti. Proses daur ulang berjalan terus. Kita tidak dapat menentang hukum ini. Boleh saja, hari ini karena keterbatasan wawasan, kita tolak suatu hukum, kita tolak satu kebenaran, namun sampai kapan? Sampai kapan kita dapat menolak seorang Galileo? Toh, akhirnya kita harus mengakui bahwa dunia ini bulat adanya. Sampai kapan kita dapat menolak seorang Krsna?

Sekadar untuk kita ingat: begitu kita sadar bahwa kelahiran dan kematian tidak saling bertentangan dan bahwasanya kehidupan merupakan suatu keutuhan yang terdiri dari kedua sisi yang “hanya terlihat” saling bertentangan, hidup kita akan menjadi jauh lebih nyaman, lebih nikmat. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Sadguru mengungkapkan kepuasan atau kenyamanan yang diperoleh dari pancaindra tidak memberikan kebahagiaan abadi

“Sebab itu, wahai Mahābāho (Arjuna Berlengan Perkasa), seseorang yang telah berhasil mengendalikan indranya dan menarik mereka dari objek-objek duniawi yang dapat memikat dan mengikatnya – sudah teguh adanya, sudah tak tergoyahkan lagi.” Bhagavad Gita 2:68

Ia Sadar bahwa Kepemilikannya adalah sebuah khayalan. Tak seorang pun dapat memiliki sesuatu. Benda-benda dunia, relasi-relasi di dunia ini – semuanya, tanpa kecuali, sedang berubah terus. Sedang dalam proses pemusnahan. Tidak ada yang kekal.

Seorang yang menikmati kekayaan, harta yang berlimpah, dan segala kenyamanan pun, akhirnya mati, dan meninggalkan semua. Ia tidak bisa membawa sesuatu ke alam yang sedang ditujunya. Kepemilikan hanyalah cerita alam ini, alam-benda ini. Segala apa yang kita pikir kita miliki, semuanya akan tertinggal di sini pula. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia

 

  1. Sadguru menunjukkan jalan bhakti, pengabdian sebagai jalan untuk mencapai Kebahagiaan Sejati

“(Setelah meninggalkan badan-fana) Mereka yang percaya pada dewa atau malaikat, bergabung dengan mereka; mereka yang percaya pada leluhur, bergabung dengan leluhur; dan mereka yang percaya pada roh-roh lain (bertabiat baik, maupun buruk), bergabung dengan roh-roh tersebut. Namun, mereka yang senantiasa memuja-Ku (sepanjang hidupnya) datang pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:25

Di dunia ini, setiap pekerjaan — semuanya, tanpa kecuali — masih tetap menjadi bagian dari siklus  kelahiran dan kematian. Pun demikian dengan persinggahan kita di alam para dewa atau malaikat, alam leluhur, dan alam-alam roh lainnya.

Satu-satunya pekerjaan yang dapat membebaskan kita dari siklus kelahiran dan kematian – dari samsara – adalah Bhakti, penembahan sepenuh hati tanpa mengharapkan imbalan, berkarya tanpa pamrih dengan semangat bhakti, dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran.

HIDUP DENGAN PENUH KESADARAN adalah hidup seperti Krsna. Ia tidak punya urusan apa pun dengan siapa yang menang atau kalah di medan perang Kuruksetra. Tidak ada keuntungan pribadi bagi seorang Krsna. Raja Dvaraka atau Dvaravati, yang bagaimana pun akan tetap menjadi bagian  dari perserikatan negara-negara di bawah pengayoman Uni-Bharataa dengan ibukotanya Hastinapura.

Keberadaan Krsna di tengah medan perang itu semata karena urusan dharma. Untuk membela kebajikan, menegakkan kebenaran, dan mematahkan kekuatan-kekutanan yang telah menzalimi rakyat kecil; membuat peraturan-peraturan untuk menindas wong cilik; dan memperkaya diri dan kroni dengan mengabaikan kepentingan rakyat banyak. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) #SpiritualIndonesia via #BhagavadGitaIndonesia