Archive for bhagavad gita

Vamana Avatara: Lahir dari Kegigihan Ibu dan Berkah Narayana #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 18, 2017 by triwidodo

Kemenangan kelompok dharma dan adharma silih berganti

Tiada sesuatu yang bertahan – segala sesuatu sedang berubah. terus. Tidak ada sesuatu yang permanen. Ini adalah salah satu aspek Kebenaran. Aspek Kebenaran dari sudut pandang materi atau kebendaan……

Namun, ada juga aspek lain dari Kebenaran Tunggal yang satu dan sama ada-Nya. Aspek ini tidak mudah dipahami, karena untuk memahaminya kita mesti menembus dimensi “nyata” dan memasuki dimensi “gaib” atau “tidak nyata”. Aspek ini adalah Keabadian Jiwa dan Relasi Jiwa dengan Jiwa Agung. Aspek ini tidak nyata, setidaknya belum terungkap sepenuhnya bagi kita yang masih hidup dalam keraguan. Aspek ini bersifat spiritual, rohani. Aspek ini mempertemukan materi dan Spirit atau Jiwa, di mana materi terlihat jelas tidak bisa berbuat apa-apa tanpa landasan Spirit, tanpa Jiwa.

Segala perubahan yang terjadi di alam benda ‘bisa terjadi’ karena adanya interaksi dengan Jiwa, dengan Spirit. Tanpa adanya interaksi dengan Spirit, tidak ada pemain sandiwara, tidak ada permainan. Tidak ada sandiwara. Jiwa atau Spirit bersifat kekal abadi. Sementara itu, alam benda berubah terus. Para pemain pun berganti peran terus. Setting sandiwara juga tidak statis, ada saja perubahan. Penjelasan Bhagavad Gita 11:2 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dikisahkan bahwa setelah para dewa memperoleh amrita, minuman keabadian, para asura kembali menyerang para dewa. Akan tetapi para asura mengalami kekalahan, Bali Raja asura pingsan dan sebagian besar asura mati dalam pertempuran. Rishi Narada datang dan menyarankan perang agar disudahi saja, tujuan para dewa untuk memperoleh amrita sudah tercapai. Indra dan para dewa setuju, mereka kembali menguasai kerajaan mereka dan para asura kembali ke tempat tingggal mereka.

Waktu berlalu, Rishi Sukracharya, guru para asura menyembuhkan Bali dan menghidupkan kembali para asura. Rishi Sukracharya mempunyai mantra sanjivani yang dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati, yang akan dikisahkan kemudian.

Bali putra Virocana, cucu Prahrada, adalah seorang pemimpin besar para asura. Bali menghadap guru para asura yaitu Sukracarya putra Bhrigu. Bhrigu adalah putra Brahma sedangkan ibu Sukracarya adalah Khyati, putri Kardama-Devahuti.

Sukracarya kemudian mengadakan upacara persembahan yang akan mengembalikan kekuatan dan keperkasaan Bali. Selesai upacara persembahan, nampak Bali menjadi lebih kuat dan lebih agung. Bali naik sebuah kereta perang kebesaran dan para asura menjadi pasukan tangguh yang menyebabkan nyali para dewa menjadi ciut. Bali dan pasukannya segera kembali menyerang istana para dewa dan menduduki kota Amaravati.

Indra yang kalah kemudian menghadap guru para dewa yaitu Bhrihaspati putra Angira. Angira adalah putra Brahma dan ibu dari Bhrihaspati adalah Shraddha, putri Kardama-Devahuti. Jadi baik Brihaspati, guru para dewa maupun Sukracharya, guru para asura semuanya adalah cucu Kardama-Devahuti.

Bhrihaspati menjelaskan bahwa Sukracarya berada di balik kepulihan kebesaran Bali dan sebaiknya Indra dan para dewa meninggalkan Amaravati dulu, menunggu waktu yang tepat. Akan ada waktunya Sukracarya tersinggung dengan tindakan Bali dan segala kebesaran Bali akan ditariknya kembali.

Bali kemudian menjadi raja dari tiga dunia dan menyelenggarakan upacara 100 Asvamedha dan kebesarannya menjadi terkenal di seluruh penjuru dunia.

 

Upaya gigih seorang ibu dan berkah Gusti melahirkan putra perkasa

Pernikahan antara dua anak manusia yang berada pada gelombang kesadaran yang sama dapat memperkuat “gelombang bersama” mereka. Dan, dengan kekuatan itu pula mereka dapat mengundang kekuatan-kekuatan alam yang kemungkinan tidak dapat diakses secara terpisah.

Banyak orang menjadi sukses setelah pernikahan. Kenapa? Karena alasan yang telah dijelaskan di atas. Kekuatan ganda suami istri mampu meningkatkan gelombang mereka bersama dan mereka bisa meraih keberhasilan yang tak terbayangkan sebelumnya.

………………

Para Yogi sangat menghormati kaum perempuan dan menghargai peran mereka sebagai penopang keluarga, masyarakat, dan bangsa. Mereka jauh lebih intuitif daripada kaum pria, lebih disiplin, lembut tapi tegas. Di wilayah peradaban Hindia, kaum perempuan tidak pernah dianggap sebagai warga masyakarat yang lemah dan oleh karenanya mesti selalu berada di bawah kaum pria. Bagi setiap pria yang ingin meraih keberhasilan: Hendaknya kau menghormati para wanita dalam hidupmu.

Seorang wanita adalah personifikasi Bunda Alam Semesta. la adalah wujud kasih dan kekuatan, kelembutan dan ketegasan. Janganlah menyalahtafsirkan kelembutannya sebagai kelemahan. Tiada seorang pun yang menjadi besar, tanpa peran wanita dalam hidupnya. Oleh karena itu berterimakasihlah kepada kaum perempuan, bersyukurlah kepada Keberadaan atas kehadiran mereka dalam hidupmu. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva(The Blissful Prophet), Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Aditi adalah putri Daksa dan istri dari Rishi Kasyapa. Rishi Kasyapa adalah putra Rishi Marici-Kala dan cucu dari Kardama-Devahuti. Aditi dan Rishi Kasyapa adalah sepasang anak manusia yang setara, sama-sama menjadi bhakta Narayana, sehingga mereka dikaruniai putra-putra yang menjadi para dewa dan di antaranya adalah Indra, seorang raja dewa.

Pada waktu Rishi Kasyapa pulang setelah lama bertapa, dia melihat Aditi sedang berada dalam kesedihan yang nyata. Aditi menyampaikan bahwa dia sangat menderita karena Indra dan para dewa lainnya diusir pergi dari Amaravati oleh raja asura, Bali.

Aditi berkata, “Aku adalah seorang perempuan bodoh yang tidak tahu dengan cara apa Gusti Narayana harus dipuja. Tidak mungkin aku bertindak seperti kamu bertapa dengan keras. Tunjukkan  cara yang mudah bagi perempuan sepertiku agar doaku dikabulkan-Nya.”

Rishi Kasyapa berkata, “Aku diajari Brahma mengenai Payovrata, laku siang-malam memuja Narayana dimulai saat bulan terang pada bulan Phalguna (pertengahan Februari-pertengahan Maret) selama 12 hari dengan hanya minum susu sebagai makanan. Ucapkanlah mantra “Aum Namo Bhagavate Vasudevaya.” Jika kamu melakukan ini dengan penuh bhakti, maka Narayana akan mengabulkan keinginanmu.”

 

Doa Aditi

Setiap doa yang dipanjatkan dengan ketulusan hati dan kesungguhan jiwa pasti terkabulkan! Berdoalah, setiap kali kau menghadapi suatu keadaan di mana keseimbangan dirimu goyah. Berdoalah setiap kali kau merasa tidak berdaya dan lemah untuk menghadapi suatu tantangan yang berat. Berdoalah dengan cara menarik diri dari keramaian; membuka hati, pikiran, dan jiwamu kepada Gusti Allah. Berdoalah untuk memperoleh tuntunan-Nya, bimbingan-Nya. Dan, yakinilah bahwa la Maha Mendengar. Banyak cara yang ditempuh-Nya untuk menjawab doamu. Bukalah dirimu terhadap semua cara itu. Ada kalanya la mengutus para malaikat, para dewa, atau para roh suci untuk menolongmu, membimbingmu. Ketahuilah bila semuanya itu terjadi semata karena la menghendaki-Nya. Para Yogi selalu berdoa untuk Terang, untuk Tuntunan, untuk Kebijaksanaan, Kekuatan, dan Kasih. Doa mereka selalu terkabulkan. Belajarlah untuk berdoa seperti mereka. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing, dan Catatan Oleh  Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.)

 

Aditi melakoni Payovrata dengan taat, dan pada hari keduabelas tapa bratanya, Narayana nampak di hadapan Aditi dan berkata, “Ibunda para dewa, kau tidak perlu menceritakan apa yang membuatmu menderita. Aku mengetahui bahwa para putramu ada dalam kekuasaan para asura. Kau ingin para putramu kembali berkuasa, akan tetapi kau harus sabar menunggu. Pada saat ini bintang Bali sedang bersinar karena kemuliaan Sukra.  Bagaimanapun aku senang dengan tapa bratamu, aku akan dilahirkan sebagai putramu. Jangan mengatakan kepada siapa pun karena kelahiranku adalah suatu devarahasya.” Dan, kemudian Narayana lenyap dari pandangan Aditi. Setelah tiba waktunya lahirlah Vamana yang tumbuh menjadi laki-laki kerdil.

Silakan ikuti kisah Vamana dalam Srimad Bhagavatam selanjutnya…..

Amrita: Keabadian demi Ego Asura atau Pelayanan Dharma Dewa? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 14, 2017 by triwidodo

Tidak ada Dia yang Lain Kecuali Dia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia. Dengan kesadaran tersebut, kita membaca bahwa sesungguhnya yang sedang bermain, yang sedang membuat kisah adalah Dia. Yang membaca kisah ini pun sesungguhnya adalah Dia yang bersemayam dalaam tubuh kita.

 

Keluarnya racun dari samudera

 

Biarlah Jiwa yang adalah percikan dari Sang Jiwa Agung itu, berkuasa. Biarlah Ia menjadi sandaranmu, karena sesungguhnya tiada kekuasaan lain di luar kekuasaan-Nya. Tiada penopang lain kecuali Dia.

TAK SEORANG PUN DAPAT MEMBANTU KITA – hanyalah Dia, Dia, dan Dia saja. Ketika kita “merasa” terbantu, dibantu oleh seseorang — sesungguhnya adalah kekuasaan Dia yang bekerja lewat orang itu. Ketika keadaan “terasa” menguntungkan dan membela – maka keuntungan dan pembelaan itu pun dari Dia.

Sebaliknya, ketika hidup “terasa” penuh tantangan maka tantangan-tantangan itu pun berasal dari Dia. Itulah pengalaman yang sedang dicari oleh Jiwa. Kita tidak dapat menghindarinya. Penjelasan Bhagavad Gita 18:66  dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Setelah beberapa lama, Vasuki terengah-engah dan dari mulutnya keluar asap, para Asura yang memegang kepala tidak kuat. Vishnu kemudian datang sebagai hujan dan angin sepoi-sepoi yang membawa asap dari mulut Vasuki.

Semua makhluk merasa ditolong Gusti. Memang demikian. Tetapi bukan berarti hanya mereka sendiri yang dicintai dan ditolong-Nya. Dia tidak membeda-bedakan. Semuanya sejatinya adalah Dia, hanya mind-lah yang membuat merasa terpisah.

Samudra diaduk terus dan seakan-akan nampak sebagai susu.  Selanjutnya muncul racun Kalakuta (Halahala dalam bahasa Sanskerta). Udara menjadi beracun dan semua asura berlarian, para dewa pun pada tidak kuat. Dan para dewa kemudian memohon pertolongan Shiva, Sang Mahadewa. Sang Mahadewa melindungi mereka yang memohon dengan keyakinan kepadanya, Mahadewa menelan racun masuk kerongkongan dan tetap di lehernya. Sebuah perbuatan yang penuh kasih. Setetes racun jatuh dan menjadi rebutan ular, kalajengking, lipan dan binatang merayap lainnya.

 

Semua diperoleh dengan kerja keras bukan instan

Tiada seorang pun yang dapat membantumu…….. Hanyalah engkau sendiri yang dapat membantu diri! Pencerahan pun adalah hasil upaya sendiri, yang kemudian mengundang berkah. Ya, peran anugerah, berkah, grace memang ada. Tidak bisa dinafikan. Tapi turunnya berkah karena upaya. Upaya adalah yang mengundang berkah.

Tidak ada penyelamat yang menyelamatkan diri kita. Seorang Sadguru atau Pemandu Rohani sejati pun tidak bisa melakukan perjalanan mewakili kita. Kita mesti berjalan sendiri. Krsna pun hanya menunjukkan jalan, menjelaskan tantangan dalam perjalanan. Tapi semua itu mesti kita hadapi sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 4:36 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Gusti Narayana memberi petunjuk, tetapi para dewa dan asura lah yang melakukannya. Upaya para dewa dan asura dilengkapi dengan berkah Gusti Narayana membuahkan hasil. Berupaya keras dan memperoleh berkah itulah kunci keberhasilan. Dalam berupaya dengan keras pun selalu ada side-product, efek samping, “racun” yang tidak berguna dan kadang membayakan. Efek samping tersebut harus ditangani dengan baik oleh ahlinya.

Setelah  para dewa dan para asura kembali berupaya mengaduk, dan kemudian keluar Kamadhenu, Sapi Suci. Para rishi yang melakukan upacara Yajna membawanya. Dari susu sapi diperoleh ghee untuk keperluan upacara Yajna.

Selanjutnya Ucchaisrava, Kuda Sakti yang diminta raja asura Bali. Kemudian Gajah Airavata untuk Indra, raja dewa. Permata Kaustubha dipakai Vishnu. Pohon Parijata dan para Apsara semua diambil Indra.

Setelah itu keluar Lakshmi dan semuanya menginginkannya. Akan tetapi sesuai etika Lakshmi sendirilah yang akan memilih siapa yang akan diikutinya. Laksmi melihat para Asura masih keras dan mau menang sendiri. Para rishi pun, nampak belum menaklukkan kemarahan dan masih sering mengutuk. Guru Sukra  pun bijak tetapi masih belum mengetahui tentang ketidakterikatan. Candra tampan, akan tetapi belum menaklukkan nafsu. Indra penguasa, tetapi belum mampu menaklukkan keinginan.  Hanya Vishnu yang tidak menginginkannya. Dia telah melampaui Triguna. Lakshmi menjatuhkan pilihan untuk mengikuti Vishnu.

Silakan baca ulang kisah:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/08/23/dewi-sri-kemuliaan-dan-kemakmuran-menghampiri-para-pekerja-keras/

Keluarnya Amrita dari samudra

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita berikan kepada “cara berpikir” seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

LALU, APAKAH AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh. Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Penjelasan Bhagavad Gita 16:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Terakhir keluar Dhanvantari membawa mangkuk berisi amrita. Para asura dengan cepat melepaskan Vasuki, alat itu sudah selesai digunakan, mengapa harus repot? Vasuki dilemparkan dan mereka merenggut mangkuk berisi amrita. Tiba-tiba terjadilah perebutan di antara para asura, siapakah yang berhak mencicipi amrita lebih dahulu. Berlomba dengan teman sendiri, merasa paling unggul di antara sahabat adalah sifat asura. Asura dominan sifat rajas, agresif, serakah dan ambisius.

 

Munculnya Rohini sangat jelita dan mempesona

Di mana pun juga, janganlah memperhatikan atau mendeskripsikan kecantikan dan ketampanannya, walau sebatas dalam hati, “Betapa cantiknya, betapa tampannya dia!”

Kecantikan dan ketampanan adalah sifat raga, badan, jasmani, demikian pula perbedaan gender. Jika Anda masih tergetar oleh kecantikan dan ketampanan raga—keindahan tubuh—maka tinggal tunggu waktu untuk dikuasai nafsu birahi.

Saat timbul apresiasi terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang, bahkan terhadap kecerdasan dan intelektual seorang lawan jenis, cepat-cepatlah mengalihkan apresiasi itu menjadi pujian bagi Gusti Allah. Para Sufi memahami betul hal ini. Maka setiap kali menghadapi situasi seperti itu yang terucap oleh mereka adalah pujian bagi Hyang Maha Kuasa, “Subhanallah! Maha Suci Allah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tiba-tiba suasana mendadak hening, dan dalam keheningan tersebut muncul seorang wanita yang amat sangat jelita.  Para asura dan para dewa duduk bersimpuh di hadapan wanita jelita tersebut. Para asura ternganga dan langsung menyerahkan mangkuk berisi amrita, “Wahai bidadari jelita, kami yakin dikau bertindak adil, ambillah dan bagikan kepada kami menurut pendapatmu.” Para asura dan para dewa membentuk 2 baris dan si jelita berjalan di tengahnya.

Para asura tetap ternganga dan terpesona, padahal sambil jalan berlenggok, Dia menyendok amrita untuk para dewa di sisi lainnya. Lupa diri membuat para asura lalai, alpa. Mereka berpikir, “Huh, para dewa memang tidak bisa menghargai kecantikan yang belum pernah ada sebelumnya di permukaan bumi ini.”

Hanya asura Rahu yang waspada, yang paham keadaan dan segera menyamar sebagai dewa dan duduk di antara Surya dan Candra.  Rahu telah mendapatkan amrita. Wanita itu tahu tapi membiarkan saja. Baru setelah Surya dan Candra memberi tanda, maka leher Rahu dipotong olehnya. Kepala Rahu tetap abadi tetapi dia tidak punya tubuh.

Kejadian tersebut menyadarkan para asura, dan Mohini, sang wanita jelita, kembali mewujud sebagai Vishnu dan menghilang. Tindakan Surya dan Candra tersebut membuat marah Rahu, maka pada waktu tertentu dia akan menelan Surya dan Chandra. Akan tetapi ,pemberitahuan kepada Mohini telah menyelamatkan mereka, karena begitu mereka ditelan Rahu setelah sampai di leher mereka keluar lagi. Konon, itulah legendanya peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan yang hanya memakan waktu sebentar saja.

 

Kita dapat menarik pelajaran dari penggalan kisah ini bahwa:

Pertama, para asura telah bekerja lebih keras, karena ambisi dari mind, ego, mereka ingin mendapatkan keabadian demi kenyamanan fisik , kenyamanan materi, dan itu selaras dengan sifat rajas-agresif dalam diri mereka. Sedangkan para dewa lebih menginginkan penyelesaian tugas yang diamanahkan kepada mereka dapat terselesaikan secara baik dan untuk itu mereka memerlukan keabadian. Hal demikian selaras dengan sifat satvik-tenang yang dimiliki para dewa.

Kedua, para dewa mendapatkan amrita, mendapatkan keabadian, mereka melampaui pikiran tentang mati, yang mati itu fisik. Jiwa tidak mati, abadi. Asura tidak paham hal tersebut karena terlalu mengikuti pikirannya yang terperangkap dalam maya, hijab dunia. Bagi kita yang hidup, amrita mungkin semacam kesadaran bahwa kita ini adalah Jiwa, dan Jiwa tidak bisa mati. Mereka yang tidak sadar berkeinginan agar fisik kita abadi, masih mempunyai sifat asura dalam diri mereka.

Kurma Avatara: Mendukung Perjuangan Gigih Memperoleh Amrita #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on May 10, 2017 by triwidodo

Membaca ulang kisah Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Perang dahsyat yang pernah terjadi di medan perang Kuruksetra masih berlanjut, masih terjadi, tidak pernah tidak, atau setidaknya belum berhenti.

Perang disebabkan oleh Keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Kita boleh saja bicara tentang kedamaian, kita boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan dan kebencian akan selalu ada. Selama itu pula, perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari.

………………

Skenario keserakahan inilah landasan kisah Mahabharata. Kendati, Mahabharata tidak berhenti pada landasan tersebut. Lewat Bhagavad Gita, Mahabharata juga menawarkan solusi untuk memerdekakan kita dari belenggu keserakahan, dan belenggu-belenggu lainnya. Kata Pengantar Bapak Anand Krishna dalam buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dunia tidak berubah bukan hanya sejak zaman Mahabharata, akan tetapi sezak zaman Satya Yuga, awal kehidupan manusia pun sudah demikian. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya saja yang berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu juga. Itulah sebabnya kami menyisipkan mutiara-mutiara Bhagavad Gita yang sesuai dengan alur kisah Srimad Bhagavatam.

Bali adalah cucu Prahlada, sebagai raja para asura. Dalam diri Bali mengalir genetik bijak dari kakeknya, Prahlada. Akan tetapi kebijakan tersebut masih bercampur dengan keterikatan dengan kelompok yang dipimpinnya. Bali beserta para asura perang beberapa kali melawan Indra beserta para dewa.

Dalam beberapa peperangan terakhir para dewa mengalami kekalahan. Sehingga mereka menghadap  Brahma dan kemudian mohon pertolongan dari Vishnu. Kita tahu bahwa para asura bertindak untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, sedangkan para dewa berkarya demi kepentingan seluruh makhluk. Sudah sewajarnya para dewa perlu hidup abadi (dalam ukuran waktu manusia) layaknya Brahma, agar semua makhluk memperoleh berkah dan bantuan para dewa.

Vishnu memberi petunjuk agar para dewa mengadakan gencatan senjata dengan para asura. Mereka perlu bekerjasama mengaduk samudera, untuk memperoleh amrita minuman penyebab keabadian.

Gunung Mandaragiri agar dijadikan alat pengaduk dan ular raksasa Vasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para dewa dan para asura memegang tali bersama untuk mengaduk samudra. Para dewa harus bekerja sama dengan para asura, tidak dapat bekerja sendiri.

Kita dapat menarik pelajaran, bahwa untuk mencapai tujuan yang tidak dapat dikerjakan sendiri, kita harus bergotong-royong, bekerjasama. Kedua, Yang Maha Kuasa tidak memberikan buah yang sudah matang dan instan untuk dimakan. Diperlukan upaya mematangkan buah, diperlukan upaya memproses yang gigih agar hasil tercapai.

Para asura di bawah pimpinan Bali setuju untuk mengadakan gencatan senjata dan bekerja sama demi mendapatkan amrita. Hanya saja, para dewa ingin mendapatkan amrita bagi keabadian penegakan dharma, sedangkan para asura ingin mendapatkan keabadian agar memperoleh kenikmatan indrawi tanpa berhenti. Sebagaimana yang terjadi dalam persaingan antara dua kelompok yang bekerjasama, mereka telah menyiapkan alternative plan untuk merebut amrita dari tangan pesaing.

 

Gusti bermain game di atas layar dunia

Wahai Gudakesa (Arjuna berambut lebat), Akulah Jiwa Agung Semesta yang berada dalam diri setiap makhluk. Sebab itu, Akulah Awal, Tengah, dan juga Akhir semua makhluk. Bhagavad Gita 10:20

Di antara para putra Aditi, Akulah Visnu – Sang Pemelihara Agung; matahari dan seterusnya…. Bhagavad Gita 10:21

Di antara para Dewa, Akulah Indra, Sang Pengendali indra; dan seterusnya… Bhagavad Gita 10:22

Di antara sebelas Rudra, mereka yang memusnahkan untuk menjaga keseimbangan alam Akulah Sankara atau Siva; dan seterusnya….. Bhagavad Gita10:23

Dalam keadaan citta atau batin tenang — Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa. Ia bukan badan; ia bukan energi; ia bukan gugusan pikiran serta perasaan; ia bukan inteligensia; ia bukan ini, dan bukan juga itu. Ia adalah Jiwa, percikan Sang Jiwa Agung. Maka saat itu ia mengalami kebahagiaan tak terhingga……..

Kebahagiaan sejati, kedamaian batin, keceriaan Jiwa – seperti itulah pengalaman kita ketika sadar akan diri kita sebagai Jiwa.

JIWA ADALAH PENONTON – Mereka yang sedang beraksi di atas panggung adalah badan, gugusan pikiran serta perasaan, indra, inteligensia.

Dirinya sedang menonton! Maka adegan apa saja dapat menghibur dirinya. Terjadinya kematian di atas panggung, mengikuti skenario Sang Sutradara atau Penulis Naskah, tidak mencelakakan dirinya.

Terjadinya banjir, badai, topan — tidak mengganggu kenikmatan yang diperolehnya sebagai penonton. Jiwa yang demikian itu — Jiwa yang menyadari perannya, sifat aslinya sebagai Jiwa —terbebaskan dari segala duka. Bahkan dari segala dualitas suka dan duka. Ia meraih kebahagiaan tertinggi!

Ia seperti seseorang yang sedang bermain game. Gambar-gambar yang muncul di monitor atau layar teve adalah proyeksi dari console yang pengendalinya ada di tangan dia sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 6:20 dikutip dari buku

Penjelasan Bhagavad Gita di atas akan membuat kita membaca kisah Srimad Bhagavatam dengan cara baca yang berbeda. Kita kemudian menyadari bahwa di balik semua pelaku adalah Dia. Jiwa semua pelaku, Jiwa kita semua adalah percikan Dia.

Awalnya, para dewa memegang kepala Vasuki yang membelit gunung dan ekornya dipegang para Asura. Para Asura tersinggung , merasa martabatnya direndahkan maka mereka meminta untuk memegang kepala. Para dewa menuruti kemauan para Asura.

Kendati sudah dipegang oleh para dewa dan para asura yang kuat, gunung tersebut tenggelam di samudra. Sang Pemelihara Alam mewujud sebagai kura-kura raksasa, Kurma Avatara. Bertindak sebagai penyangga di bawah gunung. Banyak yang tidak tahu mengapa gunung tersebut tidak tenggelam lagi. Akibatnya luar biasa,  semuanya merasa bersemangat, bekerja sama, bergotong-royong. Sesungguhnya, Dia lah yang merasuk ke semua pelaku dan membuat semua pelaku merasa bersemangat.  Dia adalah gairah yang berada dalam hati Gunung Mandaragiri. Dia adalah ketidaktahuan, sifat tamasa Vasuki. Dia juga merupakan sifat alami agresif, rajasika para asura. Dia juga adalah sifat satvika dewa.

Silakan baca kisah lanjutannya dalam Srimad Bhagavatam berikutnya…..

Gajendra: Perjuangan Berat Melawan Buaya Menuju Moksa #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on May 6, 2017 by triwidodo

 

Pergulatan Tak Berkesudahan antara Gajah dan Buaya

Umumnya, Tidak Ada Devolusi, yang ada hanyalah evolusi. Manusia tidak akan lahir kembali sebagai binatang. Tetapi, ya, ada saja pengecualian. Dalam keadaan tertentu, seseorang yang telah mencapai kesadaran cukup tinggi bisa memilih untuk lahir kembali sebagai binatang—hanya demi mempelajari suatu mata pelajaran tertentu.

Barangkali mata pelajaran tentang compassion, tentang bagaimana menyayangi sesama, bagaimana merendahkan diri dan tidak angkuh, dengan memilih wujud hewan. Sebab, sebagai hewan ia bisa belajar dalam waktu singkat. Ia tidak perlu menghabiskan waktu panjang. Sebagai hewan, cukup bila ia hidup 6—7 tahun, sebagai manusia bisa 70-80 tahun.

Sekali lagi, ini merupakan pengecualian. Justru terjadi, bisa terjadi pada orang-orang yang sudah berkesadaran. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kutipan tersebut di atas menjiwai kisah tentang gajah dan buaya berikut:

Seekor gajah memimpin kawanan gajah tinggal di Gunung Trikuta yang sangat indah. Para suci, para carana-pemusik surgawi, para gandharva-pemusik surgawi sering ke sana bertapa ataupun berwisata di danau yang luas di atas gunung.

Pada suatu ketika kawanan gajah tersebut setelah berjalan jauh, beristirahat, minum dan main air di tepi danau tersebut. Mereka sangat bergembira dan kurang waspada akan adanya bahaya yang mengintai diri mereka.

Tiba-tiba seekor buaya yang sangat besar menarik kaki pemimpin gajah dengan kuatnya. Kejadian tak terduga tersebut membuat sang gajah terkejut dan mencoba untuk melepaskan diri dari sang buaya. Teman-temannya berusaha membantunya tetapi gigitan sang buaya begitu kuatnya dan ekornya memukul siapa pun yang membantu, sehingga mereka tidak berhasil melepaskan kaki sang pemimpin. Akhirnya, tak ada seekor gajah pun yang dapat membantunya, termasuk istri dan anak-anaknya.

Pergumulan berlangsung sengit sampai beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan dan bahkan beberapa tahun. Bahkan para dewa hadir untuk melihat pertarungan antara sang raja gajah dan sang raja buaya. Pelan-pelan tetapi pasti kekuatan sang gajah mulai surut dan kekuatan sang buaya semakin perkasa. Sang gajah akhirnya menyadari bahwa pada suatu saat dia akan kalah dan hidupnya akan tamat, persoalannya hanya masalah waktu saja.

Sambil berjuang dengan gigih melawan gigitan sang buaya, dalam diri sang gajah timbul sebuah kesadaran, bahwa hidup dia di dunia hanya melakukan sebuah peran. Semua skenario adalah milik Gusti Pangeran. Tetap berjuang tetapi sadar untuk mengikuti kehendak-Nya. Selamat atau tidak dia pasrah kepada Gusti Pangeran Sang Sutradara Dunia.

 

Pasrah kepada Gusti Pangeran

SUMBER DAN SEBAB SEGALA-GALANYA – semuanya ada karena Dia. Ketika kita merasa sesuatu terjadi karena “diri” kita – maka saat itu adalah ego, gugusan pikiran dan perasaan yang bekerja. Kemudian, kita terlempar jauh dari Kesadaran Jiwa.

                Semuanya terjadi bukan karena aku, tetapi karena Jiwa. Berilah nama lain kepada Jiwa sehingga mudah memisahkannya dari aku-ego. Sebutlah Dia Tuhan – tidak salah. Karena, Jiwa yang bersemayam di dalam diri kita hanyalah percikan dari Sang Jiwa Agung. Katakan, semua itu terjadi karena Tuhan. Bukan karena Aku, bukan karena egoku, bukan karena pikiran atau perasaanku – tapi karena Dia. Dia, Dia, Dia, Tuhan, Sang Jiwa Agung! Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 15:12 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

SUMBER KEHIDUPAN Hyang menghidupi Jiwa Anda, saya, kita semua; yang menghidupi setiap makhluk di mana pun ia berada ; di galaksi kita atau galaksi lain, di alam ini, atau di alam lain, sejak dulu, saat ini, dan untuk selamanya — adalah Sang Jiwa Agung, Hyang Maha Ada. Demikian pula dengan alam benda, kebendaan, keberadaan, semesta – atau apa pun sebutannya – ada karena-Nya pula.

Sebab itu, ayat-ayat yang “seolah” membenarkan dualitas ini, mesti dipahami sebagai ajakan Krsna untuk meningkatkan kesadaran diri secara bertahap. Mayoritas dari kita, adalah sulit untuk mencapai kesadaran tertinggi secara langsung. Maka, dibuatkanlah tahapan-tahapan ini!

PERTAMA: KITA BUKAN BADAN – Badan adalah kendaraan. Dan kita adalah pengemudinya, Jivatma atau Jiwa-Individu. KEMUDIAN, PENGEMUDI PUN BUKANLAH KEBENARAN MUTLAKJivatma hanyalah bagian dari  Gugusan Jiwa atau Purusa. LALU, GUGUSAN JIWA ATAU PURUSA pun ada karena, dan atas kehendak Paramatma atau Sang Jiwa Agung. TERAKHIR: PARAMATMA ATAU SANG JIWA AGUNG, Tuhan Hyang Maha Ada itulah Kebenaran Mutlak, Hakiki. Jangan, jangan menambahkan embel-embel “diriku” atau “dirimu”. Jangan menyebut Kebenaran Mutlak Hakiki diriku, dirimu, atau diri kita. Kebenaran Mutlak Hakiki. Titik. Tanpa embel-embel. Saat kita menyadari Kebenaran Mutlak nan Hakiki tersebut, tiada lagi perpisahan diriku dan dirimu. Hyang Ada hanyalah Ia Hyang Maha Ada. Penjelasan Bhagavad Gita 15:16-17 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sambil tetap berjuang keras mempertahankan hidupnya, sang gajah pasrah dan berdoa kepada Gusti Pangeran, dan akan menerima apa pun yang dikehendaki-Nya. Kalau memang dia harus mati, itupun tidak lepas dari pengawasan-Nya. Kalau dia akan selamat, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mencederainya. “Aku pasrah Gusti Narayana!”

Tiba-tiba datanglah Gusti Narayana naik Garuda dan masuk ke dalam danau membunuh buaya dengan senjata cakra serta menarik sang gajah keluar dari danau. Semua yang hadir melihat dari bangkai buaya muncul sosok gandharva. Ia bersujud di kaki Narayana dan memuji Dia dengan nyanyian Ilahi.

 

Para Suci bertindak sesuai Kehendak Gusti, egonya sudah terlampaui

“Ketahuilah bahwa ‘aku’ sudah mati. Sekarang, Yang ada hanyalah Dia. Yang bernapas lewat aku adalah Dia.” Nuh bagaikan singa dalam wujud rubah. Ketika dia meraung, suaranya terdengar jelas. “Janganlah ragu-ragu. Jangan menyangsikan kebenaran kata-kata yang kuucapkan, karena ucapanku berasal dari Dia yang berada di balik ‘kerudung badan’.”

Setiap nabi, setiap mesias, setiap avatar, setiap buddha adalah singa berbadan rubah. Kita semua mendengarkan suara raungnya. Tetapi tertipu oleh apa yang terlihat dengan kasat mata, “Ah masa…. No, no, no, no—dia bukan singa. Dia hanyalah seekor rubah.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan, gandharva Huhu sedang mandi bersama istrinya di danau tersebut dan bermain air sepuasnya, sampai melupakan segala sesuatu. Karena gembiranya, sang gandharva menarik kaki seorang rishi bernama Devala yang sedang bertapa di danau tersebut.

Sang resi mengutuk, “Karena kau menikmati permainan air, maka kau akan menjadi buaya dalam satu kehidupan. Kau akan lama berada di sini sampai datangnya kawanan gajah dipimpin raja gajah yang sangat besar. Kau harus menggigit kakinya dan jangan sampai terlepas. Pada saat gajah dan kau kecapaian ingatlah Gusti Pangeran. Berserahdirilah kepada-Nya. Biarkan apa yang terjadi sesuai Kehendak-Nya!”

Gandharva Huhu, sadar obsesinya untuk bersukaria dalam air membawa dia menjadi buaya, dan sampai suatu saat dia akan sadar bahwa kenikmatan itu sudah cukup dan dia harus melanjutkan kehidupan spiritualnya. Sang gandharva melakukan pradaksina, menghormati sang rishi dan menyanyikan lagu pujian bagi Gusti Narayana.

Rishi Suka melihat wajah Parikshit yang bingung mendengar kisahnya. Dan Rishi Suka melanjutkan kisahnya……..

Adalah sebuah negeri di Pandya yang dipimpin oleh seorang raja bijak bernama Indrayumna. Ia adalah seorang panembah Gusti, pemuja Narayana. Suatu saat ia sedang memuja Gusti di lereng gunung di Malaya. Dia mandi dan kemudian mengendalikan pikirannya dengan berdiri pada satu kaki dan pikirannya terfokus pada wujud Narayana. Sang raja larut dalam bermeditasi sehingga tidak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Rishi Agastya yang tinggal di gunung tersebut datang ke tempat tersebut dengan para muridnya. Melihat sang raja berdiri dan tidak menggunakan etika untuk menyambut seorang rishi yang datang, maka Rishi Agastya mengutuk, “Karena tindakanmu, kau akan dilahirkan lagi sebagai gajah.” Dan kemudian sang rishi pergi bersama murid-muridnya.

 

Dalam diri sang raja sama sekali tak ada rasa marah atas ketidakadilan ini. Sang raja paham kutukan tersebut adalah untuk membebaskan dia hutang perbuatan di masa lalu yang tidak dapat diingatnya lagi. Gusti Narayana yang dipujanya, bertindak melalui Rishi Agastya untuk memberikan jalan mencapai tujuan hidupnya…………….

 

Upayakan kesempurnaan hidup saat ini, walau belum berhasil, kau akan memetiknya nanti

Walau, dalam kehidupan ini kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga, belum menyatu dengan-Nya dan keburu “mati”, tiada yang perlu dikhawatirkan. Upaya kita sepanjang hidup tidak sia-sia. Demikianlah kehidupan Raja Indrayumna yang dapat dijelaskan sesuai penjelasan Bhagavad Gita berikut:

DALAM MASA KELAHIRAN BERIKUTNYA… Walau lahir dalam keluarga kaya, sejahtera, serba berkecukupan, atau bahkan berlimpah, walau masih sering terbawa oleh hawa nafsu, dan masih pula terkendali oleh indra — kita akan tetap berupaya untuk meraih kesempurnaan dalam Yoga.

Kita tidak bisa mengabaikan dorongan Jiwa, suara hati, untuk melanjutkan perjalanan rohani kita. Kiranya, keadaan ini yang dialami oleh seorang pangeran seperti Siddhartha. Maka, dengan adanya pemicu sedikit saja — dengan melihat kenyataan hidup berupa kelahiran, kematian, penyakit, usia tua, dan sebagainya — ia langsung mengingat kembali “tujuannya” dan meninggalkan istana untuk melanjutkan perjalanannya.

ARJUNA BERADA DALAM P0SISI YANG MIRIP, tapi tidak sama. Dalam diri Arjuna, potensi sebagai seorang kesatria masih tetap melengket. Tidak demikian dengan Siddharta. Sebab itu, Arjuna mesti berada di tengah keramaian dunia dan mengupayakan kesempurnaan dalam Yoga sambil tetap menjalankan profesinya. Penjelasan Bhagavad Gita 6:44 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sang raja menerima kelahiran sebagai gajah dan mengembara di Gunung Trikuta. Tetapi karena pikirannya terfokus pada Tuhan maka dia berbeda dengan gajah lainnya. Pada kondisi kritis, antara hidup dan mati, dia teringat lagi kelahiran sebelumnya dan ia berdoa kembali kepada Gusti layaknya seorang manusia bijak. Raja Indrayumna kini bebas dari kutukan dan juga telah memperoleh kebebasan dari perbudakan samsara. Gusti Narayana menjadikannya sebagai penjaga-Nya di samping Garuda.

 

Makna simbolis di balik kisah

Hikmah dari kisah Gajah yang bermain-main air di danau tertangkap oleh buaya adalah sebagai berikut:

Danau adalah simbol dari samsara. Manusia dengan pikiran seperti seekor gajah liar, memasuki danau samsara di hutan kehidupan. Pikiran selalu haus akan kesenangan indrawi. Dan, saat manusia melangkah ke dalam danau samsara, buaya maya menangkap dan memegangnya.

Manusia berjuang keras untuk membebaskan diri dari perbudakan tetapi hal tersebut merupakan pekerjaan purnawaktu selama hayat dikandung badan. Tidak ada keluarga dan kerabat yang dapat membantunya. Suatu saat usianya bertambah dan dia menjadi semakin lemah.

Kemudian dia sadar akan kelemahan dirinya dan dia berdoa kepada Gusti Pangeran untuk menyelamatkannya. Ketika manusia terjebak dalam belenggu samsara, dia perlu berdoa kepada Gusti dan berserah diri kepada-Ny. Hanya Gusti yang dapat membebaskannya dari perbudakan maya.

Prahlada: Kombinasi Ayah Buas dan Ibu Saleh, Menjadi Pengabdi Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on April 28, 2017 by triwidodo

Pendidikan yang tepat bagi putra Hiranyakasipu

Sesungguhnya “benih” jiwa adalah murni, suci, dan memuat “programming” dasar yang sama. Kemungkinan yang sama. Potensi yang sama. Analogi ini mesti dipahami secara cerdas. Ayat ini sama sekali tidak berpretensi bahwa benih “seorang ayah” selalu baik. Dan jika seorang anak lahir menjadi Kaurava, maka seluruh kesalahannya adalah di pihak ibu yang melahirkan. Tidak, tidak demikian.

Ayat ini menjelaskan sesuatu yang sangat ilmiah — bahwasanya seluruh programming dasar ada di dalam benih seorang ayah — ini tidak dapat diubah. Ketika benih itu membuahi indung telur seorang ibu, maka hasilnya adalah “programming dasar” ayah plus energi ibu. Kromosom X dari ibu mengandung energi penggerak; dan kromosom Y dari ayah mengandung berbagai informasi. BG 14:4

Demikian, setiap anak yang lahir mewarisi Sifat, Informasi, dan Potensi yang terdapat dalam benih. Tidak pula berarti benih seorang pembunuh “sudah pasti” melahirkan seorang pembunuh. Tidak. Jangan lupa, anak yang lahir tidak hanya rnewarisi salah satu sifat dari benih ayahnya –misalnya, kecenderungan untuk membunuh. Ia juga mewarisi segala informasi yang lain. Ia pun mewarisi potensi-potensi yang tidak terbatas. Sebab itu pendidikan yang tepat dan baik dapat menggali dan memunculkan potensi terbaik. Penjelasan Bhagavad Gita 14:4 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Hiranyakasipu mempunyai empat orang putra. Dikisahkan bahwa Kayadhu, istri Hiranyakasipu adalah istri yang saleh. Dia memahami karakter yang tidak baik dari suaminya. Akan tetapi Kayadhu menganggap bahwa hal itu terjadi  karena potensi kebaikan Hiranyakasipu di-“off”-kan tertutup dendam dan keserakahan. Kayadhu berdoa agar dalam diri putra keempatnya potensi kebaikan dari ayahnya yang “on”. Oleh karena itu dia betul-betul menjaga kesalehan ketika dia mulai hamil anak keempat. Kayadhu hanya makan makanan baik, hanya melakukan tindakan yang baik, dan selalu berdoa dan memberi persembahan yang baik. Kayadhu punya kemauan yang keras. Dia punya pengetahuan berasal dari intelijensia bahwa bayi dalam kandungan akan terpengaruh tindakan ibunya. Bukan hanya jenis makanan yang dikonsumsi ibunya, akan tetapi pikiran, ucapan, dan tindakan ibunya akan menjadi pelajaran awal yang akan mewarnai  bayi yang dikandungnya.

Dikisahkan bahwa sewaktu Hiranyakasipu bertapa, Indra datang ke kerajaan para Asura dan membunuh banyak anak-anak asura. Lebih baik dibunuh selagi anak-anak sebelum dewasa dan berbuat kejahatan, mengacaukan dunia. Melihat Kayadhu hamil, maka dia disandera Indra di kediaman para dewa. Indra bermaksud menunggui kelahiran putra Hiranyakasipu, kemudian anaknya akan dibunuh dan ibunya akan dikembalikan ke kerajaan asura setelah melahirkan putra tersebut.

Kayadhu begitu yakin pada kebijaksanaan Gusti Pangeran. Dan, datanglah Rishi Narada menjelaskan kepada Indra bahwa calon putra Kayadhu adalah wujud Ilahi yang akan menyelesaikan urusan ayahnya. Indra patuh pada sang rishi, dan Kayadhu diminta tinggal di tempat Narada sampai Hiranyakasipu selesai bertapa. Setiap hari Kayadhu yang lagi hamil selalu mendengarkan nyanyian Ilahi yang didendangkan Rishi Narada dengan alat musik vina-nya. Jadi sejak dalam kandungan sang janin telah mendengarkan nyanyian pujian ilahi yang dilakukan Rishi Narada.

Kedekatan dengan seorang Master, dan keterbukaan diri seorang ibu yang hamil, membuka pintu rahmat. Dan, lahirlah Prahlada yang sudah bijak sejak masih dalam kandungan. “Blessing in disguise”, penyanderaan Indra justru membawa berkah. Di awal-awal kelahiran Prahrada pada saat otaknya berkembang sangat pesat, pengaruh seorang Master seperti Rishi Narada adalah sangat besar.

 

Prahlada tidak sepaham dengan pendirian Hiranyakasipu, ayahandanya

SIFAT DAIVI DAN SIFAT ASURI ATAU DAITYA. Daiva berarti “Yang Berkilau, Bercahaya”. Karakter Daiva adalah Sura, “Selaras dengan Alam, dengan Kodrat manusia”. Sementara itu Daitya atau Asura adalah Karakter yang “Tidak Selaras dengan Kodrat Manusia, dengan Alam”.

Karakter Daivi atau Sura membantu kita dalam hal peningkatan kesadaran. Karakter Daitya atau Asuri menahan kita ke bawah, membuat kita terikat dengan dunia benda.

Umumnya Daiva atau Sura dikaitkan dengan kemuliaan, dan Daitya atau Asura dengan ketidakmuliaan. Dari perspektif kita, dari sudut pandang kita memang demikian. Maka, kita diharapkan mengenal kedua-duanya, sehingga dapat memilah dan memilih apa yang menunjang Jiwa. Yakni, karakter atau kecenderungan Daiva atau Sura.

Namun, bagi Gusti Pangeran, dari perspektif Tuhan — kedua karakter atau kecenderungan sifat itu sama pentingnya. Tanpa sifat Daitya atau Asura, tanpa adanya Jiwa-Jiwa yang dalam ketidaktahuannya, mengikat diri dengan dunia benda, Teater Tuhan akan tutup. Keterikatan itulah yang membuat dunia kita ramai dan bising. Tanpa keterikatan, panggung sandiwara sudah pasti  kosong. Pengantar Bhagavad gita Bagian 16 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Sejak kecil Prahlada putra Hiranyakasipu sudah bersifat Daivi, karena pengaruh ibu yang baik dan hasil pendidikan Rishi Narada di lingkungan para dewa. Sebaliknya, Hiranyakasipu, sang ayah sifat Asura atau Daitya yang agresif dan serakah nampak begitu jelasnya.

Seorang maharaja penguasa Tiga Dunia yang ditakuti seluruh makhluk menghadapi anak kandung bungsunya yang pemahamannya berlawanan dengan dirinya. Kalau orang lain bisa langsung dibunuhnya, akan tetapi ini adalah putra bungsunya, dengan galau sang maharaja tetap berupaya mengubah pendirian sang putra lewat guru bagi sang putra. Guru Prahlada, Chanda dan Amarka adalah putra-putra Rishi Sukracharya.

Pada suatu hari Prahlada kecil berkata kepada sang ayah, “Ayahanda, aku sudah melihat semua orang terjerat jaring duka-cita, karena khayalan tentang adanya ‘aku’ dan ‘milikku’. Apakah kita dapat memiliki angin? Apakah kita dapat menyimpan sinar matahari? Apakah kita dapat mengurung sinar bulan di dalam kamar kita? Kita dapat menahan udara segar dan angin sepoi-sepoi . Kita dapat berjemur di bawah sinar matahari atau menikmati cahaya purnama, tetapi tidak sekali-kali bisa memiliki, apalagi memonopoli mereka. Aku akan meninggalkan semuanya sehingga aku bisa menemui Dia, asal dan tujuan hidup dari semua makhluk. Beban keterikatan pada dunia inilah yang menghalangiku untuk menemui-Nya.” Kata-kata Prahlada menyinggung perasaan Hiranyakasipu yang ingin memiliki dan memonopoli segalanya. Hiranyakasipu sangat marah dan kemudian meminta guru Prahlada mengajarnya dengan lebih keras. Prahlada diajar ilmu pengetahuan asura dan apabila salah akan dipukul oleh gurunya.

Beberapa bulan kemudian, Prahlada berkata pada sang ayah, “Ayah aku telah memahami sembilan jenis pengabdian: Shravanam (mendengarkan), Smaranam (mengingat berulang-ulang), Kirtanam (menyanyi lagu pujian), Archanam (ibadah), Vandanam (menghormati), Padasevanam (melayani semua ciptaannya), Dasyam (patuh dan melayani), Sakhya (persahabatan) dan Atmanivedanam (menyerahkan tubuh, pikiran dan segala sesuatu).”

Hiranyakasipu sangat bangga dan berkata, “Sempurna anakku, bila kau melakukan salah satu saja hal tersebut untuk melayani aku, maka kau sudah memuaskan aku.”

Prahlada berkata, “Tetapi ayah, ini adalah cara untuk memuja Narayana yang meliputi diri kita semua.” Hiranyakshipu menjadi marah. Hiranyakahsipu hanya mengasihi putranya kalau sang putra patuh kepadanya.

Para guru Prahlada menyampaikan bahwa mereka tidak memberi pelajaran kepada Prahlada hal demikian, tetapi dia hanya mengikuti pikirannya sendiri, sehingga mereka kewalahan. Hiranyakasipu melakukan tindakan kekerasan dengan memukulkan gagang lembingnya berkali-kali kepada Prahlada, tetapi dia tidak terluka.

Kagum juga sang ayah atas kesaktian Prahlada, maka Prahlada disuruh berbaring dan diinjak-injak kawanan gajah liar. Ternyata Prahlada tidak mati. Dan, kemudian Prahlada dimasukkan lubang berisi ular-ular berbisa. Ternyata Prahlada tidak terpengaruh oleh gigitan ular. Sampai Hiranyaksipu putus asa sekaligus berbangga hati atas kesaktian sang putra. Alangkah bahagianya bila sang putra patuh terhadapnya dan melawan Narayana, musuh besarnya.

Guru Prahlada kemudian berjanji sekali lagi pada sang raja untuk mengajar Prahlada bersama anak-anak asura yang lain semoga Prahlada bisa berubah setelah belajar bersama teman-teman sebayanya.

Pada suatu saat, kedua guru Prahlada sedang pergi dan Prahlada mengajak teman-temannya menyanyikan lagu pujian terhadap Narayana.

Silakan simak kelanjutan kisah berikutnya pada kategori Bhagavatam

Hiranyakasipu: Tercapainya Ambisi Menjadi Penguasa Tiga Dunia #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on April 23, 2017 by triwidodo

Intensitas perasaan dan ingatan kepada Gusti Pangeran

Saat Anda benar-benar mengingat seseorang, semua yang berada di sekeliling Anda bisa memberikan kenangan akan orang tersebut. Orang tersebut bisa jadi yang Anda cintai atau benci. Ini tak ada hubungannya dengan cinta dan benci; ini lebih kepada intensitas perasaan dan ingatan.

Para Sufi dan mistik para kekasih Tuhan, melihat wajah-Nya di mana-mana. Mereka mengingat Tuhan melalui cinta dan intensitas perasaan yang berperan di sini.

Bagaimana dengan mereka yang mengingat Tuhan dengan cara penyesalan dan kebencian mendalam? Mungkin, bahkan bagi orang-orang ini, mereka melihat juga wajah Tuhan di mana-mana. Sekali lagi, intensitas perasaan yang berperan di sini. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2009). Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila. Koperasi Global Anand Krishna)

Demikianlah dua penjaga istana Vaikunta, tempat tinggal Sri Vishnu yang lahir ke dunia menjadi musuh Sri Vishnu dengan intensitas yang luar biasa. Mereka sepanjang waktu hanyalah mengingat Sri Vishnu, musuh mereka di dunia………..

Yudistira bertanya pada Rishi Narada, mengapa Sisupala, raja Cedi yang menghina Krishna pada saat upacara Rajasuya dibunuh dengan Cakra Krishna, akan tetapi cahaya dari badan Sisupala menuju kaki Krishna dan memperoleh keselamatan pada kaki-Nya?

Rishi Narada menjawab bahwa memang banyak bhakta Gusti Pangeran yang belum mampu meninggal seperti yang dialami oleh Sisupala musuh Sri Krshna. Selanjutnya Rishi Narada bercerita tentang kisah dua penjaga istana Sri Vishnu yang lahir menjadi Hiranyaksa dan Hiranyakasipu, kemudian lahir menjadi Ravana dan Kumbakarna dan terakhir lehir menjadi Sisupala dan Datavakra.

Silakan baca ulang:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/12/28/hiranyaksha-dan-hiranyakashipu-kelahiran-sifat-raksasa-akibat-nafsu-srimadbhagavatam/

 

Tekad Hiranyakasipu menjadi Penguasa Tiga Dunia

“Lawan yang satu telah kutaklukkan, yang lain pun akan kutaklukkan. Aku menguasai segala-galanya. Aku memiliki kekuasaan tertinggi. Segala-galanya tersedia untuk kunikmati. Aku memiliki segala kekuatan. Aku sakti, aku berhasil, aku bahagia.” Bhagavad Gita 16:14

Kurang lebih afirmasi-afirmasi seperti inilah yang diajarkan para motivator sejak awal abad ke-20, dengan sedikit improvisasi dalam tata-bahasa dan gaya penyampaian.

BAGI KRSNA, PERNYATAAN-PERNYATAAN SEPERTI INI adalah bersifat syaitani. Semuanya memengaruhi niat kita, sehingga kita menjadi sombong; “Aku sudah mencapai ketinggian langit kesekian, kau baru langit kesekian.” Penjelasan Bhagavad Gita 16:14 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Hiranyakasipu memang angkuh, akan tetapi berbeda dengan para pengikut motivator masa kini yang cenderung mengkhayal, Hiranyakasipu berkarya dengan penuh percaya diri. Bekerja keras sesuai dengan potensi dan keahlian dirinya. Itulah yang membawa keberhasilan. Bukan ambisi, bukan afirmasi-afirmasi belaka………….

Dikisahkan Diti putra Daksha kawin dengan Rishi Kasyapa putra Marici dan mempunyai dua putra, Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Hiranyaksa mati di tangan Avatara Varaha yang merupakan wujud Narayana untuk mengangkat bumi dari dasar samudra.

Hiranyakasipu sangat marah atas terbunuhnya saudaranya. Hiranyakasipu kemudian meminta para asura untuk menghancurkan tempat Narayana bersemayam. Di mana pun para brahmana berkumpul untuk mengadakan upacara yajna, upacara persembahan untuk Narayana dibubarkan agar Narayana tak bisa hadir di dunia. Para asura juga diminta untuk menghancurkan dharma, karena Narayana selalu hadir pada perbuatan dharma. Para brahmana pemuja Narayana dibunuh dan dikejar-kejar para asura sehingga merasa cemas dan ketakutan. Semua tempat pemujaan Narayana diluluhlantakkan. Bukan hanya di zaman ini, sejak zaman Satya Yuga penghancuran tempat-tempat pemujaan sudah pernah terjadi………

Untuk mengalahkan Narayana, Hiranyakasipu melakukan tapa keras selama bertahun-tahun untuk memuaskan Brahma. Hiranyakasipu memahami bahwa Brahma dengan tapa kerasnya mampu menciptakan alam semesta  dan dia yakin apabila dia bertapa dengan keras maka dia akan dapat menjadi Brahma. Dia akan membuat dunia sendiri, di mana para asura menjadi dewa dan kejahatan akan dianggap sebagai kesucian.

 

Permohonan Hiranyakasipu kepada Brahma

AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita berikan kepada “cara berpikir” seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

Dan keserakahan membawa bencana. Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

lalu, apakah ambisi itu tidak boleh? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh. Penjelasan Bhagavad gita 16:13 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Brahma datang kepada Hiranyakasipu yang sedang bertapa dan berkata bahwa dia senang dengan tapa kerasnya dan bertanya apa yang diminta Hiranyaksipu kepadanya. Hiranyakasipu hanya minta satu hal yaitu agar dia dapat hidup abadi. Brahma mengatakan bahwa dia sendiri tidak abadi.

Hiranyakasipu yang sangat cerdas minta kepada Brahma, bahwa tidak ada satu pun makhluk ciptaan Brahma yang dapat membunuhnya. Tidak ada hewan atau manusia yang dapat membunuhnya. Dia minta dia tidak akan mati di dalam rumah atau di luar rumah dan juga tidak bisa mati sepanjang siang dan sepanjang malam. Tidak mati di bumi atau di langit. Tidak ada satu pun senjata yang dapat membunuhnya.

Brahma mengabulkan permintaan Hiranyakasipu dan kemudian lenyap dari pandangan Hiranyakasipu.

Hiranyakasipu dengan kesaktiannya kemudian menaklukkan tiga dunia. Dunia para dewa yang dipimpin Indra dikalahkannya. Dunia yang dikuasai Varuna dan Yama pun ditaklukkannya. Bahkan dunia yang menjadi kekuasaan Kubera pun menjadi wilayah taklukannya.

 

Setelah ambisi tercapai apakah tidak ada masalah yang membuat stres?

Lihatlah keadaan mereka yang selama ini percaya pada kekuatan ambisi. Kendati sudah menjadi kaya-raya, apakah mereka bahagia? Sudah menduduki posisi tinggi, apakah mereka tenang? Sudah berhasil meraih penghargaan, apakah rnereka tentram? Sudah memiliki tabungan di Swiss, apakah mereka damai?

Sehatkah orang nomor satu di belahan dunia mana saja? Seberapa besar tingkat stres yang dideritanya? Penjelasan Bhagavad gita 16:13 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Para dewa datang kepada Gusti Pangeran Narayana dan Narayana menghibur mereka dan mengatakan agar mereka menyerahkan segalanya kepada-Nya. Narayana berkata bahwa Hiranyakasipu akan mempunyai seorang anak yang berbhakti kepada Narayana. Manakala seorang bhakta seperti dia dilukai oleh seorang asura maka Dia akan mewujud di dunia.

Hiranyakasipu telah menjadi penguasa Tiga Dunia, apakah dia bahagia? Anak bungsu tersayang justru menjadi bhakta Narayana? Bagaimana rasa dongkol dan stresnya? Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya…………..

Kematian Orang Tercinta sebagai Pemicu Pencerahan #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on April 11, 2017 by triwidodo

Kehidupan Anda membuktikan bahwa masih ada sesuatu yang harus Anda pelajari. Masih ada keinginan-keinginan yang harus dipenuhi. Masih ada obsesi-obsesi yang harus dilampaui. Jujurlah dengan diri Anda sendiri. Jangan membohongi diri. Anda berada di sini untuk mengurus diri sendiri. Perkawinan Anda, putra-putri Anda, hubungan kerja Anda, segala sesuatu yang sedang Anda lakukan, sedang Anda alami, semua demi perkembangan diri sendiri. Jangan lupa hal itu.

Yang penting adalah Kebebasan Anda. Jangan terikat pada siapa atau apa pun. Begitu sadar bahwa dalam hidup ini kita harus belajar sesuatu, kita akan mempelajarinya dengan baik, namun kita tidak akan terikat pada sesuatu apa pun. Kita tidak akan terikat pada bangku yang kita duduki, kita tidak terikat pada bangunan sekolah. Kita tidak terikat pada guru yang mengajar kita. Kita pergi ke sekolah untuk belajar. Selesai belajar, kita pulang. Demikian pula dengan kehidupan ini: Selesai belajar kita pulang. Soul Awareness

 

Parikshit bertanya kepada Rishi Suka mengapa Vrtrasura, seorang asura bisa mencapai Narayana dengan jalan bhakti. Rishi Suka kemudian menceritakan kehidupan masa lalu, past life dari Vrtrasura.

Adalah seorang raja bijak dari negeri Surasena bernama Citraketu. Citraketu mempunyai segalanya, istri-istri cantik, istana megah dan negeri sejahtera, hanya satu yang tidak dipunyainya, yaitu seorang putra. Obsesi mempunyai putra membuatnya menikahi wanita untuk memperoleh keturunan. Walau pun sang raja sudah mempunyai banyak istri tetapi belum ada satu orang pun yang melahirkan putra.

Adalah Rishi Angirasa putra Brahma datang mengunjungi sang raja. Sang rishi mengetahui bahwa pada dasarnya, sang raja adalah baik dan saleh akan tetapi obsesinya belum terselesaikan. Sang raja mohon bantuan Rishi Angirasa agar dapat memperoleh anak. Sang rishi mengatakan bahwa sang putra akan membawa kebahagiaan dan ratapan. Raja Citraketu kurang memperhatikan ucapan sang rishi.

Sang rishi memberikan ramuan ilahi buatan Tvasta, ayahanda dari Visvarupa. Ramuan tersebut diberikan kepada istri tertua dan tidak berapa lama sang istri tertua pun hamil. Sang raja dan istri tertua sangat bahagia apalagi saat sang putra lahir dengan selamat. Karena perhatian sang raja hanya kepada ibu sang putra, maka istri-istri lainnya menjadi iri. Dan saat sang ibu lengah, mereka memberikan racun kepada sang putra.

Sang putra akhirnya meninggal dunia dan Raja Citraketu beserta istrinya menjadi sedih sekali. Negeri Surasena pun menjadi suram, rakyatnya bingung dengan kesedihan sang raja.

 

Kedatangan kembali Rishi Angirasa beserta Rishi Narada

Mereka yang tidak memahami siklus kelahiran dan kematian akan selalu menangisi orang yang mati, apalagi jika orang itu berhubungan keluarga dengannya, orang yang dicintainya.

Dalam beberapa tradisi……… Dialog tentang kematian pun dianggap tabu. Kematian dikaitkan dengan kemalangan. Dan, kehldupan dengan keberuntungan. Banyak tradisi yang menganggap kematian sebagai titik akhir dari kehidupan. Ini yang menyebabkan duka.

Tidak demlkian dengan para bijak yang memahami kematian sebagai bagian dari proses, dari siklus kehidupan. Mati, lahir, mati, lahir – demikian siklus, roda kehidupan berputar terus. Penjelasan Bhagavad Gita 2:11 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Rishi Angirasa mengajak Rishi Narada mengunjungi Raja Citraketu yang sedang berada dalam kesedihan yang dalam. Raja Citraketu tidak mengenali sang rishi karena begitu dalamnya rasa kesedihan yang dideritanya.

Rishi Angirasa memberi nasihat, “Wahai Raja, tidak seharusnya raja bersedih. Raja merasa mempunyai hubungan dengan sang putra, akan tetapi apakah sang putra juga merupakan putramu di kehidupan sebelumnya dan sebelumnya lagi? Apakah sang putra juga putramu di kehidupan yang akan datang dan yang akan datang lagi? Dalam perjalanan waktu raja telah bersama sang putra, kemudian perpisahan telah datang. Kita semua hidup di dunia dalam waktu sementara dan kemudian kita semua meninggal. Jadi, mengapa bersedih? Gusti Pangeran mencipta, memelihara, dan kemudian mendaur-ulang, ini adalah hukum alam. Ikatan antara badan dengan Jiwa adalah karena ketidaktahuan tentang Jiwa. Sekali engkau melepaskan avidya, ketidaktahuan, ini maka duka-citamu akan lenyap!”

Sang Raja tersinggung dengan nasihat sang rishi dan berkata, “Tuan siapa yang berbicara dengan kata menghibur kepadaku. Tuan-Tuan dengan jiwa bebas mengembara di seluruh dunia untuk berbagi pengetahuan tentang Kebenaran. Tetapi aku memang seperti orang gila karena keterikatan dengan putraku yang sekarang telah meninggal. Coba bantulah aku!”

Sang rishi berkata, “Aku adalah Angirasa yang membantumu untuk memperoleh seorang putra. Bersamaku adalah saudaraku Rishi Narada. Raja adalah seorang panembah Guati Pangeran dan tidak seharusnya menderita. Kerajaan, kekayaan, istri, dan putra semuanya ini adalah objek seperti yang kau lihat dalam mimpi. Mereka tidak ada saat kau terjaga, manakala kau terbangun dalam keadaan yang benar, keadaan Brahmi. Bangunlah dari mimpi! Tidak ada di dunia ini yang kekal, yang riil, yang benar, yang sejati.”

Rishi Narada berkata, “Aku akan memberimu mantra dari Upanishad. Setelah mengulanginya selama satu minggu kau akan dapat melihat Adisesa. Kamu kemudian dapat melepaskan diri dari dualitas dan mencapai keadaan jiwa yang bebas.”

 

Nasihat mendiang sang putra raja

Seluruh sifat, segala sesuatu yang berasal dari alam kebendaan memiliki kemampuan untuk mengikat Jiwa.

Jiwa tidak pernah punah – ia kekal abadi adanya. Namun, karena keterikatannya dengan badan, indra, dan alam kebendaan, ia “merasakan” pengalaman kelahiran, kematian, dan perubahan-perubahan lainnya.

Alam benda tidak bisa mengikat Jiwa, kecuali ia “bersedia” untuk diikat. Berarti, keterikatan Jiwa dengan alam benda tidak bisa terjadi kecuali seizin Jiwa itu sendiri. Penjelasan Bhagavad Gita 14:5 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Kemudian dengan kekuatan yoganya, Narada membuat mereka yang hadir dapat melihat mendiang sang putra yang telah mati tersebut. Narada berkata kepada sang putra, “Lihatlah ayah-ibumu yang sedih akibat kematianmu. Kembalilah ke dalam tubuhmu dan terimalah nasibmu sebagai seorang pangeran, yang mempunyai kekayaan dan kerajaan yang akan diberikan kepadamu oleh ayahmu!”

Sang putra berkata, “Jiwa iindividu karena terlibat dalam karma, maka dia dilahirkan di dalam dunia sebagai anak manusia, atau makhluk lainnya. Seperti emas yang diperjual-belikan melalui beberapa orang, sang jiwa sendiri tidak terikat dengan siapa yang memilikinya. Hubungan antara emas dan pemiliknya adalah khayal, ilusi, hanya bersifat sementara.”

“Pertimbangkan satu batang emas yang hari ini ditempatkan dalam kotak milik seorang pelit. Padahal kemarin batang emas tersebut ditempatkan dalam kotak tukang emas. Kemudian esok hari akan ditempatkan dalam kotak penyimpanan harta seorang raja. Masing-masing orang berkata bahwa emas itu berada dalam kotak miliknya. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa emas itu bukan milik kotak atau pemilik kotak. Emas berada dalam kotak-kotak tersebut hanya sementara saja.

“Demikian juga jiwa tidak mempunyai keterikatan dengan wadah yang dihuninya, dan dengan demikian tidak ada penderitaan atau kesenangan baginya. Ia tidak senang atau berduka kala dipindahkan dari wadah satu kepada wadah yang lain. Demikianlah keadaanku! Hanya jiwa yang bersedia diikat dengan dunia (dalam hal ini menjadi putra raja) yang mengidentifikasikan dirinya dengan dunia (putra raja). Aku tidak terikat dengan dunia.”

Dan, setelah berkata demikian  sang putra menghilang…….…

Mereka yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sadar atas nasehat mendiang sang putra raja. Mereka tidak berduka lagi dan segera melakukan upacara penyempurnaan jasad sang putra. Para ibu tiri yang meracuninya melakukan tapa menebus kesalahan mereka. Rishi Angirasa dan Rishi Narada meninggalkan istana.

Raja Citraketu kemudian melakukan meditasi di sungai Yamuna. Selama 7 hari 7 malam sang raja membaca mantra  dan berpuasa makan kecuali minum air putih. Pada malam ke-7 dia menjadi Vidyadhara, pikirannya terang dan bersih. Kemudian dia dapat melihat Adisesa salah satu wujud Gusti Pangeran. Adisesa kemudian mengajarkan Brahmavidya kepada Raja Citraketu. “Seluruh alam semesta diliputi oleh-Ku. Aku adalah penglihat, yang dilihat dan proses melihat itu sendiri. Seorang manusia manakala ia terjaga, maka dunia mimpi tidak ada baginya. Pada saat dia bermimpi maka ‘dunia jaga’ tidak ada baginya. Pada saat dia tertidur lelap maka  baik ‘dunia jaga’ dan dunia mimpi tidak ada baginya.”

“Akan tetapi dalam tiga keadaan tersebut ada Sesuatu yang berkata, ‘aku terjaga, aku bermimpi, aku tertidur lelap’. Yang berkata itu adalah Jiwa dan itu adalah kamu dan Aku. Aku di sana dan di dalam semuanya. Dan sekali kau menyadari kebenaran ini tidak ada lagi penyebab penderitaan atau kesenangan bagimu. Bagi kamu semuanya menjadi mirip karena semuanya adalah Jiwa. Keadaan yang membuat kamu melihat segalanya diliputi oleh Aku, adalah keadaan Brahmi. Kapan saja kebenaran dilupakan, kemudian jiwa terlihat dalam dunia objek dan melupakan keadaan alami sebenarnya”

Setelah berkata demikian, kemudian Adisesa menghilang.