Archive for bhagavad gita

Vasudeva, Akrura, Uddhava: Menjadi Alat Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on August 24, 2017 by triwidodo

Selalu ingat bahwa Hyang bekerja bukanlah kita. Kita hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Serahkan semuanya kepada Dia. Kita berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego. Catatan Pesan Bapak Anand Krishna 2012

 

“Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para pandit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak.” Bhagavad Gita 4:19

Kuncinya adalah berkarya tanpa pamrih.Ketika seseorang berkarya dengan semangat demikian,maka sesungguhnya ia ‘tidak berkarya’, karena ia tidak tersentuh oleh konsekuensi dari perbuatannya. Itulah Akarma-karma.

…………..

Bagaimana membebaskan diri dari setetes, dua tetes nila konsekuensi kebatilan itu? Bagaimana menyucikan diri? Bagaimana menetralisir dampak negatif dari karma kita?

Krsna menjawab: DENGAN KESADARAN SEJATI….. Berkarya dengan penuh kesadaran, bahwa sesungguhnya Jiwa tidak tersentuh oleh akibat atau konsekuensi dari perbuatan apa pun. Ini sisi lain dari filsafat spiritual.

Sisi yang lebih umum adalah berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya Tuhan Hyang Berkarya, kita hanyalah alat-Nya.

Namun, dari sisi lain, Jiwa sesungguhnya tidak berkarya, adalah badan, indra, dan dan mind atau gugusan pikiran serta perasaan yang berkarya.

Kembali pada niat di balik pekerjaan — kedua-dua konsep ini mampu membebaskan kita dari dampak negatif perbuatan baik kita.

Saya ulangi… DAMPAK NEGATIF DARI PERBUATAN BAIK – Bukan dampak negatif dari perbuatan yang jelas-jelas 100% negatif. Perbuatan 100% negatif mesti ditanggung konsekuensinya secara utuh — 100%. Lagi-lagi oleh badan, indra, dan mind atau gugusan pikiran serta perasaan. Kita tidak membahas hal itu. Itu sudah jelas.

Yang sedang kita bahas di sini adalah dampak negatif, dalam pengertian seperti by-product yang dihasilkan oleh industri yang baik. Hasil industri sudah baik, tapi ada sampah. Sebaik-baiknya industri, pasti ada waste-nya. Mau diapakan? Mesti dilebur, didaur ulang, atau diapakan?

BY-PRODUCT NEGATIF DARI KARMA BAIK ‘tersucikan’ oleh kesadaran kita sendiri. Berarti, ketika kita berbuat dengan semangat melayani, dengan memahami hukum karma; sesungguhnya kita sudah sekaligus mengatasi persoalan sampah saat ‘berproduksi’.

Berkarya tanpa pamrih, tanpa motif duniawi – adalah ibarat produk tanpa residu, tanpa waste, tanpa sampah! Sebab itu, seorang yang berkarya dengan semangat itu, diakui sebagai orang bijak oleh para pundit, mereka yang berpengetahuan ‘sekalipun’. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu saat Vasudeva menyampaikan kepada Krishna dan Balarama tentang handai taulan mereka. Vasudeva menyampaikan bahwa dia mempunyai seorang saudari yang sejak kecil diangkat anak oleh raja Kunti Bhoja yang tidak punya anak. Bibi Krishna dan Balarama tersebut bernama Prtha, yang kemudian dikenal sebagai Kunti karena merupakan putri Raja Kunti Bhoja.

Kunti dijodohkan dengan Pandu dari Dinasti Kaurava. Baik Dinasti Kaurava maupun Dinasti Yadu, Yadava, dinasti mereka semuanya adalah anak keturunan Raja Yayati. Pandu mempunyai saudara yang buta bernama Dhrtarastra. Pandu memerintah kerajaan Hastina dibantu Bhisma. Pandu telah meninggal, dan terjadi intrik-intrik perebutan kekuasaan antara Pandava, Putra Pandu dengan Kaurava Putra Dhrtrarastra.

Vasudeva menyampaikan bahwa Krishna telah menyelamatkan Dinasti Yadava dari Kamsa, semoga Krishna juga menyelamatkan Dinasti Kaurava. Vasudeva mengatakan bahwa Kunti, saudarinya adalah wanita yang baik, maka putra-putranya adalah putra-putra yang baik……

Krishna mendengarkan dengan cermat dan berjanji akan memperhatikan nasehat ayahandanya.

Apakah yang tidak diketahui Krishna? Untuk menyelesaikan tugasnya di dunia, Krishna harus berkarya lewat “alat-alat”. Berbahagialah mereka, para manusia yang bersedia menjadi alat Krishna. Vasudeva adalah alat Gusti sebagai ayah kandung wujud Krishna, alat yang menyelamatkan wujud Krishna sewaktu masih bayi. Vasudeva bahkan menjadi alat Krishna untuk memulai terjun ke pertikaian Dinasti Kaurava dengan nasehat yang sebenarnya berasal dari Krishna sendiri.

Sebagaimana Sri Rama di kehidupan sebelumnya, maka selain menyelesaikan tugas utama di dunia, Krishna juga menemui para bhaktanya.

 

Krishna mengingat janjinya kepada Akrura. Dan bersama Uddhava, Krishna pergi menuju rumah Akrura. Akrura menerima Krishna dengan perasaan luar biasa bahagia. Meskipun mereka berdua jauh lebih muda darinya, ia menyadari keilahian di dalam diri Krishna sehingga dia pun memuja-Nya: “Kaulah perwujudan Gusti dan segala kekuatan-Nya itu sendiri. Kau pula yang menciptakan dan mempertahankan dunia ini.  Kaulah yang bersemayam dalam segala sesuatu. Kau tak mungkin dikenal oleh mereka yang tidak memiliki kesadaran. Kau tidak terikat dengan tubuh, yang biasa kau gunakan sehari-hari. Kau tidak dilahirkan, abadi, dan tak terbatas. Dengan keinginan-Mu sendiri  Kau menciptakan seluruh tubuh-Mu dari Satva, untuk memelihara Dharma. Tiada satu pun orang bijak yang tidak mencari perlindungan-Mu. Sahabat dan pemberi bagi semua. Benar-benar merupakan anugerah yang tidak terhingga bagi kami, karena Kau berkenan datang ke rumahku dan memberkatinya dengan debu kaki-Mu. Untuk memutuskan ikatan dari anak, istri, tubuh, rumah dan lain-lain yang merupakan hasil dari Ilusi-Mu sendiri.”

Kemudian Krishna menjawab: “Kami adalah anak-Mu dan kaulah orang tuaku. Setiap orang suci pun memujamu.  Bahkan jika dibandingkan dengan para dewa, mereka itu egois sedangkan engkau tidak. Para pencinta akan tersucikan setelah beberapa lama memuja dewa dan sungai suci, namun dengan memuja orang suci akan menyucikanmu seketika. Sekarang pergilah ke Hastinapura, carilah informasi keadaan di sana. Para Pandava baru saja kembali dari pengasingan, namun Dhrtarastra yang berada dalam pengaruh anak yang jahat sepertinya sedang malas untuk berbuat adil kepada keponakan-keponakannya. Setelah engkau mendapatkan kabar yang jelas. Kami akan segera melakukan tindakan yang tepat untuk teman-teman dan para bhakta yang berada di sana.”

Advertisements

Krishna Kecil: Keshi, Kejatuhan Keangkuhan Diri #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on August 11, 2017 by triwidodo

Tumbuh atau Maju, Keshi atau Krishna? Bertindak karena dorongan sifat dan pemicu luar atau demi Kebenaran Sejati?

Mereka yang masih terikat dengan alam benda; berkarya, bekerja, bertindak atas dorongan sifat mereka, dan karena pemicu-pemicu di luar diri.

LAIN TINDAKAN UMUM, LAIN TINDAKAN PARA BIJAK. Para Bijak tidak bertindak karena dorongan sifat dan pemicu di luar diri. Mereka, Para Bijak Pencari Kebenaran Sejati, Para Bijak Pencari Kebebasan Sejati, bertindak untuk meraih Kebebasan Mutlak itu sendiri.

Kita berjalan di tempat, membangun keluarga, rumah, kerajaan bisnis, dan sebagainya. Kita berhenti di satu alam, di alam dunia sekitar diri, keluarga, dan kerabat. Apa pun yang kita lakukan sesungguhnya tidak membuat kita maju selangkah pun.

Dari seorang miskin, kita menjadi kaya-raya; dari seorang bujang, menjadi ayah atau ibu, dari politisi kampung menjadi pejabat tinggi — semuanya adalah pertumbuhan, bukan kemajuan. Semuanya terjadi dalam dimensi yang sama.

Sementara itu, seorang Bijak Pencari Kebenaran Sejati atau Kebebasan Mutlak — Kebenaran Sejati yang Membebaskan — sedang maju. Ia sedang melewati dimensi di mana kita sedang bertumbuh dan beranak-pinak, untuk memasuki dimensi lain.

Kita berkarya semata untuk bertumbuh. Mereka berkarya untuk kemajuan. Ini yang membedakan tindakan mereka, perbuatan mereka dari perbuatan kita.

KRSNA MENASIHATI ARJUNA untuk mencontohi mereka. Krsna mengajak Arjuna untuk melangkah maju. Para kesatria di medan perang Kuruksetra pun, tidak semuanya maju. Mayoritas hanyalah bertumbuh.

Mereka yang berperang dan gugur dengan keyakinan tengah melakukan kewajiban mereka terhadap negara, atau terhadap kubu yang mereka wakili — hanyalah bertumbuh. Entah berada di kubu Pandava, maupun Kaurava. Sama-sama sekadar tumbuh.

Adalah segelintir saja yang berperang bukan karena loyalitas semu, tapi karena dharma, untuk menegakkan kebajikan dan keadilan — hanyalah mereka yang maju. Walau, jika dilihat sekilas seolah mereka sama. Sama-sama berperang.

Seorang pengusaha yang menjalankan usahanya semata untuk mencari nafkah dan membiayai diri serta keluarganya, maka ia sedang bertumbuh. Tapi, ketika seorang pengusaha — walau berada dalam bidang yang sama — menjalankan usahanya demi perputaran roda ekonomi, demi kesejahteraan bagi semua yang terlibat dalam usahanya, maka ia mengalami kemajuan. Penjelasan Bhagavad Gita 4:15 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Salah seorang asura mesin pembunuh Raja Kamsa adalah Keshi. Keshi mempunyai dendam yang mendalam kepada Krishna. Banyak sekali kawannya yang dibunuh oleh Krishna. Keshi ingin menunjukkan kelebihan kekuatan dan kepatuhannya kepada Raja Kamsa dengan mengambil wujud seekor kuda raksasa. Kecepatan larinya secepat pikiran, dan suara ringkikannya menimbulkan badai. Batu-batu yang ada di jalan yang dilewatinya tersepak hingga beberapa puluh meter. Keshi langsung menuju Brindavan dan mencari Krishna.

Krishna menghadang Keshi dengan ketenangan yang luar biasa. Keshi langsung menyerang Krishna, akan tetapi Krishna bisa berkelit dengan lincah. Keshi semakin marah, matanya melotot dan giginya bergemeretak. Krishna sengaja memain-mainkan Keshi dengan selalu berkelit dari serangan Keshi. Akhirnya, Krishna berhasil memegang kaki belakang Keshi dan segera memutar-mutarkannya di atas kepalanya. Keshi merasa pusing dan putus asa. Kemudian Keshi merasa dirinya dilemparkan sangat tinggi dan jatuh dengan telak dan nyawanya pun melayang. Sebuah makhluk bersinar keluar dari tubuh Keshi, bersujud di kaki Krishna, dan menghilang sebagai makhluk setengah dewa.

Keshi mewakili manusia yang merasa angkuh, paling kuasa, paling mengerti karena kecepatan berpikirnya. Keshi senang berlomba dan bangga atas kemenangannya. Manusia semacam Keshi sering mengikuti nafsunya dan membenarkan tindakannya sendiri. Keshi bertindak mengikuti dorongan sifatnya atas pemicu di luar diri. Hanya Krishna yang dapat menundukkan Keshi, sehingga nafsunya tidak berkutik lagi.

Dalam kehidupan sebelumnya, Keshi adalah makhluk setengah dewa bernama Kumud. Kumud sangat tampan, berani, dan perkasa. Dia bertugas mengawal sekaligus memegang payung bagi Dewa Indra. Oleh karena itu, Kumud selalu mendapat kehormatan di mana saja Dewa Indra berada. Hal ini membuatnya menjadi angkuh.

Pada saat Dewa Indra membunuh Vrtrasura yang merupakan keturunan seorang Brahmana, dia dianggap telah melakukan tindakan kesalahan. Sebagai akibatnya, Dewa Indra dihantui perasaan bersalah yang membuntutinya tanpa henti di seluruh alam semesta. Akhirnya, Indra berhasil menemukan tempat berlindung di batang teratai di Mana Sarova, di mana ia bertapa selama 1.000 tahun. Sebagai hasil dari tapa yang memurnikan, akibat dari pelanggaran membunuh keturunan brahmana hampir sirna, dan akhirnya ia mampu muncul kemudian melanjutkan posisinya sebagai raja dewa.

Mengikuti saran dari para rishi, Dewa Indra melanjutkan Yajna Asvamedha untuk menebus pelanggaran tersebut. Saat Yajna Asvamedha berlangsung, “seekor kuda” dilepaskan untuk menjelajah seluruh wilayah tetangga. Jika ada orang yang ingin menolak supremasi raja yang memegang Yajna, maka mereka dapat menunjukkan hal ini dengan menghambat atau menangkap kuda. Ada sebuah pasukan yang menyertainya yang mengikuti kuda tersebut ke mana pun perginya. Pasukan tersebut akan bertarung dengan orang yang menghambat jalannya kuda. Jika, setelah satu tahun, kuda dan pasukan tersebut mampu kembali ke istana dan tak terkalahkan oleh siapa pun, maka raja bebas untuk memulai Yajna tersebut.

Untuk tujuan Asvamedha Yajna, Dewa Indra memilih kuda putih yang luar biasa kuat dengan telinga hitam, yang bisa bepergian dengan kecepatan pikiran. Ia memercayakan kuda tersebut kepada pengawal setianya Kumud yang mengikuti jalannya kuda dan pasukan tersebut. Namun, ketika Kumud melihat kuda yang megah tersebut, ia begitu dipenuhi dengan kekaguman, dan ia memutuskan untuk memiliki kuda tersebut.

Kala rombongan telah berangkat dari istana, pada kesempatan pertama, Kumud secara licik melarikan diri dengan kuda tersebut. Kumud mengetahui bahwa Atala (salah satu dari tujuh planet bawah) berada di luar kekuasaan Dewa Indra, dan Kumud bersembunyi di sana. Pasukan pun bingung mencari Kumud dan kuda Yajna, dan mereka tidak berhasil menemukannya, dan akhirnya kembali kepada Dewa Indra dengan tangan kosong.

Dewa Indra kemudian bekerja sama dengan saudara-saudaranya, para Marut, yang berjumlah 49 yang merupakan dewa angin, untuk mencari Kumud dan kudanya. Mereka segera menemukan Kumud di Atala, dan mereka mengikat Kumud dengan tali, dan membawanya menghadap Dewa Indra.

Dewa Indra berkata kepada Kumud, “Sungguh sangat menyedihkan, kau telah berbuat licik dan kurang cerdas. Karena kau telah bertindak sebagaimana para asura, aku mengutukmu untuk menjadi asura selama 2 manvatara. Karena kau egois, tidak bertanggung-jawab dan mencuri seekor kuda, maka kau akan mempunyai wajah kuda di kehidupanmu selanjutnya!”

Dengan cara ini, Kumud menjadi Keshi dalam kelahiran berikutnya, dan tinggal di Gunung Rsyamukha, sebagai asura bermuka kuda ia akan terbiasa meringkik yang menimbulkan suara seperti badai. Pada suatu hari, Raja Kamsa datang ke sana, dan bertempur dengan Keshi. Dengan pukulan yang kuat Kamsa menundukkan Keshi. Sejak saat itu, Keshi diangkat sebagai pengawal Kamsa, sampai ia akhirnya dibunuh oleh Krishna.

Krishna Kecil: Menjatuhkan Trinavarta Penikmat Materi Ilusif #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on July 18, 2017 by triwidodo

Awan Delusi menyebabkan penglihatan kita tidak jelas. Awan delusi adalah awan jabatan, awan kekuasaan, awan kekayaan – sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Namun, kita percaya pada awan. Kita tidak pernah berupaya untuk melihat di balik awan. Itu sebabnya, kita selalu mengejar konfirmasi dari pihak lain. Pihak lain mengatakan kita baik, kita senang. Pihak lain mengatakan kita jahat, kita gusar. Kita mempercayai apa yang kita dengar, apa yang kita baca tentang diri kita, kita tidak memiliki kepercayaan diri.

Sifat ini Sungguh Melemahkan – Dan, membuat kita tergantung pada dunia benda. Kita makin percaya pada kebendaan, dan makin jauh dari Hakikat-Diri kita sebagai Jiwa.

Lampauilah awan delusi yang membingungkan, temukan diri-sejati, dan lepaskan ketergantungan pada dunia benda yang bersifat ilusif, sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Penjelasan Bhagavad Gita 2:52 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Pada suatu ketika saat Yashoda selesai memandikan sang bayi di halaman rumahnya, dia merasa sang bayi terasa sangat berat. Melihat sang bayi sedang tertidur nyenyak, maka Yashoda meninggalkan sang bayi di halaman dan masuk ke rumah menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Asura pembunuh suruhan Kamsa bernama Trinavarta datang dan mengambil wujud angin puyuh. Seluruh penduduk Gokula berada dalam kepanikan dan menutup mata dan segera masuk ke rumah, karena debu, daun-daun kering, dan kerikil berterbangan. Tidak berapa lama angin puyuh mereda, dan Yashoda segera lari ke halaman mencari sang bayi. Akan tetapi, sang bayi tidak nampak. Yashoda cemas bahwa sang bayi terbawa oleh angin puyuh.

Asura Trinavarta membawa sang bayi terbang tinggi ke langit dan bermaksud menjatuhkannya, kala dia merasa sang bayi begitu berat, sehingga dia tidak kuat membawanya. Kemudian dalam keadaan setengah sadar dia merasa tangan mungil sang bayi mencekiknya dan tubuhnya jatuh ke bumi. Asura Trinavarta tewas.

Beberapa saat kemudian, penduduk Gokula merasa seperti ada gempa bumi dan mendengar suara seperti bukit runtuh di tepi hutan. Mereka berlari ke sana dan melihat seorang asura yang luar biasa besarnya mati dengan sang bayi yang masih berada dalam pelukannya. Para penduduk tak dapat memperkirakan apa yang terjadi dan hanya bersyukur kepada Narayana yang telah menyelamatkan sang bayi putra Nanda dan Yashoda.

Trinavarta dalam kehidupan sebelumnya (past life) adalah seorang raja yang merupakan seorang bhakta Narayana yang teguh. Pada suatu ketika di Pantai Reva yang indah dia menikmati waktu luang dengan ribuan wanita cantik.

Ketika Muni Durvasa datang, sang raja asyik dengan ribuan wanita cantik, dan tidak memberikan hormat kepada sang muni, sehingga keluarlah kutukan, “Wahai hati yang dipenuhi rasa kenikmatan, jadilah seorang asura penikmat duniawi!”

Ketika sang raja memohon ampun, Muni Durvasa berkata, “Wahai Raja, sentuhan tangan Krishna akan memberimu kebebasan!” Setelah mendapat sentuhan sang bayi avatara, Trinavarta menemui kebebasan.

Trinavarta, asura angin puyuh melambangkan kebanggan palsu seorang penikmati materi yang bersifat ilusif, bagaikan angin.  Kebanggaan palsu tersebut dibuang oleh Sri Krishna Kecil.

 

“Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, mengharap-harapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan permainan ego, ke-‘aku’-an yang ilusif – meraih kedamaian sejati.” Bhagavad Gita 2:71

 

Tidak lagi mengharap-harapkan, tidak lagi mengejar-ngejar, tidak lagi memburu sesuatu – berarti tidak ada lagi obsesi dalam dirinya. Ia sudah melewati semuanya. Ia sudah mencoba semuanya. Ia sudah merasakan semuanya dan menyadari bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari dunia tidak abadi, tidak langgeng. Kesadaran itu sendiri sudah cukup untuk membuatnya menjadi tenang.

Ia Berpaling kepada Dirinya Sendiri – Ia memperoleh sumber kedamaian dan Kebahagiaan Sejati dalam dirinya sendiri. Begitu ia menemukan dirinya, ia juga menemukan “Sang Aku” yang Universal. Ia mulai menyadari bahwa semuanya, segala sesuatu, hanya merupakan bayangan-bayangan “Sang Aku” yang Sejati itu. Kemudian, pada saat itu juga, ego yang selalu bersandar pada objek-objek duniawi runtuh, gugur. Ia sudah tidak dapat mempertahankan dirinya; dan rasa kepemilikannya yang ilusif terhadap seseorang atau sesuatu. Segala sesuatu adalah milik-Nya. Ia pun milik-Nya. Apa yang harus dimiliki lagi, siapa yang dapat memiliki lagi? Kesadaran-diri seperti inilah yang mendamaikan Jiwa. Penjelasan Bhagavad Gita 2:71 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bharata Putra Shakuntala: Menjadi Brahmana atau Raja? #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on July 5, 2017 by triwidodo

Alam ini sepenuhnya berada di bawah pengawasan-Nya. Nah, implikasi dari pemahaman ini jauh melebihi bayangan kita. Jika semuanya berada di bawah pengawasan-Nya, Roda Samsara, Alam Semesta pun berputar karena dan atas kehendak-Nya – maka, tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut kecelakaan…

Tidak ada pula kebetulan – Kebetulan saya berada di tempat yang salah, maka saya terlibat dalam buku tembak antara dua geng – dan ikut kena tembakan. Saya luka. ‘Tidak ada kebetulan seperti itu. Ingat, Dia adaalah Hyang Maha Mengawasi – sang Pengawas Agung.

Pengalaman suka dan duka terjadi karena perbuataan kita sendiri. Karena keterikataan kita sendiri. Ya, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang menimpa diri kita. Dia- Gusti Pangeran – senantiasa mengawasi supaya semuanya berjalan lancar sesuai dengan hukum-hukum alam yang ada atas kehendak-Nya pula!

………..

Sang Pengawas Agung menyaksikan semua, mengawasi semua. Sudah berulang-kali, Ia pun memberi peringatan. “Kalian sudah salah, lihat apa yang terjadi!’ Tapi, kita budeg, tidak mendengar peringatannya. Maka, jika terjadi hal-hal yang lebih parah lagi, janganlah meyalahkan Sang Pengawas.” Penjelasan Bhagavad Gita 9:10 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Apakah Raja Dushyanta yang terkenal bijaksana mendengar peringatan dari Sang Pengawas Agung? Ataukah dia tetap budeg, tidak mendengar peringatan-Nya?

Pada suatu hari, Rishi Kanva memanggil Sarvadamana, “Cucuku, dari pihak ibumu kau adalah cucu dari Rajarishi Kaushika yang agung, yang terkenal sebagai Rishi Vishvamitra. Kakekmu penuh semangat meniti ke dalam diri, bahkan meninggalkan takhta, membantu orang yang kesusahan, dan dihormati bahkan oleh seluruh dewa. Dari pihak ayahmu, Dushyanta, mempunyai garis keturunan dari Raja Puru putra Yayati yang bijaksana. Kamu mempunyai genetika bawaan sempurna sebagai raja, sekarang bawa ibumu menghadap ayahmu. Kau jangan memaksa ayahmu menerima dirimu sebagai putranya. Bila dia belum menerima, jangan paksa, yakinlah ada waktunya dia akan memelukmu dan memanggilmu sebagai putranya.”

Shakuntala menurut saja digandeng sang putra menuju istana. Sang putra berkata, “Ibu, aku telah diberikan pesan oleh kakek, sebaiknya ibu menceritakan kisah sebenarnya kepada ayahanda. Setelah itu jangan menangis. Diterima atau tidak diterima ayahanda adalah urusan Gusti Pangeran. Akan tetapi masalah ini harus terselesaikan. Sehingga arah hidupku menjadi jelas menjadi putra raja atau mengikuti kakek menjadi seorang pertapa.”

Sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan mereka dengan penuh penghormatan. Seorang ibu muda yang anggun bak dewi kahyangan dengan putra yang tampan dan memancarkan aura kewibawaan. Wajah sang putra tidak asing bagi mereka, itu adalah wajah Raja Dushyanta.

Sampai di istana mereka melihat sang raja sedang duduk di singgasana dihadiri bayak pejabat kerajaan. Sang putra segera mengajak sang ibunda bersujud menghormati Gusti yang mewujud sebagai raja. Shakuntala kemudian mengingatkan sang raja tentang kejadian sewaktu sang raja berkunjung ke ashram Rishi Kanva, “Demikian Paduka Raja Dushyanta, ini adalah putramu hasil paduan kasih dari kita berdua.”

Sang Raja kaget, dan tegang luar biasa, “Tidak, aku tidak ingat benar siapa engkau, nampaknya kita pernah bertemu tetapi aku lupa.”

Kelemahan dari perkawinan gandharva adalah tidak adanya saksi atas perkawinan tersebut. Raja Dushyanta bingung, bagaimana dia dapat memberi pemahaman kepada para menteri dan penasihatnya tentang kejadian tersebut. Siapa yang dapat membuktikan bahwa remaja tersebut adalah benar-benar putranya? Ini adalah masalah besar bagi kerajaan. Begitu diakui, maka otomatis sang remaja menjadi putra mahkota. Yang tahu betul putra siapa adalah ibunya, tetapi apakah ibunya dapat dipercaya atau tidak? Dan Dushyanta pun kebingungan…

Shakuntala melanjutkan, “ Mungkin paduka akan menolakku karena aku anak hasil perkawinan seorang raja dengan bidadari, tetapi paduka tak dapat menolak darah dagingmu sendiri. Paduka, saya ingatkan bahwa nenek moyang paduka,  Ayu, adalah putra dari Raja Pururawa dengan Urvasi yang seorang bidadari juga.”

“Seorang putra membebaskan ayahnya dari hukuman di neraka yang disebut “put”, oleh karenanya anaknya disebut putra. Menurut prinsip ini, bila ada perselisihan antara ayah dan ibu, adalah ayah yang bertanggungjawab terhadap putranya. Seorang istri yang setia dan berpegang teguh pada suaminya tidak boleh mengalami perceraian. Seorang istri selalu dilatih untuk menjadi orang suci dan setia kepada suaminya. Putro nayati naradeva yama-ksayat: Anak itu menyelamatkan ayahnya dari neraka Yamaraja. Ayah yang pemberi benih sedangkan ibu pemilik lahan. Suami dan istri tidak boleh berpisah dalam kondisi apapun, karena jika mereka memiliki anak, sang anak dapat menyelamatkan ayah dan ibu dari Neraka Yamaraja.

Raja Dushyanta semakin bingung dihadapan semua menteri dan para penasihatnya, yang mendengar pernyataan Shakuntala. Sang raja tetap bergeming menolak pernyataan Shakuntala.

Shakuntala menangis, hatinya tersayat dan penuh kekecewaan dan kemarahan. Sang putra segera menggandeng ibunya untuk meninggalkan istana, “Bunda tenanglah, arah hidupku telah jelas, aku akan menjadi pertapa yang paling baik yang dapat membahagiakan dirimu. Yakinlah pada putra remajamu ini! Bunda mari pergi tinggalkan istana ini!”

Sang remaja berkata, “Wahai paduka raja, aku mendengar dari kakek Rishi Kanva, bahwa kebenaran ucapan adalah sama agungnya seperti pelajaran kitab suci dan membersihkan diri di sungai-sungai suci. Tidak ada dharma yang lebih besar selain kebenaran. Brahman adalah kebenaran mutlak. Jangan menghina Brahman dalam diri paduka. Paduka, aku dan bunda mohon diri.”

Sang raja tertegun, melihat punggung sang ibu dan sang anak. Hatinya ingin mengakui, tetapi dia malu kepada seluruh menterinya. Mau bicara pun tidak bisa, mau berdiri pun tidak mampu. Semua yang hadir tersentuh melihat sang ibu muda menangis terisak-isak, dihibur putra remaja yang tabah dan perkasa.

Tiba-tiba datang suara membahana dari langit: “Dushyanta, perempuan ini adalah istrimu, dan anak remaja ini adalah putramu. Dia akan menjadi maharaja yang besar melebihi dirimu. Shakuntala telah berkata benar. Jangan menghina Shakuntala yang telah lama menderita.”

Tiba-tiba nampak para dewa di langit yang berkata, “Kemarahan seorang perempuan akan menghancurkan seluruh Dinasti Puru. Kejar segera istrimu, tenangkan istri yang luhur itu. Panggillah putramu dengan nama Bharata karena kami sudah memintamu mengambil dia. Bhara berarti melindungi, mengawal. Karena putramu inilah anak keturunanmu dipanggil sebagai Dinasti Bharata.”

Sebuah campur tangan Ilahi terjadi. Tanpa campur tangan ilahi, mungkin Dinasti Bharata tak menjadi golongan ksatria, tetapi menjadi golongan brahmana. Dushyanta segera mengejar Shakuntala dan Bharata dan meminta mereka menjadi permaisuri dan putra mahkota.

Mata Parikhsit menitik mendengar kisah yang disampaikan Rishi Shuka dan berkata pelan, “Wahai Guru, sejatinya hanya karena rahmat Ilahi kami menjadi salah satu keturunan Bharata.  Bagaimana dengan Shakuntala-Shakuntala dan Bharata-Bharata lain yang menjadi korban perkawinan gandharva?”

Rishi Shuka berkata, “Wahai Raja, semua yang lahir dan hidup tidak dapat lepas dari hukum sebab-akibat. Menanam padi menunggu panen 4 bulan. Menanam pohon jambu menunggu panen 6-7 tahun. Menanam pohon jati bisa menunggu puluhan tahun. Pikiran, ucapan, dan tindakan kita merupakan benih tanaman dan tak ada seorang, bahkan dewa pun yang tahu kapan panennya. Menerima dan menghadapi panen di depan mata dengan penuh kesadaran. Itulah intisari kehidupan. Bagaimanapun itu semua terjadi dalam jaring ilusi maya, karena kesadaran kita masih pada tingkatan mental emosional. Para suci kesadarannya telah melampaui kesadaran mental emosional. Semua tindakannya berdasarkan intelijensia, selaras dengan alam. Bahkan sudah mencapai kesadaran murni, kebahagiaan hakiki. Mereka sudah tidak terpengaruh oleh peristiwa yang terjadi di luar.”

Parikhsit terharu, “Guru aku pasrah pada-Mu, Guru lebih tahu apa yang lebih baik bagiku. Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri Guru.”

Vishvamitra: Putra Raja dengan Cetak Biru Seorang Rishi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 21, 2017 by triwidodo

Catur Varna: Empat Kelompok Masyarakat yang, awalnya, tidaklah dibagi berdasarkan kelahiran, keturunan, dan darah, tapi berdasarkan potensi diri dan profesi seseorang.

Kelompok-kelompok tersebut adalah: Pertama, Kelompok Brahmana atau Cendekiawan – para pemikir, pendidik, guru pengajar, ahli kitab atau ritus, pendeta, dan sebagainya. Profesi mereka sesuai dengan potensi diri mereka, yaitu untuk mendidik anak bangsa; mengarahkan masyarakat; menasihati pemerintahan, dan sebagainya.

                Kedua, Kelompok Ksatriya atau Kesatria adalah para politisi, diplomat, para abdi negara, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.

Ketiga, Kelompok Vaisya atau Pengusaha — jelas, berprofesi sebagai pedagang, industrialis, bankir, dan sebagainya.

Dan, Keempat, Kelompok Sudra, atau Kaum Pekerja. Mereka adalah para pelaksana, para profesional. Tanpa bantuan mereka, ketiga kelompok sebelumnya tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Pengelompokan ini bukanlah untuk mengangkat, meninggikan satu kelompok dan merendahkan atau menistakan kelompok lain. Sama sekali tidak demikian.

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Jika kita memperhatikan keadaan saat ini……. Kekacauan yang sama telah terjadi. Setiap kelompok ingin berkuasa, menjadi raja. Mereka ramai-ramai memasuki arena politik untuk berlomba.

Jumlah kursi jelas jauh lebih kecil, lebih sedikit dari jumlah para peserta lomba. Maka terjadilah sikut-menyikut. Terjadilah politik dagang sapi, dagang kuda, dagang kecoa, dagang nyamuk, dagang semut, dan entah dagang apa lagi. Dagang daging, barangkali.

Kita melupakan potensi diri – Berpotensi sebagai pendidik, tapi menjadi politisi. Berpotensi sebagai abdi negara, tapi lebih suka dagang karena “duitnya banyak.” Sebaliknya, pengusaha menginginkan kekuasaan, dan masuk politik. Penjelasan Bhagavad Gita 4:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Raja Gadhi anak keturunan Pururava sudah lama tidak mempunyai putra sebagai calon pengganti saat dia melepaskan jabatan dan pergi melakukan Vanaprastha, meninggalkan istana fokus pada Gusti Pangeran. Dia hanya memiliki satu anak perempuan bernama Putri Satyavati yang kawin dengan Rishi Ruchika putra Rishi Chyavana. Sang permaisuri dan putrinya minta tolong Rishi Ruchika agar mereka dapat memperoleh putra. Sang Permaisuri ingin putra ksatria yang perkasa sedangkan putrinya ingin putra brahmana yang bijaksana.

Rishi Ruchika mempersiapkan 2 mangkuk air bagi permaisuri dan istrinya, kemudian pergi melakukan sadhana di sangai. Sang permaisuri merasa menantunya pasti ingin memberikan putra yang terbaik bagi istrinya, maka dia minta tukar mangkuk dengan putrinya.

Demikianlah Putri Satyavati memberitahu kepada Rishi Ruchika apa yang telah terjadi. Rishi Ruchika berkata bahwa demikianlah takdir, Kehendak Gusti. Satyavati akan mempunyai putra berkarakter ksatria perkasa. Satyavati mohon agar diusahakan mempunyai putra brahmana. Rishi Ruchika hanya menyanggupi kelahiran sang ksatria ditunda satu generasi. Akhirnya lahirlah putra Satyavati sebagai Rishi Besar Jamadagni dan cucunya adalah Avatara Parashurama, brahmana yang berwatak ksatria.

Sesuai kutipan penjelasan Bhagavad Gita di atas:

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Avatara Parashurama adalah brahmana yang berkarakter ksatria pembasmi para ksatria yang menindas kelompok-kelompok lain tersebut.

 

Putra Raja Gadhi adalah Kaushika yang menjadi raja adil dan bijaksana. Bagaimana pun Blueprint, Cetak Biru Gusti menetapkan yang lain. Apakah dia akan menjadi Rishi Besar sesuai ramalan Rishi Ruchika?

Alkisah pada suatu hari, Raja Kaushika beserta pasukannya mengunjungi Rishi Vasishtha. Rishi Vasishtha sangat senang dan ingin menjamu sang raja dengan seluruh prajuritnya. Raja Kaushika tidak mau merepotkan sang rishi. Diterima saling tukar pikiran dan menanyakan masalah yang dihadapi masing-masing sudah sangat membahaagiakan.

Rishi Vasishtha memanggil sapi Sabala yang indah dan berkata persiapkan jamuan bagi para raja dan seluruh prajuritnya. Raja dan seluruh prajuritnya menikmati hidangan yang sangat lezat. Rishi Vasishtha menjelaskan bahwa sapi Sabala adalaah anak sapi Kamadhenu yang keluar dari samudra susu saat para dewa dan asura mengaduk samudra.

Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/14/amrita-keabadian-demi-ego-asura-atau-pelayanan-dharma-dewa-srimadbhagavatam/

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/10/kurma-avatara-mendukung-perjuangan-gigih-memperoleh-amrita-srimadbhagavatam/

Raja Kaushika ingin menukar sapi Sabala dengan emas, permata atau ribuan gajah, karena sapi tersebut sangat diperlukan bagi kerajaan. Rishi Vasishtha menolak, karena Sabala adalah berkah Gusti dan sabala seperti putranya sendiri.

Karena tetap teguh menolak, maka sang raja minta pasukannya, menarik paksa Sabala dari ashram sang rishi. Sabala menangis karena merasa Rishi Vasishtha membiarkan peristiwa tersebut. Melihat Sabala tidak rela dibawa prajurit, Rishi Vasishtha berkata agar Sabala mengeluarkan pasukan yang sebanding kekuatannya dengan pasukan sang raja. Pasukan Raja Kaushika mengalami kalah telak dari pasukan ciptaan Sabala dan sang raja pulang ke istana dengan rasa kecewa.

Silakan ikuti kisah selanjutnya……

Hikayat Gangga 3: Keperkasaan Rambut Mahadeva #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 13, 2017 by triwidodo

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

Yoga, meditasi, laku spiritual bukan seperti itu – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bhagiratha melakukan sadhana untuk mencapai harapan para leluhurnya, menurunkan Gangga ke bumi untuk membasahi abu para leluhurnya yang sampai saat itu masih menderita di Patala karena keangkuhan mereka menyerang Rishi Kapila.

Bhagiratha adalah generasi ke 5 yang berupaya menurunkan Gangga mulai dari Sagara, Asamanja, Amsuman, Dilipa, Bhagiratha. Perjuangan lintas generasi yang tak kenal lelah.

Pada suatu ketika, Bhagiratha mendapat penglihatan tentang Dewi Gangga, “Dewi engkau lahir di kaki Narayana. Ketika Vamana menapakkan kaki tiga langkah sewaktu peristiwa dengan Raja Bali, kakinya dibersihkan tujuh Rishi dan  Brahma menggunakan dirimu. Berkahi kami dan rumah kami dengan dirimu.”

Kemudian Bhagiratha mendapat jawaban dari sang dewi, “Diriku menghormati upaya leluhurmu dalam beberapa generasi untuk membawaku ke bumi. Akan tetapi, kamu tidak mengetahui dampak yang terjadi kala diriku turun ke bumi. Siapa yang kuat menahan arusku? Kemudian, mengapa pula aku harus turun ke bumi? Orang yang berdosa kala mandi di airku akan bersih, dan dosa mereka tertinggal dalam diriku.  Bagaimana aku dibersihkan dari kotoran mereka?”

Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi, para rishi suci, para penglihat agung, mereka telah melampaui perbudakan karma. Mereka tidak punya pikiran selain Tuhan. Manakala mereka berendam di dalam airmu mereka akan membersihkanmu. Perihal kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadeva.”

Dewi Gangga jujur, karena air bersifat mensucikan, tetapi setelah banyak orang kotor yang mandi dia bingung bagaimana cara dia membersihkan dirinya. Dirinya hanya memberikan vibrasi sesuai apa yang ada dalam dirinya. Kesucian para suci itulah yang mengembalikan kesucian air. Oleh karena itu, manusia perlu waspada dalam melakukan ziarah atau tirtayatra. Banyak orang yang setelah ziarah di tempat tertentu malah menjadi pelit, penuh pertimbangan untung-rugi, karena aura materi meliputi tempat ziarah atau tirtayatra tersebut. Para sucilah yang memberikan vibrasi kesucian, berada dekat para suci meningkatkan kesucian diri.

Bhagiratha kemudian melakukan tapa untuk memperoleh bantuan Shiva, Sang Mahadewa. Dan setelah perjuangan berat, Mahadeva bersedia membantunya.

Dewi Gangga dengan sedikit kesombongan turun ke bumi dan airnya hilang ditahan rambut Sang Mahadeva. Gangga tidak bisa lepas dari rambut Sang Mahadeva. Bhagairatha mohon kepada Mahadeva agar berkenan menurunkan air Gangga ke bumi.

Setelah itu Gangga diturunkan Mahadeva dengan menetes agar tidak angkuh lagi. Gangga kemudian membagi dalam tujuh aliran, 3 ke barat, 3 ke timur, dan satu aliran mengikuti kereta Bhagiratha yang diarahkan menuju gua tempat para leluhurnya yang telah menjadi abu. Dan akhirnya, tumpukan abu leluhurnya tersebut termurnikan.

 

Sadhana bukanlah sekadar “laku” atau “praktik“ sebagaimana kata ini umum diterjemahkan. Sadhana juga bukan sekadar upaya yang sungguh-sungguh. Sadhana berarti Laku, Praktik atau Upaya penuh Devosi—Laku, Praktik, atau Upaya dengan semangat Pengabdian.

Pengabdian pada siapa? Pengabdian pada, devosi pada Tujuan Luhur upaya tersebut. Dan Tujuan Luhur itu adalah Samadhi—Keseimbangan Diri. Pencapaian Kesadaran Murni, Kemanunggalan Sempurna dengan Sang Jiwa Agung. Dalam satu kata, “Pencerahan”!

Manfaat utama dari Pencerahan adalah untuk Diri sendiri, untuk Diri yang Sejati, demi kemanunggalan dengan Sang Diri Agung. Hal ini mesti dipahami. Jadi, Disiplin atau Yoga—hidup berpedoman pada prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Patanjali ini—bukan untuk perkara Iain.

Perkara-perkara lain, seperti kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, ketenteraman hati, bahkan prajna atau pengetahuan sejati sekalipun cuma sekadar efek samping dari Yoga. Efek-efek samping yang menjadi berkah bagi diri kita sendiri sehingga kita dapat menggunakan badan, indra, bersama fakultas-fakultas lainnya—seperti mind atau gugusan pikiran dan perasaan, inteligensi, dan sebagainya—untuk mencapai tujuan akhir tersebut, yaitu Samadhi, Pencerahan! Pengantar sadhana Padah dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hikayat Gangga 2: Amsuman Putra Seorang Yogi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 12, 2017 by triwidodo

Sebagian (di antara mereka yang mengalami kelahiran ulang seperti itu) mencapai Samadhi, Keseimbangan Diri atau Pencerahan berkat prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah diraihnya pada masa lalu, dan (upaya sungguh-sungguh pada masa kini) dengan penuh sraddha atau keyakinan; virya atau keberanian dan kekuatan; dan smrti, ingatan atau perhatian (terhadap tujuan Jiwa, yaitu Manunggal dengan Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.20

Berarti, hanya prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah kita raih pada masa lalu pun tidak cukup. Belum cukup. Mesti dibarengi upaya lanjutan pada masa kini. Dan upaya pada masa kini pun bukanlah upaya sembarang. Mesti upaya sungguh-sungguh dengan segenap energi, dengan penuh keyakinan, dan penuh perhatian.

Sraddha adalah keyakinan yang tak tergoyahkan. Sraddha bukan sekadar kepercayaan yang bisa berubah-ubah……… Sraddha, keyakinan, atau trust—bukan belief, yang adalah kepercayaan—terkait dengan Jiwa. Sebab itu, ia tak tergoyahkan. Karena Jiwa yang di-“yakini”-nya adalah langgeng, abadi.

Kepercayaan bisa mengalami pasang surut selaras dengan sifat materi, sifat kebendaan yang berubah terus. Keyakinan atau Sraddha tidak mengalami pasang surut karena selaras dengan sifat hakiki Jiwa, yang adalah percikan Jiwa Agung.

Kemudian Virya atau keberanlan dan kesungguhan upaya dengan segenap kekuatan, segenap energi. Virya bukan sekadar energi……………

Virya bukanlah keberanian asal hantam. Virya adalah keberanian yang bertanggung jawab, inteligen. Keberanian untuk membela kebenaran, kebajikan, keadilan, dan untuk meraih kesadaran diri sejati.

Tidaklah gampang melepaskan kesadaran jasmani yang sudah melekat lama. Tidaklah mudah melepaskan kenyamanan tubuh. Bukan main godaan dari alam benda, dari pemicu-pemicu yang sangat menggiurkan bagi indra, gugusan pikiran serta perasaan, dan sebagainya.

Terakhir, Smrti, ingatan berkesadaran, penuh attentiveness atau penuh perhatian. Jadi dalam konteks ini, Smrti bukan sekadar ingatan atau memori. Namun, ingatan atau memori yang terkait dengan kesadaran, dengan attentiveness atau perhatian. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Asamanja, putra Raja Sagara yang tinggal di istana tingkah lakunya tidak seperti putra raja lainnya. Sebenarnya dalam kehidupan sebelumnya, Asamanja adalah seorang Yogi akan tetapi karena kesalahan tindakannya dia lahir sebagai putra mahkota. Asamanja ingat (Smirti) masa lalunya sebagai Yogi, mempunyai Sraddha, keyakinan, memiliki Virya, keberanian dalam menuju tujuan hidupnya.

Asamanja berupaya sekuat tenaga agar semua orang membencinya, sehingga dia  dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya. Asamanja sudah mempunyai putra bernama Amsuman, akan tetapi tingkah lakunya tidak dipahami masyarakat. Beberapa anak laki-laki ditenggelamkannya di Sungai Sarayu sambil tertawa-tawa. Akhirnya Raja Sagara tidak dapat menahan kesabaran, dan demi rakyatnya, Asamanja diusir dari istana.

Sebelum pergi dari istana Asamanja menghidupkan kembali beberapa anak laki-laki yang ditenggelamkannya. Selanjutnya Asamanja meneruskan perjalanan hidupnya sebagai seorang Yogi.

Putra Asamanjasa bernama Amsuman. Amsuman menjadi andalan kakeknya, Raja Sagara. Amsuman kemudian melacak jejak ke 60.000 pamannya. Akhirnya, Ansuman bertemu Rishi Kapila beserta kuda dan tumpukan debu yang menggunung di dekatnya. Ansuman merasakan kedamaian di depan sang rishi dan segala kekacauan pikirannya tiba-tiba lenyap.

Ansuman kemudian sadar bahwa rishi di depannya adalah Rishi Kapila yang sangat bijak yang telah terkenal di seluruh dunia. “Wahai rishi, kami hanya dapat melihat hal-hal yang bersifat duniawi, objek-objek indera. Bapa Rishi adalah Gusti yang mewujud untuk membimbing manusia. Tolonglah kami untuk menemukan paman-paman kami!” Amsuman menangis dan jatuh di kaki Rishi Kapila.

Rishi Kapila berkata pelan, “Wahai anak muda, ambillah kuda kakekmu. Indra telah meninggalkan kuda tersebut ketika aku larut dalam  meditasi yoganidra. Para pamanmu mati karena terbakar oleh keangkuhan. Satu-satunya sarana yang dapat mensucikan mereka kembali adalah air sungai Gangga.”

Kapila Vasudeva putra Kardama dan Devahuti adalah seorang rishi yang mengajarkan tentang ilmu samkhya.

Mendengar laporan Amsuman tentang ke 60.000 putranya, Raja Sagara merasa tak bahagia. Setelah menyelesaikan ritual Ashvamedha yang ke-100, Raja Sagara menobatkan Amsuman sebagai raja dan pergi bertapa. Raja Sagara tidak pernah mengira bahwa upacara Ashvamedha yang direncanakannya membuat ke-60.000 arwah putranya menderita.

Amsuman berusaha mendatangkan Dewi Gangga ke bumi demi keselamatan para pitri, leluhur, para pamannya. Akan tetapi sampai maut datang menjemput, keinginannya belum tercapai.

Dilipa, putra Amsuman, juga tidak berhasil membawa Dewi Gangga ke bumi sampai akhir hayatnya.

Bhagiratha, cucu Amsuman meninggalkan kerajaannya kepada para menterinya dan bertekad untuk membawa Dewi Gangga ke bumi untuk menyelamatkan para leluhurnya.