Archive for bhagavad gita

Vishvamitra: Putra Raja dengan Cetak Biru Seorang Rishi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 21, 2017 by triwidodo

Catur Varna: Empat Kelompok Masyarakat yang, awalnya, tidaklah dibagi berdasarkan kelahiran, keturunan, dan darah, tapi berdasarkan potensi diri dan profesi seseorang.

Kelompok-kelompok tersebut adalah: Pertama, Kelompok Brahmana atau Cendekiawan – para pemikir, pendidik, guru pengajar, ahli kitab atau ritus, pendeta, dan sebagainya. Profesi mereka sesuai dengan potensi diri mereka, yaitu untuk mendidik anak bangsa; mengarahkan masyarakat; menasihati pemerintahan, dan sebagainya.

                Kedua, Kelompok Ksatriya atau Kesatria adalah para politisi, diplomat, para abdi negara, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.

Ketiga, Kelompok Vaisya atau Pengusaha — jelas, berprofesi sebagai pedagang, industrialis, bankir, dan sebagainya.

Dan, Keempat, Kelompok Sudra, atau Kaum Pekerja. Mereka adalah para pelaksana, para profesional. Tanpa bantuan mereka, ketiga kelompok sebelumnya tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Pengelompokan ini bukanlah untuk mengangkat, meninggikan satu kelompok dan merendahkan atau menistakan kelompok lain. Sama sekali tidak demikian.

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Jika kita memperhatikan keadaan saat ini……. Kekacauan yang sama telah terjadi. Setiap kelompok ingin berkuasa, menjadi raja. Mereka ramai-ramai memasuki arena politik untuk berlomba.

Jumlah kursi jelas jauh lebih kecil, lebih sedikit dari jumlah para peserta lomba. Maka terjadilah sikut-menyikut. Terjadilah politik dagang sapi, dagang kuda, dagang kecoa, dagang nyamuk, dagang semut, dan entah dagang apa lagi. Dagang daging, barangkali.

Kita melupakan potensi diri – Berpotensi sebagai pendidik, tapi menjadi politisi. Berpotensi sebagai abdi negara, tapi lebih suka dagang karena “duitnya banyak.” Sebaliknya, pengusaha menginginkan kekuasaan, dan masuk politik. Penjelasan Bhagavad Gita 4:13 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Raja Gadhi anak keturunan Pururava sudah lama tidak mempunyai putra sebagai calon pengganti saat dia melepaskan jabatan dan pergi melakukan Vanaprastha, meninggalkan istana fokus pada Gusti Pangeran. Dia hanya memiliki satu anak perempuan bernama Putri Satyavati yang kawin dengan Rishi Ruchika putra Rishi Chyavana. Sang permaisuri dan putrinya minta tolong Rishi Ruchika agar mereka dapat memperoleh putra. Sang Permaisuri ingin putra ksatria yang perkasa sedangkan putrinya ingin putra brahmana yang bijaksana.

Rishi Ruchika mempersiapkan 2 mangkuk air bagi permaisuri dan istrinya, kemudian pergi melakukan sadhana di sangai. Sang permaisuri merasa menantunya pasti ingin memberikan putra yang terbaik bagi istrinya, maka dia minta tukar mangkuk dengan putrinya.

Demikianlah Putri Satyavati memberitahu kepada Rishi Ruchika apa yang telah terjadi. Rishi Ruchika berkata bahwa demikianlah takdir, Kehendak Gusti. Satyavati akan mempunyai putra berkarakter ksatria perkasa. Satyavati mohon agar diusahakan mempunyai putra brahmana. Rishi Ruchika hanya menyanggupi kelahiran sang ksatria ditunda satu generasi. Akhirnya lahirlah putra Satyavati sebagai Rishi Besar Jamadagni dan cucunya adalah Avatara Parashurama, brahmana yang berwatak ksatria.

Sesuai kutipan penjelasan Bhagavad Gita di atas:

Celakanya, seiring waktu, pengelompokan ini disalahkaitkan dengan garis keturunan. Ketika itu terjadi, dan kelompok-kelompok berkuasa mulai menindas kelompok-kelompok lain – maka terjadilah kekacauan. Dan, kekacauan seperti itu rnenuntut agar Sang Jiwa Agung “menjelma” untuk memperbaiki tatanan yang sudah kacau.

Avatara Parashurama adalah brahmana yang berkarakter ksatria pembasmi para ksatria yang menindas kelompok-kelompok lain tersebut.

 

Putra Raja Gadhi adalah Kaushika yang menjadi raja adil dan bijaksana. Bagaimana pun Blueprint, Cetak Biru Gusti menetapkan yang lain. Apakah dia akan menjadi Rishi Besar sesuai ramalan Rishi Ruchika?

Alkisah pada suatu hari, Raja Kaushika beserta pasukannya mengunjungi Rishi Vasishtha. Rishi Vasishtha sangat senang dan ingin menjamu sang raja dengan seluruh prajuritnya. Raja Kaushika tidak mau merepotkan sang rishi. Diterima saling tukar pikiran dan menanyakan masalah yang dihadapi masing-masing sudah sangat membahaagiakan.

Rishi Vasishtha memanggil sapi Sabala yang indah dan berkata persiapkan jamuan bagi para raja dan seluruh prajuritnya. Raja dan seluruh prajuritnya menikmati hidangan yang sangat lezat. Rishi Vasishtha menjelaskan bahwa sapi Sabala adalaah anak sapi Kamadhenu yang keluar dari samudra susu saat para dewa dan asura mengaduk samudra.

Silakan baca ulang: https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/14/amrita-keabadian-demi-ego-asura-atau-pelayanan-dharma-dewa-srimadbhagavatam/

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/05/10/kurma-avatara-mendukung-perjuangan-gigih-memperoleh-amrita-srimadbhagavatam/

Raja Kaushika ingin menukar sapi Sabala dengan emas, permata atau ribuan gajah, karena sapi tersebut sangat diperlukan bagi kerajaan. Rishi Vasishtha menolak, karena Sabala adalah berkah Gusti dan sabala seperti putranya sendiri.

Karena tetap teguh menolak, maka sang raja minta pasukannya, menarik paksa Sabala dari ashram sang rishi. Sabala menangis karena merasa Rishi Vasishtha membiarkan peristiwa tersebut. Melihat Sabala tidak rela dibawa prajurit, Rishi Vasishtha berkata agar Sabala mengeluarkan pasukan yang sebanding kekuatannya dengan pasukan sang raja. Pasukan Raja Kaushika mengalami kalah telak dari pasukan ciptaan Sabala dan sang raja pulang ke istana dengan rasa kecewa.

Silakan ikuti kisah selanjutnya……

Hikayat Gangga 3: Keperkasaan Rambut Mahadeva #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 13, 2017 by triwidodo

“Partha (Putra Prtha – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna), seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi yang teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.” Bhagavad Gita 8:8

Bagi Krsna – dan memang demikian adanya – Yoga, meditasi, dan laku spiritual atau sadhana lainnya bukanlah sekadar pelajaran, tetapi sesuatu yang mesti dihayati dan dilakoni sepanjang masa. Bukan seperti buku pelajaran, sudah selesai ya sudah — dibuang saja. Dulu, saya mengoleksi novel-novel misteri oleh beberapa penulis asing terkenal di masa 1970-an. Sekarang, belasan buku yang dulu saya anggap sangat baik itu, sudah tidak memiliki daya tarik lagi.

Yoga, meditasi, laku spiritual bukan seperti itu – Bukan sekali dibaca, sekali dipelajari — selesai. Tapi, mesti diulang-ulang — dihayati, dan dilakoni dalam keseharian hidup. Seperti yang telah kita baca sebelumnya, Krsna menyebutnya Abhyasa — dilakoni secara terus-menerus, secara intensif dan repetitif. Dengan cara itulah kita baru memperoleh manfaatnya. Penjelasan Bhagavad Gita 8:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bhagiratha melakukan sadhana untuk mencapai harapan para leluhurnya, menurunkan Gangga ke bumi untuk membasahi abu para leluhurnya yang sampai saat itu masih menderita di Patala karena keangkuhan mereka menyerang Rishi Kapila.

Bhagiratha adalah generasi ke 5 yang berupaya menurunkan Gangga mulai dari Sagara, Asamanja, Amsuman, Dilipa, Bhagiratha. Perjuangan lintas generasi yang tak kenal lelah.

Pada suatu ketika, Bhagiratha mendapat penglihatan tentang Dewi Gangga, “Dewi engkau lahir di kaki Narayana. Ketika Vamana menapakkan kaki tiga langkah sewaktu peristiwa dengan Raja Bali, kakinya dibersihkan tujuh Rishi dan  Brahma menggunakan dirimu. Berkahi kami dan rumah kami dengan dirimu.”

Kemudian Bhagiratha mendapat jawaban dari sang dewi, “Diriku menghormati upaya leluhurmu dalam beberapa generasi untuk membawaku ke bumi. Akan tetapi, kamu tidak mengetahui dampak yang terjadi kala diriku turun ke bumi. Siapa yang kuat menahan arusku? Kemudian, mengapa pula aku harus turun ke bumi? Orang yang berdosa kala mandi di airku akan bersih, dan dosa mereka tertinggal dalam diriku.  Bagaimana aku dibersihkan dari kotoran mereka?”

Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi, para rishi suci, para penglihat agung, mereka telah melampaui perbudakan karma. Mereka tidak punya pikiran selain Tuhan. Manakala mereka berendam di dalam airmu mereka akan membersihkanmu. Perihal kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadeva.”

Dewi Gangga jujur, karena air bersifat mensucikan, tetapi setelah banyak orang kotor yang mandi dia bingung bagaimana cara dia membersihkan dirinya. Dirinya hanya memberikan vibrasi sesuai apa yang ada dalam dirinya. Kesucian para suci itulah yang mengembalikan kesucian air. Oleh karena itu, manusia perlu waspada dalam melakukan ziarah atau tirtayatra. Banyak orang yang setelah ziarah di tempat tertentu malah menjadi pelit, penuh pertimbangan untung-rugi, karena aura materi meliputi tempat ziarah atau tirtayatra tersebut. Para sucilah yang memberikan vibrasi kesucian, berada dekat para suci meningkatkan kesucian diri.

Bhagiratha kemudian melakukan tapa untuk memperoleh bantuan Shiva, Sang Mahadewa. Dan setelah perjuangan berat, Mahadeva bersedia membantunya.

Dewi Gangga dengan sedikit kesombongan turun ke bumi dan airnya hilang ditahan rambut Sang Mahadeva. Gangga tidak bisa lepas dari rambut Sang Mahadeva. Bhagairatha mohon kepada Mahadeva agar berkenan menurunkan air Gangga ke bumi.

Setelah itu Gangga diturunkan Mahadeva dengan menetes agar tidak angkuh lagi. Gangga kemudian membagi dalam tujuh aliran, 3 ke barat, 3 ke timur, dan satu aliran mengikuti kereta Bhagiratha yang diarahkan menuju gua tempat para leluhurnya yang telah menjadi abu. Dan akhirnya, tumpukan abu leluhurnya tersebut termurnikan.

 

Sadhana bukanlah sekadar “laku” atau “praktik“ sebagaimana kata ini umum diterjemahkan. Sadhana juga bukan sekadar upaya yang sungguh-sungguh. Sadhana berarti Laku, Praktik atau Upaya penuh Devosi—Laku, Praktik, atau Upaya dengan semangat Pengabdian.

Pengabdian pada siapa? Pengabdian pada, devosi pada Tujuan Luhur upaya tersebut. Dan Tujuan Luhur itu adalah Samadhi—Keseimbangan Diri. Pencapaian Kesadaran Murni, Kemanunggalan Sempurna dengan Sang Jiwa Agung. Dalam satu kata, “Pencerahan”!

Manfaat utama dari Pencerahan adalah untuk Diri sendiri, untuk Diri yang Sejati, demi kemanunggalan dengan Sang Diri Agung. Hal ini mesti dipahami. Jadi, Disiplin atau Yoga—hidup berpedoman pada prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Patanjali ini—bukan untuk perkara Iain.

Perkara-perkara lain, seperti kesehatan jasmani, ketenangan pikiran, ketenteraman hati, bahkan prajna atau pengetahuan sejati sekalipun cuma sekadar efek samping dari Yoga. Efek-efek samping yang menjadi berkah bagi diri kita sendiri sehingga kita dapat menggunakan badan, indra, bersama fakultas-fakultas lainnya—seperti mind atau gugusan pikiran dan perasaan, inteligensi, dan sebagainya—untuk mencapai tujuan akhir tersebut, yaitu Samadhi, Pencerahan! Pengantar sadhana Padah dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hikayat Gangga 2: Amsuman Putra Seorang Yogi #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , on June 12, 2017 by triwidodo

Sebagian (di antara mereka yang mengalami kelahiran ulang seperti itu) mencapai Samadhi, Keseimbangan Diri atau Pencerahan berkat prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah diraihnya pada masa lalu, dan (upaya sungguh-sungguh pada masa kini) dengan penuh sraddha atau keyakinan; virya atau keberanian dan kekuatan; dan smrti, ingatan atau perhatian (terhadap tujuan Jiwa, yaitu Manunggal dengan Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.20

Berarti, hanya prajna purvakah atau pengetahuan sejati yang pernah kita raih pada masa lalu pun tidak cukup. Belum cukup. Mesti dibarengi upaya lanjutan pada masa kini. Dan upaya pada masa kini pun bukanlah upaya sembarang. Mesti upaya sungguh-sungguh dengan segenap energi, dengan penuh keyakinan, dan penuh perhatian.

Sraddha adalah keyakinan yang tak tergoyahkan. Sraddha bukan sekadar kepercayaan yang bisa berubah-ubah……… Sraddha, keyakinan, atau trust—bukan belief, yang adalah kepercayaan—terkait dengan Jiwa. Sebab itu, ia tak tergoyahkan. Karena Jiwa yang di-“yakini”-nya adalah langgeng, abadi.

Kepercayaan bisa mengalami pasang surut selaras dengan sifat materi, sifat kebendaan yang berubah terus. Keyakinan atau Sraddha tidak mengalami pasang surut karena selaras dengan sifat hakiki Jiwa, yang adalah percikan Jiwa Agung.

Kemudian Virya atau keberanlan dan kesungguhan upaya dengan segenap kekuatan, segenap energi. Virya bukan sekadar energi……………

Virya bukanlah keberanian asal hantam. Virya adalah keberanian yang bertanggung jawab, inteligen. Keberanian untuk membela kebenaran, kebajikan, keadilan, dan untuk meraih kesadaran diri sejati.

Tidaklah gampang melepaskan kesadaran jasmani yang sudah melekat lama. Tidaklah mudah melepaskan kenyamanan tubuh. Bukan main godaan dari alam benda, dari pemicu-pemicu yang sangat menggiurkan bagi indra, gugusan pikiran serta perasaan, dan sebagainya.

Terakhir, Smrti, ingatan berkesadaran, penuh attentiveness atau penuh perhatian. Jadi dalam konteks ini, Smrti bukan sekadar ingatan atau memori. Namun, ingatan atau memori yang terkait dengan kesadaran, dengan attentiveness atau perhatian. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.20 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Asamanja, putra Raja Sagara yang tinggal di istana tingkah lakunya tidak seperti putra raja lainnya. Sebenarnya dalam kehidupan sebelumnya, Asamanja adalah seorang Yogi akan tetapi karena kesalahan tindakannya dia lahir sebagai putra mahkota. Asamanja ingat (Smirti) masa lalunya sebagai Yogi, mempunyai Sraddha, keyakinan, memiliki Virya, keberanian dalam menuju tujuan hidupnya.

Asamanja berupaya sekuat tenaga agar semua orang membencinya, sehingga dia  dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya. Asamanja sudah mempunyai putra bernama Amsuman, akan tetapi tingkah lakunya tidak dipahami masyarakat. Beberapa anak laki-laki ditenggelamkannya di Sungai Sarayu sambil tertawa-tawa. Akhirnya Raja Sagara tidak dapat menahan kesabaran, dan demi rakyatnya, Asamanja diusir dari istana.

Sebelum pergi dari istana Asamanja menghidupkan kembali beberapa anak laki-laki yang ditenggelamkannya. Selanjutnya Asamanja meneruskan perjalanan hidupnya sebagai seorang Yogi.

Putra Asamanjasa bernama Amsuman. Amsuman menjadi andalan kakeknya, Raja Sagara. Amsuman kemudian melacak jejak ke 60.000 pamannya. Akhirnya, Ansuman bertemu Rishi Kapila beserta kuda dan tumpukan debu yang menggunung di dekatnya. Ansuman merasakan kedamaian di depan sang rishi dan segala kekacauan pikirannya tiba-tiba lenyap.

Ansuman kemudian sadar bahwa rishi di depannya adalah Rishi Kapila yang sangat bijak yang telah terkenal di seluruh dunia. “Wahai rishi, kami hanya dapat melihat hal-hal yang bersifat duniawi, objek-objek indera. Bapa Rishi adalah Gusti yang mewujud untuk membimbing manusia. Tolonglah kami untuk menemukan paman-paman kami!” Amsuman menangis dan jatuh di kaki Rishi Kapila.

Rishi Kapila berkata pelan, “Wahai anak muda, ambillah kuda kakekmu. Indra telah meninggalkan kuda tersebut ketika aku larut dalam  meditasi yoganidra. Para pamanmu mati karena terbakar oleh keangkuhan. Satu-satunya sarana yang dapat mensucikan mereka kembali adalah air sungai Gangga.”

Kapila Vasudeva putra Kardama dan Devahuti adalah seorang rishi yang mengajarkan tentang ilmu samkhya.

Mendengar laporan Amsuman tentang ke 60.000 putranya, Raja Sagara merasa tak bahagia. Setelah menyelesaikan ritual Ashvamedha yang ke-100, Raja Sagara menobatkan Amsuman sebagai raja dan pergi bertapa. Raja Sagara tidak pernah mengira bahwa upacara Ashvamedha yang direncanakannya membuat ke-60.000 arwah putranya menderita.

Amsuman berusaha mendatangkan Dewi Gangga ke bumi demi keselamatan para pitri, leluhur, para pamannya. Akan tetapi sampai maut datang menjemput, keinginannya belum tercapai.

Dilipa, putra Amsuman, juga tidak berhasil membawa Dewi Gangga ke bumi sampai akhir hayatnya.

Bhagiratha, cucu Amsuman meninggalkan kerajaannya kepada para menterinya dan bertekad untuk membawa Dewi Gangga ke bumi untuk menyelamatkan para leluhurnya.

Hikayat Gangga 1: Sagara Raja Kebal Racun #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , , , on June 11, 2017 by triwidodo

Raja Sagara dan para putranya

Asteya adalah salah satu di antara beberapa pedoman yang dititikberatkan pula oleh Krsna dalam Bhagavad Gita. Berniat jahat terhadap kepemilikan seseorang pun—yang biasa dikategorikan sebagai rasa iri atau cemburu—sesungguhnya adalah tindakan mencuri.

Rasa Iri dan Cemburu adalah benih-benih, yang ketika bertunas melahirkan para maling; para koruptor; orang-orang yang berrnoral bejat; mereka yang mengira dapat me-laundry dosa-dosa mereka dengan cara menyedekahkan sebagian dari penghasilan haram mereka.

Berwaspadalah selalu terhadap kekacauan pikiran serta perasaan. Janganlah sekali-kali terbawa oleh mereka. Penjarahan adalah penjarahan, pencurian adalah pencurian. Mau disembunyikan di balik pembungkus serapi atau seindah apa pun, setiap orang tetap harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya. Penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.30 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Raja Bahuka dari Dinasti Surya meninggal dan salah seorang istrinya akan ikut masuk tempat pembakaran mayat. Akan tetapi, sang istri dihentikan para rishi karena mereka mengetahui bahwa ia sedang hamil. Istri yang lain kemudian menjadi iri karena hanya dia yang hamil. Berarti hanya istri tersebut yang akan menurunkan seorang putra mahkota. Para istri Bahuka lainnya mencampur racun dalam makanan istri Bahuka yang sedang hamil tersebut. Harapan mereka gagal, sang anak tetap lahir dan menjadi putra mahkota. Dia dinamakan Sagara, dia yang kebal racun. Akhirnya Sagara menjadi raja.

Sagara mempunyai dua istri akan tetapi kedua-duanya belum mempunyai putra. Kemudian Sagara meninggalkan istana untuk bertapa. Maharishi Brigu senang dengan puasa sang raja dan berkata salah satu istri raja akan mempunyai satu putra yang akan meneruskan generasi raja. Sedangkan satu orang lagi akan mempunyai 60.000 putra perkasa.

Beberapa saat berlalu. Keshini melahirkan seorang anak laki-laki. Raja dan rakyatnya merasa sangat bahagia. Ada festival dan sukacita di setiap sudut dan sudut karena kelahiran pangeran. Anak itu, bernama Asamanja, tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan dan cerdas. Asamanja dicintai semua orang. Selalu saja ada ibu yang menggendong Asamanja, dan dia tumbuh tanpa pernah menyentuh tanah.

Setelah berminggu-minggu, Sumati juga punya anak. Dia sangat senang karena keinginannya juga terpenuhi. Enam puluh ribu anak terlahir untuknya. Pengaturan dibuat agar setiap anak dibesarkan oleh perawat yang terpisah.

Istana itu sekarang berdengung dengan suara berisik. Tidak mungkin mengendalikan keributan di sebuah rumah dengan dua anak. Lalu bagaimana dengan enam puluh ribu anak berlari, tertawa, bermain, berteriak pada saat bersamaan? Tapi ada kebahagiaan di tengah kebisingan seperti itu. Anak-anak tumbuh dalam disiplin. Mereka gagah berani dan tampan.

 

Upacara Yajna 100 Ashvamedha

Sebagai maharaja, Sagara melakukan ritual Ashvamedha, ritual menggunakan kuda diikuti pasukan lengkap. Para raja yang tidak berani mengganggu kuda tersebut berarti menyatakan tunduk kepada maharaja. Mereka yang berani mengganggu akan langsung diperangi pasukan raja tersebut. Sagara sudah berhasil mengadakan 99 kali ritual ashvamedha dan tinggal melakukan ritual yang terakhir.

Dewa Indra iri dan takut sebagai raja para dewa kalah pamor dengan raja manusia. Kuda yang dipakai sebagai ritual tersebut dicuri Dewa Indra dan diletakkan dalam gua tempat Rishi Kapila bertapa.

Para putra Sagara yang berjumlah 60.000 orang mencari jejak kuda dan akhirnya sampai ke gua Rishi Kapila. Para putra raja merasa sangat marah karena ada orang yang berani mencuri kuda ritual Ashvamedha. Mereka tersinggung, karena orang yang mencuri kuda tersebut berarti menantang maharaja.

Mereka berkata, “Lihat pencuri kuda ini, berpura-pura bertapa setelah mencuri kuda, mari kita bunuh dia beramai-ramai!” Dalam keadaan marah karena ada yang mengganggu acara ritual Ashvamedha, mereka tidak dapat melihat seorang Rishi Suci yang tidak tahu permasalahannya. Rishi Kapila yang terganggu tapanya, membuka mata dan sorotan mata sang rishi membuat 60.000 putra Sagara menjadi abu. Kemarahan yang tak dapat dikendalikan dari para putra raja membunuh mereka sendiri.

Raja Sagara sedih karena 60.000 putranya hilang tanpa bekas. Dan, upacara ashvamedha yang ke 100 belum terselesaikan.

Bagaimanakah kisah Asamanja, yang kala masih bayi tak pernah menyentuh tanah, karena selalu saja ada yang menggendongnya?

Asamanja mempunyai tabiat buruk, bahkan suka membunuh anak laki-laki dengan menenggelamkan dalam Sungai SarayU?

Silakan ikuti kisah Srimad Bhagavatam selanjutnya:

Harischandra: Pengorbanan Remaja demi Negara dan Bangsa #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 10, 2017 by triwidodo

Pengorbanan Sunahsepa demi Kerajaan dan Rakyat Banyak

Perjuangan ini bukan untuk mereka yang menghitung laba rugi. Perjuangan ini adalah untuk mereka yang berani mewakafkan nyawa mereka bagi bangsa. Bila pengorbanan itu kau artikan sebagai kerugian, maka perjuangan ini bukanlah untukmu. Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya. (BUNG KARNO, HUT PROKLAMASI, 1956). Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Win-win berarti kau menang, aku pun ikut menang. Prinsip pengorbanan lebih hebat daripada win-win, karena untuk memenangkan, kamu tak apa bila kau mesti berkorban. Semangat dan kerelaan untuk berkorban adalah penting. Walau semangat itu sendiri sudah cukup untuk memastikan bahwa pihak yang berkorban pun tidak pernah merugi, tidak pernah kalah. Pengorbanan itu sendiri adalah kemenangan. Ia berhasil menguasai nafsunya yang selalu ingin menang sendiri. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Rohita berterima kasih kepada keluarga Brahmana Ajigarta, dan tanpa menunggu siapa putra yang bersedia melakukan pengorbanan, dia berkata, “Bapa brahmana, ibu dan para putra, saya berterima kasih, hanya Gusti yang dapat membalas kebaikan budi kalian, walau bagaimana pun saya berjanji akan memberikan seratus ribu ekor sapi sebagai penghormatan atas pengorbanan tersebut.” Bagi brahmana miskin, janji pemberian itu amat sangat berharga yang tidak akan dapat dicapai walau dalam banyak kehidupan.

Terketuk oleh penjelasan ayahnya, Sunahsepa berkata kepada orang tuanya, “Ayah dan  ibu telah membesarkan diri kami semua sampai menjadi anak-anak remaja yang baik. Sudah waktunya aku membalas budi kebaikan kedua orang tua dan sekaligus mewakili rakyat membalas budi kebaikan raja. Aku tahu ayahanda cenderung mendidik kakak sulung agar dapat meneruskan tugas ayahanda. Sedangkan ibunda cenderung kepada adik bungsu yang dapat membuat ibu bahagia dalam menghadapi semua kesulitan hidup. Wahai putra raja, aku ikut dirimu ke istana.” Sebuah kearifan seorang remaja yang luar biasa yang belum tentu dimiliki para dewasa. Demi kesejahteraan negara, kesejahteraan masyarakat banyak, Sunahsepa berani mengorbankan dirinya.

 

Nasihat Rishi Vishvamitra

Rohita dan Sunahsepa meninggalkan Brahmana Ajigarta menuju istana. Dalam perjalanan, mereka singgah di tempat Rishi Vishvamitra. Bagaimanapun juga, sebagai seorang remaja, pikiran Sunahsepa masih sering bergolak. Akhirnya, dia mencurahkan semua perasaannya kepada Sang Rishi. Rishi Vishvamitra adalah sahabat Raja Trisanku, ayahanda Raja Harischandra (kisah Trisanku sendiri akan disampaikan kemudian saat kita sampai pada kisah Vishvamitra).

Sunahsepa melihat Sang Rishi tertegun dan beberapa saat kemudian mengumpulkan seratus orang putranya, “Aku terketuk tindakan Brahmana Ajigarta yang bersedia mengorbankan salah seorang dari tiga putranya bagi keselamatan negeri. Aku minta salah seorang dari kamu bersedia menggantikan Sunahsepa sebagai korban persembahan!”

Terjadi keributan dan separuh dari putra-putranya tidak mau dikorbankan dan berdalih, “Ayahanda, bagaimana mungkin seorang putra Rajarishi mempersembahkan nyawanya untuk menggantikan seorang anak remaja terlantar yang cengeng?”

Rishi Vishvamitra berkata, “Perilaku dan kata-kata kalian tak pantas diucapkan. Aku berharap kalian tersentuh dan bersedia mengorbankan diri demi kebaikan kalian sendiri. Mereka yang menentang ayahandanya tidak layak untuk dihormati. Seperti halnya putra Vasistha, kalian juga akan menjadi warga bangsa liar Nisadha selama seribu tahun.”

Setelah lima puluh putranya pergi, Sang Rishi berkata pada Sunahsepa, “Jangan takut dengan kutukan seorang rishi, kutukan tersebut memang harus terjadi sebagai akibat dari perbuatan seseorang di kehidupan masa lalu. Kutukan tersebut justru akan mempercepat penyelesaian utang sebab-akibat dan mempercepat perjalanan spiritualnya.

“Sunahsepa, kau harus menemani Rohita dan bersedia diikat pada tiang pancang pada acara Narameda. Kau akan disucikan dan sekarang hapalkan dua buah mantra “Varuna Japa”. Ketika kau diikat pada tonggak, nyanyikan terus kedua mantra ini. Semuanya tergantung peruntunganmu, tetapi yakinlah, siapa yang menanam akan memetik buahnya. Yakinlah terhadap hukum sebab-akibat. Bersegeralah dalam bertindak penuh kasih, memberi pertolongan kepada orang yang menderita kemalangan. Kalaupun kau mati, ini adalah mati yang terhormat, mati yang direstui bunda pertiwi, seluruh rakyat kerajaan menghormati kematianmu. Perbuatan luhurmu akan datang kembali padamu sebagai kebaikan pada kehidupan mendatang. Agar kau tidak takut menghadapi kematian, larutlah dalam mantra yang kuajarkan kepadamu.”

Sunahsepa terus-menerus membaca mantra dengan segenap perasaan selama acara ritual berlangsung. Sudah tidak ada lagi kekhawatiran dalam dirinya, mantra tersebut menenangkan hatinya. Tidak ada ketakutan lagi bahwa dirinya sedang diikat dalam tiang persembahan. Tanpa terasa kesadaran Sunahsepa meningkat, dia menjadi paham bahwa “jati diri”-nya tidak terpengaruh oleh kelahiran dan kematian. Fisiknya bisa saat ini atau kemudian mati tetapi bukan “jatidiri”-nya.

 

Varuna terkesan dengan mantra tersebut dan membebaskan Sunahsepa dari korban. Raja Hariscandra pun segera dimaafkan kesalahannya. Sang raja merasa keterikatannya kepada sang putra telah menyebabkan peristiwa menjadi berlarut-larut maka dia ingin belajar Brahmavidya kepada Rishi Vishvamitra yang dengan senang hati menyetujuinya. Rishi Vishvamitra juga kemudian mengangkat Sunahsepa sebagai putranya dan berkata kepada lima puluh putranya. “Sunahsepa kini salah satu dari kamu, dia termasuk Dinasti Bhargawa, keturunan Bhrigu.”

Puranjaya: Kisah Dewa Minta Bantuan Manusia #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 8, 2017 by triwidodo

Dewa adalah makhluk-makhluk yang tinggal dan hidup dalam cahaya. Ucapan serta perbuatan mereka tergerak oleh nurani. Mereka adalah makhluk-makhluk bersanubari. Mereka masih mampu mendengarkan suara hati. Dan, mereka dapat ditemukan di mana-mana. Tidak perlu mencari mereka di langit, di surga, di kahyangan. Banyak para dewa di antara kita. Banyak para dewa yang sengaja berada di tengah kita untuk memandu kita. Mereka tidak “datang” ke dunia karena urusan karma. Mereka “datang” untuk memandu Jiwa-Jiwa yang membutuhkan panduan mereka.

Para resi yang mampu “melihat” dan merasakan kehadiran mereka, walau berwujud seperti manusia biasa, menemukan cara termudah untuk mengetahui mereka dan memperoleh panduan bimbingan mereka. Cara tersebut adalah Mantra-Yoga. Dengan suara-suara tertentu, getaran-getaran tertentu – ditambah dengan kekuatan niat yang mulia, hati yang bersih – kita dapat mengadakan hubungan seluler, bahkan menciptakan hot-line dengan mereka.

Sebagian orang menganggap hubungan seperti ini sebagai bentuk kurang percaya pada Gusti Pangeran. “Kenapa mesti mengakses mereka? kenapa tidak berhubungan dengan Tuhan langsung. Kenapa mesti menduakan Tuhan?” Banyak pembantu di rumah orangtua kita, jika kita membutuhkan sesuatu yang dapat diperoleh dari pembantu, lewat pembantu – mestikah kita menyusahkan orangtua? Banyak pekerjaan, banyak tugas yang memang sudah dipercayakan kepada para pembantu. Mantra-Yoga hanyalah membuat kita mengakses para Dewa, para Pembantu, para Lightworkers – ada yang berwujud dan ada yang tidak – itu saja. Penjelasan Bhagavad Gita 10:14 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Manusia memang sering minta bantuan dewa untuk menyelesaikan persoalannya. Akan tetapi dalam kisah ini justru dewa yang meminta bantuan manusia.

Iksvaku adalah raja bumi keturunan Dinasti Surya. Dia mempunyai anak bernama Vikuksi dan Vikuksi mempunyai putra bernama Puranjaya.

Sekali waktu adan perang di antara para dewa dan asura. Para asura memenangkan peperangan dan bisa menguasai negeri para dewa. Para dewa kemudian memohon bantuan Vishnu, Sang Pemelihara Alam. Dan, Vishnu menyuruh para dewa minta pertolongan kepada Raja Manusia di bumi. Vishnu akan memberi kekuatan pada sang raja untuk memenangkan peperangan.

Para dewa kemudian minta menghadap Raja Puranjaya dan menyampaikan maksudnya. Puranjaya bersedia bertempur melawan para asura asalkan dia berada di atas pundak Dewa Indra. Dewa Indra sebagai raja para dewa tidak mempunyai pilihan lain, karena demikianlah pesan Vishnu untuk dapat mengalahkan para asura.

Indra kemudian mewujud sebagai banteng perkasa. Puranjaya naik di atas banteng dan berperang melawan para asura. Para asura melemparkan senjata ke arah Puranjaya. Puranjaya bermeditasi sebentar kemudian melepaskan ribuan panah terhadap para asura. Para asura kocar-kacir dan yang masih selamat melarikan diri. Negeri kembali dikuasai oleh para dewa.

Sejak saat itu Puranjana disebuut Indravahana, dia yang menjadikan Indra sebagai Vahana. Dan, dia juga disebut sebagai Kakutstha, yang memegang kuat pundak banteng. Dan anak keturunannya disebut Kakutstha.

Kisah tersebut sering dimaknai bahwa asura mewakili kehewanian dalam diri, Indra adalah pengendali panca indra, pikiran dan tubuh kita. Kekalahan Indra adalah ketidakseimbangan panca indra, pikiran dan tubuh manusia. Puranjaya adalah jiwa manusia yang merupakan percikan Gusti Pangeran. Jiwa bisa mengalahkan sifat kehewanian asalkan dia dapat mengendalikan indra dan tubuh manusia.

Dalam Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 disampaikan:

Pertemuan antara Prakrti Alam Kebendaan dan benih Jiwa Agung atau Purusa itulah yang “menyebabkan” terjadinya alam sernesta.

Tantangannya ialah ketika benih ini bertunas, berkembang, dan menjadi “sesuatu” — maka, apakah sesuatu itu mengidentifikasikan dirinya dengan Alam Kebendaan, Rahim yang melahirkannya, yakni Materi, atau dengan benih Jiwa Agung atau Spirit, Roh? Peran alam kebendaan dan benih Jiwa — dua-duanya sama pentingnya. Tidak ada keraguan atau dua pendapat dalam hal itu. Persoalannya bukanlah mana yang lebih penting. Dua-duanya penting.

Persoalannya adalah identifikasi apa yang dapat membahagiakan kita, dengan alam atau dengan Jiwa? Dan jawabannya jelas adalah identifikasi dengan Jiwa. Karena Jiwa tidak hanya bersifat abadi, tetapi juga tidak pernah berubah. Sehingga dapat menghasilkan kebahagiaan yang langgeng.

Sementara, Alam Benda berubah terus. Jika kita fokus pada perubahan-perubahan yang terjadi, maka emosi kita, pikiran kita — semuanya ikut mengalami perubahan-perubahan yang kadang mernbuat kita bahagia, kadang larut dalam lautan kesedihan dan kepedihan. Penjelasan Bhagavad Gita 14:3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Seorang manusia yang mengidentifikasikan diri dengan alam benda, panca indra, pikiran dan tubuhnya akan mengalami penderitaan. Untuk itulah dia sering minta bantuan dewa untuk meningkatkan kesadarannya agar dapat bahagia. Sebaliknya seorang yang mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa yang merupakan percikan Jiwa Agung, Gusti Pangeran akan dapat menguasai panca indra, pikiran dan tubuhnya. Demikianlah seorang menjadi Puranjaya.

Serangan para asura, sifat kehewanian dalam diri bisa diatasi dengan ribuan anak panah Puranjaya. Sadhana, olah batin secara rutin akan membuat seseorang fokus pada Gusti dan sadar bahwa dirinya adalah Jiwa, Percikan Jiwa Agung, Gusti Pangeran dan nafsu kehewanian dapat ditaklukkan.

Ambarisa: Keangkuhan Seorang Rishi dan Perlindungan Senjata Gusti #SrimadBhagavatam

Posted in Bhagavatam with tags , on June 6, 2017 by triwidodo

Keangkuhan Rishi Durvasa

“Terkendali oleh keangkuhan, kekerasan, kesombongan, nafsu, amarah dan sebagainya, mereka sesungguhnya melecehkan Aku yang bersemayam dalam diri mereka dan diri setiap orang.” Bhagavad Gita 16:18

Pelecehan terjadi, karena kita menaruh rasa iri terhadap orang lain, cemburu, atau menganggapnya lebih rendah. Semua ini muncul dari delusi bahwasanya “lain”-nya seseorang adalah sebuah realita. Padahal yang “lain” itu tidak ada – Sang Jiwa Agung, lewat percikan-percikan yang tak pernah terpisahkan dari-Nya sedang menerangi setiap makhluk. Sinar suci yang sama menerangi setiap orang.

Di tingkat wahana-badan, memang banyak jenis, beragam kendaraan. Sepintas, pengemudi setiap kendaraan pun tampak beda. Keturunan Cina jelas beda dari keturunan Afrika. Orang Asia tidak memiliki warna kulit yang sama seperti orang Eropa. Namun, aliran kehidupan, listrik Ilahi yang menghidupi setiap pengemudi adalah satu dan sama.

…………….

Menganggap rendah orang lain, meremehkan perannya, melecehkan dirinya — adalah sama dengan merendahkan, meremehkan, dan melecehkan Sang Jiwa Agung, yang atas kehendak-Nya, Pagelaran Kolosal ini sedang digelar. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Ambarisa adalah seorang bhakta Narayana seperti halnya Nabhaka, ayahnya. Seluruh perbuatannya hanya merupakan pelayanan  terhadap semua wujud Gusti Pangeran. Pada suatu ketika, Rishi Vasistha, Asitha, dan Gautama membantu sang raja dalam upacara Ashvamedha di tepi sungai Sarasvati dan Narayana muncul memberi karunia kepada sang raja dengan senjata pribadinya, “Sudarsana Chakra”. Sudarsana Chakra adalah simbol dari Narayana berarti Raja Ambarisa telah mencapai kesadaran yang tertinggi.

Pada suatu ketika sesuai saran para rishi, sang raja dan istrinya melakukan “Devadashi Vrata”. Ia melakukan tapa brata selama satu tahun penuh. Pada bulan Kartika, raja mengakhiri vrata dengan berpuasa selama tiga hari. Sebelum melakukan puasa sang raja mandi di sungai dan memuja Gusti di hutan Madhuvana.

Pada saat itu muncul Rishi Durvasa, dan sang raja menghormatinya serta menawarkan persembahan makanan di istananya. Rishi Durvasa berterima kasih dan kemudian menyampaikan bahwa dia akan berendam di sungai dan baru keesokan harinya datang ke rumahnya. Rishi Durvasa berendam di sungai sambil mengucap mantra yang sangat panjang.

Beberapa saat kemudian sang raja berada dalam posisi yang sulit, beberapa saat lagi puasa Devadashi berakhir dan dia harus segera makan. Akan tetapi, makan mendahului seorang Brahmana yang diundang makan juga merupakan sesuatu yang melanggar etika. Sang raja minta pendapat para rishi kerajaan yang kemudian menganjurkan untuk minum beberapa tetes air dan beberapa keping daun “Tulasi” untuk memenuhi syarat berbuka puasa. Sang raja melakukan hal tersebut dan menunggu Rishi Durvasa datang ke rumahnya.

Rishi Durvasa selesai melakukan ritual berendam di sungai mendatangi istana sang raja. Rishi Durvasa tahu bahwa sang raja telah mendahului makan walau hanya dengan beberapa tetes air dan beberapa lembar daun Tulasi dan ini membuat dirinya tersinggung. Sang rishi berkata, “Kamu telah mabuk dengan kekuasaan dan kekayaan sehingga menjadi angkuh dan tidak menghormati seorang rishi. Aku akan memberi pelajaran kepada kamu!”

Dan sang rishi mencabut sebuah rambutnya dan menciptakan makhluk bernama Kirtya yang segera menyerang sang raja. Raja Ambarisa diam tak bergerak dan “Sudarsana Chakra” datang melindungi dan membakar makhluk tersebut.

 

Ego Keresian Rishi Durvasa

“Tiada dewa, malaikat, dan seorang resi pun mengetahui kesejatian wujud-Ku (tentang hakikat penjelmaan-Ku dalam wujud manusia); karena Akulah Sumber segala apa yang mereka miliki (segala pengetahuan dan kebijakan mereka).” Bhagavad Gita 10:2

Para resi adalah manusia seperti kita, mereka memiliki wahana badan. Jika mereka pun tidak dapat memahami kebenaran-Nya, maka alasannya, kemungkjnan besar ialah “ego keresian”. Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Rishi Durvasa kagum sebentar atas kekuatan Raja Ambarisa, akan tetapi kemudian cemas karena “Sudarsana Chakra” mengejar dirinya. Rsi Durvasa berlari ke hutan namun senjata chakra tersebut selalu mengejarnya. Ia lari ke dalam gua di Gunung Meru, akan tetapi sang chakra selalu mengejarnya.

Akhirnya, sang rishi lari berlindung kepada Brahma yang berkata, “Aku adalah pembantu Gusti Pangeran dan aku tidak dapat mengendalikan senjata Gusti!”

Kemudian sang rishi berlari berlindung kepada Mahadewa yang berkata, “Datanglah kepada Narayana, sang pemilik senjata!”

Silakan ikuti kisah selanjutnya pada lanjutan kisah tentang Raja Ambarisa ini.